Anda di halaman 1dari 7

UJI KUALITAS MIKROBIOLOGI SAYURAN BERDASARKAN ANGKA

LEMPENG TOTAL KOLONI BAKTERI


Laporan Praktikum
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikrobiologi
yang dibina oleh Ibu Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd.
dan Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si.
Oleh:
Kelompok 2
Offering H

1 Farida Aryani Dian


2 Hesti Nur C.
3 Ika Diana Werdani
4 Nur Hidayatus S.

(130342615300)
(130342615321)
(130342615301)
(130342615304)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Oktober 2015

A. TUJUAN
1. Untuk mengetahui jumlah total koloni bakteri pada sayuran mentah dan
sayuran masak.
2. Untuk mengetahui kualitas mikrobiologi sayuran mentah dan sayuran
masak berdasarkan jumlah total koloni bakteri.
B. DASAR TEORI
Beberapa indicator mikroorganisme pembusuk pada bahan pangan adalah
bakteri yang tergolong ke dalam bakteri koliform, bakteri ini hampir ada pada
setiap bahan pangan yang telah mengalami tahap pengolahan. Splittstoesser dan
Wettergreen (1981) melakukan pengamatan terhadap beku, melaporkan adanya
Enterobacter dan Klebsiella pada sayur-sayuran sejak masih di kebun yang
merupakan mikroflora normal. Sehingga, mikroorganisme ini tidak dapat
dijadikan sebagai indicator sanitasi. Sedangkan terkontaminasinya sayuran oleh
koliform fekal seperti Escheria coli yang sebenarnya jarang ditemukan pada
sayuran dapat menjadikan bakteri ini sebagai mikroorganisme indicator sanitasi
pada sayuran.
Sayuran segar lebih banyak terkontaminsasi E.coli dibandingkan dengan
sayuran beku. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 1) Sayuran jarang
terkontaminasi oleh kotoran manusia maupun hewan, kecuali jika setelah
pemanenan sayuran dicuci dengan air yang terkontaminasi kotoran. 2) Sayuran
bukan termasuk ke dalam habitat normal E.coli. 3) Kemingkinan terjadi
kontaminasi kotoran maupun koliform fekal pada sayuran, tetapi E.coli
merupakan bakteri yang sensitive terhadap proses blansir dan pembekuan
sehingga tidak akan terdeteksi pada produk sayuran beku.
Untuk sayuran kaleng yang merupakan sayuran yang diproses dengan
cara sterilisasi komersial di dalam kaleng sehingga diharapkan sayuran tersebut
sudah terbebas dari mikroorganisme pathogen dan pembusuk yang dapat tumbuh
selama penyimpanan pada suhu simpan yang normal. Pengujian untuk kualitas
keamanan makanan kaleng yang terutama adalah Clostridium botulinum. Bakteri
ini tergolong bakteri anaerobic yang membentuk spora dan bersifat mesofilik, dan
juga merupakan bakteri pembentuk neurotoksin yang dapat mengakibatkan
keracunan yang bersifat fatal. Untuk pengujian terhadap mikroorganisme indicator
sanitasi ini yang paling sering dilakukan terhadap makanan kaleng.

Cemaran akan semakin tinggi pada bagian tanaman yang ada di dalam
tanah atau dekat dengan tanah. Mikroba tertentu seperti Liver fluke dan Fasciola
hepatica akan berpindah dari tanah ke selada air akibat penggunaan kotoran
kambing atau domba yang tercemar sebagai pupuk. Air irigasi yang tercemar
Shigella sp., Salmonella sp., E. coli, dan Vibrio cholerae dapat mencemari buah
dan sayur. Selain itu, bakteri Bacillus sp., Clostridium sp., dan Listeria
monocytogenes dapat mencemari buah dan sayur melalui tanah. Namun,
penanganan dan pemasakan yang baik dan benar dapat mematikan bakteri
patogen tersebut, kecuali bakteri pembentuk spora (Djaafar, 2007).
Menurut Fardiaz (1992), metode yang dapat digunakan untuk menghitung
jumlah mikroba di dalam bahan pangan adalah metode hitungan cawan. Prinsip
dari metode hitungan cawan adalah jika sel yang masih hidup ditumbuhkan pada
medium agar, maka sel tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni
yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata tanpa menggunakan
mikroskop. Metode hitung cawan dapat dibedakan atas dua cara, yaitu metode
tuang dan metode permukaan. Pada metode tuang, jumlah sampel (1 ml atau 0,1
ml) dari pengenceran yang dikehendaki dimasukkan ke dalam cawan petri,
kemudian digoyangkan supaya sampel tersebar merata.
Perhitungan jumlah koloni dilakukan dengan hitungan cawan (Total Plate
Counts) berdasarkan pertumbuhan dapat dilihat langsung tanpa mikroskop
(Fardiaz, 1992). Menurut Jutono (1980), tidak semua jumlah bakteri dapat
dihitung. Ada beberapa syarat perhitungan yang harus dipenuhi, yaitu :
1
2
3

Jumlah koloni tiap petri dish antara 30-300 koloni, jika memang tidak
ada yang memenuhi syarat dipilih yang jumlahnya mendekati 300.
Tidak ada koloni yang menutup lebih besar dari setengah luas petridish,
koloni tersebut dikenal sebagai spreader.
Perbandingan jumlah bakteri dari hasil pengenceran yang bertururtturut antara pengenceran yang lebih besar dengan pengenceran
sebelumnya, jika sama atau lebih kecil dari 2 hasilnya dirata-rata, tetapi
jika lebih besar dari 2 yang dipakai jumlah mikroba dari hasil
pengenceran sebelumnya.
Jika dengan ulangan setelah memenuhi syarat hasilnya diratarata. Dalam perhitungan jumlah mikroorganisme ini seringkali
digunakan pengenceran. Pada pengenceran dengan menggunakan botol
cairan terlebih dahulu dikocok dengan baik sehingga kelompok sel
dapat terpisah. Pengenceran sel dapat membantu untuk memperoleh
perhitungan jumlah mikroorganisme yang benar. Namun pengenceran

yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempengan agar dengan jumlah


koloni yang umumnya relatif rendah.
Pengenceran dilakukan agar setelah inkubasi, koloni yang terbentuk
pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung. Dimana jumlah
terbaik adalah antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml, per gr, atau per
cm permukaan (Fardiaz, 1992).

Prinsip pengenceran adalah menurunkan jumlah sehingga semakin banyak


jumlah pengenceran yang dilakukan, makin sedikit sedikit jumlah mikroba,
dimana suatu saat didapat hanya satu mikrobia pada satu tabung. Inkubasi
dilakukan selama 2 x 24 jam karena jumlah mikrobia maksimal yang dapat
dihitung, optimal setelah masa tersebut yaitu akhir inkubasi. Selama masa
inkubasi, sel yang masih hidup akan membentuk koloni yang dapat dilihat
langsung oleh mata (Waluyo, 2004).
Pencarian nilai rujukan:

1
angka pengenceran
x=
1
nilai tertinggi
angka pengenceran
nilai terendah

1
105
x=
1
107 x 1
10
37

x> 2
Hasil
perhitungan
diatas
dinyatakan
dalam
ALT
(Angka
Lempeng Tunggal) (Djide,2005). Hasil yang didapat sebagai angka lempeng total
harus mengikuti aturan-aturan sebagai berikut :
1

Angka yang ditulis hanya dua angka, yaitu angka pertama di depan
koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka ketiga 5, maka
dibulatkan menjadi satu angka lebih tinggi dari angka kedua.
Apabila setelah pembulatan tersebut menyebabkan perubahan pada
angka pertama maka angka tingkat pengenceran dinaikkan menjadi
satu angka lebih tinggi daripada angka sebelumnya. Misalnya
1,95x103 diubah menjadi 2,0x 104
Jika semua tingkat pengenceran menghasilkan angka kurang dari 30
koloni pada semua cawan petri, maka hanya jumlah koloni bakteri
pada tingkat pengenceran terendah yang dihitung. Hasilnya dilaporkan
sebagai kurang dari 3,0 dikalikan tibgkat pengenceran tetapi jumlah
yang sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung.

Jika semua tingkat pengenceran menghasilkan jumlah lebih dari 300


koloni pada semua cawan petri, maka hanya jumlah koloni bakteri
pada tingkat pengenceran tertinggi yang dihitung, misalnya dengan
cara menghitung jumlah koloni pada seperempat bagian cawan petri,
kemudian hasilnya dikalikan 4. Hasil perhitungan dilaporkan sebagai
lebih dari 300 dikalikan dengan tingkat pengenceran tetapi jumlah
sebenarnya harus dicantumkan dalam tanda kurung.
Jika terdapat 2 tingkat pengenceran yang menghasilkan jumlah antara
30 dan 300 koloni dan perbandingan antara hasil tertinggi dan
terendah dari kedua tingkat pengenceran terendah 2, maka harus
ditentukan rerata dari kedua nilai tersebut dengan memeperhitungkan
tingkat pengencerannya. Jika perbadingan anatara hasil tertinggi dan
terendah > 2, maka yang dilaporkan hanya hasil terkecil.

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Autoklaf
b. Pisau
c. Kompor LPG
d. Timbangan
e. Blender
f. Cawan petri
g. Pipet
h. Shaker
i. Inkubator
j. Laminar Air Flow
f.

k. Sendok
l. Labu erlenmeyer 100 ml
m. Kompor spiritus
2.
3. Bahan
a. Medium NA
b. Larutan air pepton 0,1%
c. Aquades steril
d. Alkohol 70%
e. Sayuran

D. CARA KERJA
4.

Menimbang sayuran sebanyak 10 gram dua kali

5.
6.

Menghaluskan 10 gram sayuran dengan mortar dan pistil

7.
8.

Merebus 10 gram sayuran kemudian dihaluskan dengan mortar dan pistil

9.
10.

Membuat suspensi dengan tingkat pengenceran 10-1

11.
12.
Melakukan pengenceran suspensi sebanyak 1 ml dalam 9 ml larutan air pepton 0,1%
sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2. Selanjutnya
13.
pengenceran 10-3 sampai 10-6 . Lakukan pengenceran pada suspensi tersebut baik
pada sampel sayuran mentah
14.maupun sayuran masak
15.
16.
17.
18.
Menginokulasi 0,1 ml suspensi sayuran mentah maupun sayuran masak dari masing19.
masing pengenceran pada permukaan medium
20. lempeng NA, kemudian diratakan
21.
22.
23.
24.yang telah diinokulasi dengan suspensi
Menginkubasi semua medium lempeng NA
25.Medium lempeng diletakkan dengan
tersebut pada suhu 370C selama 1x24 jam.
26.
posisi terbalik di 27.
dalam inkubator
28.
29.
Menghitung jumlah koloni total bakteri dalam
30. tiap gram sayuran, baik yang mentah
maupun yang 31.
telah direbus
32.
33.
Menentukan kualitas mikrobiologi sayuran
34.mentah dan sayuran yang telah direbus
35. dengan memacu pada ketentuan dari
berdasarkan angka lempeng total koloni bakteri
DIRJEN36.
POM
37.
38.
39.
40.
41.
42.

43.
44.
45.

49.

46.
47.
48.
Daftar Pustaka

50.
51.
52.

Djaafar. 2007. Cemaran Mikroba pada Produk Pertanian, Penyakita yang Ditimbulkan
dan Pencegahannya.http://pustaka-deptan.go.id. [30 Juni 2009].
Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Penerbit
PT. Gramedia Pustaka

53.

Utama, Jakarta.
Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. Penerbit PT.

Raja

Grafindo

Persada, Jakarta.
54.

Jutono,

J.

1980. Pedoman Praktikum

Umum. Yogyakarta:Departemen

Mikrobiologi

Fakultas

UGM.
55.

Pelczhar. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta. UI Press.


56.

Mikrobiologi
Pertanian