Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2015/2016
KELOMPOK 9
1. Anggie Trixy (082001300004)
2. Annisa Muthiya (082001300005)

TOTAL SUSPENDED SOLID (TSP)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Latar Belakang Pada zaman industri modern ini, sumber polusi semakin banyak
ditemukan. Tidak hanya pada lingkungan yang padat kendaraan seperti Jakarta, tetapi
juga pada wilayah industri yang sedikit banyak memberikan dampak negatif pada
kesehatan lingkungan. Hal ini membuat lingkungan kehilangan kontrol dan mengalami
pencemaran udara akibat kadar udara yang tidak seimbang. Udara atmosfer yang
dianggap seimbang sesungguhnya terdiri dari 78% nitrogen; 20% oksigen; 0,93% argon;
0,03% karbon monoksida dan sisanya terdiri dari helium, neon, metan, dan hidrogen.
Debu seringkali menjadi indikator pencemaran udara yang digunakan untuk
menunjukan tingkat bahaya baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan dan
keselamatan kerja.

1.2 Tujuan Percobaan


Percobaan ini dilakukan untuk menentukan partikel tersuspensi total di udara
ambient di sekitar Kampus A Trisakti tepatnya di parkiran gedung S dengan
menggunakan metode gravimetri .

II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut

Mukono

(1997)

Pencemaran

udara

adalah

bertambahnya bahan atau substrat fisik atau kimia kedalam lingkungan udara normal
yang mencapai sejumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi oleh manusia (atau yang dapat
dihitung dan diukur) serta dapat memberikan efek pada manusia, binatang, vegetasi, dan
material. Selain itu pencemaran udara dapat pula dikatakan sebagai perubahan atmosfer
oleh karena masuknya bahan kontaminan alami atau buatan ke dalam atmosfer tersebut.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999,
Pencemaran udara diartikan masuk atau dimasukannya makhluk hidup, zat, energi, dan
atau komponen lain ke udara dan atau berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia
atau proses alam,sehingga kualitas udara turun sampai ketingkat tertentu yang
menyebabkan udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya.
Beberapa

komponen

pencemar

udara

yang

paling

banyak

berpengaruh dalam pencemaran udara adalah komponen-komponen berikut ini :


1. Karbon monoksida (CO)
2. Nitrogen Oksida ( NOx)
3. Belerang Oksida (SOx)
4. Hidrokarbon (HC)
5.Partikel (Fardiaz, 1992)
Jika dikaitkan dengan bahan pencemar udara, debu sering dijadikan salah satu
indikator pencemaran yang digunakan untuk menunjukan tingkat bahaya baik terhadap
lingkungan maupun terhadapkesehatan dan keselamatan kerja. Debu adalah zat padat
yang berukuran0,1 25 mikron. Debu termasuk kedalam golongan partikulat.
Yangdimaksud dengan partikulat adalah zat padat/cair yang halus, dant ersuspensi
diudara, misalnya embun, debu, asap, fumes dan fog. Partikulat ini dapat terdiri atas zat
organik dan anorganik (Slamet,2000)
Udara sebagai satu komponen lingkungan hidup memiliki kesamaan dengan
komponen lingkungan hidup lainnya, tetapi juga memilki sifat kekhususan, yaitu dalam
hal mobilitas yang inggi. Dengan adanya berbagai kegiatan yang menjadi sumber polutan,
setelah bercampur dengan uadra di atmosfer, maka komposisi elemen-elemen udara akan
berubah menjadi suatu keseimbangan komposisi baru sebagai akibat kontaminasi.
Apabila akibat kontaminasi menyebabkan turunnya kualitas udara, maka elemen
penyebabnya disebut pencemar (polutan). (Budirahardjo:2000,4).

III. ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat
No. Alat

Jumlah

HVAS
(Aluminum

Outdoor

Shelter - Model SAM)

Timbangan analitik

Meerk Adam
Type Pw 254
( england)
3

Barometer

(Oaklon)

Pencatat laju air

Desikator

Round & Cylindrical


Vacuum Desiccators

Gambar

No. Alat

Jumlah

Anemometer
(Lutron AM-4202)

Amplop

Sarung Tangan

Gegep besi

10

Oven (Memmert)

Gambar

3.2 Bahan
No.

Bahan

Jumlah

Kertas filter serat kaca

Gambar

(Staplex TFAG-F810)

IV. CARA KERJA

Ambil kertas filter dan


timbang dengan neraca
analitik kemudian catat

Nyalakan HVAS,
ambil contoh uji
selama 30 menit

Setelah ditimbang
dimasukkan ke dalam
amplop coklat

Siapkan alat lalu masukan


kertas filter ke dalam filter
holder pada HVAS

Catat laju alir


(CFM)

Diukur suhu, tekanan,


kelembaban, arah dan
kecepatan angin

Masukkan ke dalam
oven selama 30 menit
pada T 1080C

Setelah 30 menit ambil


kertas filter dengan
gegep

Setelah 15 menit
timbang kertas filter
tersebut di neraca
analitik

Masukkan ke
desikator selama 15
menit

V. HASIL PENGAMATAN
Lokasi : Pos Satpam S.Parman, Kampus A, Universitas Trisakti

Lokasi
Sampling

Waktu

:10.13-10.43 WIB (30 menit)

GPS

: 6107LS dan 1064731BT

HVAS

: Merk yang dipakai SIBATA.

Barometer(Po) : 101,2 mbar = 759,7 mmHg


Hygrometer

: 32% rel

Anemometer : 1,76 m/s arah angin barat


Suhu (T0C)

: 33,80C33,8 +273= 306,8oK

Q1=Q2=Qo

: 1,14 m3/menit

Filter serat kaca hasil pengamatan kelompok 9


Dari hasil pengamatan tersebut, terlihat bahwa terdapat bitnik-bintik hitam kecil
pada kertas filter setelah dilakukan pemompaan dengan pompa vakum yang ada pada alat
High Volume Air Sample (HVAS). Ini berarti pengukuran yang dilakukan selama 30
menit itu menghasilkan partikulat sebanyak itu di lokasi tersebut.
VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN

6.1 Rumus Kadar Partikulat


6.1.1 Rumus Koreksi Laju Aliran pada Kondisi Standar

Dimana:
Qs = Laju alir volum dikoreksi pada standar (m3/mnt).
Qo = Laju alir volum yang diuji (m3/mnt) sama Q1 = Q2 yaitu 1.14 m3/mnt.
Ts = Temperatur standar 2980K.
To = 33.80C+273 = 306.80K.
Ps = Tekanan baromatik standart, 101.2 mbar (759.7 mmHg).
Po = Tekanan baromatik 760 mmHg

6.1.2 Rumus Volume Udara yang Diambil

Dimana :
V

= Volume udara yang diambil (m3).

= Durasi pengambilan selama 1/2 jam (30 menit).

6.1.3 Rumus Konsentri Partikel Tersuspensi Total

Dimana :
C = Konsentrasi partikel dalam waktu 30 menit (g/m3).
Berat partikulat = Selisih berat filter (gram).
Volume udara = Volume udara yang diambil (m3).

6.1.4 Rumus Konsentri Partikel Tersuspensi Total

Dimana :
C2 = Konsentrasi partikel pada waktu yag ditentukan (g/m3).
C1 = Konsentrasi partikel dalam waktu 30 menit (g/m3).
t1

= Durasi pengambilan selama 1/2 jam (30 menit).

t2

= Durasi pengambilan dihitung dalam waktu 1 jam dan 24 jam.

= 0.185

6.2 Perhitungan
Diketahui :
W1 (berat filter kosong atau awal)

= 4.6432 gr

W2 (berat filter berpartikulat)

= 4.6553 gr

Jadi berat partikulat (W2- W1)

= 0,0121 gr

Q1 awal = Q2 akhir = Qo

= 1.14

Jawab :

Volume Udara yang diambil,

= 1,123

Konsentrasi TSP selama 30 menit,

Konsentrasi TSP selama 1 jam,

= 315.932

Konsentrasi TSP selama 24 jam,

= 175.491

x 30 menit = 33.69

VII.

PEMBAHASAN

Pada praktikum Total Suspended Particulat ini, praktikan mengukur total partikel
tersuspensi di Pos Satpam S.Parman, Kampus A, Universitas Trisakti dengan
menggunakan alat HVAS (High Volume Air Sampler) yang didalamnya terdapat pompa
vakum dan penyangga filter sebagai tempat meletakkan filter yang berupa serat kaca.
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar partikel tersuspensi total udara ambien
dengan menggunakan alat HVAS dan ditentukan berdasarkan metode gravimetri di
lokasi kampus A Universitas Trisakti. Dari kadar yang didapatkan maka akan
dibandingkan dengan baku mutu yang ada, yaitu baku mutu udara ambien di Jakarta,
Nasional, dan WHO.
Dalam percobaan penentuan kadar partikulat ini digunakan metode gravimetri
dengan alat HVAS (High Volume Sampler) yaitu SIBATA untuk memvakum partikulat,
desikator untuk mendinginkan filter, oven untuk mengeringkan filter, dan neraca
analitik untuk menimbang filter pada saat sebelum dan sesudah di vakum. HVAS
diletakkan di samping Pos Satpam S.Parman, Kampus A Universitas Trisakti. Filter
yang telah dikeringkan, di desikator, ditimbang, dan disimpan dalam amplop kemudian
dibuka dan diletakkan di dalam HVAS, dalam pengambilan sampling partikulat di
udara kali ini dilakukan selama 30 menit.
Pada saat pengamatan, dilakukan juga pengukuran meteorology, yaitu tekanan
udara dengan barometer, kecepatan angin dengan manometer, kelembapan udara dengan
hygrometer, suhu udara dengan thermometer, dan arah angina dengan kompas . Dari
pengukuran meteorology tersebut, didapatkan keleembapan udara di lokasi tersebut
sebesar 32% rel, tekanan udara sebesar 759,7 mmHg, kecepatan angin sebesar 1,76
m/detik dengan arah angin barat, dan temperature lokasi setinggi 33,8oC. Setelah 30
menit, filter berubah warna menjadi agak kecoklatan dan terdapat bitnik-bintik hitam
kemudian filter dimasukkan ke amplop dan dibawa ke laboratorium dan di keringkan
dengan oven selama 15 menit pada suhu 105oC kemudian didinginkan selama 10 menit
di desikator lalu ditimbang berat akhirya pada neraca analitik. Didapatkan konsentrasi
partikulat TSP sebesar 359,157 g/m3.
Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
551 Tahun 2001 tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat
Kebisingan Di Propinsi DKI Jakarta, nilai TSP atau debu yang diizinkan dalam rentang
waktu 1440 menit adalah 230 g/m3. Hasil pengukuran TSP kelompok 9, yaitu 175,491

g/m3 dibandingkan dengan baku mutu daerah yang berlaku maka kadar TSP yang telah
dihitung jauh melebihi memenuhi baku mutu yang ditetapkan, sedangkan nilai TSP
dalam waktu 60 menit adalah 315.932 g/m3.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara, nilai TSP atau debu yang diizinkan dalam
rentang waktu 1440 menit adalah 230 g/m3. Hasil pengukuran TSP kelompok 9, yaitu
175,491 g/m3 dibandingkan dengan baku mutu daerah yang berlaku maka kadar TSP
yang telah dihitung jauh melebihi memenuhi baku mutu yang ditetapkan, sedangkan
nilai TSP dalam waktu 60 menit adalah 315.932 g/m3.
Berdasarkan WHO air quality guidelines and interim targets for particulate
matter: 24-hour concentrations nilai TSP atau debu yang diizinkan dalam rentang waktu
1440 menit dengan ukuran partikel PM10 dan PM 2,5 adalah 50 g/m3 dan 25 g/m3.
Hasil pengukuran TSP kelompok 9 dalam rentang waktu 1440 menit adalah, yaitu
175,491 g/m3 dibandingkan dengan standar WHO yang berlaku maka kadar TSP yang
telah dihitung jauh melebihi standar yang ditetapkan.
Bila di lokasi yang kadar partikulatnya terus berada diatas nilai baku mutu maka
dapat mempengaruhi kesehatan manusia, terutama terjadi pada saluran pernapasan yang
dapat menyebabkan terjadinya asma, batuk-batuk, sesak napas bahkan dapat
mengakibatkan kematian. Efek lain dari debu partikulat yang tidak berpengaruh pada
kesehatan manusia adalah terhalangnya jarak pandang, tertutupnya permukaan
bangunan, serta terganggunya proses fotosintesis tanaman karena menghalangi cahaya
matahari. Pengendalian kadar partikulat ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat
pengangkap partikulat dan melokalisir lokasi penghasil debu.
VIII. SIMPULAN
Berikut adalah simpulan dari percobaan TSP :
1. Kertas filter berubah warna menjadi kecoklatan dan terdapat bintik hitam setelah
di vakum selama 30 menit.
2. Berdasarkan baku mutu daerah, yaitu Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 551
Tahun 2001 kadar partikulat yang diamati kelompok 9 memenuhi baku mutu
partikulat yang diizinkan selama 24 jam.

3. Berdasarkan baku mutu nasional, yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Nomor 41 Tahun 1999 kadar partikulat yang diamati kelompok 9 memenuhi baku
mutu partikulat yang diizinkan selama 24 jam.
4. Berdasarkan standar WHO, kadar partikulat yang diamati kelompok 9 melewati
baku mutu partikulat yang diizinkan WHO selama 24 jam.
5. Efek dari penncemaran udara khususnya partikulat, tidak hanya berdampak pada
manusia, namun juga berdampak pada lingkungan.
6. Pengendalian kadar partikulat dapat dilakukan dengan salah satunya melokalisir
lokasi penghasil debu.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standarisasi Nasional 2005.SNI.19-7119.3-2005: Udara ambien- Bagian 3: Cara
uji partikel tersuspensi total menggunakan alat HVAS dengn metode gravimetri.
Keputusan Gubernur No. 551 Tahun 2001 Tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien
dan Baku Tingkat Kebisingan Di Propinsi DKI Jakarta: Jakarta.
Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara:
Jakarta.
WHO (2005). Air quality guidelines for particulate matter, ozone, nitrogen dioxide and
sulfur dioxide : Switzerland.
https://paiandoyle19.files.wordpress.com/2010/10/dampak-udara.ppt diakses pada tanggal
21 September 2015 pukul 00.05 WIB
http://www.academia.edu/7289597/Metode_Gravimetri_dalam_Alat_HVAS_Sebagai_Ca
ra_Kuantitatif_Mengukur_Kuantitas_Debu_dalam_Udara diakses pada 21 september
2015 pada 13.10 WIB
LAMPIRAN
1. Foto Hasil Pengamatan Kelompok 9
2. Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001
3. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999
4. WHO air quality guide lines
5. Jurnal Praktikan

Lampiran 1

Filter di masukkan di dalam desikator

Filter di panaskan di oven

Pengukuran menggunakan hygrometer

Filter dimasukkan kedalam HVAS

Filter ditimbang di neraca analitik

HVAS, saat mengukur flow meter

Lampiran 2

Lampiran 3

Lampiran 4

Lampiran 5