Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

PNEUMONIA

Diajukan dalam rangka memenuhi persyaratan co-assisten


SMF Radiologi RSUP Dr. Sardjito
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Disusun oleh :
Infithar
09/289500/KU/13488

PENDIDIKAN PROFESI KEDOKTERAN


SMF RADIOLOGI
RSUP DR SARDJITO
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Pneumonia adalah infeksi dari jaringan paru. Jaringan paru terbentuk oleh
kantung-kantung berdinding tipis yang mengandung udara. Ketika seseorang terkena
pneumonia kantung udara mereka terisi dengan mikroorganisme, air, dan sel-sel
inflamasi sehingga paru-paru tidak dapat bekerja dengan baik. Diagnosis pneumonia
berdasarkan dari tanda dan gejala klinis dari infeksi saluran pernafasan bawah dan
dikonfirmasikan oleh pemeriksaan X-ray dada yang menunjukkan suatu bayangan yang
bukan disebabkan oleh penyakit lain.
Pneumonia dibedakan menjadi Community Acquired Pneumonia (CAP) atau
nosocomial pneumonia (NP) tergantung dari faktor resiko pasien dan mikroba
penyebabnya, karena masing-masing memiliki penatalaksanaan yang berbeda..
Nosocomial pneumonia berdasarkan penyebab dan faktor resikonya dibedakan lagi
menjadi Hospital Acquired Pneumonia (HAP), Ventilator Associated Pneumonia
(VAP), dan Healthcare Associated Pneumonia (HCAP) Antara 0,5% sampai 1% dewasa
mengidap CAP di UK. Sebanyak 5-12% orang dewasa yang terdiagnosis pneumonia
dengan gejala infeksi saluran pernafasan bawah, sekitar 22%-42% dirawat di rumah
sakit, dengan persentasi mortalitas antara 5-14 %. Anatar 1,2% dan 10% dewasa yang
dirawat di rumah sakit denngan CAP dirawat di ICU, dan mortalitasnya sebanyak 30%.
Lebih dari setengah kasus pneumonia yang ditemukan pada lansia usia 84 tahun ke atas
menyebabkan kematian.
Menurut survey kesehatan rumah tangga tahun 2002, penyakit saluran nafas
merupakan penyebab kematian nomor 2 di Indonesia. Data dari SEAMIC Health
Statistic 2011 menunjukkan bahwa pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6
di Indonesia. Pada usia anak-anak, Pneumonia merupakan penyebab kematian terbesar
terutama di negara berkembang termasuk Indonesia. Angka kematian Pneumonia pada
balita di Indonesia diperkirakan mencapai 21 % (Unicef, 2006). Adapun angka
kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per 1000 anak balita setiap tahunnya.
Fakta yang sangat mencengangkan. Karenanya, kita patut mewaspadai setiap keluhan
panas, batuk, sesak pada anak dengan memeriksakannya secara dini.
I.II Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa definisi pneumonia?
2. Apa yang menyebabkan pneumonia?

3. Bagaimana proses terjadinya pneumonia ?


4. Bagaimana gejala pneumonia ?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis
pneunonia?
6. Bagaimana gambaran radiologis dari pneumonia pada foto thoraks?
7. Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan pneumonia?
I.III Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Memberikan penjelasan tentang pneumonia, definisi, klasifikasi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, gambaran radiologi, dan
penatalaksanaan.
2. Menjelaskan penemuan klinis pneumonia pada foto polos thorax
I.IV Manfaat
Makalah ini memiliki manfaat berupa
1. Meningkatkan pengetahuan kita tentang pneumonia, mulai dari gejala klinis,
tampakan radiologi, sampai penatalaksanaan
2. Apabila dapat dipahami dengan baik makalah ini memiliki manfaat untuk
mendiagnosis pneumonia secara awal dan menanganinya sesuai dengan guideline.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Anatomi
Paru-paru adalah organ berbentuk kerucut yang memiliki apeks di bagian ujung
atasnya. Pada bagian medial paru, terdapat bronkus, pembuluh darah, pembuluh limfe,
dan saraf yang membentuk bangunan seolah-olah tampak sebagai akar dari paru dan
masuk ke dalam paru melalui hilum.
Paru-paru kanan memiliki tiga lobus, yaitu superior, medial, dan inferior
sedangkan paru-paru kiri memiliki dua lobus, lobus superior dan inferior. Pada bagian
medioinferior paru-paru kiri terdapat penekanan oleh jantung.
Pada paru-paru terdapat bronchial tree, dimulai dari bronkus primer hingga
bronkus terminalis. Trakea bercabang menjadi bronkus primer. Bronkus primer kanan
memiliki posisi lebih vertikal dan lebih lebar dibandingkan bronkus primer kiri.
Bronkus primer akan bercabang menjadi bronkus sekunder sesuai dengan lobus masingmasing paru. Bronkus sekunder akan bercabang menjadi bronkus tertier atau
segmentalis sesuai dengan segmen masing-masing lobus, sehingga terdapat sepuluh
bronkus segmentalis pada paru-paru kanan dan delapan bronkus segmentalis pada paruparu kiri. Bronkus segmentalis akan bercabang menjadi bronkiolus. Kartilago pada
bronkiolus sangat minimal dan didominasi oleh otot polos dan spasmodik pada struktur
ini dapat menyebabkan kematian. Bronkiolus dari bronkus segmentalis disebut
bronkiolus terminalis dan bercabang menjadi bronkiolus respiratorius. Bronkiolus
respiratorius kemudian bercabang menjadi ductus alveolaris dan berakhir pada saccus
alveolus.
Alveolus merupakan kantung kecil dengan diameter 0,2-0,5 mm. Dindingnya
terdiri dari sel alveolaris tipe II (squamous) yang berfungsi sebagai pertukaran gas di
ruang alveolus ke pembuluh darah dan sel alveolaris tipe II (kuboid) yang berfungsi
untuk memproduksi surfaktan.
II.II Definisi
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
(alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman yang ditandai oleh gejala klinis
batuk, demam tinggi dan disertai adanya nafas cepat ataupun tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam. Pada anak balita umur 2-5 tahun taaikan nafasnya 40 kali atau
lebih dalam satu menit, balita umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan nafasnya 50 kali
atau lebih per menit.

II.III Epidemiologi

Insiden HAP dilaporkan 5-10 kasus dari 1000 pasien rawat inap sekitar 10%
pasien ICU menderita HAP dan sebanyak 20-30% pasien yang menggunakan ventilasi
mekanik menderita HAP. HAP merupakanm infeksi nosokomial kedua tersering dengan
angka kematian tertinggi dibanding infeksi nosokomial lainnya. Pada pasien CAP
sekitar 20-30% perlu dirawat di rumah sakit, 5-10% diantaranya dirawat di ICU dan 510% meninggal dunia. Pneumonia komunitas (CAP) dan pneumonia nosokomial (NP)
keduanya memiliki etiologi yang sama yaitu kuman streptococcus pneumonia,
Hemophillus influenza, Moraxella catarrhalis, dan beberapa bakteri atipikal.
Penyebab utama PN adalah bakteri gram negatif seperti Hemofillus Influenza.
Meskipun begitu PN yang disebabkan oleh Pseudomonas Aeruginosa juga ditemukan
dan dapat menyebabkan kematian. Pneumonia karena jamur sangat jarang ditemukan
tapi biasanya terdapat pada pasien dengan gangguan imunologik seperti AIDS dan
pemakaian obat-obatan imunosupresif pada pasien post-transplantasi, kemoterapi,
kanker, dan yang lainnya.
II.III Etiologi
Pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, parasit, mycoplasma,
dan yang lainnya.
a. Bakteri
Bakteri yang paling menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus Pneumonia.
Normalnya, bakteri ini terdapat di kerongkongan manusia, apabila pertahanan tubuh
menurun yang bisa disebebkan oleh usia tua, malnutrisi, dan lainnya bakteri akan segera
memperbanyak diri dan menyebabkan klinis penyakit pneumonia yang disebabkan oleh
bakteri dapat menyerang segala kelompok usia dari bayi sampai usia lanjut. Penyebab
oleh bakteri antara lain adalah pada grup bakteri gram positif Streptococcus
pneumoniae, Strreptococcus, Staphylococcus, Actinomyces, dan Nocardia, sedangkan
akteri gram negatif antara lain Klebsiella, Haemophillus influenza, Eschericia coli,
Proteus sp., Pseudomonas, Serratia, Mycoplasma pneumoniae, Legionella, Ricketsia,
dan Bacillus anthracis.
b. Virus
Virus yang paling banyak menyebabkan pneumonia adalah respiratory syncial virus
(RSV). Kebanyakan infeksi yang disebabkan oleh virus banyak menyerang anak kecil
khususnya balita. Pada awalnya virus ini menyerang saluran pernafasan atas tetapi pada
balita juga dapat menyebabkan pneumonia. Pneumonia yang disebabkan oleh virus
lebih ringan daripada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri. Penyebab oleh virus

antara lain disebabkan oleh virus influenza, adenovirus, coronavirus, hantavirus, atau
infeksi sistemik oleh virus Epstein-Barr.
c. Jamur
Penyebab oleh jamur antara lain candidiasis, aspergillosis, Pneumocystis carinii,
Mucor mycosis, cryptococcosis, blastomycosis, histoplasmosis. Pneumonia yang
disebabkan

oleh

virus

kebanyakan

terdapat

pada

pasien

yang

mengalami

imunodefisiensi seperti pada pasien dengan HIV atau yang sedang menerima
farmakoterapi imunosupresif post- transplantasi organ.
d. parasit
Penyebab oleh parasit biasanya disebabkan oleh Toxoplasmosis gondii.
Pada communty-acquired,pneumonia sering ditemukan patogen seperti S.pneumoniae,
M.pneumoniae, H.influenza, S.aureus, C.pneumoniae, Morasella catarrhalis, Legionella
spp. Sedangkan pada hospital-acquired sering ditemukan Staphylococcus aureus dan
Methicillin Resistant S.aureus pada pasien koma, cedera kepala dan influenza.
Psudomonas aeruginosa pada pasien yang dirawat di ICU menggunakan ventilator
lebih dari dua hari, penggunaan steroid dan antibiotik, kelainan struktur paru dan
malnutrisi. Bakteri anaerob ditemukan pada pasien post-operasi abdomen. selain itu
Acinobacter spp
II.IV Patofisiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan instrinsik. Faktor
ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar tubuh seperti paparan pada agen
penyebab, iritan paru, atau kerusakan paru secara langsung. Sedangkan faktor intrinsik
adalah faktor yang disebabkan oleh host seperti hilangnya refleks protektif saluran
pernafasan atas yang menyebabkan aspirasi saluran pernafasan atas ke paru-paru.
Penyebabnya adalah status mental yang menurunkarena intoksikasi dan penyakit syaraf
lainnya seperti stroke dan pada proses intubasi endotrakeal.
Pada pneumonia bakterial, jarang sekali bakteri memasuki paru-paru melalui
cara hematogen. Ketika bakteri sudah mencapai paru-paru, untuk menimbulkan suatu
manifestasi penyakit pada inflamasi akut dibutuhkan virulensi organisme yang cukup
tinggi ditambah dengan status pertahanan diri dan kondisi kesehatan pasien tersebut.
Seseorang lebih mudah terkena penyakit pneumonia jika kekebalan tubuh menurun
(seperti pada orang yang terkan HIV, infeksi kronis, usia lanjut) dan/atau disfungsi
mekanisme pertahanan (seperti pada oranh perokok, penyakit COPD, toxin, dan
aspirasi) .

Pada inflamasi akut, proses inflamasi disebebkan oleh migrasinya neutrophil keluar dari
kapilari ke dalam rongga udara di paru, membentuk kumpulan neutrofil-netrofil yang
siap bekerja apabila dibutuhkan oleh tubuuh. Netrofil ini memfagositosis mikrob,
membuat reactive oxygen species, protein antimikrobial, dan enzim degradatif. Netrofil
juga Membuat chromatin meshwork yang mengandung antimicrobial protein yang
bekerja menangkap dan membunuh bakteri. Beberapa reseptor membran dan ligand
berperan dalam interaksi kompleks antara mikroba, sel parenkim paru, dan sel imun
Beberapa hal yang meningkatkan virulensi bakteri adalah :
- Meningkatnya flexibilitas bakteri yang disebabkan oleh resistensi terhadap bebebrapa
antibiotik
- Flagella dan struktur lainnya pada bakteri yang memudahkan penyebaran infeksi
- Kapsul yang melindungi bakteri dari serangan imunitas tubuh.
Beberapa hal yang terjadi pada host yang dapat meningkatkan kejadian terjadinya
infeksi berupa:
- Jumlah netrofil yang menurun (neutropenia)
- Kualitas neutrofil yang menurun (pada penyakit granulomatous)
- Jmlah komplemen yang berkurang
- Kekurangan imunoglobulin

Setelah masuk ke paru- paru organisme teraspirasi ke bagian tepi paru dari saluran nafas
bagian atas atau nasofaring. Awalnya terjadi edema reaktif yang mendukung
multiplikasi organisme-organisme ini serta penyebarannya ke bagian paru lain yang
berdekatan. Pada pneumonia lobaris biasanya satu lobus atau lebih, atau bagian-bagian
dari lobus, tidak melibatkan sisa sistem bronkopulmonal. Namun, gambaran pneumonia
lobar ini sering tidak ada pada bayi, yang mungkin menderita penyakit yang tidak lebih
sempurna dan difus yang menyertai distribusi bronkus dan yang ditandai dengan banyak
daerah konsolidasi teratas di sekeliling jalan nafas yang lebih kecil. Jarang didapatkan
jejas yang permanen. Umumnya bakteri mencapai alveoli melalui percikan mukus atau
saliva (droplet) dan tersering mengenai lobus bagian bawah paru karena adanya efek
gravitasi.

II.V Gejala Klinis dan Pemeriksaan Fisik


Secara umum dapat dibagi menjadi :
1.) Manifestasi nonspesifik infeksi : Panas yang bersifat remitten, takikardi, gelisah,
nafsu makan berkurang

2.) Gejala umum saluran pernafasan bagian bawah berupa batuk, sesak napas, nafas
cuping hidung, merintih dan sianosis, frekuensi nafas meningkat, jika memberat dapat
terjadi hipoksia. Tampak adanya retraksi suprasternal, intercosta, ataupun pernafasan
abdomen untuk mengkopensasi.
Infeksi pneumonia biasanya didahului dengan adanya infeksi saluran nafas
bagian atas selama beberapa hari. Pada bayi bisa disertai dengan hidung tersumbat,
rewel serta nafsu makan yang menurun. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39C
atau lebih. Anak sangat gelisah, dispneu. Kesukaran bernafas yang disertai adanya
sianosis di sekitar mulut dan hidung. Suara nafas dapat berbuni ronkhi atau pleural
friction rub di atas jaringan yang terserang, terdapat pernafasan cuping hidung, retraksiretraksi pada daerah supraklavikuler, interkostal dan subkostal. Pada awalnya batuk
jarang ditemukan, tapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut serta
sputum yang berwarna kemerahan.
Pada penyakit yang lebih lanjut lagi bisa terjadi efusi pleura dan empiema,
dimana keadaan ini dapat menyebabkan ketinggalan gerak pada sisi yang terkena pada
saat respirasi yang dapat dilihat dengan gerakan berlebihan pada sisi yang berlawanan.
Biasanya perkusi redup pada daerah efusi dengan pengurangan fremitus dan suara
pernafasan. Suara bronkial sering ditemukan tepat di atas batas cairan dan pada sisi
yang tidak terkena. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari luas daerah yang terkena.
Tanda- tanda klasik konsolidasi ditemukan pada hari kedua dan ketiga penyakit. Pada
perkusi bisa ditemukan adanya suara redup, fremitus yang bertambah. Pada auskultasi
mungkin ditemukan adanya suara bronkial, ronki basah halus.
II. VI Diagnosis
Diagnosis berdasarkan dari gejala klinis dari infeksi saluran pernafasan bawah,
pemeriksaan klinis foto X-Ray thoraks, dan pemeriksaan laborat. CAP adalah
pneumonia yang didapat di luar dari rumah sakit, apabila didapat di panti asuhan,
asrama, atau panti jompo masih dimasukkan ke dalam kriteria CAP. Sedangkan HAP
didapati 48 jam atau lebih setelah seseorang dirawat di rumah sakit. Pneumonia yang
didapati setelah proses intubasi tidak dimasukkan dalam kriteria ini, tetapi termasuk ke
dalam Ventilator Associated Pneumonia (VAP). Pada pemeriksaan laborat biasanya
dilakukan pemeriksaan darah rutin.
II. VII Patologi
a. Pneumnia lobar
Pneumonia lobar melibatkan seluruh lobus paru secara homogen.

Terdapat empat fase, yaitu :


1) Kongesti (4 s/d 12 jam pertama) Eksudat serosa masuk ke dalam alveoli melalui
pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. Serta didapatkan eksudat yang jernih,
bakeri dalam jumlah yang banyak, neutrofil, dan makrofag dalam alveolus.

2) Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) Paru-paru tampak merah dan bergranula
karena sel-sel darah merah, fibrin dan lekosit polimorfonuklear mengisi alveoli. Lobus
dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna menjadi
merah dan pada perabaan seperti hepar. Stadium ini berlangsung sangat singkat.
3) Hepatisasi kelabu (3 s/d 8 hari) Lobus paru masih tetap padat dan warna merah
menjadi tampak kelabu karena lekosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam
alveoli dan permukaan pleura yang terserang melakukan fagositosis terhadap
pneumococcus. Kapiler tidak lagi mengalami kongesti.
4) Resolusi (7 s/d 11 hari) Eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag
sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.(2,5) Bercak-bercak infiltrat yang
terbentuk pada pneumonia lobaris adalah bercak-bercak yang tidak teratur, berbeda
dengan bronkopneumonia dimana penyebaran bercaknya mengikuti pembagian dan
penyebaran bronkus dan ditandai dengan adanya daerah-daerah konsolidasi terbatas
yang mengelilingi saluran-saluran nafas yang lebih kecil.

b. Bronkopneumonia
Infeksi melibatkan bronkus dan sebagian lobus paru, biasanya pada porsi inferior dan
posterior. disebabkan olen infeksi stafilokokus. Infeksi ini bermula dari jalan nafas dan
neyebar ke alveoli peribronkial. Penyebaran intraalveolar pada periferjalan nafas
minimal, konsolidSi cenderung tetap dalam distri usi segmen paru tertentu saja.
Inflamasi menyebabkan obstruksi bronkial dan bronkiolar menyebabman atelektasis.
c. Pneumonia interstitial
Proses inflamasi terjadi pada dinding alveolar dan jaringan ikat di sekitar
bronchovascular tree. Pneumonia jenis ini biasanya disebabkan oleh infeksi virus dan
mikoplasma. Pada tipe ini proses inflamasi melibatkan septum alveolar dan struktur
pendukung interstitial, membentuk pola retikular atau linear.
d. Pneumonia milier
Adanya lesi yang kecil-kecil, banyak dan menyebar akibat penyebaran patogen melalui
pembuluh darah.
II. VIII Radiologi
a. Lobar Pneumonia (Ro Thorax)
Terdapat gambaran opak homogen sesuai dengan pola dari lobus paru. Tampakan opak
lebih jelas pada bagian fisura paru. Bagian pronkus yang tidak opak dalama lobus yang
terkonsolidasi (tampakan opak) akan menunjukkan gambaran sir bronchogram.
Air-space pneumonia yang sering menempati sebuah lobur disebut lobar pneumonia,
yang bermulai dari ruang udara distal dan menyebar melalui pori-pori Kohn dan kanal
Lambert untuk memproduksi opasifikasi lobar nonsegmental. Semakin lama, infeksi
dapat menyebar ke seluruh lobus, menghasilkan pola lobar klasik yang berasosiasi kuat
dengan pneumonia pneumokokal. Keterlibatan ruang udara terminal dengan bronchial
sparing akan memberi tampakan air bronchogram, yang merupakan udara terjebak di
dalam pus yang berada di dalam bronchiolus. Air bronchogram tampak seperti tubuler
dan lusensi bercabang di dalam konsolidasi. Demikian juga, sedikit keterlibatan jalan
napas menjadikan atelektasis post-obstruksi tidak biasa dan volume paru pun masih
terjaga.
b. Bronchopneumonia
Tampak gambaran nodul kecil multipel yang berkumpul. Gambaran ini menunjukkan
area baru yang terdapat inflamasi dan dipisahkan oleh parenkim paru yang normal.
Distribusinya kadang bilateral dan asimetrik, lebih dominan terdapat pada basal paru.
Tampak infiltrat peribronkial semi opak dan inhomogen di daerah hilus yang

menyebabkanbatas jantung menghilang (sillhouette sign). Tampak juga air bronkogram,


dapat terjadi nekrosis dan kavitasi pada paenkim paru. Pada keadaan yang lebih lanjut
dimana semakin banyak alveolus yang terlibat maka gambara opak menjadi terlihat
homogen.
c. Pneumonia interstitial
Ditandai dengan pola linear atau retikuler pada parenkim paru. Pada tahap akhir,
dijumpai jaringan interstitial sebagai densitas noduler yang kecil. Terdapat tampakan
seperti

atelektasis

disebabkan

karena

adanya

pembesaran

interstitial

yang

mengobstruksi saluran napas kecil. Alveolus masih berisi udara sehingga tampakan air
bronkogram tidak tampak. Patogen penyebab tersering adalah mikoplasma dan virus.

Gambar 1.
Foto thorax pneumonia

II. IX Tatalaksana
Recommended empirical antibiotics for community acquired pneumonia : (berdasarkan
Amertican Thoracic Society, 2014)

Outpatient reatment
1.) Previously healthy and no use of antimicrobials within the previous 3 months
- Macrolide (strong recommendation;level I evidence)
- Doxycyline (weakrecommendation;level III evidence)
2.) Presence of comorbidities such as chronic heart,lung,liver,renaldisease;
diabetesmellitus; alcoholism; malignancies; asplenia; immunosuppressing conditions or
use of immunosuppressing drugs; or use of antimicrobials within the previous 3 months
(in which case analternative from a different class should be selected)
- A respiratory fluoroquinolone (moxifloxacin,gemifloxacin,or
levofloxacin[750mg])(strong recommendation;level I evidence)
- Ab-lactam plusamacrolide (strong recommendation; level I evidence) 3.In regions
with a highrate (125%) of infection with high-level (MIC16mg/mL) macrolide-resistant
Streptococcus pneumoniae, consider use of alternative agents listed above in (2) for
patients without comorbidities (moderate recommendation; level III evidence)
Inpatients,non-ICUtreatment
- A respiratory fuoroquinolone (strong recommendation; level I evidence)
- Ab-lactam plusa macrolide (strong recommendation; level Ievidence)
Inpatients,ICUtreatment
- Ab-lactam(cefotaxime,ceftriaxone,orampicillin-sulbactam) plus either azithromycin
(level II evidence) or a respiratory fluoroquinolone (level I evidence)
(strongrecommendation) (forpenicillin allergic patients, a respiratory fluoroquinolone
and aztreonam are recommended)
Special concerns If pseudomonas is a consideration
An antipneumococcal, antipseudomonal b-lactam (piperacillintazobactam, cefepime,
imipenem, ormeropenem) plus either ciprofloxacin or levofloxacin (750mg) or
Theaboveb-lactam plus an aminoglycoside and azithromycin or Theabove b- lactam
plus an aminoglycoside and an anti pneumococcal fluoroquinolone (for penicillinallergic patients, substitute aztreonam for above b-lactam) (moderate recommendation;
level III evidence) If CA-MRSA is aconsideration, add vancomycinor linezolid
(moderate recommendation; level III evidence)
Tabel 9 Menunjukan terapi antibiotic definitive sesuai dengan agen penyebabnya.

II.X Prognosis
Prognosis tergantung dari penyebabnya juga. Kebanyakan apabila pneumonia
dideteksi cepat dengan penanganan yang tepat akan berhasil baik. Adanya penyakit
penyerta seperti bakteremia, empiema dan kerusakan parenkim sisa bisa memperburuk
keadaan dan meningkatkan angka kematian. Jika penyebabnya agen bakteri gram positif
angka kesembuhan penderita mengalami kemajuan besar dengan penatalaksanaan
sekarang, angka mortalitas berkisar dari 10 30% dan bervariasi dengan lamanya sakit
yang dialami sebelum penderita dirawat, umur penderita, pengobatan yang memadai
serta adanya penyakit yang menyertai. Semua penderita dengan hasil biakan
staphylococcus yang positif sebaiknya harus diuji terhadap kemungkinan fibrosis kistik
dan terhadap penyakit defisiensi imunologis.

BAB III. Kesimpulan


Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
(alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman yang ditandai oleh gejala klinis
batuk, demam tinggi dan disertai adanya nafas cepat ataupun tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam. Pneumonia seringkali dikaitkan dengan penyakit yang berat
dan mnyebabkan kematian. Padahal apabla dapat dicegah dan ditangani dengan baik,
cepat dan tepat dapat menghasilkan prognosis yang cukup baik. Penyebab pneumonia
dapat berupa bakteri baik yang gram positif dan negative, virus, jamur, mycoplasma,
maupun parasite.
Penatalaksanaan awal yang perlu dilakukan, pemeriksaan penunjang radiologis
berupa foto polos, apabila gejala sesuai pneumonia tetapi foto polos tidak mendukung,
perlu dilakukan konfirmasi dengan foto ulang dalam waktu 24-48 jam atau segera
dengan CT-scan. Pada foto polos dapat ditentukan oleh tampakan semiopak inhomogen
pada paru disertai dengan tampakan air bronchogram. pada kasus yang berat dapat
ditemukan efusi pleura dan empyema.
Farmakoterapi untuk pneumonia apabila telah diketahui jelas penyebabnya
bakteri makan dapat diberikan antibiotic secepatnya bahkan saat pertama kali masuk
IGD. Antibiotik dapat diberikan secara empiric, atau antibiotic pilihan sesuai dengan
agen penyebab pneumonia.

REFERENSI
1.Dahlan, Z. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Pulmonologi. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta
2.Price SA, Wilson LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,
Edisi 6, Volume 2: Penerbit EGC. Jakarta..
3. Behrman RE, Vaughan VC, Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Edisi 12,
Penerbit EGC, Jakarta, 1991
4.Kumala P, dkk (ed), Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, Penerbit EGC,
Jakarta, 1998,
5.Isselbacher, et al, Harrison, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13, Vol. 2,
Penerbit EGC, Jakarta, 1995
6.Malueka RG, Radiologi Diagnostik, Edisi 6. Penerbit Marvell: Yogyakarta, 2006
7.Woodhead M, et al., 2014. NICE guideline: Pneumonia: diagnosis and
management of community-and hospital-acquired pneumonia in adults. Volum: hal
3-20
8.Rubenstein, D., Wayne, D., Bradley, J. 2007. Lecture Notes: Kedokteran Klinis.
Edisi VI. EMS : Jakarta
9.Lionel A. Mandell, et al., 2011. Infectious Diseases Society of America/American
Thoracic Society Consensus Guidelines on the Management of CommunityAcquired Pneumonia in Adults