Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Labirinitis adalah radang pada telinga dalam (labirin). Labirinitis yang mengenai
seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum atau difus dengan gejala vertigo berat dan
tuli saraf yang berat, sedangkan labirinitis yang terbatas atau labirinitis sirkumskripta
menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.
Labirinitis terjadi oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Terdapat dua
bentuk labirinitis, yaitu labirinitis fistula dan general labirinitis. General labirinitis
berdadasarkan infeksi dibagi 3 yaitu: oleh bakteri, virus dan zat toksik. Labirinitis bakterial
dibagi 2 yaitu, serosa dan supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa
difus. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis
supuratif kronik difus. Selain itu, ada juga yang disebut sebagai labirinitis toksik akibat
keracunan zat-zat toksik atau antibiotik yang ototoksik.
Pada labirinitis serosa, toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang,
sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi
kerusakan yang irreversible, seperti fibrosis dan osifikasi.
Pada kedua bentuk labirinitis itu, operasi harus segera dilakukan untuk
menghilangkan infeksi dari telinga tengah.Kadang-kadang diperlukan juga drenase nanah
dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis.Pemberian antibiotik yang adekuat
terutama ditujukan pada pengobatan otitis media kronik dengan atau tanpa kolesteatoma.

LABIRINITIS

Page

BAB II
PEMBAHASANAN
ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA
1. Anatomi
Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan. Telinga
terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam.

a. Telinga Luar
Telinga luar terdiri atas aurikula, meatus akustikus eksternus dan membran timpani.
Aurikulum disusun oleh tulang rawan elastis yang ditutupi oleh kulit tipis yang melekat erat
pada tulang rawan. Dalam lapisan subkutis terdapat beberapa lembar otot lurik yang pada
manusia rudimenter.
Meatus akustikus eksternus berbentuk tabung dengan panjangnya kira-kira 2,5- 3 cm
manakala diameternya bervariasi yaitu lateral biasanya lebih lebar dari medial. Meatus
LABIRINITIS

Page

akustikus eksternus terdiri dari dua bagian yaitu bagian lateral dan medial.Bagian lateral
adalah pars kartilagenus yaitu 1/3 luar merupakan lanjutan dari aurikulum, mempunyai
rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumenalis serta kulit melekat erat dengan
perikondrium.Bagian medial adalah pars osseus yaitu 2/3 medial merupakan bagian dari os
temporalis, tidak berambut, ada penyempitan di istmus yaitu kira-kira 5 mm dari membaran
timpani.
Membran

timpani

memisahkan

meatus

acusticus

externus

dan

telinga

tengah.Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga
dengan diameter kira-kira 1 cm. Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan bahgaian
bawah pars tensa.Pars flaksida hanya berlapis dua , yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel
kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia.
Pars tensa mempunyai satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar dan sirkuler
dibagian dalam. Serat inilah yang menyebabkan refleks cahaya.Refleks cahaya terletak
dikuadran anterior inferior.Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran
timpani disebut umbo.
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan
prosessus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga
didapatkan bagian superior-anterior,superior-posterior, inferior-anterior serta inferiorposterior, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.

LABIRINITIS

Page

b. Telinga Tengah
Telinga tengah atau rongga telinga adalah suatu ruang yang terisi udara yang terletak
di bagian petrosum tulang pendengaran. Ruang ini berbatasan di sebelah posterior dengan
ruang-ruang udara mastoid dan disebelah anterior dengan faring melalui tuba Eustachius.
Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan epitel
selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada pada celah tuba
Eustachius epitelnya selapis silindris bersilia.
Di bagian dalam rongga ini terdapat tiga jenis tulang pendengaran yaitu tulang
maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga
sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus
tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes melekat pada
tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam.
Ada dua otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot tensor
timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonya berjalan mula-mula ke arah
posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga
timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus. Tendo otot
LABIRINITIS

Page

stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior dan
berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes. Otot-otot ini berfungsi protektif
dengan cara meredam getaran-getaran berfrekuensi tinggi.
c. Telinga Dalam
Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum tulang
temporalis. Telinga dalam di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa) yang di da-lamnya
terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan perilimf sedangkan labirin
membranasea berisi cairan endolimf.
Labirin tulang terdiri atas tiga komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum,
dan koklea tulang. Labirin tulang ini di sebelah luar berbatasan dengan endosteum,
sedangkan di bagian dalam dipisahkan dari labirin membranasea yang terdapat di dalam
labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan endolimf.
Vestibulum merupakan bagian tengah labirin tulang, yang berhubungan dengan
rongga timpani melalui suatu membran yang dikenal sebagai fenestra ovale. Ke dalam
vestibulum bermuara tiga buah kanalis semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis anterior,
posterior dan lateral yang masing-masing saling tegak lurus.
Setiap saluran semisirkularis mempunyai pelebaran atau ampula. Walaupun ada tiga
saluran tetapi muaranya hanya lima karena ujung posterior saluran posterior yang tidak
berampula menyatu dengan ujung medial saluran anterior yang tidak bermapula dan
bermuara ke dalam bagian medial vestibulum oleh krus kommune. Ke arah anterior rongga
vestibulum berhubungan dengan koklea tulang dan fenestra rotundum.Koklea merupakan
tabung berpilin mirip rumah siput.
Bentuk keseluruhannya mirip kerucut dengan dua tiga-perempat putaran. Sumbu
koklea tulang di sebut mediolus. Tonjolan tulang yang terjulur dari modiolus membentuk
rabung spiral dengan suatu tumpukan tulang yang disebut lamina spiralis. Lamina spiralis
LABIRINITIS

Page

ini terdapat pembuluh darah dan ganglion spiralis, yang merupakan bagian koklear nervus
akustikus.
Labirin membransea terletak di dalam labirin tulang, merupakan suatu sistem
saluran yang saling berhubungan dilapisi epitel dan mengandung endolimf. Labirin ini
dipisahkan dari labirin tulang oleh ruang perilimf yang berisi cairan perilimf. Pada beberapa
tempat terdapat lembaran-lembaran jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah
melintasi ruang perilimf untuk menggantung labirin membranasea.Labirin membranasea
terdiri atas duktus semisirkularis membranasea,ultrikulus, sakulus dan ductus koklearis.

2. Fisiologi Telinga
a. Pendengaran
LABIRINITIS

Page

Mendengar adalah kemampuan untuk mendeteksi tekanan vibrasi udara tertentu dan
menginterpretasikannya sebagai bunyi. Telinga mengkonversi energi gelombang tekanan
menjadi impuls syaraf, dan korteks serebri mengkonversi impuls ini menjadi bunyi.Bunyi
memiliki frekuensi, amplitude dan bentuk gelombang. Frekuensi gelombang bunyi adalah
kecepatan osilasi gelombang udara per unit waktu. Telinga manusia dapat menangkap
frekuensi yang bervariasi dari sekitar 20 sampai 18,000 Hertz (Hz). Satu hertz adalah satu
siklus per detik.Amplitudo adalah ukuran energi atau intensitas fluktuasi tekanan.
Gelombang bunyi dengan amplitude yang berbeda diinterpretasikan sebagai perbedaan
dalam kekerasan.Ukuran bunyi dalam decibel (dB).
Gelombang bunyi ditangkap oleh aurikulum dan ditransmisikan ke dalam meatus
aukustikus eksternus kemudian bergerak menuju kanalis akustikus eksternus ke arah
membran timpani.Gelombang bunyi menyebabkan vibrasi membran timpani. Sifat
membrane adalah aperiodis yang tidak memiliki frekuensi alaminya sendiri tetapi
mengambil karakteristik vibrasi yang terjadi.
Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya
ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membaran timpani dengan
fenestra ovale.Muskulus stapedius dan tensor timpani berkontraksi secara reflektorik
sebagai respons terhadap bunyi yang keras.Kontraksi akan menyebabkan membran timpani
menjadi tegang osikular lebih kaku dan dengan demikian mengurangi transmisi suara.
Energi getar yang telah diamplifikasikan ini diteruskan ke stapes yang akan
menggerakan fenestra ovale sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.Getaran
mennggerakkan membrana Reissner mendorong endolimfa sehingga akan menimbulkan
gerakan relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.Proses ini merupakan
rangsangan mekanik yang menyebabkan defleksi seterosilia sel-sel rambut, sehingga kanal
ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermutan listrik dari badan sel. Keadaan ini
menimbulkan proses depolarisasi sel-sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke
LABIRINITIS

Page

dalam sinaps yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan
ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran(area 39-40) di lobus temporalis.
b. Keseimbangan
Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya
tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan
proprioseptif. Reseptor keseimbangan terdiri dari macula yaitu reseptor keseimbangan statis
yang terdapat di utrikulus dan sakulus manakala krista ampularis yaitu reseptor
keseimbangan dinamis yang terdapat pada kanal semisrkular, bereaksi terhadap gerakan
rotasi pada sumbu bidang.
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan
endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan silia
menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan masuk ke
dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang
penglepasan neurotransmitter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls sensoris
melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu berkas silia terdorong ke arah
berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi.
Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik
akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi
energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh
akibat percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi
mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung.

DEFINISI

LABIRINITIS

Page

Labirinitis adalah infeksi pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan oleh bakteri
atau virus. Labirinitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang
telinga tengah.

EPIDEMIOLOGI
Labirinitis lebih sering terjadi setelah infeksi telinga tengah, meningitis , atau infeksi
saluran pernafasan atas. Hal ini juga dapat terjadi setelah trauma, tumor, atau setelah
menelan zat-zat beracun. Hal ini dianggap lebih umum pada wanita dari pada laki-laki.Viral
labirinitis adalah bentuk paling umum labirinitis. Viral labirinitis biasanya diamati pada
orang dewasa berusia 30-60 tahun dan jarang diamati pada anak-anak. Hal ini dapat
dilakukan perbandingan laki-laki banding perempuan 2:1 sekitar dekade empat.Pada era
pasca-antibiotik, labirinitis bakteria jarang ditemukan.Biasanya terlihat pada anak-anak di
bawah 2 tahun ketika anak-anak paling banyak resiko meningitis.

ETIOLOGI
Komplikasi dari otitis media supuratif dengan kolestetoma dapat berupa komplikasi
ekstra cranial (intratemporal) seperti abses superiosteal, paralise nervus fasialis, labirinitis
dan komplikasi intracranial seperti abses otak, meningitis, hydrocephalus, abses ekstradural,
dan tromboplebitis sinus lateralis.
Ada beberapa faktor penyebab komplikasi intracranial dari omsk yaitu spesies dan
virulensi kuman, kondisi umum penderita dan terapi yang tidak adekuat. Kondisi umum
penderita terutama penderita bayi, lanjut usia, diabetes militus, mal nutrisi, keganasan dan
penderita dengan imunodevisiensi diketahui kurang efektif memberikan respon sehingga
mudah terjadi penyebaran yang berakibat komplikasi.
Bila system pertahanan mukosa tidak mampu lagi, infeksi akan meluas mengenai
tulang akibat demineralisasi oleh kolesteatoma atau peradangan kronis. Trombopebitis vena
kecil dan kanal haver yang berhungan dengan sinus dural. Perluasan mengenai jalan yang
LABIRINITIS

Page

sudah ada seperti dehisensi tulang, fisura, foramen ovale, foramen rotundum dan duktus
koklearis maupun vestibuler, dan defek tulang akibat trauma atau operasi.
Berikut adalah virus dan bakteria yang berpotensi menyebabkan labirinitis:

Virus Bakteria
Cytomegalovirus, mumps virus, rubella virus, parainfluenza virus, influenza virus,
adenovirus, varicella-zooster virus, herpes simplex virus 1, s.pneumonia, n.meningitidis,
mycobacteria tuberculosis, bacteroides species, proteus species, moraxella catarrhalis,
streptococus species dan staphylococus species
Zat - zat toksik dan obatan-obatan.

KLASIFIKASI
Labirinitis dapat disebabkan oleh virus, bakterial,zat-zat toksik dan obat-obatan.
Labirinitis yang di sebabkan oleh bakterial terdapat dalam dua bentuk labirinitis, yaitu
labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis
serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam
labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
1. FISTULA LABIRINITIS

Etiologi
Otitis media supuratif kronik terutama yang dengan kolesteatoma, dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada bagian vestibuler labirin, sehingga
terbentuk fistula. Pada keadaan ini infeksi dapat masuk, sehingga terjadi labirinitis
dan akhirnya akan terjadi komplikasi tuli total atau meningitis.
Pemeriksaan
Fistula dilabirin dapat diketahui dengan tes fistula, yaitu dengan memberikan
tekanan udara positif ataupun negative keliang telinga melalui otoskop siegel
dengan corong telinga yang kedap atau balon karet yang bentuk elip pada ujungnya
LABIRINITIS

Page

yang dimasukkan kedalam liang telinga. Balon karet dipencet dan udara didalamnya
akan menyebabkan perubahan tekanan udara diliang telinga. Bila fistula masih paten
maka akan akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membran. Tes fistula positif
akan menimbulkan nistagmus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila fistula sudah
tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati/paresis kanal.
Pemeriksaan radiologi tomografi atau Ct-Scan yang baik kadang-kadang
dapat memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan dikanalis semi
sirkularis horizontal.
Tanda gejala
Pada labirinitis fistula atau labirinitis sirkumkripta gejala yang ditunjukan
hanya berupa vertigo saja atau tuli sensorineural saja.
Terapi
pada fistula labirinitis, operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan
infeksi dan menutup vistula, sehingga fungsi telinga dalam pulih kembali. Tindakan
bedah ahrus adekuat, untuk mengontrol penyakit primer. Matrik kolesteotoma dan
jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih dan daerah tersebut
harus segera ditutup dengan jaringan ikat atau sekeping tulang/tulang rawan.

2. GENERAL LABIRINITIS
2.1. LABIRINITIS VIRAL
Etiologi:
Infeksi saluran pernafasan atas, faktor kongenital yaitu infeksi campak dan
rubella pada trimester pertama atau infeksi cytomegalovirus pada kontraksi uterus
setelah persalinan yang menyebabkan kokleolabirinitis. Infeksi virus ini menjalar
secara hematogen ke telinga dalam.
Gejala klinis:
LABIRINITIS

Page

Menyebabkan gejala vertigo,mual, muntah selama beberapa hari dan


minggu. Labirinitis viral bersifat tidak episodik dan tidak ada gejala gangguan
pendengaran
Terapi:
Vestibular suppresent ( diazepam)
Komplikasi:
Komplikasi seperti hidrops endolimfatik dan penyakit Menieres.
Prognosis:
Prognosis baik karena biasanya terjadi pada usia muda dan jira terapi yang
diberikan adekuat.Vertigo boleh sembuh dalam jangka masa satu minggu tetapi
gangguan keseimbangan akan tetap bertahan selepas beberapa bulan jika terdapat
stress.
2.2. LABIRINITIS BAKTERIA
2.2.1. LABIRINITIS SEROSA DIFUS
Etiologi
Labirinitis serosa difus seringkali terjadi sekunder dari labirinitis
sirkumskripta atau dapat terjadi primer pada otitis media akut dengan atau tanpa
kolesteatoma dan reaktivasi otomastoiditis kronis.Masuknya toksin bakteria dan zatzat yang diproduksi secara difus melalui membran fenestra ovale dan fenestra
rotundum.Infeksi tersebut mencapai endosteum melalui saluran darah. Selain itu,
labirinitis serosa sering terjadi pada operasi telinga dalam misalnya pada
stapedektomi. Labirinitis serosa difus ini adalah satu proses inflamasi yang steril.
Pemeriksaan
Kelainan patologi yaitu inflamasi non purulen pada labirin. Pemeriksaan
histologik pada potongan labirin menunjukkan infiltrasi seluler awal dengan eksudat
serosa atau serofibrin.
Gejala klinis
LABIRINITIS

Page

Gejala dan tanda serangan akut labirinitis serosa difus adalah vertigo spontan
dengan derajat ringan- sedang dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang
sakit. Terdapat juga tuli sensorineural yang bersifat sementara.Kadang-kadang
disertai mual dan muntah, biasanya tidak berat.
Terapi
Pengobatan pada stadium akut yaitu pasien harus tirah baring total.Harus
diberikan antibiotika yang tepat dengan dosis yang adekuat untuk mengeradikasi
bakteria penyebab.Selain itu utuk mengurangi gejala gangguan keseimbangan
diberikan sedatif ringan.Pada stadium lanjut dari otitis media akut diperlukan
dreanase telinga tengah dan mastoidektomi sederhana.
Prognosis
Prognosis labirinitis serosa baik, dalam arti menyangkut kehidupan dan
kembalinya fungsi labirin secara lengkap. Tetapi tuli saraf temporer yang berat dapat
menjadi tuli saraf yang permanen bila tidak diobati dengan baik.

2.2.2. LABIRINITIS SUPURATIF AKUT DIFUS


Etiologi
Labirinitis supuratif akut difus dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis
serosa yang infeksinya masuk melalui fenestra ovale dan fenestra rotundum Pada
banyak kejadian, labirinitis ini terjadi sekunder dari otitis media akut maupun kronik
atau mastoiditis.Pada beberapa kasus abses subdural atau meningitis, infeksi dapat
menyebar ke dalam labirin dengan atau tanpa terkenanya telinga tengah, sehingga
menjadi labirin supuratif.Bakteria secara langsung masuk ke dalam membran dan
erosi tulang labirin.
Pemeriksaan
Pada pemeriksaan histologik didapatkan infiltrsi labirin oleh sel-sel leukosit
polimorfonuklear dan destruksi struktur jaringan lunak.Sebagian dari tulang labirin
LABIRINITIS

Page

nekrosis, dan terbentuk jaringan granulasi yang dapat menutup bagian tulang yang
nekrotik tersebut.Keadaan ini akan menyebabkan osifikasi labirin.
Gejala klinis
Labirinitis supuratif akut difus , ditandai dengan tuli total pada telinga yang
sakit diikuti dengan vertigo yang berat, mual, muntah, dan nistagmus spontan ke
arah telinga yang sehat. Selama fase akut, posisi pasien sangat khas.Pasien akan
berbaring pada sisi yang sakit, jadi ke arah komponen lambat nistagmus.Posisi ini
akan mengurangi perasaan vertigo.Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan
tuli saraf total permanen.
Terapi
Diperlukan tirah baring total selama fase akut, yang dapat berlangsung
sampai

minggu.Perbaikan

terjadi

bertahap,

mulai

dari

hari

pertama.

Sedatif ringan diperlukan pada periode awal.Fenobarbita 32 mg(1/2 gram) yang


diberikan 3 kali sehari.
Dosis antibiotika yang adekuat harus diberikan selama suatu periode baik
untuk

mencegah

komplikasi

intrakranial,

maupun

untuk

mengobati

labirinitisnya.Harus dilakukan kultur untuk identifikasi kuman dan untuk tes


sensitivitas kuman.Antibiotika penisilin harus segera diberikan sebelum hasil tes
resistensi didapat, jika alergi terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin, dengan
dosis tinggi secara parenteral.Respons klinik lebih utama dari tes sensivitas kuman
dalam menentukan jenis antibiotika.
Drenase, atau membuang sebagian labirin yang rusak, dilakukan bila
terdapat komplikasi intrakranial dan tidak memberi respon terhadap pengobatan
dengan antibiotika.
Prognosis
Prognosis baik pada labirinitis supuratif akut difus tanpa komplikasi.

2.2.3. LABIRINITIS KRONIK (LATEN) DIFUS


LABIRINITIS

Page

Etiologi
Labirinitis supuratif stadium kronik atau laten dimulai, segera sesudah gejala
vestibuler akut berkurang.Hal ini mulai dari 2-6 minggu sesudah awal periode akut.
Pemeriksaan
Pemeriksaan patologi menunjukkan telinga dalam hampir seluruhnya terisi
oleh jaringan granulasi setelah 10 minggu serangan akut.Jaringan granulasi secara
bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan kalsifikasi.Pembentukan
tulang baru dapat mengisi penuh ruangan-ruangan labirin dalam 6 bulan sampai
beberapa tahun.Tes kalori tidak menimbulkan respons di sisi yang sakit.
Gejala klinis
Terjadi tuli total di sisi yang sakit.Vertigo ringan nistagmus spontan biasanya
ke arah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan .
Terapi
Terapi lokal ditujukan ke setiap infeksi yang mungkin ada.Drenase labirin
dilakukan apabila terdapat suatu fokus infeksi di labirin atau daerah perilabirin telah
menjalar atau dicurigai menyebar ke struktur intrakranial dan tidak memberi respons
terhadap terapi antibiotika.
2.3. LABIRINITIS TOKSIK
Labirinitis toksik dapat disebabkan oleh keracunan zat-zat toksik seperti
arsen, zink, kuinin dan pemakaian obat antibiotik yang ototoksik seperti
streptomicin, aminoglikosida, dan dihydrostreptomicin.Gejala yang timbul seperti
vertigo, tinitus dan tuli.

DIAGNOSIS
1. Anamnesis.
2. Pemeriksaan klinis
LABIRINITIS

Page

Pemeriksaan keseimbangan.

a. Uji Romberg.
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua
mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30
detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya
(misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan
vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi
garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap
tegak. Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik
pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.
b. Tandem Gait.
Penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada
ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.Pada kelainan vestibuler perjalanannya
akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.

LABIRINITIS

Page

c. Uji Unterberger.
Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat
dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan
vestibuler posisi penderita akan menyimpang atau berputar ke arah lesi dengan
gerakan seperti orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi,
kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang
lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.

LABIRINITIS

Page

d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany)


Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh
mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk
tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan
tertutup.Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke
arah lesi.

e. Uji Babinsky-Weil
Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan
lima langkah ke belakang seama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler
unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.

Pemeriksaan khusus oto-neurologis :

LABIRINITIS

Page

Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral


atau perifer.
a. Tes Kalori
Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30, sehingga kanalis semisirkularis
lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin
(30C) dan air hangat (44C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi
5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai
hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).Dengan tes ini dapat ditentukan
adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal
paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik setelah rangsang air
hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah jika
abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing
telinga.Canal

paresis

menunjukkan

lesi

perifer

di

labirin

atau

nervus

vestibulokoklearis, sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.


b. Uji Dix Hallpike
Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke belakang
dengan cepat, sehingga kepalanya meng-gantung 45 di bawah garis horisontal,
kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul
dan hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya
perifer atau sentral.
Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah
periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang
atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue).
Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih
dari 1 menit, bila diulang-ulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).

LABIRINITIS

Page

c. Elektronistagmogram
Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk
merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat
dianalisis secara kuantitatif.
3. Laboratorium

Pemeriksaan cairan serebrospinal untuk menegakkan kasus meningitis.

Melakukan kultur dan tes sensitivitas pada cairan telinga tengah untuk
menetukan terapi antibiotik yang tepat .

LABIRINITIS

Page

4.

Pemeriksaan CT scan.

CT scan lumbalis untuk kasus meningitis.

CT scan juga berguna untuk membantu menyingkirkan mastoiditis sebagai


penyebab potensial.

CT scan os temporal dapat membantu dalam manajemen pasien dengan


cholesteatoma dan labyrinthitis.

CT scan noncontrast untuk memvisualisasikan fibrosis dan kalsifikasi pada


pasien yang menderita labirinitis kronis.

KOMPLIKASI
a) Komplikasi ke ektradural:
1. Petrositis.
2. Tromboflebitis sinus lateralis.
3. Abses ektradural.
4. Abses subdural.
b) Komplikasi ke susunan saraf pusat:
1. Meningitis.
2. Abses otak.
3. Hidrosephalus otitis.

LABIRINITIS

Page

Beri Nilai