Anda di halaman 1dari 65

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Telaah Kepustakaan

2.1.1. Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara


Cekungan Jawa Barat Utara terletak di bagian baratlaut Pulau Jawa dan
meluas kelepas pantai Laut Jawa. Meliputi daerah seluas kurang lebih 40.000
km2, dimana 25.000 km2 di antaranya terletak di daerah lepas pantai (gambar
2.1).

Gambar 2.1 : Peta Lokasi Cekungan Jawa Barat Utara


(Indonesia Basin summaries 2006)
Pada cekungan Jawa Barat Utara terdapat sesar - sesar utama yang berpola
utara selatan dan berumur pratersier menyebabkan cekungan ini terpisah menjadi
tiga sub-cekungan, yaitu : Sub Cekungan Ciputat, Sub Cekungan Pasir Putih dan

7
Sub Cekungan Jatibarang yang merupakan blok - blok turun dari sesar utama.
Ketiga sub cekungan tersebut di batasi tinggian yang merupakan blok naik dari
sesar-sesar utama tersebut, yaitu : Tinggian Tangerang, Tinggian Rengasdengklok
dan Tinggian Kendanghaur Gantar (Soejitno dan Yahya, 1984).
Secara tektonik daerah cekungan Jawa Barat Utara merupakan bagian dari
busur belakang dari sistem subduksi di selatan Pulau Jawa. Tetapi pada kala
Eosen - Oligosen, daerah ini di dominasi endapan klastik kasar yang merupakan
endapan rifting. Endapan ini di jumpai di sepanjang tepian sunda land di asia
tenggara yang berkaitan dengan peristiwa collision antara India Eurasia yang
dikenal sebagai model extrusiom tectonics (Taponier dkk, 1966). Pada kala
Oligosen sekarang daerah ini di dominasi oleh endapan volkaniklastik yang
diendapkan di laut dalam dengan mekanisme turbidit sebagai hasil subduksi dan
endapan batu gamping di bagian tepi benua (shelf edge).
Jawa Barat bagian utara terdiri dari dua cekungan utama : Northwest Java
Basin (NJB) dan Asri Basin (AB). Pusat pengendapan utama di NJB adalah
cekungan Arjuna di bagian Utara, Tengah, Selatan dan sub - cekungan Jatibarang.
Tatanan tektonik Cekungan Jawa Barat Utara ini adalah sebagai cekungan
belakang busur, tetapi pada kala Eosen rifting yg terjadi pada cekungan tidak
terjadi dalam tatanan tektonik yang berbeda. Dari bukti geologi yg terlihat bahwa
daerah ini diinterpretasikan terbentuk sebagai cekungan pull-apart sebagai akibat
interaksi sistem sesar menganan (dextral). Buktinya adalah kenyataan observasi
bahwa arah regangannya yaitu hampir Utara Selatan (Hamilton, 1979).
Deformasi selanjutnya mengaktifkan sesar-sesar tua, dimana di beberapa lokasi

8
ditandai dengan perkembangan struktur inverse. Walaupun bukti inverse agak
jarang di jumpai di North West Java Basin. Pada umumnya pada struktur rifting
yang berarah utara - selatan seringkali di jumpai berupa positive atau negative
flower struktur yang umumnya diinterpretasikan sebagai aktifitas akibat sesar
geser.

2.1.2 Tektonostratigrafi
Secara tektonostratigrafi sedimen pengisi Cekungan Jawa Barat Utara
dapat di bagi menjadi 3 satuan : endapan synrift, endapan postrift dan endapan
back arc. (gresko dkk,1955).

1. Fase Synrift
Tahapan

ini

ditandai

dengan

berkembangnya

tektonik

regangan

(extension) yang berupa bentukan graben atau setengah graben yang


berarah utara-selatan. Di endapkan formasi Jatibarang/pre Talangakar Eq
(V-JTB/pre TAF Eq) pada kala Eosen akhir-Oligosen awal. Kemudian di
endapkan Formasi Talang Akar bagian bawah (Lower TAF) pada kala
Oligosen akhir. Formasi Jatibarang yang terletak di atas batuan dasar,
secara regional dapat dipisahkan menjadi dua kelompok : Kelompok yang
didominasi oleh produk volkanik yang berasosiasi dengan tubuh gunung
api. Kelompok yang tersusun oleh batuan sedimen yang bahanya tersusun
atas material volkanik (epiklastik),serpih serta ditemukan adanya sisipan
batugamping dan konglomerat. Kelompok di lingkungan Region Jawa

9
Cirebon (pre -TAF). Komposisi dari satuan pre-TAF mengindikasikan
adanya provenance yang berasosiasi dengan tubuh gunung api, pada saat
yang bersamaan juga di endapkan batuan tipis batu gamping pada interval
ini. Selanjutnya diendapkan Formasi Talangakar bagian bawah (Lower
TAF) yang tersusun oleh batupasir, serpih, dengan sisipan batubara dan
batugamping. Secara umum lingkungan fluvio-deltaik sampai endapan laut
dangkal.

2. Fase Postrift
Tahapan ini ditandai oleh proses kenaikan muka air laut yang dominan,
proses tektonik mulai berkurang perannya. Secara umum sedimentasi pada
fase ini di kontrol oleh kelurusan berarah utara-selatan (Pola Sunda) walau
terdapat indikasi pertumbuhan batugamping Formasi Baturaja pada daerah
tinggian di beberapa tempat juga di kontrol oleh Pola Meratus (NE-SW).
Siklus transgresif yang dominan pada masa ini ditunjukan oleh endapan
fluvio-deltaik Formasi Talang Akar Bagian Atas menjadi endapan
batugamping Formasi Baturaja, dan endapan marin Cibulakan. Formasi
Talangakar bagian atas yang mengawali siklus ini di endapkan pada kala
Miosen awal, terdiri atas batulempung, batupasir, dengan sisipan batu
gamping yang serta sisipan tipis batubara. Formasi Baturaja yang di
endapkan pada kala akhir miosen awal dicirikan oleh batu gamping yang
tumbuh di daerah tinggian dengan sisipan batupasir dan batugamping.

10
Formasi Cibulakan yang dicirikan oleh batulempung yang dominan
dengan sisipan batupasir dan batugamping.
3. Fase Back arc
Tahap ini merupakan emplacement dari jalur volkanik jawa,dimana untuk
daerah Jawa Barat di tunjukan oleh endapan breksi volkanik dan lava dari
Formasi Jampang yang teramati di daerah pegunungan selatan Jawa Barat.
Pada saat ini cekungan berubah dari rift basin menjadi back arc basin.
Sedimentasi di bagian selatan dari cekungan di dominasi oleh materialmaterial volkanik, sedangkan di cekungan jawa barat utara sedimentasi di
awali oleh sedimen klastik halus dan karbonat (Formasi Parigi dan
Formasi Cisubuh bagian barat) dan di akhiri oleh endapan fluvial (Formasi
Cisubuh bagian atas) akibat dari pengangkatan yang ada di selatan.
Formasi Parigi yang didominasi oleh batugamping tumbuh di daerah
tinggian dengan kontrol kelurusan berarah Barat- Timur diendapkan pada
kala Miosen Akhir, sedangkan Formasi cisubuh yang disusun oleh
batulempung dan batupasir diendapkan pada kala Plio-Pleistosen.

2.1.3 Sejarah Pembentukan Cekungan Jawa Barat Utara


Menurut titik pandang geodinamik tektonik Cekungan Jawa Barat Utara
termasuk ke dalam tektonik global Indonesia Bagian Barat, yang elemen
utamanya adalah lempeng Hindia, Zona Subduksi dan Magmatic Arc sehingga
tatanan tektonik tersebut dapat di jelaskan dengan system active margin (Gambar
2.2). Kondisi tektonik tersebut dicerminkan oleh keadaan fisiografi dari sistem

11
busur kepulauan Jawa yang di mulai dari selatan oleh palung Jawa, busur non
Vulkanik (bawah laut), Cekungan Muka Busur, Busur Volkanik Sunda dan
Cekungan Belakang Busur yang dimanifestasikan oleh Laut Jawa. Kondisi
tersebut berlaku sejak Kala Neogen yang di tandai oleh Busur Volkanik Jampang
di bagian Selatan Jawa barat, dan Busur bermigrasi ke arah Utara sepanjang kala
Neogen sampai sekarang (Resen).
Berawal dari Akhir Kapur hingga Awal Tersier, Jawa Barat Utara dapat di
klasifikasikan dalam Fore Arc Basin dengan di jumpainya orientasi struktur yang
berarah NE SW (N70o E) mulai dari Ciletuh, Sub Cekungan Bogor, Jatibarang,
Cekungan Muria dan Cekungan Florence Barat yang mengindikasikan kontrol
Meratus Trend. Pada waktu Paleogen (Eosen-Oligosen) Jawa Barat mengalami
sesar geser yang akhirnya membentuk Cekungan Jawa Barat Utara sebagai PullApart Basin. Pada fase ini dijumpai sesar-sesar bongkah (half graben system)
yang berarah relatif Utara Selatan (N-S) yang di kenal sebagai arah Sunda.
Endapan lakustrin dan volkanik Formasi Jatibarang menutupi rendahan-rendahan
yang ada. Proses sedimentasi terus berlangsung dengan di jumpainya endapan
transisi Formasi Talang Akar. Sistem ini di akhiri dengan diendapkannya Formasi
baturaja di lingkungan laut dangkal.
Fase tektonik kedua terjadi pada permulaan Neogen (Oligo-Miosen)
dimana jalur subduksi baru terbentuk di Selatan Jawa. Jalur volkanik periode
Miosen Awal terletak di lepas pantai Selatan Jawa. Deretan gunung api ini
menghasilkan endapan volkanik bawah muka laut di kenal sebagai old andesite,
tersebar sepanjang Pulau Jawa. Pola tektonik ini merubah pola tektonik tua NE-

12
SW yang terjadi sebelumnya menjadi berarah Barat Timur (E-W) yang
menghasilkan suatu sisitem sesar naik di mulai dari selatan (Ciletuh) bergerak ke
utara. Pola sesar ini sesuai dengan sistem sesar naik belakang busur yang di kenal
thrust foldbelt system. Pada saat Miosen Awal mulai di endapkan Formasi
Cibulakan atas yang menunjukan lingkungan laut dangkal dan ditutup dengan di
endapkannya Formasi Parigi yang melampar luas.

10 N

6 N

2 N

MELANGE WEDGE OF CRETACEOUS


OR VERY EARLY TERTIARY AGE

IC

000'

M
S

E
N

E
C

OR
S Y
OU IAR
CE RT E
T A T E ON
E
Y Z
CR L N
Y AR IO
RL Y E CT
EA ER DU
V UB
S
ACTIVE VOLCANOES

NE

ZO

JAVA SEA

N
IO

6 S

DU
CT
IO

CT
DU

SU
B

B
SU

TE
RT
IA
RY

VE
TI
AC

2 S

ZO

NE

NORTHWEST JAVA VOLCANIC ROCKS COMPRISE


BOTH OF CRETACEOUS (OR OLDER) AND
TERTIARY AGES

SOUTHW
ARD SH

IFTING OF

10 S

SUBDUC

TION

INDONESIA OCEAN
SUBDUCTION
14 S

MAGMATIC ARC

CRETACEOUS
TERTIARY
PRESENT
96 E

KATILI (1972), HAMILTON (1981)


100 E

104 E

106 E

112 E

116 E

REGION AL TECTON IC SETTIN G OF WEST IN DON ESIA

Gambar 2.2 Tektonik Regional Indonesia bagian Barat


(BP MIGAS/Awang 2005)

Fase tektonik akhir yang terjadi adalah Plio-Pleistosen yang pengaruhnya


terlihat dengan adanya sesar-sesar naik pada jalur Selatan Cekungan Jawa Barat
Utara, sedimen yang terbentuk adalah Formasi Cisubuh.

13
Dari ketiga fase tektonik tersebut di atas dapat dilihat konfigurasi
Cekungan Jawa Barat Utara seperti saat ini. Dari arah Barat berturut-turut tinggian
Jatinegara - Rengasdengklok, Rendahan Ciputat, Tinggian Cilamaya, Rendahan
Pasirbungur, Tinggian Pamanukan, Rendahan Cipunegara. Tinggian Kadanghaur Gantar, Rendahan Jatibarang dan Tinggian Arjawirangun (Gambar 2.3).

Gambar 2.3 Penampang Regional Barat-Timur Cekungan Jawa Barat Utara


(Pertamina 1990)

Cekungan Jawa Barat Utara telah banyak diteliti dan disimpulkan bahwa
daerah ini telah mengalami proses deformasi tektonik yang menghasilkan pola
struktur sesar yang terekam dengan baik pada satuan batuan Paleogen Neogen
dan ini merupakan informasi penting dalam memecahkan permasalahan
pemerangkapan hidrokarbon. Pola struktur tersebut mempunyai tiga arah struktur

14
utama yaitu kelurusan berarah ENE WSW (arah meratus), arah N S (sunda)
dan E W (Jawa).

2.1.4 Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara


Secara umum stratigrafi regional Jawa Barat Utara dapat dibagi dua
(Gambar 2.5) yaitu stratigrafi Paleogen dan Neogen (Bishop 2000).

Gambar 2.4 Peta Kontur Batuan Dasar Cekungan Jawa Barat Utara
(R.A. Noble 1996)

Sedimen Paleogen di endapkan dalam cekungan rift yang di kontrol oleh


sesar sesar yang berarah relative Utara Selatan. Batuan sedimen tersebut dapat
dipisahkan menjadi dua bagian yaitu endapan syn-rift dan endapan post-rift.
Endapan syn-rift diwakili oleh Formasi Talangakar bagian bawah dan PreTalangakar (Pre-TAF/Formasi Jatibarang ?), sedangkan endapan post-rift diwakili

15
oleh Formasi Talangakar bagian atas dan Formasi Baturaja. Formasi Talangakar
berkembang dari endapan fluvial di bagian bawah berubah secara berangsur
menjadi endapan fluvio-deltaic dan laut dangkal (shallow marine) di bagian atas,
sedangkan Formasi Baturaja merupakan endapan laut berupa sedimen karbonat.
Sedimen Neogen diendapkan pada lereng Utara dari Cekungan Belakang
Busur yang mengikuti pola umum struktur Jawa. Pola struktur sunda pada periode
ini juga masih masih berperan secara lokal. Sedimen Neogen diwakili oleh
Formasi Baturaja, Formasi Cibulakan Atas, Formasi Parigi, dan Formasi Cisubuh.

Formasi Jatibarang ( Eosen Awal Oligosen )


Formasi ini yang merupakan early synrift, terutama dijumpai di bagian
tengah dan timur dan Cekungan Jawa Barat Utara. Untuk di bagian barat
cekungan ini (daerah Tambun-Rengasdengklok), Formasi Jatibarang hampir tidak
di jumpai ( sangat tipis). Formasi ini terdiri dari tufa, breksi, konglomerat alas,
yang diendapkan pada fasies fluvial/non marine marine(?).

Formasi Talangakar ( Akhir Oligosen Awal Miosen )


Pada fase synrift di endapkan Formasi Talangakar, pada awalnya berfasies
Fluvio-Deltaik sampai fasies marin. Litologi formasi ini diawali oleh perselingan
sedimen batupasir dengan serpih non marin dan di akhiri oleh perselingan antara
batugamping, serpih dan batupasir dalam fasies marin.
Ketebalan formasi ini sangat bervariasi dari beberapa meter di Tinggian
Rengasdengklok

sampai

254m

di

tinggian

Tambun-Tangerang

hingga

16
diperkirakan 1500 m lebih untuk di pusat dalaman Ciputat dan dalaman Arjuna
(offshore). Pada akhir sedimentasi Formasi Talangakar ini ditandai juga
berakhirnya sedimentasi synrift.

Formasi Baturaja ( Awal Miosen )


Pengendapan Formasi Baturaja yang terdiri dari batugamping, baik yang
berupa paparan maupun yang berkembang sebagai reef buildup menandai fase
postrift yang secara regional menutupi seluruh sedimen klastik Formasi
Talangakar fasies marine di Cekungan Jawa Barat Utara. Perkembangan
batugamping terumbu umumnya di jumpai pada daerah tinggian, namun dari data
pemboran terakhir, ternyata batugamping terumbu juga berkembang pada daerah
yang pada saat sekarang di ketahui sebagai daerah dalaman di Jatibarang low.

Formasi Cibulakan Atas ( Awal Miosen Tengah Miosen )


Formasi ini terdiri dari perselingan antara serpih dengan batupasir dan
batugamping baik yang berupa batugamping klastik maupun secara setempat
setempat berkembang juga batugamping terumbu yang dikenal sebagai Mid Main
Carbonate (MMC).

Formasi Parigi ( Tengah Miosen - Akhir Miosen )


Formasi Parigi terdiri dari batugamping baik klastik maupun batugamping
terumbu. Pengendapan batugamping ini melampar di seluruh Cekungan Jawa

17
Barat Utara dan pada umumnya berkembang sebagai batugamping terumbu
menumpang secara selaras di atas Formasi Cibulakan Atas.

Formasi Cisubuh ( Pliosen Kuarter )


Di atas formasi Parigi di endapkan sedimen klastik serpih, batulempung,
batupasir dan di tempat yang sangat terbatas diendapkan juga batugamping tipis,
yang dikenal sebagai Formasi Cisubuh. Seri sedimentasi ini sekaligus mengakhiri
proses sedimentasi di Cekungan Jawa Barat Utara.

Gambar 2.5 Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Noble dkk,1997)

18
2.1.5 Petroleum System
Cekungan Jawa Barat Utara memiliki cadangan hidrokarbon yang baik,
tentunya didukung oleh adanya petroleum system yang menjadikan cekungan ini
sangat potensial. Petroleum system cekungan ini diantaranya :

1. Batuan Induk dan Migrasi


Berdasarkan hitungan ekspulsi hidrokarbon di Cekengan Jawa Barat Utara
pada setiap dalaman yang dihitung dengan formula Waples (1985) di dapat total
hidrokarbon yang terbentuk adalah 4.524.54 MMBO + 4.791,52 BCFG,
sedangkan hidrokarbon yang ditemukan 1.264.50 MMBO + 2.872 BCFG, maka
peluang yang harus dicari baik yang sudah berupa prospek dan lead maupun yng
belum teridentifikasi adalah 2.725,22 MMBO + 1.1819,52 BCFG.
Hingga kini Formasi Talangakar masih diyakini sebagai batuan induk yang
efektif, walaupun masih terdapat kemungkinana endapan lakustrin Formasi
Jatibarang dapat bertindak sebagai batuan induk. Generasi hidrokarbon sendiri
terjadi mulai Miosen Atas-Resen. Distribusi Source Pod. Terlihat pada
(Gambar 2.6).
Secara struktur prospek besar berada diantara Tinggian Cilamaya dan Ciputat
yang berbatasan langsung dengan Rendahan Kepuh. Berdasarkan adanya tinggian
dan rendahan yang saat ini diketahui, memungkinkan analisa migrasi lateral
maupun vertical dari suatu kitchen tertentu kea rah perangkap. Migrasi lateral
pada puncak Formasi Talangakar terlihat pada (Gambar 2.7), diperkirakan
migrasi pada prospek ini mulai terjadi pada Middle Miocene (Noble dkk, 1997).

19

Gambar 2.6 Peta Penyebaran Source Pod Cekungan Jawa Barat Utara
(R.A Noble, 1997)

Gambar 2.7 Peta Migrasi Lateral Hidrokarbon pada Puncak Talangakar


(R.A Noble, 1997)

20
2. Batuan Reservoir
Batuan reservoir yang telah terbukti menghasilkan hidrokarbon di
Cekungan Jawa Barat Utara adalah batupasir Formasi Talangakar, batugamping
Formasi Baturaja, batupasir dan batugamping Formasi Cibulakan dan
batugamping Formasi Parigi. Saat ini telah terbukti juga di sumur Tegaltaman
dan Karangbaru untuk Formasi Jatibarang, dimana Volkanik Formasi Jatibarang
dapat bertindak sebagai Reservoir. Lapisan konglomerat Formasi Jatibarang
setebal 12 m dan 10 m dan pada lapisan yang bawah (12 m) telah terbukti
menghasilkan 447,6 BOPD + 5.34 MMCFGPD pada jepitan 13 mm (Noble dkk,
1997).
Berdasarkan hasil pemboran sumur RMS, potensi reservoir di prospek besar
adalah batugamping yang berkembang sebagai carbonate build up pada Formasi
Baturaja dan batupasir pada Formasi Talangakar

3. Perangkap dan Batuan Tudung


Perangkap struktural berbentuk four way dips dan three way dips umum
dijumpai untuk reservoir batupasir Formasi Talangakar dan Cibulakan dengan
arah sumbu lipatan pada umumnya masih mengikuti Pola Struktur Sunda. Sering
pula dijumpai perangkap dengan reservoir batugamping Formasi Baturaja di
daerah tinggian, dalam hal ini diduga bentuk perangkap adalah gabungan antara
struktural dan stratigrafi. Dua jenis perangkap utama yang dapat dikenali di
Cekungan Jawa Barat Utara ini yaitu : perangkap struktural dan perangkap
stratigrafis

21
4. Perangkap Struktural
Perangkap structural merupan perangkap hidrokarbon yang paling sering
terdapat di Cekungan Jawa Barat Utara. Perangkap potensial ini sering
berasosiasi dengan sesar naik di bagian selatan cekungan. Antiklin dan closure
four way dip yang berasosiasi dengan sesar naik dapat teramati dengan baik
hampir di seluruh bagian selatan cekungan. Perangkap sering hadir pada
upthrown side dari blok sesar. Perangkap yang berhubungan dengan batuan
karbonat hadir pada upthorwn side dari sesar dimana terdapat terumbu
batugamping yang berkembang pada suatu daerah tinggian. Perangkap structural
ini di jumpai hamper di seluruh formasi berumur Eosen (Pre TAF) sampai
Pliosen (Formasi Parigi). Nampaknya, peristiwa tektonik kompresional sangat
berkaitan dengan mekanisme hidrokarbon di Cekungan Jawa Barat Utara.

5. Perangkap Stratigrafi
Perangkap stratigrafis di jumpai pada beberapa kawasan di dalam
Cekungan Jawa Barat Utara. Secara keseluruhan, tipe jebakan ini memberikan
kontribusi cadangan hidrokarbon potensial yang cukup besar pada bagian utara
cekungan ini. Terumbu karang yang tumbuh bagian dari Formasi Baturaja dan
Formasi Parigi termasuk ke dalam jenis perangkap ini. Fasies terumbu yang lain
dapat di jumpai pula pada Cibulakan Atas (Mid Main Carbonate). Perangkap
stratigrafis dari fasies terumbu ini di jumpai hamper di seluruh kawasan, karena
memang di endapkan pada fase postrift.

22
Jebakan stratigrafi dengan geometri pembajian, pemancungan, channel fill dan
onlapping juga ditemukan pada fasise batupasir Pre TAF, TAF dan Cibulakan
Atas. Jenis perangkap pada prospek besar adalah kombinasi antara perangkap
stratigrafi dan struktural.

6. Batuan Tudung
Lapisan batuan untuk dapat bertindak sebagai lapisan penyekat haruslah
mempunyai kemampuan untuk kedap terhadap fluida (cair / gas). Adapun lapisan
batuan yang mempunyai kriteria tersebut adalah lapisan serpih yang selalu di
jumpai pada Formasi Talangakar (intraformation sealing) yang efektif untuk
perangkap perangkap di preTAF dan TAF. Lapisan serpih Cibulakan Atas
untuk penyekat perangkap di Formasi Baturaja dan Formasi Cibulakan Atas.

7. Hidrokarbon Play
Cekungan Jawa Barat Utara terdiri dari beberapa penghasil hidrokarbon
yaitu, diantaranya : Formasi Jatibarang, Formasi Baturaja, Formasi Cibulakan
Atas, dan Formasi Parigi. Formasi Jatibarang meliputi aliran vulkanik dan tuff.
Minyak dan gas dihasilkan dari rekahan-rekahan dengan struktur antiklin berarah
EW dan terpotong dengan sesar normal berarah N-S. Formasi Baturaja diwakili
oleh paparan karbonat/karbonat kompleks yang berkembang diatas palaeohighs.
Build-ups ini merupakan tipe cebakan minyak dan gas dan bergabung dengan
drape diatas tinggian basement. Reservoir utama berisi batugamping koral alga
dengan porositas kedua terbentuk pelarutan oleh air. Yang lainnya adalah

23
Formasi Cibulakan Atas yang terdiri dari batupasir yang berasal dari utara, dan
diendapkan sebagai punggukan pasir pada lingkungan shelf dengan lipatan
antiklin dan pinch-out dari tubuh batupasir. Reservoir batupasir adalah
menghasilkan horizon utama. Formasi Parigi tersebar luas sebagai paparan/unit
bioherm dan diketahui dan diketahui berisi kuantitas gas dalam jumlah besar dan
memberikan kesempatan terbaik sebagai cadangan baru yang memiliki nilai yang
layak. Build up Formasi Parigi berkembang dengan baik didaerah onshore dan
offshore. Reservoir berkembang pesat melaului porositas vugular, moldic, dan
intergranular yang keluar melalui interval karbonat yang berbeda-beda.

2.2 Geologi Daerah Penelitian

2.2.1 Tatanan Stratigrafi


Daerah penelitian pada studi ini difokuskan kepada formasi Talang Akar
Bagian Bawah, Lapangan RMS, yang membahas sikuen stratigrafi dan fasies
pengendapannya. Formasi ini berumur Oligosen akhir Miosen awal yang
diendapkan tidak selaras di atas Pre Formasi Talangakar (Ekivalen dengan
Formasi Jatibarang). Formasi Talangakar terdiri atas selang seling serpih,
batupasir, batugamping, serpih dan batubara di bagian bawah. Ketebalan formasi
ini mencapai 1670ft. dengan deskripsi sebagai berikut :
1. Serpih : bewarna abu-abu sampai abu-abu gelap, kekerasan menengah
sampai keras, kadang-kadang keras, dengan bentuk membalok tanggung

24
sampai memipih, kadang bersifat fissile sampai subfissile tidak bersifat
karbonatan, kadang dijumpai material karbon dan pyrite.
2. Batupasir : umumnya bewarna coklat terang sampai coklat muda, kadang
transparan, mudah lepas sampai agak keras, kadang keras, dengan bentuk
menyudut tanggung sampai membulat tanggung, berbutir halus sampai
sedang, pemilahan sedang dan dengan porositas sedang.
3. Batugamping : berwarna putih kotor, coklat terang, kadang putih
kecoklatan, keras sampai agak keras, termasuk mudstone sampai
wackestone,

kadang

keras

dan

kompak,

bersifat

kristalin

dan

mikrokristalin, kadang kapuran porositas buruk.


4. Batubara : berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan terang,
kekerasannya rapuh sampai agak keras, pecahannya membalok tanggung
sampai memipih tanggung, dengan pecahan conchoidal dan mempunyai
kilap lilin.
5. Batulanau : warna coklat keabu-abuan sampai coklat tua, kekerasan lunak
sampai sedang, bersifat rapuh, membalok tanggung sampai membalok,
kadang bersifat serpih, tidak karbonatan.
Secara umum Formasi Talangakar merupakan endapan transgresif dimana
bagian atas dan bawahnya adalah hasil dari endapan pada lingkungan fluviodeltaic sampai endapan laut dangkal. Siklus transgresif yang dominan pada masa
oligosen akhir miosen awal ditunjukan oleh endapan fluvio-deltaic Formasi
Talangakar bagian bawah sedangkan Formasi Talangakar Bagian Atas menjadi

25
endapan laut dangkal dengan sisipan Batugamping Formasi Baturaja, dan endapan
marin Formasi Cibulakan.
2.2.2 Struktur Geologi
Secara fisiografi Struktur Lapangan RMS terletak dibagian selatan Sub
cekungan Arjuna dan utara dari Tinggian Cilamaya. Tektonik yang berperan
terhadap Struktur Lapangan RMS adalah tektonik yang terjadi pada Awal Tersier
dan tektonik Pliosen - Plistosen. Tektonik Awal Tersier menghasilkan half graben sistem Cekungan Jawa Barat Utara dengan produk pola tinggian dan
rendahan yang berorientasi utara - selatan. Gaya kompresional dari selatan pada
kala Pliosen - Plistosen umunya tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap
konfigurasi strukturnya, akan tetapi cukup untuk membentuk pola antiklin di
daerah ini. Sedangkan gaya extensionalnya berperan terhadap pembentukan dan
pengaktifan kembali sesar-sesar normal yang berarah relative utara-selatan dan
secara umum berperan menjadi media migrasi yang cukup efektif.

2.3 Stratigrafi Sikuen

2.3.1 Konsep dan Prinsip


Sikuen stratigrafi secara sederhana dapat diartikan sebagai cabang
Stratigrafi yang mempelajari paket-paket sedimen yang dibatasi oleh bidang
ketidakselarasan atau bidang lain yang korelatif dengan bidang ketidakselarasan
tersebut (Emery et al, 1996).

26
Sikuen

stratigrafi

merupakan

bagian

stratigrafi

modern

yang

memanfaatkan sejumlah metoda dan konsep yang telah ada sebelumnya, terutama
biostratigrafi, seismik stratigrafi, kronostratigrafi, dan sedimentologi (Emery et al,
1996).
Dalam menganalisis sikuen stratigrafi akan menghasilkan kerangka
kronostratigrafi dari endapan yang dianalisa. Faktor-faktor yang secara langsung
mempengaruhinya kerangka kronostratigrafi adalah turun-naiknya permukaan air
laut, tektonik, pasokan sedimen, kondisi iklim dan geometri cekungan. Kerangka
itu selanjutnya dapat dipakai untuk mengkorelasikan dan memetakan fasies-fasies
yang ada dalam endapan yang dianalisis.

2.3.1.1 Konsep Tepian Cekungan


Hasil pengamatan seismik menunjukkan bahwa progradasi pada tepi
cekungan sering memperlihatkan geometri yang konsisten. Topset adalah istilah
yang digunakan untuk menamakan bagian puncak profil tepi cekungan yang
bergradien rendah (< 1). Pada penampang seismik, topset tampak datar dan
umumnya mengandung sistem pengendapan aluvial, delta, dan laut dangkal. Garis
pantai merupakan suatu titik pada topset. Titik itu dapat berimpit dengan offlap
break, namun dapat pula terletak ratusan kilometer lebih ke arah darat daripada
offlap break. Titik-titik terminasi topset ke arah daratan disebut coastal onlap. Di
atas coastal onlap terdapat dataran pantai atau fasies paralik. Klinoform
(clinoform) adalah istilah yang dipakai untuk menama-kan bagian profil tepian

27
cekungan yang lebih curam (umumnya >1) serta terletak lebih ke arah cekungan
dibanding topset. (Emery et al, 1996).

2.3.1.2 Eustasy, Relative Sea Level, & Water Depth


Untuk memahami faktor-faktor yang mengontrol pembentukan sikuen,
pemahaman mengenai eustasi, muka air laut, dan kedalaman air sangat diperlukan
(lihat Gambar 2.8).

2.3.1.2.1 Eustasi
Eustasi adalah permukaan laut global. Perubahan eustasi adalah suatu
konsep yang sudah lama diketahui (Suess, 1906) untuk perubahan muka laut
relatif terhadap pusat bumi. Perubahan eustasi berkaitan dengan suatu faktor
kekuatan/gaya, seperti a) perubahan glasial; b) perubahan steric (thermohaline)
dalam volume cekungan lautan; c) deformasi kulit bumi akibat plate rifting
(pemekaran lempeng), subduksi, dan collision (tumbukan); e) sedimentasi; dan f)
faktor astronomi (teori Milankovitch).
Eustasi (eustasy; global eustasy; global sea-level) diukur dari muka air
laut hingga suatu datum tetap, biasanya pusat bumi. Eustasi dapat berubah dengan
berubahnya volume cekungan (misalnya akibat perubahan volume punggungan
tengah samudra) atau berubahnya volume air laut (misalnya akibat glasiasideglasiasi). Hal yang perlu dicatat adalah bahwa eustasi dapat naik atau turun
sedemikian rupa sehingga menyebabkan berubahnya posisi base-level secara

28
global. Base level sendiri didefinisikan sebagai suatu batas di atas mana proses
yang terjadi praktis hanya berupa erosi.

2.3.1.2.2 Muka Air Laut Relatif


Muka air laut relatif (relative sea-level) diukur dari muka air laut hingga
suatu datum lokal yang dapat berubah-ubah posisinya, misalnya batas atas batuan
dasar (basement) atau sebuah bidang di dalam tumpukan sedimen dasar laut
(Posamentier dkk, 1988). Perubahan muka air laut merupakan pengaruh
kombinasi dari eustasi, penurunan cekungan (tektonik, muatan, dan kompaksi),
dan pasokan sedimen. Biasanya, suatu perubahan relatif terjadi dalam skala lokal
atau regional, tetapi tidak pernah dalam sekala global. Subsidensi, pengangkatan
batuan dasar, kompaksi sedimen yang melibatkan bidang acuan pengukuran muka
air laut relatif, dan perubahan tektonik, semuanya dapat menyebabkan berubahnya
muka air laut relatif. Muka air laut relatif dapat naik karena subsidensi, kompaksi
dan/atau turunnya eustasi; muka air laut relatif dapat turun karena adanya
pengangkatan dan/atau penaikan eustasi.

2.3.1.2.3 Kedalaman Air


Kedalaman air diukur dari muka air laut hingga permukaan sedimen dasar
laut. Titik kesetimbangan (equilibrium point) kadang-kadang digunakan untuk
menamakan suatu titik pada profil pengendapan dimana laju perubahan muka air
laut relatif sama dengan nol. Titik tersebut, pada suatu waktu, akan memisahkan

29
zona dimana terjadi penaikan muka air laut relatif dengan zona dimana terjadi
penurunan muka air laut relatif.

Gambar 2.8 Eustasy, Relative sea level, & Water depth (Kendall, 2006)

2.3.1.3 Supply Sediment


Perubahan suplai sedimen dapat dilihat dari jumlah sedimen dan ukuran
butir. Perubahan suplai sedimen dapat disebabkan oleh tektonik, perubahan iklim
(terutama hujan), dan topografi, pola aliran, litologi dan vegetasi (Blum, 1990;
Einsele, 1992; Leopold et al, 1964), perubahan suplai sedimen yang
dikombinasikan dengan akomodasi akan berpengaruh pada arsitektur fasies
sedimenter yang diendapkan.

2.3.1.4

Akomodasi Sedimen
Pengontrol penting pada pengendapan basin adalah ruang untuk

pengendapan yang diistilahkan sediment accomodation oleh Jervey, 1998 ("The


concept of sediment accomodation and how it controls stratigraphic patterns is

30
one of the most significant result of sequence stratigraphy). Akomodasi
didefinisikan sebagai ruang yang tersedia untuk pengakumulasian sedimen dalam
satuan waktu tertentu (Jervey, 1988). Akomodasi dikontrol oleh base level karena,
untuk dapat terakumulasi, sedimen memerlukan ruang yang terletak di bawah
base level.
Posisi base level berbeda-beda, tergantung tatanan pengendapannya.
Dalam lingkungan aluvial, base level dikontrol oleh profil sungai yang secara
berangsur berubah mendekati base level laut atau danau, ke tempat mana sungai
tersebut bermuara (Mackin, 1948). Dalam sistem delta dan pesisir, base level
praktis ekivalen dengan muka air laut. Dalam lingkungan laut dangkal, base level
juga praktis berupa muka air laut, meskipun dalam kondisi tertentu alas
gelombang (wave base) dapat menyebabkan " graded shelf profile " berperan
sebagai base level.
Pada lingkungan marine dan shelf, perubahan akomodasi ditentukan oleh
kombinasi pergerakan muka air laut atau dasar laut yang dihasilkan dari interaksi
tektonik dengan eustasi. Sehingga tektonik dan eustasi merupakan pengontrol
utama stratigrafi

Gambar 2.9 Akomodasi dan Faktor Pengontrolnya

31

Gambar 2.10 Pola Pengendapan Hasil Kombinasi Supply Sediment dan


Akomodasi (Van Wagoner 1990)

2.3.1.5 Systems Tract


Sikuen dapat dibagi lagi kedalam suatu wilayah sistem yang disebut
systems tract yang terdiri dari seluruh sistem-sistem pengendapan yang sama
umurnya, yang terjadi berdekatan satu sama lain, dan diendapkan selama satu
segmen sea-level curve tertentu. Sea-level curve adalah kecepatan turunnya muka
laut yang paling besar hingga kecepatan turunnya muka laut yang paling besar
berikutnya. Ada tiga macam systems tract yang dikenal, yaitu:

32
2.3.1.5.1 Lowstand Systems Tract
Lowstand systems tract membentuk susunan regresi berisi endapan
sedimen selama penurunan muka air laut relatif, terus stilstand, dan hingga
penaikan perlahan muka air laut relatif selama regresi pada shoreline masih dapat
dipertahankan. Lowstand systems tract terdiri atas 2 tipe endapan, yaitu :
a) endapan regresi pantai dan shelf, dan
b) agradasi endapan fluvial dalam incised valley.
Lowstand systems tract terletak diatas batas sekuen yang merupakan
ketidakselarasan yang terlihat dipermukaan shelf dan correlative conformity ke
arah laut.
Lowstand systems tract dibagi menjadi 2 bagian fase, yaitu early (awal)
dan late (akhir). Awal lowstand systems tract terjadi ketika penurunan muka air
laut relatif, dan akhir lowstand systems tract terjadi ketika muka air laut relatif
stabil dan naik perlahan. Selama awal lowstand systems tract sungai mengalami
torehan, dan shoreline mengalami gaya regresi. Sedangkan pada akhir LST sungai
mengalami agradasi di dalam incised valleynya dan shoreline menjadi normal
regresi. Coastal onlap bergerak ke arah laut pada awal LST, dan bergerak ke arah
darat pada akhir low stand systems tract. Akhir low stand systems tract juga
ditandai oleh peningkatan akomodasi yang cepat yang menyebabkan pengurangan
perbandingan pasir-lumpur.

33
2.3.1.5.2 Transgressive Systems Tract
Transgressive systems tract berisi endapan sedimen ketika muka air laut
relatif naik dengan cepat dibandingkan dengan kecepatan pengendapan.
Transgressive systems tract ini merupakan transgresi menyeluruh yang ditandai
dengan landward-sleeping parasequence. Bagian atas transgressive systems tract
dibatasi oleh maximum flooding surface yang merupakan batas transgresi,
umumnya membentuk penghalusan ke atas dan pada well-log.

2.3.1.5.3 Highstand Systems Tract


Highstand systems tract merupakan urutan endapan ketika penaikan muka
air laut relatif berkurang sampai lebih kecil daripada kecepatan pengendapan.
Highstand systems tract dibatasi oleh maximum flooding surface dibawahnya dan
batas sikuen di atasnya. Selama awal highstand systems tract akomodasi
meningkat dengan cepat dan pengendapan lebih agradational, sedangkan pada
akhir highstand systems tract kecepatan akomodasi berkurang seiring dengan
penurunan muka air laut relatif dan pengendapan lebih progradational, sehingga
pada akhir highstand systems tract lebih bersifat pasir dibandingkan pada awal
highstand systems tract. Pada seismik, awal high stand systems tract dikenali
dengan bentuk progradational offlap, sedangkan pada akhir highstand systems
tract dikenali dengan bentuk oblique offlap.

34

Gambar 2.11 Lowstand Systems Tract (Kendall 2003)

Gambar 2.12 Trangressive Systems Tract (Kendall 2003)

Gambar 2.13 Highstand Systems Tract (Kendall 2003)

35
2.3.1.6 Tipe -Tipe Sikuen
Ada 2 tipe utama yang dikenal dalam depotional sequence, antara lain :
1. Tipe 1, dibentuk ketika muka air laut relatif turun pada shoreline terhadap
fisiografi basin (cekungan). Tipe ini dibatasi oleh batas sikuen tipe 1 yang
berisi ketidakselarasan stratrigrafi kearah darat dari shoreline lowstand.
Sikuen tipe 1 disusun oleh lowstand systems tract.
2. Tipe 2, dibentuk ketika tidak terjadi turunnya muka air laut relatif,. Sikuen tipe
2 ini merupakan siklus regresi - transgresi tanpa ada lowstand systems tract
dan dibatasi oleh batas sikuen tipe 2 yang tidak membentuk ketidakselarasan.
Dalam tipe 2 batas sikuen berdekatan dengan permukaan regresi maksimum
yaitu batas antara fasies regresi dan transgresi pola stacking. Tipe 2 berada
langsung diatas highstand systems tract dan tidak ada lowstand systems tract
dan transgressive systems tract dalam tipe ini.

Gambar 2.14 Sikuen Pengendapan Tipe-1 pada Cekungan dengan Shelf


(Van Wagoner, 1987)

36

Gambar 2.15 Sikuen Pengendapan Tipe-1 pada Cekungan yang Landai


(Van Wagoner, 1987)

Gambar 2.16 Sikuen Pengendapan Tipe-2 (Van Wagoner, 1987)

2.3.1.7 Permukaan Dalam Sikuen Pengendapan


Didalam suatu sikuen pengendapan ada tiga permukaan yang penting,
yaitu (1) sequence boundary, (2) transgressive surface, dan (3) maximum flooding

37
surface) dan beberapa permukaan lainnya seperti (a) marine flooding surface, (b)
basin floor fan, dan (c) top slope fan.

1) Sequence boundary (SB) - adalah ketidakselarasan dan keselarasan


padanannya yang terjadi selama jangka waktu penurunan relatif permukaan laut.
Ada dua tipe 'sequence boundary' yang diketahui, yaitu Tipe 1 dan Tipe 2,
walaupun suatu rangkaian ditemui diantara mereka.

a. Type 1 sequence boundary - yaitu suatu ketidakselasan regional yang


terbentuk ketika permukaan laut eustasi turun dengan kecepatan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan penurunan cekungan, yang menyingkapkan "shelf
ke erosi subaerial 'Sequence boundary' tipe 1 berasosiasi dengan suatu
basinward shift of fades dan downward shift in coastal onlap yang mendadak,
erosi subaerial, 'stream rejuvenation', dan 'valley incision ', sedimen bypassing
didaerah-daerah 'shelf, pengembangan suatu facies discontinuity yang
dicirikan oleh pendangkalan mendadak dan adanya butiran-butiran yang
inakin kasar memotong batas sikuen, dan adanya pengembangan paleosols.
b. Type 2 sequence boundary - terbentuk ketika cekungan menurun dengan
kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecepatan penurunan
permukaan laut eustasi pada depositional shoreline break. 'Type 2 sequence
boundary' ini dicirikan oleh erosi subaerial dan adanya pergeseran 'coastal
onlap' kearah daratan dari suatu tempat atau dekat garis pantai menuju
cekungan, mereka biasanya tidak metnpunyai ciri-ciri "Type 1 sequence

38
boundary', yang menunjukkan hiatus yang kurang jelas dan ditutupi oleh
sedimen-sedimen 'shelf.

1) Top basin-floor fan surface - adalah batas antara basin-floor fan dibawah
nya dengan slope fan dan lowstand prograding wedge diatasnya. Slope-fan
dan lowstand progradmg wedge' menunjukkan downlap keatas top 'basinfloor fan surface'.
2) Top slope fan surface - adalah batas antara slope -fan dibawahnya dengan
lowstand prograding wedge diatasnya. Lowstand progradmg wedge
menunjukkan downlap keatas top slope fan surface. Top slope- fan surface
bisa menunjukkan downlap keatas basin-floor fan atau keatas 'sequence
boundary' kearah laut dan menunjukkan onlap keatas top dari depositional
sequence kearah daratan yang terletak dibawahnya.
3) Marine flooding surface - adalah permukaan pada top parasequences,
yang biasanya dicirikan oleh suatu pendalaman mendadak ketika
permukaan laut naik dengan cepat. Batas ini biasanya memisahkan
lingkungan air dangkal atau lingkungan nonmarin yang terletak
dibawahnya dengan fasies air lebih dalam yang terletak diatasnya.

2) Transgressive surface atau Top lowstand surface - adalah 'flooding surface'


penting pertama yang terbentuk setelah jangka waktu regresi maksimum pada top
dari lowstand systems tract. Dalam sekala regional, transgressive surface ini
memisahkan parasequence progradational atau aggradationnal lowstand systems
tract yang terletak dibawahnya dengan parasikuen backstepping 'transgressive

39
systems tract' yang terletak diatasnya. Transgressive surface berasosiasi dengan
suatu facies" discontinuity yang dicirikan oleh pendalaman mendadak yang
rnemotong bidang batas. 'Transgressive surface' ini bisa berupa erosi pada 'shelf
yang relief-nya sampai beberapa meter seperti pada ravinement surface, dan bisa
juga berasosiasi dengan 'pebble lags' dan 'burrowing'.

3) Maximum flooding surface (MFS) - adalah marine flooding surface yang


terbentuk pada waktu transgresi maksimum. Maximum flooding surface
membentuk top transgressive systems tract dan memisahkan backstepping
parasequences yang terletak dibawahnya dengan progradational parasequences
yang terletak diatasnya. Prograding clinoforms dari highstand systems tract yang
menutupinya menunjukkan downlap keatas 'maximum flooding surface' , yang
terjadi didalam condensed section.

2.3.1.8 Parasequences & Parasequence Sets


Parasikuen adalah urutan lapisan atau lapisan-lapisan yang relatif selaras
yang berhubungan secara genetik, yang dibatasi pada bagian bawah dan atasnya
oleh Marine Flooding Surface atau permukaan-permukaan padanannya. Secara
umum, suatu parasikuen mendangkal kearah atas. Biasanya, bagian bawah dari
suatu parasikuen terdiri dari suatu fasies air lebih dalam dan bagian atasnya terdiri
dari suatu fasies air lebih dangkal.
Parasequence sets biasanya dibatasi oleh Marine Flooding Surfaces yang
besar dan permukaan-permukaan padanannya. Walaupun setiap parasikuen

40
mendangkal keatas, tetapi suatu parasequence set dapat juga mendangkal keatas
(progradational), atau menunjukkan kedalaman air yang relatif konstan
(aggradational), atau menunjukkan makin dalam kearah atas (backsteppmg).
Parasikuen dan 'parasequence sets' adalah pembentuk/penyangga systems tracts.

2.3.1.9 Stacking Patterns


Stacking patterns adalah ragam gambaran pada mana parasequences atau
parasequence sets yang semakin lebih muda berlapis satu diatas lainnya. Tiga
stacking patterns utama adalah progradational, aggradational, dan backstepping.
a. Progradational adalah Stacking pattern pada mana setiap parasequence
yang

progresif

lebih

muda

diendapkan

lebih

jauh

kedalam

cekungan.'Stacking pattern' ini terjadi apabila kecepatan accommodation


lebih kecil dari kecepatan pengendapan. Istilah ini sinonim dengan
Forestepping.
b. Aggradational adalah Stacking pattern pada parasequences yang progresif
lebih muda sudah diendapkan satu diatas lainnya tanpa adanya pergeseran
lateral yang berarti apakah kearah daratan atau kearah cekungan. 'Stacking
pattern' ini terjadi apabila kecepatan accommodation kira-kira sama
dengan kecepatan pengendapan.
c. Retrogradational

adalah

Stacking

pattern

pada

mana

setiap

parasequences yang progresif lebih muda sudah diendapkan lebih jauh


kearah daratan. Walaupun parasikuen individu itu mem'prograde' dan
mendangkal kearah atas, tetapi suatu backsteppmg stacking pattern'

41
secara keseluruhan lebih dalam kearah atas. Backstepping stacking
pattern' terjadi apabila kecepatan accommodation lebih besar daripada
kecepatan pengendapan. Istilah retrogradational biasa digunakan sebagai
pengganti 'backstepping'; namun retrogradational menunjukkan (1)
mundurnya garis pantai akibat erosi atau (2) progradasi kearah daratan.
Karena itu, retrogradational tidaklah sama dengan backstepping.

Gambar 2.17 Progradational Parasequence Set, Retrogradational Parasequence


Set, dan Aggradational Parasequence Set (Van Wagoner, et.al, 1991)

2.3.1.10 Konsep Fasies


Fasies sedimen adalah massa dari suatu batuan yang dapat ditentukan dan
dibedakan dengan yang lainnya berdasarkan geometri, lithologi, struktur sedimen,
arus purba dan fosil. (R. C. Selley, 1985) Sedangkan lingkungan sedimentasi
merupakan bagian dari roman muka bumi yang secara fisika, kimia, dan biologi
berbeda dengan roman lainnya misalnya gurun, sungai lembah, dan delta (Selley,

42
R.C., 1985), dan dalam penentuan roman muka bumi tersebut ada beberapa faktor
yang harus diperhatikan, yaitu : geologi, geomorfologi, iklim, cuaca, kedalaman,
temperatur, dan salinitas serta sistem aliran termasuk juga flora dan fauna yang
terdapat dalam lingkungan sedimentasinya. Faktor-faktor tersebut sangat
berkaitan, sehingga apabila ada perubahan pada salah satu faktomya maka akan
menyebabkan perubahan lainnya.
Menurut R.G. Walker (1992) model fasies adalah perbandingan antara
lingkungan pengendapan modern dan lingkungan pengendapan purba serta
berusaha untuk mengetahui proses yang mengontrol perubahan fasies dan
geometrinya. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa model fasies adalah
studi lingkungan pengendapan purba yang didasarkan pada keadaan lingkungan
modernnya, sehingga jelas bahwa lingkungan yang terbentuk saat ini terjadi pula
pada keadaan masa lalu, atau merupakan prinsip dari unifonnitarisme yang
menyebutkan "the present is the key to the past".

Gambar 2.18 Bagan Alir Analisis Sedimentary Rock yang Berhubungan dengan
Fasies (O.Serra, 1978)
Model harus bersifat normal sebagai pembanding, karena tanpa adanya
karakter normal akan sulit untuk menentukan apakah lingkungan pengendapan

43
sama atau berbeda dengan model fasies yang sudah ada. Jika ditemukan banyak
kesamaan maka dapat disimpulkan bahwa fasies ini tidak jauh beda, tetapi jika
ternyata lingkungan pengendapan dengan segala karakternya berbeda dengan
model yang sudah ada maka akan terjadi interpretasi mengenai lingkungan ini,
mungkin bisa akan memunculkan model fasies baru. Kenyataannya bahwa
lingkungan pengendapan tertentu akan memberikan fasies yang khusus pula.
Model harus bisa sebagai kerangka dasar dan bisa digunakan sebagai
penunjuk pada penyidikan lebih lanjut. Suatu model yang sudah ada merupakan
acuan dasar terhadap pengenalan awal sebuah karakteristik fasies. Geologist akan
dengan sedikit mudah menentukan model yang sesuai jika terdapat contoh yang
sama ataupun hampir sama.
Fasies model bisa berfungsi sebagai prediksi dari lingkungan secara
keseluruhan. Misalkan telah ditemukan fasies dengan model tertentu maka akan
diperoleh prediksi-prediksi awal guna mengetahui karakter fasies secara
keseluruhan hingga kearah lingkungan pengendapan secara detail dan
menyeluruh. Tanpa adanya model itu maka prediksi akan terlalu jauh sehingga
kurang memenuhi aspek kebenaran.
Fasies juga harus berupa integrasi dari berbagai macam data dan
interpretasi pendukung yang kuat. Pengaruh dukungan data yang banyak serta
pendekatan dengan percobaan di lapangan maupun di laboratorium akan banyak
membantu kekuatan interpretasi.

44
Model Fasies secara garis besar dibagi atas tiga model, yaitu Fluvial
Deposits, Deltaic Deposits dan Non Deltaic Coastal and Shelf Deposits. Tetapi
yang akan lebih dibahas disini Deltaic Deposits terutama pada bagian delta plain.
Fasies sedimen merupakan produk dari proses pengendapan batuan
sedimen di dalam suatu jenis lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan
pengendapan tersebut dapat dilakukan berdasarkan analisa fasies sedimen, yang
merangkum hasil interpretasi dari berbagai data, diantaranya :
1.

Geometri

2.

Litologi: dari cutting dan batuinti dikombinasi dengan log sumur


(GR dan SP)

3.

Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting dan batuinti

4.

Struktur sedimen : dari batuinti

2.3.2 Delta
Delta menurut Elliot (1981), dalam Serra (1990) adalah suatu garis pantai
yang menjorok ke laut, terbentuk oleh adanya sedimentasi sungai yang memasuki
laut, danau atau laguna dikarenakan suplai sedimen lebih besar dari pada
kemampuan pendistribusian kembali oleh proses yang ada pada cekungan
pengendapan. Distribusi, orientasi, dan internal geologi dari endapan delta
dikontrol oleh faktor yang bervariasi termasuk iklim, morfologi, vegetasi,
pengisian air, banyaknya sedimen, proses mulut sungai (river-mouth), gelombang,
pasang surut, angin, arus, kemiringan shelf, tektonik dan geometri cekungan.

45
2.3.2.1 Morfologi Delta
Menurut Serra (1990), lingkungan pengendapan delta dapat dibagi dalam
beberapa sublingkungan berikut ini :
1. Delta Plain
Delta plain merupakan bagian delta yang bersifat subaerial yang terdiri
dari channel aktif Delta plain dan channel yang ditinggalkan Sub-lingkungan
delta plain ini dibagi menjadi :
a) Upper delta plain, merupakan bagian delta plain yang terletak pada bagian
atas pengaruh pasang surut atau pengaruh marin dan biasanya dipengaruhi
oleh proses pengendapan yang sama dengan proses pengendapan alluvial
valley.
b) Lower delta plain, terletak pada daerah antara pasang surut, di dalam zona
interaksi antara sungai-laut. Di bagian ini sungai menyebar membentuk
distributary channel.
2. Delta Front
Delta front adalah bagian delta yang terendam air dangkal. Sublingkungan
dengan energi tinggi, dimana sedimen secara konstan dipenganihi oleh arus
pasang surutt, arus laut sepanjang pantai, dan aksi gelombang (kedalaman 10
meter atau kurang). Endapannya meliputi delta front sheet sand, distributary
mouth bar, endapan river mouth tidal range, endapan dekat pantai, sepanjang
pantai dan endapan stream mouth bar. Ditunjukkan oleh sikuen mengkasar
keatas dalam skala yang relatif besar yang menunjukkan perubahan fasies
secara vertikal ke atas.

46
3. Prodelta
Prodelta merupakan bagian delta yang lebih ke arah laut terletak antara
delta front dan marine shelf, yang berada di bawah kedalaman efektif erosi
gelombang. Sedimen yang ditemukan pada bagian ini adalah material yang
berukuran paling halus (Serra, 1990). Endapan prodelta didominasi oleh
sedimen berukuran lanau dan lempung, kadang-kadang dijumpai lapisan pasir
tipis. Struktur sedimen masif, laminasi, dan burrowing structure. Seringkali
dijumpai cangkang organisme bentonik yang tersebar luas, mengindikasikan
tidak adanya pengaruh air tawar/fluvial (Davis, 1983, dalam Serra, 1990).

Gambar 2.19 Lingkungan Pengendapan Delta (Allen dan Chambers,1998)

47
2.3.2.2 Jenis Jenis Delta
Menurut Galloway (1975), dalam Serra (1990) berdasarkan proses yang
berpegaruh, maka dapat dibagi menjadi:
1. Delta Dominasi Pasang Surut
Delta dominasi pasang surut memiliki tidal range yang besar dan
berbatasan dengan selat yang sempit dimana kecepatan arus pasang surut tinggi.
Delta tipe ini dicirikan dengan bentuk corong atau estuary dengan terdapatnya
tidal bar. Reservoar utama pada delta dominasi pasang surut adalah endapan
distributary channel, tidal channel, dan tidal bar. Pola log yang dijumpai pada
delta tipe ini adalah mengkasar ke atas diikuti dengan mcnghalus ke arah atas
tanpa batas yang jelas.

Gambar 2.20 Karakteristik Parasikuen pada Endapan Delta yang didominasi


Pasang Surut (Galloway, 1975)

48
Seperti delta pada umumnya, delta dominasi pasang-surut juga terdiri atas
tiga lingkungan pengendapan utama yaitu : delta plain, delta front, dan prodelta
(Alien, 1997). Tiap lingkungan pengendapan ini memiliki tipe reservoar, fasies,
dan geometri yang berbeda. Gambar 2.21 memperlihatkan macam lingkungan
pengendapan umum pada delta dominasi pasang surut.

Gambar 2.21 Contoh Delta Dominasi Pasang-Surut (Monroe & Wicander,1995)

A. Delta Plain
Delta plain merupakan bagian dari lingkungan pengendapan delta yang
terletak di atas permukaan laut, berupa dataran pantai yang ditutupi oleh rawa,
tanjung dangkal, dan laguna. Dua sublingkungan utama yang berada pada delta
plain adalah distributary channel dan interdistributary zones.

49
Distributary channel adalah channel dengan pola bercabang ke arah laut
(distributive) dan berfungsi untuk menghantarkan sedimen fluvial menuju pantai.
Kedalaman channel ini mencapai 10-20 m dan semakin menipis ke arah laut.
Fasies ini dapat berperan sebagai reservoar yang sangat bagus. Jika daerah ini
terkena pasang-surut makrotidal (kisaran pasang-surut > 4m), distributary channel
akan cenderung berpola meandering dan membentuk point bar berkomposisi
pasiran dengan rasio lebar/tebal yang tinggi (100-150). Penjajaran dari banyak
point bar disebut meander belt (Allen, 1997).

Channel pada distributary channel akan ditinggalkan saat sungai


mengubah alurnya. Channel yang ditinggalkan tersebut kemudian akan terisi
dengan material berukuran butir lempung lanauan dan material organik. Channel
yang terisi material halus ini kemudian akan menghasilkan tubuh-tubuh batupasir
yang terisolasi dan dapat menjadi perangkap yang bagus. Jika proses pasang-surut
jauh lebih besar daripada fluvial, maka penggenangan alluvial tidak akan terjadi
sehingga crevasse splays dan fluvial levees juga tidak akan terbentuk di
lingkungan ini (Gambar 2.21).

Pada delta plain dominasi pasang-surut, posisi air tertinggi akan memiliki
arus kuat yang paling rendah sehingga material yang diendapkan pada zona
interfluve hanya endapan yang berukuran butir halus, sedangkan pada delta plain
dominasi fluvial, posisi air tertinggi akan memiliki kuat arus terbesar sehingga
pasir dapat diendapkan pada zona interfluve. Interdistributary zones adalah zona-

50
zona yang berada di antara distributary channel. Fasies utama yang berkembang
pada sublingkungan ini adalah point bar dari distributary channel yang
berkomposisi pasiran dengan struktur pasang-surut, tidal cahnnel, tidal flat, dan
endapan rawa (Allen, 1997).

Gambar 2.22 Perbandingan delta plain Dominasi fluvial dan delta plain
Dominasi Pasang-Surut pada saat Terjadi Penggenangan Alluvial (Allen,1997)

B. Delta Front
Delta front adalah zona pantai dangkal yang mempunyai hubungan
menjemari delta plain. Sedimen yang diangkut oleh distributary channel akan
berakumulasi di mulut channel tersebut dan membentuk distributary mouth bar.
Fasies mouth bar mi juga dapat bertindak sebagai reservoar yang bagus. Pada
pantai dengan pasang-surut makrotidal, energi pasang-surut yang tinggi akan
mengontrol sedimentasi pada delta front. Wright (1997, dalam Allen 1997)
menyatakan bahwa delta front dominasi pasang-surut akan dicirikan oleh mulut

51
distributary channel berbenruk corong (Gambar 2.21) yang diisi oleh tidal bars
berkomposisi pasiran yang berbentuk elongate. Tidal bar ini memiliki pengertian
yang sama dengan distributary mouth bar pada delta dominasi fluvial (Allen,
1997). Contoh delta pada masa kini mengindikasikan bahwa tidal bars ini dapat
bergabung membentuk endapan pasir yang terbentang luas dengan rasio
lebar/tebal hampir sama dengan delta front dominasi fluvial (>1000).
Perbedaan utama antara delta front dominasi pasang-surut dengan delta
front dominasi fluvial adalah kehadiran struktur pasang-surut, seperti lapisan
silang-siur sigmoidal dan bidirectional, mud drapes, dan struktur flaser-lentikuler,
serta jarangnya keterdapatan endapan penggenangan alluvial.

Gambar 2.23 Tahap Pembentukan Mulut distributary channel yang Berbentuk


Corong (Allen, 1997)

52
C. Prodelta
Prodelta adalah bagian terluar dari delta, terdiri dari material suspensi
lempung dan lanau yang berakumulasi ke arah laut dan berada di bawah efek
ombak, pasang-surut, dan arus sungai. Lingkungan ini umumnya membentuk
topografl yang relatif curam. Bergantung pada kecepatan sedimentasi dan salinitas
air, lumpur prodelta biasanya mengandung fauna laut lepas atau lakustrin dengan
intensitas bioturbasi yang beraneka ragam.

2. Delta Dominasi Sungai


Jika gelombang, arus pasang surut dan arus sepanjang pantai lemah,
volume sedimen yang dibawa dari sungai tinggi, maka akan terjadi progradasi
yang cepat ke arah laut dan akan berkembang suatu variasi karakteristik dari
lingkungan pengendapan yang didominasi sungai (Gambar 2.24).

Gambar 2.24 Karakteristik Parasikuen pada Endapan Delta yang didominasi


Sungai (Galloway,1975)

53

Gambar 2.25 Karakteristik Parasikuen pada Endapan Delta yang didominasi


Gelombang (Galloway, 1975)

3. Delta Dominasi Gelombang


Pada lingkungan dengan aktifitas gelombang kuat, endapan mouth bar
secara menerus mengalami reworked menjadi suatu seri superimposed coastal
barriers. Tubuh pasir akan cenderung paralel terhadap garis pantai berbeda
dengan delta dominasi sungai yang mendekati tegak lurus terhadap pantai.
(Gambar 2.25).

2.3.3 Lingkungan Pengendapan Estuarin


Estuarin adalah bagian yang mengarah ke laut dari status sistem
penenggelaman lembah (drowned valley) yang menerima pasokan sedimen dari
dua arah yaitu sungai dan laut yang terdiri dari fasies yang terbentuk akibat proses
pasang surut (tide), gelombang (wave) dan fluvial. Estuarin berkembang mulai

54
dari batas daratan yang disebut tidal limit sebagai kepala dan batas laut suatu
fasies coastal sebagai mulut.

Jadi berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan


estuarin hanya terbentuk pada saat naiknya permukaan air laut atau periode
transgresif. Hal ini merupakan cki utama yang membedakan antara lingkungan
estuarin, delta dan dataran pasang surut (tidal flat/strand plain) (Gambar 2.26).

Gambar 2.26 Diagram yang menunjukan evolusi endapan coastal pada saat
progradasi dan transgresi (Dalrymple et al,1992)

Gambar 2.27 Diagram pola salinity, pergerakan sedimen, sumber energi, dan
geomorfologi pada zona darat, transisi,dan laut.

55

Gambar 2.28 Mekanisme sedimentasi yang berkembang dilingkungan Estuarin


(Dalrymple & Choi, 2007)
Terdapat beberapa tipe batupasir di lingkungan estuarin yang potensial
sebagai reservoar hidrokarbon yaitu:
1. Fluvial-Tidal Channel
Fasies ini mempunyai ciri multistorey, dengan kontak tajam berupa
bidang erosi dan tersusun oleh beberapa lapisan setebal 3-4 kaki sampai 6-7
kaki yang masing-masing juga rnemiliki kontak erosi di bagian bawahnya
dengan pola menghalus ke atas. Fasies ini didominasi oleh batupasir kasarsangat kasar, struktur planar cross-bedding dengan kerikil yang berjajar di tiap
bidang lapisannya serta sedikit mengandung bioturbasi, glaukonit, serta
cangkang.
Fasies ini berpola fining upward secara single, namun bila
beramalgamasi akan memperlihatkan bentuk blocky akibat gerusan dari
lapisan yang berada di atasnya.

56
Fasies ini umumnya juga dicirikan oleh perubahan log GR (Gamma Ray) yang
tajam dari besar ke kecil karena diendapkan langsung di atas fasies shelf
mudstone yang memiliki nilai GR kecil. Fasies ini memiliki karakteristik
reservoar yang bagus. Batupasirnya tersortasi sedang dan porinya kadang
terisi oleh lempung kaolinit yang berasal dari pelapukan feldspar.

2. Tidal Channel
Fasies ini memiliki ciri multistorey, didominasi oleh batupasir sedanghalus yang menunjukan pola menghalus ke atas dan memiliki intensitas
bioturbasi yang tinggi. Struktur lapisan kurang berkembang pada fasies ini.
Bagian atasnya dapat bertransisi secara cepat menjadi fasies shelf mudstone.
Fasies ini memiliki karakter reservoar sedang-bagus, tergantung dari ukuran
butiraya dengan penyebaran lateral dan vertikal yang baik. Porositas dan
penneabilitasnya dapat berkurang akibat bioturbasi sementara porinya dapat
terisi oleh lempung kaolin hasil pelapukan feldspar.

3. Tidal Bars
Ciri fasies ini adalah multistorey, didominasi oleh batupasir berukuran
butir halus-sedang dengan pola mengasar ke atas (coarsening upward) dengan
log berbentuk funnel shape. Struktur yang terdapat pada fasies ini adalah
struktur silang-siur bidirectional tipe palung dan planar, flaser, dan lentikuler,
serta mud drapes. Intensitas bioturbasi pada fasies ini cukup tinggi dan
umumnya ditutupi oleh fasies shelf mudstone yang tipis dan menerus.

57
Fasies ini memiliki karakteristik reservoar yang bagus dengan batupasir
yang tersortasi sedang-baik. Permeabilitas horizontalnya bagus-sangat bagus
sementara permeabilitas vertikalnya dapat berkurang oleh lanau. Penyebaran
vertikal dan lateralnya dibatasi oleh migrasi lateral maupun gerusan oleh
fasies yang berada di atasnya.

2.3.4 Wireline log


Well Logging adalah suatu metoda penelitian dengan pekerjaan mencatat
atau merekam data-data di bawah permukaan dengan menggunakan peralatan
elekrronik secara berkesinambungan dan teratur, selaras dengan pergerakan alat
yang dipakai, sehingga diagram yang dihasilkan akan merupakan gambaran
hubungan antara kedalaman dengan karakter atau sifat-sifat formasi batuan
(Harsono, Adi. 1997). Data log yang dihasilkan meliputi electric log
(Spontaneous Potential (SP), Resistivity), Radio-active log (Log Densitas, Log
Neutron, Log Gamma Ray) dan acoustic log (Sonic Log). Kegunaan log sumur
(well Log) yaitu:
a. Mengetahui Lithologi serta parameter-parameter fisika batuan
b. Membedakan kandungan fluida dalam reservoar (gas/oil/water)
c. Identifikasi Reservoar, korelasi dan menghitung cadangan hidrokarbon
Sifat-sifat fisik batuan reservoar dapat dibagi menjadi empat bagian besar,
yaitu sifat fisik, sifat radioaktif, resonansi magnet dan sifat rambat suara elastis
dari gelombang reservoar. Tiap log mempunyai jangkauan yang berbeda - beda
untuk mengetahui kondisi tiap zona. Parameter petrofisik batuan yaitu porositas,

58
permeabilitas, resistivity, Volume shale dan saturasi air, yang didapat dengan
melakukan analisis petrofisika.

2.3.4.1 Log Gamma Ray (GR)


Prinsip log GR adalah perekaman sifat radioaktivitas bumi. Radioaktivitas
GR berasal dari 3 unsur radioaktif utama yang ada dalam batuan, yaitu Uranium
(U), Thorium (Th) dan Potasium (K) yang secara kontinyu memancarkan GR
dalam bentuk pulsa-pulsa energi radiasi tinggi. Log GR merekam sifat
radioaktivitas bumi yang mampu menembus batuan dan berupa detektor sintilasi.
Setiap gamma ray yang dideteksi akan menimbulkan pulsa listrik pada detektor.
Parameter yang direkam adalah jumlah dari pulsa yang tercatat per satuan waktu.
Berdasarkan sifat-sifat radioaktif, pengukuran Log GR ini dapat dilakukan pada
kondisi lubang terbuka maupun lubang tertutup.

Gambar 2.29 Defleksi log gamma ray pada beberapa litologi (Dewan,1983)

59
Log GR berguna untuk menentukan lapisan permeabel disaat SP tidak
berfungsi karena formasi yang sangat resistif atau bila kurva SP kehilangan
karakteniya (Rmf = Rw) atau ketika SP tidak dapat direkam karena lumpur yang
digunakan tidak konduktif (oil-base mud). Kegunaan Log GR :
1. Identifikasi litologi dan Korelasi antar surnur
2. Menentukan lingkungan pengendapan
3. Mengetahui kandungan shale pada lapisan permeable

2.3.4.2 Log Spontaneous Potensial (SP)


Kurva SP merupakan suatu catatan perbedaan potensial antara elektroda
yang bergerak di dalam lubang bor pada kedalaman tertentu dengan potensial
yang tetap dari elektroda di permukaan. Pada dasaraya alat ini berguna untuk
membedakan zona permeabel dan zona impermeabel dengan memperlihatkan
adanya defleksi pada kurva yang dihasilkan. Jika zona impermeabel, maka kurva
log SP akan cenderung membentuk garis lurus yang menerus (shale base line),
sedangkan kebalikannya disebut sandbase line.

Gambar 2.30 Spontaneous Potensial (SP)

60
Defleksi kurva bisa positif (ke kanan) dan bisa negatif (ke kiri) tergantung
dari salinitas air formasi dan flltrat lumpur. Jika salinitas air formasi lebih besar
dari filtrat lumpur, maka defleksi kurva akan negatif. Sedangkan bila salinitas air
formasi lebih kecil dari filtrat lumpur, maka defleksi akan positif. Kurva SP tidak
dapat direkam bila lumpur pemboran yang digunakan tidak konduktif.
Kegunaan Log SP antara lain :
1.

Mendeteksi lapisan porous permeabel serta menentukan letak batasbatasnya.

2.

Mengestimasi harga tahanan jenis air formasi (Rw).

3.

Untuk korelasi batuan dari beberapa sumur yang berdekatan.

2.3.4.3 Log Resistivitas


Log Resistivitas berguna untuk mengukur besarnya daya hambat formasi
terhadap arus listrik, yang besamya bergantung pada : jenis kandungan fluida,
porositas baruan, kandungan mineral, dll.
Resistivitas formasi adalah parameter utama yang diperlukan dalam
menentukan saturasi hidrokarbon. Alat resistivitas ada dua yaitu, lateral log dan
induksi log. Prinsipnya adalah arus listrik mengalir pada formasi batuan karena
konduktivitas dari air yang dikandungnya. Resistivitas formasi diukur dengan cara
mengirim arus bolak-balik langsung ke formasi (dalam log lateral) dan
menginduksikan arus listrik kedalam formasi.

61

Gambar 2.31a Resistivity Laterlog, Gambar 2.31b Resistivity Induction

Alat induksi dikenal dengan alat konduktivitas, karena parameter yang


diukur langsung dari konduktivitas yang dikonversikan ke resistivitas. Sedangkan
alat log lateral ganda memfokuskan arus listrik secara lateral ke dalam formasi
dalam bentuk lembaran tipis, dengan cara mengukur tegangan listrik yang
diperlukan untuk menghasilkan arus listrik utama yang besarnya tetap.
Alat log lateral ganda memiliki dua bagian, yaitu satu bagian yang
mempunyai elektroda yang dapat mengiikur resisitivitas log lateral dalam (LLD)
dan elektoda yang lainnya mengukur resistivitas log lateral dangkal (LLS).

2.3.4.4 Log Densitas (RHOB)


Log Densitas berguna untuk mengukur densitas elektron dalam formasi
(gram/cc) yang disebut Porositas densitas. Alat ini menggunakan energi yang
berasal dari sinar gamma. Pada saat sinar gamma bertabrakan dengan elektron,
maka sinar kehilangan energinya kemudian dideteksi oleh sensor. Tingkat
peleburan sinar gamma tersebut sesuai dengan densitas elektron dan bulk density

62
electron. Jadi density log adalah log porositas yang mengukur densitas elektron
pada formasi yang merupakan besaran Bulk Density batuan. Untuk menghitung
porositas suatu batuan, maka density matriks (pma) harus diketahui. Harga
densitas matriks setiap batuan berbeda-beda. Zona hidrokarbon memiliki low
RHOB.

2.3.4.5 Log Neutron (NPHI)


Log ini mengukur konsentrasi ion hidrogen dalam formasi. Atom hidrogen
di dalam formasi berupa air formasi dan hidrokarbon, sehingga alat ini dapat
mendeteksi keberadaan fluida di dalam pori-pori batuan. Untuk mengukur kadar
atom H dalam formasi disebut Porositas Neutron. Log Neutron ini dipengaruhi
oleh kekompakan batuan serta kandungan fluidanya. Zona hidrokarbon memiliki
low NPHI.

Tabel 2.1 Harga Densitas Matriks beberapa Litologi

63
2.3.5 Seismik
Suatu gambaran stratigrafi yang tepat dari data seismik sangat bergantung
pada data yang bebas dari noise dan juga gelombang seismik benar-benar
merefleksikan batuan sedimen sehingga keberhasilan pengambilan data dan
pemprosesan data sangat penting. Data harus bebas dari noise sebelum dimulainya
interpretasi. Variasi pada bentuk gelombang harus dapat menunjukkan gambaran
kondisi bawah permukaan. Kualitas rekaman seismik dipengaruhi pula oleh
resolusi. Resolusi merupakan kemampuan untuk memisahkan atau membedakan 2
buah obyek atau jarak minimum dari 2 buah kenampakan atau obyek dimana saru
dapat dbedakan dari yang lain.
Sifat-sifat

fisik

batuan

dan

kondisi

bawah

permukaan

sangat

mempengaruhi kenampakan rekaman seismik yaitu akan berpengaruh terhadap


interpretasi sfratigrafi seismik. Sifat-sifat fisik batuan yang mempengaruhi suatu
rekaman seismik misalnya : kecepatan rambat gelombang (velocity), porositas,
densitas, komposisi mineral, umur geologi dan tergantung pada suhu dan tekanan
bawah permukaan.

2.3.5.1 Stratigrafi Seismik


Stratigrafi seismik menurut Ramsayer (1979) merupakan sebuah
pendekatan geologi mengenai interpretasi Stratigrafi dengan menggunakan data
seismik. Gelombang seismik utama yang direfleksikan berasal dari permukaan
bidang yang mempunyai kontras densitas dan cepat rambat gelombang yang akan
menghasilkan acoustic impedance (AI). Pada suatu sayatan sedimen hanya ada

64
dua tipe yang direfleksikan gelombang seismik yaitu bidang permukaan batuan
dan ketidakselarasan.
Stratigrafi seismik merupakan studi stratigrafi dan fasies pengendapan
yang dihasilkan dari interpretasi data seismik. Terminasi refleksi seismik dan
konfigurasinya yang diinterpretasikan sebagai pola - pola lapisan batuan juga
digunakan untuk pengenalan dan korelasi sekuen pengendapan, interprerasi
lingkungan pengendapan dan estimasi litofasies.
Menurut Brown dan Fisher (1980), sebuah refleksi seismik merupakan
suatu permukaan atau bidang yang isokron kecuali apabila bidang atau permukaan
tersebut merupakan suatu ketidakselarasan yang diindentifikasikan oleh
kenampakan toplap, baselap, onlap, atau truncation. Refleksi yang isokron
tersebut dapat melalui bermacam-macam fasies yang akan diidentifikasikan oleh
perubahan amplitudo, frekuensi dan lainnya. Batas fasies dapat ditunjukkan dari
pengidetifikasian perubahan waveform. Stratigrafi seismik merupakan disiplin
ilmu yang berkaitan dengan penentuan hubungan litologi dan stratigrafi bawah
permukaan yang diperoleh dari data seismik refleksi.
Hasil dari sayatan seismik menurut Vail dan Mitchum (1977) adalah
rekaman dari kronostratigrafi (time stratigraphy) dari pengendapan dan pola pola struktur geologi. Rekaman stratigrafi seismik bukan merupakan rekaman dari
litostratigrafi (rock stratigraphy) karena gambaran dari sayatan seismik
merupakan gambaran dari korelasi kronostratigrafi sehingga rekaman seismik
dapat digunakan untuk menginterpretasikan keadaan pengendapan litologi
sesudah terjadi deformasi struktural.

65
2.3.5.2. Analisis Seismik Stratigrafi
Vail dan Mitchum (1977) merekomendasikan langkah - langkah dalam
menginterpretasikan rekaman seismik yaitu:
1. Analisis sekuen seismik
2. Analisis fasies seismik
3. Analisis perubahan relatif muka air laut.
Metode interpretasi stratigrafi seismik dibagi menjadi duabagian yaitu :
1. Penentuan fasies seismik berdasarkan reflection configuration, contunuity, dan
amplitude/phase atribute dan kemudian memetakan distribusi fasies ini.
2. Penentuan batas sekuen berdasarkan konfigurasi dan terminasi refleksi.

Interpretasi fasies seismik yaitu kumpulan refleksi seismik yang sifat sifatnya (konfigurasi, amplitude, kontinuitas, frekuensi, dan internal velocity)
berbeda dengan kumpulan refleksi seismik lain yang berdekatan dengannya dalam
suatu rekaman seismik perlu memperhatikan beberapa elemen dimana elemen
tersebut dapat dibedakan kelompok demi kelompok. Tiga kriteris utama yang
digunakan dalam menentukan suatu unit fasies seismik pada data sesmik yaitu :
1) Tipe-tipe terminasi refleksi yang diasosiasikan dengan batas unit
(misalnya : toplap, onlap, offlap, downlap, truncation, dan internal
convergence).
2) Konfigurasi dari pola - pola refleksi dalam unit (misalnya : paralel,
subparalel, chaotic, sigmoidal, oblique, dan divergent).
3) Bentuk luar atau bentuk geometri unit (misalnya : sheet, wedge, lens,

66
mound atau bank).

2.3.5.3 Terminasi Refleksi Seismik


Beberapa terminasi Levy et al. (1991) yang menidentifikasikan hubungan
kronostratigrafi (gambar 2.6), misalnya :

Gambar 2.32 Pola terminasi refleksi dan tipe ketidakmenerusan (Marcuda, 1998)

1. Toplap, menunjukkan adanya strata atau refleksi seismik yang menyudut


terhadap permukaan yang ada diatasnya, biasanya dijumpai pada
lingkungan progradasional laut dangkal seperti delta dan laut dalam
dimana arus laut dalam memotong depositional base level. Berbeda
dengan erosional truncation, toplap mempunyai penyebaran yang relatif
lokal dan tidak digunakan sebagai korelasi regional.
2. Erosional truncation, menunjukkan hubungan menyudut dari permukaan
erosional (dalam ekspresi seismik) dengan strata di atasnya. Terminasi
ini sukar dibedakan dengan terminasi toplap.

67
3. Onlap, menunjukkan adanya depositional hiatus yang berkembang
selama pengendapan sedimen yang lebih muda menumpuk ke atas strata
yang lebih tua.
4. Downlap, menunjukkan ketidaksejajaran di bagian dasar dimana strata
yang lebih muda membentuk sinklin terhadap strata yang lebih tua.
Downlap

menunjukkan

suaru

hiatus

yang

berkembang

selama

pembentukan strata yang lebih muda di atas strata yang lebih tua.
5. Oblique offlap, menunjukkan hubungan strata yang lebih muda
berkembang ke arah horisontal tidak menunjukkan agradasional.
6. Agradational offlap, menunjukkan perkembangan strata ke arah
agradasional yang lebih dominan daripada perkembangan ke arah lateral
(progradasional)
7. Progradational offlap, menunjukkan perkembangan strata ke arah
progradasional dimana terbentuk selama accomodation space yang
berkurang.

2.3.5.4 Konfigurasi Refleksi Seismik


Tipe - tipe konfigurasi refleksi seismik (Gambar 2.34) yang berkembang
sebagai akibat dari proses pengendapan, erosi dan paleontologi dan dapat
diinterpretasikan melalui pola-pola seismik refleksinya menurut Levy et al.
(1991), misalnya :

68

Gambar 2.33 Tipe-tipe konfigurasi refleksi seismik, (www.strata.geol.sc.edu,


modifikasi dari Mitchcum, 1977)
1. Paralel dan subparalel yaitu refleksi seismik yang seragam dan relatif
seragam pada amplitude, kontinyuitas dan siklus waktu.
2. Divergent yaitu kenampakan refleksi seismik dengan bentuk mebaji
dengan adanya penebalan secara lateral pada satu sisinya.
3. Prograding clionoforms yaitu refleksi seismik yang diinterpretasikan
sebagai pengendapan strata yang signifikan dengan pengendapan yang
berupa progradasional. Beberapa bentuk prograding clinoforms yang
dapat dikenali misalnya : sigmoidal, tangential oblique, parallel oblique,
complex sigmoidal oblique, shingled dan hummocky.
4. Chaotic

yaitu

konfigurasi

refleksi

seismik

yang

menunjukkan

ketidakmenerusan (diskontinyu) atau ketidakteraturan dari refleksi


tersebut. Hal ini diinterpretasikan bahwa strata diendakan pada suatu
kondisi dengan energi yang relatif kuat atau dapat berupa suatu strata
kontinyu yang telah mengalami deformasi sehingga menghasilkan strata
yang diskontinyu.

69
2.3.5.5 Karakterisasi Fasies Seismik
Marcurda (1988) menyebutkan bahwa berbagai macam lingkungan
pengendapan dari tipe kipas aluvial sampai endapan abisal, dari endapan
supratidal sampai evaporit laut dalam ditemukan dalam penampang seismik.
Kemampuan untuk mengenal dan menginterpretasikannya berhubungan dengan
kemampuan interpreter untuk dapat membedakan berbagai macam lingkungan
pengendapan, proses yang bekerja pada masing - masing lingkungan pengendapan
dan asosiasi dengan fasies lainnya. Tidak ada sifat tunggal yang menyediakan
petunjuk yang khusus dalam pengenalan fasies individual.
Empat konfigurasi seismik dasar berupa :

Konfigurasi refleksi paralel dan divergen

Konfigurasi releksi progradisional

Konfigurasi refleksi mounded and drape

Konfigurasi refleksi onlap and fill

Gambar 2.34 Tipe-tipe konfigurasi refleksi seismik progradasional,


(www.strata.geol.sc.edu, modifikasi dari Mitchcum, 1977)

70

Gambar 2.35 Tipe-tipe konfigurasi refleksi seismik, (www.strata.geol.sc.edu,


modifikasi dari Mitchcum, 1977)