Anda di halaman 1dari 32

BAB II

ANATOMI FISIOLOGI
2.1 Anatomi dan Fisiologi
Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum
(kantung zakar) dan testis (buah zakar). Struktur dalamnya terdiri dari vas
deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Sperma (pembawa gen
pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis. Ketika
melakukan hubungan seksual, sperma yang terdapat di dalam cairan yang
disebut semen dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami
ereksi.

A. Alat kelamin laki-laki terbagi atas 3 bagian :


1. Kelenjar
a. Testis
Testis merupakan organ kelamin laki-laki tempat spermatozoa dan
hormon laki-laki dibentuk. Testosteron dehasilkan oleh testis, berkembang
di dalam abdomen sewaktu janin, dan turun melalui saluran inguinal kiri
dan kanan masuk ke dalam skrotum menjelang akhir kehamilan.
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan
terletak di dalam skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis
kanan. Testis terletak menggantung pada urat-urat spermatic di dalam
skrotum. Sepasang kelenjar yang masing-masing sebesar telur ayam
tersimpan di dalam skrotum masing-masing di tunika albugenia testis. Di

Nurseairlangga.org

33

belakang testis, selaput ini agak menebal sehingga membentuk suatu


bagian yang disebut mediastinum testis.
Testis memiliki 2 fungsi yaitu :
1.

Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di


tubulus seminifeus

2.
b.

Menghasilkan hormone testosterone, dilakukan oleh sel interstial


Vesika Seminalis
Kelenjar yang panjangnya 5-10 cm, berupa kantong seperti huruf S

berbelok-belok, sekretnya yang alkalis bersama dengan cairan prostat


merupakan bagian terbesar semen yang mengandung fruktosa yang
merupakan sumber energy untuk spermatozoa. Vesika seminalis bermuara
pada duktus deferens pada bagian yang hamper masuk prostat. Dindingnya
tipis, mengandung serabut otot dan mukosa, terbagi menjadi ruang-ruang
dan lekuk-lekuk yang penampangnya memperlihatkan gambaran jembatan
membrane mukosa. Vesika seminalis mempunyai saluran yang dinamai
duktus vesikula seminalis. Duktus vesikula seminalis ini akan bergabung
dengan duktus deferens. Pengejakulatorius yang bermuara pada 2 buah
kelenjar tubule alveolar yang terletak di kanan dan kiri di belakang leher
kandung kemih. Secret vesika seminalis merupakan komponen pokok dari
air mani. Fungsinya menghasilkan cairan yang disebut semen untuk cairan
pelindung spermatozoa.
c. Prostat
Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul
dan mengelilingi bagian tengah dari uretra. Biasanya ukurannya sebesar
walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.
Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang
merupakan sumber makanan bagi sperma atau menghasilkan cairan alkalis
pada cairab seminalis berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap
tekanan yang terdapat pada uretra dan vagma. Cairan ini merupakan
bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal
dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis. Kelenjar
prostat merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar yang

Nurseairlangga.org

33

terbagi atas empat lobus yaitu lobus posterior, lobus lateral, lobus anterior,
lobus medial
d. Bulbouretralis
Kelenjar bulbo uretralis terletak di sebelah bawah dari kelenjar
prostat panjangnya 2-5 cm. Fungsinya hampir sama dengan kelenjar
prostat.
2.

Kelenjar duktuli
a. Epididimis
Epididimis merupakan saluran halus yang panjangnya 6 cm
terletak disepanjang atas tepi dan belakang dari testis. Terdiri dari kepala
atau kaput yang terletak di atas kutup testis. Badan dan ekor epididimis
sebagian ditutupi oleh lapisan visceral, lapisan ini pada mediastinum
menjadi lapisan parietal.
Saluran ini dikelilingi oleh jariran ikat, spermatozoa melalui
duktuli eferentis merupakan bagia dari kaput epididimis. Duktus eferentis
panjangnya 20 cm, berbelok-belok dan membentuk kerucut kecil dan
bermuara ke duktus epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke
dalam vas deferens. Fungsinya sebagai saluran penghantar testis, mengatur
sperma sebelum diejakulasi, dan memproduksi semen.
Semen terdiri dari secret epididimis, vesika seminalis dan prostat
serta

mengandung

spermatozoayang

dikeluarkan

setiap

ejakulasi.

Spermatozoa bergerak dalam semen, lingkungan cairan alkalis melindungi


dari keasaman.
b.

Duktus deferens
Duktus deferens merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis

inguinalis. Kemudian duktus ini berjalan masuk ke dalam rongga perut


terus ke kandung kemih di belakang kandung kemih. Akhirnya bergabung
dengan saluran vesika seminalis dan selanjutnya membentuk ejakulatoris,
dan bermuara di prostat.
Panjang duktus deferens 40-50 cm berjalan bersama pembuluh
darah dan saraf dalam funikulus spermatikus melalui kanalis inguinalis,
memanjang pada bagian akhir berbentuk kumparan disebut ampula duktus

Nurseairlangga.org

33

deferentis. Duktus ini terletak dalam osteum vesika seminalis berlanjut


sebagai duktus ejakulatoris yang menembus prostat.
c. Uretra
Uretra merupakan saluran kemih pada pria yang sekaligus
merupakan saluran ejakulasi (mani). Uretra memiliki 2 fungsi yaitu :
-

Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung

kemih
3.

Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

Bangun penyambung
a. Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan
melindungi testis. Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu
untuk testis, karena agar sperma terbentuk secara normal, testis harus
memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang
sehinnga testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi
lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih
hangat).
b.

Fenikulus spermatikus
Fenikulus spermatikus merupakan bangun penyambung yang berisi

duktus seminalis, pembuluh limfe, dan serabut-serabut saraf.


c. Penis
Penis terdiri dari:
-

Akar (menempel pada didnding perut)

Badan (merupakan bagian tengah dari penis)

Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).

Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di
umung glans penis. Dasar glans penis disebut korona.
Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium)
membentang mulai dari korona menutupi glans penis.
Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:

Nurseairlangga.org

33

2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus,

terletak bersebelahan
-

Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.

Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan
tegak (mengalami ereksi).
B. Hormon Reproduksi
1.

Testosteron
Adalah hormon kelamin laki-laki yang disekresi oleh sel
interstitial. Sel ini terletak di dalam ruang antara tubulus-tubulus
seminiferus, testis di bawah rangsangan hormon, juga dinamakan ICSH
(Interstitial Cel Stimulating Hormone) dari hipofisis. Pengeluaran
testosteron bertambah nyata pada pubertas dengan pengembangan sifatsifat kelamin sekunder yaitu tumbuhnya jenggot, suara lebih berat,
pembesaran genetalia.
Testosteron dihasilkan pada anak usia 11-14 tahun. Pembentukan
ini meningkat dengan cepat pada permulaan pubertas dan berlangsung
hampir sepanjang kehidupan. Berkurangnya kecepatan produksi setelah
umur 40 tahun. Pada umur 80 tahun menghasilkan testosterone lebih
kurang 1/5 dari nilai puncak. Testosterone meningkat kecepatan sekresinya
oleh beberapa kelenjar utama pada kelenjar sebasea. Pada wajah
menimbulkan jerawat, gambaran yang paling sering pada pubertas.
Fungsi tetosteron :
a. Efek desensus testis, ini menunjukkan bahwa testosterone merupakan
hal yang penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan
manusia dan factor keturunan
b.

Perkembangan seksual primer dan sekunder. Sekresi testosterone

setelah pubertas menyebabkan penis, testis dan skrotum membesar sampai


usia 20 tahun, dan mempengaruhi pertumbuhan sifat seksual sekunder pria
mulai pada masa pubertas.
2.

Gonadotropin
Kelenjar hipofise anterior menyekresi dua hormon gonadotropin,
FSH dan LH. Kedua hormon ini mempunyai peranan penting yaitu

Nurseairlangga.org

33

mengatur fungsi seksual pria. FSH untuk pengaturan spermatogenesis,


perubahan spermatosid primer menjadi spermatosid sekunder dari kelenjar
hipofise anterior agar spermatogenesis berlangsung sempurna. LH
mengurangi sekresi testoteron kembali ke tingkat normal untuk melindungi
terhadap pembentukan testoteron yang selalu sedikit.
C. Tahap Ejakulasi
a. Stimulan
Pendahuluan terjadinya ejakulasi biasanya berupa gairah seksual
laki-laki yang menimbulkan ereksi (tegang) pada penis, meskipun dalam
hal ini tidak setiap rangsangan atau ereksi mengarah pada ejakulasi.
Rangsangan seksual yang dialami penis saat hubungan seksual di vagina,
mulut dan dubur, atau rangsangan manual (masturbasi) dapat memberikan
stimulus yang diperlukan bagi seorang pria untuk mencapai orgasme dan
ejakulasi. Laki-laki mencapai orgasme biasanya setelah 5-10 menit setelah
dimulainya hubungan intim penis-vagina, dengan mempertimbangkan
keinginan mereka dan orang-orang dari pasangan mereka. Sebagian besar
pria dapat mencapai orgasme cepat atau menunda sampai nanti jika itu
memang mereka inginkan. Sebuah stimulasi yang berkepanjangan baik
melalui pemanasan (mencium, membelai dan stimulasi langsung zona
sensitif seksual sebelum penetrasi selama hubungan seksual) atau
mengocok (selama masturbasi) meningkatkan rangsangan untuk mencapai
puncak

dan biasanya menghasilkan pengeluaran suatu cairan pra-

ejakulasi.
b. Ejakulasi
Ketika seorang pria telah mencapai tingkat rangsangan yang cukup,
ejakulasi pun dimulai. Pada titik itu, di bawah kendali sistem saraf
parasimpatik, air mani yang mengandung sperma dimuncratkan keluar. Air
mani yang dikeluarkan melalui uretra disertai dengan irama kontraksi.
kontraksi ritmis ini adalah bagian dari orgasme laki-laki. Mereka
dihasilkan oleh otot bulbospongiosus di bawah kendali refleks tulang
belakang pada tingkat saraf tulang belakang S2-4 melalui saraf pudenda.
Orgasme laki-laki yang khas berlangsung beberapa detik.

Nurseairlangga.org

33

Setelah awal orgasme, Kumpulan-kumpulan air mani mulai


mengalir dari uretra, mencapai puncak pelepasan dan kemudian berkurang
mengalir. Orgasme yang khas terdiri dari 10-15 kontraksi, meskipun pria
tidak mungkin secara sadar mengetahui berapa banyak itu terjadi. Setelah
kontraksi pertama telah terjadi, ejakulasi akan terus sampai selesai sebagai
suatu proses spontan. Pada tahap ini, ejakulasi tidak dapat dihentikan.
Tingkat kontraksi secara bertahap melambat selama orgasme. Kontraksi
awal terjadi pada interval rata-rata 0,6 detik dengan meningkatnya
kenaikan sebesar 0,1 detik per kontraksi. Kontraksi kebanyakan pria maju
dengan interval berirama teratur selama orgasme. Banyak pula pria yang
mengalami kontraksi yang tidak beraturan selama orgasme.
Ejakulasi dimulai pada kontraksi pertama atau kedua dari orgasme.
Bagi kebanyakan pria semburan pertama terjadi selama kontraksi kedua.
Semburan pertama atau kedua biasanya merupakan pengeluaran cairan
mani yang terbesar dan dapat berisi 40 persen atau lebih dari total volume
ejakulasi. Setelah puncak ini, aliran dari setiap nadi berkurang. Ketika
aliran berakhir, kontraksi otot orgasme terus terjadi tanpa tambahan cairan
air mani. Sebuah studi sampel kecil tujuh orang menunjukkan rata-rata
dari 7 semburan air mani (berkisar antara 5 dan 10 kontraksi) diikuti oleh
rata-rata 10 lebih kontraksi tanpa sperma yang dikeluarkan.
Alfred Kinsey mengukur jarak semburan ejakulasi. Pada tigaperempat laki-laki, memancarkan air mani dari penis, Pada beberapa pria
saat ejakulasi, jarak air maninya dari ujung penis dapat mencapai dari
beberapa inci sampai satu-dua kaki, atau bahkan sejauh lima atau enam
(jarang delapan) kaki. Masters dan Johnson melaporkan bahwa jarak
ejakulasi tidak lebih dari 30-60 cm. Namun jarak ejakulasi, tidak ada
hubungannya dengan fungsi seksual, seperti selama penetrasi penis dalam
vagina jarak ejakulasi tidak memainkan peranan. Menetesnya air mani dari
penis biasanya cukup untuk pembuahan.
Kekuatan dan jumlah air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi akan
sangat bervariasi antar pria dan mungkin berisi antara 0,1 dan 10 mililiter
(Sebagai perbandingan, perhatikan bahwa satu sendok teh adalah 5 ml dan

Nurseairlangga.org

33

sendok makan 15 ml.). Volume air mani dipengaruhi oleh waktu yang telah
berlalu sejak ejakulasi sebelumnya; semakin lama durasi rangsangan,
semakin banyak pula volume air mani. Durasi stimulasi yang mengarah ke
ejakulasi bisa mempengaruhi volume. Secara abnormal volume rendah
dikenal sebagai hypospermia, meskipun hal itu adalah normal untuk
jumlah air mani pria usia tua
Jumlah sperma dalam ejakulasi juga sangat bervariasi, tergantung
pada banyak faktor, termasuk waktu sejak ejakulasi terakhir, usia, tingkat
stres, dan testosteron. oligospermia adalah istilah untuk jumlah sperma
yang rendah dengan volume air mani yang rendah pula, sedangkan tidak
adanya sperma dari air mani disebut azoospermia.
c. periode refrakter
Kebanyakan pria mengalami periode refrakter segera setelah
orgasme, selama itu mereka tidak mampu mencapai ereksi, dan waktu
yang lebih lama lagi sebelum mereka mampu mencapai ejakulasi
selanjutnya. Lamanya masa refraktori sangat bervariasi untuk setiap
individu. Umur mempengaruhi waktu pemulihan, pria yang lebih muda
biasanya pulih lebih cepat daripada pria yang lebih tua, meskipun tidak
selalu begitu.
Namun, beberapa pria dapat mencapai rangsangan seksual yang
cukup segera setelah ejakulasi, dan lain-lain mungkin memiliki periode
refrakter kurang dari 15 menit. Periode pemulihan singkat dapat
memungkinkan mereka untuk melanjutkan tanpa hambatan bermain
seksual dari satu ejakulasi rangsangan seksual ke ejakulasi selanjutnya.
Namun, kebanyakan pria tidak suka dirangsang (dengan hampir segala
sentuhan dan cara) pada masa-masa awal periode refrakter.

Nurseairlangga.org

33

BAB III
EJAKULASI DINI
3.1 Definisi
Ejakulasi (ejaculation) adalah proses pengeluaran air mani (biasanya
membawa sperma) dari saluran reproduksi pria dan biasanya disertai dengan
orgasme. Ini biasanya (secara alamiah) merupakan tahapan akhir atau puncak
rangsangan seksual, dan merupakan sebuah komponen penting dari konsepsi
alam. Ejakulasi juga terjadi secara spontan selama tidur (mimpi basah).
Sedangkan ejakulasi dini adalah suatu kondisi dimana seorang pria
berejakulasi lebih awal dari dia dan/ atau pasangannya. Masters dan Johnson
mendefinisikan Ejakulasi Dini sebagai kondisi dimana seorang pria
berejakulasi sebelum pasangan seksnya mencapai orgasme, dimana hal
tersebut terjadi pada lebih dari lima puluh persen hubungan seksual mereka.
Menurut International Society for Sexual Medicine, Ejakulasi Dini
adalah disfungsi seksual laki-laki yang ditandai dengan ejakulasi yang selalu
atau hampir selalu terjadi sebelum atau dalam waktu sekitar satu menit
setelah penetrasi vagina, dan ketidakmampuan untuk menunda ejakulasi pada
semua atau hampir semua penetrasi vagina dengan konsekuensi pribadi yang
negatif, seperti kesedihan stress, frustasi dan atau menghindari keintiman
seksual.
Ejakulasi dini dapat dibagi menjadi tiga macam berdasarkan tingkat
keparahannya, yaitu:
1. Ejakulasi Dini Tingkat Ringan: yakni bila terjadi ejakulasi setelah
hubungan seksual berlangsung dalam beberapa kali gesekan yang singkat,
di bawah 2-3 menit.
2. Ejakulasi Dini Tingkat Sedang: yakni bila ejakulasi tiba-tiba terjadi tanpa
bisa dikendalikan sesaat setelah penis masuk ke liang senggama dalam
hanya terjadi beberapa kali gesekan singkat. Ini terjadi selain karena
seseorang mengalami dorongan kuat dalam hubungan intim, juga karena
masalah penyakit tertentu (psikis dan non psikis).

Nurseairlangga.org

33

3. Ejakulasi Dini Tingkat Berat: yakni ejakulasi langsung terjadi otomatis


saat mr p menyentuh sedikit saja liang senggama wanita bagian luar,
bahkan belum masuk sudah keluar.
3.2 Etiologi
Umumnya ejakulasi dini diakibatkan karena adanya sebuah gangguan yang
bersifat psikofisiologik. Jadi selain karena masalah anatomis, seringkali EDI
atau ejakulasi dini disebabkan karena masalah psikologis.
Beberapa faktor anatomis tersebut antara lain:
1. Berkurangnya kondisi jumlah serotonin dalam otak dan saraf dalam tulang
belakang, di mana hal ini ternyata akan memodulasi pergantian fungsi
otonom otak dari mode parasimpatis menuju mode simpatis. Perlu diketahui
bahwa mode simpatis inilah kendali di mana fungsi saraf akan mendorong
proses ejakulasi. Maka akibat terjadi kurangnya serotonin secara berlebihan
inilah yang memicu perubahan dopamine atau norepinefrin menjadi
adrenalin (epinefrin) dalam mode simpatis tubuh. Keadaan ini akan
mengakibatkan terjadinya perubahan suasana hati, menimbulkan kecemasan
dan stres, bahkan juga masalah hipertensi dan kelelahan.
2. Keadaan penipisan otak dan penurunan tingkat asetilkolin sinaptik bagi
komunikasi saraf, penginderaan dan fungsi pergantian energi yang
diperlukan mode parasimpatis. Hal ini juga didukung adanya penurunan
fungsi organ seks ketika ereksi terjadi. Di sisi lain, defisiensi dari asetilkolin
ini menjadi penyebab masalah impotensi dan ereksi lemah yang memicu
terjadinya ejakulasi dini. Secara medis, hal ini akan menurunkan fungsi hati,
fungsi adrenal dan testis yang mengakibatkan tubuh kekurangan Nitric
Oxide, DHEA, androstenedion dan testosteron. Seseorang yang kehilangan
libido umumnya terjadi karena kurangnya hormon seks yang menyebabkan
pria kehilangan libido.
3. Masalah rendahnya hormon Dopamin dalam otak juga bisa melemahkan
fungsi hipofisis-testis dan fungsi tiroid. Akibatnya seseorang akan
mengalami defisiensi testosteron, kehilangan kejantanan, dan kehilangan
rasa percaya diri. Ini juga penyebab seseorang mengalami masalah ejakulasi
dini.

Nurseairlangga.org

33

4. Ejakulasi dini juga terjadi karena adanya abrasi pada saluran-saluran


ejakulasi prostat dan neuromuskuler. Saat tubuh menerima rangsangan
seksual sedikit saja, maka ini bisa menyebabkan terjadinya ejakulasi dini.
Bahkan saat stimulasi seksual itu hanya dalam hal penglihatan, pendengaran
maupun dengan penetrasi. Hal itu mengakibatkan ukuran prostat akan
membesar dan melemahkan kekuatan sperma untuk menyemprot saat terjadi
ejakulasi. Kontrol air seni juga akan mengendur.
5. Bagi seseorang yang terlalu banyak melakukan masturbasi dan onani poerlu
sedikit waspada. Konon aktivitas ini juga menjadi penyebab ejakulasi dini.
Penyebabnya karena dengan terlalu banyak onani bisa mengakibatkan
prostat akan menghasilkan banyak hormon testosteron. Onani atau
masturbasi yang terlalu sering akan mengakibatkan ejakulasi dini teruitama
bila hal itu dilakukan dengan teknik tidak benar. Mengapa demikian? Sebab
terlalu sering melakukan onani atau masturbasi maka akan menyebabkan
tubuh terbiasa berada dalam kondisi simpatis, di mana kondisi itulah yang
mendorong suatu ejakulasi terjadi. Jadi akibat terlalu sering ejakulasi
mengakibatkan prostat memiliki refleks atas ejakulasi. Inilah yang
mendorong ejakulasi dini lebih mudah terjadi.
6. Tahukah Anda bahwa untuk memperpanjang ereksi sampai mencapai 2-3
jam,

kondisi

tubuh

memerlukan

banyak

hormon

seperti

DHEA,

androstenedion, tetsosteron dan estrogen. Nah karena terlalu sering


mengeluarkan cairan kelenjar bulborethal yang mengandung prostaglandin
E-2 yang merangsang pematangan atau pembukaan katup ejakulasi.
Ejakulasi dini potensial terjadi dalam keadaan seperti ini.
7. Masalah anatomis lainnya akibat rendahnya produksi prostaglandin E-1
(PGE-1). Ini terjadi karena penipisan zat kimia dan hormon. PGE-1 akan
melemaskan jaringan spons penis dan meningkatkan sarap parasimpatis
untuk ereksi yang keras. Untuk diketahui bahwa PGE-1 dapat menyebabkan
penis ereksi dan bertambah panjang.
Selain masalah-masalah yang bersifat anatomis di atas, umumnya
ejakulasi dini terjadi karena problem psikis. Banyak keadaan yang
menjadi penyebab ejakulasi dini secara psikis. Gugup dan gelisah atau bahkan

Nurseairlangga.org

33

karena terlalu semangat (senang) bisa potensial seseorang tidak bisa


mengendalikan ejakulasi dini. Dalam hubungan terlarang, perasaan bersalah,
takut hamil atau takut gagal dalam berhubungan juga menjadi penyebab.
3.3 Patofisiologi
Proses ejakulasi berada di bawah pengaruh saraf otonom. Asetilkolin
berperan sebagai neurotransmitter ketika saraf simapatis mengaktifasi
kontraksi dari leher kandung kemih, vesika seminalis dan vas deferens.
Reflex

ejakulasi

berasal

dari

kontraksi

otot

bulbokavernosus

dan

ischiokavernosus serta di control oleh saraf pudendus.


Singkatnya, ejakulasi terjadi karena mekanisme reflex yang di cetuskan
oleh rangsangan pada penis melalui saraf sensorik pudendus yang terhubung
dengan persarafan tulang belakang ( T12-L2 ) dan korteks sensorik ( salah
satu bagian otak).
Mengapa

reflex

ini

dapat

terjadi

sebelum

pria

tersebut

menginginkannya? Penelitian terakhir mengemukakan bahwa terdapat


gangguan respon penis pria dengan ejakulasi dini. Penelitian yang dilakukan
oleh Xin dan kawan-kawan serta di muat di dalam J.Urol mengukur kadar
sensorik penis menggunakan biothesiometry pada pria dengan ejakulasi dini
dan membandingkannya dengan kadar yang normal. Pada pria tanpa ejakulasi
dini, pengukuran kadar sensitivitas penis meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Nemun pada pria dengan ejakulasi dini , justu sensitivitas
semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian lanjutan
mengemukakan bahwa pria dengan ejakulasi dini memiliki sensitivitas lebih
tinggi daripada pria tanpa ejakulasi dini.
3.4 Manifestasi Klinis
Tandadangejalaejakulasidiniadalahejakulasi yang terjadisebelumdiharapkan,
menyebabkanmasalahatau

stress.Bagaimanapun,

masalahdapatterjadipadasemuasituasiseksual, bahkansaatmasturbasi.
Dokterumumnyamengklasifikasikanejakulasidinidalamejakulasidini

primer

dansekunder.
a. Ejakulasidini primer dikarakteristikkandengan:

Nurseairlangga.org

33

Ejakulasi

yang

selaluatauhampirselaluterjadidalamsatumenitataukurangpadasaatpenet
rasi.

Ketidakmampuanmenundaejakulasisaatatauketikabarusajamelakukanp
enetrasi.

Konsekuensinegatif,

seperti

stress,

frustasiataumenghindarihubunganseksual.
b. Sedangkanejakulasidinisekunderantara lain:

Ditandaidenganejakulasi
terusmenerusatauberulangdenganrangsangan
sebelumnya,

yang
yang

minimal

atausesaatsetelahpenetrasi,

dansebelumandamengharapkannya.

Menyebabkan stress danmasalahdalamhubungan.

Terjadisetelahsebelumnyaandamengalamikepuasandalamhubungansek
sualtanpamasalahejakulasi
3.5 Pemeriksaan Penunjang
1. Pada pria dengan ejakulasi dini dan tanpa permasalahan medis umum
lainnya, tidak ada pemeriksaan lab konvensional yang dapat membantu atau
mempengaruji pemilihan jenis terapi.
2. Pemeriksankadartestosterone

dan

prolactinserumcocokdilakukanjikaejakulasidinidisertaidenganpermasalahani
mpotensi.
3.6 Penatalaksanaan
Terdapat beberapa pilihan terapi medis untuk ejakulasi dini. Sebagai
tambahan, permasalahan ereksi lainnya yang menyertai dapat ditangani
dengan beragam metode dengan keberhasilan yang sempurna :
1. Melibatkan pasangan wanita sebisa mungkin dalam terapi dan sesi
konseling penting untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Nurseairlangga.org

33

2. Langkah pertama penanganan ejakulasi dini adalah untuk melenyapkan


adanya tekanan batin (berupa pikiran takut tidak dapat memuaskan
pasangan) pada pria.
o

Jika ejakulasi dini terjadi pada saat penetrasi telah berlangsung, minta
kepada pasangan tidak melakukan penetrasi hingga ejakulasi dini telah
dapat ditangani. Pria dapat melakukan stimulasi lain tanpa melakukan
penetrasi.

Jika pria selalu mengalami ejakulasi pada rangsangan awal atau pada
permulaan foreplay, ini merupakan masalah serius dan kemungkinan
mengindikasikan adanya ejakulasi dini primer, dimana kebanyakan
membutuhkan penanganan spesialis jiwa.

3. Pasangan diminta untuk melakukan terapi seksual, seperti teknik stopmulai atau tekan-henti yang dipopulerkan oleh Masters dan Johnson.
Kebanyakan pasangan merasa teknik ini berhasil. Ini juga dapat membantu
pasangan wanita lebih terangsang dan dapat memperpendek waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai klimaks.
o

Modalitas terapi lainnya yaitu dengan krim desensitasi digunakan oleh


pria. Seperti namanya krim ini dapat mengurangi stimulasi pada penis
sehingga dapat memperpanjang waktu untuk ejakulasi. Namun krim ini
belum diakui oleh FDA.

4. Jika pria relative muda dan dapat mencapai ereksi kembali setelah
beberapa

menit

terjadinya

ejakulasi

dini,

biasanya

ia

memiliki

pengendalian waktu yang lebih baik pada hubungan sex berikutnya.


o

Beberapa ahli menyarankan pria muda untuk melakukan masturbasi 1-2


jam sebelum hubungan seksual direncanakan.

Interval waktu untuk mencapai klimaks kedua biasanya memiliki masa


laten lebih panjang dan pria kebanyakan dapat mengendalikan lebih
baik ejakulasinya pada keadaan seperti ini.

Pada orang yang lebih tua, strategi ini mungkin kurang efektif karena
mereka sulit untuk mendapatkan ereksi kedua setelah ejakulasi dini.
Jika ini terjadi maka hal tersebut dapat merusak rasa percaya diri dan
mengakibatkan impotensi sekunder.

Nurseairlangga.org

33

5. Modalitas farmakologik yang dapat membantu pria dengan ejakulasi dini


adalah obat dari golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
class, obat yang biasanya digunakan di klinik sebagai antidepressant.
o

Beberapa antidepressant tricyclic yang mempunyai aktivitas seperti


SSRI dapat mencapai hasil yang sama.

Kebanyakan obat ini memiliki efek samping yang menyebabkan kedua


pasangan wanita dan pria mengalami penundaan bermakna dalam
mencapai orgasme.

Untuk alasan ini, pengobatan dengan efek samping SSRI ini telah
digunakan untuk pria yang mengalami ejakulasi dini.

3.7 Komplikasi
1. Ejakulasi dini mengakibatkan hubungan seksual berlangsung tidak
harmonis.
2. Walaupun dapat mencapai orgasme, pria yang mengalami ejakulasi dini
juga merasa sangat kecewa karena tidak mampu memberikan kepuasan
seksual kepada pasangannya.
3. Pria yang mengalami ejakulasi dini sering mengalami stres, tidak percaya
diri, rendah diri, dan malu terhadap pasangannya. Dalam waktu lama dapat
terjadi disfungsi ereksi. Pasangannya tentu kecewa, tidak puas, jengkel,
marah, dan akhirnya mengalami disfungsi seksual seperti hilangnya gairah
seksual.
4. Lebih jauh, reaksi yang muncul adalah perasaan takut atau khawatir setiap
akan melakukan hubungan seksual. Perasaan ini justru akan semakin
memperburuk keadaan ejakulasi dini. Kalau keadaan ini terus berlangsung,
maka pada akhirnya pria itu dapat mengalami disfungsi ereksi.
5. Wanita yang mempunyai pasangan mengalami ejakulasi dini pada
umumnya tidak dapat mencapai orgasme karena hubungan seksual segera
berakhir. Kekecewaan yang muncul selanjutnya dapat berubah menjadi
kejengkelan disertai perasaan takut setiap akan melakukan hubungan
seksual. Akibat lebih jauh dapat berupa hilangnya dorongan seksual dan
dispareunia (rasa nyeri yang terjadi saat bersetubuh).
3.8 Prognosis

Nurseairlangga.org

33

Dalam banyak kasus, ejakulasi dini sembuh dengan sendirinya dari


waktu ke waktu tanpa perlu perawatan medis. Berlatih teknik relaksasi atau
mengalihkan konsentrasi dapat membantu Anda menunda ejakulasi. Bagi
sebagian pria, menghentikan atau mengurangi konsumsi alkohol, tembakau,
atau obat-obatan terlarang dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk
mengendalikan ejakulasi.

Nurseairlangga.org

33

3.9 WOC (Web Of Caution)


Abrasi pada saluran
saluran ejakulasi prostat
dan neuromuskuler
Kerusakan epitel penis
Terjadi sensitivitas
pada rangsangan
seksual sedikit saja

Aterosklerosis arteri
Aliran darah ke penis
berkurang

Tidak dapat
mempertahankan ereksi
secara konsisten

Ketidakefektifan pola
seksualitas

Terbiasa melakukan
masturbasi dan onani
dengan berlebihan

Penurunan hormone
serotonin
Pergantian fungsi saraf
parasimpatis menuju
saraf simpatis
Perubahan dopamine
menjadi adrenalin

Asetilkolin, dopamine,
dan serotonin dihasilkan
secara berlebihan

Terjadi perubahan suasana


hati, stress, menimbulkan
kecemasan

Kelenjar otak dan


adrenalin mengkonversi
berlebihan dopaminenorepineferin
Otak dan fungsi tubuh
memasuki mode
simpatik

Ejakulasi Dini

Disfungsi seksual

Asetilkolin/saraf
parasimpatik
terstimulasi

Harga Diri rendah

Nurseairlangga.org
33

BAB IV
DISFUNGSI EREKSI
4.1 Definisi
Disfungsi Seksual adalah kesulitan dalam berhubungan seksual yang
biasanya bersifat psikosomatis. Disfungsi seksual pada pria meliputi: (1)
disfungsi ereksi, (2) impotensi, (3) hubungan seksual tidak sempurna, (4)
ejakulasi dini, dan (5) gangguan hasrat/keinginan seksual.
Disfungsi

ereksi

adalah

ketidakmampuan

mencapai

atau

mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan


seksual (intercourse) dengan pasangan.
Disfungsi ereksi terdiri dari dua macam yaitu disfungsi ereksi primer
adalah penis sejak semula tidak dapat ereksi yang cukup untuk dapat
melakukan intromision (penetrasi) pada vagina yang berarti penderita tidak
pernah berhasil melakukan hubungan seksual. Disfungsi ereksi sekunder
menjelaskan penderita sebelumnya pernah berhasil melakukan intercourse,
tetapi kemudian gagal karena suatu sebab yang menganggu ereksi. Disfungsi
ereksi merupakan salah satu disfungsi seksual pria yang banyak dijumpai,
selain ejakulasi dini.
4.1.1 Klasifikasi Berdasarkan Manisfestasi Klinis
Menurut Wibowo(2007) pembagian disfungsi ereksi dikelompokkan
menjadi lima kategori yaitu:
1) Psikogenik
Disfungsi ereksi yang disebabkan faktor psikogenik biasanya
episodik,terjadi secara mendadak yang didahului oleh periode stress
berat,cemas,depresi.Disfungsi ereksi dengan penyebab psikologis
dapat dikenali dengan mencermati tanda klinisnya yaitu :
Usia muda dengan awitan (onset ) mendadak.
Awitan berkaitan dengan kejadian emosi spesifik.
Disfungsi pada keadaan tertentu,sementara pada keadaan
lain,normal.
Ereksi malam hari tetap ada.

Nurseairlangga.org

33

Riwayat terdahulu adanya disfungsi ereksi yang dapat membaik


spontan
Terdapat stress dalam kehidupannya,status mental, terkait
kelainan depresi,psikosis atau cemas.
2) Organik
Disfungsi ereksi yang disebabkan organik dibagi menjadi dua :
a. Neurogenik
Disfungsi ereksi yang disebabkan neurogenik ditandai dengan
gambaran klinis :
Riwayat cedera atau operasi sum-sum tulang atau panggul.
Mengidap penyakit kronis (diabetes melitus,alkhoholisme).
Menderita penyakit neurologis tertentu seperti multiple
sklerosis,stroke.
Pemeriksaan neurologik abnormal daerah genital (alat
kelamin)/ perineum.
b. Vaskuler
Disfungsi ereksi yang disebabkan oleh kelainan vaskuler dibagi
dua,kelainan pada arteri dan kelainan pada vena.Disfngsi ereksi
yang disebabkan oleh kelainan vaskulogenik arteria memiliki
penampilan klinis sebagai berikut :
Minat terhadap sex tetap ada.
Secara bertahap terjadi disfungsi ereksi sesuai bertambahnya
umur.
Pada semua kondisi terjadi penurunan fungsi sex.
Menggunakan obat resep atau obat bebas terkait dengan
disfungsi ereksi.
Perokok.
Kenaikan tekanan darah,terbukti dengan didapatkannya
penyakit vaskuler perifer (bruit,denyut nadi menurun,kulit dan
rambut berubah sejalan dengan insufisiensimarteri.)
Disfungsi ereksi oleh karena kelainan vaskulogenik venosa
memiliki gambaran klinis sebagai berikut

Nurseairlangga.org

Tidak mampu mempertahankan ereksi yang sudah terjadi.


Riwayat priapismus (penis selalu tegang) sebelumnya.
Kelainan (anomali) lokal penis.

33

3) Hormonal
Disfungsi ereksi yang disebabkan karena hormonal mempunyai
gambaran klinis sebagai berikut :
Hilangnya minat pada aktifitas seksual
Testis atrofi,kecil
Kadar testoteron rendah,prolaktin naik
4) Farmakologis
Hampir semua obat antihipertensi dapat menyebabkan disfungsi
ereksi yang bekerja disentral,misalnya methildopa,klonidin dan
reserpin.Pengaruh utama kemungkinan melalui depresi sistem saraf
pusat.Beta bloker seperti propanolol dapat menurunkan libido.
5) Traumatik paska operasi
Patologi pelvis (poses penyakit pada panggul) dapat merusak

jalur serabut saraf otonom untuk ereksi penis.


Reseksi abdominal perineal,sistektomi radikal,prostatektomi
radikal,bedah beku prostat,prostatektomi perineal,prostatektomi
retropubik,dapat merusak saraf pelvis atau kavernosus yang

menyebabkan disfungsi ereksi.


Uretroplasti membranasea,reseksi tranuretra

prostat,springterotomi eksterna,insisi striktura


Uretra esktrena yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi

karena kerusakan serabu saraf kavernosus yang berdekatan.


Uretrotomi internal visual untuk striktur dapat menyebabkan
kerusakan serabut saraf kavernosus dengan fibrosis sekunder
akibat perdarahan atau ekstravasasi cairan irigasi dapat

menyebabkan disfungsi ereksi.


Radiasi daerah pelvis untuk keganasan rektal,kandung kemih
atau prostat dapat juga menyebabkan disfungsi ereksi.

4.2 Etiologi
Faktor penyebab ereksi:
a. Ketuaan
b. Gangguan psikologi, misalnya: depresi, ansietas
c. Gangguan neurologis, misalnya: penyakit serebral, trauma spinal, penyakit
neuropati

Nurseairlangga.org

33

d. Penyakit

hormonal,

misalnya:

hipogonadism,

hiperprolaktinemi,

hipertiroidsm
e. Penyakit vaskuler, misalnya: aterosklerosis, penyakit jantung iskemik
f. Obat-obatan, misalnya: antihipertensi, antiandrogen
g. Penyakit-penyakit

lain,misalnya:

diabetes

mellitus,

hiperlipidemi,

hipertensi
4.3Patofisiologi
Penyebab disfungsi ereksi dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu
faktor fisik dan faktor psikis/psikologi.
A. Penyebab Fisik Disfungsi Ereksi
Yang termasuk kedalam faktor fisik adalah semua gangguan atau penyakit
yang berkaitan dengan gangguan hormon, pembuluh darah, dan saraf.
Salah satu penyebab fisik utama disfungsi ereksi adalah
aterosklerosis arteri arteri penis. Pada aterosklerosis, aliran darah ke
penis berkurang dan terjadi penurunan kemampuan arteri arteri penis
untuk berdilatasi sewaktu perangsangan seksual , yang menyebabkan
terbatasnya pembengkakan. Penyebab fisik lainnya adalah penyakit
penyakit sistemik misalnya hipotiroidisme, akromegali dan yang tersering
diabetes mellitus. Diabetes terutama dihubungkan dengan aterosklerosis
serta neuropati ( kerusakan saraf ). Pada tingkat sel , gangguan
patofisiologis yang berperan pada ED (Erectile dysfunction, ED) adalah
hipersensitivitas otonom, penurunan pembentukan nitrat oksida oleh
prostat dan otot otot polos pembuluh darah penis dan disfungsi sel sel
endotel. Serta penyakit gangguan fungsi hati, gangguan kelenjar gondok,
kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, penyakit
jantung dan penyakit ginjal yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Selain karena penyakit, ED karena penyebab fisik dapat juga
karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok berlebihan, alkohol
berlebihan, penyalahgunaan obat, dan kurang tidur.

Nurseairlangga.org

33

Disamping faktor faktor fisik , banyak obat diketahui


mengganggu kemampuan pria untuk mencapai ereksi dan atau orgasme,
seperti obat antihipertensi (metildopa, alfa blocker, betablocker, reserpine),
diuretika (thiazide, sprinolactone, furosemid), antidepresan (amitryptilin,
imipramin),

antipsikotik

trifluoperazine),

(chlorpromazine,

antiandrogen

haloperidol,fluphenazine,

(estrogen,

flutamid),

H2-

blockers(cimetidine), simpatomimetik yang sering digunakan untuk


pengobatan asma, flu, obesitas. ED juga dapat timbul setelah pembedahan
didaerah genital, misalnya setelah kanker prostat. Keletihan kronis atau
akut dapat menyebabkan ED.
Usia merupakan faktor resiko utama untuk disfungsi ereksi. Proses
penuaan sangat mempengaruhi kemampuan ereksi seorang laki-laki,
bahkan disfungsi ereksi dapat digolongkan sebagai kelainan yang
berhubungan dengan usia.
B. Penyebab Psikologis Disfungsi Ereksi
Disfungsi ereksi psikologis dapat terjadi akibat adanya aktivasi impuls
impuls inhibitorik desendens yang berasal dari korteks serebrum. Keadaan
psikologis yang berkaitan dengan ED adalah stress, rasa marah, rasa
cemas, kejenuhan, perasaan bersalah, takut tidak bisa memuaskan
pasangan (depresi), hilangnya daya tarik pasangan.
4.4 ManifestasiKlinis
Gejala

utama disfungsi

ereksi adalah

ketidakmampuan

untuk

mendapatkan dan mempertahankan ereksi selama hubungan seksual yang


memuaskan.
Ada masalah lain yang mungkin atau mungkin tidak terkait atau
berhubungan dengan disfungsi ereksi. Ini termasuk masalah ejakulasi seperti
ejakulasi dini, yang merupakan kondisi dimana proses rangsangan, orgasme
dan ejakulasi terjadi sangat cepat. Ejakulasi dini mungkin memiliki dampak
yang sama pada sumur psikologis kesejahteraan dan kualitas hidup, namun
merupakan gangguan yang terpisah. Impotensi dan ejakulasi dini tidak harus
bingung.
Ketidakmampuan untuk mendapatkan ereksi

Nurseairlangga.org

33

Pasien biasanya mengeluhkan ketidakmampuan untuk mendapatkan


ereksi. Ini mungkin khusus juga. Individu mungkin mendapatkan ereksi
saat bangun atau saat masturbasi sementara gagal untuk mendapatkan atau
mempertahankan ereksi dengan pasangan seksual. Dalam situasi ini, ada
kemungkinan bahwa penyebab kondisi ini terutama psikologis atau stres
terkait. Dalam hal seorang individu tidak mampu untuk mendapatkan
ereksi dalam kondisi apapun kondisinya cenderung memiliki penyebab
fisik semata-mata.
Ketidakmampuan mempertahankan ereksi
Banyak orang dengan kondisi mengeluh mendapatkan ereksi tapi tidak
mampu untuk mempertahankannya cukup lama untuk mencapai hubungan
seksual yang memuaskan.
4.5Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme (termasuk testis
kecil, ginekomasti dan berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan janggut)
memerlukan perhatian khusus. Pemeriksaan penis dan testis dikerjakan untuk
mengetahui ada tidaknya kelainan bawaaan atau induratio penis. Bila perlu
dilakukan palpasi transrektal dan USG transrektal. Tidak jarang ED
disebabkan oleh penyakit prostat jinak ataupun prostat ganas atau prostatitis.
Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal examination), penilaian
tonus sfingter ani, dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi muskulus
bulbokavernous pada perineum setelah penekanan glands penis) untuk
menilai keutuhan dari sacral neural outflow. Nadi perifer dipalpasi untuk
melihat adanya tanda-tanda penyakit vaskuler. Dan untuk melihat komplikasi
penyakit diabetes ( termasuk tekanan darah, ankle bracial index, dan nadi
perifer ).
4.6Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis ED antara
lain: kadar serum testosteron pagi hari (perlu diketahui, kadar ini sangat
dipengaruhi oleh kadar luteinizing hormone). Pengukuran kadar glukosa dan
lipid, hitung darah lengkap (complete blood count), dan tes fungsi ginjal.

Nurseairlangga.org

33

Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi prostaglandin E1


pada corpora penis, duplex ultrasonography, biothesiometry, atau nocturnal
penile tumescence tidak direkomendasikan pada praktek rutin/sehari-hari
namun dapat sangat bermanfaat bila informasi tentang vascular supply
diperlukan, misalnya, untuk menentukan tindakan bedah yang tepat.
4.7Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan dari disfungsi seksual pada pria dan wanita adalah
sebagai berikut:
1. Membuat diagnosa dari disfungsi seksual
2. Mencari etiologi dari disfungsi seksual tersebut
3. Pengobatan sesuai dengan etiologi disfungsi seksual
4. Pengobatan untuk memulihkan fungsi seksual, yang terdiri dari
pengobatan bedah dan pengobatan non bedah (konseling seksual dan sex
theraphy, obat-obatan, alat bantu seks, serta pelatihan jasmani).
Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi
seksual. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat
mengutarakan masalahnya semua kepada dokter, serta perbedaan persepsi
antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Banyak pasien
dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi, tetapi
hanya sedikit yang peduli. Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan
kedua belah pihak yaitu pria dan wanita, dimana masalah disfungsi seksual
pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita,
begitu juga sebaliknya, maka perlu dilakukan dual sex theraphy. Baik itu
dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan
wawancara keluhan terpisah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah
dilakukan, sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui
secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi, sehingga dapat
dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen disfungsi
ereksi menyangkut terapi psikologi, terapi medis dan terapi hormonal yaitu:

Nurseairlangga.org

33

Terapi psikologi yaitu terapi seks atau konsultasi psikiatrik, percobaan


terapi (edukasi, medikamentosa oral / intrauretral, vacum contricsi device).

Terapi medis yaitu terapi yang disesuaikan dengan indikasi medisnya

Terapi hormonal yaitu jika tes laboratoriumnya abnormal seperti kadar


testoteron rendah , kadar LH dan FSH tinggi maka diterapi dengan
pengganti testoteron. Jika Prolaktin tinggi, maka perlu dipertimbangkan
pemeriksaan pituitary imaging dan dikonsulkan.

4.7 Komplikasi
Komplikasi akibat disfungsi ereksi dapat mencakup:
1.
2.
3.
4.

Sebuah kehidupan seks memuaskan


Stres atau kecemasan
Malu atau rendah diri
Masalah perkawinan atau hubungan
5. Ketidakmampuan untuk mendapatkan pasangan yang dapat hamil
4.8Prognosis
Disfungsi ereksi temporer sering terjadi dan biasanya bukan masalah
yang serius. Akan tetapi, jika disfungsi ereksi menjadi persisten, efek
psikologis menjadi signifikan. Disfungsi erksi dapat menyebabkan gangguan
hubungan antara suami istri dan dapat menyebabkan terjadinya depresi.
Disfungsi ereksi yang persisten dapat merupakan suatu gejala dari
kondisi medis yang serius seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi,
gangguan tidur, atau masalah sirkulasi.

Nurseairlangga.org

33

4.9 WOC (Web Of Caution)


Penyebab fisik

Penyebab
psikologi

Gangguan
psikologi:
depresi,
ansietas

Adanya
aktivasi
impulsimpuls
inhibitorik
desendens
yang
berasal
dari
korteks
sereblum

Faktor
usia

Gangguan
neurologis:
penyakit
serebral,
trauma
spinal

Proses
penuaan
sangat
mempengaruh
i kemampuan
ereksi seorang
laki-laki

Penyakit
hormonal:
hipogonadi
sm,
hiperprolik
tinemi

Penyakitpenyakit
lain:
diabetes
mellitus,
hiperlipidem
i

Hipersensitivitas otonom,
penurunan pembentukan nitrat
oksida oleh prostat dan otot-otot
polos pembuluh darah penis dan
disfungsi sel-sel endotel

Penyakit
kadiovaskuler:
ateroskilirosis,
penyakit
jantung iskemik

Aliran darah ke
penis
berkurang dan
terjadi
penurunan
kemampuan
arteri untuk
berdilatasi
sewaktu
perangsangan
seksual

DISFUNGSI
EREKSI
Ketidakmampuan untuk

Ketidakmampuan

mendapatkan ereksi

mempertahankan ereksi

MK:
Ketidakmampuaan
pola seksualitas

Hubungan
seksual tidak
memuaskan

MK: Disfungsi
seksual

Merasa
mengecewa
kan
pasangan

Nurseairlangga.org

MK: Harga diri


rendah

33

BAB V
ASUHAN KEPERAWATAN
5.1 Kasus
Tn E, 35 tahun baru menikah 2 minggu yang lalu, klien mengalami
kecelakaan lalulintas dan mengeluh setelah kecelakaan mengalami gangguan
dalam hubunganseksual dengan istrinya karena ketidakmampuan untuk
mencapai atau menjaga ereksipada waktu penetrasi.
Data Subjektif :
Klien mengatakan mengalami kecelakaan motor 3 hari yang lalu,
bertabrakan dengan motor lain, kemudian terjatuh dan penisnya terbentur.
Klien merasakan sakit pada bagian penis
Klien mengatakan setelah kecelakaan, penisnya menjadi merah.
Klien mengatakan tidak dapat ereksi saat melakukan hubungan seksual
Sebelum kecelakaan, klien tidak mengalami gangguan dalam hubungan
seksual (ereksi)
Klien mengatakan takut tidak dapat membahagiakan istrinya
Klien mengatakan merasa malu pada istrinya
Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit keturunan (diabetes,
penyakit jantung)
Klien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi alcohol
Klien sedang tidak mengkonsumsi obat-obatan
Klien mengatakan tidak ada gangguan saat berkemih
Klien mengatakan tidak ada riwayat penyakit infeksi pada genital
Data Objektif :
Klien terlihat cemas
Terlihat adanya kemerahan disekitar penis
TTV (TD: 110/ 80 mmHg S: 37,5
C P: 20x/ menit N: 90 x/menit )
BB: 60 kg TB: 175 cm

Nurseairlangga.org

33

5.2. Pengkajian
A. Identitas Klien
1. Nama Klien
2. Umur
3. Suku
4. Pendidikan
5. Alamat
6. Pekerjaan
7. Agama
B.

Riwayat seksual
1. Pola seksual biasanya
2. Kepuasan (individu, pasangan)
3. Pengetahuan seksual
4. Masalah (seksual, kesehatan)
5. Harapan
6. Suasana hati, tingkat energi

5.3 Pemeriksaan fisik


Pulsa di kaki biasanya akan dinilai dan refleks saraf yang melibatkan kaki dan
penis atau anus (bagian belakang) juga diuji. Pemeriksaan rektal (foto)
biasanya dilakukan untuk menilai nada otot dubur dan kelenjar prostat.
Tes khusus mungkindapat dilakukan:
a. Tes darah umum
b. Tes urine rutin
c. Pengukuran Hormon
Kadar testosteron, prolaktin, FSH (follicle-stimulating hormone), LH
(luteinising hormone) dan hormon tiroid.
d. Tes khusus lainnya
mengukurwaktu interval antara penetrasi dan ejakulasi (waktu latency
ejakulasi intravaginal, IELT)menggunakan stopwatch. Waktu latency
kurang dari 1 menit dianggap sebagai abnormal.
5.4 Diagnosa Keperawatan

Nurseairlangga.org

33

1) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi


yang ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual
2) Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan funsional ditandai
dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
3) Ketidakefektifan pola seksualitas berhubungan dengan penyakit atau
terapi medis.
5.5. Intervensi Keperawatan
No.
1.

Dx. Kep.
Disfungsi seksual

Tujuan
Pasien dapat

Intervensi
1. Bantu pasien untuk

berhubungan dengan

menerima perubahan mengekspresikan perubahan

perubahan struktur

struktur tubuh

tubuh/fungsi yang

terutama pada fungsi seksual seiring dengan

ditandai dengan

seksual yang

bertambahnya usia.

perubahan dalam

dialaminya

2.

mencapai kepuasan

Kriteria hasil:

kesehatan tentang penurunan

seksual.

fungsi seksual.

Mengekspresikan

3.

kenyamanan

mengkonsumsi makanan yang

rendah lemak, rendah

Mengekspresikan

kolestrol, dan berupa diet

kepercayaan diri

vegetarian

fungsi tubuh termasuk organ

Berikan pendidikan

Motivasi klien untuk

4. Anjurkan klien untuk


menggunakan krim vagina dan
2.

gel
1. Kaji perasaan/persepsi

Harga diri rendah

Pasien dapat

berhubungan dengan

menerima perubahan pasien tentang perubahan

gangguan funsional

bentuk salah satu

gambaran diri berhubungan

ditandai dengan

angota tubuhnya

dengan keadaan angota

perubahan bentuk salah secara positif

tubuhnya yang kurang

satu anggota tubuh.

Kriteria hasil:

berfungsi secara normal

2.

Nurseairlangga.org

Pasien mau

Lakukan pendekatan dan

berinteraksi dan

bina hubungan saling percaya

beradaptasi dengan

dengan pasien

33

lingkungan tanpa rasa 3. Tunjukkan rasa empati,


malu dan rendah diri perhatian dan penerimaan pada

Pasien yakin

pasien

akan kemampuan

4.

Bantu pasien untuk

yang dimiliki

mengadakan hubungan dengan


orang lain
5.

Beri kesempatan pada

pasien untuk mengekspresikan


3.

Ketidakefektifan pola Pasien dapat

perasaan kehilangan
1. Kaji factor-faktor

seksualitas

menerima perubahan penyebab dan penunjang, yang

berhubungan dengan

pola seksualitas yang meliputi

penyakit atau terapi

disebabkan masalah

Kelelahan

medis.

kesehatannya.

Nyeri

Kriteria Hasil :

Nafas pendek

Mengidentifikasi

Keterbatasan suplai

keterbatasannya pada oksigen


aktivitas seksual yang

Imobilisasi

disebabkan masalah

Kerusakan inervasi saraf

kesehatan

Perubahan hormone

Mengidentifikasi

modifikasi kegiatan

Depresi
Kurangnya informasi

seksual yang pantas yang tepat


dalam respon

2. Ajarkan pentingnya

terhadap

mentaati aturan medis yang

keterbatasannya

dibuat untuk mengontrol


gejala penyakit
3.

Berikan informasi yang

tepat pada pasien dan


pasangannya tentang
keterbatasan fungsi seksual

Nurseairlangga.org

33

yang disebabkan oleh keadaan


sakit
4. Ajarkan modifikasi yang
mungkin dalam kegiatan
seksual dapat membantu
penyesuaian dengan
keterbatasan akibat sakit
5.6 Evaluasi
1) Klien dapat mempunyai rasa percaya diri
2) Klien dapat menerima perubahan tubuhnya secara positif
3) Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan pola seksualitasnya

Nurseairlangga.org

33

DAFTAR PUSTAKA
http://www.foredi.co/ejakulasi-dini-pengertian-penyebab-dan-pencegahannya/
(diakses pada 18 September 2013 pkl 20.00)
http://indopriaperkasa.wordpress.com/2011/04/11/ejakulasi-dini-pengertianpenyebab-dan-pencegahannya/ (diakses pada 18 September 2013 pkl 20.10)
Syaifuddin, Drs. H. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan.
Jakarta : EGC (diakses pada 18 September 2013 pkl 20.00)
http://forediherba.blogspot.com/2013/04/ejakulasi-dini.html (diakses pada 18
September 2013 pkl 21.00)
Wibowo S. dan Gofir A. 2007. Disfungsi Ereksi. Yogyakarta: Pustaka Cendekia Press.
Setiadji, V. Sutarmo. 2006. Neurofisiologi Ereksi. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
(UI Press).

http://www.infokedokteran.com/referat-kedokteran/referat-kedokteran-disfungsiereksi-etiologi-dan-klasifikasi.html
http://www.news-medical.net/health/Impotence-(Erectile-Dysfunction)-Symptoms.aspx

Nurseairlangga.org

33