Anda di halaman 1dari 15

LP & ASKEP PNEUMOTHORAX

KONSEP DASAR PNEUMOTORAKS


A. Anatomi Rongga Pleura
Terletak diantara paru dan dinding thoraks
2.
Lapisan yang menyelimuti paru, terdiri atas 2 lapisan :
a. Lapisan Parietalis :

Menempel kuat pada dinding dada

Fungsi : memproduksi cairan pleura


b. Lapisan Viseralis :
Menempel kuat pada jaringan paru
Fungsi : mengabsorbsi cairan pleura
1.

B. Pengertian

1.

2.

3.

Pneumotoraks merupakan suatu keadaan terdapatnya udara didalam rongga pleura.


Pneumotoraks terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu pneumotoraks terbuka, pneumotoraks
tertutup dan pneumotoraks ventil.
Pneumotoraks terbuka
Pneumotoraks yang terjadi akibat adanya hubungan terbuka antara rongga pleura dan
bronchus dengan lingkungan luar. Dalam keadaan ini, tekanan intra pleura sana dengan
tekanan barometer (luar). Tekanan intrapleura disekitar nao (0) sesuai dengan gerakan
pernapasan. Pada waktu inspirasi tekanannya negatif dan pada waktu ekspirasi tekanannya
positif.
Pneumotoraks tertutup
Rongga pleura tertutup dan tidak berhubungan dengan lingkungan luar. Udara yg dulunya ada
di rongga pleura (tekanan positif) karena direasorpsi dan tidak ada hubungannya lagi dengan
dunia luar maka tekanan udara di rongga pleura menjadi negative. Tetapi paru belum bias
berkembang penuh, sehingga masih ada rongga pleura yang tampak meskipun tekanannya
sudah normal.
Pneumotoraks ventil
Ini merupakan pneumotoraks yang mempunyai tekanan positif berhubung adanya fistel di
pleura viseralis yang bersifat ventil. Udara melalui bronchus terus kepercabangannya dan
menuju kea rah pleura yang terbuka. Pada waktu inspirasi, udara masuk ke rongga pleura
yang pada permulaannya masih negatif.
C. Penyebab
Pneumotorak terjadi karena adanya kebocoran dibagian paru yang berisi udara melalui
robekan atau pecahnya pleura. Robekan ini berhubungan dengan bronchus. Pelebaran alveoli
dan pecahnya septa-septa alveoli kemudian membentuk suatu bula yang disebut
granulomatous fibrosisi. Granulomatous fibrosisi adalah salah satu penyebab tersering
terjadinya pneumotoraks., karena bula tersebut berhubungan dengan adanya obstruksi
empiema.

D. Patofisiologis

Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negatif daripada tekanan intrabronkhial, sehingga
paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara dari luar yang tekanannya nol
(0) akan masuk ke bronchus hingga sampai ke alveoli. Saat ekspirasi, dinding dada menekan
rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan lebih tinggi dari tekanan di alveolus maupun
di bronchus, sehingga udara ditekan keluar malalui bronchus. Tekanan intrabronkhial
meningkat apabila ada tahanan jalan napas. Tekanan intrabronkhial akan lebih meningkat lagi
pada waktu batuk, bersin dan mengejan, karena pada keadaan ini epiglitis tertutup. Apabila di
bagian perifer dari bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah, bronchus atau alveolus itu
akan pecah dan robek.
Pada waktu ekspirasi, udara yang masuk ke dalam rongga pleura tidak mau keluar melalui
lubang yang terbuka sebelumnya, bahkan udara ekspirasi yang mestinya dihembuskan keluar
dapat masuk ke dalam rongga pleura. Apabila ada obstruksi di bronchus bagian proximal dari
fistel tersebut akan membuat tekanan pleura semakin lama semakin meningkat sehubungan
dengan berulangnya pernapasan. Udara masuk ke rongga pleura saat ekspirasi terjadi karena
udara ekspirasi mempunyai tekanan lebih tinggi dari rongga pleura, terlebih jika klien batuk,
tekanan udara di bronchus akan lebih kuat dari ekspirasi biasa.
Secara singkat proses terjadinya pneumotoraks adalah sebagai berikut:
1. Alveoli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara masuk kearah jaringan
peribronkhovaskular. Apabila alveoli itu melebar, tekanan dalam alveoli akan meningkat.
2. Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan obstruksi endobronkhial adalah faktor presipitasi
yang memudahkan terjadinya robekan
3. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan jaringan fibrosis di
peribronkhovaskular ke arah hilus, masuk mediastinum, dan menyebabkan pneumotoraks.
E. Tanda dan gejala
Pneumo
toraks
Tertutup

Spontan

Tension

Tanda dan gejala


Pneumotoraks yang kecil atau terjadi
lambat, tidak menimbulkan gejala
Pneumotoraks yang luas dan cepat
menimbulkan:
Nyeri tajam saat ekspirasi
Peningkatan frekuensi napas
Produksi keringat berlebihan
Penurunan tekanan darah
Takikardi
Inspeksi dan palpasi: penurunan
sampai hilangnya pergerakan dada
pada sisi yang sakit
Perkusi: hiperresonan pada sisi yang
sakit
Auskultasi: penurunan sampai
hilangnya suara napas pada sisi yang
sakit
Napas pendek dan timbul secara tibatiba tanpa ada trauma dari luar paru
Inspeksi: sesak napas berat, penurunan

Intervensi
Observasi, rawat jalan
Kolaborasi dengan tim medis:
Pemberian oksigen
Tindakan kontraventil dengan
aspirasi udara dari rongga
pleura
Pemasangan WSD

Apabila penatalaksanaan
dengan WSD gagal,
dipertimbangkan untuk
dilakukan reseksi paru
Tindakan kontraventil

Terbuka

sampai hilangnya pergerakan dada


pada sisi yang sakit
Palpasi: pendorongan trakea dari garis
tengah menjauhi sisi yang sakit dan
distensi vena jugularis
Auskultasi: penurunan sampai
hilangnya suara napas pada sisi yang
sakit
Inspeksi: sesak napas berat, terlihat
adanya luka terbuka dan suara
mengisap ditempat luka saat ekspirasi
Palpasi: pendorongan trakea dari garis
tengah menjauhi sisi yang sakit
Perkusi: hiperresonan pada sisi yang
sakit
Auskultasi: penurunan sampai
hilangnya suara napas pada sisi yang
sakit

Penutupan luka yang terbuka


Pemasangan WSD

Tindakan kontraventil
Penutupan luka yang terbuka
Pemasangan WSD

F. Pemerikasaan Diagnostik
Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologis pneumotoraks akan tampak hitam, rata, dan paru yang kolaps akan
tampak garis yang merupakan tepi paru. Kadang paru yang kolaps tidak membentuk garis,
tetapi berbentuk lobuler yang sesuai dengan lobus paru. Adakalanya paru yang mengalami
kolaps tersebut hanya tampak seperti massa yang berada di daerah hilus. Keadaan ini
menunjukkan kolaps paru yang luas sekali. Besarnya kolaps paru tidak selalu berkaitan
dengan berat ringan sesak napas yang dikeluhkan.
Perlu diamati ada tidaknya pendorongan. Apabila ada pendorongan jantung atau trakhea ke
arah paru yang sehat, kemungkinan besar telah terjadi pneumotoraks ventil dengan tekanan
intrapleura yang tinggi.
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan pneumotoraks tergantung pada jenis pneumotoraks yang dialami, derajat
kolaps, berat ringannya gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi saat pelaksanaan
pengobatan yang meliputi :
1. Tindakan dekompresi
Membuat hubungan antara rongga pleura dengan lingkungan luar dengan cara:
a. Menusukkan jarum melalui dinding dada hingga masuk ke rongga pleura, dengan demikian
tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif. Hal ini disebabkan
karena udara keluar melalui jarum tersebut. Cara lainnya adalah melakukan penusukkan
jarum ke rongga pleura melalui tranfusion set.
b. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontraventil :
Menggunakan pipa Water Sealed Drainage (WSD).
Pipa khusus (kateter thoraks) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantara trokar
atau dengan bantuan klem penjepit (pen) pemasukan pipa plastic (kateter thoraks) dapat juga

dilakukan melalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke-4 pada
garis axial tengah atau garis axial belakang. Selain itu, dapat pula melalui sela iga ke-2 dari
garis klavikula tengah. Selanjutnya, ujung selang plastik di dada dan pipa kaca WSD
dihubungkan melelui pipa plastik lainnya. Posisi ujung pipa kaca yang berada di botol
sebaiknya berada 2 cm di bawah permukaan air supaya gelembung udara dapat dengan
mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.
Pengisapan kontinu (continous suction).
Pengisapan dilakukan secara kontinu apabila tekanan intrapleura tetap positif. Pengisapan ini
dilakukan dengan cara memberi tekanan negatif sebesar 10-20 cm H2O. Tujuannya adalah
agar paru cepat mengembang dan segera terjadi perlekatan antara pleura viseralis dan pleura
parietalis.
Pencabutan drain
Apabila paru telah mengembang maksimal dan tekana intrapleura sudah negatif kembali,
drain dapat dicabut. Sebelum dicabut, drain ditutup dengan cara dijepit atau ditekuk selama
24 jam. Apabila paru tetap mengembang penuh, drain dapat dicabut.
c. Tindakan bedah
Pembukaan dinding thoraks dengan cara operasi, maka dapat dicari lubang yang
menyebabkan terjadinya pneumothoraks, lalu lubang tersebut dijahit,
d. Pada pembedahan, jika dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebabkan paru tidak
dapat mengembang, maka dapat dilakukan pengelupasan atau dekortikasi.
Pembedahan paru kembali bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel
dari paru yang rusak, sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan
kembali.
2. Penatalaksanaan Tambahan
a. Apabila terdapat proses lain di paru, pengobatan tambahan ditujukan terhadap penyebabnya,
yaitu:
Terhadap proses TB paru, diberi OAT
Untuk mencegah obstipasi dan memperlancar dekekasi, penderita dibei obat laksatif ringan,
dengan tujuan agar saat defekasi, penderita tidak perlu mengejan terlalu keras.
b. Istirahat total
Klien dilarang melakukan kerja keras (mengangkat barang), batuk, bersin terlalu keras dan
mengejan.
H. Pengkajian Keperawatan
1. Anamnesis
a. Identitas klien
b. Keluhan utama
Sesak napas, nyeri disisi dada yang sakit
c. RPS
Keluhan sesak napas sering kali datang mendadak dan semakin lama semakin berat. Nyeri da
dirasakan pada sisi yang sakit, rasa berat, tertekan dan terasa lebih nyeri pada gerakan
pernapasan.
Perlu dikaji apakah ada riwayat trauma tajam/tumpul yang mengenai rongga dada (tertembus
peluru, tertusuk benda tajam, KLL, dll)
d. RPD
Apakah klien pernah menderita TB paru dimana sering terjadi pada pneumotoraks spontan.
e. RPK

Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang mungkin menyebabkan
pneumotoraks seperti kanker paru, asma, TB paru, dll.
f. Psikososial
Meliputi perasaan klien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana
prilaku klien pada tindakan yang akan dilakukan terhadap dirinya.
2. Pemeriksaan Fisik
a.

B1 (Breathing)
Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan serta penggunaan otot bantu pernapasan.
Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada tertinggal pada sisi yang
sakit), iga melebar, rongga dada asimetris (lebih cembung disisi yang sakit). Pengkajian batuk
yang produktif dengan sputum yang purulen. Trakhea dan jantung terdorong ke sisi yang
sehat.
Palpasi
Taktil fremitus menurun disisi yang sakit. Disamping itu, pada palpasi juga ditemukan
pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit. Pada sisi yang sakit, ruang
antar iga bisa saja normal atau melebar.
Perkusi
Suara ketuk pada sisi yang sakit hipersonor sampai timpani. Batas jantung terdorong ke
arah thoraks yang sehat apabila tekanan intrapleura tinggi.
Auskultasi
Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit.

b. B2 (Blood)
Perawat perlu memonitor dampak pneumothoraks pada status kardiovaskular yang meliputi
keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan pengisian kapiler/CRT.
c.

B3 (Brain)
Pada inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji. Selain itu, diperlukan juga pemeriksaan GCS,
apakah compos mentis, samnolen atau koma.

d. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urine berhubungan dengan intake cairan. Perawat perlu
memonitor adanya oliguri yang merupakan tanda awal dari syok.
e.

B5 (Bowel)
Akibat sesak napas, klien biasanya mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan dan
penurunan berat badan.

f.

B6 (Bone)
Pada trauma di rusuk dada, sering didapatkan adanya kerusakan otot dan jaringan lunak dada
sehingga meningkatkan risiko infeksi. Klien sering dijumpai mengalami gangguan dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari disebabkan adanya sesak napas, kelemahan dan keletihan
fisik secara umum.
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TN.S DENGAN PNEUMOTORAKS DEXTRA
DI RUANG DAHLIA RSUD ULIN BANJARMASIN

A. Identitas Pasien : nama , umur, alamat, dst.....tgl MRS, tgl pengkajian, dx.medis.......
B. Riwayat Penyakit
1. Keluhan utama
Sesak napas, bernapas terasa berat dan susah untuk melakukan pernapasan.
2. Riwayat penyakit sekarang
Tiga jam yang lalu klien mendadak mengeluh sesak napas dan semakin lama semakin berat,
disertai nyeri dada seperti tertusuk pada sisi dada sebelah kanan, rasa berat, tertekan dan
terasa lebih nyeri pada gerakan pernapasan. Tidak ada riwayat trauma yang mengenai rongga
dada seperti tertembus peluru, ledakan, trauma tumpul dada akibat kecelakaan lalu lintas
maupun tusukan benda tajam langsung menembus pleura. Karena keluhan sesak
napas dirasakan semakin berat, klien dibawa keluarga ke IRD RSUD Ulin Banjarmasin,
disarankan rawat inap untuk dilakukan tindakan pemasangan selang WSD. Klien masuk
Ruang Dahlia pada jam 09.00 Wita.
3. Riwayat penyakit dahulu
Setahun yang lalu klien pernah menderita penyakit TB Paru, sudah menjalani pengobatan
OAT selama enam bulan
4. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien baik
pneumotoraks ataupun TB paru
5. Riwayat kebiasaan sehari-hari
Sehari-harinya klien bekerja sebagai tukang kayu/membuat rumah. Klien juga seorang
perokok, menghabiskan minimal satu bungkus rokok kretek/hari
C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Tampak sakit berat dan sesak napas, KU sangat lemah, kesadaran Compos Mentis, GCS 456,
TB 155 cm, BB 50 kg.
TTV : TD 110/70 mmHg, RR 32 x/mnt, N 92 x/mnt, T 36 C
Dada dan pernapasan
b.
Inspeksi
Klien tampak sesak napas, keringat dingin, wajah tampak pucat, nyeri dada saat bernapas dan
gelisah
Bentuk dada kanan lebih cembung
Gerakan pernapasan dada kanan tertinggal
Penggunaan otot bantu napas tambahan
Pola napas cepat dan dangkal
c.
Palpasi

Taktil fremitus getaran menurun di dada kanan


d.
Perkusi

Hipersonor di dada kanan


e.
Auskultasi

Suara napas menghilang di dada kanan

D. Pola Pemenuhan Kebutuhan (nutrisi, eliminasi, tidur & istirahat, aktifitas & latihan,
personal hygiene)
E. Prosedur Diagnostik
1. Laboratorium
2. Radiologi
Foto thoraks AP-Lat tanggal 18-4-2011
: gambaran pneumotoraks kanan, paru
kolaps
Foto thoraks AP-Lat tanggal 19-4-2011
: ujung selang di IC 4-5
Foto thoraks AP-Lat tanggal 22-4-2011
: ujung selang di IC 4-5. tak tampak
pneumotoraks, paru ekspansi

F. Pengobatan
IVFD RL 20 tpm
Rimstar 2 x 2 tab
Codein 10 mg tab 0-1-1
Hepa Q 2 x 1 tab
Oksigen 2 lpm
Ranitidin 2 x 1 amp IV
Tramadol 2 x 1 mg drip
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV
Data post pemasangan WSD

Terpasang selang WSD di IC 4-5 mid axila kanan

Adanya luka 1 cm dengan jahitan matras mengelilingi selang WSD

Selang WSD disambung dengan selang penghubung ke botol WSD

Undulasi Positif

Tampak gelembung udara keluar dari ujung selang dalam botol WSD saat ekspirasi
dan batuk
Tak ada tanda krepitasi pada kulit disekitar selang WSD

J.

No

Analisa data
Data

Etiologi

Masalah

DS:
Klien mengeluh sesak napas,
bernapas terasa berat, susah untuk
melakukan pernapasan dan nyeri
dada kanan saat bernapas
DO:
Klien tampak sesak napas, keringat
dingin, nyeri dada kanan saat
bernapas dan gelisah
Bentuk dada kanan lebih cembung
Gerakan pernapasan dada kanan
tertinggal
Penggunaan otot bantu napas
tambahan
Pola napas cepat dan dangkal
TTV : TD 110/70 mmHg, RR 32
x/mnt, N 92 x/mnt, T 36 C
Palpasi:getaran menurun di dada
kanan
Perkusi: hipersonor di dada kanan
Auskultasi: suara napas menghilang
di dada kanan
Radiologi:foto thorax kolaps pada
paru kanan

Penurunan
ekspansi paru
sekunder terhadap
peningkatan
tekanan di dalam
rongga pleura;
pneumothorax

Pola napas tidak


efektif

DS: -Px mengatakan terpasang


selang di dada kanan
DO:
Adanya luka 1 cm dengan jahitan
mengelilingi selang WSD
Terpasang selang WSD di IC 4-5
dihubungkan dengan selang
penyambung ke botol WSD

Tindakan
invasif sekunder
pemasangan selang
WSD

Risti infeksi dan


trauma pernapasan

Prioritas Masalah

K.

a.

Pola napas tidak efektif b/d penurunan ekspansi paru sekunder terhadap peningkatan tekanan
di dalam rongga pleura; pneumothorax
b. Risti infeksi dan trauma pernapasan b/d tindakan invasif sekunder pemasangan selang WSD
L. Rencana intervensi
No
1

Hari / tgl
Senin
18-4-11
09.30

Senin
18-4-11
11.00

Diagnosa Keperawatan
Pola napas tidak efektif b/d
penurunan ekspansi paru sekunder
terhadap peningkatan tekanan di
dalam rongga pleura; pneumotoraks,
ditandai dengan :
DS:

Klien mengeluh sesak napas,


bernapas terasa berat, susah untuk
melakukan pernapasan dan nyeri
dada kanan saat bernapas

DO:
Klien tampak sesak napas, keringat
dingin, nyeri dada kanan saat

bernapas dan gelisah

Bentuk dada kanan lebih cembung


Gerakan pernapasan dada kanan
tertinggal
Penggunaan otot bantu napas

tambahan

Pola napas cepat dan dangkal

TTV : TD 110/70 mmHg, RR 32


x/mnt, N 92 x/mnt, T 36 C

Palpasi:getaran menurun disisi paru


yang sakit

Perkusi: hipersonor disisi paru yang


sakit
Auskultasi: suara napas menghilang
disisi paru yang sakit
Radiologi:foto thorax gambaran
pneumotoraks kanan, paru kolaps

Risti infeksi dan trauma pernapasan


b/d tindakan invasif sekunder
pemasangan selang WSD ditandai
dengan:
DS:
Px mengatakan terpasang selang

Tujuan
Dalam waktu ... x 24 jam 1.
setelah diberikan
intervensi pola napas
kembali efektif dengan
2.
kreteria evaluasi:
Keluhan sesak napas
3.
berkurang, ringan, tidak
nyeri saat melakukan
4.
pernapasan
Tak tampak sesak napas 5.
dan nyeri saat melakukan 6.
pernapasan
7.
Bentuk dada simetris
Gerakan dada saat bernapas
simetris
Tidak menggunakan otot
bantu pernapasan
Pola napas normal
TTV dbn
Palpasi getaran simetris
Perkusi sonor simetris
Auskultasi vesikuler
simetris
Radiologi: Paru yang
kolaps sudah ekspansi

Int
Identifikasi fakto
trauma, infeksi ko
pernapasan.
Kaji kualitas, frek
kedalaman napas
perubahan yang t
Baringkan klien d
nyaman, atau dala
Observasi TTV
Lakukan IPPA tia
Memberikan oks
kanule 2 lpm
Kolaborasi untuk
dekompresi deng
selang WSD

Dalam waktu ... x 24 jam 1.


setelah diberikan intervensi
risti infeksi dan trauma
pernapasan tidak terjadi 2.
dengan kreteria evaluasi :
Tidak ada tanda-tanda

Kaji kualitas, frek


kedalaman napas
perubahan yang t
Observasi tandaluka, TTV, keluha
nyeri saat bernapa

didada kanan
DO:
Adanya luka 1 cm dengan jahitan
mengelilingi selang WSD
Terpasang selang WSD di IC 3-4
dihubungkan dengan selang
penyambung ke botol WSD

infeksi pada luka


3. Anjurkan klien u
selang bila ingin
TTV dalam batas normal
Tidak ada pus didalam
4. Jaga personal hygi
selang
lingkungan
Kepatenan sistem drainage5. Berikan asupan nu
WSD dalam kondisi baik 6. Lakukan perawata
Luka sembuh tanpa
7. Pantau kepatenan
komplikasi
setiap hari
8. Kolaborasi medis
obat antibiotika

Implementasi Keperawatan

M.

No

Hari / tgl

Dx

Implementasi

Senin
18-4-11
10.30

Senin
18-4-11
11.00

I 1. Mengidentifikasi faktor penyebab kolaps: trauma,


keganasan, infeksi komplikasi mekanik pernapasan.
2. Mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman napas,
laporkan setiap perubahan yang terjadi
3. Membaringkan klien dalam posisi yang nyaman, atau
dalam posisi duduk
4. Mengukur TTV tiap..... jam
5. Melakukan IPPA tiap ..... jam
6. Memberikan oksigen tambahan nasal kanule 2 lpm
7. Asistensi dalam pelaksanaan tindakan dekompresi
pemasangan selang WSD (persiapan alat, pasien, ruang
tindakan, membantu pelaksanaan dan evaluasi post
pemasangan WSD)
IV1. Mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman napas,
laporkan setiap perubahan yang terjadi
2. Mengobservasi keluhan sesak napas dan nyeri dada saat
bernapas
3. Menganjurkan klien untuk memegang selang bila ingin
merubah posisi
4. Menjaga personal hygiene, alat tenun dan lingkungan
5. Memberikan diet TKTP
6. Melakukan perawatan WSD setiap hari dengan teknik
aseptik dan steril
7. Memantau kepatenan sistem drainage setiap hari:
Memperhatikan undulasi pada selang WSD
Meletakkan botol WSD selalu lebih rendah dari tubuh
Mempertahankan agar ujung selang dalam botol WSD agar
selalu berada 2 cm dibawah air
. Membersihkan/cuci botol bila terlihat kotor
8. Memberikan obat antibiotika dan OAT sesuai program:
Inj Ceftriaxone 2 x 1 gr IV
Rimstar 2 x 2 tab oral

Catatan Perkembangan

N.

No

Hari / tgl

Dx

Selasa
19-4-11
08.30

Selasa
19-4-11
08.30

S:
Klien mengatakan keluhan sesak napas dan nyeri dada
kanan saat bernapas sudah berkurang, bernapas agak ringan
O:
Tampak sesak napas dan nyeri saat bernapas sudah
berkurang, bernapas agak ringan
Terpasang selang WSD di IC 4-5 midline axila kanan
disambung dengan selang penghubung ke botol WSD
Tampak undulasi pada selang
Tampak gelembung udara keluar melalui ujung selang
didalam botol WSD saat ekspirasi dan batuk
Kecembungan dada kanan mulai berkurang
Sudah mulai terlihat pergerakan dada kanan saat bernapas
Tidak menggunakan otot bantu napas tambahan
Tidak menggunakan oksigen tambahan
Pola napas mulai teratur
TTV : TD 110/70 mmHg, RR 28 x/mnt, N 88 x/mnt, T 36
C
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: hipersonor diparu kanan sudah berkurang
Auskultasi: sudah terdengar suara napas di paru kanan
Klien tampak lebih tenang/rileks
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi no; 2,3,4,5
Cek foto thoraks AP-Lat posisi tegak
Pantau kepatenan sistem drainage
Observasi pengembangan paru
K/P pasang suction continous
II S: Px mengatakan terpasang selang didada kanan
O:
Luka bersih ditutup kasa steril
TTV : TD 110/70 mmHg, RR 28 x/mnt, N 88 x/mnt, T 36
C
Tidak ada krepitasi disekitar selang
Undulasi positif
Botol WSD lebih rendah dari tubuh
Ujung selang dalam botol WSD berada 2 cm dibawah
batas air
A: Masalah risti infeksi dan trauma pernapasan tidak terjadi
P: Lanjutkan intervensi No: 1,2,3,4,5,6,7
Observasi tanda-tanda infeksi pada luka
Lakukan perawatan WSD setiap hari
K/P mencuci botol dan ganti cairan dalam botol bila
I

Perkembangan

terlihat keruh
3

Rabu
20-4-11
08.30

Rabu
20-4-11
09.00

Kamis
21-4-11
08.30

S:
Klien mengatakan keluhan sesak napas dan nyeri dada
kanan saat bernapas sudah berkurang, bernapas agak ringan
O:
Klien tampak lebih tenang/rileks
Tampak sesak napas dan nyeri saat bernapas sudah
berkurang, bernapas agak ringan
Terpasang selang WSD di IC 4-5 midline axila kanan
disambung dengan selang penghubung ke botol suction
continous
Tampak undulasi pada selang
Tampak gelembung udara keluar melalui ujung selang
didalam botol WSD saat batuk
Kecembungan dada kanan mulai berkurang
Sudah mulai terlihat pergerakan dada kanan saat bernapas
Pola napas mulai teratur
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 24 x/mnt, N 84 x/mnt, T 36
C
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: hipersonor diparu kanan sudah berkurang
Auskultasi: sudah terdengar suara napas di paru kanan
Terpasang suction continous dengan tekanan
20
mmHg
Foto thoraks: ujung selang di IC 4-5 kanan
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi no; 2,3,4,5,6,7
Ajarkan latihan meniup
II S: Px mengatakan terpasang selang didada kanan
O:
Tidak ada tanda trauma pernapasan dan tanda-tanda infeksi
pada luka, luka bersih ditutup kasa steril
Tidak ada pus didalam selang
Tidak ada krepitasi disekitar selang
Undulasi positif
Kepatenan sistem drainage WSD dalam kondisi baik
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 24 x/mnt, N 84 x/mnt, T 36
C
A: Masalah risti infeksi dan trauma pernapasan tidak terjadi
P: Lanjutkan intervensi No: 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
I S:
Klien mengatakan tidak ada keluhan sesak napas dan nyeri
dada kanan saat bernapas, bernapas ringan
O:
Klien terlihat tenang/rileks, tak tampak sesak napas
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 24 x/mnt, N 84 x/mnt, T 36
I

Kamis
21-4-11
09.00

Jum'at
21-4-11
08.30

C
Terpasang selang WSD di IC 4-5 midline axila kanan
disambung dengan selang penghubung ke botol suction
continous
Terpasang suction continous dengan tekanan
20
mmHg
Undulasi positif
Tampak gelembung udara keluar melalui ujung selang
didalam botol WSD saat batuk
Bentuk dada simetris
Pergerakan dada simetris saat bernapas
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: sonor diparu kanan
Auskultasi: terdengar suara napas di paru kanan
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi no; 1,2,3,4,5,6,7,8
II S: Px mengatakan terpasang selang didada kanan
O:
Tidak ada trauma pernapasan dan tanda-tanda infeksi pada
luka, luka bersih ditutup kasa steril
Selang WSD diklem
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 24 x/mnt, N 84 x/mnt, T 36
C
A: Masalah risti infeksi dan trauma pernapasan tidak terjadi
P: Lanjutkan intervensi No: 1,2,3,4,5,6,7,8
I S:
Klien mengatakan tidak ada keluhan sesak napas dan nyeri
dada kanan saat bernapas, bernapas ringan
O:
Klien terlihat tenang/rileks, tak tampak sesak napas
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 22 x/mnt, N 84 x/mnt, T 36
C
Terpasang selang WSD di IC 4-5 midline axila kanan
disambung dengan selang penghubung ke botol WSD
Terpasang suction continous dengan tekanan
20
mmHg
Undulasi positif
Tampak gelembung udara keluar melalui ujung selang
didalam botol WSD saat batuk minimal
Bentuk dada simetris
Pergerakan dada simetris saat bernapas
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: sonor diparu kanan
Auskultasi: terdengar suara napas di paru kanan
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi no; 1,2,3,4,6

Jumat
22-4-11
09.00

Sabtu
23-4-11
08.30

10

Sabtu
23-4-11
09.00

Klem WSD selama 24 jam


Observasi keluhan sesak napas selama selang diklem, buka
klem bila sesak napas
Cek foto thorakx AP-Lat
II S: Px mengatakan terpasang selang didada kanan
O:
Tidak ada trauma pernapasan dan tanda-tanda infeksi pada
luka, luka bersih ditutup kasa steril
Selang WSD di off
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 20 x/mnt, N 80 x/mnt, T 36
C
A: Masalah risti infeksi dan trauma pernapasan tidak terjadi
P: Lanjutkan intervensi No: 1,2,3,4,7,8
I S:
Klien mengatakan tidak ada keluhan sesak napas selama
24 jam
O:
Klien terlihat tenang/rileks, tak tampak sesak napas
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 20 x/mnt, N 80 x/mnt, T 36
C
WSD di IC 4-5 midline axila kanan diklem
Bentuk dada simetris
Pergerakan dada simetris saat bernapas
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: sonor diparu kanan
Auskultasi: terdengar suara napas di paru kanan
Foto thoraks: paru yang kolaps mengembang
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi
P: Lanjutkan intervensi
Kolaborasi medis untuk tindakan off WSD
Observasi keluhan sesak napas, nyeri dada saat pernapasan
selama 24 jam setelah WSD di off
Observasi ekspansi paru
Observasi TTV
S: Px mengatakan selang didada kanan sudah dilepas
O:
Tidak ada trauma pernapasan dan tanda-tanda infeksi pada
luka, luka bersih ditutup kasa steril
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 20 x/mnt, N 80 x/mnt, T 36
C
A: Masalah risti infeksi dan trauma pernapasan tidak terjadi
P: Hentikan intervensi
Kolaborasi medis pemberian obat antibiotika oral
Dischard Planning :
Penkes perawatan luka dan jahitan di rumah, pola hidup

II

11

Minggu
24-4-11
08.30

sehat
Anjurkan off jahitan hari Senin tanggal 2-5-2011 ke
puskesmas/RS
Anjurkan kontrol ke puskesmas/RS bila ada keluhan
I S:
Klien mengatakan tidak ada keluhan sesak napas
O:
Klien terlihat tenang/rileks, tak tampak sesak napas
TTV : TD 120/70 mmHg, RR 20 x/mnt, N 80 x/mnt, T 36
C
Bentuk dada simetris
Pergerakan dada simetris saat bernapas
Palpasi: teraba getaran disisi paru kanan
Perkusi: sonor diparu kanan
Auskultasi: terdengar suara napas di paru kanan
WSD sudah di off
A: Masalah pola napas tidak efektif teratasi
P: Dischard Planning :
Penkes perawatan luka dan jahitan di rumah
Anjurkan off jahitan hari Sabtu tanggal 15-5-2011 ke
puskesmas/RS
Anjurkan kontrol ke puskesmas/RS bila ada keluhan
Siapkan klien pulang