Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

Pembimbing: Yenni Rahmadani, S.Farm., Apt.


KELOMPOK 3
TINGKAT 2 A
Triana Rosmiati

P17335114004

Desti Virdani Putri

P17335114011

Anitha Desiala

P17335114030

Ajeng Septhiani

P17335114034

Kartika Mutiara N

P17335114039

Dalfa Indriani

P17335114047

Penny Suryaningthias P

P17335114050

Ismi Fildzah Putri

P17335114055

Rafika Zahraeni

P17335114062

Hana Hanifah Fadllan

P17335114065

Isnaeni Suryaningsih

P17335114068

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


PROGRAM DIPLOMA III FARMASI
2015

A. Judul

: Viskositas dan Rheologi

B. Hari, tanggal

: Selasa, 6 Oktober 2015

C. Tujuan
1. Penggunaan viskometer kapiler untuk penentuan viskositas cairan newton.
2. Menentukan pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan.
D. Dasar Teori
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu sistem yang
mendapat suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan
untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu (Moechtar, 1989).
Istilah reologi berasal dari bahasa Yunani rheo (mengalir) dan logos (ilmu
pengetahuan), digunakan untuk memerikan aliran zat cair dan deformasi zat padat.
Viskositas adalah suatu ungkapan yang menyatakan tekanan yang mencegah zat cair
untuk mengalir. Makin tinggi viskositasnya, makin besar tekanannya. Zat cair sederhana
dapat diperikan dengan viskositas absolut. Tapi sifat-sifat reologik dari sistem dispersi
heterogen lebih kompleks dan tidak dapat dinyatakan dengan satuan tunggal (Moechtar,
1989).
Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya
mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas dispersi koloid dipengaruhi oleh bentuk
partikel dari fase dispersi dengan viskositas rendah, sedangkan sistem dispersi yang
mengandung koloid-koloid linier viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan
viskositas merupakan refleksi derajat solvasi dari partikel (Respati, 1981).
Rheologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan ke dalam wadah,
pemindahan sebelum digunakan, apakah dicapai dengan

penuangan dari botol,

pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu produk
tertentu yang dapat berkisar dalam konsistensi dari bentuk cair ke semisolid, sampai ke
padatan, dapat mempengaruhi penerimaan bagi si pasien, stabilitas fisika, dan bahkan
availabilitas biologis jadi viskositas telah terbukti mempengaruhi laju absorpsi obat dari
saluran cerna (Martin, 1993).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI VISKOSITAS

SUHU

Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan turun,
dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan

yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya.


KONSENTRASI LARUTAN
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan konsentrasi
tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan menyatakan
banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang

terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula.
BERAT MOLEKUL SOLUTE
Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan adanya solute
yang berat akan menghambat atau member beban yang berat pada cairan sehingga

manaikkan viskositas.
TEKANAN
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan.
KEHADIRAN ZAT LAIN
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan tambahan seperti
bahan suspensi menaikkan viskositas air. Pada minyak ataupun gliserin adanya
penambahan air akan menyebabkan viskositas akan turun karena gliserin maupun minyak

akan semakin encer, waktu alirnya semakin cepat.


UKURAN DAN BERAT MOLEKUL
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran alkohol cepat, larutan
minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya tinggi seta laju aliran lambat sehingga

viskositas juga tinggi.


BERAT MOLEKUL
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak.
KEKUATAN ANTAR MOLEKUL
Viskositas air naik denghan adanya ikatan hidrogen, viskositas CPO dengan gugus OH
pada trigliseridanya naik pada keadaan yang sama.
Alat untuk mengukur viskositas dan rheologi suatu zat yaitu viscometer, dimana ada
dua jenis viscometer yaitu :
1. Viscometer satu titik
Viscometer ini bekerja pada satu titik kecepatan geser saja, sehingga hanya dihasilkan
satu titik pada rheogram. Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan viskositas
cairan newton, yang termasuk kedalam jenis alat ini yaitu viscometer kapiler,
viscometer bola jatuh, dan penetrometer.
2. Viscometer banyak titik

Viscometer jenis ini pengukurannya dapat dilakukan pada beberapa harga kecepatan
geser sehingga dapat diperoleh rheogram yang sempurna. Viscometer jenis ini dapat
digunakan untuk menentukan viskositas cairan newton maupun cairan non newton,
yang termasuk kedalam jenis alat ini yaitu viscometer rotasi tipe Stromer, viscometer
Brookfield dan Rotovisco. Berdasarkan hukum Newton tentang sifat aliran cairan,
maka tipe aliran dibedakan menjadi 2, yaitu cairan newton dan cairan non newton
(Wiroatmojo, 1988):
a) Cairan Newton yaitu cairannya mengalir mengikuti aturan-aturan viskositas.
b) Cairan non Newton yaitu aturannya tidak mengikuti aturan viskositas. Cairan
biasanya memiliki ukuran molekul yang paling besar atau mempunyai struktur
tambahan, misalnya koloid. Untuk mengalirkan cairan bukan cairan Newton
sehingga diperlukan tambahan gaya atau jika perlu memecah strukturnya.
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah salah satunya sistem
newton. Sistem Newton Rate of shear Shearing stres Lapisan dasar dianggap menempel
pada tempatnya. Jika bidang cairan paling atas bergerak dengan suatu kecepatan konstan,
setiap lapisan dibawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan
dibawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak
dari lapisan dasar yang diam. Sehingga dapat disimpulkan sistem newton menghasilkan
garis lurus/sistem linier, hal ini disebabkan karena adanya gaya persatuan luas F/A yang
diperlukan untuk menyebabkan aliran yang menghasilkan sistem linier (Martin, 2008).
Ditinjau dari hukum newton bahwa semakin besar aliran suatu cairan maka semakin
besar pula viskositas dari cairan tersebut. Dari hukum ini dapat disimpulkan bahwa
hubungan viskositas (kekentalan/resistensi) berbanding lurus dengan besar aliran
(rheologi) (Martin,2008)
E. Prosedur Kerja
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Gliserin dibuat larutan sebanyak 20 ml dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan
3.
4.
5.
6.

25% dalam aquadest.


Larutan diaduk sampai homogen. Masing-masing gelas kimia diberi label.
Cairan diambil sebanyak 10 ml, masukkan ke dalam viskometer kapiler.
Cairan dihisap menggunakan ball pipet sampai garis batas atas pada pipa kapiler.
Cairan dibiarkan mengalir dari garis batas atas ke garis batas bawah dan catat waktu

yang dibutuhkan oleh cairan untuk mengalir dari garis batas atas ke garis batas bawah.
7. Pengukuran dilakukan triplo.
8. Bobot cairan ditentukan menggunakan piknometer.

9. Viskositas relatif gliserin dihitung pada berbagai konsentrasi terhadap aquadest


dengan menggunakan persamaan berikut jika diketahui viskositas aquadest adalah
0,89 cps (25oC) :

t
=
t

10. Kurva dibuat dari hubungan antara viskositas gliserin terhapat konsentrasi gliserin
yang digunakan.
F. Data Pengamatan
Perhitungan bobot gliserin yang harus ditimbang untuk dilarukan dalam 20 ml aquadest.
Kadar

Massa yang harus ditimbang

Aquadest untuk melarutkan

5%

5 gram
x 20 ml=1 gram
100 ml

19 ml

10%

10 gram
x 20 ml=2 gram
100 ml

18 ml

15%

15 gram
x 20 ml=3 gram
100 ml

17 ml

20%

20 gram
x 20 ml=4 gram
100 ml

16 ml

25%

25 gram
x 20 ml=5 gram
100 ml

15 ml

Waktu yang dibutuhkan ole aqudest untuk mengalir padaviskometer kapiler : 7,633 s
berat piknometer kosong (W1) : 18,101 g
berat piknometer + aquadest (W2) : 29,738 g

Perhitungan viskositas dan bobot jenis


Larutan gliserin 5%

Larutan gliserin 15%

Rataratawaktu=8,64 s

Rataratawaktu=9,7 s

Piknometer kosong (W1) = 18,101 g

Piknometer kosong (W1) = 18,101 g

Bobot

Piknometer+aquadest (W2) = 29,738 g

Piknometer+aquadest (W2) = 29,738 g

jenis

Pikno+sediaan5% (W3) = 29,867 g

Pikno+sediaan15% (W3) = 30,133 g

5 =

Viskositas

w3w1 ( 29,86718,101 ) gram


gw w 1 ( 30,13318,101 ) gram
g
=
=1,011
1 5 = 33
=
=1,0399
w2w1 (29, 73 818,101 ) gram
cmw 2w 1 ( 29,73818,101 ) gram
cm

1 1. t 1
. . t 0,89 cPs .1.7,633
1 s 1. t 1
. . t 0,89 cPs .1.7,633 s
=
2 = 1 2 2 =
=
2 = 1 2 2 =
2 2 . t 2
1 .t 2
1, 011 . 8,64 s2 2 . t 2
1 .t 2
1, 0399 . 9,7 s
= 0,875 cPs
Larutan gliserin 10%
Rataratawaktu=9,18 s

= 1,051 cPs
Larutan gliserin 20%
Rataratawaktu=10,61 s

Piknometer kosong (W1) = 18,101 g

Piknometer kosong (W1) = 18,101 g

Bobot

Piknometer+aquadest (W2) = 29,738 g

Piknometer+aquadest (W2) = 29,738 g

jenis

Pikno+sediaan10% (W3) = 30,004 g

Pikno+sediaan20% (W3) = 30,293 g

10 =

Viskositas

w 3w1 ( 30,00418,101 ) gram


wg w ( 30, 29318,101 ) gram
g
=
=1,0229
10 = 3 3 1 =
=1 , 047 3
w2w1 (29,73818,101 ) gram
w2w1 ( 29,73818,101 ) gram
cm
cm

1 1. t 1
. . t 0,89 cPs .1.7,633
1 s 1. t 1
. . t 0,89 cPs .1.7,633 s
=
2 = 1 2 2 =
=
2 = 1 2 2 =
2 2 . t 2
1 .t 2
1,0 229 . 9,18s2 2 . t 2
1 .t 2
1, 047 . 10,61 s
= 0,941 cPs

= 1,114cPs

Larutan gliserin 5%
Larutan gliserin 25%
Rataratawaktu=10,65 s
Piknometer kosong (W1) = 18,101 g
Bobot jenis

Piknometer+aquadest (W2) = 29,738 g


Pikno+sediaan25% (W3) = 30,441 g
5 =

Viskositas

w3w1 (29,86718,101 ) gram


g
=
=1,0604 3
w2w1 ( 30,44118,101 ) gram
cm
1 1. t 1
. . t 0,89 cPs .1.7,633 s
=
2 = 1 2 2 =
2 2 . t 2
1 .t 2
1, 0604 . 10,65 s

= 1,132 cPs
Konsentrasi
Larutan (%)

10

15

20

25

Viskositas (cPs)

0,875

0,941

1,051

1,114

1,132

Kurva Viskositas terhadap Konsentrasi Gliserin


1.15

1.1

1.05

Viskositas (cps)
0.95

0.9

0.85

0.8

10

15

20

25

30

Konsentrasi larutan (%)

G. Pembahasan
Viskositas merupakan pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu sistem di bawah
stress yang digunakan. Makin kental suatu cairan, makin besar kekuatan yang diperlukan
untuk digunakan supaya cairan tersebut dapat mengalir dengan laju tertentu (Martin,
2008). Viskositas dalam zat cair, yang berperan adalah gaya kohesi antar partikel zat cair.
Oleh karena itu, semakin besar viskositas zat cair maka semakin susah benda pdat
bergerak di dalam zat cair tersebut. Besaran viskositas berbanding terbalik dengan
perubahan temperatur karena kenaikan temperatur akan melemahkan ikatan antar molekul
suatu jenis cairan sehingga akan menurunkan nilai viskositasnya.

Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas suatu cairan adalah viskometer.
Berikut adalah macam-macam viskometer antara lain viskometer kapiler, viskometer bola
jatuh, viskometer cup dan bob, dan viskometer cone dan plate. Pada praktikum kali ini,
penetuan viskositas larutan dilakukan dengan menggunakan viskometer kapiler atau
viskometer Ostwald dan juga menggunakan piknometer.
Viskometer Ostwald dapat digunakan untuk mengukur viskositas atau kekentalan
suatu cairan newton dengan konsistensi encer atau kurang kental. Prinsip kerja
viskometer ini adalah dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut
untuk melewati garis batas atas ke garis batas bawah ketika mengalir karena gravitasi
melalui kapiler pada viskometer Ostwald. Pengukuran ini dilakukan sebanyak 3 kali
(triplo) untuk mengurangi tingkat kesalahan dalam pengukuran. Kemudian perhitungan
dilakukan berdasarkan persamaan poisseulle, dengan membandingkan waktu alir dan
densitas () cairan sampel dengan cairan pembanding (aquadest) menggunakan alat yang
sama. Densitas atau bobot jenis () cairan diukur menggunakan piknometer.
Pada praktikum kali ini, cairan yang akan ditentukan viskositasnya adalah gliserin
dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Perbedaan
konsentrasi ini ditujukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap
viskositas cairan tersebut. Gliserin merupakan contoh cairan newton sehingga dalam
oenentuan nilai viskositasnya menggunakan viskometer Ostwald. Bahan lain yang
digunakan adalah aquadest yang telah diketahui nilai viskositasnya pada suhu 25 C
yaitu sebesar 0,89 cPs. Langkah pertama yang dilakukan adalah aquadest dimasukkan ke
dalam viskometer sebanyak 10 ml yang kemudian dihisap sampai garis batas atas,
kemudian dibiarkan mengalir melewati garis batas atas ke gairs batas bawah. Perlakuan
ini dilakukan sebanyak tiga kali hingga didapat waktu yang telah dirata-rata adalah 7,63
detik. Dengan perlakuan yang sama dilakukan terhadap gliserin dengan berbagai
konsentasi tersebut.
Hasil yang diperoleh adalah pada konsentrasi 5% waktu yang diperlukan adalah 8,64
detik, pada konsentrasi 10% waktu yang diperlukan adalah 9,18 detik, pada konsentrasi
15% waktu yang diperlukan adalah 9,7 detik, pada konsentrasi 20% waktu yang
diperlukan adalah 10,61 detik, dan pada konsentrasi 25% waktu yang diperlukan adalah
9,65 detik. Dengan menggunakan piknometer memasukkan masing-masing sampel ke
dalam piknometer dimana telah diketahui massanya yaitu 18,101 gram dan berat sampel

akan dapat pula diketahui dengan mengurangi berat piknometer berisi sampel dengan
berat piknometer kosong. Setelah data data diperoleh maka dapat digunakan untuk
menghitung nilai viskositas relatif berdasarka persamaan persamaan poisseulle yaitu
1 1 t 1
=
2 2 t 2 .
Berdasarkan teori, semakin lama waktu yang diperlukan suatu cairan untuk mengalir
dalam viskometer kapiler melewati garis batas atas ke garis batas bawah, maka semakin
besar pula nilai viskositasnya. Hal ini sesuai dengan hasil praktikum yang diperoleh.
Bahwa nilai viskositas cairan gliserin dari konsentrasi 5% sampai 25% secara berurutan
adalah 1,0111 g/cm3 , 1,0229 g/cm3 , 1,0399g/cm3 , 1,0477g/cm3 , dan 1,0604g/cm3.
Dengan mengetahui nilai viskositas dari masing-masing konsentrasi dapat diketahui
bahwa nilai viskositas berbandng lurus dengan konsentrasi suatu larutan. Suatu larutan
dengan konsentrasi tingg akan memiliki viskositas yang tinggi pula, begitupun
sebaliknya, karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlaut
tiap satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel
semakin tinggi dan menyebabkan nilai viskositasnya semakin tinggi pula.
Dalam dunia farmasi ilmu yang mempelajari tentang aliran zat cair dan defirmasi zat
padat disebut dengan rheologi. Beberapa tahun terakhir ini, prinsip dasar rheologi telah
digunakan untuk penyelidikkan cat, tinta, berbagai adonan, bahan-bahan untuk pembuat
jalan, kosmetik dan lain-lain. Dalam dunia farmasi, rheologi diterapkan dalam formulasi
dan analisis dari produk farmasu seperti emulsi, pasta, suppositoria dan penyalutan tablet.
Dalam kebanyakan industri umumnya, kebijaksanaan mengenai konsistensi yang tepat
dapat dibuat oleh orang yang telah dilatih dan berpengalaman lama yang dapat menangani
bahan tersebut secara periodik selama pembuatan untuk mennetukan rasa kelembutanya
dan konsistensinya. Jika karakteristik fisika masing-masing ini dirancang dan dipelajari
secara objektif menurut metode analisi dan rheologi, dapat diperoleh informasi yang
berharga untuk digunakan dalam memformulasi produk-produk farmasi yang lebih baik
(Martin, 2008).
H. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dalam praktikum kali ini, dapat disimpulkan
bahwa kadar larutan berbanding lurus dengan viskositas larutan. Dimana semakin tinggi

konsentrasi pelarut maka semakin tinggi pula viskositas yang dimiliki oleh larutan
tersebut. Ini dikarenakan semakin banyak jumlah partikel yang terlarut, gesekan antar
partikel semakin tinggi sehingga nilai viskositasnya juga tinggi.
I. Lampiran

gliserin

Karet hisap

Viskometer Kapiler

J. Daftar Pustaka
Martin, A. N., 1993, Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Gadjah Mada
University Press, Jogjakarta. Moechtar, 1989, Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan
Sistem Dispersi, Gadjah Mada University Press, Jakarta.
Martin, alfred, dkk. 2008. Farmasi fisik : dasar-dasar farmasi fisik dalam ilmu farmasetik.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press).
Respati,H. 1981. Kimia Dasar Terapan Modern. Jakarta: Erlangga.
Tim Farfis, 2015, Panduan Praktikum Farmasi Fisika : Bagian Viskositas dan Rheologi,
Program D-III Farmasi Poltekkes Kemenkes Bandung, Bandung.
Wiroatmojo. 1988. Kimia Fisika. Jakarta: Depdikbud.