Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

Kasus 14-4 Piedmont University

Kuis Sistem Pengendalian Manajemen

Satria Chandra (43214120234)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI & BISNIS
UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA
2015

Adanya indikator permasalahan yang terjadi yaitu pendaftaran mahasiswa baru menurun dan biaya operasi
meningkat, sehingga terpaksa dipergunakan dana kuasi dan dana tersebut hampir habis dipergunakan.
Penyelesaian krisis keuangan Piedmont University (PU)
Dalam kasus tersebut, krisis keuangan pada PU telah dicoba untuk diselesaikan melalui Pertama,
tindakan-tindakan dari perbaikan dari rektor, yaitu menaikkan uang kuliah, menghentikan perekrutan
karyawan dan staf pengajar, dan menekan biaya operasi. Hasil sementara diperoleh : per 30 Juni 1986
(tahun pelajaran berakhir) terdapat sedikit surplus operasi usaha. Kedua, saran-saran dari perusahaan
konsultan, yaitu : penambahan karyawan, mengadakan kegiatan pencarian dan menata universitas
menjadi beberapa pusat laba.
Dari saran-saran tersebut, yang paling utama adalah menjadikan universitas dalam beberapa pusat
laba. Kenyataannya gagasan pembentukan pusat laba tersebut menimbulkan beberapa masalah
Alasan penolakan rancangan beberapa pusat laba tersebut berkisar pada : pelayanan fasilitas pada
mahasis wan tenaga pengajar, penambahan beban pekerjaan adminitrasi, tersingkirnya tanggung jawab
departemen pemeliharaan. Melihat kedua penyelesaian tersebut, dari sisi pertanggungjawaban
pengendalian manajemen, maka langkah pertama mewujudkan universitas secara keseluruhan sebagai
pusat biaya, tepatnya pusat biaya kebijakan.
Pada pusat biaya kebijakan ini, selisih anggaran dan biaya yang sesungguhnya bukanlah tolok ukur
bagi efisiensi. Pada hakekatnya, hanya merupakan selisih antara input yang dianggarkan dan input yang
sesungguhnya dan tidak mencakup nilai output. Jika biaya yang sesungguhnya tidak melebihi jumlah
anggaran, maka hal itu sudah dianggap telah sejalan dalam anggaran. Tindakan rektor dalam hal
menghentikan rekrut karyawan dan menekan biaya operasi, tidak dimaksudkan untuk meramal jumlah
pengeluaran yang optimum.
Dalam jangka pendek, menjadikan universitas sebagai pusat biaya kebijakan, terlebih sudah
terdapat surplus keuangan, adalah langkah tepat. Tetapi untuk perhitungan jangka panjang hal tersebut
kurang tepat. Maka langkah kedua menjadikan universitas dalam beberapa pusat laba adalah sangat tepat,
tentu saja dengan mengeleminasi atau menghilangkan berbagai hambatan, dan dengan transfer harga
yang disepakati semua pusat laba.

Penyelesaian masalah dalam pusat-pusat laba


Seperti dalam uraian sebelumnya, terdapat masalah dengan diperkenalkannya pusat-pusat laba. Menurut
pengendalian manajemen pusat-pusat laba dalam Robert Antony dan Gvindarajan, terdapat hal-hal yang
menjadi hambatan, yaitu :
Pada PU, masing-masing unit laba diberikan kewenangan untuk mencari kontraktor pemeliharaan
diluar departemen pemeliharaan universitas. Hal ini, bagi departemen pemeliharaan sebagai satu pusat
laba, akan ada konsekuensi kurangnya pencapaian laba. Untuk pencapaian transfer harga yang ideal,
maka departemen Pemeliharaan harus bekerja secara efisien sehingga biaya pemeliharaan yang
ditawarkan kepada pusat laba lainnya akan sama dengan biaya pemeliharaan dari kontraktor luar.

Adanya perbedaan misi atau tujuan antara pencapain tujuan-tujuan pendidikan pada setiap fakultas
dengan tujuan-tujuan fakultas sebagai pusat laba, yaitu :

adanya perselisihan-perselisihan karena adanya argumen-argumen tentang : transfer harga,


pengalokasian biaya-biaya umum yaitu pengeluaran pusat yang menjadi beban dan dianggap
biaya tak terkendali oleh pusat-pusat laba, kewenangan yang dominan pada wewenang
penggunaan pemberian dan sumbangan, unit-unit organisasi yang pernah bekerja sama sebagai
unti fungsional akan saling berkompetisi. Pada kenyataannya, keputusan satu unit laba akan
mengakibatkan konsekuensi biaya yang tidak diinginkan oleh unit laba lainnya.
Pada registrasi silang, fakultas dimana mahasiswa mengambil suatu mata kuliah, akan menerima
pembayaran dimana mahasiswa mendaftar, maka fakultas dimana ia mendaftar harus memberikan
transfer harga kepada fakultas dimana mahasiswa mnegambil mata kuliah tersebut.
Pemungutan iuran-iuran untuk menutup biaya operasi departemen atletik bertolak belakang
dengan tujuan-tujuan memajukan olahraga di kampus, yang mengakibatkan ketidakpuasan
mahasiswa.
Pengenaan iuran pemakaian komputer di fakultas teknik untuk menutup biaya keseluruhan
perawatan dan biaya overhead menghambat usaha untuk mendorong pemakaian komputer
sebagai bagian dari pengalaman dan pendidikan riset para mahasiswa dan tenaga pengajar.
Adanya ketidakpuasan dalam hal kerja administrasi, terutama penambahan prosedur kerja yang
baru.

Dari berbagai hambatan-hambatan tersebut, rektor sebagai manajemen puncak disarankan melakukan
langkah-langkah sebagai berikut. Secara umum diciptakannya kondisi-kondisi dalam mendelegasikan
pertanggungjawaban laba, yaitu kondisi dimana rektor dapat memperoleh informasi yang relevan dan cara
untuk mengukur efektifitas kinerja.

Kinerja keuangan
Universitas sebagai organisasi nirlaba (nonprofit oriented) tujuan finansialnya hanya untuk menjaga agar
tidak terjadi pengeluaran yang berlebihan, yaitu tetap menjaga agar berada dalam jumlah subsidi atau
alokasi anggaran yang disediakan untuk kegiatan. Walaupun demikian tetap pula perlu untuk mengukut
kinerja ekonomi yaitu pusat laba sebagai unit ekonomi, diukur dari pendapatan bersih (net income) yaitu
pendapatan yang tersisa setelah seluruh biaya dialokasikan kepada pusat laba. Sebagaimana yang
disarankan oleh konsultan diatas diharapkan agar dimasa yang akan datang dekan dan administrator lain
menyerahkan anggaran yang meliputi pendapatan dan pengeluaran bagi kegiatan masing-masing.
Peralihan tanggung jawab dan prosedur baru untuk mengkreditkan pendapatan ke dalam pusat-pusat laba
dan membebankan pengeluaran kepada pusat-pusat laba yang bersangkutan. Dengan sistem
pengendalian anggaran yang memadai rektor dapat :
mendelegasikan tanggungjawab dan prosedur sehari-hari pada level manajemen yang lebih rendah
(dekan/ketua fakultas atau kepala departemen)
merencanakan dan mengkoordinasi berbagai aktivitas untuk mencapai tujuan umum universitas
mempertahan pengendalian menyeluruh

mempunyai pedoman untuk memantau kinerja dekan atau kepala departemen dari aktivitas yang
didelegasikan menggunakan satu indikator yang menyeluruh dengan laba sebagai ukuran kinerja.
Mempergunakan sebagai alat motivasi yang tepat bagi para dekan atau kepala departemen.
Sistem pelaporan yang memberikan informasi yang siap pakai bagi rektor mengenai profitabilitas
Rektor disarankan agar selalu meningkatkan kesadaran laba kepada para dekan atau kepala
departemen untuk selalu mencari cara meningkatkan laba dan bekerja sama sehingga goal
congruence selalu tercipta.
Koordinasi antar pusat laba sehingga tercipta harga transfer yang saling menguntung.
Mengoptimalkan kinerja karyawan sehingga tidak perlu dilaksanakan perekrutan karyawan baru,
yang diiringi dengan penambahan pekerjaan dan insentif yang mendukung

Kinerja Pusat-pusat Laba


Transfer harga perlu dilakukan pada registrasi silang dan jasa pemeliharaan universitas. Disarankan agar
dihindari resourcing jasa pemeliharaan sehingga laba tidak keluar dari universitas sehingga secara
keseluruhan akan terjadi peningkatan laba. Maka departemen pemeliharaan harus mengupayakan kerja
secara efisien sehingga dapat diperoleh jasa pada biaya yang sama dengan jasa pemeliharaan dari
kontraktor luar.
Unit-unit yang berhubungan dengan misi pendidikan dan pusat aktivitas mahasiswa dan tenaga
pengajar seperti unit komputer, atletik dan perpustakaan, tetap dibiarkan sebagai suatu fasilitas bagi
mereka, sehingga tujuan pendidikan tercapai. Sebagai suatu pusat laba, maka pengelola, sebagaimana
saran dari konsultan, diupayakan untuk menciptakan kegiatan yang mendatangkan laba. Semisal :
pengadaan even-even olah raga yang dimungkinkan mendapatkan pendapatan dari iklan, penyewaan
fasilitas-fasilitas gedung olah raga tanpa mengganggu aktivitas mahasiswa, atau penyelenggaraan
seminar, pameran pendidikan, buku dan komputer. Secara administratif hal tersebut akan menambah
beban pekerjaan, tetapi hasil yang diperoleh dapat dipergunakan untuk biaya pemeliharaan gedung dan
fasilitas olah raga.
Kewenangan rektor terhadap pengalokasian penggunaan dan persetujuan pemberian dan
sumbangan, tetap pada rektor sebagai manajemen puncak. Hal ini salah satu kewenangan yang
disarankan, sebaiknya tidak didelegasikan, kecuali untuk sumbangan atau pemberian langsung ke fakultas.
Sumbangan atau pemberian ini selain untuk mengurangi ketergantungan rektor pada pusat-pusat laba di
bawahnya, juga sebagai cadangan dana dalam hal pemberian subsidi kepada pusat-pusat laba yng
membutuhkan.
Dengan diperkenalkannya pusat-pusat laba pada Piedmont University, diharapkan selain kebutuhan
keuangan terpenuhi, juga memberikan manfaat sebagai berikut : kualitas keputusan dan kecepatan
pengambilan keputusan operasional dapat meningkat, Rektor terhindar dari pengambilan keputusan yang
bersifat teknis atau harian sehingga dapat berkonsentrasi terhadap hal-hal yang lebih luas.