Anda di halaman 1dari 6

NAMA FORMASI DAN JENIS BATUAN DI INDONESIA

Formasi di Sumatera Selatan


1. Formasi Lahat (LAF)
Formasi ini diendapkan dalam air tawar daratan. Batuannya disebut
sebagai batuan Lava Andesit tua yang juga mengintrusi batuan yang
diendapkan pada Zaman Tersier Awal.
2. Formasi Talang Akar (TAF)
Sedimen-sedimen ini merupakan endapan fluviatil sampai delta (Spruyt,
1956), juga masih menurut Spruyt (1956) anggota transisi pada bagian
bawahnya terdiri atas selang-seling batupasir kuarsa berukuran halus
sampai sedang dan batulempung serta lapisan batubara. Batupasir pada
bagian atas berselang-seling dengan batugamping tipis dan batupasir
gampingan, napal, batulempung gampingan dan serpih.
3. Formasi Baturaja (BRF)
Menurut Spruyt (1956), formasi ini diendapkan secara selaras diatas
Formasi Talang Akar. Terdiri dari batugamping terumbu dan batupasir
gampingan. Di gunung Gumai tersingkap dari bawah keatas berturut-turut
napal tufaan, lapisan batugamping koral, batupasir napalan kelabu putih,
batugamping ini mengandung foram besar antara lain Spiroclypes spp,
Eulipidina Formosa Schl, Molusca dan lain sebagainya. Ketebalannya
antara 19 - 150 meter dan berumur Miosen Awal. Lingkungan
Pengendapannya adalah laut dangkal.
4. Formasi Gumai (GUF)
Formasi ini terdiri atas napal tufaan berwarna kelabu cerah sampai kelabu
gelap. Kadang-kadang terdapat lapisan-lapisan batupasir glaukonit yang
keras, tuff, breksi tuff, lempung serpih dan lapisan tipis batugamping.
Endapan sediment pada formasi ini banyak mengandungGlobigerina spp,
dan napal yang mengeras. Westerfeld (1941) menyebutkan bahwa
lapisan-lapisan
5. Formasi Air Benakat (ABF)
Litologinya terdiri atas batupasir tufaan, sedikit atau banyak lempung
tufaan yang berselang-seling dengan batugamping napalan atau
batupasirnya semakin keatas semakin berkurang kandungan
glaukonitnya. Pada formasi ini dijumpaiGlobigerina spp, tetapi banyak

mengadung Rotalia spp. Pada bagian atas banyak dijumpai Molusca dan
sisa tumbuhan. Di Limau, dalam penyelidikan Spruyt (1956) ditemukan
serpih lempungan yang berwarna biru sampai coklat kelabu, serpih
lempung pasiran dan batupasir tufaan. Di daerah Jambi ditemukan berupa
batulempung kebiruan, napal, serpih pasiran dan batupasir yang
mengandung Mollusca, glaukonit kadang-kadang gampingan.
6. Formasi Muara Enim (MEF)
Terdiri atas batulempung dan batupasir coklat sampai coklat kelabu,
batupasir berukuran halus sampai sedang. Didaerah Palembang terdapat
juga lapisan batubara. Juga terdiri atas batu lempung pasiran dan batu
lempung tufaan yang berwarna biru hijau, beberapa lapisan batubara
berwarna merah-tua gelap, batupasir kasar halus berwarna putih sampai
kelabu terang.

7. Formasi Kasai (KAF)


Pada bagian bawah terdiri atas batupasir tufan dengan beberapa selingan
batulempung tufan, kemudian terdapat konglomerat selang-seling
lapisan-lapisan batulempung tufan dan batupasir yang lepas, pada bagian
teratas terdapat lapisan batuapung yang mengandung sisa tumbuhan dan
kayu terkersikkan berstruktur sediment silang siur, lignit terdapat sebagai
lensa-lensa dalam batupasir dan batulempung tufan.
Formasi di Jawa Timur
8. Formasi Kujung
Tersusun oleh serpih dengan sisipan lempung dan secara setempat
berupa batugamping baik klastik maupun terumbu.Diendapkan pada
lingkungan laut dalam sampai dangkal pada kala Oligosen Akhir sampai
Miosen Awal.
9. Formasi Tuban
Tersusun oleh lapisan batulempung dengan sisipan batugamping.Semakin
ke selatan berubah menjadi fasies serpih dan batulempung Diendapkan
pada lingkungan neritik sedang-neritik dalam.
10. Formasi Tawun
Tersusun oleh serpih lanauan dengan sisipan batugamping.Pada bagian
atas formasi ini didominasi oleh batupasir yang terkadang lempungan dan
secara setempat terdapat batugamping.

11. Formasi Ngrayong


Tipe local pada desa Ngrayong, Jatirogo, dimana susunan utamanya
batupasir dengan intercalation batubara dan sandy clay.

12. Formasi Bulu


Tersusun oleh batugamping pasiran yang keras, berlapis baik, berwarna
putih abu-abu, dengan sisipan napal pasiran. Pada batugampingnya
dijumpai banyak foraminifera yang berukuran sangat besar dari spesies
Cycloclypeus (Katacycloclypeus) annulatus berasosiasi dengan fragmen
koral dan alga serta foramnifera kecil.
13. Formasi Wonocolo
Tersusun dari napal kuning-coklat, mengandung glaukonit, terdapat
sisipan kalkarenit dan batulempung. Formasi ini menumpang secara
selaras di atas formasi bulu dan ditumpangi oleh Formasi Ledok. Pada
umumnya tersusun oleh napal dan napal lempungan yang tidak berlapis,
kaya akan kandungan foraminifera plangtonik. Pada bagian bawahnya
dijumpai sisipan batugamping pasiran dan batupasir gampingan
14. Formasi Ledok
Formasi Ledok secara umum tersusun oleh batupasir glaukonitan dengan
sisipan kalkarenit yang berlapis bagus serta batulempung yang berumur
Miosen Akhir (N 16N 17).Ketebalan dari Formasi Ledok ini sangat
bervariasi. Pada lokasi tipenya, yaitu daerah antiklin Ledok, ketebalannya
mencapai 230 m. Batupasirnya kaya akan kandungan glaukonit dengan
kenampakan struktur silang siur..
15. Formasi Mundu
Formasi ini tersusun oleh napal masif berwarna putih abu-abu, kaya akan
fosil foraminifera plangtonik. Secara stratigrafis Formasi Mundu terletak
tidak selaras di atas formasi ledok, penyebarannya luas, dengan
ketebalan 200 m300 m di daerah antiklin Cepu area, ke arah selatan
menebal menjadi sekitar 700 m.
16. Formasi Selorejo
Selorejo ini merupakan anggota dari Formasi Mundu. Lokasi tipenya
terletak di desa Selorejo dekat kota Cepu. Anggota Selorejo ini tersusun
oleh perselingan antara batugamping keras dan lunak, kaya akan

foraminifera palngtonik serta mineral glaukonit.


17. Formasi Lidah
Formasi ini terdiri atas batulempung kebiruan, napal berlapis dengan
sisipan batupasir dengan lensa-lensa coquina. Bagian terbawah dari
formasi ini diduga merupakan endapan neritik tengah hingga neritik luar,
yang tercirikan oleh banyaknya fauna plangtonik tetapi masih
mengandung foraminifera bentonik yang mencirikan air relatif dangkal
seperti pseudorotalia sp. dan Asterorotalia sp.

18. Formasi Banuwati


Terdiri dari batupasir berbutir sedang sampai kasar yang berhubungan
dengan basin margin fault.
19. Formasi Kawengan
Formasi Kawengan terdiri dari dua anggota (member) yaitu :

Member Mundu, yang tersusun oleh napal dan napal pasiran serta
batugamping pasiran.

Member Ledok yang tersusun oleh batupasir gampingan,


batugamping pasiran dan napal, formasi ini diendapkan di atas Formasi
Wonocolo. Batugamping terumbu pada formasi ini oleh sebagian peneliti
disebut Karren Limestone.
Nama Formasi di Jawa Tengah
20. Formasi Nanggulan
Merupakan farmasi yang paling tua di daerah pegunungan kulon
progo.slingkapan batuan-batuan penyusun dari farmasi nanggulan.
21. Formasi Andesit
merupakan tua Batuan penyusun dari formasi ini trdiri atas braksi
andesit,tuf,tuf tapili,aglomerat dan sisipan aliran lava andesit.
22. Formasi jonggrangan
Bagian bawah dari formasi ini terdiri dari konglomerat yang ditumpangi
oleh napal tufan batu pasir gampingan dengan sisipan lignit.batuan ini
semakin ke atas menjadi batu gamping koral

23. Formasi sentolo


Litologi penyusun formasi sentolo ini dibagian bawah, terdiri dari
agromerit dan napal,semakin ke atas berubah menjadi batu gamping
berlapis dengan fasies neritik.
Nama Formasi di Jawa Barat
24. Formasi Kerek
Batugamping Kerek Anggota teratas dari Formasi Kerek ini tersusun oleh
perselang-selingan antara batugamping tufan dengan perlapisan lempung
dan tuf.

25. Formasi Kalibeng


Bagian atas bersifat breksian dengan fragmen gamping berukuran kerikil
sampai karbonat, kemudian disusul endapan bapal pasiran, semakin ke
atas napalnya bersifat lempungan, bagian teratas ditempati napal
lempung berwarna hijau kebiruan.
26. Formasi Pucangan
Formasi Pucangan berkembang sebagai fasies vulkanik dan fasies
lempung hitam.
27. Formasi Kabuh
Formasi ini terdiri dari batupasir dengan material non vulkanik antara lain
kuarsa, berstruktur silangsiur dengan sisipan konglomerat dan tuff,
mengandung fosil Moluska air tawar dan fosil fosil vertebrata berumur
Plistosen Tengah, merupakan endapan sungai teranyam yang dicirikan
oleh intensifnya struktur silangsiur tipe palung, banyak mengandung
fragmen berukuran kerikil.
28. Formasi Notopuro
Litologi penyusunnya terdiri dari breksi lahar berseling dengan batupasir
tufaan dan konglomerat vulkanik. Makin ke atas, sisipan batupasir tufaan
makin banyak. Juga terdapat sisipan atau lensa lensa breksi vulkanik
dengan fragmen kerakal, terdiri dari andesit dan batuapung, yang
merupakan ciri khas Formasi Notopuro.

29. Formasi Undak Bengawan Solo


Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik dengan fragmen
batugamping, napal dan andesit di samping batupasir yang mengandung
fosil-fosil vertebrata, di daerah Brangkal dan Sangiran, endapan undak
tersingkap baik sebagai konglomerat dan batupasir andesit yang agak
terkonsolidasi dan menumpang di atas bidang erosi pad Formasi Kabuh
maupun Notopuro.