Anda di halaman 1dari 27

TEKNOLOGI SEDIAAN SEMI SOLID DAN LIQUID

FORMULASI GEL ANTISEPTIK TANGAN (HANDSANITIZER)


DARI AIR DAUN SIRIH (Piper betle l.)

DOSEN PEMBIMBING : FADLI, S. FARM, APT


NAMA KELOMPOK :
1. NURUL HIDAYAH
2. PASKALIS TONY BAYLON
3. RACHMA ARINDITHA PUTRI
4. RANAFIDA NUR ARDY
5. RENNI ANGGRAINI
6. RETNO KURNIAWATI
7. RIA DWI UTAMI
8. RIA REDA VITALOVA
9. TARI UTAMI
10.
UPIK RAHMIYANTI SARI

( 149082 )
( 149084 )
( 149086 )
( 149088 )
( 149090 )
( 149092 )
( 149094 )
( 149096 )
( 149114 )
( 149120 )

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK


TAHUN AJARAN 2014/2015
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 DEFINISI
Gel merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik
yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. gel kadang kadang
disebut jeli. (FI IV, hal 7)

Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil
senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing terbungkus dan saling
terserap oleh cairan (Formularium Nasional, hal 315)

1.2 TEORI
A. Pengolongan (Disperse Sistem, Lachman, hal 496)
1. Berdasarkan sifat fasa koloid :

Gel anorganik, contoh : bentonit magma

Gel organik, pembentuk gel berupa polimer

2. Berdasarkan sifat pelarut :

Hidrogel (pelarut air)

Hidrogel pada umumnya terbentuk oleh molekul polimer hidrofilik yang saling sambung
silang melalui ikatan kimia atau gaya kohesi seperti interaksi ionik, ikatan hidrogen atau
interaksi hidrofobik. Hidrogel mempunyai biokompatibilitas yang tinggi sebab hidrogel
mempunyai tegangan permukaan yang rendah dengan cairan biologi dan jaringan sehingga
meminimalkan kekuatan adsorbsi protein dan adhesi sel; hidrogel menstimulasi sifat
hidrodinamik dari gel biological, sel dan jaringan dengan berbagai cara; hidrogel bersifat
lembut/lunak, elastis sehingga meminimalkan iritasi karena friksi atau mekanik pada jaringan
sekitarnya. Kekurangan hidrogel yaitu memiliki kekuatan mekanik dan kekerasan yang rendah
setelah mengembang. Contoh : bentonit magma, gelatin

Organogel (pelarut bukan air/pelarut organik)

Contoh : plastibase (suatu polietilen dengan BM rendah yang terlarut dalam minyak mineral dan
didinginkan secara shock cooled), dan dispersi logam stearat dalam minyak.

Xerogel.

Gel yang telah padat dengan konsentrasi pelarut yang rendah diketahui sebagai xerogel.
Xerogel sering dihasilkan oleh evaporasi pelarut, sehingga sisa sisa kerangka gel yang
tertinggal. Kondisi ini dapat dikembalikan pada keadaan semula dengan penambahan agen yang
mengimbibisi, dan mengembangkan matriks gel. Contoh : gelatin kering, tragakan ribbons dan
acacia tears, dan sellulosa kering dan polystyrene.

Emulgel

Emulgel adalah emulsi baik O/W maupun W/O yang dibuat gel dengan
mencampurkannya dengan gelling agent. Keunggulan emulgel memiliki kelebihan daya hantar
obat yang baik seperti gel maupun emulsi (The APPS jurnal, Optimization of Chlorphenesin
Emulgel Formulation, Magdy I. Mohamed)
3. Berdasarkan bentuk struktur gel: (Diktat Kuliah)

Kumparan acak: struktur dibentuk oleh gelling agent golongan polimer sintetik dan
derivat selulosa. penambahan selanjutnya akan meningkatkan sifat viskoelastis dan ketegaran
masa gel.

Heliks: struktur dibentuk oleh gelling agent golongan gom xanthan dan polisakarida

Batang (egg box):terjadi ikatan silang antara polimer kation dengan polimer divalent.
Contoh: Kalsium alginat

Bangunan kartu: terbentuk dari partikel anorganik terhidratasi.

4. Berdasarkan jenis fase terdispersi (FI IV, ansel):

Gel fase tunggal, terdiri dari makromolekul organik yang tersebar serba sama dalam suatu
cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul makro yang terdispersi dan
cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misal karbomer) atau dari gom
alam (misal tragakan). Molekul organik larut dalam fasa kontinu.

Gel sistem dua fasa, terbentuk jika masa gel terdiri dari jaringan partikel kecil yang
terpisah. Dalam sistem ini, jika ukuran partikel dari fase terdispersi relatif besar, masa gel
kadang-kadang dinyatakan sebagai magma. Partikel anorganik tidak larut, hampir secara
keseluruhan terdispersi pada fasa kontinu.
B. Kegunaan (Lachman, Dysperse system, hal 495 496)

Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk
sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk sediaan
obat long acting yang diinjeksikan secara intramuskular.

Gel biasa digunakan untuk orang yang memiliki kulit berminyak (pada sediaan topikal)

Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan
pelindung
koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis suppositoria.

Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada

shampo, parfum, pasta gigi, dan kulit dan sediaan perawatan rambut.

Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril) (FI IV, hal 8)

1.3 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel.


A. Keuntungan sediaan gel :
Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang
jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus
pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori
tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan
penyebarannya pada kulit baik.
B. Kekurangan sediaan gel :
Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga
diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada
berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika
berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih
mahal.
Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk
mencapai kej ernihan yang tinggi.
Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan
pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila terkena pemaparan
cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan meninggalkan film yang berpori
atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi atau kontak dengan zat aktif.

1.4 Sifat / Karakteristik Gel (Diktat Kuliah) (lachman, 496 499)


Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan
tidak bereaksi dengan komponen lain
Pemilihan bahan pembentuk gel harus dapat memberikan bentuk padatan yang baik
selama penyimpanan tapi dapat rusak segera ketika sediaan diberikan kekuatan atau daya
yang disebabkan oleh pengocokan dalam botol, pemerasan tube, atau selama penggunaan
topikal.
Karakteristik gel harus disesuaikan dengan tujuan penggunaan sediaan yang diharapkan.
Penggunaan bahan pembentuk gel yang konsentrasinya sangat tinggi atau BM besar
dapat menghasilkan gel yang sulit untuk dikeluarkan atau digunakan).
Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur, tapi dapat juga pembentukan gel
terjadi satelah pemanasan hingga suhu tertentu. Contoh polimer seperti MC, HPMC dapat
terlarut hanya pada air yang dingin yang akan membentuk larutan yang kental dan pada
peningkatan suhu larutan tersebut akan membentuk gel.

Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan
disebut thermogelation
Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut (Disperse system):
1.

Swelling

Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan sehingga
terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan terjadi interaksi
antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila terjadi ikatan silang antar
polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan kelarutan komponen gel berkurang.
2.

Sineresis.

Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Cairan yang terjerat akan
keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel terjadi tekananyang
elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme terjadinya kontraksi berhubungan
dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis pada saat terbentuknya gel. Adanya
perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan jarak antar matriks berubah, sehingga
memungkinkan cairan bergerak menuju permukaan. Sineresis dapat terjadi pada hidrogel
maupun organogel.
3.

Efek suhu

Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur tapi
dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer separti MC,
HPMC, terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental. Pada peningkatan
suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau pemisahan fase yang
disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4.

Efek elektrolit.

Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana koloid
digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil akan
meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah pemberian
tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah konsentrasi ion
kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari alginat sebagai kalsium
alginat yang tidak larut.
5.

Elastisitas dan rigiditas

Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama transformasi dari
bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan peningkatan konsentrasi pembentuk
gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi dan mempunyai aliran
viskoelastik. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel.
(Gel lebih kental daripada sol, karena gel tersusun oleh kerangka tiga dimensi gel yang memiliki
titik hubung yang banyak antar partikelnya, sedangkan sol memiliki titik hubung /ikatan yang
sedikit sehingga sol akan membentuk sistem yang lebih encer. (Martin, Farmasi Fisik hal.1089).

6.

Rheologi

Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi memberikan sifat
aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non Newton (menggunakan alat
brookfield) yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.

F. Komponen Gel

1. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse System, vol. I, page 499-504)


Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam, turunan selulosa, dan karbomer.
Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu ada yang
membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat berperilaku
sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel.
Catatan: Pada pemilihan gelling agent perhatikan dengan pH stabilita dan
inkompatibilitasnya Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent :
A. Polimer (gel organik)
a. Gum alam (natural gums)
Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam
air), meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral, seperti guar gum.
Karena komponen yang membangun struktur kimianya, maka natural gum mudah
terurai secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu,
sistem cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan
konsentrasi yang cukup. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan
gum yang bersifat anionik sehingga penggunaannya harus dihindari.
Beberapa contoh gum alam :
i. Natrium alginat

Natrium alginat 5-10% digunakan dalam sediaan semisolid.

Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang


terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan
dengan tragakan.

Inkompatibel dengan derivat akridin, kristal violet, fenil merkuri asetat


dan nitrat, garam kalsium, logam berat dan etanol dengan konsentrasi lebih
dari 5%.
Natrium alginat pada pH 4-10, sedangkan pada pH 10 viskositas menurun
(HOPE hal 543-544)
ii. Karagenan
Fraksi kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh
panas.
Semua karagenan adalah anionik. Gel kappa yang cenderung getas,

merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K. Gel iota bersifat
elastis dan tetap j ernih dengan keberadaan ion K.
Konsentrasi karagenan yang digunakan 0,3-1%.
Inkompatibel dengan material kationik
(HOPE hal101-102)

iii. Tragakan
Menurut NF, didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus
gummifer Labillardie, atau spesies Asia dari Astragalus.
Digunakan sebanyak 5% sebagai gelling agent.
Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang
bervariasi. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4,5-7
rentan terhadap degradasi oleh mikroba. Selain itu pada pH 7, dapat
menurunkan efikasi benzalkonium klorida, klorobutanol, metil paraben,
fenol, dan fenil merkuri asetat. Viskositas juga dapat menurun dengan
penambahan alkali, atau NaCl (HOPE hal 655)
Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk
mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air.

Kompatibel dengan garam konsentrasi tinggi, suspending agent synthetic


(Acacia, CMC, pati,sukrosa), HOPE hal 655

iv. Pektin
Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang banyak
digunakan dalam makanan. Merupakan gelling agent untuk produk yang bersifat
asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan.

Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat karena air
dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya proses sineresis.

Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium dan
kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum.
b. Derivat selulosa
Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. HPMC merupakan
derivat selulosa yang sering digunakan.
Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah adanya
kontak dengan sumber selulosa. Sterilisasi sediaan atau penambahan pengawet
dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh depolimerisasi oleh
enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. Misalnya : MC, Na CMC, HEC, HPC.
Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral, viskositas stabil,
resisten terhadap pertumbuhan mikroba, gel yang jernih, dan menghasilkan film yang
kuat pada kulit ketika kering. Misalnya MC, Na CMC, HPMC
CMC Na digunakan pada konsentrasi 3-6 %.Secara umum, CMC Na menunjukkan
viskositas maksimum pada pH 7-9 (HOPE hal97-99)

Inkompatibel dengan larutan asam, larutan garam, besi, dan beberapa metal lain (Al,
merkuri, zinc).HOPE hal99

HPC stabil pada pH 6-8, inkompatibel dengan derivat fenol, seperti metil paraben
dan propil paraben, kehadiran polimer anionik akan meningkatkan viskositas HPC. Kompatibel
dengan garam inorganic.(HOPE hal291)

HEC memiliki pH stabilitas 2-12,Inkompatibel dengan zinc, inkompatibel parsial


dengan kasein, gelatin, MC,PVA, dan pati.(HOPE hal 285)

HPMC stabil pada pH3-11, inkompatibel dengan agen oksidator.(HOPE 299)


c. Polimer sintetis (Karbomer = karbopol)

Karbomer merupakan gelling agent yang kuat, membentuk gel pada konsentrasi
sekitar 0,5%. Dalam media air, yang diperdagangkan dalam bentuk asam bebasnya, pertamatama dibersihkan dulu, setelah udara yang terperangkap keluar semua, gel akan terbentuk dengan
cara netralisasi dengan basa yang sesuai.

Dalam sistem cair, basa anorganik seperti NaOH, KOH, dan NH4OH sebaiknya
ditambahkan.

pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh proses
netralisasi atau pH yang tinggi.

Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion.

Merupakan gelling agent yang kuat, maka hanya diperlukan dalam konsentrasi kecil,
biasanya 0,5-2 %.(HOPE hal 89)

Inkompatibel dengan fenol, polimer kationik, asam kuat, elektrolit kuat. (HOPE
hal91)
B. Polietilen (gelling oil)
Digunakan dalam gel hidrofobik likuid, akan dihasilkan gel yang lembut, mudah tersebar,
dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel,
polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 80 0C) kemudian
langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan
pembentukan matriks.
C.

Koloid padat terdispersi

Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan


jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen.

Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. Untuk cairan polar diperlukan
konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel, karena adanya kompetisi dengan
medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut.

D.

Surfaktan
Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral, air, dan
konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Kombinasi tersebut
membentuk mikroemulsi. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan

cara meng-adjust proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Bentuk komersial


yang paling banyak untuk jenis gel ini adalah produk pembersih rambut.
E. Gellants lain Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar
seperti beeswax, carnauba wax, setil ester wax.
F.

Polivinil alkohol
PVA digunakan dalam emulsi pada konsentrasi 0,5 %. Inkompatibel pada
konsentrasi tinggi dengan garam inorganik terutama sulfat dan fosfat (HOPE hal
491-492). Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Film yang
terbentuk sangat kuat dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara
obat dan kulit. Tersedia dalam beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan
angka penyabunan.

G.

Clays (gel anorganik)


Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok
digunakan pada kulit. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. Magnesium
oksida sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Bentonit harus
disterilkan terlebih dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Bentonit dapat
digunakan pada konsentrasi 5-20%. Contohnya : Bentonit, veegum, laponite

Nama gelling agent Konsentrasi


(sering digunakan)

Cara pengembangan

Hidroksi metil selulosa 1-3%


(HPMC)

HPMC
dikembangkan
menggunakan air panas (60-70oC),
serbuk didispersikan secara merata
diatas air panas yang terdapat dalam
wadah, kemudian didiamkan selama
satu malam hingga terbasahi
sempurna. HPMC yang telah
dikembangkan
diaduk
hingga
didapatkan basis gel yang homogen

HPC

HPC dikembangkan menggunakan


air dingin. serbuk didispersikan
merata diatas air dingin yang
terdapat dalam wadah kemudian
dibiarkan selama satu malam hingga
serbuk terbasahi sempurna, HPC
yang telah dikembangkan diaduk
hingga didapatkan basis gel yang
homogen

4-6%

HEC

Serbuk HEC didispersikan dengan


cepat kedalam air yang sedang
diaduk dengan cepat pada suhu
kamar, ketika HEC terbasahi
sempurna,
temperatur
larutan
o
dinaikkan menjadi 60-70 C untuk
meningkatkan kecepatan dispersi.

Karbomer:TEA (1::1)

0,5-2%

Serbuk karbomer terlebih dahulu


didispersikan kedalam air yang
sedang diaduk. kuat, hati-hati
jangan sampai terbentuk gumpalan
yang tidak terdispersi, kemudian
netralkan dengan penambahan basa
(bisa KOH, NaOH, TEA, borax, Na
bikarbonat)

CMC Na

3-6%

Serbuk CMC Na didispersikan


diatas air dalam mortar hingga
terbasahi semua. aduk larutan CMC
Na yang telah terbasahi hingga
terbentuk gel yang homogen

2. Bahan tambahan
a. Pengawet
Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba, tetapi semua gel
mengandung banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba.
Dalam pemilihan pengawet harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling
agent. Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :

Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,05 %
w/v
Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau klorokresol 0,1 % w/v
atau asam benzoat 0,2 % w/v
Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0,12 % w/v atau
klorokresol 0,1-0,2 % w/v
Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v atau asam benzoat 0,2 %
w/v
MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau benzalkonium klorida 0,02% w/v
Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 %

10

w/v
Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 % w/v
Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Biasanya
digunkan pelarut air yang mengandung metilparaben 0,075% dan propilparaben
0,025% sebagai pengawet.
b. Penambahan Bahan higroskopis Bertujuan untuk mencegah kehilangan air.
Contohnya gliserol, propilenglikol dan sorbitol dengan konsentrasi 10-20 %
c. Chelating agent Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap
logam berat. Contohnya EDTA

BAB II
FORMULASI

11

2.1 FORMULA UMUM


R/ Zat Aktif
Basis Gel
Zat Tambahan
2.2 FORMULASI GEL
Air Daun Sirih
Carbomer
TEA
Gliserin
Propilen Glikol
Natrium Metabisulfit
Aethanolum
Ol. Cucumis melo L.
Aquades

4%
0,5%
0,5%
15%
5%
0,1%
12%
qs
ad 50g

2.3 PENIMBANGAN
=

4
X 50 g=2 g=2 ml
100

Carbomer

0,5
x 50 g=0,25 g
100

Air untuk melarutkan

1
x 50 g=25 g=25 ml
2

TEA

0,5
x 50 g=0,25 g
100

Gliserin

15
x 50 g=7,5 g
100

Propilen Glikol

5
x 50 g=2,5 g
100

Natrium Metabisulfit

0,1
x 50 g=0,01 g
100

Aethanolum

12
x 50 g=6 g=6 ml
100

Ol. Cucumis melo L.


Aquades ad 50g

= qs
= 50ml 25ml = 25ml
= 25g (0,25g + 0,25g + 7,5g + 2,5g + 0,01g + 6g)
= 25g 16,51g
= 8,49 g

Air Daun Sirih

12

2.4 PROSEDUR KERJA


1. Siapkan alat dan bahan
2. Ambil dan timbang masing-masing bahan
3. Kembangkan Carbomer didalam gelas beaker dengan air yang sudah diperhitungkan,
tutup dengan alumunium foil diam selama 1 hari.
4. Larutkan Natrium metabisulfit dengan air secukupnya didalam gelas beaker aduk ad
larut, sisihkan
5. Larutkan propilen glikol dan gliserin didalam gelas beaker aduk ad larut
6. Masukkan carbomer kedalam lumpang gerus ad homogen
7. Masukkan larutan gliserin dan propilen glikol gerus ad homogen
8. Tambahkan larutan natrium metabisulfit gerus ad homogen
9. Tambahkan etanol sedikit demi sedikit gerus ad homogen
10. Tambahkan TEA gerus ad homogen
11. Masukkan air daun sirih gerus ad homogen
12. Tambahkan air sedikit demi sedikit gerus ad homogen
13. Teteskan ol. Cucumis melo. L secukupnya gerus hingga homogen
14. Masukkan kedalam wadah
15. Lakukan evaluasi terhadap sediaan
2.5 URAIAN SEDIAAN
A. Zat Aktif
Daun Sirih (Piper betle L.)
B. Basis Gel
1. Carbomer
Pemerian : Serbuk, putih, sedikit berbau khas, asam, higroskopik
Kelarutan : Larut dalam air dan setelah netralisasi larut dalam etanol 95 % dan dalam
gliserin.
pH
: Tingkat viskositas yang lebih tinggi pada pH 6-11 dan viskositas akan
menurun pada pH dibawah 3 atau diatas 12.
Stabilitas : Bahan yang stabil dan higroskopi, dapat dipanaskan pada suhu 1044C
selama 2 jam
Penyimpanan : Disimpan dalam wadah kedap udara
Fungsi
: Sebagai suspending agent, emulgator atau agent geling.
Konsentrasi : 0,5% - 2%. Pada pembuatan gel, konsentrasi carbomer yang cocok atau
yang biasa digunakan adalah 0,5%
2. TEA
Synonyms: TEA; Tealan; triethylolamine; trihydroxytriethylamine;
(hydroxyethyl) amine; trolaminum.
Fungsional Kategori : agen Alkalizing; zat pengemulsi.

tris

Aplikasi di Farmasi Formulasi atau Teknologi :


Triethanolamine banyak digunakan dalam formulasi farmasi topikal,
terutama dalam pembentukan emulsi. Ketika dicampur dalam proporsi molar yang

13

sama dengan asam lemak, seperti asam stearat atau asam oleat, trietanolamina
membentuk sabun anionik dengan pH sekitar 8, yang dapat digunakan sebagai agen
pengemulsi untuk menghasilkan halus, stabil minyak dalam air emulsi. Konsentrasi
yang biasanya digunakan untuk emulsifikasi adalah 2-4% v / v trietanolamina dan 25 kali dari asam lemak. Dalam kasus minyak mineral, 5% v / v trietanolamina akan
dibutuhkan, dengan peningkatan yang sesuai dalam jumlah asam lemak yang
digunakan. Persiapan yang berisi sabun trietanolamin cenderung gelap pada
penyimpanan. Namun, perubahan warna dapat dikurangi dengan menghindari
paparan cahaya dan kontak dengan logam dan ion logam.
Triethanolamine juga digunakan dalam pembentukan garam untuk solusi
injeksi dan dalam persiapan analgesik topikal. Hal ini juga digunakan dalam
persiapan tabir surya. Triethanolamine digunakan sebagai perantara dalam
pembuatan surfaktan, spesialisasi tekstil, lilin, poles, herbisida, emulsifier minyak
bumi, barang toilet, aditif semen, dan minyak pemotongan. Triethanolamine juga
diklaim akan digunakan untuk produksi pelumas untuk sarung tangan karet dan
industri tekstil. Umum lainnya menggunakan daerah buffer, pelarut, dan plasticizer
polimer, dan sebagai humektan.
Pemerian
: cairan kental berwarna kuning jernih, tidak berwarna pucat
memiliki bau amonia sedikit. Ini adalah campuran dari basis, terutama
2,20,200nitrilotriethanol,
meskipun
juga
mengandung
2,20iminodiethanol (dietanolamina) dan jumlah yang lebih kecil dari 2aminoethanol (monoethanolamine).
Stabilitas dan Penyimpanan
:
Triethanolamine dapat berubah menjadi cokelat pada paparan udara dan cahaya.
85% kelas trietanolamin cenderung stratifikasi bawah 158C; homegeneity dapat
dikembalikan dengan pemanasan dan pencampuran sebelum digunakan.
Triethanolamine harus disimpan dalam wadah kedap udara terlindung dari cahaya, di
tempat yang sejuk dan kering.
Inkompatibilitas :
Triethanolamine adalah amina tersier yang mengandung gugus hidroksi; ia
mampu menjalani reaksi khas amina tersier dan alkohol. Triethanolamine akan
bereaksi dengan asam mineral membentuk garam kristal dan ester. Dengan asam
lemak lebih tinggi, triethano garam bentuk lamine yang larut dalam air dan memiliki
karakteristik sabun. Triethanolamine juga akan bereaksi dengan tembaga untuk
membentuk garam kompleks. Perubahan warna dan curah hujan dapat terjadi dengan
adanya garam logam berat. Triethanolamine dapat
bereaksi
dengan
reagen
seperti klorida tionil untuk menggantikan
gugus hidroksi dengan halogen.
Produk reaksi ini sangat beracun, menyerupai mustard nitrogen lainnya.
Keasaman / alkalinitas : pH = 10,5 (0,1 N solusi)
Titik didih
: 3358C
Titik nyala
: 2088C
Pembekuan
: 21.68C Hygroscopicity Sangat higroskopis.
Titik lebur konten: 20-218C Moisture 0,09%

14

Kelarutan

: Daya larut pelarut pada 208C Aseton terlarut campur Benzene


1 di 24 Carbon tetrachloride terlarut campur Etil eter 1 di 63
Methanol terlarut campur air terlarut campur
Tegangan permukaan : 48.9mN / m (48.9dynes / cm) pada 258C
Viskositas (dinamis)
: 590 mPas (590 cP) di 308C
C. Zat Tambahan
1.
Gliserin
a. Sinonim
: gliserol, glycerolin, propana 1,2,3 triol
b. Rumus Molekul
: C3H8O3
c. BM
: 92,09
d. Bobot/ml
: 1,255-1,260 sesuai dengan kadar 98 % sampai 100%
C3H8O3
e. Pemerian
Bentuk
: Cairan
Warna
: Jernih
Bau
: Tidak berbau
Rasa
: Manis diikuti rasa hangat
f. Kelarutan : dalam air, methanol, dan etanol 95%dan propilenglikol, agak
larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam kloroform, benzen dan campuran
minyak.
g. Konsentrasi : Humectant 30 %
: Sweetening agent in alcoholic elixirs 20%
h. Penggunaan : sebagai antimikroba preservatif, emolien, humektan, plasticizer
dalam pelapis film tablet, solven dalam formula parenteral,dan pemanis.
i. Penyimpanan
: gliserin bersifat higroskopis, sehingga di simpan dalam
wadah kedap udara, jika di simpan dalam temperatur rendah gliserin mungkin
akan menjadi kristal. Kristalnya tidak akan melebur sampai temperatur diatas
200C.
j. Inkompatibilitas
: Dapat meledak jika di campur dengan oksidasi yang kuat
seperti potassium permanganat, potassium klorat.
(Farmakope Indonesia Edisi IV, Handbook of Pharmaceutical Excipient Edisi 6)
2. Propilen Glikol
a. Pemerian
: Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa agak
manis, higroskopik
b. Kelarutan
: Dapat campur dengan air, dengan etanol(95%)P, dan dengan
kloroform P, larut dalam 6 bagian eter, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah P,
dan dengan minyak lemak.
c. Stabilitas
: Propilen glikol stabil pada suhu dingin dan wadah tertutup baik.
Pada suhu tinggi dan tempat terbuka cenderung teroksidasi menjadi propionaldehid,
asam laktat, asam piruvat dan asam asetat. Stabil dengan etanol (95%), gliserin dan air
d. Inkompabilitas : Inkompabilitas dengan potassium permanganate
e. Penyimpanan : Wadah tertutup baik

15

f. Konsentrasi
g. Khasiat

: Topicals 5% - 80%
: Sebagai humektan dan pelarut pada gel

3. Natrium Metabisulfit
a. Pemerian
: Hablur atau serbuk; yang berbentuk hablur tidak berwarna, yang
berbentuk serbuk berwarna putih atau kuning gading; bau belerang; rasa asam dan
asin
b. Kelarutan
: Larut dalam 2 bagian air; sukar larut dalam etanol (95%0
c. Titik lebur
: 1504C
d. Penyimpanan : Ditempat yang sejuk, dalam wadah tertutup rapa, dan di area
berventilasi baik, karena senyawa ini sensitive terhadap kelembapan
e. Khasiat
: Pemakaiannya dalam pengolahan bahan pangan bertujuan untuk
mencegah proses pencoklatan pada buah sebelum diolah, menghilangkan bau dan
rasa getir terutama pada ubi kayu serta untuk mempertahankan warna agar tetap
menarik. Pada penggunaan topical bisa digunakan sebagai pengawet antimikroba
atau antioksidan
f. Konsentrasi : 0,01% - 1,0%

4. Aethanolum
a. Pemerian
: Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah
bergerak; bau khas; rasa panas. Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap
b. Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P, dan dalam eter
P
c. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat
sejuk; jauh dari nyala api
d. Konsentrasi : Lebih dari 10%
e. Titik didih
: 784C

2.6 EVALUASI
Untuk mengetahui kestabilan sediaan pasta, perlu dilakukan beberapa pengujian, yakni:
A. Organoleptis
Uji organoleptik, merupakan pengujian sediaan dengan menggunakan pancaindra untuk
mendiskripsikan bentuk atau konsistensi (misalnya padat, serbuk, kental, cair), warna
(misalnya kuning, coklat) dan bau (misalnya aromatik, tidak berbau).
Dengan cara melihat warna sediaan, mencium bau dari sediaan, dan ambil sedikit sediaan
oleskan pada tangan kemudian ditentukan bagaimana teksturnya. Alasan dilakukan uji
organoleptis ini adalah untuk mengetahui karakteristik dari pasta yang telah dibuat apakah
memenuhi syarat atau tidak.

16

B. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui merata atau tidaknya zat
aktif dalam sediaan sehingga akan menghasilkan efek yang maksimal. Cara kerja uji
homogenitas :
a. Sediaan pasta diambil sedikit
b. Dioleskan pada kaca objek
c. Kaca objek diarahkan pada cahaya
d. Homogenitas sediaan pasta di amati
Semakin kecil ukuran partikel suatu zat dalam sediaan pasta maka semakin cepat bahan
obat masuk atau terabsorpsi ke dalam kulit sehingga dapat menghasilkan efek yang
diinginkan.
C. Uji pH
Uji pH dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat dari sediaan pasta. Dengan cara 2
cara :
1. Dengan kertas lakmus ; mengoleskan sediaan pada kertas lakmus, kemudian dibiarkan
sampai terjadi perubahan warna pada kertas lakmus.
2. Dengan pH meter ; adalah sebuah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH
(kadar keasaman atau alkalinitas) ataupun basa dari suatu larutan (meskipun probe khusus
terkadang digunakan untuk mengukur pH zat semi padat). PH meter yang biasa terdiri dari
pengukuran probe pH (elektroda gelas) yang terhubung ke pengukuran pembacaan yang
mengukur dan menampilkan pH yang terukur. Prinsip kerja dari alat ini yaitu semakin
banyak elektron pada sampel maka akan semakin bernilai asam begitu pun sebaliknya,
karena batang pada pH meter berisi larutan elektrolit lemah. Alat ini ada yang digital dan
juga analog. pH meter banyak digunakan dalam analisis kimia kuantitatif.
D. Uji Daya Sebar
Uji daya sebar dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan sebar pasta
terhadap kulit. Uji ini dilakukan dengan cara :
a. Sebanyak gram sediaan pasta diambil, diletakkan pada kaca objek A.
b. Kaca objek B diletakkan di atas sediaan pasta.
c. Dibiarkan selama 1 menit.
d. Diameter sebar dihitung.
e. Beban diletakkan diatas kaca objek B.
f. Dibiarkan selama 1 menit, kemudian dimeter sebar dihitung.

17

BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1 FORMULA DAN FUNGSI


Formula

Fungsi
Zat Aktif
Gelling agent
Penetral Carbomer
Humektan
Humektan & Pelarut
Pengawet

Konsentrasi
(Range)
4%
0,5% - 2%
0,5%
30%
5% - 80%
0,01% - 1,0%

Konsentrasi yang
Digunakan
4%
0,5%
0,5%
15%
5%
0,1%

Air Daun sirih


Carbomer
TEA
Gliserin
Propilen Glikol
Natrium
Metabisulfit
Aethanolum
Ol. Cucumis melo
L.
Aquades

Antimikroba
Corrigent Odoris

10%
Qs

12%
Qs

Pengencer

Ad 100%

Ad 50g

3.1 DATA HASIL EVALUASI


1. Uji Organoleptis
Replikasi
1.
2.

Warna
Putih agak
keruh
Putih

Bau
Melon

Tekstur
Semi Solid

Kejernihan
Kurang Jernih

Berbau

Semi Solid

Jernih

2. Uji Homogenitas
Replikasi
Gel
Pembanding

Kejernihan
Tidak Homogen
Homogen

18

\
3. Uji PH
Replikasi
Gel
Pembanding

PH
7
6

4. Uji Daya sebar


Replikasi
Gel
Pembanding

Berat jenis
10g
50g
100g
10g
50g
100g

Kemampuan daya sebar


6,22 cm
7,50 cm
9,0 cm
4,25 cm
4,80 cm
5,30 cm

19

5. Kemampuan Proteksi
Replikasi
Gel
Pembanding

Viskositas
Adanya Noda Merah
Adanya Noda Merah

6. Uji Daya Kering


Replikasi
Gel
Pembanding

Waktu
45 detik
34 detik

20

BAB IV
PEMBAHASAN

Gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi yang dibuat dari zarah kecil
senyawaan organik atau makromolekul senyawa organik, masing-masing terbungkus dan saling
terserap oleh cairan . (Formularium Nasional, hal 315). Pada praktikum ini kami membuat
formula gel sebagai antiseptic tangan (handsanitizer) yang menggunakan zat aktif daun sirih.
Didalam tanaman daun sirih terdapat kandungan alkaloid yang berfungsi sebagai antimikroba.
Karena fungsinya sebagai antimikroba, daun sirih biasanya digunakan untuk menghilangkan bau
mulut, sebagai antiseptic untuk daerah kewanitaan, sebagai bahan pembuatan pasta gigi dan
banyak lagi lainnya, tetapi praktikum kali ini kami menggunakannya sebagai bahan aktif dalam
formula gel antiseptic untuk tangan (hansanitizer). Pada formula ini, selain daun sirih sebagai
bahan aktif, kami menggunakan carbomer dan TEA sebagai basis gel. Disini yang menjadi agent
gelling adalah carbomer, sedangkan TEA adalah penetral dari carbomer. Ada juga bahan
tambahan lain yang kami gunakan ialah gliserin sebagai humektan, propilen glikol sebagai
humektan tetapi juga bisa digunakan sebagai pelarut, natrium metabisulfit sebagai pengawet
antimikroba, etanol sebagai agent antimikroba, ol. Curcumis melo sebagai corrigen odoris
(pewangi) dan juga aquadest sebagai pengencer.
Pembuatan gel ini kami lakukan dengan cara, pertama mengembangkan carbomer dengan
air yang sudah diperhitungkan, direndam selama 1hari hingga carbomernya mengembang.
Setelah carbomer mengembang disisihkan terlebih dahulu. Dan kami melarutkan bahan-bahan
lainnya yang harus dilarutkan terlebih dahulu, yaitu gliserin dan sorbitol dilarutkan didalam gelas
beaker, dan natrium metabisulfit dengan air didalam gelas beaker juga. Setelah itu carbomer
dimasukkan kedalam lumpang gerus hingga halus, lalu tambahkan larutan gliserin gerus hingga
homogen. Setelah itu tambahkan larutan natrium metabisulfit (gerus), pada saat penambahan
natrium metabisulfit sediaan menjadi sangat cair. Tambahkan etanol sedikit demi sedikit (gerus),
penambahan etanol ini yang membuat sediaan menjadi kental kembali. Setelah itu ditambahkan
TEA (gerus), dan sediaan semakin mengental seperti pertama sekali (basisnya). Lalu
ditambahkan zart aktifnya dan kemudian diencerkan dengan aquadest (gerus hingga homogen).
Dan terakhir teteskan ol. Curcumis melo agar memberikan aroma yang enak (gerus hingga
homogen).
Setelah sediaan jadi dilakukan evaluasi terhadap sediaan gel tersebut. Evaluasi yang
dilakukan adalah evaluasi fisik dan eavluasi kimia. Evaluasi fisik yang meliputi uji organoleptis,
uji homogenitas, uji daya sebar, dan uji daya kering. Dan evaluasi kimia yaitu, uji pH dan uji

21

daya proteksi. Pada evaluasi kami menggunakan gel yang sudah jadi, yang sudah beredar dan
sering digunakan dimasyarakat sebagai pembanding dari hasil gel yang kami buat. Dan ini
adalah uraian evaluasinya :
1. Uji Organoleptis
Uji ini dilakukan dengan menggunakan panca indra untuk melihat warna dari sediaan,
aroma, mengetahui tekstur dan kejernihan dari sediaan gel yang telah dibuat. Agar
dapat mengetahui kestabilan dari gel tersebut. Dan dari hasil pengamatannya dapat
diketahui bahwa gel yang telah kami buat tersebut memiliki warna putih agak keruh.
Warna air dari zat aktif yang membuat warna sediaan tersebut menjadi agak keruh
dan juga mengakibatkan kurang jernih. Dari aromanya berbau melon karena
penambahan pewangi melon. Dan dari segi teksturnya semi solid. Dan hasil uji
organoleptis dari gel pembanding ialah warnanya putih, jernih, berbau dan teksturnya
semi solid. Dari hasil uji tersebut dengan membandingkan dengan hasil uji dari gel
pembanding dapat disimpulkan bahwa gel yang kami buat tersebut masih kurang
stabil, dikarenakan kurang jernih. Sedangkan syarat dari gel harus jernih.
2. Uji Homogenitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui merata atau tidaknya zat aktif dalam sediaan
tersebut, dengan cara mengoleskan gel pada kaca objektif. Kemudian kaca tersebut
diarahkan pada cahaya. Dan dari hasil pengamatan yang telah kami lakukan terhadap
sediaan kami hasilnya adalah gel kami tersebut tidak homogen. Gel tersebut tidak
homogeny bisa dikarenakan teknik penggerusan yang kurang optimal dan kurang
lama.
3. Uji Daya Kering
Uji ini dilakukan untuk mengetahui berapa lama kemampuan gel ini mengering saat
di gunakan di tangan. Uji ini dilakukan dengan cara tuangkan gel ketangan, usap,
diamkan dan hitung berapa lama waktunya. Dan dari hasil pengamatan waktu yang
dibutuhkan untuk gel ini mengering ditangan adalah 45 detik. Untuk mengetahui
lamanya waktu yang seharusnya, kami juga menghitung waktu mengeringnya gel
pembanding, dan hasilnya adalah 34 detik. Dan dari hasil uji tersebut dapat
disimpulkan bahwa gel yang kami buat tersebut sudah cukup sesuai.
4. Uji pH
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah pH sediaan yang dibuat sudah sesuai
dengan pH didalam mulut dan pH gigi. Cara mengukur pH ini bisa dengan dua cara
yaitu dengan menggunakan kertas pengukur pH atau yang lebih efektif dengan alat
pengukur pH yaitu pH meter. Tetapi pada praktikum ini kami menguji pH dengan
menggunakan kertas pengukur pH. Caranya dengan mengoleskan gel pada kertas pH,
ditunggu beberapa menit kemudian hitung pH nya dengan melihat warna yang sesuai
dengan nomor pH. Pada praktikum ini, sebelumnya kami telah menghitung pH pada
gel pembanding terlebih dahulu dan pH nya adalah 6. Setelah itu kami menghitung
pH pada sediaan kami dan hasilnya adalah 7. Dari hasil tersebut dapat diketahui
bahwa sediaan gel yang kami buat pH nya tidak jauh berbeda yang artinya pH sediaan
tersebut sudah sesuai dan bersifat netral.

22

5. Uji Proteksi
Uji ini dilakukan dengan cara meneteskan indicator PP diatas kertas saring, keringkan
setelah itu mengoleskan gel diatasnya dan teteskan larutan NaOH. Dilihat apabila
hasilnya tidak terdapat noda berwarna merah artinya gel tersebut dapat memberikan
proteksi terhadap cairan ( larutan NaOH ). Dan dari hasil pengamatan diketahui
bahwa kedua sediaan tersebut terdapat noda berwarna merah, yang artinya gel
tersebut tidak dapat memberikan priteksi terhadap cairan NaOH.
6. Uji Daya Sebar
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan sebar gel saat di aplikasikan di
tangan. Caranya adalah dengan menimbang sediaan gel sebanyak 0,5g kemudian
diletakkan pada kaca objek A dan ditutup dengan kaca objek B, kemudian tambahkan
beban seberat 10g, 50g dan 100g. Biarkan beberapa menit dan hitung diameternya
dengan jangka sorong. Pada praktikum yang kami lakukan dengan menguji daya sebar
dari gel yang telah kami buat dan juga daya sebar dari gel pembanding. Hasilnya dapat
diketahui dari data di atas pada BAB Hasil Pengamatan. Daya sebar dari formula gel
dengan bahan aktif air daun sirih adalah 6,22 cm, 7,50cm dan 9,0 cm. Untuk daya sebar
gel pembanding adalah 4,25cm, 4,80 dan 5,30cm. Dan dari itu dapat diketahui bahwa gel
yang kami buat sudah baik dengan daya sebar yang sudah cukup baik.

23

BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas mengenai praktikum pembuatan gel yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa formula gel yang kami buat dengan bahan aktif Air Daun
Sirih masih kurang baik. Karena masih ada beberapa uji yang belum sesuai, yaitu
pada uji organoleptis dan uji homogenitas. Sedangkan pada uji-uji yang lainnya yaitu
uji pH, uji daya sebar, uji daya kering dan uji proteksi sudah cukup sesuai dengan
syarat-syarat gel.

24

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kehatan Republik Indonesia,
p.92-98.
Anonim, 1981, Pemanfaatan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia p. 19, 38,43.
Block, S. 2001. Disinfection, Sterilization and Preservation. 4th. Edition. Williams and Wilkins.
P. Dryer, D. L., et al., 1998, Testing a New Alcohol Free Had Sanitizer to Combat Infection,
AORN Journal, Vol. 68, No. 4, p. 239 251.
Gennaro, A.R. 1995. Remington: The Science and Practice of Pharmacy, Vol. II. Mack
Publishing Company, Pennsylvanis. P. 1263 1270.
Jones,R. D., 2000, Moisturizing Alcohol Hand Gels for Surgical Hand Preparation, AORN
Journal, Vol.71, p. 584-599.
Lund, Walter, 1994, The Pharmaceutical Codex, 12th Ed., Principle and Practice of
Pharmaceutics, The Pharmaceutical Press, London, p. 595-599.
Mardisiswojo, S. and Harsono R., 1985, Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang, PN. Balai
Pustaka, 189- 190, 215.
Sari, Retno., Dewi I. and Noorma R., 2004, Pemanfaatan Sirih sebagai Sediaan Hand Gel
Antiseptic : I. Studi Formulasi, Laporan Penelitian, Fakultas Farmasi,Universitas Airlangga.
Snyder, P.O., 1999, Safe Hands Hand Wash Program for Retail Food Operation: A Technical
Review, www.hi-tm.com/Documents/Handwash-FL99.html.
Suharto, 1994, Flora Normal serta Hubungan Kuman dengan Hospes dan Lingkungan, dalam:
Mikrobiologi Kedokteran, Edisi Revisi, UI Press, Jakarta, p. 32
Suwondo, S.; Sidik, S.RS. and Soelarko, RM., 1991, Prosiding Seminar Sirih : Aktivitas
Antibakteri Daun Sirih (Piper betle L.) terhadap Bakteri Gingivitis dan Bakteri Pembentuk
Plak/Karies Gigi (Streptococcus mutans), Yogyakarta.

25

LAMPIRAN

Alat dan Bahan

Metode Pembuatan

26

Evaluasi yang Dilakukan

27