Anda di halaman 1dari 14

Referat

TINEA KRURIS

Oleh:
Muhammad Arief Budiman, S. Ked
04084811416049

Pembimbing:
Dr. Mutia Devi, SpKK

BAGIAN/DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA/
RSUP DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat

TINEA KRURIS

Oleh:
Muhammad Arief Budiman, S.Ked
04084811416049

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian kepaniteraan
klinik senior di Bagian/Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit Umum Pusat DR. Mohammad Hoesin Palembang periode
15 Juni 2015 18 Juli 2015.

Palembang, September 2015


Pembimbing,

Dr. Mutia Devi SpKK

TINEA KRURIS
Muhammad Arief Budiman, S. Ked
Bagian/ Departemen Dermatologi dan Venereologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/ RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang

PENDAHULUAN
Dermatofitosis adalah sekelompok penyakit jamur kulit superfisial yang menyerang
jaringan dengan zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku,
yang disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Infeksi dermatofitosis dikenal dengan
nama tinea dan dibagi berdasarkan lokasi. 1 Tinea kruris adalah salah satu dermatofitosis yang
ditemukan pada pangkal paha, genital, pubis, serta perineum dan kulit perianal. 2 Penyakit ini
juga dikenal sebagai jock itch, crotch itch, dhobie itch, eczema marginatum, dan ringworm of
the groin.3
Tinea kruris adalah jenis kedua dari dermatofitosis yang paling umum di seluruh dunia,
namun lebih sering terjadi pada zona tropis, seperti Indonesia. 2,4,5 Penyakit ini merupakan
salah satu bentuk klinis tersering di Indonesia dan ditemui terutama pada musim panas dengan
tingkat kelembaban tinggi.3 Menurut penelitian Budimuldja tahun 1997, tinea kruris
menduduki peringkat kedua tersering dari seluruh penyakit jamur kulit di Departemen
Dermatologi dan Venereologi Universitas Indonesia. 6 Tinea menduduki peringkat kelima dari
sepuluh penyakit terbanyak tahun 2014 di Poliklinik Dermatologi Infeksi Rumah Sakit Umum
Pusat DR. Moh. Hoesin Palembang, dan tinea kruris menduduki peringkat ketiga dari seluruh
pasien tinea.
Tinea kruris dapat bersifat akut ataupun kronis, dan dapat diderita seumur hidup.1 Tinea
kruris lebih sering diderita oleh orang dewasa dibanding anak dan menyerang laki-laki tiga
kali lebih sering dibanding wanita, salah satu alasannya karena skrotum menciptakan kondisi
yang hangat dan lembab. Penularan tinea kruris dapat melalui kontak langsung, baik dengan
manusia maupun binatang, dan dari serpihan jamur pada pakaian, handuk, dan lain-lain. 2,4,5
Faktor predisposisi lain yang mempengaruhi terjadinya tinea kruris, antara lain obesitas dan
derajat perspirasi yang berlebih.5
Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia 2012, kompetensi dokter umum
dalam menangani tinea kruris adalah 4A, yang artinya lulusan dokter mampu membuat
diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas.7 Referat ini akan

Data rekam medik poliklinik dermatologi infeksi Rumah Sakit Umum Pusat DR. Moh. Hoesin Palembang tahun
2014

membahas mengenai etiopatogenesis, gambaran klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis


banding, diagnosis, serta penatalaksanaan mengenai tinea kruris.
ETIOPATOGENESIS
Tinea kruris disebabkan oleh infeksi jamur golongan dermatofita. Dermatofita adalah
golongan jamur yang menyebabkan dermatofitosis. Menurut Budimulja tahun 2010,
dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti, yang terbagi dalam tiga genus, yaitu
Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton, mempunyai sifat mencerna keratin.1
Penyebab tersering tinea kruris adalah Epidermophyton floccosum, diikuti Tricophyton
rubrum dan Tricophyton mentagrophytes.2,4
Infeksi dermatofita melalui tiga proses, yaitu perlekatan ke keratinosit, penetrasi
melewati dan di antara sel, dan perkembangan respon pejamu.5 Pertama adalah berhasil
melekatnya artrokonidia, spora aseksual yang dibentuk dari hasil fragmentasi hifa, ke
permukaan jaringan berkeratin setelah melewati beberapa pertahanan pejamu, antara lain
asam lemak yang dihasilkan oleh kelenjar sebasea yang bersifat fungistatik dan kompetisi
dengan flora normal.2 Dalam beberapa jam, secara in vitro 2 jam setelah terjadinya kontak,
pertumbuhan dan invasi spora mulai berlangsung.2,4
Proses kedua adalah invasi spora ke lapisan yang lebih dalam. Tahap ini dibantu oleh
sekresi proteinase, lipase dan enzim musinolitik, yang menjadi nutrisi bagi jamur. Trauma dan
maserasi juga membantu penetrasi jamur ke keratinosit. Selain itu, manans, suatu zat yang
terkandung dalam dinding sel dermatofita ini, dapat menghalangi proliferasi dari keratinosit
dan respon imunitas seluler yang memperlambat penyembuhan epidermis.2,8
Proses ketiga adalah perkembangan respon pejamu. Derajat inflamasi di pengaruhi oleh
status imun penderita dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau
Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memegang peranan yang sangat penting dalam
melawan dermatofita. Respon inflamasi dari reaksi hipersensitivitas ini berkaitan dengan
penyembuhan pasien. Respon imunitas seluler yang rusak akan mengakibatkan proses
penyakit yang kronis dan berulang. Pengaruh adanya atopi dan kadar IgE yang tinggi juga
diduga berpengaruh terhadap kronisitas.2,3
Terdapat hipotesis menyatakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel Langerhans
epidermis dan dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Sel Langerhans bekerja
sebagai Antigen Presenting Cell (APC) yang mampu melakukan fungsi fagosit, memproduksi
IL-1, mengekspresikan antigen, reseptor Fe dan reseptor C3. Sel Langerhans berkumpul di
4

dalam kulit membawa antigen ke dalam pembuluh getah bening dan mempertemukannya
dengan limfosit yang spesifik. Selain oleh sel Langerhans, peran serupa dilakukan pula oleh
sel endotel pembuluh darah, fibroblast, dan keratinosit. Limfosit T yang telah aktif ini
kemudian menginfiltrasi tempat infeksi dan melepaskan limfokin. Limfokin inilah yang
mengaktifkan makrofag sehingga mampu membunuh jamur patogen.5,9
Faktor host yang berperan pada dermatofitosis yaitu genetik, jenis kelamin, usia,
obesitas, penggunaan kortikosteroid dan obat-obat imunosupresif. Kulit di lipat paha yang
basah dan tertutup menyebabkan terjadinya peningkatan suhu dan kelembaban kulit sehingga
memudahkan infeksi. Penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain juga dapat menyebabkan
terjadinya tinea kruris, misalnya tinea pedis pada daerah kaki. Faktor lingkungan, berupa
higiene sanitasi dan lokasi geografis beriklim tropis, merupakan faktor predisposisi terjadinya
penyakit jamur.2,4
GAMBARAN KLINIS
Efloresensi terdiri atas macam-macam bentuk (polimorfik), baik primer maupun
sekunder.1 Tinea kruris mempunyai lesi yang khas berupa plak eritematosa berbatas tegas
meluas dari lipat paha hingga ke paha bagian dalam dan seringkali bilateral (Gambar 1).
Skrotum biasanya jarang terlibat.3 Lesi disertai skuama selapis dengan tepi yang meninggi.2

Gambar 1. Plak eritematosa dan skuama pada regio inguinal yang meluas ke regio pubis 2

Apapun penyebab tinea kruris, keluhan gatal merupakan salah satu gejala umum yang
menonjol. Nyeri juga sering dirasakan pada daerah yang terjadi maserasi dan infeksi
sekunder.2,5 Peradangan di bagian tepi lesi lebih terlihat dengan bagian tengah tampak seperti
5

menyembuh (central clearing). Pada tepi lesi dapat disertai vesikel, pustul, dan papul,
terkadang terlihat erosi disertai keluarnya serum akibat garukan. Pada lesi kronis dapat
ditemukan adanya likenifikasi disertai skuama dan hiperpigmentasi (Gambar 2).1,3,10

Gambar 2. Gambaran klinis tinea kruris disertai hiperpigmentasi 12

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menegakkan diagnosis tinea kruris dibutuhkan uji diagnostik untuk mengisolasi
dan mengidentifikasi jamur. Gambaran klinis tinea kruris berupa kelainan kulit yang berbatas
tegas disertai peradangan dengan bagian tepi lebih nyata daripada bagian tengah.
1. Pemeriksaan elemen jamur
Spesimen kerokan kulit diambil dari daerah pinggir lesi yang meninggi atau aktif.
Hasil pemeriksaan mikroskopik secara langsung dengan KOH 10-20% didapatkan
hifa (dua garis lurus sejajar transparan, bercabang dua/dikotom dan bersepta) dengan
atau tanpa artrospora (deretan spora di ujung hifa) yang khas pada infeksi
dermatofita (Gambar 3). Pemeriksaan mikroskopik langsung untuk mengidentifikasi
struktur jamur merupakan teknik yang cepat, sederhana, terjangkau, dan telah
digunakan secara luas sebagai teknik skrining awal. Teknik ini hanya memiliki
sensitivitas hingga 40% dan spesifisitas hingga 70%. Hasil negatif palsu dapat terjadi
hingga pada l5% kasus, bahkan bila secara klinis sangat khas untuk dermatofitosis.9,12

Gambar 3. Gambaran hifa (tanda panah biru) disertai spora (tanda panah merah) 3

2. Pemeriksaan kultur
Kultur jamur merupakan metode diagnostik yang lebih spesifik namun membutuhkan
waktu yang lebih lama dan memiliki sensitivitas yang rendah, harga yang lebih
mahal Pemeriksaan kultur tidak rutin dilakukan pada diagnosis dermatofitosis.
Biasanya digunakan hanya pada kasus yang berat dan tidak berespon pada
pengobatan sistemik. Kultur dilakukan untuk mengetahui golongan ataupun spesies
dari jamur penyebab tinea kruris. Kultur perlu dilakukan untuk menentukan
spesiesnya karena semua spesies dermatofita tampak identik pada sediaan langsung.
Media biakan yang digunakan adalah agar dekstrosa Sabourraud yang ditambah
antibiotik, contohnya kloramfenikol, dan sikloheksimid untuk menekan pertumbuhan
jamur kontaminan/ saprofit (contohnya jamur non-Candida albicans, Cryptococcus,
Prototheca sp., P.werneckii, Scytalidium sp., Ochroconis gallopava), disimpan pada
suhu kamar 25-30oC selama tujuh hari, maksimal selama empat pekan dan dibuang
jika tidak ada pertumbuhan.9,12

Tabel 1. Morfologi dan gambaran mikroskopis jamur penyebab tersering tinea kruris 2
Morfologi Koloni

Gambaran

Keterangan

Mikroskopis
T. rubrum
Beberapa

mikrokonidia

berbentuk

air

mata,

makrokonidia jarang berbentuk pensil.

E. floccosum

Tidak ada mikrokonidia, beberapa dinding tipis dan


tebal. Makrokonidia berbentuk gada.

T. interdigitale

Mikrokonidia yang bergerombol, bentuk cerutu


yang jarang, terkadang hifa spiral.

Untuk menentukan spesies penyebab dilakukan identifikasi makroskopis dan


mikroskopis. Secara makroskopis, tampak gambaran gross koloni dengan tekstur,
topografi dan pigmentasinya, sedangkan identifikasi mikroskopi dibuat preparat
dengan penambahan lactophenol cotton blue (LPCB) dan diperiksa di bawah
mikroskop dengan pembesaran objektif 40 x. Gambaran mikroskopis yang harus
diperhatikan adalah morfologi hifa, pigmentasi dinding sel jamur, dan karakteristik
sporulasi (makronidia dan mikronidia) (Tabel 1).2,9
3. Pemeriksaan histopatologi
Biopsi dan pemeriksaan histopatologi tidak dilakukan pada gambaran lesi yang khas.
Biopsi dilakukan untuk penegakan diagnosis yang memerlukan terapi sistemik pada
lesi yang luas. Dengan pewarnaan hematoksilin dan eosin, hifa akan terlihat pada
stratum korneum. Pewarnaan yang paling sering digunakan adalah dengan periodic
acid-Schiff (PAS), jamur akan tampak merah muda dan methenamine silver stains,
jamur akan tampak coklat atau hitam.2,12
8

DIAGNOSIS BANDING
Gambaran klinis tinea kruris dapat menyerupai infeksi oleh Candida albicans. Namun,
pada kandidosis, lebih sering ditemukan pada wanita dan lesi yang ditemukan lebih meradang
dan lembab disertai sejumlah lesi satelit (makula dan pustul putih) yang berukuran kecil dan
banyak.3,5
Lokasi di lipat paha, tinea kruris dapat didiagnosis banding dengan eritrasma, dermatitis
seboroik, pemfigus vegetans, dan psoriasis intertriginosa. Eritrasma dapat dibedakan dari
pemeriksaan penunjang menggunakan lampu Wood yang akan memberikan warna merah bata
yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium minutissimum. Sedangkan, pada infeksi jamur
golongan dermatofita, biasanya tidak menampakkan floresensi pada pemeriksaan lampu
Wood.3,10,13 Dermatitis seboroik bisa mengenai lipat paha, dan terkadang meluas hingga ke
daerah lain yang banyak mengandung kelenjar sebasea, seperti dada dan ketiak. Pada
pemfigus vegetans, lesi disertai maserasi dan erosi. Psoriasis intertriginosa menunjukkan
gambaran skuama dan pustul pada tepi lesi. Namun, pada psoriasi intertriginosa, lesi yang
khas juga dapat ditemukan di bagian tubuh lain. Biopsi dapat dilakukan untuk psoriasis
dengan lesi yang kurang khas.3,5
Eritema intertrigo dan dermatitis kontak juga dapat terjadi di lipat paha. Eritema
intertrigo disebabkan oleh kolonisasi bakteri di lipat paha. Biasanya ditemukan pada pasien
dengan obesitas, baik perempuan maupun laki-laki. Lesi berbatas tegas dengan maserasi di
bagian tengah lesi. Dermatitis kontak (alergi/iritan) yang muncul di lipat paha mungkin dapat
disebabkan oleh bahan pakaian dan juga akibat pemakaian deodaran.5,11
DIAGNOSIS
Penegakan diagnosis tinea kruris ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis, tinea kruris umumnya ditandai dengan adanya
keluhan gatal. Sifat keluhan dapat terjadi secara akut, namun umumnya subakut atau kronis,
bahkan dapat merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup.
Gejala klinis tinea kruris yang khas adalah gatal yang meningkat saat berkeringat,
dengan bentuk lesi polisiklik/bulat berbatas tegas, efloresensi polimorfik, dan tepi lebih aktif.
Dari pemeriksaan penunjang, terdapatnya hifa pada sediaan mikroskopis pemeriksaan elemen
jamur dengan KOH. Dan pemeriksaan metode kuktur jamur dapat dilakukan, namun
membutuhkan waktu yang lama.
PENATALAKSANAAN
9

Penatalaksanaan tinea kruris dibagi menjadi dua, yaitu tatalaksana umum dan khusus.
Tatalaksana khusus tinea kruris juga dibagi menjadi dua, yaitu tatalaksana topikal dan
sistemik.
Tatalaksana Umum
Secara umum, tatalaksana tinea kruris berupa edukasi untuk mencegah infeksi berulang.
Daerah yang terinfeksi dijaga agar tetap kering dan terhindar dari sumber infeksi serta
mencegah pemakaian peralatan mandi bersama.4,5,10 Pengurangan keringat dan penguapan dari
daerah lipat paha, seperti penggunaan pakaian yang menyerap keringat dan longgar juga
penting dalam pencegahan agar daerah lipat paha tetap kering. Daerah lipat paha harus benarbenar dikeringkan setelah mandi dan diberikan bedak. Pencucian rutin pakaian, sprei, handuk
yang terkontaminasi dan penurunan berat badan pada seorang dengan obesitas juga dapat
dilakukan. Infeksi berulang pada tinea kruris dapat terjadi melalui proses autoinokulasi
reservoir lain yang mungkin ada di tangan dan kaki (tinea pedis, tinea unguium) sehingga
penting untuk dilakukan eradikasi.4,11
Tatalaksana Khusus
Untuk lesi yang ringan dan tidak luas cukup diberikan terapi topikal saja. Terapi
sistemik diberikan untuk lesi yang lebih luas dan meradang, sering kambuh dan tidak sembuh
dengan obat topikal yang sudah adekuat.9,10 Beberapa pilihan obat antijamur topikal dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Pilihan obat antijamur topikal1,10,11


Golongan Imidazol

Golongan Alilamin

Golongan Naftionat

Golongan lain

mikonazol 2%

naftitin 1%

tolnaftat 1%

siklopiroksolamin 1%

klotrimazol 1%

terbinafin 1%

tolsiklat

salep Whitfield

ekonazol 1%

butenafin 1%

salep 2-4/3-10

10

isokonazol

vioform 3%

sertakonazol
tiokonazol 6,5%
ketokonazol 2%
bifonazol
oksikonazol 1%

Lama pengobatan tinea kruris menggunakan antijamur topikal umumnya sampai 1-2
pekan. Untuk pengobatan topikal dengan antijamur yang bersifat fungistatik, pengobatan
dilanjutkan 1-2 pekan setelah lesi hilang/sembuh. Hal ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya kekambuhan sehingga pengobatan diberikan selama sekurang-kurangnya 3-4
pekan. Untuk pengobatan topikal dengan antijamur yang bersifat fungisidal, pengobatan
cukup diberikan selama 1-2 pekan, tidak perlu diteruskan 1-2 pekan setelah lesi hilang/
sembuh.11,12
Sebelum dioles, daerah yang akan diolesi obat dibersihkan dan dikeringkan. Obat dioles
di atas lesi menjadi satu lapisan tipis yang menutupi paling sedikit sampai 3 cm ke arah luar
lesi. Obat digunakan 2 kali sehari, kecuali butenafin, terbinafin, sertakonazol hanya dioles 1
kali sehari. Hasil maksimal bila lesi dijaga tetap bersih, kering dan sejuk, misalnya dengan
menggunakan celana yang tidak sempit dan menyerap keringat.11
Untuk terapi sistemik, beberapa pilihan obat antijamur yang dapat digunakan dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Pilihan obat antijamur sistemik1,10,11


Golongan

Sediaan dan dosis

Alilamin
-

terbinafin

Bersifat fungisidal, paling efektif untuk infeksi jamur dematofita

Sediaan: Tablet 250 mg

Dosis: 250 mg/hari selama 2 pekan (Dewasa)

Dosis: 3-6 mg/kgBB/hari selama 2 pekan (Anak)

11

Imidazol
-

itrakonazol

flukonazol

Bersifat fungistatik

Interaksi dengan obat lain cukup banyak

Sediaan: Kapsul 100 mg, solusio oral 10mg/ml

Dosis: 100 mg/hari selama 2 pekan (Dewasa)

Dosis: 5 mg/kgBB/hari selama 1 pekan (Anak)

Bersifat fungistatik

Sediaan: Tabel 100, 150, 200 mg, suspensi oral 10 dan 40 mg/ml,
injeksi 400 mg

ketokonazol

Griseofulvin

Dosis: 150 mg/pecan selama 4-6 pekan

Bersifat fungistatik

Dikonsumsi dengan makanan atau minuman bersoda

Bersifat hepatotoksik

Sediaan: Tablet 200 mg

Dosis: 200 mg/hari selama 10-14 hari

Bersifat fungistatik, aktif untuk golongan dermatofita

Efek samping: sefalgia, gejala gastrointestinal, fotosensitivitas

Dikonsumsi dengan makanan berlemak

Sediaan:
-

Micronized: Tabel 250 dan 500 mg, oral suspensi 125mg/


sendok teh

Ultramicronized: Tablet 165 dan 330 mg

Dosis: 500 mg/hari selama 2-6 pekan (Dewasa)

Dosis: 10-20 mg (ultramicronized)/kgBB/hari selama 6 pekan


(Anak)

KESIMPULAN
Tinea kruris merupakan jamur dermatofit yang mengenai daerah inguinal, paha bagian
atas, bokong, pubis, genital, dan perianal. Tinea kruris terutama disebabkan oleh E.
floccosum, diikuti T. rubrum dan T. mentagrophytes. Diagnosis tinea kruris ditegakkan
berdasarkan karakteistik gambaran klinis yang khas yaitu gambaran polisiklik, bagian tepi lesi
tampak lebih aktif dibanding bagian tengah yang tampak seperti menyembuh (central
healing) dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan elemen jamur dengan penambahan larutan
KOH 10%, tampak hifa panjang, bereskat, dan bercabang, atau dengan pemeriksaan kultur.
12

Tinea kruris dapat didiagnosis banding dengan kandidosis, eritrasma, pemfigus vegetans,
dermatitis seboroik, psoriasis intertriginosa, eritema intertrigo, dermatitis kontak alergi, dan
iritan. Penatalaksanaan tinea kruris dibagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus. Terapi umum
berupa edukasi kepada pasien untuk mejaga menjaga kebersihan area lesi dan tidak lembab.
Penatalalaksanaan khusus tinea kruris dibagi menjadi topikal dan sistemik. Terapi topikal
dapat diberikan dengan Alilamin, Imidasol, Naftionat, ataupun golongan lain. Terapi
antifungal sistemik dapat diberikan dengan pemberian griseofulvin, terbinafin, itrakonasol,
ketokonasol ataupun flukonasol.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budimulja U. Mikosis. Dalam Djuanda A, Hamzah M, dan Aisah, S, eds. Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. Hal. 89100
2. Schieke SM, Garg A. Fungal disease: superficial fungal infection. In: Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, Wolf K, eds. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 8th Ed: Volume 2. New York: McGraw-Hill; 2012. p.2277-97
3. James WD, Berger TG, Elston DM, eds. Andrews Disease of the Skin, Clinical Dermatology.
11th Ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2011.
13

4. Sobera JO, Elewski BE. Infections, investations, and bites: fungal disease. In: Bolognia, Jean
L, Jorizzo JL, Rapini RP. eds. Dermatology. 2 nd Ed: Volume 1. Philadelphia: Churchill
Livingstone Elsevier. p.1135-62
5. Hay JR, Ashbee HR. Mycology: superficial mycoses. Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths
C, eds. In: Rooks Textbook of Dermatology. 8th Ed: Volume 2. Australia: Blackwell
Publishing. p 36.20-34
6. Budimuldja U. Mycotic diseases in Indonesia, with emphasis on skin fungal infection. Kor J
Med Mycol, 4(1); 1999. Hal. 1-5
7. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Edisi Ke-2. Jakarta:
Konsil Kedokteran Indonesia; 2012.
8. Kurniati CRSP. Etiopatogenesis dermatofitosis. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin,
20(3):2008, Hal 243-50
9. Mulyaningsih S. Tingkat kekambuhan tinea kruris dengan pengobatan krim ketokonasol 2%
sesuai lesi klinis dibandingkan dengan sampai 3 cm di luar batas lesi klinis (Laporan
Penelitian). Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2004
10.Wolff K, Johnson RA. Fungal infection of the skin and hair. In: Fitzpatricks Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology. 6th Ed. New York: McGraw Hill; 2009.
11.Siswati AS, Ervianti E. Tinea korporis dan tinea kruris. Dalam. Bramono, Kusmarinah, dkk.
(Editor). Dermatomikosis Superfisialis. Edisi ke-2. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2013. Hal. 58-74
12.Yosella T. Diagnosis and treatment of tinea cruris. J MAJORITY, 4(2): 2015. Hal. 122-28
13.Kelly BP, Superficial fungal infections. Pediatrics in Review, 33(4): 2012. p.22-37

14