Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

GANGGUAN KELENJAR HIPOFISE

Penyakit hipofise adalah penyakit yang tidak umum terjadi, namun dapat
timbul sebagai kondisi hiperfungsi hipofise, hipofungsi hipofise, dan
lesi/massa setempat yang menyebabkan tekanan pada khiasma optikus
atau bagian basal otak.

1. Tinjauan Gangguan Hipofise


1. Hiperfungsi Kelenjar Hipofise
Sering disebut juga hiperpituitarisme yaitu suatu kondisi patologis
yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofise sehingga
menyebabkan peningkatan sekresi salah satu hormon hipofise atau
lebih.
PATOFISIOLOGI
Hiperfungsi hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk
bergantung pada sel mana dari kelima sel-sel hipofise yang
mengalami hiperfungsi. Kelenjar biasanya mengalami pembesaran,
disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10 mm
atau adenoma mikroskopik bila diameternya kurang dari 10 mm,
yang terdiri atas satu jenis sel atau beberapa jenis sel. Kebanyakan
adalah tumor yang terdiri atas sel-sel laktotropik (juga dikenal
sebagai prolaktinomas). Tumor yang kurang umum terjadi adalah
adenoma somatotropik dan kortikotropik. Tumor yang terdiri atas
sel-sel pensekresi TSH-, LH,- atau FSH,- sangat jarang terjadi.
Prolaktinoma (adenoma laktotropik) biasanya adalah tumor
kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. Gejala
yang khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif
dan dimana terjadi (tidak menstruasi, yang bersifat primer dan
sekunder), galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada
hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas.
Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mensekresi
hormon pertumbuhan. Gejala klinik hipersekresi hormon
pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini.
Misalnya saja pada klien prepubertas, dimana lempeng epifise
tulang panjang belum menutup, mengakibatkan pertumbuhan
tulang-tulang memanjang sehingga mengakibatkan gigantisme. Pada
klien
postpubertas,
adenoma
somatotropik
mengakibatkan
akromegali, yang ditandai dengan perbesaran ekstremitas (jari,

tangan, kaki), lidah, rahang, dan hidung. Organ-organ dalam juga


turut membesar (mis, kardiomegali).
Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan
metabolik, seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia. Pengangkatan
Tumor dengan dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan.
Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat dapat mengalami
perbaikan, namun perubahan tulang tidak mengalami regresi.
Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel peningkatan sekresi
ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadenoma dan secara
klinis dikenal dengan tanda khas penyakit Cushings.
2. Hipofungsi Kelenjar Hipofise
Insufisiensi hipofise menyebabkan hipofungsi organ sekunder.
Hipofungsi hipofise jarang terjadi, namun dapat saja terjadi dalam
setiap kelompok usia.Kondisi ini dapat mengenai semua sel hipofise
( panhipopituitarisme ) atau hanya sel sel tertentu terbatas pada
satu subset sel sel hipofise anterior ( mis, hipogonadisme sekunder
terhadap defisiensi sel sel gonadotropik ) atau sel sel hipofise
posterior ( mis, diabetes insipidus ).
PATOFISIOLOGI
Penyebab hipofungsi hipofise dapat bersifat primer dan sekunder.
Primer bila gangguannya terdapat pada kelenjar hipofise itu sendiri,
dan
sekunder bila gangguannya terdapat pada hipotalamus.
Penyebab tersebut diantaranya:
Defek perkembangan kongenital, seperti pada dwarfisme pituitari
atau hipogonadisme.
Tumor yang merusak hipofise (mis., adenoma hipofise
nonfungsional)
atau
merusak
hipotalamus
(mis.,
kraniofaringioma atau glioma).
Iskemia, seperti pada nekrosis postpartum (sindrom Sheehans).
Diagnosa insufisiensi hipofise dapat diduga secara klinik namun
harus ditegakkan melalui uji biokimia yang sesuai, yang akan
menunjukan defisiensi hormon.
Panhipopitutarisme. Pada orang dewasa dikenal sebagai (penyakit
Simmonds) yang ditandai dengan kelemahan umum, intoleransi
terhadap dingin, nafsu makan buruk, penurunan berat badan, dan
hipotensi. Wanita yang terserang penyakit ini tidak akan mengalami
menstruasi dan pada pria akan menderita impotensi dan kehilangan
libido. Insufisiensi hipofise pada masa kanak-kanak akan
mengakibatkan dwarfisme.
Diabetes insipidus ditandai dengan kurangnya ADH sekunder
terhadap lesi yang menghancurkan hipotalamus, stalk hipofise, atau
hipofise posterior. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tumor, infeksi
otak atau meningen, hemoragi intrakranial, atau trauma yang

mengenaitulang bagian dasar tengkorak. Klien dengan diabetes


insipidus mengeluarkan urine hipotonik dalam jumlah yang besar (5
sampai 6 liter/hari).
Diabetes insipidus dikelompokkan menjadi nefrogenik (adalah
diabetes insipidus yang terjadi secara herediter dimana tubulus
ginjal tidak berespon secara tepat terhadap ADH, sementara kadar
hormon dalam serum normal), primer (diabetes insipidus yang
disebabkan oleh gangguan pada hipofise), sekunder (diabetes
insipidus yang disebabkan oleh tumor pada daerah hipofisehipotalamus, dan tumor sekunder matatasis dari paru dan
payudara, dan diabetes insipidus yang berkaitan dengan obatobatan diakibatkan oleh pemberian litium karbonat (Eskalith,
lihthobid, Carbolith) dan Demeclocyline (Declomycin). Obat-obatan
ini dapat mempengaruhi respons tubulus ginjal terhadap air.
Insufisiensi hipotalamus membutuhkan terapi penggantian
hormon yang sesuai. Terapi penggantian dengan ADH menunjukkan
hasil yang efektif dalam mengobati diabetes insipidus.
2. Penatalaksanaan Klien dengan Hiperfungsi Hipofise
1. Pengkajian
a. Riwayat penyakit ; manifestasi klinis tumor hipofise bervariasi
tergantung pada hormon mana yang disekresi berlebihan.
Tanyakan manifestasi klinis dari peningkatan prolaktin, GH dan
ACTH mulai dirasakan.
b. Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam
keluarga.
c. Keluhan utama, mencakup :
Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ
tubuh seperti jari-jari, tangan dsb.
Perubahan tingkat energi, kelelahan dan letargi.
Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman.
Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia.
Nyeri kepala, kaji P, Q, R, S, T.
Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman
penglihatan, penglihatan ganda, dsb.
Kesulitan dalam hubungan seksual.
Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita) mencakup
keteraturan, kesulitan hamil.
Libido seksual menurun.
Impotensia.
d. Pemeriksaan fisik mencakup :
Amati bentuk wajah, khas pada hipersekresi GH seperti bibir
dan hidung besar, tulang supraorbita menjolok.

Kepala, tangan/lengan dan kaki juga bertambah besar, dagu


menjorok ke depan.
Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak
tumbuh dengan baik.
Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat kompresi saraf
optikus, akan dijumpai penurunan visus.
Amati perubahan pada persendian di mana klien mengeluh
nyeri dan sulit bergerak. Pada pemeriksaan ditemukan
mobilitas terbatas.
Peningkatan perspirasi pada kulit menyebabkan kulit basah
karena berkeringat.
Suara membesar karena hipertropi laring.
Pada
palpasi
abdomen,
didapat
hepatomegali
dan
splenomegali.
Hipertensi
Disfagia akibat lidah membesar.
Pada perkusi dada dijumpai jantung membesar.
e. Pemeriksaan diagnostik mencakup :
Kadar prolaktin serum; ACTH, GH
Foto tengkorak
CT skan otak
Angiografi
Tes supresi dengan Dexamethason
Tes toleransi glukosa
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama yang dapat dijupai pada klien dengan
hiperpituitarisme.
1. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan
penampilan fisik.
2. Disfungsi seksual yang berhubungan dengan penurunan libido;
infertilitas.
Diagnosa keperawatan tambahan yang juga dijumpai adalah :
1. Nyeri (kepala, punggung) yang berhubungan denganpenekanan
jaringan oleh tumor; hormon pertumbuhan berlebihan.
2. Takut yang berhubungan dengan ancaman kematian akibat
tumor otak.
3. Ansietas yang berhubungan dengan hilangnya kontrol terhadap
tubuh.
4. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan,
letargi.

5. Perubahan sensori-perseptual (penglihatan) yang berhubungan


dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada
nervu optikus.
3. Rencana Tindakan Keperawatan
Berikut ini akan diuraikan dua diagnosa keperawatan pertama.
Diagnosa Keperawatan :
Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan
penampilan fisik.
Tujuan :
Dalam waktu 2-3 miggu klien akan memiliki kembali citra tubuh
yang positif.
Intervensi Keperawatan :
A. Non pembedahan
Klien dengan kelebihan GH
1. Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan
perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya.
2. Bantu klien mengidentifikasi kekuatannya serta segi-segi
positif yang dapat dikembangkan oleh klien.

Klien dengan kelebihan prolaktin


1. Yakinkan klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang
dengan pengobatan (ginekomastia, galaktorea).
2. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.

B. Pemberian obat-obatan
1. Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti : Bromokriptin
(parlodel). Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin.
Pada mikroadenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga
diberikan pada klien dengan akromegali, untuk mengurangi
ukuran tumor.
2. Observasi efek samping pemberian bromokriptin seperti:
Hipotensi ortostatik
Iritasi lambung
Mual
Kram abdomen
Konstipasi
Bila ada efek samping di atas kolaborasi dengan dokter.
Berikan obat-obatan setelah klien makan (tidak diberikan
diantara waktu makan).
3. Kolaborasi pemberian terapi radiasi. Terapi radiasi tidak
diberikan pada hiperpituritisme akut. Partikel alfa atau

proton beam sebagai sumber radiasi lebih efektif tetapi


responsnya lambat.
4. Awasi efek samping terapi radiasi seperti :
Hipopituitarisme
Kerusakan nervus optikus
Disfungsi okulomotorius
Perubahan lapang pandang
5. Kolaborasi tindakan pembedahan (dijelaskan pada bagian
selanjutnya.
Diagnosa Keperawatan :
Disfungsi seksual yang berhbungan dengan hilangnya libido,
infertilitas dan impotensi.
Tujuan :
Klien akan mencapai tingkat kepuasan pribadi dan fungsi seksual.
Intervensi Keperawatan :
1. Identifikasi masalah spesifik yang berhubungan dengan
pengalaman klien terhadap fungsi seksualnya.
2. Dorong agar klien mau mendiskusikan masalah tersebut dengan
pasangannya.
3. Kolaborasi pemberian obat-obatan bromokriptin.
4. Bila masalah ini timbul setelah hipofisektomi, kolaborasi
pemberian gonadotropin.

4. Tindakan Pembedahan
Hipofisektomi adalah tindakan pengangkatan adenoma hipofise
melalui pembedahan. Prosedur operasi tersebut mencakup tindkan
transpenoidal hiposektomi dengan narkose. Insisi pada lapisan
dalam bibir atas dan masuk ke sella tursika melalui sinus
spenoidalis. Yang kedua
adalah transfrontal kraniotomi yaitu
dengan membuka rongga kranium melalui tulang frontal.
Secara umum prinsip perawatan klien dengan hipofisektomi
adalah sebagai berikut :
Pantau status neurologi klien
Pantau keseimbangan cairan khususnya terhadap haluaran yang
berlebihan dari masukan karena dapat terjadi diabetes insipidus
transien.
Dorong klien untuk mempertahankan ventilasi paru dengan
latihan napas dalam
Anjurkan klien untuk tidak batuk, menggosok hidung atau bersin
Anjurkan klien untuk berkumur sampai bersih setiap kali selesai
makan karena tidak diperbolehkan menyikat gigi sampai
penyembuhan sempurna

Pantau nasal drip terhadap jumlah dan kuantitas drainase.


Adanya tanda halo menunjukkan kebocoran CSF
Pantau fungi kolon untuk mencegah konstipasi
Ajarkan cara menggunakan obat-obatan (hormon) yang
diprogramkan.
Perawatan preoperasi
1. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan yang dilakukan.
2. Menjelaskan penggunaan tampon hidung selama 2-3 hari
pascaoperasi.
Anjurkan klien bernapas melalui mulut selama pemasangan
tampon.
3. Menjelaskan penggunaan balut tekan yang ditempatkan dari
bawah hidung, menggosok gigi, batuk, bersin, karena hal ini
dapat menghabat penyembuhan luka.
4. Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang diperlukan
sebagai persiapan operasi seperti pemeriksaan neurologik,
hormonal, lapang pandang, swab tenggorok untuk pemeriksaan
kultur dan sensitiyitas.
Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan
dilaksanakan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi,
perawat menjelaskan agar klien menghindari aktivitas yang dapat
yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan, batuk, dll.
Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat
mencegah obstipasi seperti makan makanan tinggi serat, minum air
yang cukup, pelunak feses bila diperlukan.
Klien tidak menyikat gigi satu sampai dua minggu sampai
penyembuhan sempurna, cukup berkumur setiap kali setelah
makan. Jelaskan bahwa sensasi hilang rasa padfa daerah insisi
adalah biasa, dapat berlangsung 2-3 bulan. Oleh karena itu
anjurkan klien memeriksakan gusinya untuk mengetahui adanya
lesi dan pendarahan dengan menggunakan cermin setiap hari.
Setelah operasi, pemberian hormon diperlukan untuk
mempertahankan keseimbangan cairan. Jelaskan penggunaan obatobatan dan jelaskan pula perlunya tindak lanjut secara teratur.
Perawatan pascaoperasi
1. Amati respons neurologik klien dan catat adalah perubahan
penglihatan, disorientasi dan perubahan kesadaran serta
penurunan kekuatan motorik ekstremitas.
2. Amati pula komplikasi pascaoperasi yang lazim terjadi seperti
transient insipidus (diabetes insipidus sesaat); bila terjadi hal
tersebut lakukan intervensi seperti berikut :
Catat cairan yang masuk baik per oral maupun parenteral.

Tingkatkan masukan cairan bila ada rasa haus.


Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian vasopresin.
Bila diperlukan lakukan pemasangan indwelling kateter untuk
memudahkan pemantauan haluan cairan.
Ukur berat badan setiap hari.
3. Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat bila terjadi
pengeluaran sekret dari hidung ke faring (post nasal drip) yang
kemungkinan mengandung CSF.
4. Tinggikan posisi kepala 30-45 derajat.
5. Kaji drainase nasal terhadap kualitas dan kuantitas, terhadap
kemungkinan mengandung glukosa. Halo sign adalah warna
bening jernih pada tepi cairan drain yang ditaruh di atas kain
kasa merupakan tanda adanya kebocoran CSF. Jika klien
mengeluh nyeri kepala yagn menetap waspada terhadap
kemungkinan CSF masuk ke dalam sinus.
6. Hindari batuk, ajarkan kelien bernapas dalam, lakukan higiene
oral secara teratur karena pernapasan mulut dan penggunaan
tampon.
7. Kaji tanda-tanda infeksi (meningitis) dengan cermat.
8. Kolaborasi pemberian gonadotropin; kortisol; sebagai dampak
hipofisektomi.
3. Penatalaksanaan Klien dengan Hipofungsi Hipofise
I.

Pengkajian

Pengkajian keperawatan pada klien dengan kelainan ini antara lain


mencakup :
1. Riwayat penyakit masa lalu. Adakah penyakit atau trauma pada
kepala yang pernah diderita klien, serta riwayat radiasi pada kepala.
2. Sejak kapan keluhan dirasakan. Dampak defisiensi GH mulai
tampak pada masa balita sedang defisiensi gonadotropin nyata pada
masa praremaja.
3. Apakah keluhan terjadi sejak lahir. Tubuh kecil dan kerdil sejak
lahir terdapat pada klien kretinisme.
4. Berat dan tinggi badan saat lahir.
5. Keluhan utama klien :
pertumbuhan lambat
ukuran otot dan tulang kecil
tanda-tanda seks sekunder tidak berkembang; tidak ada rambut
pubis dan axilla, payudara tidak tumbuh, penis tidak tumbuh,
tidak mendapat haid, dll.
infertilitas
impotensia
libido menurun
nyeri sanggama pada wanita

6. Pemeriksaan fisik
amati bentuk dan ukuran tubuh, ukur berat badan dan tinggi
badan, amati bentuk dan ukuran buah dada, pertumbuhan
rambut axilla dan pubis pada klien pria amati pula pertumbuhan
rambut di wajah (jenggot dan kumis)
palpasi kulit, pada wanita biasanya menjadi kering dan kasar.
Tergantung pada penyebab hipopituitrisme, perlu uga dikaji data lain
sebagai data penyerta seperti bila penyebabnya adalah tumor maka
perlu dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi cerebrum dan fungsi
nervus kranialis dan adanya keluhan nyeri kepala.
7. Kaji pula dampak perubahan fisik terhadap kemampuan klien
dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
8. Data penunjang dari hasil pemeriksaan diagnostik seperti :
foto kranium untuk melihat pelebaran dan atau erosi sella tursika
pemeriksaan serum darah; LH dan FSH, GH, prolaktin, kortisol,
aldosteron, testosteron, androgen, test stimulasi yang mencakup
toeransi insulin dan stimulasi tiroid realising hormon.
II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan
hipopituitarisme adalah :

yang

dapat

dijumpai

pada

klien

1. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan


struktur dan fungsi tubuh akibat defisiensi gonadotropin dan
defisiensi hormon pertumbuhan.
2. Disfungsi seksual.
3. Koping individu takefektif.
4. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan dan
perawatan di rumah.
5. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan penampilan
tubuh.
6. Gangguan persepsi sensori (penglihatan) yang berhubungan dengan
gangguan transmissi impuls sebagai akibat penekanantumor pada
nervus optikus.
7. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman atau perubahan
status kesehatan.
8. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan menurunnya
kekuatan otot.
9. Gangguan integritas kulit (kekeringan) sehubungan dengan
menurunnya kadar homonal.
III. Rencana Tindakan Keperawatan

Secara umum tujuan diharapkan dari perawatan klien dengan


hipofungsi hipo fise adalah :
1. Klien memiliki kembali citra tubuh yang positif dan harga diri
yang tinggi.
2. Klien dapat berpartisipasi aktif dalam program pengobatan.
3. Klien dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
4. Klien bebas dari ras cemas.
5. Klien terhindar dari komplikasi.
IV. Tindakan Keperawatan
1. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan (hormonal)
Defisiensi Gonadotropin
Pria post pubertas diberikan androgen (testosteron). Lebih efektif
dengan pemberian intra muskular. Jelaskan maksud pemberian obat
dan cara penggunaan. Obat dan dosis biasanya bertahap dengan
diawali dosis minimal dan setiap bulannya dinaikkan sampai
ditemukan dosis yang tepat.
Observasi
efek
samping
penggunaan
testosteron
seperti
ginekomastia dan hipertropi prostat. Efek maksimal obat ini akan
meningkatkan ukuran penis, peningkatan libido, massa otot dan
tulang bertambah dan kekuatan otot meningkat dan juga
pertumbuhan rambut dada, axilla dan pubis sehingga dapat
mengembalikan citra diri dan harga diri.
Untuk mencapai tingkat kesuburan yang maksimal harus ditambah
atau dikombinasi dengan HCG. HCG diberikan tiga kali seminggu
dalam waktu 4-6 bulan sampai kadar testosteron normal. Dosis awal
HCG diberi 5000 unit, kemudian dilanjutkan dosis 3000 unit tiga kali
perminggu untuk menjaga testosteron stabil. Setelah 4-6 bulsn dengan
terapi HCG, menotropin (kombinasi LH dan FSH) diberi intra muskular
tiga kali seminggu. Klien harus mendapat kombinasi HCG dan
menotropin selama 5-6 bulan. Setelah 6 bulan terapi, bila jumlah
sperma tetap sedikit maka pengobatan dihentikan. Bila jumlah sperma
meningkat maka terapi diteruskan sampai konsepsi terjadi.
Wanita yang mencapai pubertas, mendapat terapi estrogen dan
progesteron. Jelaskan hal-hal yang perlu diwaspadai klien seperti
hipertensi dan tromboplebitis. Anjurkan agar melakukan follow up
secara teratur. Bila menginginkan kehamilan, klien diberi chlomiphene
citrat (clonid) untuk merangsang ovulasi.
Defisiensi hormon pertumbuhan (GH)
1. Pemberian hormon pertumbuhan sintetis (eksogen) Somatotropin
(Humatrop) harus diberikan sebelum epifise tulang menutup yaitu
sebelum masa pubertas.

2. Ciptakan kondisi agar klien dapat dengan bebas mengungkapkan


perasaan dan pikirannya tentang perubahan tubuh yang
dialaminya.
3. Bangkitkan motivasi agar klien mau melaksanakan program
pengobatan yang sudah ditentukan. Jangan memberi janji pada
klien bahwa ia akan sembuh tetapi yang lebih penting tekankanlah
bahwa pengobatan yang teratur akan sangat menentukan
keberhasilan pengobatan.
4. Anjurkan klien memeriksakan diri secara teratur ke tempat
pelayanan terdekat.
5. Anjurkan pada keluarga untuk dapat membantu klien memenuhi
kebutuhan sehari-harinya bila diperlukan serta dapat menciptakan
lingkungan yang kondusif dalam keluarga seperti menghindarkan
persaingan yang tidak sehat antar anggota keluarga. Tindakan over
protektif terhadap klien akan sangat menghambat kemampuan
klien dalam mengembangkan koping yang adaptif.
6. Bantu klien untuk mengembangkan sisi positif yang dimiliki serta
bantu untuk beradaptasi.
7. Ajarkan klien cara melakukan perawatan kulit secara teratur
setiap hari. Menggunakan lotion pelembab sangat dianjurkan, tidak
menggaruk kulit karenakulit sangat mudah mengalami iritasi.
8. Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakitnya, pengobtan dan
kunci keberhasilan pengobatan.
9. Bagi pasangan yang menginginkan keturunan, bangkitkan motivasi
mereka untuk dapat mengikuti program pengobatan secara teratur
dan berkesinambungan karena untuk upaya ini memerlukan waktu
yang lama sehingga butuh kesabaran. Bila dengan pengobatan
tidak berhasil maka bantu pasangan untuk mencari jalan keluar
seperti mengadopsi anak atau hal-hal lain yang mereka sepakati.

ASUHAN KEOERAWATN KLIEN DENGAN GANGGUAN KELENJAR TIROID


Penyakit akibat gangguan kelenjar tiroid umum terjadi, namun untungnya
dapat didiagnosa dengan cepat dan diobati dengan hasil yang sangat baik.
Penyakit tiroid timbul sebagai gangguan fungsi (hipofungsi atau
hiperfungsi) atau sebagai lesi massa (Perbesaran neoplasma atau
nonneoplastik, yang dikenal sebagai goiter)
A. tinjauan Gangguan Kelenjar Tiroid
I.

Hipertiroidisme
Hipertiroidisme digambarkan sebagai suatu kondisi dimana terjadi
kelebihan sekresi hormon tiroid. Tirotoksikosis mengacu pada
manifestasi klinis yang terjadi bila jaringan tubuh distimulasi oleh
peningkatan hormon ini. Hipertiroidisme merupakan kelainan
endokrin yang dapat dicegah. Seperti kebanyakan kondisi tiroid,
kelainan ini merupakan kelainan yang sangat menonjol pada wanita.
Kelainan ini menyerang wanita empat kali lebih banyak daripada pria,
terutama wanita muda yang berusia antara 20 sampai 40 tahun.
PATOFISIOLOGI
Hipertiroidisme mungkin karena overfungsi keseluruhan kelenjar, atau
kondisi yang kurang umum, mungkin disebabkan oleh fungsi tunggal
atau multipel adenoma kanker tiroid. Juga pengobatan miksedema

dengan hormon tiroid yang berlebihan dapat menyebabkan


hipertiroidisme. Bentuk hipertiroidisme yang paling umum adalah
penyakit Graves (goiter difus, toksik) yang mempunyai tiga tanda
penting : (1) hipertiroidisme, (2) pembesaran kelenjar tiroid (giter), dan
(3) eksoptalmos (protusi mata abnormal). Penyakit Graves merupakan
kelainan autoimun yang dimediasi oleh antibodi IgG yang berikatan
dengan reseptor TSH aktif pada permukaan sel-sel tiroid.
Penyebab lain hipertiroidisme dapat mencakup goiter nodular
toksik, adenoma toksik (jinak), karsinoma tiroid, tiroiditis subakut dan
kronis, dan ingesti TH.
Patofisiologi dibalik manifestasi penyakit hipertiroid Graves dapat
dibagi ke dalam dua kategori : (1) yang sekunder akibat rangsangan
berlebih sistem saraf adrenergik dan (2) yang merupakan akibat
tingginya kadar TH yang bersirkulasi.
Hipertiroidisme ditandai oleh kehilangan pengontrolan normal
sekresi hormon tiroid (TH). kareNa kerja dari TH pada tubuh adalah
merangsang, maka terjadi hipermetabolisme, yang meningkatkan
aktivitas sistem saraf simpatis. Jumlah TH yang berlebihan
menstimulasi sistemsistem kardiak dan meningkatkan jumlah reseptor
beta-adrenergik. Keadaan ini mengarah pada takikardia dan
peningkatan curah jantung, volume sekuncup, kepekaan adrenergik,
dan aliran darah perifer. Metabolisme sangat meningkat, mengarah
pada keseimbangan nitrogen negatif, penipisan lemak, dan hasil akhir
defisiensi nutrisi.
Hipertiroidisme juga terjadi dalam perubahan sekresi dan
metabolisme hipotalamik, pituitari dan hormon gonad. Jika
hipertiroidisme terjadi sebelum pubertas, akan terjadi penundaan
perkembangan seksual pada kedua jenis kelamin, tetapi pada pubertas
mengakibatkan penurunan libido baik pada pria dan wanita. Setelah
pubertas wanita akan juga menunjukkan ketidakteraturan menstruasi
dan penurunan fertilitas.
Dampak hipertiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh adalah
sebagai berikut :
1. Sistem integumen aeperti diahoresis, rambut halus dan jarang dan
kulit lembab
2. Sistem pncernaan seperti berat badan menurun, napsu makan
meningkat dan diare.
3. Sistem muskuloskeletal seperti kelemahan.
4. Sistem pernapasan seperti dispnea dan takipnea.
5. Sistem kardiovaskular seperti palpitasi, nyeri dada, sistolik
meningkat, tekanan nadi meningkat, takhikardi, dan disritmia.
6. Metabolik seperti peningkatan laju metabolisme tubuh, intoleran
terhadap panas dan suhu sub febris.

7. Sistem neurologi seperti mata kabur, mata lelah, insomnia, infeksi


atau ulkus kornea, sekresi air mata meningkat, konjungtiva merah,
fotobia, tremor, hiperrefeks tendon.
8. Sistem reproduksi seperti gelisah, iritabilitas, gugup/nervous, emosi
labil, perilaku mania dan perhatian menyempit.
2. Hipotiroidisme
Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan
mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan
jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid.
PATOFISIOLOGI
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan
pada pengobatan tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat
infeksi kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar tiroid yang bersifat
idiopatik.
Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30
sampai 60 tahun, empat kali lipat angka kejadiannya pada wanita
dibandingkan pria. Hipotiroidisme kongenital dijumpai satu orang
pada empat ribu kelahiran hidup.
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar
tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai
respons terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi
hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal
yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik
yang dipengaruhi antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria)


Penurunan motilitas usus
Penurunan detak jantung
Gangguan fungsi neurologik
Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme
lemak dimana akan terjadi peningkatan kadar kolesterol dan
trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami atherosklerosis.
Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti
rongga pleura, cardiak dan abdominal sebagai tanda dari
mixedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebagai
dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien
mengalami anemi.
Dampak hipotiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh sebagai
adalah berikut :

III.
B.

1. Sistem integumen seperti kulit dingin, pucat, kering bersisik


dan menebal ; pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal ;
rambut kering, kasar ; rambut rontok dan pertumbuhannya
buruk.
2. Sistem pulmonari seperti hipoventilasi, pleural efusi, dispnea
3. Sistem
kardiovaskular
seperti
bradikardi,
disritmia,
pembesaran jantung, toleransi terhadap aktivitas menurun,
hipotensi.
4. Metabolik seprti penurunan metabolisme basal, penurunan
suhu tubuh, intoleransi terhadap dingin.
5. Sistem muskuloskeletal seperti nyeri otot, kontraksi dan
relaksasi otot yang melambat.
6. Sistem neurologi seperti fungsi intelektual yang lambat,
berbicara lambat dan terbata-bata, gangguan memori,
perhatian kurang, letargi atau somnolen, binging, hilang
pendengaran, parastesia, penurunan refleks tendon.
7. Gastrointestinal seperti anoreksia, peningkatan berat badan,
obtipasi, distensi abdomen.
8. Sistem reproduksi, pada wanita ; perubahan menstruasi
seperti amenore atau masa menstruasi yang memanjang,
infertilitas, anovulasi dan penurunan libido. Pada pria ;
penurunan libido dan impotensia
9. Psikologis/emosi ; apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik
diri, perilaku mania.
10.
Manifestasi klinis lain berupa ;

Asuhan Keperawatan Klien dengan


Gangguan Kelenjar Tiroid

Penyakit akibat gangguan kelenjar tiroid umum terjadi, naun untungnya


dapat didiagnosa dengan cepat dan diobati denganhasil yang sangat baik.
Penyakit tiroid timbul sebagai gangguan fungsi (hipofungsi atau
hiperfungsi) atau sebagai lesi massa (perbesaran neoplasma atau
nonneoplastik, yang dikenal sebagai goiter)
A. Tinjauan Gangguan Kelenjar Tiroid
I.

Hipertiroidisme

Hipertiroidisme digambarkan sebagai suatu kondisi terjadi kelebihan


sekresi hormon tiroid. Tirotoksikosis mengacu pada manifestasi klinis
yang terjadi bila jaringan tubuh distimulasi oleh peningkatan hormon ini.
Hipertioridisme merupakan kelainan endokrin yang dapat dicegah. Seperti
kebanyakan kondisi tiroid, kelainan ini merupakan kelainan yang sangat
menonjol pada wanita. Kelainan ini menyerang wanita empat kali lebih
banyak daripada pada pria, terutama wanita muda yang berusia antara
20 dan 40 tahun.
PATOFISIOLOGI
Hipertiroidisme mungkin karena overfungsi keseluruhan kelenjar, atau
kondisi yang kurang umum, mungkin disebabkan oleh fungsi tunggal atau
multipel adenoma kanker tiroid. Juga pengobatan miksedema dengan
hormon tiroid yang berlebihan dapat menyebabkan hipertiroidisme.
Bentuk hipertioridisme yang paling umum adalah penyakit Graves (goiter
difus, toksik) yang mempunyai tiga tand penting : (1) hipertiroidisme, (2)
perbesaran kelenjar tiroid (goiter), dan (3) eksoptalmos (protusi mata
abnormal). Penyakit Graves merupakan kelainan autoimun yang
dimediasi oleh antibodi IgG yang diberikan dengan reseptor TSH aktif
pada permukaan sel-sel tiroid.
Penyebab lain hipertiroidisme dapat mencakup goiter nodular toksisk,
adenoma toksik (jinak), karsinoma tiroid, tiroiditis subakut dan kronis,
dan ingesti TH.
Patofisiologi diballik manifestasi penyakit hipertiroid Graves dapat
dibagi kedalam dua kategori : (1) yang sekunder akibat rangsngan berlebih
sistem saraf adrenergik dan (2) yang merupakan akibat tingginya kadar
TH yang bersirkulasi.
Hipertiroidisme ditandai oleh kehilangan pengontrolan normal sekresi
hormon tiroid (TH). Karena kerja dari TH pada tubuh adalah merangsang,
maka terjadi hipermetabolisme, yang meningkatkan aktivitas sistem sara

simpatis. Jumlah TH yang berlebihan mestimulasi sistem kardiak dan


meningkatkan jumlah reseptor beta-adrenergik. Keadaan ini mengarah
pada takikardia dan peningkatan curah jantung, volume sekuncup,
kepekaan adrenergik dan aliran darah perifer. Metabolisme sangat
meningkat, mengarah pada keseimbangan nitrogen negatif, penipisan
lemak, dan hasil akhir defisiensi nutrisi.
Hipertiroidisme juga terjadi dlam perubahan sekresi dan metabolisme
hipotalamik, pitutari dan hormon gonad. Jika hipertiroidisme terjadi
sebelum pubertas, akan terjadi penundan perkembangan seksual pada
kedua jenis kelamin, tetapi pada pubertas menagkibatkan penurunan
libido baik pada pria dan wanita. Setelah pubertas wanita akan juga
menunjukkan ketidakteraturan menstruasi dan penurunan fertilitas.
Dampak hipertiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh adalah
sebagai berikut :
1. Sistem integumen seperti diaphoresis, rambut halus dan jarang dan
kulit lembab.
2. Sistem pencernaan seperti berat badan menurun, napsu makan
meningkat dan diare.
3. Sistem muskuloskletal seperti kelemahan.
4. Sistem pernapasan seperti dispnea dan takipnea.
5. Sistem kardiovaskuler seperti palpitasi, neyeri dada, sistolik
meningkat, tekanan nadi meningkat, takhikardi dan disritmia.
6. Metabolik seperti peningkatan laju metabolisme tubh, intoleran
terhadap panas dan suhu sub febris.
7. Sistem neurologi seperti mata kabur, mata lelah, insomnia, infeksi
atau ulkus kornea, sekresi air mata meningkat, konjungtiva merah,
fotopobia, tremor, hiperrefeks tendon.
8. Sistem reproduksi seperti amenore, volume menstruasi berkurang dan
libido meningkat.
9. Psikologis/emosi seperti gelisah, iritabilitas, gugup/nervous, emosi
labil, perilaku mania dan perhatian menyempit.

II. Hipertiroidisme
Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan
mekanisme kompensasi kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan
jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid.
PATOFISIOLOGI
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan
pada pengobatan tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi
kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar tiroid yang bersifat idiopatik.

Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30 sampai 60


tahun, empat kali lipat angka kejadiannya pada wanita dibandingkan pria.
Hipotiroidisme kongenital dijumpai satu orang pada empat ribu kelahiran
hidup.
Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan
berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terbuka
rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan
menurunkan laju metabolisme basal yang akan mempengaruhi semua
sistem tubuh. Proses metabolik yang dipengaruhi antara lain :
a. Penurunan produksi asam lambung (Aclorhidria)
b. Penurunan motilitas usus
c. Penurunan detak jantung
d. Gangguan fungsi neurologik
e. Penurunan produksi panas
Penurunan hormon