Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
Omfalokel atau yang dikenal sebagai eksomfalos adalah defek pada midline
dinding abdomen ventral sehingga usus atau organ lainnya tetap berada di luar perut
dan tertutup dalam peritoneum atau membrane amnion. Hal ini disebabkan oleh
karena kegagalan saat usus janin mengalami herniasi fisiologis dari visera rongga
abdomen yang terjadi antara minggu ke-6-12 kehamilan sehingga tidak dapat kembali
seiring dengan penutupan dinding abdomen selama minggu 10-12 kehamilan dan
berlanjut sebagai cacat kongenital.1,2
Sebagian besar mortalitas pada omfakel berhubungan dengan kelainan
penyerta pada jantung atau kromosom. Diagnosis dapat dilakukan pada masa prenatal
dengan USG didapatkan gambaran hernia terbungkus kantong dengan korda
umbilikalis pada bagian puncak kantong. Pada pasien dengan omfalokel, survival
rate mencapai 70-95% tergantung pada usia kehamilan, ukuran defek, dan ada
tidaknya anomali lain, terutama kelainan jantung atau kromosom.1

BAB II
LAPORAN KASUS
A

Identitas
Nama

: By.H

Umur

: 2 hari

Tanggal lahir

: 30 Agustus 2015

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Anak ke

: 2 dari 2 bersaudara

Alamat

: Jln Tsanawiyah, Kec. Soreng. Parepare

Bangsa/suku

: Indonesia/ Bugis

Orang tua
Ayah

: Tn. JN

Umur

: 30 tahun

Pekerjaan

: Petani

Pendidikan

: SMP

Ibu

: Ny. H

Umur

: 20 tahun

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan

: SD

Tanggal pemeriksaan

: Selasa, 1 September 2015

Ruang pemeriksaan

: NICU

Ruang perawatan

: NICU

Lama perawatan

: 30 Agustus 2015 sekarang

Jam pemeriksaan

: 13.32 WITA

Status Umum
Tipe anamnesis

: Alloanamnesis (Ibu pasien)

Keluhan utama
: Tampak usus menonjol keluar dari pusar
Keluhan tambahan : Banyak lendir di mulut, tarikan dinding dada, merintih,
mekonium (-) sejak lahir.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien perempuan, bayi H, usia 2 hari, di rawat di NICU dengan keluhan
tampak usus menonjol keluar dari pusar setelah dilahirkan 2 hari yang lalu di
IGD KB. Usus terbungkus tampak berwarna susu dengan sebagian berwarna
kuning keemasan, tonjolan usus dikelilingi garis lingkaran berwarna merah.
Keluhan ini disertai bayi tampak biru ketika tidak diberikan oksigen. Banyak
lendir di mulut, kental, berwarna putih, tarikan dinding dada, tangisan dapat
lemah atau merintih. Mekonium (-) sejak lahir. BAK (+) biasa.
Riwayat penyakit dahulu:
Tidak ada
Riwayat penyakit keluarga:
Keluarga ayah pasien pernah memiliki riwayat penyakit yang sama.
Riwayat kehamilan dan persalinan:
Pasien lahir di IGD KB ditolong oleh bidan dan dilahirkan secara spontan,
segera menangis, air ketuban berwarna jernih. BBL 2030 gram dan PBL 44
Cm. Diagnosis lahir Bayi Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (BKB-SMK).
Riwayat pemberian vitamin K(+). Riwayat ibu keguguran tidak ada, sakit selama
hamil tidak ada, penggunaan obat-obatan disangkal. Riwayat ANC (+), tidak
teratur.

Status Gizi
a

ASI
Status ASI (-) oleh karena pasien dalam kondisi sesak dengan peningkatan
produksi lendir dan diinstruksikan stop intake oral oleh dokter.

Antropometri
BB
: 1999 gram
PB
: 44 Cm
LLA : 9 cm
BB/ PB: Terletak di atas garis <-3 SD

LK
LD
LP
IMT

: 32 Cm (Terletak tepat di garis -2 SD)


: 27 Cm
: 25,5 Cm
: BB/TB (Kg/m2) = 1,9 Kg/(0,44)2 =
9,8
IMT/ U: terletak dibawah garis -3 SD

Status Gizi: Gizi Buruk (Lampiran)

Status Imunisasi
Imunisasi
BCG
Hep B
Polio
DPT
Campak
Hib
PCV
Rotavirus
Influenza
MMR
Varisela
Hep A
Tifoid
HPV

Belum
Pernah
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Tampak sakit berat
Kesadaran

: Apatis (GCS E4V44M4)

Tanda Vital

Tekanan darah

:-

Booster 18
bln 2 thn

Nadi

: 150 x/menit

Pernapasan

: 55 x/menit

Suhu

: 37,20C

Kulit

Sawo matang, Ikterus (-) Turgor baik (kembali <2 detik); Capillary Refill
Time (CRT) cepat (< 2 detik).
1

Kepala
Rambut

: Hitam, lurus, tipis, distribusi merata, tidak mudah dicabut

Bentuk

: Normocephal

Ukuran

: 32 Cm

Ubun-ubun : Belum menutup


2

Wajah

: Simetris
Mata

: Cekung (+/+),konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Telinga

: Otorrhea (-/-)

Hidung

: Napas cuping hidung (+), Rhinorrhea (-)

Bibir

: Mukosa kering (+)


Pucat

: (-)

Sianosis : (+)
Lain-lain : (-)
Mulut

: lendir, berwarna putih (+)


Gigi

: belum ada

Sel mulut : Stomatitis (-)


Tenggorok: Sulit dievaluasi
Leher

: Kaku kuduk (-)

Kelenjar limfe

: Limfadenopati (-)

Thoraks
Bentuk

: Barrel chest (simetris kanan-kiri)

Payudara

: Tidak ada kelainan

Lingkar dada

: 27 cm

Paru-paru
Inspeksi

Gerak simetris dextra sama dengan sinistra,


pelebaran sela iga ada, retraksi subternal (+)

Palpasi

Vokal fremitus simetris dextra sama dengan


sinistra, nyeri tekan sulit dinilai.

Perkusi

Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

Batas paru hepar interkostal (ICS) VI dextra


:

Bronkovesikuler pada kedua lapang paru;


rhonki basah halus dan wheezing ada pada
kedua lapangan paru.

Jantung
Inspeksi

: Iktus kordis tampak

Palpasi

: Denyut ictus cordis teraba pada ICS V kiri

Perkusi

: Batas kiri linea midklavikularis sinistra; batas kanan


parasternalis dextra; batas atas ICS III sinistra

Auskultasi
4

: Bunyi jantung I dan II murni, reguler; bising tidak ada

Abdomen
Inspeksi

: Cembung, tampak omfalokel berdiameter 4,5 cm, berwarna


seperti susu dan sebagian berwarna emas.

Auskultasi : Peristaltik menurun


Palpasi

: Tegang, Nyeri tekan sulit dinilai

Lien : Teraba 1 cm dibawah arkus kosta kiri


Hepar : Teraba 2 cm dibawah arkus kosta kanan
Massa : Benjolan usus pada daerah midline
Perkusi

: Hipertimpani

Lingkar perut: 25,5 Cm

Genitalia
Alat kelamin : Labia mayora dan minora sama-sama menonjol
Kelenjar limfe: Limfadenopati (-)

Ekstremitas

: Tidak ada kelainan, edema (-)

Status neurologis
Col. Vertebralis

: tidak ada kelainan

Refleks primitif

: refleks sucking (+) lemah, refleks babinski (+), reflex

moro (+), refleks palmar grasp (+), refleks plantar grasp (+) lemah.
F

Resume
Pasien perempuan, bayi H, usia 2 hari, di rawat di NICU dengan keluhan
tampak usus menonjol keluar dari pusar setelah dilahirkan 2 hari yang lalu di
IGD KB. Usus tampak terbungkus dan berwarna susu dengan sebagian berwarna
kuning keemasan, tonjolan usus dikelilingi garis lingkaran berwarna merah.
Keluhan ini disertai bayi tampak biru ketika tidak diberikan oksigen. Banyak
lendir di mulut, kental, berwarna putih. tarikan dinding dada, tangisan dapat
lemah atau merintih. Mekonium (-) sejak lahir. BAK (+) biasa. Keluarga ayah
pasien juga memiliki riwayat yang sama. Pasien merupakan bayi kurang bulan
sesuai masa kehamilan (BKB-SMK). Pemeriksaan fisik didapatkan, KU: apatis,
N : 180 x/ menit, P : 55x/ menit, S: 37,2C. Pemeriksaan antropometrik termasuk
gizi buruk. Mata cekung (+), mukosa bibir kering, retraksi substernal, auskultasi
paru didapatkan rhonki basah halus dan wheezing pada kedua lapangan paru.

G Pemeriksaan Penunjang
1

Laboratorium Darah Rutin tanggal 31-08-2015


WBC
LYM
MID
GRA
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
RDW
PLT

Nilai rujukan
3,8 10,6. 103/L
0,9 3,0. 103/L
0,2 1,3 103/L
2,3 6,0 103/L
4,20 5,30 .106/L
12,2 16,0 g/dL
36,0 50,7%
80,0 96,0 fL
28,0 - 32,0 pg
33,0 35,0 g/dL
11,0 15,0 %
150 - 350 . 103/L

Interpretasi Patologi Klinik:


Leukositosis, granulositosis, makrositosis
2

Radiologi

Hasil
12,1. 103/L
2,3 103/L
0,8 103/L
8,9 103/L
5,02 106/L
17,3 g/dL
54,4%
108,4 fL
34,5 pg
31,8 g/dL
13,9 %
228 .103/L

Kesan:
Suspek pneumonia, dd;
-

Atelektasis lobus superior dextra

Thymus hiperplasia

H Tatalaksana
Tatalaksana di NICU hari ke-2:
1

O2 1 Liter/ menit

IVFD D5% 9,9 ml/jam/SP

Ampicillin 4x50 mg//IV

Gentamicin 2x5 mg/IV

Aminophilin 2,5 mg /kgbb (MD)

Kompres Nacl pada omfalokel

Bactroban cream 2x1 oleskan pada omfalokel

Imobilisasi omfalokel

10

Diagnosis Kerja
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,
maka diagnosis kerja yang sesuai dengan kondisi pasien adalah:

Omfalokel

BBLR

Pneumonia

Follow up
HASIL PEMERIKSAAN, ANALISA DAN TINDAK LANJUT

Tanggal

CATATAN PERKEMBANGAN
S (subjective) O (objective) A (Assesment)

P (planning)

30/09/

S: Penonjolan usus dari pusar (+), merintih R/

2015

(+), tubuh teraba dingin, banyak lendir -

O2 1 Liter/ menit

di

OGT

mulut,

tarikan

Mekonium (-)
O: N : 150 x/m
P : 49 x/menit
S : 35,80C

dinding

dada, -

IVFD D5% 6,4


ml/jam/SP

Ampicillin 4x50 mg//IV

Mata : anemis -/-, Ikterus -/-, cekung +


Paru
:Retraksi
substrernal
BND Bronkovesikuler +/+, Rh +-+-,

Gentamicyn 2x5 mg/IV

Wh /+
Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : massa usus menonjol -

Aminophilin 6 mg/kgbb
(LD), 2,5 mg /kgbb
(MD)

11

terbungkus

peritoneum,

cembung,

tegang, hipertimpani, peristaltik (+)

31/09/

menurun.
Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar (+), tarikan R/

2015

dinding dada (+), merintih (+), tubuh -

Terapi lanjut

teraba dingin, banyak lendir di mulut. -

Kompres Nacl pada

Mekonium (-)
O: N : 145 x/m
P : 40 x/menit
S : 36,50C

omfalokel
-

oleskan pada omfalokel

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus -/- Paru : BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,
tegang, -

01/09/
2015

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar (+),tarikan
R/
dinding dada (+), merintih (+), banyak
lendir di mulut. Mekonium (-)
O: N : 180 x/m
P : 55 x/menit
S : 37,20C
Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus -/Paru : BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+,
Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

Krim Bactroban 2x1

tegang,

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

Imobilisasi omfalokel
Keb cairan: 6,1
ml/jam/SP
Foto thorax
Cek darah lengkap

Terapi lanjut
Keb.cairan 9,9
ml/jam/SP

12

02/09/

S: Penonjolan usus dari pusar (+),tarikan R/

2015

dinding dada (+), merintih (+), banyak -

Terapi lanjut

lendir di mulut. BAB (-) 4 hari


O: N : 152 x/m
P : 40x/menit
S : 37,30C

Piracetam 3x50 mg

Keb cairan: 11
cc/jam/SP

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus -/Paru : BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+,
Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

tegang,

03/09/

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar (+),tarikan R/

2015

dinding dada (+), merintih (+), banyak -

Terapi lanjut

lendir di mulut. BAB (-) 5 hari.


O: N : 144 x/m
P : 33x/menit
S : 36,30C

Cek Bilirubin total,

Bilirubin direk
-

Mata : cekung+/+, anemis -/-, Ikterus +/+


Kramer IV
Paru : BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+,
Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

tegang,

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

Keb cairan: 9,7 cc/jam

13

04/09/

S: Penonjolan usus dari pusar (+),tarikan R/

2015

dinding dada (+), merintih (+), banyak -

Aminophilin 2x2,5 mg

lendir di mulut. BAB (-) 6 hari.


O: N : 168 x/m
P : 35x/menit
S : 370C

Meropenem 2x80 mg

Piracetam 3x50 mg

Bactroban cream untuk

Mata : cekung+/+,anemis -/-, kterus +/+,

rawat omfalokel

Kramer 4.
+
Paru : BND Bronkovesikuler /+,Rh+/+, Wh+/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,
tegang,

Fototerapi 1x24 jam

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia +
Hiperbilirubinemia

Keb

cairan:

9,4

cc/jam/SP

Hasil lab:
Bil Total: 15,3 mg/dl
Bil Direk: 0,9 mg/dl

05/09/

GDS; 109 mg/dl


S: Penonjolan usus dari pusar mulai R/

2015

berkurang, tarikan dinding dada minimal -

Terapi lanjut

(+), merintih (+), banyak lendir di mulut.

Keb

BAB (-) 7 hari.


O: N : 165 x/m
P : 33x/menit
S : 37,20C

cc/jam/SP

Mata : cekung+/+, anemis -/-, Ikterus +/+,


Kramer IV
Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler+/+,Rh+/+, Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen: cembung, tegang,
hipertimpani , peristaltik (+) menurun,
Ekstremitas : ruam (-)

cairan:

8,2

14

A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia +


Hiperbilirubinemia
07/09/

S: Penonjolan usus dari pusar mulai R/

2015

berkurang, tarikan dinding dada minimal, -

Terapi lanjut

merintih (+), banyak lendir di mulut. BAB -

Mucosin krim diganti

(-) 8 hari.
O: N : 165 x/m
P : 33x/menit
S : 37,20C

Burnazin

krim

untuk

perawatan omfalokel

Mata : cekung+/+, anemis-/-,Ikterus sulit


dinilai
Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler +/+,Rh+/+,Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,
tegang,
hipertimpani , peristaltik (+) menurun,
Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia +
08/09/

Hiperbilirubinemia
S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+),tarikan dinding dada, merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (-) 9 hari.


O: N : 160 x/m
P : 38x/menit
S : 36,50C

USG Abdomen

Cek darah rutin

Bil total: 12,1 mg/dl

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus


sulit dinilai
Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh
+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

+/

tegang,

15

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

09/09/

S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+),tarikan dinding dada (+), merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (-) 10 hari.


O: N : 157 x/m
P : 40x/menit
S : 36,50C

Klisma 10-20 cc

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus


sulit dinilai
Paru : Retraksi

Hasil lab:
substernal,

BND WBC: 27,1 103/uL

Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh +/+LYM: 5,1 103/uL


Jantung : BJ I/II murni regular.
3
Abdomen : Tali pusat mulai kering GRH: 18,0 10 /uL
cembung,

tegang,

hipertimpani

peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

3
, RBC: 4,16 10 /uL

MCV: 100 106/uL


PLT: 108 103/uL

Foto thoraks;
Kesan penebalan dinding
rectosigmoid,
Dd/ Skibala

16

10/09/

S: Penonjolan usus dari pusar semakin R/

2015

berkurang

(+),tarikan

dinding

dada -

Terapi lanjut

minimal, merintih (+), banyak lendir kental


di mulut. BAB (+).
O: N : 153 x/m
P : 31x/menit
S : 36,50C
Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-)
Paru : Retraksi substernal minimal,
BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh

+/

+Jantung : BJ I/II murni regular.


Abdomen : tali pusar kering, cembung,
tegang, hipertimpani , peristaltik (+)

11/09/

menurun,
Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+),tarikan dinding dada, merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (+) 2x.


O: N : 160 x/m
P : 35x/menit
S : 36,50C

Sonde ASI , Infus 3/4

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-)


Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh
+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

+/

tegang,

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

17

12/09/

S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+), tarikan dinding dada, merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (+) 1x.


O: N : 158 x/m
P : 35x/menit
S : 36,60C
Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-)
Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler +/+, Rh +/+, Wh
+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,

+/

tegang,

13/09/

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+),tarikan dinding dada, merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (+) 1x.


O: N : 136 x/m
P : 48x/menit
S : 36,50C
Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-)
Paru : Retraksi substernal berkurang,
BND Bronkovesikuler +/+, Rh+/+, Wh +/+
Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen:
cembung,
tegang,

14/09/

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+),tarikan dinding dada minimal, merintih -

Terapi lanjut

(+), banyak lendir di mulut. BAB (+) 1x.


O: N : 140 x/m
P : 34x/menit
S : 36,50C

Foto thorax

18

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-)


Paru : Retraksi substernal kurang, BND
Bronkovesikuler +/+,Rh+/+, Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen
:
cembung,
tegang,

15/09/

hipertimpani , peristaltik (+) menurun,


Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia
S: Penonjolan usus dari pusar berkurang R/

2015

(+), tarikan dinding dada, merintih (+), -

Terapi lanjut

banyak lendir di mulut. BAB (+), Kejang -

Stop intake oral

durasi 5 detik, frekuensi 5x..


O: N : 145 x/m
P : 30x/menit
S : 370C

Fenobarbital 20

mg/kgbb (LD), 2,5


mg/kgbb (MD) IV

Mata : cekung +/+, anemis -/-, Ikterus (-) Paru : Retraksi substernal berkurang,

GDS: 158 mg/dl

BND Bronkovesikuler+/+, Rh+/+, Wh +/+Jantung : BJ I/II murni regular.


Abdomen
:
cembung,
tegang, Foto thoraks:
hipertimpani , peristaltik (+) menurun,
Ekstremitas : ruam (-)
A: Omfalokel + BBLR + Pneumonia

BAB III

Kesan pneumonia
Dd/ atelektasis lobus
sup.dextra

19

DISKUSI KASUS
Pasien perempuan, bayi H, usia 2 hari, di rawat di NICU dengan keluhan
tampak usus menonjol keluar dari pusar. Usus tampak berwarna susu dengan
sebagian berwarna kuning keemasan, tonjolan usus dikelilingi garis lingkaran
berwarna merah. Pada palpasi teraba masa benjolan usus pada daerah midline
Riwayat keluarga (+),.Riwayat ibu keguguran tidak ada, sakit semasa mengandung
disangkal, penggunaan obat-obatan disangkal.
Berdasarkan teori

diagnosis pascanatal omfalokel cukup jelas dengan

inspeksi defek namun masa prenatal dapat terdiagnosis selama pemeriksaan ANC
melalui USG pada trimester kedua dan ketiga, dimana pada kasus ini ibu mengaku
ANC tidak teratur sehingga terlewatkan diagnosis prenatal. Selain itu juga
pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah ekokardiogram untuk mendiagnosa
suatu kelainan jantung yang dapat terjadi bersamaan dengan omfalokel, hal ini
disebabkan oleh karena proses herniasi omfalokel pada masa embriogenesis yang
dapat bersamaan dengan defekasi jantung. Namun dalam kasus tidak dilakukan, hal
ini mungkin oleh karena dari pemeriksaan fisis tidak didapatkan tanda-tanda kelainan
jantung.3

Gambar 1. Omfalokel
Penatalaksanaan omfalokel dapat berupa konservatif dan operatif. Untuk

20

terapi konservatif dilakukan pada kasus omfalokel besar atau terdapat status klinis
bayi yang buruk sehingga ada kontraindikasi terhadap operasi atau pembiusan atau
neonates dengan kelainan penyerta yang mengancam jiwa dimana penanganannya
harus didahulukan daripada omfalokelnya.. Tindakan konservatif secara sederhana
dilakukan dengan dasar merangsang epitelisasi dari kantong atau selaput. Obat yang
biasa digunakan dalam hal ini adalah mebromin, silver nitrat, silver sulvadizine dan
povidone iodine (betadin). Obat-obat ini merupakan agen antiseptik yang pada
awalnya memacu pembentukan eskar bakteriostatik dan perlahan-lahan akan
merangsang epitelisasi. Obat tersebut berupa krim dan dioleskan pada permukaan
selaput atau kantong dengan elastik dressing yang sekaligus secara perlahan dapat
menekan dan menguragi isi kantong.
Penatalaksanaan dengan operasi bertujuan untuk mengembalikan organ visera
abdomen ke dalam rongga abdomen dan menutup defek ujuan operasi atau
pembedahan ialah memperoleh lama ketahanan hidup yang optimal dan menutup
defek dengan cara mengurangi herniasi organ-organ intra abomen, aproksimasi dari
kulit dan fascia serta dengan lama tinggal di RS yang pendek. Operasi dilakukan
setelah tercapai resusitasi dan status hemodinamik stabil. Operasi dapat bersifat
darurat bila terdapat ruptur kantong dan obstruksi usus. Operasi dapat dilakukan
dengan 2 metode yaitu primary closure (penutupan secara primer atau langsung) dan
staged closure (penutupan secara bertahap). Operasi dapat dilakukan dengan 2
metode yaitu primary closure dan staged closure. Primary closure merupakan
treatment of choice pada omfalokel kecil dan medium. Biasanya dilakukan pada
omfalokel dengan diameter defek <5-6 cm.
Sedangkan untuk Staged closure dilakukan pada kasus omfalokel besar atau
terdapat perbedaan yang besar antara volume organ-organ intraabdomen yang
mengalami herniasi atau eviserasi dengan rongga abdomen seperti pada giant
omphalocele, yang dilakukan tindakan konservatif, ternyata memakan waktu yang
lama, membutuhkan nutrisi yang banyak dan beresiko terhadap pecahnya kantong
atau selaput sehingga dapat timbul infeksi. Juga pada keadaan tertentu selama

21

operasi, ternyata tidak semua pasien dapat dilakukan primary closure. Yaster M. et al
(1989) dari suatu studinya melaporkan bahwa kenaikan IGP (intra gastricpressure) >
20 mmHg dan CVP > 4 mmHg selama usaha operasi primer dapat menyebabkan
kenaikan tekanan intraabdomen yang dapat berakibat gangguan kardiorespirasi dan
dapat membahayakan bayi sehingga usaha operasi dirubah dengan metode staged
closure.
Pada kasus ini, pasien hanya diberikan terapi konservatif oleh karena kondisi
neonatus yang mengancam jiwa atau gangguan napas yang dapat mengakibatkan
gagal napas akut yang dapat menyebabkan hipoksemia dan atau hiperkarbia dengan
insidens morbiditas yang signifikan. Pada kasus didapatkan bayi tampak biru ketika
tidak diberikan oksigen. Banyak lendir di mulut, kental, berwarna putih, tangisan
dapat lemah atau merintih retraksi substernal, napas cuping hidung (+), bibir
berwarna biru (+), auskultasi paru didapatkan rhonki basah halus dan wheezing pada
kedua lapangan paru. Hasil foto toraks didapatkan kesan pneumonia, dengan
gambaran opak atau konsolidasi pada lobus paru kanan atas. Berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang pasien diatas dapat didiagnosa pasien
dengan pneumonia. 4
Pneumonia merupakan infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan
jaringan interstitial. Pneumonia yang terjadi dalam beberapa jam setelah lahir menjadi
bagian dari sindroma sepsis umum. Organisme yang biasanya menyebabkan
pneumonia antara lain Streptococcus grup A atau grup B, Staphylococcuc aureus,
E.coli, Kliebsella atau Proteu dan H. Influenza. Pneumonia baru lahir berawal dari
pecahnya ketuban sebelum waktunya yang menyebabkan terjadinya infeksi pada
cairan ketuban sehingga jain dalam cairan ketuban yang terinfeksi akan
menghirupnya sehingga terjadi pneumonia dan kadang disertai sepsis. Gejala pada
neonatus yang sering dijumpai adalah takipneu, retraksi diniding dada, grunting dan
sianosis. Foto rontgen toraks posterior anterior merupakan dasar diagnosis utama
pneumonia. Terapi pada pneumonia berupa medikamentosa, suportif dan bedah.
Untuk medikamentosa dapat diberikan antibiotik sesuai dengan kelompok umur.

22

Untuk bayi dibawah bulan 3 bulan diberikan golongan penisilin dan aminoglikosida.
Dimana pada kasus, terapi yang diberikan untuk pasien ini adalah ampicillin 4x50 mg
dan gentamicin 2x5 mg/IV. Terapi antibiotik diganti dengan meropenem 2x80 mg
Piracetam 3x50 mg Sedangkan terapi suportif dapat diberikan oksigen sesuai derajat
sesaknya pada kasus rata-rata jika sesaknya berkurang diberikan oksigen 1
liter/menit,. Pada teori dikatakan bahwa, nutrisi parenteral diberikan selama pasien
masih sesak. Namun pada kasus ini, jika derajat sesak ringan, maka dapat diberikan
ASI lewat sonde oleh karena tidak ada nutrisi parenteral.5,6
Diagnosis lahir Bayi Kurang Bulan-Sesuai Masa Kehamilan (BKB-SMK)
atau disebut prematur, dimana dapat timbul masalah-masalah yang terkait pada bayi
prematur antara lain ditemukan tanda-tanda yang didapatkan pada kasus seperti alat
kelamin, labia mayora dan minora sama-sama menonjol dan refleks primitif lemah.
Mekonium (-) sejak lahir mungkin disebabkan oleh Motilitas usus yang jelek yang
menjadi salah satu masalah bayi prematur.7
Pada hari ke lima perawatan didapatkan ikterus pada bayi, hal ini mungkin
disebabkan oleh penimbunan bilirubin indirek pada kulit yang menimbulkan warna
kuning muda karena biasanya pada bayi produksi bilirubin meningkat yang
disebabkan masa hidup eritosit bayi lebih pendek (70-90 hari) selain itu juga oleh
karena bayi kurang bulan biasanya memiliki ikatan albumin dan bilirubin yang
rendah, sehingga menyebabkan hiperbilirubuinemia. Pada teori, penatalaksanaan
hiperbilirubinemia berdasarkan berat badan bayi adalah:8

Tabel 1. Petunjuk penatalaksanaan hiperbilirubinemia pada bayi8


Sehat
Berat badan

Fototerapi

Sakit
Transfusi
Tukar

Fototerapi

Transfusi
Tukar

23

Kurang bulan
< 1000 gr
1001-15000 gr
1501-2000 gr
2001- 2500 gr

5-7 mg/dl
7-10 mg/dl
10-12 mg/dl
12-15 mg/dl

Cukup bulan
>2500 gr

15-18 mg/dl 20-25 mg/dl

Bervariasi
Bervariasi
Bervariasi
Bervariasi

4-6 mg/dl Bervariasi


6-8 mg/dl Bervariasi
8-10 mg/dl Bervariasi
10-12 mg/dl
Bervariasi
12-15 mg/dl

18-20 mg/dl

Pada kasus ini, pasien setelah cek bilirubin, kadarnya adalah 15,3 mg/dl,
dimana pasien diindikasikan untuk di fototerapi. 1x24 jam, dengan hasil kadar
bilirubin terakhir adalah 12 mg/dl, dari klinis ikterus (-) sehingga dihentikan foto
terapi.
Pada hari terkahir follow up, pasien kejang dengan frekuensi 5x, durasi
kejang 5 detik dan interval antar kejang adalaah 3 detik, tatalaksana pasien sama
seperti yang dijelaskan dalam teori mengenai tatalaksana kejang pada neonatus antara
lain Fenobarbital 20 mg/kgBB/intravena encerkan dengan dektrosa 5% menjadi 5 cc
dalam waktu 10-15 menit, jika tidak dapat berhenti dapat diulang dengan dosis 10
mg/kgBB sebanyak 2 kali dengan selang waktu 30 menit. Jika tidak tersedia jalur
intravena, dapat diberikan intramuskuler dengan dosis ditingkatkan 10-15%. Bila
kejang berlanjut diberikan Fenitoin 20 mg/kgbb/intravena dalam larutan garam
fisiologis dengan kecepatan 1 mg/kgbb/menit. Dosis rumatan fenobarbital 3-5
mg/hari dengan dosis tunggal atau dibagi 2 (per 12 jam) secara intravena atau peroral
sampai bebas kejang 7 hari. Dosis rumatan fenitoin 4-8 mg/kg/hari/intravena atau
peroral. Dosis terbagi 2 atau 3.5

24

LAMPIRAN
BB/PB

IMT/ U

25

Lingkar kepala (LK)

26

DAFTAR PUSTAKA
1

Klein MD. Congenital defects of the abdominal wall. In: Coran AG, Caldamone
A, Adzick NS, Krummel TM, Laberge JM, Shamberger R (eds). Pediatric
surgery. 7th ed. Philadelphia: Mosby; 2012.

Central for Disease control and prevention. Facts about Omphalocele [cited
October 9, 2014. [cited at 12 Sept 2015]
Available URL: http://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/omphalocele.html.

Narulita Dewi. Omfalokel. Klinik Grow Up. 2014. [cited at 10 sept 2015]
Available URL: http://www.growupclinic.com/omfalokel.html

M Sholeh. Gangguan Napas pada BBLR. Buku Ajar Neonatologi. IDAI. 2012

Standar Pelayanan Medik Kesehatan Anak. FK-UNHAS. Dr. Wahidin.


Sudirosodo. 2012

C Mary. Neonatal Pneumonia. The Merck Manal. 2013

Kliegman, Behrman, Jenson, et al. Prematurity and Intrauterine Growth


Retardation. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi 18; 2008.

Abdulrahman Suadi. Hiperbilirubinemia. Buku Ajar Neonatologi. IDAI. 2012