Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

TUMOR MAMAE
STASE BEDAH RSUD CIANJUR JAWA BARAT

Disusun oleh :
Nely Kartika
2010730077
Pembimbing :
Dr. Mayasofa, Sp.B

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya.
Sholawat dan salam terlimpah pada Muhammad SAW. Tujuan penulisan laporan ini adalah
untuk menambah ilmu tentang tumor mamae, mulai dari anatomi payudara, sampai penangan
karsinoma mamae serta untuk memenuhi tugas sebagai penilaian kegiatan kepaniteraan klinik
stase bedah RSUD cianjur.
Pada pembuatan laporan ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh
dari sempurna karena masih dalam proses belajar. Untuk itu penulis sangat mengharapkan
saran dan kritik untuk perbaikan penyusunan laporan kasus yang akan datang serta
membangun laporan ini menjadi lebih baik dan berguna di masa yang akan datang.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dr. Maya, Sp.B sebagai dokter
pembimbing yang telah mendeskripsikan tentang penyusunan laporan kasus ini. Terima kasih
kepada orang tua yang selalu mendoakan dan teman teman yang telah memberikan
motivasi serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kasus ini.
Penulis berharap laporan kasus ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi
instansi kepaniteraan klinik FKK UMJ dan RSUD Cianjur pada umumnya.

Cianjur, Maret 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Karsinoma mamae merupakan kanker yang sangat menakutkan kaum wanita setelah
kanker cervix khususnya di negara-negara maju termasuk Indonesia. Kanker payudara
menempati urutan pertama pada wanita. Insiden kanker payudara cenderung meningkat
hal ini disebabkan karena semakin tingginya keadaan status sosial ekonomi yang
mempunyai dampak pula terhadap perubahan pola hidup. Berdasarkan meningkatnya
prevalensi kanker payudara maka dilakukan usaha-usaha untuk menurunkan atau
meminimalkan prevalensi kanker payudara, kita harus menyadari bahwa perlunya
penjelasan dan pemahaman kepada pasien yang menderita kanker payudara serta untuk
penanganan pasien kanker payudara dilakukan pengobatan dan pemilihan obat yang tepat
sehingga tercapai tujuan yaitu meminimalkan prevalensi kanker payudara.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik stase
bedah RSUD cianjur, serta menambah pengetahuan dan pemahaman penulis tentang
kanker payudara

BAB II
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien

Nama
Jenis Kelamin

: Ny. Y I
: Perempuan

Umur
Pekerjaan
Alamat
Suku Bangsa
Agama
Status
Pendidikan
No. RM

: 29 tahun
: Karyawati
: Sindangraja
: Jawa
: Islam
: Menikah
: SMA
: 669634

Anamnesa (Autoanamnesa)
Tanggal pemeriksaan : 21 Januari 2015
Keluhan Utama : benjolan di payudara kiri
Keluhan Tambahan : Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Bedah Umum di RSUD Cianjur tanggal 21 Februari 2015
dengan keluhan benjolan di payudara kiri sejak 2 tahun yang lalu. Benjolan diakuinya kenyal,
tidak nyeri dan bisa digerakkan. Benjolan awalnya kecil kemudian bertambah besar namun.
Tidak ada perubahan warna dengan kulit sekitarnya. Putting susu pada payudara pasien
sebelah kiri masuk ke dalam. Hal ini diakui pasien terjadi sejak payudaranya mulai tumbuh.
Pasien menyangkal mengalami penurunan berat badan dalam waktu dekat, nafsu
makan menurun, demam, sesak, pegal-pegal, mual-muntah, dan nyeri perut. Riwayat BAK
serta BAB lancar. Pasien mengaku pernah memakai KB suntik tiap satu bulan selama 2
tahun.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat adanya benjolan pada payudara sebelumnya disangkal.
Riwayat darah tinggi disangkal
Gatal-gatal, kemerahan setelah minum obat/makan disangkal
Kencing manis disangkal
Mengi disangkal
Penyakit flek paru disangkal
Nyeri dada kiri disangkal
Kelainan indung telur, salurannya, rahim, dan kemaluan disangkal
Riwayat penyakit ganas disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat benjolan di payudara disangkal
Darah tinggi disangkal
Gatal, kemerahan setelah minum obat/makan disangkal
Kencing manis disangkal
Riwayat keluarga alami penyakit ganas disangkal
Riwayat kelainan indung telur, salurannya, rahim, kemaluan, buah zakar disangkal
Riwayat Menstruasi

Menstruasi pertama pasien saat usia 14 tahun, teratur sebulan sekali dengan durasi
menstruasi 7 hari, pengeluaran darah cukup, tidak berlebihan atau terlalu sedikit.
Riwayat Persalinan dan Menyusui
Pasien memiliki 1 orang anak, tidak pernah mengalami keguguran. Hamil anak
pertama saat usia 27 tahun. Pasien melahirkan secara normal di rumah sakit. Pasien tidak
menyusui anaknya dikarenakan putting susunya masuk ke dalam. Pasien biasanya memerah
susunya dan memberikan kepada anaknya. Pasien memerah susu pada payudara kiri dan
kanan. Namun hal itu tidak bisa dilakukan teratur karena pasien bekerja. Pasien memberikan
ASI kepada anaknya selama 6 bulan namun tidak eksklusif.

Riwayat Kebiasaan
Sehari-hari pasien makan dengan teratur, menyukai makanan apa saja dan jarang
makan mie instan, kadang makan berlemak. Pasien tidak pernah merokok dan konsumsi
alkohol.
Riwayat Sosial-Ekonomi
Sehari-hari pasien bekerja sebagai karyawati , sudah menikah dan memiliki satu
anak. Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh jamsostek.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : baik
Kesadaran : CM
BB : 45 kg TB : 150 cm
IMT : 20 (normoweight)
Tanda Tanda Vital

Tekanan darah (mmHg)


Nadi (x/menit)
RR (x/menit)
Suhu (oC)

21/10/13
110/80
84
20
36,5

Mata : ca -/- , si -/Hidung : simetris, sekret -/-, septum deviasi -/Telinga : bentuk normal, sekret -/-, discharge -/Tenggorok : hiperemis - , nyeri telan Mulut : sianosis
Leher : letak trakea di tengah, deviasi

Thoraks

Inspeksi

Jantung
Ictus cordis tidak tampak

Paru
Hiperpigmentasi (-), hemithorax
D = S, ICS normal, diameter AP :
Lat= 2:1, retraksi otot-otot bantu

Palpasi

Perkusi

Ictus cordis teraba di ICS V

napas (-), retraksi costa (-)


Nyeri tekan (-), tumor (-),

linea midklavikularis sinistra,

krepitasi (-), pelebaran ICS (-),

diameter 1cm, tidak kuat angkat,

stem fremitus D = S

thrill(-)
Batas jantung kanan : ICS V

Sonor di kedua lapang paru, batas

sternal line dextra,


Batas jantung kiri : ICS V 1 cm

paru-hepar di ICS V MCL


sinistra

medial MCL sinistra,


batas atas jantung : ICS III
Auskultasi

parasternal line dextra.


BJ I II reguler, murmur (-),

Suara napas vesikuler (+/+),

gallop (-)

ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
o Inspeksi : flat
o Auskultasi : BU + normal
o Perkusi : timpani
o Palpasi : supel, nyeri tekan -, nyeri lepas -, hepar dan lien tidak teraba
membesar
Ekstremitas

Atas : akral hangat +/+ , edema -/-, nyeri tekan -/-, nyeri gerak -/o Bawah : akral hangat +/+ , edema -/-, nyeri tekan -/-, nyeri gerak -/Kesan : Normal

Status Lokalis
Regio : mammae dextra dan sinistra

Pemeriksaan
Inspeksi

Mammae dekstra
Kedua payudara besarnya sama

Mammae sinistra

Tampak kesegarisan putting susu


Warna kulit sama dengan sekitarnya
Tidak ada adanya penebalan kulit
Tidak ada adanya luka
Tidak ada retraksi putting susu
Tidak ada perubahan warna pada putting susu
Tidak ada cairan yang keluar sendiri
Tidak teraba massa
Teraba 1 massa:

Palpasi

Tidak keluar cairan saat putting Letak: di daerah lateral atas


susu di pencet

(arah jam 1-2)

Nyeri tekan : -

Bentuk: tidak teratur,


Batas: tidak tegas
Ukuran: 5 cm
Permukaan : rata
Konsistensi : keras
Suhu : sama dengan sekitarnya
Mobilitas : bisa digerakkan.
Nyeri : tidak didapatkan nyeri
tekan
Indurasi:
Undulasi :
Fluktuasi :
Tidak keluar cairan saat putting
susu dipencet

PF Kelenjar Getah Bening Sekitar Mammae

Leher : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening submandibula, cervical,

supraclavicula, infraclavicula
Aksilla : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening aksilaris dextra et
sinistra, pektoral dextra et sinistra

Sternal : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening di parasternal dextra et


sinistra

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium tgl 21 Januari 2015 :
Darah Rutin
Hemoglobin

21 Januari 2015
12.4

Nilai Normal
12-16 g/dL

Hematokrit

38.10

37-47%

Leukosit

6.4

4.8-10.8 /uL

Trombosit

278.000

150.000-400.000/uL

Masa perdarahan (BT)

01 min 45 sec

1-3 min

Masa pembekuan (CT)


Kimia Klinik
GDS

08 min 00 sec

5-15min

89

70-115 mg/dL

Negatif

Negatif

Imunologi :
HbsAg
Kesan: normal

Foto thorak 22 Januari 2015


COR:CTR<50%, bentuk dan letak normal
Pulmo : corakan bronkovaskuler normal
Tak tampak bercak
Diafragma dan sinus costophrenicus kanan kiri normal
Kesan :
Cor dan Pulmo : normal
RESUME
Pasien datang ke Poli Bedah Umum di RSUD Cianjur tanggal 21 Januari 2015 dengan
keluhan benjolan di payudara kiri sejak 2 tahun yang lalu. Benjolan diakuinya tidak keras,
tidak nyeri dan bisa digerakkan. Benjolan awalnya kecil kemudian bertambah besar. Tidak
ada perubahan warna dengan kulit sekitarnya. Putting susu pada payudara pasien sebelah kiri
masuk ke dalam. Hal ini diakui pasien terjadi sejak payudaranya mulai tumbuh.
Pasien menyangkal mengalami penurunan berat badan dalam waktu dekat, nafsu
makan menurun, demam, sesak, pegal-pegal, mual-muntah, dan nyeri perut. Riwayat BAK

serta BAB lancar. Pasien mengaku mengaku pernah memakai KB suntik tiap satu bulan
selama 2 tahun.
RPD : Riwayat adanya benjolan pada payudara sebelumnya disangkal.
Riwayat Kelainan indung telur, salurannya, rahim, dan kemaluan disangkal
Riwayat penyakit ganas disangkal
RPK : Riwayat adanya benjolan pada payudara disangkal.
Riwayat Kelainan indung telur, salurannya, rahim, dan kemaluan disangkal
Riwayat penyakit ganas disangkal
Riwayat Menstruasi : Menstruasi pertama pasien saat usia 14 tahun, teratur sebulan sekali
dengan durasi, volume dalam batas normal.
Riwayat Persalinan dan Menyusui : Pasien memiliki 1 orang anak, tidak pernah mengalami
keguguran. Hamil anak pertama saat usia 27 tahun. Pasien melahirkan secara normal di
rumah sakit. Pasien tidak menyusui anaknya dikarenakan putting susunya masuk ke dalam.
Pasien biasanya memerah susun dan memberikan kepada anaknya. Pasien memerah susu
pada payudara kiri dan kanan. Namun hal itu tidak bisa dilakukan teratur karena pasien
bekerja. Pasien memberikan ASI kepada anaknya selama 6 bulan namun tidak eksklusif.

Diagnosis
Tumor jinak mammae sinistra
Diagnosis banding
Tumor ganas mamae sinistra
Penatalaksanaan
Informed consent : edukasi mengenai penyakitnya, etiologi, faktor risiko, terapi,
komplikasi yang mungkin terjadi, biaya, prognosis
Operatif : eksisi biopsy
Komplikasi
Tumor ganas mammae sinistra
Metastasis
Prognosis
Ad vitam : dubia
Ad sanationam : dubia
Ad fungtionam : dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Payudara
Perkembangan payudara berasal dari ectodermal. Awal kehidupan janin milk lines
terbentang di sepanjang axilla sampai pubis namun pada akhir trimester pertama milk
lines menjadi atrofi kecuali bagian dada yang akan berkembang menjadi puting susu.
Saluran dan lobulus terbentuk dari pertumbuhan ektoderm permukaan puting susu.
Areola adalah area lingkaran gelap berpigmen disekitar puting, pinggirannya berbentuk
tuberkel, bagian ini adalah salah satu area untuk menyusui. Pada masa pubertas payudara
terus berkembang karena terjadi interaksi dari hormon. Pertumbuhan payudara
dideskripsikan dalam 5 fase, yaitu pada fase ke-1 pada usia 8-10 tahun, pada usia ini
perkembangan payudara tanpa pengangkatan puting susu. Fase 2, pada usia 10-12 tahun,
ditandai dengan pembentukan kelenjar subareolar. Pada fase 3, usia 11-13 tahun ditandai
dengan peningkatan volume kelenjar dan pigmentasi areolar. Fase ke 4 yang ditandai
pembesaran areola dan pigmentasi. Fase ke 5 pada usia 13-17 tahun terjadi
perkembangan payudara.
Payudara wanita atau kelenjar mamae terletak pada dinding anterior thorax
jaringan subkutaneus (fascia superficial). Ukuran payudara atau kelenjar mamae setiap
individu bervariasi, batas-batas payudara atau kelenjar mamae, yaitu batas superior :
costa 2, batas inferior : costa 6, batas medial : sternum, dan batas lateral : linea mid
axillaris. Duktus lactiferus menyatu kearah radial untuk membuka puting susu. Jaringan
fibrous menghubungkan dermis dari kulit ke fascia, dan untuk menjaga tonjolan
payudara muda, payudara yang atrofi pada menjadi pendulus, penyebab pitting kulit pada
karsinoma. Antara jaringan kapsul dengan fascia pectoralis mayor disebut dengan ruang
retromammary. Dilalui oleh percabangan limfatik dan vaskularisasi. Kelenjar getah
bening axillaris dipisahkan menjadi tiga tingkatan berdasarkan muskulus pectoralis
minor, yaitu tingkat 1 Kelenjar limfe dari muskulus pectoralis lateral, tingkat 2 nodus
dibawah otot, tingkat 3 nodus medial yang berasal dari muskulus pectoralis minor.

Kelenjar limfe interpectoralis axillaris anterior terletak diantara muskulus pectoralis


mayor dan muskulus pectoralis minor.

Pasokan darah payudara


Suplai darah arteri
Suplai darah berasal dari arteri thoracic lateralis dengan percabangan disekitar
perbatasan pektoralis mayor dan percabangan lainnya. Arteri thoracic interna juga
mempunyai percabangan melalui ruang intercostalis. Pasokan darah payudara didapatkan
dari rami perforans arteriae thoracicae internae dan arteriae intercostales. Arteri axillaris
juga mengalir darah ke glandula mamae, yaitu melalui cabang-cabangnya, arteri
thoracica lateralis dan arteria thoracoacromialis.
Vena
Vena mengikuti arteri, pada aksilla, pada internal thorakalis dan aliran vena pada
kelenjar payudara terdapat di intercosta 3 sampai intercosta 5

Aliran limfe
Pembentukan kelenjar limfe terjadi tidak tetap dan bervariasi, banyak kelenjar yang
sangat kecil. Pembagian aliran kelenjar mamae yaitu
a. Pembuluh getah bening
1. Pembuluh getah bening aksila : Pembuluh getah bening aksila ini mengalirkan
getah bening dari daerah-daerah sekitar areola mamae, kuadran lateral bawah dan
kudran lateral atas payudara
2. Pembuluh getah bening mamaria interna : Saluran limfe ini mengalirkan getah
bening dari sebagian dalam dan medial payudara. Pembuluh ini berjalan di atas
fascia pektoralis lalu menembus fascia tersebut dan masuk ke dalam m. Pectoralis
mayor. Lalu jalan ke medial bersama-sama dengan perforantes menembus m.
Interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening mamaria interna. Dari
kelenjar mamaria interna, getah bening mengalir melalui trunckus limfatikus
mamaria interna. Sebagian akan bermuara pada v. Kava. Sebagian akan bermuara
ke duktus Torasikus dan duktus limfatikus dekstra.
3. Pembuluh getah bening di daerah tepi medial bawah payudara. Pembuluh ini
berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fascia rektus dan
masuk ke dalam m. Rektus abdominis. Saluran ini bermuara ke dalam kelenjar
getah bening preperikardial anterior yang terletak di tepi atas diafragma diatas
ligamentum falsiforme. Kelenjar getah bening ini juga menampung getah bening
dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian anterosuperior hepar. Dari
kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna.
b. Kelenjar kelenjar getah bening
a. Kelenjar getah bening aksila
Terdapat enam grup kelenjar getah bening aksila :
1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna. Kelenjar ini terletak dibawah tepi
lateral m. Pektoralis mayor, sepanjang tepi medial aksila. Grup ini dibagi
dalam dua kelompok :
a. Kelompok superior
Kelompok kelenjar getah bening ini terletak setinggi interkostal II-III
b. Kelompok inferior
Kelompok kelenjar getah bening ini terletak setinggi interkostal IV-V-VI
2. Kelenjar getah bening skapula
Kelenjar getah bening terletak

sepanjang

vasa

suskapularis

dan

torakodorsalis, mulai dari percabangan v. Aksilaris menjadi v. Subskapularis,


sampai ke tempat masuknya v. Torako-dorsalis ke dalam m. Latissimus dorsi.

3. Kelenjar getah bening sentral (central nodes)


Kelenjar getah bening ini terletak di dalam jaringan lemak di pusat axillaris.
Kelenjar getah bening ini adalah kelenjar yang relatif paling mudah diraba.
Dan merupakan kelenjar aksila yang terbesar dan terbanyak jumlahnya.
4. Kelenjar getah bening interpektoral (Rotters node)
Kelenjar getah bening ini terletak diantara m. Pektoralis mayor dan minor,
sepanjang rami pektoralis v. Thorako-akromialis.
5. Kelenjar getah bening v. Aksilaris. Kelenjar-kelenjar ini terletak sepanjang v.
Aksilaris bagian lateral, mulai dari white tendon m. Latissimus dorsi sampai
ke sedikit medial dari percabangan v. Aksilaris v. Torakoakromialis.
6. Kelenjar getah bening subklavikula. Kelenjar ini terletak sepanjang v.
Aksilaris, mulai dari sedikit medial percabangan v. Aksilaris v. Torakoakromialis sampai v. Aksilaris menghilang dibawah tendon m. Subklavius.
Kelenjar ini merupakan kelenjar tertinggi dan kelenjar yang letaknya paling
medial.
7. Kelenjar getah bening prepektoral. Kelenjar getah bening ini merupakan
kelenjar tunggal yang kadang-kadang terletak di bawah kulit atau di dalam
jaringan payudara kuadran lateral atas disebut prepektoral karena terletak di
atas fascia pektoralis
8. Kelenjar getah bening mamaria interna. Kelenjar-kelenjar ini tersebar
sepanjang trunkus limfatikus mamaria interna, kira-kira 3 cm dari pinggir
sternum. Terletak di dalam lemak di atas fascia endotorasika, pada
intercostalis.

Persyarafan

Pada pembedahan harus diperhatikan persarafan pada payudara, karena jika


terjadi defisit fungsional pada saraf yang terkena akan meyebabkan kelaianan.
Nervus
N. torasikus
Bell)

Persarafan
(of

N. torakodorsalis

Serratus anterior
Latissimus dorsi

Defisit fungsional
Winging scapula
Sulit bangun dari posisi duduk ke
posisi berdiri

N. pektoralis medial Pektoralis mayor dan Kelemahan otot pektoralis


dan lateral
minor
N.
interkostobrakhial

Menyebrang
axilla Anestesi pada bagian dalam lengan
secara
transversal
menuju bagian dalam
lengan

2.2 Fisiologi
Payudara terdiri dari stroma fibrosa padat dan dilapisi oleh epitel yang sangat
padat. Di Amerika Serikat, puberitas ditentukan dari perkembangan payudara dan
pertumbuhan rambut kemaluan biasanya terjadi pada usia 9 tahun dan 12 tahun selain itu
juga di tandai dengan menarche (awal siklus haid/menstruasi) biasanya terjadi pada usia
12 tahun sampai 13 tahun. Pembentukan dan pertumbuhan payudara bergantung pada
hormon estrogen, hormon progesteron, dan hormon prolaktin yang sangat penting dalam
perkembangan fungsi payudara. Hormon esterogen sebagai perkembangan duktus,
hormon progesteron sebagai perkembangan lobus dan kelenjar epitel pada payudara.
Hormon prolaktin hormon yang merangsang laktogenesis post partum, hormon adrenal,
hormon pituitari, hormon oxytosin, hormon tiroid, hormon kortisol, hormon
pertumbuhan. Istilah prapubertas ginekomastia mengacu pada masa perkembangan pada
anak perempuan sebelum usia 12 tahun dan disertai dengan perubahan pubertas yang
lain. Pasca pubertas payudara mengandung lemak, stroma, duktus laktiferus, dan unit
lobular. Selama siklus menstruasi berlangsung hormon ekstrogen, stroma dan kelenjar
epitel berstimulasi.
2.3 Histologi Glandula Mamae
Kelenjar mamae disusun oleh kelenjar tubuloalveolar yang masing-masing kelenjar
mengandung sinus laktiferus dan duktus yang bermuara pada puncak papilla. Glandula

mamae disusun oleh sinus dan duktus laktiferus dan dilapisi oleh epitel kuboid, pada
bagian basal terdapat sel-sel mioepitel yang letaknya tersebar. Mamae laktan (active
lactating mammary gland) membesar selama masa hamil, sel-sel alveolus berkembang
dikelilingi oleh sel-sel mioepitel kaya akan kompleks golgi, mitokondria, tetes lipid dan
vesikel yang mengandung kasein dan laktosa. Puting susu disusun oleh jaringan ikat
kolagen yang tidak beraturan dikelilingi oleh serat otot polos yang berfungsi sebagai
sfingter, mempunyai muara duktus laktiferus, dikelilingi oleh kulit yang mengalami
pigmentasi (areola mamae).

Gambaran histologi glandula mamae

Jaringan ikat sedikit


Alveoli kelenjar terisi sekret

Gambaran glandula mamae non laktan

- Kelenjar tidak aktif


- Di dominasi oleh jaringan ikat intralobular dan inter lobular
2.4 Definisi Karsinoma Mamae
Karsinoma mamae merupakan penyakit keganasan yang paling banyak menyerang
wanita, disebabkan karena terjadinya pembelahan sel-sel tubuh secara tidak teratur
sehingga pertumbuhan sel tidak dikendalikan dan akan tumbuh menjadi benjolan tumor
(kanker).

2.5 Epidemiologi
Hampir diseluruh negara memiliki prevalensi tinggi pada penyakit kanker
payudara, terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Canada, Australia
dan negara-negara lainnya. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang paling
ditakutkan dan paling sering ditemukan pada wanita, karena kanker payudara merupakan
penyakit yang paling sering terjadi dan termasuk penyakit yang paling sering
menyebabkan kematian pada wanita. setiap tahun ditemukan lebih dari satu juta kasus
dengan diagnosa kanker payudara diseluruh dunia, salah satunya di Amerika Serikat
hampir setiap tahun mendiganosa lebih dari 211, 000 kasus kanker payudara invasif dan
lebih dari 58,000 kasus kanker payudara insitu dan sekitar 40,000 wanita meninggal
karena kanker payudara. Kejadian kanker payudara meningkat disebabkan karena
perubahan gaya hidup dan kelangsungan hidup yang meningkat dari penyakit lain.
Meskipun prevalensi kanker payudara meningkat namun angka kematian kanker
payudara menurun berdasarkan hasil deteksi dini melalui skrining mamografi dan
peningkatan pengobatan.
Usia merupakan faktor resiko pada kanker mamae. Kanker mamae jarang terjadi
pada orang muda usia 20 tahun hanya 2%. Insiden meningkat menjadi 1 dari 93 kasus
pada usia 40 tahun, 1 dari 50 kasus pada usia 50 tahun, 1 dari 24 kasus pada usia 60
tahun, 1 dari 14 kasus pada usia 70 tahun, dan 1 dari 10 kasus pada usia 80 tahun. Atau

menyatakan prevalensi tahunan kanker mamae pada dekade kedelapan hidup lebih besar
dari 300/100.000. Gender juga merupakan faktor resiko pada kanker mamae, laki-laki
juga beresiko untuk terkena kanker payudara, meskipun prevalensi pada pria kurang dari
1% dari pada prevalensi wanita. Dengan 1720 kasus kanker payudara invasif diantisipasi
pada tahun 2006 (total kasus diperkirakan 215, 000). Benjolan pada pria biasanya jinak.
2.5 Faktor Resiko
Banyak faktor yang terkait dengan peningkatan kanker payudara, termasuk usia,
riwayat keluarga, paparan hormon (antara endogen dan eksogen), faktor makanan, tumor
jinak payudara, dan faktor lingkungan. Sebagian dari faktor-faktor tersebut menyatakan
peningkatan risiko untuk setiap wanita. Diperkirakan bahwa sekitar 50%

yang

didiagnosa kanker payudara karena faktor resiko usia dan jenis kelamin, karena kanker
payudara sebagian besar diderita oleh wanita, gender sering kali tidak dilihat sebagai
faktor resiko. Faktor risiko usia seringkali diabakaikan. Banyak wanita, khususnya
wanita muda dengan risiko tinggi kanker payudara. Usia faktor risiko utama pada kanker
payudara. Pada wanita usia dibawah 30 tahun, kanker payudara sangat jarang. Dari tahun
1992 sampai 1996, kejadian kanker payudara pada wanita usia 35 tahun sampai 39 tahun
per 100.000. Namun pada wanita usia 55 tahun sampai 59 tahun 296/100.000
Pengamatan, epidemiologi dan hasil akhir kejadian dan angka kematian pada tahun 1992
Angka kejadian
Usia

Semua ras

Kulit putih

African America

25 29 tahun

7,8

7,4

10,3

30-34

24,4

23,4

31,5

35-39

59,0

58,2

62,3

40-44

117,0

117,6

120,3

45-49

195,7

198,2

199,1

50-54

257,5

264,6

241,4

55-59

296,3

304,0

280,2

60-64

347,3

364,2

294,2

65-69

404,4

423,2

341,9

70-74

455,5

473,9

390,7

75-79

483,3

500,7

424,1

80-84

468,1

487,1

327,8

85+

405,0

416,5

353,0

Mortalitas
Usia

Semua ras

Kulit putih

African America

25 29 tahun

1.1

0.9

2.2

30-34

4.1

3.6

7.8

35-39

10.5

9.6

17.8

40-44

20.2

18.9

32.6

45-49

34.3

32.7

51.9

50-54

50.1

48.3

71.0

55-59

63.0

62.1

80.5

60-64

78.5

78.5

93.1

65-69

95.7

96.7

103.4

70-74

114.7

115.5

127.3

75-79

133.2

134.5

138.7

80-84

157.0

158.1

164.4

85+

200.5

202.6

200.4

Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga kanker payudara telah lama diakui sebagai faktor risiko pada
kanker payudara. Mayoritas dari wanita yang didiagnosa kanker payudara tidak memiliki
riwayat penyakit keluarga, dan hanya 5% sampai 10% memiliki riwayat penyakit
keluarga. Banyak wanita dengan riwayat keluarga positif berisiko kanker payudara, dan
wanita mempertimbangkan tes genetik untuk mengetahui adanya mutasi gen.
Keseluruhan, faktor risiko meningkat dari 1,5 sampai 3,0 jika ibu atau saudara
perempuannya memiliki riwayat kanker payudara.
Identifikasi dari 2 supresor gen yaitu BRCA1 dan BRCA 2 memberikan wawasan
baru untuk pemahaman kanker payudara genetik. Jika salah satu wanita mempunyai
salah satu mutasi gen, dia menghadapi peningkatan faktor risiko kanker payudara.

Kemungkinan dari salah satu mutasi BRCA 1 atau BRCA 2 harus dipertimbangkan
diagnosa kanker payudara pada usia muda (kurang dari 45 sampai 55) disebabkan karena
memiliki riwayat penyakit kanker pada keluarga (khususnya kanker cervix) atau
kombinasi dari faktor risiko. Dengan adanya kanker ovarium pada riwayat keluarga
terjadi mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 dapat menghadirkan kanker payudara. Diantara
BRCA 1 dan BRCA 2 secara dominan mewarisi keturunnya melalui garis keturunan dari
ibu atau bapak.
Pada tahun 1990, kromosom 17q21 diidentifikasi lokasi sebagai gen suspek kanker
payudara. Faktor risiko tinggi kanker ovarium meskipun tidak sama dengan kanker
payudara. Namun mutasi BRCA 1 pada kanker payudara dan kanker ovarium yang
diderita oleh wanita yang masih sendiri atau wanita tinggi. Laki-laki dengan mutasi gen
BRCA 1 bukan merupakan faktor risiko dari kanker payudara, tetapi faktor risiko kanker
prostat dan kanker colon. Gen BRCA 1 adalah gen yang besar, dengan 24 regio dan 1863
asam amino. BRCA 2 terletak pada kromosom 13 dan lebih besar dibanding dengan gen
BRCA 1. Wanita dengan mutasi gen BRCA 2 juga diperkirakan masuk ke dalam kategori
faktor risiko meskipun tingkatan BRCA 2 lebih rendah dibandingkan dengan BRCA 1.
Insiden Kanker payudara pada pria dengan mutasi gen BRCA 2 6%. Pada populasi
umum, diperkirakan antara 1 dari 500 dan 1 dari 800 individu membawa mutasi BRCA
1.
Faktor Hormonal
Perkembangan kanker payudara pada wanita berkaitan dengan hormon. Menurut
epidemiologi faktor risiko kanker payudara dikaitkan dengan peningkatan paparan
estrogen dan endogen. Usia saat menarche, usia saat pertama kali melahirkan, usia
menopause semuanya mencakup faktor risiko kanker payudara. Pada wanita
potsmenopause, obesitas dan post terapi hormon, keduanya berhubungan dengan tingkat
estrogen plasma dan tingkat estradiol plasma merupakan faktor risiko kanker payudara.
Angka kejadian kanker payudara meningkat tajam sampai usia menopause. Usia saat
menarche dan pembentukan siklus ovulasi sangat terkait dengan faktor risiko kanker
payudara. Pada wanita yang mengalami menarche dini maka hormonnya lebih tinggi dari
pada wanita yang terlambat menarche. Dari data tentang menarche dan menopause,
paparan hormon terhadap estrogen endogen merupakan faktor risiko kanker payudara.
Pada wanita yang hamil di usia lebih dari 30 tahun dan wanita yang melahirkan di
usia kurang dari 18 tahun merupakan faktor risiko kenaker payudara. Pada nulipara

selama kehamilan, terjadi proliferasi, pertumbuhan, dan pematangan sel payudara untuk
perisapan laktasi mengarah ke pengembangan laktasi. Setelah itu, sel-sel ini akan lebih
banyak waktu untuk perbaikan DNA di G1. Efek dari hormon eksogen dalam bentuk
terapi

hormon

dan kontrasepsi oral, penelitian

menunjukkan

bahwa wanita

postmenopause memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara dibanding dengan
wanita dengan tingkat estrogen yang lebih rendah.
2.5 Patologi
Kanker payudara noninvasif
Neoplasma noninvasif dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : LCIS dan DCIS (atau
karsinoma intraductal). LCIS pernah dianggap sebagai lesi ganas, tetapi sekarang
dianggap sebagai faktor risiko pengembangan kanker payudara.LCIS adalah morfologi
lesi yang bersifat heterogen dan dapat dikenali dengan empat kategori, yaitu : papiler,
cribriform, padat dan comedo. Tipe papiler dan cribriform dapat berubah menjadi
invasive dalam waktu yang lama sedangkan pada tipe solid dan comedo dapat berubah
dengan cepat dan menjadi invasive dan stadium yang tinggi. DCIS dikelilingi oleh
membran basal dengan sel-sel ganas. Basally terletak pada sel lapisan yang terdiri dari
sel-sel mioepitel yang normal. Jenis-jenis karsinoma mamae non invasif, yaitu :
Kanker payudara invasif
Kanker invasif disebabkan oleh sejumlah variabel stroma yang mengalami infiltrasi
sel-sel atau pembentukan sel secara terus-menerus dan sel tanpa bentuk dapat
mengganggu fungsi kelenjar payudara. Berdasarkan ilmu kedokteran dari segi histologi
kanker payudara dibagi menjadi kanker payudara invasif lobular dan duktal.
Klasifikasi kanker mamae primer
Non Invasive Ephitelial Cancer

Invasive Ephitelial Cancer

Mixed

Connective

and

Epithelial Tumor
- Lobular Carcinoma In Situ

- Invasive

(LCIS)
- Ductal Carcinoma In Situ

Carcinoma (10%-15%)
- Invasive
Ductal

(DCIS)
- Tipe papillar, cribriform,

Carcinoma
- NOS (50%-70%)
- Tubular
carsinoma

solid dan comedo

Lobular

(2%-3%)
- Mucinous/colloid

- Phyllodes tumor benign


and malignant
- Carcinosarcoma
- Angiocarcinoma

carsinoma (2%-3%)
- Medullary carcinoma
(5%)
- Invasive

cribriform

carcinoma (1%-2%)
- Adenoid
cystic
carcinoma (1%)
- Metaplastic
carcinoma (1%)

Penyebaran kanker payudara


1. Invasi lokal
Penyebaran kanker payudara terjadi dengan invasi langsung ke parenkim payudara,
sepanjang duktus mamae, dan meluas ke jaringan limfatik payudara.
2. Metastasis kelenjar limfe regional
Kelenjar limfe regional yang terlibat adalah kelenjar aksilaris, mamae interna dan
kelenjar supraklavikular.
3. Metastasis hematogen
Sel kanker dapat bermetastasis melalui saluran limfatik kemudian masuk ke pembuluh
darah dan menginvasi kemudian masuk ke pembuluh darah melalui vena kava atau
sistem vena interkostal-vertebral. Lokasi metastasis tersering adalah paru, tulang, hati,
pleura, dan adrenal
Ukuran Tumor (cm)

Pasien dengan 4 kel.limfe (+) (%)

<1

25

1-2

35

2-3

50

>3

55-65

2.6 Pemeriksaan untuk diagnosis kanker mamae


Anamnesis
Alur diagnostik pada penderita kanker payudara diawali dengan anamnesis dengan
pasien, yang perlu ditanyakan dan dapat membantu mendiagnosa kanker payudara yaitu
tanyakan usia pasien, tanyakan riwayat reproduksi pasien termasuk tanyakan pada usia

berapa pasien menarche, selain itu tanyakan juga menstruasi pasien teratur atau tidak,
dan pada usia berapa saat menopause. Tanyakan apakah pernah melakukan operasi
payudara sebelumnya, khususnya biopsi payudara dan apa saja temuan patologisnya jika
pasien pernah melakukan biopsi payudara. Tanyakan apakah pernah histerektomi.
Tanyakan tentang riwayat kehamilan dan menyusui. Riwayat penggunaan alat
kontrasepsi oral dan HRT pada menopasue. Tanyakan tentang riwayat keluarga pasien,
apakah ada yang menderita kanker payudara dikeluarga pasien. Menggali keluhan utama
yang dirasakan pasien terutama yang berkaitan pada bagian payudara, apakah pasien
merasakan nyeri di payudara, teraba masa atau tidak di bagian payudara jika teraba sejak
kapan teraba benjolan atau masa di bagian payudara pasien, pernah keluar cairan dari
puting payudara, tanyakan apakah ada perubahan siklus haid. Apabila keluhan-keluhan
yang dijelaskan pasien mengarah pada kanker, segera lakukan pemeriksaan tentang
gejala konstitusional seperti nyeri pada tulang, penurunan berat badan dan perubahan
pernapasan.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada pasien kanker payudara pada posisi duduk tegak
dengan inspeksi visual untuk melihat apakah terdapat masa, asimetris, untuk mengetahui
asimetris atau tidak dapat dilakukan dengan manuver sederhana yaitu dengan cara
peregangan tangan ke atas kepala atau menegangkan otot pectoralis dengan cara ini dapat
menilai kesimetrisan payudara dan dimpling, pada saat pasien mengangkat lengan dapat
pula dilakukan palpasi pada axillaris untuk mendeteksi adanya pembesaran kelenjar
getah bening axilla yaitu dengan cara supraklavikula dan infraklavikularis diraba secara
bersamaan untuk mengetahui adanya pembesaran kelnjar limfe. Apabila teraba masa
deskripsikan lokasi, ukuran, bentuk, konsistensi, mobile atau terfiksir, nyeri atau
tidak.dan perubahan warna kulit. Puting susu di inspeksi apakah ada retraksi atau tidak,
keluar cairan atau tidak, apabila keluar cairan pada puting susu, cairan yang keluar dari
puting susu berwarna apa dan perhatikan apakah ada retraksi payudara, perubahan warna
pada payudara misalnya perubahan warna menjadi kemerahan, raba pada daerah axilla
apakah teraba adanya massa dan kelainan pada otot sekitar payudara. Pemeriksaan fisik
sebaiknya dilakukan ditenpat yang terang dan pencahayaan yang cukup sehingga dapat
mengobservasi adanya dimpling halus dari kulit atau puting susu yang disebabkan oleh
neoplasma yang menarik ligamen Cooper. Edema kulit, sering disertai dengan eritema
yang biasa dikenal dengan peau dorange. Tetapi apabila terdapat peradangan dapat
keliru dengan mastitis akut. Inflamasi dan edema pada kanker disebabkan oleh obstruksi

saluran limfatik subkutis oleh emboli sel karsinoma. Nodul satelit disebabkan karena
adanya obstruksi saluran getah bening.
Pemeriksaan payudara (sadari)
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan posisi telentang, duduk atauu berdiri.
1. Berbaring telentang dengan sebuah bantal dibawah bahu kanan. Tempatkan lengan
kanan di bawah kepala
2. Gunakan permukaan ventral tiga jari (telunjuk, jari tengah, dan jari manis) dari
tangan kiri untuk meraba benjolan pada payudara kanan. Permukaan ventral jari
tangan merupakan finger pads (bantalan jari) pada bagian sepertiga distal setiap jari
tangan
3. Lakukan penekanan yang cukup kuat untuk mengetahui adanya benjolan pada
payudara
4. Tekan kuat-kuat pada payudara dan gerakkan jari-jari tangan sambil terus menekan
dengan pola naik-turun atau pola garis-garis atau dengan pola sirkuler atau pasak,
lakukan keseluruh daerah payudara
5. Ulangi pemeriksaa pada payudara kiri dengan cara yang sama
6. Tekan puting susu untuk melihat apakah ada cairan yang keluar
Fine-Needle aspirasi
Fine-Needle aspirasi merupakan bagian rutin yang harus dilakukan pada diagnosis
fisik apabila ditemukan massa ditangani dengan menggunakan jarum 22 gauge atau
disesuaikan ukurannya dan persiapan alkohol pad. Keuntungan dari FNA adalah untuk
membedakan massa yang solid dari massa kistik jika ditemukan massa pada payudara.
Penundaan prosedur sederhana ini dilakukan jika evaluasi radiografi meragukan dan
perlu mamografi. Dalam pemeriksaan rutin payudara menggunakan FNA, dapat
terhindar biopsi terbuka kecuali dibutuhkan pemeriksaan penunjang yang lain.
Karsinoma tidak terdeteksi jika biopsi bedah dilakukan saat cairan dan massa tidak
teraspirasi, cairan yang kental dan bercampur darah, dan terdapat cairan namun tidak
terdapat massa.
Sensitivitas kanker payudara dengan FNA 90-99% dan spesifitasnya 98%
Biopsy Ultrasound
Teknik ini dilakukan oleh ahli bedah sebagai alternatif dengan biopsy terbuka tetapi

prosedur ini masih sangat jarang digunakan


Biopsy terbuka (eksisi)

Setelah dilakukan biopsi terbuka specimen harus segera dikirim ke laboratorium


untuk dilakukan pemeriksaan histologi.
Mamografi
Skrining mamografi dilakukan pada wanita dengan gejala asimptomatik untuk
mendeteksi kanker payudara yang belum terbukti secara klinis. Dengan dilakukannya
skirining mamografi prognosis kanker payudara lebih baik. Indikasi mamografi yaitu :
1. Skrining pada wanita yang mempunyai faktor risiko tinggi kanker payudara
2. Teraba adanya masa atau benjolan pada payudara
3. Teraba adanya benjolan pada kelenjar getah bening, seperti pada aksila dan
supraklavikula
4. Untuk usia 40-50 tahun dilakukan 2x setahun
Gambar pemeriksaan Mammografi

Hasil mammografi

MRI
MRI mendeteksi adanya kanker mammae sama seperti mamografi. Karena itu jika
dalam pemeriksaan fisik dan mamografi tidak terlihat adanya kanker, maka saat
dilakukan pemeriksaan MRI kemungkinan ditemukan adanya kanker pun sangat rendah.
Biasanya MRI digunakan untuk screening pada wanita muda yang mempunyai riwayat
genetik kanker mammae dan evaluasi dengan mamografi terbatas disebabkan
peningkatan densitas jaringan mammae, pada wanita yang baru saja didiagnosis kanker
mammae dan pada wanita yang punya riwayat kanker mammae kontralateral.1
Duktografi
Indikasi utama untuk duktografi adalah keluarnya cairan dari puting termasuk jika
mengandung darah. Sebelumnya kontras disuntikan ke salah satu atau lebih duktus

kelenjar mammae kemudian lakukan mammografi dengan posisi supinasi. Kanker akan
terlihat sebagai massa irregular atau multipel filling defect intraluminal. 1
Ultrasonografi
USG merupakan pemeriksaan penunjang kedua yang paling sering digunakan selain
mamografi. USG sangat penting dalam memcahkan masalah temuan equivocal pada
mamografi, medefinisikan kista dan menunjukan keabnormalan lesi solid secara spesifik.
Pada USG kista mammae digambarkan dengan batas halus dengan gambaran echoic.
Massa benigna digambarkan dengan kontur halus, berbentuk lingkaran atau oval, echoic
dan batas jelas. Kanker mammae digambarkan sebagai massa dengan dinding yang
irregular dan batas halus tetapi tidak bisa mendeteksi massa < 1 cm. Usg juga digunakan
sebagai guide FNA.1
Tumor Marker
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan tumor marker.
Untuk kanker mammae, tumor marker yang paling spesifik adalah CEA dan CA 15-3,
digunakan untuk mengetahui perjalanan penyakit dan respon terhadap therapi.
Normalnya bernilai < 35 /ml dan bisa meningkat pada kehamilan menjadi 50 /ml.6
2.7 Stadium Kanker Payudara
Stadium kanker payudara ditentukan oleh hasil reseksi bedah dan pencitraan. Kanker
payudara diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi TNM sesuai dengan yang telah
ditentukan oleh American Joint Community on Cancer (AJCC). Sistem ini ditentukan
pada deskripsi dari tumor primer (T), status kelenjar getah bening regional (N), dan
adanya metastasis jauh (M). Pengelompokan terbaru telah memasukkan penggunaan
sentinel node biopsi dan termasuk klasifikasi ukuran deposit metastasis pada kelenjar
sentinel, serta jumlah dan lokasi node metastasis regional disertai angka harapan 5 tahun

American Joint Committee on Cancer, Stadium Kanker Mammae, 2002


Tumor Primer (T)
Tx

Tumor pimer tidak dinilai


Tis

Carcinoma in situ (LCIS atau DCIS) atau pagets disease pada puting tanpa
tumor

T1

Tumor 2 cm

T1a

Tumor 0.1 cm, 0.5 cm

T1b

Tumor >0.5 cm, 1 cm

T1c

Tumor >1 cm, 2 cm

T2

Tumor >2 cm, 5 cm

T3

Tumor >5 cm

T4

Tumor dalam berbagai ukuran dengan perluasan sampai ke dinding dada atau
kulit

T4a

Tumor meluas sampai dinding dada (kecuali m. pectoralis)

T4b

Tumor meluas ke kulit dengan ulserasi, edema dan nodul satelit

T4c

Gabungan T4a dan T4b

T4d

Karsinoma inflamatory

Pembuluh Limfe/Node (N)


N0

Tidak ada keterlibatan kel.limfe regional, tidak diteliti lebih jauh

N0 (i-)

Tidak ada keterlibatan kel.limfe regional, IHC (-)

N0 (i+)

Keterlibatan kel.limfe mencakup <0.2 mm

N0
(mol-)

Tidak ada keterlibatan kel.limfe, PCR (-)

N0
(mol+)

Tidak ada keterlibatan kel.limfe, PCR (+)

N1

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 dan atau int. mammary (+) dari biopsy

N1(mic) Micrometastasis (>0.2 mm, none >2.0 mm)


N1a

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3

N1b

Metastasis ke kel.limfe int. mammary dengan biopsy sentinel

N1c

Metastasis ke kel.limfe axilla 1-3 dan kel. limfe int. Mammary dengan
biopsy

N2

Metastasis ke kel.limfe axilla 4-9 atau int. mammary disertai klinik (+) tanpa
metastasis ke axilla

N2a

Metastasis ke kel.limfe axilla 4-9 paling tidak 1 >2.0 mm

N2b

Int. mammary klinik nampak, kel.limfe axilla (-)

N3

Metastasis ke 10 kel.limfe axilla atau kombinasi metastasis kel.limfe axilla


dan int. mammary metastasis

N3a

10 kel.limfe axilla (>2.0 mm), atau kel.limfe infraclavicular

N3b

Klinik int. mammary (+) 1 kel.limfe (+) atau >3 kel.limfe axilla (+) dengan
int. mammary (+) dari biopsy

N3c

Metastasis ke ipsilateral supraclavicular nodes (IAN)

M (Metastasis)
M0

Tidak terdapat metastasi jauh

M1

Terdapat metastasis jauh

Staging system for breast cancer.2


Stage 0

Tis N0 M0

DCIS atau LCIS

Stage I

T1 N0 M0

Invasive karsinoma 2 cm
(termasuk
dengan

karsinoma

insitu

mikroinvasi)

belum

mengenai nodal

dan belum

bermetastasis.
Stage II

IIA : T0 N1 M0
T1 N1 M0, T2 N0 M0
IIB : T2 N1 M0
T3 N0 M0

Stage III

IIIA : T0 N2 M0
T1 N2 M0, T2 N2 M0
T3 N1 M0, T3 N2 M0

Invasive karsinoma 5 cm
tetapi dengan nodal aksila yang
masih bisa digerakkan, atau
tumor > 5 cm tanpa mengenai
nodal dan belum bermetastasis.

Kanker payudara >5 cm dengan


keterlibatan nodal atau sebagian
kanker dengan nodal aksila
yang tidak dapat digerakkan,
atau

keterlibatan

ipsilateral

internal mammae linfenodus,


IIIB : T4 anyN M0, anyT N3 M0

atau kanker yang mengenai


kulit,

pectoral

dinding

dada,

dan

fiksasi

edema,

atau

gejala karsinoma inflammatory,


jika

metastasis

jauh

tidak

ditemukan.
Stage IV

anyT anyN M1

Kanker
metastasis

payudara
jauh

dengan
(termasuk

ipsilateral supraclavikula limfe

nodus)

American Joint Committee on Cancer Staging (Kelompok Stadium dan


Angka Harapan Hidup)2
Stage

Angka harapan hidup 5 tahun

92 %

II

87 %

III

75 %

IV

13 %

Untuk mendiagnosis kanker payudara dapat dilakukan biopsi dari lesi yang teraba
massa atau gambar yang sudah dideteksi. FNA juga berguna untuk mendiagnosa lesi
pada payudara, meskipun pada hasil pemeriksaan negatif palsu tinggi dapat dilakukan
pemeriksaan tambahan. FNA biopsi jugaadapat digunakan untuk membedakan lesi
invasive insitu
2.8 Penangan kanker Payudara
Pembedahan
o Mastektomi parsial, mulai dari tilektomi (lumpektomi) sampai pengangkatan
segmental (pengangkatan jaringan yang luas dengan kulit yang terkena) sampai
kuadrantektomi

(pengangkatan

seperempat

payudara),

pengangkatan

atau

pengambilan contoh jaringan dari kelenjar getah bening aksila untuk penentuan
stadium
o Mastektomi total dengan diseksi aksila rendah, eksisi seluruh payudara, semua
kelenjar getah bening di lateral otot pektoralis minor
o Mastektomi radikal yang dimodifikasi, eksisi seluruh payudara, semua atau sebagian
besar jaringan aksila
o Mastektomi radikal yang diperluas, eksisi seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan
minor dibawahnya, seluruh isi aksila sama seperti mastektomi radikal ditambah
dengan kelenjar getah bening mamaria interna

Non pembedahan
o Penyinaran ke payudara dan daerah dada lain sebagai terapi lokal tambahan
setelah prosedur bedah: ke payudara dan kelenjar getah bening regional yang
tidak dapat direseksi pada kanker lanjut, metastasis tulang, metastasis kelenjar
getah bening aksila, kekambuhan tumor lokal atau regional setelah mastektomi
o Kemoterapi, terapi sistemik tambahan setelah mastektomi, paliatif pada penyakit
lanjutan
o Terapi hormon dan endokrin kanker yang telah menyebar, memakai estrogen,
androgen, progesteron, antiestrogen, ooforektomi, adrenalektomi, hipofisektomi.