Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Secara umum hernia adalah penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian yang lemah dari dinding rongga tersebut. Hernia dapat terjadi melalui aspek
kongenital maupun karena adanya faktor yang didapat. Hernia umumnya terdiri dari
cincin, kantong, dan isi hernia. Penyebab terjadinya hernia adalah karena lemahnya
struktural dinding suatu organ dan peningkatan tekanan di rongga abdomen akibat dari
mengangkat benda berat, obesitas, kehamilan, mengejan, atau batuk.
Hernia inguinalis adalah hernia pada regio inguinalis yang melalui anulus
inguinalis menelusuri kanalis inguinalis. Hernia ini dapat dijumpai pada setiap usia,
tetapi lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Insiden hernia meningkat seiring
dengan bertambahnya usia. Berbagai faktor yang dianggap kausal pada penyakit ini
yaitu peninggian tekanan intra abdomen, kelemahan otot dinding perut, dan prosesus
vaginalis yang terbuka. Gejala klinis pada penyakit ini adalah adanya benjolan dilipat
paha yang muncul saat berdiri / batuk / mengejan dan hilang pada saat berbaring. Hernia
inguinalis dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis / indirek dan hernia
inguinalis medialis / direk. Kedua hernia inguinalis ini dapat dibedakan dari
pemeriksaan fisik inspeksi letak, tonjolan, penyebab, dan pada pemeriksaan finger tip
test.

BAB II
LAPORAN KASUS

Skenario 1
Seorang laki laki Tn. N umur 41 tahun datang ke UGD tempat anda bekerja dengan
keluhan benjolan dilipat paha kanan, sebesar buah duku, tidak sakit dan tidak panas,
BAB dan flatus normal.
Skenario 2
Ternyata benjolan sampai sekarang masih bisa mengecil sendiri dalam posisi tidur,
membesar bila berdiri.
Skenario 3
Pemeriksaan fisik didapatkan benjolan soliter warna sama dengan kulit sekitarnya suhu
sama dengan sekitarnya, bentuk benjolan agak memanjang, diameter 3 cm,
konsistensi kenyal, tidak mobile, tidak terdengar bising usus maupun bruits.
Pemeriksaan finger tips test positif di ujung jari.

BAB III
PEMBAHASAN

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. N

Umur

: 41 tahun

Jenis kelamin : Laki laki


Pekerjaan

:-

Alamat

:-

Agama

:-

Suku bangsa : -

HIPOTESIS

Hernia inguinalis

Hernia femoralis

Tumor

Elefantiasis

ANAMNESIS
Riwayat penyakit sekarang

Apakah benjolan yang ada hilang timbul atau menetap ?

Apakah akhir akhir ini mengangkat beban yang berat ?

Apakah benjolan tersebut hilang saat berbaring ?

Apakah terdapat gejala lain?

Riwayat penyakit dahulu

Apakah pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya?

Apakah mengalami trauma sebelumnya?

Apakah mengidap penyakit lain?

Riwayat penyakit keluarga

Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami gejala yang sama?

Riwayat kebiasaan

Apa pekerjaan saat ini?

Apakah pekerjaannya berhubungan dengan mengangkat beban berat ?

PEMERIKSAAN FISIK

Kesan umum

: tidak sakit

Tanda vital

Nadi
:Tekanan darah : RR
:Suhu
: tidak panas (tidak adanya demam)

Data antropometri

Berat badan : Panjang badan : -

Status lokalis :
Kulit

: sama dengan sekitarnya (normal, tidak adanya eritema/tanda radang)

Rambut

:-

Kepala

:-

Wajah

:-

Mata

:-

Telinga: Hidung

:-

Mulut

:-

Tenggorokan : Leher

:-

Thorax

:-

Abdomen

Auskultasi

: tidak terdengar bising usus maupun bruits (mungkin sudah terjadi

necrosis pada usus )


Genitalia

Anus : BAB dan flatus normal.

Extremitas bawah

Palpasi lipat paha : benjolan sebesar duku, soliter, agak memanjang, konsistensi
kenyal, tidak mobile, diameter +/- 3 cm (mengarah pada dugaan Hernia
Ingunalis Lateralis)

PEMERIKSAAN PENUNJANG ANJURAN

Hernia didiagnosis berdasarkan gejala klinis. Pemeriksan penunjang jarang


dilakukan karena jarang memiliki nilai, namun kami menganjurkan beberapa
pemeriksaan penunjang yang dapat

1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap dan serum elektrolit
Pada hernia, pemeriksaan darah lengkap dan serum elektrolit dapat
menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah
putih (Leukosit : >10.000 18.000/mm3) dan ketidak seimbangan elektrolit.
2.Pemeriksaan radiologi

Sinar X abdomen

Apabila sinar X menunjukkan abnormalnya kadar gas dalam usus berarti telah
terjadi obstruksi usus.

DIAGNOSIS KERJA

Hernia Inguinalis Laterlis Dextra Reponibilis


Kami memilih diagnosis kerja seperti diatas dikarenakan adanya hasil pemeriksaan fisik
yang mengarah pada gejala-gejala yang umumnya timbul pada penyakit ini, antara lain
dengan ditemukannya benjolan di lipat paha kanan dengan bentuk agak memanjang,
tidak terdapat tanda-tanda radang pada benjolan tersebut serta dengan pemeriksaan
finger tips test positif di ujung jari.

PATOFISIOLOGI 1
Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8
kehamilan, terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. Penurunan testis tersebut akan
menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang
disebut dengan prosesus vaginalis peritonei. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya
prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui
kanalis tersebut. Pada orang tua kanalis inguinalis telah menutup. Namun karena
merupakan lokus minoris resistensie ditambah bila ada kelemahan pada dinding
badomen maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat,
kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan dirujuk kepada dokter spesialis
bedah. Tindakan yang mungkin akan dilakukan adalah berupa herniotomi kemudian

hernioplasti. Herniotomi adalah tindakan mengangkat kantong hernia, sedangkan


hernioplasti adalah setelah dilakukan pengangkatan kantung hernia lalu dilakukan
tindakan mempersempit anulus inguinalis dengan cara menjahit. Semua tindakan
tersebut dilakukan oleh dokter spesialis bedah.

KOMPLIKASI
Pada hernia inguinalis lateralis sering terjadi komplikasi. Komplikasi yag dapat
terjadi antara lain:
1. Hernia inguinalis lateralis ireponibilis perlekatan antara isi hernia dengan
kantong hernia, sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali
2. Hernia inguinalis lateralis incarcerate penekanan pada cincin hernia,
akibatnya makin banyak usus yang masuk, cincin hernia menjadi relatif sempit
dan dapat menimbulkan gangguan penyaluran isi usus
3. Hernia inguinalis lateralis strangulate bila incarcerata dibiarkan bisa terjadi
penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.
4. Obstruksi usus

PROGNOSIS
Ad Vitam

: Ad bonam

Ad Functionam

: Ad bonam

Ad Sanationam

: Dubia ad bonam

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

HERNIA2
Secara umum hernia merupakan penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan.
Terdapat dua faktor predisposisi utama hernia yaitu peningkatan tekanan intra
abdomen dan melemahnya dinding abdomen.

Peningkatan tekanan intra abdomen dapat terjadi antara lain karena :

1. Mengangkat beban berat


2. Batuk yang lama
3. Tahanan saat miksi
4. Tahanan saat defekasi, misalnya pada saat konstipasi atau terjadi obstruksi usus besar

Melemahnya dinding abdomen dapat terjadi antara lain karena :

1. Umur yang semakin bertambah


2. Kerusakan atau paralisis dari saraf motorik
Hernia terdiri atas :
1. Cincin hernia
2. Kantong hernia
3. Isi hernia

Hernia dapat dibedakan berdasarkan penyebab terjadinya, letaknya, dan sifatnya.


-

Berdasarkan penyebab terjadinya :


1. Hernia kongenital (bawaan)
2. Hernia akuisita (hernia yang didapat atau muncul setelah lahir)

Berdasarkan letaknya :
1. Hernia Interna
Hernia yang terjadi dari tonjolan isi abdomen melalui suatu celah
ke dalam rongga lain tanpa kantong.
Contoh : - Hernia diafragmatika (for bochdalek).
- Hernia foramen winslow.
- Hernia mesentrium hiatogenik.
2. Hernia Eksterna
Hernia yang menonjol di bawah kulit, melalui dinding perut,
pinggang / perineum dinding perut.
Contoh : - Hernia inguinalis : regio inguinal
- Hernia skrotalis : di skrotum
- Hernia umbilikalis : di umbilikus
- Hernia femoralis : di kanalis femoralis

Berdasarkan sifatnya :

1.

Hernia reponible : isi hernia bisa keluar masuk

2.

Hernia irreponible (Hernia Akreta) : isi hernia tidak bisa keluar masuk

3.

Hernia inkarserata : isi hernia terjepit oleh cincin hernia

4.

Hernia stranggulata : gangguan pembuluh darah dari isi hernia

5.

Hernia richter : terjadinya stranggulasi pada sebagian dinding isi hernia

HERNIA INGUNALIS 5
A. Definisi Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis
internus/lateralis menelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga abdomen
melalui anulus inguinalis externa/medialis (Mansjoer A,dkk 2000).
B. Etiologi
-

Peninggian tekanan di rongga abdomen


Contoh : mengangkat beban berat, batuk, mengejan, dll.

Kelemahan dinding perut


Contoh : usia yang semakin bertambah

Prosesus vaginalis terbuka

C. Macam-macam hernia ingunalis

1. Hernia inguinalis medialis / direk hernia4


Hernia inguinalis direk ini hamper selalu disebabkan oleh factor peninggian tekanan
intraabdomen kronik dan kelemahan otot dinding di trigonum Hesselbach. Oleh
karena itu, hernia ini umumnya terjadi bilateral , khususnya pada lelaki tua. Hernia
ini jarang, bahkan hampir tidak pernah, mengalami inkarserasi dan strangulasi.
Mungkin terjadi hernia geser yang mengandung sebagian dinding kandung kemih.
Kadang dtemukan defek kecil di m.oblikus internus abdominis, pada segala usia,
dengan cincin yang kaku dan tajam yang sering menyebabkan strangulasi. Hernia
ini banyak diderita oleh penduduk di Afrika.

Gambar 1 : Hernia inguinalis direk


2. Hernia inguinalis lateralis / indirek hernia.
Hernia ini disebut latelaris karena menonjol dari perut di lateral pembuluh
epigastrika inferior. Disebut indirek karena keluar melalui dua pintu dan saluran,
yaitu annulus dan kanalis inguinalis; berbeda dengan hernia medialis yang langsung
menonjol melalui segitiga Hessebach dan disebut sebagai hernia direk. Pada
pemeriksaan herna leteralis, akan tampak tonjolan berbentuk memanjang sedangkan
hernia medial berbentuk tonjolan bulat. Pada bayi dan anak, hernia latelaris
disebabkan oleh kelainan bawaan berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis
peritoneum sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum. Hernia geser dapat
terjadi di sebelah kanan atau kiri. Hernia yang di kanan biasanya berisi sekum dan
sebagian kolon asendens, sedangkan yang di kiri berisi sebagian kolon desendens.

Gambar 2 : Hernia inguinalis indirek

2. Tanda klinik
-

Adanya benjolan dilipat paha yang muncul waktu berdiri / batuk /


mengejan dan hilang kembali saat berbaring

Rasa nyeri hanya timbul bila terjepit cincin hernia / stranggulasi /


inkarserasi

Inspeksi letak

Hernia Ingunalis Lateralis

Hernia Ingunalis Medialis

- Tonjolan memanjang

- Tonjolan bulat

- Sebelah lateral A.

- Medial A. Epigastrika

Epigastrika inferior di kanalis

inferior di trigonum

ingunalis.

Haselbach.

Penyebab

- Bawaan

- Kelemahan otot
- Tekanan intraabdominal

- Tekanan intraabdominal
Finger tip test
Komplikasi

Teraba di ujung jari


- Strangulasi

Teraba di sisi medial jari


Jarang

- Inkarserasi
- Obstruksi
Pengobatan

Herniotomi dan hernioterapi

Herniotomi

3. Komplikasi
1.

Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi
hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis
ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.

2.

Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang
masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan
gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis
lateralis incarcerata.

3.

Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan


pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia
inguinalis lateralis strangulata.

4.

Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan


pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.

4. Penatalaksanaan
1. Konservatif
a. Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan
secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat
penyokong.
b. Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres
hangat dan setelah 5 menit dievaluasi kembali.
c. Celana penyangga
d. Istirahat baring
e. Pengobatan

dengan

pemberian

obat

penawar

nyeri,

misalnya

Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak tinja


untuk mencegah sembelit.
f. Diet cairan sampai saluran gastrointestinal berfungsi lagi, kemudian
makan dengan gizi seimbang dan tinggi protein untuk mempercepat
sembelit dan mengedan selama BAB, hindari kopi kopi, teh, coklat, cola,
minuman beralkohol yang dapat memperburuk gejala-gejala.

2.

Pembedahan (Operatif) 6 :
a. Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat
dinding belakang.

b. Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong


dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi,
kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.
c. Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen
dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus
internus dan muskulus ablikus internus abdomen ligamen inguinal.

BAB V
KESIMPULAN
Seorang laki-laki umur 41 tahun dengan keluhan benjolan dilipat paha kanan
setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosa Hernia
Inguinalis Lateralis Dextra Reponible. Didukung dengan gejala adanya benjolan dilipat
paha kanan, tidak sakit dan tidak panas, bab dan flatus normal, benjolan dapat mengecil
sendiri dalam posisi tidur dan membesar bila berdiri, bentuk benjolan agak memanjang,
tidak mobil, dan pemeriksaan finger tip test positif di ujung jari.
Penatalaksanaan pada pasien yang dapat diberikan yaitu terapi konservatif
dengan istirahat dan terapi pembedahan (operatif). Setelah diberikan terapi yang
adekuat, prognosis pada pasien akan baik.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

1. Arif, M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aeculapius, Jakarta.

2. Sjamsuhidajat, R. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC. p. 619
3. Mansjoer A. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius. 2000.
4. Carpenito, L.J. 1997. Buku Saku Keperawatan. Edisi VI. Jakarta: EGC.
5. Doengoes, M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. Jakarta: EGC.
6. Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi 2. Jakarta : EGC,
2004. pp. 519-37

Anda mungkin juga menyukai