Anda di halaman 1dari 8

BAB II

ERUPSI GIGI

2.1

Definisi
Erupsi gigi adalah proses pergerakan gigi keluar dari tulang alveolar

menembus gingiva. Erupsi gigi merupakan suatu proses yang berkesinambungan


dimulai dari awal pembentukan melalui beberapa tahap sampai gigi muncul ke
rongga mulut.3

2.2

Tahap Erupsi Gigi


Gigi desidui mulai terbentuk pada minggu ke 6 intrauterin sedangkan gigi

permanen mulai terbentuk pada minggu ke 20 intrauterin. Pada gigi desidui, proses
mineralisasi sudah mencapai tahap sempurna setelah kelahiran sedangkan gigi
permanen mengalami mineralisasi dimulai setelah kelahiran.3
Gigi desidui akan mulai erupsi pada usia 6 bulan dan selesai pada sekitar
usia 2 tahun sedangkan gigi permanen menggantikan gigi susu mulai pada usia 6
tahun hingga 17-19 tahun (Gambar 2.2).4
Pertumbuhan gigi dibagi menjadi tiga tahapan yaitu4:

a. Tahap pra-erupsi yaitu pada saat proses pembentukan gigi selesai


terbentuk (Gambar 2.1). Pada tahap ini, rahang juga mengalami
pertumbuhan kearah posterior dan lateral untuk memberi ruang untuk gigi
yang akan mengalami erupsi. Pertumbuhan rahang lebih cepat pada bagian
apikal yang membuat benih gigi terdorong kearah oklusal. Selain itu,
terdapat juga pertumbuhan jaringan ikat di sekitar kantung gigi.
Tahap pra-erupsi terdiri atas:
i.

Inisiasi (Bud Stage)


Tahap inisiasi merupakan penebalan jaringan ektodermal dan
pembentukkan kuntum gigi yang dikenal sebagai organ enamel pada
minggu ke-6 intrauterin. Perubahan yang paling nyata dan paling
dominan adalah proliferasi jaringan ektodermal dan jaringan
mesenkimal yang terus berlanjut.

ii.

Proliferasi (Cap Stage)


Dimulai pada minggu ke-11 intrauterin, sel-sel organ enamel masih
terus berproliferasi sehingga organ enamel lebih besar sehingga
berbentukan cekung seperti topi. Bagian yang cekung diisi oleh
kondensasi jaringan mesenkim dan berproliferasi membentuk papila
dentis yang akan membentuk dentin. Papila dental yang dikelilingi
oleh organ enamel akan berdiferensiasi menjadi pulpa. Jaringan
mesenkim di bawah papila dental membentuk lapisan yang bertambah
2

padat dan berkembang menjadi lapisan fibrosa yaitu kantong gigi


(dental sakus) primitif.
iii.

Histodiferensiasi (Bell Stage / Tahap Bel)


Tahap bel merupakan perubahan bentuk organ enamel dari bentuk topi
menjadi bentuk bel. Perubahan histodiferensiasi mencakup perubahan
sel-sel perifer papila dental menjadi odontoblas (sel-sel pembentuk
dentin). Ada empat lapisan sel yang dapat dilihat pada tahap bell, yaitu
outer enamel epithelium, retikulum stelata, stratum intermedium, dan
inner enamel epithelium.

Gambar 2.1 Tahap pra-erupsi gigi

iv.

Morfodiferensiasi

Morfodiferensiasi adalah susunan sel-sel dalam perkembangan bentuk


jaringan

atau

organ.

Perubahan

morfodiferensiasi

mencakup

pembentukkan pola morfologi atau bentuk dasar dan ukuran relatif dari
mahkota gigi. Morfologi gigi ditentukan bila epitel email bagian dalam
tersusun sedemikian rupa sehingga batas antara epitel email dan
odontoblas merupakan gambaran dentinoenamel junction yang akan
terbentuk. Dentinoenamel junction mempunyai sifat khas pada setiap
gigi, sebagai suatu pola tertentu pada pembiakan sel.

v.

Aposisi
Aposisi adalah pengendapan matriks dari struktur jaringan keras gigi
(email, dentin, dan sementum). Pertumbuhan aposisi ditandai oleh
pengendapan yang teratur dan berirama dari bahan ekstraseluler yang
mempunyai kemampuan sendiri untuk pertumbuhan yang akan datang.

vi.

Kalsifikasi
Kalsifikasi terjadi dengan pengendapan garam-garam kalsium
anorganik selama pengendapan matriks. Kalsifikasi akan dimulai di
dalam matriks yang sebelumnya telah mengalami deposisi dengan
jalan presipitasi dari bagian ke bagian lainnya dengan penambahan
4

lapis demi lapis. Gangguan pada tahap ini dapat menyebabkan


kelainan pada kekerasan gigi seperti hipokalsifikasi.
b. Tahap pra-fungsional merupakan tahapan dimana pembentukan akar
sampai gigi mencapai dataran oklusal. Pada tahap ini, gigi bergerak kearah
vertikal, miring dan rotasi. Jaringan ligamen periodontal juga bertumbuh
serta meningkatnya permeabilitas vaskular mendesak gigi kearah oklusal.
Pulpa juga mengalami pemanjangan kearah apikal yang membantu
terdorongnya mahkota ke arah oklusal.
c. Tahap fungsional merupakan tahapan saat gigi telah keluar dan dapat
berfungsi sebagaimana mestinya.

Gambar 2.2 Waktu erupsi gigi susu (kiri) dan permanen (kanan)

2.3

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Erupsi Gigi


Erupsi gigi adalah proses yang bervariasi pada setiap anak. Variasi ini

masih dianggap sebagai suatu keadaan yang normal jika lamanya perbedaan waktu
erupsi gigi masih berkisar antara 2 tahun. Variasi dalam erupsi gigi dapat
disebabkan oleh faktor yaitu4:

2.3.1 Faktor Genetik


Faktor genetik mempunyai pengaruh terbesar dalam menentukan waktu
dan urutan erupsi gigi yaitu sekitar 78%, termasuk proses kalsifikasi.
6

2.3.2 Faktor Jenis Kelamin


Pada umumnya waktu erupsi gigi anak perempuan lebih cepat
dibandingkan anak laki-laki. Perbedaan ini berkisar antara 1 hingga 6 bulan.
Waktu erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibanding dengan anak laki-laki
disebabkan faktor hormon yaitu estrogen yang memainkan peranan dalam
pertumbuhan dan perkembangan sewaktu anak perempuan mencapai pubertas.

2.3.3 Faktor Ras


Waktu erupsi gigi orang Eropa dan campuran Amerika dengan Eropa lebih
lambat daripada waktu erupsi orang Amerika berkulit hitam dan Amerika Indian.
Orang Amerika, Swiss, Perancis, Inggris, dan Swedia termasuk dalam ras yang
sama yaitu Kaukasoid dan tidak menunjukkan perbedaan waktu erupsi yang terlalu
besar.

2.3.4 Faktor Lingkungan


1. Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi dapat mempengaruhi keadaan nutrisi, kesehatan
seseorang. Anak dengan tingkat ekonomi rendah cenderung menunjukkan waktu
erupsi gigi yang lebih lambat dibandingkan anak dengan tingkat ekonomi
menengah.5

2. Nutrisi
Nutrisi sebagai faktor pertumbuhan dapat mempengaruhi erupsi dan proses
kalsifikasi. Keterlambatan waktu erupsi gigi dapat dipengaruhi oleh faktor
kekurangan nutrisi, seperti vitamin D dan gangguan kelenjar endokrin.

2.3.5 Faktor Lokal


Faktor-faktor lokal yang dapat mempengaruhi erupsi gigi adalah jarak gigi
ke tempat erupsi, malformasi gigi, persistensi gigi desidui, adanya gigi berlebih,
trauma terhadap benih gigi, mukosa gusi yang menebal, ankilosis pada akar gigi,
dan gigi sulung yang tanggal sebelum waktunya.

2.3.6 Faktor Penyakit


Gangguan pada erupsi gigi desidui dan gigi permanen dapat disebabkan
oleh penyakit sistemik seperti Down syndrome, cleidocranial dysostosis,
hipotiroid, hipopituaritisme, beberapa tipe dari craniofacial synostosis dan
hemifacial atrophy.