Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dalam perpajakan income dimaknai sebagai jumlah kotor sehingga
diterjemahkan sebagai penghasilan sebagaimana digunakan dalam standar akuntansi
keuangan. Istilah income pada umumnya dimaknai sebagai jumlah bersih sehingga
istilah laba lebih menggambarkan apa yg dimaksud income. Laba dalam teori
akuntansi biasanya lebih menunjuk pada konsep yang oleh fasb disebut dengan laba
komprehensif. Laba komprehensif dimaknai sebagai kenaikan aset bersih selain
yang berasal dari transaksi dengan pemilik.
Di suatu akhir periode akuntansi perusahaan ada dua hasil yang sering terjadi,
yaitu laba atau rugi. Laporan Laba-Rugi adalah suatu bentuk laporan keuangan yang
menyajikan informasi hasil usaha perusahaan yang isinya terdiri dari pendapatan
usaha dan beban usaha untuk satu periode akuntansi tertentu.
Laba atau rugi sering dimanfaatkan sebagai ukuran
perusahaan atau sebagai dasar ukuran penilaian yang lain,
saham. Unsurunsur yang menjadi bagian pembentuk laba
biaya. Dengan mengelompokkan unsur-unsur pendapatan
diperoleh hasil pengukuran laba yang berbeda antara
operasional, laba sebelum pajak, dan laba bersih.

untuk menilai prestasi


seperti laba per lembar
adalah pendapatan dan
dan biaya, akan dapat
lain: laba kotor, laba

Pengukuran laba bukan saja penting untuk menentukan prestasi perusahaan


tetapi penting juga penting sebagai informasi bagi pembagian laba dan penentuan
kebijakan investasi. Oleh karena itu, laba menjadi informasi yang dilihat oleh
banyak seperti profesi akuntansi, pengusaha, analis keuangan, pemegang saham,
ekonom, fiskus, dan sebagainya.

1.2 Rumusan masalah

Mendefinisi laba secara struktural dan semantik ?


Menyebutkan tujuan pelaporan laba ?
Mengidentifikasi kelemahan laba akuntansi konvensional ?
Membedakan laba akuntasi dan laba ekonomik ?
Menyebut dan menjelaskan berbagai interpretasi laba dalam tataran semantik,
sintaktik, dan pragmatik ?
Menyebutkan dan menjelaskan jenis kapital serta pengukurannya ?
Menjelaskan makna laba atas dasar konsep pemertahanan capital ?
Menjelaskan teori entitas dan implikasinya terhadap pengertian laba ?

1.3 Tujuan masalah

Untuk mendefinisi laba secara struktural dan semantik.


Untuk Menyebutkan tujuan pelaporan laba.
Untuk Mengidentifikasi kelemahan laba akuntansi konvensional.
Untuk Membedakan laba akuntasi dan laba ekonomik.
Untuk Menyebut dan menjelaskan berbagai interpretasi laba dalam tataran
semantik, sintaktik, dan pragmatik.
Untuk Menyebutkan dan menjelaskan jenis kapital serta pengukurannya.
Untuk Menjelaskan makna laba atas dasar konsep pemertahanan kapital.
Untuk Menjelaskan teori entitas dan implikasinya terhadap pengertian laba.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Laba


Income dalam konteks perpajakan dapat berbeda atau bahkan berbeda dengan
makna income dalam akuntansi atau pelaporan keuangan. Dalam perpajakan
income dimaknai sebagai jumlah kotor sehingga diterjemahkan sebagai penghasilan
sebagaimana digunakan dalam standar akuntansi keuangan. Istilah income pada
umumnya dimaknai sebagai jumlah bersih sehingga istilah laba lebih
menggambarkan apa yg dimaksud income. Laba dalam teori akuntansi biasanya
lebih menunjuk pada konsep yang oleh fasb disebut dengan laba komprehensif.
Laba komprehensif dimaknai sebagai kenaikan aset bersih selain yang berasal dari
transaksi dengan pemilik. Buku ini menggunakan istilah laba untuk income yang
digunakan dalam konteks akuntansi. Laba digunakan juga sebagai kata earning.
Earning lebih bermakna sebagai laba yang diakumulasi selama beberapa perioda
walaupun earnings juga digunakan untuk menunjuk laba perida seperti dalam istilah
earnings per share.
Masalah pelik yang berkaitan dengan laba adalah menentukan konsep laba
secara tepat untuk pelaporan keuangan sehingga angka laba merupakan angka yang
bermakna (meaningful) baik secara intuitif maupun ekonomik bagi berbagai
pemakai statement keuangan. Pemaknaan atau pendefinisian laba mempunyai
implikasi terhadap pengukuran dan penyajian laba.
Karena akuntansi secara umum menganut konsep kos historis, asas akrual, dan
konsep penandingan, laba akuntansi yang sekarang dianut dimaknai sebagai selisih
antara pendapatan dan biaya. Sementara itu, pendapatan dan biaya diukur dan diakui
melaui prosedur tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum (PABU).
Pendefinisian laba sebagai pendapatan dikurangi biaya merupakan pendefinisian
secara struktural atau sintaktik karena laba tidak didefinisi secara terpisah dari
pengertian pendapatan dan biaya. Jadi laba merupakan hasil penerapan prosedur
bukan sesuatu yang bermakna semantik.lebih dari itu pengukuran pendapatan dan
biaya sesuai PABU lebih didasarkan pada konsep kos historis sehingga laba yang
dihasilkan tidak selalu setara dengan laba ekonomik yang pada umumnya
mempertimbangkan perubahan daya beli dan perubahan harga. Karena laba
dipandang sebagai elemen yang cukup kaya (komprehensif) untuk mempresentasi
kinerja suatu entitas secara keseluruhan, pembahasan teori laba tidak dibatasi pada
tataran sintaktik tetapi meliputi pula tataran semantik dan pragmatik. Hal inilah yang
membedakan cakupan pembahsan laba dengan elemen-elemen statement keuangan
lainnya.

2.2 Tujuan Pelaporan Laba


Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah laba
yang merupakan selisih pengukuran pendapatan dan biaya secara akrual. Pengertian
semacam ini akan memudahkan pengukuran dan pelaporan laba secara objektif.
Perekayasa akuntansi mengharapkan bahwa laba semacam itu bermanfaat bagi para
pemakai statement keuangan khususnya investor dan kreditor. Pendefinisian laba
seperti ini jelas akan lebih bermakna sebagai pengukur kembalian atas investasi
(return on investment) daripada sekedar perubahan kas. Hal ini ditegaskan oleh
FASB dalam SFAC No.1 (prg.44) sebagai berikut:
Information about enterprise earnings and its competents measured by accrual
accounting generally provides a better indication of enterprise performance than
information about current cash receipt and payments.
(Informasi tentang laba perusahaan dan komponen-komponennya diukur
dengan akuntansi akrual secara umum memberikan indikasi yang lebih baik dari
kinerja perusahaan daripada informasi tentang penerimaan kas saat ini dan
pembayaran)
Dalam kenyataanya para pemakai mempunyai konsep laba dan model
pengambilan keputusan yang berbeda-beda. Apapun pengertian dan cara
pengukurannya, laba akuntansi dengan berbagai interpretasinya diharapkan dapat
digunakan antara lain sebagai :
1. Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanam dalam perusahaan yang
diwujudkan dalam tingkat kembalian atas investasi (rate of return on
invested capital)
2. Pengukur prestasi atau kinerja badan usaha dan manajemen
3. Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
4. Alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomik suatu negara
5. Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan publik
6. Alat pengendalian terhadap debitor dalam kontrak utang
7. Dasar kompensasi dan pembagian bonus
8. Alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
9. Dasar pembagian dividen
Teori akuntansi tentang laba akan melibatkan pengukuran dan penyajian laba yang
dapat memenuhi berbagai tujuan diatas.
Untuk melayani berbagai kebutuhan diatas ada 2 pendekatan yang harus
dipertimbangkan dalam akuntansi yaitu: laba untuk berbagai tujuan atau beda
tujuan beda laba.
Pendekatan pertama berusaha untuk memformulasi konsep laba tunggaldan
menyajikannya untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum. Inilah pendekatan
yang ingin dicapai dalam merekayasa pelaporan keuangan umum. Walaupun teori

tentang laba lebih berkaitan dengan pendekatan ini, akuntansi juga berusaha untuk
menyediakan informasi agar tujuan khusus dapat dipenuhi dengan menyediakan
informasi agar tujuan khusus dapat dipenuhi dengan menyediakan informasi yang
memungkinkan pemakai untuk menentukan laba sesuai dengan kebutuhan
spesifikasinya.
Pendekatan kedua menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikannya secara
jelas berbagai konsep laba tersebut secara khusus. Kebutuhan khusus ini dapat
dilayani dengan menyertai statement keuangan umum dengan berbagai laporan
pelengkap.

2.3 Konsep Laba Konvensional


Laba Akuntansi (Konvensional) Laba yang didefinisi sebagai selisih pendapatan
dan biaya yang diukur dan disajikan atas dasar prinsip akuntansi berterima umum
(PABU).
Hendriksen dan van Breda (1992) mengemukakan bahwa laba akuntansi yang
sekarang berjalan (konvensional) masih problematik secara teoritis. Laba akuntansi
mempunyai beberapa kelemahan berikut :
1) laba akuntansi belum didefinisi secara semantik dan jelas sehingga laba tersebut
secara intuitif dan ekonomik bermakna
2) penyajian dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang saham
3) PABU sebagai pedoman pengukuran laba masih memberi peluang untuk
terjadinya ketaktaatasasan (inkonsistensi) antarperusahaan
4) Karena didasarkan pada konsep historis, laba akuntansi secara umum belum
memperhitungkan pengaruh perubahan daya beli dan harga
5) Dalam menilai kinerja perusahaan secara keseluruhan, investor dan kreditor
memandang informasi selain laba akuntansi juga bermanfaat atau bahkan lebih
bermanfaat sehingga ketepatan laba akuntansi belum menjadi tuntutan yang
mendesak
Atas dasar tujuan dan kelemahan laba akuntansi diatas bab ini membahas dua aspek
pokok teori laba yaitu 1. Interpretasi laba dan implikasinya dalam tiap tataran teori
dan 2. Lingkup laba atas dasar kegiatan operasi dan teori entitas

2.3.1 Konsep Laba Dalam Tataran Semantik

Tataran teori laba Berbeda dengan elemen lain, laba dibahas dalam beberapa
tataran semiotika karena laba akrual dipandang bermanfaat untuk memprediksi
aliran kas masa datang. Dapat dibahas dari sudut semiotika yang terdiri atas tataran
semantik,sintaktik, dan pragmatik.
Konsep laba dalam tataran semantik berkaitan dengan masalah makna apa yang
harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada simbol atau elemen laba sehingga
laba bermanfaat(useful) dan bermakna (meaningful) sebagai informasi. Pada tataran
ini teori berusaha untuk menjawab pertanyaan apakah yang harus direpresentasi
oleh laba. Seperti teori tentang aset, realitas atau kegiatan entitas apa yang harus
direpresentasi oleh angka laba. Makna yang dikandung dalam laba akhirnya akan
menentukan pemaknaan laba secara sinktaktik yaitu pengukuran dan penyajiannya.
1.Pengukur kinerja
Karena investor dan kreditor merupakan pihak yang dituju dalam pelaporan
keuangan, dianggap bahwa mereka berkepentingan dengan informasi masa lalu
untuk mengevaluasi prospek perusahaan dimasa datang. FASB, misalnya,
menetapkan salah satu tujuan pelaporan keuangan sebagai berikut:
Financial reporting should provide information about an enterprises financial
performance during a period. .. the primary focus of financial reporting is
information about an enterprises performance privided by measures of earnings
and its components. .. financial reporting should provide information about how
management of an enterprise has discharged its stewardship responsibility to
owners ( stockholders) for the use of enterprise resources entrusted to it.
(Pelaporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai kinerja keuangan
suatu perusahaan selama periode. .. Fokus utama pelaporan keuangan adalah
informasi tentang kinerja suatu perusahaan privided oleh ukuran laba dan
komponennya. .. Pelaporan keuangan harus memberikan informasi tentang
bagaimana manajemen suatu perusahaan telah habis tanggung jawab
kepengurusan untuk pemilik (pemegang saham) untuk penggunaan sumber daya
perusahaan yang dipercayakan kepadanya.)
Tujuan diatas mengisyaratkan bahwa laba perioda (earnings ) dimaknai sebagai
informasi tentang kinerja masa lalu yang meliputi daya melaba atau earning power,
akuntabilitas, dan efisiensi. Daya melaba dan efisiensi merupakan konsep yang
saling berkaitan. Kinerja perusahaan merupakan manifestasi dari kinerja dan ke
efisienan manajemen dalam mengelola sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Hal ini dikemukakan oleh paton dan littleton 1967 sebagai berikut:
Accounting exists primarily as a means of computing a residuum, a balance, the
difference between cost (as efforts) and revenues (as accomplishment) for
individual enterprise. The difference reflects managerial effectiveness and is of
particular significance to those who furnish the capital and take the ultimate
responsibility.

(Akuntansi ada terutama sebagai sarana komputasi residu, keseimbangan,


perbedaan antara biaya (sebagai upaya) dan pendapatan (sebagai prestasi)
untuk perusahaan individu. Perbedaannya mencerminkan efektivitas manajerial
dan signifikansi khusus bagi mereka yang memberikan modal dan mengambil
tanggung jawab utama)
Pelaporan keuangan berkepentingan dengan informasi tentang kemampuan atau
daya melaba suatu kesatuan usaha dengan sumber daya (aset) yang dikuasainya
dalam suatu perioda. Daya melaba merupakan informasi sementik yang diharapkan
dibawa oleh informasi akuntansi melaui statement keuangan yaitu objek (element,
ukuran, hubungan) daya melaba akan mempunyai makna kalau laba dikaitkan
dengan perioada dan sumber daya yang digunakan. jadi untuk menentukan daya
melaba, tiga komponen harus diketahui yaitu laba, perioda, dan tingkat sumber
daya ( investasi). Laba dapat diinterpretasi sebagai pengukur keefisienan bila
dihubungkan dengan tingkat investasi karena efisiensi secara konseptual merupakan
suatu hubungan atau indeks.
Secara umum efisiensi adalah kemampuan menciptakan keluaran tertingi dengan
sumber daya tertentu sebagai masukan. Bila keluaran atau sasaran tertentu telah
ditentukan, efesiensi adalah kemampuan mencapai keluaran tersebut dengan
sumber daya terendah yang dimungkinkan. Dalam akuntansi laba dimaknai dan
diinterpretasi sebagai pengukur efisiensi oleh investor dalam bentuk kembalian atas
invetasi ( return of investment atau ROI). Bagi manajemen, efisiensi dapat
diinterpretasi sebagai pengukur efisiensi penggunaan sumber daya dalam bentuk
kembalian atas aset ( return on aset atau ROA ). Bagi kreditor, efisiensi dapat
ditunjukkan dengan tingkat bunga ( return on loan atau ROL ). Jadi, angka laba itu
sendri tidak bermakna kalau tidak dihubungkan dengan tingkat investasi atau tolak
ukur atau patok duga tertentu misalnya pendapatan atau penjualan. Efisiensi
perusahaan akan bermakna kalau dihubungkan dengan tolak ukur diluar perusahaan
misalnya efisiensi perusahaan lain yang sejenis atau standar industri.
Jadi laba dapat merepresentasi kinerja efisiensi karena laba menentukan ROI,
ROA, dan ROL sebagai pengukur efisiensi. Karena kegiatan usaha sangat
kompleks, laba dipandang cukup kaya untuk merepresentasi pengukur efisiensi.
Namun validitas pengukur efisiensi tersebut bergantung pada bagaimana laba dan
tingkat investasi diukur serta dari sudut pandang siapa informasi efisiensi ditujukan.
Sebagai contoh, IP mahasiswa dipandang cukup kaya untuk merepresentasi kinerja
belajar mahasiswa. Akan tetapi validitas indeks tersebut sangat bergantung pada
bagaimana IP tersebut diperoleh dan diukur.

2.Konfirmasi Harapan Investor

Perekayasa pelaporan juga berusaha menyediakan informasi untuk meyakinkan


bahwa harapan-harapan investor atau pemakai lainnya dimasa lalu tentang kinerja
perusahaan memang terealisasi. Dengan demikian laba dapat diinterpretasi sebagai
sarana untuk mengkonfirmasi harapan tersebut. Asumsinya adalah para investor
telah menggunakan segala informasi yang tersedia secara publik sebagai basis
keputusan investasinya melalui prediksi laba. Bila diasumsi bahwa pasar cukup
efisien, laba yang diprediksi investor harus mendekati atau sama dengan laba yang
dilaporkan. Bila hal ini terjadi laba merupakan sarana untuk mengkonfirmasi
harapan investor dan investor diharapkan tidak bereaksi terhadap pengumuman
laba.
3. Estimator Laba Ekonomik
Akuntansi menganut asas akrual untuk mendapatkan suatu angka yang lebih
bermakna secara ekonomik daripada sekedar kenaikan atau penurunan kas dalam
suatu perioda. Angka laba akan bermakna kalau tia merepresentasi perubahan
kemakmuran (wealth) atau penciptaan nilai (value creation) sebagai hasil kinerja
ekonomik suatu kesatuan usaha. Secara teknis perubahan kemakmuran atau nilai
diwujudkan dalam kegiatan produktif (menghasilkan barang dan jasa).
Dengan asas akrual, pengakruan (accruing) dan penagguhan (deferring) atas
dasar konsep upaya dan hasil serta konsep kos historis merupakan proses yang
sangat lekat dengan penentuan laba akuntansi. Perekayasa akuntansi mengharapkan
bahwa laba akuntansi akan mendekati laba ekonomik atau paling tidak merupakan
estimator yang baik untuk laba ekonomik. Artinya perubahan laba akuntansi
diharapkan merefleksi pula perubahan ekonomik perusahaan. Dengan demikian
laba akuntansi masih tetap bermanfaat bagi investor yang mungkin lebih
berkepentingan dengan laba ekonomik.
Laba akuntansi adalah laba dari kaca mata perekayasa akuntansi atau kesatuan
usaha karena keperluan untuk menyajikan informasi secara objektif dan
terandalkan. Oleh karena itu laba akuntansi didasarkan pada data yang telah terjadi
bukannya data hipotesis yang dapat berupa kos kesempatan. Pengertian ekonomik
adalah kelayakan ekonomik jangka panjang dan bukan penilaian ekonomik jangka
pendek. Oleh karena itu depresiasi dalam akuntansi merupakan proses alokasi dan
bukan proses penilaian. Sementara itu laba ekonomik adalah laba dari kacamata
investor karena keperluan untuk menilai investasi dalam saham yang dalam banyak
hal bersifat subjektif bergantung pada karakteristik investor. Dalam menilai
investasinya investor selalu mendasarkan diri pada kos kesempatan yang
diwujudkan dalam bentuk tingkat kembalian pasar. Dengan demikian laba dimata
investor adalah tingkat kembalian internal aliran-aliran kas masa datang yag dapat
dihasilkan seandainya investor menanamkan asetnya ditempat lain. Dimata investor
penilaian aset lebih banyak didasarkan pada informasi pasar yang berubah ubah

setiap saat dan depresiasi dipandang sebagai proses penilaian aset (penurunan
nilai).
Perbedaan sudut pandang diatas menjadikan laba akuntansi berbeda dengan laba
ekonomik. Pada umumnya laba ekonomik memperhitungkan perubahan daya beli
uang (perubahan harga umum) dan perubahan harga spesifik aset. Daya beli uang
diperhitungkan karena investor lebih berkepentingan dengan kos kesempatan untuk
menilai secara ekonomik investasinya. Dalam hal ini akuntansi juga berusaha untuk
meningkatkan relevansi informasi dengan cara melengkapi seperangkat statemen
pokok (kos historis) dengan laporan pelengkap untuk menunjukkan pengaruh
perubahan harga dan daya beli.
Laba akuntansi juga berbeda dengan laba ekonomik karena konsep dasar yang
dianut. Labor akuntansi dilandasi oleh konsep kontinuitas usaha yang memandang
aset sebagai sisa potensi jasa sehingga kos historis menjadi basis pengukurannya.
Sementara itu laba ekonomik dilandasi oleh konsep likuidasi yang melihat aset
sebagai simpanan atau sediaan nilai (store of value) setiap saat hingga nilai
sekarang menjadi basis pengukurannya. Dengan demikian laba dipandang sebagai
perubahan nilai dalam suatu perioda. Namun laba akuntansi diharapkan dapat
menjadi estimator atau indikator laba ekonomik. Gambar ini meringkas perbedaan
antara laba akuntansi dan laba ekonomik.

Jadi akuntansi cukup menyediakan informasi laba dan aliran kas yang layak dan
meyerahkan semua analisis dan perhitungan laba ekonomik kepada investor atau
pemakai lainnya. Hal ini sesuai dengan gagasan FASB dalam merekayasa
pelaporan keuangan sebagai berikut (SFAC No.1, prg.41):

Indirect measures of cash flow potential are widely considered necessary or


desirable, both for particular resources and for enterprises as a whole.that
information may help those who desire to estimate the value of a business
enterprise, but financial accounting is not designed to measure directly the value of
an enterprise.
(Tindakan tidak langsung potensi arus kas secara luas dianggap perlu atau
diinginkan, baik sumber daya tertentu dan untuk perusahaan sebagai informasi
whole.that dapat membantu mereka yang ingin memperkirakan nilai perusahaan
bisnis, tetapi akuntansi keuangan tidak dirancang untuk mengukur secara langsung
nilai suatu perusahaan.)
Investor melalui analisis sekuritas pada umumnya lebih mendasarkan diri pada laba
ekonomik untuk memprediksi aliran kas atau return saham perusahaan dimasa
datang. Analis memandang bahwa laba akuntansi mengandung gangguan akibat
penerapan PABU yang dalam banyak hal tidak merefleksi realitas ekonomik
(misalnya penggunaan kos historis) atau akibat manajemen laba (earnings
management). Oleh karena itu kalau laba akuntansi akan menjadi prediktor yang
andal juga. Dengan demikian, keekatan atau korelasi antara laba akuntansi dan laba
ekonomik akan menentukan kualitas akuntansi (earnings quality).

Makna Laba
Pembahasan dalam sesi ini masih merupakan bagian dari konsep laba pada
tataran semantic. Pemaknaan laba sebagai pengukur efisiensi, konfirmasi harapan
investor, dan estimator laba ekonomik merupakan gagasan-gagasan untuk menemukan
definisi ( konsep atau makna ) laba yang tepat untuk tujuan akuntansi. Secara semantik,
belum terdapat kesepakatan tentang makna laba yang mantap yang menjadi basis
akuntansi dalam jangka panjang . Hendriksen dan van Breda (1992) mengemukakan
kritik terhadap laba akuntansi sebagai berikut :
there is no long run theoretical basis for the computation and presentation of
accounting income
tidak ada jangka panjang landasan teori untuk perhitungan dan penyajian laba
akuntansi
Kritik diatas didasarkan pada kenyataan bahwa terdapat banyak definisi atau makna
yang dilekatkan pada symbol laba oleh berbagai sumber. Akan tetapi, masih belum
dapat diidentifikasi secara mantap makna manakah yang sebenarnya dianut atau harus
dianut akuntansi.
Laba dimaknai sebagai imbalan atas upaya perusahaan menghasilkan barang dan
jasa. Ini berarti laba merupakan kelebihan pendapatan diatas biaya( kos total yang
melekat kegiatan produksi dan penyerahan barang/jasa). Pengertian ini sejalan dengan

konsep kesatuan usaha yang dikemukakan oleh Paton dan Littleton (1967) yang
memandang laba sebagai kenaikan asset perusahaan .
Laba adalah kenaikan asset dalam suatu periode akibat kegiatan produktif yang
dapat dibagi atau didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham( dalam
bentuk bunga, pajak, dan dividen) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegang
saham semula.Sejalan dengan pengertian yang diberikan Barton, ini berarti bahwa
pengaruh perubahan ekuitas akibat transaksi modal ( the effects of any additional capital
contributions or withdrawals by owners) harus dikeluarkan dari perhitungan laba .
Dari berbagai pengertian laba diatas, dapat disimpulkan bahwa Laba secara
konseptual mempunyai karakteristik umum sebagai berikut :
a) Kenaikan kemakmuran (wealth atau well offness ) yang dimiliki atau dikuasai suatu
entitas. Entitas dapat berupa perorangan / individual, kelompok individual , institusi
,badan, lembaga, atau perusahaan.
b) Perubahan terjadi dalam suatu kurun waktu( periode) sehingga harus diidentifikasi
kemakmuran awal dan kemakmuran akhir.
c) Perubahan dapat dinikmati, didistribusi atau ditarik oleh entitas yang menguasai
kemakmuran asalkan kemakmuran awal dipertahankan.
Kemakmuran dapat berupa aset bersih,aset, modal pemegang saham, kekayaan,
investasi,sumber daya ekonomik, uang atau apapun yang bernilai uang atau yang dapat
dinilai dengan uang. Kemakmuran tersebut secara umum disebut kapital. Kapital disini
berbeda dengan modal karena modal mempunyai pengertian khusus dalam akuntansi
yaitu ekuitas pemegang saham. Bila istilah kapital digunakan,harus selalu dibayangkan
siapa yang menguasai atau memiliki.Gambar 10.2 di bawah melukiskan pengertian
kapital dari berbagai sudut pandang konteks pembahasan laba dan akuntansi.

Bagi pemegang obligasi dan pemegang saham, klaim atas nilai yang tertanam di
perusahaan akan masuk dalam klasifikasi yang disebut kapital keuangan ( financial

capital) . Bagi perusahaan, kapital dapat diklasifikasi sebagai kapital fisis (physical
capital) kalau seluruh aset dipandang sebagai himpunan kapasitas produktif atau
dapat juga diklasifikasi sebagai kapital finansial kalau seluruh aset dipandang
sebagai nilai uang. Dalam bahasa investasi, kapital finansial sering disebut juga
dengan aset finansial ( financial asset) sedangkan kapital fisis disebut aset real (
real aset )
2.4 Laba dan Kapital
Pembahasan laba tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan kapital tetapi
makna keduanya harus dibedakan. Dengan mendasarkan diri pada pengertian
kapital yang dikemukakan oleh Irving Fisher, Hendriksen dan van Breda (1992)
membedakan laba dan kapital.
Capital is a stock of wealth at an instant time. Incomeis a flow of services
through time. Capital is the embodiement of future services and income is the
enjoyment of these services over a specific period of time.
Modal adalah saham kekayaan pada waktu instan. Incomeis aliran jasa
melalui waktu. Modal adalah embodiement layanan masa depan dan pendapatan
kenikmatan layanan ini selama periode waktu tertentu.
Pengertian semacam ini sejalan dengan implikasi konsep dasar kontinuitas usaha
yang dilukiskan dalam gambar 5.6. Kapital dapat diasosiasi atau potensi jasa (stock
concept). Jadi, kapital dapat dipandang sebagai sediaan kemakmuran pada saat
tertentu. Sementara itu, labadapat diasosiasi dengan aliran kemakmuran (flow
concept). Jadi, laba adalah aliran potensi jasa yang dapat dinikmati dalam kurun
waktu tertentu dengan tetap mempertahankan tingkat potensi jasa mula-mula.
Bila dianalogi dengan tangki air (reservoar), kapital adalah kandungan air
sampai level tertentu pada suatu saat. Dalam suatu periode, air dalam tangki akan
diisi dan sekaligus juga digunakan. Laba adalah aliran air yang keluar dari tangki
(digunakan atau dinikmati untuk berbagai keprluan rumah tangga) dalam suatu
periode dengan tetap mempertahankan kandungan air di tangki pada level
semula.Dalam hal kegiatan usaha, pengertain dinikmati adalah dikonsumsi,
didistribusi atau ditarik untuk keperluan pribadi atau non investasi.
Berbeda dengan tangki air yang kapasitasnya terbatas, kegiatan usaha biasanya
berkembang terus. Oleh karena itu, laba tidak harus selalu dinikmati tetapi dapat
terus tertanam di perusahaan sehingga menambah tingkat investasi. Kalau laba
harus dinikmati maka hal tersebut hanya dapat dilakukan sejauh tidak melampaui
tingkat kapital semula. Pengertian laba semacam ini disebut laba atas dasar konsep
pemertahanan kapital atau kemakmuran( capital atau wealth maintenance concept).
Karakteristik umum laba ketiga yang dibahas sebelumnya (karakteristik c)
merupakan konsekuensi dianutnya konsep ini.

Konsep Pemertahanan Kapital


Konsep ini dilandasi oleh gagasan bahwa entitas ( perusahaan atau investor)
berhak mendapatkan kembalian/ return dan menikmatinya setelah kapital ( investasi )
dipertahankan keutuhannya atau pulih seperti sedia kala ( recovered) . Harapan umum
dalam kegiatan bisnis adalah kapital atau investasi yang tertanam selalu berkembang.
Konsep ini mempunyai arti penting atau konsekuensi dalam beberapa hal yang saling
berkaitan sebagai berikut :

a) Membedakan antara kembalian atas investasi (return on investment ) dan


pengembalian investasi( return of investment).
b) Memisahkan dan membedakan transaksi operasi ( produktif) dalam arti luas
dengan transaksi pendanaan dari pemilik (owner transactions) .
c) Menjamin agar laba yang dapat didistribusi tidak mengandung pengembalian
investasi. Artinya, kalau laba suatu periode harus dikonsumsi / didistribusi
seluruhnya, jumlah tersebut harus benar-benar merefleksi jumlah uang yang
memenuhi definisi laba sehingga entitas mempunyai kemampuan ekonomik
yang sama dengan kemampuan mula-mula.
d) Memungkinkan penentuan jumlah penyesuain kapital ( capital adjustment)
untuk mempertankan kemampuan ekonomik ( kapital ) awal periode akibat
perubahan harga dan daya beli sehingga laba ekonomik akan terukur pula.
e) Memungkinkan penggunaan berbagai dasar penilaian untuk menentukan tingkat
kapital pada saat tertentu (awal dan akhir).
f) Memungkinkan penerapan pendekatan aset-kewajiban (asset-liabililty approach)
secara penuh dalam pemaknaan laba sehingga angka laba akuntansi akan
mendekati angka laba ekonomik .Laba didefinisi sebagai perubahan aset bersih
bukan sebagai selisih antara pendapatan dikurangi biaya. Dengan kata lain, laba
merupakan selisih pengukuran/ penilaian aset bersih pada dua titik waktu yang
berbeda.
Atas dasar berbagai uraian diatas, laba kemudian dapat didefinisi secara umum,
formal, dan semantik sebagai berikut :
Laba adalah tambahn kemampuan ekonomik yang ditandai dengan kenaikan
kapital dalam suatu periode yang berasal dari kegiatan produktif dalam arti luas
yang dapat dikonsumsi atau ditarik oleh entitas penguasa/ pemilik kapital tanpa
mengurangi kemampuan ekonomik kapital mula-mula (awal periode). Definisi
diatas bersifat umum karena tidak membatasi entitas pada pemegang saham saja
tetapi entitas berupa kreditor, badan usaha, individual,atau kesatuan usaha. Definisi
diatas juga menuntun pengukuran atau penilaian kapital pada dua titik waktu ( awal
dan akhir periode) tetapi tidak membatasi bagaimana kapital dinilai. Ini berarti
pemaknaan laba berbeda dan terpisah dengan pengukuran laba. Tentang bagaimana

kapital dinilai merupakan masalah dalam tataran sintaktik yang akan dibahas
berikut.
Contoh angka
Kasus hipotesis berikut digunakan untuk lebih memahami makna laba
sebagaimana didefinisi diatas. Pada awal perioda, suatu entitas memiliki kapital berupa
kas Rp.200 juta. Kas tersebut digunakan untuk usaha yang pada akhir perioda
dilikuidasi. Setelah itu entitas tersebut memiliki kas sebesar Rp 250 juta. Pada awal
perioda, indeks harga adalah 105. Berapakah laba entitas dengan konsep pemertahanan
kapital ? untuk menjawab masalah ini, gambar 10.3 memperagakan makna laba dalam
kasus tersebut.

Besarnya laba atas dasar konsep pemertahanan kapital bergantung pada dasar
penilaian kapital. Bila digunakan dasar kos historis (rupiah nominal), kapital akhir
sebesar ABCD Rp 200 juta dianggap cukup untuk mempertahankan kapital awal
ABCD sehingga laba yang dapat dikonsumsi adalah sejumlah DCGH Rp 50 juta.
Bila digunakan dasar daya beli kapital akhir yang harus dipertahankan adalah
ABFE Rp 210 juta sehingga laba yang dapat dikonsumsi adalah EFGH Rp 40 juta.
DCFE bukan merupakan penyesuaian kapital yaitu jumlah untuk menjadikan
kemampuan ekonomik akhir tetap sama dengan kemampuan ekonomik awal
peioda. DCFE bukan merupakan laba karena kalau jumlah tersebut didistribusi
maka entitas akan berkurang kemampuan ekonomiknya sehingga kapital awal tidak
dipertahankan. Bila DCFE tetap dikonsusmsi/didistribusi, jjumlah tersebut
merupakan likuidasi atau pengembalian kapital (return of capital). Kembalian atas
kapital (return on capital) yang sesungguhnya adalah EFGH.

Konsep Laba dalam Tataran Sintaktik


Makna semantik laba yang dikembangkan diatas di akhirnya harus dapat
dijabarkan dalam tataran sintaktik. Ini berarti konsep laba harus dioperasionalkan

dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang mantap dan objektif sehingga
angka laba dapat diukur dan disajikan dalam statemen keuangan.
Salah satu bentuk penjabaran makna laba secara sintaktik adalah mendefinisi
laba sebagai selisih pengukuran dan penandingan antara pendapatan dan
biaya.Dengan melihat kembali gambar 8.1 tentang pendapatan,masalah teoritis
pendapatan dan biaya adalah definisi dan pengukuran dalam arti luas.Definisi
merupakan masalah pada tataran semantik. Pengukuran dalam arti luas yang
meliputi pengakuan,saat pengakuan, dan prosedur pengakuan ditambah cara
mengungkapkan (disclosures) merupakan masalah pada tataran sintaktik. Bila laba
didefinisi sebagai pendapatan dikurangi biaya, masalahnya adalah kapan laba timbul
sehingga harus diukur dan diakui ? Paralel dengan masalah pengukuran dan
pendapatan, terdapat dua kriteria atau pendapatan dalam pengukuran laba yaitu
pendekatan transaksi (transaksi approach) dan pendekatan kegiatan (activities
approach).
1. Pendekatan Transaksi
Dengan pendekatan ini, laba diukur dan diakui pada saat terjadinya
transaksi( terutama transaksi eksternal) yang kemudian terakumulasi sampai akhir
periode. Karena laba didefinisi sebagai pendapatan dikurangi biaya, pengukuran dan
pengakuan pendapatan dan biaya dalam suatu periode sebenarnya juga merupakan
pengukuran dan pengakuan laba. Oleh karena itu, pengukuran dan pengakuan laba
juga akan paralel dengan kriteria pengakuan pendapatan dan biaya. Dengan
demikian, pengakuan laba atas dasar pendekatan ini sama dengan pengakuan
pendapatan atas dasar kriteria terrealisasi ( realized/ realizable) dan sama dengan
pengakuan biaya atas dasar kriteria konsumsi manfaat ( consumption of benefit).

Karena laba melekat pada pendapatan ( penjualan ), dengan pendekatan


transaksi dapat dikatakan bahwa laba timbul dan diakui pada saat penjualan atau

pertukaran terjadi. Laba akan terhitung setelah biaya yang diperkirakan


mendatangkan pendapatan juga diakui ( konsep penandingan) . Dengan contoh
transaksi diatas, dapat dilihat beberapa keuntungan pendekatan transaksi bagi
akuntansi untuk pelaporan laba yaitu antara lain :
a.Komponen pembentuk laba bersih dapat dirinci dengan berbagai basis antara
lain atas dasar produk atau pelanggan untuk kepentingan manjerial
b.Laba yang berasal dari berbagai sumber/ jenis transaksi (utama, tambahan, dan
luar biasa) dapat dipisahkan dan dilaporkan untuk kepentingan eksternal.
c.Perubahan aset dan kewajiban merupakan perubahan nilai yang diakui secara
objektif pada saat perubahan terjadi akibat transaksi penjualan ( pendapatan) dan
biaya dengan pihak eksternal.
d.Jumlah rupiah serta jenis aset dan kewajiban secara otomatis tersedia pada akhir
periode. Jumlah rupiah yang tersedia( kos historis) dapat dijadikan basis untuk
penilaian berbagai aset dan kewajiban tanpa harus melakukan
mempertimbangkan perubahan nilai.
e.Karena perubahan nilai pasar aset tidak diakui, artikulasi antarstatemen
keuangan dapat dipertahankan. InI berarti, pendapatan dikurangi biaya akan
sama dengan perubahan ekuitas pemegang saham. Namun demikian, perubahan
nilai pasar aset ( misalnya sediaan) bila perlu dapat diakui pada tiap akhir
periode sebagai penyesuaian. Hal ini merefleksi penerapan konsep pemertahanan
kapital.

2. Pendekatan kegiatan
Dengan pendekatan ini, laba dianggap timbul bersamaan dengan berlangsungnya
kegiatan atau kejadian bukan sebagai hasil suatu transaksi pada saat tertentu.
Pendekatan ini paralel dengan konsep penghimpunan atau pembetukan
pendapatan. Dengan konsep ini, pendapatan (dengan sendirinya laba) dapat
dinyatakan telah dibentuk( earned) bersamaan dengan telah dilakukannya kegiatan
operasi perusahaan dalam arti luas ( produksi, penjualan, dan pengumpulan kas).
Pendekatan ini mempunyai keunggulan dalam membantu manajemen
melakukan analisis internal. Berbagai konsep laba dapat diciptakan untuk
mengukur efisiensi dan profitabilitas tiap kegiatan / bagian operasi ,
mengendalikan perilaku manajer divisi dengan sistem pengendalian manajemen
dan menentukan kompensasi.
Dalam aplikasinya, kedua pendekatan diatas tidak berdiri sendiri tetapi saling
melengkapi. Laba tidak dapat diakui hanya atas dasar salah satu pendekatan.

Itulah sebabnya, kriteria pendapatan adalah terrealisasi dan terbentuk. Artinya,


kedua kriteria harus dipenuhi. Oleh karena itu, praktik akuntansi (dalam kaitan
dengan laba) yang sekarang banyak dianut sebenarnya merupakan kombinasi dari
pendekatan transaksi dan pendekaan kegiatan.
3. Pendekatan Pemertahanan Kapital
Dua pendekatan yang dibahas diatas sebenarnya mengikuti pendekatan
pendapatan-biaya( revenue- expense approach) dalam pengukuran dan penilaian
elemen neraca ( aset dan kewajiban).Nilai aset dan kewajiban merupakan
konsekuensi dari pengukuran pendapatan dan biaya atas dasar konsep
penandingan.
Dengan konsep pemertahanan kapital, laba merupakan konsekuensi dari
pengukuran kapital pada dua titik waktu yang berbeda. Dengan konsep ini, elemen
statemen keuangan diukur atas dasar pendekatan aset- kewajiban. Jadi, dapat
dikatakan bahwa laba adalah perubahan atau kenaikan kapital dlam suatu periode.
Dengan kata lain, laba adalah perbedaan nilai kapital pada dua saat yang berbeda.
Masalah teoritis dalam hal ini adalah bagaimana kapital diukur atau dinilai dan
bagaimana laba ditentukan. Sesi berikut membahas hal ini.
Pengukuran atau Penilaian Kapital
Pembahasan dalam sesi ini masih merupakan bagain dari pembahasan laba pada
tataran sintaktik. Pengukuran kapital pada dua titik waktu menimbulkan masalah
konseptual karena dengan berjalannya waktu beberapa hal yang bersifat ekonomik
berubah dan harus dipertimbangkan yaitu unit atau skala pengukur dan dasar
pengukuran. Hal lain yang menentukan cara menilai kapital adalah jensi kapital
(fisis atau finansial ) dan dasar penilaian.
A) Jenis Kapital
Telah disinggung dalam uraian gambar 10.2 bahwa pengertian kapital harus
dilihat dari sudut pandang pihak yang menguasai kapital tersebut. Jenis kapital
berkaitan dengan karakteristik dan wujud kapital dari kaca mata yang menguasai
serta apa yang harus dipertahankan untuk menentukan laba. Dalam hal ini terdapat
dua jenis konsep kapital yaitu kapital fisis dan finansial.
Kapital Finansial
Kapital finansial adalah klaim dipandang dari jumlah rupiah atau nilai yang
melekat padanya tanpa mempehatikan wujud fisis klaim tersebut. Kalau toh,
berwujud fisis, wujud kapital tersebut adalah instrumen atau aset finansial. Pada
umumnya, kapital finansial adalah kapital yang dikuasai pemegang saham atau
pemegang obligasi. Dengan konsep ini, laba atau kembalian atas kapital finansial

(return on financial capital) akan timbul bila jumlah rupiah klaim finansial pada
akhir suatu periode melebihi jumlah rupiah klaim finansial pada awal
periode( setelah pengaruh transaksi pemilik / penguasa klaim selama periode
dikeluarkan). Dari sudut pandang pemegang saham suatu perusahaan, laba atau
kembalian atas kapital finansial akan timbul bila jumlah rupiah aset bersih( net
assets) pada akhir suatu periode melebihi jumlah rupiah aset bersih pada awal
periode (tentu saja setelah pengaruh transaksi pemilik dikeluarkan). Dengan
pendekatan ini, yang harus dipertahankan dalam penentuan laba adalah nilai
ekonomik dalam arti nilai tukar kapital.
Kapital finansial dari sudut badan usaha adalah jumlah rupiah yang melekat
pada aset total badan usaha tanpa memandang jenis atau komponen aset. Laba atau
kembalian atas kapital finansial akan timbul bilamana jumlah rupiah aset pada awal
periode( tentu saja setelah pengaruh transaksi ekuitas dan utang dikeluarkan) .
Dalam analisis statemen keuangan tradisional, tingkat kembalian atas kapital
finansial ini dinyatakan sebagai tingkat kembalian atas aset total atau rate of return
on assets (ROA) yang dirumuskan sebagai berikut

ROA= Laba bersih + biaya bunga / Aset total rata-rata

Dari sudut pandang kreditor, kapial finansial adalah jumlah pinjaman yang
tertanam di perusahaan. Jumlah rupiah pinjaman ditambah bunga yang menjadi hak
kreditor selama periode merupakan kapial akhir. Dengan demikian, bunga yang
menjadi hak kreditor merupakan laba kreditor.

Kapital Fisis
Kapital fisis adalah sumber ekonomik yang dikuasai oleh entitas yang dipandang
atau dimaknai sebagai kapasitas produksi fisis (physical productive capacity) yaitu
kemampuan menghasilkan barang dan jasa. Dalam konteks akuntansi, entitas yang
dimaksud adalah badan usaha yang dijalankan oleh manajemen.Kapital fisis secara
umum tidak relevan dari sudut pandang investor dan kreditor . Dengan konsep ini,
laba atau kembalian atas kapital fisis ( return on physical capital) akan timbul bila
kapasitas produksi fisis pada akhir suatu periode melebihi kapasitas fisis pada awal
periode . Yang harus dipertahankan dalam menentukan laba adalah kapasitas
produksi fisis ( tentu saja setelah pengaruh transaksi ekuitas dan utang dikeluarkan).
Laba akhirnya harus dinyatakan dalam jumlah rupiah. Oleh karena itu, kapasitas
produksi fisis akhirnya harus dinyatakan dalam jumlah rupiah pula. Dengan konsep

ini, kapital dapat dipertahankan kalau aset nonmoneter diukur atas dasar kos
sekarang (current costs) atau kos pengganti (replacement cost) pada saat pengukuran
/ penilaian. Selisih antara kos sekarang akhir dengan kos sekarang awal ( kos
historis) merupakan jumlah rupiah penyesuaian untuk mempertahankan kapital
sehingga tidak masuk sebagai bagian dari laba.
Perbedaan utama antara kedua konsep diatas adalah perlakuan terhadap
pengaruh perubahan harga atas aset yang ditahan atau kewajiban yang ditanggung
selama suatu periode seandainya pengaruh tersebut diakui. Dalam konsep kapital
finansial , pengaruh perubahan akan diakui sebagai untung atau rugi menahan atau
penahanan( holding gains or losses) dan dilaporkan melalui statemen laba rugi.
Dalam konsep kapital fisis, pengaruh perubahan diakui sebagai penyesuai kapital
( capital adjustment) dan tidak masuk dalam statemen laba-rugi.
Skala Pengukuran
Skala pengukuran adalah unit pengukur yang dapat dilekatkan pada suatu objek
sehingga objek tersebut dapat dibedakan besar-kecilnya ( magnitudenya) dari objek
yang lain atas dasar unit pengukur tersebut.Dalam teori pengukuran, dikenal empat
macam skala pengukuran yaitu kategoris ( nonimal), ordinal, interval, dan rasio.
Pengukuran dalam akuntansi bersifat rasio karena angka nol menunjukkan ketiadaan
atau kekosongan nilai (devoid of value) . Karena kapital harus dinyatakan dalam satuan
uang atau moneter sementara nilai satuan uang dapat berbeda antar waktu, skala satuan
uang mana yang akan dipakai untuk mengukur kapital ? Dengan kata lain, skala satuan
uang( rupiah) mana yang akan dipakai ?
Skala Nominal
Skala nonimal atau lebih tepatnya skala rupiah nomimal adalah satuan rupiah
sebagaimana telah terjadi tanpa memperhatikan perubahan daya beli dengan berjalannya
waktu akibat perubahan kondisi ekonomik. Dengan kata lain, jumlah rupiah untuk
waktu yang berbeda dianggap homogenus atau berdaya beli sama sehingga dapat saling
dijumlahkan atau dikurangkan. Karena nilai rupiah dianggap konstan sepanjang masa,
akuntansi atas dasar pengukuran ini sering disebut akuntansi dengan asumsi nilai rupiah
konstan yang di Amerika disebut constant dollar accounting. Pengukuran dengan
skala rupiah nominal lebih menitikberatkan pada jumlah unit rupiah daripada jumlah
unit daya beli.
Karena dalam kenyataannya nilai satuan uang berubah karena inflasi,
pengukuran atas dasar skala rupiah nominal mengandung kelemahan. Bila dua
jumlah rupiah pada waktu yang berbeda ditambahkan ( misalnya Rp 10.000 di
tahun 2000 ditambah Rp 10.000 di tahun 2004 ), hasil penjumlahan (Rp20.000)
sebenarnya tidak bermakna lagi karena dua skala yang berbeda telah ditambahkan.

Penambahan semacam ini sering disebut adding oranges and apples. Lima jeruk
ditambah lima apel tidak sama dengan sepuluh jeruk dan apel.
Kam ( 1990) mengibaratkan uang sebagai meteran atau tongkat pengukur (
measuring stick) nilai suatu objek. Namun,nilai uang berubah sehingga objek yang
sama yang diukur dengan nilai yang berbeda. Perbedaan skala ini dilukiskan Kam
dalam gambar 10.4 di bawah ini .

Seandainya terjadi inflasi menerus selama 1995-2000, meteran dengan skala


rupiah nominal sebenarnya telah mengerut ( warped) seperti tampak pada gambar
diatas. Bila suatu objek yang sama diukur dengan meteran yang berbeda, angka
hasil pengukuran berbeda walaupun nilai ekonomiknya sama. Misalnya jarak AB
menggambarkan nilai ekonomik suatu objek, pengukuran dengan dua meteran yang
berbeda skalanya( yang dengan rupiah nominal dianggap sama) akan memberi
angka pengukuran yang berbeda yaitu Rp 2 dengan meteran 1995 dan 3,30 dengan
meteran 2000.
Skala Daya Beli
Skala daya beli atau lebih tepatnya skal a rupiah daya beli atau skala daya beli
konstan merupakan skala untuk mengatasi kelemahan skala rupiah nominal.
Dengan skala ini, rupiah nominal dinyatakan kembali atau dihomogenuskan dalam
bentuk rupiah daya beli atas dasar indeks harga tertentu.Karena unit pengukur
dinyatakan dalam rupiah daya beli yang sama, penambahan hasil pengukuran akan
memberi hasil yang bermakna .
Perubahan skala pengukuran dari rupiah nominal ke rupiah daya beli secara
substantif tidak berpengaruh terhadap laba sebagai perubahan nilai ekonomik
kapital. Yang berubah adalah skala pengukurnya sebagaimana tambahan berat
seseorang dalam suatu periode tidak akan berubah hanya karena pengukurnya
diubah dari kilogram menjadi pon. Walaupun demikian, pengukuran dengan rupiah

daya beli akan menimbulkan untung atau rugi daya beli (purchasing power gains or
losses) terutama kalau suatu entitas menanam aset moneter.
Pengukuran Laba dengan Konsep Pemertahankan Kapital
Adanya tiga faktor penentu nilai kapital (jenis,skala, dan dasar penilaian) yang
saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basispenilaian
kapital.
1. Kapitalisasi aliran kas harapan
2. Penilaian pasar
3. Setara kas sekarang
4. Harga masukan historis
5. Harga masukan sekarang
6. Pemertahanan daya beli