Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Maksud

Mengamati dan mendeskripsi batuan sedimen karbonat

secara megaskopis
Menentukan struktur dan tekstur batuan sedimen karbonat
Mengamati dan mendeskripsi komposisi batuan sedimen

karbonat
Menentukan Lingkungan Pengendapan Batuan Sedimen

karbonat
.Menentukan nama batuan menurut klasifikasi Folk(1959),
Dunham(1962), Embry & Klovan(1971)

1.2

Tujuan
Mampu mengamati dan mendeskripsi batuan sedimen

karbonat secara megaskopis


Mampu menentukan struktur dan tekstur batuan sedimen

karbonat
Mampu mengamati dan mendeskripsi komposisi batuan

sedimen karbonat
Mampu menentukan Lingkungan Pengendapan Batuan

Sedimen karbonat
Mampu menentukan nama batuan menurut klasifikasi
Folk(1959), Dunham(1962), Embry & Klovan(1971)

1.1

Waktu Pelaksanaan Praktikum


Hari/Tanggal
: Selasa & Rabu, 6 & 28 Mei 2014
Pukul
: 16.00 WIB selesai

Tempat
dan

: Laboratorium Mineralogi, Petrologi,


Petrografi Gd. Pertamina Sukowati Teknik

Geologi, Universitas Diponegoro

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Pengertian Batuan Sedimen Karbonat


Batuan karbonat merupakan salah satu batuan sedimen siliklastik.
Menurut Pettijohn (1975), batuan karbonat adalah batuan yang fraksi
karbonatnya lebih besar dari fraksi non karbonat atau dengan kata lain fraksi
karbonatnya >50%. Apabila fraksi karbonatnya <50% maka, tidak bisa lagi
disebut sebagai batuan karbonat.

2.2

Komponen Penyusun Batuan Sedimen Karbonat


Batu purba merupakan batuan monomineralik yang tersusun oleh kalsit,
sedang batugamping resen banyak terssusun oleh argonit, kalsit,dan juga
dolomit, komponen warna penyusun batugamping dibagi menjadi tiga
macam,yaitu :
2.2.1

Butiran Karbonat
Butiran karbonat berukuran sama atau lebih besar daripada lanau,
dibagi menjadi dua macam, yaitu :
Butiran non cangkang (non skeletal grain)
Butiran non cangkang ini ada empat macam yaitu ooid,
pisoid/peloid, dan klastika karbonat.
1. Ooid/oolith/coated grain
2. Pisoid/pisolit
3. Pellet/peloid
4. Klastika karbonat
Butiran Cangkang (Skeletal)
Butiran cangkang pada batuan karbonat dapat berupa
mikrofosil, makrofosil, atau fragmen / pecahan makrofosilButiran ini
merupakan allochem yang paling sering dijumpai pada batuan batuan

karbonat. Butiran ini merupakan allochem yang paling sering


dijumpai pada batuan karbonat.
2.2.2

Mikrit
Mikrit atau lumpur karbonat tersusun oleh kristal-kristal kalsit
atau aragonite yang sangat halus, dapat berperan sebagai matriks
diantara butiran karbonat atau sebagai penyusun utama batuan karbonat
berbutir halus, butirnya berukuran < 1/256 mm atau ukuran lempung
(Tucker, 1982).

2.2.3

Sparit
Sparit adalah kristal-kristal kalsit yang berbentuk equant,
berukuran 0,02 - 0,1 mm dan berkenampakan transport dan jernih di
bawah mikroskop polarisasi (Buggs, 1987). Sparit dibedakan dengan
mikrit, karena mempunyai ukuran kristal yang lebih besar dan
kenampakannya lebih jernih, sedang perbedaannya dengan butiran /
allochem adalah pada bentuk kristalnya dan tidak adanya tekstur
eksternal. Sparit berfungsi sebagai semen pengisi rongga antar butiran
atau hasil pelarutan.

2.3

Klasifikasi Batuan Sedimen Karbonat


Secara umum klasifikasi batuan karbonat didasarkan pada dua hal yaitu
kenampakan fisik (klasifikasi deskriptif) dan pada asal-usul (klasifikasi
genetik). Beberapa klasifikasi yang dapat digunakan antara lain
2.3.1

Klasifikasi Folk (1959)


Folks mengklasifikasikan batuan karbonat berdasarkan tekstur
pengendapan dan perbandingan fraksi komponen penyusunnya, yaitu
butiran/allochem, mikrit dan sparite/orthochem.

Gambar 2.1 Klasifikasi Karbonat Menurut Folk (1959)

2.3.2

Klasifikasi Dunham (1962)


Dunham membuat klasifikasi batuan karbonat berdasarkan
tekstur pengendapannya, meliputi ukuran butir dan pemilahan/ sortasi.
Berdasarkan kenampakannya, maka Dunham membuat klasifikasi.
o Boundstone : hubungan antar komponen tertutup yang berhubungan
dengan rapat oolite.
o Grainstone : hubungan terbuka antar komponen-komponen, tanpa
lumpur.
o Packcstone: ada lumpur, tetapi yang banyak adalah komponen
(bentonit).
o Mudstone : lumpur Wackstone.
Kelebihan yang lain dari klasifikasi Dunham (1962) adalah dapat
dipakai untuk menentukan tingkat diagenesis karena apabila sparit
dideskripsi maka hal ini bertujuan untuk menentukan tingkat diagenesa.
Gambar 2.2 Klasifikasi Dunham (1962).

2.3.3

Klasifikasi Embry dan Klovan (1971)


Klasifikasi ini mengembangkan klasifikasi Dunham (1962)
dengan membagi batugamping menjadi dua kelompok besar yaitu
Autochnous Limestone dan Alloctonous Limestone berupa batugamping
yang komponen-komponen penyusunnya tidak terikat secara organis
selama proses deposisi.
Pembagian Autochnous Limestone dan Alloctonous Limestone
oleh Embry dan Klovan (1971) telah dilakukan oleh Dunham (1962),
hanya saja tidak terperinci.

Gambar 2.3 Klasifikasi Embry & Klovan (1971).

2.4 Fasies Terumbu


Meskipun lingkungan pembentukan endapan karbonat dapat terjadi
mulai dari zona supratidal sampa cekungan yang lebih dalam diluar shelf,
paparan cekungan dangkal (shallow basin platform) yang meliputi middle shelf
dan outer shelf adalah tempat produksi endapan karbonat yang utama dan
kemudian tepat ini disebut sebagai subtidal carbonate factory (N.P. James, 1984,
dalam Boggs, 1987)

Gambar 2.4 Fasies Terumbu.

James (1979), membagi fasies terumbu masa kini secara fisiografis


menjadi 3 macam, yaitu sebagai berikut :
2.4.1

Fasies Inti Terumbu (reef core facies)


Fasies ini tersusun oleh batugamping yang masif dan tidak
berlapis, berdasarkan litologi dan biota penyusunnya, fasies ini dapat
dibagi menjadi 4 sub-fasies, yaitu :
1. Sub-fasies puncak terumbu (reef crest)
Litologi berupa framestone dan bindstone, sebagai hasil
pertumbuhan biota jenis kubah dan menggerak dan merupakan very
high energy zone.
2. Sub-fasies dataran terumbu (reef flat)
Litologi berupa ridstone, grainstone, dan nosule dari ganggang
karbonatan dan merupakan daerah berenergi sedang dan tempat
akumulasi rombakan terumbu.
3. Sub-fasies terumbu depan (ree front)
Litologi berupa bafflestone, bid stone dan framestone dan
merupakan daerah berenergi lemah sedang.
4. Sub-fasies terumbu belakang (back reef)
Litologi berupa bafflestone dan flatstone dan merupakan
daerah berenergi lemah dan relatif tenang.

2.4.2

Facies depan terumbu (fore reef facies)

litologi berupa grainstone dan rudstone dan merupakan lingkungan


yang mempunyai kedalaman > 30 m dengan lereng 45 60. semakin
jauh dari inti terumbu (ke arah laut), litologi berubah menjadi packstone,
wackstone, dan mudstone.
2.4.3

Fasies belakang terumbu (back reef facies)


Fasies ini sering disebut juga fasies lagoon dan meliputi zona laut
dangkal (<30m) dan tidak berhubungan dengan laut terbuka.Kondisi
airnya tenang, sirkulasi air terbatas, dan banyak biota penggali yang
hidup di dasar.Litologi berupa packstone, wackstone, dan mudstone dan
banyak dijumpai struktur jejak dan bioturbasi, baik horizontal maupun
vertikal.

BAB III
HASIL DESKRIPSI

3.1 Batuan Peraga Nomor B5-10-B


Warna

: Coklat

Struktur

: Massif

Tekstur

: Ukuran butir : 0,5 1 cm


Kemas

: Terbuka

Sortasi

: Poorly Sorted

Deskripsi Komposisi

: Non Skeletal : -

Allochem

Skeletal

Orthocem

Petrogenesis

: Bivalvia = 70%

: Micrite = 30%
:

Batuan ini terbentuk di daerah reef front karena dilihat dari


kenampakannya, batuan ini terlihat dengan ciri allochemnya atau komponennya
yaitu banyak sekali pecahan pelecypoda. Di daerah ini, energi pengendapannya
lemah-sedang serta arusnya juga lemah-sedang sehingga butiran karbonatnyapun
juga berukuran halus-sedang. Pada saat pengendapan batuan ini, terdapat suatu
penyebaran cangkang pelecypoda dan tecetak pada batuan sebelum batuan
tersebut terkompaksi dan juga terisi oleh cangkang tersebut kedalam batuan
tersebut kemudian terlitifikasi dan terkompaksi dan tersemenkan oleh micrit atau
lumpur karbonat berwarna coklat. Terbentuk dilaut dangkal dengan arus yang
tenang

Gambar Batuan

Bivalvia

Micrite

Gambar 3.1 Batuan Peraga No. B5-10-B

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Packstone (Dunham, 1962)
Rudstone (Embry & Klovan, 1971)

10

3.2 Batuan Peraga Nomor B5-45-A


Warna

: Coklat

Struktur

: Massif

Tekstur

: Ukuran butir : 1 3,5 cm


Kemas

: Terbuka

Sortasi

: Poorly Sorted

Deskripsi Komposisi

: Non Skeletal : -

Allochem

Skeletal

Orthocem

Petrogenesis

: Bivalvia = 40%

: Micrite = 60%
:

Batuan ini terbentuk di daerah back reef karena dilihat dari


kenampakannya, batuan ini terlihat dengan ciri allochemnya atau komponennya
yaitu banyak sekali pecahan pelecypoda. Di daerah ini, energi pengendapannya
lemah-sedang serta arusnya juga lemah-sedang sehingga butiran karbonatnyapun
juga berukuran halus-sedang. Pada saat pengendapan batuan ini, terdapat suatu
penyebaran cangkang pelecypoda dan tecetak pada batuan sebelum batuan
tersebut terkompaksi dan juga terisi oleh cangkang tersebut kedalam batuan
tersebut kemudian terlitifikasi dan terkompaksi dan tersemenkan oleh micrit atau
lumpur karbonat berwarna coklat. Terbentuk dilaut dangkal dengan arus yang
tenang

11

Gambar Batuan

Bivalvia

Micrite

Gambar 3.2 Batuan Peraga No. B5-45-A

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Wackstone (Dunham, 1962)
Floatstone (Embry & Klovan, 1971)

12

3.3 Batuan Peraga Nomor B5-88-B


Warna

: Coklat

Struktur

: Massif

Tekstur

: Ukuran butir : Pasir Kasar


Kemas

: Terbuka

Sortasi

: Poorly Sorted

Deskripsi Komposisi

: Non Skeletal : -

Allochem

Skeletal

: Bivalvia : Mollusca = 20%


Bind = 40%

Orthocem

Petrogenesis

: Sparit = 40%
:

Batuan peraga ini tersusun atas komposisi yang berupa


bind, dimana awalnya terumbu bind ini hidup dan berkembang
kemudian mati ditempat yang sama. Kemudian rongga antar
jari-jarinya ini terisi oleh matriks yang dibawa oleh air laut.
Daerah pembentukan batuan ini banyak ditumbuhi terumbu
yang membuat airnya jenuh akan karbonat, air yang jenuh akan
karbonat ini akibat tekanan dan suhu lama kelamaan akan
mengkristal dan kristal ini mengisi ruang-ruang pada terumbu
dan bercampur dengan matriks dan merekatkan matriks dengan
terumbu yang kemudian terlitifikasi. Adapun klastika yang ada,
itu akibat adanya organism yang mati lalu cangkangnya
mengendap di rongga tersebut. Dari jenis cangkang ini dapat
diinterpretasikan

bahwasannya

batuan

ini

terbentuk

di

13

lingkungan yang memiliki energy sedang hingga tinggi, karena


dilihat dari kenampakannya organism in situ atau organism yang
hidup dan mati, juga terendapkan di tempat yang sama.
Gambar Batuan

Sparit

Bind

Gambar 3.3 Batuan Peraga No. B5-88-B

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Packstone (Dunham, 1962)
Bindstone (Embry & Klovan, 1971)

14

3.4 Batuan Peraga Nomor B5-19-B


Warna

: Coklat Keabuan

Struktur

: massif

Tekstur

: Ukuran butir

: Brangkal (64-256 mm)

Kemas

: Terbuka

Sortasi

: Poorly Sorted

Deskripsi Komposisi :

Allochem
Orthochem
Petrogenesis

: Skeletal: Bivalve = 80%


: Micrite = 20%
:

Jika dilihat dari Allochem yang berupa klastika cangkang


yang lebih dominan dibandingkan dengan matriks maka dapat
diindikasikan batuan karbonat ini terbentuk di lingkungan
pengendapan sedang hinga tinggi. Cangkang bivalve yang ada
pada

batuan

ini

merupakan

hasil

pecahan

terakumulasi

kemudian terendapkan yang kemudian terlitifikasi dan menjadi


batuan sedimen karbonat. Dengan biota penyusun berupa
cangkang (bivalve) yang kenampakannya lebih dominan maka
diinterpretasikan bahwa batuan ini terbentuk di fore reef.

15

Gambar Batuan

:
Bivalve

Gambar 3.4 Batuan Peraga No. B5-19-B

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Packstone (Dunham, 1962)
Rudstone (Embry & Klovan, 1971)

16

3.5 Batuan Peraga Nomor B5-03-B


Warna

: Abu-abu Kecoklatan

Struktur

: massif

Tekstur

: Ukuran butir

: Brangkal (64-256

mm)
Kema
Sortasi

: Terbuka
: Poorly Sorted

Deskripsi Komposisi :

Allochem
Orthochem

: Skeletal: Bivalve = 40%


: Micrite = 60%

Petrogenesis
:
Jika dilihat dari Allochem yang berupa klastika cangkang
(bivalve) yang sebagia besar masih utuh dan komposisi yang
lebih banyak micrit maka dapat diindikasikan batuan karbonat ini
terbentuk di lingkungan pengendapan rendah. Cangkang bivalve
yang ada pada batuan ini merupakan hasil pecahan terakumulasi
kemudian terendapkan di lingkungan pengendapan yang banyak
mengandung mikrit yang kemudian terlitifikasi dan menjadi
batuan sedimen karbonat. Dengan biota penyusun berupa
bivalve yang kenampakannya hampir sebagian besar utuh dan
dominan

mikrit

maka

diinterpretasikan

bahwa

batuan

ini

terbentuk di back reef.

17

Gambar Batuan :

Bivalve

Gambar 3.5 Batuan Peraga No. B5-03-B

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Wackstone (Dunham, 1962)
Floatstone (Embry & Klovan, 1971)

18

3.6 Batuan Peraga Nomor B5-06-05


Warna

: Abu-abu gelap

Struktur

: massif

Tekstur

: Ukuran butir

: Kerikil (4-64 mm)

Kemas

: Terbuka

Sortasi

: Buruk

Deskripsi Komposisi :

Allochem
Orthochem

: Skeletal: Foraminifera = 80%


: Micrite = 20%

Petrogenesis
:
Jika dilihat dari Allochem yang berupa klastika cangkang
(foraminifera) dan dominan berupa grained atau cangkangnya
maka dapat diindikasikan batuan karbonat ini terbentuk di
lingkungan

pengendapan

berenergi

sedang

hingga

tinggi.

Cangkang foraminifera yang ada pada batuan ini merupakan


hasil

pecahan

terakumulasi

kemudian

terendapkan

yang

kemudian terlitifikasi dan menjadi batuan sedimen karbonat.


Dengan komponen penyusun yang kebanyakan cangkang maka
batuan ini terbentuk di fasies depan terumbu (fore reef facies.
Foto Batuan

19

Foraminif
era

Gambar 3.6 Batuan Peraga No. B5-19-B

Nama Batuan : Biomicrite (Folk, 1959)


Packstone (Dunham, 1962)
Rudstone (Embry & Klovan, 1971)

20

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1

Batuan Nomor Peraga B5-10-B


Batuan dengan nomor peraga B5-10-B ini memiliki warna
coklat tua, dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan memiliki
struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai lubanglubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih padat
atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa ukuran
butirnya sekitar 0,5 sampai 1 cm, kemasnya yang terbuka yang
dilihat pada batuan terdapat hubungan antar butir yang
renggang atau adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu tergolong
pada poorly sorted karena tidak adabya keseragaman antar
butir penyusun batuan ini.
Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan
sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Bivalve yaitu biota laut yang merupakan

21

invertebrata yang kenampakannya berupa dua cangkang yang


bertangkup sebanyak 70%. Selain allochem batuan ini juga
tersusun atas ortochem atau matriks

berua lumpur karbonat

(mikrit) sebanyak 30%.


Batuan ini terbentuk di daerah reef front karena dilihat dari
kenampakannya, batuan ini terlihat dengan ciri allochemnya atau komponennya
yaitu banyak sekali pecahan pelecypoda. Di daerah ini, energi pengendapannya
lemah-sedang serta arusnya juga lemah-sedang sehingga butiran karbonatnyapun
juga berukuran halus-sedang. Pada saat pengendapan batuan ini, terdapat suatu
penyebaran cangkang pelecypoda dan tecetak pada batuan sebelum batuan
tersebut terkompaksi dan juga terisi oleh cangkang tersebut kedalam batuan
tersebut kemudian terlitifikasi dan terkompaksi dan tersemenkan oleh micrit atau
lumpur karbonat berwarna coklat. Terbentuk dilaut dangkal dengan arus yang
tenang
Dari bentukannya yang berupa cangkang-cangkang klastika
dari Bivalve, komposisi dominan adalah allochem, dan energy
pembentukannya yang rendah dapat diinterpretasikan bahwa
batuan ini terbentuk pada lingkungan reef front.

22

Gambar 4.1 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. B5-10-B

Dari

deskripsi

megaskopis

dan

komposisinya

dimana

grainednya terdiri atas organisme, dengan matriks berupa mikrit


dan komposisi grained lebih banyak dibandingkan dengan
matriks, maka batuan ini bernama, Biomicrite (Folk, 1959),
Packstone

(Dunham, 1962) dan Rudstone (Embry &

Klovan, 1971).
4.2

Batuan Nomor Peraga B5-45-A


Batuan dengan nomor peraga B5-45-A ini memiliki warna
coklat

dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan memiliki

struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai lubanglubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih padat
atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa ukuran
butirnya sekitar 1 - 3,5 cm, kemasnya yang terbuka yang dilihat
pada batuan terdapat hubungan antar butir yang renggang atau
adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu tergolong pada poorly
sorted karena tidak adabya keseragaman antar butir penyusun
batuan ini.
Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan
sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Bivalve yaitu biota laut yang merupakan
invertebrata yang kenampakannya berupa dua cangkang yang
bertangkup sebanyak 40%. Selain allochem batuan ini juga
tersusun atas ortochem atau matriks

berua lumpur karbonat

(mikrit) sebanyak 60%.

23

Batuan ini terbentuk di daerah back reef karena dilihat dari


kenampakannya, batuan ini terlihat dengan ciri allochemnya atau komponennya
yaitu banyak sekali pecahan pelecypoda. Di daerah ini, energi pengendapannya
lemah-sedang serta arusnya juga lemah-sedang sehingga butiran karbonatnyapun
juga berukuran halus-sedang. Pada saat pengendapan batuan ini, terdapat suatu
penyebaran cangkang pelecypoda dan tecetak pada batuan sebelum batuan
tersebut terkompaksi dan juga terisi oleh cangkang tersebut kedalam batuan
tersebut kemudian terlitifikasi dan terkompaksi dan tersemenkan oleh micrit atau
lumpur karbonat berwarna coklat. Terbentuk dilaut dangkal dengan arus yang
tenang
Dari bentukannya yang berupa cangkang-cangkang klastika
dari Bivalve, komposisi dominan adalah allochem, dan energy
pembentukannya yang rendah dapat diinterpretasikan bahwa
batuan ini terbentuk pada lingkungan backreef.

Gambar 4.2 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. B5-45-A

Dari

deskripsi

megaskopis

dan

komposisinya

dimana

grainednya terdiri atas organisme, dengan matriks berupa mikrit

24

dan komposisi matrix supported, maka batuan ini bernama,


Biomicrite (Folk, 1959), Wackstone (Dunham, 1962) dan
Floatstone (Embry & Klovan, 1971).

4.3

Batuan Nomor Peraga B5-88-B


Batuan dengan nomor peraga B5-88-B ini memiliki warna
coklat

dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan memiliki

struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai lubanglubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih padat
atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa ukuran
butirnya berukuran pasir kasar, kemasnya yang terbuka yang
dilihat pada batuan terdapat hubungan antar butir yang
renggang atau adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu tergolong
pada poorly sorted karena tidak adanya keseragaman antar
butir penyusun batuan ini.
Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan
sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Bivalve yaitu biota laut yang merupakan
invertebrata yang kenampakannya berupa dua cangkang yang
bertangkup sebanyak 20 dan terdapat sekitar 40% terumbu.
Selain allochem batuan ini juga tersusun atas ortochem atau
matriks berua lumpur karbonat (sparit) sebanyak 40%.
Batuan peraga ini tersusun atas komposisi yang berupa
bind, dimana awalnya terumbu bind ini hidup dan berkembang
kemudian mati ditempat yang sama. Kemudian rongga antar
jari-jarinya ini terisi oleh matriks yang dibawa oleh air laut.
Daerah pembentukan batuan ini banyak ditumbuhi terumbu

25

yang membuat airnya jenuh akan karbonat, air yang jenuh akan
karbonat ini akibat tekanan dan suhu lama kelamaan akan
mengkristal dan kristal ini mengisi ruang-ruang pada terumbu
dan bercampur dengan matriks dan merekatkan matriks dengan
terumbu yang kemudian terlitifikasi. Adapun klastika yang ada,
itu akibat adanya organism yang mati lalu cangkangnya
mengendap di rongga tersebut. Dari jenis cangkang ini dapat
diinterpretasikan

bahwasannya

batuan

ini

terbentuk

di

lingkungan yang memiliki energy sedang hingga tinggi, karena


dilihat dari kenampakannya organism in situ atau organism yang
hidup dan mati, juga terendapkan di tempat yang sama.
Dari jenisnya yang berupa terumbu bind, adanya sparit dan
energy pembentukannya yang sedang hingga tinggi dapat
diinterpretasikan bahwa batuan ini terbentuk di zona inti
terumbu atau core reef dengan sub fasies reef front.

Gambar 4.3 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. B5-88-B

26

Dari

deskripsi

megaskopis

dan

komposisinya

dimana

grainednya terdiri atas organisme dan terumbu, dengan matriks


berupa mikrit dan komposisi terumbunya yang berupa Bind,
maka

batuan

Packstone

ini

bernama,

Biomicrite

(Folk,

1959),

(Dunham, 1962) dan Bindstone (Embry &

Klovan, 1971).

4.4

Batuan Nomor Peraga B5-19-B


Batuan dengan nomor peraga B5-19-B ini memiliki warna
coklat keabuan dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan
memiliki struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai
lubang-lubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih
padat atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa
ukuran butirnya berukuran barngkal (64-25 mm), kemasnya
yang terbuka yang dilihat pada batuan terdapat hubungan antar
butir yang renggang atau adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu
tergolong pada poorly sorted karena tidak adanya keseragaman
antar butir penyusun batuan ini.
Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan
sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Bivalve yaitu biota laut yang merupakan
invertebrata yang kenampakannya berupa dua cangkang yang
bertangkup sebanyak 80%. Selain allochem batuan ini juga
tersusun atas ortochem atau matriks

berua lumpur karbonat

(mikrit) sebanyak 20%.


Batuan sedimen karbonat ini memiliki tekstur klastik karena
tersusun atas material-material pecahan dari cangkang bivalve

27

yang berukuran 64-256 mm. Petrogenesa dari batuan peraga


nomor B5-19-B ini diawali dari hidupnya organisme Bivalve yang
bercangkang

yang

kemudian

organisme

ini

mati

dan

cangkangnya yang pecah akibat arus air laut dan membentuk


klastika tertransport kemudian mengendap dan terakumulasi.
Air laut banyak mengandung material-materaial halus termasuk
lumpur karbonat. Material lumpur yang terbawa oleh air laut ini
mengendap dan mengubur (Buried) cangkang-cangkang klastik
(bioklastika)

ini.

Penguburan

ini

membuat

bioklastik

ini

mengalami peningkatan tekanan dan suhu akibat pembebanan.


Peningkatan suhu dan tekanan ini membuat endapan ini
mengalami proses diagenesa. Proses diagenesa ini membuat
material

ini

menjadi

kompak

dan

saling

memampatkan,

kemudian mikrit yang mengalami diagenesa ini akan berubah


menjadi sparit tapi dalam jumlah yang kecil akibat proses
diagenesa yang kurang intensif hingga berakhir pada tahap
litifikasi

yang

membuat

endapan

ini

menjadi

keras

dan

membatu. Dari komposisi batuan yang dominan allochem ini


diinterpretasikan

bahwa

energy

pengendapan

yang

tinggi

sehingga mikrit atau matriksnya akan lebih sulit mengendap.


Dari bentukannya yang berupa cangkang-cangkang klastika
dari Bivalve, komposisi dominan adalah allochem, dan energy
pembentukannya yang tinggi dapat diinterpretasikan bahwa
batuan ini terbentuk di zona depan terumbu atau fore reef
facies.

28

Gambar 4.4 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. B5-19-B

Dari deskripsi megaskopis dan komposisinya dimana


grainednya terdiri atas organisme, dengan matriks berupa mikrit
dan komposisi grained lebih banyak dibandingkan dengan
matriks, maka batuan ini bernama, Biomicrite (Folk, 1959),
Packstone
(Dunham, 1962) dan Rudstone (Embry &
Klovan, 1971).

4.5

Batuan Nomor Peraga B5-03-B


Batuan dengan nomor peraga B5-03-B ini memiliki warna
abu-abu kecoklatan dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan
memiliki struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai
lubang-lubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih
padat atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa
ukuran butirnya berukuran barngkal (64-25 mm), kemasnya
yang terbuka yang dilihat pada batuan terdapat hubungan antar
butir yang renggang atau adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu
tergolong pada poorly sorted karena tidak adanya keseragaman
antar butir penyusun batuan ini.

29

Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan


sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Bivalve yaitu biota laut yang merupakan
invertebrata yang kenampakannya berupa dua cangkang yang
bertangkup sebanyak 40%. Selain allochem batuan ini juga
tersusun atas ortochem atau matriks berupa lumpur karbonat
(mikrit) sebanyak 60%.
Batuan sedimen karbonat ini memiliki tekstur klastik karena
tersusun atas material-material pecahan dari cangkang bivalve
yang berukuran 64-256 mm. Petrogenesa dari batuan peraga
nomor B5-03-B ini diawali dari hidupnya organisme Bivalve yang
bercangkang

yang

kemudian

organisme

ini

mati

dan

cangkangnya yang pecah akibat arus air laut dan membentuk


klastika tertransport kemudian mengendap dan terakumulasi.
Air laut banyak mengandung material-materaial halus termasuk
lumpur karbonat. Material lumpur yang terbawa oleh air laut ini
mengendap dan mengubur (Buried) cangkang-cangkang klastik
(bioklastika)

ini.

Penguburan

ini

membuat

bioklastik

ini

mengalami peningkatan tekanan dan suhu akibat pembebanan.


Peningkatan suhu dan tekanan ini membuat endapan ini
mengalami proses diagenesa. Proses diagenesa ini membuat
material

ini

menjadi

kompak

dan

saling

memampatkan,

kemudian mikrit yang mengalami diagenesa ini akan berubah


menjadi sparit tapi dalam jumlah yang kecil akibat proses
diagenesa yang kurang intensif hingga berakhir pada tahap
litifikasi

yang

membuat

endapan

ini

menjadi

keras

dan

membatu. Dari komposisi batuan yang dominan ortochem ini

30

diinterpretasikan bahwa energy pengendapan yang rendah


sehingga mikrit atau matriksnya lebih dominan dibandingkan
dengan grainednya. Hal ini diakibatkan oleh arus yang rendah
sehingga mikrit mudah terendapkan.
Dari bentukannya yang berupa cangkang-cangkang klastika
dari Bivalve, komposisi dominan adalah ortochem, dan energy
pembentukannya yang rendah dapat diinterpretasikan bahwa
batuan ini terbentuk di zona belakang terumbu atau back reef
facies.

Gambar 4.5 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. B5-03-B

Dari

deskripsi

megaskopis

dan

komposisinya

dimana

grainednya terdiri atas organisme, dengan matriks berupa mikrit


dan komposisi matriks supported, maka batuan ini bernama
Biomicrite (Folk, 1959), Wackstone (Dunham, 1962) dan
Floatstone (Embry & Klovan, 1971).

4.6

Batuan Nomor Peraga BK-06-05

31

Batuan dengan nomor peraga BK-06-05 ini memiliki warna


abu-abu kecoklatan dengan strukturnya yaitu massif. Dikatakan
memiliki struktur massif, karena pada batuan tidak dijumpai
lubang-lubang gas atau bisa dikatakan batuan peraga ini masih
padat atau pejal. Batuan ini memiliki tekstur yang berupa
ukuran butirnya berukuran barngkal (64-25 mm), kemasnya
yang terbuka yang dilihat pada batuan terdapat hubungan antar
butir yang renggang atau adanya ruang. Sortasi batuan ini yaitu
tergolong pada poorly sorted karena tidak adanya keseragaman
antar butir penyusun batuan ini.
Batuan ini tersusun atas Allochem atau komponen batuan
sedimen kabonat yang berukuran lebih dari 2 mm atau biasa
disebut grained dengan jenis skeletal atau makhluk hidup
berupa cangkang Foraminifera sebanyak 80%. Selain allochem
batuan ini juga tersusun atas ortochem atau matriks

berupa

lumpur karbonat (mikrit) sebanyak 20%.


Batuan sedimen karbonat ini memiliki tekstur klastik karena
tersusun

atas

material-material

pecahan

dari

cangkang

foraminifera yang berukuran 2-4 mm. petrogenesa dari batuan


peraga nomor BK-06-05 ini diawali dari hidupnya organisme
foraminifera yang bercangkang yang kemudian organisme ini
mati dan cangkangnya yang pecah akibat arus air laut dan
membentuk klastika ini tertransport kemudian mengendap dan
terakumulasi. Air laut banyak mengandung material-materaial
halus termasuk lumpur karbonat. Material lumpur yang terbawa
oleh air laut ini mengendap dan mengubur (Buried) cangkangcangkang klastik (bioklastika) ini. Penguburan ini membuat
bioklastik ini mengalami peningkatan tekanan dan suhu akibat

32

pembebanan. Peningkatan suhu dan tekanan ini membuat


endapan ini mengalami proses diagenesa. Proses diagenesa ini
membuat

material

ini

menjadi

kompak

dan

saling

memampatkan, kemudian mikrit yang mengalami diagenesa ini


akan berubah menjadi sparit tapi dalam jumlah yang kecil akibat
proses diagenesa yang kurang intensif hingga berakhir pada
tahap litifikasi yang membuat endapan ini menjadi keras dan
membatu. Dari komposisi batuan yang dominan allochem ini
diinterpretasikan

bahwa

energy

pengendapan

yang

tinggi

sehingga mikrit atau matriksnya akan lebih sulit mengendap.


Dari bentukannya yang berupa cangkang-cangkang klastika
dari Foraminifera, komposisi dominan adalah allochem, dan
energy pembentukannya yang tinggi dapat diinterpretasikan
bahwa batuan ini terbentuk di zona depan terumbu atau fore
reef facies.

Gambar 4.6 Lingkungan Terbentuknya Batuan No. BK-06-05

Dari

deskripsi

megaskopis

dan

komposisinya

dimana

grainednya terdiri atas organisme, dengan matriks berupa mikrit

33

dan komposisi grained lebih banyak dibandingkan dengan


matriks, maka batuan ini bernama, Biomicrite (Folk, 1959),
Packstone

(Dunham, 1962) dan Rudstone (Embry &

Klovan, 1971).

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Batuan Peraga Nomor B5-10-B yang memiliki warna coklat tua berstruktur
massif, bertekstur yang berupa ukuran butir sekira 0,5-1 cm, kemasnya
terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang berupa
Allochem 70% skeletal (bivalvia) dan Octhochem (micrite) sekitar 30%
terbentuk di zona Reef Front. Batuan ini memiliki nama Biomicrite

34

(Folk, 1959), Packstone (Dunham, 1962) dan Rudstone

(Embry & Klovan, 1971).


Batuan Peraga Nomor B5-45-A yang memiliki warna coklat berstruktur
massif, bertekstur yang berupa ukuran butir sekira 1-3,5 cm, kemasnya
terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang berupa
Allochem 40% skeletal (bivalvia) dan Octhochem (micrite) sekitar 60%
terbentuk di zona Back Reef . Batuan ini memiliki nama Biomicrite
(Folk,

1959),

Wackstone

(Dunham,

1962)

dan

Floatstone (Embry & Klovan, 1971).


Batuan Peraga Nomor B5-88-B yang memiliki warna coklat berstruktur
massif, bertekstur yang berupa ukuran butir seperti pasir kasar, kemasnya
terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang berupa
Allochem 20% skeletal (bivalvia)dan 40% Bind dan Octhochem (sparite)
sekitar 40% terbentuk di zona Reef Front . Batuan ini memiliki nama
Biomicrite (Folk, 1959), Packstone

(Dunham, 1962)

dan Bindstone (Embry & Klovan, 1971).


Batuan Peraga Nomor B5-19-B yang memiliki warna coklat berstruktur
massif, bertekstur yang berupa ukuran butir sekitar 64-256 mm, kemasnya
terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang berupa
Allochem 80% skeletal (bivalvia) dan Octhochem (micrite) sekitar 20%
terbentuk di zona Fore Reef . Batuan ini memiliki nama Biomicrite
(Folk, 1959), Packstone (Dunham, 1962) dan Rudstone

(Embry & Klovan, 1971).


Batuan Peraga Nomor B5-03-B yang memiliki warna abu-abu kecoklatan
berstruktur massif, bertekstur yang berupa ukuran butir sekitar 64-256 mm,
kemasnya terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang
berupa Allochem 40% skeletal (bivalvia) dan Octhochem (micrite) sekitar
60% terbentuk di zona Back Reef . Batuan ini memiliki nama Biomicrite

35

(Folk,

1959),

Wackstone

(Dunham,

1962)

dan

Floatstone (Embry & Klovan, 1971).


Batuan Peraga Nomor BK-06-05 yang memiliki warna abu-abu berstruktur
massif, bertekstur yang berupa ukuran butir sekitar 64-256 mm, kemasnya
terbuka, dan sortasinya poorly sorted, dengan komposisinya yang berupa
Allochem 80% skeletal (foraminifera) dan Octhochem (micrite) sekitar 20%
terbentuk di zona Fore Reef . Batuan ini memiliki nama Biomicrite
(Folk, 1959), Packstone (Dunham, 1962) dan Rudstone
(Embry & Klovan, 1971).

5.2 Saran

Sebaiknya peraga batuan sedimen karbonatnya ditambah

terutama untuk allochem dengan jenis non-skeletal


Sebaiknya waktu untuk pendeskripsian saat praktikum agar
ditambah, sehingga praktikan lebih teliti da semakin mengerti
tentang Batuan Sedimen Karbonat

DAFTAR PUSTAKA
Tim Asisten Parktikum Petrologi. 2014. Buku Panduan Parktikum
Petrologi. Semarang: UNDIP
http://geologitfugm.blogspot.com (diaksespadatanggal 29 Mei
2014, pukul 12.31 WIB)
http://kepalabatu43.blogspot.com (diakses pada tanggal 28 Mei
2014, pukul 19.02 WIB)
http://thekoist.wordpress.com (diakses pada tanggal 28 Mei 2013,
pukul 19.05 WIB)

36

http://ptbudie.wordpress.com (diakses pada tanggal 29 Mei 2014,


pukul 12.40 WIB)

37