Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagaimana diketahui salah satu mineral utama dalam penyusun tulang yaitu
kalsium. Kurangnya konsumsi kalsium bisa mengakibatkan berkurangnya kalsium yang
terdapat dalam tulang, sehingga lama kelamaan akan terjadi perubahan pada
mikroarstektur tulang dan tulang menjadi lunak. Akibatnya tulang menjadi kehilangan
kepadatan dan kekuatannya, sehinnga mudah retak/patah.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan osteomalasia. Kekurangan kalsium dan
vitamin D terutama di masa kecil dan remaja saat di mana terjadi pembentukan massa
tulang yang maksimal, merupakan penyebab utama osteomalasia Konsumsi kalsium
yang rendah atau menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium yang
umumnya terjadi pada dewasa , dapat menyebabkan osteomalasia, selain itu ganguan
pada sindroma malabsorbsi usus, penyakit hati, gagal ginjal kronis dapat juga menyebab
terjadinya osteomalasia. Terjadinya osteomalasia merupakan rangkaian awal terjadinya
osteoporosis, pada saat sekarang ini angka kejadian tersebut sangat meningkat tajam
baik pada anak anak, dewasa atau pun orang tua.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1.
Pengertian dari Osteomalasia ?
1.2.2.
Etiologi dari Osteomalasia ?
1.2.3.
Patofisiologi dari Osteomalasia ?
1.2.4.
Manifestasi Klinis dari Osteomalasia?
1.2.5.
Komplikasi dari Osteomalasia ?
1.2.6.
Penatalaksanaan dari Ostomalasia?
1.2.7.
Pemeriksaan Penunjang ?
1.2.8.
Pathway dari Osteomalasia ?
1.2.9.
Bagaimana asuhan keperawatan dari kasusu Osteomalasia ?

1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Menegetahui konsep dari osteomalasia dan asuhan keperawatan yang
diberikan pada pasien dengan.
1.3.2.
Tujuan Khusus

1. Mengetahui tentang pengertian, etiologi, anatomi fisiologi, patofisiologi dari


Osteomalasia.
2. Mengetahui
tanda

dangejala

diagnose

banding,

komplokasi,

penatalaksanaan dari Osteomalasia.


3. Mengetahui pemeriksaan p[enunjang, asuhan keperawatan dari pengkajian,
diagnose, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan dari
Osteomalasia.
1.4 Manfaat
1.4.1. Bagi Penyusun
Menambah pengetahuan dan wawasan keperawtan, tinjauan pustaka dari
Osteomalasia.
1.4.2. Bagi Pembaca
Mnambah pengetahuan dan informasi secara singkat tentang Tinjauan Pustaka
dan Asuhan Keperawatan.
1.4.3. Bagi Pendidikan
Menambah referensi dan sumber bacaan secara singkat tentang Osteomalasia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Definisi
Osteomalasia merupakan penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak
memadainya mineralisasi tulang (kondisi serupa pada anak dinamakan rikets) (Brunner
dan Suddart, Edisi 8, 2002)
Osteomalasia adalah manifestasi dari kekurangan vitamin D. Perubahan mendasar
pada penyakit ini adalah gangguan mineralisasi tulang disertai meningkatnya osteoid
yang tidak mengalami manifestasi (Robins, 2007).
Osteomalasia adalah penyakit rakhitis pada orang dewasa dan sebagaimana penyakit
rakhitis, kelainan ini berkaitan dengan gangguan kalsium pada matriks tulang (gangguan
mineralisasi) ( Muttaqin Arief, 2008).

2.2.

Etiologi

1.
2.
3.
4.
5.
2.3.

Kekurangan vitamin D
Kekurangan kalsium dalam diet.
Kelainan gastrointestinal.
Malabsorbsi kalsium
Gagal ginjal kronis.
Patofisiologi
Ada beberapa kasus osteomalasia yang terjadi akibat gangguan umum metabolisme

mineral. Faktor resiko terjadinya osteomalasia meliputi kekurangan dalam diet,


malabsorbsi, gastrektomi, gagal ginjal kronik, terapi antikonvulsan berkepanjangan
(fenitoin, fenobarbital), dan kkurangan vitamin D (diet, sinar matahari).
Tipe malnutrisi (kekurangan vitamin D sering berhubungan dengan asupan kalsium
yang jelek) terutama akibat kemiskinan, tapi mematang makanan dan kurangnya
pengatahuan mengenai nutrisi juga merupakan salah satu faktor. Paling sering terjadi di
bagian dunia vitamin D tidak ditambahkan dalam makanan dan dimana

terjadi

kekurangan dalam diet dan jauh dari sinar matahari.

Osteomalasia dapat terjadi sebagai akibat kegagalan absorpsi kalsium atau kehilangan
kalsium berlebihan dari tubuh. Kelainan gastrointestinal dimana absorpsi lemak tidak
memadai sering menimbulkan osteomalasia melalui kehilangan vitamin D (bersama
dengan vitamin yang larut dalam lemak lainnya) dan kalsium, kalsium diekskresikan
melalui feses dengan kombinasi asam lemak. Kelainan ini meliputi penyakit seliak,
obstruksi traktus biliaris kronik, pankreatitis kronik, dan reaksi usus halus.
Gagal ginjal berat menyebabkan asidosis. Kalsium yang tersedia dipergunakan untuk
menetralkan asidosis, dan hormone paratiroid terus menyebabkan pelepasan dari kalsium
skelet sebagai usaha untuk mengembalikan pH fisiologis.
Selama pelepasan kalsium skelet terus menerus ini, terjadi fibrosis tulang dan kista
tulang. Glomerulonefritis kronik, uropati obstruksi, dan keracunan logam berat
mengakibatkan berkurangnnya kadar fosfat serum dan mineralisasi tulang. Selain itu
penyakit hati dan ginjal dapat mengakibatkan kekurangan vitamin D, karena keduanya
merupakan organ yang melakukan konversi vitamin D ke bentuk aktif. Akhirnya
hiperparatiroidisme mengakibatkan deklasifikasi skelet, dan artinya osteomalasia, dengan
peningkatan ekskresi fosfat dalam urine. Pertimbangan gerontilogik diet yang bergizi
tinggi sangat penting terutama lansia. Dianjurkan peningkatan kalsium dan vitamin D.

Karena sinar matahari penting, lansia harus didorong untuk banyak berjemur dibawah
sinar matahari.
Pencegahan, identifikasi, dan penanganan osteomalasia pada lansia sangat penting
untuk menurunkan insiden fraktur. Bila osteomalasia terjadi bersama dengan
osteoporosis, maka insiden fraktur akan semakin meningkat.
Osteomalasia terjadi akibat defisiensi vitamin D yang menyebabkan terjadi penurunan
kalsium serum, yang merangsang pelepasan hormone paratiroid. Peningkatan hormone
paratiroid meningkatkan penguraian tulang dan ekskresi fosfat oleh ginjal. Tanpa
mineralisasi tulang yang adekuat, maka tulang menjadi lebih tipis. Teradi penimbunan
osteoid yang tidak terkristalisasi dalam jumlah abnormal yang membungkus saluransaluran tulang bagian dalam. Hal ini menimbulkan deformitas tulang.

2.4.

Manifestasi Klinis
Umumnya gejala yang memperberat dari oseteomalasia adalah:
1) Nyeri tulang dan kelemahan otot akibat defisiensi kalsium. Nyeri tulang yang
dirasakan menyebar terutama pada daerah pinggang dan paha.
2) Pasien akan mengalami cara jalan bebek atau pincang.
3) Tungkai menjadi lebih bengkok pada penyakit lebih lanjut (karena tinggi badan
dan kerapuhan tulang, dan tarikan otot), vertebrata menjadi tertekan, pemendekan
batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).
4) Penurunan berat badan
5) Anoreksia
6) Mudah sekali mengalami patah tulang. Terutama dibagian tulang panjang seperti
tulang lengan atau tulang kaki.
7) Fraktur patologis.
8) Vertebra yang melunak menjadi tertekan, dan mengubah bentuk tulang
(kifosis,lordosis lumbalis,skoliosis).
9) Kelemahan dan ketidaktegapan menimbulkan resiko terjatuh dan fraktur.
10) Merasakan sakit saat duduk dan mengalami kesulitan bangun dari posisi duduk ke
posisi berdiri.

2.5.

Pemeriksaan Penunjang
1) Rontgen
Menunjukkan fraktur yang khas (loosers zones) pada tulang-tulang pelvis dan
tulang panjang terutama metatarsal.
2) Pemeriksaan Sinar-X
Demineralisasi tulang secara umum.
3) Pemeriksaan Vertebra
Memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vertebra yang jelas.

4) Pada Radiogram
Osteomalasia tampak sebagai pengurangan densitas tulang, terutama pada tangan,
tengkorak, tulang iga dan tulang belakang.
5) Pemeriksaan Laboratorium
Menunjukkan kadar kalsium serum dan fosfor rendah, kadar fosfat alkali
meningkat sedang, ekskresi keratinin dan kalsium urine rendah.
6) Biopsi
Tulang menunjukkan peningkatan osteoid.
2.6. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medik
Jika penyebabnya kekurangan vitamin D, maka dapat disuntikkan vitamin D 200.000
IU per minggu selama 4-6 minggu, yang kemudian dilanjutkan dengan 1600 IU setiap
hari atau 200.000 IU setiap 4-6 bulan.
Jika terjadi kekurangan fosfat (hipofosfatemia), maka dapat diobati dengan
mengkonsumsi 1,25 dihydroxy vitamin D.
b. Penatalaksanaan Non Medik
Jika kekurangan kalsium maka yang harus dilakukan adalah memperbanyak konsumsi
unsur kalsium. Agar sel osteoblas (pembentuk tulang) bisa bekerja lebih keras lagi.
Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, buah, tahu, tempe, ikan teri, daging, dan yogurt
mengkonsumsi suplemen kalsium sangatlah disarankan.
Jika kekurangan vitamin D, sangat dianjurkan untuk memperbanyak konsumsi
makanan seperti ikan salmon, kuning telur, minyak ikan, dan susu. Untuk membantu
pembentukan vitamin D dalam tubuh cobalah sering berjemur di bawah sinar matahari
pagi antara pukul 07.00 09.00 pagi dan sore pada pukul 16.00 - 17.00.
1) Diperlukan diet vitamin D disertai suplemen kalsium.
2) Apabila osteomalasia atau rakitis disebabkan oleh penyakit lain, maka penyakit
tersebut akan memerlukan penanganan terlebih dahulu.
3) Pemajanan sinar matahari dianjurkan.
4) Jika terjadi deformitas ortopedik persisten perlu penggunaan brace/korset atau
dengan pembedahan.
2.7.

Komplikasi
1) Kesemutan ditangan dan kaki
2) Cocok (kejang)
3) Kram
4) Rasa berkedut dalam tubuh

2.8. PATHWAY

Kekurangan vitamin D dan


kalsium dalam diet

Kalsium ekstra sel


berkurang

Berat badan dan tarikan


tubuh

Transport kalsium ke tulang


terganggu

Tulang melengkung

Mineral dalam tulang

Resiko fraktur meningkat

Kerangka tubuh menjadi


lunak

Tekanan pada vertebra

Gangguan Mobilitas Fisik

Tinggi badan

Penekanan syaraf vertebra

Deformitas

Cara berjalan pincang

Resiko cedera

Nyeri punggung

Harga Diri Rendah

Nutrisi Kurang dari


Kebutuhan Tubuh
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Nyeri Akut

Nafsu makan

3.1. Pengkajian
1. Biodata
a. Identitas Klien meliputi :
Nama

: Tn. x

Umur

: 48 tahun

Berat Badan

: 65 kg

Tinggi badan

: 168 cm

Alamat

: Surabaya

Pekerjaan

: karyawan swasta

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Masuk RSUAM

: 18 Mei 2015

Penanggung jawab : Istri Tn x


2. Riwayat Penyakit Sekarang
1) Keluhan utama
2) Saat masuk RS

: Nyeri tulang
: pinggangnya nyeri, cara jalan seperti bebek atau

pincang,dan mudah lelah


3) Riwayat penyakit Sekarang : sebulan yang lalu pasien mengaku sudah pernah
mengalami nyeri tulang pinggang. Sampai dia izin kerja selama 2 hari di pabriknya.
Pasien mengaku setelah membeli obat setelan di toko terdekat dan beristirahat
selama 2 hari sudah sembuh. Namun beberapa hari setelah itu pasien mengaku
mudah lelah, nafsu makan menurun, semakin kurus, dan pasien merasakan tidak
sekuat sebelumnya dan jika aktifitasnya berat pinggangnya nyeri lagi. Keadaan
seperti itu terus berulang sampai kemarin pasien merasa sudah tidak kuat menahan
nyeri pinggang dan akhirnya pada tanggal 18 mei 2015 pasien masuk rumah sakit.
4) Pengkajian nyeri
a. P : Terasa nyeri saat berjalan dan nyeri berkurang jika istirahat.
b. Q : Seperti tertekan benda berat.

c. R
d. S
e. T

: Pada pinggang
: 8 (1-10)
: Pada saat beraktivitas.

3. Riwayat kesehatan dahulu


4. Riwayat penyakit keluarga
5. Pemeriksaan fisik
1)

: tidak ada
: tidak ada riwayat penyakit keluarga.

Pemeriksaan Tanda tanda Vital


- Tekanan Darah : 160/100 mmHg

2)

- Nadi

: 110x/mnt

- RR

: 20 x/mnt

- Suhu

: 36,8 oC

- BB

: 60 kg

- TB

: 165 cm

Keadaan Umum

- Kesadaran
3)

: Compos Mentis

Sistem Pencernaan

Mulut

: kotor

Mukosa

: kering

Tenggorokan

:-

Abdomen

: kembung

Peristaltik

: 3 x/menit

BAB

: 2 hari sekali

Nafsu makan

: Menurun

Porsi makan

4)

: tidak habis

Sistem muskulo skeletal dan integumen

Pergerakan sendi

: terbatas

Kekuatan otot

:5

Kelainan ekstermitas

: tidak

Kelainan T. Belakang

: ya (bungkuk)

Fraktur

: tidak

Traksi / spalk / gips

: tidak

Kompartemen syndrome : tidak

Kulit

: kering

Turgor

: jelek

Luka jenis

:-

Odeme

:-

6. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboraturium
a. Darah lengkap
Leukosit
Eritrosit
Trombosit
Hemoglobin
Hematrokit
b. Kimia Darah
Ureum
Creatinin
SGOT
SGPT
BUN

:::::-

( N : 3.500 - 10.000 L )
( N : 1,2 juta - 1,5 juta )
( N : 150.000 350.000/ L )
( N : 11,0 16,3 gr / dl )
( N : 35,0 50 gr / dl )

:: 0,5 mg/dl
:::-

( N : 10 50 mg / dl )
( N : 0,7 1,5 mg / dl )
( N : 2 17 )
(N : 3 19 )
( N : 20 40 / 10 20 mg/dl )

Bilirubin
Total Protein
GD Puasa
GD 2 JPP
c. Analisa elektrolit
Natrium
Kalium
Clorida
Calsium
Phospor
Fosfat anorganik
Fosfatase alkali

::::-

( N : 1,0 mg / dl )
( N : 6,7 8,7 mg / dl )
( N : 100 mg / dl )
( N : 140 180 mg / dl )

::3 mml/1
:: 7 mg/dl
: 2,2 mg/dl
: rendah
: tinggi

( N : 136 145 mmol / l )


( N : 3,5 5,0 mml / l )
( N : 98 106 mmol / l )
( N : 7,6 11,0 mg / dl )
( N : 2,5 7,07 mg / dl )

2. Pemeriksaan Sinar X : terlihat demineralisasi secara umum.


3. Biopsi : tulang menunjukan peningkatan osteoid.
3.2.

Analisa Data
No

Data

Etiologi

1.

Masalah
Nyeri Akut

Ds :
- px

Kekurangan vitamin
mengatakan

nyeri

pada

pinggang seperti tertekan benda


-

berat.
Px mengatakan

nyeri

D dan kalsium
dalam
Diet

saat

bergerak/aktifitas dan berkurang


saat istirahat.

Kalsium ekstra sel


berkurang
Transport kalsium

Do :
-

TTV :

ketulang terganggu
Demineralisasi
tulang osteomalasia

TD : 160/100 mmHg (N 120/90


mmHg

Perlunakan kerangka
tubuh

N : 110x/mnt (N 60-100 x/mnt)


-

Pengkajian nyeri :
P : Terasa nyeri saat berjalan dan
nyeri berkurang jika istirahat.
Q : Seperti tertekan benda berat.

Tekanan pada
vertebra
Nyeri punggung
Nyeri akut

R : Pada pinggang
S : 8 (1-10)
T : Pada saat beraktivitas.
Wajah menyeringai
Terlihat
kelainan
Tulang
belakang (bungkuk)

Nyeri punggung
Ds:
- Px mengatakan nafsu makannya
-

menurun.
Pasien mengatakan

Nafsu makan
menurun

Nutrisi
dari

kurang
kebutuhan

tubuh

semakin

kurus

Nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Do:
3

Porsi makan tidak habis


BB turun 5 kg (65kg - 60 kg)
Kulit kering
Turgor kulit jelek

Osteomalasia
gg. mobilitas fisik
Ds :
Perlunakan kerangka
- Px mengatakan mudah leleh
- pasien mengatakan tidak sekuat
tubuh
sebelumnya
Berat badan dan
Do:
-

Px berjalan seperti bebek atau

pincang
Px tidak bersemangat
Gerakan px terbatas
kekuatan otot : 5 5
4 4

tarikan tubuh
Tulang melengkung
Resiko fraktur
meningkat
Gg mobilitas fisik

3.3. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b.d tekanan pada vertebra
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d nyeri punggung
3. Gangguan mobilitas fisik b.d perlunakan kerangka tubuh
3.4. Intervensi

No
1

Tujuan
-

Intervensi
Kaji nyeri dengan

PQRST
Ajarkan teknik

Setelah diberikan tindakan


keperawatan selama 2x24

Rasional
Untuk menentukan

rencana yang tepat


Untuk mengetahui

perkembangan klien
Untuk mengalihkan

relaksasi nafas

jam nyeri dapat berkurang.


Kriteria Hasil :

dalam.
Kontrol lingkungan

perhatian agar klien

yang dapat
-

Mampu mengontrol
nyeri.
Melaporkan bahwa nyeri

menyebabkan nyeri.
Observasi TTV
Kolaborasikan

berkurang menggunakan

dengan dokter untuk


pemeberian obat

manajemen nyeri.
Menyatakan rasa nyaman

setelah nyeri berkurang.


TD : 120/90 mmHg
N : 60-100 x/menit

Kaji adanya alergi

makanan
Kaji kemampuan

asupan nutrisi dapat

klien untuk

memenuhi kebutuhan

mendapatkan nutrisi

metabolik.
Kriteria Hasil :
Mampu mengidentifikasi

kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda-tanda

malnutrisi
Menunjukkan
peningkatan fungsi

mengurangi nyeri

harian
Berikan makanan

dengan ahli gizi )


Berikan informasi
nutrisi.
Observasi jumlah
intake nutrisi dan

kurangnya nutrisi
-Menentukan kemampuan
klien dalam

yang dibutuhkan
- Membantu memperoleh

tentang kebutuhan
-

utama penyebab

bagaimana membuat

dikonsultasikan
-

-Mengidentifikasi masalah

mendapatkan nutrisi
-Menentukan intake nutrisi

yang terpilih ( sudah

pengecapan dari menelan


Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

nyeri
Membantu

yang dibutuhkan
Ajarkan klien
catatan makanan

analgesik.

Setelah diberikan tindakan


keperawatan 2x24 jam

tidak terfokus pada

kandungan kalori
Observasi tipe dan
jumlah aktivitas yang

informasi nutrisi yang


dibutuhkan

dilakukan
Konsultasikan intake
nutrisi dengan ahli

Setelah diberikan tindakan


keperawatan selama 3x24
jam gangguan mobilitas fisik
dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
-

Klien meningkat dalam

aktivitas fisik.
Mengerti tujuan dari
peningkatan mobilitas

untuk mobilisasi (walker)

fungsional pada

gangguan mobilitas

kerusakan yang

fisik
-Menentukan kemampuan

terjadi.
Ajarkan klien atau

ambulasi
Lakukan latihan

ROM secara pasif


Bantu klien untuk
menggunakan
tongkat saat berjalan
dan dan cegah

meningkatkan kekuatan

utama terjadinya

tentang teknik

perasaan dalam

berpindah.
Memperagakan alat bantu

keadaan secara

tenaga kesehatan lain

fisik
Memverbalisasikan

dan kemampuan

gizi
Kaji kemampuan dan -Mengidentifikasi masalah

terhadap cedera
Observasi keadaan

kulit.
Koordinasikan
dengan ahli terapi
fisik tentang rencana
ambulasi sesuai
kebutuhan.

mobilisasi
-Mencegah terjadinya
kontraktur
-Meningkatkan sirkulasi
dan elastisitas kulit
-Kolaborasi penanganan
dengan
Ahli terapi fisik.