Anda di halaman 1dari 43

BAB II

KONSEP DASAR
A. Pengertian
1. Sectio Caesaria
Sectio caesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau
vagina atau suatu histerektomia untuk janin dari dalam rahim. ( Mochtar,
1998 )
Sectio caesaria adalah cara melahirkan janin dengan menggunakan
insisi pada perut dan uterus. (Bobak, 2004)
Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus. (Wiknjosastro, 2002: 863).

2. Pre Eklamsi
Pre eklamsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya
terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya,
misalnya pada molahidatidosa (Wiknjosastro, 2002)
Preeklamsia berat adalah suatu keadaan pada kehamilan dimana
tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau diastolik lebih dari 110
mmHg pada dua kali pemeriksaan yang setidaknya berjarak 6 jam
dengan ibu posisi tirah baring. (Bobak,2004)

Jadi Post Sectio Caesaria dengan indikasi Preeklamsia berat adalah


masa setelah proses pengeluaran janin yang dapat hidup di luar
kandungan dari dalam uterus ke dunia luar dengan menggunakan insisi
pada perut dan uterus karena adanya hipertensi,edema dan proteinuria.

B. Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi dan Fisiologi sistem reproduksi
Organ reproduksi wanita terbagi atas organ eksterna dan interna.
Organ eksterna berfungsi dalam berfungsi dalam kopulasi, sedangkan
organ interna berfungsi dalam ovulasi, sebagai tempat fertilisasi sel telur
dan perpindahan blastosis, dan sebagai tempat implantasi, dapat
dikatakan berfungsi untuk pertumbuhan dan kelahiran janin
a. Struktur Eksterna

Gambar 1: Organ Reproduksi Eksterna pada wanita.


(Wiknjosastro, 2005)

1) Mons Pubis
Mons Pubis atau Mons Veneris adalah jaringan lemak
subkutan berbentuk bulat yang lunak dan padat serta merupakan
jaringan ikat jarang diatas simfisis pubis. Mons pubis mengandung
banyak kelenjar sebasea (minyak) dan ditumbuhi Rambut berwarna
hitam, kasar dan ikal pada masa pubertas, yakni sekitar satu sampai
dua tahun sebelum awitan haid. Fungsinya sebagai bantal pada saat
melakukan hubungan sex.
2) Labia Mayora
Labia Mayora ialah dua lipatan kulit panjang melengkung
yang menutupi lemak dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons
pubis. Keduanya memanjang dari mons pubis ke arah bawah
mengelilingi labia mayora, meatus urinarius, dan introitus vagina (
muara vagina ).
3) Labia Minor
Labia Minora, terletak diantara dua labia mayora, merupakan
lipatan kulit yang panjang, sempit dan tidak berambut yang
memanjang ke arah bawah dari bawah klitoris dan menyatu dengan
fourchette. Sementara bagian lateral dan anterior labia biasanya
mengandung pigmen, permukaan medial labia minora sama
dengan mukosa vagina; merah muda dan basah. Pembuluh darah
yang sangat banyak membuat labia berwarna merah kemurahan dan

memungkinkan labia minora membengkak, bila ada stimulus


emosional atau stimulus fisik.
4) Klitoris
Klitoris adalah organ pendek berbentuk silinder dan erektil
yang terletak tepat dibawah arkus pubis. Dalam keadaan tidak
terangsang, bagian yang terlihat adalah sekitar 6 x 6 mm atau
kurang. Ujung badan klitoris dinamai glans dan lebih sensitif
daripada badannya. Saat wanita secara seksual terangsang, glans
dan badan klitoris membesar. Fungsi klitoris adalah menstimulasi
dan meningkatkan ketegangan seksualitas.
5) Prepusium Klitoris
Dekat sambungan anterior, labia minora kanan dan kiri
memisah menjadi bagian medial dan lateral. Bagian lateral
menyatu di bagian atas klitoris dan membentuk prepusium, penutup
yang berbentuk seperti kait. Bagian medial menyatu di bagian
bawah klitoris untuk membentuk frenulum. Kadang-kadang
prepusium menutupi klitoris.
6) Vestibulum
Vestibulum ialah suatu daerah yang berbentuk seperti perahu
atau lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette.
Vestibulum

terdiri

dari

muara

uretra,

kelenjar

parauretra

(vestibulum minus atau skene), vagina dan kelenjar paravagina


(vestibulum mayus, vulvovagina, atau Bartholin). Permukaan

10

vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi oleh


bahan kimia (deodorant semprot, garam-garaman, busa sabun),
panas, rabas dan friksi (celana jins yang ketat).
7) Fourchette
Fourchette adalah lipatan jaringan transversal yang pipih dan
tipis, terletak pada pertemuan ujung bawah labia mayora dan
minora di garis tengah dibawah orifisium vagina. Suatu cekungan
kecil dan fosa navikularis terletak di antara fourchette dan himen.
8) Perineum
Perineum ialah daerah muscular yang ditutupi kulit antara
introitus vagina dan anus. Perineum membentuk dasar badan
perineum. Penggunaan istilah vulva dan perineum kadang-kadang
tertukar,
b. Struktur Intenal

Gambar 2: Organ Reproduksi Internal pada wanita.


(Wiknjosastro, 2005).

11

1) Ovarium
Sebuah ovarium terletak di setiap sisi uterus, dibawah dan di
belakang tuba falopii. Dua ligamen mengikat ovarium pada
tempatnya, yakni bagian mesovarium ligamen lebar uterus, yang
memisahkan ovarium dari sisi dinding pelvis lateral kira-kira
setinggi Krista iliaka antero superior, dan ligamentum ovarii
proprium.
Dua fungsi ovarium ialah menyelenggarakan ovulasi dan
memproduksi hormon. Saat lahir, ovarium wanita normal
mengandung sangat banyak ovum primordial (primitif). Ovarium
juga merupakan tempat utama produksi hormon seks steroid
(estrogen, progesterone, dan androgen) dalam jumlah yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan fungsi wanita
normal.
Hormon estrogen adalah hormon seks yang di produksi oleh
rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks seperti payudara
dan rambut pubik serta mengatur sirkulasi manstrubasi. Hormon
estrogen juga menjaga kondisi kesehatan dan elasitas dinding
vagina. Hormon ini juga menjaga teksture dan fungsi payudara.
pada wanita hamil hormon estrogen membuat puting payudara
membesar dan merangsang pertumbuhan kelenjar ASI dan
memperkuat dinding rahim saat terjadi kontraksi menjelang
persalinan. Hormon progesterone berfungsi untuk menghilangkan

12

pengaruh hormon oksitoksin yang dilepaskan oleh kelenjar pituteri.


Hormon ini juga melindungi janin dari serangan sel-sel kekebalan
tubuh dimana sel telur yang di buahi menjadi benda asing dalam
tubuh ibu. hormon androgen berfungsi untuk menyeimbangkan
antara hormon estrogen dan progesteron. ( Harunyaha,2003)
2) Tuba Falopii (Tuba Uterin)
Panjang tuba ini kira-kira 10 cm dengan diameter 0,6 cm.
Setiap tuba mempunyai lapisan peritoneum di bagian luar, lapisan
otot tipis di bagian tengah, dan lapisan mukosa di bagian dalam.
Lapisan mukosa terdiri dari sel-sel kolumnar, beberapa di
antaranya bersilia dan beberapa yang lain mengeluarkan secret.
Lapisan mukosa paling tipis saat menstruasi. Setiap tuba dan
lapisan mukosanya menyatu dengan mukosa uterus dan vagina.
3) Uterus
Uterus adalah organ berdinding tebal, muscular, pipih,
cekung yang tampak mirip buah pir terbalik. Pada wanita dewasa
yang belum pernah hamil, berat uterus ialah 60 g. Uterus normal
memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin dan teraba padat.
Derajat kepadatan ini bervariasi bergantung kepada beberapa
faktor. Misalnya, uterus mengandung lebih banyak rongga selama
fase sekresi
Tiga fungsi uterus adalah siklus menstruasi dengan
peremajaan endometrium, kehamilan dan persalinan. Fungsi-fungsi
13

ini esensial untuk reproduksi, tetapi tidak diperlukan untuk


kelangsungan fisiologis wanita.
4) Dinding Uterus
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan: endometrium,
miometrium, dan sebagian lapisan luar peritoneum parietalis.
5) Serviks
Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher.
Tempat perlekatan serviks uteri dengan vagina, membagi serviks
menjadi bagian supravagina yang panjang dan bagian vagina yang
lebih pendek. Panjang serviks sekitar 2,5 sampai 3 cm, 1 cm
menonjol ke dalam vagina pada wanita tidak hamil. Serviks
terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta sejumlah kecil
serabut otot dan jaringan elastis.
6) Vagina
Vagina, suatu struktur tubular yang terletak di depan rectum
dan di belakang kandung kemih dan uretra, memanjang dari
introitus (muara eksterna di vestibulum di antara labia minora
vulva) sampai serviks.
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat
melipat dan mampu meregang secara luas. Karena tonjolan serviks
ke bagian atas vagina, panjang dinding anterior vagina hanya
sekitar 7,5 cm, sedangkan panjang dinding posterior sekitar 9 cm.

14

Ceruk yang terbentuk di sekeliling serviks yang menonjol tersebut


disebut forniks: kanan, kiri, anterior dan posterior.
Mukosa vagina berespons dengan cepat terhadap stimulasi
estrogen dan progesterone. Sel-sel
Sel
mukosa tanggal terutama selama
siklus menstruasi dan selama masa hamil. Sel-sel
Sel sel yang diambil dari
mukosa vagina dapat digunakan untuk mengukur kadar hormon
seks steroid.
Cairan vagina berasal dari traktus genitalia atas atau bawah.
Cairan sedikit asam. Interaksi
Interaksi antara laktobasilus vagina dan
glikogen mempertahankan keasaman. Apabila pH naik di atas lima,
insiden infeksi vagina meningkat (Bobak, Lowdermilk, Jensen,
2004)
2. Anatomi Fisiologi Abdomen

Gambar 3. Anatomi Abdomen


(Bambang Widjanarko, 2010)

15

a. Kulit

Gambar 4. Lapisan Abdomen


(Bambang Widjanarko, 2010)

1) Lapisan Epidermis
Epidermis, lapisan luar, terutama terdiri dari epitel skuamosa
bertingkat. Sel-sel
Sel sel yang menyusunya secara berkesinambungan
dibentuk oleh lapisan germinal dalam epitel silindris dan mendatar
ketika didorong oleh sel-sel
sel sel baru kearah permukaan, tempat kulit
terkikis
erkikis oleh gesekan. Lapisan luar terdiri dari keratin, protein
bertanduk, Jaringan ini tidak memiliki pembuluh darah dan sel
selselnya sangat rapat.
2) Lapisan Dermis
Dermis adalah lapisan yang terdiri dari kolagen jaringan
fibrosa dan elastin. Lapisan superfasial menonjol ke dalam
epidermis berupa sejumlah papilla kecil. Lapisan yang lebih dalam
terletak pada jaringan subkutan dan fasia, lapisan ini mengandung
pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf.

16

3) Lapisan subkutan
Lapisan ini mengandung sejumlah sel lemak, berisi banyak
pembuluh darah dan ujung syaraf. Lapisan ini mengikat kulit secara
longgar dengan organ-organ yang terdapat dibawahnya. Dalam
hubungannya dengan tindakan SC, lapisan ini adalah pengikat
organ-organ yang ada di abdomen, khususnya uterus. Organ-organ
di abdomen dilindungi oleh selaput tipis yang disebut peritonium.
Dalam tindakan SC, sayatan dilakukan dari kulit lapisan terluar
(epidermis) sampai dinding uterus.
b. Fasia

Gambar 5. Bagian Fasia

17

Di bawah kulit fasia superfisialis dibagi menjadi lapisan lemak


yang dangkal, Camper's fasia, dan yang lebih dalam lapisan fibrosa,.
Fasia profunda terletak pada otot-otot perut. menyatu dengan fasia
profunda paha. Susunan ini membentuk pesawat antara Scarpa's fasia
dan perut dalam fasia membentang dari bagian atas paha bagian atas
perut. Di bawah lapisan terdalam otot, maka otot abdominis
transverses, terletak fasia transversalis. Para fasia transversalis
dipisahkan dari peritoneum parietalis oleh variabel lapisan lemak..
Fascias adalah lembar jaringan ikat atau mengikat bersama-sama
meliputi struktur tubuh.
c. Otot perut

Gambar 6. Lapisan Otot Perut


(Bambang Widjanarko, 2010)

18

1) Otot dinding perut anterior dan lateral


Rectus abdominis meluas dari bagian depan margo costalis di
atas dan pubis di bagian bawah. Otot itu disilang oleh beberapa pita
fibrosa dan berada didalam selubung. Linea alba adalah pita
jaringan yang membentang pada garis tengah dari procecuss
xiphodius sternum ke simpisis pubis, memisahkan kedua musculus
rectus abdominis. Obliquus externus, obliquus internus dan
transverses adalah otot pipih yang membentuk dinding abdomen
pada bagian samping dan depan. Serat externus berjalan kea rah
bawah dan atas

; serat obliquus internus berjalan keatas dan

kedepan ; serat transverses (otot terdalam dari otot ketiga dinding


perut) berjalan transversal di bagian depan ketiga otot terakhir otot
berakhir dalam satu selubung bersama yang menutupi rectus
abdominis.
2) Otot dinding perut posterior
Quadrates lumbolus adalah otot pendek persegi pada bagian
belakang abdomen, dari costa keduabelas diatas ke crista iliaca,
(Gibson, J. 2002)

C. Etiologi dan Predisposisi


Penyebab pre eklamsi sampai sekarang belum diketahui tetapi dewasa ini
banyak ditemukan sebab Pre eklamsi adalah iskemia placenta dan kelainan

19

yang menyertai penyakit ini adalah Spasmus, Arteriola, Retensi natrium dan air
juga koagulasi intravaskuler ( Wiknjasastro, 2002 )
Penyebab Pre Eklamsi sampai sekarang belum diketahui, telah terdapat
teori yang mencoba menerangkan sebab musabab penyakit tersebut, akan tetapi
tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Teori yang dapat
diterima antara lain:
1. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda,
hidromnion, dan molahidatidosa
2. Sebab bertambahnya, frekuensi dan makin tuanya kehamilan
3. Sebab dapat terjadinya, perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin
dan uterus
4. Sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma
Faktor predisposisi pre eklamsi yang harus diwaspadai menurut (Hanifa,
2002) antara lain Nuliparitas, riwayat keluarga dengan Eklamsi dan pre
eklamsi, kehamilan ganda, diabetes, hipertensi dan molahidatidosa.

D. Patofisiologi
Patofisiologi Pre Eklamsi setidaknya berkaitan dengan fisiologis
kehamilan. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan
volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik,
peningkatan curah jantung dan penurunan tekanan osmotik koloid pada pre
eklamsi.

Volume

plasma

yang

beredar

menurun,

sehingga

terjadi

hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini

20

membuat perfusi ke unit janin utero plasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut
menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel sel darah merah,
sehingga kapasitas oksigen maternal menurun.
Ada beberapa indikasi dilakukan tindakan operasi sectio caesaria
antaranya karena Pre Eklamsia, sebelum dilakukan tindakan operasi sectio
caesaria perlu adanya persiapan, persiapan diantaranya yaitu premedikasi,
pemasangan kateter dan anastesi yang kemudian baru dilakukan operasi.
Dilakukannya operasi caesaria akan berpengaruh pada dua kondisi yaitu,
Pertama, kondisi yang dikarenakan pengaruh anastesi, luka akibat operasi dan
masa nifas, anastesi akan berpengaruh pada peristaltik usus, luka akibat operasi
dan masa nifas, anastesi akan berpengaruh pada peristaltik usus, otot
pernafasan dan kons pengaturan muntah. Sedangkan pada luka akibat operasi
akan menyebabkan perdarahan, nyeri serta proteksi tubuh kurang. Pada masa
nifas akan berpengaruh pada kontraksi uterus, lochea, dan laktasi. Kontraksi
uterus yang berlebihan akan menyebabkan nyeri hebat. Sedangkan pada lochea
yang berlebihan akan menimbulkan perdarahan. Pada masa laktasi progesteron
dan esterogen akan merangsang kelenjar susu untuk mengeluarkan ASI.
Kondisi kedua adalah kondisi fisiologis yang terdiri dari tiga fase yaitu
taking in, taking hold, dan letting go. Pada fase taking in terjadi saat satu
sampai dua hari post partum, sedangkan ibu sangat tergantung pada orang lain.
Fase yang kedua terjadi pada 3 hari post partum, ibu mulai makan dan minum
sendiri, merawat diri dan bayinya. Untuk fase yang ketiga ibu dan keluarganya

21

harus segera menyesuaikan diri terhadap interaksi antar anggota keluarga (


Bobak, 2004. Prawiroharjo, 2000 )

E. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik yang muncul pada penderita Pre Eklamsi Berat menurut
Bobak ( 2004 ) adalah
1. Pre Eklamsi Ringan
a. Bila tekanan sistolik > 140 mmHg kenaikan 30 mmHg diatas tekanan
biasa, tekanan distolik 90 mmHg, kenaikann 40 mmHg diatas tekanan
biasa, tekanan darah yang meninggi ini sekurangnya diukur 2x dengan
jarak 6 jam
b. Proteinuria sebesar 300 mg/dl dalam 25 jam atau > 1 gr/dl secara
random dengan memakai contoh urin siang hari yang dikumpulkan pada
dua waktu dengan jarak 6 jam karena kehilangan protein adalah
bervariasi
c. Edema dependent, bengkak dimata, wajah, jari, bunyi pulmoner tidak
terdengar. Edema timbul dengan didahului penambahan berat badan kg
dalam seminggu atau lebih. Tambahan berat badan yang banyak ini
disebabkan oleh retensi air dalam jaringan dan kemudian baru edema
nampak, edema ini tidak hilang dengan istirahat

22

2. Pre Eklamsi Berat


a. Tekanan Darah sistolik > 160 mmHg dan diastolik > 110 mmHg pada
dua kali pemeriksaan yang setidaknya berjarak 6 jam dengan posisi ibu
tirah baring
b. Proteinuria > 5 gram dalam urin 24 jam atau lebih dari +3 pada
pemeriksaan

diagnostik

setidaknya

pada

2x

pemeriksaan

acak

menggunakan contoh urin yang diperoleh cara bersih dan berjarak


setidaknya 4 jam
c. Oliguria < 400 mml dalam 24 jam
d. Gangguan otak atau gangguan penglihatan
e. Nyeri ulu hati
f. Edema paru/ sianosis
3. Eklamsia
a. Kejang kejang / koma
b. Nyeri pada daerah frontal
c. Nyeri epigastrium
d. Penglihatan semakin kabur
e. Mual, muntah

F. Jenis sectio caesaria


Menurut Mochtar Rustam (1998) jenis-jenis sectio caesarea adalah :
1. transperitonealis
a. Sectio Caesarea klasik (korporal)

23

Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kirakira sepanjang 10 cm.
Kelebihan :
1) Mengeluarkan janin lebih cepat
2) Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih
3) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
1) Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
riperitonearisasi yang baik
2) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri
spontan
b. Sectio Caesarea ismika (profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang-konkaf pada segmen
bawah rahim (low cervical transversal) kira-kira 10 cm.
Kelebihan :
1) Penjahitan luka lebih mudah
2) Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik
3) Tumpang tindih dari peritoneal flat baik sekali untuk menahan
penyebaran isi uterus ke rongga periutoneum
4) Perdarahan kurang
5) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptura uteri
spontan kurang atau lebih kecil.
24

Kekurangan :
1) Luka dapat melebar ke kiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat
menye-babkan uterine putus dan terjadi perdarahan hebat.
2) Keluhan pada kandung kemih postoperatif tinggi.

2. Sectio Caesarea ekstraperitonealis


Sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian
tidak membuka kavum abdominal.
G. Teknik Sectio caesaria
Adapun teknik sectio caesaria menurut Mochtar, Rustam (1998) yaitu
1. Teknik Seksio Sesarea Transperitonealis Profunda
Daver Catheter di pasang dan wanita berbaring dalam letak
tredelenburg ringan. Diadakan insisi pada dinding perut pada garis tengah
dari simfisis sampai beberapa cm di bawah pusat. Setelah peritorium
dibuka, dipasang spekulum perut dan lapangan operasi dipisahkan dari
rongga perut dengan satu kasa panjang atau lebih. Peritoneum pada
dinding uterus depan dan bawah dipegang dengan piset, plikovesitas.
Uterina dibuka dan insisi diteruskan melintang jauh ke lateral. Kemudian
kandung kencing depan uterus didorong ke bawah dengan jari. Pada
segmen bawah uterus yang sudah tidak ditutup lagi oleh peritoneum serta
kandung kencing yang biasanya sudah menipis, diadakan insisi melintang
selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri agak melengkung ke atas untuk
menghindari terbukanya cabang-cabang arteria uterine. Karena uterus
25

dalam kehamilan tidak jarang memutar ke kanan, sebelum membuat insisi,


posisi uterus diperiksa dahulu dengan memperhatikan ligamenta rocundo
kanan dan kiri, di tengah-tengah insisi diteruskan sampai dinding uterus
terbuka dan ketuban tampak, kemudian luka yang terakhir ini dilebarkan
dengan gunting berujung tumpul mengikuti sayatan yang telah dibuat
terlebih dahulu. Sekarang ketuban dipecahkan dan air ketuban yang keluar
diisap. Kemudian spekulum perut diangkat dan lengan dimasukkan ke
dalam uterus di belakang kepala janin dan dengan memegang kepala dari
belakang dengan jari-jari tangan penolong. Diusahakan lahirnya kepala
melalui lubang insisi. Jika dialami kesulitan untuk melahirkan kepala janin
lubang insisi. Jika dialami ksulitan untuk melahirkan kepala janin dengan
tangan, dapat dipasang dengan cunan boerma. Sesudah kepala janin badan
terus dilahirkan muka dan mulut terus dibersihkan. Tali pusat dipotong dan
bayi diserahkan pada orang lain untuk diurus. Diberikan suntikan 10
satuan oksitosin dalam dinding uterus/ intravena, pinggir luka insisi
dipegang dengan beberapa Cunam ovum dan plasenta serta selaput
ketuban dikeluarkan secara manual. Tangan untuk sementara dimasukkan
ke dalam rongga uterus untuk mempermudah jahitan luka, tangan ini
diangkat sebelum luka uterus ditutp sama seklai. Jahitan otot uterus
dilakukan dalam dua lapisan yaitu lapisan pertama terdiri atas kahitan
simpul dengan cagut dan dimulai dari ujung yang satu ke ujung yang lain
(jangan mengikutsertakan desidua), lapisan kedua terdiri atas jahitan
menerus sehingga luka pada miomtrium tertutup rapi.

26

Keuntungan pembedahan ini:


a.

Perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak

b.

Bahaya peritonitis tidak besar

c.

Parut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya ruptura uteri


dikemudian hari tidak besar, karena dalam masa nifas segmen bawah
uterus tidak seberapa banyak mengalami konraksi seperti korpus uteri
sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.

2.

Teknik Seksio Sesarea Korporal


Setelah dinding perut dan peritoneum pariatale terbuka pada gari
lengan dipasang beberapa kain kasa panjang antara dinding perut dan
dinding uterus untuk mencegah masuknya air ketuban dan darah ke rongga
perut. Diadakan insisi pada bagian tengah korpus uteri sepanjang 10-12
cm dengan ujung bawah di atas batas plika vegika uterine. Diadakan
lubang kecil pada batang kantong ketuban untuk menghisap air ketuban
sebanyak mungkin, lubang ini kemudian dilebarkan dan janin dilahirkan
dengan tarikan pada kakinya. Setelah anak lahir korpus uteri dapat
dilahirkan dari rongga perut untuk memudahkan tindakan-tindakan
selanjutnya. Sekarang diberikan suntikan 10 satuan oksitosin dalam
dinding uterus intravena dan plasenta serta selaput ketuban dikeluarkan
secara manual kemudian dinding uterus ditutup dengan jahitan catgut yang
kuat dalam dua lapisan, lapisan pertama terdiri atas jahitan simpul dan
kedua jahitan menerus. Selanjutnya diadakan jahitan menerus dengan
catgut lebih tipis yang mengikutsertakan peritoneum serta bagian luar

27

miomtrium dan yang menutupi jahitan yang terlebih dahulu dengan rapi.
Akhirnya dinding perut ditutup secara biasa.
3.

Teknik seksio sesarea klasik


a. Mula-mula dilakukan desinfeksi pada dinding perut dan lapangan
operasi dipersempit dengan kain suci hama
b. Pada dinding perut dibuat insisi mediana mulai dari atas simfisis
sepanjang 12 cm sampai di bawah umbilikus lapis demi lapis
sehingga kavum peritonial terbuka.
c. Dalam rongga perut di sekitar rahim dilingkari dengan kasa
laparotomi
d. Dibuat insisi secara tajam dengan pisau pada segmen atasa rahim
(SAR) kemudian diperlebar secara sagital dengan gunting.
e. Setelah kavum uteri terbuka, selaput ketuban dipecahkan. Janin
dilahirkan dengan meluksir kepala dan mendorong fundus uteri.
Setelah janin lahir eluruhnya, tali pusat dijepit dan dipotong diantara
kedua penjepit.
f.

Plasenta dilahirkan secara manual. Disuntikkan 10 U oksitosin ke


dalam rahim secara intra mural.

g. Luka insisi SAR dijahit kembali


1) Lapisan I

: Endometrium berama miometrium dijahit ecara

jelujur dengan benang catgut kronik


2) Lapisan II

: Hanya miometrium aja dijahit ecara simopul

(berhubung otot SAR angat tebal) dengan catgut kronik

28

3) Lapian III

: Peritoneum aja, dijahit secara simpul dengan

benang catgut biasa.


h. Setelah dinding selesai dijahit, kedua adneksa dieksplorasi
i.

Rongga perut dibersihkan dari sisa-sisa darah dan akhirnya luka


dinding perut dijahit.

4. Teknik seksio histerektomi


a. Stetelah janin dan plasenta dilahirkan dari rongga rahim, dilakukan
hemostasis pada insisi dinding rahim, cukup dengan jahitan jelujur
atau simpul.
b. Untuk memudahkan histerektomi, rahim boleh dikeluarkan dari rongga
pelvis
c. Mula-mula ligamentum rotundum dijepit dengan cunam kocher dan
cunam oschner kemudian dipotong sedekat mungkin dengan rahim,
dan jaringan yang sudah dipotong diligasi dengan benang catgut
kronik no.0 bladder flap yang telah dibuat pada waktu seksio sesarea
transperitoneal profunda dibebaskan lebih jauh ke bawah dan lateral.
Pada ligamentum latum belakang lubang dngan jari telunjuk tangan
kiri di bawah adneksa dari arah belakang. Dengan cara ini ureter akan
terhindar dari kemungkinan terpotong.
d. Melalui lubang pada ligamentum ini, tuba faloppi, ligamnetum utero
ovarika, dan pembuluh darah dalam jaringan terebut dijepit dengan 2
cunam oscher lengkung dan di sisi rahim dengan cunam kocher.
Jaringan diantaranya kemudian digunting dengan gunting Mayo.

29

Jaringan yang terpotong diikat dengan jahitan transfiks untuk


hemotasis dengan catgut no. 0
e. Jaringan ligamentum latum yang sebagian besar adalah avaskuler
dipotong secara tajam ke arah serviks. Setelah pemotongan
ligamentum latum sampai di daerah serviks, kandung kencing
disisihkan jauh ke bawah dan samping
f. Pada ligamentum kardinale dan jaringan paraservikal dilakukan
panjepitan dengan cunam oscher lengkung secara ganda, dan pada
tempat yang ama di sisi rahim dijepit dengan cunam kocher luurs.
Kemudian jaringan diantaranya digunting dengan gunting Mayo.
Tindakan ini dilakukan dalam beberapa tahap sehingga ligamentum
kardinale terpotong seluruhnya. Puntung ligamentum kardinale dijahit
transfiks secara ganda dengan benang catgut khronik no. 0
g. Demikian juga ligamentum sakro-uterine kiri dan kanan dipotong
dengan cara yang sama, dan iligasi secara transfiks dengan benang
catgut khronik no.0
h. Setelah mencapai di atas dinding vagina serviks, pada sisi depan
serviks dibuat irisan sagital dengan pisau, kemudian melalui insisi
tersebut dinding vagina dijepit engan cunam oscher melingkari serviks
dan dinding vagina dipotong tahap demi tahap. Pemotongan dinding
vagina dapat dilakukan dengan gunting atau pisau. Rahim akhirnya
dapat diangkat.

30

i. Puntung vagina dijepit dengan beberapa cunm kocher untuk


hemostasis.

Mula-mula

puntung

kedua

ligamentum

kardinale

dijahitkan pada ujung kiri dan kanan puntung vagina, sehingga terjadi
hemostasis pada kedua ujung puntung vagina. Puntung vagina dijahit
secara jelujur untuk hemostasis dengancatgut khromik. Puntung
adneksa yang telah dipotong dapat dijahitkan digantungkan pada
puntung vagina, asalkan tidak terlalu kencang. Akhirnya puntung
vagina ditutup dengan retro-peritonealisasi dengan menutupkan
bladder flap pada sisi belakang puntung vagina.
j. Setelah rongga perut dibersihkan dari sisa darah, luka perut ditutup
kembali lapis demi lapisan. (Winkjosastro,2005)

H. Indikasi Sectio Caesaria


Indikasi untuk seksio sesaria menurut Mochtar, Rustam, 1998
a. Indikasi untuk ibu
Plasenta

previa,

Distocia

serviks,

Ruptur

uteri

mengancam,

Disproporsi cepalo pelviks, Pre eklamsi dan eklamsi, Tumor, Partus


lama
b. Indikasi untuk janin
1. Mal presentasi janin
a) Letak lintang
1) Bila ada kesempitan panggul sectio caesarea adalah cara
terbaik dalam segala letak lintang dengan janin hidup.
31

2) Semua primigravida dengan letak lintang harus ditolong


dengan sectio caesarea.
3) Multipara letak lintang dapat lebih dulu dengan cara yang
lain
b) Letak bokong
Dianjurkan

seksio

sesaria

bila

ada

Panggul

sempit,

Primigravida, Janin besar, Presentasi dahi dan muka bila


reposisi dan cara lain tidak berhasil, Presentasi rangkap, bila
reposisi tidak berhasil, atau Gemeli
2. Gawat Janin
Segera lakukan operasi agar tidak terjadi keracunan atau kematian
janin, sesuai dengan indikasi sectio caesarea.
Kontra indikasi
a) Janin mati atau berada dalam keadaan kritis, kemungkinan janin
hidup kecil. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk melakukan
operasi.
b) Janin lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk
sectio caesarea ekstra peritoneal tidak ada.
c) Kurangnya pengalaman dokter bedah dan tenaga medis yang
kurang memadai.

32

I. Adaptasi Post Sectio Caesaria


Adapun adaptasi post sectio caesaria menurut Bobak, Lowdermik, Jensen
(2004) meliputi
1. Adaptasi Fisiologi
Perubahan fisiologis pada masa post partum menurut Bobak, Lowdermik,
Jensen (2004) meliputi :
a. Involusi
Yaitu suatu proses fisiologi pulihnya kembali alat kandungan ke keadaan
sebelum hamil, terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih kecil
karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang.
1) Involusi uterus
Terjadi setelah placenta lahir, uterus akan mengeras karena kontraksi
dan reaksi pada otot-ototnya, dapat diamati dengan pemeriksaan
Tinggi Fundus Uteri :
a) Setelah placenta lahir hingga 12 jam pertama Tinggi Fundus Uteri
1 - 2 jari dibawah pusat.
b) Pada hari ke-6 tinggi Fundus Uteri normalnya berada di
pertengahan simphisis pubis dan pusat.
c) Pada hari ke-9 / 12 tinggi Fundus Uteri sudah tidak teraba.
2) Involusi tempat melekatnya placenta
Setelah placenta dilahirkan, tempat melekatnya placenta menjadi tidak
beraturan dan ditutupi oleh vaskuler yang kontraksi serta trombosis
pada

endometrium

terjadi

pembentukan

scar sebagai

proses

33

penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka pada endometrium ini


memungkinkan untuk implantasi dan pembentukan placenta pada
kehamilan yang akan datang.

b. Lochea
Yaitu kotoran yang keluar dari liang senggama dan terdiri dari jaringanjaringan mati dan lendir berasal dari rahim dan liang senggama. Menurut
pembagiannya sebagai berikut :
1) Lochea rubra
Berwarna merah, terdiri dari lendir dan darah, terdapat pada hari
kesatu dan kedua.
2) Lochea sanguinolenta
Berwarna coklat, terdiri dari cairan bercampur darah dan pada hari ke3 - 6 post partum.
3) Lochea serosa
Berwarna merah muda agak kekuningan, mengandung serum, selaput
lendir, leucocyt dan jaringan yang telah mati, pada hari ke-7 - 10.
4) Lochea alba
Berwarna putih / jernih, berisi leucocyt, sel epitel, mukosa serviks dan
bakteri atau kuman yang telah mati, pada hari ke-1 2 minggu setelah
melahirkan.

34

2. Adaptasi psikososial
Ada 3 fase perilaku pada ibu post partum menurut Bobak, Lowdermik,
Jensen (2004) yaitu :
a. Fase taking in (Fase Dependen)
1) Selama 1 - 2 hari pertama, dependensi sangat dominan pada ibu dan
ibu lebih memfokuskan pada dirinya sendiri.
2) Beberapa hari setelah melahirkan akan menangguhkan keterlibatannya
dalam

tanggung

jawab

sebagai

seorang

ibu

dan

ia

lebih

mempercayakan kepada orang lain dan ibu akan lebih meningkatkan


kebutuhan akan nutrisi dan istirahat.
3) Menunjukkan kegembiraan yang sangat, misalnya menceritakan
tentang

pengalaman

kehamilan,

melahirkan

dan

rasa

ketidaknyamanan.
b. Fase taking hold (Fase Independen)
1) Ibu sudah mau menunjukkan perluasan fokus perhatiannya yaitu
dengan memperlihatkan bayinya.
2) Ibu mulai tertarik melakukan pemeliharaan pada bayinya.
3) Ibu mulai terbuka untukmenerima pendidikan kesehatan bagi diri dan
bayinya.

c. Fase letting go (Fase Interdependen)


1) Fase ini merupakan suatu kemajuan menuju peran baru.

35

2) Ketidaktergantungan dalam merawat diri dan bayinya lebih


meningkat.
3) Mengenal bahwa bayi terpisah dari dirinya

J. Penatalaksanaan
Penatalakanaan yang diberikan pada pasien Post SC diantaranya:
1. Penatalaksanaan secara medis
a. Analgesik diberikan setiap 3 4 jam atau bila diperlukan seperti Asam
Mefenamat, Ketorolak, Tramadol.
b. Pemberian tranfusi darah bila terjadi perdarahan partum yang hebat.
c. Pemberian antibiotik seperti Cefotaxim, Ceftriaxon dan lain-lain.
Walaupun pemberian antibiotika sesudah Sectio Caesaria efektif dapat
dipersoalkan, namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.
d. Pemberian cairan parenteral seperti Ringer Laktat dan NaCl.
2. Penatalaksanaan secara keperawatan
a. Periksa dan catat tanda tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam pertama
dan 30 menit pada 4 jam kemudian.
b. Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat
c. Mobilisasi
Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat tidur
dengan dibantu paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua penderita sudah
dapat berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.

36

d. Pemulangan
Jika tidak terdapat komplikasi penderita dapat dipulangkan pada hari
kelima setelah operasi
Menurut Bobak ( 2004 ), Wiknjasastro ( 2002 )
1. Tujuan pengobatan
a. Menurunkan Tekanan Darah dan menghasilkan vasospasme
b. Mencegah terjadinya eklamsi
c. Anak / bayi hidup, dengan kemungkinan hidup besar
d. Persalinan

harus

dengan

trauma

yang

sedikit

jangan

sampai

menyebabkan penyakit pada kehamilan dan persalinan berikutnya


e. Mencegah timbulnya kejang
f. Mencegah hipertensi yang menetap
2. Dasar Pengobatan
a. Istirahat
b. Diit rendah garam
c. Obat obat anti hipertensi
d. Luminal 100 mg ( IM )
e. Sedatif ( untuk mencegah timbulnya kejang )
f. Induksi persalinan
3. Pengobatan jalan ( dirumah )
Indikasi untuk perawatan di Rumah Sakit adalah
a. TD < 140/90 mmHg
b. Proteinuria positif akut

37

c. Penambahan BB 1 kg / lebih dalam 1 minggu harus dilakukan observasi


yang teliti
d. Sakit kepala, penglihatan dan edema jaringan dari kelopak mata
e. BB ditimbang 2x sehari
f. TD diukur 4 jam sekali
g. Cairan yang masuk dan keluar dicatat
h. Pemeriksaan urine tiap hari, proteinuria ditentukan kuantitatif
i. Pemeriksaan darah
j. Makanan yang sedikit mengandung garam
k. Sebagai pengobatan diberikan luminal ( 4 x 30 MgSO4 ) kalau ada edema
dapat diberikan NH4cl + 4 gram sehari tapi jangan lebih dari 3 hari

K. Komplikasi
Kemungkinan

komplikasi

dilakukannya

pembedahan

SC

menurut

Wiknjosastro (2002)
1. Infeksi puerperal
Komplikasi yang bersifat ringan seperti kenaikan suhu tubuh selama
beberapa hari dalam masa nifas yang bersifat berat seperti peritonitis,
sepsis.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria
uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.

38

4. Komplikasi lain seperti luka kandung kemih, kurang kuatnya jaringan parut
pada dinding uterus sehingga bisa terjadi ruptur uteri pada kehamilan
berikutnya

L. Pengkajian Fokus Post SC


Data pengkajian yang ditemukan pada pasien Post SC Menurut Doenges,
2001 yaitu:
1. Pengkajian dasar data klien
Tinjauan ulang catatan pre natal dan intra operatif dan adanya indikasi untuk
kelahiran caesarea
2. Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml.
3. Integritas ego
Dapar menunjukkan labilitas emosional dan kegembiraan sampai ketakutan,
marah atau menarik diri klien/ pasangan dapat memiliki pertanyaan atau
salah terima pesan dalam pengalaman kelahiran mungkin mengekspresikan
ketidakmampuan untuk menghadapi situasi baru.
4. Eliminasi
Kateter urinarius indwelling tidak terpasang, urine jernih, bau khas
amoniak, bising usus tidak ada, samar/jelas
5. Makanan / Cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal

39

6. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anestesi spinal epidural
7. Nyeri / Ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dan berbagai sumber misalnya trauma
bedah/insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih/abdomen, efek-efek
anestesi, mulut mungkin kering.
8. Pernafasan
Bunyi paru jelas dan vesikuler
9. Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda/kering dan utuh, jalur
parenteral bila digunakan, paten dan insisi bebas eritema, bengkak dan nyeri
tekan
10. Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus aliran lochea sedang dan
bebas, bekuan berlebihan / banyak.
11. Pemeriksaan diagnostik
Jumlah darah lengkap Hb/Ht, mengkaji perubahan dan pra operasi dan
mengevaluasi efek kehilangan daerah pada pembedahan. Urinalisis : kultur
urine, darah vagina dan lochea, pemeriksaan tambahan didasarkan pada
kebutuhan individual

40

M. Pathways Keperawatan

41

N. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien post SC dengan
indikasi pre eklamsia adalah
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas
jaringan sekunder akibat pembedahan
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan perentanan tubuh
terhadap bakteri sekunder pembedahan
4. Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam
pembedahan
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya insisi pembedahan dan
nyeri
6. Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi
7. Tidak efektifnya laktasi berhubungan dengan perpisahan dengan bayi

O. Fokus Intervensi dan Rasional


Fokus rencana keperawatan untuk diagnosa yang muncul pada pasien
post SC indikasi pre eklamsia adalah
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek anestesi
(Doenges, 2001).
Tujuan : Mempertahankan kepetanan jalan nafas.
KH : Bunyi nafas bersih
Itervensi :

42

a. Awasi frekuensi pernafasan


Rasional : Untuk mengetahui peningkatan RR
b. Catat kemudahan bernafas
Rasional : Menentukan apakah klien memerlukan alat bantu atau tidak
c. Tinggikan apek 30-45 derajat
Rasional : Membantu pengaturan nafas agar tidak sesak
d. Dorong batuk efektif dan nafas dalam
Rasional : Mengeluarkan secret
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitus
jaringan sekunder akibat pembedahan (Doenges, 2001).
Tujuan : Nyeri berkurang/hilang
KH : - Klien merasa nyeri berkurang /hilang
- Klien dapat istirahat dengan tenang
Intervensi
a. Kaji skala nyeri dan karakteristik alokasi karakteristik termasuk
kualitasnya frekuensi, kwalitasnya
Rasional : Untuk mengetahui tingkatan nyeri dan menentukan tindakan
selanjutnya
b. Monitor tanda tanda vital
Rasional : Nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan darah dan nadi
meningkat
c. Lakukan reposisi sesui petunjuk, misalnya semi fowler ,miring
Rasional : Untuk mengurangi nyeri

43

d. Dorong penggunaan teknik relaksasi misal latihan nafas dalam


Rasional : Merileksasikan otot, mengalihkan perhatian dan sensori nyeri
e. Ciptakan lingkungan nyaman dan tenang
Rasional : Untuk mengurangi nyeri
f. Kolaborasi pemberian anal getik sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan kenyamanan

dan mempercepat

proses

penyembuhan
3. Resiko tinggi infeksi b/d peningkatan parentanan tubuh terhadap bakteri
sekunder pembedahan (Carpenito, 2000)
Tujuan : tidak terjadi infeksi
KH :- Tidak ada tanda- tanda infeksi (rubor, tulor, dolor, tumor, dan
fungsiolaesa )
- Tanda- tanda fital normal terutama suhu (36-37 C)
Intervensi
a. Monitor tanda-tanda vital
Rasional : Suhu yang meningkat dapat menunjukan terjadinya infeksi
b. Kaji luka pada abdomen dan balutan
Rasional : Mengidentifikasi apakah ada tanda-tanda infeksi adanya pus
c. Menjaga kebersihan sekitar luka dan lingkungan pasien, teknik rawat luka
dengan anti septik
Rasional : Mencegah kontaminasi silang atau penyebaran organisme
infeksius

44

d. Catat /pantau kadar Hb dan Ht


Rasional : Resiko infeksi post partum dan penyembuhan buruk
meningkat bila kadar Hb rendah dan kehilangan darah berlebihan
e. Kolaborasi pemberian antibiotik
Rasional : Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi
4. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan darah dalam
pembedahan (Doenges, 2001)
Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan, meminimalkan devisit volume
cairan
KH : Membran mukosa lembab, kulit tak kering Hb 12gr %
Intervensi :
a. Ukur dan catat pemasukan pengeluaran
Rasional

Dokumentasi

yang

akurat

akan

membantu

dalam

mengidentifikasikan pengeluaran cairan atau kebutuhan pengganti dan


menunjang intervensi
b. Berikan bantuan pengukuran berkemih sesuai lab, misal privesi, posisi
duduk , mengalir dalam bak
Rasional : Meningkatkan relaksasi otot perineal dan memudahkan upaya
pengosongan
c. Catat munculnya mual /muntah
Rasional : Masa post operasi semakin lama durasi anestesi semakin besar
beresiko untuk mual

45

d. Periksa pembalut , banyaknya pendaraan


Rasional : Perdarahan yang berlebihan dapat mengacu kepada hemoragi
e. Beri cairan infus sesuai program
Rasional : Mengganti cairan yang telah hilang
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan adanya insisi resmi pembedahan
dan nyeri (Doenges,2001)
Tujuan : klien dapat meningkatkan dan melakukan aktivitas sesuai
kemampuan tanpa di sertai nyeri
KH.: Klien dapat mengidentivikasi faktor-faktor yang menurunkan toleransi
aktvitas
Intervensi :
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas
Rasional : Untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada klien dalam
keluhan kelemahan, keletihen yang berkenaan dengan aktivitas
b. Catat tipe anestesi yang di berikan pada saat intra partus pada waktu
klien sadar
Rasional : Pengaruh anestesi dapat mempengaruhi aktivitas klien
c. Anjurkan klien untuk istirahat
Rasional : Dengan istirahat dapat mempercepat pemulihan tenega untuk
beraktivitas, klien dapat rileks
d. Bantu dalam pemenuhan aktivitas sesuai kebutuhan
Rasional : Dapat memberikan rasa tenang dan aman pada klien karena
kebutuhan klien terpenuhi

46

e. Tingkatkan aktivitas secara bertahap


Rasional : Dapat meningkatkan proses penyembuhan dan kemampuan
koping emosional
6. Konstipasi berhubungan dengan imobilisasi (Doenges,2001)
Tujuan : Konstipasi tidak terjadi
KH : Klien dapat mengerti penyebab konstipasi klien dapat BAB tidak
peras.
Intervensi :
a. Kaji pada klien apakah ada gangguan dalam BAB
Rasional : Untuk mengetahui apakah ada gangguan dalam BAB
b. Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang banyak mangandung
serat
Rasional : Cairan dan makanan serat dapat merangsang eliminasi dan
mencegah konstipasi
c. Anjurkan untuk minum yang banyak
Rasional : Untuk merangsang eliminasi
d. Kolaborasi pemberian obat supositoria
Rasional : Untuk melunakan feses
7. Tidak efektifnya laktasi b/d perpisahan dengan bayi (Carpenito, 2000)
Tujuan : Ibu dapat menyusui secara aktif
KH : Ibu dapat membuat suatu keputusan berdasarkan informasi tentang
metode menyusui bayi
Intervensi :

47

a. Kaji isapan bayi, jika ada lecet pada putting


Rasional : Menentukan kemampuan untuk memberikan perawatan
yang tepat
b. Anjurkan tekhnik breast care dan menyusu yang efektif
Rasional : Memperlancar ASI
c. Anjurkan pada klien untuk memberikan ASI eksklusif
Rasional : ASI dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayi sebagai
pertumbuhan optimal
d. Anjurkan bagaimana cara memeras, menangani, menyimpan dan
memberikan ASI yang benar
Rasional : Menjaga agar ASI tetap bisa digunakan dan tetap hygiene bagi
bayi

48

49