Anda di halaman 1dari 6

Nama : Agung Satyowiro Utomo

NPM

: 14130310237/P
ETIKA BISNIS DALAM ISLAM

I.

Pengertian Bisnis dalam Islam


Etika dipahami sebagai seperangkat prinsip yang mengatur hidup manusia (a code or
set of principles which people live). Berbeda dengan moral, etika merupakan refleksi kritis
dan penjelasan rasional mengapa sesuatu itu baik dan buruk. Menipu orang lain adalah
buruk. Ini berada pada tataran moral, sedangkan kajian kritis dan rasional mengapa menipu
itu buruk dan apa alasan pikirnya, merupakan lapangan etika. Perbedaan antara moral dan
etika sering kabur dan cendrung disamakan. Intinya, moral dan etika diperlukan manusia
supaya hidupnya teratur dan bermartabat. Orang yang menyalahi etika akan berhadapan
dengan sanksi masyarakat berupa pengucilan dan bahkan pidana. Bisnis merupakan
bagian yang tak bisa dilepaskan dari kegiatan manusia. Sebagai bagian dari kegiatan
ekonomi manusia, bisnis juga dihadapkan pada pilihan-pilihan penggunaan faktor produksi.
Efisiensi dan efektifitas menjadi dasar perilaku kalangan pebisnis. Sejak zaman klasik
sampai era modern, masalah etika bisnis dalam dunia ekonomi tidak begitu mendapat
tempat. Ekonom klasik banyak berkeyakinan bahwa sebuah bisnis tidak terkait dengan
etika. Dalam ungkapan Theodore Levitt, tanggung jawab perusahaan hanyalah mencari
keuntungan ekonomis belaka. Atas nama efisiensi dan efektifitas, tak jarang, masyarakat
dikorbankan, lingkungan rusak dan karakter budaya dan agama tercampakkan.
Perbedaan etika bisnis islam dengan etika bisnis yang selama ini dipahami dalam kajian
ekonomi terletak pada landasan tauhid dan orientasi jangka panjang (akhirat). Prinsip ini
dipastikan lebih mengikat dan tegas sanksinya. Etika bisnis syariah memiliki dua cakupan.
Pertama, cakupan internal, yang berarti perusahaan memiliki manajemen internal yang
memperhatikan aspek kesejahteraan karyawan, perlakuan yang manusiawi dan tidak
diskriminatif plus pendidikan. Sedangkan kedua, cakupan eksternal meliputi aspek
transparansi, akuntabilitas, kejujuran dan tanggung jawab. Demikian pula kesediaan
perusahaan untuk memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat sebagai stake holder
perusahaan.
Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap
perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang,
dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Quran
terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari
kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) Allah telah menghalalkan perdagangan dan
melarang riba. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat
strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat

pada sabda Rasulullah SAW: Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya


didunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki.
Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi
diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak.
Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis
Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya,
dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia
tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang
etis dan moralis. Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran (QS:
Al Ahzab;70-71). Sebagian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha senantiasa
terbuka dan transparan dalam jual belinya Tetapkanlah kejujuran karena sesungguhnya
kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan
kepada surga (Hadits). Akhlak yang lain adalah amanah, Islam menginginkan seorang
pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya dengan memenuhi
hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsur yang melampaui batas
atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia
tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya Tidak ada iman bagi orang yang
tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak
menepati janji, pedagang yang jujur dan amanah (tempatnya di surga) bersama para nabi,
Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada (Hadits).
Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci
rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan,
mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal. Allah mengasihi
orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang
(Hadits).Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam
hal apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu Hai orang yang beriman,
penuhilah akad-akad itu (QS: Al- Maidah;1), Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu
pasti diminta pertanggungjawabannya (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan orang
dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah Tanda-tanda munafik itu tiga perkara,
ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia khianat
(Hadits).
II. Etika Bisnis Islam
Islam merupakan sumber nilai dan etika dalam segala aspek kehidupan manusia secara
menyeluruh, termasuk wacana bisnis. Islam memiliki wawasan yang komprehensif tentang
etika bisnis. Mulai dari prinsip dasar, pokok-pokok kerusakan dalam perdagangan, faktorfaktor produksi, tenaga kerja, modal organisasi, distribusi kekayaan, masalah upah, barang
dan jasa, kualifikasi dalam bisnis, sampai kepada etika sosio ekonomik menyangkut hak
milik dan hubungan sosial. Aktivitas bisnis merupakan bagian integral dari wacana ekonomi.

Sistem ekonomi Islam berangkat dari kesadaran tentang etika, sedangkan sistem ekonomi
lain, seperti kapitalisme dan sosialisme, cendrung mengabaikan etika sehingga aspek nilai
tidak begitu tampak dalam bangunan kedua sistem ekonomi tersebut. Keringnya kedua
sistem itu dari wacana moralitas, karena keduanya memang tidak berangkat dari etika,
tetapi dari kepentingan (interest). Kapitalisme berangkat dari kepentingan individu
sedangkan sosialisme berangkat dari kepentingan kolektif.
Bisnis syariah merupakan implementasi/perwujudan dari aturan syariat Allah.
Sebenarnya bentuk bisnis syariah tidak jauh beda dengan bisnis pada umumnya, yaitu
upaya memproduksi/mengusahakan barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan
konsumen. Namun aspek syariah inilah yang membedakannya dengan bisnis pada
umumnya. Sehingga bisnis syariah selain mengusahakan bisnis pada umumnya, juga
menjalankan syariat dan perintah Allah dalam hal bermuamalah. Untuk membedakan antara
bisnis syariah dan yang bukan, maka kita dapat mengetahuinya melalui ciri dan karakter
dari bisnis syariah yang memiliki keunikan dan ciri tersendiri. Beberapa ciri itu antara lain:
1. Bahwa prinsip esensial dalam bisnis adalah kejujuran. Dalam doktrin Islam, kejujuran
merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens
menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda:
Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia
menjelaskan aibnya (H.R. Al-Quzwani). Siapa yang menipu kami, maka dia bukan
kelompok kami (H.R. Muslim). Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis.
Beliau melarang para pedagang meletakkan barang busuk di sebelah bawah dan
barang baru di bagian atas.
2. Selalu Berpijak Pada Nilai-Nilai Ruhiyah. Nilai ruhiyah adalah kesadaran setiap manusia
akan eksistensinya sebagai ciptaan (makhluq) Allah yang harus selalu kontak denganNya dalam wujud ketaatan di setiap tarikan nafas hidupnya. Ada tiga aspek paling tidak
nilai ruhiyah ini harus terwujud , yaitu pada aspek : (1) Konsep, (2) Sistem yang di
berlakukan, (3) Pelaku (personil).
3. Memiliki Pemahaman Terhadap Bisnis yang Halal dan Haram. Seorang pelaku bisnis
syariah dituntut mengetahui benar fakta-fakta (tahqiqul manath) terhadap praktek bisnis
yang Sahih dan yang salah. Disamping juga harus paham dasar-dasar nash yang
dijadikan hukumnya (tahqiqul hukmi).
4. Benar Secara Syariy Dalam Implementasi. Intinya pada masalah ini adalah ada
kesesuaian antara teori dan praktek, antara apa yang telah dipahami dan yang di
terapkan. Sehingga pertimbangannya tidak semata-mata untung dan rugi secara
material.
5. Berorientasi Pada Hasil Dunia dan Akhirat. Bisnis tentu di lakukan untuk mendapat
keuntungan sebanyak-banyak berupa harta, dan ini di benarkan dalam Islam. Karena di
lakukannya bisnis memang untuk mendapatkan keuntungan materi (qimah madiyah).
Dalam konteks ini hasil yang di peroleh, di miliki dan dirasakan, memang berupa harta.
6. Namun, seorang Muslim yang sholeh tentu bukan hanya itu yang jadi orientasi
hidupnya. Namun lebih dari itu. Yaitu kebahagiaan abadi di yaumil akhir. Oleh

karenanya. Untuk mendapatkannya, dia harus menjadikan bisnis yang dikerjakannya itu
sebagai ladang ibadah dan menjadi pahala di hadapan Allah . Hal itu terwujud jika bisnis
atau apapun yang kita lakukan selalu mendasarkan pada aturan-Nya yaitu syariah
Islam.
Etika bisnis dapat ditinjau dari sisi etika pendirian perusahaan, etika manajemen, etika
produksi, etika pemasaran atau marketing, etika menejer, etika karyawan, dan etika
konsumsi. Diasumsikan karena entitas, lembaga, institusi dan mukalaf (orang yang
bertanggung jawab) dalam islam tidak dapat dipisahkan, etika pribadi sebagai seorang
muslim yang mukalaf yang memiliki kewajiban selaku muslim berlaku juga pada
perusahaan, lembaga dan organisasi.
a. Etika pendirian perusahaan
Umumnya dalam mendirikan perusahaan dalam islam yaitu dilandaskan beberapa etika,
yaitu hanya mendirikan bisnis dengan niat karena Allah dan menjalankannya sesuai
dengan syariat islam, menjadikan perusahaan sebagian dari fungsi amar makruf nahi
munkar demi kemashlahatan umat dan menjadikan perusahaan dengan fungsi sosial
sesuai ketentuan syariat islam.
b. Etika manajemen
Dalam perusahaan, pihak yang bertanggung jawab pada kegiatan bisnis adalah
manajemen sehingga

sukar untuk memisahkan manajemen dan perusahaan.

Perusahaan harus memiliki etika yang dilaksanakan dan dipertanggung jawabkan oleh
manjemen, pemilik, dan mereka yang terlibat didalamnya seperti yang disyariatkan
dalam islam. Etika yang harus diperhatikan majemen yaitu, memberikan informasi yang
lengkap dan benar, mendengarkan keluhan pelanggan, tidak menjual barang yang rusak
atau kadaluwarsa, tidak menjual barang haram, memberikan hak konsumen berupa
keamanan, menciptakan lingkungan atau budaya budaya bisnis berdasarkan syariat,
menerapkan manjemen yang jujur dan amanah sesuai syariat, membayar kewajiban
(pajak, zakat, infak dan sedekah) serta mematuhi semua perintah Allah dan pemerintah.
c. Etika produksi
Memproduksi adalah usaha perusahaan yang menggunakan manusia dan mesin untuk
menukarkan bahan bahan dan bagian kepada produk yang boleh dijual. Bermula dari
proses produksi lagi para pengusaha harus berpegang pada nilai nilai dan etika yang
luhur untuk mengelakkan kesalahan seperti penyedian produk yang tidak berkualitas,
produk atau prosesnya yang mencemarkan alam sekitar dan juga penjualan produk
yang membahayakan konsumen.
d. Etika pemasaran atau marketing
Pemasaran adalah suatu kegiatan yang terus menerus berlaku didalam masyarakat dan
diharuskan untuk memenuhi kebutuhan tiap individu. Kegiatan pemasaran perlu dikelola
dengan metode 4P (produk, price, promosi dan place)
e. Etika manajer
Etika manajer merupakan standar perilaku yang memandu manajer dalam melakukan
aktivitas mereka. Dalam pandangan islam, sseorang manajer harus menjadi penerima

manajemen yang amanah, memperlakukan bawahan sesuai dengan nilai islam,


mengharagai keyakinan karyawan lain, membentuk iklim tim yang islami dan tidak
f.

melakukan manipulasi dalam bentuk apapun.


Etika karyawan
Dalam hubungan kerja, banyak nilai nilai norma yang harus titanam dan dijaga. Dalam
pandangan islam seorang karyawan harus bekerja secara ikhlas dan dianggap ibadah,

jujur dan amanah, mematuhi pemimpin, dan rela bekerja sama dengan tim lain.
g. Etika konsumsi
Pola konsumsi dalam islam harus menjamin agar konsumsi itu akan melahirkan serta
dapat menciptakna jiwa yang sehat dan tentram, menciptakan akhlak yang mulia. Islam
menganjurkan untuk membelanjakan uang agar dapat berputar untuk kemajuan
perekonomian. Islam menganjurkan sifat filantropik berupa kegiatan infak, wakaf dan
sedekah.
III. Aktivitas Bisnis yang Terlarang dalam Syariat Islam
a. Menghindari transaksi bisnis yang diharamkan agama Islam. Seorang muslim harus
komitmen dalam berinteraksi dengan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT. Seorang
pengusaha

muslim

tidak

boleh

melakukan

kegiatan

bisnis

dalam

hal-hal

yangdiharamkan oleh syariah. Dan seorang pengusaha muslim dituntut untuk selalu
melakukan usaha yang mendatangkan kebaikan dan masyarakat. Bisnis, makanan tak
halal atau mengandung bahan tak halal, minuman keras, narkoba, pelacuran atau
semua yang berhubungan dengan dunia gemerlap seperti night club discotic cafe
tempat bercampurnya laki-laki dan wanita disertai lagu-lagu yang menghentak,
suguhan minuman dan makanan tak halal dan lain-lain (QS: Al-Araf;32. QS: Al
Maidah;100) adalah kegiatan bisnis yang diharamkan.
b. Menghindari cara memperoleh dan menggunakan harta secara tidak halal.Praktik riba
yang menyengsarakan agar dihindari, Islam melarang riba dengan ancaman berat (QS:
Al Baqarah;275-279), sementara transaksi spekulatif amat erat kaitannya dengan bisnis
yang tidak transparan seperti perjudian, penipuan, melanggar amanah sehingga besar
kemungkinan akan merugikan. Penimbunan harta agar mematikan fungsinya untuk
dinikmati oleh orang lain serta mempersempit ruang usaha dan aktivitas ekonomi
adalah perbuatan tercela dan mendapat ganjaran yang amat berat (QS:At Taubah; 34
35). Berlebihan dan menghamburkan uang untuk tujuan yang tidak bermanfaat dan
berfoya-foya kesemuanya merupakan perbuatan yang melampaui batas. Kesemua sifat
tersebut dilarang karena merupakan sifat yang tidak bijaksana dalam penggunaan
harta dan bertentangan dengan perintah Allah (QS: Al araf;31).
c. Persaingan yang tidak fair sangat dicela oleh Allah sebagaimana disebutkan dalamAlQuran surat Al Baqarah: 188: Janganlah kamu memakan sebagian harta sebagian
kamu dengan cara yang batil. Monopoli juga termasuk persaingan yang tidak fair
Rasulullah mencela perbuatan tersebut : Barangsiapa yang melakukan monopoli maka
dia telah bersalah, Seorang tengkulak itu diberi rezeki oleh Allah adapun sesorang

yang melakukan monopoli itu dilaknat. Monopoli dilakukan agar memperoleh


penguasaan pasar dengan mencegah pelaku lain untuk menyainginya dengan berbagai
cara, seringkali dengan cara-cara yang tidak terpuji tujuannya adalah untuk
memahalkan harga agar pengusaha tersebut mendapat keuntungan yang sangat
besar. Rasulullah bersabda : Seseorang yang sengaja melakukan sesuatu untuk
memahalkan harga, niscaya Allah akan menjanjikan kepada singgasana yang terbuat
dari api neraka kelak di hari kiamat.
d. Pemalsuan dan penipuan, Islam sangat melarang memalsu dan menipu karena dapat
menyebabkan kerugian, kezaliman, serta dapat menimbulkan permusuhan dan
percekcokan. Allah berfirman dalam QS:Al-Isra;35: Dan sempurnakanlah takaran
ketika kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Nabi bersabda
Apabila kamu menjual maka jangan menipu orang dengan kata-kata manis.
Dalam bisnis modern paling tidak kita menyaksikan cara-cara tidak terpuji yang
dilakukan sebagian pebisnis dalam melakukan penawaran produknya, yang dilarang dalam
ajaran Islam. Berbagai bentuk penawaran (promosi) yang dilarang tersebut dapat
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Penawaran dan pengakuan (testimoni) fiktif, bentuk penawaran yang dilakukanoleh
penjual seolah barang dagangannya ditawar banyak pembeli, atau seorang artis yang
memberikan

testimoni

keunggulan

suatu

produk

padahal

ia

sendiri

tidak

mengkonsumsinya.
2. Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan, berbagai iklan yang sering kita saksikan di
media televisi, atau dipajang di media cetak, media indoor maupun outdoor, atau kita
dengarkan lewat radio seringkali memberikan keterangan palsu.
3. Eksploitasi wanita, produk-produk seperti, kosmetika, perawatan tubuh, maupun produk
lainnya seringkali melakukan eksploitasi tubuh wanita agar iklannya dianggap menarik.
Atau dalam suatu pameran banyak perusahaan yang menggunakan wanita berpakaian
minim menjadi penjaga stand pameran produk mereka dan menugaskan wanita
tersebut merayu pembeli agar melakukan pembelian terhadap produk mereka.Model
promosi tersebut dapat kita kategorikan melanggar akhlaqul karimah, Islam sebagai
agama yang menyeluruh mengatur tata cara hidup manusia, setiap bagian tidak dapat
dipisahkan dengan bagian yang lain.
4. Demikian pula pada proses jual beli harus dikaitkan dengan etika Islam sebagai
bagian utama. Jika penguasa ingin mendapatkan rezeki yang barokah, dan dengan
profesi sebagai pedagang tentu ingin dinaikkan derajatnya setara dengan para Nabi,
maka ia harus mengikuti syariah Islam secara menyeluruh, termasuk etika jual beli.