Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2015/2016
KELOMPOK : 5
1. Nurul Irfan Arian (082001300029)
2. Lingkan Claudia Poluakan (082001300025)
Asisten : Aniesha Alqarina Putri

PENENTUAN KONSENTRASI OKSIDAN PADA UDARA AMBIEN


DENGAN METODE NEUTRAL BUFFER KALIUM IODIDA (NBKI)
MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanasan global merupakan isu yang selalu hangat diperbincangkan, karena
dampak buruknya yang terus dirasakan oleh semua makhluk di muka bumi.
Misalnya di lokasi kampus Trisakti, Grogol Jakarta, pada tahun 1900-an suhu
udara di lokasi ini masih memiliki kadar kelembaban udara yang cukup tinggi,
namun pada saat ini, keadaan udara di kampus ini suhunya mulai meningkat.
Lapisan udara di atas bumi memiliki pelindung agar panas dan cahaya matahari
tidak langsung jatuh ke permukaan bumi sehingga dapat membuat makhluk hidup
di bumi menjadi panas atau bahkan mengalami kematian. Lapisan tersebut diisi
oleh ozon (O3) yang merupakan senyawa hasil dari reaksi hidrokarbon dalam
siklus fotolitik NO2O3. Secara alamiah ozon terbentuk pada ketinggian 15-40 km
di atas permukaan bumi, yaitu pada lapisan stratosfer. Namun konsentrasi O 3 juga
dipengaruhi oleh aktivitas manusia di permukaan bumi, sehingga lapisan ozon
tersebut turun hingga berada pada lapisan troposfer.
Cahaya matahari yang datang ke bumi akan disaring dan dipantulkan
sebagiannya oleh ozon, sehingga sinar ultraviolet yang datang ke permukaan
bumi telah sesuai dengan kadar yang dibutuhkan oleh tanaman dan makhluk
hidup lainnya. Namun kegiatan manusia yang mengasilkan gas rumah kaca

seperti CO2, NH3 dan CFC dapat membuat penipisan lapisan ozon. Kondisi
seperti ini tentu saja akan membuat sinar matahari langsung menuju permukaan
bumi. Ozon harus berada pada lapisan stratosfer bumi, karena apabila ozon
berada di

bawah lapisan tersebut akan membawa dampak buruk terhadap

kehidupan makhluk di bumi. Ozon yang berada pada troposfer merupakan salah
satu senyawa yang menyebabkan gas rumah kaca dan menciptakan pemanasan
global, karena panas matahari yang dipantulkan oleh bumi akan dikembalikan
lagi ke bumi sehingga menaikkan suhu secara menyeluruh. Namun kadar O 3 di
udara ambien tersebar tidak merata, konsentrasinya dipengaruhi oleh topografi,
komposisi zat kimia pada lapisan troposfer dan stabilitas udara.
Oleh karena itu, pengukuran konsentrasi ozon dilakukan untuk menentukan
konsentrasi oksidan total di udara ambien. Konsentrasi oksidan di udara dapat
diukur dengan metode Neutral Buffer Kalium Iodida (NBKI). Metode ini
mengabsorbsikan larutan KI 1% dalam penyangga fosfat, sehingga terbentuk I2
bewarna kuning muda yang diukur menggunakan spectrofotometer pada panjang
gelombang 352 nm.
1.2 Tujuan Percobaan
Untuk menentukan kadar ozon sebagai oksidan di udara ambien dengan
metode Neutral Buffer Kalium Iodida (NBKI) menggunakan spektrofotometer di
Kampus A Universitas Trisakti Jakarta.
II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Sifat Fisik dan Kimia
Oksidan (O3) merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat
sebagai pengoksidasi. Oksidan adalah komponen atmosfer yang diproduksi oleh
proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang membutuhkan sinar matahari
mengoksidasi komponen-komponen yang tak segera dioksidasi oleh oksigen.
Senyawa yang terbentuk merupakan bahan pencemar sekunder yang diproduksi
karena interaksi antara bahan pencemar primer dengan sinar (Mukhlis, 2009).
Hidrokarbon merupakan komponen yang berperan dalam produksi oksidan
fotokimia. Reaksi ini juga melibatkan siklus fotolitik NO2. Salah satu polutan
sekunder yang dihasilkan dari reaksi hidrokarbon dalam siklus ini adalah ozon
(Mukhlis, 2009).

Ozon merupakan salah satu zat pengoksidasi yang sangat kuat setelah fluor,
oksigen dan oksigen fluorida (OF2). Meskipun di alam terdapat dalam jumlah kecil
tetapi lapisan lain dengan bahan pencemar udara Ozon sangat berguna untuk
melindungi bumi dari radiasi ultraviolet (UV-B). Ozon terbentuk diudara pada
ketinggian 30 km dimana radiasi UV matahari dengan panjang gelombang 242 nm
secara perlahan memecah molekul oksigen (O 2) menjadi atom oksigen tergantung
dari jumlah molekul O2 atom-atom oksigen secara cepat membentuk ozon. Ozon
menyerap radiasi sinar matahari dengan kuat di daerah panjang gelombang 240-320
nm. Absorpsi radiasi elektromagnetik oleh ozon didaerah ultraviolet dan inframerah
digunakan dalam metode-metode analitik (Wilson, 2013).
B. Sumber dan Distribusi
Yang dimaksud dengan oksidan fotokimia meliputi Ozon, Nitrogen dioksida,
dan peroksiasetilnitrat (PAN) karena lebih dari 90% total oksidan terdapat dalam
bentuk ozon maka hasil monitoring udara ambien dinyatakan sebagai kadar ozon.
Karena pengaruh pencemaran udara jenis oksidan cukup akut dan cepatnya
perubahan pola pencemaran selama sehari dan dari suatu tempat ketempat lain,
maka waktu dimana kadar Ozon paling tinggi secara umum ditentukan dalam
pemantauan. Mencatat jumlah per jam per hari, perminggu, per musim atau per
tahun selama kadar tertentu dilampaui juga merupakan cara yang berguna untuk
melaporkan sejauh mana Ozon menjadi masalah (Mukhlis, 2009).
Kadar ozon alami yang berubah-ubah sesuai dengan musim pertahunnya
berkisar antara 10100 mg/m3 (0,0050,05 ppm). Di wilayah pedesaan kadar ozon
dapat menjadi tinggi karena adanya kiriman jarak jauh O3 dari udara yang berasal
dari perkotaan. Di daerah perkotaan yang besar, tingkat ozon atau total oksidan
maksimum 1 jam dapat berkisar dari 300800 mg/m3 (0,15-0,40 ppm) atau lebih.
530% hasil pemantauan di beberapa kota besar didapatkan kadar oksida
maksimum 1 jam yang melampaui 200 mg/m3 (0,1 ppm) (Wilson, 2013).
C. Dampak Terhadap Kesehatan
Oksidan fotokimia masuk kedalam tubuh dan pada subletal yang dapat
mengganggu proses pernafasan normal, selain itu oksidan fotokimia juga dapat
menyebabkan iritasi mata. Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang
diberi perlakuan kontak dengan ozon, sampai dengan kadar 0,2 ppm tidak
ditemukan pengaruh apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai terjadi iritasi pada hidung

dan tenggorokan. Kontak dengan Ozon pada kadar 1,03,0 ppm selama 2 jam
pada orang-orang yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat dan kehilangan
koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm
selama beberapa waktu akan mengakibatkan edema pulmonari. Pada kadar di
udara ambien yang normal, peroksiasetilnitrat (PAN) dan Peroksiabenzoilnitrat
(PbzN) mungkin menyebabkan iritasi mata tetapi tidak berbahaya bagi kesehatan.
Peroksibenzoilnitrat (PbzN) lebih cepat menyebabkan iritasi mata (Departemen
Kesehatan, 2005).
D. Dampak Terhadap Lingkungan
Dampak yang terjadi pada ekosistem adalah terganggunya atau bahkan
putusnya rantai makanan pada tingkat konsumen di ekosistem perairan karena
penurunan jumlah fitoplankton.
Woodwell (1970) merangkumkan pengaruh pencemar oksidan atmosfer
terhadap ekosistem sebagai berikut ini :
a) Menghilangnya spesies yang peka
b) Pengurangan diversitas dan jumlah spesies
c) Hilangnya tanaman overstorey tanaman kecil penyokong
d) Penguragan bahan organik pada tanaman pangan
berkurangnya zat-zat makanan didalam sistem tersebut
e) Meningkatkan hama serangga dan beberapa penyakit.

yang menyebabkan

III.

ALAT DAN BAHAN


3.1 Alat
No
.
1,

Alat
Labu ukur
(Pyrex 0,10 ml)

Gelas ukur
(Superior 0,1
ml)

Hygrometer
(West Germany)

Pompa vakum
( Thomas model
1132D)

Ukura
n
100 ml

Jumlah

100 ml

Gambar

Botol impinger
( Schott duran )

Selang (1/4)
dan corong

Barometer
(Oaklon)

Anemometer
(Lutron AM4202)

Aluminium Foil

secukupny
a

Spektrofotomete
r
(Halo DB-20 S,
UV VIS
DOUBLE
BEAM)

3.2 Bahan
No
.
1

Bahan
Larutan
penyerap O3

Granular
(batu bata)

Jumlah
50 ml

secukupnya

Gambar

IV.

CARA KERJA
1. Diagram Sampling

Tambahkan 50 ml larutan penjerap

Rangkai alat dan hidupkan pompa

oksidan kedalam impinger

sampai laju menunjukan 1 L/menit


(catat F1), lakukan selama 30 menit

Matikan pompa &


catat F2 setelah 30
menit dan diamkan
30 menit di tempat
yang tidak ada
cahaya

Diukur suhu,
tekanan,
kelembaban, arah
dan kecepatan angin

2. Diagram Analisis

Setelah 30 menit
masukkan ke dalam
labu ukur 50 mL

V. HASIL PENGAMATAN

Ukur dengan
spektrofotometer pada
panjang gelombang =
352 nm

Data Sampling
Lokasi
Koordinat
Waktu
Laju alir

: Pos Satpam S.Parman, Kampus A Universitas Trisakti


(peta terlampir)
: 6107S, 1064721E
: 11.00-11.30 WIB (30 menit)
: 1 L/menit

Data Meteorologi
Temperatur
Tekanan udara
Kecepatan angin
Arah angin
Kelembaban

: 33,8C = 306,8 K
: 759,7 mmHg
: 1.22 m/s
: Barat laut
: 32% R.H.

VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN

Volume udara yang dihisap


Pa
298
V
= F t Ta 760
=

1 30

759,7 298

306,8 760

= 29,13 L
keterangan:
V
: volum udara awal yang dihisap (L)
F
: laju alir (L/menit)
t
: durasi pengambilan contoh uji (menit)
Pa
: tekanan udara (mmHg)
Ta
: temperatur (K)
298 : temperatur pada kondisi normal 25C (K)
760 : tekanan udara pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

Kurva kalibrasi
No
1
2
3
4
5
Sampe
l

C (g/Nm3)
0
0,15
0,25
0,3
0,35
0,205

Abs
0
0,079
0,135
0,174
0,213
0,133

Kurva Kalibrasi
0.25
0.2

f(x) = 0.58x
R = 1

0.15

Abs
Linear (Abs)
Sampel

0.1
0.05
0
0

0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4

= y3 y2
= 0,135 - 0,079
= 0,056

= x3 x2
= 0,25 0,15
= 0,1

y
x

0,0056
0,1

dy
dx
0,113
x

x = a = 0,195

Konsentrasi contoh uji


a
C
= V 1000
0,202
= 29,13 1000
= 6,934 g/Nm3
keterangan:

C
a
V

: konsentrasi oksidan di udara (g/Nm3)


: jumlah oksidan dari contoh uji dengan melihat kurva kalibrasi
: volume udara kondisi normal (L)

Konsentrasi 1 jam
n
t1
C

(
)
C2 =
t2
0.5 0.185
= 6 ,934 ( 1 )
= 6,099 g/Nm3

Konsentrasi 8 jam
t1 n
C

(
)
C3
=
t2
0.5 0.185
6
,934

(
)
=
8

= 3,828 g/Nm3
keterangan:
C
: konsentrasi ozon di udara ambien selama 30 menit (g/Nm3)
C2 : konsentrasi ozon di udara ambien selama 1 jam (g/Nm3)
C3 : konsentrasi ozon di udara ambien selama 8 jam (g/Nm3)
t1
: waktu praktikum (jam)
t2
: waktu yang akan dikonversi (jam)

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, mahasiswa menghitung konsentrasi ozon (O 3) sebagai
oksidan pada udara ambien kampus A, Universitas Trisakti dengan metoda Neutral
Buffer Kalium Iodida NBKI menggunakan spektrofotometer. Rangkaian peralatan
contoh uji ditempatkan di pos satpam jalan S. Parman dalam waktu 30 menit, yaitu
pukul 11.00 sampai 11.30 WIB.
Data-data meteorologi pada saat sampling berlangsung adalah sebagai berikut:
temperatur terukur sebesar 33,8C; tekanan udara sebesar 759,7 mmHg; kecepatan
angin sebesar 1,22 m/s dari arah barat laut; dan kelembaban sebesar 32% R.H.
Karena flow meter yang tersedia terbatas, kelompok penulis tidak dapat
mengukur laju alir selama sampling. Laju alir diukur dalam laboratorium sebelum
sampling. Laju alir diatur sebesar 1 L/menit.

Volume contoh uji udara yang diambil dihitung dengan menggunakan rumus
dari SNI 19-7119.8-2005. Didapat hasil sebesar 29,13 L. Dari spektrofotometer, didapat
absorbansi sebesar 0,113. Selanjutnya, dihitung jumlah oksidan dilihat dari contoh uji
dari kurva kalibrasi dengan menggunakan y dan x. Didapat hasil x sebesar 0,195.
Terakhir, dihitung konsentrasi oksidan pada udara ambien dan didapat konsentrasinya
sebesar 6,934 g/Nm3 selama 30 menit. Hasilnya dikonversi kedalam waktu 1 jam dan
8 jam, didapat hasil berturut-turut sebesar 6,099 g/Nm3 dan 3,828 g/Nm3.
Hasil konsentrasi ozon sebagai oksidan di udara ambien yang didapat
dibandingkan dengan baku mutu udara ambien provinsi DKI Jakarta, baku mutu udara
ambien nasional dan baku mutu udara ambien internasional menurut the WHO Air
Quality Guidelines.
Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 551 tahun 2001, baku mutu
O3 di udara ambien dalam satu jam adalah sebesar 200 g/Nm3. Menurut Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 12 tahun 2010, baku mutu O3 di udara
ambien dalam satu jam adalah sebesar 235 g/Nm 3. Menurut the WHO Air Quality
Guidelines, baku mutu O3 adalah sebesar 100 g/Nm3
Dari baku mutu udara ambien diatas, dapat dilihat bahwa konsentrasi O 3 di
Kampus A masih jauh dibawah standar. Ini berarti bahwa kadar O 3 pada udara ambien
di Kampus A, Universitas Trisakti masih tergolong baik dan tidak berbahaya bagi
kesehatan manusia serta lingkungan.
Dampak dari kandungan O3 tidak akan terlalu terasa jika konsentrasinya di
udara ambien tidak tinggi. Dampak dari kandungan O 3 yang terlalu tinggi bagi manusia
adalah gangguan pernapasan akut dan rusaknya sistem pertahanan tubuh, sedangkan
untuk lingkungan, dampaknya adalah mengganggu proses fotosintesis tumbuhan hijau.
Karena O3 adalah pencemar sekunder yang dihasilkan dari emisi kendaraan
bermotor, alternatif pengendalian yang bisa dilakukan diantaranya adalah mengganti
bahan bakar menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan dan menguji emisi kendaraan
bermotor setiap uji berkala.
VIII. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Volume udara yang diambil adalah sebesar 29,13 L


Konsentrasi O3 yang didapat adalah sebesar 6,934 g/Nm3 selama 30 menit.
Konsentrasi O3 yang didapat adalah sebesar 6,099 g/Nm3 selama 1 jam.
Konsentrasi O3 yang didapat adalah sebesar 3,828 g/Nm3 selama 8 jam.
Kadar O3 di udara ambien Kampus A, Universitas Trisakti belum melampaui baku
mutu udara ambien provinsi, nasional maupun internasional.

6. Kadar O3 di udara ambien Kampus A, Universitas Trisakti tergolong baik dan tidak
berbahaya bagi manusia dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. 2005. Cara Uji Kadar Oksidan
dengan Metode Neutral Buffer Kalium Iodida (NBKI) di Udara Ambien
Menggunakan Spektrofotometer SNI 19-7119.8-2005. Badan Standarisasi
Nasional, Jakarta.
Anonim. 2001. Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 55 Tahun
2001tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat
Kebisingan di Provinsi DKI Jakarta.
Anonim. 2010. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara
di Daerah. Kementrian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Anonim. 2005. The WHO Air Quality Guidelines.
Mukhlis. 2009. Mengenali dampak Lingkungan dalam Pemanfaatan SumberSumber Energi. Graha Ilmu : Yogyakarta.
Pedoman Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan
Departemen Kesehatan RI 2005.
Wilson. 2013. Perubahan Ozon Troposfer di Indonesia.[terhubung berkala]
http://www.jurnal.lipi.go.id/publikasi.cgi?
tampilpublikasi2&1074192018&Indonesia&vol=23&0209222940
pada 11 Oktober 2015)

(Diakses

Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran


Udara, Jakarta.
Woodwell, 1970 (Online)
http://pengendalianmutu.blogspot.com/2011/01/penanganan-qc-di-perusahaanpt sumber.html (Diakses pada tanggal 11 Oktober 2015)

LAMPIRAN

Higrometer

Anemometer

Hasil absorbansi kelompok 5 (baris ke 6)