Anda di halaman 1dari 524

BAB I

PENDAHULUAN
Pelayanan fisioterapi ditata sesuai kebutuhan pasien/klien masyarakat, berdasar
pada
ilmu pengetahuan dan teknologi maju, dituntun oleh moral etis, memperhatikan asp
ek
biopsiko social-kultural-spiritual, mengacu pada perundangan peraturan.
Berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang menjujung tinggi harkat dan martabat manu
sia
sebagai makhluk individu dan sebagai titik sentral pembangunan menuju masyarakat
adil makmur, profesi fisioterapi memandang kapasitas gerak dan fungsi tubuh adal
ah
hak asasi manusia sebagai esensi dasar untuk hidup sehat dan sejahtera.
Setiap orang berhak untuk hidup sejahtera secara mental dan fisik, bertempat tin
ggal
dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat dan berhak untuk perawatan
kesehatan. Negara bertanggung jawab untuk penyediaan fasilitas pelayanan kesehat
an
dan fasilitas pelayanan umum yang layak. (Amandemen UUD 45).
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosi
al yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Pembangunan kesehatan diarahkan dalam rangka tercapainya kesadaran, kemauan dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan diperlukan
pengelola berbagai sumber daya baik pemerintah maupun masyarakat, oleh pemerinta
h
pusat maupun daerah. (UU.23/2004; UU.32/2004, UU 36/2009, PP.25/2000).
Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan
terjangkau. Setiap orang berhak secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan
sendiri pelayananan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya. Setiap orang berkewa
jiban
ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
yang setinggi-tingginya. Kewajiban tersebut pelaksanaannya meliputi upaya keseha
tan
perseorangan, upaya kesehatan masyarakat, dan pembangunan berwawasan kesehatan.
Pemerintah bertangg.jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan
mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh
masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan suatu alat dan/atau tempat yang diguna
kan
untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kura
tif
maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau

masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan wajib memberikan akses luas bagi kebut
uhan
penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan. (UU.36/2009, Ps.1, 5, 9, 14, 24
).
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dan bertu
gas
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. Pelayanan kesehatan
paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif
dan
rehabilitatif. Tenaga kesehatan tertentu yang bekerja di rumah sakit wajib memil
iki izin
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. Rumah sakit mempunyai fungsi
pendidikan, pelatihan, pengembangan, penapisan ilmu pengetahuan teknologi bidang
kesehatan. (UU. 44/2009, Ps.4,.5, 13).
Sistem rujukan merupakan penyelenggaraan kesehatan yang mengatur pelimpahan
tugas dan tanggung jawab secara timbal balik vertikal dan horisontal, maupun str
uktural
dan fungsional terhadap kasus penyakit. dan atau masalah penyakit atau permasala
han
kesehatan (UU. 44/2009, Ps. 42).
Rujukan dibagi 2 (dua) kelompok : rujukan medik : untuk pengobatan dan pemulihan
berupa pengiriman pasien (kasus), spesimen dan pengetahuan tentang penyakit; dan
rujukan kesehatan untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan berupa sarana,
teknologi dan operasional (Kepmenkes 374/2009, SKN).
Tenaga kesehatan katagori Keterapian Fisik terdiri dari Fisioterapis, Okupasi Te
rapis
dan Terapis Wicara. (Peraturan Pemerintah No.32 Tahun 1996).
Fisioterapis terdiri dari jabatan fungsional ahli dan terampil (Peraturan Presid
en No.
34/2008).
Fisioterapis kompeten berperan sebagai pemberi pelayanan, pengelola, pendidik da
n
peneliti (KEPMENKES No.376/2007).
Fisioterapis wajib memiliki Surat Ijin Praktik, berwenang melakukan assesmen,
diagnosis, perencanaan, intervensi dan evaluasi/re-evaluasi. (Kepmenkes 1363/200
1).
Pelayanan fisioterapi di fasilitas pelayanan kesehatan diatur dalam 7 (tujuh) st
andar,
terdiri dari : 1. Falsafah dan tujuan, 2. Administrasi dan pengelolaan, 3. Pimpi
nan dan
pelaksana, 4. Fasilitas dan peralatan, 5. Kebijakan dan prosedur, 6. Pengembanga
n
tenaga dan pendidikan, dan 7. Evaluasi pelayanan dan pengembangan mutu. (KEPMEN
No.517/2008).
Otonomi profesional fisioterapis diperoleh melalui pendidikan profesi yang menyi
apkan
tenaga fisioterapis yang mampu praktik secara otonom. Fisioterapis mampu melakuk
an
keputusan profesional untuk menetapkan diagnosis yang diperlukan sebagai dasar

intervensi, rehabilitasi dan pemulihan dari pasien/klien dan populasi. Prinsip e


tika
diperlukan untuk mengenali otonomi praktik, guna melindungi pasien/klien dan
pelayanannya.
Pelayanan fisioterapi di fasilitas pelayanan kesehatan ditata dengan pedoman yan
g
terdiri dari : Falsafah, kompetensi, peran dan fungsi serta tanggung jawab fisio
terapi,
penatalaksanaan pelayanan fisioterapi dan pelaporan, (KEPMENKES No.778/2008).
Pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina,
dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh
masyarakat. (UU.36/2009, Ps. 14).
Pembentukan instalasi ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit sesuai kebutuhan ruma
h
sakit, (PERMENKES No 1045/2006, Ps. 20).
Pimpinan rumah sakit termasuk pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan berwenang
mengatur kegiatan institusi yang dipimpinnya dengan mengacu pada norma, standar,
pedoman dan kriteria pelayanan fisioterapi yang ditetapkan oleh pemerintah dan
rekomendasi organisasi profesi fisioterapi.
Pimpinan rumah sakit termasuk pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan menetapkan
kebijakan seperti dan tidak terbatas pada :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

seorang fisioterapis sebagai pimpinan pelayanan fisioterapi,


falsafah dan tujuan fisioterapi.
organisasi dan uraian tugas,
akses masuk,
pemeriksaan penunjang,
sistem dokumentasi
sistem pelaporan.

BAB II
PROSEDUR PELAYANAN FISIOTERAPI.
Prosedur adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan (Muhammad
Ali,
2000). Prosedur adalah sekumpulan bagian yang saling berkaitan misalnya : orang,
jaringan gudang yang harus dilayani dengan cara yang tertentu oleh sejumlah pabr
ik dan
pada gilirannya akan mengirimkan pelanggan menurut proses tertentu (Amin Widjaja
1995).
Prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang
berhubungan satu sama lainnya dan prosedur-prosedur yang berkaitan melaksanakan
dan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi (Kamaruddin,1992).
Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupak
an
urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu
pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang (Ismail Masya 1994).
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan yang dimaksud
dengan prosedur adalah suatu tata cara kerja atau kegiatan untuk menyelesaikan
pekerjaan dengan urutan waktu dan memiliki pola kerja yang tetap yang telah dite
ntukan.
Bahwa setiap orang berhak memperoleh pelayanan. kesehatan. yang. aman, bermutu d
an
terjangkau.Tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan harus. memenuhi kode etik,
standar profesi, hak pengguna pelayanan .kesehatan, standar pelayanan, dan stand
ar
prosedur operasional. (UU.36/2009, Ps.5, 24).
Fasilitas pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit, dalam menyelenggarakan
pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan rum
ah
sakit. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di rumah sakit harus bekerja sesuai
dengan
standar profesi, standar pelayanan rumah sakit, standar prosedur operasional yan
g
berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasi
en,
(UU. 44/2009, Ps.5,.13).
Standar pelayanan fisioterapi terdiri dari assesmen, diagnosis, perencanaan, int
ervensi,
evaluasi/re-evaluasi dan dokumentasi/komunikasi/koordinasi. (Tap. KONAS IX IFI T
ahun
2004, Referensi WCPT, 1996)
Pengendalian mutu suatu pekerjaan dirumuskan siklus kegiatan : kerjakan yang kau
tulis,
tulis yang kau kerjakan, tinjau dan tingkatkan ; suatu kegiatan jasa dan/atau pr
oduk akan
terjamin mutu bila ditulis dulu prosesnya, dijalankan, didokumentasi, dibakukan
sebagai

standar prosedur operasional, dievaluasi dan diperbaiki secara terus-menerus


berkesinambungan. Struktur dokumentasi sistem mutu, terdiri dari : 1. Kebijakan,
2.
Prosedur, 3. Petunjuk Teknis, dan 4. Pelaporan. ( ISO 9000:2000 / International
Standard
Organization Nomor 9000 Tahun 2000).
Mengacu kebijakan, prosedur, struktur dokumentasi dan pengendalian mutu pelayana
n
fisioterapi ditata dalam urutan tingkat manajemen dan pendokumentasian seperti d
an
tidak terbatas :
a. Fasilitas pelayanan kesehatan fisioterapi : ketetapan pimpinan, falsafah-tuju
an, dan
organisasi pelayanan fisioterapi.
b. Pelayanan fisioterapi : ketetapan akses masuk, pemeriksaan penunjang, sistem
dokumentasi dan pelaporan.
c. Pelayanan fisioterapi pada Pasien/Klien : assesmen, diagnosis, perencanaan,
persetujuan, intevensi, evaluasi, dokumentasi.
d. Prosedur kasus : dalam kelompok muskulosekeletal, neuromuskuler,
kardiopulmoner, dan integumenter.
e. Metoda terapi : manual treatment, Bobath, MLDV.
f. Aplikasi teknis/teknologi : pemeriksaan dan pengukuran (24), terapi latihan,
elektroterapi, traksi, hidroterapi.
Standar prosedur operasional adalah suatu set instruksi yang memiliki kekuatan s
ebagai
suatu petunjuk atau direktif. Mencakup hal-hal operasional yang memiliki suatu p
rosedur
pasti atau terstandardisasi, tanpa kehilangan keefektifannya.
Setiap sistem manajemen kualitas yang baik selalu didasari oleh standar prosedur
operasional.
Sebuah standar prosedur operasional adalah seperangkat instruksi tertulis bahwa
seseorang harus mengikuti untuk menyelesaikan pekerjaan dengan aman, tanpa efek
buruk pada kesehatan pribadi atau lingkungan, dan dalam cara yang memaksimalkan
efisiensi operasional dan produksi.
Standar prosedur operasional adalah perangkat/instruksi/langkah-langkah yang
dibakukan, yang kisi-kisi : yang benar dan terbaik, konsensus bersama pencegah
kesalahan, penjamin keamanan, dan telah teruji.
Contoh format prosedur operasional seperti dan tidak terbatas :
1. Format ISO 9001:2000 ( International Standard Organization Nomor 9001 Tahun
2000),

2. Dirjen BUK/ Yan Medik Kementerian Kesehatan,


3. Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS).
Standar operasional prosedur yang perlu dirumuskan :
1. Ketetapan falsafah dan tujuan,
2. Ketetapan Fisioterapis sebagai pimpinan,
3. Ketetapan organisasi,
4. Ketetapan sistem pelaporan
5. Ketetapan akses masuk,
6. Ketetapan pemeriksaan penunjang,
7. Ketetapan dokumentasi
8. SPO Proses : assesmen, diagnosis, perencanaan, penyelesaian/penghentian, resu
m,
dokumentasi.
9. SPO Kasus : Ekstrimitas Atas, Ekstrimitas Bawah, Ekstremitas Atas, Tulang
Punggung.
10. SPO Intervensi/Metode terapi : terapi latihan, massage, pengukuran.
11. SPO /Petunjuk teknis modalitas .

BAB III
PERILAKU INTERAKSI FISIOTERAPI.
Interaksi merupakan bagian integral pelayanan fisioterapi. Interaksi merupakan p
rasarat
untuk perubahan positif tentang kesadaran tubuh dan perilaku gerak, yang
memungkinkan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Interaksi juga dimaksudkan
untuk meningkatkan saling pengertian antara fisioterapis dengan
pasien/klien/keluarga/pengasuh dan tenaga kesehatan lain. Interaksi melibatkan t
im
inter disiplin guna menentukan kebutuhan dan tujuan intervensi fisioterapi,
mengikutsertakan pasien/klien/keluarga/pengasuh dalam proses pencapaian tujuan
intervensi fisioterapi. Interaksi dengan lembaga pemerintahan dilakukan dalam ra
ngka
menginformasikan, mengembangkan dan atau implementasi kebijakan dan strategi
kesehatan yang tepat.
Fisioterapis dalam melakukan pelayanan berpegang pada sumpah profesi, KODEFI,
KODERSI, mengacu pada standar, pendekatan promotif-preventif-kuratif-rehabilitat
if,
memandang pasien/klien sebagai manusia seutuhnya.
Fisioteraspis berwenang melakukan assesmen, diagnosis, perencanaan, intervensi d
an
evaluasi/re-evaluasi; berkewajiban (Kepmenkes 1363/2001).
Interaksi fisioterapis ditata dalam formasi seperti dan tidak terbatas :
1. Interaksi Fisioterapis
2. Interaksi Fisioterapis
perawat.
3. Interaksi Fisioterapis
4. Interaksi Fisioterapis
lam
konferensi kasus/pasien.
5. Interaksi Fisioterapis
kasus/klinik.

dengan psien/klien/pedamping.
dengan dokter penanggung jawab pasien/perujuk dan
dengan tenaga lain dalam temu interdisipliner.
dengan tenaga lain dan pendamping/pendukung pasien, da
dengan tenaga lain dalam wadah pertemuan ilmiah

BAB IV
PANDUAN PENYUSUNAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL
A. Definisi SPO
Standar operasioanal prosedur adalah suatu set instruksi yang memiliki kekuatan
sebagai suatu petunjuk atau direktif. SPO mencakup hal-hal operasional yang memi
liki
suatu prosedur pasti atau terstandarisasi,tanpa kehilangan keefektifanya. Setiap
sistem
manajemen kualitas yang baik selalu didasari oleh SPO. ( Wikipedia bahasa
Indonesia,ensiklopedia bebas)
Sebuah SPO adalah seperangkat instruksi tertulis bahwa seseorang harus mengikuti
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan aman, tanpa efek buruk pada kesehatan priba
di
atau lingkungan,dan dalam cara yang memaksimalkan efisiensi operasional dan
produksi.
Standar Prosedur Operasional merupakan perangkat atau instruksi atau langkahlangkah yang dibakukan, yang benar dan terbaik,konsensus bersama,pencegah
kesalahan, penjamin keamanan dan telah teruji ( system mutu ISO 9000,1997 )
B. Bagian-bagian SPO
Standar Prosedur Operasional biasanya ada enam bagian ( ISO 9001 : 2000 )
1. Tujuan.

Prosedur ini dibuat untuk memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
yang dibakukan.
2. Lingkup.

Prosedur ini dinyatakan berlaku untuk siapa dan fungsi-fungsi terkait.


3. Acuan

Disini di isi dokumen- dokumen lain yang disebutkan atau yang berkaitan dengan
prosedur ini.
4. Definisi.

Dijelaskan disini semua istilah yang dipakai dalam prosedur ini, yang mungkin

bermakna ganda,juga bila dalam prosedur ini dipakai singkatan-singkatan yang


perlu dijelaskan artinya.

5. Prosedur

Diuraikan di sini semua kegiatan yang harus dilalui dalam pelaksanaan prosedur,
juga disertai tanggung jawab yang melaksanakan,dan wewenang untuk
memutuskan.
6. Lampiran

Lampiran adalah pelengkap prosedur,berisi antara lain contoh-contoh formulir


yang harus dipakai, contoh bentuk dan warna label juga dapat ditambahkan sebagai
lampiran sebuah daftar riwayat perubahan dokumen.
Jumlah bagian tidak harus enam. Boleh ditambah atau dikurangi.
C. Contoh Format SPO
Format diagram blok dan alir
FORMAT DIAGRAMALIR(Komputer: AutoShapes.Flowchart)
Input / Out putPersiapanMulai/ AkhirProsesKeputusan Ya/ Tidak
DokumenOperasidg manualArahPenyimpananon linePenyimpananoff line

Contoh: Diagram Blok& AlirAdm/


KasirRSUnit/InstalasiFisioterapiRawatInapPoliUmumMasyAA

FORMAT DIAGRAM BLOK & ALIR KARS, 2000.


LOGORS.. . . . . .
RUJUKAN RAWAT JALAN . . . . . .
No. DokumenTgl. TerbitDitetapkan:
Direktur. . .
Koreksi:
Ket./Ka. . .
.
Disiapkan:
Ket.Tim/ Ka. FisioterapiNo. RevisiDiagramAlirNo. HalamanBLOK 1BLOK 2BLOK 3BLOK 4
KETERANGAN

LOGORS. . .
STANDAR . . . . .
PELAYANANNo. Dok. :
. . . . . . .
No. Revisi :
. . . . . . .
Halaman :
. . . . . . .
ProsedurTetapTgl.Terbit :
. . . . . .
Ditetapkan,
Direktur. . . . . . . . . . .. .1.Tujuan :
2.Ruang lingkup :
3.Kebijakan:
4.Prosedur :
5.Unit terkait :
FORMAT SOP (Dirjen Yan Medik, 2001).

LOGORS. . .
OPERASIONAL MESIN . . . . . . . . . . .
No. Dok. :
. . . . . . .
No. Revisi :
. . . . . . .
Halaman :
. . . . . . .
PetunjukTeknisTgl.Terbit :
. . . . . .
Ditetapkan,
Direktur. . . . . . . . . . .. .1.Tujuan :
2.Ruang lingkup :
3.Uraian umum :
4.Rincian aktifitas :
5.Dokumen terkait :
6.Acuan :
7.Lampiran :
FORMAT PETUNJUK TEKNIS (Dirjen Yan Medik, 2001).

BAB V
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL PELAYANAN FISIOTERAPI
DENGAN MENGACU KEPADA ISO 9001.2000
A. Manajemen Fasilitas Pelayanan Fisioterapi : ketetapan pimpinan, falsafahtujuan, dan organisasi pelayanan fisioterapi.
Isi SPO tingkat I
Contoh-contoh sebagai berikut :
I.1a.
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT
NOMOR :
TENTANG
KEPALA/PJ. PELAYANAN FISIOTERAPI
MENIMBANG :
a. Dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan paripurna holistik kepada
masyarakat, mendukung pendidikan, pelatihan, penelitian serta penapisan ilmu
pengetahuan kesehatan, sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit
..................
b. Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu
dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak
dan fungsi tubuh sepanjang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara
manual, peningkatan gerak, peralatan ( fisik, elektroterapeutis dan mekanis),
pelatihan fungsi dan komunikasi. (Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1363/Menkes/SK/XII/2001).
c. Perlu ditetapkan seorang Kepala/Penanggung Jawab Pelayanan Fisioterapi
sebagai pengelola.

MENGINGAT :
Surat Keputusan Direktur Rumah Sakit . . . .. . .. . . . . Nomor . . . . .. .. .
tentang Struktur
Organisasi Unit/Pelayanan Fisioterapi.

MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
1. Nama :
Nomor Kepegawaian :
Sebagai Kepala Unit/Instalasi Fisioterapi
2. Bertugas mengelola pelayanan fisioterapi di Rumah Sakit sesuai dengan Uraian
Tugas Kerja terlampir.
3. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di ..................
Pada tanggal ....................
Direktur Rumah Sakit ......

I.1b.:
URAIAN TUGAS
KEPALA / PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN FISIOTERAPI
DI RUMAH SAKIT . . . . . . .
1. Fungsi utama :
Mengelola unit /instalasi fisioterapi untuk memberikan pelayanan kesehatan
paripurna holistik kepada masyarakat, mendukung pendidikan, pelatihan,
penelitian serta penapisan ilmu pengetahuan kesehatan, sesuai dengan
perundangan, peraturan, standar, serta Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit
..................
2. Kedudukan dalam organisasi :
2.1 Bertanggung jawab kepada pimpinan/pejabat yang ditunjuk oleh pimpinan
institusi sarana kesehatan.
2.2 Membawahi seluruh tenaga dalam satuan kerja pelayanan fisioterapi sesuai
ketentuan institusi sarana kesehatan.
3. Uraian tugas :
3.1 Memimpin dalam merumuskan falsafah, tujuan, sasaran pelayanan
fisioterapi sesuai dengan standar profesi dan ketententuan institusi.
3.2 Mengelola pelayanan fisioterapi sesuai dengan peraturan, perundangan,
standar profesi dan ketentuan institusi.
3.3 Memimpin perumusan metoda kerja sesuai dengan peraturan, perundangan,
standar profesi fisioterapi dan ketentuan institusi.
3.4 Memimpin pengembangan pelayanan fisioterapi sesuai kebutuhan
masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, dan daya dukung
institusi.
3.5 Memimpin pengembangan sumber daya manusia yang dibawahinya.
3.6 Memimpin dalam mendukung pendidikan, pelatihan, penelitian serta
penapisan ilmu pengetahuan kesehatan

3.7 Menjalin kerjasama vertical dan horizontal dalam institusi.


3.8 Menjalin kerjasama profesional dengan organisasi profesi dan legalitas
pelayanan dengan pemerintah.
4. Batas wewenang :
4.1 Membuat dan atau mengesahkan pedoman dan teknis profesional pelayanan
fisioterapi sesuai dengan standar profesi dan kebijakan institusi.
4.2 Membuat/memimpin, merumuskan program kerja jangka pendek dan
jangka panjang pelayanan fisioterapi.
4.3 Membuat laporan kegiatan pelayanan fisioterapi kepada pimpinan/pejabat
dalam institusi.
4.4 Membuat laporan kepersonaliaan kepada pimpinan/pejabat dalam institusi.
4.5 Membuat penilaian kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang
dibawahinya.
4.6 Membuat laporan sarana dan prasarana dalam satuan kerjanya kepada
pimpinan/pejabat dalam institusi.
4.7 Membuat penilaian kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana.
5. Kualifikasi :
5.1 Pendidikan: S-1 Fisioterapi/Diploma IV Fisioterapi atau Diploma III
Fisioterapi plus SKM/S1Manajemen.
5.2 Memiliki SIPF (Surat Izin Praktik Fisioterapi)
5.3 Pengalaman : S-1/Diploma IV, 1 tahun sebagai Pelaksana , atau
5.4 Diploma III plus SKM/S1 Manajemen, 2 tahun sebagai Pelaksana.
5.5 Keterampilan : Operasional Komputer Word,Exel, Power Point, dan Bahasa
Inggris Intermediate.
5.6 Pelatihan : Manajemen Mutu.
6. Referensi :
6.1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
6.2 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
6.3 Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
6.4 Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
6.5 Peraturan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2008 tentang Jabatan Fungsional
Fisioterapis.

6.6 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang


Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
6.7 Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara RI Nomor 04 Tahun
2004 tentang Jabatan Fungsional Tenaga Fisioterapis.
6.8 Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan Kepala.Badan Kepegawaian
Negara RI Nomor 209 Tahun 2004 dan Nomor 07 Tahun 2004, tentang
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Fisioterapis.
6.9 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 640 Tahun 2005, tentang Petunjuk
Teknis Jabatan Fungsional Tenaga Fisioterapis.
6.10 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/MENKES/Per/XI/2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
439/Menkes/Per/VI/2009;
6.11 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10455/MENKES/Per/XI/2006 tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan.
6.12 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi.
6.13 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.14 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.15 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.

I.1c.
KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT
NOMOR :
TENTANG
ORGANISASI UNIT/INSTALASI FISIOTERAPI
DI RUMAH SAKIT . . . . . . .
MENIMBANG :
a. Dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan paripurna holistik kepada
masyarakat, mendukung pendidikan, pelatihan, penelitian serta penapisan ilmu
pengetahuan kesehatan, sesuai dengan Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit .........
.........
b. Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu
dan
atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan gerak dan
fungsi tubuh sepanjang kehidupan dengan menggunakan penanganan secara
manual, peningkatan gerak, peralatan ( fisik, elektroterapeutis dan mekanis),
pelatihan fungsi dan komunikasi. (Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1363/Menkes/SK/XII/2001).
c. Perlu ditetapkan Organisasi Pelayanan Fisioterapi sebagai unit kerja/instalas
i
pelayanan di Rumah Sakit . . . . . .

MENGINGAT :
1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
4. Peraturan Pemerintah No 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
5. Peraturan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2008 tentang Jabatan Fungsional
Fisioterapis.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi dan
Izin Praktik Fisioterapi.

7. Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara RI Nomor 04 Tahun 2004


tentang Jabatan Fungsional Tenaga Fisioterapis.
8. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan Kepala.Badan Kepegawaian Negara
RI Nomor 209 Tahun 2004 dan Nomor 07 Tahun 2004, tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Fisioterapis.
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 640 Tahun 2005, tentang Petunjuk Teknis
Jabatan Fungsional Tenaga Fisioterapis.
10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/MENKES/Per/XI/2005 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 439/Menkes/Per/VI/2009;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10455/MENKES/Per/XI/2006 tentang
Pedoman Organisasi Rumah Sakit di Lingkungan Departemen Kesehatan.
12. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar Profesi
Fisioterapi.
13. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
14. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
15. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral Bin
a
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya Fasilitas
Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : Organisasi Unit/Instalasi Fisioterapi di Rumah Sakit . . . . . . .
. . . . . . .
STRUKTUR ORGANISASI UNIT KERJA/
PELAYANAN FISIOTERAPI
RUMAH SAKIT . . . . . .

Staf Medis Fungsional

Fisioterapis
Pelaksana
Fisioterapis
Pelaksana
Fisioterapis
Pelaksana
Organization Chart
Kepala/PJ
Yan. Fisioterapi
Kelompok Peminatan
Tumbuh Kembang
Kelompok Peminatan
Neuro-Muskuler
Kelompok Peminatan
Muskulo-SkeletalIntegumenter.
Staf Profesional
Fisioterapi
Tata Usaha

I. 2
FILOSOFI FISIOTERAPI
1. Falsafah Fisioterapi :
1.1 Kepenuhan gerak fungsional tubuh manusia untuk hidup sehat sejahtera
adalah hak azasi.
1.2 Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada
individu dan atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan
memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang rentang kehidupan dengan
menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan
(fisik, elektroterapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi.
1.3 Fisioterapis adalah seseorang yang telah lulus pendidikan fisioterapi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1.4 Ilmu fisioterapi adalah sintesa ilmu biofisika, kesehatan dan ilmu-ilmu lain
yang mempunyai hubungan dengan upaya pencegahan, intervensi dan
rehabilitasi gangguan gerak fungsional serta promosi. Paradigma fisioterapi
meliputi : gerak, individu dan interaksi, sehat-sakit.
1.5 Otonomi fisioterapi : Dalam melakukan pelayanan profesinya, fisioterapis
mempunyai otonomi mandiri serta mempunyai hubungan yang sejajar
dengan profesi kesehatan lain, dengan konsekuensi dan tanggung jawab
serta mengatur dirinya sendiri berdasarkan landasan kode etik profesi
fisioterapi, serta mendapatkan pengesahan dari Ikatan Profesi Fisioterapi
dan peraturan perundangan yang berlaku.
1.6 Pelayanan fisioterapi adalah masukan, proses, keluaran dan dampak
pelayanan fisioterapi.
1.7 Proses fisioterapi ialah kegiatan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan
assesmen dan pemeriksaan fisioterapi, penetapan diagnosa fisioterapi,
rencana intervensi terapi, pelaksanaan intervensi terapi, evaluasi hasil
intervensi terapi dan dokumentasi.
1.8 Integrasi pelayanan fisioterapi, sebagai bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan, dalam bentuk pelayanan mandiri atau dalam tim

pelayanan kesehatan lain, diatur dengan prinsip-prinsip etik, standar profesi,


tanggung dan tanggung gugat, dengan pendekatan holistik dan paripurna :
a. Promosi : Mempromosikan kesehatan dan kesejahteraan bagi individu
dan masyarakat umum.
b. Pencegahan: Terhadap gangguan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan
individu yang mempunyai resiko gangguan gerak akibat faktor-faktor
kesehatan/ medik/sosial ekonomi dan gaya hidup.
c. Penyembuhan : Terhadap gangguan/penyakit infektif, non infektif dan
degeneratif.
d. Pemulihan : Terhadap sistem integrasi tubuh yang diperlukan untuk
pemulihan gerak, memaksimalkan fungsi, meminimalkan ketidak
mampuan dan meningkatkan kualitas hidup individu dan atau kelompok
yang mengalami gangguan sistem gerak
1.9 Prinsip-prinsip Kode Etik Fisioterapi :
a. Menghargai hak dan martabat individu.
b. Tidak bersikap diskriminatif dan memberikan pelayanan kepada
siapapun yang membutuhkan.
c. Memberikan pelayanan prifesional secara jujur, berkompeten dan
bertanggung jawab.
d. Mengakui batasan dan kewenangnan profesi dan hanya memberikan
pelayanan dalam lingkup fisioterapi.
e. Menjaga rahasia pasien/klien yang dipercayakan kepadanya, kecuali
untuk kepentingan hukum/pengadilan.
f. Selalu memelihara standar kompetensi profesi fisioterapi dan selalu
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.
g. Memberikan kontribusi dalam perencanaan dan pengembangan
pelayanan untuk meningkatkan derajad individu dan masyarakat.

2. Tujuan :
Agar masyarakat terlayani dalam hal problem dan kebutuhan akan kesehatan
gerak fungsional, melalui upaya pencegahan gangguan/penyakit, penyembuhan
dan pemulihan melalui upaya pelayanan fisioterapi :

2.1 Mengembangkan gerak potensial agar gerak aktual mencapai gerak


fungsional.
2.2 Mengembangkan gerak potensial untuk meminimalkan kesenjangan gerak
aktual dengan gerak fungsional.

3. Kerangka konsep :
3.1 Gerak manusia sebagai hasil fungsi integrasi koordinasi dari tubuh pada
sejumlah tingkatan, dipengaruhi factor eksternal dan internal. Gerakan
fungsional sebagai esensi untuk sehat dan sejahtera.
3.2 Individu manusia sebagai kesatuan tubuh, pikiran dan semangat, memiliki
kesadaran akan kebutuhan dan tujuan gerak tubuhnya, memiliki kapasitas
puntuk berubah sebagai hasil respon faktor-faktor fisik, psikologis, social
dan lingkungan.
3.3 Interaksi manusia sebagai kemampuan dan prasarat untuk perubahan positif
dalam perilaku gerak kearah yang berfungsi dalam kesehatan dan
kesejahteraan. Interaksi berfungsi mencapai saling pengertian diantara
fisioterapis, pasien, keluarga pasien, dan pelayanan lain, dalam menyusun
pelayanan fisioterapi yang terintegrasi.
3.4 Sehat-sakit: setiap individu mempunyai potensi gerak, gerak actual dan
gerak fungsional. Sehat berarti gerak aktual sama dengan gerak fungsional.
Sakit berarti ada kesenjangan antara gerak aktual dengan gerak fungsional.
Agar gerak aktual mencapai gerak fungsional maka fisioterapi berperan
mengembangkan potensi gerak.
3.5 Otonomi professional diperlukan agar fisioterapis bisa berpraktik
berinteraksi dengan pasien, keluarga pasien, pelayanan lain demi tepatdan
akuratnya intervensi fisioterapi. Otonomi profesional diperoleh fisioterapi
melalui pendidikan tinggi ilmu fisioterapi dan dengan mengembangkan etik
moral demi melayani pasien.
4. Acuan :
4.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang
Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
4.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi

4.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
4.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
4.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
4.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

I. 3.
PROSEDUR RUJUKAN FISIOTERAPI
RAWAT INAP
1. Pengertian :
Prosedur rujukan fisioterapi pasien rawat inap ialah tatacara pelayanan
fisioterapi bagi pasien yang dirawat inap, dari sejak dirujuk, dilayani, dievalu
asi
dan dirujuk kembali.
2. Tujuan :
Tersedianya pedoman kerja bagi Fisioterapis dan tenaga kesehatan lain, dalam
memberikan pelayanan fisioterapi untuk pasien yang dirawat inap.
3. Kebijakan :
Pedoman ini sebagai acuan kerja dalam melayani pasien yang dirawat inap dalam
lingkup :
3.1 Pasien yang dirawat inap dimungkinkan dilayani secara interdisipliner
dengan Dokter yang merawat berperan sebagai ketua tim.

3.2 Pemberian pelayanan fisioterapi atas dasar permintaan/ persetujuan Dokter


ketua tim.
3.3 Fisioterapis menerima rujukan dan melayani pasien sesuai dengan kaidah
dalam proses fisioterapi yang terbuka, dan melaporkan hasil evaluasi
pelayanan sebagai rujukan balik, kepada Dokter perujuk.
3.4 Fisioterapis berkolaborasi dengan Perawat dan profesi lain dalam
memberikan pelayanan pada pasien.
3.5 Fisioterapis membuat catatan dokumentasi pelayanan fisioterapi,
menyesuaikan dengan sistem rekam medis yang berlaku
4. Prosedur :
4.1 Dokter memeriksa pasien, menemukan indikasi fisioterapi dan mengisi
formulir rujukan fisioterapi
4.2 Perawat dengan membawa surat rujukan/ resep dokter mendaftar di
Poliklinik Fisioterapi.
4.3 Fisioterapis menerima dan melayani pasien sesuai dengan profesionalisme
fisioterapi dan kepentingan institusi.
4.4 Fisioterapis mengevaluasi/ reassesmen pasien.
4.5 Fisioterapis merujuk balik ke dokter perujuk awal.
4.6 Dokter atau fisioterapis menetapkan stop/ lanjut pelayanan fisioterapi.
4.7 Fisioterapis membuat dokumentasi dan administrasi biaya bekerjasama
dengan kasir RS.
5. Unit terkait
5.1 Unit-Unit dalam instalasi rawat inap.
5.2 Unit penunjang.
6. Lampiran : Diagram Alir Rujukan Fisioterapi Pasien Rawat Inap.
7. Acuan :
7.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang
Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
7.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
7.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.

7.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
7.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
7.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
7.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
7.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

I. 3a.
DIAGRAM ALUR RUJUKAN FISIOTERAPI
RAWAT INAP.
DR. PENGIRIMFISIOTERAPISADMINISTRASIINPUT PEMBAYARAN
Form rujukan FTRujukan balik

B. Manajemen Pelayanan Pasien/Klien Fisioterapi: ketetapan akses masuk,


assesmen, diagnosis, perencanaan, persetujuan, pemeriksaan penunjang
intevensi, evaluasi, dokumentasi, dan pelaporan.
Isi SPO tingkat II
Contoh-contoh sebagai berikut :
II. 1.
STANDAR PELAYANAN FISIOTERAPI
1. Pengertian :

Standar pelayanan fisioterapi ialah tata urutan kegiatan fisioterapi yang


diterapkan pada pasien / klien secara profesional, paripurna, efektif, efisien d
an
terintegrasi.
2. Prosedur :

Standar Pelayanan Fisioterapi berisikan kegiatan berurutan sebagai berikut :


2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6

Assesmen
Diagnosa
Perencanaan
Intervensi
Evaluasi
Dokumentasi.

Masing-masing prosedur diuraikan dalam standar prosedur operasional.


3. Dokumen terkait:
3.1 Standar prosedur rujukan masuk.
3.2 Standar prosedur rujukan keluar
3.3 Standar prosedur (masing-masing) proses.
3.4 Petunjuk teknis modalitas fisioterapi.
4. Acuan :
4.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang
Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.

4.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
4.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
4.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
4.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
4.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II. 2.
STANDAR ASSESMEN UMUM FISIOTERAPI
1. Pengertian :
Assesmen umum fisioterapi adalah suatu rangkaian kegiatan yang mencakup
pemeriksaan pada diri individu atau kelompok, mengidentifikasi problem yang
nyata dan yang berpotensi terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi,
ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lain, dengan cara memperhatikan
riwayat penyakit, telaah umum, uji khusus dan pengukuran, pemeriksaan
penunjang, dilanjutkan dengan evaluasi hasil pemeriksaan melalui analisis dan
sintesis dalam sebuah proses pertimbangan klinis.
2. Prosedur :
2.1 Identifikasi umum :
2.1.1 Individu pasien/klien :
2.1.1.1 Mencakup nama lengkap pasien/klien, jenis, tempat tanggal
lahir, agama/kepercayaan, pekerjaan.

2.1.1.2 Data ini dapat diisi oleh petugas penerima/siswa/magang.

2.1.2 Rujukan dari pemrakarsa pelayanan fisioterapi :


2.1.2.1 Akses langsung.
2.1.2.2 Rujukan internal Fisioterapi/pelayanan kesehatan lain,
dicantumkan nama perujuk.

2.2 Assesmen dan konsultasi.

Data awal episode pelayanan fisioterapi mencakup elemen-elemen sebagai


berikut :
2.2.1 Riwayat penyakit dan harapan :
2.2.1.1 Riwayat problem sekarang, keluhan, tanggal mulai dirasakan
dan upaya pencegahannya.
2.2.1.2 Diagnosis dan riwayat medik yang berkaitan.
2.2.1.3 Karakteristik demografi, psikologik, social dan faktor
lingkungan yang terkait.
2.2.1.4 Pelayanan terkait sebelumnya atau yang bersamaan dengan
episode pelayanan fisioterapi.
2.2.1.5 Penyakit lain yang berpengaruh terhadap prognosis.
2.2.1.6 Pernyataan pasien/klien tentang problemnya sesuai dengan
kadar pengetahuannya.
2.2.1.7 Antisipasi tujuan dan harapan setelah terapi (outcomes) dari
pasien/klien dan keluarga dan pihak lain yang berpengaruh.

2.3 Telaah sistemik.

Status anatomi dan fisiologi yang berkait dengan data awal, mencakup
system-sistem :
2.3.1
2.3.2
2.3.3
2.3.4

Kardiovaskuler/pulmoner
Integumenter
Muskuloskeletal
Neuromuskuler

2.4 Telaah tentang komunikasi, afeksi, kognisi, bahasa dan kemampuan


pembelajaran.
2.5 Pengujian dan pengukuran yang terpilih untuk menentukan status
pasien/klien. Pengujian dan pengukuran termasuk dan tidak terbatas pada :
2.5.1 Arousal, atensi dan kognisi.

2.5.1.1 Tingkat kesadaran.


2.5.1.2 Kemampuan menjawab perintah.
2.5.1.3 Kemampuan tampilan secara umum.

2.5.2 Perkembangan neuromotorik dan integrasi sensoris.


2.5.2.1 Keterampilan motorik kasar dan halus.
2.5.2.2 Pola gerak reflek.
2.5.2.3 Ketangkasan, kelincahan, dan koordinasi.

2.5.3 Range of motion.


2.5.3.1 Luas gerak sendi.
2.5.3.2 Nyeri jaringan lunak sekitar.
2.5.3.3 Panjang dan fleksibilitas otot.

2.5.4 Penampilan otot (termasuk kekuatan, tenaga dan daya tahan).


2.5.4.1 Force, velocity, torque, work, power.
2.5.4.2 Gradasi manual muscle test.
2.5.4.3 Elektromiografi : Amplitudo, durasi, waveform, dan frekwensi.

2.5.5 Ventilasi, respirasi (pertukaran gas) dan sirkulasi.


2.5.5.1 Frekwensi denyut jantung, frekwensi pernafasanm tekanan
darah.
2.5.5.2 Gas darah arteri.
2.5.5.3 Palpasi denyut perifer.

2.5.6 Sikap.
2.5.6.1 Sikap static.
2.5.6.2 Sikap dinamik.

2.5.7 Langkah, gerak (lokomasi) dan keseimbangan.


2.5.7.1 Karakteristik langkah.
2.5.7.2 Fungsional lokomasi.
2.5.7.3 Karakteristik keseimbangan.

2.5.8 Pemeliharaan diri dan pengelolaan tempat tinggal.


2.5.8.1 Aktifitas hidup harian.
2.5.8.2 Kapasitas fungsional.
2.5.8.3 Transfer.

2.5.9 Integrasi/reintegrasi masyarakat dan kerja


(pekerjaan/sekolah/bermain)

2.5.9.1 Aktifitas instrumentasi kehidupan harian.


2.5.9.2 Kapasitas fungsional.
2.5.9.3 Kemampuan adaptasi.

2.5.10 Pemeriksaan dan pengukuran lain-lain terpilih.


2.6 Pemeriksaan penunjang dengan cara Fisioterapis merujuk ke pelayanan lain
sesuai kebutuhan pasien/klien, seperti radiologi, laboratorium dan lain
sebagainya.
2.7 Analisa data sebagai proses dinamis keputusan klinis oleh Fisioterapi
berdasar data yang terkumpul pertimbangan klinis menyimpulkan diagnosis
dan prognosis.
3. Prosedur terkait :
3.1 Standar prosedur rujukan masuk.
3.2 Standar prosedur rujukan keluar
3.3 Standar proses fisioterapi
3.4 Standar prosedur (masing-masing) proses.
3.5 Petunjuk teknis modalitas fisioterapi.
4. Referansi :
4.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi
dan Izin Praktik Fisioterapi.
4.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
4.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya
Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
4.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
4.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
4.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II. 3.
STANDAR DIAGNOSIS FISIOTERAPI
1. Pengertian :
1.1 Diagnosis fisioterapi ialah label yang merangkum berbagai simtom, sindrom,
keterbatasan fungsi, keterbatasan gerak, impermen, atau potensi terjadinya,
yang merefleksikan informasi yang didapat dari pemeriksaan pada diri
pasien/klien.
1.2 Prognosis fisioterapi ialah rumusan prediksi perkembangan dari kondisi
sehat-sakit pasien/klien yang mungkin dicapai dalam waktu berikutnya
dengan intervensi fisioterapi.
2. Prosedur :
2.1 Diagnosis fisioterapi dihasilkan dari proses pemeriksaan, pengukuran dan
evaluasi dengan pertimbangan klinis yang dapat menunjukkan adanya
disfungsi gerak, mencakup adanya gangguan atau kelemahan jaringan
tertentu, limitasi fungsi, hambatan dan sindroma. Diagnosis akan berfungsi
dalam menggambarkan keadaan pasien/klien, menuntun penentuan
prognosis dan menuntun penyusunan rencana intervensi.
2.1.1 Merumuskan adanya sintom dan atau sindrom.
2.1.2 Merumuskan hambatan memelihara diri, aktifitas hidup harian,
kerja/sekolah dan hobi.
2.1.3 Merumuskan keterbatasan gerak fungsional.
2.1.4 Merumuskan keterbatasan gerak komponen tubuh.
2.1.5 Merumuskan gangguan dan atau kelemahan jaringan.
2.1.6 Merumuskan/mengidentifikasi adanya patologi seluler.
2.1.7 Merumuskan/mengidentifikasi adanya patologi biomolekuler.
2.2 Prognosis fisioterapi dihasilkan dengan cara merumuskan prediksi
perkembangan varian kondisi sehat sakit pasien/klien yang mungkin dicapai
dalam waktu berikutnya dengan intervensi fisioterapi.
3. Terlampir rumusan diagnosis fisioterapi, yang akan diperbaharui sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi fisioterapi.

4. Referensi
4.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi
dan Izin Praktik Fisioterapi.
4.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
4.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
4.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya
Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
4.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
4.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
4.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II. 3a.
STANDAR DIAGNOSIS FISIOTERAPI
1. Katagori Diagnosis Musculoskeletal
1.1 Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system muskuloskeletal/
demineralisasi
1.2 Gangguan Sikap
1.3 Gangguan Kinerja otot
1.4 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan connective tissue
1.5 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan inflamasi lokal.

1.6 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan kerusakan spinal.
1.7 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan fraktur.
1.8 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan Arthroplasti sendi.
1.9 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang
berkaitan dengan bedah tulang atau jaringan lunak.
1.10 Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, ROM, gait,
locomotion, balance yang berkaitan dengan amputasi
2. Kategori Diagnosa Neuromuskuler
2.1 Pencegahan dini/pengurangan resiko terhadap kehilangan balance and jatuh
2.2 Gangguan Perkembangan Neuromotor
2.3 Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan
Non progressive disorder CNS
congenital atau pada bayi dan masa anak.
2.4 Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan
Non progressive disorder CNS pada usia dewasa
2.5 Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan
progressive disorder CNS
2.6 Gangguan Peripheral nerve integrity dan motor function yang berkaitan
dengan Peripheral Nerve Injury.
2.7 Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan
Acute atau Chronic Polyneuropathies.
2.8 Gangguan motor function dan Peripheral nerve integration yang berkaitan
dengan Non progressive disorder Spinal Cord.
2.9 Gangguan kesadaran , ROM, Motor Control yang berkaitan dengan Coma,
Near coma, atau status vegetative.
3. Katagori Diagnosis Kardiovasculer /Pulmoner :
3.1 Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system cardiovascular-pulmonary
3.2 Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yang berkaitan dengan decontioning
syndrome
3.3 Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang
berkaitan dengan Airways clearance dysfunction.

3.4 Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yang berkaitan dengan


Cardiovascular Pump Dysfuntion or failure
3.5 Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang
berkaitan dengan Ventilatory Pump Dysfunction or Failure.
3.6 Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang
berkaitan dengan Respiratory Failure.
3.7 Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang
berkaitan dengan Respiratory Failure pada neonatus
3.8 Ganguan sirkulasi darah, anthropometric dimensions berkaitan dengan
Lymphatetic System disorders
4. Katagori Diagnosis Integumenter :
4.1 Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja
4.2 Gangguan integumenary integrity berkaitan
involvement
4.3 Gangguan integumenary integrity berkaitan
involvement
4.4 Gangguan integumenary integrity berkaitan
involvement dan scar formation
4.5 Gangguan integumenary integrity berkaitan
extended Into Facia, Muscle, or Bone and scar

system integument
dengan Superficial skin
dengan partial thickness skin
dengan Full Thickness skin
dengan Skin Involvement
formation.

5. Referensi :
5.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang
Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
5.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
5.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.

5.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar


Profesi Fisioterapi Indonesia.
5.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
5.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II.3b. KATAGORI DIAGNOSIS DAN KONDISI


Katagori Diagnosis
Musculoskeletal
ICD-9-CM
CODES
Yang berhubungan dengan Kondisi ( ICD )
1. Berpotensi untuk
terjadi gangguan
kinerja system
muskuloskeletal/
demineralisasi.

138
262
263
268
269
275
337
344
588
627
714
Akut Poliomyelitis
Malnutrition
Other and unspecified protein-calorie malnutrition
Vit D deficiency
Other nutritional deficiency
Disorder mineral metabolism
Disorder autonomic nervous system
Other Paralytic Syndrome
Disorder resulting from impared Renal function
Menopausal / post menopausal Disorder
Rheumatoid Arthritis and other inflamatory
polyarthripathies

719
728
729
731
732
733
737
756
Other and unspecific disorder joint
Disorder of muscle, ligament, fascia
Other Disorder of soft tissue
Osteitis deformans
Osteochondropathies
Other disorder of bone and cartilage
Curvature of spine
Other congenital Musculo anomalie
2. Gangguan Sikap

524
568
718
719
722
723
724
725
728
729
732
733
736
Dentofacial anomalies
Other disorder of peritoneum
Other derangement of joint
Other and unspecific disorder of joint
Intervertebral disorder
Other disorder of cervical region
Other and unspecific disorder of the back
Polymyalgia rheumatica
Disorder of the muscle, ligament and fascia
Other disorder of soft tissue
Osteochondropathies
Other disorder of bone and cartilage
Other acquired deformities of the limb

737
738
756
781
Curvature of the spine
Other acquired deformity
Other congenital musculoskeletal anomalies
Symtoms involving nervous and musculoskeletal.
3. Gangguan Kinerja
otot

042
250
359
443
564
569
581
582
583
588
618
623
624
625
714
715
719
HIV
Diabetes Mellitus
Musculardystrophies & other myopathies
Other Peripheral vascular disease
Functional digestive disorder
Other disorder of intestine
Nephrotic syndrome
Chronic glomerulonephritis
Nephritis and nephropathy non specific
Disorder resulting Impaired Renal function
Genital prolapse
Noninflamatory disorder of vagina
Non Inflamatory disorders of vulva and perineum
Pain and other symtoms associated with female
genital organ
Rheumatoid arthitis nad other inflamatory
polyarthitis
Osteoarthitis and allied disorder

728
729
733
739
758
780
781
799
Other and unspecific diorder of joint
Disorder of the muscle, ligament and fascia
Other disorders of soft tissue
Other disorder of bone and cartilage
Nonallopathic lession, not else where classified
Chromosomal anomalies
General symtoms
Symtoms involving nervous and musculoskeletal
systems
Other ill-defined and unknown causes of morbidity
and mortality
4. Gangguan mobilitas
sendi motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan
dengan connective
tissue

337
524
625
665
709
710
714
715
716
718
719
Disorder of the autonomic nervous system
Dentofacial anomalies, including malocclusion
Pain and other symptoms associated with female
genital
Other obstrectical trauma
Other diorder of skin snd subcutaneous tissue
Diffuse diseases of connective tissue
Rheumatoid arthritis and other inflammatory
polyarthropaties
Osteoarthrosis and allied disorders
Other and unspecified arthropaties
Other derangment of joint

724
726
727
728
729
730
733
830
831
832
833
836
837
838
839
840
841
842
843
844
845
846
Other and unspecified disorder of joint
Other and unspecified disorder of the back
Peripheral enthesopathies and allied syndromes
Other disorders of synovium, tendon and bursa
Disorders of muscle, ligament and fascia
Other disorder of soft tissue
Osteomyelitis, periostitis, and other infection
involving bone
Other disorder of bone and cartilage
Dislocation of jaws
Dislocation Shoulder
Dislocation Elbow
Dislocation wrist
Dislocation knee
Dislocation ankle
Dislocation foot
Other , multiple, and ill defined dislocation
Sprains and strains of shoulder and upper arm
Sprains and strains of elbow and forearm
Sprains and strains of wrist and hand
Sprains and strains of hip and thigh
Sprains and strains of knee and leg

847
848
905
Sprains and strains of ankle and foot
Sprains and strains of sacroiliac region
Sprains and strains of other and unspecified parts
of back
Other and ill-defined sprains and strains
Late effects of muscle of musculoskeletal and
connective tissue injuries
5. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan
dengan inflamasi
lokal.

274
350
353
354
355
524
682
711
715
716
717
718
719
720
722
Gout
Trigeminal nerve disorders
Nerve root and plexus disorders
Mononeuritis Of upper limb and mononeuritis
multiplex
Mononeuritis of lower limb
Dentofacial anomalies including malocclusion
Other cellulites and abcess
Arthropathy associated with infections
Osteoarthritis and allied disorders
Other and unspecified arthropathis
Internal derangement of knee
Other derangement of knee
Other and unspecified disorders of joint
Ankylosing spondylitis and other other
inflammation

724
726
727
728
729
732
840
923
924
927
928
Intervertebral disk disorder
Other and unspecified disorder of the back
Peripheral enthesopathies and allied syndromes
Other disorder of synovium , tendon and brusa
Disorder of muscle , ligamen and fasia
Other disorder of soft tissue
Osteochondropathies
Sprain and strain of shoulder and upper arm
Contusion of upper limb
Contusion of upper limb and of other and
unspecified sites
Crushing injury of upper limb
Crushing injury of lower limb
6. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan
dengan kerusakan
spinal.

353
715
716
718
719
720
721
722
Nerve root and plexus disorder
Osteoarthosis and allied disorder.
Other and Unspecified arthropathies
Other derangement of joint
Other and unspecified disorder of joint
Ankylosing spondylitis and other inflammatory
spondylopathies
Spondylosis and allied disorders
Intervertebral disk disorder

723
724
727
728
733
738
756
846
847
922
Other disorder of cervical region
Other and unspecified disorder of the back
Other disorder of synovium, tendon and bursa
Disorder of muscle, ligament and fascia
Other disorders of bone and cartilage
Other acquired deformity
Other congenital musculoskeletal anomalies
Sprains and strains of sacroiliac region
Sprain and starins of other and unspecified part of
back
Contusion of trunk
7. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan
dengan fraktur.

170
213
262
263
268
269
275
627
715
719
728
Malignant neoplasm articular of bone and
articular cartilage
Benign neoplasm of bone and cartilage
Other severe protein-calorie malnutrition
Other and unspecified protein-calorie malnutrition
Vitamin D deficiency
Other nutritional deficiency
Disorder of meniral metabolism
Menopausal and postmenopausal disorder
Osteoarthrosis and allied disorder
Other and unspecified disorder of the joint

729
730
732
733
736
802
805
808
810
811
812
813
814
815
816
819
820
821
822
823
824
Disorder of muscle, ligamnet, and facia
Other disorder of soft tissue
Osteomyelitis, periostitis, other infection involving
bone
Osteochondropathies
Other disorder of bone and cartilage
Other acquired deformities of the limbs
Fracture of Face bone
Fracture of the Spne without mention of spinal cord
injury
Fracture of the pelvis
Fracture of the clavicle
Fracture of the scapula
Fractue of the humerus
Fracture of radius and ulna
Fracture of the carp[al bone(s)
Fracture of the metacarpal bone(s)
Fracture of the one or more phalanges of the hand
Multiple fracture involving both upper limbs, lower
limb, ribs, sternum
Fracture of the neck of the femur
Fracture of other and unspecified part of femur
Fracture of Patella

825
826
827
828
829
Fracture of Tibia and fibula
Fracture of ankle
Fracture of one or more tarsal and metatarsal bones
Fracture of one or more phalanges foot
Other, multiple, and ill-defined fracture of lower
limb
Multiple fracture involving both limbs, lower &
upper limb, rib, sternum
Fracture of unspecified bones
8. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan
dengan Arthroplasti
sendi.

170
171
213
215
524
714
715
716
717
718
719
729
Malignan neoplasm of bone and articular
cartilage
Malignan neoplasm of connective and other soft
tissue
Benign neoplasm of bone and articular cartilage
Other benign neoplasm of connective and other soft
tisuue
Dentofacial anomalies, including malocclusion
Rheumatoid arthritis and other inflamatory
polyarthritis
Osteoarthrosis and allied disorder
Other unspecified arthropathies
Internal derangement of knee

730
731
733
808
812
815
820
824
835
836
837
958
v43
Other derangment of knee
Other and unspecified disorder of joint
Other disorders of soft tissue
Osteomyelitis, periostitis, and other infection
involving bone
Osteitis deformans and osteopathies associated
with other disorder classified elswhere
Other disorder of bone and cartilage
Fracture of pelvis
Fracture of Humerus
Fracture of metacarpal bones
Fracture of neck Femure
Fracture of ankle
Fracture of Hip
Dislocation of knee
Dislocation of Ankle
Certain complication of trauma
Organ or tissue replaced by other means
9. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, dan ROM
yang berkaitan

715
717
Osteoarthrosis and allied diorder
Internal derangment of knee

dengan bedah tulang


atau jaringan lunak.

718
719
721
722
723
724
726
727
728
731
732
733
736
737
738
756
802
805
808
810
811
Other derangment of joint
Other and unspecified disorder of joint
Spondylosis and allied disorder
Intervertebral disk disorder
Other disorder of cervical region
Other and unspecified disorder of the back
Peripheral enthesopathies and allied syndromes
Other disorder of synovium, tendon, and bursa
Disorder of muscle, ligament and fascia
Osteitis deformans and ostepathies associated with
other disorder classified elsewhere
Osteochondrapathies
Other disorder of bone and cartilage
Other aquire deformities of the spine
Curvature of the spine
Other acquired deformity
Other congenital musculoskeletal anomalies
Fracture of afce bone
Fracture of vertebral collum with mention of spinal
cord injury
Fracture of the pelvis
Frature og the clavicle

812
813
814
815
816
820
821
822
823
824
825
826
830
831
832
833
834
835
836
837
838
839
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Fracture of
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation
Dislocation

the scapula
humerus
radius and ulna
the carpal bone (s)
the metacarpal bone(s)
one or more phalanges of hand
neck femur
other and unspecified part of femur
patella
Tibia and Fibula
Ankle
one or more tarsal and metatarsal bones
one or phalanges of foot
of jaws
of shoulder
of elbow
of wrist
of finger
of hip
of knee
of ankle
of foot

840
841
842
843
844
845
846
847
848
959
Other, multiple, and ill defined dislocation
Sprains and strains of shoulder and upper arm
Sprains and strains of elbow and forearm
Sprains and strains of wrist and hand
Sprains and strains of hip and thigh
Sprains and strains of knee and leg
Sprains and strains of ankle and foot
Sprains and strains of sacroiliac region
Sprains and strains of other and unspecified of the
back
Other and ill-defined sprains and strains
Injury, other and unspecified
10. Gangguan mobilitas
sendi, motor function,
kinerja otot, ROM,
gait, locomotion,
balance yang
berkaitan dengan
amputasi

250
353
440
442
443
459
736
747
755
781
Diabetes
Nerve root and plexus disorder
Atherosclerosis
Other aneurysm
Other Peripheral vascular disease
Other disorder of circulatory disease
Other acquired deformity of the limb
Other congenital anomalies of circulatory system

Other congenital anomalies of the limb


Symptoms involving nervous and musculoskeletal

885
886
887
895
896
897
905
906
927
928
929
990
991
994
997
systems
Traumatic amputation of thumb (complete)
(partial)
Traumatic amputation of other finger(s) (complete)
(partial)
Traumatic amputation of arm and hand(complete)
(partial)
Traumatic amputation of toe (s) (complete)
(partial)
Traumatic amputation of foot(complete) (partial)
Traumatic amputation of leg (s) (complete)
(partial)
Late effect of musculoskeletal and connective
tissue injuries
Late effect of skin and subcutaneous tissue
Crushing injury of upper limb
Crushing injury of lower limb
Crushing injury of upper multiple and unspecified
sites
Effect of radiation, unspecified
Effect of reduced temperature
Effect of other external causes
Complication affecting specified body system, not
elsewhere classified

Katagori Diagnosis
Neuromuskular

Yang berhubungan dengan Kondisi ( ICD )


1. Pencegahan dini /
pengurangan resiko
terhadap
kehilangan balance
and jatuh

331
332
333
334
445
336
340
342
345
359
386
780
781
797
Other cerebral degeneration
Parkinson disease
Other extrapyramidal disease and abnormal
movement disorder
Spinocerebral disease
Anterior horn cell disease
Other disease of spinal cord
Multiple sclerosis
Hemiplegia and hemiparesis
Epilepsy
Muscular dystrophies and other myopathies
Vertiginous syndromes and other disorder of
vestibular system
General Symptoms
Symptoms involving nervous and musculoskeletal
system
Senility without mention of psychosis

2. Gangguan
Perkembangan
Neuromotor

191
192
225
252
253
262
299
315
333
345
348
358
359
389
714
728
741
742
Malignant neoplasme of brain
Malignant neoplasm of other and unspecified part
of nervous system
Benign neoplasm of brain and other and
unspecified part of nervous system
Disorder of oaratyroid gland
Disorder of the pituitary gland and its
hipotahalamic control
Other severe, protein- calorie malnutrition
Psychoses with origin specific to childhood
Specific delay in development
Other extra pyramidaldisease and abnormal
movement disorder
Epilepsy
Other condition of the brain
Myoneural disorders
Muscular dystrophies and other myopathies
Hearing loss
Rheumatoid arthritis and other inflamatory
polyarthropathies
Disorder of muscle, ligament, and fascia
Spina bifida
Other congenital anomaliess of nervous system

745
746
747
748
754
755
756
758
759
760
762
763
764
765
767
768
770
771
779
Bulbus cordis anomalies and anomalies of cardiac
septal closure
Other congenital anomalies of heart
Other congenital anomalies of circulatory system
Congenital anomalies of Respiratory system
Certain congenital musculoskeletal deformities
Other congenital anomalies of the limb
Other congenital musculoskeletal anomalies
Chromosomal anomalies
Other and unspecified congenital anomalies
Fetus or newborn affected by maternal condition
which unrelated to present pregnancy
Fetus or newborn affected by complication of
placenta, cord, membranes
Fetus or newborn affected by other complications
or labor and delivery
Slow fetal growth and fetal malnutrition
Disorder relatingto shortgestation and unspecified
low birth weight
Birth trauma
Intrauterine hypoxia and birth asphyxia
Other respiratory condition of fetus and newborn
Infection specific to the perinatal period
Otherand ill-defined conditions originating in the

780
783
799
800
801
803
804
850
851
852
853
854
994
995
perinatal period
General symptoms
Symptoms concerning nutrition, metabolism, and
development
Other ill-defined and unknown causes of morbidity
and mortality
Fracture of vault of skull
Fracture of base of skull
Other and unqualified fracture of skull
Multiple fracture involving skull or face with other
bones
Concussion
Cerebral laceration and contussion
Subarachnoid, subdural, and extra haemoragics
following injury
Other and unspecific intracranial haemorage
following injury
Intracranial injury of other and unspecific nature
Effect of other external forces
Certain adverse effect not elsewhere classified
3. Gangguan motor
function dan
sensory integration

036
Infeksi Meningococcal

yang berkaitan
dengan Non
progressive
disorder CNS
congenital atau
pada bayi dan masa
anak.

052
055
056
072
090
225
320
321
322
323
333
343
345
348
741
742
756
758
759
765
Chichenpox
Measles
Rubella
Mumps
Congenital Syphilis
Benign neoplasma dan bagian lain sistem saraf
Meningitis bacterial
Meningitis yang disebabkan oleh organisme lain
Meningitis unspecified cause
Encephalitis, myelitis dan encephalomyelitis
Penyakit extrapyramidal lainnya dan penyakit
gangguan abnormal
Infantil cerebral palsy
Epilepsi
Kondisi brain lainnya
Spina bifida
Anomali congenital lainnya dari sistem saraf
Anomali musculoskeletal congenital lainnya
Anomali kromosom
Anomali congenital yang tidak spesifik dan lainnya
Gangguan yang berhubungan prematur dan lahir
dengan berat badan lahir rendah

767
768
771
780
799
800
801
803
804
850
851
852
853
854
984
985
994
Trauma lahir
Hypoxia intrauterin dan asphyxia kelahiran
Infeksi spesifik pada periode perinatal
Gejala umum
Other ill defined dan mobiditas dan mortalitas yang
penyebabnya tidak diketahui
Fraktur pada vault skull
Fraktur pada dasar skull
Fraktur skull yang tidak dikualifikasikan dan
lainnya.
Fraktur multipel yang melibatkan skull dan wajah
dengan tulang lainnya
Concussion (geger otak)
Lacerasi cerebral dan contusion
Subarachnoid, subdural, dan extradural hemorhage
following injury
Hemorhage intracranial yang tidak spesifik dan
lainnya following injury
Cedera intracranial lainnya dan nature unspesified
Toxic effect of lead and its ompound (termasuk
fume/uap/asap)
Pengaruh toxic metals lainnya
Pengaruh penyebab external lainnya.

4. Gangguan motor
function dan
sensory integration
yang berkaitan
dengan Non
progressive
disorder CNS
pada
usia dewasa

049
225
320
321
322
323
331
342
345
348
351
386
431
433
434
435
436
437
442
444
Penyakit non arthropod-borne viral lainnnya
pada SSP
Benign neoplasma otak dan dan bagian lain SSP
Mengitis bacterial
Meningitis yang disebabkan organisme lainnya
Meningitis dengan penyebab yang tidak spesifik
Encephalitis, myelitis dan encephalomyelitis
Degenerasi cerebral lainnya
Hemiplegia dan hemiparese
Epilepsi
Kondidi brain lainnya
Gangguan saraf Facial
Sindrom vertiginous dan gangguan sistem
vestibular lainnya.
Hemorrhage intracerebral
Occlusion dan stenosis arteri precerebral
Occlusion arteri cerebral
Transient cerebral ischemia
Akut, tapi ill defined, penyakit cerebrovascular
Penyakit yang didefenisikan sebagai penyakit
cerebrovascular dan lainnya
Anerysm lain

447
780
781
799
800
801
803
804
850
851
852
853
854
994
Emboli arterial dan dan trombosis
Gangguan arteri lainnya dan arteriole
Gejala umum
Gejala yang melibatkan sistem saraf dan sistem
muskuloskeletal
Other ill defined dan mobiditas dan mortalitas yang
penyebabnya tidak diketahui
Fraktur pada vault skull
Fraktur pada dasar skull
Fraktur skull yang tidak dikualifikasikan dan
lainnya.
Fraktur multipel yang melibatkan skull dan wajah
dengan tulang lainnya
Concussion (geger otak)
Lacerasi cerebral dan contusion
Subarachnoid, subdural, dan extradural hemorhage
following injury
Hemorhage intracranial yang tidak spesifik dan
lainnya following injury
Cedera intracranial lainnya dan nature unspesified
Pengaruh penyebab external lainnya.
5. Gangguan motor
function dan
sensory integration

042
191
Penyakit HIV
Malignant neoplasma otak

yang berkaitan
dengan progressive
disorder CNS

192
237
303
331
332
333
334
335
336
340
341
345
348
780
781
Malignant neoplasma lainnya dan bagian unspesifik
sistem saraf
Neoplasma of uncertain behavior of endocrine
glands dan sistem saraf
Sindrom ketergantungan obat.
Degenerasi cerebral lainnya
Penyakit Parkinson
Penyakit extrepiramidal lainnya dan gangguan
gerakan abnormal
Penyakit spinocerebral
Penyakit anterior horn cell
Penyakit lain dari spinal cord
Multiple sclerosis
Penyakit demyelinating lain dari SSP
Epilepsi
Kondisi brain lainnya
Gejala umum
Gejala yang melibatkan sistem saraf dan
musculoskeletal
6. Gangguan
Peripheral nerve
integrity dan motor
function yang

225
350
Neoplasma benigna dan bagian lain sistem saraf
Gangguan saraf trigeminal

berkaitan dengan
Peripheral Nerve
Injury.

352
353
354
355
357
386
767
Gangguan saraf cranial lainnya
Gangguan akar saraf dan plexus
Mononeuritis upper limb dan mononeuritis
multipleks
Mononeuritis lower limb
Inflamasi dan toxic neuropathy
Sindrom vertiginous dan gangguan sistem
vestibular lainnya
Trauma kelahiran
7. Gangguan motor
function dan
sensory integration
yang berkaitan
dengan Acute atau
Chronic
Polyneuropathies.

030
138
250
337
356
357
588
Leprosy
Late effects pada poliomyelitis akut
Diabetes mellitus
Gangguan pada sistem saraf otonom
Neuropathy peripheral idiopatic dan herediter
Inflamasi dan toxic neuropathy
Gangguan yang dihasilkan dari gangguan fungsi
ginjal
8. Gangguan motor
function dan
Peripheral nerve
integration yang

berkaitan dengan

225
237
Benign neoplasm brain dan bagian lain dari
sistem saraf
Neoplasma of uncertain behavior of endocrine
gland dan sistem saraf.

Non progressive
disorder Spinal
Cord.

239
320
321
336
344
721
722
730
733
806
839
952
Neoplasma of unspesifik nature
Meningitis bakterial
Meningitis yang disebabkan oleh organisme lainnya
Penyakit lain spinal cord
Gejala paralitik lainnya
Spondilosis dan allied disorder
Gangguan diskus intervertebral
Osteomyelitis, periostitis dan infeksi lainnya yang
melibatkan tulang
Gangguan tulang dan cartilago lainnya.
Fraktur kollum vertebra denga cedera spinal cord
Other, multiple dan ill defined dislocation
Cedera spinal cord tanpa evidence cedera tulang
spinal

9. Gangguan
kesadaran , ROM,
Motor Control yang
berkaitan dengan
Coma, Near coma,
atau status
vegetative.

049
191
225
322
342
348
431
433
435
436
437
442
444
447
747
765
767
799
850
Penyakit non arthropod-borne viral lainnnya
pada SSP
Malignant neoplasma brain
Benign neoplasma brain dan bagian lain sistem
saraf
Meningitis dengan penyebab yang tidak spesifik
Hemiplegia dan hemiparese
Kondisi brain lainnya
Hemorrhage intracerebral
Occlusion dan stenosis arteri precerebral
Occlusion arteri cerebral
Transient cerebral ischemia
Akut, tapi ill defined, penyakit cerebrovascular
Anerysm lain
Emboli arterial dan trombosis
Gangguan arteri lainnya dan arteriole
Anomali congenital lainnya pada sistem sirkulasi
Gangguan yang berhubungan dengan prematur dan
kelahiran dengan berat rendah
Trauma lahir
Other ill defined dan mobiditas dan mortalitas yang
penyebabnya tidak diketahui
Concussion

851
852
853
854
994
Leceration dan contusio cerebral
Subarachnoid, subdural, dan extradural hemorhage
following injury
Hemorhage intracranial yang tidak spesifik dan
lainnya following injury
Cedera intracranial lainnya dan nature unspesified
Pengaruh penyebab external lainnya
Katagori Diagnosis
Cardiovascular
/Pulmonary

Yang berhubungan dengan Kondisi ( ICD )


1. Berpotensi untuk
terjadi gangguan
kinerja system
cardiovascularpulmonary
250
272
278
305
401
Diabetes Melitus
Gangguan metabolisme lipoid
Obesitas dan hyperalimentation lain
Nondependent abuse of drugs
Essential hipertensi

2. Gangguan kapasitas
aerobik/ketahanan
yang berkaitan
dengan
decontioning
syndrome
042
250
332
333
334
335
340
344
357
359
394
396
397
398
402
413
414
416
424
425
428
Penyakit HIV
Diabetes melitus
Penyakit Parkinson
Penyakit extrapiramidal lain dan gangguan gerakan
abnormal
Penyakit Spinocerebral
Penyakit Anterior Horn Cell
Multiple Sclerosis
Sindrom Paralitik lainnya
Inflamatory dan toxic neuropathy
Muscular Dystropy dan myopathies lainnya
Penyakit pada katup mitral
Penyakit pada katup mitral dan aorta
Penyakit pada struktur endocardial lainnya
Penyakit rematik jantung lainnya
Penyakit Hipertensive jantung
Angina Pectoris
Bentuk lain penyakit ischemic jantung kronik
Penyakit pulmonary heart kronik
Penyakit lain pada endokardium
Cardiomyopathy

429
440
443
482
491
492
493
494
496
508
513
514
516
517
518
519
711
712
713
Kegagalan Jantung
Penyakit yang didefenisikan sebagai gambaran dan
komplikasi penyakit jantung
Atherosklerosis
Penyakit vascular perifer lainnya
Bacterial pneumonia lainnya
Bronchitis Kronik
Emphysema
Asthma
Bronchiectasis
Obstruksi jalan nafas kronik, yang tidak
diklasifikasikan sebagai penyakit obstruksi
pulmonary kronik (COPD),
Kondisi respirasi yang disebabkan oleh agen
external yang tidak spesifik
Abses Paru dan Mediastinum
Congestive Paru dan dan hypostatis
Pneumonopathy dan alveolar lain
Lung involvement in condition classified elsewhere
Penyakit paru lainnya
Penyakit lain system respirasi
Arthropathy yang berkaitan dengan gangguan lain
yang diklasifikasikan

714
715
786
Crystal arthropathies
Artrophathy yang berkaitan dengan other disorder
classified elsewhere
Rhematoid arthritis dan inflamasi
polyarthropathies lainnya
Osteoarthrosis dan allied disorder
gejala yang melibatkan system pernafasan dan
gejala chest lainnya.
3. Ganguan ventilasi,
respirasi/gas
exchange, aerobic
capacity/endurance
yang berkaitan
dengan Airways
clearance
dysfunction.
136
277
482
491
492
493
494
496
500
501
502
503
504
505
Penyakit parasitic dan infeksi tidak spesifik dan
lainnya
Gangguan metabolisme tidak spesifik dan lainnya.
Pneumonia bacterial lainnya
Bronchitis kronis
Emphysema
Asthma
Bronchetasis
Obstruksi jalan nafas kronis , yang tidak diklasifikan
dalam penyakit COPD
Pneumoconiosis pekerja batubara
Asbestosis
Pneumoconiosis yang disebabkan silica lain atau
silicates
Pneumoconiosis yang disebabkan debu inorganic
lain

507
508
510
511
513
514
515
516
518
759
770
786
861
941
942
947
996
997
Pneumoconiosis yang disebabkan inhalasi debu
lainnya
Pneumoconiosis tidak spesifik
Pneumonitis yang disebabkan solids dan liquids
Kondisi respirasi yang disebabkan agen external
tidak spesifik dan lainnya
Emphysema
Pleurisy
Abses paru dan mediastinum
Kongestive paru dan hypostasis
Fibrosis paru postinflamatory
Pneumonopathy parietoalveolar dan alveolar lain
Penyakit paru lainnya
Anomali congenital tidak spesifik dan lainnya
Kondisi respirasi lainnya pada fetus dan anak baru
lahir
Gejala yang melibatkan system respirasi dan gejala
chest lainnya
Cedera pada paru dan jantung
Burn pada wajah, kepala dan leher
Burn pada trunk
Burn pada organ internal
Komplikasi peculiar

pada prosedur khusus


Komplikasi ynag dipengaruhi system tubuh khusus
yang tidak diklasifikasikan ditempat lainnya
4. Gangguan kapasitas
aerobik/ketahanan
yang berkaitan
dengan
Cardiovascular
Pump Dysfuntion or
failure
391
394
395
396
397
398
402
403
404
410
411
412
413
414
416
417
Rhematic fever dengan melibatkan jantung
Penyakit pada katup mitral
Penyakit pada katup aortic
Penyakit pada katup mitral dan aortic
Penyakit pada struktur endokardial lainnya
Penyakit rheumatic jantung lainnya
Penyakit Hypertensive jantung lainnya
Penyakit hypertensive ginjal
Penyakit hypertensive jantung dan ginjal
Infarction myocardial akut
Penyakit ischemic jantung sub akut dan akut
lainnya
Infarction myocardial old
Angina Pectoris
Penyakit ischemic jantung kronis lainnya
Penyakit Jantung Pulmonary kronik lainnya

422
423
424
425
426
427
428
429
440
441
443
444
745
746
747
785
Penyakit lain sirkulasi pulmonary
Myocarditis akut
Penyakit lain pericardium
Penyakit lain endocardium
Cardiomyopathy
Gangguan Conduction
Cardiac Dysrhytmias
Gagal jantung
Ill defined description dan komplikasi penyakit
jantung
Atherosclerosis
Aortic aneurysm dan dissection
Penyakit vascular perifer lainnya
Trombosis dan emboli arterial
Anomali bulbus cordis dan anomaly cardiac septal
closure
Anomali congenital jantung lainnya
Anomali congenital system sirkulasi lainnya
Gejala yang melibatkan system cardivaskular.
5. Ganguan ventilasi,
respirasi/gas
exchange, aerobic
capacity/endurance
045
192
Poliomyelitis akut
Malignant neoplasma lainnya dan bagian tidak
spesifik system saraf

yang berkaitan
dengan Ventilatory
Pump Dysfunction
or Failure.

237
239
277
332
333
334
335
340
343
344
348
357
359
430
431
432
434
492
493
Neoplasma of uncertain behavior pada endocrine
glands dan system saraf
Neoplasma of unspesifik of nature
Gangguan metabolisme tidak spesifik dan lainnya
Penyakit Parkinson
Penyakit extrapiramidal lainnya dan gangguan
gerakan abnormal
Penyakit spinocerebral
Penyakit Anterior Horn Cell
Multiple Sclerosis
Infantile Cerebral Palsy
Gejala paralitic lainnya
Kondisi lain dari brain
Inflamatory dan toxic neuropathy
Muscular dystrophy dan myopathies lainnya
Subarachnoid hemorrhage
Intracerebral hemorrhage
Hemorrhage unspesifik dan lainnnya
Oklusi arteri cerebral
Emphysema
Asthma
Pneumonconiosis tidak spesifik

505
515
518
519
737
786
852
853
854
941
942
946
947
948
949
977
Fibrosis pulmonary postinflamatory
Penyakit paru lainnya
Penyakit lain dari system reapiratory
Curvature pada spine
Gejala yang melibatkan system respiratory dan
gejala chest lainnya
Subarachnoid, subdural, dan extradural
hemorrhage, yang diikuti dengan cedeera
Intracranial hemorrhage tidak spesifik dan lainnya
following cedera
Cedera intracranial lainnya dan unspesifik nature
Burn pada wajah, kepala dan leher
Burn pada trunk
Burn pada multiple spesifik site
Burn pada organ internal
Burn yang diklasifikasikan menurut luasnya
permukaan tubuh yang terkena
Burn tidak spesifik
Keracunan oleh lainnya dan obat tidak spesifik dan
medicinal substans
6. Ganguan ventilasi,
respirasi/gas
exchange, aerobic
136
277
Penyakit parasitic dan infeksi tidak spesifik dan
lainnya

capacity/indurance
yang berkaitan
dengan Respiratory
Failure.
286
348
415
480
481
482
483
484
485
486
491
492
493
494
495
496
507
511
512
Gangguan metabolisme tidak spesifik dan lainnya
Kerusakan coagulasi
Kondisi lain brain
Penyakit jantung pulmonary akut
Viral pneumonia
Pneumococcal pneumonia (Streptococcus
pneumoniae pneumonia)
Bakterial pneumonia lainnya
Pneumonia yang disebabkan oleh organisme
spesifik lainnya
Pneumonia yang diklasifikasikan sebagai penyakit
infeksi di tempat lain
Bronchopneumonia, organisme tidak spesifik
Pneumonia, organisme tidak spesifik
Bronchitis kronik
Emphysema
Asthma
Bronchiectasis
Extrinsic allergic alveolitis
Obstruksi jalan nafas kronik, tidak diklasifikan
ditempat lain pada COPD, not otherwise specified
Pneumonitis yang disebabkan oleh solids dan
liquids

513
514
516
517
518
519
786
852
853
854
861
959
996
997
Pleurisy
Pneumothorax
Abses paru dan mediastinum
Kongestive pulmonary dan hypostasis
Pneumonopathy parietoalveolar dan alveolar
lainnya
Lung involvement in condition classified elsewhere
Penyakit paru lainnya
Penyakit system respirasi lainnya
Gejala yang melibatkan system pernafasan dan
gejala chest lainnya
Subarachnoid, subdural dan extradural
hemorrhage, following injury
Hemorrhage intracranial tidak spesifik dan lainnya
following injury
Cedera intracranial lainnya dan unspesifik nature
Cedera pada paru dan jantung
Cedera dan lainnya dan yang tidak spesifik
Komplikasi peculiar pada prosedur spesifik yang
pasti
Komplikasi pada system tubuh spesifik, yan gtidak
diklasifikan ditempat lain
7. Ganguan ventilasi,
508
Kondisi respirasi yang disebabkan pada agen

respirasi/gas
exchange, aerobic
capacity/indurance
yang berkaitan
dengan Respiratory
Failure pada
neonates

514
516
518
553
748
750
765
767
769
770
786
external tidak spesifik dan lainnya
Kongesti pulmonary dan hypostasis
Pneumonopathy parietoalveolar dan alveolar
lainnya
Penyakit paru lainnya
Hernia lainnya pada cavitas abdominal tanpa
menyebutkan obstruksi atau gangrene
Anomaly congenital pada system raspirasi
Anomaly congenital lainnya pada tractus
alimentary upper
Gangguan yang berhubungan dengan short
gestation dan bayi berat lahir rendah tidak spesifik.
Trauma lahir
Sindrom distress respiratory
Kondisi respiratory lainnya pada fetus dan
newborn
Gejala yang melibatkan system respirasi dan gejala
chest lainnya

8. Ganguan sirkulasi
darah,
anthropometric
dimensions
berkaitan dengan
Lymphatetic System
disorders
038
040
125
176
457
646
682
683
757
782
995
Septicemia
Penyakit bacterial lainnya
Infeksi filarial dan dracontiasis
Kaposi s sarcoma
Gangguan nonifeksius pada saluran lymphatic
Komplikasi kehamilan lainnya yang tidak
diklasifikasikan ditempat lain
Cellulites lainnya dan abscess
Lymphadenitis
Anomaly congenital pada integument
Gejala yang melibatkan kulit dan jaaaringan
integumentary lainnya
Pengaruh yang merugikan yangtidak
diklasifikanditempat lain

Katagori Diagnosis
Integumentary

Yang berhubungan dengan Kondisi ( ICD )

4.8.1.1 Berpotensi
untuk
terjadi
gangguan

250
263
277
278
320
322
323
331
332
333
334
335
336
337
340
341
342
343
344
353
357
Diabetes Mellitus
Malnutrisi kalori protein tidak spesifik dan lainnya
Gangguan metabolisme tidak spesifik lainnya
Hyperalimentation lainnya dan obesitas
Meningitis Bacterial
Meningitis penyebabnya tidak spesifik
Enchepalitis. Myelitis, encephalomyelitis
Degenerasi cerebral lainnya
Penyakit Parkinson
Penyakit extrapiramidal lainnya dan gangguan
gerakan abnormal
Penyakit spinocerebellar
Penyakit anterior horn cell
Penyakit spinal cord lainnya
Gangguan pada system saraf otonom
Multiple sclerosis
Penyakit demyelinating lainnya pada system saraf
pusat
Hemiplegia dan hemiparesis
Infantile Cerebral Palsy
Sindrom paralitik lainnya
Gangguan plexus dan akar saraf

kinerja
system
integument

428
435
440
443
454
457
459
581
593
686
701
709
716
719
728
729
757
782
895
896
897
995
Inflammatory dan toxic neuropathy
Kegagalan jantung
Transient cerebral Ischemia
Atherosclerosis
Penyakit vascular peripheral lainnya
Vena vericosa pada extremitas bawah
Gangguan nonifeksius pada saluran lymphatic
Gangguan pada system sirkulasi lainnya
Sindrom Nephrotic
Gangguan pada Kidney dan ureter lainnya
Infeksi local lainnya pada kulit dan jaringan
subkutaneus
Kondisi hypertropik dan atropik lainnya pada kulit
Gangguan lain pada kulit dan jaringan
subcutaneous
Arthropathies tidak spesifik dan lainnya
Gangguan sendi tidak spesifik dan lainnya
Gangguan pada otot, ligament dan fascia
Gangguan lain pada jaringan lunak
Anomaly congenital pada integument
Gejala yang melibatkan kulit dan jaringan
integument lainnya
Traumatic amputasi pada toe(s) (complete)

(partial)
Traumatic ampuatation pada foot(s) (complete)
(partial)
Traumatic pada leg(s) (complete) (partial)
Pengaruh merugikan lainnya yang tidak
diklasifikasikna ditempat lain
4.8.1.2 Gangguan
integumenary
i

176
250
263
269
337
344
443
454
459
681
682
690
691
692
700
Kaposi s sarcoma
Diabetes Mellitus
Malnutrisi kalori protein tidak spesifik dan lainnya
Defesiensi mutrisi lainnya
Gangguan pada system saraf otonom
Sindrom paralitic lainnya
Penyakit vascular perifer lainnya
Vena vericosa pada extremitas bawah
Gangguan pada system sirkulasi lainnya
Cellulitis dan abses pada jari-jari dan toe
Cellulitis dan abses lainnya
Erythematosquamous dermatosis
Atopic dermatitis dan kondisi yang berkaitan
Kontak dermatitis dan eksema lainnya
Corns dan callosities

ntegrity
berkaitan
dengan
Superfi

707
731
782
920
922
923
924
942
943
944
945
946
948
949
997
Ulcer kronik pada kulit
Osteitis deformans dan osteopathies yang berkaitan
dengan gangguan lain yang tidak diklasifikan
ditempat lain
Gejala yang melibatkan kulit dan jaringan
integumantary lainnya
Contusio pada wajah, scalp dan neck kecuali mata.
Contusio pada trunk
Contusio pda upper limb
Contusio pada lower limb dan dan lainnya dan
tempat yang tidak spesifik
Burn pada trunk
Burn pada upper limb, kecuali wrist danhand
Burn pada wrist dan hand
Burn pada lower limb
Burn pada multiple specified sites
Burn yang diklasifikan menurut luasnya permukaan
tubuh yang terkena
Burn tidak spesifik
Komplikasi yang mempengaruhi system tubuh
khusus, yang tidak diklasifikasikan ditempat lain.

cial
skin
involvement

4.8.1.3 Gangguan
int

017
031
176
216
232
239
263
Tuberculosis organ lain
penyakit yang disebabkan oleh mycobakteri
lainnya
Kaposi s sarcoma
Benign neoplasma pada kulit
Carcinoma in situ of skin
Neoplasma unspesifik nature
Malnutrisi kalori protein unspesifik dan lainnya

egumenary
integrity
berkaitan
den

269
344
443
454
459
682
686
694
695
696
701
707
709
757
911
912
913
914
915
916
917
942
Difisensi nutrisi lainnya
Sindrom paralitik lainnya
Penyakit vascular perifer lainnya
Vena vericosa pada exxtremitas bawah
Gangguan lain pada system sirkulasi
Cellulities dan abscess lainnya
Infeksi lokal lainnya pada kulit dan jaringan
subcutaneous
Bullous dermatoses
Kondisi erythematous
Psoriasis dan similar disorder
Kondisi atropik dan hipertropik lainnya pada kulit
Ulcer kronik pada kulit
Gangguan pada kulit dan jaringan subcutaneous
Anomaly congenital pada integument
Cedera superficial pada trunk
Cedera superficial pada shoulder dan upper arm
Cedera superficial pada elbow, forearm, dan wrist
Cedera superficial pada hands, kesuali finger
sendiri
Cedera superficial pada finger
Cedera superficial pada hip, thigh, leg dan ankle

gan
partial
thickness
skin
involv

943
944
945
946
948
949
997
Cedera superficial pada foot dan toe
Burn pada trunk
Burn pada upper limb, kecuali wrist dan hand
Burn pada wrist dan hand
Burn pada lower limb
Burn multiple specified sites
Burns yang diklasifikasikan menurut luasnya
permukaan tubuh yang terkena
Burn tidak spesifik
Komplikais yang mempengaruhi system tubuh
khusus, tidak diklasifikasikan ditempat lain.

ement

4.8.1.4 Gangguan
integumenary
integr

017
031
036
040
172
173
176
216
232
239
263
269
443
454
459
680
681
682
Tuberculosis pada organ lain
Penyakit yang disebabkan oleh mycobakteria
lainnya
Infeksi meningicoccal
Penyakit bacterial lainnya
Malignant melanoma pada kulit
Neoplasma malignant lainnya pada kulit
Kaposi s sarcoma
Benigna neoplasma pada kulit
Carcinoma I situ kulit
Neoplasma unspesifik nature
Malnutrisi kalori protein unspesifik dan lainnya
Defisiensi nutrisi lainnya
Penyakit vascular perifer lainnya
Vena varicose pada extremitas bawah
Gangguan lain pada system sirkulasi
Carbuncle dan furuncle
Cellulities dan abscess pada finger dan toe
Cellulities dan abscess lainnya

ity
berkaitan
dengan
Full
Thickne

686
694
695
701
707
709
941
942
943
944
945
946
948
949
991
997
Infeksi lokal lainnya pada kulit dan jaringan
subkutaneus
Bullous dermatoses
Kondisi erythematous
Kondisi atropik dan hipertropik lainnya pada kulit
Ulcer kronis pada kulit
Gangguan lain pada kulit dan jaringan subkutaneus
Burn pada wajah, kepala dan leher
Burn pada trunk
Burn pada upper limb, kecuali wrist dan hand
Burn pada wrist dan hand
Burn pada lower limb
Burn pada multiple spesifik sites
Burn yang diklasifikasikan menurut luasnya
permukaan tubuh yang terkena
Burn, tidak spesifik
Pengaruh pengurangan temperature
Komplikasi yang memperngaruhi system spesifik
tubuh, yang tidak diklasifikasikan ditempat lainnya.

ss
t

4.8.1.5 Gangguan
integumenary

017
036
171
172
173
176
215
239
263
269
440
443
Tuberculosis pada organ lain
Infeksi meningococcal
Neoplasma malignant pada jaringan connective
dan jaringan lunak lainnya
Malignant melanoma pada kulit
Malignant neoplasma lainnya pada kulit
Kaposi s sarcoma
Benign neoplasm lainnya pada jaringan connective
dan jaringan lunak lainnya
Neoplasma unspesifik nature
Malnutrisi kalori protein unspesifik dan lainnya
Defisiensi nutrisi lainnya
Atherosclerosis
Penyakit vascular perifer lainnya

integrity
berkaitan
dengan
Skin

454
459
674
680
681
686
707
710
728
880
881
882
883
884
885
886
887
890
891
892
893
894
Vena varicose pada extremitas bawah
Gangguan lain pada system sirkulasi
Komplikasi unspesifik pada puerperium dan
lainnya
Carbuncle dan furuncle
Cellulities dan abscess pada finger dan toe
Infeksi local lainnya pada kulit dan jaringan
subkutaneus
Ulcer kronis pada kulit
Penyakit diffuse jaringan lunak
Gangguan pada otot, ligament, dan fascia
Luka terbuka pada shoulder dan upper arm
Luka terbuka pada elbow, forearm, dan wrist
Luka terbuka pada hand kecuali finger sendiri
Luka terbuka pada pada finger
Luka terbuka pada upper limb tidak spesifik dan
multiple
Traumatic amputasi pada thumb
(complete/partial)
Traumatic amputasi pada finger lainnya
(complete/partial)
Traumatic amputasi pada arm dan hand
(complete/partial)
Luka terbuka pada hip dan tungkai

Involvement
extended
Into
Facia,

895
896
897
927
928
929
941
942
943
944
946
948
991
997
998
Luka terbuka pada knee, kaki (kecuali tungkai) dan
ankle
Luka terbuka pada foot kecuali toe sendiri
Luka terbuka pada toe
Luka terbuka tidak spesifik spesifik pada lower
limb dan multiple
Traumatic amputasi pada toe (complete/partial)
Traumatic amputasi pada foot (complete/partial)
Traumatic amputasi pada leg (complete/partial)
Crushing injury pada upper limb
Crushing injury pada lower limb
Crushing injury multiple dan tempat yang tidak
spesifik
Burn pada wajah, kepala dan leher
Burn pada trunk
Burn pada upper limb, kecuali wrist dan hand
Burn pada wrist dan hand
Burn pada multiple spesifik sites
Burn yang diklasifikasikan menurut luasnya
permukaan tubuh yang terkena
Pengaruh pengurangan temperature
Komplikasi yang mempengaruhi system spesifik
tubuh, yang tidak diklasifikasikan ditempat lainnya.
Komplikasi lain prosedur, yang tidak

Musc

diklasifikasikan ditempat lainnya.

Lampiran 1 Standar Perencanaan Fisioterapi .


FORMULIR PERSETUJUAN TINDAKAN FISIOTERAPI
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
............
...
Umur/Jenis :
...
Alamat :
...
Dengan ini menyatakan sesungguhnya telah memberikan PERSETUJUAN, untuk dilakukan
tindakan fisioterapi :
Terhadap : Diri sendiri / Suami / Istri / Anak / Ayah / Ibu /
Nama :
...
Umur/Jenis :
...
Alamat :
...
Ruangan/Kamar :
.
..
No. Rekam Medik :
...
Tujuan, jenis, konsekwensi dan resiko yang menyertai tindakan tersebut telah dij
elaskan oleh
Fisioterapi dan saya telah mengerti seluruhnya.
Saya juga menyatakan telah memberikan persetujuan untuk tindakan lebih lanjut ap
abila
setelah tindakan fisioterapi yang pertama diperlukan tindakan penyelamatan.
Jakarta,
...
Saksi-saksi Fisioterapis Yang membuat pernyataan
1. Yang melakukan,
(
..) (
.)
(
)
2.
(
..)
Ket. : Tandatangan dan Nama jelas

Lampiran 2 Standar Perencanaan Fisioterapi


FORMULIR PENOLAKAN TINDAKAN FISIOTERAPI
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
............
...
Umur/Jenis :
...
Alamat :
...
Dengan ini menyatakan sesungguhnya telah memberikan PENOLAKAN, untuk dilakukan
tindakan fisioterapi :
Terhadap : Diri sendiri / Suami / Istri / Anak / Ayah / Ibu /
Nama :
...
Umur/Jenis :
...
Alamat :
...
Ruangan/Kamar :
...
No. Rekam Medik :
...
Saya juga telah menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya :
a. Telah mendapat penjelasan dari Fisioterapis tentang tujuan, jenis, konsekuens
i dan resiko
yang menyertai tindakan tersebut.
b. Telah memahami penjelasan tersebut diatas.
c. Atas tanggung jawab dan resiko saya sendiri tetap menolak untuk dimulai/diter
uskan
tindakan fisioterapi.

Jakarta,
...
Saksi-saksi Fisioterapis Yang membuat pernyataan
1. Yang melakukan,
(
..) (
.)
(
)
2
(
..)
Ket. : Tandatangan dan Nama jelas

II. 4.
STANDAR INTERVENSI FISIOTERAPI
1. Pengertian :
Intervensi fisioterapi ialah implementasi perencanaan dan memodifikasi untuk
mencapai tujuan yang disepakati, mencakup : penanganan manual, peningkatan
gerak, peralatan fisis, peralatan elektroterapeutis dan peralatan mekanis,
pelatihan fungsional, penentuan bantuan dan peralatan bantuan, dokumentasi
dan koordinasi, komunikasi.
2. Prosedur :
Intervensi setiap kunjungan/pertemuan, dengan mencermati respon dan
perkembangan kondisi pasien/klien perlu implementasi dan modifikasi dari
perencanaan.
Intervensi oleh Fisioterapis dan atau dilaksanakan oleh asisten harus dibawah
direksi/pengarahan dan supervisi otentikasi (pengesahan) dokumen oleh
Fisioterapis berizin, memuat unsur-unsur:
2.1 Laporan dari pasien/klien yang layak.
2.2 Identifikasi intervensi secara spesifik mencakup frekwensi, intensitas dan
durasi.

Contoh :
2.2.1 Ekstensi lutut, 3 set, 10 pengulangan, 10 kg. beban.
2.2.2 Latihan transfer dari bed ke kursi dengan papan luncur.
2.3 Pemakaian peralatan.
2.4 Perubahan kondisi pasien/klien berkaitan dengan modifikasi perencanaan.
2.5 Reaksi penolakan terhadap intervensi.
2.6 Faktor-faktor pemodifikasi frekwensi dan intensitas intervensi serta dengan
kemajuan mengarahkan pada tujuan, sepanjang pasien/klien patuh pada
instruksi terapi.
2.7 Komunikasi/konsultasi dengan profesi/tenaga lain, keluarga pasien/klien dan
pihak lain yang terkait.

3. Lampiran
4. Dokumen terkait :
5. Referansi :
5.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi
dan Izin Praktik Fisioterapi.
5.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
5.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya
Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
5.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
5.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
5.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II. 5.
STANDAR EVALUASI FISIOTERAPI
1. Pengertian :
Evaluasi fisioterapi ialah assesmen ulang dengan pertimbangan klinis setelah
intervensi fisioterapi dalam periode waktu, disandingkan dengan hasil assesmen
sebelumnya, perencanaan dan intervensi, serta disimpulkan perkembangan (out
come) kondisi pasien/klien, dan tindak lanjut.
2. Prosedur :
2.1 Pemeriksaan ulang setelah satu episode atau satu seri intervensi fisioterapi
untuk mengevaluasi kemajuan, memodifikasi dan intervensi lanjutan.

2.2 Pemeriksaan ulang meancakup pengumpulan data subyektif, data obyektif,


assesmen/interpretasi dan rencana tindak lanjut (SOAP), dirinci :
2.3 Unsur-unsur yang teridentifikasi pada assesmen awal untuk memperbaharui
status kondisi pasien/klien.
2.4 Interpretasi dari temuan-temuan dan bilamana terindikasi perlunya revisi
untuk mengantisipasi tujuan dan harapan.
2.5 Bilamana terindikasi maka perlu revisi perencanaan pelayanan dikaitkan
dengan antisipasi tujuan dan hasil yang diharapkan yang terdokumentasi.
2.6 Otentikasi (pengesahan) oleh Fisioterapis berizin.
3. Lampiran :
4. Dokumen terkait :
5. Referansi :
5.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi
dan Izin Praktik Fisioterapi.
5.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
5.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya
Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
5.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
5.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
5.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II. 6.
STANDAR PENGAKHIRAN PROSES FISIOTERAPI
1. Pengertian :
Pengakhiran proses fisioterapi adalah pelepasan (discharge) dan penghentian
(discontinuation) fisioterapi pada diri pasien/klien, berdasar pada analisissintesis hasil evaluasi, faktor keterpaksaan, dengan pertimbangan klinis dan
rekomendasi tindak lanjut.
2. Prosedur :
2.1 Pelepasan (discharge) pasien/klien dari proses fisioterapi, dengan kriteria
:
2.1.1 Fisioterapis memastikan tujuan telah tercapai.
2.1.2 Pasien/klien memastikan harapan telah terpenuhi.
2.1.3 Berpindah ke institusi lain.
2.1.4 Dibuat kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut.
2.2 Penghentian (discontinuation) pasien/klien dari proses fisioterapi, dengan
kriteria :
2.2.1 Fisioterapis memastikan tidak bermanfaat lagi.
2.2.2 Pasien/klien, penyandang dana atau asuransi, tidak berkenan
melanjutkan proses fisioterapi.
2.2.3 Kontroversi kepentingan para stake holder perawatan pasien/klien.
2.2.4 Dibuat kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut.
2.3 Kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut, berisikan :
2.3.1 Diagnosis fisioterapi, diagnosis medis dan kondisi pasien/klien.
2.3.2 Proses fisioterapi yang telah dikenakan.
2.3.3 Hasil evaluasi terakhir.
2.3.4 Rekomendasi tindak lanjut : fisioterapi, program dirumah, proteksipencegahan, tindakan lain.

3. Lampiran :
4. Dokumen terkait :
5. Referensi :
5.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang Registrasi
dan Izin Praktik Fisioterapi.

5.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang Standar
Profesi Fisioterapi
5.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
5.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat Jendral
Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008, tertulis adanya
Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
5.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang Standar
Profesi Fisioterapi Indonesia.
5.7 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
5.8 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy Association,
2001

II.7.
STANDAR DOKUMENTASI FISIOTERAPI.
1. Pengertian.
1.1 Dokumentasi ialah semua hal yang termasuk dalam catatan pasien/klien
seperti laporan konsultasi, laporan assesmen awalm, catatan perkembangan,
catatan alur pelayanan, re-assesmen dan kesimpulan pelayanan.
1.2 Autentikasi ialah proses untuk verifikasi bahwa semua data yang tercatat
adalah lengkap, akurat dan final. Ditandai dengan tanda tangan asli, atau
tanda tangan computer dengan system pengamanan elektronika.
2. Petunjuk Umum
Semua pendokumentasian harus sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
2.1 Tulisan tangan dan tanda tangan harus dengan tinta. Data elektronik harus
dengan ketentuan kerahasiaan dan pengamanan yang memadai.

2.2 Persetujuan (informed consent) : kepada pasien/klien harus ditanyakan


pemahaman dan kesadarannya sebelum intervensi dimulasi, dengan contohcontoh cara pendokumentasian sebagai berikut :
2.2.1 Tanda tangan pasien/klien atau keluarga/penanggung yang sah pada
formulir pernyataan pemahaman dan kesepakatan tindakan.
2.2.2 Hal-hal yang telah dijelaskan oleh Fisioterapis berizin dicatat sebagai
data resmi/legal.
2.2.3 Dokumentasi kelengkapan (checklist) data kesepakatan tindakan.
2.3 Mengkoreksi kesalahan dokumen dengan cara mencoretkan satu garis lurus
sepanjang tulisan yang dikoreksi diparaf dan ditanggali, atau bila koreksi
pada dokumen data elektronis perlu dengan mekanisme yang tepat tanpa
menghapus data orisinil.
2.4 Identifikasi.
2.4.1 Mencakup nama lengkap pasien/klien, memberikan penomoran pada
setiap dokumen baku/sah.
2.4.2 Setiap catatan/masukan harus ditnggali, diotentikasi
(ditandatangani) dan ditulis nama lengkap dan sebutan izin
professional (Fisioterapis/No.SIPF).
2.4.3 Dokumentasi yang dibuat oleh petugas penerima/siswa/magang
harus diotentikasi/ditndatangani oleh Fisioterapi berizin.
2.5 Dokumentassi mencakup mekanisme rujukan dari pemrakarsa pelayanan
fisioterapi, contoh-contoh :
2.5.1 Rujukan internal Fisioterapi/akses langsung.
2.5.2 Permintaan konsultasi dari praktek umum.

3. Assesmen Awal dan Konsultasi


3.1 Dokumentasi mulai diperlukan saat permulaan setiap episode pelayanan
fisioterapi.
3.2 Dokumentasi dari awal episode pelayanan fisioterapi mencakup elemenelemen sebagai berikut :
3.2.1 Dokumentasi tentang riwayat secukupnya :
3.2.1.1 Riwayat problem sekarang, keluhan, tanggal mulai dirasakan
dan upaya pencegahannya/
3.2.1.2 Diagnosa dan riwayat medik yang berkaitan.

3.2.1.3 Karakteristik demografi, psikologik, social dan faktor


lingkungan yang terkait.
3.2.1.4 Pelayanan terkait sebelumnya atau yang bersamaan dengan
episode pelayanan fisioterapi.
3.2.1.5 Penyakit lain yang berpengaruh terhadap prognasa.
3.2.1.6 Pernyataan pasien/klien tentang problemnya sesuai dengan
kadar pengetahuannya.
3.2.1.7 Antisipasi tujuan dan harapan setelah terapi (out comes) dari
pasien/klien dan keluarga dan pihak lain yang berpengaruh.
3.2.2 Dokumentasi dari telaah sistemik.
3.2.2.1 Dokumentasi status anatomi dan fisiologi mencakup systemsistem :
3.2.2.1.1 Kardiovaskuler/pulmonal.
3.2.2.1.2 Integumenter.
3.2.2.1.3 Muskuloskeletal.
3.2.2.1.4 Neuromuskuler.
3.2.2.2 Telaah tentang komunikasi, afeksi, kognisi, bahasa dan
kemampuan pembelajaran.
3.2.3 Dokumentasi dari uji dan pengukuran yang terpilih untuk
menentukan status pasien/klien.

Contoh-contoh pengujian dan pengukuran sebagai berikut dan tidak


terbatas :
3.2.3.1 Arousal, atensi dan kognisi.
3.2.3.1.1 Tingkat kesadaran.
3.2.3.1.2 Kemampuan menjawab perintah.
3.2.3.1.3 Kekurangan tampilan secara umum.
3.2.3.2 Perkembangan neuromotorik dan integrasi sensoris.
3.2.3.2.1 Keterampilan motorik kasar dan halus.
3.2.3.2.2 Pola gerak reflek.
3.2.3.2.3 Ketangkasan, kelincahan dan koordinasi.
3.2.3.3 Range of motion.
3.2.3.3.1 Luas gerak sendi.
3.2.3.3.2 Nyeri jaringan lunak sekitar.

3.2.3.3.3 Panjang dan fleksibilitas otot.


3.2.3.4 Penampilan otot (termasuk kekuatan, tenaga dan daya tahan)
3.2.3.4.1 Force, velocity, torque, work, power.
3.2.3.4.2 Gradasi manual muscle test.
3.2.3.4.3 Elektromiografi : amplitude, durasi, wafe form, dan
frekwensi.
3.2.3.5 Ventilasi, respirasi (pertukaran gas) dan sirkulasi.
3.2.3.5.1 Frekwensi denyut jantung, frekwensi penafasan,
tekanan darah.
3.2.3.5.2 Gas darah arteri.
3.2.3.5.3 Palpasi denyut perifer.
3.2.3.6 Sikap.
3.2.3.6.1 Sikap statis.
3.2.3.6.2 Sikap dinamis.
3.2.3.7 Langkah, gerak (lokomasi) dan keseimbangan.
3.2.3.7.1 Karakteristik langkah.
3.2.3.7.2 Fungsional lokomasi.
3.2.3.7.3 Karakteristik keseimbangan.
3.2.3.8 Pemeliharaan diri dan pengelolaan tempat tinggal.
3.2.3.8.1 Aktifitas hidup harian.
3.2.3.8.2 Kapasitas fungsional.
3.2.3.8.3 Transfer.
3.2.3.9 Integrasi/reintegritas masyarakat dan kerja (pekerjaan /
sekolah / bermain).
3.2.4 Dokumentasi/evaluasi (proses dinamis keputusan klinis oleh
Fisioterapis berdasar data yang terkumpul).
3.2.5 Dokumentasi diagnossis (label yang merangkum berbagai simtom,
sindrom atau kategori yang merefleksikan informasi yang didapat
dari pemeriksaan).
3.2.6 Dokumentasi prognosis (ketetapan perkembangan optimal yang
mungkin dicapai dengan intervensi dalam suatu periode waktu.
Dokumentasi mencakup antisipasi tujuan, harapan, hasil/out come,
dan rencana pelayanan).

3.2.6.1 Pasien/klien (keluarga dan pihak lain berpengaruh)


dilibatkan dalam perumusan antisipasi tujuan dan harapan
keberhasilan.
3.2.6.2 Tujuan antisipatif dan harapan keberhasilan dinyatakan
dalam terminology terukur.
3.2.6.3 Tujuan antisipatif dan harapan keberhasilan berkaitan
dengan impermen, keterbatasan fungsi dan disabilitas sesuai
yang didapat pada pemeriksaan.
3.2.6.4 Harapan keberhasilan dinyatakan dalam terminology
fungsional.
3.2.6.5 Rencana pelayanan :
3.2.6.5.1 Dikaitkan dengan antisipasi tujuan dan harapan
keberhasilan.
3.2.6.5.2 Mencakup frekwensi dan durasi untuk meancapai
tujuan antisipatif dan harapan keberhasilan.
3.2.6.5.3 Mencakup tujuan pendidikan bagi pasien/klien dan
keluarga/pemberian pelayanan.
3.2.6.5.4 Melibatkan secara memadai dengan kolaborasi dan
koordinasi pelayanan dengan profesi/pelayanan
lain.

3.2.7 Otentikasi dengan rancangan yang tepat oleh Fisioterapis berizin.

4. Dokumentasi Keberlangsungan Intervensi


4.1 Dokumentasi intervensi dan atau pelayanan yang diberikan serta
perkembangan kondisi pasien/klien.
4.1.1 Dokumentasi dibutuhkan pada setiap kunjungan/pertemuan.

Otentikasi (pengesahan) dokumen oleh Fisioterapis berizin, intervensi


dan atau pelayanan yang dilaksanakan oleh asisten harus dibawah
sireksi/pengarahan dan supervise oleh Fisioterapis berizin.
4.1.2 Dokumentasi setiap kunjungan/pertemuan memuat unsure-unsur :
4.1.2.1 Laporan dari pasien/klien yang layak.
4.1.2.2 Identifikasi intervensi secara spesifik mencakup frekwensi,
intensitas dan durasi. Contoh :

4.1.2.2.1 Ekstensi lutut, 3 set, 10 pengulangan, 10 kg. beban.


4.1.2.2.2 Latihan transfer dari bed kekursi dengan papan
luncur.
4.1.2.3 Pemakaian peralatan.
4.1.2.4 Perubahan kondisi pasien/klien berkaitan dengan modifikasi
perencanaan.
4.1.2.5 Reaksi penolakan terhadap intervensi.
4.1.2.6 Faktor-faktor pemodifikasi frekuensi dan intensitas intervensi
serta berkaitan dengan kemajuan mengarah pada tujuan,
sepanjang pasien/klien patuh pada instruksi terapi.
4.1.2.7 Komunikasi/konsultasi dengan profesi/tenaga lain, keluarga
pasien/klien dan pihak lain yang terkait.

4.2 Dokumentasi evaluasi/reasesman.


4.2.1 Dokumentasi untuk pemeriksaan ulang hendaknya tersedia lengkap
untuk mengevaluasi kemajuan, memodifikasi dan intervensi lanjutan.
4.2.2 Dokumentasi untuk pemeriksaan ulang hendaknya mencakup unsurunsur :
4.2.2.1 Dokumentasi unsur-unsur yang teridentifikasi pada III.A.2
untuk memperbaharui status kondisi pasien/klien.
4.2.2.2 Interpretasi dari temuan-temuan dan bilamana terindikasi
perlunya revisi untuk menatisipasi tujuan dan harapan.
4.2.2.3 Bilamana terindikasi maka perlu revisi perencanaan pelayanan
dikaitkan dengan antisipasi tujuan dan hasil uyang diharapkan
yang terdokumentasi
4.2.2.4 Otentikasi (pengesahan) oleh Fisioterapi berizin.

5. Dokumentasi Sumasi Episode Pelayanan


5.1 Dokumentasi dibutuhkan untuk menindak lanjuti kesimpulan berlangsungnya
konsekwensi episode intervensi.
5.2 Dokumentasi dari sumasi (kesimpulan) dari episode pelayanan hendaknya
mencakup unsur-unsur :

5.2.1 Dokumentasi untuk pemeriksaan ulang hendaknya tersedia lengkap


untuk mengevaluasi kemajuan, memodifikasi dan intervensi lanjutan.
5.2.1.1 Antisipasi tujuan dan harapan yang telah tercapai.
5.2.1.2 Penolakan kelangsungan intervensi oleh pasien/klien, pengasuh,
penanggung jawab sah.
5.2.1.3 Pasien/klien tidak cakap/layak melanjutkan intervensi akibat
komplikasi medis atau psikososial.
5.2.1.4 Fisioterapis menentukan bahwa kelangsungan intervensi tidak
bermanfaat bagi pasien/klien.

5.3 Status kemampuan fungsional fisik.


5.4 Derajad pencapaian tujuan dan harapan yang diantisipasi, dan alas an ketidak
tercapaiannya.
5.5 Rencana penyelesaian mencakup komunikasi tulis dan lisan selama
berlangsungnya pelayanan. Contoh-contoh mencakup :
5.5.1 Program dirumah.
5.5.2 Rujukan kepelayanan lain yang tepat.
5.5.3 Rekomendasi tindak lanjut pelayanan fisioterapi.
5.5.4 Pelatihan bagi keluarga/pengasuh.
5.5.5 Pemakaian peralatan.

6. Dokumen terkait :
6.1 Lampiran :
6.2 Referensi :
6.2.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang
Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
6.2.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang
Standar Profesi Fisioterapi
6.2.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang
Standar Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.2.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang
Pedoman Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.

6.2.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat


Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
6.2.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang
Standar Profesi Fisioterapi Indonesia.
6.2.7 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/MENKES/PER/XII/1989
tentang Rekam Medik.
6.2.8 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
6.2.9 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy
Association, 2001

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Lamp. : STANDAR DOKUMENTASI FISIOTERAPI
Pasien Rawat Inap
IDENTIFIKASI DIRI
1. Nama :

Keluarga :

Kecil :

2. Tanggal Masuk Rawat :

3. Tanggal Lahir:

4. Seks :

. Laki laki
. Perempuan

5. Tangan dominant :

. Kanan
. Kiri
. Tidak diketahui

6. Suku :

. Jawa
. Sunda
. Tapanuli
. Minang
. Menado
. Madura
. Maluku
. Flores
. Bali
. Lain lain
7. Bahasa Ibu
. Indonesia
. Daerah
. Asing
8. Pendidikan :
. SD SMP
. SMA PT
. Tidak sekolah

9. Dokter yang mengirim :

10. Alasan dikirim ke fisioterapi :

RIWAYAT SOSIAL
11. Agama :

12. Bertempat tinggal dengan :

13. Bantuan sosial yang diperoleh


(keluarga/teman) :
0 = tidak ada; 1=Mungkin ya; 2= Ya.
a. Bantuan emosional :
b. Bantuan fisik terhadap ADL kurang dari
satu kali perhari :
c. Bantuan fisik terhadap ADL seharian:
d. Bantuan fisik terhadap ADL kurang dari
secata terus menerus :
e. Harus selalu dibantu :

14. Pekerjaan (kerja/sekolah/bermain) :

LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL


15. Alat dan peralatan (kacamata, alat bantu
dengar, alat bantu jalan)

16. Jenis tempat tinggal


. Rumah sendiri
. Apartemen
. Mengontrak
. Panti
. Tidak diketahui
. Lain lain

17. Lingkungan .
a. Tangga tanpa pegangan :
b. Tangga dengan pengangan :
c. Ramps :
18. Status Kesehatan Umum.
a. Kondisi kesehatan Pasien/Klien secara umum :
b. Penyakit utama dalam satu tahun terakhir :
19. Perilaku hidup sehat
a. Alkohol :
b. Merokok
a) Batang perhari :
b) Pernah berhenti :
c. Kebiasan olahraga :
20. Riwayat penyakit Keluarga
a. Jantung, Siapanya: Kapan :
b. Darah tinggi, Siapanya: Kapan :
c. Stroke, Siapanya: Kapan :
d. Diabetes, Siapanya: Kapan :
e. Kanker, Siapanya: Kapan :
f. Lain lain, Siapanya: Kapan :
21. Riwayat operasi pasien/klien
22. Status fungsional
a. Kesulitan dalam bergerak
a) Bergeser dalam posisi tidur :
b) Tranfer :
c) Berjalan :
b. Kesulitan dalam self care :
c. Kesulitan dalam pengatuan rumah tangga :
d. Kesulitan dalam hubungan integrasi dengan komunitas :
23. Obat obatan :
24. Tes klinis lainnya :

FORMULIR DOKUMENTAS UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Pasien Rawat Jalan
IDENTIFIKASI DIRI
1. Nama :
Keluarga :
Kecil :

2. Tanggal Masuk Rawat :

3. Tanggal Lahir :

4. Seks :

. Laki laki
. Perempuan

5. Tangan dominan
. Kanan :
. Kiri :
. Tidak diketahui :

Suku :
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Jawa
Sunda
Tapanuli
Minang
Menado
Madura
Maluku
Flores
Bali
Lain lain

Bahasa Ibu :
. Indonesia
. Daerah
. Asing

Pendidikan
. SD SMP
. SMA PT
. Tidak sekolah

Dokter yang mengirim :


Alasan dikirim ke fisioterapi
RIWAYAT SOSIAL
Agama :
Bertempat tinggal dengan :
Bantuan sosial yang diperoleh
(keluarga/teman) :
0 = Tidak ada; 1=Mungkin ya; 2= Ya.
. Bantuan emosional :
. Bantuan fisik terhadap ADL kurang
dari satu kali perhari :
. Bantuan fisik terhadap ADL seharian :
. Bantuan fisik terhadap ADL kurang
dari secata terus menerus :
. Harus selalu dibantu :

Pekerjaan (kerja/sekolah/bermain)
LINGKUNGAN TEMPAT TINGGAL
Alat dan peralatan (kacamata, alat bantu
dengar, alat bantu jalan)
Jenis tempat tinggal :
.
.
.
.
.
.

Rumah sendiri
Apartemen
Mengontrak
Panti
Tidak diketahui
Lain lain

Lingkungan,
Tangga tanpa pegangan :
Tangga dengan pengangan :
Ramps :

Status Kesehatan Umum,


Kondisi kesehatan Pasien/Klien secara
umum :
Penyakit utama dalam satu tahun terakhir
:
Perilaku hidup sehat,
Alkohol :
Merokok,
Batang perhari :
Pernah berhenti :
Kebiasan olahraga :
Riwayat penyakit Keluarga
.
.
.
.
.
.

Jantung
Darah tinggi
Stroke
Diabetes
Kanker
Lain lain

Riwayat Operasi/ Penyakit

1. Pernah sakit
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Arthritis
Fraktur
Osteoporosis
Gangguan vaskularisasi
Gangguan sirkulasi
Masalah jantung
Hipertensi
Masalah paru
Stroke
Diabetes
Cidera kepala
Parkinson
Epilepsi
Alergi
Masalah Thyroid
Kanker
Masalah ginjal
Gangguan pencernaan
Penyakit kulit
Dll

2. Gejala yang pernah dialami :


.
.
.
.
.
.

Nyeri dada
Denyut nadi tidak teraba
Batuk
Napas pendek
Berkunang kunang
Gangguan koordinasi

. Kelemahan tangan atau kaki


. Hilangnya keseimbangan
. Kesulitan berjalan

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Nyeri sendi atau benkak


Nyeri di waktu malam
Sulit tidur
Hilangnya nafsu makan
Gangguan penciuman
Masalah BAB
Kehilangan BB
Masalah perkencingan
Demam
Sakit kepala
Gangguan pendengaran
Gangguan penglihatan
Lain lain

Kondisi saat ini


a. Gambarkan kondisi anda sekarang
yang dirasakan perlu fisioterapi :
b. Kapan pertama kali keluhan muncul
c. Bagaimana rasanya :
d. Apakah anda pernah mengalami
keluhan yang sama sebelumnya :

Status fungsional
. Kesulitan dalam bergerak
. Bergeser dalam posisi tidur
. Tranfer
. Berjalan
. Kesulitan dalam self care
. Kesulitan dalam pengatuan rumah
tangga
. Kesulitan dalam hubungan integrasi
dengan komunitas

Obat obatan
a. Apakah ada obat obatan yang anda
konsumsi saat ini
b. Jika ada terangkan

Tes klinis lainnya

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Telaah sistemik
Sistim kardio/pulmonal
Normal Tidak
Denyut nadi :
Respiratori Rate:
Tekanan darah:
Oedema :
Sistem Integumentary,
Gangguan integument :
Pemerataan warna kulit :
Plak (tekture) :
Sistim Muskuloskeletal,
Kesimetrisan,
Berdiri :
Duduk :
Spesifikasi aktifitas :
ROM umum :
Kekuatan umum :
Lainnya :
Sistim Neuromuskuler
Langkah :
Tinggi Badan
Berat Badan
Lokomotor :

Keseimbangan :
Fungsi motorik :
Komunikasi, Afektif, Kognisi, Cara belajar
Komunikasi :
Orientasi (orang, tempat, waktu) :
Emosi :
Hambatan belajar,
. Tidak ada
. Penglihatan
. Pendengaran
. Tidak mampu membaca
. Tidak dapat memahami apa yang
dibaca
. Pemahaman bahasa
. Lain lain

Kebutuhan belajar,
.
.
.
.
.
.

Proses Penyakit
Keamanan
Penggunaan alat bantu
Aktifitas sehari hari
Program Latihan
Lain lain

Dengan apa pasien dapat belajar


.
.
.
.
.

Gambar
Membaca
Mendengar
Demonstrasi
Lainnya

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Uji dan Pengukuran
4.1.2 Uji dan Pengukuran Terpilih :

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Kapasitas Aerobik dan daya tahan
Karakteristik Antropometri
Arousal, Attention, and Cognition
Alat bantu
Sirkulasi
Integritas nervus cranial dan spinal
Hambatan Lingkungan
Ergonomic dan mekanisme tubuh
Jalan, Lokomotor dan Keseimbangan
Integritas integumen
Integritas sendi dan mobilisasi
Fungsimotorik
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Kinerja Otot
Neuromotor development
Ortosis dan Prosthesis
Nyeri
Postur
Prothetic Requirement
ROM
Reflek

Self care
Sensori Integritas
Ventlasi dan Respirasi
Tempat kerja

Parameter Terpilih:

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Evaluasi
4.1.3 Katagori Diagnosis Musculoskeletal
1. Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system muskuloskeletal/ demineralis
asi
2. Gangguan Sikap
3. Gangguan Kinerja otot
4. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan connective tissue
5. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan inflamasi lokal.
6. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan kerusakan spinal.
7. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan fraktur.
8. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan Arthroplasti sendi.
9. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yang berkaita
n
dengan bedah tulang atau jaringan lunak.
10. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, ROM, gait, locomotio
n, balance
yang berkaitan dengan amputasi

4.1.4 Katagori Diagnosis Neuromuskular


1. Pencegahan dini / pengurangan resiko terhadap kehilangan balance and jatuh
2. Gangguan Perkembangan Neuromotor
3. Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Non
progressive disorder CNS
congenital atau pada bayi dan masa anak.
4. Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Non
progressive disorder CNS pada usia dewasa
5. Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan progres
sive
disorder CNS
6. Gangguan Peripheral nerve integrity dan motor function yang berkaitan dengan
Peripheral Nerve Injury.
7. Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Acute a
tau
Chronic Polyneuropathies.
8. Gangguan motor function dan Peripheral nerve integration yang berkaitan denga
n Non
progressive disorder Spinal Cord.
9. Gangguan kesadaran , ROM, Motor Control yang berkaitan dengan Coma, Near coma
,
atau status vegetative.

4.1.5 Katagori Diagnosis Cardiovascular /Pulmonary


1. Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system cardiovascular-pulmonary
2. Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yang berkaitan dengan decontioning syndr
ome
3. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang be
rkaitan
dengan Airways clearance dysfunction.
4. Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yang berkaitan dengan Cardiovascular Pum
p
Dysfuntion or failure
5. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang be
rkaitan
dengan Ventilatory Pump Dysfunction or Failure.
6. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang be
rkaitan
dengan Respiratory Failure.
7. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yang be
rkaitan
dengan Respiratory Failure pada neonatus

8. Ganguan sirkulasi darah, anthropometric dimensions berkaitan dengan Lymphatet


ic
System disorders

4.1.6 Katagori Diagnosis Integumentary


1. Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system integument
2. Gangguan integumenary integrity berkaitan dengan Superficial skin involvement
3. Gangguan integumenary integrity berkaitan dengan partial thickness skin invol
vement
4. Gangguan integumenary integrity berkaitan dengan Full Thickness skin involvem
ent
dan scar formation
5. Gangguan integumenary integrity berkaitan dengan Skin Involvement extended In
to
Facia, Muscle, or Bone and scar formation.

PROGNOSIS :
FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK
PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Rencana Intervensi
Rencana Tujuan
Harapan outcome
Intervensi

Jumlah Tindakan terapi dalam


satu episode

Edukasi
4.1.1 Siapa yang diedukasi : a. Pasien/klien b. Keluarga
Informed Consent
4.1.2 Apakah Pasien sudah menyetujui tindakan terapi
Tanda Tangan pasien /Penanggung Jawab.
Rencana penghentian tindakan

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK


PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI
Intervensi
Nama/Umur/Jenis :
Alamat /Telp. :
No.
Urut
Tgl.
Tindakan
Perkembangan
(S : Subyektif; O: Objektif; A: Assesmen;
R: Rencana)
Paraf

S
O
A
R

:
:
:
:

FORMULIR DOKUMENTASI UNTUK

PASIEN/ KLIEN FISIOTERAPI


Kesimpulan Terapi
Nama/Umur/Jenis : Tgl.
Alamat /Telp. :
1. Dokter yang merujuk :

Diagnosis medis :
Tujuan rujukan ke fisioterapi :
2. Kondisi awal,

Gejala/sindroma :
Status gerak fungsional/
Parameter :
Diagnosis fisioterapi :
3. Kondisi akhir,

Gejala/sindroma :
Status fungsional/
Parameter :
Diagnosis fisioterapi :
4. Hambatan keberhasilan :
5. Rekomendasi tindak lanjut :

Fisioterapis,
Tandatangan & nama jelas :

C. Metoda Terapi dan Prosedur Kasus : dalam kelompok muskulosekeletal,


neuromuskuler, kardiopulmoner, dan integumenter.
Isi SPO tingkat III
III.1.
ANTROPOMETRI.
1. Pengertian :
Antropometri adalah pengukuran pada diri pasien/klien tentang dimensi,
komposisi dan/atau pembangkakan tubuh, termasuk : berat badan, tinggi badan,
lingkar tubuh, panjang anggota, tebal lemak, indeks masa tubuh, oedem.
2. Data diperoleh :
2.1 Dimensi tubuh : berat, tinggi, panjang, lingkar tubuh.
2.2 Komposisi : tebal lemak, indeks masa tubuh.
2.3 Pembengkakan : lingkar, volume, palpasi.
3. Peralatan yang digunakan :
3.1 Bed pemeriksaaan/tindakan.
3.2 Timbangan badan.
3.3 Meteran gulung.
3.4 Penggaris dengan skala milimeter, sentimeter dan inchi.
3.5 Skin fold.
3.6 Alat tulis
4. Prosedur/Rincian aktifitas :
a Jenis alat ukur :
1) Berat badan : timbangan injak, dacin.
2) Tinggi badan : mikrotoise.
3) Lingkar tubuh : pita lila, meteran gulung.
4) Panjang anggota : meteran gulung.
5) Tebal lemak : skin folder.
6) Indeks masa tubuh : tabel.

b Cara mengukur :
1) Berat badan dengan :
a) Timbangan injak:
(1) Letakkan timbangan injak pada lantai yang datar.
(2) Pakaian seminim mungkin, sepatu dan barang-barang yang
menambah beban dilepaskan.
(3) Berdiri tegap pada timbangan injak.
(4) Lihat angka yang tertera pada skala timbangan injak.
(5) Catat hasilnya dalam kilogram (kg).
(6) Untuk anak-anak yang belum kooperatif bisa ditandem/gendong
oleh pengasuhnya, hasilnya berat tandem dikurangi berat
pengasuh sendirian.
b) Dacin :
(1) Gatungkan dacin pada :
(a) Dahan pohon.
(b) Palang rumah, atau
(c) Penyangga kaki tiga
(3) Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat.
(4) Sebelum dipakai letakan bandul geser pada angka nol. Batang
dacin dikaitkan dengan tali pengaman
(5) Pasanglah celana timbang, kotak timbang atau sarung timbang
yang kosong pada dacin. Ingat bandul geser pada angka nol.
(6) Seimbangkan dacin yang sudah di bebani celana timbang, sarung
timbang, atau kotak timbangan dengan cara memasukan pasir ke
dalam kantong plastik.
(7) Anak ditimbang,dan seimbangkan dacin.
(8) Tentukan berat badan anak,dengan membaca angka di ujung
bandul geser.
(9) Catat hasil penimbangan dalam kilogram (kg).
(10) Geserlah bandul ke angka 0 (nol), letakkan batang dacin dalam
tali pengaman, setelah itu bayi atau anak dapat diturunkan.

2) Tinggi badan dengan mikrotoise.


a) Tempelkan dengan paku microtoise tersebut pada dinding yang lurus
datar setinggi tepat 2 meter. Angka 0(nol) pada lantai yang datar rata.
b) Lepaskan sepatu atau sendal.
c) Berdiri tegap seperti sikap siap sempurna dalam baris berbaris, kaki
lurus, tumit, pantat, punggung, dan kepala bagian belakang harus
menempel pada dinding, dan muka menghadap lurus dengan
pandangan ke depan.
d) Turunkan microtoise sampai rapat pada kepala bagian atas, siku-siku
harus lurus menempel pada dinding.
e) Baca angka pada skala yang nampak pada lubang dalam gulungan
microtoise.
f) Catat angka tinggi badan dalam sentimeter.

3) Lingkar tubuh dengan meteran gulung :


a) Yang diukur termasuk :
(1) Lengan atas
(2) Lengan bawah.
(3) Tangan
(4) Tungkai atas
(5) Tungkai bawah.
(6) Kaki.
(7) Panggul.
b) Cara pengukuran :
(1) Posisi pasien/klien nyaman dan stabil.
(2) Tandai titik pada tonjolan tulang sebagai patokan.
(3) Pengukuran diulang sedikitnya 3 (tiga) kali.
(4) Bandingkan dengan sisi yang berlawanan.
(5) Catat hasil dalam sentimeter.
(6) Lingkar lengan atas, lokasi ukur dari acromion kedistal : 10, 20
dan 30 cm.
(7) Lingkar lengan bawah, lokasi ukur dari epikondilus lateralis ke
distal : 10, 20 dan 30 cm.

(8) Lingkar tangan, lokasi ukur titik tengah antara sendi pergelangan
dan ujung jari tengah.
(9) Lingkar tungkai atas, lokasi ukur dari SIAS ke distal : 10, 20 dan 30
cm.
(10) Lingkar tungkai bawah, lokasi ukur dari tuberositas tibiae ke
distal : 10, 20 dan 30 cm.
(11) Lingkar kaki, lokasi ukur titik tengan antara maleolus medialis ke
ujung jempol kaki.
(12) Lingkar panggul, lokasi ukur melingkar pada SIAS kanan dan kiri,
4) Panjang anggota : meteran gulung.
Ada 3 (tiga) macam pengukuran yaitu : true length, bone length dan
appearence length.
a) Posisi pasien/klien tidur terlentang.
b) Tentukan titik-titik tertentu atau tonjolan tulang sebagai patokan.
c) Panjang tungkai :
(1) True length : SIAS ke maleolus medialis melalui patela.
(2) Bone length : trochantor mayor ke epikondilus lateralis femur;
epikondilus medialis tibiae ke maleolus medialis.
(3) Appearence length : umbilikus ke maleolus lateralis melalui
patela.
d) Panjang lengan :
(1) True length : acrimion ke prosesus steloideus radii.
(2) Bone length : acromion ke epikondilus medialis humeri;
olekranon ke prosesus steloideus radii.
(3) Appearence length : acromion ke ujung jari tengah melalui
palmar.
e) Panjang tangan :
Appearance length : titik tengan depan sendi wrist ke ujung jari
tengah melalui palmar.

5) Tebal lemak : skin folder.


a) Ukur/jepitkan skin folder pada kulit yang tidak berlemak, misal
punggung tangan, catat hasil sebagai tebal kulit tanpa lemak (ukuran
1).
b) Ukur/jepitkan skin folder pada kulit yang diukur, cata hasilnya
(ukuran 2).
c) Ketebalan lemak kulit adalah : ukuran 2 dikurangi ukuran 1
dikalikan 50%.
6) Indeks masa tubuh :
a) Rumus :
b) Contoh : Seorang dengan tinggi 67 inhci, berat badan 220 pound :
BMI equals weight in pounds times 703 divided by height in inches squared
BMI equals 220 pounds times 703 inches divided by 67 inches squared equals 154,6
60 divided by 4489 equals 34.45
c) Ketentuan BMI :
(1) Nilai 18.5 - 24.9 : normal.
(2) Nilai 25 - 29.9 : berat badan berlebih (overweight).
(3) Nilai 30
39 : gemuk (obese).
(4) Nilai 40 lebih : gemuk berlebih ( extreme obesity).
d) Tabel BMI : terlampir.
5. Lampiran :
6. Dokumen terkait :
7. Referensi :

LAMPIRAN ANTROPOMETRI (BMI)


BMI also may not accurately reflect body fatness in people who are very short
(under 5 feet) and in older people, who tend to lose muscle mass as they age. An
d
it may not be the best predictor of weight-related health problems among some
racial and ethnic groups, such as African-American and Hispanic-American
women. But for most people, BMI is a reliable way to tell if your weight is putt
ing
your health at risk.
BMI Chart

III.2.
PROSEDUR PENGUKURAN ROM SENDI.
1. Pengertian :
Adalah pemeriksaan dengan mengukur lingkup gerak sendi
a. Untuk mengetahui kuantitatif lingkup gerak sendi
b. Untuk mengetahui secara kualitatif pembatasan lingkup gerak sendi
c. Untuk mengetahui mobilitas sendi.
2. Data diperoleh :
a ROM sendi pasif dan atau aktif.
b Panjang otot, ektensibilitas dan fleksibilitas jaringan lunak.
c ROM fungsional.
3. Peralatan yang diperlukan:
a. Bed pemeriksaan/tindakan.
b. Goniometer.
c. Penggaris dengan skala milimiter, sentimeter dan inchi.
d. Meteran gulung.
e. Alat tulis.
4. Prosedur/Rincian aktifitas :
a. Prinsip metoda pengukuran :
1) Metoda pengukuran dan pencatatan yang dituliskan di sini berdasarkan
pada prinsip Neutral Zero Method seperti dikemukakan oleh Cave dan
Roberts dalam tahun 1936.
2) Dalam metoda ini semua gerakan sendi diukur dari Zero Starting
Position , (seterusnya disingkat Z.S.P). Derajat gerakan sendi diukur dari
posisi tadi dalam arah gerakannya.
3) Sikap lurus anggota pada posisi anatomis diterima sebagai 0O dan bukan
180O.
4) Metoda ini diharapkan akan mengatasi kesimpangsiuran di masa lalu
dimana pengukuran dimulai dari berbagai posisi awal.

5) Gerakan daripada anggota yang diukur hendaknya dibandingkan dengan


anggota yang berlawanan. Perbedaan akan terlihat dalam derajat
gerakan, atau prosentase kehilangan gerakan bila dibanding dengan
anggota yang berlawanan yang sehat.
6) Bila anggota yang berlawanan tidak ada, pergerakan bisa dibandingkan
dengan perkiraan gerak pada orang lain yang sepadan dalam umur dan
pertumbuhan fisik. Sedang gerakan daripada tulang belakang mungkin
dibandingkan dengan orang lain yang sepadan dalam umur dan fisik.
7) Pergerakan perlu dengan penjelasan bahwa pasif atau aktif.
8) Keterangan mengenai istilai extensi dan hiperextensi, extensi digunakan
pada gerakan lawan dari flexi, dimulai dari Z.S.P. adalah gerakan natural /
normal. Gerakan ini terdapat misal pada sendi pergelangan tangan (wrist)
dan sendi bahu (shoulder). Tetapi ada gerakan lawan dari flexi yang
dimulai dari Z.S.P. ini, dikatakan sebagai gerakan unnatural / tak normal,
seperti pada sendi siku dan lutut. Ini disebut hiperextensi.
9) Perbatasan gerakan sendi tersebut & akan dijelaskan pada halaman
berikutnya.
10) Bila gerakan sendi menimbulkan nyeri maka usaha pengukuran
dikerjakan dengan perlahan dan lembut. Pengukuran akan lebih akurat
apabila anggota yang diperiksa diatur dalam posisi seenak mungkin bagi
penderita.
11) Adanya ankilosis dianggap kehilangan gerakan secara komplit.
12) Penggunaan goneometer boleh memilih sesuai dengan kebijaksanaan
pemakaiannya.
13) Pencatatan tentang oergerakan sendi hendaknya setepat-tepatnya dan
ditulis dalam tabel secara jelas.
14) Tabel perkiraan gerakan sendi normal perlu dibuat sebagai bahan
pertimbangan, dan tidak mengambil salah satu saja sebagai standar.
b. Penggunaan goniometer :
1) Goniometer hendaknya terbukti cocok untuk pengukuran gerakan sendi.
2) Goniometer yang dibuat terstandar diposisikan lurus / posisi anggota
extensi, dengan garis 0O terhimpit dengan 180O, serta dilengkapi dengan
sepasang garis lurus sebagai dua lengan petunjuk.

3) Bila tanda penunjuk untuk pengukuran pada anggota bisa dipastikan,


maka penggunaan goniometer disa dianggap akurat.
4) Bila petunjuk penonjolan tulang tak bisa ditentukan sebab terbungkus
jaringan lunak yang berlebihan atau sebab-sebab lain, maka penggunaan
goniometer bisa tidak akurat lagi.
5) Penggunaan goniometer hendaknya disesuaikan dengan keadaan anggota
yang diukur.
c. Perkiraan derajat gerakan sendi :
1) Perkiraan derajat gerakan sendi tidak bisa ditentukan secara pasti, sebab
luasnya variasi individu-individu yang berbeda-beda pertumbuhan fisik
dan usianya. Perkiraan berikut adalah sekadar sebagai petunjuk dan
bukan sebagai standar.
2) Anggota penderita yang berlawanan / normal barangkali bisa dianggap
sebagai standar normal yang terbaik. Dalam keadaan anggota yang
berlawanan cedera atau bahkan tidak ada, petunjuk ini diharapkan
berguna. Empat sumber diambil sebagai bahan pertimbangan, perkiraan
rata-rata yang dituliskan.
3) Sumber-sumber acuan tersebut seperti tertulis dalam lampiran ialah
adalah sebagai berikut :
a) Kolom (1)
b) The commite on Medical Rating of Physical Impairment, Journal
American Association, Feb 15, 1958.
c) Kolom (2)
d) The commite of the California Medical Association and Industrial
Accident Commision of the State of California 1960.
e) Kolom (3)
f) A System of Joint Measurementes, Williams A, Clarke, Mayo Clinic, Dec,
1920.
g) Kolom (4)
h) International Standard Orthopaedic Measurement,

5. Dokumen terkait : Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.


6. Acuan : Buku . . . . .

7. Lampiran :
7.1. Tabel rata-rata gerak sendi
7.2. Pengukuran ROM.

1. Sendi Bahu
a. Flexi dan extensi
Pada saat gerakan flexi depan dan extensi belakang, di situ mulailah timbul
gerakan scapula dan clavicula.
b. Elevasi
Gerakan shoulder girdle ke atas disebut elevasi dan sebaliknya disebut
depresi, bisa diukur dalam derajat. Gerakan melingkar pada shoulder girdle
memang ada tetapi tidak bisa diukur secara pasti. Hal ini bisa diperkirakan
dengan membandingkan kepada individu lain yang mempunyai kesamaan
dalam umur dan fisik.
c. Rotasi
Biasanya pengukuran rotasi sendi bahu bisa dikerjakan dalam 2 posisi.
Pertama dengan lengan di samping badan, kedua dengan lengan abduksi 90O.
rotasi bisa juga diukur dalam berbagai posisi pada bidang vertical dan
horizontal atau persilangan koordinat.
1) Rotasi dengan lengan di samping badan.

Rotasi ke dalam dan keluar dicatat dalam derajat dimulai dari posisi
netral.
Rotasi ke dalam : 0
(40
90).
Rotasi ke luar : 0 (40
90).
2) Rotasi dengan lengan abduksi 90O.

Rotasi di sini lebih kecil daripada bila lengan di samping badan. Diukur
dalam derajat dimuai dari Z.S.P. :
Rotasi ke dalam : 0
70.
Rotasi ke luar : 0 90.
3) Suatu metode klinis dengan perkiraan fungsi ialah dengan mengitung
jarak dari pada ujung ibu jari ke arah mencapai scapula yang
berseberangan atau basis tengkuk, atau menghitung tingginya ruas
vertebra yang bisa dicapai oleh ujung ibu jari.

d. Gerakan glenohumeral
Perlu dibedakan gerakan glenohumeral murni dengan yang diikuti gerakan
scapulothoracal. Gerakan lengan ke atas ke bawah pada bahu dari 0
180O
dikombinir secara halus antara gerakan jurni glenohumeral plus rotasi
daripada scapula ke atas dan ke depan pada dinding dada, disebut gerakan
scapulothoracal.
1) N.S.P. (Z.S.P.) dengan lengan lurus di samping badan.
2) Gerakan glenohumeral murni bisa ditujukan dengan satu tangan
memfixasi scapula tangan lain mengangkat lengan ke atas secara pasif.
3) Gerakan kombinasi dengan scapulothoracal. Rotasi daripada scapula ke
atas dan ke depan pada dinding dada memungkinkan lengan mencapai
lebih jauh ke atas normalnya ialah 180O.
2. Sendi Siku
Z.S.P : Extensi siku dengan lengan bawah lurus
Gerakan : Flexi 0 (135 150), (kecuali ada hiperextensi siku).
Extensi (150 135)
0.
3. Lengan Bawah
Z.S.P : Lengan bawah posisi vertical dan siku flexi 90O
Gerakan : Pronasi 0- (80 90)
4. Sendi Pergelangan Tangan
Z.S.P : Pergelangan extensi lurus segaris dengan lengan bawah
Gerakan : Flexi : 0O-.80O
Extensi : 0O-.70O
Radial deviasi : 0O-20O
Ulnar deviasi : 0O-30O
Rotasi sirkumdaksi tak dapat diukur secara tepat.
5. Sendi Ibu Jari Tangan
a. Abduksi dan sirkumdaksi
ZSP : Ialah posisi anatomis, siku supinasi, ibu jari merapat lurus
pada jari telunjuk
Gerakan : Abduksi dan sirkumduksi diukur pada saat yang tepat
dibentuk oleh tulang metacarpal ibu jari dengan jari
telunjuk. Gerakan ini bisa terjadi pada 2 bidang ialah :

1) Gerakan abduksi pada bidang yang membentuk sudut


dengan bidang telapak tangan sehingga ibu jari
menunjuk ke atas.
2) Gerakan abduksi sejajar dengan bidang telapak tangan
disebut juga abduksi-extensi. Jarak gerakan ini berkisar
: 0
(50
70)
b. Oposisi
ZSP : Extensi ibu jari
Gerakan : Merupakan kombinasi dari 3 gerak dasar ialah abduksi,
rotasi dan flexi.
Gerakan ini dianggap penuh / normal apabila ujung ibu jari menyentuh
ujung jari ke V, atau ujung ibu jari menyentuh basis metacarpal jari V.
gerakan ini bisa diukur dalam centimeter.
c. Flexi
Z.S.P : Extensi ibu jari / lurus
1) Flexi sendi interphalang berkisar . (0-80)
2) Flexi sendi metacarpophalangeal berkisar . (0-50)
3) Flexi sendi carpometacarpal berkisar . (0-15)

6. Gerakan Jari-jari Tangan


Z.S.P : Extensi jari-jari sejajar satu dengan yang lain segaris dengan
bidang punggung tangan dan pergelangan tangan.
a. Flexi distal interphalang : 0 (70
90)
b. Flexi middle interphalang : 0 100
c. Flexi proximal interphalang : 0 90
d. Gerakan distal dan middle interphalang ini dapat diukur dengan
menggunakan penggaris, menghitung jarak ujung kuku dan telapak tangan.
e. Extensi dan hiperextensi
Gerakan extensi normal terjadi pada sendi metacarpophalangeal sedang
tidak normal terhadi pada sendi proximal dan distal interphalang. Extensi
sendi proximal/ metacarpophalangeal berkisar 0
45.
f. Abduksi dan Adduksi

Z.S.P. : Extensi jari-jari tangan saling sejajar dan merapat satu dengan
lainnya.
Gerakan abduksi dan adduksi pada bidang telapak tangan ialah menjauh dan
mendekat pada garis tengah, diukur dengan sentimeter dari ujung jari
telunjuk s/d jari V, masing-masing direnggangkan diukur dari ujung ke ujung
masing-masing jari.
7. Gerakan Cervical Spine
Z.S.P. : Berdiri atau duduk dalam posisi anatomi
a. Flexi dan Extensi
Gerakan ini biasanya dihitung dalam derajat, atau dalam sentimeter yaitu :
jarak antara dagu dan dada. Luas gerakan sebagai berikut :
Flexi : 0
(30
45)
Extensi : 0 (30
45)
b. Flexi lateral : 0

(40

45)

Gerakan ini juga dihitung dalam derajat atau juga dalam sentimeter yaitu :
Jarak antara daun telinga dan sendi bahu.
c. Rotasi : 0

(30

60)

Gerakan ini dihitung dalam derajat dari posisi netral, atau dalam prosentase
gerakan sebagai perbandingan antara individu-individu yang mempunyai
kesamaan dalam umur dan pertumbuhan fisik.
8. Thorax dan Lumbal
a. Flexi : 0 (80
90)
Sulit untuk mengukur dengan tepat gerakan yang terjadi. Hal ini disebabkan
karena : Jaringan lunak yang menyelimuti vertebra, bentuk normal dari
kelengkungan vertebra, variasi gerakan yang berbeda pada setiap bagian
dan keikutsertaan gerakan sendi panggul.
Z.S.P. : Berdiri posisi anatomi
Ada 4 macam cara untuk mengukur :
1) Menghitung derajat inclinasi ke depan terhadap sumbu longitudinal
badan. Pemeriksa memfixasi sendi panggul. Hilangnya lordosis juga
akan tampak.
2) Menghitung jarak level ujung kiri dengan tungkai, yaitu jarak ujung jari
dengan patella atau jarak ujung jari dengan pertengahan tulang kering.

3) Menghitung jarak ujung jari dengan lantai.


4) Dengan metoda pengukuran memakai pita logam atau plastic / midlin.
Metode pengukuran midlin / pita meteran
Cara ini mungkin lebih tepat untuk pengukuran flexi pada tulang
punggung. Midlin dapat mengikuti kelengkapan tulang vertebra dengan
baik. Pada waktu berdiri diukur dari processus spinosus C7 sampai S1.
Pada .posisi membungkuk kecengkungan lumbal akan berubah menjadi
cembung dan processus spinocus akan merenggang. Hal ini dapat dilihat
dengan bertambah panjangnya pita pengukur / midlin.
Pada gerakan flexi orang dewasa normal rata-rata bertambah 4 inchi /
10 cm. Bila penderita membungkuk dengan punggung tetap lurus,
seperti spondylitis rheumatica, midlin tidak mencatat perubahan.
Gerakan thorax dapat dihitung dari processus spinosus C7 sampai Thl2
sampai S1. Biasanya bila flexi bertambah 4 inchi / 10 cm, maka 1 inchi /
2,5 cm terjadi pada thorax dan 3 inchi / 7,5 cm pada lumbal.
b. Flexi Lateral : 0

(20

30)

Penggaris / pita pengukur ditahan vertical kuat dan lurus, akan membantu
pengukuran. Dengan ini dapat ditentukan :
1) Derajat lateral inclinasi dari tubuh, atau
2) Dengan menentukan posisi processus Spinosus C7 terhadap pelvis.
3) Menentukan level lumbal sebagai basis gerakan ke lateral. Level ini dapat
di lumbosacral atau lebih tinggi dan bisa bervariasi dari kanan ke kiri
pada penderita yang sama.
4) Dengan sendi lutut sebagai titik ukur, dihitung jarang ujung jari dengan
sendi lutut, pada lateral flexi.
5) Posisi berdiri.
Menghitung jarak ujung jari dengan lantai.
c. Extensi
Extensi dapat diukur dengan penderita berdiri maupun tidur tengkurap
pada alas yang keras.
1) Pada waktu berdiri, extensi : 0
30O
2) Pada tidur tengkurap, extensi dapat diukur melalui processus spinosus C7
: 0 20O.

3) Posisi berdiri
Selain dalam derajat juga dapat dalam sentimeter yaitu jarak antara
processus spinosus C7 dengan spina illiaca posterior superior (SIPS).
d. Rotasi : 0

(30

45)

Pada gerakan rotasi, pelvic harus difixasi dengan kedua tangan pemeriksa
dan penderita. Diinstruksikan untuk memutar ke kanan dan kiri. Gerakan ini
dapat diukur dalam derajat, atau prosentase dari gerakan dibandingkan
dengan individu lain yang sepadan dalam umur dan pertumbuhan fisik. Bisa
juga dengan menggunakan midlin, yaitu dengan posisi duduk kedua panggul
dan lutut flexi 90O kedua tangan menyilang dada di atas bahu. Diukur jarak
antara prominensia posterior clavicula kiri ke trochantor mayor kanan
untuk gerakan rotasi kanan, atau sebaliknya untuk rotasi kiri.
9. Sendi Panggul
Sendi panggul merupakan sendi peluru, disebabkan mangkuk sendinya lebih
dalam bentuknya dibandingkan sendi bahu, maka jarak gerak sendi ini lebih
kecil. Pengukuran sendi dengan dilakukan posisi tengkurap atau terlentang
dibandingkan dengan sendi bahu, pengukurab gerak hanya dilakukan pada satu
sisi saja karena apabila gerkan sendi panggul kanan-kiri bersama-sama akan
diikuti gerakan rotasi pelvic.
a. Flexi
Z.S.P. : Untuk panggul kanan : terlentang di atas meja datar dan
keras, panggul yang berlawanan (kiri) posisi flexi penuh.
Gerakan flexi dihitung dari 0
(100 120). Dengan fixasi pada crista iliaca
untuk mengetahui saat kapan dimulai gerakan rotasi pelvic. Keterbatasan
gerak flexi dituliskan seperti halnya pada sendi siku dan lutut sebagai
berikut :
1) Flexi panggul dari derajat ke 30 menuju 90 dituliskan (30
90).
2) Di sini panggul mempunyai kecacatan dalam flexi 30 dengan mampu
bergerak flexi lebih jauh ke 90 derajat.
b. Extensi
Z.S.P. : Tengkurap di atas tempat tidur yang datar dan keras.

Gerakan : Gerakan ke atas dari pada panggul diukur dalam derajat


dimulai dari Z.S.P.
Ada dua cara pengukuran yang biasa digunakan ialah :
1) Posisi tengkurap, bantal kecil ditaruh di bawah perut. Gerakan extensi
panggul dengan lutut lurus atau menekuk.
2) Posisi tengkurap tungkai yang diukur posisi netral (0O, Z.S.P.) dan lurus
pada lutut, tungkai yang berlawanan flexi panggul di luar bed menapak
di lantai. Dari posisi ini dilakukan gerak extensi panggul. Cara
pengukuran ini merupakan yang lebih tepat.
Jarak gerak sendi ini berkisar 0

(20

30).

c. Rotasi
Diukur pada posisi flexi dan extensi.
1) Rotasi dalam flexi
Z.S.P. : Tidur terlentang, lutut dan panggul 90O, pada posisi tegak
lurus dengan garis transversal yang ditarik melewati SIAS
kanan-kiri pelvic.
a) Inward rotasi (internal rotasi)

45O

Diukur dengan memutar tungkai bawah menjauhi line sagitalis,


sedangkan paha sebagai axis gerakan rotasi.
b) Outward rotasi (external rotasi) = 0

45O

Diukur dengan memutar tungkai bawah mendekati line sagitalis,


sedangkan paha sebagai axis gerakan rotasi.
2) Rotasi dalam extensi
Z.S.P. : Tidur tengkurap lutut 90O dengan garis transversal yang
ditarik melewati SIAS kanan-kiri pelvic.
a) Inward rotasi = 0

(20

45O)

Memutar tungkai bawah ke arah luar.


b) Outward rotasi = 0

(45

50)O

Pengukuran dilakukan dengan memutar tungkai bawah ke arah


dalam.
Rotasi dalam extensi ini dapat juga dikerjakan pada posisi terlentang.
d. Abduksi Dan Adduksi
Z.S.P. : Tidur terlentang tungkai extensi.

Abduksi : Gerakan extremitas ke arah luar dimulai dari Z.S.P : 0


(40
55)O.
Adduksi : tungkai yang berlawanan dengan yang diukur dievaluasikan
beberapa derajat untuk memberi gerak adduksi. Berkisar : 0
(20
45)O
Abduksi posisi flexi :
Dapat diukur pada setiap derajat posisi flexi hip, tapi biasanya pada flexi 90O.
10. Sendi Lutut
Sendi lutut merupakan sendi peluru / sanguardi, dimana gerakan primernya
adalah gerak flexi. Sedangkan geraan kebalikan dari flexi menuju ke Z.S.P.
adalah gerak extensi.
Gerakan yang melebihi Z.S.P. adalah gerak yang tidak alamiah yang disebut
hiperextensi. Sedangkan gerakan alamiah rotasi tibis terhadap condylus
femoralis dalam posisi flexi maupun extensi dapat terjadi dalam derajat yang
kecil dan tidak dapat diukur secara akurat.
a. Flexi
Z.S.P. : Posisi extensi lutut, penderita tidur terlentang atau
tengkurap.
Flexi : Diukur dari Z.S.P. : 0 (120
145)O
b. Pengukuran keterbatasan gerak sendi lutut sama halnya dengan sendi siku
dan panggul.
1) Flexi lutut dari 30O sampai 90O, dituliskan sebagai (30 90)O
2) Di sini lutut mempunyai kecacatan dalam flexi 30O dengan mampu
bergerak flexi lebih jauh ke 90O.
11. Sendi Pergelangan Kaki
Merupakan sendi pelana dengan komponen gerak primernya flexi dan extensi
pada sendi tibiotalar. Terdapat pula beberapa derajat gerakan sendi ke arah
lateral dengan posisi pergelangan kaki dalam plantar flexi. Gerakan sendi kaki
diukur dalam posisi lutut flexi dalam tujuan merelaxasi tendi achiles.

Z.S.P. : Tungkai bawah posisi relax menekuk pada lutut, telapak


kaki membentuk sudut 90O terhadap cruris.
a) Extensi (Dorsi flexi) dan flexi (plastal flexi) :
Diukur dalam derajat dari Z.S.P. atau diukur dalam prosentase
gerakandibandingkan dengan pergelangan kaki yang berlawanan.
Extensi berkisar : 0
(15
20)O
Flexi berkisar : 0 (40
50)O
12. Gerakan Kaki
Gerakan pada kaki merupakan gerakan gabungan yang dapat diuraikan sebagai
berikut :
a. Bagian depan kaki : Sendi subtalar.
1) Sendi Subtalar

Di sini didapatkan gerakan pasif


Z.S.P. : Tumit berada pada satu garis lurus dengan garis tengah
tibia.
a) Inversi : 0

50

Tumit digenggam kuat-kuat dan digerakkan secara pasif ke arah


dalam / medial, gerakan ini diukur dalam derajat atau prosentase
gerak.
b) Eversi : 0

50

Dengan teknik sama dilakukan gerakan pasif ke arah luar / lateral.


b. Bagian belakang kaki : Sendi midtarsal.
2) Sendi Midtarsal

Z.S.P. : Axis dari kaki yaitu pada jari II, segaris dengan axis
panjang ditarik sepanjang tulang tibia dari ankle ke lutut.
a) Gerakan Aktif Inversi : 0

(30

35)O

Gerakan aktif ke arah medial. Gerakan ini terdiri dari pronasi,


abduksi dan dorsal flexi.
b) Gerakan Pasif Inversi

Gerakan dikerjakan ke arah lateral secara pasif sesuai dengan gerak


aktif. Gerak ini gabungan dari pronasi, abduksi dan sedikit dorsal
flexi.
c) Gerakan Pasif Abduksi dan Adduksi : (0

10)O dan (0

20)O.

Gerakan ini dikerjakan dengan menggunakan tumit dan


menggerakkan bagian depan ke arah medial dan lateral, gerakan
diusahakan dalam satu bidang datar telapak kaki.
13. Gerakan Ibu Jari Kaki
a. Flexi dan Extensi

Z.S.P. : Extensi jari I segaris dengan garis khayal yang ditarik


melewati tulang metatarsal I.
Gerak flexi extensi terdapat pada sendi metatarsophalang, sedang pada sendi
interphalang hanya didapatkan flexi saja.
b. Metatarsophalangeal : Flexi 0 (30
45)O Extensi : 0
c. Interphalangeal : Flexi 0 (30
90)O
d. Hallux Valgus.

(50

70)O

Derajat deformitas jari I yang mengalami salah bentuk, diukur dalam derajat
pada sudut yang dibentuk oleh garis abduksi metatarsal I dengan garis adduksi
dari phalang proximal dan distal jari I.
14. Gerakan Jari-Jari Kaki
a. Jari II s/d V

Gerakan flexi terdapat pada sendi-sendi distal, tengah dan proximal. Sedang
gerak extensi terdapat pada sendi metatarsophalangeal. Gerakan ini diukur
dalam derajat.
Flexi sendi distal : 0 (50
60)O
Flexi sendi middle : 0 (35
40)O
Flexi sendi m.p : 0
40O

b. Abduksi dan adduksi

Z.S.P. : Jari-jari lurus dengan jari II sebagai axis = 0O


Abduksi : Gerakan menjauhi jari II sebagai axis, sedangkan
adduksi ialah gerakan merapat pada jari II.

SENDI
SUMBER
RATA-RATA
(1)
(2)
(3)
(4)
ELBOW
Flexion
Hyperextension
150
0
135
0
150
0
150
0
146
0
FOREARM
Pronation
Supination
80
80
75
85
50
90
80
80

71
84
WRIST
Extension
Flexion
Ulnar Dev.
Radial Dev.
60
70
30
20
65
70
40
20
90
30
15
70
80
30
20
71
75
33
19
THUMB
Abduction
Flexion : - I-P Jt
3) N-P
4) N-C

55
80
60
50
75
50
70
90
50

80
50
14
58
81
53
15

FINGERS
Flexion :
Distal Jt.
Middle Jt.
Proximal Jt.
Extension :
Distal
Middle Jt.
Proximal Jt.
70
100
90
70
100
90
90
45
90
100
90
0
0
45
80
100
90
0
0
45
SHOULDER
Forward Flexion
Horiozontal Flexion
Backward Extension
Abduction
Adduction
150
40
150
30
170
30
170

130
80
180
45
180
135
60
180
75
158
135
53
170
50

Rotation Arm at side :


Int. Rot.
Est. Rot.
Rotation Arm in Abd (90O) :
Int. Rot.
Ext. Rot.
Rot. In Extension :
Int. Rot.
Ext. Rot.
Abduction :
In 90O of Flexion
40
90
40
50
60
80
35
50
90
40
20
45
45 to 60
80
60
45
45
45
30
68
68
45
45
35
31

(Depending on age)

SENDI

(1)
(2)
(3)
(4)
RATA2
KNEE
Flexion
Hyperextension
120
135
145
10
135
10
134
10

ANKLE
Flexion (Plantar Fl.)
Extension (Dorsi Fl.)
40
20
50
15
50
15
50
20
46
18
HIND FOOT (Subtalar)
Inversion
Eversion

5
5
5
5
FORE FOOT
Inversion
Eversion
30
20
35
20

35
15

33
18
TOES
Great Toe
I.P. Jt.
Flexion
Extension
Proximal Jt.
Flexion
extension
2nd to 5th Toes
flexion
- Distal Jt
Middle Jt.
Proximal Jt.
Extension
30
0
30
50
50
40
30
40
35
70
40

90
0
45
70
60
35
40
40
60
0
37
63
55
38
35
40

Keterangan :
Sumber-sumber acuan tersebut seperti tertulis dalam lampiran ialah adalah sebaga
i
berikut :
1. Kolom (1)
The commite on Medical Rating of Physical Impairment, Journal American
Association, Feb 15, 1958.
2. Kolom (2)
The commite of the California Medical Association and Industrial Accident
Commision of the State of California 1960.
3. Kolom (3)
A System of Joint Measurementes, Williams A, Clarke, Mayo Clinic, Dec, 1920.
4. Kolom (4)
International Orthopaedic Measurement (ISOM), . . . .
III.3.
MANUAL MUSCLE TESTING.
1. Pengertian :
Pemeriksaan dan pengukuran kekuatan otot rangka dengan palpasi tangan
2. Data diperoleh :
a Nilai kekuatan otot.
b Karakterisitik otot : tonus, panjang, termor, klonus.
3. Peralatan yang digunakan :
a Bed pemeriksaan/tindakan.
b Penggaris dengan skala milimeter, sentimeter dan inchi.
c Meteran gulung.
d Formulir MMT.
e Alat tulis.

4. Prosedur/Rincian aktifitas :
a. Tiap kelompok otot sedikitnya 3 x kontraksi sehingga testing ini memerlukan
waktu 15-60 menit.
1) Indikasi a, pelaksanaan : 1 kali sebelum terapi dan sesudah seri terapi.
2) Indikasi b, pelaksanaan : 1 kali sebelum operasi, dan sesudah operasi
menurut instruksi dokter atau menurut kebutuhan.
3) Indikasi c, d, e, pelaksanaan : 1 kali sebelum tindakan, dan pengontrolan 3
bulan 1 kali.
b. Tingkat Kekuatan Otot : 6 Golongan.
1) Normal (N = 100% = Nilai 5).

Otot mampu berkontraksi menggerakkan sendinya pada R.O.M yang penuh


dengan melawan gravitasi ditambah tahanan tangan yang penuh.
2) Baik (Good = G = 75% = Nilai 4).

Otot mampu berkontraksi menggerakkan sendinya pada R.O.M yang penuh


dengan melawan gravitasi ditambah tangan secukupnya / tidak penuh.
3) Cukup (Fair = F = 50% = Nilai 3).

Otot mampu berkontrakso dan menggerakkan sendi serta dapat melawan


gravitasi.
4) Kurang (Poor = P = 25% = Nilai 2).

Otot mampu berkontraksi dan menggerakkan sendi dengan bantuan.


5) Trade = T = 10% = Nilai 1

Otot mampu berkontraksi tetapi tidak mampu menggerakkan sendi.


6) Otot kosong (0% = Zero = Nilai 0).

Otot tidak mampu berkontraksi.


c.
1)
2)
3)
4)

Karakter otot :
Ditambahkan dalam nilai otot :
Spastis
Kontraktur
Flacid

5) Tremor
6) Klonus.
7) Ruptur tendon

8) Ruptur serabut otot.


5. Lampiran :
5.1 Posisi dan lokasi otot.
5.2 Formulir uji kekuatan otot.
6. Dokumen terkait :
7. Referensi :

POSISI
LOKASI / SENDI
KELOMPOK OTOT
MACAM NILAI
II. Tiduran
Tengkurap
1. Leher
Extensor
Semua nilai
2. Trunk (badan)
Extensor
Semua nilai
3. Scapula
(belikat)
a. Adduktor & Dawn ward
Rotator
b. Adduktor
c. Elevator
d. Depsesor

Nilai
Nilai
Nilai
Semua

5, 4 & 3
5, 4 & 3
2, 1 & 0
nilai

4. Shoulder
(bahu)

a.
b.
c.
d.

Extensor
Horizontal ABD
Lateral Rotator
Medial Rotator

Semua
Nilai
Semua
Semua

nilai kecuali 2
5, 4, & 3
nilai
nilai

5. Hip (Panggul)
Extensor
Semua nilai kecuali 2
6. Knee (Lutut)
Flexor
Semua nilai kecuali 2
III. Tiduran
Miring
1. Shoulder
(bahu)
a. Flexor s/d 90O
b. Extensor
Nilai 2
Nilai 2

2. Panggul (Hip)
a.
b.
c.
d.

Flexor
Extensor
Abduktor
Adduktor

Nilai
Nilai
Nilai
Nilai

2
2
5, 4, 3
5, 4, 3

3. Knee (Lutut)
a. Flexor
b. Extensor
Nilai 2
Nilai 2
4. Pergelangan
kaki
a. Plantar Flexor
b. Inventor
c. Evertor
Nilai 2, 1 & 0
Nilai 5, 4, 3
Nilai 5, 4, 3

POSISI
LOKASI / SENDI
KELOMPOK / SENDI
MACAM NILAI
IV. Duduk di Bed
kedua tungkai
berjuntai
1. Trunk (Badan)

Rotator
Nilai 2
2. Scapula
(Belikat)
a. Adduktor & Dawn ward
rotator
b. Adduktor
c. Adduktor
d. Elevator

Nilai
Nilai
Nilai
Nilai

2,
2,
2,
5,

1,
1,
1,
4,

&
&
&
&

0
0
0
3

3. Shoulder
(Bahu)
a.
b.
c.
d.

Flexor s/d 90O


Abduktor s/d 90O
Horizontal Abduktor
Horizontal Adduktor

Nilai
Nilai
Nilai
Nilai

5,
5,
2,
2,

4,
4,
1,
1,

&
&
&
&

3
3
0
0

4. Elbow (Siku)
a. Flexor
b. Pronator & Supinator
Nilai 5, 4, & 3
Semua nilai
5. Wrist
(pergelangan
tangan)
a.
b.
c.
d.

Flexor
Extensor
Ulnar Diviator
Radial Diviator

Semua
Semua
Semua
Semua

nilai
nilai
nilai
nilai

6. Jari-jari tangan
a.
b.
c.
d.

Flexor
Extensor
Abduktor
Adduktor

Semua
Semua
Semua
Semua

nilai
nilai
nilai
nilai

7. Ibu jari tangan


a.
b.
c.
d.

Flexor
Extensor
Abduktor
Adduktor

Semua
Semua
Semua
Semua

nilai
nilai
nilai
nilai

8. Hip (panggul)
a. Flexor
b. Lateral Ratator
c. Medial Ratator
Nilai 5, 4, & 3
Nilai 5, 4, & 3
Nilai 5, 4, & 3
9. Knee (Lutut)
Extensor
Nilai 5, 4, & 3
10. Ankle (pergelangan tangan)
Dorsal Flexor
Invertor
Nilai 5, 4, & 3
Nilai 5, 4, & 3
V. Berdiri

Trunk (badan)
Elevator Plevis
Nilai 5, 4, & 3
Ankle (pergelangan tangan)
Plantar flexor
Nilai 5, 4, & 3

FORMULIR MANUAL MUSCLE TEST


LEFT

RIGHT

Examiner s Initial s

Date

SCAPULA

Abductor-Serratus anterior

SCAPULA

Adductor-middle trapezius

Adductors-Rhomoids

Depressor

Flexors

SHOULDER
SHOULDER

Extensor

Abductors

Horizontal Abductors

Horizontal Adductors

External rotators

Internal rotators

ELBOW

Flexors

ELBOW

Extensors

FOREARM

Supinators

FOREARM

Pronators

WRIST

Flexors-radial deviation

WRIST

Flexors-ulnar deviation

Extensor radial deviation

Extersor ulnar deviation

FINGERS

Flexorsmetacarpophalangeal

FINGERS

Extensormetacarpophalangeal

Flexorproximalinterphalangeal

Flexor-distal
interphalangeal

Abductors

Adductors

Opponens-5th fingers

THUMB

OPPONENS

THUMB

Flexormetacarpophalangeal

Extensormetacarpophalangeal

Flexor-interphalangeal

Extensor-interphalangeal

Abductors

Adductors

MEASUREMENTS

CHEST

Inspiration

CHEST

Expiration

ABDOMEN

Umbilicus to Ant. Sup.


Spine

ABDOMEN
LOWER
EXTREMITY

Circumference-mid. Calf

LOWER
EXTREMITY

Circumference-mid. Thigh

Ant. Sup. Spine to in


malleous

Umbilicus to internal
malleolus

Cannot walk

Date

Walks with crutches

Date

Stands

Date

Walks with canes

Date

Walks with
braces
Date

Walks anaided

Date

Walks with corset


Date

Climbs stairs

Date

Other Apparatus

Scoliosis and other deformiottes

Pengertian :
S= Spasm = Tegang. C = Contracture = Mengkerut.
SS= Severe Spasm = Sangat Tegang. CC = severe Contracture = Sangat mengkerut.

III. 4.
UJI KESEIMBANGAN
1. Pengertian :
Adalah pengujian untuk menilai tingkat keseimbangan pada berbagai posisi duduk
dan berdiri.
2. Data yang diperoleh :
a Nilai keseimbangan berbagai posisi dengan nilai 4 untuk normal dan terendah
0.
b Karakteristik posisi : perubahan garis gravitasi (alignment).
3.
a.
b.
c.
d.
e.

Peralatan yang digunakan :


Bed pemeriksaaan/tindakan.
Kursi dengan sandaran.
Bangku / stool, tanpa sandaran.
Cermin ukuran ukuran minimal : 60 x 180 cm2.
Alat tulis.

4. Prosedur/Rincian aktifitas:
Fisioterapis dengan/atau tanpa tenaga pembantu, menguji keseimbangan
pasien/klien pada posisi-posisi :
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m

Duduk tanpa disangga, kedua kaki menginjak lantai :


Duduk ke berdiri
Berdiri tanpa disangga
Berdiri ke duduk
Bergeser posisi duduk.
Berdiri mata tertutup.
Berdiri kedua kaki rapat
Meraih benda tangan lurus kedepan.
Berputar melihat belakang melalui bahu kanan dan kiri :
Berputar 360 derajad
Menginjakkan kaki di stool kanan=kiri bergantian
Berdiri satu kaki didepan
Berdiri satu kaki

Jumlah nilai dapat digunakan sebagai evaluasi awal, tengah, akhir dan prognosis
tindakan terapi.
5. Dokumen terkait :
6. Referensi :

Lampiran.
III. 4.1.
FORMULIR UJI KESEIMBANGAN
Teknik Terpilih :
Berg Balance Sdale.
Nama :
Diagnosis Ft :
Tgl. Lahir/Umur :
Diagnosis Medis:
Tgl. Pemeriksaan :

No
KRITERIA
NILAI
KET.
1
Duduk tanpa disangga, kedua kaki menginjak lantai :
a) Instruksi : Silahkan duduk kedua tangan dilipat diadada 2 menit.
b) Nilai :

(4)
(3)
(2)
(1)
(0)

Bertahan stabil mandiri 2 menit.


Bertahan 2 menit dengan pengawasan.
Bertahan 30 detik.
Bertahan 10 detik.
Tanpa penyangga tidak mampu bertahan 10 detik.

2
Duduk ke berdiri
a. Instruksi : Silahkan berdiri dari duduk.
b. Nilai :
(4) Bangkit berdiri tanpa bentuan.
(3) Bangkit berdiri dengan bantuan tangan sendiri.
(2) Bangkit berdiri dengan bantuan tangan sendiri setelah
beberapa kali mencoba.
(1) Bangkit berdiri seimbang dengan bantuan minimal.
(0) Bantuan sedang sampai maksimal untuk bengkit berdiri.

3
Berdiri tanpa disangga
a. Instruksi : Silahkan tetap berdiri tanpa pegangan selama 2 menit.
b. Nilai :
(4)
(3)
(2)
(1)
(0)

Berdiri stabil 2 menit.


Berdiri stabil 2 menit dengan pengawasan.
Berdiri stabil 30 detik.
Berdiri stabil 30 detik setelah mencoba beberapa kali.
Tidak mampu berdiri 30 detik tanpa bantuan.

4
Berdiri ke duduk
a. Instruksi : Pada posisi berdiri, dipersilahkan duduk.
b. Nilai :
(4) Duduk tanpa menggunakan tangan sendiri, tanpa bantuan.

(3) Duduk dengan menggunakan tangan sendiri untuk kendali


gerak turun.
(2) Duduk dengan menggunakan tungkai bagian belakang
menempel kursi.
(1) Duduk tanpa bantuan dengan gerak turun tidak terkendali.
(0) Memerlukan bantuan untuk duduk.

5
Bergeser posisi duduk.
a. Instruksi : Kursi, bed/bangku yang sama tinggi dirapatkan,
silahkan pindah dari bed/bangku kekursi atau sebaliknya.
b. Nilai :
(4) Berpindah tanpa menggunakan tangan dan tanpa bantuan.
(3) Berpindah dengan menggunakan tangan sendiri.
(2) Berpindah dengan menggunakan tangan sendiri dan bantuan
stimulasi verbal.
(1) Berpindah dengan bantuan 1 orang.
(0) Berpindah dengan bantuan 2 orang.

6
Berdiri mata tertutup.
a. Instruksi : Silahkan berdiri dan tutup mata 10 detik.
b. Nilai :
(4) Berdiri stabil 10 detik.

(3)
(2)
(1)
(0)

Berdiri 10 detik dengan pengawasan.


Berdiri 3 detik.
Berdiri tidak dapat menutup mata 3 detik.
Perlu bantuan untuk tetap berdiri.

7
Berdiri kedua kaki rapat
a. Instruksi : Silahkan berdiri dan rapatkan kedua kaki.
b. Nilai :
(4) Berdiri merapatkan kedua kaki 1 menit.
(3) Berdiri merapatkan kedua kaki 1 menit dengan pengawasan.
(2) Berdiri merapatkan kedua kaki 30 detik.
(1) Berdiri merapatkan kedua kaki 15 detik dengan bantuan
pengaturan posisi.
(0) Tidak mampu berdiri 15 detik dengan merapatkan kedua kaki.

8
Meraih benda tangan lurus kedepan.
a. Instruksi :
- Berdiri tegak tanpa bantuan disamping bidang sagital/papan
untuk proyeksi ukuran jarak.
- Angkat kedua lengan lurus horisintal kedepan (flexi shoulder 90
derajad), proyeksikan letak ujung jari tangan dengan tanda (X)
pada bidang/papan sagital disamping badan.

- Raihlah kedepan sejauh mungkin dengan mencondongkan


badan, proyeksikan letak ujung jari tangan dengan tanda (Y)
pada bidang/papan sagital disamping badan.
b. Nilai :
(4)
(3)
(2)
(1)
(0)

Meraih
Meraih
Meraih
Meraih
Hilang

kedepan dengan jarak X


Y lebih dari 25 senti meter.
kedepan dengan jarak X Y lebih dari 12 senti meter.
kedepan dengan jarak X Y lebih dari 5 senti meter.
kedepan dengan pengawasan.
keseimbangan ketika berusaha meraih kedepan.

9
Memungut benda dilantai pada posisi berdiri.
a. Instruksi :

- Berdiri tegak
- Benda diletakkan didepan kedua kaki, dipersilahkan mengambil
benda tersebut.
b. Nilai :

(4) Mengambil dengan mudah dan stabil.


(3) Mengambil dengan pengawasan
(2) Mengambil dengan benda diletakkan sejauh 2,5 5 sentimeter
didepan kaki.
(1) Tidak dapat mengambil, mampu/berani mencoba dengan
pengawasan.

(0) Tidak mampu/berani mencoba.


10
Berputar melihat belakang melalui bahu kanan dan kiri :
a. Instruksi : Letakkan bneda dibelakang tubuh subyek,
dipersilahkan melihat benda tersebuit dengan menengok
kebelakang melalui bahu kanan kemudian kiri.
b. Nilai :
(4) Mampu melihat benda dibelakang dari dua sisi dengan posisi
berdiri stabil.
(3) Mampu melihat benda dibelakang dari satu sisi, sisi lain tidak
stabil.
(2) Mampu melihat kebelakang dari satu sisi, memerlukan
pengawasan.
(1) Mampu melihat kebelakang dari satu sisi, dengan bantuan
penyanggaan.
(0) Tidak mampu/berani mencoba melihat kebelakang.

11
Berputar 360 derajad
a. Instruksi : Putar membalik kebelakang dengan siklus pebuh
sampai keposisi semula, istirahat, putar membalik gerak yang
sama arah yang lain ke posisi semula.
b.Nilai :
(4) Mampu memutar 360 derajat pada dua arah, stabil, waktu 4
detik.
(3) Mampu memutar 360 derajat satu arah, stabil, waktu 4 detik.
(2) Mampu memutar 360 derajat satu arah, stabil, waktu lebih

dari 4 detik.
(1) Mampu memutar 360 derajat satu arah, dengan pengawasan
ketat atau perintah berturutan.
(0) Memerlukan bantuan penuh selama memutar.
12
Menginjakkan kaki di stool kanan=kiri bergantian
a. Instruksi : Letakan stool yang berukuran setinggi lutut, angkat
kaki menginjak (step) papan atas stool, bergantian kanan dan kiri
masing-masing 4 kali.
b. Nilai :
(4) Mampu berdiri stabil, mengerjakan 8 step, waktu 20 detik.
(3) Mampu berdiri stabil, mengerjakan 8 step, waktu lebih dari 20
detik.
(2) Mampu berdiri mengerjakan 4 step, dengan pengawasan.
(1) Mampu berdiri mengerjakan 2 step, dengan bantuan minimal.
(0) Membutuhkan bantuan maksimal untuk mencoba, atau tidak
mampu/berani mencoba.

13
Berdiri satu kaki didepan
a. Instruksi :
Letakkan satu kaki didepan kaki yang lainnya, bertahanlah
berdiri.
b. Nilai :
(4) Mampu meletakkan satu kaki didepan kaki yang lain ujung
jempol kaki menyentuh tumit kaki depan, stabil, waktu 30

detik.
(3) Mampu meletakkan kaki berjarak 1 kaki didepan kaki yang
lain, stabil, waktu 30 detik
(2) Mampu meletakkan kaki berjarak 1langkah pendek didepan
kaki yang lain, stabil, waktu 30 detik
(1) Membutuhkan bantuan untuk meletakkan kaki. Dapat
bertahan 15 detik.
(0) Hilang keseimbangan saat mencoba mengangkat
memposisikan kaki.
14
Berdiri satu kaki
a. Instruksi : Berdiri satu kaki dan bertahanlah.
b. Nilai :
(4) Mampu bertahan stabil 10 detik.
(3) Mampu bertahan stabil kurang dari 10 detik.
(2) Mampu bertahan stabil 3 detik.
(1) Mampu bertahan kurang dari 3 detik.
(0) Tidak mampu mencoba, atau memerlukan bantuan maksimal.

JUMLAH NILAI

Nilai : 43
56 (Normal)
Nilai : 29 42 (Fair)
Nilai : 15 28 (Weak)
Nilai : 0
14 ( Poor)
Hal-hal khusus :
Rekomendasi :
Tanda-tangan dan Nama Pemeriksa :

III. 5.
ANALISIS LANGKAH DAN BERJALAN.
1. Pengertian :
Adalah pemeriksaan dan analisis langkah dan berjalan
2. Data diperoleh :
a Pola langkah dan berjalan.
b Gerak tungkai.
c Sikap tubuh.
3. Peralatan yang digunakan :
a Lantai dilukis garis lurus sepanjang minimal 3 meter.
b Cermin ukuran minimal 180 x 180 cm2.
c Penggaris dengan skala milimeter, sentimeter dan inchi.
d Meteran gulung.
e Goniometer.
4. Prosedur/Rincian aktifitas :
a. Analisis siklus langkah dan berjalan :
1) Analisis keseimbangan berjalan
2) Analisis waktu/ritme berjalan
3) Analisis jarak tiap langkah
4) Analisis pembebanan berat badan tiap siklus
5) Analisis gerak persegment.
b. Analisis :
Siklus langkah terdiri dari :
Stance phase (40%)
Swing phase (60%)
Terminilogi Racho
Term. konvensional
Terminilogi Racho
Term. konvensional
1.
2.
3.
4.

Initial contact
Loading response
Mid-stance
Terminalm stance

Heel strike
Foot flat
Mid- stance
Initial swing
Mid-swing
Terminal swing

Acceleration
Mid-swing
Deceleration.

5. Pre swing
Heel off
Toe off

1) Tahap I : Tumit memukul (Heel strike), untuk tungkai kanan yang


melangkah,
a) Pandangan dari samping :
. Kepala dan badan tegak, lengan kanan di belakang garis tengah
tubuh dengan siku lurus, lengan kiri ke depan dengan siku sedikit
menekuk
. Panggul sedikit memutar ke depan
. Lutut kanan lurus
. Kaki kiri sedikit terputar keluar, sebesar . 15 derajat bidang
sagital.
b) Pandangan dari depan :
. Kepala dan badan tegak, kedua lengan terayun dengan sedikit
mereganggang dari pada tubuh
. Psnggul sedikit miring ke bawah pada sebelah kanannya
. Tungkai sedikit terputar keluar pada sendi pahanya
2) Tahap II : Posisi tengahan (Foot flat).

Pandangan dari samping :


. Kepala dan badan tegak, kedua lengan sedikit merenggang dari
pada tubuh
. Panggul sedikit miring ke bawah pada sebelah kanannya
. Tungkai sedikit terputar pada sendi pahanya
3) Tahap III : Dorong angkat (Mid stance).
a) Pandangan dari samping
. Lengan kanan di depan garis tengah tubuh dengan siku sedikit
menekuk, lengan kiri ke belakang dengan siku melurus
. Panggul terputar ke depan
. Lutut kanan sedikit menekuk

. Pergelangan kaki plantar flexi


. Jari-jari hiper extensi pada sendi metatarsophalangeal
b) Pandangan dari depan :
. Kedua tangan terayun dengan sedikit meregangang pada tubuh,
siku kanan sedikit menekuk dan kiri melurus
. Tungkai sedikit terputa keluar pada sendi pahanya
. Telapan bagian tumit dan tengah tampak dan telapak bagian
depan menempel pada lantai
4) Tahap IV : Pertengahan mengayun (Heel off
Toe off).
a) Pandangan dari depan
. Kepala dan badan tegak dan panggul sedikit miring turun
. Tungkai pada garis vertikal gaya berat tubuh
. Tungkai sedikit terputar ke dalam pada sendi pahanya
. Kaki membentuk sudut terhadap tungkai dengan sedikit eversi
b) Pandangan dari samping :
. Panggul sedikit berputar ke depan, kedua lengan mendekat pada
garis tengah tubuh
. Lutut dan paha menekuk
. Kaki sedikit terputar keluar terhadap tungkai.

5. Lampiran :
6. Dokumen terkait :
7. Referensi :

SENDI
OTOT YG.AKTIF
DEVIASI GAIT
PENYEBAB
MUSKULER
KEMUNGKINAN
PENYEBAB LAIN.
Hip
Gluteus maximus /
hamstrings / adductor
magnus
Gluteus medius / tensor
fascialata : mengontrol
gaya hip adduksi.
Anterior pelvic
tilt
Badan condong
kebelakang
Hip extensor :
lemah

Knee

Ankle

SENDI
OTOT YG.AKTIF
DEVIASI GAIT
PENYEBAB
MUSKULER
KEMUNGKINAN
PENYEBAB LAIN.

SENDI
OTOT YG.AKTIF
DEVIASI GAIT
PENYEBAB
MUSKULER
KEMUNGKINAN
PENYEBAB LAIN.

SENDI
OTOT YG.AKTIF
DEVIASI GAIT
PENYEBAB
MUSKULER
KEMUNGKINAN
PENYEBAB LAIN.

SENDI
OTOT YG.AKTIF
DEVIASI GAIT
PENYEBAB
MUSKULER
KEMUNGKINAN
PENYEBAB LAIN.

D. Aplikasi Teknis/Teknologi : pemeriksaan dan pengukuran (24), terapi latihan,


elektroterapi, traksi, hidroterapi.
Isi SPO tingkat IV
IV. 1
.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 1 dari 3
Judul: Short Wave Diathermy
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO
INSTITUSI

I. PENGERTIAN

1.1 Short Wave Diathermy (SWD) atau Ultra Korte Golf (UKG) adalah alat terapi
yang menggunakan gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus
bolak balik frekuensi tinggi. Pemakaian SWD yang di perbolehkan adalah
frekuensi 13,66 MHz, 27,33 MHz dan 40,98 MHz dan panjang gelombang 7,5
m, 11 m dan 22 m. Namun dalam pengobatan frekuensi yang sering
digunakan adalah 27,33 MHz dengan panjang gelombang 11 m.
1.2 Indikasi
1.2.1 Beberapa jenis patologi seperti traumatologi dan rematologi dapat
dipercepat penyembuhan lukanya dengan pemberian SWD
intermittern.

1.2.2 Kelainan pada syaraf perifer, neuropathy, neuralgia.


1.2.3 Kondisi peradangan sub acut dan chronic menggunakan SWD
continued.
1.2.4 Nyeri musculosceletal.
1.2.5 Ketegangan, perlengketan, pemendekan otot dan jaringan lunak.
1.2.6 Persiapan latihan atau senam.

1.2.7 Gangguan pada sistem peredaran darah.


1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Logam dalam tubuh atau menempel pada kulit.
1.3.2 Alat-alat elektronik dalam tubuh seperti peace maker.
1.3.3 Gangguan peredaran darah.
1.3.4 Nilon dan bahan kain yang tidak menyerap keringat.
1.3.5 Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan seperti
1.3.6 Mata, testis, luka dan exim basah.
1.3.7 Gangguan sensibilitas. (Dosis harus 30 % lebih rendah).
1.3.8 Neuropathy yang diikuti gangguan trofik pada syaraf perifer,
Neuropathy akibat DM, Angiopathy dabetica.
1.3.9 Infeksi acut dan demam (panas lebih dari 37,50 C)
1.3.10 Setelah X ray.
1.3.11 Jaringan yang mitosisnya sangat cepat.
1.3.12 Menstrusi atau kehamilan untuk pengobatan daerah pelvic.
1.3.13 Faktor kalogenase

II. TUJUAN

Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan


modalitas Short Wave Diathermy.
III. PROSEDUR

3.1 Memulai Terapi


3.1.1 Pemanasan alat sekitar 5 menit.
3.1.2 Pilih elektrode dan metode yang akan digunakan
3.1.2.1 Through and through ( contra planar ) : area lokal dan
dalam.
3.1.2.2 Cross fire : area berongga.
3.1.2.3 Longitudinal/Co planar pada area dangkal, luas atau
memanjang.
3.1.2.4 Monopolar : area lokal dan dangkal
3.1.2.5 Cable methode : area silindris dan memanjang
3.1.3 Pemasangan electrode pada daerah vasomotor/proximal.

3.1.4 Pastikan mesin ke ground


3.1.5 Pasien diberitahu program pengobatan agar pasien paham program
terapi dan tidak takut
3.1.6 Jelaskan berapa waktu yang diperlukan, tujuan, indikasi serta kontra
indikasinya.
3.1.7 Posisi pasien comfortable
3.1.8 Pakaian dilepas seperlunya agar area yang diperiksa lebih jelas
3.1.9 Tes sensasi area yang diobati serta jelaskan rasa yang timbul untuk
mencegah terjadinya luka bakar
3.1.10 Dosis diberikan sesuai toleransi pasien.
3.1.10.1 Kondisi sub acut : intensitas sub thermal : Waktu 10-15
menit, pengulangan 1x sehari selama 10x
3.1.10.2 Kondisi chronic : Intensitas Thermal : Waktu 10-15 menit,
pengulangan 1-2x sehari selama 10x
3.1.10.3 Gangguan sistem peredaran darah. Intensitas, pengulangan
dan seri sama dengan kedua kondisi diatas. Waktu 15
menit.
3.1.11 Pastikan mesin dalam keadaan tuning
3.1.12 Kabel tidak boleh menyentuh pasien, bersilangan atau lecet.
3.1.13 Lakukan pengontrolan, rasa panas, nyeri pusing
3.2 Mengakhiri Terapi
3.2.1 Matikan mesin pastikan tombol kembali ke angka 0 atau mesin tetap
by stand).
hidup dengan dosis 0 (stand
3.2.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin, kecuali dalam keadaan
darurat
3.2.3 Perhatikan reaksi pasien dan kemungkinan efek samping yang
timbul.
3.2.4 Kembalikan peralatan seperti kondensor ke tempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT

4.1 KD-KL-002/Rev-02 : Petunjuk Umum Pelayanan Fisioterapi


4.2 KD-KL-003/Rev-02 : Etika Pelayanan fisioterapi
4.3 KD-KL-005/Rev-02 : Penjelasan Pelayanan Fisioterapi

V. LAMPIRAN

Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI

6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 173 dari 3
Judul: Micro Wave Diathermy
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO
INSTITUSI

I. PENGERTIAN
1.1 Micro Wave Diathermy (MWD) adalah Alat terapi yang menggunakan
gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus bolak balik frekuensi
tinggi dengan frekuensi 2450 MHz dengan panjang gelombang 12,25 cm.
1.2 Indikasi
1.2.1 Kelainan pada syaraf perifer, neuropathy, neuralgia.
1.2.2 Kondisi peradangan sub acut dan chronic .
1.2.3 Nyeri musculosceletal.
1.2.4 Ketegangan, perlengketan dan pemendekan otot dan jaringan
lunak.
1.2.5 Persiapan latihan atau senam.
1.2.6 Gangguan pada sistem peredaran darah.
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Logam dalam tubuh atau menempel pada kulit.
1.3.2 Alat-alat elektronik dalam tubuh seperti peace maker.
1.3.3 Gangguan peredaran darah.
1.3.4 Nilon dan bahan kain yang tidak menyerap keringat.
1.3.5 Jaringan dan organ yang mempunyai banyak cairan seperti
1.3.6 mata, testis, luka dan exim basah.
1.3.7 Gangguan sensibilitas. (Dosis harus 30 % lebih rendah).

1.3.8 Neuropathy yang diikuti gangguan trofik pada syaraf perifer,


1.3.9 Neuropathy akibat DM, Angiopathy dabetica.
1.3.10 Infeksi acut dan demam (panas lebih dari 37,50 C)
1.3.11 Setelah X ray.
1.3.12 Jaringan yang mitosisnya sangat cepat.
1.3.13 Menstrusi atau kehamilan untuk pengobatan daerah pelvic.
1.3.14 Faktor kalogenase

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan
modalitas Micro Wave Diathermy.

III. PROSEDUR
3.1 Memulai Terapi
3.1.1 Pemanasan alat sekitar 5 menit.
3.1.2 Emitter ( electrode ) yang telah di pilih dipasang pada lengan
emitter dan dihubungkan ke mesin dengan kabel emitter. Emitter
bulat ,medan elektromagnetik yang dipancarkan berbentuk sirkuler
dan paling padat di daerah tepi. Sedangkan emitter segi empat
medan elektromagnetik yang dipancarkan berbentuk oval dan
paling padat di daerah tengah.
3.1.3 Pemasangan electrode pada daerah vasomotor/proximal.
3.1.4 Pastikan mesin ke ground
3.1.5 Pasien diberitahu program pengobatan agar pasien paham program
terapi dan tidak takut
3.1.6 Jelaskan berapa waktu yang diperlukan, tujuan, indikasi serta
kontra indikasinya.
3.1.7 Posisi pasien comfortable
3.1.8 Pakaian dilepas seperlunya agar area yang diperiksa lebih jelas
3.1.9 Tes sensasi area yang diobati serta jelaskan rasa yang timbul untuk
mencegah terjadinya luka bakar
3.1.10 Putar waktu sesuai kebutuhan antara 10-15 menit
3.1.11 Dosis diberikan sesuai toleransi pasien.
3.1.11.1 Kondisi sub acut : intensitas sub thermal : Waktu 10-15
menit, pengulangan 1 x sehari selama 10x
3.1.11.2 Kondisi chronic : Intensitas Thermal : Waktu 10-15
menit, pengulangan 1-2 x sehari selama 10x
3.1.11.3 Gangguan sistem peredaran darah. Intensitas,
pengulangan dan seri sama dengan kedua kondisi diatas.
Waktu 15 menit.
3.1.12 Pastikan mesin dalam keadaan tuning
3.1.13 Emitter diatur sehingga sejajar kulit dan jarak sesuai ukuran
emitter.
3.1.14 Kabel tidak boleh menyentuh pasien, bersilangan atau lecet.
3.1.15 Lakukan pengontrolan, rasa panas, nyeri pusing

3.2 Mengakhiri Terapi


3.2.1 Matikan mesin pastikan tombol kembali ke angka 0 atau mesin
by stand).
tetap hidup dengan dosis 0 (stand
3.2.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin, kecuali dalam
keadaan darurat
3.2.3 Perhatikan reaksi pasien dan kemungkinan efek samping yang
timbul.
3.2.4 Kembalikan peralatan seperti kondensor ke tempat semula

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 176 dari 3
Judul: Terapi Ultrasonic
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Terapi Ultrasonic yaitu suatu usaha pengobatan dengan menggunakan
mekanisme getaran dengan frekuensi lebih dari 20 KHz. Didalam praktek
klinik frekuensi yang digunakan antara 0,7 MHz
3 MHz, dengan intensitas
1 3 w / cm2
1.2 Indikasi
1.2.1 Kelainan/penyakit pada jaringan tulang, sendi dan otot.
1.2.2 Keadaan post traumatik seperti kontusio, distorsi, luxation dan
fractur. Kontra indikasi relatif selama 24-36 jam setelah trauma.
1.2.3 Rheumatoid arthritis stadium tak aktif.
1.2.3.1 Arthritis
1.2.3.2 M. Becherev ( Local )
1.2.3.3 Bursitis, capsulitis, tendinitis
1.2.4 Kelainan/penyakit pada persyarafan
1.2.4.1 Neuropathie
1.2.4.2 Panthoom pain
1.2.4.3 H N P

1.2.5 Kelainan/penyakit pada sirkulasi darah


1.2.5.1 M. Raynould
1.2.5.2 M. Buerger
1.2.5.3 Sudeck dystrofie
1.2.5.4 Oedema
1.2.6 Penyakit pada organ dalam
1.2.7 Kelainan pada kulit
1.2.8 Jaringan parut setelah operasi
1.2.9 Jaringan parut karena traumatic
1.2.10 Dupuytren contracture
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Absolut.
1.3.1.1 Mata
1.3.1.2 Daerah jantung
1.3.1.3 Uterus pada wanita hamil

1.3.1.4 Epiphyseal plate


1.3.1.5 Testis
1.3.2 Relatif
1.3.2.1 Hilangnya sensibilitas
1.3.2.2 Endoprothese
1.3.2.3 Tumor
1.3.2.4 Post traumatik
1.3.2.5 Tromboplebitis dan varices
1.3.2.6 Septis
inflamation
1.3.2.7 Diabetis mellitus

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi
dengan modalitas ultra sonic.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan

3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk menemukan masalah dan


menentukan program agar arus Ultasonic tepat mencapai sasaran
3.1.2 Memberi penjelasan langkah terapi serta tujuannya agar pasien
tenang dan memahami program
3.1.3 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
3.1.4 Memilih Tranduser dinamis atau statis
3.1.5 Menentukan metode untuk mencegah luka bakar
3.1.5.1 Kontak langsung dengan medium oils (minyak), water oils
emulsions, aqueus-gel atau oinment (pasta)
3.1.5.2 Kontak tak langsung dengana Sub-aqual (dalam air) atau
Water pillow
3.1.6 Posisikan pasien comfortable
3.1.7 Area dibersihkan dengan sabun atau alcohol
3.1.8 Rambut yang terlalu lebat dicukur.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Terapis memperhatikan frekuensi, jenis arus dan intensitas agar
sasaran tepat
3.2.1.1 Intensitas

3.2.1.1.1
3.2.1.1.2
3.2.1.1.3
3.2.1.1.4
3.2.1.1.5

Rendah : 0,3 w/cm2


Sedang : 0,3 - 1,2 w/cm2
Tinggi : 1,2 - 3 w/cm2
Continued : Paling tinggi 3 w/cm2
Intermittern : Paling tinggi 5 w/cm2

3.2.2 Lamanya terapi, tergantung luas area yang diterapi dan jenis
tranduser yang dipakai. Sebagai pedoman, area seluas 1cm2 waktu
1 menit

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 179 dari 2
Judul: Interferential therapy
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Interferential therapy adalah suatu metode pengobatan fisioterapi
dengan menggunakan penggabungan dua arus bolak-balik yang
berfrekuensi menengah yang saling berinterferensi (4000 dan 4250)
sehingga menghasilkan frekuensi baru.
1.2 Indikasi
1.2.1 Keluhan nyeri otot,tendon, ligamen, kapsul, syaraf.
1.2.2 Keadaan hipertonus /spasme otot.
1.2.3 Kelemahan otot.
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Demam.
1.3.2 Tumor.
1.3.3 Tuberculosis.

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi
dengan modalitas interferntial therapy.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah
dan menentukan program sehingga agar Interferntial therapy lebih
mencapai sasaran
3.1.2 Memberi penjelasan langkah terapi serta tujuannya agar pasien
tenang dan memahami program
3.1.3 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
3.1.4 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.5 Memilih elektrode dan metode yang digunakan.

Trigger point dengan Elektrode besar (Pasif) atau kecil ( Aktif )

3.1.5.1
3.1.5.2
3.1.5.3
3.1.5.4
3.1.5.5

Nerve treatment
Ganglion treatment
Paravertebra treatment
Segmental treatment
Transregional

3.1.6 Celupkan ped dengan air hangat, agar pasien tidak terkejut
3.1.7 Posisi pasien seenak mungkin.
3.1.8 Pakaian dilepas seperlunya. Jelaskan bahwa yang dirasakan sedikit
sakit tapi tidak perih bila dirasakan perih dikhawatirkan terjadi
luka bakar.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh.
3.2.2 Putar waktu 10
15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan
apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.3 Dosis
3.3.1 Intensitas :Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera.
3.3.2 Lamanya terapi :10-15 menit. Bila ada titik nyeri dapat diberikan
per titik selama 5 menit.
3.3.3 Frekuensi 2000 Hz akan menghasilkan aktifitas motorik , arus yang
akan dihasilkan terasa kasar.
3.3.4 Frekuensi 4000Hz tidak menghasilkan aktifitas motorik dan terasa
halus sehingga cocok untuk mengurangi nyeri.
3.3.5 Pengulangan therapy untuk dosis rendah dilakukan setiap hari,
sedangkan untuk dosis tinggi 2 hari sekali.
3.4 Mengakhiri Terapi
3.4.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0.
3.4.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin sendiri atau langsung
bangun setelah terapi selesai.
3.4.3 Beri tissue bila terapi selesai agar pasien dapat membersihkan
3.4.4 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang mungkin timbul.
3.4.5 Kembalikan peralatan serta perlengkapannya ke posisi semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 181 dari 2
Judul: Arus faradic
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Arus faradic adalah arus bolak balik yang tidak simetris yang mempunyai
durasi 0,01
1 msc dengan frekuensi 50
100 cy / detik.
1.2 Indikasi
1.2.1 LMN Lession dengan nilai otot di bawah tiga.
1.2.2 post trauma atau operasi setelah konductivitas membaik.
1.2.3 Kelemahan otot karena penyakit atau disuse atropy dengan nilai
otot di bawah tiga.
1.2.4 Otot yang tidak mampu berkontraksi karena nyeri misalnya setelah
trauma.
1.2.5 Tiga minggu setelah tendo transfer
1.2.6 Adanya pembengkakan lokal /setempat pada anggota.
1.2.7 Otot yang memendek atau berlengketan ( contractur ).
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Setelah operasi / trauma pada urat syaraf yang konductivitasnya
belum membaik.
1.3.2 LMN lession yang masih nyeri sekali.
1.3.3 LMN complete lession.
1.3.4 Panas tinggi diatas 37.50 C.

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan
modalitas arus faradic.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan
menentukan program sehingga modalitas arus faradic lebih
mencapai sasaran.
3.1.2 Memberi penjelasan terapi misalnya merasakan sedikit sakit tapi
tidak perih. Kalau perih dikawatirkan dapat menimbulkan luka
bakar.
3.1.3 Serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program

3.1.4 Menentukan area terapi yang Tepat agar terapi efektif


3.1.5 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.6 Memilih elektrode dan metode yang digunakan.
3.1.6.1 Stimulasi motor unit
3.1.6.2 Stimulasi secara group
3.1.6.3 Labile treatment
3.1.6.4 Nerve conduction
3.1.6.5 Bath treatment : Bipolar atau Monopolar
3.1.7 Celupkan ped dengan air hangat, agar pasien tidak terkejut
3.1.8 Posisi pasien seenak mungkin.
3.1.9 Area yang akan di terapi terbuka seperlunya dan otot yang akan
distimulasi dalam keadaan memendek / relax.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh.
3.2.2 Putar waktu 10
15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan
apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.2.4 Dosis
3.2.4.1 Intensitas : Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera.

Intensitas : 2

60 m A, Durasi arus 0,01msc.

3.2.4.2 Waktu : Tiapsatu otot perlu 30-90 kali rangsangan


dalam waktu 1-3 menit.
3.2.4.3 Pengulangan : 1 kali sehari bila otot telah mencapai nilai
2 + cukup 1 kali selama 10 kali.

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0.
3.3.2 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang timbul.
3.3.3 Kembalikan peralatan ke tempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada.

V. LAMPIRAN
Tidak ada.
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 183 dari 2
Judul: Arus Galfanic
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Arus galvanic adalah arus searah terputus
putus yang telah modifikasi
dengan frekuensi dan durasi tertentu yang bentuk pemutusannya dapat
berupa trianguler, rekta anguler, trapezoid, saw tooth dan depolarized.
1.2 Indikasi
1.2.1
LMN lession
baru yang masih disertai keluhan nyeri.
1.2.2 Post trauma atau operasi urat syaraf yang konductivitasnya belum
membaik.
1.2.3 LMN Lession
kronik yang sudah denervated muscle.
1.2.4 Keluhan nyeri pada otot sebagai counter iritation atau awal dari
suatu latihan ( Preliminary exercise ).
1.2.5 Peradangan sendi : Osteo arthritis, Rheumatoid arthritis, tenis
elbow, dll.
1.2.6 Lokal oedem melewati 10 hari.
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Setelah operasi tendon transfer sebelum 3 minggu.
1.3.2 Ruptur tendon / otot sebelum terjadinya penyambungan.
1.3.3 Kondisi peradangan akut atau pasien panas tinggi diatas 37,50 C.
1.3.4 Lokasi kulit yang anaesthesia.
1.3.5 Lokasi kulit yang luka / kerusakan.
1.3.6 Lokasi kulit yang hiper sensitif.

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis dalam memberikan pelayanan dengan
modalitas arus galvanic.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assessment untuk mendapatkan masalah
dan menentukan program agar penggunaan arus galfanic lebih
mencapai sasaran

3.1.2 Memberi penjelasan terapi misalnya merasakan sedikit sakit tapi


tidak perih. Kalau perih dikawatirkan dapat menimbulkan luka
bakar.
3.1.3 Serta tujuannya agar pasien tenang dan memahami program
3.1.4 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
3.1.5 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.6 Pilih elektrode dan metode yang digunakan Elektrode (+) berupa
ped pada origo dan electrode (-) berupa button pada insersio.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasang ped sesuai metode yang dipilh.
3.2.2 Putar waktu 10
15 menit sesuai kebutuhan.
3.2.3 Intensitas diberikan sesuai toleransi pasien. Lakukan pengontrolan
apakah terdapat keluhan pasien atau control keadaan mesin.
3.2.4 Dosis
3.2.1.1 Intensitas : Berdasarkan stadium,jenis dan sifat cidera.

Intensitas : 2-60 m A, Durasi arus 0,01msc.


3.2.1.2 Waktu : Tiap satu otot perlu 30-90 kali rangsangan
dalam waktu 1-3 menit.
3.2.1.3 Pengulangan :1 kal sehari bila otot telah mencapai nilai 2
+ cukup 1 kali selama 10 kali.

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke angka 0.
3.3.2 Perhatikan reaksi pasien dan efek samping yang timbul.
3.3.3 Kembalikan peralatan ke tempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 185 dari 2
Judul: Sinar infra merah
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan
panjang gelombang 7.700
4 juta A.
1.2 Klasifikasi :
1.2.1 Berdasarkan panjang gelombang
1.2.1.1 Gelombang panjang (non penetrating)

Panjang gelombang : 12.000 A 150.000 A


Daya penetrasi : 0,5 mm (superficial epidermis)
1.2.1.2 Gelombang pendek (penetrating)

Panjang gelombang : 7.700 A


12.000 A
Daya penetrasi : jaringan sub cutan, pembuluh darah
kapiler, pembuluh limfe, ujung ujung syaraf dan jaringan
di bawah kulit
1.2.2 Berdasarkan type
1.2.2.1 Type A : Panjang gelombang 780
1500 mm, penetrasi
dalam.
1.2.2.2 Type B : Panjang gelombang 1500
3000 mm, penetrasi
dangkal.
1.2.2.3 Type C : Panjang gelombang 3000 10.000 mm, penetrasi
dangkal

1.3 Indikasi
1.3.1 Kondisi peradangan setelah sub-acut : kontusio, muscle strain,
trauma sinovitis.
1.3.2 Arthritis :RA, OA, myalgia, lumbago, neuralgia, neuritis.
1.3.3 Gangguan sirkulasi darah : thrombo plebitis, thrombo angitis
obliterans, raynold s desease.

1.3.4 Penyakit kulit : Folliculitis, Furuncolosi.


1.3.5 Persiapan exercise dan massage.
1.4 Kontra Indikasi
1.4.1 Daerah dengan insufisiensi pada darah.
1.4.2 Gangguan sensibelitas kulit.
1.4.3 Kecenderungan pendarahan.

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi
dengan modalitas sinar infra merah.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Persiapan alat seperti jenis lampu, besarnya watt.
3.1.2 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.3 Untuk mencegah luka bakar maka daerah yang akan dilakukan
penyinaran perlu ditest sensasi panas, dingin.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Untuk penyinaran lokal menggunakan reflektor berbentuk
parabola.
3.2.2 Penyinaran general (misalnya punggung) menggunakan lampu
yang dipasang pada reflektor semi sirkuler.
3.2.3 Pasien diposisikan seenak mungkin.
3.2.4 Posisi bisa duduk, terlentang atau tengkurap.
3.2.5 Agar penetrasi lebih dalam daerah yang akan disinar sebaiknya
dibersihkan dengan sabun dan dikeringkan dengan handuk.
3.2.6 Lampu dipasang tegak lurus.
3.2.7 Dosis
3.2.8 Pada penggunaan lampu non-luminius jarak lampu antara 45-60
cm, waktu 10-30 menit.
3.2.9 Lampu luminius 35-45 cm, waktu 10-30 menit.
3.2.10 Pengulangan 1 kali dalam sehari, 1 seri 10 kali.

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol dalam keadaan nol.
3.3.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin atau bangun sendiri.
3.3.3 Memperhatikan pasien dan kemungkinan efek samping.
3.3.4 Kembalikan peralatan ketempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI.
6.1
6.2
6.3

DAFTAR DISTRIBUSI
Direksi
Manajer Klinik
Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 188 dari 3

Judul: Sinar Ultra Violet


Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Ultra Violet Radiation adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang
mempunyai panjang gelombang 100 nm hingga 380 nm.
1.2 Klasifikasi :
1.2.1 Berdasarkan panjang gelombangnya dapat dibagi dua yaitu :
1.2.1.1 Ultra Violet Gelombang panjang : 290 nm - 380 nm
1.2.1.2 1.2.1.2 Ultra Violet Gelombang pendek : 100 nm - 290 nm
1.2.2 Berdasarkan type ( jenisnya
1.2.2.1 Ultra Violet type A : 315
1.2.2.2 Ultra Violet type B : 280
1.2.2.3 Ultra Violet type C : 100

) dapat dibagi tiga yaitu :


nm
380 nm
nm 315 nm
nm 280 nm

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi
dengan modalitas sinar ultra violet.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Pemilihan alat dan pengaturan jarak disesuaikan dengan alat yang
digunakan dan tehnik aplikasi serta efek yang dikehendaki.
3.1.2 Pemanasan alat 5 menit.
3.1.3 Untuk mencegah luka bakar maka daerah yang akan dilakukan
penyinaran perlu ditest sensasi panas, dingin.
3.1.4 Persiapan pasien disesuaikan dengan jenis alat yang digunakan,
tehnik aplikasi, kebutuhan
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Pasien diposisikan seenak mungkin.
3.2.2 Posisi bisa duduk, terlentang atau tengkurap.

3.2.3 Daerah yang akan disinar sebaiknya dibersihkan dengan sabun dan
dikeringkan dengan handuk.
3.2.4 Lampu dipasang tegak lurus.
3.2.5 Mata pasien ditutup dengan memakai kacamata.untu mencegah
masuknya sinar ultraviolet
3.2.6 Bagian tubuh lain yang tidak di sinar harus ditutup supaya tidak
3.2.7 terkena sinar.
3.2.8 Penyinaran harus tegak lurus dengan jarak 90 cm agar sinar dapat
merata dan mengenai sasaran dengan tepat.
3.2.9 Lakukan tes dosis sebelum memberikan terapi pertama kali untuk
menentukan erithema.
3.2.10 Supaya terlindungi, tes biasanya di daerah samping dada / perut /
lengan bawah bagian medial.
3.2.11 Buatkan lubang-lubang (4 lubang) dari kertas gelap dan
ditempatkan didaerah yang dites.
3.2.12 Lubang pertama dibuka dan disinar selama 30 detik, sedangkan
lubang lain ditutup.
3.2.13 Penyinaran tetap dilanjutkan dengan membuka lubang lainnya satu
per satu setiap 30 detik.
3.2.14 Dosis
3.2.1.1 Stootkuure ( E 2 )

Lama terapi : 14
16 kali
Dosis : Diawali dengan E 2, kemudian untuk
terapi berikutnya dinaikan 2/3 kali terapi sebelumnya.
Frekuensi : 2
3 kali per minggu.
3.2.1.2
3.2.1.3
3.2.1.4
3.2.1.5

Lepskykuur ( E 3 )
Lama terapi : Hingga keluhan hilang.
Dosis : E 3
Frekuensi : 3
4 kali per hari.

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Matikan mesin, pastikan tombol dalam keadaan nol.
3.3.2 Tidak membiarkan pasien mematikan mesin atau bangun sendiri.
3.3.3 Memperhatikan pasien dan kemungkinan efek samping.
3.3.4 Setelah terapi perhatikan daerah sekitarnya apakah terkena
penyinaran.
3.3.5 Beritahukan pada pasien untuk menentukan dosis tidak boleh
membasuh bagian yang disinar.
3.3.6 Kembalikan peralatan ketempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 191 dari 3
Judul: Traksi Cervical
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Traksi cervical adalah suatu metode pengobatan fisioterapi dengan
menggunakan suatu tehnik penarikan collumna vertebralis untuk daerah
cervical.
1.2 Type
1.2.1 Static atau konstan

Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf akut


1.2.2 Intermittent

Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf kronik


1.3 Model Aplikasi
1.3.1 Mekanik
1.3.2 Manual
1.3.3 Posisional
1.4 Indikasi
1.4.1 Penekanan pada akar syaraf spinal seperti pada kasus : HNP,
spondylosis
1.4.2 Hipomobilitas pada sendi atau proses degenerasi
1.4.3 Nyeri sendi yang disebabkan adanya gangguan pada vase joint
1.4.4 Spasme otot
1.4.5 Meniscoid blocking
1.4.6 Nyeri disckogenik
1.5 Kontra Indikasi
1.5.1 Akut strain, sprain dan kondisi peradangan atau beberapa kondisi
apabila diberikan traksi nyeri meningkat
1.5.2 Spinal hipermobility
1.5.3 RA
1.5.4 Spinal malignancy, osteoporosis, tumor atau infeksi
1.5.5 Hipertensi yang tidak terkontrol, aortic aneurysm dan penyakit
cardovaskuler
1.5.6 Beberapa kondisi spinal atau proses penyakit yang dengan gerakan
merupakan kontra indikasi seperti : frakture

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk
memberikan pelayanan fisioterapi dengan modalitas traksi cervical
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Lakukan test traksi pada pasien. Bila nyeri bertambah maka
pemberian traksi ditangguhkan.
3.1.2 Ukur tensi, poles,berat badan Untuk melihat kondisi pasien
3.1.3 Tentukan beban tarikan
3.1.4 Bagi pasien yang menggunakan gigi palsu dan kaca mata harap
dilepas untuk mencegah rasa nyeri akibat tekanan gigi palsu dan
tidak enak padadaerah pipi
3.1.5 Atur posisi pasien, tidur terlentang di bed traksi dengan bantal di
bawah kepala
3.1.5.1 Untuk indikasi vertebrae posisi flexi Kepala 200 30 0
3.1.5.2 Untuk indikasi muscle posisi kepala Netral.
3.1.6 Untuk memperoleh hasil pada satu sisi saja maka posisi badan
sedikit miring dengan daerah dada disangga belt.
3.1.7 Pasang cervical belt dengan tepat, tidak mencekik dan tidak terlalu
longgar di bawah dagu dan bagian belakang pada occiput
3.1.8 Agar terkesan Hygienis maka dipasangkan tissue dibawah dagu

dan atau rambut


3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Agar tarikan maximal, selama traksi pasien harus tenang.
3.2.2 Tidak boleh menoleh kekiri atau kekanan
3.2.3 Tidak boleh bicara
3.2.4 Tidak meninggalkan pasien sebelum pasien merasa tarikan sudah
enak
3.2.5 Tunjukakan cara penggunaan tombol penghentian traksi untuk
keadaan darurat
3.2.6 Melakukan pengontrolan secara periodik saat berlangsungnya
traksi untuk melihat apakah pasien pusing, mual, sesak sehingga
traksi perlu dihentikan
3.3 Dosis
3.3.1 Beban tarikan : 1/7 1/5 berat badan
3.3.2 Waktu : 10 15 menit
3.3.3 Pengulangan : Akut : 1 kali dalam sehari
3.3.4 Membaik : 1 kali dalam 1
2 hari
3.3.5 Seri : 1 seri : 10 kali

3.4 Mengakhiri Terapi

Setelah selesai penarikan,traksi dilepas


3.4.1 Agar tidak pusing, pasien disarankan istirahat selama 1
bed traksi.
3.4.2 Kembalikan peralatan ketempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

2 menit di

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 194 dari 2
Judul: Traksi Lumbal
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Traksi Lumbal adalah suatu metode pengobatan fisioterapi dengan
menggunakan suatu tehnik penarikan untuk daerah lumbal
1.2 Type
1.2.1 Statik atau konstan

Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf akut


1.2.2 Intermittent

Diterapkan pada kondisi penekanan syaraf kronik


1.3 Model Aplikasi

1.3.1 Mekanik
1.3.2 Manual
1.3.3 Posisional
1.4 Indikasi
1.4.1 Penekanan radix nervus spinalis lumbalis
1.4.2 Proses degenerasi discus intervertebralis lumbalis.
1.4.3 Proses calsificasi tendon, otot, ligamentum dan discus
intervertebralis lumbalis
1.4.4 Dislokasi ringan vertebrae lumbalis
1.4.5 Pembengkokan struktur vertebrae
1.5 Kontra Indikasi
1.5.1 Proses degeratif aktif yang melibatkan medula spinalis
1.5.2 Proses porose vertebrae dan costae, spinabifida occulta, hemi
vertebrae
1.5.3 Gangguan sistem vascularisasi intervertebrae lumbalis
1.5.4 Infeksi akut dan kronik vertebrae, ligamentum, otot dan syaraf.
1.5.5 Nyeri akut lokasi vertebrae lumbalis
1.5.6 Tanda-tanda keganasan masing-masing lokasi vertebrae.
1.5.7 Strain, sprain otot, tendon, ligamentum dan fractur vertebrae
lumbalis.
1.5.8 Kehamilan melibihi 4 bulan
1.5.9 Gangguan sistem traktus urinarius

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk memberikan
pelayanan fisioterapi dengan modalitas traksi Lumbal
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Ukur tensi, nadi, berat badan untuk melihat kondisi pasien
3.1.2 Atur posisi pasien, tidur terlentang di bed traksi dengan bantal di
bawah kepala dan tungkai tersangga diatas stool, posisi hip flexi 30450
3.1.3 Pasang lumbal belt dengan tepat, tidak tertekan dan tidak terlalu
longgar di atas SIAS .
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Agar tarikan maximal, selama traksi pasien harus tenang.
3.2.2 Tidak meninggalkan pasien sebelum pasien merasa tarikan sudah
enak
3.2.3 Tunjukakan cara penggunaan tombol penghentian traksi Untuk
keadaan darurat
3.2.4 Melakukan pengontrolan secara periodik saat berlangsungnya
traksi untuk melihat apakah pasien pusing, mual, sesak sehingga
traksi perlu dihentikan
3.2.5 Dosis
3.2.5.1 Beban tarikan : Mulai dari berat badan
30 Menit
3.2.5.2 Waktu : 15
3.2.5.3 Pengulangan : Akut 1 kali dalam sehari

Membaik 1 kali dalam 1-2 hari


3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Setelah selesai penarikan, traksi dilepas
3.3.2 Pasien disarankan istirahat selama 1-2 menit di bed traksi agar
tidak pusing

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada

V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 196 dari 2
Judul: Terapi inhalasi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Terapi inhalasi adalah suatu cara pemberian obat-obatan dengan
penghirupan, setelah obat-obat tersebut berubah menjadi partikel-partikel
melalui cara aerosol, humidifikasi dan lain-lain.
1.2 Indikasi
1.2.1 Penyakit saluran napas bagian atas, akut maupun kronis seperti:
1.2.2 Rhinopharyngitis Sicca, Laryngitis Sicca
1.2.3 Acut Rhinopharyngitis, Laryngitis.
1.2.4 Rhenitis Allergica
1.2.5 Sinusitis
1.2.6 Penyakit saluran napas bagian bawah, akut maupun kronik.
1.2.6.1 Asthma Bronchiale
1.2.6.2 Bronchitis
1.2.6.3 Bronchiectasis
1.2.6.4 Bronchopneumonia
1.2.6.5 Atelectasis
1.2.7 Penyakit jaringan paru
1.2.7.1 Emphysema

1.2.8 Gangguan saluran napas allergika


1.2.9 Bayi-bayi dengan secret berlebihan

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk dan menyeragamkan cara kerja fisioterapis untuk memberikan
pelayanan fisioterapi dengan modalitas terapi inhalasi
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Pemanasan alat sekitar 5 menit dan mengerti cara
cara
penggunaannya.
3.1.2 Untuk mencegah kontaminasi maka udara ruangan harus bersih,
segar dan memiliki ventilasi yang baik.
3.1.3 Persiapkan mouth piece dan masker
3.1.4 Agar anak
anak tidak takut harus dengan pendekatan
sebelumnya.

3.1.5 Posisi pasien comfortable


3.1.6 Pasien diberitahu program pengobatan, berapa waktu yang
dibutuhkan, tujuan serta kontra indikasinya. Agar pasien mengerti
dan tidak takut
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Untuk mengurangi sesak napas akibat bronchial obstruksi terlebih
dahulu diberikan bronchodilatator.
3.2.2 Untuk Agar mempercepat pengeluaran sekret , secret yang keluar
dianjurkan tidak ditelan kembali
3.2.3 Bila perlu dapat dilakukan suction Supaya secret lebih banyak
keluar terutama untuk pasien yang mengalami kesulitan
mengeluarkan secret.
3.2.4 Oksigen diberikan pada pasien yang terlihat sesak atau cyanosis,
pertusis, biru dan lain-lain.

3.3 Dosis
3.3.1 Jenis dan jumlah obat tergantung Dokter pengirim.
3.3.2 Waktu : Anak anak 10
15 menit

: Dewasa 15

20 menit

3.3.3 Pengulangan Tergantung Dokter pengirim.

Untuk kondisi Acut :1-3 kali sehari


Untuk kondisi Kronik sekali sehari
3.3.4 1 Seri : 6

10 kali

3.4 Mengakhiri Terapi.


3.4.1 Matikan mesin, pastikan tombol kembali ke posisi angka 0
3.4.2 Tidak membiarkan pasien memegang masker/mouth piece kecuali
dalam keadaan darurat.
3.4.3 Setelah terapi inhalasi selesai dilanjutkan dengan chest therapy

agar secret lebih banyak keluar dan expansi thorax lebih baik.
3.4.4 Untuk mencegah kontaminasi maka peralatan dibersihkan
kemudian di sterilkan.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 198 dari 3
Judul: Farafin bath / wax bath
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO

I. PENGERTIAN
1.1 Parafin bath/wax bath adalah suatu pengobatan dengan menggunakan
farafin.yang telah dicairkan
1.2 Indikasi
1.2.1 Skin contractur
1.2.2 Stiff Joint
1.2.3 Penyakit degenerasi sendi dengan inflamasi akut dari nodus
heberden s
1.2.4 Scleroderma
1.2.5 Stadium awal dupuytren contracture
1.2.6 Post trauma tangan dengan skin contractur
1.2.7 Rheumatoid arthritis jari-jari.
1.3 Kontra Indikasi
1.2.8 Luka terbuka
1.2.9 Penyakit kulit menular
1.2.10 Penyakit kulit tidak menular
1.2.11 Trauma tangan yang parah (Multilating injuries)
1.2.12 Gangguan sensasi kulit (relatif)
1.2.13 Anggota yang menggunakan internal fixasi (relatif)

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan pelayanan fisioterapi
dengan modalitas farafin bath / wax bath.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Siapkan parafin padat tujuh bagian atau empat karton Paraffin
3.1.2 Parafin minyak satu bagian atau sepuluh ons baby oil
3.1.3 Campurkan kedua bahan tersebut sehingga lebur menjadi satu
cairan dengan temperatur tidak lebih dari 1100
1300 F atau ( 510
- 540 C) dalam satu tempat yang kemudian dipanaskan diatas air
yang mendidih ( double boiler ).

3.1.4 Siapkan handuk tebal, kertas Parafin dan termometer lilin


(candy thermometer) untuk membungkus parafin dan
mengukur suhu.
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Periksa jari-jari tangan dan pergelangan tangan yang akan diobati
untuk mengetahui sensibilas kulit dar ruang gerak sendi, meliputi :
3.2.1.1 Sensibelitas kulit,
3.2.1.2 ROM jari dan tangan
3.2.1.3 Perhatikan luka terbuka
3.2.2 Bersihkan dan keringkan Keringat
3.2.3 Lepaskan perhiasan yang melekat aggota yang diobati, supaya tidak
konsentrasi panas
3.2.4 Dosis
3.2.4.1 Waktu : 15 - 30 menit
3.2.4.2 Pengulangan : 1
2 kali / hari
3.2.4.3 Seri : 1 Seri 10 kali
3.2.5 Metode
3.2.5.1 Parafin Dip : Dengan cara mencelupkan anggota yang
diobati dan kemudian mengangkatnya secara bergantian.
3.2.5.2 Parafin Immersion : Dengan cara merendam anggota yang
3.2.5.3 diobati.
3.2.5.4 Parafin Painting : Dengan cara memulaskan parafin pada
bagian tubuh yang diobati.
3.2.5.5 Parafin Warp : Dengan cara memulaskan parafin yang
diseling dengan melapiskan gass verban diatasnya secara
bergantian pada daerah yang diobati.
3.2.5.6 Parafin Pouring : Dengan menuang parafin cair pada tubuh
yang diobati.
3.2.6 Untuk mendapatkan efek streching dan pemanasan,celupakan
anggota tubuh yang diobati kedalam bak parafin,setelah pasien
dipersiapkan dengan baik. Apabila anggota yang dicelupkan
kontraktur, diusahakan posisi peregangan kearah yang diharapkan
sebelum dicelupkan kedalam bak sampai 6-12 kali celupan atau
hingga ketebalan inchi. Pada akhir pengobatan segera angkat
dan bungkus dengan kertas parafin, kemudian ditambah satu lapis
handuk tebal untuk mempertahankan temperatur parafin.
Pertahankan pembungkusan itu selama 10 20 menit , selanjutnya
setelah waktu terlampaui lepaskan parafin yang biasanya mengeras
dengan cara mengerakkan anggota tersebut hingga parafin terlepas
. Setelah itu berikan massage dan latihan penambahan ruang gerak
sendi.
3.2.7 Untuk parafin immersion, perendaman anggota tubuh dilakukan
dengan 2 cara :
3.2.7.1 Melanjutkan parafin dip, dimana setelah lapisan
lapisan
parafin yang melekat telah mengeras, segera masukkan
kembali kedalam bak parafin dan biarkan terendam
selama 20-30 menit sampai parafin yang ada di kulit
meleleh kembali.
3.2.7.2 Atau membungkus terlebih dahulu sendi yang
mengalami kontraktur dalam posisi peregangan

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Bersihkan area yang diobati
3.3.2 Perhatikan warna kulit
3.3.3 Kembalikan alat ketempat semula

IV. DOKUMEN TERKAIT


V. Tidak ada

VI. LAMPIRAN
Tidak ada
VII. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 201 dari 2
Judul: Massage
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
1.1 Massage adalah salah satu bentuk modalitas fisioterapi dengan
menggunakan tehnik pemijatan berupa gerusan melintang, tepukan,
dorongan, ataupun tekanan pada jaringan lunak dengan tujuan untuk
memperlancar sirkulasi darah, meningkatkan metabolisme tubuh, relaksasi
dan untuk mengurangi nyeri.
1.2 Indikasi
1.2.1 Kondisi post trauma atau operasi sub acut dan kronik pada sisitem
musculosceletal.
1.2.2 Kondisi kekakuan sendi serta pengerasan, ketegangan,
peerlengketan dan pemendekan jaringan otot dan jaringan lain.
1.2.3 Keluhan nyeri, penekanan / penjepitan syaraf dan kelumpuhan
syaraf.
1.2.4 Kondisi kurang lancarnya peredaran darah dan limfe.
1.2.5 Kondisi kurang lancarnya pengeluaran sekresi pada saluran
pencernaan.
1.2.6 Kondisi kurang lancarnya pencernaan dan pembuangan.
1.3 Kontra Indikasi
1.3.1 Peradangan akut, trauma dan setelah operasi yang baru.
1.3.2 Kulit yang terluka.
1.3.3 Cidera musculosceletal ( fraktur, ruptur ) yang belum direposisi
atau belum pulih secara baik dan kuat.
1.3.4 Lokasi yang mengalami tanda
tanda keganasan.

1.3.5 Panas tinggi.


1.3.6 Kelainan jantung dan adanya haemoptoe ( tidak boleh dilakukan
tapotemen daerah thorax )
1.3.7 Lokasi varices.
1.3.8 Daerah perut pada penderita dengan haematemesis.
1.3.9 Daerah perut pada wanita hamil atau haid.

II. TUJUAN
Sebagai petunjuk bagi fisioterapis untuk memberikan terapi dengan Massage.
III. PROSEDUR
3.1 Persiapan
3.1.1 Terapis melaksanakan assesment untuk mendapatkan masalah dan
menentukan program sehingga pelaksanaan lebih mencapai
sasaran
3.1.2 Menentukan area terapi yang tepat agar terapi efektif
3.1.3 Pasien berbaring di di bed atau duduk di kursi dengan rilek.
3.1.4 Anggota yang akan di terapi bebas dari pakaian, disangga dengan
bantal, sedangkan bagian yang tidak diterapi ditutup dengan
handuk.
3.1.5 Fisioterapis berdiri di samping bed / pasien
3.1.6 Untuk memudahkan massage dapat di tambahkan bahan pelicin
seperti salep, minyak atau bedak.

3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Tehnik massage
3.2.1.1 Effleurage :

untuk memperlancar aliran darah dan limfe


3.2.1.2 Friction :

Menghancurkan perlengketan/ pengerasan jaringan lunak


dan blokir nyeri diberikan pada akar
akar syaraf atau
pada titik nyeri.
3.2.1.3 Petrissage :

Terdiri dari kneading, wringing dan picking up.


Berfungsi melemaskan dan mengulur otot / jaringan
lunak, melancarkan peredaran darah di bagian yang lebih
dalam dan metabolisme setempat. Membantu gerak
pencernaan usus.
3.2.1.4 Tapotament :

Terdiri dari hacking, clapping, beating dan pounding.


Berguna untuk memberikan rangsangan / pacuan pada
syaraf dan otot.
3.2.1.5 Bila dilakukan di daearah thorax bertujuan memperlancar
gerak pencernaan dan pembuangan.
3.2.1.6 Waktu pelaksanaan sangat tergantung dari luasnya bagian
yang diterapi, tebalnya jaringan tubuh dan tujuan terapi.
3.2.1.7 Kecepatan gerakan massage tegantung tujuannya. Gerakan
yang cepat akan memacu sedangkan massage yang lambat
sebagai efek penenang.
3.2.2 Dosis

Waktu : 5
15 menit
Pengulangan : Sub akut dan kondisi berat 1 kali / hari
Kronik dan kondisi ringan 1 kali
Seri : 1 seri 10 kali.

3.3 Mengakhiri Terapi


3.3.1 Bersihkan area yang diterapi.
3.3.2 Kembalikan peralatan ke tempat semula.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

RS

..

FISIOTERAPI PADA TEMPOROMANDIBULAR (TMJ) DISC DYSFUNCTION


SYNDROME
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Temporomandibular Disc
Dysfunction Syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Temporomandibular Disc
Dysfunction Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Temporomandibular Disc Dysfunction
Syndrome

Kontraindikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Tristmus
Acute joint pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada TMJ hingga migrain
- Nyeri dan clicking saat mastikasi
- Mengunci bila depressi penuh
Inspeksi:
- Tidak khas.
Tes cepat
- Gerak elevasi-depresi bunyi dengan pola gerak

atau S

Tes gerak pasif


- Gerak depresi nyeri dan bunyi klik
- Gerak lateral deviasi unilateral nyeri dan bunyi

klik

Tes gerak isometric


- Kadang nyeri
Tes khusus
- Palpasi teraba otot masseter/temporales/pterigoideus nyeri
- Compression test nyeri
- Traction test kecaudal keluhan berkurang
Pemriksaan lain
- X

ray panorama untuk melihat susunan gigi, TMJ tidak tampak kelainan

Diagnosis
- Nyeri TMJ-migrain akibat TMJ disc dysfunction

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- MWD diatas temporomandibular
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Caudal traction mandibulae
o Traksi static dan osilasi 5-10 menit
- Roll slide mobilization TMJ.
- Anjuran Mastikasi dengan rahang sisi sehat
- Koreksi gigi

Evaluasi
Nyeri, dan penguncian
Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
MWD,
Joint mobilization

RS

..

FISIOTERAPI PADA TEMPOROMANDIBULAR (TMJ) INTERNAL


DERANGEMENT
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Temporomandibular Internal
Derangement
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Lumbar disc bulging/HNP
- Intervensi fisioterapi pada Lumbar disc bulging/HNP

Kontra indikasi :
- Acute joint pain
- Tristmus

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada TMJ disertai kaku hingga migrain
- Nyeri dan terbatas saat buka mulut
Inspeksi
- Depresi terbatas atau dalam pola
Tes cepat

- Gerak elevasi-depresi bunyi dengan pola gerak

Tes gerak pasif


- Gerak depresi nyeri dan terbatas unilateral
- Gerak lateral deviasi unilateral nyeri dan terbatas
Tes gerak isometric
- Kadang nyeri
Tes khusus
- Palpasi teraba otot masseter/temporales/pterigoideus nyeri
- Compression test nyeri
- Traction test kecaudal keluhan berkurang
Pemriksaan lain
- X

ray terdapat gambaran arthrosis

Diagnosis
- Nyeri TMJ-migrain akibat TMJ internal derangement

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- MWD diatas temporomandibular
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Caudal traction mandibulae
o Traksi static dan osilasi 5-10 menit
- Latihan mobilisasi dan peningkatan ROM depressi
- Anjuran Mastikasi dengan rahang sisi sehat

Evaluasi
Nyeri, sensasi, ROM
Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
MWD,
Joint mobilization

RS

..

FISIOTERAPI PADA CERVICAL DISC DYSFUNCTION


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah asuhan fisioterpi yang diterapkan pada Cervical Disc Dysfunction
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Cervical disc dysfunction
- Intervensi fisioterapi pada Cervical disc dysfunction

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Lysthesis
Neoplasma
Osteoporosis
Whiplash injury
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada cervical hingga lengan
- Paresthesia hingga ke tangan pada area dermatome
- Posisi menetap dan gerak fleksi cervical meningkatkan nyeri dan
paresthesia
- Ekstensi terasa lebih nyaman
Inspeksi:
- Flat neck atau debais
Tes cepat:
- Gerak fleksi cervical nyeri dan paresthesia pada leher hingga
lengan/tangan
- Geral eskensi 3 dimensi cervical nyeri dan paresthesia pada leher
hingga lengan/tangan
Tes gerak aktif:
- Gerak fleksi cervical nyeri dan paresthesia pada leher hingga
lengan/tangan
- Gerak lain kadang positif
Tes gerak pasif:
- Nyeri dan terbatas dengan springy end feel pada gerak fleksi cervical.
- Gerak ekstensi cervical terasa nyaman
- Gerak lain kadang positif.
Tes gerak isometric
- Negatif.
Tes khusus
- Compression test posisi fleksi nyeri dan paresthesia pada leher hingga
lengan/tangan
- Traction test posisi ekstensi keluhan berkurang
- Tes sensasi dijumpai hypoaesthesia/paresthesia area dermatome
tertentu

- PACVP nyeri segmental

Rencana fisioterapi:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi:
- MWD cervical
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Cervical traction
o Intermittent posisi lordosis beban 20-30% berat badan, periode traksi
dan istirahat pendek (misal Hold 5 rest 5 ) durasi 10-15 menit
- Latihan mobilisasi dengan metode Mc Kenzie
- Cervical collar untuk actualitas tinggi
- Proper neck mechanic anjuran posisi lordosis/ekstensi

Evaluasi
- Nyeri, sensasi, ROM cervical.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis MWD
Juknis cervical traction
Mobilisasi nucleus
Juknis Mc Kenzie exercise

RS

..

FISIOTERAPI PADA CERVICAL HEAD ACHE


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Cervical Head Ache
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal..
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Cervical head ache
- Intervensi fisioterapi pada Cervical head ache

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Lysthesis
Neoplasma
Osteoporosis
Whiplash injury
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri kepala satu sisi dan disertai kaku cervical
- Nyeri meningkat pada posisi menetap kepala atau gerak cervical
tertentu dan berkurang bila disandarkan.
- Nyeri meningkat bila stress atau otot leher tegang.
Inspeksi:
- Posisi leher forward head position atau deviasi
Tes cepat
- Gerak fleksi-ekstensi cervical nyeri meningkat
- Geral eskensi 3 dimensi cervical nyeri kepala dan leher
Tes gerak aktif
- Gerak fleksi atau ekstensi cervical nyeri kepala sampai leher
- Gerak lateral fleksi dan rotasi kadang menimbulkan nyeri kepala sampai
leher
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan springy end feel pada gerak cervical. tertentu
- Gerak cervical sebaliknya terasa nyaman
Tes gerak isometric
- Nyeri tetapi setelah kontraksi isometric terasa nyaman.
Tes khusus
-

Palpasi dijumpai hypertone otot cervical


Palapsi kadang dijumpai muscle taut band dan twisting
Traction test posisi netral keluhan berkurang
PACVP nyeri segmental

Pemriksaan lain
- X ray dijumpai flat neck kadang kifosis segment tertentu
- MRI dijumpai disc bulging hingga protrusi.

Diagnosis
Nyeri kepala dan cercical disertai paresthesia lengan disebabkan (arthrosis
cervical C1-2 atau C2-3; atau oleh cervical instability; atau oleh myofascial
syndrome)

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- MWD cervical
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Massage otot cervical dengan strocking dan effleurage
- Transverse friction pada trigger point
- Transverse dan/atau longitudinal muscle stretching
- Cervical traction
o Intermittent poaiai lordosis beban 20-30% berat badan, periode traksi
dan istirahat pendek (misal Hold 5 rest 5 ) durasi 10-15 menit
- Contract relax stretching
- Proper neck mechanic anjuran posisi leher relax

Evaluasi
- Nyeri, sensasi, ROM cervical.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Juknis MWD
Cervical traction
Transverse friction
Contract relax stretching
Juknis Mc Kenzie exercise

RS

..

FISIOTERAPI PADA LOCAL CERVICAL FACET PAIN


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan padaLocal Cervical Facet Pain
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Cervical facet pain
- Intervensi fisioterapi pada Cervical disc dysfunction

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada cervical hingga interscpulae dan/atau
lengan
- Nyeri leher sering disertai kaku
- Nyeri meningkat pada gerak cervical ekstensi
Inspeksi:
- Flat neck atau forward head position
Tes cepat
- Gerak fleksi terasa tegang tetapi nyeri berkurang, gerak ekstensi nyeri
cervical
- Geral eskensi 3 dimensi cervical nyeri kadang hingga interscapular atau
lengan
Tes gerak aktif
- Nyeri dan kaku pada gerak aktif cervical terutama ekstensi.
Tes gerak pasif
- Gerak ekstensi nyeri dan ROM terbatas dengan hard end feel,
- Gerak lain normal atau nyeri ringan.
Tes gerak isometric
- Gerak isometric kadang nyeri
Tes khusus
- Compression test posisi fleksi nyeri menyebar
- Joint play movement lateral gapping test terbatas ringan elastic end feel.
- Tes dengan PACVP nyeri segmental.
Pemriksaan lain

ray normal atau dijumpai osteofit tepi corpus dan/atau facets

Diagnosis
- Nyeri pseudo radikuler cercical menyebar ke interscapular/lengan disebabkan
karena cervical facet iritation

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US atau SWD atau MWD atau cervical
o US continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk aktualitas rendah
o SWD/MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12
menit.
- Contract relax stretching ekstensor cervical
- Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi cervical tegak
- Proper neck mechanic pada posisi cervical tegak

Evaluasi
- Nyeri, dan ROM .

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen cervical spine
US
MWD/SWD
Contract relax stretching

RS

..

FISIOTERAPI PADA CERVICAL INSTABILITY


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Cervical Instability
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Cervical disc dysfunction
- Intervensi fisioterapi pada Cervical disc dysfunction

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
-

Nyeri jenis ngilu/pegal pada cervical hingga kepala dan/atau lengan


Paresthesia hingga ke kepala dan/atau tangan
Clicking pada gerak cervical tertentu
Nyeri/paresthesia meningkat pada gerak tertentu cervical

Inspeksi:
- Flat neck atau deviasi
Tes cepat
- Gerak fleksi atau cervical terjadi clicking sering disertai nyeri dan
paresthesia pada leher hingga lengan/tangan
- Geral eskensi 3 dimensi cervical nyeri dan paresthesia pada leher
hingga lengan/tangan
Tes gerak aktif
- Nyeri dan kaku pada satu atau lebih gerak aktif cervical disertau bunyi
klik.
- Kadang disertai nyeri yang menyebar ke kepala dan/atau tangan
Tes gerak pasif
- Nyeri dan ROM lebih besar dari normal dengan empty end feel, sering
.satu atau lebih gerak pasif cervical terbatas dengan springy end feel
- Keterbatasan gerak non capsular pattern.
Tes gerak isometric
- Nyeri pada gerak isometric
- Nyeri berkurang pasca gerak isometrik
Tes khusus
- Joint play movement satu atau lebih terjadi ROM lebih besar dari normal
dengan springy end feel.
- Tes dengan PACVP nyeri segmental.

Pemeriksaan lain
- X ray dijumpai flat neck kadang kifosis segment tertentu
- MRI dijumpai lysthesis atau kadang tidak khas.

Diagnosis
- Nyeri radikuler cercical ke kepala dan/atau lengan disertai paresthesia
lengan disebabkan karena cervical instability

Rencana fisioterapi
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- MWD cervical
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Cervical collar untuk jenis rigid atau semi rigid
- Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi cervical tegak
- Proper neck mechanic pada posisi cervical tegak

Evaluasi
- Nyeri, sensasi, stabilisasi aktif cervical.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada RS
Lampiran
Asesmen
MWD
Active stabilization exc

RS

..

FISIOTERAPI PADA SPONDYLOSIS DEF / SPONDYLOARTHROSIS


CERVICALIS (S.A.C)
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses asuhan fisioterapi yang diterapkan pada Spondylosis Def / S.A.C
Tujuan
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Spondylosis Def / S.A.C
Kebijakan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal
Prosedur
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Spondyloarthrosis cervicalis
- Intervensi fisioterapi pada Spondyloarthrosis cervicalis

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acute radicular pain

Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Morning sickness dan Start pain
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada cervical hingga interscapulae dan/atau
lengan
- Nyeri leher disertai kaku leher
- Nyeri/paresthesia meningkat pada gerak cervical ekstensi
Inspeksi:
- Flat neck atau Lordosis atau deviasi
Tes cepat
- Gerak fleksi terasa tegang tetapi nyeri berkurang, gerak ekstensi nyeri
cervical menyebar hingga intersccapular atau lengan
- Gerak ekstensi 3 dimensi cervical nyeri dan paresthesia pada leher
hingga interscapular atau lengan
Tes gerak aktif
- Nyeri dan kaku pada gerak aktif cervical terutama ekstensi.
Tes gerak pasif
- Nyeri dan ROM terbatas dengan firm end feel, sering terasa crepitasi
- Keterbatasan gerak dalam capsular pattern.
Tes gerak isometric
- Gerak isometric kadang nyeri
- Nyeri berkurang pasca gerak isometrik
Tes khusus
- Compression test posisi ekstensi nyeri menyebar
- Joint play movement lateral gapping test atau 3 dimentional flexion
terbatas firm end feel.
- Tes dengan PACVP nyeri segmental.

Pemriksaan lain
- X ray dijumpai osteofit tepi corpus dan/atau facets
- MRI dijumpai osteofif.

Diagnosis
- Nyeri pseudo radikuler cercical menyebar ke interscapular/lengan disebabkan
karena cervical spondylo arthrosis (disertai capsular patern).

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US atau SWD atau MWD atau .... cervical
o US continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk aktualitas rendah
o SWD/MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12
menit.
-

Cervical traction posisi fleksi beban 20-33% BB 15-20 menit


Cervical collar soft atau semi rigid untuk actualitas tinggi
Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi cervical tegak
Proper neck mechanic pada posisi cervical tegak

Evaluasi
- Nyeri, dan ROM .

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
Cervical traction
US / SWD / MWD

RS

..

FISIOTERAPI PADA LUMBAR DISC BULGING/HNP


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada lumbar disc bulging/HNP
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Lumbar disc bulging/HNP
- Intervensi fisioterapi pada Lumbar disc bulging/HNP

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Lysthesis
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
Anamnesis:
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada Lumbar spine menyebar samapi ke kaki
- Paresthesia hingga kekaki pada area dermatome L5-S1
- Posisi duduk lama, jongkok; gerak fleksi lumbale meningkatkan nyeri
dan paresthesia
Inspeksi:
- Posisi lumbale scoliosis
Tes cepat:
- Gerak fleksi lumbale nyeri dan paresthesia pada tungkai-kaki
Tes gerak aktif:
- Gerak fleksi lumbale nyeri dan paresthesia hingga tungkai belakangkaki
- Gerak lain kadang positif
Tes gerak pasif:
- Nyeri dan terbatas dengan springy end feel pada gerak fleksi lumbale.
- Gerak ekstensi lumbale terasa nyaman
- Gerak lain kadang nyeri
Tes gerak isometric
- Kadang ekstensi ibu jari kaki lemah.
Tes khusus
- Palpasi teraba otot para vertebrale spasm
- Lasegue sign positif, bragard test positif
- Compression test posisi fleksi nyeri dan paresthesia hingga kaki
- Traction test posisi ekstensi keluhan berkurang
- Tes sensasi dijumpai hypoaesthesia/paresthesia area dermatome
tertentu
Pemeriksaan lain
- X ray dijumpai flat back
- MRI dijumpai disc bulging hingga protrusi.

Diagnosis
- Nyeri radikuler cercical disertai paresthesia lengan disebabkan karena
disc bulging/ HNP lumbale segment

Rencana fisioterapi:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi:
- SWD/MWD lumbale
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Lumbale traction
o Intermittent poaiai lordosis beban 40-60% berat badan, periode traksi
dan istirahat pendek (misal Hold 5 rest 5 ) durasi 10-15 menit
- Latihan mobilisasi dengan metode Mc Kenzie
- Lumbar corset untuk actualitas tinggi
- Proper body mechanic anjuran posisi lordosis/ekstensi dan lifting
technique

Evaluasi
- Nyeri, sensasi, ROM lumbale.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Asesmen
Lumbar traction
Terapi latihan Mc Kenzie
Proper body mechanic, lifting technique

RS

..

FISIOTERAPI PADA LUMBAR SPONDYLOARTHROSIS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada Spondyloarthrosis Lumbalis
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Spondyloarthrosis lumbalis
- Intervensi fisioterapi pada Spondyloarthrosis lumbalis

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
-

Morning sickness dan Start pain


Nyeri jenis ngilu/pegal pada lumbale kadang hingga kelakang paha
Nyeri lelumbale disertai kaku
Nyeri/paresthesia meningkat pada gerak ekstensi lumbale

Inspeksi:
- Lumbale lordosis atau flat back
Tes cepat
- Gerak fleksi terasa tegang tetapi nyeri berkurang, gerak ekstensi nyeri
lumbale
Tes gerak aktif
- Nyeri dan kaku pada gerak aktif lumbale terutama ekstensi.
Tes gerak pasif
- Nyeri dan ROM terbatas dengan firm end feel, sering terasa crepitasi
- Keterbatasan gerak dalam capsular pattern.
Tes gerak isometric
- Gerak isometric negative atau kadang nyeri
Tes khusus
- Compression test posisi fleksi nyeri
- Gapping test terbatas firm end feel.
- Tes dengan PACVP nyeri segmental.
Pemriksaan lain
-

ray dijumpai osteofit tepi corpus dan/atau facets

- MRI dijumpai osteofit.

Diagnosis
- Nyeri pseudo radikuler lumbale ke hamstrings karenal spondylo arthrosis
lumbalis

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US atau SWD atau MWD atau cervical
o US continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk aktualitas rendah
o SWD/MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12
menit.
-

Lumbar traction posisi fleksi beban 40-60% BB 15-20 menit


Lumbar corset untuk actualitas tinggi
Williams flexion exercise
Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi lumbaletegak
Proper neck mechanic pada posisi flat back

Evaluasi
- Nyeri, dan ROM .

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
Lumbar traction
Terapi latihan Williams flexion exercise
Proper body mechanic, lifting technique

RS

..

FISIOTERAPI PADA LUMBAR SPONDYLOLYSTHESIS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada lumbar Spondylolysthesis
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Spondylolysthesis lumbalis
- Intervensi fisioterapi pada Spondylolysthesis lumbalis

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri pingang sampai kedua hamstrings
- Disertai paresthesia kedua hamstrings
- Gerak lumbale sering clicking
Inspeksi:
- Lordosis/asimetri
Tes cepat
- Fleksi terjadi clicking dan nyeri
- Gerak hip lebih besar dari lumbale
Tes gerak aktif
- Nyeri pada gerak tertentu (missal fleksi)
- Terdengar bunyi klicking
Tes gerak pasif
- Nyeri pada gerak tertentu
- ROM lebih besar dari normal
Tes gerak isometric
- Tidak tampak kelainan
Tes khusus
- Palpasi: step on atau step off.
- Stabilization test positif kadang diikuti paresthesia
Pemeriksaan lain
- X

ray dijumpai Lysthesis

Diagnosis:
- Nyeri pinggang hingga kedua hamstrings akibat spondylolysthesis
lumbalis.

Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- SWD atau MWD
o SWD/MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12
menit.
- Lumbar corset
- Latihan stabilisasi aktif diberikan pada posisi lumbale tegak otot para
lumbale, abdominal dan otot-otot pelvic hip complex
- Proper neck mechanic pada posisi lordosis

Evaluasi
- Nyeri, dan stabilitas.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Asesmen
Lumbar corset
Terapi latihan stabilization exercise
Proper body mechanic, lifting technique

RS

..

FISIOTERAPI PADA SCOLIOSIS IDIOPATIK


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada

..

Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Cervical disc dysfunction
- Intervensi fisioterapi pada Cervical disc dysfunction

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Punggung asimetri punggung (scapula) menonjol satu sisi
- Diketahui secara tidak sengaja oleh orang tuanya
- Tidak diketahui sebabnya
Inspeksi:
- Asimetri dan rib hump, atau pelvis torsion
Tes cepat
- Fleksi punggung tampak rib hump
Tes gerak aktif
- Gerak lateral fleksi kekanan terbatas pada T8 tetap melengkung kekiri
atau hanya tegak
- Gerak lateral fleksi kekiri lebih besar
Tes gerak pasif
- Gerak lateral fleksi kekanan terbatas pada T8 terbatas dengan firm end
feel
- Gerak lateral fleksi kekiri pada T8 ROM lebih besar dari normal dengan
end feel elastik
Tes gerak isometric
- Negatif
Tes khusus
- Fleksi dijumpai ribs hump kanan
- Asimetri pelvis (pelvic torsion) terhadap plumb line yang ditempatkan
pada kolumna vertebrali
- Pengukuran panjang kaki dijumpai leg discrepancy
- LPAVP dijumpai keterbatasan dengan firm end feel
- Gapping test T7-8-9 terbatas dengan firm end feel
Pemeriksaan lain

- X ray dijumpai flat neck kadang kifosis segment tertentu


- Pengukuran cobb angle
Diagnosis:
- Gangguan posture tubuh bidang frontal akibat scoliosis idiopathic
Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi:
- MWD thoracal
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Latihan mobilisasi dengan metode crawl exercise
- Latihan stabilisasi dengan bugnet exercise
- TLSO atau Boston brace

Evaluasi
- Nyeri, Cobb angle

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Asesmen
Juknis clawl exercise, bugnet exercise
Juknis mobilsasi segmental thoracal

RS

..

FISIOTERAPI PADA THORACIC HYPOMOBILITY SYNDROME


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Thoracic Hypomobility
Syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus thoracic hypomobility
syndrome
- Intervensi fisioterapi pada thoracic hypomobility syndrome

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi:
Anamnesis:
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada punggung atas, interscapular hingga satu
sisi dada
- Nyeri meningkat pada ekstensi thoracal atau inspirasi dalam.
Inspeksi:
- Kifosis thoracalis atau round back
Tes cepat:
- Gerak ekstensi thoracal nyeri hingga dada
Tes gerak aktif:
- Gerak ekstensi thoracal nyeri hingga dada
- Gerak lain kadang nyeri
Tes gerak pasif:
- Gerak ekstensi thoracal nyeri dan ROM terbatas dengan firm end feel
- Gerak lain kadang nyeri dan ROM terbatas dengan firm end feel
Tes gerak isometric:
- Negatif.
Tes khusus:
- PACVP nyeri punggung hingga ke dada
- LPAVP nyeri punggung hingga ke dada
- Segmental gapping test thoracal nyeri, terbatas dan firm end feel
Pemriksaan lain:
-

ray dijumpai flat neck kadang kifosis segment tertentu

Diagnosis:
- Nyeri punggung atas hingga dada dengan hypeomobility thoracal
(missal T8-9) disebabkan (missal kifosis atau round back)

Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi:
- US
- MWD thoracal
o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
-

Joint mobilzation teknik PACVP LPAVP


Gapping manipulation 3 dimensi ekstensi
Latihan mobilisasi dengan metode Mc Kenzie
Proper back mechanic anjuran posisi lordosis/ekstensi

Evaluasi:
- Nyeri, JPM, dan ROM thoracall.

Dokumentasi:
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
-

Juknis
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

asesmen
MWD
asesmen
PACVP dan LPAVP
gapping manipulation
Mc. Kenzie exc.

RS

..

FISIOTERAPI PADA MYOFASCIAL PAIN


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterapi yang diterapkan pada myofascial pain
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus myofascial pain
- Intervensi fisioterapi pada myofascial pain

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Myositis osccsificans

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri jenis pegal menyebar dalam pola segmental/vegetatif
- Nyeri meningkat regangan pada otot yang bersangkutan
- Nyeri meningkat kontraksi pada otot yang bersangkutan
Inspeksi:
- Tidak khas
Tes cepat
- Tergantung regio yang terkena
Tes gerak aktif
- Tergantung regio yang terkena
Tes gerak pasif
- Tergantung regio yang terkena
Tes gerak isometric
- Tergantung regio yang terkena
Tes khusus
- Palpasi: trigger point, pada taut band dan twisting, nyeri menyebar.
- Stretch test.
Pemeriksaan lain
-.Diagnosis:
Nyeri muscular menyebar ke
Rencana tindakan:

disebabkan oleh myo fascial trigger point.

- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi


dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US:
o Posisi rotasi internal-ekstensi-adduksi
o Dosis 2
2.5 watt/cm2 waktu 2-3 menit
- Transverse friction Posisi rotasi internal-ekstensi-adduksi
- Stretching otot yang bersangkuta

Evaluasi
- Nyeri.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

assesmen
US
Transverse friction
stretching

RS

..

FISIOTERAPI PADA THORACIC (COMPRESSION) OUTLET SYNDROME :


SCALENUS SYNDROME
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Thoracic (Compression) Outlet
Syndrome : Scalenus Syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Thoracic (Compression)
Outlet Syndrome : Scalenus Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Thoracic (Compression) Outlet Syndrome :
Scalenus Syndrome

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada leer-pundak depan hingga lengan
- Nyeri meningkat pada posisi lengan kebawah disertai depresi
- Nyeri berkurang bila lengan abduksi
Inspeksi:
- Forward head position
- Posisi bahu-lengan depresi
Tes cepat
- Tidak spesifik
- Abduksi elevasi kadang nyeri
Tes gerak aktif
- Negatif
Tes gerak pasif
- Negatif
Tes gerak isometric
- Negatif
Tes khusus
- Adson s test positif
- Palpasi scalenus nyeri semutan hingga ke Joint play movement lateral
gapping tangan
Pemriksaan lain
- X

ray normal

Diagnosis
- Nyeri dan semutan leher-pundak hinga lengan disebabkan oleh
entrapmen pleksus bracialis akibat scalenus contractur
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- MWD pada m.scalenus
o MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Contract relax stretching m. scalenus anterior/posterior
- Postural correction (retraksi leher)
- Home program: stretching.

Evaluasi
- Nyeri, dan ROM
Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
-

Asesmen
MWD
Contract relax stretching
Postural correction

RS

..

FISIOTERAPI PADA THORACIC (COMPRESSION) OUTLET SYNDROME :


HYPER ABDUCTION SYNDROME
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada thoracic (compression) outlet
syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan Fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen Fisioterapi dan temuannya pada kasus thoracic (compression)
outlet syndrome
- Intervensi Fisioterapi pada thoracic (compression) outlet syndrome

Kontraindikasi : Fraktur
-

Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

rosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
- Nyeri dan atau semutang ke lengan.
- Terutama bila tidur miring kesisi sakit atau tertindih
- Saat gerakan mengangkat lengan penuh kesemutan bila di turunkan
hilang.
Tes cepat:
- Abdukasi elevasi shoulder penuh timbul semutan/nyeri langan.
Tes gerak aktif:
- Abduksi penuh timbul nyeri/paresthesia
- Gerak lain negatif
Tes gerak pasif:
- Abduksi penuh timbul nyeri/paresthesia dengan springy end feel
- Gerak lain negatif Tes gerak isometrik
Tes khusus:
- hiperabduction test.
Pemeriksaan lain
- EMG ditemukan entrapmen setinggi pectoralis minor

Diagnosis
- Nyeri dan semutan leher-pundak hinga lengan disebabkan oleh
entrapmen pleksus bracialis akibat pectoralis minor contractur

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan

- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi


fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi :
- MWD pada m pecroralis minor.
o MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Contract relax stretching m. pectoralis minor
- Home program : stretching.

Evaluasi:
- nyeri dan ROM

Dokumentasi:
- Rekam medik Rumah Sakit .....
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
MWD
Contract rela stretching

RS

..

FISIOTERAPI PADA SHOULDER HAND SYNDROME


(SCALENUS SYNDROME)
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Shoulder Hand Syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Shoulder Hand Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Shoulder Hand Syndrome

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada punggung atas, interscapular hingga satu
sisi dada
- Nyeri meningkat pada ekstensi thoracal atau inspirasi dalam
Inspeksi:
- Nyeri dan kaku sendi bahu dengan nyeri-kaku dan bengkak tangan.
Tes cepat:
- Abduksi elevasi bahu dijumpai reverse scapulohumeral rhythm
- Fleksi-ekstensi tangan dan jari ROM terbats
Tes gerak aktif:
- Semua gerak glenohumeral nyeri dan ROM aktif trbatas
- Gerak aktif Fleksi-ekstensi tangan dan jari ROM terbatas
Tes gerak pasif:
- Gerak rotasi eksternal, gerak abduksi, dan rotasi internal sendi
glenohumeralis terbatas dengan firm end feel
- Keterbatasan ROM glenohumeral dalam capsular pattern
- Gerak aktif Fleksi-ekstensi tangan dan jari ROM terbatas dengan firm
end feel
Tes gerak isometric:
- Tidak ada perubahan yang khas
Tes khusus:
- Palpasi kulit dijumpai kulit dingin dan lembab.
- Joint play movement sendi glenohumeral nyeri, terbatas dan firm end
feel.
- Joint play movement sendi radio carpal dan interplalangea nyeri,
terbatas dan firm end feel
- Sensoric test: hyperaealgesia bahu/tangan,
Pemeriksaan lain
- X ray bahu tidak jelas ada kelainan tetapi kadang dijumpai
atrophy/osteoporosis tulang glenohumeral

Diagnosis
- Nyeri, kaku dan bengkak bahu dan tangan akibat shoulde hand syndrome

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- SWD segmental application thoracal
anterior shoulder: Continous
subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk aktualitas rendah,
waktu 10-12 menit.
- TENS jenis arus monophase burst dengan segmental application
cervical thoracal, internsitas maksimal dapat ditoleransi, waktu 20-30
menit.
- Joint mobilization glenohumeral joint pada MLPP dan semua
pembatasan ROM.
- Joint mobilization wrist and fingers pada MLPP dan semua pembatasan
ROM
- Active mobilization exc.dan pumping exc tangan-jari.
Evaluasi
- Nyeri, sensasi, oedeme dan ROM glenohumeral joint, ROM wrist and fingers
Dokumentasi
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
-

Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

SWD.
TENS
Joint mobilization
active exercise

RS

..

FISIOTERAPI PADA THORACIC (COMPRESSION) OUTLET SYNDROME :


HYPER ABDUCTION SYNDROME
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada thoracic (compression) outlet
syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan Fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi : Asesmen Fisioterapi dan temuannya pada kasus thoracic
(compression) outlet syndrome
Intervensi Fisioterapi pada thoracic (compression) outlet syndrome
-

Kontraindikasi : Fraktur
Neoplasma
Osteoporosis
Ankylosing spondylitis
TBC tulang
Acute disc dysfunction/Acut radicular pain

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Saat gerakan mengangkat lengan kesemutan bila di turunkan hilang.
Tes cepat abdukasi elevasi shoulder
Tes gerak aktif abduksi, elevasi
Tes gerak pasif abduksi elevasi
Tes gerak isometrik
Tes khusus hiperabduction test.
Pemeriksaan lain
Diagnosis
- Nyeri dan semutan leher-pundak hinga lengan disebabkan oleh entrapmen
pleksus bracialis akibat pectoralis minor contractu
Rencana tindakan
- Intervensi : MWD pada m pecroralis minor.
o MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Contract relax stretching m. pectoralis minor
- Home program : stretching.

Evaluasi nyeri dan ROM


Dokumentasi Rekam medik Rumah Sakit
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
MWD
Contract relax

RS

..

FISIOTERAPI PADA TENDOPATHY M. SUPRASPINATUS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Tendopathy M. Supraspinatus
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Tendopathy M.
Supraspinatus
- Intervensi fisioterapi pada Tendopathy M. Supraspinatus

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis pegal pada lengan atas bag lateral
- Nyeri meningkat ketika angkat lengan
- Tidak jelas sebab-sebabnya
Tes cepat
- Abduksi elevasi:

Painful arc

Tes gerak aktif


- Gerak abduksi nyeri, gerak lain negatif
Tes gerak pasif
- Tak ada kelainan
Tes gerak isometric
- Abduksi isometric melawan tahanan
- Gerak lain +/Tes khusus
- Palpasi posisi rotasi internal-ekstensi-adduksi.
- Isometric abd under caudal traction
Pemriksaan lain
- -Dagnosis
Nyeri bahu lateral sampai lengan atas leteral disebabkan oleh tendonitis m.
supraspinatus
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US:
o Posisi rotasi internal-ekstensi-adduksi
o Dosis 1.5
2 watt/cm2 waktu 2-3 menit
- Transverse friction Posisi rotasi internal-ekstensi-adduksi
- Stretching m. supraspinatus
- Codmann pendular exercise

Evaluasi
- Nyeri dan scapula humeral rhythm.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

assesmen
US
Transverse friction
stretching
Codmann pendular exercise

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 257 dari 2
Judul: Terapi Latihan pada Tennis Elbow
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN

Terapi latihan adalah modalitas fisioterapi berupa tehnik latihan yang bertujuan
untuk mengembangkan, meningkatkan, memperbaiki dan memelihara: kekuatan,
daya tahan, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas, relaksasi, koordinasi,
keseimbangan dan kemampuan fungsional
Tennis Elbow adalah nyeri yang terjadi pada tendon ekstensor wrist sepanjang
lateral epicondyle dan radiohumeral joint. Paling sering terjadi pada
musculotendinous junction dari otot ekstensor carpi radialis brevis.
II. TUJUAN

Sebagai pedoman bagi fisioterapi dalam memberikan penanganan pasien dengan


kondisi tennis elbow
III. PROSEDUR

3.1 Pengkajian
3.1.1 Melakukan pemeriksaan awal mengacu pada SPO pemeriksaan
fisioterapi
3.1.2 Semua hasil yang didapat dalam pengkajian dicatat dalam lembar
pemeriksaan fisioterapi
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Stadium acut
3.2.1.1 Untuk mengontrol nyeri, bengkak dan spasme diberikan
kompres es, istirahat dan anjuran untuk tidak melakukan
gerakan menggenggam secara berulang
3.2.1.2 Untuk memelihara soft tissue dan mobilitas sendi
diberikan latihan gerak fleksi dan ekstensi wrist dalam
batas toleransi
3.2.1.3 Untuk memelihara integritas fungsi upper ektremitas
dilakukan gerak aktif sesuai bidang gerak sendi
3.2.2 Stadium sub acute atau kronik
3.2.2.1 Tehnik aktif inhibisi pada otot ektensor carpi radialis
brevis
3.2.2.2 Tehnik self-stretching pada grup otot ekstensor

3.2.2.3 Cross-fiber massage pada tendo ektensor carpi radialis


3.2.2.4 Latihan isometrik dalam batas rasa nyeri
3.2.2.5 Progressive resistance exercises
3.2.3 Frekuensi
3.2.3.1 2-3 kali seminggu

3.3 Mengakhiri terapi


3.3.1 Evaluasi
3.3.2 Follow-Up/referral
3.3.3 Home program dan edukasi

IV. DOKUMEN TERKAIT

Tidak ada
V. LAMPIRAN

Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI

6.1 Direksi

6.2 Manajer Klinik


6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

RS

..

FISIOTERAPI PADA ARTHRITIS DISTAL RADIOULNAR JOINT


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Arthritis Distal Radioulnar Joint
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal..
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Arthritis Distal Radioulnar
- Intervensi fisioterapi pada Arthritis Distal Radioulnar

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis
TBC tulang

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri jenis hebat pada masa acute, atau ngilu/pegal pada pergelangan
tangan kadang tangan pada masa kronik
- Nyeri setelah riwayat trauma
- Gerak pronasi-supinasi nyeri dan terbatas
Inspeksi:
- Posisi sendi radioulnaris MLPP
- ADL: tampak kaku
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronas-supinasi lengan bawah
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronas-supinasi lengan bawah
Tes gerak pasif
- Pronasi dan supinasi nyeri dan terbatas dalam capsular patern dengan
firm end feel
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronas-supinasi lengan bawah
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan keluhan khas
Tes khusus
- JPM test timbul nyeri, terbatas denngan firm end feel
Pemriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi; penebalan tulang subchondrale;
osteophyte.
Diagnosis:
- Capsular pattern radioulanar joint secondary to arthritis distal
radioulnar joint
Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi

fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- Pada kondisi acute aktualitas tinggi diberikan RICE
o Es diberikan hingga 36 jam sesudah trauma secara intermittent tiap 5
menit.
o Elastic bandage diaplikasikan pada posisi tangan sedikit dorsal fleksi
- US:
o Continous dosis 0,5-1 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 1.5-2
watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
o Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Free active mobilization exercise
o Pronas-supinasi
- Kemungkinan splinting
Evaluasi
- Nyeri, ROM dan fungsi tangan.

Dokumentasi:
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
-

Juknis Asesmen fisioterapi


Juknis RICE
Juknis US
JuknisJoint mobilization
Juknis splinting

RS

..

FISIOTERAPI PADA ARTHROSIS DISTAL RADIOULNAR JOINT


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Arthrosis Distal Radioulnar Joint
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal..
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Arthrosis Distal Radioulnar
- Intervensi fisioterapi pada Arthrosis Distal Radioulnar
Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada pergelangan tangan kadang tangan
- Morning sickness dan start pain
- Gerak pronasi dan supinasi terbatas dan crepitasi
Inspeksi:
- Posisi sendi radioulnaris MLPP
- ADL: tampak kaku
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi dan supinasi terbatas dan
crepitasi
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas pada gerak pronasi dan supinasi terbatas dan
crepitasi
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak gerak pronasi dan
supinasi lenngan bawah dimana pronasi dan supinasi sama terbatas
dengan end feel firm
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan gangguan khas
Tes khusus
- JPM test translasi pronasi dan supinasi timbul nyeri, terbatas denngan
firm end feel
Pemeriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi; penebalan tulang subchondrale;

osteophyte.
Diagnosis:
- Capsular pattern radioulanar joint secondary to arthrosis carpalia
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US:
o US under water sontinous dosis 0,5-1 watt/cm untuk aktualitas tinggi
dan 1.5-2 watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
o Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Free active mobilization exercise
o Pronas-supinasi

- Kemungkinan splinting
Evaluasi
- Nyeri, ROM dan fungsi tangan
Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
-

Juknis Asesmen fisioterapi


Juknis US
JuknisJoint mobilization
Juknis splinting

RS

..

FISIOTERAPI PADA TENOSYNOVITIS M. ABD. POL. LONGUS DAN EXT. POL.


BREVIS (de Quervain syndrome)
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Tenosynovitis M. Abd. Pol.
Longus dan ext. Pol. Brevis
Tujuan
Proses Fisioterapi yang di terapkan pada Tenosynovitis M. Abd. Pol. Longus dan
ext. Pol. Brevis
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen Fisioterapi pada Tenosynovitis M. Abd. Pol. Longus dan ext.
Pol. Brevis
- Intervensi Fisioterapi pada Tenosynovitis M. Abd. Pol. Longus dan ext.
Pol. Brevis

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Lesi saraf perifer

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Adanya nyeri pada sisi lateral pergelangan tangan saat fleksiadduksi ibu
jari tangan atau ulnar deviasi.
Inspeksi:
- Bengkak pada sisi lateral pergelangan tangan
Tes cepat:
- Fleksi ekstensi tangan dan jari tangan nyeri sast fleksi
Tes gerak aktif
- Adduksi ibu jari tangan nyeri
- Ulnar deviasi nyeri
Tes gerak pasif
- Test streach fleksor ibu jari sakit
Tes gerak isometric:
- Tes gerak isometric melawan tahanan ibu jari tangan kea rah abduksi
nyeri
- Gerak ibu jari lain negatif
Tes khusus:
- Finkels stain test nyeri, oposisi reposisi jari
- Palpasi teraba oedeme pada sisi lateral pergelangan tangan
Pemreriksaan lain:
- -Diagnosis
Nyeri gerak pada tendon otot m abd pol longus dan ext poli brevis akibat
tenovaginitis m abd pol longus dan ext poli brevis
Rencana tindakan
- penjelasan tentang patology, diagnosis, target, tujuan, rencana
intervensi, dan hasil yang di harapkan.

- Persetujuan pasien
- Perencanaan intervensi bertahap

Intervensi
- US under water continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk aktualitas
rendah.
- Parafin bath 5 menit
- Massage ke arah proksimal.
- Splinting atau elastic bandaging: piosisi ibu jari tangan abduksi dan
pergelangan tangan radial devia

Evaluasi:
- ROM, nyeri

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS

Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada muskuloskeletal
Lampiran
US,
Parafin bath,
massage.
splint,

RS

..

FISIOTERAPI PADA DORSAL WRIST COMPRESSION SYNDROME


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Dorsal Wrist Compression
Syndrome
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Dorsal Wrist Compression
Syndrome
- Intervensi fisioterapi pada Dorsal Wrist Compression Syndrome

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislokasi
- osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3 kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Trauma pada pergelangan tangan saat menumpu BB
- Nyeri pada gerakan dorsal fleksi pergelangan tangan
- Unstable
Inspeksi:
- Kadang tapak oedeme pungung tangan
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak dorsal flexion pergelangan tangan
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas pada gerak dorsal flexion pergelangan tangan
- Gerak palmar fleksi, lunar-radial dalam batas normal
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan hard end feel pada gerak dorsal flexion
pergelangan tangan
- Gerak palmar fleksi, lunar-radial dalam batas normal
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan gangguan khas
Tes khusus
- JPM test palmar dan dorsal flexion timbul nyeri, terbatas denngan firm end
feel
Pemeriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi;
Diagnosis
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- RICE
- US:
o Continous dosis 0,5-1 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 1.5-2
watt/cm2 untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
o Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Stenthening exercise dan latihan fungsi tangan
- Kemungkinan splinting

Evaluasi
- Nyeri,ROM
Dokumentasi
Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada ..
Lampiran
Juknis asesmen
Juknis RICE
Juknis US

RS

..

FISIOTERAPI PADA TENOOSSEAL TENDOPATHY DAN TENOSYNOVITIS M.


FLEXOR CARPIRADIALIS
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Tenoosseal Tendopathy dan
Tenosynovitis M. Flexor Carpiradialis
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen Fisioterapi pada Tenoosseal Tendopathy dan Tenosynovitis M.
Flexor Carpiradialis
- Intervensi Fisioterapi pada Tenoosseal Tendopathy dan Tenosynovitis
M. Flexor Carpiradialis

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislokasi
- osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3 kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri pergelangan tangan saat menggenggam kuat atau fleksi
- Nyeri meningkat saat olah raga (badminton/tennis)
Inspeksi:
- Tak jelas ada kelainan
Tes cepat:
- Fleksi wrist nyeri
Tes gerak aktif:
- Dorsal fleksi pergelangan tangan nyeri regang
- Palmar fleksi-radial deviasi dan ulnar deviasi negatif
Tes gerak pasif:
- Dorsal fleksi pergelangan tangan nyeri regang
- Palmar fleksi-radial deviasi dan ulnar deviasi negatif
Tes gerak isometric:
- Gerak isometrik palmar fleksi wrist tambah nyeri.
- Gerak lain negatif
Tes khusus:
- Stretch test nyeri pergelangan tangan
- Palpasi tendon M. Flexor Carpiradialis

Pemeriksaan lain
- --Diagnosis

- Nyeri pergelangan tangan aklibat tendopathy/Tenosynovitis M. Flexor


Carpiradialis

Rencana tindakan
- penjelasan tentang patology, diagnosis, target, tujuan, rencana
intervensi, dan hasil yang di harapkan.
- Persetujuan pasien
- Perencanaan intervensi

Intervensi
- US intermiten dosis pada akut aktualitas tinggi 0,5-1 watt/cm2
- Transfer friction
- Stretching

Evaluasi
- ROM, nyeri
Dokumentasi
Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada muskulo skeletal
Lampiran
US,
stretching,
transverse friction

RS

..

FISIOTERAPI PADA TENDOVAGINITIS STENOSANS (TRIGGER FINGER)


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Tendovaginitis Stenosans
(Trigger Finger)
Tujuan
Adalah proses Fisioterapi yang di terapkan pada kasus Tendovaginitis
Stenosans (Trigger Finger)
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen Fisioterapi dan temuannya pada kasus Tendovaginitis
Stenosans (Trigger Finger)
- Intervensi fisioterapi pada Tendovaginitis Stenosans (Trigger Finger)

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Lesi saraf perifer
Rheumatoid arthritis

Prosedur
Dosis :
- Waktu intervensi US 5-7 menit, kronis 1x1 hari atau 1x2 hari (selama12
sampai 18 hari)
- Dosis streching 8 detik, di ulang 8-10 kali.
- Friction 30 kali

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Rasa nyeri pada jari ketiga atau ke empat saat ditekuk mengunci dan
kembali lurus dan berbunyi,
- Nyeri pada setinggi caput metacarpal
Inspeksi:
- Tidak khas
Tes cepat
- tes fleksi jari2 dan ekstensikan (jari ketinggalan)
Tes gerak aktif:
- Pada gerak fleksi jari III/IV nyeri pada akhir ROM dan bila di
ekstensikan bunyi klik dan nyeri
- Gerak sendi lain normal
Tes gerak pasif:
- Terdapat nyeri saat fleksi jari yang bersangkutan penuh.
- Saat ekstensi jari bunyi klik dan nyeri.
Tes gerak isometric
- Gerak fleksi jari yang bersangkutan terdapat nyeri
- Gerak lain negatif
Tes khusus
- Palpasi pada caput metacarpal III atau IV teraba benjolan nyeri.
- Bila dalam palpasi bersamaan digerakkan fleksi penuh dan ekstensi
teraba benjolan yang bergerak.
Pemriksaan lain
- -Diagnosis

- Nyeri gerak pada jari ke tiga (atau keempat) karena Tendovaginitis


Stenosis flexor digitorum profundus.
Rencana tindakan
- penjelasan tentang patology, diagnosis, target, tujuan, rencana
intervensi, dan hasil yang di harapkan.
- Persetujuan pasien
- Perencanaan intervensi.

Intervensi
- US :
o US under water continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk
aktualitas rendah.
o Parafin bath 5 menit
- Streching pada jari ke tiga (keempat) ke arah ekstensi penuh dengan
pergelangan tangan ekstensi
- Transfer Friction jari ke tiga (di selubung tendon)

Evaluasi
- Nyeri dan ROM

Dokumentasi:
Rekam Fisioterapi dan rekam medis RS
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada muskuloskeletal
Lampiran
Asesmen,
US,
parafin,
stretching.

RS

..

FISIOTERAPI PADA DORSAL INTERCARPAL LIG. OVERSTRETCH


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Dorsal Intercarpal Lig.
Overstretch
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Dorsal Intercarpal Lig.
Overstretch
- Intervensi fisioterapi pada Dorsal Intercarpal Lig. Overstretch
Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis pegal pada pergelangan tangan dan tangan
- Disertai gerak terbatas
- Pada fase akut : - Tumor, Rubor, Dolor, Calor, Fungsiolacia
Inspeksi
- Tak tampak kelainan
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak palmar-dorsal flexion pergelangan
tangan dan fleksi, ekstensi adduksi dan abduksi jari-jari tangan.
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas gerak palmar-dorsal flexion pergelangan tangan dan
fleksi, ekstensi adduksi dan abduksi jari-jari tangan.
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas palmar-dorsal flexion pergelangan tangan dan fleksi,
ekstensi adduksi dan abduksi jari-jari tangan.
Tes gerak isometric
- Tak jelas kelainan
Tes khusus
- Finkelstein test positif
- Stretch test lig. Intercarpalia
- JPM intercarpal terbatas firm end feel
Pemriksaan lain
- Palpasi

Diagnosis
- Nyeri dan keterbatasan sendi pergelangan tangan dan tangan
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- RICE ( fase akut )
- MWD ( Sub Akut dan Kronis)
- Active mobilization exercise

Evaluasi
- Nyeri,ROM
Dokumentasi
Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Juknis assesmen
Juknis RICE
Juknis Active mobilization exercise

RS

..

FISIOTERAPI PADA ARTHROSIS CARPALIA


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
..
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Arthrosis Carpalia
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, parupurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Arthrosis carpalia
- Intervensi fisioterapi pada Arthrosis carpalia
Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada pergelangan tangan dan tangan
- Morning sickness dan start pain
- Gerak terbatas dan crepitasi
Inspeksi:
- Posisi tangan MLPP
- Gerak hand dexterity kaku.
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada gerak palmar-dorsal flexion pergelangan tangan
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak palmar-dorsal flexion
pergelangan tangan
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak palmar-dorsal flexion
pergelangan tangan dimana dorsal flexion lebih terbatas dari palmar
flexion dengan end feel firm.
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan gangguan khas
Tes khusus
- Palpasi tangan sering teraba oedeme
- JPM test palmar dan dorsal flexion timbul nyeri, terbatas denngan firm
end feel
Pemeriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi; penebalan tulang subchondrale;
osteophyte.
Diagnosis
- Capsular pattern wrist joint secondary to arthrosis carpalia

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US:
o US under awter continous dosis 0,5-1 watt/cm untuk aktualitas
tinggi dan 1.5-2 watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
o Translasi pada pembatasan pronasi dan supinasi
- Free active mobilization exercise
o Pronasi-supinasi

- Kemungkinan splinting
Evaluasi
- Nyeri, ROM dan fungsi tangan.

Dokumentasi:
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
-

Juknis Asesmen fisioterapi


Juknis US
Joint mobilization
JuknisJoint mobilization
Juknis splinting

RS

..

FISIOTERAPI PADA OSTEOARTHROSIS


HIP JOINT
No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Osteoarthrosis Hip joint
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Osteoarthrosis Hip joint
- Intervensi fisioterapi pada Osteoarthrosis Hip joint

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada hip joint
- Morning sickness dan start pain
- Gerak terbatas dan crepitasi
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada semua arah gerakan hip joint
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak hip joint
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak hip joint
- internal rotasi, adduksi, fleksi hip joint, firm end feel.
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan gangguan khas
Tes khusus
- JPM test internal rotasi, adduksi, fleksi hip joint, firm end feel.
Pemeriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi; penebalan tulang subchondrale;
osteophyte.
Diagnosis
- Capsular pattern hip joint secondary to Osteoarthrosis Hip joint
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap
o

Intervensi
- US:
o Continous dosis 1-1,5 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 2 -2,5
watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
- Translasi pada pembatasan internal rotasi, adduksi, fleksi hip joint,.
- Active mobilization exercise Semua arah gerakan hip

Evaluasi
- Nyeri, ROM dan fungsi tangan.

Dokumentasi:
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

asesmen
US
joint mobilization
mobilisasi sendi aktif

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 286 dari 2
Judul: Fisioterapi pada Post Op

AMP

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN

Adalah jenis tindakan operasi yang dilakukan pada subcapital caput femur
karena fraktur atau adanya degenerasi caput femur karena suatu penyakit
keadaan acetabulum relative normal dengan pemasangan bipolar prosthesis
1.1 Indikasi
1.1.1 Subcapital fraktur caput femur
1.1.2 Nyeri sendi hip, degenerasi caput femur dan adanya deformitas
1.2 Kontra Indikasi
1.2.1 Hari ke-1 sampai ke-5 tidak boleh dilakukan fleksi hip lebih 45 dan
adduksi
1.2.2 Tidak dianjurkan pasien duduk di kursi yang rendah atau terlalu
lembek
1.2.3 Kaki tidak boleh disilangkan ( adduksi ).

II. TUJUAN

Sebagai pedoman bagi fisioterapi untuk memberikan progam latihan pada


kondisi sesudah operasi AMP baik saat rawat inap ataupun rawat jalan
III. PROSEDUR
3.1 Imobilisasi

Sesudah operasi pasien tidur posisi telentang dengan posisi tungkai yang di
operasi posisi lurus dan rotasi netral
3.2 Fase proteksi maksimal
3.2.1 Sesegera mungkin diberikan deep breathing, coughing dan ankle
pumping exercise untuk mencegah terjadinya komplikasi pulmunal
dan vaskulair
3.2.2 Latihan anggota gerak yang sehat untuk memelihara kekuatan dan
fleksibilitas otot
3.2.3 Latihan pain-free isometric untuk mencegah atropi otot tungkai
yang di operasi
3.2.4 Latihan aktif atau assisted untuk memelihara gerak sendi dan
jaringan lunak
3.2.5 Hari ke 3 sesudah operasi latihan duduk di bed atau kursi dengan
posisi sendi hip tidak boleh fleksi lebih dari 45 dan posisi hip
sedikit abduksi
3.2.6 Latihan jalan di parallel bar, walker atau kruk

3.3 Fase proteksi sedang


3.3.1 Pada pemasangan prostese cemented latihan weight bearing dapat
dilakukan lebih awal
3.3.2 Pada trochanteric osteotomy latihan weight bearing dapat
dilakukan pada minggu ke 8 sampai minggu ke 12
3.3.3 Latihan aktif ROM secara bertahap, fleksi hip tidak boleh lebih 900
3.3.4 Untuk meningkatkan control neuromuscular hip diberikan latihan
penguatan dengan gerak aktif dan SLR
3.3.5 Latihan closed-chain sambil berdiri di parallel bar atau walker
3.3.6 Fase proteksi minimal dan pengembalian fungsi
3.3.7 Latihan penguatan otot-otot ekstensor dan abduksi hip untuk
ambulasi, latihan open-close chain
3.3.8 Latihan ambulasi di tingkatkan dari walker ke kruk atau tongkat
paling lambat minggu ke 12 sesudah operasi
3.3.9 Latihan peningkatan daya tahan dengan stationary bicycle dengan
posisi tempat duduk ditinggikan untuk mencegah fleksi hip yang
berlebihan

IV. DOKUMEN TERKAIT

Tidak ada
V. LAMPIRAN

Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI

6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Manajer Keperawatan

6.4 Kepala Bagian Keterapian Fisik

RS

..

FISIOTERAPI PADA OSTEOARTHROSIS TIBIOFEMORAL JOINT


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Osteroarthrosis tibiofemoral
joint
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pada kasus Osteroarthrosis
tibiofemoral joint
- Intervensi fisioterapi pada Osteroarthrosis tibiofemoral joint

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Nyeri jenis ngilu/pegal pada Tibio femoral joint
- Morning sickness dan start pain
- Gerak terbatas dan crepitasi
Tes cepat
- Nyeri dan terbatas pada fleksi, ekstensi tibio femoral joint
Tes gerak aktif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada tibio femoral joint
Tes gerak pasif
- Nyeri dan terbatas dengan crepitasi pada gerak tibio femoral joint
- Fleksi, ekstensi, tibio femoral joint, firm end feel.
Tes gerak isometric
- Tidak ditemukan gangguan khas
Tes khusus
-

JPM test fleksi, ekstensi tibio femoral joint, firm end feel.
Patello femoral test
Ballotement test
Fluktuation test

Pemeriksaan lain
- X ray: penyempitan sela sendi; penebalan tulang subchondrale;
osteophyte.
Diagnosis
- Capsular pattern tibio femoral joint secondary to Osteoarthrosis tibio
femoral joint
- Nyeri gerak tibio femoral joint
Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi

- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US:
o Continous dosis 1-1,5 watt/cm untuk aktualitas tinggi dan 2 -2,5
watt/cm untuk aktualitas rendah, waktu 5-7 menit.
- Joint mobilization
o Pada awal intervensi translasi oscilasi dalam MLPP
- Translasi pada pembatasan fleksi, ekstensi tibio femoral joint
- Active mobilization
Evaluasi
- Nyeri sekitar ankle dan lutut

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

asesmen
US
joint mobilization
mobilisasi sendi aktif

RS

..

FISIOTERAPI PADA CHONDROMALACIA PATELLAE


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Chondromalacia patellae
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Chondromalacia patellae
- Intervensi fisioterapi pada Chondromalacia patellae
Kontra indikasi :
-

Osteoporosis
TB Tulang akut
Fraktur
Infeksi sendi akut

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendh dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri berjalan
- Deformitas kearah genu valgus
Inspeksi:
- tidak tampak kelainan local. Perhatikan Q angle/genu valgus
Tes cepat
- gerakan flexi dan ekstensi terjadi painfull arc
Tes gerak aktif
- flexi dan ekstensi
Tes gerak pasif
- flexi dan ekstensi
Tes gerak isometric
- Gerak isometric ekstensi lutut nyeri
Tes khusus
- Palpasi : nyeri tekan pada condylus lateral dan medial
- Joint play movement MLPP kompresi diatas patella posisi lutut ekstensi
dan semi fleksi.
- Pengukuran Q angle dan genu valgus.
- Tes kekuatan m. Vastus medialis.
Pemeriksaan lain
- X ray intuk melihat OA sendi patellofemoralis
Diagnosis:
- Nyeri pada patella disebabkan oleh chondromalacia
Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- US pada tepi patella dengan cara mendorong patella ke lateral dan
medial
o US continous 2 watt/cm2 5-7 menit untuk aktualitas rendah
- MWD/SWD
o SWD intermiten selama 10

12 menit

- Transverse friction dengan cara mendorong patella ke lateral dan


medial
- Strengthening exercise m. Vastus medialis pada posisi lutut gerak akhir
ekstensi
Medial arc support (corect shoes)
Evaluasi
- Nyeri, JPM dan ROM .

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis US,
SWD
Tranverse friction
Medial arc support

RS

..

FISIOTERAPI PADA KNEE INSTABILITASI


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah :Ketidakstabilan knee
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus knee instability
- Intervensi fisioterapi pada knee instability
Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma
- Osteoporosis

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri pada sendi lutut pada gerakan flexi dan extensi
- Keluhan nyeri pada saat aktivitas.
Inspelsi:
- Kadang tampak genu valgus/varus
Tes cepat
- Hiper mobility pada knee joint.
Tes gerak aktif
- Terjadi nyeri pada saat hiper extensi knee joint atau fleksi penuh.
- Internal rotasi dan external rotasi tidak terjadi nyeri
Tes gerak pasif
- Nyeri pada saat gerakan varus dan valgus, flexi
dengan end feel soft.

extensi sendi lutut

Tes gerak isometric


- Adanya nyeri pada sendi lutut
Tes khusus
-

Valgus test: untuk tes lig.collaterale mediale


Varus test: untuk tes lig.collaterale laterale
Anterior shearing test untuk tes lig.cruciatum anterior
Posterior shearing test untuk tes lig.cruciatum posterior

Pemeriksaan lain
- Atroskopi
Diagnosis
- Nyeri sendi lutut pada gerakan akibat lesi lig.collaterale mediale, (atau
lig.collaterale laterale; atau lig.cruciatum anterior atau lig.cruciatum
posterior)
Rencana tindakan

- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi


dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

- Intervensi MWD cervical


o Continous subthermal untuk aktualitas tinggi dan thermal untuk
aktualitas rendah, waktu 10-12 menit.
- Knee support dengan penguat pada fungsi ligament yang lesi.
- Latihan stabilisasi aktif. Pada posisi MLPP.
- Latihan Strengthening otot pes anserinus (atau iliotibial, atau hamstrings,
atau quadriceps)

Evaluasi
- Nyeri, stabilisasi aktif knee.

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
MWD
Strengthening
Stabilisasi aktif
Knee support

RS

..

FISIOTERAPI PADA MENISCUS LESION


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah :Cedera pada meniscus lesi lutut
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara akurat, paripurna, efektif dan efisien
dengan hasil yang optimal.
Kebijakan
Indikasi :
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus meniscus lesi
- Intervensi fisioterapi pada meniscus lesi

Kontra indikasi :
-

Fraktur
Dislocation
Neoplasma
Osteoporosis
Gonitis TB

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Nyeri dan mengunci pada sendi lutut pada gerakan flexi dan extensi
- Keluhan nyeri pada saat aktivitas.
Inspeksi:
- Tidak tampak kelainan
Tes cepat
- Hiper mobility pada knee joint.
Tes gerak aktif
- Kadang terjadi nyeri pada saat fleksi maupun ekstensi sendi
tibiofemoralis.
- Gerak internal rotasi dan eksternal rotasi terjadi nyeri
Tes gerak pasif
- Nyeri pada saat fleksi maupun ekstensi sendi tibiofemoralis.dengan end
feel elastis
- Gerak internal rotasi dan eksternal rotasi terjadi nyeri dengan end feel
elastis
- Sering semua gerak negatif bila aktualitas rendah
Tes gerak isometric
- Tidak khas,.
Tes khusus
- Appley test dan murray test
- JPM lutut.
Pemriksaan lain
- Atroplasti
Diagnosis
- Nyeri pada sendi lutut pada gerakan flexi dan extensi akibat meniscus lesi.

Rencana tindakan
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi:
- SWD atau MWD
o SWD/MWD Continous thermal untuk aktualitas rendah, waktu 10-12
menit.
-

Manipulasi meniscus.
Latihan Strengthening
Knee Dakker
Latihan Stabilisasi.

Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada
Lampiran
Asesmen
SWD/MWD
Manipulasi meniscus
Strengthening exc
Knee Dakker

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 300 dari 2
Judul: Fisioterapi pada Post - Op Menisectomy
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Fisioterapi pada post menisectomy adalah bentuk latihan yang diberikan pada
pasien sesudah operasi meniscus. Menisectomy adalah tindakan operasi yang
dilakukan karena adanya robek atau rupture pada meniscus lateral atau medial
sendi lutut.
II. TUJUAN
Sebagai pedoman bagi fisioterapi untuk memberikan progam latihan pada
kondisi sesudah opersi minesectomy baik saat rawat inap ataupun rawat jalan
III. KEBIJAKAN
3.1 Standar prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman atau panduan bagi
terapis dalam menyelenggarakan pelayanan fisioterapi pada pasien, dan
mengingat pedoman atau panduan ini disusun untuk satu penyakit secara
umum maka pedoman atau panduan ini tidak dimaksudkan untuk
menggantikan pertimbangan klinis dari terapis dalam penatalaksanaan
pasien.

3.2 Setiap program terapi, pelaksanaan program terapi dan perkembangannya


harus didokumentasikan secara lengkap oleh terapis dalam berkas rekam
medis pasien

IV. PROSEDUR
4.1 Post-Op ( Hari Operasi)

Pada fase awal ini yang dilakukan adalah :


4.1.1 Berikan es, elevasi pada lutut dan menggunakan elastic bendage
untuk mengontrol oedema.
4.1.2 Hindari luka jahitan dari air (basah)
4.1.3 Lakukan latihan-latihan untuk menambah ROM ankle, heel slide.
4.1.4 Latihan penguatan sesuai dengan toleransi pasien yaitu latihan
Quadriceps dan Hamstring, SLR, Knee ekstensi posisi duduk dan
jalan PWB dengan menggunakan kruk sesuai dengan toleransi
pasien.
4.1.5 Berikan es sebelum dan sesudah latihan serta 20 menit setiap 2 jam
setelah berdiri.

4.2 Post-Op (Hari ke-1)

Memelihara ROM dan mulai untuk fokus pada latihan strengthening closed
chain dengan pemberian perhatian pada nyeri, oedema atau menurunnya
ROM. Lanjutkan penggunaan brace post-operasi . Sebaiknya sudah berjalan
tanpa kruk dalam pola jalan yang normal. ROM knee ekstensi penuh, fleksi
120. Tidak ada peningkatan nyeri, oedema, atau gejala lain selama
melakukan latihan. Latihan yang diberikan adalah:
4.2.1 Berikan es, elevasi pada lutut dan menggunakan elastic bendage
untuk mengontrol oedema.
4.2.2 Lanjutkan latihan-latihan untuk menambah ROM 2-3 kali per hari
dan tambahkan dengan latihan sepeda static dengan tinggi kursi
serendah yang dapat ditoleransi pasien dengan beban yang ringan.
4.2.3 Lanjutkan latihan penguatan dan tambahkan dengan latihan
keseimbangan dengan berdiri pada tumit dan latihan keseimbangan
dengan setengah berjongkok.
4.2.4 Berikan es sebelum dan sesudah latihan serta 20 menit setiap 2 jam
setelah berdiri.
4.3 Post-Op (Hari ke-2 s/d ke-7)
4.3.1 Lanjutkan pemberian es dan elevasi.
4.3.2 Hentikan penggunaan kruk setelah 3 hari.
4.3.3 Lanjutkan latihan-latihan untuk menambah ROM.
4.3.4 Lanjutkan latihan penguatan dengan menggunakan prinsip PRE dan
tambahkan dengan latihan SLR, fleksi knee,fleksi hip dan ekstensi
knee serta berdiri dengan menggunakan satu sisi kaki.
4.3.5 Berikan es sebelum dan sesudah latihan serta tetap gunakan elastic
bendage.
4.3.6 Lakukan pemeriksaan fisik setelah 6 hari setelah operasi untuk
evaluasi dan pelepasan jahitan.
4.4 Post-Op (Minggu ke-1 s/d ke-3)
4.4.1 Lanjutkan pemberian es dan elevasi.
4.4.2 Setelah jahitan dilepaskan diperbolehkan terkena air (basah)
4.4.3 Lanjutkan latihan-latihan untuk menambah ROM.
4.4.4 Lanjutkan latihan penguatan dan tambahkan dengan program
latihan berlari-lari kecil pada permukaan yang rata dan jalan yang
berliku, latihan jongkok dengan satu kaki, latihan berdiri dengan
satu kaki kemudian elevasikan tumit dan latihan naik turun tangga.
4.4.5 Berikan es sebelum dan sesudah latihan
4.5 Post-Op (Minggu ke-3 s/d ke-6)
4.5.1 Lotion dapat diberikan pada luka jahitan dengan menggunakan ibu
jari dengan tekanan sesuai toleransi.
4.5.2 Lanjutkan latihan-latihan untuk menambah ROM.
4.5.3 Lanjutkan latihan penguatan
4.6 Pasien dapat kembali ke aktifitas semula jika :
4.6.1 Pengukuran ROM dan lingkar tungkai pada kedua tungkai sama.
4.6.2 Pengukuran kekuatan otot kedua tungkai menunjukkan
peningkatan lebih dari 85%

V. UNIT TERKAIT
Tidak ada

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 302 dari 3
Judul: Fisioterapi pada Post

Op ACL

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Adalah tindakan operasi yang dilakukan oleh adanya robek pada anterior
cruciatum ligament sendi lutut. Fisioterapi pada ACL adalah program latihan
yang diberikan untuk pasien sesudah operasi baik saat imobilisasi ataupun
sesudah imobilisasi.
II. TUJUAN
Sebagai pedoman bagi fisioterapi untuk memberikan progam latihan pada
kondisi sesudah opersi ACL baik saat rawat inap ataupun rawat jalan
III. PROSEDUR
3.1 Fase I Minggu ke-1 dan 2

Pada fase awal ini yang menjadi perhatian adalah untuk mengontrol

bengkak dan untuk memelihara ROM ekstensi,mencapai\memelihara ROM


fleksi knee pada sudut 90 dan memfasilitasi control otot Quadriceps untuk
mengurangi terjadinya atropi. Latihan yang diberikan adalah:
3.1.1 Latihan Quadriceps setting dengan pengulangan 10x
3.1.2 Latihan Quadriceps setting dengan straight leg raisig pengulangan
10x
3.1.3 Wall slides, 10x pengulangan (latihan aktif fleksi knee dengan
bantuan gravitasi)
3.1.4
Jane Fondas latihan gerak ekstensi-fleksi, abduksi-adduksi hip;
20x pengulangan pada setiap bidang geraknya.
3.1.5 Latihan pumping ankle, dilakukan sepanjang hari secara
berkesinambungan. Bila diperlukan gantung kaki dalam posisi
prone.
3.1.6 Gait Checks , fisioterapis mengobservasi kemampuan pasien
dalam melakukan backwards ambulasi untuk mendukung
tercapainya ROM ekstensi penuh dengan memakai brace.
3.1.7 Gliding patella, pasien melakukan mobilisasi patella sendiri dengan
dibantu oleh fisioterapis.
3.1.8 Long sitting untuk menciptakan ekstensi knee. Posisi tersebut juga
membantu untuk menstretching harmstrings. Dalam posisi tersebut
pasien diminta meraih ujung ibu jari kaki selama 10-15 menit

setiap 2-4 jam, coba unutk tetap mempertahankan knee dalam


posisi lurus.
3.1.9 Setelah melakukan seluruhlatihan tersebut berikan terapi es,
kompressi dan elevasi untuk mengontrol nyeri\oedema.
3.1.10 Jangan meletakkan bantal untuk mengganjal knee
3.1.11 Lakukan latihan tersebut dua kali sehari, setiap dua hari sekali
latihan dihentikan untuk mengurangi iritasi.
3.1.12 Tujuan yang harus dicapai sebelum maju ke fase II adalah : Oedema
berkurang\terkontrol, ROM ekstensi knee mencapai sudut 0, fleksi
mencapai sudut 110 (bila dilakukan repair meniscus ROM fleksi
hanya 90), mampu melakukan SLR hip dalam posisi abduksiadduksi, fleksi-ekstensi dan dapat berjalan dengan weight bearing
sesuai toleransi dengan menggunakan kruk.
3.2 Fase II Minggu ke-3 dan 4

Memelihara ROM dan mulai untuk fokus pada latihan strengthening closed
chain dengan pemberian perhatian pada nyeri, oedema atau menurunnya
ROM. Lanjutkan penggunaan brace sesudah operasi . Sebaiknya sudah
berjalan tanpa kruk dalam pola jalan yang normal. ROM knee ekstensi
penuh, fleksi 120. Tidak ada peningkatan nyeri, oedema, atau gejala lain
selama melakukan latihan. Latihan yang diberikan adalah:
3.2.1 Lanjutkan latihan SLR, 10x pengulangan
3.2.2 Mini-squats (sudut 0-30) dimulai dari 10x pengulangan. Gerakan ini
dilakukan sampai kne berada jauh dari ujung ibu jari kaki (knee
over tip of toes), selama latihan tidak boleh ada rasa nyeri.
3.2.3 Mini-squats dengan satu tungkai (weight shifts)
3.2.4 Steps Up (latihan naik tangga) (concentric), dimulai dari 10x
pengulangan dengan tinggi undakan 3 , peningkatan tinggi undakan
sesuai dengan toleransi.
3.2.5 Latihan eccentrics (latihan turun tangga), 10x pengulangan sesuai
dengan indikasi.
3.2.6 Latihan proprioseptif, latihan open chain. Selanjutnya latihan
meningkat ke single leg stands.
3.2.7 Mulai latihan dengan sepeda, stairmaster, treadmill.
3.2.8 Tujuan yang harus dicapai sebelum maju ke fase III adalah :
Berjalan tanpa kruk dalam pola jalan yang normal, ROM ekstensi
knee mencapai sudut 0, fleksi mencapai sudut 120 Latihan naikturun tangga mencapai 3x pengulangan selama 3 menit setiap
pengulangan (eccentric), latihan stairmaster mencapai 10 menit,
latihan sepeda 15 menit atau lebih, latihan treadmill 15 menit atau
lebih , tidak ada peningkatan nyeri, oedema atau gejala lain selama
melakukan latihan.
3.3 Fase III Minggu ke-5 dan 8

Observasi umum harus memonitor adanya efusi, perhatian terhadap


adanya tendonitis patellae. Latihan yang diberikan adalah:
3.3.1 Lanjutkan latihan squats dengan matras.

3.3.2 Mulai latihan single dan double leg press.


3.3.3 Mulai program latihan jogging, tidak boleh ada latihan dengan
gerak twisting. Latihan dapat menggunakan back pedals dan side
stapping.

3.3.4 Lanjutkan penggunaan stairmaster dan sepeda untuk latihan


aerobic
3.3.5 Latihan keseimbangan dan proprioseptif.
3.3.6 Lanjutkan latihan turun tangga dengan single step.
3.3.7 Latihan ekstensi lutut open chained
3.4 Fase IV Minggu ke-8 dan 12

Fase ini merupakan saatnya memulai latihan aktivitas fungsional.


Fisioterapis harus memperhatikan kesesuaian ukuran brace saat
beraktivitas.Latihan yang diberikan adalah seluruh latihan pada fase III
ditambah :
3.4.1
plant
3.4.2
3.4.3
3.4.4

Mulai diberikan latihan lateral carioca yang lebih berat, zig-zag,


(latihan dengan alas lembut) dan back up.
Tes isokinetik dalam ROM penuh pada minggu ke 12
Latihan di sliding board (area yang miring)
Latihan proprioseptif maksimal seperti pada fase III

3.5 Fase V Minggu ke-12, 16 dan 24 (6 bulan)

Dapat mulai latihan olah raga. Latihan sama dengan fase IV ditambah
dengan:
3.5.1 Lanjutkan latihan proprioseptif dengan latihan intensif.
3.5.2 Latihan ditambah dengan latihan fungsional, latihan khusus sesuai
olah raga yang digeluti.

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada
V. LAMPIRAN
Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI
6.1 Direksi

6.2 Manajer Klinik


6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

RS

..

FISIOTERAPI PADA ANKLE SPRAIN


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
Panduan
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Ankle sprain
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Ankle Sprain
- Intervensi fisioterapi pada Ankle Sprain

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Dislocation
- Neoplasma

Prosedur
Dosis :
- Pada aktualitas tinggi dengan dosis intensitas rendah; pada aktualitas
rendah dosis intensitas tinggi
- Waktu intervensi 20-30 menit
- Pengulangan aktualitas tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis
- Ada riwayat trauma (kesleo) kearah inversi
- Nyeri jenis nyeri tajam pada kaki sisi lateral
- Nyeri meningkat pada saat gerak eversi
Inspeksi:
- Tampak oedeme dan/atau haemetome pada lateral kaki.
Tes cepat
- Gerak plantar maupun dorsal fleksi nyeri. Gerak inversi nyeri hebat.
Tes gerak aktif
- Gerak inversi nyeri dan gerak eversi tidak terasa nyeri
- Gerak dorso dan plantar flexi
Tes gerak pasif
- Gerak pasif inversi nyeri, ROM terbatas denga sringy end feel
- Gerak lain negatif
Tes gerak isometric
- Gerak isometrik eversi nyeri bila tendon M. Peroneus longus dan brevis
cidera
Tes khusus
- Palpasi pada lig. Calcaneofibulare dan talofibulare terasa nyeri,
kemungkinan lig.lain seperti lig.calcaneocuboideum.
- Pada cidera tendon palpasi diatas tendon mm.peroneus longus dan atau
peroneus brevis terasa nyeri
- Joint play movement.pada sendi calcaneofibulare dan talofibulare nyeri
dengan springy end feel.
Pemeriksaan lain
Diagnosis
- Nyeri lateral kaki disebabkan oleh sprain ankle.
Rencana tindakan:
- - Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi

dan hasil yang diharapkan


- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
- Pada fase acute diterapkan RICE
- Bandaging dengan elestic bandage dan /atau tapping diberikan hingga
satu minggu atau lebih
- US: diberikan pada fase kronik
o Pada ligamenta atau tendon yang terjadi cidera
o Dosis 1.5
2 watt/cm2 waktu 2-3 menit
- Transverse friction
- Active stabilization and balance exercise.
- Walking exc

Evaluasi
- Nyeri sekitar ankle

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Juknis

asesmen
RICE
US
Bandage

RS

..

FISIOTERAPI PADA FLAT FOOT


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
Panduan
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Flat foot
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Flat foot
- Intervensi fisioterapi pada Flat foot

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Poliomielitis

Prosedur
Dosis :
- Penggunaan medial arc support dalam waktu 3bulan atau lebih
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu

Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Tidak ada arcus plantar
- inbalance
Inspeksi:
- Telapak kaki datar, tulang navicularis menonjol ke medial.
Tes cepat
- Gait anlisis tampak kaki menyudut kelateral
- Plantar fleksi lebih lemah
Tes gerak aktif
- Dalam batas normal
Tes gerak pasif
- Gerak pronasi kaki ROM lebih besar dari normal, gerak pronasi terbatas
elastic end feel
- Gerak lain normal
Tes gerak isometric
- Fleksi jari-jari kaki kekuatan kurang dibanding dengan otot lain.

Tes khusus
- Palpasi: arcus longitudinal plantaris rata
- Pengukuran adakah genu valgus
Pemeriksaan lain
-.Podografi: dijumpai flet foot.
Diagnosis:
- gangguan kesimbangan dan berjalan akibat flat foot
Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi

fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
-

Strengthening exercice pada fleksor jari kaki


Ballance exc
Walking exc dengan menggunakan ujung kaki
Penggunaan medial arc support

Evaluasi
- Nyeri sekitar ankle dan lutut

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Medial

asesmen
strengthening exc
walking exc dan balance exc
arc support

RS

..

FISIOTERAPI PADA PES EQUINOVARUS


No. Dokumen
No. Revisi
Halaman
PANDUAN
PELAYANAN
FISIOTERAPI
Tanggal terbit
Ditetapkan,
Direktur
Pengertian
Adalah proses fisioterpi yang diterapkan pada Pes equinovarus
Tujuan
Melaksanakan asuhan fisioterapi secara tepat, efektif dan efisien dengan hasil
yang optimal.
Kebijakan
Indikasi:
- Asesmen fisioterapi dan temuannya pd kasus Pes equinovarus
- Intervensi fisioterapi pada Pes equinovarus

Kontra indikasi :
- Fraktur
- Poliomielitis
-

Prosedur
Dosis :
- Penggunaan medial arc support dalam waktu 3bulan atau lebih
- Pengulangan aktualits tinggi tiap hari; pada aktualitas rendah 3kali - 2
kali seminggu
Teknik Aplikasi :
Asesmen fisioterapi
Anamnesis:
- Dibawa sejas lahir atau akibat kelumpuhan
- Anak terlambat usia jalan
- Berdiri dan jalan dengan punggung kaki
Inspeksi:
- Telapak kaki melengkung, menapak dengan sisi luar kaki atau dengan
punggung kaki.
Tes cepat
- Gait anlisis tampak kaki menyudut kemedial atau berdiri denga sisi
luar kaki atau bahkan punggung kaki
Tes gerak aktif
- Gerak dorsal fleksi dan eversi kekuatan menurun
Tes gerak pasif
- Gerak dorsal fleksi dan eversi dengan firm end feel
Tes gerak isometric
- Gerak dorsal fleksi dan eversi kekuatan menurun
Tes khusus
- Joint play movement
- Stretch test pada arcus longitudinal kaki
Pemeriksaan lain
-.Podografi: dijumpai flet foot.
Diagnosis:
- Gangguan jalan dengan punggung kaki akibat pes equino varus

Rencana tindakan:
- Penjelasan tentang patologi, diagnosis, target, tujuan, rencana intervensi
dan hasil yang diharapkan
- Persetujuan pasien terhadap target, tujuan dan tindkan intervensi
fisioterapi
- Perencananaan intervensi secara bertahap

Intervensi
-

Mobilisasi kaki
Strengthening exercice pada fleksdorsal fleksi dan eversi
Ballance exc
Penggunaan sebatu koreksi

Evaluasi
- Nyeri sekitar ankle dan lutut

Dokumentasi
- Rekam Fisioterapi dan Rekam Medik RS.
Unit terkait
Dilaksanakan oleh fisioterapis terampil atau ahli pada di RS .....
Lampiran
Juknis
Juknis
Juknis
Medial

asesmen
strengthening exc
walking exc dan balance exc
arc support

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 314 dari 2
Judul: Angkat angkut pasien
Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN

1.1 Angkatangkut pasien adalah cara atau tehnik untuk memindahkan pasien
dari satu tempat ke tempat yang lain baik dengan atau tanpa alat bantu
disertai jarak vertical dan atau horizontal.
1.2 Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam angkatangkut pasien adalah
1.2.1 Berat Pasien, jarak angkut ,dan intensitas.
1.2.2 Kondisi lingkungan rumah sakit yaitu lantai licin,kasar, naik turun
1.2.3 Kemampuan tenaga kesehatan
1.2.4 Peralatan yang dipakai
1.2.5 Metode mengangkat yang benar
II. TUJUAN

Sebagai petunjuk bagi semua karyawan yang melakukan angkatangkut pasien


secara aman,efektif dan efisien
III. PROSEDUR

3.1 Persiapan
3.1.1 Pahami benar kondisi pasien. (apakah fraktur leher atau pingang,
stroke, sadar atau tidak dll).
3.1.2 Beri penjelasan ke pasien atau keluarga tentang prosedur, maksud
dan tujuan angkatangkut tersebut
3.1.3 Perhatikan Drain dan line atau linen yang mungkin mengganggu.

3.1.4 Semua barang atau benda yang menghalangi pandangan mata atau
mengganggu sebaiknya disingkirkan dulu.
3.1.5 Persiapkan terlebih dahulu alat Bantu angkatangkut pasien atau
bila pasien tidak memungkinkan diangkat sendiri maka orang yang
akan membantu harus sudah siap di tempat pasien tersebut dan
mengetahui perannya. Jangan pasien sudah diangkat baru panggil
bantuan.
3.1.6 Pastikan bahwa tempat tidur pasien sudah terkunci dan lantai tidak
licin.
3.1.7 Posisikan atau atur tinggi rendah tempat tidur sesuai karyawan
yang mau mengangkat ( Posisi setinggi antara tali pusar dan siku
karyawan ) dan buka rel pengaman bed terlebih dahulu
3.2 Pelaksanaan
3.2.1 Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan.
3.2.2 Pasien diusahakan menekan pada anggota tubuh yang kuat dan
membebaskan tubuh yang lemah dari pembebanan berlebihan.
3.2.3 Pegangan harus tepat, penganggkat dengan pegangan tangan penuh
3.2.4 Lengan harus sedekat
dekatnya pada badan dan dalam posisi
lurus
3.2.5 Punggung harus diluruskan.
3.2.6 Dagu ditarik segera setelah kepala tegak kembali ( seperti
permulaan gerakan ) dengan posisi kepala dan dagu lurus diikuti
seruruh tulang belakang.
3.2.7 Posisi kaki dibuat sedemikian rupa sehingga mampu untuk
mengimbangi momentum yang terjadi dalam posisi mengangkat,
satu kaki ditempatkan kearah jurusan gerakan yang dituju, kaki
kedua ditempatkan sedemikian rupa sehingga membantu
mendorong tubuh pada gerakan pertama
3.2.8 Berat badan dimanfaatkanuntuk menarik dan mendorong serta
gaya untuk gerakan dan perimbangan.
3.2.9 Beban diusahkan berada sedekat mungkin terahadap garis vertical
yang melalui pusat gravitasi tubuh.
3.2.10 Angkat angkut pasien dengan kondisi khusus diatur dengan SPO
tersendiri.
3.3 Mengakhiri Terapi
3.3.1 Merapikan kembali drain, line dan linen seperti semula.
3.3.2 Kunci roda tempat tidur dan pengaman.
3.3.3 Mengembalikan alat bantu angkat angkut ketempat semula.
3.3.4 Memberikan penjelasan ke keluarga atau pasien kalau proses
angkat angkut sudah selesai

IV. DOKUMEN TERKAIT

Tidak ada
V. LAMPIRAN

Tidak ada
VI. DAFTAR DISTRIBUSI

6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 317 dari 3

Judul: Standar Identifikasi pasien fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Standar Identifikasi pasien fisioterapi adalah suatu standar yang
diberlakukan dalam penerimaan pasien melalui identifikasi pasien yang
mencakup identitas diri / nama dan problem yang nyata dan yang
berpotensi terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau
kondisi kesehatan lain.
II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi staf dalam mengidentifikasi pasien.
III. KEBIJAKAN
Semua terapis, Staf Administrasi, Pekarya dan petugas lain yang berhubungan
pelayanan wajib mengetahui indentitas pasien secara lengkap dan dtegaskan

kembali oleh staf dengan memanggil ulang nama tersebut.


IV. PROSEDUR
4.1. Pasien rawat jalan
4.1.1 Pada saat datang di Administrasi / ruang tunggu
4.1.1.1 Staf Administrasi mengucapkan selamat dan meminta
pasien menyebutkan identitas dirinya.
4.1.1.2 Staf Administrasi melakukan registrasi dan atau
melakukan aktual untuk pasien dengan perjanjian.

4.1.1.3 Staf Administrasi mencetak label dan meminta konfirmasi


pasien tentang data yang tercantum pada stiker dan
menempelkan label pasien yang dimaksud di slip
pembayaran
4.1.1.4 Terapis meminta staf administrasi memanggil nama
pasien ke ruangan pemeriksaan
4.1.2 Pada saat datang di ruang pemeriksaan
4.1.2.1 Pasien masuk keruang pemeriksaan dengan menyebutkan
namanya.
4.1.2.2 Terapis melakukan pengecekan dengan memanggil ulang
nama pasien.
4.1.3 Pada saat pasien datang di ruang tindakan
4.1.3.1 Terapis memberikan tindakan dengan menyebut nama
pasien
4.1.3.2 Terapis memberikan tanda pada item tindakan slip
pembayaran dan melakukan paraf.
4.1.4 Pada saat datang di administrasi fisioterapi
4.1.4.1 Pasien menuju kasir dan meginput item sesuai nama
pasien kedalam komputer.
4.1.4.2 Staf Administrasi menyarankan pasien untuk membuat
perjanjian kedatangan berikutnya.

4.2. Pasien rawat Inap


4.2.1 Diruang rawat inap
4.2.1.1 Terapis membawa Form permintaan ke ruangan rawat
inap dan memeriksa status pasien
4.2.1.2 Terapis memperkenalkan diri pada pasien dan atau
keluarganya kemudian melakukan asessment termasuk
jati diri pasien. Problematik yang diperoleh di gabungkan
dengan diagnosa medis, untuk kemudian
didokumentasikan dalam status pasien

4.2.2 Diruang Terapi


4.2.2.1 Pasien diantar dari ruang rawat inap oleh petugas
ruangan ke ruangan terapi
4.2.2.2 Staf Administrasi menerima pasien, mengucapkan selamat
dan
4.2.2.3 meminta pasien menyebutkan identitas dirinya.
4.2.2.4 Staf Administrasi melakukan registrasi dan atau
melakukan aktual untuk pasien dengan perjanjian.
4.2.2.5 Staf Administrasi mencetak label dan menempelkan label
pasien yang dimaksud di slip pembayaran
4.2.3 Pada saat datang di administrasi Fisioterapi
4.2.3.1 Pasien menuju kasir dan meginput item sesuai nama
pasien kedalam komputer.
4.2.3.2 Staf Administrasi menyarankan pasien untuk membuat
perjanjian kedatangan berikutnya.

V. DOKUMEN TERKAIT
VI. LAMPIRAN
-

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 320 dari 362
Judul: Alur Pengkajian Pasien Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh : Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Pengkajian pasien Fisioterapi adalah adalah kegiatan yang dilakukan fisioterapis
mulai dari anamnesa, observasi dan pemeriksaan fisik sebagai acuan untuk
menentukan masalah, rencana, tujuan dan program terapi yang tepat bagi pasien.

II. TUJUAN
2.1 Untuk memperoleh data yang menyeluruh tentang pasien.
2.2 Untuk menentukan masalah yang ada pada pasien
2.3 Untuk menentukan rencana, tujuan dan program terapi yang tepat bagi pasien

III. PROSEDUR
3.1 Pasien baru datang dengan surat rujukan, baca surat rujukan lalu lakukan

pemeriksaan.
3.2 Pasien baru datang tanpa surat rujukan, dilakukan pemeriksaan.
3.3 Pemeriksaan dilakukan menurut keperluannya dan tidak mengubah posisi
pasien berulang-ulang.
3.4 Lakukan anamnesa terhadap pasien atau keluarga.
3.5 Lakukan observasi berhubungan dengan alat bantu, bentuk, kulit, pola jalan,
fungsional dan mobilitas.
3.6 Lakukan pemeriksaan fisik berhubungan dengan AROM, PROM,
neuropsikologis, tes melawan tahanan, tes khusus.
3.7 Lakukan palpasi untuk mengetahui adanya bengkak, spasme, dan keadaan
tonus otot.
3.8 Lakukan pengukuran-pengukuran yang diperlukan.
3.9 Tentukan masalah yang ada pada pasien.
3.10 Pasien tanpa surat rujukan dokter yang kasusnya tidak dapat ditangani diruj
uk
3.11 kepada Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik atau professional kesehatan lain
yang lebih ahli dengan persetujuan pasien.
3.12 Tentukan program terapi sesuai dengan masalah yang ada dan kebutuhan
pasien atau mengirim pasien tanpa surat rujukan dokter yang kasusnya tidak
dapat ditangani dirujuk kepada Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik atau
professional kesehatan lain yang lebih ahli dengan persetujuan pasien.
3.13 Berikan edukasi dan program latihan di rumah kepada pasien dan keluarga.
3.14 Lakukan pencatatan mengenai pengkajian, program dan tujuan terapi pada
formulir catatan pemeriksaan fisioterapi.

3.15 Laporan evaluasi pasien fisioterapi kepada dokter pengirim apabila program
terapi telah selesai.

IV. DOKUMEN TERKAIT


4.1 Formulir catatan pemeriksaan fisioterapi
4.2 Formulir laporan evaluasi pasien fisioterapi

V. LAMPIRAN
Bagan alur pelayanan pasien fisioterapi

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 322 dari 4
Judul: Standar Pengkajian Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Pengkajian Fisioterapi adalah suatu proses mencakup pemeriksaan pada diri
individu atau kelompok, mengidentifikasi problem yang nyata dan yang
berpotensi terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau
kondisi kesehatan lain, dengan cara mengangkat riwayat penyakit, telaah umum,
uji khusus dan pengukuran, pemeriksaan penunjang, dilanjutkan dengan evaluasi
hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesis dalam sebuah proses
pertimbangan klinis.
II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi Fisioterapis dalam menjalankan asuhan professional
merumuskan Pengkajian fisioterapi pada pasien/klien, petugas pelayanan
fisioterapi, petugas lain
III. KEBIJAKAN
Standar ini berlaku di lingkungan Rumah Sakit dan wajib diikuti oleh
Fisioterapis, pasien/klien, petugas pelayanan fisioterapi dan petugas lain.

IV. PROSEDUR
Komponen :
4.4 Identifikasi Umum.

Kriteria :
4.4.1. Data lengkap
4.4.2. Sistematis

4.4.3. Menggunakan form dan prosedur yang baku, actual dan valid.
4.4.4. Asesmen dan konsultasi

Data awal mencakup elemen;


4.4.4.1. Riwayat penyakit dan harapan pasien / klien
4.4.4.2. Riwayat problem sekarang, keluhan, tanggal mulai
dirasakan dan upaya pencegahannya.
4.4.4.3. Diagnosa medis dan dan riwayat medis yang berkaitan
4.4.4.4.
4.4.4.5. Karekteristik demografi, psikologik, sosial, dan faktor
lingkungan yang terkait.
4.4.4.6. Pelayanan terkait sebelumnya atau yang bersamaan
dengan episode asuhan fisioterapi
4.4.4.7. Penyakit lain yang berpengaruh terhadap prognosis
4.4.4.8. Pernyataan pasien / klien tentang problemnya sesuai
dengan kadar pengetahuannya.
4.4.4.9. Antisipasi tujuan dan harapan setelah terapi ( outcomes)
dari pasien / klien dan keluarga dan pihak lain yang
terpengaruh.
4.4.5. Telaah sistemik

Status anatomi dan fisiologi yang berkait dengan data awal,


mencakup sistem-sistem :
4.4.5.1.
4.4.5.2.
4.4.5.3.
4.4.5.4.

Kardiovasculer/ pulmuner
Integumenter
Musculoskleletal
Neuromusculer

4.4.6. Telaah tentang komunikasi, afeksi, kognisi, bahasa dan kemampuan


pembelajaran.
4.4.7. Pengujian dan pengukuran yang terpilih untuk menentukan status
pasien / klien.
4.4.7.1. Arousal, atensi dan kognisi
4.4.7.1.1 Tingkat kesadaran
4.4.7.1.2 Kemampuan menjawab perintah
4.4.7.1.3 Kemampuan tampilan secara umum

4.4.7.2. Perkembangan neuromotorik dan integrasi sensoris


4.4.7.2.1. Keterampilan motorik kasar dan halus
4.4.7.2.2. Pola gerak reflek
4.4.7.2.3. Ketangkasan, kelincahan dan koordinasi
4.4.7.3. Range Of Motion
4.4.7.3.1. Luas gerak sendi
4.4.7.3.2. Nyeri jaringan lunak sekitar
4.4.7.3.3. Panjang dan fleksibilitas otot
4.4.7.4. Penampilan otot ( termasuk kekuatan, tenaga dan daya
tahan )
4.4.7.4.1. Force, velocity, torque, work, power
4.4.7.4.2. Gradasi manual muscle test.
4.4.7.4.3. Elektromiografi : Amplitudo, durasi, waveform
dan frekwensi
4.4.7.5. Ventilasi, respirasi (pertukaran gas) dan sirkulasi
4.4.7.5.1. Frekwensi denyut jantung, frekwensi
pernafasan, tekanan darah
4.4.7.5.2. Gas darah arteri
4.4.7.5.3. Palpasi denyut perifer
4.4.7.6. Sikap
4.4.7.6.1. Sikap statik
4.4.7.6.2. Sikap dinamik
4.4.7.7. Langkah, gerak ( lokomasi ) dan keseimbangan
4.4.7.7.1. Karateristik langkah
4.4.7.7.2. Fungsional lokomasi
4.4.7.7.3. Karateristik keseimbangan
4.4.7.8. Pemeliharaan diri dan pengelolaan tempat tinggal
4.4.7.8.1. Aktifitas hidup harian
4.4.7.8.2. Kapasitas fungsional
4.4.7.8.3. Transfer
4.4.7.9. Integrasi / reintegrasi masyarakat dan kerja ( pekerjaan /
sekolah / bermain )
4.4.7.9.1. Aktifitas instrumentasi kehidupan harian

4.4.7.9.2. Kapasitas fungsional


4.4.7.9.3. Kemampuan adaptasi

4.4.8. Pemeriksaan penunjang seperti radiology, laboratorium dan lain


sebagainya
4.4.9. Analisa data dan interpretasi data.

Analisa dan interpretasi data adalah suatu kegiatan untuk


menyimpulkan informasi yang diperoleh dengan membandingkan
kapasitas fisik dan kemampuan fungsionalnya dengan aktifitas
sehari-hari.

V. DOKUMEN TERKAIT

VI. LAMPIRAN

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


7.1 Direksi
7.2 Manajer Klinik
7.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 326 dari 2
Judul: Standar Diagnosa Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
1.1 Diagnosa Fisioterapi ialah label yang merangkum berbagai simtom,
sindrom atau kategori yang merefleksikan informasi yang didapat dari
pemeriksaan pasien / klien.
1.2 Prognosa fisioterapi ialah rumusan prediksi perkembangan dari kondisi
sehat sakit pasien / klien yang mungkin tercapai dalam waktu berikutnya
denganintervensi fisioterapi.

II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi Fisioterapis dalam menjalankan asuhan profesional
merumuskan diagnosa dan prognosa fisioterapi pada pasien / klien yang
ditanganinya.
III. KEBIJAKAN
Standar ini berlaku di lingkungan Rumah Sakit dan wajib diikuti oleh

Fisioterapis, pasien/klien, petugas pelayanan fisioterapi dan petugas lain.


IV. PROSEDUR
4.1 Diagnosa fisioterapi dihasilkan dari proses pemeriksaan dan evaluasi
dengan pertimbangan klinis yang dapat menunjukkan adanya disfungsi
gerak, mencakup adanya gangguan atau kelemahan jaringan tertentu,
limitasi fungsi, ketidakmampuan dan sindroma. Diagnosa akan berfungsi
dalam menggambarkan keadaan pasien / klien, menuntun penetuan
prognosis dan menuntun penyusunan rencana intervensi.

4.1.1
4.1.2
4.1.3
4.1.4

Merumuskan
Merumuskan
Merumuskan
Merumuskan

dan atau kelemahan jaringan.


keterbatasan gerak fungsional.
ketidakmampuan gerak dalam aktifitas hidup harian
sindrom dari analisa dan sintesa simtom yang ada.

4.2 Prognosis fisioterapi dihasilkan dengan cara merumuskan prediksi


perkembangan varian kondisi sehat sakit pasien / klien yang mungkin
dicapai dalam waktu berikutnya dengan intervensi fisioterapi.

V. DOKUMEN TERKAIT

VI.
6.1
6.2
6.3
6.4

LAMPIRAN
Diagnosa
Diagnosa
Diagnosa
Diagnosa

Musculosceletal
Neuromusculer
Kardiovasculer / Pulmoner
Integumenter

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


7.1 Direksi
7.2 Manajer Klinik
7.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 5 dari 5
Judul: Standar Diagnosa Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. Diagnosa Musculosceletal
Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja
demineralisasi
Gangguan Sikap
Gangguan Kinerja otot
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan connective tissue
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan Inflamasi lokal
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan kerusakan spinal
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan fraktur
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan arthroplasty sendi
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan bedah tulang / jaringan lunak.
Gangguan mobilitas sendi, motor fungtion,
dengan amputasi
II. Diagnosa Neuromusculer

system musculoskeletal /

kinerja otot, dan ROM yang berkaitan


kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan
kinerja otot, dan ROM yang berkaitan

Pencegahan dini / pengurangan resiko terhadap kehilangan balance dan jatuh.


Gangguan Perkembangan Neuromotor

Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Non
Progresif Disorder CNS
conginetal atau pada bayi dan masa anak.
Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Non
Progresif Disorder CNS pada usia dewasa
Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan
Progresif Disorder CNS.
Gangguan Periferal nerve integrity dan motor function yang berkaitan dengan
Periferal Nerve Injury.
Gangguan motor function dan sensory integration yang berkaitan dengan Acut
atau Chronic Polyneuropathies.
Gangguan motor function dan Periferal nerve integration yang berkaitan dengan
Non Progresif Disorder Spinal Cord
Gangguan kesadaran, ROM, Motor Control yang berkaitan dengan Coma, Near
coma, atau status vegetative.
III. Diagnosa Kardiovasculer / Pulmoner
Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system cardiovascular
pulmonary
Gangguan kapasitas aerobiki / ketahanan yang berkaitan dengan decontioning
syndrome
Gangguan ventilasi, respirasi / gas exchange, aerobic capacity / indurance yang
berkaitan dengan airways clearance dysfunction.
Gangguan kapasitas aerobik / ketahanan yang berkaitan dengan cardiovascular
pump dysfunction or failure.
Gangguan ventilasi, respirasi / gas exchange, kapasitas aerobik / ketahanan yang
berkaitan dengan Ventilatory pump dysfunction or failure
Gangguan ventilasi, respirasi / gas exchange, kapasitas aerobik / ketahanan yang
berkaitan dengan respirasi failure.
Gangguan ventilasi, respirasi / gas exchange, kapasitas aerobik / ketahanan yang
berkaitan dengan respirasi failure pada neonatus.
Gangguan sirkulasi darah, anthropometric dimentions yang berkaitan dengan
Lymphatetic Syndrom disorder.

IV. Diagnosa Integumenter


Berpotensi untuk terjadi gangguan kinerja system integument
Gangguan integumenary integrity yang berkaitan dengan superficial skin
involment.
Gangguan integumenary integrity yang berkaitan dengan partial thickness skin
involment
Gangguan integumenary integrity yang berkaitan dengan partial thickness skin
involment dan scar formation
Gangguan integumenary integrity yang berkaitan dengan partial thickness skin
involment extended in to fascia, muscle, or bone and scar formation.

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 331 dari 3
Judul: Standar Perencanaan Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Perencanaan fisioterapi ialah rumusan antisipasi kondisi pasien jangka pendek,
menengah dan panjang yang bisa dicapai melalui serangkaian tindakan
fisioterapi, serta rumusan rangkaian tindakan fisioterapi yang diperlukan untuk
pencapaian tersebut.
Perencanaan mencakup antisipasi tujuan, harapan dan rencana tindakan,
berkaitan dengan impairmen, keterbatasan fungsi dan disabilitas sesuai yang
didapat pada pemeriksaan, harapan keberhasilan dinyatakan dengan terminologi
fungsional.

II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi Fisioterapis dalam menjalankan asuhan profesional
merumuskan perencanaan fisioterapi pada pasien / klien yang ditanganinya.

III. KEBIJAKAN
Standar ini berlaku di lingkungan Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk dan wajib
diikuti oleh Fisioterapis, pasien / klien, petugas pelayanan fisioterapi dan pet
ugas
lain.

IV. PROSEDUR
Perencanaan disusun berdasarkan kebutuhan pasien untuk mengatasi diagnosa
fisioterapi dengan;
4.1 Ketentuan perencanaan meliputi;
4.1.1 Melibatkan pasien / klien ( keluarga dan pihak lain berpengaruh )
dalam perumusan antisipasi tujuan dan harapan keberhasilan
4.1.2 Merumuskan tujuan antisipatif dan harapan keberhasilan
dinyatakan dalam terminologi terukur.
4.1.3 Merumuskan jenis-jenis tindakan fisioterapi, frekuensi, intensitas,
durasi, modifikasi dan jadwal evaluasi
4.1.4 Merumuskan pendidikan bagi pasien / klien dan keluarga /
pemberi pelayanan.
4.1.5 Melibatkan secara memadai dengan kolaborasi dan koordinasi
dengan profesi / pelayanan lain.
4.1.6 Memberikan penjelasan yang cukup bagi pasien / klien atau
walinya tentang diagnosa, prognosa, antisipasi tujuan, harapan
keberhasilan, rencana tindakan dan pendidikan.
4.1.7 Meminta persetujuan tindakan atas dasar kesadaran ( informed
consent ) pasien / klien atau walinya
4.2 Komponen perencanaan meliputi;
4.2.1 Prioritas masalah : fungsi Motorik dan sensorik, fungsi koqnitif,
intrapersonal, interpersonal dan masalah fungsional.
4.2.2 Tujuan : Singkat dan jelas, berdasarkan diagnosa fisioterapi, dapat
diukur, realistik dan menggunakan tahapan.
4.2.3 Rencana tindakan
4.2.4 Tindakan metodelogi fisioterapi berdasarkan tujuan terapi dengan
memperhitungkan aspek efisiensi & efektifitas serta melibatkan
pasien / keluarga pasien, mempertimbangkan budaya,
kebijaksanaan dan peraturan yang berlaku, menjamin rasa aman
dan nyaman bagi pasien dan mempertimbangkan lingkungan,
sumber daya dan fasilitas yang ada. Rencana tindakan harus berupa
kalimat instruksi, ringkas, tegas dan mudah dimengerti serta
menggunakan sistimatika baku.

4.2.5 Edukatif
4.2.6 Edukasi terhadap pasien melibatkan pasien dan keluarga pasien
dengan memperhatikan prinsip belajar mengajar serta
menggunakan metode yang tepat.dan komunikasi efektif
4.2.7 Evaluasi
4.2.8 Menggunakan konsep pengukuran

4.2.7.1
4.2.7.2
4.2.7.3
4.2.7.4

Dilakukan
Penetapan
Penetapan
Penetapan

secara berkala
kriteria keberhasilan.
kriteria modifikasi
kriteria rujukan.

V. DOKUMEN TERKAIT

VI. LAMPIRAN

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


7.1 Direksi
7.2 Manajer Klinik
7.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 334 dari 2
Judul: Standar Intervensi Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: KepalaUnit Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Intervensi fisioterapi ialah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan
dengan maksud memenuhi kebutuhan pasien secara maksimal yang mencakup
aspek peningkatan, pemeliharaan, penyembuhan serta pemulihan kesehatan
dengan mengikut sertakan pasien dan keluarganya.mencakup penanganan
manual; peningkatan gerak; peralatan fisis; peralatan elektroterapeutis dan
peralatan mekanis; pelatihan fungsional; penentuan bantuan dan peralatan
bantuan; dokumentasi dan koordinasi, komunikasi
II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi fisioterapi dalam menjalankan asuhan profesional
merumuskan perencanaan fisioterapi pada pasien / klien yang ditanganinya.
III. KEBIJAKAN
Standar ini berlaku dilingkungan, dan wajib diikuti oleh Fisioterapis,
pasien/klien, petugas pelayanan fisioterapi, petugas lain.

IV. PROSEDUR
Intervensi setiap kunjungan / pertemuan, dengan mencermati respon dan
perkembangan kondisi pasien / klien perlu implementasi dan modifikasi dari
perencanaan. Intervensi oleh Fisioterapis dan atau dilaksanakan oleh asisten
harus dibawah direksi/pengarahan dan supervise otentikasi (pengesahan)
dokumen oleh fisioterpi berijin, memuat unsure-unsur:
Kriteria :
4.1 Sesuai rencana fisioterapi termasuk penetapan dosis dan waktu.

4.2 Mengamati kapasitas fisik dan kemampuan fungsional dengan pendekatan


holistik.
4.3 Menjelaskan setiap tindakan / intervensi fisioterapi kepada pasien /
keluarga.
4.4 Menggunakan sumber daya ( peralatan, fasilitas dan mempertimbangkan
sosio ekonomi pasien )
4.5 Bersikap sabar dan ramah dalam berinteraksi dengan pasien / keluarga.
4.6 Menerapkan prinsip aseptik / antiseptik.
4.7 Menerapkan etika fisioterapi.
4.8 Menerapkan prinsip aman, nyaman, ekonomis, privasi dan mengutamakan
keselamatan pasien.
4.9 Segera merujuk masalah yang mengancam keselamatan pasien.
4.10 Mencatat semua intervensi yang telah dilaksanakan.
4.11 Melaksanakan intervensi fisioterapi berdasarkan prosedur yang telah
ditentukan dan memperhatikan respon pasien.
4.12 Memperhatikan kerapian pasien dan sarana fisioterapi.
4.13 Mengatasi gangguan kapasitas fisik kemampuan fungsional

V. DOKUMEN TERKAIT

VI. LAMPIRAN

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


7.1 Direksi
7.2 Manajer Klinik
7.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 336 dari 2
Judul: Standar Dokumentasi Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Unit Fisisoterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Dokumentasi ialah semua hal yang termasuk dalam catatan pasien/klien seperti
laporan konsultasi, laporan asesmen awal, catatan perkembangan, catatan alur
pelayanan, re-asesmen dan kesimpulan pelayanan.
Autentikasi ialah proses untuk verivikasi bahwa semua data yang tercatat adalah
lengkap, akurat dan final. Ditandai dengan tanda tangan asli, atau tanda tangan
computer dengan system pengamanan elektronika.
II. TUJUAN
Tersedianya pedoman bagi Fisioterapis dalam menjalankan asuhan professional
merumuskan dokumentasi fisioterapi pada pasien/klien, petugas pelayanan
fisioterapi, petugas lain
III. KEBIJAKAN
Standar ini berlaku di lingkungan Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk Jakarta dan
wajib diikuti oleh Fisioterapis, pasien/klien, petugas pelayanan fisioterapi dan

petugas lain.
IV. PROSEDUR
Semua pendokumentasian harus sesuai dengan peraturan perundangan yang
berlaku.
4.1
4.2
4.3
4.4
4.5

Nama pasien dan data identifikasi lain.


Asal rujukan.
Tanggal pertama asesmen, hasil asesmen dan data dasar
Program dengan estimasi lamanya pelayanan atau tujuan jangka pendek,
menengah dan jangka panjang sesuai standar IV.

4.6 Metode dan hasilnya serta modifikasinya meliputi:


4.6.1 Perkembangan neuromotorik dan integrasi sensoris
4.6.2 Range of motion
4.6.3 Penampilan otot ( termasuk kekuatan, tenaga dan daya tahan )
4.6.4 Ventilasi, respirasi ( pertukaran gas ) dan sirkulasi
4.6.5 Sikap statis dan dinamis
4.6.6 Langkah, gerak ( lokomasi ) dan keseimbangan
4.6.7 Pemeliharaan diri dan pengelolaan tempat tinggal
4.7 Kriteria :
4.7.1 Pencatatan selama pasien rawat inap maupun rawat jalan
4.7.2 Menggunakan Tulisan tangan dan tanda tangan harus dengan tinta.
4.7.3 Pencatatan dilakukan segera setelah tindakan dilaksanakan.
4.7.4 Penulisan catatan jelas, ringkas dan menggunakan istilah dan
sisitimatika yang baku.
4.7.5 Mengoreksi kesalahan dokumen dengan cara mencoret satu garis
lurus sepanjang tulisan yang dikoreksi diparaf dan ditanggali
4.7.6 Setiap pencatatan harus mencantumkan inisial / nama fisioterapis
yang melaksanakan intervensi fisioterapi.
4.7.7 Persetujuan ( informed consent ) : kepada pasien/klien harus
ditanyakan pemahaman dan kesadarannya sebelum intervensi
dimulai
4.7.8 Disimpan sesuai peraturan yang berlaku.
4.7.9 Digunakan sebagai bahan informasi, komunikasi dan laporan.

V. DOKUMEN TERKAIT

VI. LAMPIRAN

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Kepala Bagian Keterapian Fisik

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL


Judul : Bagan Alur Pasien Rawat Inap

Hal 3 dari 3
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 339 dari 3


Judul: Konsultasi Pasien Rawat Inap

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala bagian
Fisioterapi
Medis
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Konsultasi pasien Rawat Inap bagian Fisioterapi adalah alur pasien rawat inap
yang memerlukan pelayanan bagian Fisioterapi

II. TUJUAN
2.1 Memberikan pelayanan yang baik bagi pasien rawat Inap yang
membutuhkan pelayanan bagian Fisioterapi.
2.2 Mengatur tertibnya pelayanan pasien rawat inap bagian Fisioterapi.

III. PROSEDUR

3.1 Dokter spesialis pengirim membuat surut rujukan ke Fisioterapi


3.2 Perawat ruangan menginformasikan adanya pasien baru kepada
Fisioterapi.
3.3 Fisioterapis menjawab konsul dan membuat program Fisioterapi dicatat
dalam rekam medis
3.4 Terapis menentukan prioritas permasalahan, menentukan tujuan terapi
dan melakukan tindakan,mengevaluasi dan mendokumentasikan proses
fisioterapi dan perkembangan pasien.
3.5 Fisioterapis memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk
melaksanakan program di ruang rawat inap.
3.6 Kasir memasukan data pembayaran ke komputer.

IV. UNIT TERKAIT


Tidak ada

V. LAMPIRAN
5.1 Bagan alur pasien rawat Inap

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Departemen Klinik
6.3 Manajer Departemen Keperawatan

LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 341 dari 3


Judul: Konsultasi Pasien Rawat Inap

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala bagian
Fisioterapi
Medis
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

DOKTER PENGIRIM

R
u
j
u
k
a
n

Fisioterapis
Program

E
V
A
L
U
A
S
I

R
U
J
U
K
A
N

TERAPIS
Pelaksanaan

S
L
I
P

ADMINISTRASI
Input Pembayaran

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 5 dari 5
Judul: Alur Pasien Rawat Jalan

Departemen : Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

Tanpa RujukanPASIEN RAWAT JALANLuar RSPIKPoliklinik / UGD RSPIKTerapisAssesmentA


da FormRujukan ?
Dokter RehabilitasiProgramTerapisKonsultasiSesuaiKewenangan ?
TerapisPenatalaksanaanTerapisEvaluasi & Kontrol Ke DokterYaTidakYaTidak

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 5 dari 5
Judul: Alur Pasien Rawat Jalan

Departemen : Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

PASIENRAWAT JALANPoliklinik RSPIKTanpa RujukanLuar RSPIKDR. REHABILITASIProgramT


ERAPISAssesmentTERAPISKonsul Ke DokterAda FormRujukan ?
YaTidakSesuaiKewenangan ?
YaTERAPISPenatalaksanaanTidakTERAPISEvaluasi &
Kontrol Ke Dokter

LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 344 dari 6


Judul: Konsultasi Pasien Rawat Jalan

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala bagian
Fisioterapi
Medis
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manager Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Konsultasi pasien Rawat Jalan bagian Fisioterapi adalah alur masuk dan keluar
pasien yang memerlukan pelayanan bagian Fisioterapi.

II. TUJUAN
2.1 Memberikan pelayanan yang baik bagi pasien rawat jalan yang
membutuhkan pelayanan bagian Fisioterapi.
2.2 Mengatur tertibnya pelayanan pasien rawat jalan bagian Fisioterapi.

III. KEBIJAKAN
3.1 Standar prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman atau panduan bagi
terapis dalam menyelenggarakan pelayanan fisioterapi pada pasien, dan
mengingat pedoman atau panduan ini disusun untuk satu penyakit secara
umum maka pedoman atau panduan ini tidak dimaksudkan untuk

menggantikan pertimbangan klinis dari terapis dalam penatalaksanaan


pasien.
3.2 Setiap program terapi, pelaksanaan program terapi dan perkembangannya
harus didokumentasikan secara lengkap oleh terapis dalam berkas rekam
medis pasien

IV. PROSEDUR
4.1 Pasien datang ke ruang terapi sesuai perjanjian atau urutan.
4.2 Rawat jalan RSPIK
4.2.1 Dengan surat rujukan
4.2.1.1 Petugas administrasi poliklinik atau dari UGD
mendaftarkan pasien rujukan ke Fisioterapi
4.2.1.2 Petugas administrasi Fisioterapi menerima pasien,
membuat create visite kemudian mengatur urutan pasien
masuk ke ruangan konsultasi.

4.2.1.3 Fisioterapi melakukan evaluasi dan membuat program


dan mengisi formulir tindakan terapi.
4.2.1.4 Pasien membawa formulir terapi dari Fisioterapi diterima
petugas administrasi Fisioterapi dan dilakukan registrasi
dan pengaturan jadwal.
4.2.1.5 Terapis melakukan assessment, menentukan prioritas
permasalahan serta menentukan tujuan terapi
4.2.1.6 Terapis melakukan tindakan mengacu pada program,
edukasi kepada pasien dan keluarga untuk melaksanakan
program di rumah, mendokumentasikan dan melakukan
evaluasi serta membuat rujukan ke dokter pengirim
4.2.1.7 Petugas administrasi memasukan data pembayaran ke
komputer.
4.2.1.8 Pasien membayar dikasir, dan Petugas administrasi
menerangkan kepada pasien untuk datang lagi sesuai
perjanjian.
4.2.2 Tanpa surat rujukan
4.2.2.1 Petugas administrasi poliklinik atau dari UGD
menyerahkan formulir tindakan terapi serta mengarahkan
pasien ke bagian rehabilitasi
4.2.2.2 Petugas administrasi rehabilitasi menerima pasien, meng
create visite kemudian mengatur urutan pasien masuk ke
ruangan terapi.
4.2.2.3 Terapis melakukan assessment, menentukan prioritas
permasalahan serta menentukan tujuan terapi
4.2.2.4 Terapis melakukan tindakan mengacu pada program,
edukasi kepada pasien dan keluarga untuk melaksanakan
program di rumah, mendokumentasikan dan melakukan
evaluasi serta membuat laporan ke Dokter pengirim.
4.2.2.5 Petugas administrasi memasukan data pembayaran ke
komputer.
4.2.2.6 Pasien membayar dikasir, dan petugas administrasi
menerangkan kepada pasien untuk datang lagi sesuai
perjanjian..
4.2.3 Rawat jalan dari luar RSPIK
4.2.3.1 Petugas administrasi Fisioterapi menerima pasien yang
membawa surat rujuk atau formulir tindakan terapi,
membuat case kemudian mengatur urutan pasien masuk
ke ruangan terapi
4.2.3.2 Terapis melakukan assessment, menentukan prioritas
permasalahan serta menentukan tujuan terapi
4.2.3.3 Terapis melakukan tindakan, edukasi kepada pasien dan
keluarga untuk melaksanakan program di rumah,
mendokumentasikan dan melakukan evaluasi serta
membuat laporan pasien ke dokter pengirim.
4.2.3.4 Petugas administrasi memasukan data pembayaran ke
komputer.
4.2.3.5 Pasien membayar dikasir, dan petugas administrasi
menerangkan kepada pasien untuk datang lagi sesuai
perjanjian.

4.2.4 Rawat jalan tanpa surat rujukan


4.2.4.1 Pasien datang tanpa formulir terapi diterima petugas
admnistrasi dan dilakukan registrasi.
4.2.4.2 Terapis melakukan assessment, menentukan prioritas
permasalahan serta menentukan tujuan terapi
4.2.4.3 Terapis menerima pasien rawat jalan tanpa rujukan
dokter sesuai batas Kewenangannya, sebagai berikut :
4.2.4.4 Fisioterapis dapat menerima pasien/ klien tanpa rujukan
4.2.4.5 dokter pada pelayanan yang bersifat promotif, preventif,
pelayanan untuk pemeliharaan kebugaran, memperbaiki
postur, memelihara sikap tubuh dan melatih irama
pernafasan normal serta pelayanan dengan keadaan
aktualitas rendah dan bertujuan untuk pemeliharaan.
4.2.4.6 Terapis Wicara dapat menerima pasien tanpa rujukan
dokter pada pelayanan yang bersifat promotif, preventif,
pelayanan dengan keadaan aktualitas rendah dan
bertujuan untuk pemeliharaan serta pelayanan pada
pasien/ klien dengan gangguan komunikasi ringan.
4.2.4.7 Okupasi Terapis dapat menerima pasien/ klien tanpa
rujukan dokter pada pelayanan yang bersifat promotif,
preventif, deteksi dini, penyembuhan dan pemulihan
dalam intervensi oupasi terapis pada gangguan area
kinerja okupasional dan gangguan komponen kinerja
operasional.
4.2.4.8 Terapis melakukan tindakan, edukasi kepada pasien dan
keluarga untuk melaksanakan program di rumah,
mendokumentasikan dan melakukan evaluasi.
4.2.4.9 Pasien yang kasusnya tidak dapat ditangani dirujuk ke
tenaga kesehatan lain yang lebih ahli dengan persetujuan
pasien.
4.2.4.10 Petugas administrasi memasukan data pembayaran ke
komputer.
4.2.4.11 Pasien membayar dikasir, dan petugas administrasi
menerangkan kepada pasien untuk datang lagi sesuai
perjanjian.

V. UNIT TERKAIT
Tidak ada

VI. LAMPIRAN
Bagan alur pasien rawat jalan

VII. DAFTAR DISTRIBUSI


7.1
7.2
7.3
7.4

Direksi
Manajer Departemen Klinik
Manajer Departemen Keperawatan
Kepala Seksi Pelayanan Terapi Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 348 dari 362
Judul: Prosedur Mulai Kerja Administrasi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh :
Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Prosedur mulai kerja adalah suatu kegiatan persiapan staff administrasi dalam ru
ang
kerja yang disesuaikan dengan perencanaan dan kapasitas pekerjaan yang meliputi
proses pemeriksanaan dan persiapan alat kerja, persiapan kertas cetakan, kebersi
han
dan kerapihan ruang kerja, pemisahanan dan pemeriksaan file keuangan pasien.
II. TUJUAN
Prosedur ini menetapkan petunjuk pelaksanaan bagi staf Administrasi Fisioterapi
dalam mempersiapkan ruang kerja sehingga dapat memberikan pelayanan yang
cepat, ramah, dan akurat kepada pasien dan keluarganya.
III. PROSEDUR
3.1 Staf Administrasi mengambil kunci ruang kerja dan uang modal kerja, slip
setoran bank diruang pusat Administrasi lantai 1.

3.2 Baca informasi terbaru.


3.3 Minta Uang Modal kerja ke Kasir Umum, jumlah uang modal sesuai yang
ditentukan.
3.4 Buka ruang kerja, pastikan bahwa ruang kerja terkunci sebelum dibuka.
3.5 Rapihkan tata ruang kerja, periksa kebersihan ruangan kerja.
3.6 Minta pihak Cleaning Service untuk membantu membersihkan ruang kerja.
3.7 Hidupkan komputer, printer , periksa keadaannya, pastikan bahwa kertas
untuk mencetak cukup, penuhi bila tidak.
3.8 Apakah semua kelengkapan kerja, alat cetakan, alat tulis, kertas, brochure
sudah terpenuhi ?
3.9 Jika TIDAK Catat semua kekurangan agar dapat dilengkapi.
3.10 Jika YA : lanjutkan
3.11 Periksa Transaksi di mesin kartu kredit, lakukan Settlement bila masih ada
transaksi
3.12 yang tertinggal lakukan Settlement dan berikan kepada Kasir Umum.
3.13 Konfirmasi dengan ruang perawatan untuk mengetahui jumlah pasien yang
rencana pulang pada hari tersebut dan juga biaya-biaya pasien yang belum
dilakukan pencatatan.
3.14 Selesai

IV. DOKUMEN TERKAIT


Tidak ada

V. LAMPIRAN

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Manajer Pengembangan Usaha
6.4 Kepala Bagian Administrasi Pasien
6.5 Kepala Bagian Keterapian Fisik

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 350 dari 362
Judul: Prosedur Akhir Kerja Administrasi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh : Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
SPO-KL-FIS-45
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Prosedur Akhir Kerja adalah suatu kegiatan persiapan staf administrasi untuk
penutupan ruang kerja yang meliputi proses pelaporan hasil kerja, penyetoran
pendapatan, penyetoran file keuangan, pemeriksaan alat kerja, persiapan kertas
cetakan, kebersihan dan kerapihan ruang kerja.
II. TUJUAN
Prosedur ini menetapkan petunjuk pelaksanaan bagi staf administrasi Fisioterapi
dalam mengakhiri masa kerja sehingga dapat memberikan ketepatan pelaporan dan
penyetoran file keuangan pasien pulang dan pendapatan.

III. KEBIJAKAN
3.1 Standar prosedur ini dimaksudkan sebagai pedoman atau panduan bagi
Fisioterapis dalam menyelenggarakan pelayanan fisioterapi pada pasien,
dan mengingat pedoman atau panduan ini disusun untuk satu penyakit
secara umum maka pedoman atau panduan ini tidak dimaksudkan untuk
menggantikan pertimbangan klinis dari Fisioterapis terapis dalam
penatalaksanaan pasien.
3.2 Setiap program Fisioterapi, pelaksanaan program Fisioterapi dan
perkembangannya harus didokumentasikan secara lengkap oleh
Fisioterapis dalam berkas rekam medis pasien

IV. IV. PROSEDUR


4.1 Staff administrasi mempersiapkan file keuangan pasien yang sudah
menyelesaikan administrasi.
4.2 Cetak Laporan Pendapatan Kasir.
4.3 Sesuaikan pendapatan dengan Laporan Pendapatan, lakukan penghitungan
ulang apabila ada perbedaan, bila tidak dapat menyelesaikan permasalahan
konsultasikan hal tersebut dengan Penyelia, bila ada perbedaan maka
harus ada keterangan yang jelas dan juga dokumen yang lengkap.
4.4 Pisahkan antara uang modal dan pendapatan kasir.
4.5 Cetak Audit Trail dari mesin Kartu Kredit untuk menghindari kesalahan
printing.
4.6 Lakukan Settlement pendapatan kartu kredit.

4.7 Masukan semua pendapatan, slip dan Settlement kartu kredit ke dalam
amplop setoran kasir.
4.8 Isi keterangan dimuka amplop pendapatan kasir sesuai dengan isi amplop.
4.9 Tuliskan jumlah pendapatan kasir, tandatangan dan nama jelas penyetor di
Slip Bank untuk disetorkan.
4.10 Matikan komputer bila sudah tidak ada kegiatan administrasi lagi.
4.11 Pastikan semua komputer dan printer dalam keadaan mati, pastikan
kebersihan
4.12 ruangan terjaga baik dan semua pintu terkunci sebelum meninggalkan
ruangan.
4.13 Apakah Bank masih beroperasi?
4.13.1 Jika YA : Setorkan uang tunai pendapatan kasir berikut Slip Bank ke
Bank.
4.13.2 Jika TIDAK : Masukan uang tunai pendapatan kasir berikut Slip Bank ke
dalam Amplop Penyetoran Tunai
4.14 Tuliskan nama kasir dan jumlah pendapatan di muka Amplop penyetoran.
4.15 Minta Penyelia memeriksa semua laporan dan menandatangani laporan
dan juga dokumen yang terkait dengan laporan.
4.16 Setorkan laporan, Slip Bank/Amplop pendapatan, uang modal dan file
keuangan pasien pulang di seksi Kasir Umum.
4.17 Serahkan kunci ruangan kepada Penyelia.
4.18 Serah terimakan tugas yang tertunda kepada Staff administrasi Fisioterapi
berikutnya
4.19 Selesai

V. UNIT TERKAIT
Tidak ada

.
LOGO STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL Hal 352 dari 5
Judul: Orientasi Karyawan Baru
Bagian Fisioterapi

Departemen.: Klinik
Tanggal Keluar :
Tanggal Revisi:
Dibuat oleh: Kepala Bagian Fisioterapi
No.:
No. Revisi:
Disetujui Oleh:
Manajer Klinik
Disahkan oleh:
Direksi

I. PENGERTIAN
Orientasi Karyawan Baru Bagian Rehabilitasi Medik adalah suatu periode dalam
masa percobaan karyawan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perusahaan
dimana karyawan baru wajib mengikuti kegiatan pengenalan ( orientasi ).
II. TUJUAN
Peraturan ini dimaksudkan sebagai pedoman umum dalam pelaksanaan orientasi
bagi karyawan baru di Bagian Rehabilitasi.
III. PROSEDUR
3.1 Pelaksana
3.1.1 Orientasi bagi karyawan baru akan dilaksanakan dalam 2 ( dua )
tahapan, sebagai berikut :
3.1.1.1 Orientasi Umum dilaksanakan oleh Departemen Sumber
Daya Manusia.
3.1.1.2 Orientasi Khusus dilaksanakan oleh Departemen bersama

Bagian Rehabilitasi.
3.1.2 Orientasi Khusus wajib dilikuti oleh karyawan baru sebagaimana
diatur dalam peraturan ini
3.1.3 Materi yang diberikan selama masa Orientasi Khusus akan meliputi:
3.1.3.1 Struktur Organisasi Departemen, Bagian dan Uraian Tugas.
3.1.3.2 Peraturan - Ketentuan Departemen Klinik.
3.1.3.3 Standar Prosedur Operasional.
3.1.3.4 Instruksi Kerja bagian Rehabilitasi.
3.1.3.5 Pengenalan lingkungan kerja.
3.1.3.6 Pengenalan peralatan kerja.
3.1.3.7 Latihan penggunaan peralatan kerja.
3.1.4 Metoda pelaksanaan Orientasi Khusus adalah dengan metoda
belajar aktif
3.1.5 dengan bimbingan petugas yang ditunjuk.
3.1.6 Evaluasi atas pemahaman sehubungan dengan materi yang
dipelajari akan dilakukan oleh Kepala Bagian Rehabilitasi dibantu
oleh Kepala Seksi Terapi Fisik.
3.1.7 Laporan Tertulis mengenai pelaksanaan orientasi Khusus serta
evaluasi Individual saat dilaksanakannya penilaian atas

pelaksanaan masa percobaan sesuai dengan ketentuan yang


berlaku akan dibuat oleh Kepala Bagian Rehabilitasi.
3.2 Ruang Lingkup

Peraturan ini berlaku bagi seluruh karyawan baru yang akan bertugas di
bagian Rehabilitasi.
IV. DOKUMEN TERKAIT
Peraturan Perusahaan mengenai Orientasi Karyawan Baru Rumah Sakit Pantai
Indah Kapuk.
V. LAMPIRAN
5.1 Jadwal Orientasi Karyawan Baru.

VI. DAFTAR DISTRIBUSI


6.1 Direksi
6.2 Manajer Klinik
6.3 Manajer Sumber Daya Manusia.
6.4 Kepala Bagian Keterapian Fisik

IV.2.
AUDIT DAN TINDAK LANJUT PENERAPAN SPO
1. Pengertian :

Mengidentifikasi penyimpangan penerapan SPO melalui dokumen pelayanan


pasien/klien, menginterpretasi temuan penyimpangan, dan tindak lanjut
perbaikan SPO.
2. Data yang dihasilkan :

a
b
c
d

Temuan penyimpangan penerapan SPO.


Interpretasi temuan penyimpangan.
Tindak lanjut perbaikan SPO.
SPO baru.

3. Peralatan yang digunakan :

a
b
c
d

Dokumen / status pasien.


Dokumen SPO
Buku / komputer
Alat tulis

4. Prosedur :

a
b
c
d
e

Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi


Mengidentifikasi adanya penyimpangan penerapan SPO.
Mengintrepretasi temuan.
Menindak lanjuti perbaikan SPO.
Mendokumentasi SPO baru.

5. Lampiran
6. Referensi :

6.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang


Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
6.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang
Standar Profesi Fisioterapi
6.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang
Standar Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang
Pedoman Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
6.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang
Standar Profesi Fisioterapi Indonesia.
6.7 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/MENKES/PER/XII/1989
tentang Rekam Medik.
6.8 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
6.9 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy
Association, 2001
6.10 ISO 9000:2000.

IV.3.
TELAAH DAN TINDAK LANJUT SUMASI PASIEN/KLIEN.
1. Pengertian :

Merekapitulasi sumasi pasien/klien yang berkaitan dengan


perubahan/perbaikan simtom, sindrom, patologi, impermen, keterbatasan
gerak, keterbatasan fungsi, dalam katagori : memburuk, tetap (flat), tanda
perbaikan, perbaikan signifikan, fungsional terpenuhi, dan normal.
2. Data yang dihasilkan :

a Pengelompokan katagori sumasi pasien/klien : memburuk, tetap (flat),


tanda perbaikan, perbaikan signifikan, fungsional terpenuhi, dan normal.
b Interpretasi hasil pengelompokan.
c Rekomendasi tindak lanjut perbaikan prosedur, metode, dan teknik
pelayanan.
d Kreasi pembaharuan prosedur, metode, dan teknik pelayanan.

3. Peralatan yang digunakan :

a
b
c
d

Dokumen / status pasien.


Dokumen SPO
Buku / komputer
Alat tulis

4. Prosedur :

a Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi


b Mengidentifikasi sumasi pasien/klien dalam katagori : memburuk, tetap
(flat), tanda perbaikan, perbaikan signifikan, fungsional terpenuhi, dan
normal.

c Mengintrepretasi temuan.
d Merekomedasi perbaikan prosedur, metode, dan teknik pelayanan.
e Menindak lanjuti perbaikan prosedur, metode, dan teknik pelayanan.
baru
f Mendokumentasi prosedur, metode, dan teknik pelayanan baru.

5. Lampiran
6. Referensi :

6.1 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1363 Tahun 2001 tentang


Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapi.
6.2 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 376 Tahun 2007 tentang
Standar Profesi Fisioterapi
6.3 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 517 Tahun 2008 tentang
Standar Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.4 Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 778 Tahun 2008 tentang
Pedoman Pelayanan Fisioterapi di Sarana Kesehatan.
6.5 Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan di Rumah Sakit oleh Direktorat
Jendral Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI Tahun 2008,
tertulis adanya Fasilitas Pelayanan Fisioterapi di Rumah Sakit.
6.6 Ketetapan IFI Nomor : TAP/02/KONAS IX/VIII/VIII/2004 tentang
Standar Profesi Fisioterapi Indonesia.
6.7 Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 749a/MENKES/PER/XII/1989
tentang Rekam Medik.
6.8 Dokumen World Confederation for Physical Therapy (WCPT), 2007.
6.9 Guide to Physical Therapist Praktice American Physical Therapy
Association, 2001
6.10 ISO 9000:2000.

IV.4.
SURVEI DAN ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN/PASIEN/KLIEN.
1. Pengertian :
Mengadakan survei, analisis kepuasan pelanggan/pasien/klien, dan tindak lanjut
perbaikan pelayanan , sedikitnya 2(dua) kali setahun.
2. Data yang dihasilkan :
2.1 Temuan Indek Kepuasan Pasien/klien, dan atau kebutuhan baru.
2.2 Interpretasi temuan penyimpangan.
2.3 Tindak lanjut perbaikan pelayanan.
2.4 Metode/teknik pelayanan baru.
3. Peralatan yang digunakan :
3.1 Form kuisioner kepuasan pelanggan/pasien/klien.
3.2 Kotak saran
3.3 Dokumen / status pasien.
3.4 Dokumen SPO
3.5 Buku / komputer
3.6 Alat tulis
4. Prosedur :
4.1 Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi
4.2 Mengidentifikasi adanya penyimpangan penerapan SPO.
4.3 Mengintrepretasi temuan.
4.4 Menindak lanjuti perbaikan SPO.
4.5 Mendokumentasi SPO baru.
5. Lampiran
6. Referensi :
WCPT, APTA, KARS, ISO 9000:2001.

IV.5.
MEMBIMBING ORIENTASI PEGAWAI BARU.
1. Pengertian :
Merekapitulasi sumasi pasien/klien, dan menyusun katagori Kesehatan Gerak
Fungsional :
2. Data yang dihasilkan :
2.1 Temuan penyimpangan penerapan SPO.
2.2 Interpretasi temuan penyimpangan.
2.3 Tindak lanjut perbaikan SPO.
2.4 SPO baru.
3. Peralatan yang digunakan :
3.1 Dokumen / status pasien.
3.2 Dokumen SPO
3.3 Buku / computer
3.4 Alat tulis
4. 4. Prosedur :
4.1 Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi
4.2 Mengidentifikasi adanya penyimpangan penerapan SPO.
4.3 Mengintrepretasi temuan.
4.4 Menindak lanjuti perbaikan SPO.
4.5 Mendokumentasi SPO baru.
5. Lampiran
6. Referensi :
WCPT, APTA.

IV.6.
MEMBIMBING PRAKTIK OBSERVASI MAHASISWA KESEHATAN.
1. Pengertian :
Merekapitulasi sumasi pasien/klien, dan menyusun katagori Kesehatan Gerak
Fungsional :
2. Data yang dihasilkan :
2.1 Temuan penyimpangan penerapan SPO.
2.2 Interpretasi temuan penyimpangan.
2.3 Tindak lanjut perbaikan SPO.
2.4 SPO baru.
3. Peralatan yang digunakan :
3.1 Dokumen / status pasien.
3.2 Dokumen SPO
3.3 Buku / komputer
3.4 Alat tulis
4. Prosedur :
4.1 Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi
4.2 Mengidentifikasi adanya penyimpangan penerapan SPO.
4.3 Mengintrepretasi temuan.
4.4 Menindak lanjuti perbaikan SPO.
4.5 Mendokumentasi SPO baru.
5. Lampiran
6. Referensi :
WCPT, APTA.

IV.7.
MEMBIMBING PRAKTIK MAHASISWA FISIOTERAPI (INSTRUKTUR).
1. Pengertian :
Merekapitulasi sumasi pasien/klien, dan menyusun katagori Kesehatan Gerak
Fungsional :
2. Data yang dihasilkan :
2.1 Temuan penyimpangan penerapan SPO.
2.2 Interpretasi temuan penyimpangan.
2.3 Tindak lanjut perbaikan SPO.
2.4 SPO baru.
3. Peralatan yang digunakan :
3.1 Dokumen / status pasien.
3.2 Dokumen SPO
3.3 Buku / komputer
3.4 Alat tulis
4. Prosedur :
4.1 Mengamati rekam/status pasien/klien fisioterapi
4.2 Mengidentifikasi adanya penyimpangan penerapan SPO.
4.3 Mengintrepretasi temuan.
4.4 Menindak lanjuti perbaikan SPO.
4.5 Mendokumentasi SPO baru.
5. Lampiran
6. Referensi :
WCPT, APTA.