Anda di halaman 1dari 22

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH

(IMT) DENGAN USIA MENARCHE PADA


REMAJA PUTRI
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN USIA MENARCHE PADA
REMAJA PUTRI KELAS Vll DI SMPN 12 KOTA BATAM
TAHUN 2012

SKRIPSI

Oleh
DEWI PRASTIKA
NPM 51108071
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BATAM
2012
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Remaja adalah masa peralihan dari anak menuju ke dewasa dimana terjadi perubahan fisik,
mental, dan emosional, yang sangat cepat (Proverawati, 2009). Monks (2000) memberi
batasan usia remaja, yaitu 12-21 tahun. Menurut Stanley hall, usia remaja berada pada
rentang 12-23 tahun. Menurut WHO batasan usia remaja yaitu antara umur 10-19 tahun. Di
Indonesia, remaja usia 10-19 tahun. berjumlah sekitar 43 jiwa atau 19,61% dari jumlah
penduduk (departemen kesehatan RI, 2006). Sedangkan untuk remaja usia 10-19 tahun
(WHO, 2007), Berjumlah 44 juta atau 21%. Pada tahun 2008, jumlah remaja di Indonesia
mencapai 62 juta jiwa (IDAI, 2010)

Pubertas berlangsung kurang lebih selama 4 tahun. Kejadian yang penting pada pubertas
ialah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri kelamin sekunder, menarche, dan
perubahan psikis (Sarwono, 2009).
Menarche mulai terjadi lebih cepat sekitar masa revolusi industri, dimana pada masa
tersebut standar kehidupan dan kemajuan ilmu kesehatan sedang mengalami peningkatan.
Dengan kata lain, faktor yang mempengaruhi pubertas meliputi mutu makan, kesehatan
bawaan dan masa tubuh (santrock, 2003).
Menarche adalah suatu permulaan masa menstruasi (Dorland, 2002). Usia gadis remaja
pada waktu pertana kalinya mendapatkan haid (menarche) bervariasai lebar, yaitu antara
10-16 tahun tapi rata-rata 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche
dipengaruhi oleh faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum. Semmelweiis
menyatakan bahwa 100 tahun yang lampau usia gadis-gadis Vienna pada waktu menarche
berkisar antara 15-19 tahun. Menurut brown menurutnya waktu usia menarche itu sekarang
disebabkan oleh keadaan gizi dan kesehatan umum yang membaik, dan berkurangnya
penyakit menahun. Menarche terjadi ditengah-tengah masa pubertas, yaitu masa peralihan
dari anak-anak kedewasa (Wiknjosastro, 2009).
Studi epidemiologis mengungkapkan fenomena yang menunjukan fakta bahwa usia menarche
mengkin mencerminkan gizi yang lebih baik dan membaiknya kesehatan umum (Nelson,
2000) sekitar tahun 1980, usia menarche remaja putri di Eropa adalah sekitar 16-18 tahun,
sementara pada tahun 2002 didapati usia menarche sekitar 12,5-13,5 tahun (Institut
National Detudes Demographiques, 2003). Demikian pula di Indonesia, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia melaporkan terjadinya penurunan usia menarche di
Indonesia. Nelson tahun 2000 menyatakan hal ini disebabkan status gizi yang lebih baik dan
membaiknya kesehatan umum.
Dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Yosia (2009) dengan judul IMT terhadap usia
menarche, di SMPN 2 Tanjung Morawa Sumatra Utara dengan hasil rata-rata usia
menarche 12,7 tahun, rata-rata tinggi badan 1.417 meter, rata berat badan 40.50 kg dan
IMTnya 20.86 kg/m2 (http://www.bascommetro.com)

Dari penelitian yang dilakukan oleh Muara (2011), diketahui hasil usia remaja putrid di
Kecamatan Secanggang,Kabupaten Langkat. Hasil penelitian menunjukan rata-rata usia
remaja putri 12,7 tahun, rata-rata tinggi badan 149 cm, rata-rata berat badan 42,9 kg dan
IMT 19,3 kg/m2 (http://repository.usu.ac.id)
Jadi, kesimpulannya dari penelian terdahulu diatas hubungan indeks massa tubuh (IMT)
dengan usia menarche sangat erat. Nutrisi mempengaruhi kematangan seksual pada gadis
yang mendapat menstruasi pertama lebih dini, mereka cenderung lebih berat dan lebih tinggi
pada saat menstruasi pada usia yang sama. Sebaliknya pada gadis yang mentrusinya
terlambat, beratnya lebih ringan dari pada yang sudah mentruasi pada usia yang sama,
walaupun tinggi badan (TB) mereka sama. Pada umumnya, mereka menjadi lebih matang
lebih dini akan memiliki body mass index (indeks massa tubuh, IMT) yang lebih tinggi dan
mereka yang matang terlambat memiliki IMT lebih kecil pada usia yang sama (Seotjiningsih,
2004)
Ada banyak hal yang mempengaruhi usia menarche, diantaranya: status gizi, pola makan,
status ekonomi keluarga, dan aktivitas olahraga. Status gizi dapat diinterpretasikan dari
Indeks Massa Tubuh (IMT) seseorang. IMT ditentukan oleh berat badan dan tinggi badan.
Berat badan sangat mempengaruhi status gizi dalam kaitanya terhadap usia menarche.di
Sumatra utara, prevalensi remaja putri usia 6-14 tahun dengan berat kurang yaitu 9,7% dan
Berat Badan lebih 11,8% (profil kesehatan Indonesia,2008). Hal ini disebabkan oleh
adanya adypocyte-derived hormone leptin yang berasal dari lemak tubuh yang diduga dapat
mempengaruhi masa awal pubertas. Peningkatan kadar LH. Penigkatan LH berhubungan
dengan peningkatan estradiol dan awal menarche (Edward,2007). Jadi penurunan usia
menarche berkaitan dengan meningkatnya berat badan.
Menurut Anurogo (2011) Usia menarche terlalu dini dapat menjadi faktor resiko terjadinya
dismenorea primer. Sedangkan menurut Santrock (2003) remaja yang tidak siap dan yang
mengalami menarche terlalu dini cenderung menunjukan lebih banyak reaksi negatif.
Penurunan usia menarche akan menyebabkan peningkatan resiko terjadinya kelainan
kardiovaskular (Lakshman, 2009), kanker ovarium dan kanker payudara (Susan, 2005) dan
peningkatan gejala depresif (Joinson, 2009).

Di SMPN 12 Kota Batam jumlah keseluruhan murid perempuan kelas 1 adalah 131 orang.
Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan di bulan April di SMPN 12 kota batam dari 12
siswi, 3 siswi diantaranya mendapatkan haid pertama pada umur 10 tahun, 6 siswi
mendapatkan haid pertama pada umur 12 tahun dan 3 siswi mendapatkan haid pertama
pada umur 13 tahun, jadi berdasarkan hasil survey rata-rata umur menarche pada siswi
kelas 1 yaitu 10-13 tahun.
Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui
hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putri kelas I di
SMPN 12 Kota Batam.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apakah ada hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putri
kelas I di SMPN 12 Kota Batam ?

1.3
1.3.1

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada
remaja putri kelas I di SMPN 12 Kota Batam.

1.3.2

Tujaun Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui usia menarche pada remaja putri di SMPN 12 Kota Batam.
1.3.2.2 Untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT) pada remaja putri di SMPN 12 Kota Batam
1.3.2.3 Untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada
remaja putri kelas I di SMPN 12 Kota Batam.
1.4
1.4.1

Manfaat Penelitian
Bagi bidang akademik
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang endokrinologi, khususnya tentang
hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putri.

1.4.2

Bagi masyarakat umum


Sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi bagi masyarakat tentang sejauh mana gizi
dapat mempengaruhi usia menarchepada remaja putri.

1.4.3

Bagi bidang pelayanan masyarakat


Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan khususnya peran penelitian IMT dan
usia menarche dalam menentukan derajat kesehatan remaja di Indonesia.

1.4.4

Bagi penelitian lebih lanjut


Sebagai masukan kepada pihak yang memerlukan untuk melakukan peneliatian lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1
2.1.1

Menarche
Pengertian Menarche
Menarche adalah suatu permulaan masa menstruasi (Dorland, 2002). Menarche adalah haid
yang pertama terjadi, yang merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita yang sehat dan
tidak hamil. (Paath, dkk, 2004). Menarche adalah menstruasi yang alami pertama kali oleh
seorang perempuan (bobak, 2004) menarche merupakan suatu tanda bagi wanita yang
menunjukakan terdapatnya produksi hormon yang normal yang dibuat oleh hipotalamus dan
kemudian diteruskan pada ovarium dan uterus (proverawati, 2009). Menarche adalah
pendarahan pertama dari uterus yang terjadi pada seorang wanita (wiknjosastro, 2009)

2.1.2

Karakteristik Usia menarche


Usia remaja yang mendapatkan menarche bervariasi yaitu : antara usia 10-16 tahun, tetapi
rata-rata 12,5 tahun (wiknjosastro, 2009). Menurut soetjiningsih, (2004) rata-rata usia

menarche yaitu 10,5-15,5 tahun. Usia menarche adalah menstruasi pertama yang biasanya
terjadi pada perempuan umur 12-13 tahun dengan rentang umur 10-16 tahun. Dalam
keadaan normal menarche diawali dengan periode pematangan yang dapat memakan waktu
2 tahun (yanto kadarusman 2003). Menarche merupakan tanda diawalinya masa pubertas
pada perempuan. (waryana, 2010).
2.1.3

Macam-macam menarche
Menurut wiknjosastro (2009) macam-macam menarche ada 2 yaitu :

a.

Menarche prekoks
Menarche prekoks yaitu sudah ada haid sebelum umur 10 tahun

b. Menarche tarda
Menarche tarda yaitu menarche yang baru datang umur 14-16 tahun
2.1.4

Faktor-faktor yang mempengaruhi usia menarche


Menurut wiknjosastro (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 yaitu
sebagai berikut:

a.

Faktor keturunan
Saat timbulnya menarche juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga. Hubungan
antra usia menarche sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak
perempuannya.

b. Keadaan gizi
Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak
perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche dari
pada anak nyang kurus.
c.

Kesehatan umum
Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis seperti penyakit kronis,
terutama yang mempengaruhi masukkan makanan dan oksigenasi jaringan dapat
memperlambat menarche. Demikian pila obat-obatan.
Menurut proverawati (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi menarche adalah:

a.

Aspek psikologi yang menyatakan bahwa menarche merupakan bagian dari masa pubertas.
Menarche merupakan suatu proses yang melibatkan sistem anatomi dan fisiologi dari proses
pubertas yaitu sebagai berikut:

Disekresikan estrogen oleh ovarium yang distribusiakn oleh hormone ptuitari.

Estrogen menstimulasikan pertumbuhan uterus

Fluktusi tingkat hormone yang dapat menghasilkan perubahan suplai darah yang adekuat
kebagian endometrium

Kematian beberapa jaringan endometrium dari hormone ini adanya peningkatan fluktusai
suplai darah ke desidua.

b. Menarche dan kesuburan


Pada sebagaian besar wanita, menarche bukanlah sebagai tanda terjadinya ovulasi. Sebuah
penelitian di amerika menyatakan bahwa interval rata-rata antara menarche dan ovulasi
terjadi beberapa bulan. Secara tidak teratur menstruasi terjadi selama 1-2 tahun sebelum
terjadinya ovulasi yang teratur. Adanya ovulasi yang teratur menandakan interval yang
konsisten dari lamanya mens dan perkiraan waktu datangnya kembali dan untuk mengukur
tingkat kesuburan seorang wanita.
c.

Pengaruh waktu terjadinya menarche


Menarche biasanya terjadi sekitar dua tahun setelah perkembangan payudara. Namun akhirakhir ini menarche terjadi pada usia yang lebih muda dan tergantung dari pertumbuhan
individu tersebut, diet, dan tingkat kesehatannya.

d. Menarche dan lingkungan sosial


Menurut sebuah penelitian menyatakan bahwa lingkungan sosial berpengaruh terhadap
waktu terjadinya menarche. Salah satunya yaitu lingkungan keluarga yang harmonis dan
adanya keluarga besar yang baik memperlambat terdainya menarche dini sedangkan anak
yang tinggal di tengah-tengah keluarga yang tidak harmonis dapat mengakibatkan
terjadinya menarche dini. Selain itu ketidakhadiran seorang ayah ketika ia masih kecil,
adanya tindakan seksual pada anak dan adanya konflik dalam keluarga merupakan faktor
yang berperan penting pada terjadinya menarche dini. Beberapa aspek struktur dan fungsi
keluarga berpengaruh terhadap kejadian menarche dini yaitu sebagai berikut:
-

Ketidakhadiran seorang ayah ketika ia masih kecil

Kekerasan seksual pada anak

Adanya konflik dalam keluarga

Struktur dan fungsi keluarga juga berpengaruh terhadap terjadinya pubertas yang lambat
yaitu adanya keluarga besar, hubungan yang positif dalam keluarga serta adanya dukungan
dan tingkat stress yang rendah dalam lingkungan keluarga.
e.

Umur menarche dan status ekonomui


Menarche terlambat terjadi pada kelompok sosial ekonomi sedang sampai tinggi yang
memiliki selisih sekitar 12 bulan. Hal ini telah diteliti di India berdasarkan pendapatan
perkapita. Orang yang berasal dari keluarga yang biasa mengalami menarche lebih dini.
Namun setelah diteliti lebih lanjut asupan protein lebih berpengaruh terhadap kejadian
menarche yang lebih awal. Bagaimanapun penelitian alin yaotu padmavati menyatakan
bahawa wanita yang vegetarian kejadian menarchenya lebih lama. Orang yang nonvegetarian menarchenya 6 bulan lebih awal dari pada yang vegetarian. Kralj-cgercek
menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara kejadian menopause dengan dietnonvegetarian.

f.

Basal metabolik indeks dan kejadian menarche


Hasil penelitian menunjukan bahwa wanita yang mengalami menarche dini (9-11 tahun)
mempunyai berat badan maksimum 46 kg. kelompok yang memiliki berat badan 37 kg
mengalami menarche yang terlambat yaitu sekitar 4,5 kg lebih rendah dari kelompok yang
memiliki berat badan yang ideal.
Menarche merupakan tanda berfungsinya organ reproduksi dan sistem endokrin yang akan
bermanifestasi pada polikistikovarian syndrome dan resiko kanker payudara. Beberapa
penelitian membuktikan bahwa berat badan sewaktu lahir dan berat badan yang overweight
dapat menentukan usia terjadinya menarche. Meskipun mekanisme terjadinya jarang
dipahami oleh semua orang. BMI merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
terjadinya menarche dan hal ini telah terbukti bahwa berhubungan dengan pertumbuhan
postnatal dan kejadian peningkatan resiko penyakit DM, hipertensi dan penyakit jantung.
Selanjutnya BBLR dan menarche dini merupakan faktor resiko terjadinya intoleransi glukosa
pada wanita yang mengalami syndrome polikistik ovarium.

2.2

Remaja Putri

2.2.1

Pengertian Remaja
Remaja adalah masa peraliahan dari anak menuju dewasa dimana terjadi pertumbuhan
fisik, mental emosional yang sangat cepat. Menurut WHO batasan usia remaja yaitu antara
umur 10-16 tahun (Proverawati dkk, 2009)

2.2.2

Tahap Operasional Remaja


Tahap remaja ini anak sudak mulai berfikir abstrak dan hipotesis artinya anak sudah mampu
memikirkan sesuatu yang akan atau mungin terjadi. Disamping itu remaja juga sudah
mampu berfikir secara sistematik, mampu memikirkan semua kemungkinan untuk
memecahkan masalah (Poltekkes Depkes Jakarta I, 2010).
Perkembangan kognitif berdasarkan tahapan perkembangan remaja diantaranya sebagai
berikut :

a.

Remaja Awal (10-13 tahun)


Pada tahapan ini, remaja mulai berfokus pada pengambilan keputusan, baik didalam rumah
maupun sekolah. Remaja mulai menunjukkan cara brfikir logis dan mulai menggunakan
istilah-istilah sendiri dan mempunyai pandangan seperti memilih kelompok bergaul, pribadi
seperti yang diinginkan dan mengenal cara untuk berpenampilan menarik.

b. Remaja Menengah ( 14-16 tahun)


Pada tahapan ini terjadi peningkatan interaksi dengan sekelompok, sehingga tidak selalu
tergantung pada keluarga. Dengan menggunakan pengalaman dan pemikiran yang lebih
kompleks. Pada tahap ini juga remaja sering mengajukan pertanyaan, menganalisis secara
lebih menyeluruh dan berfikiran tentang bagaimana mengembangan identitas diri dan
remaja juga mulai mempertimbangkan kemungkinan masa depan, tujuan dan membuat
rencana sendiri.
c.

Remaja Akhir (17-19 tahun)


Pada tahap ini remaja lebih berkonsentrasi pada rencana yang akan datang dan
meningkatkan pergaulan. Selama masa remaja akhir, proses berfikir secara komplek
digunakan untuk memfokuskan diri dari masalah-masalah idealisme, keputusan untuk karier
serta peran orang dewasa dalam masyarakat.

2.2.3

Perubahan Fisik Remaja Putri


Menurut Al-Mighwar (2006) sepanjang masa remaja terjadi perubahan-perubahan fisik,
diantaranya adalah :

a.

Perubahan Ukuran Tubuh


Perubahan tinggi dan berat badan merupakan perubahan fisik yang mendasar pada remaja.
Peningkatan berat tubuh bukan hanya disebabkan lemak, tetapi juga semakin bertambahnya
berat tulang dan jaringan otot. Pada anak perempuan, peningkatan berat tubuh yang paling
besar terjadi sesaat sebelum dan sesudah haid. Pada awal terjadinya pertumbuhan pesat,
lemak cenderung menumpuk di sekitar perut, putting susu, pinggul, paha, pipi dan leher.
Biasanya lemak itu akan hilang dengan sendirinya pada saat akhir masa puber dan pesatnya
pertumbuhan tinggi badan.

b. Perubahan Bentuk Tubuh


Perubahan bentuk tubuh merupakan perubahan fisik mendasar yang kedua. Semua bagian
tubuh akan mencapai ukuran dewasa walaupun perubahannya terjadi sebelum akhir masa
remaja. Bagian bahu dan punggung semakin melebar, pinggang tampak tinggi karena kaki
menjadi lebih panjang.
c.

Perubahan Ciri-Ciri Seks

1) Seks Primer
Pertumbuhan dan perkembangan cirri-ciri seks primer yaitu organ-organ seks. Organ-organ
reproduksi wanita tumbuh selama masa puber dan remaja. Berat uterus anak umur 12 tahun
berkisar 5,3 gram, sedangkan anak pada usia 16 tahun mencapai rata-rata 43 gram. Pada
saat itu tuba fallopi, telur-telur dan vagina juga tumbuh dengan pesat. Mekanisme
reproduksi anak perempuan di anggaap matang apabila telah mendapatkan haid.
2) Seks Sekunder
Pada dasarnya cirri seks ini tidak berkaitan langsung dengan reproduksi, melainkan
meuncul tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.
Ciri-ciri seks sekunder pada perempuan antara lain:
-

Pinggul membesar sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak
di bawah kulit.

Payudara dan putting susu semakin tampak menonjol dan dengan berkembangnya kelenjar
susu, payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat lagi.

Tumbuhnya rambut dikemaluan dan di ketiak.

Kulit menjadi lebih kasar, lebih tebal dan lubang pori-pori bertambah besar.

Kelenjar keringat lebih aktif.

Otot semakin kuat dan semakin besar.

2.3

Indeks Massa Tubuh (IMT)


Pengukuran antropologi yang meliputi berat badan, tinggi badan dan body mass index
(BMI) atau indeks massa tubuh (IMT) merupakan indikator didalam mengukur status gizi
yang secara tidak langsung dapat menentukan besar koposisi tubuh dengan status gizi
tertentu.

2.3.1

Berat badan
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa
tunuh sangat sensitive terhadap perubahan-perubahan yang mendadak, misalnya karena
penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan yang di
konsumsi. Berat badan adalah paremater antropologi yang sangat labil. Dalam keadaan
normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan
zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang megikuti pertambahan umur. Sebaliknya
dalam keadaan abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu dapat
berkembang cepat/lebih lambat dari keadaan normal (supriasa, 2002)

2.3.2

Tinggi badan
Frisch and revelle (1970, 1971) dalam penelitiannya menggambarkan bahwa ada
keterkaitan antara usia menarche remaja putri dengan tinggi badan. Disimpulkan bahwa
kecepatan pertumbuhan tumbuhan mempengaruhi pubertas dan akhirnya menarche; remaja
putri yang usia pubertasnya lebih cepat maka pertumbuhan tinggi badannya juga cepat.
Keadaan ini berbeda terjadi pada remja putri yang usia pubertasnya terlambat sehingga
mempengaruhi keterlambatan percepatan pertumbuhan tinggi badan. Remaja putri yang
memasuki masa pubertas lebih awal, pertumbuhannya akan lebih cepat berakhir, sedangkan
yang terlanat memasuki masa pubertas, saat berakhirnya pertumbuhan akan lebih lambat
pula, sehingga anak perempuan tersebut memiliki masa pertumbuhannya yang lebih.

Berdasarkan karakteristik tinggi badan diatas maka indeks TB/U mengambarkan status gizi
dimasa lampau hingga kini (supariasa, 2002)
2.3.3

Pengertian IMT
Indeks massa tubuh (IMT) adalah rasio BB/TB 2 (kg/m2), yang dinyatakan dalam tabel
normogram. Angka ini proporsional dengan bentuk tubuh anda. Biasanya, jumlah yang kecil
untuk orang yang kurus dan besar untuk orang yang gemuk (soetjiningsih, 2004)
Penggologan status gizi dengan indeks BB/U, indeks TB/U, IMT yang digunakan
berdasarkan WHO (2008) dapat dilihat dalam tabel 2.3.1
Tabel 2.3.1 Daftar status gizi remaja

2.3.4

Status gizi
>+ 3.00

BB/U
Obesitas

TB/U
Sangat tinggi

IMT/U
Obesitas

+ 2.01- + 3.00

Gizi lebih

Tinggi

Gizi lebih

-2.00-+ 2.00

Normal

Normal

Gizi normal

-300- -2.01

Gizi kurang

Pendek

Gizi kurang

<-3.00

Gizi sangat kurang

Sangat pendek

Gizi sangat kurang

Angka kecukupan gizi (AKG)


Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah kebutuhan tubuh secara umum untuk rata-rata orang
Indonesia. Angka kecukupan gizi bukan merupakan angka yang tepat untuk setiap orang,
karena kebutuhan tubuh seseorang juga dipengaruhi jenis kelamin, berat badan, tinggi
badan, aktivitas fisik dan stres. http://www.lucianasutanto.com

Table 2.3.2
Perameter angka kecukupan gizi 2004 bagi orang Indonesia (syafiq, dkk 2007)
No
1

Kelompok Umur
0-6 bulan

Berat Badan (kg)

Tinggi badan (cm)

60

7-12 bulan

8.5

71

1-3 tahun

12

90

4-6 tahun

17

110

7-9 tahun

25

120

Laki-laki
6

10-12 tahun

35

138

13-15 tahun

46

150

16-18 tahun

55

160

19-29 tahun

56

165

10

30-49 tahun

62

165

11

50-64 tahun

62

165

12

60+ tahun

62

165

Wanita

2.4

13

10-12 tahun

37

145

14

13-15 tahun

48

153

15

16-18 tahun

50

154

16

19-29 tahun

52

156

17

30-49 tahun

55

156

18

50-64 tahun

55

156

19

60+ tahun

55

156

Hubungan status gizi dengan menarche


Menarche adalah haid yang pertama terjadi, yang merupakan ciri khas kedewasaan sorang
wanita yang sehat dan tidak hamil. Status gizi remaja wanita sangat memengaruhi terjadinya
menarche baik dari faktor usia terjadinya menarche, adanya keluhan-keluhan selama
menarche maupun lamanya hari menarche. Secara psikologis wanita remaja yang pertama
sekali mengalami haid akan mengeluh rasa nyeri, kurang nyaman, dan mengeluh perutnya
terasa begah, tetapi pada beberapa remaja keluhan-keluhan tersebut tidak dirasakan, hal ini
dipengaruhi oleh nutrisi yang adekuat yang biasa dikomsumsi, selain olahraga yang teratur
(Paath, dkk, 2005)

Nutrisi mempengaruhi kematangan seksual pada gadis yang mendapat menstruasi pertama
lebih dini, mereka cenderung lebih berat dan lebih tinggi pada saat menstruasi pada usia
yang sama. Sebaliknya pada gadis yang mentrusinya terlambat, beratnya lebih ringan dari
pada yang sudah mentruasi pada usia yang sama, walaupun tinggi badan (TB) mereka sama.
Pada umumnya, mereka menjadi lebih matang lebih dini akan memiliki body mass index
(indeks massa tubuh, IMT) yang lebih tinggi dan mereka yang matang terlambat memiliki
IMT lebih kecil pada usia yang sama (seotjiningsih, 2004)
Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
berat badan (kg)
IMT =
Tinggi badan (m) tinggi badan (m)
Table 2.4.3
Kategori ambang batas IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:
Status gizi
Kurus

Kategori
Kekurangan berat badan tingkat berat

< 17,0

Kekurangan berat badan tingkat kurus

17,0-18,5

Normal
Gemuk

IMT

>18,5-25,0
Kelebihan berat badan tingkat ringan

> 25,0-27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat

>27,0

(supariasa, 2002)
Peristiwa yang paling dinamik adalah timbulnya menarche pada anak perempuan yang ratarata terjadi pada umur 12,5 tahun (pada kultur barat). Peristiwa menarche sangat erat
hubungannya dengan masa puncak kurva kecepatan penambahan tinggi badan. Masa ini
dintukan oleh berbagai faktor, tetapi yang terpenting adalah faktor genetik. Sangat erat
hubungan antara umur menarche ibu dengan putrinya, dan lebih erat lagi antar umur
menarche perempuan bersaudara. Faktor ini yang terpenting adalah status gizi, gadis gemuk
akan mendapat menarche lebih awal dari pada yang kurus. Semua penyakit kronik yang
mengganggu status gizi atau oksigenasi jaringan akan memperlambat pola maturasi
pubertas, terutama waktu menarche (arifin, 2008 dalam yosia, 2008)

Pubertas dianggap terlambat jika gejala-gejala pubertas baru datang antara umur 14-16
tahun. Biasanya tidak ada kelainan yang mencolok, pubertas terlambat saja, dan kemudian
perkembangan berlangsung secara biasa. Pubertas tarda dapat disebabkan oleh faktor
herediter, gangguan kesehatan, dan kekurangan gizi maka dengan peningkatan kesehatan,
gejala pubertas tarda dapat sembuh dengan spontan. Kalau menarche belum datang pada
umur 18 tahun, dapat diberi diagnosis amenorhea primer, dan perlu dicari etiologinya
(wiknjosastro, 2009)

2.5

Kerangka Teori
Faktor-faktor yang mempengaruhi menarche :
Aspek psikologi
Menarche dan kesuburan
Pengaruh waktu terjadinya menarche
Menarche dan lingkungan social
Umur menarche dan status ekonomi
Basal metabolik indek dan kejadian menarche.
Menarche

Gambar 2.5.1 Gambar kerangka teori faktor-faktor yang mempengaruhi menarche.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

2.6

Kerangka Konsep Penelitian


Kerangka konseptual penelitian adalah konsep yang dipakai sebagai landasan berfikir
dalam kegiatan ilmu (Rumengan, 2008). Secara ringkas dapat digambarkan dalam skema
sebagai berikut:
Variabel Independent
Usia Menarche
Indeks Massa Tubuh (IMT)

Keterangan

Variabel Dependent

Diteliti

Gambar 2.6.2 Gambar kerangka konsep penelitian hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT)
dengan usia menarche pada remaja putri
2.7

Hipotesa
Hipotesa adalah suatu pernyataan yang masih lemah dan memerlukan suatu pembuktian
untuk menegaskan apakah hipotesis tersebut dapat diterima atau ditolak berdasarkan fakta
atau data empiris yang telah dikumpulkan dalam penelitian (Rumengan, 2008)

Ho = tidak ada hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja
putri
Ha = ada hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putri.

2.8

Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau
didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu (Notoatmojo,
2010).
3.3.1

Variabel Independen
Variabel Independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjelaskan atau
mempengaruhi variabel yang lain (Rumengan, 2008)
Variabel Independen pada penelitian ini adalah Indeks Massa Tubuh (IMT)

3.3.2

Variabel Dependen
Variabel Dependen atau variabel terikat adalah variabel yang menjelaskan atau
mempegaruhi oleh variabel independen (Rumengan, 2008).
Variabel Dependen pada penelitian ini adalah Usia Menarche

2.9

Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional variabel adalah bagaimana suatu variabel dalam konsep yeng jelas
sehingga dapat terukur dengan unsure-unsur atau elemen-elemen yang terkandung di
dalamnya (Rumengan, 2008)
Tabel 2.9.4 Definisi Operasional
Definisi
Variabel

Operasiona
l

Cara

Alat

Skala

Ukur

Ukur

Ukur

Independen

Kategori
1.Kurus

Pengukura

Penimbanga

Timbanga

Ordina

< 17,0

Indeks

n BB dan

n BB dan

n badan

2.Normal

Massa

TB

pengukuran

Dan

18,5-25,0

TB

Staturmete

3.Gemuk

> 26,0

Tubuh
(IMT)

(Supariasa,
2001)

Dependent

Menggunaka

Usia

Hal-hal

Menarche

n angket

Kuesioner

Ordina

1.Cepat/Di

yang ingin

Data

ni < 11

diketahui

Demografi

2.Normal

a. Usia

11-13

b. Usia haid

3.Lambat

pertama

> 13
(Waryana,
2010)

2.10

Desain/Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian Analitik dengan desain cross sectional yaitu sebuah
penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek,
dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat
(Notoatmodjo, 2010). Terutama untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih
variabel penelitian. Dengan diketahuinya hubungan variabel tersebut maka penelitian dapat
menarik kesimpulan dari permasalahan yang diteliti.

2.11

Populasi dan Sampel

2.11.1 Populasi
Populasi adalah setiap subyek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam,
2009).
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 1 di SMPN 12 kota batam dengan jumlah
seluruh siswi 131 orang.
2.11.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat digunakan sebagai subyek
penelitian melalui sampling (Nursalam, 2009).
Teknik pengumpulan sampel dalam peneltian ini adalah total sampling. Total sampling
merupakan cara pengumpula sampel dengan berdasarkan jumlah populasi.

2.12

Lokasi dan Waktu Penelitian

2.12.1 Lokasi
Tempat penelitian dilakukan di SMPN 12 Kota Batam Tahun 2012.
2.12.2 Waktu
Waktu penelitian dimulai pada bulan Mei-Juni 2012.

2.13

Pengumpulan Data

2.13.1 Alat pengumpulan data


Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan daftar pertanyaan, meteran dan timbangan.
2.13.2 Teknik pengumpulan data
Data diperoleh langsung dari responden dengan menggunakan kuesioner dan pengukuran.

2.14

Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan merupakan data mentah yang masih harus di olah sedemikian rupa
agar dapat disajikan dalam bentuk tabel atau grafik sehingga mudah untuk dianalisa. Data
yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan perangkat lunak computer.
Menurut (Notoatmodjo, 2010) terdapat beberapa tahapan dalam pengolahan data:
3.10.1 Editing
Hasil kuesioner dari lapangan harus dilakukan editing atau penyuntingan terlebih dahulu.
Editing merupakan kegiatan untuk penegcekan dan perbaikan dalam isian kuesioner.
3.10.2 Coding
Setelah kuesioner diedit selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding. Coding dalam arti
yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.

3.10.3 Data Entry


Data entry maksudnya yaitu memasukan data. Data atau jawaban-jawaban responden yang
sudah dalam bentuk kode dimasukkan dalam program computer.

3.10.4 Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukkan, pada dicek
kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode dan
ketidaklengkapan data kemudian dilakukan pembentukan atau korelasi. Proses ini disebut
pembersihan data atau cleaning.
Setelah data diolah secara manual maka data akan diproses dengan menggunakan SPSS for
windows versi 16

2.15

Analisa Data

Analisa data bivariate adalah terdiri dari metode statistik deskriptif dan statistik inferensial
yang dipergunakan untuk menganalisa data dari dua variabel penelitian (Rumengan, 2008)
Analisis bivariate bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independent
dengan dependent, menggunakan metode chi squre. Dengan tingkat kepercayaan 90% dan
nilai ketepatan dinyatakan bermakna bila P Value < 0,1.

2.16

Jadwal Penelitian
Tabel 3.16.5

Jadwal Kegiatan Penelitian Mahasiswa Prodi S1 Keperawatan A Universitas Batam.


NO

Kegiatan

Waktu / Bulan
Maret

April

Mei

Juni

Juli

Pengajuan Judul

Pembuatan Proposal

Ujian Proposal

Surat Izin Penelitian

Pengumpulan Data

Analisis Data

Ujian Sidang Skripsi

DAFTAR PUSTAKA

Paath, dkk. 2004. Gizi dalam kesehatan reproduksi. Jakarta : EGC. Hal. 50-51 dan 69-71
Supariasa, dkk. 2001. Penilaian status gizi. Jakarta : EGC hal. 59-62.
Wiknjosastro .2009. ilmu kandungan. Edisi kedua. Cetakan ketujuh. Jakarta: PT bina
pustaka sarwono prawirohardjo. Hal 127, 236-237.
Syafiq,A dkk.2007. Gizi dan kesehatan masyarakat . Jakarta : PT raja grafindo persada
Proverawati dan Maisaroh.2009.menarche menstruasi pertama penuh makna. Yogyakarta :
Nuha medika hal.58-73
Waryana. 2010. Gizi reproduksi. Yogyakarta: pustaka rihama. Hal 116-124
Santrock, John W. 2007. Remaja. Edisi kesebelas. Jilit 1. Ahli bahasa, widyasinta : Erlanga
Proverowati dan Asfuah. 2009. Gizi untuk kebidanan. Yokyakarta: Nuha medika. Hal : 141
dan 205
Rumengan, Jimmy. 2008. Metodologi penelitian kesehatan. Bandung: Citapustaka Media
Perintis.
Nursalam. 2009. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika.

Notoatmodjo, soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.


Koran, (2010), 04, http: // Koran. Republik .co.id/Koran/105/114389/ menikmati-masaremaja-dengan-sehat. Diperoleh tanggal 23 meret 2012
http://www.lucianasutanto.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=37&Itemid=46 . Diperoleh tanggal 22 april 2012
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/21602. diperoleh tanggal 24 april 2012
http://www.bascommetro.com/2011/04/hubungan-indeks-massa-tubuh-dengan-usia.html.
diperoleh tanggal 26 april 2012.
124272-s-5676-hubungan antara literatur pdf, jurnal, Anni Kartika Putri, FKM UI, 2009.
Diperoleh tanggal 04 april 2012

Anda mungkin juga menyukai