Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MATA KULIAH

Evaluasi dan Penjaminan Mutu Pendidikan

MODEL-MODEL PENILAIAN
(PENDEKATAN)

Oleh
Kelompok I
1. YENI MURNIASIH (0102514049)
2. MUHAMMAD JUAINI (0102514067)
3. MOHAMAD FADLI (0102514062)
4. DAVID GUNTORO (0102514052)
5. FERDINANDUS DURHAN (0102514046)

KONSENTRASI KEPENGAWASAN SEKOLAH


PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Sampul............................................. .

Halaman Daftar Isi..........................................

ii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................

B. Model-model Evaluasi..........................

PEMBAHASAN
A. Model Measurement. ..........................

B. Congruence Model............................

C. Evaluasi Model Sistem..........................

D. Evaluasi Model Iluminatif/Kualitatif.........

12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.......................................

14

DAFTAR PUSTAKA.............................................

22

BAB I
PENDAHULUAN

Secara umum, evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui
pencapaian hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa
terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensikompetensi yang telah ditetapkan. Hasil mengajar guru terkait dengan sejauh mana guru
sebagai manajer belajar siswa dalam hal merencanakan, mengelola, memimpin, dan
mengevaluasi.
Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan
tes. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga, dan satuan
pendidikan. Kegiatan tersebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan
pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester
yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan
tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Dari tes formatif, sumatif, hingga
ujian akhir sekolah dan ujian nasional, sebagian besar dalam bentuk tes. Tes tersebut sebagian
besar dalam bentuk tes tertulis. Padahal, tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping
tes lisan dan tindakan), dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik
nontes/alternative test).
Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang
evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. Dengan mengetahui ragam model
evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan,
khususnya tenaga pengajar. Oleh karena itu, untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa
dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi
atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih.
Dari sekian banyak model-model evaluasi yang dikemukakan, tes dan pengukuran
tidak lagi menempati posisi yang menentukan. Penggunaanya hanya untuk tujuan-tujuan
tertentu saja, bukan lagi menjadi keharusan, seperti ketika model pertama ditampilkan. Tes dan
pengukuran tidak lagi menjadi parameter kualitas suatu studi evaluasi yang dilakukan.
Perkembangan lain yang menarik dalam model evaluasi ini adalah adanya suatu upaya untuk
bersikap elektik dalam penggunaan pendekatan posistivisme maupun fenomenologi yang oleh
Patoon (1980) disebut sebagai paradigm of choice . Walaupun usaha ini tidak melahirkan

model dalam pengertian terbatas tetapi memberikan alternative baru dalam melakukan
evaluasi.
Dalam studi juga banyak sekali dijumpai model-model evaluasi dengan format atau
sistematika yang berbeda, sekalipun dalam beberapa model ada pula yang sama, misalnya saja
Said Hamid Hasan (1988), mengelompokkan model evaluasi sebagai berikut :
1. Model evaluasi kuantitatif, yang meliputi : model tylor, model teoritik Taylor dan
Maguire, model pendekatan system Alkin, Model Countenance Stake, Model
CIPP, model ekonomi mikro.
2. Model evaluasi kualitatif, yang meliputi : model studi kasus, model iluminatif dan
model reponsif.
Sementara itu, Kaufman dan Thomas dalam Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin
AJ (2007) membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu :
1. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler
2. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven
3. Formatife-Summative Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven
4. Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake
5. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake
6. CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan kapan evaluasi dilakukan
7. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam
8. Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus
Dan model yang akan menjadi pembahasan kita pada makalah ini adalah model
evaluasi yang dikelompokkan oleh Nana Sudjana dan R.Ibrahim (2007) yang membagi model
evaluasi menjadi empat model utama, antara lain :
1. Evaluasi Model Pengukuran (Measurement Model)
2. Evaluasi Model Persesuaian (Congruence Model)
3. Evaluasi Model Sistem (System Evaluation Model)
4. Evaluasi Model Iluminatif/Kualitatif

BAB II
PEMBAHASAN
MODEL-MODEL EVALUASI

A. Model Measurement
Model ini dipandang sebagai model tertua di dalam sejarah evaluasi dan
telah banyak dikenal di dalam proses evaluasi pendidikan. Tokoh-tokoh evaluasi
yang dipandang sebagai pengembang model ini adalah R. Thorndike dan R.L.
Ebel.
1. Hakekat Evaluasi
Sesuai dengan namanya, model ini sangat menitikberatkan peranan
kegiatan pengukuran di dalam melaksanakan proses evaluasi. Pengukuran
dipandang sebagai suatu kegiatan yang ilmiah dan dapat diterapkan dalam
berbagai bidang persoalan termasuk ke dalamnya bidang pendidikan.
Besarnya peranan atau arti pengukuran dalam proses penilaian menurut
model ini, telah menyebabkan kaburnya batas-batas antara pengertian pengukuran
dan penilaian itu sendiri, sebagaimana kata-kata yang diucapkan oleh Thorndikes
the term evaluation as we use it is closely related to measurement.
(Thorndike and Hagen, 1961). Dengan kata lain, tanpa pengukuran tidak aka nada
penilaian. Hal ini akan membawa kita pada pertanyaan tentang apa yang
dimaksudkan dengan pengukuran itu sendiri.
Pengukuran, menurut model ini pengukuran tidak dapat dilepaskan dari
pengertian kuantitas atau jumlah. Jumlah ini akan menunjukkan besarnya
(magnitude) obyek, orang ataupun peristiwa yang dilukiskan dalam bentuk unitunit ukuran tertentu seperti misalnya menit, derajat, meter, percentile, dan
sebagainya sehingga dengan demikian hasil pengukuran itu selalu dinyatakan
dalam bentuk bilangan. Dijadikannya jumlah sebagai dasar dan ciri khas dalam
kegiatan pengukuran yang semakin berkembang dengan pesat itu bertolak dari
suatu keyakinan yang diungkapkan oleh E.L. Thorndike yaitu if anything exists,
it exists in quantity; and if it exists in quantity, it can be me & sured (popham,
1973). Pengukuran, dengan demikian dipandang sebagai kegiatan menentukan

besarnya suatu sifat (attribute) yang dimiliki oleh obyek, orang ataupun peristiwa,
dalam bentuk unit ukuran tertentu.
Dalam bidang pendidikan, model ini telah diterapkan dalam proses
penilaian untuk melihat dan mengungkapkan perbedaan-perbedaan individual
maupun kelompok dalam hal kemampuan, minat, sikap maupun kepribadian.
Hasil pengukuran terhadap aspek-aspek tingkahlaku di atas digunakan untuk
keperluan seleksi siswa, bimbingan, dan perencanaan pendidikan bagi para siswa
itu sendiri.
Dari uraian-uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa menurut model yang
pertama ini, penilaian pendidikan pada dasarnya tidak lain adalah pengukuan
terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaanperbedaan individual atau kelompok yang hasilnya diperlukan dalam rangka
seleksi, bimbingan dan perencanaan pendidikan bagi para peserta didik di sekolah.
2. Ruang Lingkup Evaluasi
Yang djadikan objek dari kegiatan evaluasi model ini adalah tingkah laku,
terutama tingkah laku siswa. Aspek tingkah laku siswa yang dinilai di sini
mencakup kemampuan hasil belajar, kemampuan pembawaan, minat, sikap, dan
juga aspek-aspek afektif dari para siswa.
Dengan kata lain, objek evaluasi di sini mencakup baik aspek kognitif
maupun

dengan

kegiatan

evaluasi

pendidikan

di

sekolah,

model

ini

menitikberatkan pada pengukuran terhadap hasil belajar yang dicapai siswa pada
masing-masing bidang pelajaran dengan menggunakan tes. Hasil belajar yang
dijadikan objek evaluasi di sini adalah hasil belajar dalam bidang pengetahuan
yang evaluasinya dapat dilakukan secara kuantitatif-objektif dengan menggunakan
prosedur yang dapat distandarisasikan.
3. Pendekatan
Bentuk tes yang biasanya digunakan dalam model ini adalah bentuk tes
objekif yang soal-soalnya berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah dan
sebagainya.
Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang setepat mungkin ada
kecenderungan dari model measurement ini untuk mengembangkan ala-alat
evaluasi yang baku. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai

tujuan dari pengukuran itu sendiri. Mengingat salah satu tujuan pengukuran
adalah mengungkapkan perbedaan individual di kalangan para siswa, maka dalam
menganalisis soal-soal tes sangat diperhatikan faktor tingkat kesukaran dan daya
pembeda yang dimiliki masing-masing soal.
Untuk mengungkapkan hasil-hasil yang telah dicapai kelompok ataupun
masing-masing individu di dalam evaluasi mengenai suatu bidang pelajaran
tertentu, dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata
yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. Norma yang
digunakan di sini adalah norma relatif.
Pendekatan yang juga ditempuh oleh model ini di dalam menilai sistem
pendidikan adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok
yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai variabel bebas.

B. Congruence Model
Model kedua ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang
pertama. Tokoh-tokoh evaluasi yang merupakan pengembang model ini antara
lain adalah Raph W. Tyler, John B. Carroll, dan Lee J. Cronbach.
1. Hakekat Evaluasi
Tyler menggambarkan pendidikan sebagai suatu proses, didalamnya terdapat tiga
dimensi yang perlu dibedakan yakni, tujuan pendidikan, pengalaman belajar, dan
penilaian terhadap hasil belajar. Hubungan diantara ketiga dimensi diatas dalam
proses pendidikan digambarkan dalam diagram dibawah ini :
Tujuan Pendidikan

(a)

(c)

Pengalaman Belajar

Hasil Belajar

(b)

Garis (a) menunjukkan hubungan antara tujuan pendidikan dan pengalaman


belajar, garis (b) menunjukkan hubungan antara pengalaman belajar dan hasil

belajar, dan garis (c) menunjukkan hubungan antara tujuan dan hasil belajar.
Dalam diagram di atas, kegiatan penilaian dinyatakan oleh garis (c), atau dengan
kata lain, penilaian disini dimaksudkan sebagai kegiatan untuk melihat sejauh
mana tujuan-tujuan pendidikan telah dapat dicapai siswa dalam bentuk hasil
belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan.
Hal ini berarti bahwa penilaian itu pada dasarnya ingin memperoleh
gambaran mengenai efektifitas dari system pendidikan yang bersangkutan dalam
mencapai

tujuannya.

Mengingat

tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan

perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik, maka yang
penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahanperubahan tingkah laku yang diinginkan itu telah terjadi pada (Tyler, 1950).
Dengan diperolehnya informasi mengenai sejauh mana tujuan-tujuan
pendidikan itu telah dicapai siswa secara individual maupun kelompok, dapat
diambil keputusan tentang tindakan-tindakan apa yang perlu diambil sehubungan
dengan system pendidikan dan siswa yang bersangkutan. Tindak lanjut hasil
penilaian yang langsung menyangkut kepentingan anak didik yang bersangkutan
adalah dalam bentuk pemberian bimbingan untuk memperbaiki hasil yang telah
dicapai dan merencanakan program studi bagi masing-masing siswa. Ditinjau dari
kepentingan system pendidikan, hasil penilaian ini dimaksudkan sebagai umpan
balik untuk memperbaiki bagian-bagian system yang masih lemah. Sebagaimana
yang disampaikan Cronbach the greatest service evaluation can perform is to
identify aspects of the course where revision is desirable (Cronbach, 1973).
Disamping untuk kepentingan bimbingan siswa dan perbaikan sistem,
penilaian dimaksudkan pula untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak
diluar pendidikan tentang sejauh mana tujuan-tujuan yang diinginkan itu telah
dicapai oleh system pendidikan yang ada.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa menurut
model ini, penilaian itu tidak lain adalah usaha untuk memeriksa persesuaian
(congruence)

antara tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan dengan hasil

belajar yang telah dicapai. Berhubung tujuan-tujuan pendidikan menyangkut


perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada para anak didik, maka
penilain dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang

dinginkan itu terjadi atau tercapai. Hasil penilaian yang diperoleh berguna bagi
kepentingan, menyempurnakan sistembimbingan siswa dan untuk memberikan
informasi kepada pihak-pihak diluar pendidikan mengenai hasil-hasil yang telah
dicapai.
2. Ruang Lingkup
Objek evaluasi dalam model ini adalah tingkah laku siswa. Secara lebih
khusus, yang dinilai di sini adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan yang
diperhatikan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan.
Tingkah laku hasil belajar ini tidak hanya terbatas pada aspek
pengetahuan, melainkan juga mencakup aspek keterampilan dan sikap, sebagai
hasil dari proses pendidikan.
3. Pendekatan
Dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis sebagaimana
yang tercantum dalam rumusan, tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dan perlu
dicapai, model ini menganut pendirian bahwa berbagai kemungkinan alat evaluasi
perlu digunakan.
Ada dua hal penting yang perlu dikemukakan mengenai pendekatan
evaluasi yang dianut oleh model ini:
Pertama, model ini menyarankan digunakannya prosedur pre dan post test
untuk menilai hasil yang dicapai siswa sebagai akibat dari kegiatan pendidikan
yang telah diikutinya.
Kedua, model ini tidak menyarankan dilaksanakannya apa yang disebut
evaluasi perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih
efektif dari kurikulum yang ada.
Langkah-langkah yang perlu ditempuh di dalam proses evaluasi menurut
model ini, Tyler mengajukan 4 langkah pokok yaitu:
a) Merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran.
b) Menetapkan test situation yang diperlukan.
c) Menyusun alat evaluasi.
d) Menggunakan hasil evaluasi.
Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin
dicapainya, akan lebih tepat bila hasil evaluasi tidak dinyatakan dalam bentuk

hasil keseluruhan tes tapi dalam bentuk hasil bagian dari tes yang bersangkutan,
sehingga terlihat bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih perlu
disempurnakan.

B. Evaluasi Model Sistem (System Evaluation Model)


Model ketiga yang ini merupakan reaksi terhadap kedua model terdahulu.
Tokoh-tokoh evaluasi yang dipandang sebagai pengembang dari model yang
ketiga ini antara lain adalah Daniel L. Stufflebeam, Michael Scriven, Robert E.
Stake dan Malcolm M. Provus.
1. Hakikat Evaluasi
Model ini bertitik tolak dari pandangan, bahwa keberhasilan dari suatu
sistem pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Evaluasi menurut model ini
dimaksudkan untuk membandingkan performance dari berbagai dimensi sistem
yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya
sampai pada suatu deskripsi dan judgement mengenai sistem yang dinilai tersebut.
Ada beberapa hal yang perlu diuraikan lebih lanjut tentang penilaian yang
dianut oleh model ini, antara lain :
1. Dengan mengemukakan berbagai dimensi sistem, model ini menekankan
pentingnya system sebagai suatu keseluruhan dijadikan objek penilaian,
tanpa membatasi hanya pada aspek hasil yang dicapai saja.
2. Perbandingan antara performance dan kriteria yang juga merupakan salah
satu factor penting dalam konsep penilaian menurut model ini. Malcolm
M.Provus, dalam pembahasannya mengenai The Discrepancy Evaluation
Model mengemukakan bahwa there can be no discrepancy information;
there can be no discrepancy without standards or criteria. Pernyataan
tersebut menunjukkan bahwa untuk setiap dimensi system pendidikan
yang sedang dikembangkan perlu ditetapkan dengan tegas criteria yang
akan dijadikan ukuran dalam menilai performance dari masing-masing
dimensi tersebut.
3. Kegiatan penilaian model ini tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi
tentang keadaan dari system yang telah dinilainya, melainkan harus

10

sampai pada suatu judgement mengenai baik buruknya, efektif tidaknya,


system pendidikan yang bersangkutan.
Informasi hasil penilaian memiliki peran yang sangat strategis

karena

informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau
input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam
rangka :
1. Penyempurnaan sistem selama system tersebut masih dalam tahap
pengembangan, dan
2. Penyimpulan

mengenai

kebaikan

dari

sistem

pendidikan

yang

bersangkutan dibandingkan dengan system lain.


Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat hal
yang perlu dikemukakan mengenai pandangan model yang ketiga ini
tentang evaluasi:
a. Evaluasi itu ditujukan kepada berbagai dimensi dari sistem yang sedang
dikembangkan, tidak hanya dimensi hasilnya saja.
b. Proses evaluasi itu mencakup perbandingan antara performance dan
kriteria, baik kriteria yang sifatnya mutlak maupun relatif.
c. Evaluasi tidak hanya berakhir dengan suatu deskripsi mengenai keadaan
sistem yang bersangkutan tetapi juga menuntut adanya jugdement sebagai
kesimpulan dari hasil evaluasi.
d. Hasil evaluasi digunakan sebagai bahan atau input bagi pengambilan
keputusan dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan
mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara keseluruhan.
2. Ruang Lingkup
Ada beberapa jenis evaluasi pendidikan yang termasuk dalam model
system antara lain sebagai berikut :
a. Formatif dan Sumatif.
Evaluasi formatif digunakan dalam hubungannya dengan keperluan
penyempurnaan sistem, sedangkan evaluasi sumatif digunakan dalam
hubungannya dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara
keseluruhan.

11

b. Antecedent-Transaction-Outcomes (Stake)
Antecedents dimaksudkan ialah sumber/modal/input yang ada pada
saat system atau program itu dikembangkan seperti tenaga, keuangan,
karakteristik siswa, sarana dan tujuan yang ingin dicapai. Sedangkan
Transaction mencakup rencana kegiatan maupun proses pelaksanaanya
dilapangan, termasuk ke dalamnya urutan kegiatan maupun proses
pelaksanaanya dilapangan, penjadwalan waktu, bentuk interaksi, cara atau
teknik penilaian dan sebagainya. Dengan outcome di sini dimaksudkan
antara lain adalah hasil yang dicapai, reaksi terhadap system atau program
tersebut. Dan efek samping dari system atau program yang bersangkutan.
c. Context-Input-Proses-Product (Stufflebeam)
Stufflebeam, dalam bukunya Educational Evaluation dan Decision
Making, menggolongkan penilaian program/system pendidikan atas 4
dimensi yaitu context, input, proses, dan products, sehingga model
penilaiannya dinamakan CIPP model yang merupakan singkatan huruf dari
keempat dimensi diatas.
d. Instrumental-ConsequentialEvaluation (Scriven)
Instrumental evaluation mencakup penilaian terhadap tujuan, isi,
cara, maupun pelaksanaan dari cara tersebut. Sedangkan consequential
evaluation mencakup penilaian terhadap hasil yang dicapai dari
program/system yang dinilai.
e. Design-operation

Program-Interim

Products-Terminal

Products

(Provous)
Pengertian design disini dapat dihubungkan dengan rencana/sarana,
sedangkan program operation dapat diartikan sebagai proses pelaksanaan.
Pengertian interim product oleh provus adalah hasil yang diperoleh dalam
jangka waktu pendek

sedangkan terminal product adalah hasil yang

diperoleh dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dengan demikian,


objek penilaian yang diajukan oleh Provus disini mencakup pula dimensi
sarana/rencana, proses, dan hasil yang ingin dicapai.

12

3. Pendekatan
Ada dua pendekatan utama yang diajukan oleh model ini dalam
pelaksanaan evaluasi yaitu:
a. Perbandingan performance berdasarkan kriteria intern.
Pendekatan yang pertama ini ditempuh pada saat sistem masih berada pada
fase pengembangan dan masih mengalami perbaikan-perbaikan. Untuk setiap
dimensi sistem (input, proses, hasil) dilakukan evaluasi berdasarkan kriteria yang
ada:
1. Rencana dinilai berdasarkan kriteria rencana yang baik.
2. Proses (pelaksanaan) dievaluasi dari kesesuaiannya dengan rencana yang
ada. Rencana kegiatan di sini berlaku sebagai kriteria
3. Hasil yang dicapai dinilai dari kesesuaiannya dengan tujuan yang ingin
dicapai. Tujuan di sini berlaku sebagai kriteria
b. Perbandingan performance berdasarkan kriteria ekstern.
Pendekatan yang kedua ini ditempuh pada saat sistem sudah berada dalam
keadaan

siap

setelah

mengalami

perbaikan-perbaikan

selama

fase

pengembangan. Kalau dalam pendekatan yang pertama salah satu pertanyaan


yang diajukan adalah sejauh mana sistem yang dikembangkan itu telah mencapai
tujuannya, dalam pendekatan yang kedua ini pertanyaan menjadi apakah sistem
yang baru ini lebih baik dari sistem yang ada sekarang.
Untuk melaksanakan kedua pendekatan di atas diperlukan berbagai cara
evaluasi di samping tes hasil belajar, yaitu observasi, angket, wawancara, dan juga
content analysis, mengingat data yang dikumpulkan di sini mencakup baik data
objekif maupun data subjektif.

13

D. Evaluasi Model Iluminatif/Kualitatif


Model yang keempat ini dikembangkan sebagai reaksi terhadap dua model
evaluasi yang pertama, yaitu measurement dan congruence. Model ini
dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan
dalam bidang antropologi. Salah seorang tokoh yang paling menonjol dalam
usahanya mengembangkan model ini adalah Malcolm Parlett.
1. Hakikat Evaluasi
Tujuan evaluasi menurut model yang keempat ini adalah mengadakan
studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Hasil evaluasi yang
dilaporkan lebih bersifat deskripsi dan interpretasi, bukan pengukuran dan
prediksi. Oleh karena itu dalam pelaksanaan evaluasi, model yang keempat ini
lebih banyak menekankan pada penggunaan Judgement.
Model ini juga memandang fungsi evaluasi sebagai bahan atau input untuk
kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka penyesuaian-penyesuaian dan
penyempurnaan sistem yang sedang dikembangkan.
2. Ruang Lingkup
Objek evaluasi yang diajukan oleh model ini mencakup:
a. Latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang
bersangkutan.
b. Proses pelaksanaan sistem itu sendiri.
c. Hasil belajar yang diperlihatkan oleh para siswa.
d. Kesukaran-kesukaran yang dialami dari perencanaan sampai dengan
pelaksanaannya di lapangan.
e. Efek samping dari sistem yang bersangkutan.
3. Pendekatan
Model evaluasi ini mengajukan pendekatan yang merupakan alternatif
bagi apa yang disebut sebagai agricultural-botany paradigm, yang selain
digunakan dalam ilmu pengetahuan alam juga digunakan dalam eksperimen dalam
bidang psikologi.

14

Cara-cara yang digunakan dalam pendekatan ini tidak bersifat standar


melainkan lebih bersifat fleksibel dan selektif, karena situasi yang akan dinilai
bersifat terbuka dan mengandung segala macam kemungkinan.
Ada tiga fase kegiatan evaluasi yang diajukan yang secara berturut-turut
sebagai berikut:
a. Observe
Dalam tahap ini penilai mengunjungi sekolah tempat suatu sistem sedang
dikembangkan.
b. Inquiry further
Dalam tahap kedua ini, berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam
tahap pertama kini diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih
lanjut.
c. Seek to explain
Dalam tahap ketiga, penilai mulai meneliti sebab-akibat dari masing-masing
persoalan. Di sini mulai digali faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya
persoalan-persoalan tadi.
Pendekatan yang digambarkan di atas, dalam model ini disebut sebagai
progressive focussing yang kegiatan penilaiannya dilakukan secara bertahap
dengan fokus yang makin lama makin terarah sampai kepada interpretasi.
Dalam pengumpulan berbagai data yang diperlukan digunakan berbagai
cara, yaitu observasi, wawancara, angket, dan analisis bahan-bahan dokumentasi.

15

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Model-model evaluasi antara lain: Measurement Model, Congruence
Model, Educational System Evaluation Model, dan Illuminative Model.
Menurut Measurement model, evaluasi pendidikan pada dasarnya tidak
lain adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk
melihat perbedaan-perbedaan individual atau kelompok.
Menurut Congruence Model, evaluasi itu tidak lain adalah usaha untuk
memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan-tujuan pendidikan yang
diinginkan dan hasil belajar yang telah dicapai.
Evaluasi menurut Educational System Evaluation Model, dimaksudkan
untuk membandingkan performance dari berbagai dimensi sistem yang sedang
dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada
suatu deskripsi dan judgement mengenai sistem yang dinilai tersebut.
Illuminative Model, juga memandang fungsi evaluasi sebagai bahan atau
input untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka penyesuaianpenyesuaian dan penyempurnaan sistem yang sedang dikembangkan.

16

SUMBER BACAAN
Arikunto, Suharsimi (2013) Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta.PT.Bumi
Aksara
Daryanto (1999). Evaluasi Pendidikan Jakarta: Rineka Cipta
Janawi. (2012). Kompetensi Guru : Citra Guru Professional. Bandung : Alfabeta
Sudjana, Nana (2011). Supervisi Pendidikan, Konsep dan Aplikasinya Bagi
Pengawas. Bekasi : Bimantara Publishing
Suyanto dan Jihad, Asep. (2013). Bagaimana Menjadi Calon Guru dan Guru
Profesional. Yogyakarta : Multi Pressindo
Suyanto dan Jihad, Asep. (2013). Menjadi Guru Profesional. Depok : Penerbit
Airlangga
Suryadi, Ace (2014) Pendidikan Indonesia Menuju 2025 . Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya.
Widoyoko, Eko Putro (2014). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar.

17