Anda di halaman 1dari 7

Kunjungi Makalah Menarik Lainnya Hanya di:

http://solehanhans.blogspot.com/
http://solehan1312.wordpress.com/

LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA DASAR

OLEH
NAMA

: solehan.com

STAMBUK

: SSEER44455

ASISTEN

: MBAH GUGLE

LABORATORIUM FISIKA DASAR


JURUSAN SUKA DUKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JAGAD RAYA
DUNIA
201X

A. Tujuan Percoban
Tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan Molaritas dan Normalitas larutan NaOH
2. Menetapkan kadar asam cuka perdagangan
B. Landasan Teori
Asidi dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hidrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang
bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara pemberi proton (asam)
dengan penerima proton (basa) (Shochichah,2010).
Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa,
sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan menggunakan larutan baku
asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses
mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain
yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk
mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah
saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik
ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri.
Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi
dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat
penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator (Anonim,2009).
Titrasi asidi-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa
lemah, asam lemah-basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah, basa kuat-garam dari basa
lemah. Titrasi ini menggunakan indikator pH atau indikator asam-basa sebagai penanda karena
memiliki sifat dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Warna asam ialah
sebutan warna indikator ketika dalam keadaan asam dan warna basa ketika dalam keadaan basa
(Harjadi,1986).
Analisa titrimetri atau analisa volumetric adalah analisis kuantitatif dengan mereaksikan
suatu zat yang dianalisis dengan larutan baku (standar) yang telah diketahui konsentrasinya
secara teliti, dan reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar tersebut berlangsung secara
kuantitatif. Larutan baku (standar) adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara

teliti, dan konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas)
(Shochichah,2010).
Larutan standar biasanya kita teteskan dari suatu buret ke dalam suatu erlenmeyer yang
mengandung zat yang akan ditentukan kadarnya sampai reaksi selesai. Selesainya suatu reaksi
dapat dilihat karena terjadi perubahan warna Perubahan ini dapat dihasilkan oleh larutan
standarnya sendiri atau karena penambahan suatu zat yang disebut indikator. Titik di mana
terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi. Secara ideal titik akhir titrasi
seharusnya sama dengan titik akhir teoritis (titik ekuivalen). Dalam prakteknya selalu terjadi
sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi (Sukmariah, 1990).
Untuk analisis titrimetri atau volumetri lebih mudah kalau kita memakai sistem ekivalen
(larutan normal) sebab pada titik akhir titrasi jumlah ekivalen dari zat yang dititrasi = jumlah
ekivalen zat penitrasi. Berat ekivalen suatu zat sangat sukar dibuat definisinya, tergantung dari
macam reaksinya. Pada titrasi asam basa, titik akhir titrasi ditentukan oleh indikator. Indikator
asam basa adalah asam atau basa organik yang mempunyai satu warna jika konsentrasi hidrogen
lebih tinggi daripada sutau harga tertentu dan suatu warna lain jika konsentrasi itu lebih rendah
(Sukmariah, 1990).
Indikator adalah zat yang ditambahkan untuk menunjukkan titik akhir titrasi telah di
capai. Umumnya indikator yang digunakan adalah indicator azo dengan warna yang spesifik
pada berbagai perubahan pH. Titik Ekuivalen adalah titik dimana terjadi kesetaraan reaksi secara
stokiometri antara zat yang dianalisis dan larutan standar. Titik akhir titrasi adalah titik dimana
terjadi perubahan warna pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang
dianalisis dan larutan standar. Pada umumnya, titik ekuivalen lebih dahulu dicapai lalu
diteruskan dengan titik akhir titrasi. Ketelitian dalam penentuan titik akhir titrasi sangat
mempengaruhi hasil analisis pada suatu senyawa (Shochichah,2010).
C. Alat dan Bahan

1.
2.
3.
4.
5.

1. Alat
Alat yang digunakan dalam percoban ini adalah sebagai berikut:
Buret
Statif dan klem
Erlenmeyer 250 ml 1 buah
Pipet ukur
Filler

1.
2.
3.
4.
D.

2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:
NaOH 0,1 M
Fenolftalein
Asam Oksalat
Asam cuka perdagangan
Prosedur Kerja

1. Standarisasi Larutan NaOH


- Larutan NaOH dimasukkan kedalam buret hingga 30 ml
- Lalu asam oksalat 3 ml dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer
- Kemudian ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein
- Diitrasi dengan larutan NaOH kemudian diamati
2. Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan
- Larutan NaOH yang sudah distandarisasi dimasukkan kedalam buret
- Kemudian larutan asam cuka perdagangan 3 ml dimasukkan kedalam labu Erlenmeyer
- Ditambahkan 5 tetes indikator fenolftalein
- Titrasi dengan larutan NaOH yang sudah distandarisasi
- Diamati
E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Standarisasi Larutan NaOH
Terjadi perubahan warna bening
Dimasukkan 3 ml larutan asam oksalat
menjadi warna merah jambu dan
(C2H2O4) ke dalam labu Erlenmeyer
memerlukan larutan NaOH sebanyak
kemudian ditambahkan 5 tetes indikator
0,25 ml.
fenolftalein dan dititrasi dengan larutan Terjadi perubahan warna bening
NaOH.
menjadi warna merah jambu dan
Penetapan Asam Cuka Perdagangan
memerlukan larutan NaOH sebanyak
Dimasukkan
larutan
asam
cuka
1,2 ml.
perdagangan ke dalam labu Erlenmeyer
sebanyak 3 ml, kemudian ditambahkan
5 tetes indikator fenolftalein kemudian
dititrasi dengan larutan NaOH.
2. Perhitungan
a. Standarisasi Larutan NaOH
Dik
: V NaOH = 0,25 ml
V C2H2O4 = 3 ml
Molaritas C2H2O4 = 10-1
Dit
: Konsentrasi NaOH = . . . . ?
Peny : M1 . V1
= M2 . V2

M1 . 0,25 ml = 10-1 . 3 ml
M1
= 3.10-1
25.10-2
M1
= 0,12.101
M1
= 1,2 M
Jadi konsentrasi NaOH adalah 1,2 M
b. Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan
Dik
: V CH3COOH = 3 ml
V NaOH = 1,2 ml
M NaOH = 1,2 M
Dit
: Konsentrasi CH3COOH = ?
Peny : M1 . V1
= M2 . V2
1,2 M . 1,2 ml = M2 . 3 ml
M2
= 1,44
3
M2
= 0,48 M
Jadi, konsentrasi CH3COOH adalah 0,48 M
F. Pembahasan
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan
zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi
yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan reaksi asam basa maka
disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi
oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan
lain sebagainya.
Proses titrasi termasuk asidi-alkalimetri membutuhkan larutan baku dalam metodenya.
Larutan baku haruslah distandardisasi terlebih dahulu untuk menentukan konsentrasi yang tepat
dari calon larutan baku. Ada pula larutan baku primer, yakni larutan yang dibuat dari bahan baku
primer. Bahan baku primer merupakan suatu bahan yang konsentrasi larutannya dapat langsung
ditentukan dari berat bahan sangat murni yang dilarutkan dan volume bahan yang terjadi
Pada percobaan kali ini praktikan melakukan analisa kuantitatif untuk menstandarisasi
larutan baku sekunder dengan larutan baku primer. dimana pada percobaan kali ini larutan baku
yang digunakan adalah NaOH (natrium hidroksida) dan larutan baku primer C2H2O4 (asam
oksalat).
Sebelum digunakan untuk mentitrasi asam cuka, larutan NaOH ini distandarisasi terlebih
dahulu karena NaOH merupakan zat yang mudah terkontaminasi, bersifat higroskopis sehingga
mudah menarik uap air dari udara dan juga mudah bereaksi dengan CO 2 dalam udara. Di mana
pada kedua proses ini menyebabkan penimbangan sejumlah tertentu NaOH tidak akan
memberikan kepastian massa yang sesungguhnya, karena jumlah air dan CO 2 yang diserap oleh

NaOH tidak diketahui dengan pasti. Hal ini mengakibatkan kensentrasi NaOH yang dihasilkan
juga tidak tepat. Dengan demikian apabila menggunakan NaOH sebagai pereaksi dalam suatu
titrasi maka zat tersebut harus distandarisasi sebelumnya.
Untuk menstandarisasi larutan NaOH ini digunakan 3 ml larutan asam oksalat, larutan ini
digunakan sebagai larutan standar primer karena larutan ini tidak bersifat higroskopis dan
memiliki berat ekuivalen yang tinggi sehingga dapat mengurangi kesalahan dalam penimbangan
zat.
Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan titrasi menggunakan 5 tetes indikator
fenolftalein. Pemilihan indikator felnolftalein karena pada standarisasi ini merupakan titrasi asam
lemah (C2H2O4) dan basa kuat (NaOH) sehingga titik ekivalennya diatas 7 dan berada pada
trayek indikator fenolftalein.
Pada standarisasi ini NaOH digunakan sebagai titran sementara asam oksalatnya sebagai
titrat karena mengingat indikator yang digunakan adalah fenolftalein sehingga ketika PP
ditambahkan pada asam oksalat, akan menunjukkan warna bening. Ketika pada titik ekivalen,
akan terjadi perubahan dari bening menjadi merah muda. Jika asam oksalat yang digunakan
sebagai titran dan NaOH sebagai titrat maka akan terjadi perubahan warna dari merah muda ke
bening. Pada dasarnya, perubahan warna dari bening ke merah muda lebih mudah diamati
daripada perubahan warna dari merah muda ke bening. Dan juga penggunaan asam oksalat
sebagai titran kemungkinan besar akan menyebabkan kesalahan titrasi yang besar karena terjadi
kelebihan penambahan titran hingga melewati titik ekivalen. Kelebihan titran ini disebabkan
karena kesulitan mengamati perubahan warna dari merah muda ke bening. Setelah terjadi
perubahan warna untuk yang pertama kali, titrasi langsung dihentikan dan NaOH yang berkurang
langsung dicatat. NaOH yang berkurang pada percobaan kali ini adalah 0,25 ml, sehingga
konsentrasi NaOH dapat diketahui sebesar 1,2 M.
Setelah larutan baku NaOH tersebut sudah diketahui konsentrasinya, maka larutan
tersebut sudah dapat digunakan untuk menentukan kadar asam cuka perdagangan. Pada
percobaan ini, menetapkan asam cuka perdagangan untuk mengetahui apakah kadar yang tertera
pada etiket cuka perdagangan sudah sesuai dengan kadar yang sebenarnya. Analisis dilakukan
secara alkalimetri yaitu dengan cara menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan
baku NaOH.

Untuk menganalisis asam cuka dalam cuka perdagangan dapat dilakukan dengan titrasi
netralisasi. Titrasi ini merupakan titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa
untuk mentitrasi asam bebas.
Setelah kita mengetahui normalitas dari larutan NaOH, maka dilakukan langkah
selanjutnya yaitu menetapkan kadar asam cuka perdagangan dengan cara mengambil 3 ml asam
cuka perdagangan dengan pipet volume, lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer. Kemudian
ditambah dengan 5 tetes indikator PP. Larutan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan baku
NaOH diatas, hingga diperoleh perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah jambu. Bila
sudah terjadi perubahan warna tersebut maka titrasi langsung dihentikan dan catat volume NaOH
yang digunakan. NaOH yang digunakan pada penetapan kadar asam cuka perdagangan sebesar
1,2 ml, sehingga konsentrasi asam cuka perdagangan (CH3COOH) dapat diketahui sebesar 0,48
M.
G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada proses standarisasi NaOH terbentuk larutan berwarna merah jambu dengan konsentrasi
NaOH sebesar 1,2 M.
2. Pada proses penetapan kadar asam cuka perdagangan terbentuk larutan berwarna merah jambu
dengan konsentrasi asam cuka perdagangan sebesar 0,48 M.
DAFTAR PUSTAKA
Hettik, 2010, Asidi-Alkalimetri dan Potensiometri, http://hettik07.student.ipb.ac.id/2010/ 06/20/asidialkalimetri-potensiometri/, 23/10/2011.
shochichah, 2010,Standarisasi Larutan NaOH dan Penentuan Asam Cuka Perdagangan,
http://shochichah.blogspot.com/2010/04/standardisasi-larutan-naoh-dan.html, 23/10/2011.
Sukmariah, 2009, Standarisasi larutan NaOH, tadriskimia .blogspot. com/ standarisasi naoh.htm,
23/10/2011.
http://mafikadihati.blogspot.co.id/2012/11/laporan-praktikum-penentuan-kadar-asam.html
diakses 15.25 2 november 2015

By : solehan.com