Anda di halaman 1dari 9

PEREKONOMIAN INDONESIA

RMK KEBIJAKAN SEKTOR MONETER

Oleh :
Nama

: I Dewa Nyoman Alit Ariawan

NIM

: 1306305108

No Absen

: 43

Fakultas Ekonomi Dan Bisnis


Universitas Udayana
2015

A. Uang dan Perekonomian


Dalam perekonomian dengan memakai uang, banyak sedikitnya jumlah uang
dalam peredaran menentukan lancar tidaknya aktvitas ekonomi. Ketika jumlah uang
yang beredar terlalu sedikit akan terjadi deflasi yang jika terus berlanjut akan
berujung pada depresi. Sedangkan saat jumlah uang yang beredar terlalu banyak
akan mengakibatkan inflasi. Menentukan likuiditas ekonomi (uang yang beredar)
secara tepat masih sulit untuk dilakukan.
Hubungan antara jumlah uang yang beredar dengan kegiatan ekonomi dikenal
sebagai teori Kuantitas, dengan rumus :
MV = Y
Dimana
M = jumlah uang yang ada dalam peredaran
V = jumlah berapa kali saru mata uang berpindah tangan dari seorang ke orang lain
dalam setahun
Y = pendapatan nasional
Pada saat ini jumlah uang yang beredar dikenal dengan M2, yang merupakan
M1 (uang kartal dan uang giral) ditambah dengan uang kuasi (tabungan, deposito,
kartu kredit, dan ATM). Untuk menghitung velocity of circulation (V) dengan memakai
M2 berarti diumpamakan semua jenis uang (kartal, giral, dan kuasi) mempunyai
kecepatan perputaran yang sama. Jika diumpamakan nilai V untuk uang giral dan
uang kuasi masing-masing satu, maka nilai V untuk uang kartal di Indonesia berkisar
antara 10 dan 15.
Tingkat perputaran uang kuasi dan uang giral bernilai 1(satu) jika langsung
dipergunakan dalam transaksi ekonomi tanpa mengubahnya menjadi uang kartal
terlebih dahulu meskipun digunakan berkali-kali dalam transaksi ekonomi. Ketika
uang kuasi dan uang giral dirubah terlebih dahulu menjadi uang kartal dalam
transaksi ekonomi maka yang dianggap berpindah tangan adalah uang kartal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi likuiditas perekonomian berasal dari dalam


negeri (perubahan dalam tagihan kepada pemerintah dan tagihan kepada swasta
baik kepada lembaga-lembaga pemerintah maupun perusahaan swasta dan
perorangan) dan faktor dari luar negeri (aktiva luar negeri). Ketika faktor-faktor
tersebut bernilai positif maka jumlah uang yang beredar bertambah dan berlaku
sebaliknya.
B. Kebijaksanaan Moneter
Kebijakan moneter adalah setiap kebijaksanaaan yang diambil oleh pemerintah
atau oleh Bank Indonesia atau besama-sama di dalam bidang keuangan atau
bidang moneter dengan harapan mempengaruhi sektor riil, khususnya menunjang
pembangunan ekonomi.
Tujuan Kebijaksanaan Moneter
Tujuan kebijaksanaan moneter adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pembangunan ekonomi yang dibarengi dengan kebijaksanaan di
sektor riil dan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang diatur
oleh Bank Indonesia. Kestabilan nilai rupiah adalah kestabilan terhadap harga-harga
barang dan jasa yang tercermin pada inflasi.
Alat Kebijaksanaan Moneter
Secara operasional, pengendalian sasaran kebijaksanaan moneter dapat
menggunakan instrumen-instrumen berikut :
1. Operasi pasar terbuka (Open Market Operation)

Pada kebijaksanaan operasi pasar terbuka (OPT) Bank Indonesia bertindak


sebagai pembeli atau penjual di pasar surat berharga atau dipasar devisa. Instrumen
yang digunakan dalam OPT meliputi : Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan SBI
Syairah (SBIS), surat-surat berharga, penempatan berjangka (term deposit) oleh
bank dan/atau pihak lain di BI, dan valuta asing. Operasi pasar terbuka dapat
bersifat konstraksi dan ekspansi.

Operasi pasar terbuka konstraksi, yakni menyerap likuiditas dari bank dan pihak
lain (broker di bursa surat berharga) yang mengalami kelebihan likuiditas,
dilaksanakan saat Bank Indonesia atau pemerintah memperkirakan akan terjadi
kelebihan likuiditas perekonomian, yang salah satu indikatornya adalah tingkat
bunga di pasar uang antar bank (PAUB) turun dengan drastis. OPT konstraksi ini
dilakukan dengan lelang SBI, Fine tune kontraksi, menjual SUN, reverse repo SUN,
dan sterilisasi valas dengan menjual USD/IDR ataupun melakukan swap jual
USD/IDR.
Operasi pasar terbuka ekspansi , yakni memompakan likuiditas kepada bank
dan pihak lain (broker di bursa surat berharga) yang mengalami kekurangan
likuiditas, dilaksanakan saat Bank indonesia atau pemerintah memperkirakan akan
terjadi kekurangan likuiditas perekonomian yang salah satu indikatornya adalah
tingkat bunga di pasar uang antar bank (PUAB) naik dengan drastis.
2. Penetapan cadangan wajib minimum
Penetapan cadangan minimum adalah dalam bentuk giro yang juga dikenal
sebagai Giro Wajib Minimum (GWM) yaitu simpanan yang harus dipelihara oleh
bank dalam bentuk saldo rekening giro pada Bank Indonesia yang besarnya
ditetapkan oleh Bank Indonesia. Apabila Bank Indonesia atau pemerintah
memperkirakan akan terjadi kekurangan likuiditas perekonomian, maka Bank
Indonesia akan menurunkan GWM. Dengan turunnya GWM maka, bank umum
mampu memberikan kredit lebih besar atau likuiditas perekonomian akan meningkat.
Sebaliknya apabila Bank Indonesia ata pemerintah memperkirakan akan terjadi
kelebihan likuiditas perekonomian, maka Bank Indonesia akan meningkatkan GWM,
sehingga bank-bank harus menambah gironya dan dengan demikian kelebihan
likuiditasnya terserap. Semua bank harus mempunyai GWm dalam rupiah
sedangkan bank devisa selain harus mempunyai GWM dalam bentuk rupiah juga
harus mempunyai GWM dalam bentuk valuta asing.

3. Politik diskonto
Kebijakan moneter melalui pengendalian suku bunga (BI Rate), ditetapkan
melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia setiap bulan. Dalam tataran
operasional, BI rate tercermin dari pergerakann suku bunga Pasar Uang Antar Bank
(PUAB) overnight (O/N). Pergerakan ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan
suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan.
4. Pengaturan kredit atau pembiayaan

Kredit aktivitas utama dari lembaga keuangan bank, sehingga manajemen kredit
sangat penting. Tujuan dari pengaturan kredit adalah untuk tindakan berhati-hati
(prudent banking), menghindari penyalahgunaan kredit dengan tujuan akhir
meminimumkan kredit macet. Misalnya, kredit atau bantuan likuiditas Bank
Indonesia (BLBI) dengan bunga rendah (karena bersubsidi) diatur sedemikian rupa
sehingga hanya sebagian tertentu saja yang boleh disalurkan kepada anak
perusahaan dari bank penerima.
5. Kebijaksanaan lain
a) Bujukan moral, yang bersifat informal dan masih bersifat efektif karena
adanya hubungan yang baik antara Bank Indonesia dengan manajer bank
dan pelanggan besar.
b) Sanering, yang dilaksanakan pada saat pemerintahan Sukarno dengan
menggunting uang kertas yang beredar menjadi dua bagian. Satu bagian atau
setengahnya dari nilai nominal uang itu diganti dengan uang kertas baru,
sedangkan setengah lainnya diganti dengan obligasi negara.
c) Pergantian uang, yaitu mengganti uang lama dengan uang baru dengan
perbandingan uang lama dengan nilai Rp1.000,-.
d) Devaluasi,

yaitu

berkaitan

dengan

kebijaksanaan

pemerintah

untuk

menurunkan nilai uang dalam negeri terhadap nilai uang luar negeri.
Bekerjanya transmisi kebijakan moneter ini memerlukan waktu (time lag) yang
berbeda sesuai dengan jalur kebijakan yang ditempuh. Kondisi sektor keuangan dan
perbankan juga sangat berpengaruh pada kecepatan transmisi kebijakan moneter.

C. Kelembagaan Kebijaksanaan Moneter


Sektor perbankan di Indonesia dalam tahun-tahun pertama kemerdekaan terdiri
dari sebuah bank sentral, bank warisan jaman penjajahan yang kemudian
dinasionalisasi , bank swasta, dan beberapa bank asing. Keadaan Indonesia yang
masuk kedalam keadaan hiperinflasi, membuat lembaga-lembaga keuangan yang
ada mengalami masa surut. Pada tahun 1965, bank-bank umum tidak lagi
menjalankan fungsi-fungsinya secara normal yang kemudian hanya berperan
sebagai saluran pembiayaan difisit APBN.
Pada

saat

pemerintahan

Orde

Baru

menyadari

adanya

kegagalan

kebijaksanaan yang mengandalkan campur tangan langsung pemerintah dan


berusaha untuk mengurangi peran negara di dalam kehidupan ekonomi, dengan
lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan pasar dan memberi kesempatan kepada
sektor swasta untuk mengambil peranan lebih besar didalam perekonomian.
Dengan

makin

berkembangnya

bank-bank

umum,

Bank

Indonesia

menghentikan fungsi bank umumnya yang secara resmi dicantumkan dalam


undang-undang

bank

sentral

tahun

1968.

Pada

tahun

1983

pemerintah

mengeluarkan deregulasi perbankan untuk pertama kalinya, yang dikenal dengan


Paket Juni (Pakjun) 1983 yang memberikan kemudahan bagi bank untuk
menentukan sendiri suku bunga deposito dan dihapuskannya campur tangan Bank
Indonesia terhadap bank dalam penyaluran kredit.
Pada tanggal 27 Oktober 1988 pemerintah mengeluarkan Pakto 88 yang
merupakan aturan paling liberal sepanjang sejarah perbangkan Indonesia. Hanya
dengan modal Rp 10 miliar, siapa saja bisa mendirikan bank baru dan kepada bankbank asing lama dan yang baru masuk diizinkan membuka cabangnya di enam
kota. Sehingga, jumlah bank meningkat drastis yang diikuti dengan kompetisi sengit
dalam perekrutan tenaga kerja, dalam mobilisasi dana masyarakat, dan usaha
mengucurkan kredit dan pinjaman, yang akibatnya diikuti oleh kredit macet yang
menggunung (krisis perbankan). Akibat dari krisis perbankan pemerintah melakukan
likuidasi beberapa bank dan melaksanakan program penyehatan di bawah BPPN.

D. Nila Mata Uang Rupiah


Nilai mata uang bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan perkonomian suatu
negara. Nilai uang dapat diukur didalam negeri (inflasi) dan nilai rupiah dalam valuta
asing (devaluasi).
Nilai dalam negeri (inflasi)
Di dalam negeri nilai uang rupiah ditentukan berdasarkan daya belinya, yakni
kemampuan untuk mendapatkan barang dan jasa. Nilai uang rupiah didalam negeri
ditunjukan oleh ada atau tidaknya gejala umum penurunan harga (deflasi) atau
adanya gejala umum kenaikan harga (inflasi).Untuk keadaan deflasi jarang terjadi
dan cenderung mengalami inflasi.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah indeks
harga konsumen (IHK). Perubahan IHK menunjukan pergerakan harga dari paket
barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Selain IHK indikator lain untuk
menghitung inflasi adalah indeks harga perdagangan besar (IHPB) dan deflator
produk doemstik bruto (PDB). Pada IHPB menghitung harga transaksi yang terjadi
antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya
dalam jumlah besar pada pasar pertama atas satu komoditas. Sedangkan deflator
PDB menggambarkan pengukuran level harga barang akhir dan jasa yang
diproduksi di dalam negeri.
Ketika terjadi inflasi maka tingkat daya beli masyarakat menjadi berkurang
sehingga merasa dirugikan, tetapi ada juga pihak yang diuntungkan seperti, para
pengusaha ketika kenaikan keuntungannya lebih besar dari tingkat inflasi dan para
debitur karena nilai hutangnya mengecil sesuai dengan tingkat inflasi. Berkurangnya
daya beli masyarakat tiap kali inflasi seolah-olah karena dipungut pajak oleh
pemerintah, sehingga disebut pajak inflasi.
Nilai rupiah dalam valuta asing (devaluasi)
Nilai rupiah dalam valuta asing adalah jumlah valuta asing yang diperoleh dari
penukaraan satu unit rupiah. Naik atau turunnya nilai satu mata uang relatif terhadap
mata uang lainnya yang ditentukan berdasarkan kekuatan permintaan dan
penawaran disebut mata uang tersebut mengalami apresiasi/depresiasi.

Apabila perubahan nilai satu mata uang berdasarkan kebijaksanaan pemerintah


maka dikatakan terjadi devaluasi (nilai mata uang relatif dalam negeri menurun
relatif terhadap mata uang asing) atau revaluasi (nilai mata uang

relatif dalam

negeri naik relatif terhadap mata uang asing). Penentuan kurs valuta asing bisa
dilakukan dengan dua cara yaitu melalui perbandingan jaminan (mint) dan pariti
daya beli (purchasing power) dari masing-masing mata uang.
Setiap mata uang mempunyai jaminan di bank sentralnya, yang berupa emas
dan logam mulai lainnya ditambah dengan surat-surat berharga dan mata uang
asing yang kompertibel. Kandungan jaminan pada mata uang menunjukkan nilainya
masing-masing, dan ketika dibandingkan maka akan diperoleh niali mata uang
tertentu relatif terhadap mata uang lainnya.
Penentuan kurs valuta asing dengan pariti daya beli dilakukan dengan
membandingkan indeks harga konsumen dua negara (dengan tahun dasar yang
sama). Saat ini penentuan kurs valuta asing diserahkan pada kekuatan pasar sejak
krisis 1997. Devaluasi mempunyai akibat mendorong ekspor dan mengekang impor.

Daftar Pustaka
Nehen, ketut. 2012. Perekonomian Indonesia. Denpasar : Penerbit Udayana
University Press.