Anda di halaman 1dari 16

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS SISWA

MELALUI PENERAPAN MODEL PENEMUAN TERBIMBING


DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI DATAR
PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 3
ABIANSEMAL TAHUN PELAJARAN
2012/2013

I Gusti Putu Partha Permana Putra

Abstract: The aim of this research is to improve student


mathematical reasoning abilities through the application of guided
discovery model in flat side solid figure study. Subjects were all
student of class VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal lesson year
2012/2013. Data were collected using observation techniques, tests,
accomplished guided discovery model study data and field notes.
The result of qualitative data analysis indicates that there is an
increase in student mathematical reasoning abilities.
Kata kunci: Kemampuan penalaran matematis, model penemuan
terbimbing, bangun ruang sisi datar.
Matematika merupakan ilmu yang mempunyai ciri-ciri khusus, salah
satunya adalah penalaran dalam matematika yang bersifat deduktif aksiomatis yang
berkenaan dengan ide-ide, konsep-konsep, dan simbol-simbol yang abstrak serta
tersusun secara hierarkis. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dinyatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta
didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir
logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama
(Depdiknas, 2006).
Adapun tujuan mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan
dasar dan menengah adalah agar siswa mampu: (1) memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2)
menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan
I Gusti Putu Partha Permana Putra adalah Mahasiswa Universitas Mahasaraswati Denpasar

memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan


menafsirkan solusi yang diperoleh, (4) mengkomunikasikan gagasan

dengan

simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah;
dan (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap
ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).
Demikian pula tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika
oleh National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). NCTM (dalam
Shadiq, 2009:2) menetapkan lima standar kemampuan matematis yang harus
dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving),
kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection),
kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation).
Berdasarkan uraian tersebut, kemampuan penalaran (reasoning) termuat pada
kemampuan standar menurut Depdiknas dan NCTM. Artinya, kemampuan ini
merupakan kemampuan yang penting dikembangkan dan harus dimiliki oleh siswa.
Kemampuan penalaran matematis diperlukan siswa baik dalam proses
memahami matematika itu sendiri maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam
pembelajaran matematika, kemampuan penalaran berperan baik dalam pemahaman
konsep maupun pemecahan masalah (problem solving). Terlebih dalam kehidupan
sehari-hari, kemampuan bernalar berguna pada saat menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang terjadi baik dalam lingkup pribadi, masyarakat dan institusiinstitusi sosial lain yang lebih luas.

Pengembangan kemampuan penalaran

matematis siswa berhubungan dengan pendekatan pembelajaran yang diterapkan.


Pengembangan kemampuan penalaran memerlukan pembelajaran yang mampu
mengakomodasi proses berpikir, proses bernalar, sikap kritis siswa, serta
pembelajaran yang memberikan siswa kesempatan untuk menemukan sendiri
konsep atau rumus yang sedang dipelajari.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru pengampu mata
pelajaran matematika kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal, diketahui bahwa
rata-rata prestasi belajar siswa, ketuntasan belajar dan daya serap siswa masih di
bawah harapan yang ditetapkan oleh sekolah. Berdasarkan hasil wawancara
diperoleh juga informasi bahwa hasil evaluasi yang dilakukan guru terhadap siswa

masih belum mencapai harapan disebabkan karena siswa kesulitan dalam


menjawab soal pemecahan masalah dan soal yang membutuhkan analisis. Siswa
cenderung mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan hafalan dan
pemahaman konsep tetapi rata-rata mengalami kendala pada saat mencari solusi
atas permasalahan yang lebih banyak membutuhkan analisis dan penalaran,
sehingga diduga permasalahan utama yang dihadapi oleh siswa-siswa di kelas VIII
B adalah masih rendahnya kemampuan penalaran matematis mereka.
Berdasakan hasil observasi terhadap pembelajaran matematika di kelas VIII
B SMP Negeri 3 Abiansemal, diperoleh bahwa belum tercapainya harapan yang
ditetapkan sekolah dan masih rendahnya kemampuan penalaran matematis siswa
diduga disebabkan oleh: (1) guru jarang memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan konsep dan rumus sendiri melalui kegiatan penemuan, selama
ini pembelajaran dilaksanakan secara ekspositori dengan menempatkan guru
sebagai pelaku utama pembelajaran (teacher centered), (2) siswa kurang dilatih
untuk menjelaskan alasan atas solusi dari permasalahan yang mereka berikan, (3)
kemampuan siswa dalam menyusun pemecahan masalah untuk persoalan yang
lebih kompleks kurang dilatih. Berdasarkan uraian di atas, kemampuan penalaran
matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal masih perlu ditingkatkan
dengan cara menerapkan suatu model pembelajaran yang memberikan kesempatan
siswa menemukan sendiri konsep atau rumus-rumus yang sedang dipelajari, menata
kemampuan pemecahan masalah siswa, dan melatih siswa agar dapat memberikan
alasan yang tepat atas solusi dari permasalahan yang mereka berikan. Model
pembelajaran yang dipandang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan
penalaran matematis siswa dan cocok untuk keadaan kelas tersebut adalah model
penemuan terbimbing.
Dengan model penemuan terbimbing siswa dihadapkan pada situasi dimana
siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Siswa didorong untuk
melakukan terkaan, menggunakan intuisi dan mencoba-coba dalam usaha mereka
menemukan pemecahan masalah sebelum dibuktikan melalui tindakan verifikasi
agar didapat pengetahuan yang baru yang sah kebenarannya. Dengan membiasakan
siswa dalam kegiatan pemecahan masalah untuk menemukan konsep yang sedang
dipelajari, diharapkan akan menigkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan

soal matematika yang lebih banyak membutuhkan analisis, karena siswa akan
menggunakan kemampuan penalaran matematisnya pada saat manipulasi,
eksperimen, memberikan alasan dibalik solusi yang mereka ajukan, dan
menyelesaikan masalah.
Fokus penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan penalaran matematis
siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing dalam pembelajaran bangun
ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran
2012/2013. Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada peningkatan
kemampuan penalaran matematis siswa melalui penerapan model penemuan
terbimbing dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B
SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013. Berdasarkan fokus
penelitian dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatan kemampuan penalaran matematis siswa melalui penerapan model
penemuan terbimbing dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas
VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013.

Kemampuan Penalaran Matematis


Siswa dikatakan mampu melakukan penalaran matematis bila ia mampu
menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika. Dalam kaitan itu pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen
Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004
(dalam Wardhani, 2008:14) tentang rapor pernah diuraikan bahwa indikator siswa
memiliki kemampuan dalam penalaran adalah mampu: (1) mengajukan dugaan, (2)
melakukan manipulasi matematika, (3) menarik kesimpulan, menyusun bukti,
memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran solusi, (4) menarik kesimpulan
dari pernyataan, (5) memeriksa kesahihan suatu argumen, (6) menemukan pola
atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

Model Penemuan Terbimbing


Menurut Fatayanti (2012:8) penemuan terbimbing merupakan kegiatan
penemuan yang masih membutuhkan keterlibatan guru dalam proses pembelajaran,

di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian
siswa berpikir untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah
bimbingan intensif guru. Menurut Redi (2012:8) pembelajaran penemuan
terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak
melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, namun dalam proses penemuan
siswa mendapat bantuan atau bimbingan dari guru, agar mereka lebih terarah
sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai dapat
terlaksana dengan baik. Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa penemuan terbimbing adalah kegiatan penemuan yang masih membutuhkan
keterlibatan guru dalam proses pembelajaran yang bertujuan agar siswa lebih
terarah dalam menemukan jawaban masalah sehingga baik proses pelaksanaan
pembelajaran maupun tujuan yang dicapai dapat terlaksana dengan baik.

Merencanakan Pembelajaran dengan Model Penemuan Terbimbing


Menurut Illahi (2012:83) merencanakan pembelajaran saat menggunakan
model penemuan melibatkan beberapa langkah penting, yaitu: (1) adanya masalah
yang akan dipecahkan, (2) sesuai dengan tingkat kemampuan kognitif anak didik,
(3) konsep atau prinsip yang ditemukan harus ditulis secara jelas, (4) harus
tersedia alat atau bahan yang diperlukan, (5) suasana kelas harus diatur
sedemikian rupa, (6) guru memberikan kesempatan anak didik untuk
mengumpulkan data, (7) harus dapat memberikan jawaban secara tepat sesuai
dengan data yang diperlukan peserta didik.

Langkah-Langkah Pembelajaran Model Penemuan Terbimbing pada


Pembelajaran Matematika
Menurut Hirdjan (dalam Setyono, 1985:15) agar pelaksanaan model
penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif terutama dalam pembelajaran
matematika, Hirdjan membagi langkah-langkah mengajar dengan model penemuan
ke dalam suatu skema, seperti yang terlihat pada Gambar 01 berikut:

Bimbingan memperoleh data

Masuk
Tes Kriteria
Latihan
Pengembangan
Penyusunan
Data
Tambah Data
atau Prompting
Pola-Pola dan
Pengecekan
Penggunaan
Pola Pada Tes
Kriteria
Jawaban
Verifikasi
Keluar

Tes
Ketangkasan

Mulai Putaran
Baru

Gambar 01. Skema Langkah-Langkah Pembelajaran Penemuan


Terbimbing Menurut Hirdjan (dimodifikasi dari Setyono,
1985:16)
Penjelasan skema langkah-langkah pembelajaran pada Gambar 01 adalah
sebagai berikut,
1. Tes Kriteria
Tes Kriteria (Setyono, 1985:16) didifinisikan sebagai suatu tugas yang
disajikan oleh guru atau suatu problem yang dihadapkan pada siswa dalam
pengajaran. Apabila siswa tersebut sudah menyelesaikan tes kriteria dapat
melanjutkan ke putaran baru. Adapun bagi siswa yang belum dapat menyelesaikan
tes kriteria akan memasuki tahap bimbingan yang meliputi latihan pengembangan,
penyusunan data, dan prompting.
2. Latihan Pengembangan
Latihan pengembangan adalah metode pemberian bimbingan dengan cara
memberikan soal-soal yang terkait dengan soal tes kriteria dimulai dari soal-soal

yang sederhana kemudian secara bertahap dan teratur meningkat tingkat


kesulitannya.
3. Penyusunan Data
Penyusunan data adalah metode pemberian bimbingan dengan cara
menyusun data yang diperoleh pada latihan pengembangan ke dalam tabel agar
data yang diperoleh lebih mudah untuk ditemukan pola penyelesaiannya. Langkah
ini dilakukan jika siswa belum menemukan jawaban pada latihan pengembangan.
4. Tambah Data atau Prompting
Tambah data atau prompting adalah metode pemberian bimbingan dengan
cara memberikan data tambahan dan loncatan data terkait soal latihan
pengembangan ke dalam suatu tabel. Langkah ini dilakukan jika siswa belum
menemukan jawaban pada penyusunan data.
5. Verifikasi
Verifikasi adalah memeriksa kebenaran jawaban secara deduktif.
6. Tes Ketangasan
Tes ketangkasan adalah pemberian soal-soal terkait konsep atau rumus
yang telah ditemukan siswa.

Kelebihan dan Kelemahan Model Penemuan Terbimbing


Dalam penerapannya di kelas, model pembelajaran penemuan terbimbing
dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu dengan metode klasikal dan dengan
metode kelompok. Metode klasikal dapat dilakukan secara lisan ataupun dengan
bantuan lembar kerja siswa, namun penggunaan metode klasikal secara lisan
relatif lebih mudah dan efektif dilakukan. Model pembelajaran penemuan
terbimbing dengan metode klasikal secara lisan memiliki kelebihan dari segi
efektifitas waktu karena kontrol dimulainya dan berakhirnya proses penemuan
ditentukan atau dikontrol sepenuhnya oleh guru, sedangkan kelemahannya proses
penemuan ini berusaha menyamakan kecepatan siswa dalam menemukan hasil,
sehingga tidak semua siswa akan benar-benar terlibat langsung dalam proses
penemuan dan memahami apa yang mereka temukan. Pembelajaran penemuan
terbimbing dengan metode kelompok dapat dilakukan dengan bantuan lembar
kerja siswa.

Pembelajaran penemuan terbimbing dengan metode kelompok memiliki


kelebihan yaitu setiap siswa akan lebih terlibat dalam proses penemuan, karena
masing-masing siswa mengerjakan lembar kerja siswa dan pemberian bimbingan
oleh guru akan dapat lebih dioptimalkan ke kelompok-kelompok kecil. Kelebihan
lainnya adalah keberadaan teman sejawat mereka di dalam kelompok yang lebih
dahulu mampu menemukan hasil dari penemuan, mereka dapat berperan sebagai
pembimbing yang membantu temannya selain guru dan lembar kerja siswa.
Kelemahan dari model penemuan terbimbing dengan metode kelompok adalah
dari segi penggunaan waktu, karena antara satu kelompok dan kelompok lain akan
membutuhkan waktu berbeda dalam menemukan hasil dalam penemuan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sebab penelitian ini
memiliki karakteristik penelitian kualitatif seperti yang dikemukakan oleh Moleong
(2012:8). Karakteristik tersebut adalah berlatar ilmiah, manusia sebagai instrumen,
metode kualitatif, analisis data secara induktif, teori dari dasar, deskriptif, lebih
mementingkan desain bersifat sementara, dan hasil penelitian dirundingkan dan
disepakati bersama. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan kelas (PTK) dan
menggunakan model Kurt Lewin karena pada saat observasi ada observer selain
guru atau peneliti. PTK model Kurt Lewin mengandung empat komponen pada
setiap siklus, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan
(observing) dan refleksi (reflecting). Kehadiran peneliti berperan sebagai
perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan sebagai
pelapor hasil penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas
VIII B SMP Negeri 3 Abiansemal semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang
berjumlah 34 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) teknik
tes digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan penalaran matematis siswa
baik kemampuan penalaran matematis siswa secara umum maupun untuk setiap
indikator kemampuan penalaran matematis, tes kemampuan penalaran matematis
dilaksanakan setiap akhir siklus, berbentuk uraian yang memuat 6 indikator
kemampuan penalaran matematis siswa, (2) teknik observasi oleh teman sejawat
untuk mengumpulkan data keterlaksanaan pembelajaran model penemuan

terbimbing, (3) catatan lapangan untuk menanalisis permasalahan saat


pembelajaran berlangsung. Data dianalisis secara deskriptif, sedangkan untuk
mengecek keabsahan data menggunakan teknik triangulasi pemeriksaan teman
sejawat. Penelitian direncanakan dalam 2 siklus dan berlangsung selama 6 kali
pertemuan.

HASIL ANALISIS DATA


Berdasarkan analisis dari data yang telah diperoleh, maka dapat disajikan
dalam bentuk tabel-tabel berikut.
Tabel 01. Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Model Penemuan Terbimbing
Siklus

Pertemuan ke-

1
2
Rata-rata
4
5
Rata-rata

II

Persentase
Keterlaksanaan
Pembelajaran
Model Penemuan
Terbimbing
70,0%
85,0%
77,5%
90,0%
100%
95,0%

Kategori

Cukup Baik
Baik
Cukup Baik
Sangat Baik
Sangat Baik
Sangat Baik

Tabel 02. Hasil Analisis Data Kemampuan Penalaran Matematis Siswa


Kemampuan
Penalaran
Matematis Siswa
Mengajukan hipotesis
(P1)
Melakukan
manipulasi
matematika (P2)
Menarik kesimpulan,
menyusun bukti,
memberikan alasan
atau bukti terhadap
kebenaran solusi (P3)
Menarik kesimpulan
dari pernyataan (P4)
Memeriksa kesahihan
suatu argumen (P5)
Memeriksa kesahihan
suatu argumen (P6)
Rata-rata kemampuan
penalaran matematis

Siklus I
RataRata
Kualifikasi
Nilai
Sangat
92,2
Baik

Siklus II
Persentase
RataRata
Kualifikasi Peningkatan
Nilai
Sangat
97,1
5,3%
Baik

30,1

Tidak Baik

72,1

Cukup

139,5%

37,6

Tidak Baik

82,4

Baik

119,2%

47,6

Tidak Baik

75,5

Baik

58,6%

58,5

Kurang
Baik

67,6

Cukup

16,2%

51,9

Tidak Baik

66,2

Cukup

5,3%

52,5

Tidak Baik

76,0

Baik

44,8%

Hasil Analisis Data Penelitian pada Siklus I


Berdasarkan hasil observasi terhadap keterlaksanaan pembelajaran pada
siklus I diperoleh bahwa penerapan pembelajaran model penemuan terbimbing
belum terlaksana dengan baik. Dari Tabel 01 diperoleh rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran pada siklus I baru mencapai 77,5% yang berada dalam kategori cukup
baik. Masih belum terlaksananya dengan baik pembelajaran model penemuan
terbimbing berpengaruh pada belum tercapainya kriteria keberhasilan penelitian
berdasarkan hasil dari evaluasi yang dilakukan.
Berdasarkan hasil analisis data tentang kemampuan penalaran matematis
siswa pada siklus I yang dapat dilihat pada tabel 02 diperoleh bahwa rata-rata
kemampuan penalaran matematis untuk 1 indikator kemampuan penalaran yaitu
indikator P1 sudah memenuhi kriteria keberhasilan untuk setiap indikator yaitu
rata-rata nilai kemampuan penalaran matematis untuk setiap indikator minimal
berada pada kualifikasi cukup. Adapun sebanyak 4 indikator lainnya yaitu indikator
P2, P3, P4, dan P6 berada pada kualifikasi tidak baik sedangkan 1 indikator yaitu
P5 berada pada kualifikasi kurang baik sehingga belum memenuhi kriteria
keberhasilan. Selain itu, rata-rata kemampuan penalaran matematis berada pada
kualifikasi tidak baik sehingga belum memenuhi kriteria keberhasilan yaitu ratarata kemampuan penalaran matematis secara umum berada minimal pada
kualifikasi baik.

Hasil Analisis Data Penelitian pada Siklus II


Pada tahap observasi terhadap keterlaksanaaan pembelajaran model
penemuan terbimbing pada siklus II, Tabel 01 memperlihatkan bahwa
keterlaksanaan pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan dari awalnya
berada pada kriteria cukup baik pada siklus I menjadi sangat baik pada siklus II
dengan

rata-rata

persentase

keterlaksanaan

pembelajaran

sebesar

95%.

Meningkatnya persentase keterlaksanaan pembelajaran berdampak positif terhadap


meningkatnya hasil tes kemampuan penalaran matematis siswa pada siklus II. Hasil
tes siklus II pada tabel 02 menunjukkan bahwa indikator kemampuan penalaran
matematis yang akan dipertahankan yaitu indikator P1 dapat dipertahankan pada
kualifikasinya. Sedangkan 5 indikator yang akan dinaikkan yaitu indikator P2, P3,

P4, P5, dan P6 mengalami peningkatan kualifikasi sehingga memenuhi kriteria


keberhasilan penelitian, bahkan untuk indikator P3 dan P4 meningkat dari
kualifikasi tidak baik menjadi kualifikasi baik. Adapun rata-rata kemampuan
penalaran matematis meningkat dari 52,5 menjadi 76.0 sehingga memenuhi
kualifikasi baik.

PEMBAHASAN
Siklus I dimulai dengan perencanaan tindakan. Sebelum tindakan berupa
pembelajaran dengan model penemuan terbimbing dimulai di kelas, peneliti
dibantu oleh guru bidang studi matematika di kelas VIII B menyusun kelompokkelombok belajar siswa guna menunjang keberhasilan pelaksanaan model
penemuan terbimbing. Dengan adanya kelompok belajar akan ada MKO (More
Knowledgeable Other) selain guru yaitu teman sebaya siswa yang diharapkan dapat
berperan membimbing temannya yang masih belum memahami materi pelajaran.
Oleh karena itu, penyusunan kelompok diperhitugkan agar rata-rata nilai siswa
dalam satu kelompok dengan kelompok lainnya diusahakan agar relatif sama atau
perbedaannya tidak signifikan, dan penyebaran siswa laki-laki dan perempuan
merata agar tercipta kelompok-kelompok homogen yang didalamnya terdapat
siswa-siswa dengan kemampuan heterogen.
Pelaksanaan pembelajaran model penemuan terbimbing di kelas VIII B
menggunakan dua metode dalam setiap pertemuan, yaitu metode klasikal dan
metode kelompok. Penggunaan dua metode ini dalam setiap pertemuan didasari
atas kelebihan dan kekurangan masing-masing model penemuan terbimbing dengan
metode klasikal dan kelompok. Dengan menggunakan kedua metode tersebut,
pembelajaran model penemuan terbimbing diharapkan efektif, yaitu efektif untuk
memberikan pengalaman menemukan konsep bagi setiap siswa dan efektif dari segi
penggunaan waktu mengingat waktu yang tersedia cukup terbatas untuk setiap kali
pertemuan. Pembelajaran di kelas dimulai dengan melakanakan pembelajaran
model penemuan terbimbing secara klasikal dengan guru sebagai pembimbing
utama, sedangkan selanjutya pembelajaran penemuan terbimbing dilaksanakan
secara kelompok dengan lembar kerja siswa model penemuan terbimbing yang
berperan sebagai pembimbing utama. Keberadaan teman sejawat dalam satu

kelompok yang memiliki kemampuan lebih dibandingan dengan teman satu


kelomponya juga dapat berperan sebagai pembimbing temannya yang lain yang
belum mampu menyelesaikan permasalahan dalam lembar kerja siswa yang
disediakan oleh guru. Guru pada saat pembelajaran model penemuan terbimbing
dengan metode kelompok berlangsung bertugas untuk mengawasi dan memastikan
terjadinya penemuan, membimbing bila perlu, dan membantu siswa dalam
melakukan tindakan verifikasi.
Berdasarkan hasil analisis data mengenai keterlasanaan pembelajaran
maupun kemampuan penalaran matematis siswa pada siklus I, dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran pada siklus I belum berhasil. Dari hasil observasi terhadap
proses pembelajaran pada siklus I dapat disimpulkan bahwa kurang berhasilnya
pembelajaran yang telah dilaksanakan, disebabkan oleh adanya kendala-kendala
yang berasal dari 2 faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, dan faktor
yang berasal dari peneliti sebagai guru. Kendala-kendala yang dimadsud adalah: (1)
siswa belum terbiasa dengan penerapan model pembelajaran model penemuan
terbimbing sehingga cederung sering bertanya kepada peneliti mengenai LKS
penemuan terbimbing yag dibagikan, (2) masih ada siswa yang cenderung pasif saat
berdiskusi dengan kelompoknya, (3) masih ada siswa yang cenderung
mendiskusikan hal diluar konteks pembelajaran saat diskusi kelompok
berlangsung, (4) siswa masih gugup dan ragu-ragu dalam menyampaikan pendapat
dan menjelaskan jawaban yang mereka peroleh, (5) siswa masih belum terbiasa dan
memerlukan lebih banyak waktu dan latihan dalam memahami cara menjawab soalsoal kemampuan penalaran matematis, (6) hasil rata-rata nilai untuk soal dengan
indikator P2 pada tes siklus I rendah disebabkan oleh kebanyakan siswa kurang
teliti membaca soal sehingga kebanyakan tidak memahami maksud soal dan
melakukan prosedur pengerjaan soal dengan salah, penyebab siswa kurang teliti
kebanyakan karena terbatasnya waktu ujian, (7) konsentrasi siswa sempat
terpengaruh terhadap keadaan diluar kelas karena beberapa kelas lainnya pulang
lebih awal dari jadwal pada pertemuan 1 dan 2 yang dilaksanakan pada saat jam
pelajaran terakhir dan sore hari, (8) guru kurang tegas menegur siswa yang kurang
disiplin saat pembelajaran berlangsung, (9) interaksi tanya jawab antara guru dan
siswa masih kurang merata dan didominasi oleh beberapa orang siswa, (10) soal

yang dibuat guru untuk tes siklus I indikator P3 mengaitkan materi bangun ruang
dengan segitiga yang kongruen, pemahaman awal siswa mengenai segitiga yang
kongruen kurang dan bukanlah menjadi fokus materi ajar dalam penelitian ini yang
mengakibatkan siswa kesulitan untuk menunjukan syarat bagaimana dua segitiga
disebut kongruen. Kendala nomor (1) sampai (7) adalah faktor yang berasal dari
dalam diri siswa, sedangkan kendala nomor (8) sampai (10) adalah faktor yang
berasal dari guru.
Berdasarkan hasil observasi, hasil evaluasi, dan catatan lapangan yang
diperoleh selama pelaksanaan tindakan siklus I tersebut, peneliti bersama teman
sejawat dan guru pengampu bidang studi matematika kelas VIII B melakukan
refleksi untuk penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus
II. Berdasarkan pada hasil refleksi yang telah dilakukan, pada tahap perencanaan
tindakan siklus II kelompok yang disusun pada siklus I tetap digunakan, hal ini
didasarkan atas pertimbangan bahwa kendala-kendala yang ada siklus I bukan
disebabkan oleh kesalahan pendistribusian siswa dalam kelompok, hal ini didasari
atas pertimbangan bahwa hasil tes siklus I masih cukup representatif terhadap nilai
awal siswa. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus II pada prinsipnya
sama dengan tindakan pada siklus I, namun pada siklus II dilakukan upaya-upaya
untuk mengatasi kendala-kendala yang ditemukan pada siklus I berdasarkan hasil
refleksi yang telah dilakukan, antara lain: (1) guru memberikan penjelasan kembali
mengenai hal-hal yang kurang jelas dalam pelaksanaan pembelajaran penemuan
terbimbing agar siswa tidak bertanya lagi dan mulai belajar memahami LKS yang
diberikan, (2) guru meningkatkan intensitas interaksi serta pendekatan terhadap
siswa agar siswa bisa lebih konsentrasi serta berinteraksi dengan temannya dan
tidak cederung pasif, (3) guru menegur langsung bagi siswa yang ribut dan apabila
dilakukan hal yang sama diberikan sanksi bila perlu, (4) memotivasi serta
mengarahkan siswa agar lebih percaya diri dan meyakinkan bahwa siswa mampu
dan tidak perlu takut salah pada saat menyampaikan pendapat dan menjelaskan
jawaban yang mereka peroleh, (5) pemberian soal-soal kemampuan penalaran
matematis diberikan lebih banyak baik dalam bentuk post test dan PR, apabila soal
diberikan dalam bentuk pekerjaan rumah pemberian pembahasan harus dberikan
apabila siswa mengalami kesulitan dalam menjawab, kemampuan penalaran

matematis siswa juga ditingkatkan dengan mengoptimalkan keterlaksanaan


pembelajaran, (6) mengingatkan siswa untuk melakukan manejemen waktu yang
lebih baik saat tes siklus dengan menegaskan siswa agar mengerjakan soal yang
lebih mudah terlebih dahulu, dan menyusun soal dengan pertimbangan waktu yang
tersedia ketika tes dengan lebih baik, (7) menasehati siswa untuk lebih disiplin
terhadap waktu pelajaran dan juga membuat pembelajaran berlangsung lebih
menarik dan menyenangkan, (8) guru harus lebih tegas dan mendisiplinkan siswa
dengan lebih baik dalam melakukan tindakan pengelolaan kelas, (9) guru harus
lebih banyak memberikan kesempatan dan membujuk siswa secara merata untuk
berinteraksi tanya jawab dan mengemukakan pendapat, (10) soal yang disusun
harus lebih relevan dengan indikator pokok bahasan yang diuji dan menghindari
keterkaitan materi lain dengan materi di luar pokok bahasan materi penelitian.
Tindakan pada siklus II diharapkan dapat: (1) meningkatkan kualifikasi indikator
kemampuan penalaran matematis untuk indikator P2, P3, P4, P5 dan P6, (2)
mempertahankan kualifikasi indikator kemampuan penalaran matematis untuk
indikator P1, (3) meningkatkan kualifikasi rata-rata kemampuan penalaran
matematis.
Berdasarkan hasil analisis data mengenai kemampuan penalaran matematis
siswa pada siklus II, dapat dilihat bahwa semua indikator kemampuan penalaran
matematis siswa berada pada kualifikasi yang memenuhi kriteria keberhasilan
penelitian yaitu minimal berada pada kualifikasi cukup untuk setiap indikator, dan
secara umum minimal berada pada kualifikasi baik. Hasil analisis data juga
menunjukan bahwa setiap indikator kemampuan penalaran matematis mengalami
peningkatan dari siklus I setelah dilakukan pengoptimalan terhadap keterlaksanaan
pembelajaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan kemampuan
penalaran matematis siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing pada
pembelajaran bangun ruang sisi datar. Dari hasil observasi terhadap proses
pembelajaran diperoleh bahwa sebagian besar kendala-kendala pada siklus I tidak
terulang kembali pada siklus II, sehingga tidak ada kendala-kendala yang berarti.
Dari hasil observasi, hasil evaluasi, dan catatan lapangan yang diperoleh selama
pelaksanaan tindakan siklus II, peneliti bersama teman sejawat dan guru pengampu
bidang studi matematika kelas VIII B melakukan refleksi terhadap pelaksanaan

pembelajaran pada siklus II. Berdasarkan hasil refleksi tersebut, kendala-kendala


yang ada pada siklus II tidak berpengaruh besar terhadap keberhasilan penelitian,
sehingga pelaksanaan penelitian bisa dihentikan pada siklus II.
Berdasarkan persentase keterlaksanaan pembelajaran, hasil tes siklus II dan
refleksi yang dilakukan terhadap pelaksanaan penelitian pada siklus II tersebut
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran telah optimal karena telah mencapai
kriteria keberhasilan penelitian ini. Dengan demikian, pelaksanaan penelitian
tindakan kelas yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan penalaran
matematis siswa melalui penerapan model penemuan terbimbing dalam
pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 3
Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013 dapat dikatakan berhasil dan penelitian ini
dihentikan sampai siklus II.

PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menerapkan model penemuan terbimbing,
ada peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa kelas VIII B SMP Negeri
3 Abiansemal tahun pelajaran 2012/2013 pada pembelajaran bangun ruang sisi
datar. Hal ini ditunjukan dengan hasil tes kemampuan penalaran matematis siswa
dari siklus I ke siklus II untuk setiap indikator kemampuan penalaran matematis
mengalami peningkatan dan mencapai kriteria keberhasilan penelitian. Untuk ratarata kemampuan penalaran matematis siswa secara umum terjadi peningkatan
sebesar 44,8%, menigkat dari kualifikasi tidak baik pada siklus I menjadi
kualifikasi baik pada siklus II.

Saran
Bagi guru disarankan untuk menjadikan model pembelajaran penemuan
terbimbing sebagai salah satu alteratif dalam pemilihan model pembelajaran di
SMP karena terbukti dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematis siswa.
Bagi Kepala SMP Negeri 3 Abiansemal disarankan memasuan model penemuan
terbimbing ke dalam kurikulum sekolah sebagai salah satu model pembelajaran

matematika. Penelitian ini dilakukan pada pokok materi yang terbatas. Sehingga
disarankan kepada peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai
model pembelajaran penemuan terbimbing dalam pokok bahasan matematika
lainnya yang juga relevan menggunakan model pembelajaran ini baik dengan
subjek yang berbeda maupun pada jenjang pendidikan yang berbeda sehingga
kemampuan penalaran matematis siswa dapat terus ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2006. Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi
Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Depdiknas.
Fatayanti, Nur. 2012. Pengaruh Metode Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Terhadap Prestasi Belajar dan Kemampuan Representasi Matematika
Siswa SMK Negeri 1 Godean. (Online),
(http://eprints.uny.ac.id/9362/3/BAB%202%20-%2005301244060.pdf ,
diakses tanggal 30 Mei 2013).
Illahi, Mohamad Takdir. 2012. Pembelajaran Discovery Study & Mental
Vocational Skill. Yogyakarta: Diva Press.
Moleong, Lexy. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Redi, Fransiskus. 2012. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Penemuan
Terbimbing (Guided Discovery) Terhadap Hasil Belajar Siswa Mata
Pelajaran Matematika Kelas III SDN Tlogo Kecamatan Tuntang
Kabupaten Semarang Semester II Tahun Ajaran 2011/2012. (Online),
(http://repository.library.uksw.edu/bitstream/handle/123456789/948/T1_2
92008227_Judul.pdf?sequence=1, diakses tanggal 30 Mei 2013).
Setyono, Tri Djoko. 1985. Uji Coba Metode Penemuan Dalam Proses Belajar
Mengajar Pokok Bahasan Pola Bilangan dan Barisan di Kelas III SMP
Negeri 7 Surabaya. Skripsi (tidak diterbitkan). Surabaya: IKIP Surabaya.
Shadiq, Fadjar. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi.
Yogyakarta: Depdiknas.
Wardani, Sri. 2008. Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs
Untuk Optimalisasi Pencapaian Tujuan. Yogyakarta: P4TK Matematika.

Anda mungkin juga menyukai