Anda di halaman 1dari 9

VolumeVI No.

2,Desentber2013

ISSN 1919-469X

Jurnal

KESE,HATAN

Metro Sui Wuwai


{Journal of Heslth lltletro Sai Wawoil

:!0
-F

-tr
:o
-u'
-t
--D\

Tn
-F

m!
IL-

BrD^^?l'il'lfl?fl'J
RAM
PRoc
sruDIKE

Jurnal

KESEHATAN
Metro SaiWawai

Volume VI Nq.2, Desember20130Halaman 1-93

rssN 1979-469X

Jurnal KesehatanMefio Sai Wawai merupakanjurnal kesehatanyang me,muatartikel hasil penelitian dan
artikel nonpenelitiandibidangkesehatan.Terbit duakali setahunyaitu padabulanJuni danDesember.
DEWA}I REDAKSI
Pengarah
Direkw Politeknik KesehatanKementerianKesehatanTanjuugkarang
PenanggungJawab
KetuaProgramStudiKebidananMeto
Ketua Dewan Redaksi
Sadiman
Wakil Ketua l)ewan Redaksi
Riyanto
Anggota Ilcwan Redaksi
Supriatiningsih
Weliyati
YusroHadiM.
M. Ridwan
Yuliawati
Islamiyati
Prasetyowati
MartiniFAirus
Ika Oktaviani
Redaksi Pelaksana
Sumiyati
Firda Fibrila
Sri Lestariniagsih
PelaksanaTata Usaha
Yulidawati
Wibowo
Alamat Redaksi
Program Studi Kebidanal Metro PoltekkesKementrian KesehatanTanjungkarang
Jl. Brigiend SutiyosoNo. 1 Kota Meno LampungPo.Box 107 Kode Post.34l11Telp: (0725) 41819Fa:i
(0725)47966
Emnl :j urkes_metrow
awai@yahoo.co.i d.
D-ewanRedaki me-4qtna nas.kabhas.{ peaplitia.ndaq np,rp@elidqsyaag b.elumnelqah dipublikasikankp
jurnal lain. Naskahditulis sesuaiformat denganmergilarti pedomam
penulisan-Jumal KesehatanMetro sai
Wawai.Naskahdikirim kealamatredaksiminimal satubulan sebelumpenerbitan.

Jurnal

KESEHATAN
Metro Sai lYawai

VolumeVI No.2, Desember2013'Halamanl-93

rssN 1979-469X

DAFTARISI
HubunganPreeklamsiaKehamilandenganKejadianBeratBadanLahir Rendahdi RSUD. Jendral
AhmadYani Kota Metro
Sfi Lestariningsih

1-6

Faktor Kualitas PemantauanPertumbuhanBalita oleh Kader Posyandudi KelurahanKedaton


Kota BandarLampung
Dewi Srt Sumardilah

7-13

PerbandinganPengukuranLingkar LenganAtas dengan Indeks MassaTubuh dalam Penentuan


Ripiko Kurang EnergiKronis padaSiswi SMA Negeri 4 Kotabumi
Antun Rahmadi

14-19

Ketprkaitan Karakteristik Motivator dengan PenggunaanMetode Vasektomi sebagai Alat


KontrasepsiPria di Kota BandarLampung
YusroHudiM

20-28

Analisis DeterrninanGizi Kurang pada Balita di Wilayah Kerja PuskesmasSukamaju Kota


BandarLampung.
Ika Fitria Elmeida

29-37

PosKesehatanKelurahandi Kota Metro


EvaluasiPenyelenggaraan
Islamiynt ilan Sadtmrn

38-48

Faktor Nsiko yang BerhubungandenganKejadian Gizi Lebih pada Anak Balita di Kabupaten
LampungUtara
N.4q Msip.ni

49-55

PengaruhKelasIbu Hamil terhadapPerilakuIbu dalamInisiasi Menyrsu Dini di Kota Metro


YogaTriwijayanfi

56-&

HubunganRiwayat SectioCaessreadanRiwayat PlacentqPreviq padaKehamilanSebelumnya 65-68


denganKejadianPIacenta Pr wia

Iry4qlTrts.ni.lesib
PerbedaanPerawatanTali PusatdenganKassaAlkohol dan KassaSfteil TerhadapLama Puput
PujokertoKabupatenLampungTengah
Tali Pusatdi BPSWilayah Kerja Puskesmas
HelmiYenie

69-73

Ibu Menyusui denganPemilihanAlat KontrasepsiIntra Werine Device


HubunganPengetabnan
(IUD) di DesaPurwodadiSimpangKecamatanTanjung Bintang KabupatenLampungSelatan
RisnmiR.

74-78

HubunganInisiasi MenyusuDini denganTinggi FundusUteri Ibu PostpartumHari Ke-tujuh


Mortini

79-87

KonhasepsiImplant terhadapPeningkatanBerat BadandanHipertensi


PengaruhPenggunaan
di KabupatenLampungTimur
YusroHadi M dan Yuliawati

88-93

IIUBT]NGAIY PREEKLAMPSIA KEIIAI\trLAII DENGAN KEJAI}IAN BERAT


BADAIY LAIIIR RENDAH (BBIR) DI RSUD JENDRAL AHMAD YAITI
KOTA METRO

Sri Lcstariningsih
Prograrn Studi Kebidanan Metro Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang
Email:lestariningsihs@yahoo.co.id
Abstrak
Masalahbayi berat lahir rendah (BBLR) sampaisaat ini masih merupakanpenyebabutama mortiditas dan
mortalitasperinatal.Preeklampsiamerupakansalahsatufaktor risiko terjadinyapertumbuhanjanin yang lambat,
BBL& dismaturitasdanprematutitasjanin fatrL* terjadi intra uterinefetal death (NJFD).Tujuanpenelitianini
adalahuntuk mengetahuihubunganpreeklampsiadalamkehamilandengan kejadianBBLR denganmengontrol
variabel anemiq usia ibu, jarak persalinan,paritas, pendidikan,pekerjaan,kehamilanprematur, dan riwayat
abortus.Desainpenelitianini adaldr casecontrol studi denganmenggunakan
dataibu yang melahirkandi RSUD
JenderalAhmad Yani. Populasiadalahibu yang melahirkandalamkurun waktu tahun 2011. Sampelberjumlah
186terdiri dari 93 kasusdan 93 kontrol. Pengarrbilansampelkelompokkontrol menggunakantefuik rystematic
random sampling.Analisis bivariat menggunakan$i chi Square,sedapgkananalisismultivmiat menggunakan
uji regresi logistik ganda dengan model faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkanada hubungan yang
signifikan antara preeklampsia dengan kejadian BBLR (nilai p:0,000, OR-l0,ll),
ibu hamil dengan
preeklampsiakemungkinanberisiko 12,69kali lebih besmuntuk melahirkanbayi BBLR dibandingkanibu hamil
yang tidak preeklampsiasetelah dikontrol variabel riwayat abortuq paritas, dan pendidikan ibu. Perlunya
praktek antenatalyang bermanfadbagi kehamilan,minimal 4 kali kunjungankehamilandengan
melaksanakan
memperhatikankualitasataukelengkapanstandarpelayanankehamilan(14 T).
Kata kunci: BBL& preeklampsia
PENDATTULUAI{

Health

Penyebab kematian bayi menunfi Word


Organizotion (WHO) salatr satunya

adalahkarenabayi berat lahir rendah(BBLR)


@adan Pusat Statistik, 2008). Masalah BBLR
sampai saat ini masih merupakan penyebab
utama morbiditas dan mortalitas perinatal.
Setiaptahun di dunia diperkirakanlahir sekitm
20 juta bayi berat lahir rendah.Dalam laporan
WHO yang dikutip dari State of the WorW's
Mother 2007 (data tahun 2000-2003)
dikemukakanbahwa 27%okematian neonatus
disebabkan
olehBBLR (Ivoneso
J.,2012).
Menurut Depkes RI (2008), penyebab
kematianneonatalterbesmadalahBBLR yaitu
sebesar3A3oA. Secara statistik menunjukkan
90% kejadian BBLR didapatkan di negara
berkembangdan angka kematiannya35 kali
lebih tinggi dibandingpada bayi denganberat
lahir lebih dari 2500gram.
BBLR diseluruh dunia mencapailebih
dari 20juta bilyrfls,s%) dari seluruhkelahiran,
dan 95,6Yodiantaranyamenrpakanbayi yang
dilahirkan
di
negara-negara sedang
berkembang. Proporsi BBLR di Indonesia
diketahui berdasarkanestimasi. Jika proporsi
ibu hamil yang akan melahirkan bayi adalah

2,5oA dafi total penduduk, maka setiap tahun


diperkirakan 355.000 sampai 710.000 dari 5
juta bayi lahir dengan kondisi BBLR (Depkes
RI,2000).

BerdasarkanRiskesdas2010 kejadian
BBLR di Provinsi t"ampung sebesar9Yo dan
sedikit lebih baik dari angka nasional yaitu
ll,lo/o (DepkesRI, 2010). Kasus BBLR di
Kabupaten Lampung Tengah tahun 2009
sebesar3t,03Yo (18 kasus) @inas Kesehatan
KabupatenLampungTengah,2010),sedangkan
di KabupatenLampung Timur, BBLR sebesar
31 kasus (29,5%) pada tahun 2009 (Dinas
KesehatanKabrrpatenLampung Timur, 2010).
Kasus BBLR di Lampung Tengah dan
LampungTimur lebih rendahdmi kasusBBLR
di Kota Metro. Kasus kematian BBLR dalam
tiga tahun terakhir yaitu tahun 2008-2010
merupakanpenyebabterbesarkasus kematian
bayi di Kota Metro, yaitu pada tahun 2008
sebesar54Vo,padatahun 2009 sebesar37,9o/o
dan padatahun2010 sebesar67% (Dinkes Kota
Metro,20ll).
Komplikasi langsungyang dapatterjadi
pada BBLR antara lain: hipotermi4
hipoglikemia, gangguancairan dan elekholig
hiperbilirubinemi4 sindromagawatnafas,paten
duktus arteriosus, Infeksi,
perdarahan
intraventrikule4 apnea of prematurity, anemia
I

lnfaventrikuler, olmea of prematurity, anemia


(DepkasRI, 1993).
Berbagai faktor PenYebab BBLR
menurutManuaba(1998),yaitu faltor ibu (gizi
kurang saat hamil, anemi4 umur ibu kurang
darr 20 tahun atau lebih dari 35 tahun' jarak
hamil dan bersalin terlalu dekat, penyakit
menahunibu, faktor pekerjayang terlalu berat),
faktor kehamilan (hamil dengan hidramnion,
ganda, perdarahan antepartum,
hamil
komplikasi hamil), faktor janin (cacat bawaan,
infeksi dalam rahim). Menurut Depkes RI
(1993), faktor ibu BBLR (trauma fisik dan
psikologik,riwayat abortussebelumnya'nefritis
akut, diabetes melitus, paritas lebih dari 4,
pendidikan ibu, ibu yang perokok, peminum
alkohol, pecandunarkotik), faktor lingkungan
(tempattinggal di datarantinggi, radiasi, rat'zat
racun).
Preeklampsiaberperandalam kematian
perinatal.
mortalitas
dan
intra'uterin
Preeklampsia merupakan salah satu faktor
risiko terjadinya pertumbuhan janin yang
lambat, BBL& dismaturitasdan prematuritas
janin dan bahkan terjadi intra uterine fetal
(ruf'P).
Ibu Yang menderita
death
preeklampsia akan mengalami disfungsi
vaskuler plasenta, yang dapat menyebabkan
aliran darah ke plasenta terganggu, sehin8a
kebutuhanjanin akan nutrisi dan oksigentidak
terpenuhi secara optimal. Keadaan tersebut
mengakibatkanpertumbuhanjanin terlambat
(Prawirohardjo, 1992).
Penelitian yang dilakukan oleh
Wahyuni (2005) menurfukkan bahwa terdapat
hubungan'antarapreeklampsiaberat pada ibu
hamil terhadapkejadianbayi berat lahir rendah
CF0,045). Demikian pula kosimpulan hasil
penelitian Kumiawati (2010), ada hubmgan
yang signifikan antara preeklampsia dengan
kelahiran berat bayi lahir. Menurut penelitian
Abbas dan Abas, Dessyani terdapathubungan
antarapreeklampsia/eklampsiadenganBBLR
di RSUD Dr. Moewardi SurakartaTahun2010.
Berdasarkanhasil penelitian-penelitiantersebut
menunjuKan bahwa preeklampsiamerupakan
faktor risiko terjadinyakelahiranBBLRBerdasarkan Pra survey di RSUD
Jendral Ahmad Yani Kota Mefo, terjadi
peningkatanangkakejadianBBL& padatahun
2009yaitu 20,06yo,meningkatmenjadi23,62yo
(2010), serta terjadi peningkatan kejadian
preeklampsiu pab tahun 2009 terdapat 88
kasus preeklampsia (l l,l l9'o) mengalami
peningkatanpada tahun 2010 sebanyak108
kasus(13,92%) (RSUD JendralAhmad Yani

Metro, 2010). Penelitianini untuk mengetahui


dalamkehamilan
hubunganantarapreeklampsia
pada
ibu post partum
BBLR
dangankejadian
denganmengontrolvariabel anemia,usia ibu,
jarak penalinan, paritas,pendidikan,pekerjaan,
kehamilan prematur, dan riwayat abortus di
RSUD JendralAhmad Yani Kota Metro tahun

20tr.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian
analitik observasional dengan desain cose
control studi. Besar sampel dihitung menurut
Lameshow(1997)yaitu:
l^

v.,lw\-ry)FaFu-ry)'4{Ery}
ff-ryl

Berdasarkanpenelitian terdahulu (Sistiarani C'


200S) dengan OR=2,91, P1=0,608 dan
P24,347 didapatkanjumlah sampelminimum
jumlah kasus
kasussebanyakTl.Perbandingan
dan kontrol ditentukanI : l. Sampelpenelitian
ini melibatkan sebanyak93 kasusBBLR yang
memenuhi syarat di RSUD Jendral Ahmad
Yani kota Metro, sehinggajumlah kontrol yang
dijadikan sampel93 tidak BBLR yang diambil
menggunakan teknik systematic rotdom
sampling.
Analisis dilakukan sec:ra bertahap
meliputi analisis univariat, bivariat, analisis
multivariat dilakukan dengn analisis regresi
toglstik gandamenggunakanpemodelanfaktor
risiko untuk mengestimasi secara valid
hubungansafu variabel utama denganvariabel
dependendenganmengontrolbeberapavariabel
comfomding.
Tahapan analisis multivariat adalah
sebagaiberikut :
a) Mempersiapkan masing-masing kandidat
variabel cotmfounding dan interaksi dari
hasil uji bivariat yang mempunyainilai p <
4,25;
b) Melakukanpemodelanlengkap;
c) Melakukan penilaian interaksi, dengancara
mengeluarkart variabel interaksi yang p
value-nya tidak signifikan dikeluarkan dari
model secaraberurutansatu per satu dari p
valueyangterbesar,
coutfotmding,
penilaian
d) Melakukan
yang terdiri
akhir,
penyusunan model
variabel
utamao
variabel
dari
bila
interaksi
variabel
counfounding dan
ada (Hastono,2007).
a

JumalKesehatanMetro Sai WawaiVolume VI No.2 Edisi Desember

HASIL
Tabel1
Kovariat denganKejadianBBLR
dan
Variabel
HubunganPreeklampsia
BBLR
Kasus(%) Kontrol (%)
7S
45,2
Preeklampsia
92,5
54,8
Tidak Preeklamsi
58,1
59,1
Anemia
41,9
40,9
Tidak anemia
25,8
38,7
Usia ibu berisiko
74,2
61,3
Usia ibu purangberisiko
24,4
21,5
Jarakpersalinanberisiko
79,6
78,5
kurang
Jarak persalinan
berisiko
15,1
5,4
Paritasberisiko
84,9
94,6
Kurangborisiko
65,6
32,3
Pendidikanrendah
34,4
67,7
Pendidikantinggi
26,9
I 1,8
Bekerja
73,1
88,2
Tidak bekerja
41,9
25,8
Kehamilanprematur
58,1
74,2
Aterm
12,9
29,0
Riwayat abortus
g7,r
7r,o
Tidak abortus
FaktorRisiko

Tabr,\2
Preeklampsia
Akhir
Hubungan
Model
KehamilandenganKejadianBBLR
Variabel Nilai n
Preeklanpsia 0,000
Riwayat
0,181
Abortus
Paritas
0,001
Pendidikan
0,000

OR

95e/oCl

t2,693 4,593-35,076
1,987 0,726-5434
0,082
5,204

0,020-0,341
2,501-10,825

PEMBAHASAIq
Preeklampsia
Padakelompok BBLR sebesar45,2o/o
dilahirkan dari ibu dengan preeklampsiadan
terdapat7,5oAtidak BBLR dilahirkan dari ibu
denganpreeklampsia.Hubunganpreeklampsia
dalamkehamilandengankejadianBBLR secira
statistik menunjukkan signifikan (p=0,000)
dengan OR=10,118 (95% Cl:4,231-24,196),
artinya bahwa kemungkinanrisiko melahirkan
BBLR pada responden dengan preeklampsia
pada
adalah10,12kali lebihbesardibandingkan
respondenyangtidak preeklampsia.
Penelitianini sejalandenganpenelitian
yang dilakukan oleh Kurniawati, yang
menyimpulkanadahubunganyang signifikan

OR
Nilai P

o,ooo $,2]l)f;;qat

o'ooo<o,r]l!r'irru>
1'ooo ra,sffl,t,,>
0,084

1,000
0,053
0,000
0,016
/\ n.,n
o'o3o

1,816
(0,973-3,390)

r,067
(4,527-2,162)
0,321
(0,1l0- 0,930)
4,003
(2,175-7,367)
0,365
(0"16- 0,795)
41482

(0,2590,s96)

antarapreeklampsiadengankelahiranBBLR di
RSUD Sragentahun 2010, Peluangterjadinya
kelahiranBBLR lebih tinggi 3,25 kali daripada
tanpa preeklampsia. Juga sejalan dengan
penolitian yang dilakukan oleh Wahyuni dklq
statistik tentang hubungan
hasil uji
preeklampsiaberat pada ibu hamil terhadap
BBLR di RSUP Dr. Sardjito Yoryakarta
periode tahun 2005 yang menunjukkanbahwa
terdapat hubungan antara preeklampsiaberat
padaibu hamil terhadapkejadianBBLR.
Pada model akhir terdapat 3 variabel
cotmfounderdengannilai OR:12,693(95YoCI:
4,593-35,076, artinya bahwa ibu dengan
preeklampsia dalam kehamilan kemungkinan
berisiko 12,693 kali lebih besar untuk
melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu
yang tidak preklampsia setelah dikontrol
variabel pndidikan, riwayat abortus, dan
paritas.
Vasospasmemenyebabkantedadinya
konstriksi vaskular pada berbagai organ
tennasuk plasenta. Resistensi aliran darah
karena konsffiksi vaskular akan menyebabkan
hipertensi arterial pada plasenta.Menurunnya
aliran darah ke plasenta menyebabkan
gangguan fungsi plasenta sehingga terjadi
gangguan pertumbuhan janin (Cunningham,
2005). Dengan memrrunnya aliran dmah ke

,Snif

""r""-irg"rlrr

plasenta mengakibatkan gangguan fungsi


plasenta" sedangkan fungsi plasenta adalah
untuk menyalurkanasupanoksigen dan asupan
gizi dari ibu ke jani". Jika asupan gizi dan
asupan oksigen bagi janin terganggu maka
dapat mengakibatkangangguan pertumbuhan
junin sehingga berat badan janin yang
dilahirkan rendah. Preeklampsia juga dapat
menaikkantonus uterusdan kepekaanterhadap
rangsangansehinggaterjadi partus prematurus
(Wiknjosastro,2005).
Anemia
58,lYo
Pada kelompok BBLR,
dilahirkan dari ibu yang mengalami anemia,
sedangkanpada kelompok tidak BBLR 59,Iyo
dilahirkan dari ibu yang anemia. Hastl ufi
statistik bivariat (nilai p:1,000) menunjukkan
bahwa hubungan antara anemia dengan
kejadian BBLR tidak signifikan secara
statitistik. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Islamiyati, dkk
(2010) yang menyimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan antara anemia ibu hamil
dengankejadianBBLR (1F0,148).
Zat mikronutrien (selain seng folat,
tembaga,vitamirr A, vitamin E serta zat besi)
sepertiglukosadan asamamino merupakanzat
mempengaruhi
dorninan yang
nutrisi
glukosa
jattin.
suplai
Dengan
pertumbuhan
yang baik akan meningkatkan insulin yang
memberikan dampak pada IGF-2 sehingga
meningkatkaninvasi hofoblast, meningkatkan
ukuran plasenta,meningkatkannutisi plasenta
ke janin sehinggameningkatkanpertumbuhan
janin yang normal sesuai usia kehamilan
(Charles,2007 dalam Islamiyati dklq 2010).
Glukosa diperoleh banyak dari karbohidrat
protein dan lemak,maka konsumsikarbohidrat,
protein serta lemak yang cukup mampu
dalam
menuqiang pertumbuhau janin
kekurangan
kandungan.Dapat disimpulkanbila
zat besi tidak disertai dengankekuranganzat
mikronutrien seperti seng tembaga,vitamin A
dan vitamin E, rendahnya perhimbuhanbayi
dalamkandungankemungkinantidak terjadi.
Kondisi terpengaruhnyapertumbuhan
janin lebih potensial terjadi pada kondisi
anemia yang mengalami infeksi dan oleh
kondisi anemia berat karena terjadinya
mekanisme chronic ltypoxia sehingga terjadi
penurunan sirkulasi oksigen ke janin secara
signifikan (Charles,2A07dalamIslamiyati dkk,

20r0).

HubunganPreeklaqlps

Usia lbu
Respondendenganusia berisiko pada
kelompokBBLR terdapat38,7yo,lebihbanyak
dibandingkanpadakelompoktidak BBLR yaitu
25,8Yo, namun pada uji statistik tidak
menunjukkart hasil yang signifikan secara
statistik (nilai p0,084). Hasil penelitian ini
tidak dapatmendukungpenelitiansebelumnya,
yaitu penelitianyang dilakukanoleh Sistiarani
(2008)menyebutkan
bahwaibu bersalindengan
<
usiaberisiko(umur 20 tahunatau>35 tahun)
mempunyai peluang melahirkan bayi dengan
BBLR sebesar +5 kali dibandingkan ibu
bersalindenganusiatidak berisiko.
.Iarak Persalinen
Pada uji statistik jamk persalinan
dengan kejadian BBLR tidak menunjukkan
hasil yang signifikan (nilai 51,000). Hasil
penelitian ini tidak sejalan dengan ponelitian
yang dilakukan oleh Sistiarani (2008) yang
menuhjukkan bahwa jarak kelahiran berisiko
terhadapkejadianBBLR dengannilai 50,004
8)(OR=5,11, 95o/o
CI: 1,6-16,1
Paritas
Ibu yang melahirkan BBLR sebanYak
5,4o/opada ibu denganparitas beresiko. Hasil
uji statistik (nilai F0,053) menunjukkansecara
statistik hubungan paritas dengnr kejadian
BBLR tidak ada hubungan.Hasil multivariat
didapatkanhasil nilai p{,0O1, artinya ada
hubunganyang bermaknasecarastatistik antara
paritas dengan kejadian BBLR dan pada
reduksi analisis penitaiancowfonding selisih
OR yaitu 23,Myo (>lW/c) yang berarti bahwa
paritas merupakan variabel cowrfounding,
dengan OR{,08 (95'/o CI: 0,020-0,341).
Sebanyak94,6yo BBLR dilahirkan dari ibu
dengan paritas kurang berisiko, hal ini
dimungkinkan karena fbktor-faktor risiko
terjadinya BBLR sangat kompleks, bukan
hanyadipengaruhioleh faktor poitas saja
Pendidikan
Ibu yang melahirkanBBLR Padaibu
yang berpendidikanrendah lebih besar yaitu
65,6yodibandingkm ibu yang melahirkantidak
BBLR denganpendidikanrendahyain 32,3Yo.
Hasil uji bivariat huhmgan pendidikan ibu
dengankejadianBBLR sscarascatistikterbukti
signifikan (nilai p=0.000). Hasil multivariat
menunjukkan pendidikan mempakan variabel
cotmformding,denganORiJ0 (95% Cl:2,5010,82)artinya kemungliinanrisiko melahirkan
BBLR pada respodeo dengan pendidikan
4

JumalKesehatan
Metro Saiwawai yolume VI No.2 EdisiDesember201J,ISSN: lg77g46gx

dibandingkan pada responden dengan


pendidikantiogg.
Hasil penelitianini sejalandenganhasil
uji statistik penelitian yang dilakukan oleh
Apriyanti (2009) menunjukkaneda hubungan
yang bennaknaantara pendidikan ibu dengan
kejadianBBLR (p valtd,}U2).
Menurut Green dalam Notoatmodjo
(2003) pendidikan ibu menrpakan salah satu
pexguatyang mempengaruhiseseorang
lft*
berperilaku. Tingkar pendidikan merupakan
faktor yang mendasaripengambilankeputusan.
Pendidikanmenentukankemampuanmenerima
dan mengembangkan pengetahuan dan
teknologi. Semakintinggi pendidikan ibu akan
semakinmampu mengambil
bahwa
pelayanan kesehatan sehra hamil dapat
mencegahgangguansedini mungkin bagi ibu
dan janinnya. Pendidikan juga sangat erat
kaitannya dengan tiogkat pengetahuan ibu
tentang perawatankehamilan fun glzi selama
masakehamilan.
Pekerjaan
Ibu yang bekerja ll,tyo melahirkan
BBL& dan 26,9Yotidak BBLR- pada hasil uji
hubungan pekerjaan ibu dengan
!{ariat
kejadian BBLR secara saristik terbukti
signifikan (nilai p{,016) dengan OR:0,36
(95% CI: 0,1G{.,79). Hasil penelitian ini
sejalandenganpenelitianyang dilakukan oleh
Widifstuti Q009) didapertranpekerjaan ibu
mgmgunyaihubunganyang bennaknadengan
kejadianBBLR denganp valw4,03, OR:3/7.
Sebanyak882% ibu yang tidak bekerja
melahirkan BBLR, hal ini dimungkinkan
karena secara umum ibu yang bekerja akan
menunjang ekonomi ketuarg4 dibandingkan
ibu yang tidak bekerj4 dimana pada tingkat
ekonomiyang sedangatauekonomitinggi akan
mempunyai intake makanan yang lebih baik
slcara kualitas maupun socarakuantitas,yang
akanmenunjangstatusgizi baik padaibu hamil
tersgbutdibandingkan@a ibu hamil dengan
tingkat ekonomirendah.Faktor sosial ekonomi
b"rp"ran dalam meningkatkanrisiko kejadian
BBLR. Beberapa alasan diantaranya uauUn
kesulitan dalam pemenuhankebutuhan kalori
dan kebutuhanzat-zat gizi lainnya, kesulitan
dalam mendapatkanpemeriksaan kehamilan
secarateratur.
Responden yang bekerja tidak
mengalami stres yang berat dalam
melaksanakan pekerjaanny4 dan
ibu
mempunyaikesempatanuntuk istirahatdi siang
hari, dan cuti padakehamilansertapersalinan.

Juga ibu yang bekerja lebih banyak menerima


informasi tentang kesehatanbaik dari teman_
temannyamaupundari media cetak dan media
elektronik.
Kehamilan Prematur
. Hubungankehamilan premahn dengan
kejadian BBLR secara statistik terbukti
signifikan (nilai p0,030) dengan OR=0,4g2
(95% Cl: 0,2594,896). Hal ini dimunekinkan
karenasebanyak74,2yoBBLR ditahirkin pada
ibu dengankehamilanaterm,lebih banvakdari
ibu dengan kehamilan prematur yaitu zS,toto
melahirkanBBLR.
Bayi yang dilahirkan dari ibu dengan
kehamilan atenn tetapi berat lahir kurang Jari
2500 gram ini pertumbuhannyakurang untuk
masa gestasi disebut kecil untuk masa
penyebab hambatan
kehamilan (KMK).
pertumbuhan inkauterin dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor kompleks, seperti:
faktor maternal, faktor janin, dan faktor
plasenta.
Riwayat Abortus
Ibu yang mempunyai riwayat abortus
29,0V0 melahirkan bayi BBLR, sedangkan
I2,9yo tidak melahirkanbayi BBLR. Hubungan
riwayat abortusdengankejadian BBLR. secara
statistik signifikan (nilai p0,012). Kejadian
RBLR pada ibu yang mempunyai nwayat
abortusmempunyaipeluang risiko melahir{an
BBLR. 1,79 kali lebih besmdibandingkanpada
responden yang tidak mempunyai riwayat
abortus.
Menurut Saraswati, ibu hamil yang
pernahmelahirkanbayi lahir mati mempunyai
risiko sebesar 2,83 kali tebih besar untuk
melahirkan bayi BBLR dibanding ibu yang
tidak pernahmelahirkanbayi lahir mati,lugi
menemukanbahwaibu yang pernahmengalami
keguguran mempunyai risiko 3,09 kati tebitr
besar untuk melahirkan bayi BBLR
dibandingkan dengan ibu yang tidak pernah
mengalarnikeguguran(Simarmata,20I 0).
SIMPULAI\I
l. Variabel yang berhubuugandengankejadian
BBLR adalah preeklampsia, pendidikan,
pekerjaan,kehamilanprematur,dan riwayat
abortus.
2. Ibu
hamil
dengan preeklampsia
kemungkinanberisiko 12,69kali lebih besar
untuk melahirkanbayi BBLR dibandingkan
ibu hamil yang tidak preeklampsiasetelah

Sri Lestariningsl1, Hubmgan Preeklampsia Kehamilan dengan Kejadian BBLR

dikontrol variabel pendidikan, riwayat


abortusdanparitas.
SARAN
Melaksanakanpral<tek antenatal yang
bermanfaat: Sedikifirya harus 4 kali datang
memperhatikan
berkunjung
dengan
kelengkapan pelayanan antenatal dengan
standarpelayanan " | 4T" .
Segera melakukan pengawasan dan
penangananibu hamil dengan preeklampsia
secara tepat, dengan meningkatkan upaya
sistem rujukan medis dengan menjalin
kerjasamadan komunikasi melalui puskesmas
danklinik bersalin
Memberikan informasi tentang faktorfaLtor risiko BBLR pada ibu hamil melalui
konselingmaupunmediasepertileaflet, poster.
Cara',',penyampaian pesan-pesan
kesehatan perlu mempertimbangkantingkat
pendidikanibu hamil, denganmemakaibahasa
yang sederhanaatau dengan menterjemahkan
ke bahasadae,rahagarlebih mudahdimengerti.
DAFTARPUSTAKA
Abbas, DessyaniH. 2010, Hubtngan antffia
preeHampsia/eHampsiadengan BBLR
RSUD
dr.
Moewardi
di
Surakorta.Skripsi thesis, Universitas
Muhammadiyah
Surakar.ta.http
://etd.eprints.ums.ac.idl
Apriyanti. 2009. Hubungatrantara Pendidikan
dan Ibu Bersalin dengan Kejadian
BBLR Di RSUP Dr. Mohammad
HoesinPalembang
Badan Pusat Statistik (BPS). &rmei Sosial
Ekonomi Nasional (SUSENA$ 2A08.
Jalorta
Cunningham, G.F., et.al. 2005, Obstetri
Williams.EGC,Jakarta
Depkes. R.I. 2008. Pedoman Umum
Pertolongon Persalinan Noraal.
DepartemenKesehatanRI, Jakarta
Depkes R.I. 2000. Program Perbaikan Gizi
Menuju Indonesia Sehat 2010.
Direktorat Bina Gm Masyarakag
DepartemenKesehatanR[, Jakarta.
DepkesRI.2010. Hasil RisetKesehatanDasw
(RISKESDAS)
2010 Ptovinsi Lampung
Depkes. R.I. 1993. Asuhan KesehatanAnak
dqlam KonteksKehnrga. Pusdiknakes.
Jakarta
Dinas Kesehatan Lampung Tengah. 24rc.
Profil KesehatanKabupatenLampung
TengahTahun2009

Dinas KesehatanLampungTimur. 2010.hofil


KesehatanKabupatenLampungTimur
Tahun2009
Dinas KesehatanKota Metro, 2011. Profil
Kesehatan
Kota Metro,20l0
Islamiyati, dkk. 2010. HubunganAnemio lbu
Hamil denganBayi Berat Lahir Rendah
Di KabupatenLamptmg Tengah Tahtm
Poltekkes
Kemenkes
2010.
Tanjungkarang
Ivones,J.2012. Pengalamanibu denganbryi
BBLR yqng dirowat di inkubAor.
http:|/ nefne.wordpress.coml20| 2/ A2| 0
2/
Kurniawati. 2010. Hubungm Pre Eklampsia
dengan kelahirm Berat Bayi Lahir
Rendqh (BBLR) di RSUD Sragen.
httpl/digilib.uns.ac.idl
Lemeshow,S.et.al. 1997.BesarSampelDalam
Penelitisn Kesehaun. UGM
Manuaba,I.B.G., et.al. 1998.PengantorKulioh
Obstetri.EGC,Jakarta
Notoatmodjo- 2003. Pendidikan don Perilaku
Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta
Jakarta
Prawirohardjo,S. 1992.Ilmu Kebidanan YBpSPJakarta
RSIID Jend Ahmad Yani. 2010. Laporan lbu
Bersalin tahun2010.Kota Metro
Kualitas
Simarmata. 2010. Hubmgan
Antenatol
terhadap
Peloyman
Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di
Indonesia (Analisis Data Sekunder
Surttei Demografi Dot Kesehaton
IndonesiaTahun2047). TesisFKM UI.
Depok
Sistiarani C, 2008. Fahor Maternal dsn
Kualitas Pelayanan Antenatal Yang
Berisiko Terhadap Kejadian Berat
Badcm Lahir Rendah (BBLR) Studi
Pada ibu Yang Periksa Hamil Ke
TenagaKesehatanDan Melahirkot Di
RSUD
Banyumas.
ac.
idl
http:// ept'nts.undip.
Wahyuni, dkk. 2005. Hubungan PreeHampsia
Berat pada Ibu Hamil terhadap
Kejadian BBLR di RSUPDr. Sardjito
Yognkarta
Wikr{osastro, H. dkk. 2445. Ilmu Kebidsnan.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.Jakarta
Widiyastuti P. 2009. FaMor-Faktor RisikoIbu
Hamil yang Berhubungan dengan
Kejadian BBLR Studi Kasusdi Wilayah
Kerja PuskesmasAmpel I Boyolali
llib.unnes.ac
.idl 59A7
/
Tahm 2008.hl/..ry;l
6