Anda di halaman 1dari 12

AMBLIOPIA

DEFINISI
Ambliopia berasal dari bahasa Yunani amblys yaitu kabur, dan ops adalah penglihatan.
Ambliopia adalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai optimal sesuai
dengan usia dan intelegensinya walaupun sudah dikoreksi kelainan refraksinya. Anak-anak
rentan menderita ambliopia hingga usia 7 tahun dan biasanya terjadi pada satu mata, namun
dapat juga terjadi pada kedua bola mata. Keadaan ini tidak berhubungan langsung dengan
kelainan struktur mata atau kelainan pada jalur visual posterior. Kurangnya tajam penglihatan
pada ambliopia tidak dapat dikoreksi dengan kaca mata dan tidak ditemukan kausa organik pada
pemeriksaan fisik mata. Pada kasus yang keadaannya baik dapat dikembalikan fungsi
penglihatan dengan pengobatan.
EPIDEMIOLOGI
Angka prevalensi ambliopia di Amerika berkisar antara 1%- 3%. Diperkirakan sekitar 5,9
juta orang dengan ambliopia hidup di Amerika. Angka kejadian ambliopia lebih tinggi di negara
berkembang. The National Eye Instiute telah melaporkan bahwa ambliopia merupakan penyebab
terbanyak terjadinya kehilangan penglihatan unilateral pada pasien usia di bawah 70 tahun.
Prevalensi ambliopia tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin. Berdasarkan penelitian
terhadap 3.654 orang usia 49 tahun ke atas di Sydney, Australia, didapatkan diagnosis ambliopia
sebanyak 3,2%, dengan ketajaman penglihatan 20/40 atau kurang, dan 2,9 % dengan ketajaman
penglihatan 20/30.
Usia rata-rata kejadian ambliopia bervariasi tergantung pada penyebabnya. Pada 961
anak-anak dengan ambliopia, usia rata-rata munculnya anisometropik 5,6 tahun, strabismus 3,3
tahun, dan campuran 4,4 tahun. Batas usia teratas berkembangnya ambliopia pada anak yang
mengalami ambliopia dengan kondisi tertentu ( seperti katarak traumatik) telah dilaporkan
berada pada usia antara 6 sampai 10 tahun. Individu dengan ambliopia memiliki risiko tinggi
untuk penurunan penglihatan dan kebutaan. Penelitian terhadap 370 orang yang mengalami
ambliopia unilateral menderita kebutaan 1,2%.
PATOFISIOLOGI
Proses penglihatan mengalami perkembangan dimulai sejak bayi. Terdapat beberapa
periode penting untuk mencapai tingkat kematangan. Periode pertama yang paling menentukan
ialah 6 bulan pertama kehidupan, kemudian sampai 2 tahun, berikutnya sampai 5 tahun. Sesudah

5 tahun masih ada perkembangan, tetapi sudah tidak begitu pesat lagi sampai usia 9 tahun.
Selama masa ini sistem penglihatan peka terhadap faktor ambliopiagenik yaitu deprivasi cahaya,
kurang fokusnya alat optik dan strabismus.
Sistem penglihatan saat lahir belum sempurna dengan tajam penglihatan 1 per tak
terhingga. Perkembangan tajam penglihatan berlangsung selama bulan pertama kehidupan.
Retina, nervus optikus dan korteks visual mulai berkembang pada umur 1 minggu. Mielinisasi
saraf optik, perkembangan korteks visual dan pertumbuhan badan genikulatum lateral
berlangsung selama dua tahun pertama kehidupan. Fovea yang merupakan bagian dari retina
yang paling sensitif, berkembang sempurna pada umur 4 tahun. Rangsangan penglihatan penting
untuk perkembangan penglihatan yang normal. Perkembangan jaras penglihatan di sistem saraf
pusat membutuhkan otak yang menerima bayangan dengan jelas dan seimbang. Berbagai proses
yang mempengaruhi atau menghambat perkembangan jaras penglihatan pada otak dapat
menimbulkan ambliopia.
Tabel 1. Perkembangan Penglihatan Milestones.

Pada ambliopia didapati adanya kerusakan penglihatan sentral, sedangkan daerah


penglihatan perifer dapat dikatakan masih tetap normal. Secara umum, ambliopia dipercayai
akibat dari stimulus foveal atau retina perifer yang inadekuat (disuse), atau interaksi binocular
abnormal yang menyebabkan input visual yang berbeda dari fovea.

Walaupun mekanisme neurofisiologi penyebab ambliopia masih sangat belum jelas, studi
eksperimental modifikasi pengalaman dalam melihat pada binatang dan percobaan laboratorium
pada manusia dengan ambliopia telah memberi beberapa masukan, pada binatang percobaan
menunjukkan gangguan sistem penglihatan fungsi neuron yang dalam/ besar yang diakibatkan
pengalaman melihat abnormal dini. Sel pada korteks visual primer dapat kehilangan kemampuan
dalam menganggapi ransangan pada satu atau kedua mata. Dan sel yang masih responsif
fungsinya pada tahap akhir akan menurun. Kelainan juga terjadi pada neuron badan genikulatum
lateral. Keterlibatan retina masih belum dapat disimpulkan.
Sistem penglihatan membutuhkan pengalaman melihat dan terutama interaksi kompetitif
antar jalur penglihatan dikedua mata pada visual korteks untuk berkembang hingga dewasa.
Bayi sudah dapat melihat sewaktu lahir tapi mereka harus belajar bagaimana menggunakan mata
mereka. Mereka harus belajar bagaimana untuk harus fokus dan bagaimana cara menggunakan
kedua mata secara bersamaan.
Penglihatan yang baik harus jernih, bayangan terfokus sama pada kedua mata. Bila
bayangan kabur pada satu mata atau bayangan tersebut tidak sama pada kedua mata, maka jaras
penglihatan tidak dapat berkembang dengan baik, bahkan dapat memburuk. Bila hal ini terjadi
otak akan mematikan mata yang tidak fokus dan orang tersebut akan bergantung pada satu mata
untuk melihat.
Pada ambliopia yang dicetuskan oleh gangguan nervus optik, kadang tidak terdiagnosis
secara langsung, seperti hipoplasia ringan pada nervus optik. Biasanya akan terdeteksi pada usia
yang lebih dewasa saat pemeriksaan yang lebih kooperatif dapat dilakukan. Kemungkinan
adanya gangguan nervus optikus atau gangguan pada retina harus selalu dipertimbangkan pada
anak-anak dengan ambliopia yang tidak respon dengan terapi.
KLASIFIKASI
Ambliopia dibagi kedalam beberapa bagian sesuai dengan gangguan/kelainan yang menjadi
penyebabnya:
1.

Ambliopia Strabismik
Ambliopia yang paling sering ditemui ini terjadi pada mata yang berdeviasi konstan.

Konstan, tropia yang tidak bergantian (non alternating, khususnya esodeviasi) sering
menyebabkan ambliopia yang signifikan.3 Ambliopia umumnya tidak terjadi bila terdapat fiksasi
yang bergantian, sehingga masing masing mata mendapat jalan/ akses yang sama ke pusat
penglihatan yang lebih tinggi, atau bila deviasi strabismus berlangsung intermiten maka akan ada

suatu periode interaksi binokular yang normal sehingga kesatuan sistem penglihatan tetap terjaga
baik.
Ambliopia strabismik diduga disebabkan karena kompetisi atau terhambatnya interaksi
antara neuron yang membawa input yang tidak menyatu (fusi) dari kedua mata, yang akhirnya
akan terjadi dominasi pusat penglihatan kortikal oleh mata yang berfiksasi dan lama kelamaan
terjadi penurunan respon terhadap input dari mata yang tidak berfiksasi.
Ambliopia yang terjadi akibat juling lama (biasanya juling ke dalam pada anak sebelum
penglihatan tetap). Ambliopia strabismik ini merupakan salah satu bentuk ambliopia yang paling
sering ditemukan dengan onset dini (usia <6 8 tahun). Pada ambliopia strabismik terjadi
supresi pada mata untuk mencegah gangguan penglihatan (diplopia), dimana kedudukan bola
mata tidak sejajar sehingga hanya satu mata yang diarahkan pada benda yang dilihat. 1,2
Strabismus yang dapat menyebabkan ambliopia adalah : strabismus manifes, strabismus
monokular, strabismus dengan sudut deviasi kecil, strabismus yang selalu mempunyai sudut
deviasi diseluruh arah pandangannya.
Ambliopia strabismik terjadi pada sekitar 50% pasien dengan esotropia kongenital
(konstan tropia), tetapi sangat jarang pada pasien dengan strabismus intermiten (misal,
eksotropia intermiten) atau pada pasien strabismus yang disertai penyakit lain (misal, Duanes
sindrom) karena mereka dapat mengkompensasi dengan cara memalingkan wajah saat melihat.
Ambliopia strabismik dapat menjadi berat dan pada beberapa kasus visusnya 20/200 bahkan bisa
lebih buruk.
Penolakan kronis dari mata yang berdeviasi oleh pusat penglihatan binokular ini
tampaknya merupakan faktor utama terjadinya ambliopia strabismik, namun pengaburan
bayangan foveal oleh karena akomodasi yang tidak sesuai, dapat juga menjadi factor tambahan.
Hal tersebut di atas terjadi sebagai usaha inhibisi atau supresi untuk menghilangkan diplopia dan
konfusi. (konfusi adalah melihat 2 objek visual yang berlainan tapi berhimpitan, satu di atas yang
lain).
Ketika kita menyebut ambliopia strabismik, kita langsung mengacu pada esotropia, bukan
eksotropia. Perlu diingat, tanpa ada gangguan lain, esotropia primer-lah, bukan eksotropia, yang sering
diasosiasikan dengan ambliopia . Hal ini disebabkan karena eksotropia sering berlangsung intermiten
dan / atau deviasi alternat disbanding deviasi unilateral konstan, yang merupakan prasyarat untuk
terjadinya ambliopia.
2.

Ambliopia Anisometropia

Ambliopia anisometropia merupakan jenis ambliopia terbanyak kedua setelah ambliopia


strabismus. Ambliopia anisometropia berkembang ketika terjadi kelainan refraksi yang tidak
sama pada dua mata yang

menyebabkan bayangan pada satu retina tidak fokus secara

berkesinambungan. Kondisi ini diperkirakan sebagian akibat efek langsung dari bayangan kabur
pada perkembangan tajam penglihatan pada mata yang terlibat dan sebagian lagi akibat dari
kompetisi interocular atau hambatan yang sama (tapi tidak perlu identik) dengan yang terjadi
pada ambliopia strabismik.
Secara relatif hiperopia derajat ringan atau anisometropia astigmat (1-2 D) dapat memicu
ambliopia ringan. Anisometropia miopia ringan (kurang dari -3 D) biasanya tidak menyebabkan
ambliopia, tapi miopia tinggi unilateral (-6 D atau lebih) sering menghasilkan kehilangan
penglihatan ambliopia berat. Kalau strabismus ada, mata anak dengan ambliopia isometrik
terlihat normal pada dokter layanan primer, secara khas menyebabkan terlambat dideteksi dan
diobati.
3.

Ambliopia deprivasi
Ambliopia deprivasi dulu disebut dengan ambliopia ex anopsia dan ambliopia nirpakai

kadang masih digunakan, yang disebabkan oleh obstruksi visual aksis. Penyebab terbanyak
adalah katarak kongenital atau katarak didapat dini, tapi kekeruhan kornea, perdarahan vitreus
mungkin terlibat. Ambliopia deprivasi paling sedikit terjadi tetapi paling merusak dan paling
sulit diobati. Kehilangan penglihatan ambliopia merupakan hasil dari oklusi unilateral aksis
visual cenderung lebih buruk daripada yang dihasilkan dari deprivasi bilateral dengan derajat
yang sama karena efek interokular menambahkan pengaruh perkembangan langsung degradasi
bayangan berat. Bahkan pada kasus bilateral, bagaimanapun, ketajaman penglihatan dapat
20/200 atau lebih buruk.
Pada anak yang lebih kecil dari 6 tahun, densitas katarak kongenital yang menempati
daerah sentral, 3 mm atau lebih dianggap dapat menyebabkan ambliopia berat. Kepadatan lensa
yang sama didapat pada usia lebih dari 6 tahun secara umum sedikit lebih berbahaya. Small polar
katarak, dapat dilihat dengan retinoskopi, dan katarak lamelar dapat dilihat gambaran fundusnya
dengan baik, dapat menyebabkan ambliopia ringan sampai sedang atau dapat juga tidak berefek
pada perkembangan penglihatan. Ambliopia oklusi adalah bentuk dari ambliopia deprivasi yang
bisa dilihat dari terapi oklusi.
4.

Ambliopia Eks Anopsia

Ambliopia akibat penglihatan terganggu pada saat perkembangan penglihatan bayi.


Dahulu ambliopia ini diduga karena juling, pada saat ini ambliopia eks anopsia diduga
disebabkan supresi atau suatu proses aktif dari otak untuk menekan kesadaran melihat.
Ambliopia eks anopsia dapat terjadi akibat adanya katarak kongenital. Ambliopia ini bila mulai
terjadi sesudah berumur 4 tahun maka tajam penglihatan tidak akan kurang dari
20/200,sedangkan bila terjadi pada usia kurang dari 4 tahun maka tajam penglihatan dapat lebih
buruk.
Ambliopia akibat mata tidak dipergunakan dengan baik. Biasanya mengenai satu mata
yang disertai dengan juling ke dalam atau penglihatan yang sangat buruk. Menurunnya
penglihatan pada satu mata akibat hilangnya kemampuan melihat bentuk setelah fiksasi sentral
tidak dipergunakan (akibat katarak, kekeruhan kornea dan ptosis). Ambliopia eksanopsia diduga
disebabkan supresi atau suatu proses aktif dari otak untuk menekan kesadaran melihat.
Menurunnya penglihatan pada suatu mata akibat hilangnya kemampuan bentuk setelah fiksasi
sentral.
Kelainan ini dapat terjadi pada mata bayi dengan katarak, ptosis, ataupun kekeruhan
kornea sejak lahir atau terlambat diatasi. Pengobatan dengan menutup mata yang sehat dilakukan
setelah mata yang sakit dibersihkan kekeruhan media penglihatannya. Katarak kongenital dapat
menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus.
5.

Ambliopia Isometropia
Ambliopia isometropia terjadi akibat kelainan refraksi tinggi yang tidak dikoreksi, yang

ukurannya hampir sama pada mata kanan dan mata kiri. 3 Dimana walaupun telah dikoreksi
dengan baik, tidak langsung memberi hasil penglihatan normal. Tajam penglihatan membaik
sesudah koreksi lensa dipakai pada suatu periode waktu (beberapa bulan). Khas untuk ambliopia
tipe ini yaitu, hilangnya penglihatan ringan dapat diatasi dengan terapi penglihatan, karena
interaksi abnormal binokular bukan merupakan factor penyebab.
Mekanismenya hanya karena akibat bayangan retina yang kabur saja. Pada ambliopia
isometropia, bayangan retina (dengan atau tanpa koreksi lensa) sama dalam hal kejelasan/
kejernihan dan ukuran.7 Hyperopia lebih dari 5 D dan myopia lebih dari 10 D beresiko menyebabkan
bilateral ambliopia dan harus dikoreksi sedini mungkin agar tidak terjadi ambliopia.

DIAGNOSIS

Diagnosis ambliopia adalah diagnosis eksklusi. Penilaian retina dan nervus optikus
sangat penting karena dasar dari ambliopia adalah kelainan di proses penglihatan sentral.
Ambliopia didiagnosis bila terdapat penurunan tajam penglihatan yang tidak dapat dijelaskan,
dimana hal tersebut ada kaitan dengan riwayat atau kondisi yang dapat menyebabkan ambliopia.
Ambliopia unilateral bila memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Fiksasi mata atau tajam penglihatan berbeda antara kedua mata.
2. Perbedaan tersebut tidak dapat dikoreksi dengan lensa.
3. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh kelainan struktural dari jalur visual.
Kadang-kadang ambliopia sangat ringan dan perbedaan visus hanya satu baris. Hal ini sulit
dinilai pada anak-anak,sehingga diagnosisnya harus berdasarkan kelainan seperti anisometrop
dan strabismus sudut kecil.
Ambliopia bilateral bila terdapat kelainan refraksi yang signifikan dan memenuhi kriteria sebagai
berikut :
1. Fiksasi mata atau tajam penglihatan kurang dari nilai normal sesuai umur pada kedua
mata. Contohnya; visus 20/50 saat anak berumur 3 tahun dan visus 20/40 pada anak
berumur 5 tahun.
2. Tajam penglihatan tidak dapat dikoreksi dengan lensa.
3. Penurunan tersebut tidak disebabkan oleh kelainan struktural dari jalur visual.
Penilaian awal ambliopia meliputi semua komponen Comprehensive pediatric medical eye
evaluation dan ditambahkan dengan perhatian khusus terhadap faktor-faktor spesifik yang
mempengaruhi diagnosis, perjalanan penyakit, dan penatalaksanaan ambliopia.
Bila menemui pasien ambliopia, ada 4 pertanyaan penting yang harus kita tanyakan dan
harus dijawab dengan lengkap, yaitu:
1. Kapan pertama kali dijumpai kelainan amblyogenik? (Seperti strabismus,
anisometropia)
2. Kapan penatalaksanaan pertama kali dilakukan?
3. Terdiri dari apa saja penatalaksanaan itu?
4. Bagaimana kedisiplinan pasien terhadap penatalaksanaan itu?
Jawaban dari keempat pertanyaan tersebut akan membantu kita dalam membuat prognosisnya.
Tabel 2. Faktor primer yang berhubungan dengan prognosis ambliopia
Jelek s/d Sedang

Sedang s/d Baik

Baik s/d Sempurna

Onset

anomaly Lahir s/d usia 2 tahun

amblyogenik
Onset terapi minus

>3 thn

onset anomaly
Bentuk

dan Koreksi optikal

Keberhasilan

dari Kemajuan

terapi awal

minimal

2 s/d 4 tahun

4 s/d 7 tahun

1 s/d 3 thn

1 thn

Koreksi

optikal

VA Patching

& Kemajuan

VA

significant

Kemajuan VA sedang Latihan akomodasi,


(moderat)

Koordinasi

mata-

tangan, & fiksasi


Adanya
Kepatuhan

Tidak s/d kurang

Lumayan s/d cukup

stereopsis

&Alternasi
Cukup s/d

sangat

patuh
VA: visual acuity = tajam penglihatan

Sebagai tambahan, penting juga ditanyakan riwayat keluarga yang menderita strabismus
atau kelainan mata lainnya, karena hal tersebut merupakan predisposisi seorang anak menderita
ambliopia. Strabismus dijumpai sekitar 4% dari keseluruhan populasi.Frekuensi strabismus yang
diwariskan berkisar 22 % - 66%. Frekuensi esotropia diantara saudara kandung adalah 15 %. Jika
salah satu orang tuanya esotropia, frekuensi meningkat hingga 40%.
Tajam Penglihatan
Penderita ambliopia kurang mampu untuk membaca bentuk / huruf yang rapat dan
mengenali pola apa yang dibentuk oleh gambar atau huruf tersebut. Tajam penglihatan yang
dinilai dengan cara konvensional, yang berdasarkan pada kedua fungsi tadi, selalu subnormal.
Telah diketahui bahwa penderita ambliopia sulit untuk mengidentifikasi huruf yang
tersusun linear (sebaris) dibandingkan dengan huruf yang terisolasi, maka dapat kita lakukan
dengan meletakkan balok disekitar huruf tunggal (Gambar 1). Hal ini disebut Crowding
Phenomenon.
Terkadang mata ambliopia dengan tajam penglihatan 20/20 (6/6) pada huruf isolasi dapat
turun hingga 20/100 (6/30) bila ada interaksi bentuk (countour interaction). Perbedaan yang
besar ini terkadang muncul juga sewaktu pasien yang sedang diobati kontrol, dimana tajam
penglihatannya jauh lebih baik pada huruf isolasi daripada huruf linear. Oleh karena itu,
ambliopia belum dikatakan sembuh hingga tajam penglihatan linear kembali normal.

Gambar 1.Balok interaktif yang mengelilingi huruf Snellen.

Menentukan tajam penglihatan mata ambliopia pada anak adalah pemeriksaan yang
paling penting. Walaupun untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang dapat dipercaya sulit pada
pasien anak-anak, tapi untungnya penatalaksanaan ambliopia sangat efektif dan efisien pada anak
anak.
Anak yang sudah mengetahui huruf balok dapat di tes dengan karta Snellen standar.
Untuk Nonverbal Snellen, yang banyak digunakan adalah tes E dan tes HOTV. Tes lain
adalah dengan simbol LEA. (Gambar 2) Bentuk ini mudah bagi anak usia 1 tahun (todler), dan
mirip dengan konfigurasi huruf Snellen. Caranya sama dengan tes HOTV.8

Gambar 2. Simbol LEA

Neutral Density (Nd) Filter Test


Tes ini digunakan untuk membedakan ambliopia fungsional dan organik. Filter densitas
netral (Kodak No.96, ND 2.00 dan 0, 50) dengan densitas yang cukup untuk menurunkan tajam
penglihatan mata normal dari 20/20 (6/6) menjadi 20/40 (6/12) ditempatkan di depan mata yang
amblyopik.8,9Bila pasien menderita ambliopia, tajam penglihatan dengan NDF tetap sama dengan
visus semula atau sedikit membaik.3Jika ada ambliopia organik, tajam penglihatan menurun

dengan nyata bila digunakan filter,9,10 misalnya 20/100 (6/30) menjadi hitung jari atau lambaian
tangan.3 Keuntungan tes ini bisa, digunakan untuk screening secara cepat sebelum, dikerjakan
terapi oklusi, apabila penyebab ambliopia tidak jelas.
Menentukan Sifat Fiksasi
Pada pasien ambliopia, sifat fiksasi haruslah ditentukan. Penglihatan sentral terletak pada
foveal; pada fiksasi eksentrik, yang digunakan untuk melihat adalah daerah retina parafoveal
hal ini sering dijumpai pada pasien dengan strabismik ambliopia daripada anisometropik
ambliopia.10 Fiksasi eksentrik ditandai dengan tajam penglihatan 20/200 (6/60) atau lebih buruk
lagi.3,10 Tidak cukup kiranya menentukan sifat fiksasi hanya pada posisi refleks cahaya korneal.
Fiksasi didiagnosis dengan menggunakan visuskop dan dapat didokumentasi dengan kamera
fundus Zeiss. Tes lain dapat dengan tes tutup alternat untuk fiksasi eksentrik bilateral.
-

Visuskop

Visuskop adalah oftalmoskop yang telah dimodifikasi yang memproyeksikan target


fiksasi ke fundus.(Gambar 4) Mata yang tidak diuji ditutup. Pemeriksa memproyeksikan target
fiksasi ke dekat makula, dan pasien mengarahkan pandangannya ke tanda bintik hitam (asteris*)

.
Gambar 3. Visuskop

Posisi tanda asterisk di fundus pasien dicatat. Pengujian ini diulang beberapa kali untuk
menentukan ukuran daerah fiksasi eksentrik.9 Pada fiksasi sentral, tanda asterisk terletak fovea.
Pada fiksasi eksentrik, mata akan bergeser sehingga asterisk bergerak ke daerah ekstrafoveal dari
fiksasi retina.
-

Tes Tutup Alternat (Alternat Cover Test) untuk Fiksasi Eksentrik Bilateral

Fiksasi eksentrik bilateral adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai dan terjadi pada
pasien-pasien dengan ambliopia kongenital keduabelah mata dan dalam hal ini pada penyakit
makula bilateral dalam jangka lama.

Misalnya bila kedua mata ekstropia atau esotropia, maka bila mata kontralateral ditutup,
mata yang satunya tetap pada posisi semula, tidak ada usaha untuk refiksasi bayangan.(Gambar
5) Tes visuskop akan menunjukkan adanya fiksasi eksentrik pada kedua belah mata.

Gambar 4. Fiksasi Eksentrik Bilateral

Uji Worths Four Dot


Uji untuk melihat penglihatan binokular, adanya fusi, korespondensi retina abnormal,
supresi pada satu mata dan juling. Penderita memakai kacamata dengan filter merah pada mata
kanan dan filter biru pada mata kiri lalu melihat pada objek 4 titik dimana satu berwarna merah,
2 hijau, 1 putih. Lampu atau titik putih akan terlihat merah oleh mata kanan dan hijau oleh mata
kiri. Lampu merah hanya dapat dilihat oleh mata kanan dan lampu hijau hanya dapat dilihat oleh
mata kiri. Bila fusi baik maka akan terlihat 4 titik dan sedang lampu putih terlihat sebagai lampu
campuran hijau dan merah. 4 titik juga akan dilihat oleh mata juling akan tetapi telah terjadi
korespondensi retina yang tidak normal. Bila terdapat supresi maka akan terlihat hanya 2 merah
bila mata dominan kanan atau 3 hijau bila mata kiri dominan. Bila terlihat 5 titik (3 merah dan 2
hijau yang saling bersilangan) berarti mata dalam keadaan eksotropia dan bila tidak bersilangan
berarti mata berkedudukan esotropia.
Ambliopia didiagnosis ketika penurunan ketajaman penglihatan tidak dapat dijelaskan
berdasarkan abnormalitas pemeriksaan fisik dan ditemukan berkaitan dengan penemuan kondisi
yang bisa menyebabkan ambliopia. Karakteristik penglihatan tidak dapat dibedakan secara nyata
antara ambliopia dengan kehilangan penglihatan lainnya. Sebagai contoh crowding phenomenon
bukan suatu patognomonik pada ambliopia.
Pemeriksaan untuk mengetahui perkembangan tajam penglihatan sejak bayi sampai usia 9
tahun perlu untuk mencegah keadaan terlambat untuk melakukan perawatan. Pemeriksaan
kedudukan mata dan adanya reaksi pupil selain pemeriksaan fundus.

TATALAKSANA
1. Menghilangkan setiap gangguan penglihatan, misalnya katarak.
2. Perbaiki setiap kelainan refraksi yang signifikan
3. Meningkatkan penggunaan mata yang lemah dengan cara membatasi penggunaan mata
yang sehat.