Anda di halaman 1dari 15

EUTHANASIA

( dalam Perspektif Etika dan Moralitas )


dr. Intan Zainafree, MH.Kes.

LATAR BELAKANG
Euthanasia atau suntik mati oleh dokter terhadap seorang pasien yang sudah tidak
memiliki kemampuan mengobati penyakitnya saat ini masih merupakan perbuatan pidana
berupa menghilangkan nyawa orang lain. Untuk menempuh euthanasia, selain masih ada
persoalan hukum yang melarang hal itu, juga masih ada persoalan etika dan moral. Masih
berlakukah sumpah etik dokter, yang berasal dari sumpah Bapak Ilmu Kedokteran
Yunani, Hippokrates ( 400 SM ), tak akan kulakukan, walaupun atas permintaan, untuk
memberikan racun yang mematikan, ataupun sekedar saran untuk menggunakannya?
Pro dan kontra mengenai boleh tidaknya euthanasia dilakukan haruslah dilihat dalam
keadaan senyatanya, tetapi akan lebih baik lagi bila sebelum dilakukan didahului
pengkajian secara komprehensif, syarat ketat, dan regulasi peraturan.
Dalam tradisi pemikiran moral diakui tiga pengecualian atas larangan untuk
membunuh, yaitu :
a. Membunuh karena membela diri; membunuh orang yang menyerang, bila hal itu
perlu untuk membela diri. Dalam beberapa kasus seorang polisi misalnya, boleh
menembak mati penyandera yang mengancam kehidupan sanderanya;
b. Membunuh dalam kondisi perang yang adil; seorang anggota angkatan bersenjata
boleh membunuh angkatan bersenjata musuh dalam aksi di medan perang. Mereka ini
disebut sebagai combatants;

c. Hukuman mati.
Pengalaman menunjukkan dari ketiga pengecualian itu, nampaknya hukuman
mati paling banyak menimbulkan pro dan kontra. Semakin banyak orang menyatakan
hukuman mati sebagai tindakan yang tidak etis, oleh karenanya banyak kalangan
mengajukan rekomendasi untuk menghapuskannya.
Sejalan dengan perkembangan paradigma kesehatan, terkait dengan fungsi serta
tugas dokter dan hak hidup pasien dalam beberapa dekade terakhir telah berkembang
fenomena dilematis persoalan pengecualian yang keempat yaitu

Physician assisted

suicide ( bunuh diri yang diperkenankan ) dan merupakan salah satu sebab terbesar
terjadinya bunuh diri di Amerika Serikat. Istilah lain mengenai bunuh diri model ini
adalah Euthanasia. Namun beberapa kepustakaan menunjukkan bahwa sesungguhnya
assisted suicide ( bunuh diri berbantuan ) adalah perkembangan / perluasan dari
euthanasia.

PERUMUSAN MASALAH
Di beberapa negara kini mulai bermunculan organisasi yang memperjuangkan
keabsahan euthanasia ( di Inggris bahkan telah berdiri organisasi sejenis ini sejak tahun
1935 ). Organisasi ini dalam tahap bahkan internasional telah melakukan kerjasama sejak
tahun 1976 dalam International Federation of Right to Die Societis. Yang menjadi
pertanyaan sekarang, apakah fenomena euthanasia ini dapat diterima secara logika dan
moralitas hukum, mengingat di dalamnya terdapat aspek pembunuhan atau
penghilangan nyawa seseorang ?

PEMBAHASAN
Euthanasia bukanlah suatu fenomena baru. Euthanasia telah melalui tahapan
perkembangan panjang dan menimbulkan situasi pro dan kontra serta dilematis di
beberapa negara. Sebelum membicarakan euthanasia, pertanyaan pertama yang
mengemuka adalah kalau ada hak untuk hidup, tidakkah juga harus disetarakan
keberdayaan hak untuk mati ?
Masyarakat umum menganggap euthanasia sama dengan suicide. Euthanasia
( good death / easy death atau mercy killing ) berasal dari bahasa Yunani, Eu = baik dan
thanatos = mati, disebut juga kematian yang baik atau bahagia atau pembunuhan
karena kasihan.
Terdapat sejumlah rumusan pengertian tentang euthanasia, antara lain sebagai
berikut :
a. Plato : euthanasia adalah mati dengan tenang dan baik.
b. Gezondheidsraad ( Belanda ) : euthanasia adalah perbuatan yang dengan sengaja
memperpendek hidup ataupun dengan sengaja tidak berbuat untuk memperpanjang
hidup demi kepentingan pasien oleh seorang dokter atau bawahannya yang
bertanggung jawab padanya.
c. Van Hattum : euthanasia adalah sikap mempercepat proses kematian pada penderita
penderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, dengan melakukan atau tidak
melakukan suatu tindakan medis, dengan maksud untuk membantu korban
menghindarkan diri dari penderitaan dalam menghadapi kematiannya dan untuk
membantu keluarganya menghindarkan diri melihat penderitaan korban dalam
menghadapi saat kematiannya.

d. Kode Etik Kedokteran Indonesia, merumuskan euthanasia dalam tiga arti :


1. berpindahnya ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan, untuk
yang beriman dengan nama Allah di bibir;
2. waktu hidup akan berakhir, diringankan penderitaan si sakit dengan memberinya
obat penenang;
3. mengakhiri penderitaan dan hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan
pasien sendiri dan keluarganya.
e. Oxford English Dictionary merumuskan euthanasia sebagai sebuah kematian yang
lembut dan nyaman; dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh dengan
penderitaan dan tak tersembuhkan.
Mencermati ragam rumusan di atas, euthanasia secara umum adalah suatu
tindakan mengakhiri hidup seseorang atas dasar belas kasihan karena menderita penyakit,
cidera atau tidak berdaya yang tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh. Tindakan ini
dilakukan semata mata agar seseorang meninggal lebih cepat dengan esensi :
a. Tindakan menyebabkan kematian;
b. Dilakukan pada saat seseorang itu masih hidup;
c. Penyakitnya tidak ada harapan untuk sembuh atau dalam fase terminal;
d. Motifnya belas kasihan, karena penderitaan berkepanjangan;
e. Tujuannya mengakhiri penderitaan.
Berdasarkan ada atau tidaknya upaya pendahuluan oleh dokter terhadap pasien,
euthanasia dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu :
a. Euthanasia aktif; euthanasia yang mengacu pada praktek yang membawa
kematian secara langsung , baik orang tersebut menhendaki atau tidak.

Pelaksanaan euthanasia di sini memerlukan suatu upaya tertentu untuk mencapai


kematian.
b. Euthanasia pasif; tidak melakukan tindakan apapun untuk mencegah kematian itu
terjadi. Pelaksanaan euthanasia yang kematiannya dibuat secara perlahan lahan
dan alami, sehingga tidak diperlukan adanya tindakan apapun untuk mencapai
kematian. Istilah euthanasia pasif kini tidak lagi dipergunakan tetapi diganti
dengan membiarkan pasien meninggal ( letting die ).
Menurut perkembangan terbaru, euthanasia dikelompokkan dalam tiga tahapan :
mercy death, mercy killing, allowing someone to die. Pemilahan ini muncul karena
semakin banyak kasus baru yang timbul. Salah satu kasus yang menarik di antaranya
adalah penemuan di bidang medis yaitu brain death ( kegagalan fungsi otak yang
cenderung parah / fatal ). Menghadapi kasus demikian, timbul kebimbangan moral
seorang dokter yang dihadapkan pilihan antara kasihan apabila tetap dipertahankan dan
mengakhiri penderitaan pasien dan di sisi lain sumpah dokter untuk mempertahankan hak
hidup seseorang.

Perkembangan Euthanasia di Amerika Serikat


Di negara bagian Washington dulu berlaku larangan dilakukannya physician
assisted suicide. Namun setelah keputusan Ninth U.S. Circuit Court of Appeals sejak
1997 telah membatalkan larangan tentang Physician assisted suicide, maka kini hak
untuk mengakhiri hidup telah diperbolehkan.

Komite ad hoc terpaksa dibentuk di Harvard Medical School tahun 1969 dan
menghasilkan rekomendasi mengenai boleh / tidaknya mengakhiri hidup pasien penderita
brain death, yaitu bila memenuhi unsur unsur :
a. Unreceptivity and unrespondesiveness ( kehilangan daya tanggap / reaksi );
b. No spontaneous movements or breathing ( tanpa gerak spontan dan nafas );
c. No reflexes ( tanpa refleks );
d. a flat electroencephalogram / EEG ( kerusakan otak ).
Sebuah penelitian menunjukkan di Amerika Serikat pendapat masyarakat 60 %, (
sementara di Cina 89 % ) setuju dilakukannya euthanasia. Jawaban setuju di kalangan
responden di Amerika Serikat itu setidaknya dilandasi tujuh alasan berbeda untuk
mendukung pembunuhan atas dasar belas kasihan ( euthanasia ), yaitu :
a. Tesis filosofis bahwa setiap pribadi rasional mempunyai hak yang tak dapat
dialihkan dan tak dapat dikurangi untuk membunuh dirinya;
b. Anggapan mengenai kepemilikan anggapan bahwa kehidupan seseorang
merupakan miliknya sendiri;
c. Fakta materiil, sejumlah penyakit dirasa membuat rasa amat menderita;
d. Keputusan yang mengakibatkan sejumlah kehidupan, kendatipun bukan karena
sakit, tidak mempunyai arti;
e. Pendapat bahwa ketergantungan pada perhatian orang orang lain itu
merendahkan dan tidak pantas;
f. Gagasan bahwa teknik medis modern memaksa kita untuk menerima pembunuhan
belas kasih dalam banyak kasus;
g. Teori filosofis mengenai tindakan dan kelalaian.

Euthanasia di Australia
Negara bagian Australia, Northern Territory sesungguhnya menjadi tempat
pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan,
meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU
yang disebut Right of the terminally ill bill ( UU tentang hak pasien terminal ). Penetapan
ini membuat Bob Dent seorang penderita kanker prostat orang pertama yang mengakhiri
hidupnya dengan jalan euthanasia. Kamis 2 Januari Janet Mills ( 52 th ) mengikuti jejak
Bob melakukan euthanasia karena telah 3 tahun lamanya mengidap penyakit mycosis
fungoides. Penderitaan yang dialaminya berupa gatal gatal diikuti rontoknya kulit, bau
busuk, sprei yang dijadikan alas tidur penuh darah.
Undang undang ini kemudian beberapa kali dipraktekkan, tetapi bulan Maret
1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

Euthanasia di Belgia dan Belanda


Belgia menyetujui draf RUU euthanasia berdasarkan persetujuan dari parlemen,
untuk mengundangkan praktik itu. Kars Veling, anggota Senat dari Partai Kristen
Bersatu, mengakui kalangan agama tidak menyetujui undang undang ini. Euthanasia,
kata Veling, bukanlah sesuatu yang dipaksakan pada orang, akan tetapi hanyalah sebuah
opsi, pilihan terakhir, bagi mereka yang secara medis sudah tidak mempunyai harapan
hidup lagi ( AFP / Reuters / sha Kompas, 12 April 2001 ).
Suatu penelitian yang pernah dilakukan oleh Brian Pollard di Belanda pada tahun
1991, menemukan sedikitnya 25.000 kali setiap tahun dilakukan pembunuhan secara
medis. Angka itu adalah 20 % dari seluruh kematian di Negeri Belanda. 14.500 dari

kematian medis di atas merupakan euthanasia yang diandaikan atau dipaksakan. Pada
tahun yang sama sebuah dewan Belanda mendapatkan bahwa 27 % dari seluruh dokter di
Belanda pernah melakukan euthanasia tanpa permintaan apapun dari pasien.
Berhadapan dengan rekomendasi mengenai euthanasia di Belanda, yang
meskipun dilarang oleh hukum perundang undangan, namun hal ini dilindungi oleh
serangkaian keputusan pengadilan dan Mahkamah Agung, serta secara luas dianggap
legal, atau lebih tepat gedoeken. Gedoekan dinyatakan sebagai tindakan toleransi
sehingga dapat melindungi seorang dokter bila melakukan euthanasia, bila :
a. Permintaan pasien harus bersifat sukarela;
b. Pasien berada dalam penderitaan yang tidak dapat ditolerir;
c. Semua alternatif untuk meringankan penderitaan yang bisa diterima oleh pasien,
telah dicoba;
d. Pasien mempunyai informasi lengkap / cukup ( the right to die in dignity );
e. Dokter telah berkonsultasi dengan dokter kedua, yang penilaiannya diharapkan
independen.

Euthanasia di Indonesia
Di Indonesia sendiri, pemberian bantuan kepada pasien dalam keadaan terminal
untuk diakhiri hidupnya (dengan berbagai cara, antara lain, menyuntikkan obat yang
membuat pasien mati), belum ada laporannya, sehingga sulit untuk mengetahui apakah
pernah dilaksanakan tindakan euthanasia. Yang seringkali terjadi adalah penolakan
pasien untuk diberikan bantuan / pertolongan pelayanan kesehatan, sehingga pasien
tersebut meninggal dunia. Dengan adanya TROS (hak manusia untuk menentukan dirinya

sendiri) maka dokter / Rumah Sakit tidak dapat memaksa pasien untuk mendapatkan
pertolongan kesehatan, meskipun kemungkinan pasien sembuh sangat besar.
Belum lama berselang masalah euthanasia di Indonesia begitu gencar
diperdebatkan, dan menjadi silang pendapat antara pro dan kontra ketika Panca Satrya
Hasan Kusuma menyatakan bahwa ia meminta istrinya mati demi anak. Ia meminta agar
istrinya, Agian Isna Nauli ( 33 th ), disuntik mati karena tidak bisa sembuh lagi. Ny Agian
sudah hampir tiga bulan lumpuh setelah melahirkan anak keduanya, Rayge Atila Nurullah
Kesuma, melalui operasi Caesar di Rumah Sakit Islam Bogor. Ny Agian mengalami
kerusakan otak permanen. Kerusakan itu terjadi pada batang otak, syaraf otak, serta otak
bagian kiri dan kanan. Saat operasi Caesar, menurut Hasan, istrinya mengalami tekanan
darah sangat rendah dan kemudian dipompa agar tekanannya naik. Setelah operasi, Ny
Agian mengalami koma selama beberapa hari.
Memang, bila ditelusuri hukum di Indonesia belum mengatur euthanasia, tetapi
mengingat kondisi tertentu pasien, bisa saja pengadilan mengambil terobosan hukum
baru atas kasus yang secara medik tidak bisa lagi disembuhkan dan dokter sudah angkat
tangan. Dengan alasan ini misalnya, bolehlah untuk direnungkan bagaimana implikasinya
terhadap kasus kasus tertentu. Meski dalam sejumlah kasus lain berbagai alasan seperti
moral, etika, maupun religius, ada kecenderungan euthanasia dapat saja dinyatakan tetap
tabu dan terlarang untuk dilakukan.

Euthanasia dalam Perspektif Etika dan Moralitas


Menurut Bertens, diterimanya Undang Undang Euthanasia dinilai sebagai
semacam revolusi di bidang hukum. Banyak pihak tidak setuju, baik di Belanda sendiri
maupun di luar negeri. Partai Demokrat Kristen di Jerman malah mempertimbangkan
menggugat keabsahan undang undang Belanda ini pada Mahkamah Pengadilan Eropa
karena dianggap bertentangan dengan Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia .
Tetapi dalam demokrasi modern, undang undang dibentuk oleh institusi institusi yang
demokratis. Dalam hal ini keabsahan undang undang Belanda itu tidak dapat diragukan
lagi. Dalam parlemen undang undang ini diterima dengan mayoritas 104 melawan 40
suara ( November 2000 ), lalu dalam senat dengan mayoritas 46 melawan 28 suara.
Bila disimak secara cermat, apakah penerimaan secara hukum atas euthanasia
akan menimbulkan fenomena baru ? Lebih lanjut menurut Berten tampaknya tidaklah
akan signifikan pengaruhnya. Sudah lebih dari 25 tahun Belanda mengenal praktek
euthanasia. Selama itu euthanasia dilarang menurut hukum, tetapi bila syarat syarat
tertentu dipenuhi, instansi kehakiman tidak mengambil tindakan terhadap dokter dalam
mendampingi pasien pasien terminal berkeyakinan tidak boleh menolak euthanasia
kepada pasien yang memintanya. Tentang masalah euthanasia, waktu itu berlaku tidak,
kecuali Setelah diterima undang undang baru April 2001, mulai berlaku ya,
asalkan

Mulai saat itu hukum secara positif mengijinkan dokter mengakhiri

kehidupan pasien terminal, asal beberapa syarat dipenuhi. Karena itu praktik euthanasia
di Belanda hampir tidak mengalami perubahan, tetapi posisi dokter terhadap hukum
menjadi lebih jelas dan aman. Sebelumnya dokter sering segan melapor tindakan

10

euthanasia, karena merasa ragu bagaimana tanggapan instansi kehakiman. Kini


kekhawatiran ini tidak perlu lagi, sebab tindakan euthanasia sudah menjadi legal.
Euthanasia menjadikan buah simalakama bagi insan medis. Euthanasia pada
dasarnya masih dianggap tidak ada bedanya dengan pembunuhan yang secara hukum
dapat diancam pidana berdasarkan KUHPidana.
Pasal 344 : Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan yang tegas
dan sungguh sungguh dari orang lain itu sendiri dihukum dengan hukuman
penjara selama lamanya dua belas tahun.
Ketentuan di atas dilakukan bila atas permohonan pasien atau keluarganya
( melakukan euthanasia aktif ). Namun bila dilakukan tanpa permintaan pasien
( dikategorikan euthanasia pasif ), ancamannya Pasal 338 dan 340 KUHPidana.
Pasal 338 : Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, karena salah
telah melakukan pembunuhan dihukum dengan hukuman penjara selama
lamanya lima belas tahun.
Pasal 340 :

Barangsiapa dengan sengaja dan dengan direncanakan terlebih dahulu


menghilangkan nyawa orang lain, karena salah telah melakukan
pembunuhan dengan direncanakan terlebih dahulu, dihukum dengan
hukuman mati atau dengan hukuman penjara seumur hidup atau dengan
hukuman penjara sementara selama lamanya dua puluh tahun.

Padahal euthanasia pasif dapat memiliki keterkaitan dengan hak hak pasien,
antara lain hak atas informasi, hak memberikan persetujuan, hak memilih dokter, hak
memilih rumah sakit, hak atas rahasia kedokteran, hak menolak pengobatan, hak menolak
suatu tindakan medis tertentu, hak untuk menghentikan pengobatan.

11

Sedangkan dari sisi lain yaitu etika, pandangan mengenai kesucian kehidupan dan
penghargaan pengakuan hak untuk hidup memungkinkan untuk melakukan euthanasia
ini, karena adanya pengakuan hak untuk hidup seyogyanya diperlakukan juga setara
dengan adanya hak untuk mati. Prinsip menghormati kehidupan adalah salah satu prinsip
yang cukup penting dalam etika medis.
.
PENUTUP
Mengingat kondisi demikian, yang dibutuhkan kemudian adalah perawatan dan
pendampingan, baik bagi si pasien maupun bagi pihak keluarga. Perhatian dan kasih
sayang sangat diperlukan bagi penderita sakit terminal, bukan lagi kebutuhan fisik, tetapi
lebih pada kebutuhan psikis dan emosional, sehingga baik secara langsung maupun tidak
kita dapat membantu pasien menyelesaikan persoalan-persoalan pribadinya dan
kemudian hari siap menerima kematian penuh penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimanapun si pasien adalah manusia yang masih hidup, maka perlakuan yang
seharusnya adalah perlakuan yang manusiawi kepadanya.
Memang euthanasia berbicara pengakhiran hidup, namun jangan lupa di
dalamnya terkait juga masalah quality of life. Dan sekiranya pun apabila dahulu
pengadilan akhirnya mengabulkan permohonan Panca, seorang dokter atas dasar belas
kasihan melakukan suntikan mati, apakah tindakan dokter ini telah dapat dinyatakan
sesuai dengan hak asasi manusia ?
Tampaknya dua kubu pro dan kontra terhadap euthanasia ini senantiasa akan
terjadi meski keduanya sama sama berlandaskan peri kemanusiaan dan asas kehidupan
yang asasi. Pro euthanasia bersandarkan kepada sudut pandang penghilangan penderitaan

12

( tidak semata mata pembunuhan ) sedangkan kubu yang menolak euthanasia


beranggapan bahwa pada hakekatnya euthanasia justru adalah pembunuhan itu sendiri.
Memang, konteks euthanasia cenderung kepada konteks medis, namum berimplikasi
lebih luas kepada tatanan sosial lain termasuk hukum. Di sinilah letak penting
dilakukannya kajian secara komprehensif terutama batasan pengertian apakah
sesungguhnya makna kematian itu. Dengan batasan yang jelas, maka dapat dihindari
misunderstanding , meskipun itu berarti akan memberikan kepastian atas hukum.
Hukum (pidana) positif di Indonesia jelas belum memberikan ruang bagi
euthanasia, baik euthanasia aktif maupun euthanasia pasif. Apabila hukum di Indonesia
kelak mau menjadikan persoalan euthanasia sebagai salah satu materi pembahasan,
semoga tetap diperhatikan dan dipertimbangkan sisi-sisi nilainya, baik sosial, etika,
maupun moral.

13

DAFTAR PUSTAKA

Ameln Fred.: Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Grafikatama Jaya, Jakarta, 1991
Chandrawila Wila: Hukum Kedokteran, Mandar Maju, Bandung, 2001
Dahlan Sofwan.: Hukum Kesehatan, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang,
2003
Fuady Munir.: Sumpah Hippocrates ( Aspek Hukum Malpraktek Dokter ), PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2005
Guwandi J.: Medical Error dan Hukum Medis, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2005
Teguh Adminto. : Euthanasia Perspektif Medis dan Hukum Pidana Indonesia,
http://tittoarema.blogspot.com/14 Juni 2009
Wiranata I Gede A.B.: Euthanasia ( Pro dan Kontra ), Masalah masalah Hukum,
Majalah Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Vol. 33 No. 4, Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro, Semarang, 2004

14

EUTHANASIA
( dalam Perspektif Etika dan Moralitas )
Intan Zainafree1

ABSTRAK
Euthanasia oleh seorang dokter terhadap seorang pasien yang sudah tidak memiliki
kemampuan mengobati penyakitnya saat ini masih merupakan perbuatan pidana berupa
menghilangkan nyawa seseorang. Untuk menempuh euthanasia, selain masih ada
persoalan hukum juga masih ada persoalan etika dan moral. Euthanasia telah melalui
tahapan perkembangan panjang dan menimbulkan situasi pro dan kontra serta dilematis
di beberapa negara. Pro dan kontra mengenai boleh tidaknya euthanasia dilakukan
haruslah dilihat dalam keadaan senyatanya, dan akan lebih baik lagi bila sebelum
dilakukan didahului dengan pengkajian secara komprehensif, syarat ketat, dan regulasi
peraturan. Dalam tulisan ini akan diuraikan secara luas euthanasia bila dipandang
dalam perspektif etika dan moralitas.
Kata kunci : euthanasia, etika, moral

Staf Pengajar pada Jurusan IKM FIK UNNES

15