Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN
1.

LATAR BELAKANG
Sebelum masa kemerdekaan dunia arsitektur di Indonesia didominasi oleh
karya arsitek Belanda. Masa kolonial tersebut telah mengisi gambaran baru pada
peta arsitektur Indonesia. Kesan tradisional dan vernakuler serta ragam etnik di
Negeri ini diusik oleh kehadiran pendatang yang membawa arsitektur arsitektur di
Indonesia
Setelah kemerdekaan di tahun 1945, arsitektur di Indonesia berkembang
ke arah arsitektur modern. Sepuluh tahun pertama setelah Indonesia merdeka,
bangunan-bangunan berkualitas rendah muncul dikarenakan perkembangan
ekonomi yang belum kuat. Momen kemerdekaan selalu diwarnai dengan banyak
hal

yang

berbau

nasionalisme,

tak

terkecuali

para

arsitek

pasca

dikumandangkannya kemerdekaan Negara Republik Indonesia tahun 1945.


Beriringan dengan kepergian para arsitek Belanda, beberapa arsitek Indonesia
pertama dan para tukang ahli bangunan yang menyebar di kota-kota Indonesia
mulai banyak berkarya.

BAB II
PEMBAHASAN
1. ARSITEKTUR PASCA KEMERDEKAAN
a. Perkembangan Arsitektur Indonesia
Di masa penjajahan Belanda sebenarnya mata kuliah arsitektur diajarkan
sebagai bagian dari pendidikan insinyur sipil. Namun, setelah Oktober 1950,
sekolah arsitektur yang pertama didirikan di Institut Teknologi Bandung yang dulu

bernama Bandoeng Technische Hoogeschool (1923). Disiplin ilmu arsitektur ini


diawali dengan 20 mahasiswa dengan 3 pengajar berkebangsaan Belanda, yang
pada dasarnya pengajar tersebut meniru system pendidikan dari tempat asalnya
di Universitas Teknologi Delft di Belanda. Pendidikan arsitektur mengarah pada
penguasaan keahlian merancang bangunan, dengan fokus pada parameter yang
terbatas, yaitu fungsi, iklim, konstruksi, dan bahan bangunan.
Semenjak konflik di Irian Barat pada tahun 1955 semua pengajar dari
Belanda dipulangkan ke negaranya, kecuali V.R. van Romondt yang secara
rendah hati bersikeras untuk tinggal dan memimpin sekolah arsitektur sampai
tahun 1962. Selama kepemimpinannya, pendidikan arsitektur secata bertahan
memperkaya dengan memberikan aspek estetika, barat ke tanah Indonesia.
Sekitar awal 1910-an beberapa karya arsitek Belanda seperti Stasiun Jakarta
Kota, Hotel Savoy Homan dan Villa Isola di bandung sudah memberikan
pemandangan barubudaya dan sejarah ke dalam sebuah pertimbangan desain.
Van Romondt berambisi menciptakan Arsitektur Indonesia baru, yang berakar
pada prinsip tradisional dengan sentuhan modern untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat kontemporer. Dengan kata lain Arsitektur Indonesia adalah
penerapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan kesederhanaan dari
desain modern, namun sangat terinspirasi oleh prinsip-prinsip arsitektur
tradisional.
Pada tahun 1958, mahasiswa arsitektur ITB sudah mencapai 500 orang,
dengan 12 orang lulusan. Yang kemudian beberapanya menjadi pengajar. Pada
bulan September 1959, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) didirikan. Sejak tahun
1961, kepemimpinan sekolah arsitektur berpindah tangan pada bangsa
Indonesia dengan Sujudi sebagai ketuanya. Kemudian Sujudi mendirikan
sekolah arsitektur di perguruan tinggi lainnya. Masa ini juga juga dipelopori oleh
Sujudi cs. bersama teman-temannya yang menamakan diri ATAP.
Awal tahun 1960-an, literature barat mulai masuk dalam diskursus
pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya dan pemikiran para arsitek terkemukan
seperti Walter Gropius, Frank Lloyd Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi
normative dalam diskusi dan pelajaran.
Iklim politik pada saat itu juga sangat berpengaruh terhadap pola fikir
masyarakat terhadap teori dan konsep arsitektur modern. Karena di masa
kepemimpinan Sukarno, modernitas diberikan olah kepentingan simbolis yang

merujuk pada persatuan dan kekuatan nasional. Sukarno telah berhasil


mempengaruhi secara mendasar karakter arsitektur yang diproduksi pada masa
iai memegang kekuasaan. Modern, revolusioner, dan heroik dalam arsitektur
membawa kita pada program pembangunan besar-besaran terutama untuk
ibukota

Jakarta.

Ia

berusaha

mengubah

citra

Jakarta

sebagai

pusat

pemerintahan kolonial menjadi ibukota Negara yang merdeka dan berdaulat


yang lahir sebagai kekuatan baru di dunia.
Pada akhir 1950-an Sukarno mulai membongkar bangunan-bangunan
lama dan memdirikan bangunan baru, pelebaran jalan, dan pembangunan jalan
bebas hambatan. Gedung pencakar langit dan teknologi bangunan modern mulai
diperkenalkan di negeri ini. Dengan bantuan dana luar negeri proyek-proyek
seperti Hotel Indonesia, Pertokoan Sarinah, Gelora Bung Karno, By pass,
Jembatan Semanggi, Monas, Mesjid Istiqlal, Wisma Nusantara, Taman Impian
Jaya Ancol, Gedung DPR&MPR dan sejumlah patung monumen.
Ciri khas proyek arsitektur Sukarno adalah kemajuan, modernitas, dan
monumentalitas yang sebagian besar menggunakan langgam International
Style. Seorang arsitek yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Sukarno
pada masa itu adalah Friedrich Silaban. Ia terlibat hampir semua proyek besari
pada masa itu. Desainnya didasari oleh prinsip fungsional, kenyamanan,
efisiensi, dan kesederhanaan. Pendapatnya bahwa arsitek harus memperhatikan
kebutuhan fungsional suatu bangunan dan factor iklim tropis seperti temperatur,
kelembaban, sirkulasi udara, dan radiasi matahari. Desainnya terekspresikan
dalam solusi arsitektur seperti ventilasi silang, teritisan atap lebar, dan selasarselasar.
Sejak kejatuhan Sukarno pada tahun 1965, pemerintahan Orde Baru di
bawah kepemimpinan Suharto menyalurkan investasi asing ke Jakarta dan telah
melaksanakan rencana modernisasi dengan tujuan pembangunan ekonomi di
Indonesia. Proyek yang ditinggalkan Sukarno kemudian diselesaikan oleh
Gubernur DKI Jakarta pada saat itu Ali Sadikin.Ali Sadikin juga bermaksud
menjadikan Jakarta sebagai tujuan wisata bagi wisatawan dari Timur dan Barat.
Sehingga pada tahun 1975, dikembangkan suatu program konservasi bagian
Kota Tuan di Jakarta dan beberapa situs-situ sejarah lainnya. Program ini sedikit
demi sedikit mengubah sikap masyarakat terhadap warisan arsitektur kolonial.

Sejak awal 1970-an, kondisi ekonomi di Indonesia semakin membaik,


yang berdampak pada kebutuhan akan jasa perencanaan dan perancangan
arsitektur berkembang pesat. Maka munculla biro-biro arsitektur yang menangani
proyek badan pemerintahan, BUMN, dan para orang kaya baru. Sayangnya
para arsitek professional di Indonesia tidak siap menerima tantangan besar
tersebut. Yang tidak memiliki pilihan doktrin fungsional dari arsitektur modern
membelenggu pengembangan karakter unik dalam arsitektur kontemporer pada
masanya. Sementara itu kalangan elit dan golongan menengah keatas
mengekspresikan

kekayaan

dan

status

sosialnya

melalui

desain

yang

monumental dan eklektik dengan meminjam ornamen arsitektur Yunani, Romawi,


dan Spanyol.
Kekecewaan terhadap kecenderungan meniru dan eklektik ini membawa
arsitek Indonesia pada suatu gagasan untuk mengembangkan karakter arsitektur
Indonesia yang khas. Suharto memegang peran utama untuk membangkitkan
kembali kerinduan pada kehidupan pedesaan Indonesia, melalui tema-tema
arsitektur etnik. Jenis arsitektur ini kemudian dipahami sebagai langgam resmi
yang dianjurkan. Ditandai juga dengan pembangunan Taman Mini Indonesia
Indah (TMII).
Para arsitek muda sebagian besar juga kecewa terhadap tendensi
eklektis dari arsitektur modern di dalam negeri. Yang kemudian semakin
menyoroti secara simpatik pada arsitektur tradisional. Mereka menyoroti
perbedaan kontras antara arsitektur modern dengan arsitektur tradisional
sedemikian rupa sehingga arsitektur tradisional diasosiasikan dengan nasional,
dan arsitektur modern dengan asing dan barat.
Pada pertengahan tahun 1970-an, masalah langgam dan identitas
arsitektur nasional menjadi isu utama bagi arsitek Indonesia. Terhadap masalah
langgam dan identitas arsitektur nasional pandangan arsitek Indonesia menjadi
tiga kelompok yang berbeda. Kelompok pertama berpendapat bahwa arsitektur
Indonesia sebenarnya sudah ada, terdiri atas berbagai jenis arsitektur tradisional
dari berbagai daerah. Implikasinya adalah penerapan elemen arsitektur
tradisional yang khas, seperti atap dan ornamen. Kelompok arsitek kedua
bersikap skeptis terhadap segala kemungkinan untuk mencapai langgam dan
identitas arsitektur nasional yang ideal. Kelompok ketiga adalah sebagian
akademisi arsitektur yang secara konsisten mengikuti langkah bapak mereka,

V.R. van Romondt. Mereka berpendapat bahwa arsitektur Indonesia masih dalam
proses pembentukan, dan hasilnya bergantung pada komitmen dan penilaian
kritis terhadap cita-cita budaya, selera estetis, dan perangkat teknologi yang
melahirkan model dan bentuk bangunan tradisional pada masa tertentu dalam
sejarah. Mereka yakin bahwa pemahaman yang lebih mendalam terhadap
prinsip tersebut dapat memberikan pencerahan atau inspirasi bagi arsitek
kontemporer untuk menghadapi pengaruh budaya asing dalam konteks mereka
sendiri.
Dalam periode 1980-1996 institusi keprofesian dan pendidikan arsitektur
mengalami perkembangan pesat, Pertumbuhan sector swasta yang subur serta
investasi dengan korporasi arsitektur asing mulai mengambil alih segmen pasar
kelas atas di ibukota dan daerah tujuan wisata seperti Pulau Bali. Dapat
dikatakan bahwa arsitektur kontemporer di Indonesia tidak menunjukkan deviasi
yang radikal terhadap perkembangan arsitektur modern di dunia pada umumnya.
Sebenarnya pada pertengahan 1970-an telah ada usaha untuk
menciptakan suatu langgam khusus, suatu bentuk identitas Indonesia, tetapi
hanya terbatas pada proyek arsitektur yang prestisius seperti bandara udara
internasional hotel, kampus, dan gedung perkantoran. Sangat jelas bahwa
proyek penciptaan langgam dan identitas arsitektur Indonesia termotivasi secara
politis.
Awal tahun 1990-an ditandai pengaruh postmodernisme pada bangunan
umum dan komersil di Jakarta dan kota besar lainnya. Hadirnya kontribusi
signifikan dari para arsitek muda yang berusaha menghasilkan desain yang khas
dan inovatif untuk memperkaya khasanah arsitektur kontemporer di Indonesia. Di
antaranya adalah mereka yang terhimpun dalam kelompok yang sering dianggap
elitis, yaitu Arsitek Muda Indonesia (AMI). Dengan motto semangat, kritis, dan
keterbukaan kiprah AMI juga didukung oleh kelompok muda arsitek lainnya
seperti di Medan, SAMM di Malang, De Maya di Surabaya dan BoomArs di
Manado. Untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha kreatif di kalangan
arsitek praktisi, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) juga mulai memberikan
penghargaan desain (design award) untuk berbagai kategori tipe bangunan.
Karya-karya arsitektur yang memperoleh penghargaan dimaksudkan sebagai
tolok ukur bagi pencapaian desain yang baik dan sebagai pengarah arus bagi
apresiasi arsitektural yang lebih tinggi.

Penghargaan Aga Khan Award dalam arsitektur yang diterima Y.B.


Mangunwijaya pada tahun 1992 untuk proyek Kali Code, telah berhasil
memotivasi arsitek-arsitek Indonesia untuk melatih kepekaan tehadap tanggung
jawab sosial budaya.
Krisis moneter tahun 1997 mengakibatkan jatuhnya pemerintahan Orde
Baru telah melumpuhkan sector property dan jasa professional di bidang
arsitektur. Diperlukan hampir lima tahun untuk kembali, namun kerusakan yang
sedemikian

parah

mengakibatkan

kemunduran

pada

semua

program

pembangunan nasional.
Kini,

arsitek

kontemporer

Indonesia

dihadapkan

pada

situasi

paradoksikal: Bagaimana melakukan modernisasi sambil tetap memelihara inti


dari identitas budaya? Karya-karya kreatif dan kontemporer kini menjadi tonggak
baru dalam perkembangan arsitektur Indonesia. Dengan pemikiran dan isu baru
yang menjadi tantangan arsitek muda. Seiring pergerakan AMI memberikan
semangat modernisme baru yang lebih sensitif terhadap isu lokalitas dan
perubahan paradigma arsitektur di Indonesia.

2.

Priodesasi Arsitektur Indonesia Pasca Kemerdekaan


a. Bangunan Monumental

Selama perang dunia ke II, kekayaan arsitektur di Indonesia (di kota-kota)


tidak mengalami kerusakan yang parah, bila dibandingkan dengan kehancuran
kota-kota di Jepang atau di berbagai negara di Eropa., arsitektur justru terjadi
seperempat abad kemudian yaitu ketika bangunan-bangunan yang bergaya
kolonial dirombak paksa tampak depannya, demi mengikuti gaya arsitektur
muktakhir. Perombakkan perombakkan seperti itu telah melahirkan lebih
banyak bentuk-bentuk yang dipaksa dan tidak rasional daripada menghasilkan
bentuk yang dari segi keindahan lebih menarik.
Ketika masa revolusi sedang hangatnya memang terjadi kehancuran dan
kerusakan dari sejumlah gedung-gedung penting. Pembangunannya kembali

berlangsung sangat lambat karena keadaan negara yang sedang dalam musim
pancaroba. Namun dari segi lain, ada titik-titik cerah bagi perkembangan
arsitektur, umpamanya di tahun-tahun peralihan (1945-1949) ketika kekuasaan
Republik Indonesia menjadi mutlak diakui oleh Belanda. Sejak saat itu dan
seterusnya selama 4 windu Merdeka perkembangan arsitektur Indonesia,
seakan-akan terpusat di Jakarta. Boleh kita pandang, bahwa pangkal
perkembangan arsitektur tersebut dimulai tahun 1948 ketika kota satelit
Kebayoran Baru menjadi kenyataan. Pembangunna kota baru di selatan Jakarta
itu sangat penting artinya dari segi arsitektur karena perluasan kota tersebut
menumbuhkan berbagai gaya bangunan rumah,gedung-gedung umum dsb
Gaya-gaya yang dikembangkan bertitik berat pada meng-Indonesia-kan
sebagai identitas baru Indonesia Merdeka, berlangsung di segala bidang
kehidupan masyarakat Indonesia. Para perencana rumah dan bangunanbangunan, kebanyakan masih angkatan yang berlatar belakang pendidikan
Belanda, bahkan banyak arsitek-arsitek Belanda yang turut aktif dalam proyek
pembangunan tersebut. Peng-Indonesiaan gaya arsitektur di tahun 50-an
umumnya menonjolkan bentuk atap yang khas Indonesia dengan bentuknya
yang lebih sederhana dibanding gaya arsitektur Belanda. Contoh karya sekitar
tahun 1950-an ini antara lain kantor pusat Bank Pembangunan Industri di Jakarta
dan sekitar tahun 1960-an dibangun kantor Pusat Bank Indonesia di jalan
Thamrin Jakarta.
Ketika jalur jalan utama yang menghubungkan Jakarta dan Kebayoran
Baru dalam tahap-tahap perkembangan, di jalan tersebut didirikan banyak
gedung-gedung. Jenis gedung tersebut merupakan jenis yang baru (pertama
kali) di Indonesia. Contoh gedung-gedung yang dimaksud adalah Gedung
PP danGedung
Kedutaan
Besar
Kerajaan
Inggris. Gedung
PP (PT
Pembangunan Perumahan) adalah gedung bertingkat yang direncanakan
dengan konsep perencanaan modern pada masa setelah perang dunia.
Bentuknya polos dan jendela-jendelanya diberi penahan sinar terik. Gedung
Kedutaan Besar Kerajaan Inggris merupakan bangunan modern yang
menyesuaikan dengan lingkungan (perumahan) sekelilingnya. Selanjutnya mulai
bermunculan bangunan-bangunan yang jumlah tingkatannya semakin banyak
dan dilengkapi dengan peralatan modern. Salah satu contohnya adalah Hotel
Indonesia; hotel modern pertama di Indonesia.
Perlu diingat kembali bahwa dalam 10 tahun terakhir sebelum Belanda
takluk kepada Jepang, gaya arsitektur di Indonesia yang berlaku pada waktu itu
mula-mula lebih cenderung pada kubisme-fungsionil (tahun 30an) yang
kemudian disesuaikan dengan kepribadian Indonesia. Di dalam sepuluh tahun
pertama Indonesia merdeka, keadaan ekonomi negara belum kuat. Hal ini
mempengaruhi dunia arsitektur; adanya keterbatasan dana untuk menggalakan
kegiatan pembangunan dan sarana arsitektur lainnya. Perpaduan antara
konstruksi bangunan yang hemat dengan pencarian bentuk kepribadian

Indonesia telah menghasilkan rencana-rencana bangunan yang modern dengan


tetap adanya ciri-ciri Indonesia. Salah satu contohnya adalah rumahan bertingkat
milik Departemen Luar Negeri yang dibangun tahun 1956. Bangunan ini
merupakan bangunan perumahan pertama yang bertingkat empat dan berbentuk
flat (konsep barat) dengan atapnya yang berbentuk atap limas (tradisional).
Contohnya adalahBank Indonesia, Gedung Pos dan Telkom, Gedung
PLN, Bangunan gerbang Taman Pahlawan Jakarta, dll. Sepuluh tahun kemudian
bentuk atap joglo pun mulai muncul. Sementara itu di tahun-tahun lima puluhan
ini, teori-teori bangunan serta teknologi baru masuk ke Indonesia baik secara
langsung (para ahli) maupun secara tidak langsung (buku-buku dsb). Teknologi
tersebut dari cara-cara menahan terik matahari (sun-louvers) sampai ke
teknologi beton tinggi (sophisticated). Penerapannya di Indonesia berlangsung
dengan perlahan dan secara berangsur. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan
tenaga yang profesional, peralatan dan biaya. Bangunan bertingkat pada masa
itu belum menggunakan peralatan modern seperti AC dan lift. Cara penahan
sinar matahari dengan pembias (louvers) adalah cara yang umum. Gedung
Depertemen Pertanian di Jakarta (1950) dan Gedung DPMB (1953) merupakan
gedung-gedung yang pertama direncanakan dengan cara itu di Indonesia.
Perhatian Presiden Soekarno terhadap penonjolan nasionalisme di segala
bidang - termasuk arsitektur - sangat menentukan perkembangan selanjutnya.
Bantuan-bantuan dari luar negeri di bidang teknik datang dari berbagai pelosok
dunia. Di samping itu, kesempatan-kesempatan untuk menciptakan karya
dimantapkan, dengan peranan utama oleh Presiden Soekarno sendiri, dengan
dibantu juga oleh arsitek Silaban dan Sudharsono. Proyek-proyek mercusuar
dibangun berurutan, mulai dari pendirian patung-patung (untuk memperindah
kota), monumen-monumen kejayaan, stadion olah raga raksasa, dan gedunggedung pemerintahan yang megah. Semuanya dari yang biasa sampai pada
yang luar biasa. Beberapa bangunan perlu dicatat sebagai bangunan yang
bernilai sejarah karena bangunan tersebut merupakan sesuatu yang pertama
atau baru dan mempunyai kekhasan, serta mempengaruhi perkembangan gaya
arsitektur Indonesia di kota-kota lainnya, yaitu dalam bentuk peniruan yang
kemudian menjadi mode secara nasional.
Menjelang Asean Games IV tahun 1962, ketika Indonesia mendapatkan
kehormatan untuk menjadi tuan rumah, kesempatan itu mengundang banyak
teknisi dari luar negeri untuk menjadi pendamping dan konsultan bagi teknisi
Indonesia untuk berbagai macam proyek pembangunan sipil dan arsitektur.
Teknisi atau konsultan dari USA umpamanya terlibat dalam pembangunan jalan
raya termasuk termasuk jembatan Semangi; teknisi dari atau konsultan dari
Rusia untuk stadion olah raga, dari Denmark untuk Hotel Indonesia, dari RRC
untuk gedung pameran dan gedung DPR / MPR, dan dari Jepang untuk Wisma
Nusantara.

Stadion
Utama
di
Senayan yang
dibangun
tahun
1958
umpamanya,adalah salah satu stadion yang terbesar di Asia Tenggara dan
stadion yang pertama mempunyai atap melingkar dan menutupi tempat
duduk.Kubah restoran utama dari Hotel Indonesia, Jakarta, yang dibangun tahun
1960, adalah kubah pertama di Indonesia yang dibangun dengan kontruksi
cangkang (shell construction). Kubah terbesar di Indonesia adalah kubah
utama Masjid Istiqlal, Jakarta. Kubah yang juga berukuran besar adalah
kubah gedung DPR / MPR.
Bangunan-bangunan lainnya yang tergolong proyek mercusuar di ibu kota
yang dimulai oleh Presiden Soekarno adalah Masjid Istiqlal, Monumen Nasional,
Gedung DPR / MPR, Gedung Pola, dsb.; masing-masing mempunyai kedudukan
yang unik.
a. Masjid istiqlal

Masjid Istiqlal memiliki kubah raksasa putih yang wujudnya mirip bola dibelah
dua. Seperti masjid lainnya di dunia, masjid yang memiliki gaya arsitektur
modern internasional ini dilengkapi dengan menara yang tingginya mencapai
jumlah ayat yang terdapat pada kitab suci Al Quran. Sebuah bedug raksasa juga
menjadi keunikan plus masjid ini dengan ukurannya yang besar, pernah
dinobatkan sebagai bedug terbesar di Indonesia! Mesjid Istiqlal, bangunan
megah dengan skala raksasa, khususnya bagi ukuran- ukuran mesjid-mesjid
pada umumnya di Indonesia. Bukan saja membuat sejarah dalam dunia
arsitektur Indonesia sebagai mesjid terbesar se Asia Tenggara , tetapi juga
sebagai pendobrak konsep mesjid yang konvensional atau tradisional
b. Monument Nasiona

Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini


diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno,
mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI
Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan
bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya
inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan)
yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan
melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga
yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Prinsip desain bangunan yang stabil alias mempunyai keseimbangan
simetri, berskala normal, proporsi yang seimbang dan perdaduan yang unik serta
memiliki vocal point pada salah bagian tugunya, bangunan monas bergaya
Arsitektur
Historicism
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan
Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman
Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa
lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur

c. Gedung Pola

10

Gedung Pola , dari segi sejarah tercatat terutama sebagai bangunan penggangti
dari rumah di mana Proklamasi Kemerdekaan diserukan pada tanggal 17
Agustus 1945.
- bentuk fungsionil untuk maksud pameran
- tercatat terutama sebagai bangunan pengganti dari rumah dimana Proklamasi
Kemerdekaan diserukan pada tanggal 17 Agustus 1945.

a. Priodesasi arsitektur Indonesia


Seiring perjalanan perkembangan arsitektur Indonesia dan
kinginan bangsa Indonesia lepas dari semua yang berbau colonial
termasuk di bidang arsitektur, sehingga lahir lah langgam arsitektur yang
pernah terkenal di Indonesia adalah:
1. Arsitektur jengki
2. Arsitektur postmodern
3.
1. Arsitektur Jengki (1950-1969an)
a. Kelahiran arsitektur jengki
Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia.
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik

11

ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.
Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.

Momen kemerdekaan selalu diwarnai dengan banyak hal yang


berbau nasionalisme, tak terkecuali para arsitek pasca dikumandangkannya
kemerdekaan Negara Republik Indonesia tahun 1945. Beriringan dengan
kepergian para arsitek Belanda, beberapa arsitek Indonesia pertama dan para
tukang ahli bangunan yang menyebar di kota-kota Indonesia mulai banyak
berkarya. Sejarahperkembangan arsitektur Indonesia pasca kemerdekaan 1945,
puncaknya di era tahun 1950 sampai 1960-an diwarnai dengan hadirnya sebuah
gaya yang dikenal dengan nama arsitektur Jengki. Asal penggunaan kata jengki
sering dihubungkan dengan hal-hal di luar dunia arsitektur.
b. Pengertian arsitektur jengki
Pembentukan kata, istilah jengki berasal dari kata Yankee, yaitu
sebutan untuk orang-orang New England yang tinggal di bagian Utara Amerika
Serikat. Penamaan jengki juga dihubungkan dengan model busana celana jengki
yang marak pada saat yang bersamaan. Hadirnya arsitektur jengki di Indonesia
menandai munculnya para arsitek pribumi yang notabene adalah tukang yang
ahli bangunan sebagai pendamping para arsitek Belanda sebelumnya. Para ahli
bangunan pribumi ini kebanyakan merupakan lulusan dari pendidikan menengah
bangunan atau STM. Di tengah bergolaknya kondisi perpolitikan di masa 1950
sampai 1960-an yang ditandai dengan semakin berkurangnya arsitek Belanda
dan mulai munculnya para ahli bangunan dan lulusan pertama arsitek Indonesia,
yang kemudian turut membentuk perkembangan arsitektur jengki. Arsitek
Indonesia banyak mendesain di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung,
sedangkan keahlian para tukang bangunan lebih banyak berperan di kota-kota
kecil.
c. Ciri-ciri Arsitektur Jengki

12

Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi


oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.
Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).
Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.
Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun

13

menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui


oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang.
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.
Arsitektur Jengki bermain dengan garis lengkung dan lingkaran. Misalnya,
jendela yang tidak simetris, overstek (teritis) yang meliuk-liuk, garis dinding yang
dimiringkan. Bentuk-bentuknya berlawanan dengan arsitektur Kolonial yang
didominasi bidang vertikal dan horisontal. Namun karena keterbatasan ilmu
arsitektur pada saat itu, maka bentuk tata ruang interior masih mengikuti
bangunan Kolonial. Selain mengolah bentuk wajah bangunan, gaya jengki juga
diterapkan pada bentuk-bentuk mebel rumah.

Beberapa contoh rumah Jengki di Kota Bandung, dengan ciri khas garis
lengkung dan lingkaran, jendela yang tidak simetris, overstek (teritis) yang
meliuk-liuk, dan garis dinding yang dimiringkan.

14

Beberapa contoh gedung bergaya Jengki di Kota Bandung, dengan ciri khas
garis lengkung dan lingkaran, serta garis dinding yang dimiringkan.

Beberapa contoh mebel bergaya Jengki, dengan ciri khas garis tegas yang
dimiringkan.

Kursi jati bergaya Jengki tersebut merupakan salah satu mebel istana Bogor
yang didesain oleh Bung Karno
Arsitektur Jengki mempergunakan bahan-bahan bangunan asli Indonesia. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri bahan
bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan bangunan yang
dikasarkan, dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding dan pemakaian
roster (lubang angin). Pada bagian penutup atap dibuat seperti jambul. Menurut
Ir. Joseph Priyotomo. M.Arch Sepertinya bentuk-bentuk pada rumah jengki,
sengaja menghilangkan yang berbau Belanda. Sehingga saya dapat mengambil
15

kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.


Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin ada satu langgam
yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata tidak ada, tambahnya. Melihat hal
ini pak Joseph mengambil kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni
karya bangsa Indonesia. Bentuk bangunan tidak berkiblat kepada aliran
arsitektur manapun di dunia termasuk juga Arsitektur tradisional Indonesia.
Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat itu cukup kuat dan
bagus, unsur dekoratif inilah yang dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Jadi
Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat unsur dekoratif,
bukan lewat bentuk. Biasanya unsur Jengki lebih banyak hadir pada bangunan
rumah tinggal, hal ini dikarenakan pada tahun 1950 terjadi kelangkaan bahan
dan kemiskinan uang di Indonesia, sehingga arsitek dan tukang bangunan
dituntut bekerja secara efisien.
2. Arsitektur postmodern (1970-1980an)
a. pengertian Post Modern
Post modern adalah istilah-istilah yang populer dari kalangan gedongan dan para
elit yang dikenal sebagai intelektual yang trendi. Istilah Post Modern sendiri lahir dan
dipopulerkan oleh kritis sejarah arsitektur, Charles Jencks dalam sebuah seminar di
Universitas Eidhoven tahun 1978 gagasan ini menjadi tema pembicaraan arsitektur
dalam Bienal di Venesia tahun 1980. Publikasi Jencks dalam kawasan berbahasa Inggris,
Heinrich Klotz dalam bahasa Jerman, dan Paulo Porthogesi dalam bahasa Italia, yang
kesemuanya dikenal sebagai sejarawan abad ke-20 yang membuat istilah Post Modern
menjadi populer. Pada umumnya, pengertiannya dikaitkan dengan reaksi
penyempurnaan atau revisi terhadap gerakan modernisasi dalam arsitektur dan seni di
Eropa Barat dan di Ameika Serikat. Post modern menunjukkan apa yang telah kita
tinggalkan dan melalui tapi belum menerangkan dimana kita akan tiba. Jadi arsitektur
post modern belum sampai pada tujuannya yang baru tetapi juga belum melepaskan
semua makna modernya. Post modern juga bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir,
pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan dan teori. Masing-masing menggelarkan
pengertian tersendiri tentang dan mengenai post modern, dan karena itu tidaklah
mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa post modern itu berarti sehabis moder
(modern sudah usai), setelah modern (modern masih berlanjut tetapi sudah tidak lagi
popuer dan dominan), atau ada yang mengartikan sebagai kelanjutan modern (modern
masih berlangsung terus tetapi dengan melakukan penyesuaian atau adaptasi dengan
perkembangan dan pembaharuan yang terjadi di masa kini). Di dalam dunia arsitektur,
post modern menunjukkan pada sesuatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap
sebagai sebuah langganan yakni langgam post modern.
b. Latar Belakang Post Modern
Pemunculan post modern tidak bisa dipisahkan dari aspek yang berlaku
sebelumnya yakni arsitektur modern. Arsitektur modern yang sudah berjalan selama lebih

16

kurang setengah abad mulai mencapai titik kejenuhan. Konsep-konsep yang terlalu logis
dan rasional serta kurangnya memperhatikan nilai-nilai sosial, lingkungan dan emosi
yang ada dalam masyarakat mendapat berbagai kritik dan tanggapan artinya arsitektur
modern lebih cenderung untuk memperhatikan bagaimana caranya manusia harus hidup
dan kurangnya perhatian terhadap kehidupan manusia yang sebenarnya (bersifat
sepihak). Karya-karyanya pun sangat kaku, membosankan dan tidak memiliki identitas,
karena mempunyai langgam yang sama pada hampir semua jenis bangunan di berbagai
tempat.
Kelompok arsitek baru kemudian bertekad untuk menetapkan suatu dasar filsafat dan
format baru yang lebih luas bagi desain. Dalam usahanya untuk suatu perbendaharaan
arsitektur yang baru, maka para arsitek yang baru ini berpaling pada sumber-sumber
yang beragam sifatnya dahulu dihindari, seperti Rennisance-Itali, Barok-Jerman, Las
Vegas dan lainnya.
Pada tanggal 15 Juli 1972, blok-blok perumahan di Pruitt Igoe dan peninggalan arsitektur
modern diruntuhkan. Ada yang menganggap tanggal tersebut resmi sebagai matinya
arsitektur modern.
Dalam beberapa waktu, perdebatan para kalangan arsitek telah disadari oleh masyarakat
sehingga para arsitek baru mulai mencoba mengadakan komunikasi di antara bangunan,
masyarakat dan lingkungan. Kemudian kelompok baru mulai mengemukakan
pandangan-pandangannya yakni sadar berpilih-pilih tentang tata hubung antara bentuk
dan isi dan sangat peka terhadap preseden sejarah dan kebudayaan.
Kelompok ini kemudian menyebutkan dirinya sebagai arsitek post modern atau dalam
bahasa Indonesia diartikan sebagai pasca modern yang mulai menonjolkan karya
nyatanya pada tahun 1966-an. Sebenarnya gejala pasca modern ini sudah ditunjukkan
pada pertengahan 1950-an yaitu pada karya Le Corbusier sebuah Gereja di Ronchamp
yang sangat menyimpang dari gaya internasional. Pasca modern dimulai akhir 1950-an
secara sedikit demi sedikit, baik secara terang-terangan maupun tersamar. Bermula dari
penggunaan bentuk-bentuk lama, elemen-elemen tradisional, historis dipadu dengan
penyederhanaan elemen-elemen modern. Komposisi unsur-unsur bangunan
menyampaikan makna tertentu yang dapat dibaca. Demikian percobaan-percobaan
dilakukan terus menerus dan diharapkan ada suatu timbal balik dari arsitek, pemakai
masyarakat awam, dan lingkungan alam.

c.

Ciri-ciri dan Pokok Post Modern


Post modern ditandai dengan timbulnya kembali bentuk-bentuk klasik, mengolah
bangunan tradisi (vernakular) dan memperbaiki fungsinya. Ciri-ciri dari post
modern ini antara lain:
Aspek penyatuan dengan lingkungan dan sejarah, juga menyesuaikan dengan
situasi sekitar

17

Unsur-unsur

yang dimasukkan tidak hanya berfungsi semata tetapi juga

sebagai elemen penghias


Pemakaian elemen geometris, sederhana terlihat sebagai suatu bentuk yang
tidak fungsional, tetapi ditonjolkan sebagai unsur penambah keselarasan dalam
komposisi ataupun dekor.
Warnanya cenderung menor dan erotik, yang didominasi bukan oleh warna
dasar tetapi oleh warna campuran yang banyak dipengaruhi pastel, kuning,
merah dan biru ungu.
Mengandalkan komposisi hibrid yang menghalalkan orang untuk mengambil
elemen-elemen
college/pastich.

yang

pernah

ada

untuk

dimodifikasi

sebagai

kaya

d. Pokok Pikiran Post Modern


Pokok-pokok pikiran yang dipakai oleh para arsitek post modern yang
tampak dan ciri-ciri bangunannya yang membedakan dengan modern:
1. Tidak memakai semboyan Form Follow Function. Arsitektur post modern
mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur
tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan. Untuk arsitektur Post Modern
yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural atau identitas
historis. Hal-hal yang ada di masa silam itu yang dikomunikasikan, sehingga
orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan
sejarah kemanusiaan, atau dapat pula dikatakan bahwa arsitektur post modern
memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (the past).
2. Fungsi
Yang dimaksud dengan fungsi di sini bukanlah aktivitas, bukan pula yang
dikerjakan atau dilakukan manusia oleh manusia terhadap arsitektur (keduanya
diangkat sebagai pengertian tentang fungsi yang lazim digunakan dalam
arsitektur modern). Dalam arsitektur post modern yang dimaksud fungsi adalah
peran dan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia.
Yang dimaksud manusia bukan melakukan kegiatan, tetapi sebagai makhluk
yang berfikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi
dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori.
Fungsi di sini adalah apa yang dilakukan arsitektur bukan apa yang dilakukan
manusia dan dengan demikian fungsi bukan aktivitas. Dalam Posmo
perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu:
a. Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia
(baik perlindungan terhadap nyawa maupun harta)
b. Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat.
c. Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai
manusia untuk berbagai keperluan.

18

d. Arsitektur memberikan kesempatan kepada manusia untuk bermimpi


dan berkhayal
e. Arsitektur memberikan gambaran dan kenyatan yang sejujur-jujurnya
Sehingga dalam post modern yang ditonjolkan di dalam fungsinya itu
adalah fungsi-fungsi metaforik (simbolik) dan historikal.
3.

Bentuk dan Ruang


Di dalam post modern, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang
tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat). Keduanya
menjadi dua komponen yang mandiri, sendiri-sendiri, merdeka sehingga bisa
dihubungan atau tidak. Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial,
mendasar dari ruang. Ciri pokok dari bentuk adalah ada dan nyata/terlihat/teraba,
sedangkan ruang mempunyai ciri khas ada dan tidak terlihat/tidak nyata. Kedua
ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkan. Dalam post modern
bentuk menempati posisi yang lebih modern untuk menempati posisi yang lebih
dominan daripada ruang.

e. Tokoh dan Karyanya


1. Michael Graves

19

Lahir di Indianapolis dan mendalami arsitektur di University of Cincinnati dan


Havard University. Konsep Graves adalah menafsirkan ualng gaya rasional yang
diperkenalkan oleh Le Corbusier pada tahun 1920-an menjadi gaya neoklasik yang
kemudian dia mengembangkan paham ekletik yang mengasbtrakkan bentuk-bentuk
historikal dan menekankan penggunaan warna. Graves tidak memperdulikan akar-akar
modernisme dan menghasilkan suatu visi klasisme yang kontras atau ironis dimana
bangunan-bangunannya hanya menjadi klasik dalam hal massa dan susunan. Dia
menerapkan humor sebagai bagian dari arsitektur. Rancangan-rancangannya yang
terakhir dianggap oleh banyak ornag tidak berselera dan banyak imitasi belaka.
Salah satu karya Michael Graves adalah Public Service Building (1980-1982) di
Portland, Oregon. Bangunan ini memiliki bentuk yang global, sangat sederhana seperti
kotak atau blok ada yang mengatakan seperti sebuah kado natal raksasa dan ada yang
mengataka seperti dadu.
..
Kotak seperti dadu bagian utama dari The Portland terletak di atas unit di
bawahnya seolah-olah ada sebuah tumpuan berwarna biru kehijauan, kontras dengan
warna atasnya coklat susu cerah. Di bagian atas atau atapnya yang datar terdapat
konstruksi seperti rumah-rumahan kecil mirip seperti kuil-kuil dari arthemis Yunani
beratap piramid dan pelana.
.

2.

Charles Moore

20

Salah satu karyanya adalah


Piazza ditalia (1975-1980) sebuah taman atau ruang terbuka dalam rangka
renovasi kawasan kumuh di New Orelans Amerika Serikat, ditujukan untuk para imigran
Italia yang mendominasi daerah tersebut.

Denah bangunannya berupa lingkaran, diperkuat dengan garis-garis melingkar


pada lantai dengan warna dari bahan pada tengah taman di buat model tanah Italia yang
berbentuk seperti sepatu tinggi, dikelilingi kolam menggambarkan laut mediterania. Unsur
modern art deco dimasukkan dalam beberapa kepala kolom di sela-sela kolom-kolom
Italia tersebut.

3.

Aldo Rossi

21

Berasal dari Milan Italia, lahir tahun 1913. Selain sebagai arsitek praktisi,
pengajar juga banyak karya-karya tulisnya baik mengenai arsitektur kota maupun
arsitektur. Karya-karyanya adalah:
Teather Dunia I (II Teantro del mondo) 1978 di Venesia
Venesia ini merupakan kota kuno abad pertengahan di Italia, termasyur dengan
keunikannya terapung di laut. Denahnya bujur sangkar 9,5 x 9,5 m 2 di atas plarform
semacam rakit 25 x 25 m. Bagian utamanya tingginya 11 m, di atasnya terdapat sebuah
menara berdenah segi delapan setinggi 6 m, atapnya kerucut berisi delapan.
Teater

Carlo Felice (1983-1989) di Genoa Italia


Teater ini dibangun oleh Rossi bersama tiga arsitek lain yaitu I. Gardell, F. Reinhart dan
A. Sibilia, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik Yunani Ranaissance dengan
elemen modern. Pemakaian unsur lama ciri arsitektur Post Modern antara lain gotic,
terdapat dalam sebuah kerucut yang aneh, karena diletakkan di dalam di atas lobby
utama.

4.

Ricardo Bofil

22

Merupakan arsitek kelahiran Barcelona Spanyol. Salah satu karyanya adalah:


The Palace of Abraxas (1978-1983)

Adalah sebuah apartemen modern di Marnella-la-Valle, sebuah kota baru di pinggiran


timur Kota Paris. Apartemen ini terdiri atas dua unit dengan bentuk dan tata letak yang
sangat unik, yang satu denahnya bagian dari setengah lingkaran, yang lain berupa blok
di tengah bawah kosong seperti arc de triomphe. Bagian atas dari apartemen berlantai
sepuluh terdapat balkon, balustradenya di beri alur-alur seolah-olah seperti kepal dari
kolom Yunani.
f.

Arsitektur Post Modern di Indonesia


Banyak yang menyambut kedatangan Arsitektur Post Modern Indonesia dengan
gembira. Mengikuti harapan yang diutarakan di tempat awal munculnya aliran tersebut,
Arsitektur Post Modern Indonesia juga diperkirakan mampu menembus dominasi aliran
Internasional Style yang berjaya di Indonesia sejak tahun 70-an. Untuk itu beberapa
artikel ditulis di majalah-majalah populer di Jakarta mengenai aliran ini dengan optimistik.
Arsitektur Post Modern sendiri diperkirakan muncul sekitar tahun 50-an di Eropa dan
Amerika dalam wujud yang masih kasar dan kurang meyakinkan untuk diperhitungkan
sebagai bibit unggul. Karena itu, tidak ada satupun sejarawan yang mengangkat dan
membicarakannya, sebab mreka disibukkan dengan pekerjaan mengamati

23

perkembangan Gerakan Modern yang ketika itu sudah menampakkan potensinya


sebagai kekuatan baru di bidang arsitektur. Karya-karya itu mulai dibicarakan kembali
setelah sebuah bentuk baru karya arsitektur mulai nampak di antara sejumlah karyakarya beraliran International Style. Itu berlangsung dalam periode 70-an dan semakin
insentif pemunclan dalam sepuluh tahun terakhir ini.
Kalau mengambil pokok-pokok pikiran post modern untuk meninjau keadaan dan
perkembangan arsitektur di Indonesia, maka arsitektur post modern sudah ada di
Indonesia sejak tahun 1970-an, melalui pandangan dan karya dari Y.B. Mangunwijaya. Di
sini Y.B. Mangunwijaya menghadirkan karya arsitektur yang tergolong ke dalam sub
langgam post modern.
Awalnya kedudukan arsitektur post modern di Indonesia bisa dilihat sebagai komoditi
oleh kelompok masyarakat tertentu saja, yang hanya berkecimpung aktif dalam
pembangunan ekonomi. Arsitektur Post Modern di Indonesia hanya dianggap sebagai
hasil fancy atau minderwertigkeits-kompleks negara berkembang karena takut disebut
terbelakang.
Kecenderungan yang kuat pada arsitektur post modern di Indonesia hanya bertumpu
pada figurativism atau graphism seperti yang muncul pada Delta Plaza Surabaya,
Gedung Universitas Atmajaya Jakarta atau gedung-gedung lainnya di jalan Kuningan
Jakarta. Post Modern di Indonesia dilihat oleh arsitek sebagai gerakan Internasional,
yang tidak menawarkan konsep baru tentang ruang dan lingkungan yang menjadi tempat
keberadaan manusia, tetapi lebih pada bungkus sosok yang dapat ditelusuri dari
Modernisme.
Post Modern tidak bisa disebut suatu epoche kultural karena yang dicapainya hanya
sekedar popularitas, bukan pemberian nilai tambah yang memperkaya konsep beradanya
manusia dalam lingkungan binaan Arsitektural. hal ini ditandai dengan adanya beerapa
diantara karya-karya baru di Indonesia yang mencoba-coba menampilkan elemen
tradisional pada tempat-tempat tertentu di bangunannya, yang pasti ditopang oleh dalih
kontekstual, baik regional maupun lokal. Pada dasarnya mereka lupa bahwa bukan
seperti itu kontekstual yang dibayangkan oleh para pencetus Arsitektur Post Modern,
melainkan yang komunikatif yang dikenal secara populer oleh warga masyarakat
setempat.
g. Post Modern dan Alirannya
Ada enam aliran yang menjadi sumber terbentuknya langgam gaya arsitektur Post
Modern yaitu:
1. Aliran histiricsm
2. Aliran straight revivalis
3. Aliran neo vernacular
4. Aliran urbanist yang memiliki dua ciri yaitu
a. ad hoc
b. kontekstual
5. Aliran methapor
6. Aliran post modern space
3. Arsitektur Minimalis (1980-1990an)

24

Arsitektur Minimalis dan Sejarah Singkat Arsitektur Modern


Saat ini kita mungkin akrab dengan istilah bangunan bergaya minimalis, dimana
sebelumnya sekitar tahun 1980-1990an rumah tinggal di Indonesia didominasi oleh
gaya arsitektur klasik, mediterania dan etnik/tradisional. Namun kini sesuai
perkembangan zaman, gaya arsitektur minimalis mulai menjamur pada bangunan
rumah tinggal terutama di kota-kota besar seolah mulai mendominasi gaya arsitektur
rumah tinggal masa kini. Kadangkala sampai-sampai membuat orang latah atau
sekedar ikut-ikutan tanpa paham sebenarnya apa sih yang dimaksud arsitektur
minimalis itu.
Jadi apa itu arsitektur minimalis..? Namun sebelumnya ada baiknya kita perlu
merunut ke belakang tentang sejarah arsitektur modern.
Arsitektur minimalis itu berakar pada arsitektur modern yang lahir pada awal abad 20.
Lahirnya arsitektur modern ini timbul dan berkembang dipengaruhi beberapa faktor.
Masa revolusi industri menghasilkan material-material baru dan teknik konstruksi
yang lebih maju dalam industri rancang bangun. Saat itu mulai dikenal teknologi cor
beton, konstruksi baja, kaca dsb. Hal ini memungkinkan proses konstruksi bangunan
menjadi lebih cepat dan efisien. Pada masa itu pula muncul ahi-ahli rancang
bangunan/arsitek yang mengembanngkan konsep pemikiran baru dalam desain.
Lahirlah paham form follow function atau bentuk mengikuti fungsi. Arsitek-arsitek
yang terkenal sebagai pelopor konsep ini antara lain ; Louis Sullivan, Le Corbusier,
Mies Van de Rohe dan Frank Lloyd Wright. Karya-karya mereka mereka menjadi ikon
arsitektur modern. Akibat Perang Dunia II, banyak sekali bangunan-bangunan di
negara Eropa yang mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan pembangunan yang
cepat, fungsional dan murah dan bersifat internasional. Arsitektur modern menjadi
salah satu jawaban atas masalah ini, dan berkembang pesat.
Prinsip arsitektur modern yang utama adalah form follow function atau
bentuk mengikuti fungsi, Bentuk disini artinya adalah segala sesuatu baik berupa tata
ruang maupun estetika, sehingga konsep efisiensi disini sangat diutamakan. Saat itu
segala bentuk ornamen dilarang untuk digunakan (ada istilah ornamen is a crime),
hal ini bertolak belakang dengan bangunan bergaya klasik yang kaya akan ragam
ornamen/ukir-ukiran. Saat itu bentuk ruang yang dianggap paling fungsional dan
efisien untuk aktifitas manusia adalah bentuk-bentuk kotak atau persegi panjang
sehingga menghasilkan ekspresi fasad bangunan yang berbentuk kubisme/box yang
kaku. Bangunan harus ditampilkan dengan ekspresi yang sederhana dan penuh
kejujuran. Setiap elemen bangunan benar-benar ditampilkan sesuai dengan
fungsinya dan penggunaan material diekspos apa adanya. Keindahan sebuah
bangunan akan lahir sendiri dari kesederhanaannnya/ less is more. Penggumaan
bahan material bangunan juga menggunakan material terkini pada saat itu,
menggunakan material pabrik dengan metode pembangunan yang cepat.

25

Lalu bagaimana dengan arsitektur minimalis yang kini marak di Indonesia ?


Sebenarnya prinsip utama dari arsitektur minimalis ini masih berpedoman
pada arsitektur modern, yaitu fungsional dan efisiensi. Fungsional berarti bangunan
tersebut benar-benar mampu mewadahi aktifitas penggunanya, dan efisiensi harus
mampu diterapkan ke berbagai hal ; efisiensi biaya , efisiensi waktu pekerjaan dan
aspek free maintenance pada bangunan. Dari segi ekspresi fasad, sebagaimana
gaya arsitektur modern, pada bangunan bergaya minimalis kita tak akan melihat
ragam profil ukiran yang rumit (seperti pada bangunan klasik). Namun pengolahan
ekspresi fasad bangunan pada arsitektur minimalis kini lebih dinamis dan tidak kaku.
Penggunaan ornamen pada bangunan kini muncul kembali, namun bukan berupa
bentuk-bentuk rumit, tapi bentuknya lebih sederhana dan sifatnya geometrik,
penggunaan ornamen ini juga lazimnya tidak dominan, namun hanya sebagai aksen
pemanis saja. Penggunaan pengolahan material pada bangunan juga lebih attraktif
dan bervariasi. Walaupun bentuk ekspresi box pada fasad masih dominan, explorasi
ke bentuk-bentuk lainnya seperti bentuk lengkung dan bidang miring banyak
diterapkan. Karena menyikapi iklim tropis di Indonesia bentuk atap menyesuaikan
dengan bentuk atap pelana atau perisai/limasan dengan penutup atap genteng,
ketimbang memilih bentuk atap datar (cor beton). Akhirnya bisa dibilang arsitektur
minimalis sekarang ini merupakan arsitektur modern yang telah

3. Peninggalan Kolonial Belanda di Bidang Arsitektur


Di zaman penjajahan, belanda banyak membangun bangunan untuk keperluan
pemerintahan belanda pada saat itu. Sehingga banyak peninggalan colonial daerah bekas
jajahannya, diantaranya adalah:

1. LAWANG SEWU

26

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang


merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS.
Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu
Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan
bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang
ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar,
sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai
kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta

27

Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando
Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil)Kementerian
Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan
sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di
Semarang (14 Oktober 19 Oktober 1945).
Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau
Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu
Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor.
650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan
kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.
2. VILLA ISOLA

Villa Isola adalah bangunan villa yang terletak di kawasan pinggiran utara Kota
Bandung. Berlokasi pada tanah tinggi, di sisi kiri jalan menuju Lembang(Jln.
Setiabudhi), gedung ini dipakai oleh IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
Bandung, yang sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia-UPI). Villa Isola
adalah salah satu bangunan bergaya arsitektur Art Deco yang banyak dijumpai di
Bandung.
Villa Isola dibangun pada tahun 1933, milik seorang hartawan Belanda bernama
Dominique Willem Berretty. Kemudian bangunan mewah yang dijadikan rumah

28

tinggal ini dijual dan menjadi bagian dari Hotel Savoy Homann. Perkembangan
selanjutnya, ia dijadikan Gedung IKIP (sekarang UPI) dan digunakan sebagai kantor
rektorat.

Suatu publikasi khusus pada masa Hindia Belanda untuk villa ini ditulis oleh Ir. W.
Leimei, seorang arsitek Belanda. Dalam publikasi ini, Leimei mengatakan bahwa di
Batavia ketika urbanisasi mulai terjadi, banyak orang mendirikan villa di pinggiran
kota dengan gaya arsitektur klasik tetapi selalu beradaptasi baik dengan alam dan
ventilasi, jendela dan gang-gang yang berfungsi sebagai isolasi panas matahari. Hal
ini juga dianut oleh Villa Isola di Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, Gedung
ini sempat digunakan sebagai kediaman sementara Jendral Hitoshi Imamura saat
menjelangPerjanjian Kalijati dengan Pemerintah terakhir Hindia Belanda di Kalijati,
Subang, Maret 1942. Gedung ini dibangun atas rancangan arsitek Belanda yang
bekerja di Hindia Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker.

29

3. GERBANG AMSTERDAM

Gerbang Amsterdam (Belanda: Amsterdamsche Poort) disebut juga Pinangpoort


(Gerbang Pinang) atau Kasteelpoort adalah gerbang sisa peninggalan benteng VOC
semasa J.P. Coen. Pada pertengahan abad ke-19, gerbang ini merupakan sisa satusatunya dari benteng yang dihancurkan dan mulai ditinggalkan semasa gubernur
Jenderal HW Daendels. Gerbang ini pernah mengalami beberapa kali pemugaran.
Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750) pernah merenovasi
benteng bagian selatan termasuk gerbang Amsterdam dengan gaya Rococo.

Kemudian, sepeninggal Daendels, gerbang ini dipugar pada kurun waktu antara
1830 dan 1840. Patung dewa Mars dan dewi Minervaditambahkan pada gerbang ini.

30

Kedua patung itu kemudian hilang semasa pendudukan Jepang di Indonesia.


Bangunan ini dihancurkan seiring dengan mulai beroperasinya trem kereta kuda April
1869 di kawasan tersebut. Lokasi saat ini gerbang tersebut berada di persimpangan
Jalan Cengkeh (Prinsenstraat), Jalan Tongkol (Kasteelweg), dan Jalan Nelayan
Timur (Amsterdamschegracht) sekarang. Dalam rencana revitalisasi Kota Tua,
replika gerbang ini akan dibuat walaupun tidak diketahui apakah akan berada di
tapak yang sama
4. MUSEUM BANK MANDIRI

Berdiri tanggal 2 Oktober 1998. Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini
pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau
Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian
berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.
Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960
menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan
Ekspor Impor. Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia
(BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih menjadi kantor
pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim
bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank
Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung
tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri.

31

5. MUSEUM NASIONAL

Cikal bakal museum ini lahir tahun 1778, tepatnya tanggal 24 April, pada saat
pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. J.C.M.
Radermacher, ketua perkumpulan, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di
Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang nanti
menjadi dasar untuk pendirian museum.
Di masa pemerintahan Inggris (1811-1816), Sir Thomas Stamford Raffles yang juga
merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3.
Gedung ini digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Literary Society
(dahulu bernama Societeit de Harmonie.) Lokasi gedung ini sekarang menjadi
bagian dari kompleks Sekretariat Negara.

32

6. MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh
Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia
(Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat pendudukan Jepang
dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun1944, tempat itu dimanfaatkan oleh
tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.
Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu
dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 19731976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru
setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa
Jakarta.
Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan
Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.

33

7. ISTANA BOGOR

Istana Bogor dahulu bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti
"tanpa kekhawatiran".
Sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan tempat kediaman resmi
dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur Jenderal Inggris.
Pada tahun 1744 Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff terkesima
akan kedamaian sebuah kampung kecil di Bogor (Kampung Baru), sebuah wilayah
bekas Kerajaan Pajajaran yang terletak di hulu Batavia. Van Imhoff mempunyai
rencana membangun wilayah tersebut sebagai daerah pertanian dan tempat
peristirahatan bagi Gubernur Jenderal.
Istana Bogor dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk tingkat tiga, pada
awalnya merupakan sebuah rumah peristirahatan, ia sendiri yang membuat sketsa
dan membangunnya dari tahun 1745-1750, mencontoh arsitektur Blehheim Palace,
kediaman Duke Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Berangsur angsur, seiring
dengan waktu perubahan-perubahan kepada bangunan awal dilakukan selama masa
Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Herman Willem Daendels dan
Sir Stamford Raffles), bentuk bangunan Istana Bogor telah mengalami berbagai
perubahan. sehingga yang tadinya merupakan rumah peristirahatan berubah
menjadi bangunan istana paladian dengan luas halamannya mencapai 28,4 hektare
dan luas bangunan 14.892 m.
Namun, musibah datang pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi mengguncang
akibat meletusnya Gunung Salak sehingga istana tersebut rusak berat.

34

Bangunan induk dan sayap kiri dan kanan

Pada tahun 1850, Istana Bogor dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena
disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan
Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama
sisa gempa itu dirubuhkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad
ke-19.
Pada tahun 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur
Jenderal Hindia Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg itu adalah Gubernur
Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer yang terpaksa harus menyerahkan
istana ini kepada Jenderal Imamura, pemeritah pendudukan Jepang.
Pada tahun 1950, setelah masa kemerdekaan, Istana Kepresidenan Bogor mulai
dipakai oleh pemerintah Indonesia, dan resmi menjadi salah satu dari Istana
Presiden Indonesia.
Pada tahun 1968 Istana Bogor resmi dibuka untuk kunjungan umum atas restu
dari Presiden Soeharto. Arus pengunjung dari luar dan dalam negeri setahunnya
mencapai sekitar 10 ribu orang.
Pada 15 November 1994, Istana Bogor menjadi tempat pertemuan tahunan menteri
ekonomi APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation), dan di sana
diterbitkanlah Deklarasi Bogor. [1] Deklarasi ini merupakan komitmen 18 negara
anggota APEC untuk mengadakan perdangangan bebas dan investasi sebelum
tahun 2020.
Pada 16 Agustus 2002, pada masa pemerintahan Presiden Megawati, diadakan
acara "Semarak Kemerdekaan" untuk memperingati HUT RI yang ke-57, dan
dimeriahkan dengan tampilnya Twilite Orchestra dengan konduktor Addie MS
Pada 9 Juli 2005 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melangsungkan pernikahan
anaknya, Agus Yudhoyono dengan Anisa Pohan di Istana Bogor.zeron.Pada 20
November 2006 Presiden Amerika Serikat George W. Bush melangsungkan
kunjungan kenegaraan ke Istana Bogor dan bertemu dengan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono. Kunjungan singkat ini berlangsung selama enam jam.

35

Bangunan dan ruangan di Istana Bogor


Sebelumnya Istana Bogor dilengkapi dengan sebuah kebun besar, yang dikenal
sebagai Kebun Raya Bogor namun sesuai dengan kebutuhan akan pusat
pengembangan ilmu pengetahuan akan tanaman tropis, Kebun Raya Bogor dilepas
dari naungan istana pada tahun 1817.
Istana Bogor mempunyai bangunan induk dengan sayap kiri serta kanan.
Keseluruhan kompleks istana mencapai luas 1,5 hektare.
Bangunan induk Istana Bogor terdiri dari:

Bangunan induk istana berfungsi untuk menyelenggarakan acara


kenegaraan resmi, pertemuan, dan upacara.

Sayap kiri bangunan yang memiliki enam kamar tidur digunakan untuk
menjamu tamu negara asing.

Sayap kanan bangunan dengan empat kamar tidur hanya diperuntukan bagi
kepala negara yang datang berkunjung.

Pada tahun 1964 dibangun khusus bangunan yang dikenal dengan


nama Dyah Bayurini sebagai ruang peristirahatan presiden dan keluarganya,
bangunan ini termasuk lima paviliun terpisah.

Kantor pribadi Kepala Negara

Perpustakaan

Ruang makan

Ruang sidang menteri-menteri dan ruang pemutaran film

Ruang Garuda sebagai tempat upacara resmi

Ruang teratai sebagai sayap tempat penerimaan tamu-tamu negara.

Kaca Seribu

36

Ruang Garuda

Kantor pribadi Kepala Negara dengan lukisan abad ke-19 "The Russian Wedding"
oleh Makowski

Ruang Baca Presiden

Istana Bogor merupakan salah satu dari enam Istana Presiden Republik Indonesia
yang mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan aspek historis, kebudayaan, dan
faunanya. Istana Bogor dahulu bernama Buitenzorg atau Sans Souci yang berarti
tanpa kekhawatiran. Sejak tahun 1870 hingga 1942, Istana Bogor merupakan
tempat kediaman resmi dari 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu orang Gubernur
Jenderal Inggris. Istana Bogor dibangun pada bulan Agustus 1744 dan berbentuk
tingkat tiga, dirancang oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff dari
Belanda.

37

8. ISTANA MERDEKA JAKARTA

Istana yang awalnya bernama Istana Gambir, dibangun pada masa pemerintahan
Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873. Istana yang diarsiteki Drossaers
ini sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan
Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949.
Kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan.
9. GEDUNG SATE

Gedung Sate, dengan ciri khasnya berupa ornamen tusuk sate pada menara
sentralnya, telah lama menjadi penanda atau markah tanah Kota Bandung. Mulai
dibangun tahun 1920, gedung berwarna putih ini masih berdiri kokoh namun anggun
dan kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat. Arsitektur
Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak
terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage yang
bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara.

38

10. Museum Benteng Vredeburg yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang dibangtn tahun 1765 oleh
VOC di Yogyakarta selama masa kolonial VOC. Benteng ini dibangun oleh VOC
sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu. Benteng
berbentuk persegi ini mempunyai menara pantau di keempat sudutnya dan di
dalamnya terdapat bangunan-bangunan rumah perwira, asrama prajurit, gudang
logistik, gudang mesiu, rumah sakit prajurit dan rumah presiden.
11. Pasar Gede Hardjonagoro

Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gedhe merupakan sebuah pasar "kecil"
yang didirikan di area seluas 10.421 meter persegi, berlokasi di persimpangan jalan
dari kantor gubernur yang sekarang digunakan sebagai Balaikota Surakarta.
Bangunan ini di desain oleh arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten yang

39

selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gede
Hardjanagara. Diberi nama Pasar Gedhe karena terdiri dari atap yang besar
(Gedhe artinya besar dalam bahasa Jawa). Seiring perkembangan waktu, pasar ini
menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta.
Awalnya pemungutan pajak (retribusi) dilakukan oleh abdi dalem Kraton Surakarta.
Mereka mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa jubah dari kain (lebar dan
panjang dari bahan batik dipakai dari pinggang ke bawah), beskap (semacam
kemeja), danblangkon (topi tradisional). Pungutan pajak kemudian akan diberikan ke
Keraton Kasunanan.
Pasar Gedhe terdiri dari dua bangunan yang terpisah, masing masing terdiri dari dua
lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang
bertuliskan 'PASAR GEDHE.
Arsitektur Pasar Gedhe merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya
tradisional. Pada tahun 1947, Pasar Gedhe mengalami kerusakan karena serangan
Belanda. Pemerintah Indonesia kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949.
Perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap
yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari pasar gedhe, digunakan
untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

12. Gereja Katedral Bandung,

Gereja Katedral Bandung, atau Katedral Santo Petrus, adalah


sebuah gereja yang terletak di Jalan Merdeka, Bandung, Indonesia. Bangunan ini
dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neoGothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral
Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m dan luas bangunan sebesar
785 m.
Gerejanya sendiri diberi nama St. Franciscus Regis pada tanggal 16 Juni 1895.
Setelah Bandung memperoleh status gemeente (setingkat kotamadya) pada 1906,
diputuskan untuk membangun bangunan gereja baru. Pembangunan bangunan yang
baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921. Katedral ini lalu diberkati pada 19
Februari 1922 oleh Mgr. E. Luypen.
Wujudnya pada gambar 1:1 selubung bangunan gaya arsitektur neo-gotic:
proporsi skala bangunan yang tinggi besar,atap curam susunan jendela pola

40

lengkung gotic dan jendela mawar untuk penerangan alami. Pintu entrence besar
berpola,bertampilan megah dan sacral. Tata ruang bertema ruang bentuk salib,
plafond bertema gotic,

41

BAB III
KESIMPULAN
Seiring perjalanan perkembangan arsitektur Indonesia terus mencari jati
diri dan berusaha lepas dari hal hal yang berbau colonial, selain sebagai pelopor
pembangunan dibidang arsitektur, arsitek Indonesia juga tidak lepas dari
perjalanan kemedekaan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Sumalyo, Yulianto, 1996. Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX, Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Suriawidjaja, P. Eppi, alt., 1983. Persepsi Bentuk dan Konsep Arsitektur, Djambatan, Jakarta.
www.architecture.com/greatbuilding.
www.bluffon.edu/-Sullivanm/www.michaelgraves.com.
www.geogle.com/postmodern.
Wiryomartono, Poerwono Bagoes, 1993. Perkembangan Gerakan Arsitektur Modern di Jerman
dan Post Modernisasi, Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Hutagalung, Rapindo, 1992. Architrave. Badan Otonomi Architrave Bekerjasama dengan PT.
Mitramass Mediakarsa, Jakarta.

42

43