Anda di halaman 1dari 29

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

UPAYA PROMOSI KESEHATAN


Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan

Kode

: F.1

Kegiatan : Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun bagi Anak-anak

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan
membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia
untuk menjadi bersih dan memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan
sabun dikenal juga sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini
dilakukan karena tangan seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan
menyebabkan patogen berpindah dari satu orang ke orang lain, baik dengan kontak
langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan
lain seperti handuk, gelas).
Tangan yang bersentuhan langsung dengan kotoran manusia dan binatang,
ataupun cairan tubuh lain (seperti ingus, dan makanan/minuman yang
terkontaminasi saat tidak dicuci dengan sabun dapat memindahkan bakteri, virus,
dan parasit pada orang lain yang tidak sadar bahwa dirinya sedang ditularkan).
PBB telah mencanangkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Mencuci Tangan
dengan Sabun Sedunia. Ada 20 negara di dunia yang akan berpartisipasi aktif
dalam hal ini, salah satu di antaranya adalah Indonesia.
Perilaku, khususnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ) merupakan
komponen penting dalam pembangunan kesehatan dimana diperlukan adanya
kesadaran, kemampuan, dan kemauan hidup sehat dari setiap penduduk sehingga
derajat kesehatan yang optimal dapat terwujud, dan dengan demikian masyarakat
diharapkan mampu berpartisipasi dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatannya sendiri. Sedangkan pembangunan kesehatan mempunyai peran
dalam menentukan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia ( SDM ) yang
1

merupakan fokus pembangunan nasional. Oleh karena itu, PHBS tentang budaya
cuci tangan ini perlu diselenggarakan sebaik-baiknya agar dapat memberikan
sumbangan yang nyata baik dalam pembangunan kesehatan maupun pembangunan
nasional.

1.2 Tujuan dan Target Kegiatan


Tujuan Kegiatan :
Penyuluhan tentang Cuci Tangan Pakai Sabun bagi Anak-anak ini bertujuan
meningkatkan kepedulian masyarakat dan khususnya pada anak-anak untuk
melakukan pencegahan penyakit menular serta mempraktekkan bersama cara mencuci
tangan menggunakan sabun dengan baik dan benar.
Target Kegiatan :
Melalui kegiatan penyuluhan mengenai pentingnya mencuci tangan pakai
sabun ini menyebabkan masyarakat dan khususnya anak-anak peduli dan waspada
mengenai bahaya penyakit yang dapat ditimbulkan akibat kurangnya menjaga
kebersihan diri sehingga penyakit yang dapat ditularkan akibat kurangnya higienitas
diri dapat dicegah.

BAB 2
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
2.1 Bentuk Kegiatan
Kegiatan penyuluhan akan ditujukan kepada siswa-siswi SDN Rambipuji 03,
Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Jember. Pada penyuluhan ini akan
menggunakan metode ceramah dan praktek cara mencuci tangan pakai sabun yang
benar sebagai metode informasi kepada peserta penyuluhan. Akan dijelaskan
mengenai bahaya kurangnya menjaga kebersihan tubuh.
2.2 Nara Sumber
Nara sumber adalah dr. Deffy Lettyzia Riawan ,dokter Internsip Puskesmas
Rambipuji, Jember periode 16 Juli 2015 16 Oktober 2015.
2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Selasa, 4 Agustus 2015
Tempat : SDN Rambipuji 03, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Jember
2.4 Sasaran Penyuluhan
Sasaran penyuluhan adalah siswa-siswi kelas 1-6 SDN Rambipuji 03, Desa
Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Jember
2.5 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan penyuluh adalah metode ceramah dan praktek cara
mencuci tangan pakai sabun yang benar.

BAB 3
PELAKSANAAN INTERVENSI
3

Penyuluhan mengenai cuci tangan pakai sabun telah selesai diadakan di SDN
Rambipuji 03 Desa Rambipuji pada tanggal 4 Agustus 2015. Kegiatan tersebut terdiri
atas penyuluhan dan praktek cara mencuci tangan pakai sabun yang benar..
Penyuluhan dilakukan di ruang kelas masing-masing sekolah tersebut.
Penyuluhan dihadiri oleh petugas puskesmas, guru kelas, dan siswa-siswi.
Penyuluhan disampaikan dengan metode langsung (direct communication/ face to
face communication) dan penyampaiannya dengan mempraktekkan langsung materi
penyuluhan kepada para peserta.
Penyuluhan

diawali

dengan

perkenalan

dengan

pembicara

disertai

pemeriksaan umum dan pemeriksaan gigi terhadaap siswa-siswi sekolah dasar.


Kemudian, dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang manfaat cuci tangan
menggunakan sabun untuk anak-anak serta diakhiri dengan mempraktekkan bersama
cara mencuci tangan menggunakan sabun dengan baik dan benar. Selain itu, peserta
diberi pesan agar materi yang diperoleh selama penyuluhan dapat disampaikan pada
teman, tetangga dan keluarga, serta diterapkan di lingkungan sekitar

BAB 4
DOKUMENTASI

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN
Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan


5

Kode

: F.2

Kegiatan : Penyuluhan Jamban Sehat


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada jamban keluarga
merupakan masalah kesehatan yang perlumendapatkan prioritas. Fasilitas jamban
keluarga dimasyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena
menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan
perilaku,tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama
kematian di Indonesia. Bahkan pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit
berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi
dan balita. Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas
intervensi kesehatan lingkungan (Data Susenas 2001).
Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat darisemakin
besarnya tekanan bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan masalah jamban keluarga
yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur cacing
danbahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat
kesehatan, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung ke arah pola hidup bersih dan
sehat.
Para ahli kesehatan masyarakat sebetulnya sudah sangat sepakat dengan kesimpulan H.L.
Bloom yang mengatakan bahwa kontribusi terbesar terhadap terciptanya peningkatan
derajat kesehatan seseorang berasal dari kualitas kesehatan lingkungan dibandingkan
faktor yang lain. Namun energi dan kebijakan anggaran agaknya masih sangat
cenderung kepada program yang bersifat kuratif
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dilakukan penyuluhan pada warga
kecamatan cimanggu mengenai sanitasi lingkungan khususnya masalah jamban sehat
keluarga.
1.2 Tujuan dan Target Kegiatan
Tujuan Kegiatan :

Tujuan dari diadakan penyuluhan mengenai jamban sehat kepada peserta


posyandu Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji ini adalah untuk memberikan
pengetahuan tentang pentingnya adanya jamban di rumah agar masyarakat terhindar
dari penyakit diare serta kecacingan serta memberikan pengetahuan dan memotivasi
masyarakat untuk dapat membuat jamban sehat atas kesadaran diri sendiri sehingga
masyarakat dapat berperilaku hidup bersih dan sehat
Target Kegiatan :
Melalui kegiatan penyuluhan jamban sehat, diharapkan meningkatkan
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya buang air besar di jamban agar dapat
mencegah terserang penyakit. sehingga para warga dapat menerapkan pembuatan
jamban yang sehat dan merubah perilaku buang air besar di sungai menjadi buang air
besar di jamban.

BAB 2
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
2.1 Bentuk Kegiatan
Kegiatan penyuluhan akan ditujukan kepada peserta posyandu di Desa
Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Pada penyuluhan ini akan
menggunakan metode ceramah sebagai metode informasi kepada peserta penyuluhan.
7

Akan dijelaskan mengenai pengertian dan manfaat adanya jamban sehat di rumah.
Peserta juga akan diberikan kesempatan untuk bertanya setelah presentasi selesai
untuk mengetahui pengetahuan peserta tentang informasi yang telah diberikan.
2.2 Nara Sumber
Nara sumber adalah dr. Deffy Lettyzia Riawan, dokter Internsip Puskesmas
Rambipuji, Jember periode 16 Juli 2015 16 Oktober 2015.
2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Sabtu, 22 Agustus 2015
Tempat : Balai Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember
2.4 Sasaran Penyuluhan
Sasaran penyuluhan adalah peserta Posyandu Desa Rambipuji, Kecamatan
Rambipuji, Kabupaten Jember.

2.5 Metode yang Digunakan


Metode yang digunakan penyuluh adalah metode ceramah dan tanya jawab.

BAB 3
PELAKSANAAN INTERVENSI
Penyuluhan mengenai jamban sehat telah selesai diadakan di Posyandu Desa
Rambipuji, Kecamatan Rambipuji pada tanggal 22 Agustus 2015. Kegiatan tersebut
terdiri atas penyuluhan dan sesi tanya jawab. Metode yang digunakan selama proses
penyuluhan berlangsung adalah metode ceramah yang disampaikan dangan santai
tetapi serius dan dapat dipahami peserta. Dan di dalam proses penyuluhan tersebut
ada proses interaksi atau feed back antara penyuluh dan sasaran yang berguna bagi
sasaran dalam memperjelas tujuan program dan isi materi yang disampaikan.
Proses penyuluhan berjalan cukup lancar. Para peserta penyuluhan juga cukup
baik menyimak penjelasan dan di akhir acara cukup aktif menanyakan berbagai
macam pertanyaan seputar jamban sehat. Penyuluhan ini diharapkan dapat
memperluas pengetahuan pendengarnya mengenai syarat-syarat yang wajib dipenuhi
sehingga suatu rumah dapat dikatakan rumah sehat.

BAB 4
DOKUMENTASI
9

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK
10

Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan

Kode

: F.3

Kegiatan : Penyuluhan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI)

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
ASI (Air Susu Ibu) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI memiliki
kandungan gizi yang bermanfaat bagi bayi dan lebih higienis. Namun seiring dengan
pertambahan umur, bayi akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Oleh
sebab itu diperlukan zat gizi yang lebih banyak dan beragam untuk mendukung
tumbuh dan kembang bayi. Zat gizi tersebut tidak dapat dipenuhi dengan pemberian
ASI saja, melainkan diperlukan asupan tambahan dari makanan-makanan lain.
Pemberian ASI eksklusif dilakukan hingga bayi berusia 6 bulan, selanjutnya
diperlukan asupan gizi dari makanan lain. Makanan tambahan yang diberikan
berdampingan dengan ASI setelah bayi berusia 6 bulan disebut dengan makanan
pendamping ASI (MP-ASI). MP-ASI diberikan setelah bayi berusia 6 bulan karena
pada usia ini bayi sudah mulai mampu untuk menggigit, mengunyah, dan menelan
makanan dengan baik.
Selain bermanfaat untuk melengkapi kandungan gizi ASI, pemberian MP-ASI
juga berperan dalam perkembangan kemampuan bayi dalam menggigit, mengunyah,
dan menelan makanan serta belajar untuk mengenal berbagai macam makanan. Hal
tersebut merupakan proses adaptasi untuk beralih dari konsumsi makanan cair ke
makanan yang lebih padat, hingga pada akhirnya bayi akan lepas sepenuhnya dari
ASI. Pemberian MP-ASI dilakukan secara bertahap seiring dengan pertambahan umur
bayi.
Hal-hal tersebut di atas menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan akan
pemberian MP-ASI yang tepat dapat mendukung tumbuh dan kembang yang baik
bagi bayi.

1.2 Tujuan dan Target Kegiatan


11

Tujuan Kegiatan :
Penyuluhan tentang Makanan Pendamping ASI ini bertujuan meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang apa saja jenis-jenis makanan pendamping ASI.
Selain itu, menjelaskan kapan mulai diberikannya makanan pendamping ASI,
sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin bagi anak tercukupi.
Target Kegiatan :
Melalui kegiatan penyuluhan ini, diharapkan meningkatkan kesadaran
masyarakat terutama keluarga muda yang sedang memiliki balita di Desa Rambipuji,
Kecamatan Rambipuji, Jember tentang apa kapan pemberian makanan pendamping
ASI dan apa saja jenisnya untuk anak agar dapat mencapai pertumbuhan dan
perkembangan optimal.

BAB 2
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

12

2.1 Bentuk Kegiatan


Kegiatan penyuluhan akan ditujukan kepada masyarakat di Posyandu
Bougenville 43 Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Jember. Pada penyuluhan ini
akan menggunakan metode ceramah sebagai metode informasi kepada peserta
penyuluhan. Akan dijelaskan mengenai apa saja jenis-jenis makanan pendamping
ASI. Selain itu, menjelaskan kapan mulai diberikannya makanan pendamping ASI,
sehingga kebutuhan nutrisi dan vitamin bagi anak tercukupi. Peserta juga akan
diberikan waktu setelah presentasi selesai untuk memberikan pertanyaan kepada
pemapar apabila ada informasi yang belum jelas

tentang informasi yang telah

diberikan.
2.6 Nara Sumber
Nara sumber adalah dr. Deffy Lettyzia Riawan, dokter Internsip Puskesmas
Rambipuji, Jember periode 16 Juli 2015 16 Oktober 2015.
2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Rabu, 2 September 2015
Tempat : Posyandu Bougenville 43, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Jember.
2.4 Sasaran Penyuluhan
Sasaran penyuluhan adalah ibu-ibu posyandu dan kader posyandu di Posyandu
Bougenville 43, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Jember.
2.5 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan penyuluh adalah metode ceramah dan tanya jawab.

13

BAB 3
PELAKSANAAN INTERVENSI
Penyuluhan mengenai makanan pendamping ASI telah selesai diadakan di
Posyandu Bougenville 43, Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, Jember. pada tanggal
2 September 2015. Kegiatan tersebut terdiri atas penyuluhan dan sesi tanya jawab.
Metode yang digunakan selama proses penyuluhan berlangsung adalah metode
ceramah yang disampaikan dangan santai tetapi serius dan dapat dipahami peserta.
Dan di dalam proses penyuluhan tersebut ada proses interaksi atau feed back antara
penyuluh dan sasaran yang berguna bagi sasaran dalam memperjelas tujuan program
dan isi materi yang disampaikan.
Proses penyuluhan berjalan cukup lancar. Para peserta penyuluhan juga cukup
baik menyimak penjelasan dan di akhir acara cukup aktif menanyakan berbagai
macam pertanyaan seputar makanan pendamping ASI. Penyuluhan ini diharapkan
dapat memperluas pengetahuan pendengarnya mengenai apa saja jenis-jenis
pendamping ASI, kapan pemberiannya serta manfaat dan sumber vitamin sehingga
kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi secara seimbang.

BAB 4
DOKUMENTASI
14

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


UPAYA PENINGKATAN KUALITAS GIZI
Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan

Kode

: F.4

Kegiatan : Gizi Pada Lansia

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Makanan yang aman dan sehat merupakan hal yang sangat penting. Banyak
penyakit yang dapat ditimbulkan dari makanan, antara lain keracunan, diare, muntah,
hepatitis, bahkan kegemukan atau obesitas sering disebabkan karena pola makan
yang tidak sehat. Makanan yang sehat dan aman tidak harus mahal, banyak sekali
bahan makanan yang sehat dan aman dapat ditemukan di sekitar kita dengan harga
yang terjangkau.
15

Saat ini banyak sekali makanan instant yang mengandung zat-zat kimia yang
tidak baik bagi kesehatan tubuh jika dikonsumsi setiap hari. Terutama jajanan-jajanan
yang sering ditemukan mengandung pengawet dan pewarna tekstil yang sangat
berbahaya bagi tubuh. Oleh karena itu, kita wajib berhati-hati dan senantiasa menjaga
makanan yang kita makan sehari-hari, baik dalam hal menyimpan dan mengolahnya.
1.2 Tujuan dan Target Kegiatan
Tujuan Kegiatan :
Tujuan dari diadakan penyuluhan tentang gizi pada lansia ini adalah
memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran tentang makanan sehat dan
aman yang baik untuk dikonsumsi sendiri dan keluarga maupun diperdagangkan.
Target Kegiatan :
Melalui kegiatan penyuluhan tentang diet bagi lansia ini diharapkan akan
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai makanan apa saja yang aman untuk
di konsumsi pada lansia berikut cara pengaturan diet tersebut sehingga mereka dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari - hari. Hingga pada akhirnya diharapkan
dapat meningkatkan status kesehatan pada lansia.

16

BAB 2
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
2.1 Bentuk Kegiatan
Kegiatan penyuluhan akan ditujukan kepada peserta posyandu lansia di
Posyandu Lansia Flamboyan, Desa Rambipuji, Kecamatan Rambipuji, Jember. Pada
penyuluhan ini akan menggunakan metode ceramah sebagai metode informasi kepada
peserta penyuluhan. Akan dijelaskan mengenai jenis-jenis makanan yang dapat
dikonsumsi pada lansia
2.2 Nara Sumber
Nara sumber adalah dr. Deffy Lettyzia Riawan, dokter Internsip Puskesmas
Rambipuji, Jember periode 16 Juli 2015 16 Oktober 2015.
2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Rabu, 9 September 2015
Tempat : Posyandu

Lansia

Flamboyan,

Desa

Rambigundam,

Kecamatan

Rambipuji, Jember.
2.4 Sasaran Penyuluhan

17

Sasaran penyuluhan adalah peserta Posyandu lansia Flamboyan ,Desa


Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Jember.
2.5 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan penyuluh adalah metode ceramah dan tanya jawab

18

BAB 3
PELAKSANAAN INTERVENSI
Penyuluhan mengenai gizi pada lansia telah selesai diadakan di Posyandu
Lansia Flamboyan Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji pada tanggal 9
September 2015. Kegiatan tersebut terdiri atas penyuluhan dan tanya jawab.
Metode yang digunakan selama proses penyuluhan berlangsung adalah metode
ceramah dan konseling yang disampaikan dangan santai tetapi serius dan dapat
dipahami peserta. Dan di dalam proses penyuluhan tersebut ada proses interaksi atau
feed back antara penyuluh dan sasaran yang berguna bagi sasaran dalam memperjelas
tujuan program dan isi materi yang disampaikan.
Proses penyuluhan berjalan cukup lancar. Para peserta penyuluhan juga cukup
baik menyimak penjelasan dan di akhir acara cukup aktif menanyakan berbagai
macam pertanyaan seputar makanan apa saja yang dapat dikonsumsi pada lansia.
Penyuluhan ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan

masyarakat disekitar

Posyandu Bougenville 3, Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, kabupaten


Jember tentang gizi pada lansia agar masyarakat dapat memilah asupan makanan apa
yang baik dan yang tidak baik dikonsumsi bagi lansia .

BAB 4
19

DOKUMENTASI

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


20

UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR


DAN TIDAK MENULAR
Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan

Kode

: F.5

Kegiatan : Penyuluhan Diare


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Diare cair akut adalah buang air besar lembek atau cair atau bahkan dapat
berupa air saja dengan frekuensi lebih dari 3 kali atau lebih sering dari biasanya
dalam 24 jam dan berlangsung kurang dari 14 hari. Diare masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di Negara berkembang termasuk di Indonesia dan
merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi di anak,
terutama dibawah usia 5 tahun. Diare akut sampai saat ini masih merupakan
masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju.
Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan
penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.
Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi
masyarakat tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah
kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1
dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi.
Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan
waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter
jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan
Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).
Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta
penduduk setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap
tahunnya di banding di negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3
kali setiap tahun. Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian
sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7
kali setiap tahunnya dibanding di negara berkembang lainnya mengalami serangan
21

diare 3 kali setiap tahun. Di Indonesia dari 2.812 pasien diare yang disebabkan
bakteri yang datang kerumah sakit dari beberapa provinsi seperti Jakarta, Padang,
Medan, Denpasar, Pontianak, Makasar dan Batam penyebab terbanyak adalah
Vibrio cholerae 01, diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V.
Parahaemoliticus, Salmonella typhi, Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01,
dan Salmonella paratyphi A.
1.2 Tujuan dan Target Kegiatan
Tujuan Kegiatan :
Tujuan dari diadakan penyuluhan tentang diare kepada kader dan masyarakat
yang menghadiri posyandu di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji ini secara
umum adalah untuk mengetahui apa saja penyebab diare, bagaimana penanganan
pertama terhadap diare dan bagaimana pencegahan agar tidak terkena diare.
Target Kegiatan :
Melalui kegiatan penyuluhan tentang diare ini diharapkan akan meningkatkan
pengetahuan masyarakat, terutama kader dan masyarakat Desa Kaliwining,
Kecamatan Rambipuji, mengenai definisi diare, cara penularan, dan cara
pencegahannya serta penanganan pertama terhadap diare. Penyuluhan ini juga
diharapkan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan
terutama diare di wilayah kerja Puskesmas Rambipuji.

BAB 2
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI
22

2.1 Bentuk Kegiatan


Kegiatan penyuluhan akan ditujukan kepada peserta Posyandu Bougenvile 34
Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Pada penyuluhan ini akan menggunakan
metode ceramah sebagai metode informasi kepada peserta penyuluhan. Akan
dijelaskan mengenai diare.
2.2 Nara Sumber
Nara sumber adalah dr. Deffy Lettyzia Riawan, dokter Internsip Puskesmas
Rambipuji, Jember periode 16 Ju;i 2015- 16 Oktober 2015.
2.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Sabtu, 12 September 2015
Tempat : Posyandu Bougenville 34, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji,
Jember
2.4 Sasaran Penyuluhan
Sasaran penyuluhan adalah kader posyandu dan masyarakat Desa Kaliwining,
Kecamatan Rambipuji, Jember
2.5 Metode yang Digunakan
Metode yang digunakan penyuluh adalah metode ceramah dan tanya jawab.

23

BAB 3
PELAKSANAAN INTERVENSI
Penyuluhan mengenai tuberculosis anak telah selesai diadakan di Posyandu
Bogenvile 34 Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji pada tanggal 12 September
2015. Kegiatan tersebut terdiri atas penyuluhan dan sesi tanya jawab.
Metode yang digunakan selama proses penyuluhan berlangsung adalah metode
ceramah yang disampaikan dangan santai tetapi serius dan dapat dipahami peserta.
Dan di dalam proses penyuluhan tersebut ada proses interaksi atau feed back antara
penyuluh dan sasaran yang berguna bagi sasaran dalam memperjelas tujuan program
dan isi materi yang disampaikan.
Proses penyuluhan berjalan cukup lancar. Para peserta penyuluhan juga cukup
baik menyimak penjelasan dan di akhir acara cukup aktif menanyakan berbagai
macam pertanyaan seputar tuberkulosis anak. Penyuluhan ini diharapkan dapat
memperluas pengetahuan pendengarnya mengenai diare, penanganan pertama serta
pencegahan terjadinya diare.

BAB 4
DOKUMENTASI
24

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT


U PAYA P E N G O B ATAN D A S A R
25

Nama

: dr. Deffy Lettyzia Riawan

Kode

: F.6

Kegiatan : Laporan Kasus Skabies

I.

TEMPAT DAN WAKTU


Waktu
: 15 September 2015
Tempat
: Ruang Balai Pengobatan PKM Rambipuji
Metode
: Anamnesis dan pemeriksaan fisik

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis kelamin
Umur
Alamat
Status Pernikahan
Suku bangsa
Agama
Pekerjaan
Berat Badan

: Tn A
: Laki-laki
: 43 tahun
: Kaliwining
: Menikah
: Jawa
: Islam
: Pegawai Pabrik
: 68 kg

III. HASIL PEMERIKSAAN


A. Subyektif (Anamnesis)
1. Keluhan Utama
:
Gatal pada kedua tangan dan kemaluan
2. Keluhan Penyerta
:
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang sendiri ke balai pengobatan Puskesmas Rambipuji
mengeluh gatal pada kedua tangan dan kemaluannya sejak 1 bulan yang lalu.
Gatal dirasakan semakin meluas, dan sering berpindah tempat, hilang timbul.
Gatal lebih parah saat malam hari. Tidak didapatkan luka pada tangan pasien,
hanya terkadang kulit berwarna merah. Pasien mengeluh terdapat beberapa
lesi kecil pada kemaluannya, berwarna putih keabuan. Tidak didapatkan
keluhan panas atau nyeri. Keluhan yang sama juga dirasakan oleh anak dan
istri pasien sejak 2 bulan yang lalu, namun sekarang keluhan pada mereka
sudah tidak ada lagi. Sebelum muncul keluhan, anak dan istri pasien sempat
menginap dirumah adik pasien. Keluhan ini juga didapatkan pada keponakan
pasien, yang merupakan siswa pesantren. Keluhan gatal lalu muncul beberapa

26

hari setelah anak dan istri pasien kembali ke rumah. Pasien belum pernah
mengobati sendiri ataupun berobat kedokter.

4. Riwayat Penyakit Dahulu :


DM HT Alergi 5. Riwayat Penyakit Keluarga :
Anak dan istri korban pernah sakit seperti ini
6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik :
Pasien tinggal bersama anak dan istrinya
B. Pemeriksaan Fisik
-

Keadaan umum
: Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
Kesan gizi
: Tampak gizi cukup
Tanda vital
o
Tekanan darah : 120/80 mmHg
o
Nadi
: 82x/menit
o
Suhu
: 360C
o
Pernapasan : 20x/menit

- Status Generalis
- Kepala : Oedem kelopak mata - / Konjunctiva anemis - / Skleraikterus - / - Leher

: Pembesaran KGB (-)


Bendungan vena leher (-)

- Thorax : Bentuk normal, gerak simetris


- Pulmo

: Suara nafas vesikuler, ronchi - / - , wheezing - / -

- Cor

: S1S2tunggal, murmur (-), gallop (-)

- Abdomen

: I : membesar, bekas jahitan operasi (-), scar (-)


P : teraba janin
P : tidak dilakukan
A : BU dalam batas normal
+

27

- Ekstremitas

: akral hangat

oedem

Regio genitalia externa : didapatkan papul multiple pada batang penis dan
pubis. Terdapat bentukan papul berbentuk garis lurus dan berkelok kelok
warna putih keabu-abuan, disertai ekskoriasi.
C. Diagnosa
Skabies
D. Planning
1. Terapi :
Medikamentosa :
Scabimide cream S 1ddue malam hari, selama 8-12 jam
CTM 4mg S 1dd tab 1 malam hari
-

Non medikamentosa
1. Pengobatan harus dilakukan secara bersamaan pada seluruh orang
yang tinggal dalam rumah
2. Persiapan untuk pengobatan :
o Seluruh pakaian yang ada dalam lemari dimasukkan kedalam
kantong plastic, dan diikat. Sisakan pakaian untuk 3 hari
kedepan
o Jemur seluruh pakaian yang sudah ada dalam plastic selama 3
hari kedepan
o Pada hari terakhir penjemuran (malam), oleskan obat pada
seluruh orang yang tinggal dirumah
3. Mandi seluruh badan sebelum memakai obat
4. Oleskan obat cream (skabimite) secara merata pada seluruh
badan, baik yang gatal ataupun tidak gatal, kecuali muka.
Pemakaian obat harus dibantu dengan orang lain. Diamkan selama
10 jam
5. Pagi hari sebelum mandi, turunkan sprei, sarung bantal, gorden,
dan karpet. Jemur sofa dan peralatanm rumah lainnya, atau semprot
dengan insektisida
6. Mandi seluruh badan hingga bersih
7. Kenakan pakaian yang telah dijemur selama 3 hari tadi
8. Penyuluhan hygiene perorangan dan lingkungan
o Tidak menggunakan peralatan pribadi secara bersama-sama dan
alas tidur diganti bila ternyata pernah digunakan oleh penderita
scabies
o Menghindari kontak langsung dengan penderita skabies.
28

29