Anda di halaman 1dari 9

TEORI HUMANISME (CARL ROGERS )

MAKALAH
Disusun untuk memenui tugas mata kuliah Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Dr. Anastasia Widjajantin M.Pd

Oleh :
Kelompok X
Dedi Mukhlas (209121419493)
Slamet Ramdani (209121415742)
Rizki Prastyo (206121405619)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Maret 2010

Rogers 1 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
Pengenalan Tokoh
Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park,
Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena
serangan jantung. Latar belakang: Rogers adalah putra keempat dari enam
bersaudara.
Rogers dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan dan menganut
aliran protestan fundamentalis yang terkenal keras, dan kaku dalam hal agama,
moral dan etika. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran
fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis, ide – ide dan konsep
teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman -pengalaman terapeutiknya.

Teori Rogers
Ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan
dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani
masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang
dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri.
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri.

Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa
kanak-kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning,
penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada
masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan
mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan
mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang
terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan
sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu
atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak –
kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup
seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami
pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Rogers 2 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
Rogers dikenal juga sebagai seorang fenomenologis, karena ia sangat
menekankan pada realitas yang berarti bagi individu. Realitas tiap orang akan
berbeda – beda tergantung pada pengalaman – pengalaman perseptualnya.
Lapangan pengalaman ini disebut dengan fenomenal field. Rogers menerima
istilah self sebagai fakta dari lapangan fenomenal tersebut. Konsep diri
menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman
yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku.
Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal.
Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers
mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence
adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual
disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence adalah situasi
di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri
yang utuh, integral, dan sejati.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan,
penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need
for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard
(bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat). Rogers
menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang
mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai
karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif
namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.
Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):
1. Keterbukaan pada pengalaman
Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua
pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan
demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun
negatip.
2. Kehidupan Eksistensial
Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap
pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu

Rogers 3 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman
selanjutnya.
3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap
pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang
dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat
mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.
4. Perasaan Bebas
Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa
adanya paksaan – paksaan atau rintangan – rintangan antara alternatif pikiran dan
tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi
mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya
sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat
banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang
ingin dilakukannya.
5. Kreativitas
Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme
mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri
– ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan
berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka
ragam di sekitarnya.
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya
yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk
pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang
yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan
seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya. Selain
itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis
terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa
melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu
dunia itu secara obyektif.
Rogers juga mengabaikan aspek – aspek tidak sadar dalam tingkah laku
manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan,

Rogers 4 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik
yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis. Teori Rogers
ini memang sangat populer dengan masyarakat Amerika yang memiliki
karakteristik optimistik dan independen karena Rogers memandang bahwa pada
dasarnya manusia itu baik, konstruktif dan akan selalu memiliki orientasi ke
depan yang positip. Pertanyaannya yaitu : Apakah teori ini juga akan sama
efektifnya jika diaplikasikan pada masyarakat dengan budaya, dan struktur sosial
serta sistem kemasyarakatan yang berbeda dengan Amerika?

Teori Belajar Humanisme


A. Pengertian Teori Belajar Humanisme
Pengertian humanisme yang beragam membuat batasan-batasan
aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam arti pula.
Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata humanisme
dalam pendidikan. Dalam artikel “What is Humanisme Education?”,
Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan
bersifat humanisme dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada
beberapa tipe pendekatan humanisme dalam pendidikan. Ide mengenai
pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanisme.

B. Penerapan Teori Belajar Humanisme


Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar yang
tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi
teori humanisme dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk
berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan
siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan
diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat
mengemukakan pendapatny masing-masing di depan kelas. Guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi
yang diajarkan.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterapkan
pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati

Rogers 5 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari
keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam
belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor,
adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan
mudah dan wajar. Ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada
perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa
humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswa
dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka
terhadap perubahan yang ada. Beberapa prinsip dasar dari pendekatan humanisme
yang dapat kita pakai untuk mengembangkan pendidikan :
1. Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu ketahui.
Saat mereka telah mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan
mengapa sesuatu penting untuk mereka sesuai dengan kemampuan untuk
mengarahkan perilaku untuk mencapai yang dibutuhkan dan diinginkan,
mereka akan belajar dengan lebih mudah dan lebih cepat. Sebagian besar
pengajar dan ahli teori belajar akan setuju dengan dengan pernyataan ini,
meskupun mereka mungkin akan tidak setuju tentang apa tepatnya yang
menjadi motivasi murid.
2. Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan
banyak pengetahuan. Dalam kelompok sosial kita dewasa ini dimana
pengetahuan berganti dengan sangat cepat , pandangan ini banyak dibagi
diantara kalangan pengajar, terutama mereka yang datang dari sudut pandang
kognitif.
3. Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti untuk pekerjaan
murid. Penekanan disini adalah pada perkembangan internal dan regulasi diri.
Sementara banyak pengajar akan setuju bahwa ini adalah hal yang penting,
mereka juga akan mengusung sebuah kebutuhan untuk mengembangkan
kemampuan murid untuk berhadapan dengan pengharapan eksternal.
Pertemuan dengan pengaharapan eksternal seperti ini menghadapkan
pertentangan pada sebagian besar teori humanisme.

Rogers 6 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
4. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan. Banyak tugas dari
pandangan humanisme seakan memvalidasi poin ini dan dalam satu area,
pengajar yang berorientasi humanisme membuat sumbangan yang berarti
untuk dasar pengetahuan kita.
5. Murid akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak
mengancam. Ini adalah salah satu area dimana pengajar humanisme telah
memiliki dampak dalam praktek pendidikan. Orientasi yang mendukung saat
ini adalah lingkungan harus tidak mengancam baik secara psikologis,
emosional dan fisikal.

Menurut aliran humanisme, para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan


yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan ini. Beberapa psikolog humanisme melihat bahwa manusia
mempunyai keinginan alami untuk berkembang, untuk lebih baik, dan juga
belajar. Jadi sekoah harus berhati-hati supaya tidak membunuh insting ini dengan
memaksakan anak belajar sesuatu sebelum mereka siap. Jadi bukan hal yang
benar apabila anak dipaksa untuk belajar sesuatu sebelum mereka siap secara
fisiologis dan juga punya keinginan.
Dalam hal ini peran guru adalah sebagai fasilitator yang membantu siswa
untuk memenuhi kebutuhankebutuhan yang lebih tinggi, bukan sebagai konselor
seperti dalam Freudian ataupun pengelola perilaku seperti pada behaviorisme.
Secara singkatnya, pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada
perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk
mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan
kemampuan tersebut.
Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk
pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan
hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara
positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan
keberhasilan akademik. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar
lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

Rogers 7 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Para pendidik hanya
membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.

C. Implikasi Teori Belajar Humanisme


Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
Berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai
kualitas fasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa
(petunjuk):
1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal,
situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan
perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat
umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk
melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan
pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang
paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai
tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk
dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima
baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk
menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi
kelompok
7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur
dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang
anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang
individu, seperti siswa yang lain.

Rogers 8 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan
juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi
sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh
siswa
9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan
adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar
10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk
menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.

Rogers 9 Belajar dan Pembelajar


Teori Humanisme