Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cronic Kidney Disease, (CKD) merupakan gangguan fungsi renal yang
progresif dan irreversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga terjadi uremia.
Diperkirakan hingga tahun 2015 Data WHO dengan kenaikan dan tingkat
persentase dari tahun 2009 sampai sekarang 2011 sebanyak 36 juta orang warga
dunia meninggal dunia akibat penyakit Cronic Kidney Disease (CKD). (Data
survey, 2011)
Indonesia termasuk tingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi.
Menurut data dari Penetri (Persatuan Nefrologi Indonesia) sampai 2 Januari 2011
di perkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal di Indonesia yang membutuhkan
cangkok ginjal.
Di Provinnsi Sulawesi Utara sendiri kenaikannya mencapai 32% dari
tahun 2009 lalu akibat banyaknya jumlah wisatawan baik dalam maupun luar
negeri yang dating berwisata, wisatawan-wasatawan tersebut banyak mengidap
penyakit penyakit Cronic Kidney Disease (CKD) itu yang menjadi salah satu
faktor banyaknya penderita gagal ginjal akut di Kota Pariwisata itu (Manado
Kidney Care center, 2011).
Pelayanan asuhan keperawatan di tujukan untuk mempertahankan,
meningkatkan kesehatan dan menolong individu untuk mengatasi secara tepat
masalah kesehatan sehari-hari, penyakit, kecelakaan, atau ketidak mampuan
bahkan kematian (Depkes 2004).
1.2

Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi CKD (Cronic Kidney Disease) ?
2. Bagaimana klasifikasi CKD (Cronic Kidney Disease) ?
3. Bagaimana etiologi CKD (Cronic Kidney Disease) ?

4.
5.
6.
7.
8.
1.3

Bagaimana patofisiologi CKD (Cronic Kidney Disease) ?


Bagaimana manifestasi klinis CKD (Cronic Kidney Disease) ?
Bagaimana pemeriksaan penunjang CKD (Cronic Kidney Disease) ?
Bagaimana prinsip penatalaksanaan CKD (Cronic Kidney Disease) ?
Bagaiamana komplikasi CKD (Cronic Kidney Disease) ?

Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien
dengan Cronic Kidney Disease (CKD).
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu meningkatkan pengertian mengenai masalah yang

berhubungan dengan Cronic Kidney Disease (CKD).


Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data pada klien dengan

Cronic Kidney Disease (CKD).


Mahasiswa mampu menganalisa data hasil pengkajian pada klien

dengan Cronic Kidney Disease (CKD).


Mahasiswa mampu melakukan rencana

dengan Cronic Kidney Disease (CKD).


Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawatan pada klien

dengan Cronic Kidney Disease (CKD).


Mahasiswa mampu mengevaluasi hasil tindakan yang dilakukan pada

tindakan

pada

klien

klien dengan Cronic Kidney Disease (CKD).

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Pengertian CKD (Cronic Kidney Disease)


Cronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang progresif

dan irreversibel di mana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan


metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit, menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah (Luckman, 2002).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit, menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah). (Sudoyo, 2006).
Gagal ginjal akut adalah penurunan laju filtrasi glomerulus secara tibatiba, sering kali dengan oliguri, peningkatan kadar urea dan kreatinin darah, serta
asidosis metabolic dan hiperkalemia (Hudak, 2000).

2.2

Klasifikasi CKD (Cronic Kidney Disease)


Pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure

(CRF), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk
membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5
grade, dengan harapan klien datang/ merasa masih dalam stage stage awal yaitu
1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat (stage) menggunakan
terminology CCT (clearance creatinin test) dengan rumus stage 1 sampai stage 5.
sedangkan CRF (cronic renal failure) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan
klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila
menggunakan istilah CRF.
1.

Gagal ginjal kronik / Cronoic Renal Failure (CRF) dibagi 3 stadium :


a.

Stadium I : Penurunan cadangan ginjal

b.

Kreatinin serum dan kadar BUN normal


Asimptomatik
Tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR

Stadium II : Insufisiensi ginjal

Kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam

diet)
Kadar kreatinin serum meningkat
Nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan)

Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:


1)

Ringan
40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal

2)

Sedang
15% - 40% fungsi ginjal normal

3)

Kondisi berat
2% - 20% fungsi ginjal normal

c.

2.

Stadium III: gagal ginjal stadium akhir atau uremia

kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat


ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan

elektrolit
air kemih/ urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010

KDOQI (Kidney Disease Outcome Quality Initiative) merekomendasikan

pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG (Laju Filtrasi
Glomerolus) :
a. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten
dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b. Stadium 2 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara
60 -89 mL/menit/1,73 m2)
c. Stadium 3 : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2)
d. Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2)
e. Stadium 5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15 mL/menit/1,73m2 atau
gagal ginjal terminal.
2.3

Etiologi CKD (Cronic Kidney Disease)


Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak

nefron ginjal. Sebagian besar merupakan penyakit parenkim ginjal difus dan
bilateral.

1. Infeksi, misalnya Pielonefritis kronik.


2. Penyakit peradangan, misalnya Glomerulonefritis.
3. Penyakit vaskuler hipertensif, misalnya Nefrosklerosis benigna,
nefrosklerosis maligna, stenosis arteri renalis.
4. Gangguan jaringan penyambung, seperti lupus

eritematosus

sistemik (SLE), poli arteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.


5. Gangguan kongenital dan herediter, misalnya Penyakit ginjal
polikistik, asidosis tubuler ginjal.
6. Penyakit metabolik, seperti DM,

gout,

hiperparatiroidisme,

amiloidosis.
7. Nefropati toksik, misalnya Penyalahgunaan analgetik, nefropati
timbale.
8. Nefropati obstruktif
a. Sal. Kemih bagian

atas:

Kalkuli

neoplasma,

fibrosis,

netroperitoneal.
b. Sal. Kemih bagian bawah: Hipertrofi prostate, striktur uretra,
anomali congenital pada leher kandung kemih dan uretra.
2.4

Patofisiologi CKD (Cronic Kidney Disease)


Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus

dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh).
Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang
meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya
saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari
nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan
haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada
pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila
kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang
demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu.
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya
diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan

mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah,


akan semakin berat.
1. Gangguan Klirens Ginjal
Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan
jumlah glomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens substansi
darah yang sebenarnya dibersihkan oleh ginjal
Penurunan

laju

filtrasi

glomerulus

(GFR) dapat

dideteksi

dengan

mendapatkan urin 24-jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Menurut filtrasi


glomerulus (akibat tidak berfungsinya glomeruli) klirens kreatinin akan
menurunkan dan kadar kreatinin akan meningkat. Selain itu, kadar nitrogen urea
darah (BUN) biasanya meningkat. Kreatinin serum merupakan indicator yang
paling sensitif dari fungsi karena substansi ini diproduksi secara konstan oleh
tubuh. BUN tidak hanya dipengaruhi oleh penyakit renal, tetapi juga oleh
masukan protein dalam diet, katabolisme (jaringan dan luka RBC), dan medikasi
seperti steroid.
2. Retensi Cairan dan Ureum
Ginjal juga tidakmampu untuk mengkonsentrasi atau mengencerkan urin
secara normal pada penyakit ginjal tahap akhir, respon ginjal yang sesuai terhadap
perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari, tidak terjadi. Pasien sering
menahan natrium dan cairan, meningkatkan resiko terjadinya edema, gagal
jantung kongestif, dan hipertensi. Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi
aksis rennin angiotensin dan kerja sama keduanya meningkatkan sekresi
aldosteron. Pasien lain mempunyai kecenderungan untuk kwehilangan garam,
mencetuskan resiko hipotensi dan hipovolemia. Episode muntah dan diare
menyebabkan penipisan air dan natrium, yang semakin memperburuk status
uremik.
3. Asidosis
Dengan semakin berkembangnya penyakit renal, terjadi asidosis metabolic
seiring dengan ketidakmampuan ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang
berlebihan. Penurunan sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus

gjnjal untuk menyekresi ammonia (NH3) dan mengabsopsi natrium bikarbonat


(HCO3) . penurunan ekskresi fosfat dan asam organic lain juga terjadi
4. Anemia
Sebagai

akibat

dari

produksi

eritropoetin

yang

tidak

adekuat,

memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan kecenderungan untuk
mengalami perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari saluran
gastrointestinal. Pada gagal ginjal, produksi eritropoetin menurun dan anemia
berat terjadi, disertai keletihan, angina dan sesak napas.
5. Ketidakseimbangan Kalsium dan Fosfat
Abnormalitas yang utama pada gagal ginjal kronis adalah gangguan
metabolisme kalsium dan fosfat. Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki
hubungan saling timbal balik, jika salah satunya meningkat, maka yang satu
menurun. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal, terdapat
peningkatan kadar serum fosfat dan sebaliknya penurunan kadar serum kalsium.
Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar
paratiroid. Namun, pada gagal ginjal tubuh tak berespon secara normal terhadap
peningkatan sekresi parathormon dan mengakibatkan perubahan pada tulang dan
pebyakit

tulang.

Selain

itu

juga

metabolit

aktif

vitamin

(1,25-

dehidrokolekalsiferol) yang secara normal dibuat di ginjal menurun.


6. Penyakit Tulang Uremik
Disebut Osteodistrofi renal, terjadi dari perubahan kompleks kalsium,
fosfat dan keseimbangan parathormon
Patways CKD

2.5

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369) :


a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat badan
berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal
atau sesak nafas baik waktu ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai
lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi,
(akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisytem renin - angiotensin
aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan
berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik,
pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan
tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut :
a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi
perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama
jantung dan edema.
b. Gangguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara
krekels.
c. Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme
protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d. Gangguan musculoskeletal
Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ),
burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak
kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot otot ekstremitas.
e. Gangguan Integumen
Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat
penimbunan urokrom, gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
f. Gangguan endokrim

Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan


menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan
metabolic lemak dan vitamin D.
g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
Biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium
dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
h. System hematologic
Anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin,
sehingga rangsangan eritopoesis pada sum sum tulang berkurang,
hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia
toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

2.6

Pemeriksaan Penunjang
Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka

perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun


kolaborasi antara lain :
1.

2.

3.
4.

Pemeriksaan lab.darah
a. Hematologic : (Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit)
b. RFT (Renal Fungsi Test ) : ureum dan kreatinin
c. LFT (liver fungsi test )
d. Elektrolit : Klorida, kalium, kalsium
e. koagulasi studi : PTT, PTTK
f. BGA
Urine
a. urine rutin
b. urin khusus : benda keton, analisa kristal batu

Pemeriksaan Kardiovaskuler
a. ECG
b. ECO
Radidiagnostik
a. USG abdominal
b. CT scan abdominal
c. BNO/IVP, FPA
d. Renogram
e. RPG ( retio pielografi )

10

2.7

Pentalaksanaan

Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :


1. Konservatif
a. Dilakukan pemeriksaan lab. darah dan urin
b. Observasi balance cairan
c. Observasi adanya odema
d. Batasi cairan yang masuk
2. Dialysis
a. Peritoneal dialysis
Biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency. Sedangkan dialysis
yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut adalah
CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis )
b. Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan
menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui
daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :
AV fistule : menggabungkan vena dan arteri
Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke
jantung )
3. Operasi
a. Pengambilan batu
b. Transplantasi ginjal
4. Intervensi diit.
Protein dibatasi karena urea, asam urat dan asam organik merupakan hasil
pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika
terdapat gangguan pada klirens renal. Protein yang dikonsumsi harus
bernilai biologis (produk susu, telur, daging) di mana makanan tersebut
dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel.
Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. Kalori untuk
mencegah kelemahan dari karbohidrat dan lemak. Pemberian vitamin juga
penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air
melalui darah sewaktu dialisa.
5. Hipertensi

11

Ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskule.


Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan, diit
rendah natrium, diuretik, digitalis atau dobitamine dan dialisis. Asidosis
metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu
penanganan, namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin
diperlukan untuk mengoreksi asidosis.
2.8 Komplikasi
1. Hiperkalemia:

akibat

penurunan

ekskresi,

asidosis

metabolik,

katabolisme dan masukan diit berlebih.


2. Perikarditis : Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk
sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.
3. Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem
renin-angiotensin-aldosteron.
4. Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel
darah merah.
5. Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat retensi fosfat, kadar kalsium
serum rendah, metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar
aluminium.
6. Asidosis metabolic
7. Osteodistropi ginjal
8. Sepsis
9. Neuropati perifer
10. Hiperuremia

2.9

Asuhan Keperawatan Teori

Pengkajian Keperawatan
a. Pengkajian Primer
Pengkajian dilakukan secara cepat dan sistemik, antara lain :

Airway

1)

Lidah jatuh kebelakang

2)

Benda asing/ darah pada rongga mulut

3)

Adanya sekret

Breathing

12

1)

Pasien sesak nafas dan cepat letih

2)

Pernafasan Kusmaul

3)

Dispnea

4)

Nafas berbau amoniak

Circulation

1) TD meningkat
2) Nadi kuat
3) Disritmia
4) Adanya peningkatan JVP
5) Terdapat edema pada ekstremitas bahkan anasarka
6) Capillary refill > 3 detik
7) Akral dingin
8) Cenderung adanya perdarahan terutama pada lambung

Disability : pemeriksaan neurologis GCS menurun bahkan terjadi


koma, Kelemahan

dan

keletihan, Konfusi, Disorientasi, Kejang, Kelemahan pada tungkai


sadar penuh, respon bagus

A : Allert

V : Voice Respon kesadaran menurun, berespon thd suara


P : Pain Respons kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, berespon thd
rangsangan nyeri
U : Unresponsive kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, tdk bersespon
thd nyeri

b. Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan

sekunder

dilakukan

setelah

memberikan

pertolongan

atau

penenganan pada pemeriksaan primer.


Pemeriksaan sekunder meliputi :
1. AMPLE : alergi, medication, past illness, last meal, event
2. Pemeriksaan seluruh tubuh : Head to toe
3. Pemeriksaan penunjang : lebih detail, evaluasi ulang

13

Keluhan Utama

Badan lemah, cepat lelah, nampak sakit, pucat keabu-abuan, kadang-kadang


disertai udema ekstremitas, napas terengah-engah.

Riwayat kesehatan

Faktor resiko (mengalami infeksi saluran nafas atas, infeksi kulit, infeksi saluran
kemih, hepatitis, riwayat penggunaan obat nefrotik, riwayat keluarga dengan
penyakit polikistik, keganasan, nefritis herediter)
Anamnesa

Oliguria/ anuria 100 cc/ hari, infeksi, urine (leucosit, erytrosit, WBC,

RBC)
Cardiovaskuler: Oedema, hipertensi, tachicardi, aritmia, peningkatan

kalium
Kulit : pruritus, ekskortiasis, pucat kering.
Elektrolit: Peningkatan kalium, peningkatan H+, PO, Ca, Mg, penurunan

HCO3
Gastrointestinal : Halitosis, stomatitis, ginggivitis, pengecapan menurun,

nausea, ainoreksia, vomitus, hematomisis, melena, gadtritis, haus.


Metabolik : Urea berlebihan, creatinin meningkat.
Neurologis: Gangguan fungsi kognitif, tingkah laku, penurunan kesadaran,

perubahan fungsi motorik


Oculair : Mata merah, gangguan penglihatan
Reproduksi : Infertil, impoten, amenhorea, penurunan libido
Respirasi : edema paru, hiperventilasi, pernafasan kusmaul
Lain-lain : Penurunan berat badan

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran kapiler-alveolar
2. Penurunan cardiac output b.d perubahan preload, afterload dan sepsis
3. Pola nafas tidak efektif b.d edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis,
perikarditis
4. Kelebihan volume cairan b.d mekanisme pengaturan melemah
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake
makanan yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).

14

6. Intoleransi aktivitas b.d keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk


sampah dan prosedur dialysis.

15

Intervensi Keperawatan
NO
1

DIAGNOSA

TUJUAN

KEPERAWATAN
Gangguan pertukaran gas

INTERVENSI

NOC :

NIC :

b/d kongesti paru, hipertensi Respiratory Status : Gas exchange


pulmonal, penurunan perifer Respiratory Status : ventilation
yang mengakibatkan

Airway Management

Vital Sign Status

asidosis laktat dan

thrust bila perlu

Kriteria Hasil :

penurunan curah jantung. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan

oksigenasi yang adekuat

oksigenasi dan atau

dari tanda tanda distress pernafasan

Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara

pengeluaran karbondioksida

nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan

di dalam membran kapiler

dyspneu

alveoli

mampu bernafas dengan mudah, tidak ada

Batasan karakteristik :

(mampu

mengeluarkan

sputum,

pursed lips)

Tanda tanda vital dalam rentang normal

Gangguan penglihatan
Penurunan CO2

Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan
nafas buatan

Definisi : Kelebihan atau Memelihara kebersihan paru paru dan bebas

kekurangan dalam

Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw

Pasang mayo bila perlu


Lakukan fisioterapi dada jika perlu
Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berika bronkodilator bial perlu
Barikan pelembab udara
Atur

intake

untuk

cairan

mengoptimalkan

keseimbangan.

Monitor respirasi dan status O2

16

Takikardi
Hiperkapnia
Keletihan

Respiratory Monitoring

somnolen
Iritabilitas

Monitor rata rata, kedalaman, irama dan usaha


respirasi

Catat

pergerakan

dada,amati

kesimetrisan,

Hypoxia

penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavicular

kebingungan

dan intercostal

Dyspnoe

Monitor suara nafas, seperti dengkur

nasal faring

Monitor

AGD Normal

pola

nafas

bradipena,

takipenia,

kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot

sianosis

Catat lokasi trakea

warna kulit abnormal

Monitor kelelahan otot diagfragma ( gerakan

(pucat, kehitaman)
Hipoksemia

paradoksis )

hiperkarbia
sakit kepala ketika

adanya ventilasi dan suara tambahan

bangun
frekuensi dan kedalaman

Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak


Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi
crakles dan ronkhi pada jalan napas utama

Uskultasi suara paru setelah tindakan untuk

nafas abnormal

mengetahui hasilnya

Faktor faktor yang

AcidBase Managemen

17

Monitro IV line

berhubungan :
-

Pertahankanjalan nafas paten

ketidakseimbangan
perfusi ventilasi

Monitor AGD, tingkat elektrolit

perubahan membran kapiler-

Monitor status hemodinamik(CVP, MAP, PAP)

alveolar

Monitor adanya tanda tanda gagal nafas


Monitor pola respirasi
Lakukan terapi oksigen
Monitor status neurologi
Tingkatkan oral hygiene

Penurunan curah jantung b/d NOC :

NIC :

respon fisiologis otot

Cardiac Pump effectiveness

jantung, peningkatan

Circulation Status

Evaluasi adanya nyeri dada ( intensitas,lokasi, durasi)

Vital Sign Status

Catat adanya disritmia jantung

frekuensi, dilatasi, hipertrofi


atau peningkatan isi
sekuncup

Kriteria Hasil:
Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan
darah, Nadi, respirasi)
Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada
kelelahan

Cardiac Care

Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput


Monitor status kardiovaskuler
Monitor status pernafasan yang menandakan gagal
jantung
Monitor abdomen sebagai indicator penurunan perfusi

Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada Monitor balance cairan
asites

Monitor adanya perubahan tekanan darah


18

Tidak ada penurunan kesadaran

Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan


antiaritmia
Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari
kelelahan
Monitor toleransi aktivitas pasien
Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu
Anjurkan untuk menurunkan stress
Vital Sign Monitoring
Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
Catat adanya fluktuasi tekanan darah
Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor adanya pulsus paradoksus
Monitor adanya pulsus alterans
Monitor jumlah dan irama jantung
Monitor bunyi jantung

19

Monitor frekuensi dan irama pernapasan


Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan abnormal
Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
Monitor sianosis perifer
Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang
melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
3

Pola Nafas tidak efektif

NOC :

Fluid management

Respiratory status : Ventilation

Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

Definisi : Pertukaran udara Respiratory status : Airway patency

Pasang urin kateter jika diperlukan

inspirasi dan/atau ekspirasi Vital sign Status

tidak adekuat

Kriteria Hasil :

(BUN , Hmt , osmolalitas urin )

Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara

Batasan karakteristik :
-

Penurunan tekanan
inspirasi/ekspirasi

Penurunan pertukaran
udara per menit

Menggunakan otot

Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan


Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP,

nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan PAP, dan PCWP
dyspneu

(mampu

mengeluarkan

sputum,

mampu bernafas dengan mudah, tidak ada

pursed lips)
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien

tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi

Monitor vital sign


Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles,
CVP , edema, distensi vena leher, asites)
Kaji lokasi dan luas edema
Monitor masukan makanan / cairan dan hitung
20

pernafasan tambahan
-

Nasal flaring

Dyspnea

Orthopnea

Perubahan penyimpangan
dada

pernafasan dalam rentang normal, tidak ada intake kalori harian


suara nafas abnormal)

Monitor status nutrisi

Tanda Tanda vital dalam rentang normal

(tekanan darah, nadi, pernafasan)

Berikan diuretik sesuai interuksi

Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi


dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l

Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul

Nafas pendek

memburuk

Assumption of 3-point

Fluid Monitoring

position
-

Pernafasan pursed-lip

Tahap ekspirasi

eliminaSi

berlangsung sangat lama


-

Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan


Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak
seimbangan

Peningkatan diameter

cairan

(Hipertermia,

terapi

diuretik,

kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati,

anterior-posterior

dll )

Monitor serum dan elektrolit urine

Monitor serum dan osmilalitas urine

Bayi : < 25 atau > 60

Monitor BP, HR, dan RR

Usia 1-4 : < 20 atau > 30

Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan

Pernafasan ratarata/minimal

Usia 5-14 : < 14 atau > 25


Usia > 14 : < 11 atau > 24

irama jantung

Monitor parameter hemodinamik infasif

21

Kedalaman pernafasan

Dewasa volume tidalnya


500 ml saat istirahat

Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer


dan penambahan BB

Monitor tanda dan gejala dari odema

Bayi volume tidalnya 6-8


ml/Kg
-

Timing rasio

Penurunan kapasitas vital


Faktor yang berhubungan :

Hiperventilasi

Deformitas tulang

Kelainan bentuk dinding


dada

Penurunan
energi/kelelahan

Perusakan/pelemahan
muskulo-skeletal

Obesitas

Posisi tubuh

Kelelahan otot pernafasan

22

Hipoventilasi sindrom

Nyeri

Kecemasan

Disfungsi Neuromuskuler

Kerusakan
persepsi/kognitif

Perlukaan pada jaringan


syaraf tulang belakang

Imaturitas Neurologis
Kelebihan volume cairan b/d NOC :

NIC :

berkurangnya curah jantung, Electrolit and acid base balance

Fluid management

retensi cairan dan natrium Fluid balance

Timbang popok/pembalut jika diperlukan

oleh ginjal, hipoperfusi ke

Pertahankan catatan intake dan output yang akurat

Pasang urin kateter jika diperlukan

jaringan perifer dan


hipertensi pulmonal

Kriteria Hasil:
Terbebas dari edema, efusi, anaskara

Bunyi nafas bersih, tidak ada dyspneu/ortopneu


Definisi : Retensi cairan
isotomik meningkat
Batasan karakteristik :
Berat badan meningkat
pada waktu yang singkat

Terbebas dari distensi vena jugularis, reflek

hepatojugular (+)

Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan


(BUN , Hmt , osmolalitas urin )
Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP,
PAP, dan PCWP

Memelihara tekanan vena sentral, tekanan

Monitor vital sign

kapiler paru, output jantung dan vital sign

Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles,

dalam batas normal

CVP , edema, distensi vena leher, asites)


23

Asupan berlebihan

Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau

dibanding output

kebingungan

Kaji lokasi dan luas edema

Monitor masukan makanan / cairan dan hitung

Tekanan darah berubah, Menjelaskanindikator kelebihan cairan

intake kalori harian

tekanan arteri pulmonalis

Monitor status nutrisi

berubah, peningkatan CVP

Berikan diuretik sesuai interuksi

Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi

Distensi vena jugularis


Perubahan pada pola
nafas, dyspnoe/sesak nafas,

dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l

orthopnoe, suara nafas

Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul


memburuk

abnormal (Rales atau


crakles), kongestikemacetan
paru, pleural effusion

Fluid Monitoring

Hb dan hematokrit
menurun, perubahan

Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan


eliminaSi

Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak

elektrolit, khususnya

seimbangan

perubahan berat jenis

kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati,

Suara jantung SIII


Reflek hepatojugular
positif
Oliguria, azotemia

cairan

(Hipertermia,

terapi

diuretik,

dll )

Monitor berat badan

Monitor serum dan elektrolit urine

Monitor serum dan osmilalitas urine

24

Perubahan status mental,


kegelisahan, kecemasan

Monitor BP, HR, dan RR

Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan


irama jantung

Faktor-faktor yang

Monitor parameter hemodinamik infasif

berhubungan :

Catat secara akutar intake dan output

Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer

Mekanisme pengaturan
melemah

dan penambahan BB

Asupan cairan berlebihan

Monitor tanda dan gejala dari odema

Asupan natrium
berlebihan
Ketidakseimbangan nutrisi

NOC :

kurang dari kebutuhan tubuh


Nutritional Status : food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :

NIC :
Nutrition Management
Kaji adanya alergi makanan

Definisi : Intake nutrisi tidak


Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah
cukup untuk keperluan
metabolisme tubuh.

tujuan

Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

Batasan karakteristik :
-

Berat badan 20 % atau


lebih di bawah ideal

Dilaporkan adanya intake

kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

Tidak ada tanda tanda malnutrisi

Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan


vitamin C

Tidak terjadi penurunan berat badan yang

Berikan substansi gula

berarti

Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat


untuk mencegah konstipasi
25

makanan yang kurang dari


RDA (Recomended Daily
Allowance)
-

Membran mukosa dan


konjungtiva pucat

Kelemahan otot yang


digunakan untuk
menelan/mengunyah

Mudah merasa kenyang,

Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori


Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrition Monitoring
BB pasien dalam batas normal

makanan

Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan

Dilaporkan atau fakta


Dilaporkan adanya
Perasaan ketidakmampuan
untuk mengunyah makanan

harian.

Monitor adanya penurunan berat badan

perubahan sensasi rasa


-

Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan

sesaat setelah mengunyah

adanya kekurangan makanan


-

dengan ahli gizi)

Luka, inflamasi pada


rongga mulut

Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan

Miskonsepsi

Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan


Monitor lingkungan selama makan
Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah

26

Kehilangan BB dengan
makanan cukup

Monitor mual dan muntah


Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

Keengganan untuk makan

Monitor makanan kesukaan

Kram pada abdomen

Monitor pertumbuhan dan perkembangan

Tonus otot jelek

Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan

Nyeri abdominal dengan


atau tanpa patologi

Kurang berminat terhadap


makanan

Pembuluh darah kapiler

konjungtiva
Monitor kalori dan intake nuntrisi
Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah
dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

mulai rapuh
-

Diare dan atau steatorrhea

Kehilangan rambut yang


cukup banyak (rontok)

Suara usus hiperaktif

Kurangnya informasi,
misinformasi
Faktor-faktor yang
berhubungan :

27

Ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna
makanan atau mengabsorpsi
zat-zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis,
6

psikologis atau ekonomi.


Intoleransi aktivitas b/d

NOC :

curah jantung yang rendah, Energy conservation


ketidakmampuan memenuhi Self Care : ADLs
metabolisme otot rangka,
kongesti pulmonal yang

Kriteria Hasil :
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa

menimbulkan hipoksinia,

disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan

dyspneu dan status nutrisi

RR

yang buruk selama sakit

Mampu melakukan aktivitas sehari hari


(ADLs) secara mandiri

Intoleransi aktivitas b/d

NIC :
Energy Management
Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan
aktivitas
Dorong anal untuk mengungkapkan perasaan terhadap
keterbatasan
Kaji adanya factor yang menyebabkan kelelahan
Monitor nutrisi dan sumber energi tangadekuat
Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi
secara berlebihan

fatigue

Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas

Definisi : Ketidakcukupan

Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien

energu secara fisiologis


maupun psikologis untuk
meneruskan atau

Activity Therapy
Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik
28

menyelesaikan aktifitas yang

dalammerencanakan progran terapi yang tepat.

diminta atau aktifitas sehari

Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang

hari.

mampu dilakukan
Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yangsesuai

Batasan karakteristik :
a.

melaporkan secara verbal


adanya kelelahan atau
kelemahan.

b.

c.

Respon abnormal dari

Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber


yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan
Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti
kursi roda, krek

tekanan darah atau nadi

Bantu untu mengidentifikasi aktivitas yang disukai

terhadap aktifitas

Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu

Perubahan EKG yang


menunjukkan aritmia atau
iskemia

d.

dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

Adanya dyspneu atau


ketidaknyamanan saat
beraktivitas.

luang
Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam beraktivitas
Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas
Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
Monitor respon fisik, emoi, social dan spiritual

Faktor factor yang


berhubungan :

29

Tirah Baring atau


imobilisasi

Kelemahan menyeluruh

Ketidakseimbangan
antara suplei oksigen dengan
kebutuhan

Gaya hidup yang


dipertahankan.

30

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan ginjal yang

progresif

dan

mempertahankan

irreversibel

di

metabolisme

mana
dan

kemampuan

keseimbangan

tubuh
cairan

gagal
dan

untuk

elektrolit,

menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah
(Luckman,2002).
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah). (Sudoyo, 2006).

31

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC
Carpenito. 2001. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan, Diagnosa
keperawatan dan masalah kolaboratif. Jakarta: EGC
Hudak, Gallo. 2000. Critical Care Nursing. Philadelphia. JB. Lippincot Company
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius

32