Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditemukan di seluruh
dunia, disebabkan oleh genus Leptospira yang pathogen. Namun, adanya gejala dan
tanda leptospirosis yang tidak khas seperti demam, nyeri kepala, mual, dan muntah
sering dianggap sebagai penyakit infeksi virus. Sembilan puluh persen (90 %)
kasus leptospirosis bermanifestasi sebagai penyakit demam akut dan mempunyai
prognosis baik, sedangkan 10 % kasus lainnya mempunyai gambaran klinis lebih
berat sehingga menyebabkan kematian pada 10 % kasus. Manifestasi leptospira
yang berat dan seringkali fatal dikenal sebagai penyakit Weil atau leptospirosis
ikterik, dengan gambaran klasik berupa demam, ikterus, gagal ginjal, dan
perdarahan. Organ lain yang dapat pula terkena adalah jantung, paru, dan susunan
syaraf pusat (Bobby dkk, 2001).
Titik sentral penyebab leptospirosis adalah urin hewan terinfeksi leptospira
yang mencemari lingkungan. Gejala klinis penyakit ini sangat bervariasi dari ringan
hingga berat bahkan dapat menyebabkan kematian penderitanya. Gejala klinis yang
tidak spesifik memerlukan uji laboratorium untuk mendukung penentuan
diagnosanya. Upaya mengisolasi dan mengidentifikasi leptospira sangat memakan
waktu. Diagnosis leptospira yang utama dilakukan secara serologis. Uji serologis
merupakan uji standart untuk konfirmasi diagnosis, menentukan prevalensi dan
studi epidemiologi. Vaksinasi pada hewan merupakan salah satu cara pengendalian
leptospirosis. Pengembangan vaksin untuk hewan masih terus dilakukan di
Indonesia untuk memperoleh vaksin multivalent yang efektif karena leptospira
terdiri dari banyak serovar. Penggunaaan vaksin yang sesuai dikombinasikan
dengan perbaikan sanitasi lingkungan merupakan upaya pengendalian leptospirosis
pada hewan di masa datang (Kusmiyati dkk, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


1.
Bagaimana pengertian dari penyakit Leptospirosis?
2.
Bagaimana etiologi dari penyakit Leptospirosis?
3.
Bagaimana tanda dan gejala penyakit Leptospirosis?
4.
Bagaimana patofisiologi penyakit Leptospirosis?
5.
Bagaimana epidemiologi penyakit Leptospirosis?
6.
Bagaimanakah pengobatan dan pencegahan penyakit Leptospirosis?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
2.
3.
4.

Menganalis tentang penyakit Leptospirosis.


Menganalisis etiologi dari penyakit Letospirosis.
Mengaalisis tanda dan gejala penyakit Leptospirosis.
Mengaalisis perubahan patofisiologia hewan yang terserang penyakit

Leptospirosis.
5. Menganalisis epidemiologi penyakit Leptospirosis
6. Menganalisis pengobatan dan pencegahan untuk penyakit Leptospirosis.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut
:
1
2

Dapat mengetahui lebih banyak tentang penyakit Leptospirosis.


Dapat mengetahui faktor, penanganan dan pencegahan dari penyakit
leptospirosis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Leptospirosis
2

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh infeksi bakteri yang


berbentuk spiral dari genus Leptospira. Leptospira tersebar luas di seluruh dunia,
terutama pada daerah tropis. Penularan leptospirosis pada manusia terjadi secara
kontak langsung melalui genangan air yang terkontaminasi urin yang terinfeksi
leptospira. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang luka atau
membrane mukosa. Gejala penyakit ini sangat bervariasi mulai dari demam,
ikterus, hemoglobinuria, pada hewan yang bunting dapat terjadi abortus dan janin
lahir mati, bahkan dapat menyebabkan kematian penderitanya. Tingkat keganasan
serangan Leptospirosis tergantung dari serovar Leptospira dan spesies hewan
yang terinfeksi pada daerah tertentu (Kusmiyati, 2005).

Gambar : Anjing yang terserang penyakit Leptospirosis

2.2 Etiologi Leptospirosis

Gambar : bakteri Leptospira


Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang Berbentuk spiral, tipis,
lentur dengan panjang 10-20 tm dan tebal 0,1 gin serta memiliki dua lapis
membran. Kedua ujungnya mempunyai kait berupa flagelum periplasmik.
Bergerak aktif maju mundur dengan gerakan memutar sepanjang sumbunya.
Bentuk dan gerakannya dapat dilihat dengan mikroskop medan gelap atau
mikroskop fase kontras (Faine, 1982).
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh infeksi dari
spesies Leptospira, famili Leprospiraceae ordo Spirochaetales yang patogen,
bermanifestasi sebagai demam akut. Infeksi pada manusia pada umumnya
disebabkan oleh roden (misalnya tikus), kadang-kadang babi dan anjing.
Organisme ini hidup di air sehingga air merupakan sarana penular pada manusia.
Sebagian besar kasus leptospirosis akan sembuh sempurna, walaupun sekitar
sepuluh persen diantaranya dapat bersifat fatal. Mortalitas meningkat apabila
didapatkan gejala ikterus, gagal ginjal, dan perdarahan. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan gejala klinis, diagnosis pasti apabila ditemukan organisme dalam
darah atau urin pada pemeriksaan dark-groun microscope, biakan darah dan urin,
uji aglutinasi, serta imunoglobuln.. Antibiotik golongan penisilin dapat diberikan
untuk pengobatan leptospirosis. Perawatan diperlukan apabila terdapat komplikasi
(Hickey, 2002).

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat ditemukan di seluruh


dunia. Namun, adanya gejala dan tanda leptospirosis yang tidak khas seperti
demam, nyeri kepala, mual, dan muntah sering dianggap sebagai penyakit infeksi
virus. Sembilan puluh persen kasus leptospirosis bermanifestasi sebagai penyakit
demam akut dan mempunyai prognosis baik, sedangkan 10% kasus lainnya
mempunyai gambaran klinis lebih berat sehingga menyebabkan kematian pada
10% kasus. Manifestasi leptospira yang berat dan seringkali fatal dikenal sebagai
penyakit Weil atau leptospirosis ikterik, dengan gambaran klasik berupa demam,
ikterus, gagal ginjal, dan perdarahan. Organ lain yang dapat pula terkena adalah
jantung, paru, dan susunan syaraf pusat.(Heath, 1994).

Gambar : serovar Leptospira


Bakteri ini termasuk dalam ordo Spirochaetales, Famili Leptospiraceae,genus
Leptospira. Leptospira dapat tumbuh di dalam media dasar yang diperkaya
5

dengan vitamin, asam lemak rantai panjang sebagai sumber karbon dan garam
amonium; tumbuh optimal pada suhu 28-30C dalam kondisi obligat aerob (Adler
et al.,1986 ;Faine, 1982).
Sistem penggolongan Leptospira yang tradisional genus Leptospira dibagi
menjadi dua yaitu L.interrogans yang patogen dan L.biflexa yang nonpatogen.
L.interrogans dibagi menjadi serogrup dan serovar berdasarkan antigen.
Klasifikasi terbaru dari Leptospira yaitu L.interrogans dibagi menjadi 7 spesies
yaitu L.interrogans, L.weilii, L.santarosai, L.noguchii, L.borgpetersenii, L.inadai,
L.kirschneri dan 5 spesies yang tidak bertitel yaitu spesies 1, 2, 3, 4, dan 5.
L.biflexa dibagi menjadi 5spesies barn (Hickey dan Deemeks, 2003).

2.3 Tanda dan Gejala Leptospirosis


Pada anjing, infeksi serovar icterohaemorrhagica dapat bersifat hiper akut
pada anak anjing, namun umumnya bersifat subakut. Gejala mula mula berupa
demam yang diikuti perdarahan tersebar luas pada selaput lendir dan kulit.
Kematian terjadi secara cepat. Selaput lendir berwarna kekuning kuningan
(Soeharsono, 2002).
Gejala klinis penyakit leptospirosis antara lain muntah muntah, demam,
depresi, haus, mulut bau, selaput lendir di mata, putih mata, kulit berubah kuning,
urine kuning sampai kecoklatan, lemah, dan koma. Bila tidak segera diambil
tindakan maka anjing yang terserang penyakit dipastikan mati. Perawatan intensif
penyakit ini dapat dilakukan dokter hewan. Cara penularan penyakit Leptospirosis
melalui kontak langsung dengan anjing penderita. Anjing yang dikawinkan
dengan anjing penderita juga bisa tertular. Demikian pula induk yang menderita
leptospirosis dapat menginfeksi ke anaknya yang masih dalam kandungan. Pakan
dan minuman yang tercemar mudah menginfeksi ke tubuh anjing. Padaha, anjing
memiliki kebiasaan menjilati air kencing dan kotoran anjing lain sehingga mudah
terinfeksi. Air liur yang terciprat saat menyalak dapat menular anjing lainnya.

Binatang yang menjadi vektor diantara lainnya caplak dan tikus. Tikus adalah
sumber utama dari penularan penyakit ini (N.S Budiana, 2008).
2.4 Patofisiologis Leptospirosis
Patofisiologi penyakit leptospira ini dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu :
1. Pre Patogenesis
Infeksi oleh Leptospira umumnya didapat karena kontak kulit atau
selaput lendir (mucous membrane) misalnya, konjuktiva (mata) karena
kecipratan selaput lendir vagina atau lecet-lecet kulit dengan urin atau
cemaran oleh keluaran urogenitalis lainnya atau mengkonsumsi makanan atau
minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut. Apabila hewan korban
terinfeksi bakteri Leptospira ini, maka segeralah mikroorganisme ini merasuk
ke dalam jaringan tubuh penderita (Hauser dkk, 2005).
2. Patogenesis
Masuknya bakteri Leptospirosis pada tubuh hospes melalui selaput
lendir, luka-luka lecet maupun melalui kulit menjadi lebih lunak karena
terkena air. Kemudian, bakteri akan dibawa ke berbagai bagian tubuh dan
memperbanyak diri terutama di dalam hati, ginjal, kelenjar mamae dan
selaput otak. Bakteri tersebut dapat ditemukan di dalam atau di luar sel-sel
jaringan yang terkena. Pada beberapa tingkatan penyakit dapat ditemukan
Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis

156fase leptospiremia, yang

biasanya terjadi pada minggu pertama setelah infeksi.


Bakteri leptospira masuk ke dalam tubuh penjamu melalui luka
iris/luka abrasi pada kulit, konjungtiva atau mukosa utuh yang melapisi
mulut, faring, osofagus, bronkus, alveolus dan dapat masuk melalui inhalasi
droplet infeksius dan minum air yang terkontaminasi. Meski jarang
ditemukan, leptospirosis pernah dilaporkan penetrasi bakteri leptospira
melalui kulit utuh yang lama terendam air, saat banjir. Infeksi melalui selaput
lendir lambung jarang terjadi, karena ada asam lambung yang mematikan
bakteri leptospira. Bakteri leptospira yang tidak virulen gagal bermultiplikasi
dan dimusnahkan oleh sistem kekebalan dari aliran darah setelah 1 atau 2 hari
infeksi. Organisme virulen mengalami mengalami multiplikasi di darah dan
7

jaringan, dan bakteri leptospira dapat diisolasi dari darah dan cairan
serebrospinal pada hari ke 4 sampai 10 perjalanan penyakit.
Bakteri leptospira merusak dinding pembuluh darah kecil; sehingga
menimbulkan vaskulitis disertai kebocoran dan ekstravasasi sel. Patogenitas
bakteri leptospira yang paling penting adalah perlekatannya pada permukaan
sel dan toksisitas selluler. Lipopolysaccharide (LPS) pada bakteri leptospira
mempunyai aktivitas endotoksin yang berbeda dengan endotoksin bakteri
gram negatif, dan aktivitas lainnya yaitu stimulasi perlekatan netrofil pada sel
endotel dan trombosit, sehingga terjadi agregasi trombosit disertai
trombositopenia. Bakteri leptospira mempunyai fosfolipase yaitu hemolisin
yang mengakibatkan lisisnya eritrosit dan membran sel lain yang
mengandung fosfolipid. Beberapa strain serovar Pomona dan Copenhageni
mengeluarkan protein sitotoksin. In vivo, toksin in mengakibatkan perubahan
histopatologik berupa infiltrasi makrofag dan sel polimorfonuklear. Organ
utama yang terinfeksi bakteri leptospira adalah ginjal dan hati. Di dalam
ginjal bakteri leptospira bermigrasi ke interstisium, tubulus ginjal, dan lumen
tubulus.
Pada leptospirosis berat, vaskulitis akan menghambat sirkulasi mikro
dan meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga menyebabkan kebocoran
cairan dan hipovolemia. Ikterik disebabkan oleh kerusakan sel-sel hati yang
ringan, pelepasan bilirubin darah dari jaringan yang mengalami hemolisis
intravaskular, kolestasis intrahepatik sampai berkurangnya sekresi bilirubin.
Conjungtival suffusion khususnya perikorneal; terjadi karena dilatasi
pembuluh darah, kelainan ini sering dijumpai pada patognomonik pada
stadium dini. Komplikasi lain berupa uveitis, iritis dan iridosiklitis yang
sering disertai kekeruhan vitreus dan lentikular. Keberadaan bakteri leptospira
di aqueous humor kadang menimbulkan uveitis kronik berulang.
Bakteri leptospira difagosit oleh sel-sel sistem retikuloendotelial serta
mekanisme pertahanan tubuh. Jumlah organisme semakin berkurang dengan
meningkatnya kadar antibodi spesifik dalam darah. Bakteri leptospira akan
dieleminasi dari semua organ kecuali mata, tubulus proksimal ginjal, dan

mungkin otak dimana bakteri leptospira dapat menetap selama beberapa


minggu atau bulan.
Secara umum dapat di paparkan patogenesis perjalanan penyakit
leptospirosis sebagai berikut :
- Produksi toksin
Beberapa serovar leptospira patogen mampu memproduksi toksin.
Beberapa

endotoksin

yang

diproduksi

diantaranya

hemolisin,

sphingomyelinase, phospholipase C. Selain itu beberapa serovar juga


memproduksi protein cytotoxin yang mampu menghambat Na-K ATPase.
-

Attachment (perlekatan)
Leptospira mengadakan perlekatan pada sel epitelial, diantaranya
melekat pada sel epital renalis dan perlekatan ini dibantu oleh konsentrasi
subagglutinasi dari antibodi homolog. Selain itu lipopolisakarida (LPS)
leptospira merangsang perlekatan netrofil ke sel endotel dan platelet,
menimbulkan aggregasi platelet dan menyebabkan trombositopenia.

Mekanisme imun dan immunitas leptospirosis


Aspek imunologis pada infeksi leptospirosis akan dijelaskan di
sub bagian khusus.

- Surface protein
Membran terluar dari leptospira tersusun oleh LPS dan beberapa
lipoprotein (Outer Membran Proteins / OMPs). LPS bersifat sangat
immunogenik dan menentukan spesifisitas masing-masing serovar.
Keduanya, baik LPS maupun OMPs, penting dalam patogenesis dari
nefritis interstitiil.
(Kayser dkk, 2005)
3. Pasca Patogenesis
9

Pada proses infeksi yang berkepanjangan reaksi imunologik yang


timbul dapat memperburuk keadaan hingga kerusakan jaringan makin parah.
Leptospira

hidup

dengan

baik

didalam

tubulus

kontortus

ginjal.

Kemungkinan bakteri tersebut akan dibebaskan melalui air kemih untuk


jangka waktu yang lama. Kematian terjadi karena septimia, anemia
hemolitika, kerusakan hati karena terjadinya uremia. keparahan penderita
bervariasi tergantung pada umur serta servoar leptospira penyebab infeksi
(Sandra dkk, 2008).

2.5 Epidemiologi Leptospirosis


Secara epidemiologi, wilayah penyebaran leptospirosis umumnya pada
daerah tropis dan subtropics. Sebagian besar negara di Asia Tenggara dinyatakan
sebagai daerah endemis leptospirosis. Penyakit yang disebut re-emerging
infectious disease ini dalam perkembangannya dipengaruhi oleh kondisi iklim,
terutama pada musim penghujan serta kemungkinan adanya kontak dengan
lingkungan yang terkontaminasi leptospira. Penyakit ini secara tradisional
dihubungkan dengan penularan melalui tikus yang disebabkan oleh reservoar
icterohemorrhagiae dan copenhageni. Pada saat ini semua infeksi Leptospira lebih
sering disebut sebagai leptospirosis dengan mengabaikan gejala dan tanda klinik.
Sejarah perkembangan penyakit leptospirosis dimulai ketika pada tahun 1914
Inada berhasil mengisolasi family spirochaeta dari spesies Spirochaeta
icterohemorrhagiae. Pada tahun itu juga, Wolbach dan Binger mengisolasi
Spirochaeta biflexa. Pada tahun 1915 bakteri leptospira berhasil dideteksi oleh
Inada dan Ido dari darah orang Jepang yang bekerja sebagai penambang dan
disertai penyakit kuning, juga dideteksi di Jerman oleh Unlenhuth dan Fromme.
Kemudian pada tahun 1918 Noguchi mengisolasi famili Spirochaeta dengan
Genus Spirochaeta, Genus Cristispira, Genus Treponema, Genus Borrelia dan
Genus Leptospira. (Widoyono,2005).
Penyakit infeksi akut leptospirosis dapat menular langsung atau tidak
langsung dari hewan ke manusia. Leptospirosis merupakan penyakit dengan
10

gejala klinis tidak spesifik dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosa tanpa uji
laboratorium. Gejala klinis leptospirosis dapat menyerupai penyakit lain yang
sering dijumpai pada daerah endemis, misalnya infeksi dengue, hanta virus,
thypoid, hepatitis, malaria, meningitis. Hal ini menyebabkan leptospirosis sering
tidak terdiagnosis. (Menurut WHO,2006),
Berdasarkan aspek lingkungan, insiden leptospirosis lebih banyak terjadi
pada negara beriklim tropis dan subtropis dengan curah hujan yang tinggi.
Kondisi lingkungan pada daerah tersebut menjadi sangat optimal bagi
pertumbuhan Leptospira. Berdasarkan aspek umur,nleptospirosis termasuk
penyakit infeksi yang menyerang semua golongan umur, namun 50% kasus pada
umumnya berada pada kelompok umur 10 39 tahun. Kelompok umur tersebut
merupakan kelompok yang paling banyak kontak dengan faktor risiko. (Depkes
RI,2008),
Lingkungan kumuh dengan sanitasi buruk terkait erat dengan kejadian
leptospirois, hal mana disebabkan karena peningkatan populasi tikus sehingga
memperbesar kemungkinan kontak antara manusia dengan hewan terinfeksi.
Manusia dapat terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau lumpur
yang terkontaminasi oleh urine hewan yang terinfeksi. Infeksi ini terjadi karena
adanya luka/erosi pada kulit maupun selaput lendir. Air tergenang dan mengalir
lambat yang terkontaminasi urin hewan infektif berperan dalam penularan
leptospirosis. Paparan yang relatif lama pada genangan air yang terkontaminasi
leptospira terhadap kulit yang utuh dapat juga menularkan leptospira.
2.6 Pengobatan dan Pencegahan Leptospirosis
Pengobatan anjing yang terserang Leptospirosis bisa dilakukan dengan
membawanya ke dokter hewan. Biasanya dokter hewan akan memberikan
penisilin yang cukup ampuh jika serangan masih pada tahap awal. Namun, jika
serangannya sudah parah, kemungkinan anjing akan diberi chlorampenicol,
streptomycin, chlortetracycline, tertracycline, atau erythromycin. Saat perawatan,

11

anjing harus diisolasi dan kotorannya tidak boleh terjilat anjing yang sehat. Wadah
pakan dan minum juga harus selalu dibersihkan untuk memperkecil resiko
penularan. Pencegahan paling baik adalah vaksinasi yang dilakukan sedini
mungkin (drh. Prajanto dkk, 2004).

12

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh infeksi bakteri yang
berbentuk spiral dari genus Leptospira. Leptospira tersebar luas di seluruh dunia,
terutama pada daerah tropis. Penularan leptospirosis pada manusia terjadi secara
kontak langsung melalui genangan air yang terkontaminasi urin yang terinfeksi
leptospira. Pada anjing, infeksi serovar icterohaemorrhagica dapat bersifat hiper
akut pada anak anjing, namun umumnya bersifat subakut. Gejala mula mula
berupa demam yang diikuti perdarahan tersebar luas pada selaput lendir dan kulit.
Kematian terjadi secara cepat. Selaput lendir berwarna kekuning kuningan. Cara
pengobatannya yati dapat di bawa ke dokter hewan dan pencegahanya yaitu
divaksin sedini mungkin.
3.2 Saran
Semoga makalah ini berguna untuk pembuatan makalah selanjutnya dan
berguna untuk para pembaca sebagai referensi kesehatan hewan.

13

DAFTAR PUSTAKA

Adler B., S. faine, W.L. Christopher and R.J Chappel. 1986. Development of an Improved
Selective Medium for Isolation of Leptospires from Clinical Material. Vet
Microbial. 12 : 377 381
Bobby Setadi, Andi Setiawan, Daniel Effendi, Sri Rezeki, S. Hadinegoro. 2001.
Leptospirosis. PPDS Bagian Ilmu Kesehatann Anak FKUI RSCM : Jakarta
Depkes RI. 2008. Pedoman Diagnosa dan Penatalaksanaan Penanggulangan Kasus
Leptospirosis di Indonesia
Drh Prajanto dan Drs. Agus Andoko. 2004. Membuat Anjing Sehat dan Pintar.
Agromedia Pustaka : Jakarta Selatan
Faine, S. 1982. Guidelines for the Control of Leptospirosis World Health Organization,
Geneva. 171 P
Hauser, Kasper et al, 2005, Harrisons Principles of Internal Medicine 16 editions, Mc
Graw Hill. New York. Page 988-990.
Heath, S.E and R. Johnson. 1994. Leptospirosis. JAVMA 205 (11) : 1518 1523
Hickey P. W and D. Deemeks. 2003. Leptospirosis. Emedicine. PP. 1 9
Hickey P.W, Denners D. 2002. Leptospirosis Medicine J : H 1 17
Kayser, et al, 2005, Medical Microbiology, thieme. Page 328-330.
Kusmiyati, Susan M. Noor dan supar. 2005. Leptospirosis pada Hewan dan Manusia di
Indonesia. Balai Penelitian veteriner : Bogor
N. S Budiana. 2008. Anjing. Penebar Swadya : Depok
Sandra, Gompf, 2008, Leptospirosis, last up date August, 11, 2008. Download from
www.emedicine.com/leptospirosis.html. sorces :
14

http://sanirachman.blogspot.com/2009/08/all-aboutleptospirosis_9366.html#ixzz2wPziluZ3 Under Creative Commons License:


Attribution Non-Commercial
Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia Volume 1.
Kanisius : Yogyakarta
WHO. 2003. Human Leptospirosis Gudana for Diagnosis, Surveillance and Control
Widoyono. 2005. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan
Pemberantasan

15