Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR ILMU TANAH


ACARA I
PENYIAPAN CONTOH TANAH

Oleh :
Nama

: Nathania Margareth Yuspitadiana

NIM

: A1C114020

Rombongan

: 1 (Satu)

PJ Asisten

: Ratna Purwanti

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah berasal dari bahasa inggris soil yang bermakna lapisan yang menempati
bagian atas kulit bumi. Tanah terdiri atas benda padat (bahan organik dan anorganik) serta air
dan udara. Pengertian lain menyebutkan bahwa tanah adalah campuran dari batuan dan
material serta bahan pelapukan. Tanah sangat berperan dalam kehidupan makhluk hidup di
bumi karena tanah membantu pertumbuhan tumbuhan dengan menyediakan hara, air dan
unsur-unsur yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh sekaligus sebagai penopang akar.
Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan penting untuk penetapan sifat-sifat
fisik tanah di laboratorium. Pengambilan contoh tanah untuk penetapan sifat-sifat fisik tanah
dimaksudkan untuk mengetahui sifat-sifat fisik tanah padasatu titik pengamatan, misalnya
pada lokasi kebun percobaan atau penetapan sifat fisik tanah yang menggambarkan suatu
hamparan berdasarkan poligon atau jenis tanah tertentu dalam suatu peta tanah.Pengambilan
contoh tanah secara komposit dapat menghemat biaya analisis bila dibandingkan dengan
pengambilan secara individu. Adapula contoh tanah yang diambil dengan pengambilan
sampel (core) dan disebut dengan contoh tanah utuh, yang biasanya digunakan untuk
menetapkan sifat tanah disebut contoh tanah utuh karena strukturnya asli seperti apa adanya
di lapangan sedangkan contoh tanah yang sebagian atau seluruh strukturnya telah rusak
disebut contoh tanah terganggu.
Contoh tanah dibedakan atas beberapa macam tergantung pada tujuan dan cara
pengambilan. Bila contoh tanah diambil pada setiap lapisan untuk mempelajari
perkembangan profil menetapkan jenis tanah maka disebut contoh tanah satelit. Contoh tanah
yang diambil dari beberapa tempat dan digabung untuk menilai tingkat kesuburan tanah
disebut contoh tanah komposit.

B. Tujuan
1. Untuk menetapkan kadar air dan derajat kerut tanah
2. Untuk mengenal contoh tanah dengan indra

II. TINJAUAN PUSTAKA


Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai
media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term). Tanah sebagai
tubuh alam mempunyai berbagai macam fungsi utama, diantaranya pertama sebagai media
tumbuhan tanaman yang menyediakan hara dan air. Kedua sebagai gudang unsur-unsur hara
makro dan mikro serta mengatur penyediaan bagi tanaman. Ketiga sebagai tempat tunjangan
mekanik akar tanaman. (Goeswono Soepardi, 1983)
Tanah dari tempat ke tempat tanah berbeda. Misalnya pada lereng yang curam tanah
tidak sedalam dan seproduktif seperti tanah yang terdapat di tempat yang datar. Sifat-sifat
tanah yang dibentuk di daerah tropis akan berbeda dari tanah yang dibentuk di daerah sub
tropis. Selain itu kita juga harus mempelajari tentang morfologi tanah tersebut untuk
meningkatkan kualitas tanah guna meningkatkan produktivitasnya. (Goeswono Soepardi,
1983)
Seorang ahli tanah menganggap tanah sebagai tubuh alam yang berdimensi dalam dan
luas. Ia juga memandang tanah sebagai hasil kerja gaya-gaya pembangunan dan penghancur.
Pelapukan bahan organik merupakan kejadian destruktif, sedangkan pembentukan mineral
baru sepetii liat, dan perkembangan suatu horizon merupakan kejadian sintetik. (Goeswono
Soepardi, 1983)
Untuk mencari atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat menggunakan
pengambilan contoh tanah dengan 3 cara yaitu : pengambilan tanah dengan agregat utuh,
pengambilan tanah tidak utuh dan pengambilan tanah utuh.
1. Contoh tanah utuh (undisturbed soil samle), digunakan untuk penetapan-penetapan
berat volume (bulk density), porositas tanah, kurva pH dan permeabilitas.

2. Contoh tanah dengan agregat utuh (undistrubed soil agregat), digunakan untuk
penetapan agregat dan COLE (Coeffisient of Linear Extensibility).
3. Contoh tanah terganggu atau tidak utuh (disturbed soil sample), digunakan untuk
penetapan-penetapan kadar air, tekstur, konsistensi dan batas-batas angka atterbeg
warna dan sebagainya.
Contoh tanah dari satu profil yaitu gabungan dari cara pengambilan contoh tanah
utuh, tanah agregat utuh dan tanah terganggu/tidak utuh. (Hakim, 2007)
Tanah tersusun atas : bahan mineral, bahan organik, udara dan air tanah. Horison
adalah lapisan-lapisan tanah yang terbentuk karena hasil dari proses pembentukkan tanah.
Horison-horison yang menyusun profil tanah dari atas ke bawah adalah :

Horizon O adalah lapisan yang didominasi oleh bahan organik. Sebagian jenuh air
dalam periode yang lama, atau suatu ketika pernah jenuh air, tetapi sekarang telah
didrainase, sebagian yang lain tidak pernah 6 mengalami jenuh air. Sebagian besar
horizon O tersusun dari serasah segar yang belum terdekomposisi atau sebagian telah
terdekomposisi yang telah tertimbun di permukaan. Serasah seperti ini dapat berada di

atas permukaan tanah mineral atau tanah organik. (Dr. Ir. Suripin, 2002)
Horizon A adalah horizon mineral yang terbentuk pada permukaan tanah atau di
bawah suatu horizon O. Horizon ini memperlihatkan kehilangan seluruh atau sebagian
besar struktur batuan asli dan menunjukkan salah satu atau kedua sifat berikut yaitu
akumulasi bahan organik terhumifikasi yang bercampur sangat intensif dengan fraksi
mineral, dan tidak di dominasi oleh sifat-sifat yang merupakan karakteristik horizon E
atau B. Sifat-sifat yang merupakan akibat dari pengolahan tanah, pengembalaan

ternak atau jenis-jenis gangguan lain yang serupa. (M. Soepraptohardjo, 1987)
Horizon E adalah horizon mineral yang kenampakan utamanya adalah kehilangan liat
silikat, besi, alumunium atau beberapa kombinasi senyawa-senyawa tersebut,

meninggalkan suatu konsentrasi partikel-partikel pasir dan debu. Horizon ini


memperlihatkan lenyapnya seluruh atau sebagian terbesar dari struktur batuan aslinya.
Horizon E dibedakan dari horizon B di bawahnya dalam sequm tanah sama, oleh
warna dengan value lebih tinggi atau chrome lebih rendah, atau keduanya, oleh
tekstur yang lebih kasar atau oleh suatu kombinasi dari sifat-sifat tersebut. (M.

Soepraptohardjo, 1987)
Horizon B adalah dimana material pada horison A yang tercuci ke bawah berkumpul
pada horizon B, atau zona akumulasi. Lapisan ini kadang agak melempung dan
berwarna merah/coklat karat akibat kandungan hematit dan limonitnya. Kalsit juga
dapat terkumpul di horizon B. Horizon ini sering disebut subsoil. Pada horizon B,
material bumi yang masih keras (hardpan), dapat terbentuk pada daerah dengan iklim
basah di mana mineral lepung, silika dan oksida besi terakumulasi akibat pencucian
dari horizon E. Lapisan hardpan ini sangat sulit untuk digali/dibor. Akar tumbuhan
akan tumbuh secara lateral di atasnya dan bukannya menembus lapisan ini, pohon-

pohon berakar dangkal ini biasanya terlepas dari akarnya oleh angin. (Pairunan, 1985)
Horizon C adalah dimana material batuan asal yang belum seluruhnya lapuk yang
berada di bawah horizon B. Material batuan asal ini menjadi subjek pelapukan
mekanis maupun kimiawi dari frost action, akar tumbuhan, asam organik, dan agen
lainnya. Horizon C merupakan transisi dari batuan asal (sedimen) di bawahnya dan
soil yang berkembang di atasnya. Horison ini merupakan lapisan bahan induk tanah
yang telah mengalami pelapukan. Proses pelapukkan yang terjadi pada horison ini
baru pada tahap pelapukan fisik dan belum mengalami perubahan secara kimiawi.

Pengaruh mahluk hidup belum mencapai horison ini. (Buckman, 1992)


Horizon R adalah batuan dasar tersementasi kuat sampai mengeras. Granit, basaly,
kuarsit, batu gamping, dan batu pasir adalah contoh batuan dasar yang diberi simbol
dengan huruf R. Lapisan R cukup kompak jika lembab sehingga cukup sulit di gali

dengan sekop walaupun lapisan tersebut dapat pecah berkeping-keping. (Dr. Ir.
Suripin, 2002)
Fraksinasi adalah penganalisisan sifat-sifat fisika tanah dengan cara memisahkan
butir-butir primer tersebut. Untuk mencari dan atau mengetahui sifat fisik tanah, kita dapat
menggunakan pengambilan contoh tanah dengan pengambilan tanah tidak terusik, terusik,
dan agregat tidak terusik. (Cahyono Agus, 2009)

III. METODE PRAKTIKUM


A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum penyiapan contoh tanah ini adalah mortir dan
penumbuknya, saringan (2 mm, 1 mm, dan 0,5 mm), tambir untuk peranginan, kantong
plastik dan spidol untuk menulis label.
Bahan yang digunakan dalam praktikum penyiapan contoh tanah ini adalah contoh
tanah terganggu yang telah diambil dari lapang dan sudah dikeringanginkan selama kurang
lebih satu minggu.

B. Prosedur Kerja
1. Contoh tanah yang sudah dikeringanginkan ditumbuk dalam mortit secara hati-hati,
kemudian diayak dengan saringan berturut-turut dari yang berdiameter 2 mm, 1 mm
dan 0,5 mm. contoh tanah yang tertampung di atas saringan 1 mm adalah contoh
tanah yang berdiameter 2 mm, sedang yang lolos saringan 0,5 mm adalah contoh
tanah halus (<0,5 mm).
2. Contoh tanah yang diperoleh dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label
seperlunya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Pembahasan

Dibawah ini akan dibahas secara singkat mengenai pengertian tanah menurut
beberapa ahli :

Jooffe dan Marbut (1949)


Dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat, Tanah adalah tubuh alam yang

terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan
alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon
mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat-sifatnya
dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat

sifat fisik maupun kehidupan biologinya


Darmawijaya (1990)
Mendefinisikan tanah sebagai akumulasi tubuh alam bebas, menduduki sebagain
besar permukaan planet bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat
sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam
keadaan relief tertentu selama jangka waktu tertentu pula.
Berzelius (1803)
Seorang ahli kimia Swedia mendefinisikan tanah sebagai laboratorium kimia alam
dimana proses dekomposisi dan reaksi sintesis kimia berlangsung secara terang. Disini
tampak jelas bahwa tanah belum lagi dianggap sebagai alat produksi pertanian melainkan
tempat berlangsungnya segala reaksi kimia yang terjadi di alam.
E. Saifudin Sarief (1986)
Tanah adalah benda alami yang terdapat di permukaan bumi yang tersusun dari
bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukkan batuan dan bahan organik (pelapukkan sisa
tumbuhan dan hewan), yang merupakan medium pertubuhan tanaman dengan sifatsifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor alami, iklim, bahan induk, jasad
hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu pembentukkan.
Analisis sifat fisik tanah memerlukan contoh tanah yang berbeda, tergantung
tujuannya. Ada beberapa jenis contoh tanah, diantaranya contoh tanah utuh (undisturbed soil
sample), agregat utuh (undisturbed soil aggregate), dan contoh tanah tidak utuh (disturbed

soil sample) yang peruntukan analisisnya berbeda. Peralatan yang digunakan untuk
mengambil contoh tanah berbeda sesuai dengan macam contoh tanah yang akan diambil.
Jenis Contoh Tanah

Jenis Alat
Tabung logam kuningan atau tembaga (ring

Contoh tanah utuh (undisturbed soil sample)


Agregat utuh (undisturbed soil aggregate)
Contoh tanah tidak utuh (disturbed soil

sample), sekop/cangkul, pisau tajam tipis


Cangkul, kotak contoh
Cangkul dan atau bor tanah, kantong plastic

sample)
tebal
Contoh tanah utuh dapat diambil menggunakan tabung logam yang terbuat dari
tembaga, kuningan, dan besi yang mempunyai ukuran tinggi 4 cm, diameter dalam 7,63 cm,
dan diameter luar 7,93 cm. Tabung tersebut ditutup dengan plastik di kedua ujungnya. Contoh
tanah utuh merupakan contoh tanah yang diambil dari lapisan tanah tertentu dalam keadaan
tidak terganggu, sehingga kondisinya hampir menyamai kondisi di lapangan.
Contoh tanah tersebut digunakan untuk penetapan angka berat volume (berat isi, bulk
density), distribusi pori pada berbagai tekanan (pF 1, pF 2, pF 2,54, dan pF 4,2 dan
permeabilitas. Untuk memperoleh contoh tanah yang baik dan tanah di dalam tabung tetap
seperti keadaan lapangan (tidak terganggu), maka perbandingan antara luas permukaan
tabung logam bagian luar (tebal tabung) dan luas permukaan tabung bagian dalam tidak lebih
dari 0,1.
Berikut adalah teknik pengambilan contoh tanah :
1. Ratakan dan bersihkan permukaan tanah dari rumput atau serasah
2. Gali tanah sampai kedalaman tertentu (5-10 cm) di sekitar calon tabung tembaga
diletakkan, kemudian ratakan tanah dengan pisau.
3. Letakan tabung di atas permukaan tanah secara tegak lurus dengan permukaan tanah,
kemudian dengan menggunakan balok kecil yang diletakkan di atas permukaan
tabung, tabung ditekan sampai tiga per empat bagian masuk ke dalam tanah

4. Letakan tabung lain di atas tabung pertama, dan tekan sampai 1 cm masuk ke dalam
tanah
5. Pisahkan tabung bagian atas dari tabung bagian bawah
6. Gali tabung menggunakan sekop. Dalam menggali, ujung sekop harus lebih dalam
dari ujung tabung agar tanah di bawah tabung ikut terangkat.
7. Iris kelebihan tanah bagian atas terlebih dahulu dengan hati-hati agar permukaan
tanah sama dengan permukaan tabung, kemudian tutuplah tabung menggunakan tutup
plastik yang telah tersedia. Setelah itu, iris dan potong kelebihan tanah bagian bawah
dengan cara yang sama dan tutuplah tabung
8. Cantumkan label di atas tutup tabung bagian atas contoh tanah yang berisi informasi
kedalaman, tanggal, dan lokasi pengambilan contoh tanah
Tanah memiliki banyak jenis karena perbedaan proses pembentukan dan unsur yang
terdapat di dalamnya juga berbeda. Berikut jenis-jenis tanah yang ada di Indonesia.
1. Tanah Vulkanik
Tanah vulkanik adalah tanah hasil pelapukan abu vulkanik dari gunung berapi. Tanah
vulkanik dibagi menjadi empat :

Tanah Regosol
Tanah regosol berciri-ciri berbutir kasar, berwarna kelabu sampai kuning, dan

berbahan organik sedikit. Tanah ini cocok untuk tanaman palawija (seperti jagung),
tembakau, dan buah-buahan. Jenis tanah ini banyak terdapat di Pulau Sumatra, Jawa,
dan Nusa Tenggara.
Tanah Latosol
Tanah latosol berciri-ciri berwarna merah hingga kuning, kandungan bahan
organik sedang, dan bersifat asam. Tanah ini cocok untuk tanaman palawija, padi,
kelapa, karet, kopi. Jenis tanah ini banyak terdapat di Sumatra Utara, Sumatra Barat,
Bali, Jawa, Minahasa, dan Papua.
Tanah Andosol

Tanah andosol terbentuk dari abu vulkanis yang telah mengalami proses
pelapukan. Tanah andosol berciri-ciri warna kelabu hingga kuning, peka terhadap
erosi, dan sangat subur. Tanah ini cocok sebagai lahan pertanian, perkebunan, hutan
pinus atau cemara. Jenis tanah ini banyak terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok,
Halmahera, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi.
Tanah Aluvial (Tanah Endapan)
Tanah Aluvial terbentuk melalui proses tanah hasil erosi (lumpur dan pasir
halus) di daerah-daerah dataran rendah. Tanah aluvial berciri-ciri warna kelabu dan
peka terhadap erosi. Tanah ini dapat digunakan sebagai lahan pertanian sawah dan
palawija. Jenis tanah ini banyak terdapat di Sumatera, Jawa bagian utara, Halmahera,
Kalimatan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi dan Papua bagian selatan.
2. Tanah Organosol
Tanah organosol merupakan tanah hasil pelapukan bahan-bahan organik. Biasanya
bersifat subur. Tanah jenis ini dibagi tiga, yaitu :
Tanah Humus
Merupakan tanah hasil pembusukan bahan-bahan organik dan bersifat sangat
subur. Tanah humus berwarna kecoklatan dan cocok untuk tanaman kelapa, nanas,
dan padi. Tanah jenis ini banyak terdapat di Pulau Sumatra, Sulawesi, Jawa Barat,
Kalimantan, dan Papua.
Tanah Gambut
Merupakan tanah hasil pembusukan yang kurang sempurna di daerah yang
selalu tergenang air seperti rawa. Tanah ini kurang baik untuk pertanian karena kurang
subur dan selalu tergenang air. Tanah gambut banyak terdapat di Kalimantan Barat,
pantai timur Sumatra, dan pantai selatan-barat Papua.
Tanah Litosol (Tanah Berbatu-batu)
Tanah Litosol terbentuk dari proses pelapukan batuan beku dan sedimen yang
masih baru (belum sempurna) sehingga butirannya besar/kasar. Tanah litosol berciriciri tekstur tanahnya beranekaragam dan pada umumnya berpasir, tak bertekstur,
warna kandungan batu, kerikil dan kesuburan bervariasi. Tanah cocok digunakan saat

masih alang-alang, bisa untuk hutan. Tanah ini banyak terdapat di Jawa Tengah, Jawa
Timur, Madura, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi dan Sumatera.
3. Tanah Mergel
Tanah Mergel terbentuk dari proses hasil campuran pelarutan kapur, pasir dan tanah
liat karena peristiwa air hujan. Tanah ini berciri-ciri tidak subur. Tanah ini cocok digunakan
untuk hujan jati. Tanah ini banyak ditemukan di Yogyakarta, Priangan Selatan di Jawa Barat,
pegunungan Kendeng di Jawa Tengah, Kediri, Madiun, Nusa Tenggara.
4. Tanah Aluvium (Alluvial)
Tanah aluvium adalah tanah hasil erosi yang diendapkan di dataran rendah. Ciri-ciri
tanah aluvium adalah berwarna kelabu dan subur. Tanah ini cocok untuk tanaman padi,
palawija, tebu, kelapa, tembakau, dan buah-buahan. Tanah jenis ini banyak terdapat di
Sumatra bagian Timur, Jawa bagian utara, Kalimantan bagian barat dan selatan, serta Papua
utara dan selatan.
5. Tanah Podzol
Tanah ini terbentuk akibat pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah.
Tanah podzol bercirikan miskin unsur hara, tidak subur, dan berwarna merah sampai kuning.
Tanah ini baik untuk tanaman kelapa dan jambu mete. Tanah podzol banyak dijumpai di
daerah pegunungan tinggi Sumatra, Jabar, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Papua.
6. Tanah Laterit
Tanah laterit adala tanah hasil pencucian sehingga kurang subur, kehilangan unsur
hara, dan tandus. Tanah ini awalnya subur namun karena zat haranya dilarutkan oleh air maka
menjadi tidak subur. Warna tanah ini kekuningan sampai merah. Tanah ini baik untuk kelapa
dan jambu mete. Tanah jenis ini banyak terdapat di Jawa Tengah, Lampung, Jabar,
Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara.
7. Tanah Litosol
Tanah litosol adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan batuan sedimen yang baru
terbentuk sehingga butirannya besar. Ciri-ciri tanah ini yaitu miskin unsur hara dan
mineralnya masih terikat pada butiran yang besar. Tanah litosol kurang subur sehingga hanya
cocok bagi tanaman-tanaman besar di hutan. Tanah litosol banyak terdapat di Pulau Sumatra,
Jawa Tengah dan Timur, Nusa Tenggara, Maluku selatan, dan Papua.
8. Tanah Kapur

Tanah kapur merupakan hasil pelapukan batuan kapur (gamping). Tanah ini terbagi
jadi dua jenis, yaitu :

Renzina
Tanah ini merupakan hasil pelapukan batuan kapur di daerah dengan curah

hujan tinggi. Ciri tanah ini yaitu berwarna hitam dan miskin zat hara. Tanah renzina
banyak terdapat di daerah berkapur seperti Gunung Kidul (Yogyakarta).
Mediteran
Merupakan hasil pelapukan batuan kapur keras dan batuan sedimen. Warna
tanah ini kemerahan sampai coklat. Tanah jenis ini meski kurang subur namun cocok
untuk tanaman palawija, jati, tembakau, dan jambu mete.
9. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang bersifat kurang baik bagi pertanian yang terbentuk dari
batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

V. KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Kita dapat menggunakan pengambilan contoh tanah dengan 3 cara yaitu :
pengambilan tanah dengan agregat utuh, pengambilan tanah tidak utuh dan
pengambilan tanah utuh.
2. Contoh tanah yang diamati dapat digunakan untuk penetapan angka berat volume
(berat isi, bulk density), distribusi pori pada berbagai tekanan (pF 1, pF 2, pF 2,54,
dan pF 4,2) dan permeabilitas.
B. Saran
Pada praktikum ini, diharapkan untuk para praktikan memperhatikan dengan
seksama alat dan bahan juga cara kerjanya. Agar para praktikan dapat melakukan praktikum
ini dengan baik dan mendapatkan hasil yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Cahyono. 2009. Petunjuk Praktikum Ilmu Tanah Hutan. Yogyakarta : Fakultas
Kehutanan UGM.
Buckman, H.O. dan N.C.Brady. 1982. Ilmu Tanah, terjemahan Prof.Dr.Ir.Soegiman. Jakarta :
Penerbit Bhratara Karya Aksara.
Hakim, Prasetyo. 2007. Perbedaan Sifat-Sifat Tanah Vertisol Dari Berbagai Bahan Induk.
Jakarta : Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia.
Pairunan, A.K, dkk. 1985. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Indonesia Timur : Badan Kerja Sama
Perguruan Tinggi.
Soepraptohardjo, M. dkk. 1987. Pedoman Pengamatan Tanah di Lapang. Bogor : Lembaga
Penelitian Lapang, Departemen Pertanian.
Supardi, Goeswono. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Bogor : Insitut Pertanian Bogor.
Suripin, Dr.Ir.M.Eng. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta : Erlangga.