Anda di halaman 1dari 8

UJI WADAH GELAS UNTUK INJEKSI

I. TUJUAN
Memahami cara pengujian wadah gelas untuk sediaan parenteral.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Injeksi adalah penyemprotan larutan atau suspense ke dalam
tubuh unutk tujuan terapetik atau diagnosis. Keuntungan injeksi sendiri
antara lain tidak iritasi pada lambung, efek cepat tetapi juga memiliki
kekurangan yaitu biaya yang lebih mahal.
Wadah untuk pemakaian injeksi antara lain:
a. Ampul adalah wadah berbentuk silindris terbuat dari gelas yang
memiliki ujung runcing (leher) dan bidang dasar datar ujung runcing
(leher) dan bidang dasar datar. Ukuran nominalnya adalah 1, 2, 5, 10,
20 kadang-kadang 25 atau 30 ml. Ampul adalah wadah takaran
tunggal, oleh karena itu pemakaiannya untuk sekali injeksi.
b. Botol kecil dan botol ( vial, botol penusuk, botol kapsolut) dapat
berupa wadah takaran ganda. Botol tersebut digunakan untuk
mewadahi serbuk bahan obat, larutan atau suspense dengan volume
sebanyak 5 ml, akan tetapi dalam pemasarannya ukuran lebih besar
5 ml, akan tetapi dalam pemasarannya ukuran lebih besar tersedia.
(Voight, 1995)
Gelas

pada

dasarnya

bersifat

inert

secara

kimiawi,

tidak

permeable, kuat, keras, dan disetujui FDA. Gelas tidak menurun mutu
penyimpanan dan dengan system penutupan yang secukupnya dapat
menjadi suatu penghalang yang sangat baik terhadap hamper setiap
unsure, kecuali cahaya. Gelas berwarna dapat melindungi cahaya jika
diperlukan. Kekurangan utama gelas adalah mudah pecah dan berat.
Gelas dalam sediaan farmasi dikategorikan menjasi 4 kategori:
a. Tipe I Gelas Borosilikat (daya tahan tinggi)
b. Tipe II Gelas Natrium Karbonat yang Diolah (Treade Soda-lime Glass)
c. Tipe III Gelas Natrium Karbonat biasa (Soda-lime Glass)
d. Tipe IV Gelas Na Karbonat untuk penggunaan Umum (Soda
lime Glass untuk tujuan umum)
(Saifullah, 2009)
Uji wadah gelas untuk injeksi ada tiga yaitu:
a. Pemeriksaan batas kebasaan

b. Pemeriksaan batas arsen


c. Pemeriksaan batas timbal
(Anonim, 1979)
Untuk

pengujian

gelas,

pelepasan

alkali

dari

gelas

dapat

ditentukan dengan melalui cara yang berlainan dengan metode yaitu:


a. Metode serbuk gelas (metode lumatan)
Pada metode serbuk, gelas diserbukkan kemmudian
disuspensikan

dalam

aseton.

Setelah

ditambahkan

air

dilakukan pemanasan dalam autoklaf dan ditetesi larutan


indicator merah metal kemudian dititrasi menggunakan asam
hidroklorida (0,01 mol / liter)
b. Uji permukaan
Wadah gelas yang diisikan larutan bebas CO 2 dan
mengandung sejumlah HClatau H2SO4 tertentu (0,01 mol/ liter)
dan merah metal sebagai indicator. Setelah disterilkan wadah
ditutup, dalam autoclave tidak boleh menghasilkan perubahan
warna.
(Voight, 1995)
III.

METODE KERJA
1. Alat dan Bahan
Alat

Bahan

Autoclave

Air bebas CO2

Botol infuse kaca

Aquadest

Alumunium foil

H2SO4 0,01 N

Erlenmayer

Acetone

Buret

Indicator metal merah

Gelas ukur

HCl PPb

Pipet tetes

Natrium sulfida

Tabung reaksi


2. Cara Kerja
a. Batas kebasaan

Dibuat aqua bebas CO2

Disiapkan 3 botol infuse volume 250 ml

Dibilas bagian dalam dengan aquadest dan aqua bebas CO 2 secara

bergantian hingga dirasa sempurna

Diisi tiap botol dengan aqua bebas CO 2 hingga masing-masing botol


terisi 90 %

Ditutup mulut botol dengan alumunium foil yang sudah dibilas dengan

acetone

Botol diautoclave pada 115oC selama 20 menit


Dikeluarkan botol, didinginkan, kemudian 100 ml isi botol dituang

dalam erlenmeyer untuk titrasi

Ditambah 5 tetes indikator metal merah, kemudian lakukan titrasi


menggunakan H2SO4 0,01 N

Dilakukan titrasi blanko menggunakan 100 ml aqua bebas CO 2

b. Batas Timbal

Dipipet 10 ml air dari wadah yang dikerjakan menurut cara pada

batas kebasaan, ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 1 tetes HCl PPb dan 3 tetes larutan Natrium sulfida

Dilihat ada tidaknya warna coklat (jika terdapat warna coklat


berarti terdapat timbal)

3. Pembahasan Cara Kerja


Penggunaan

aqua

bebas

CO2 bertujuan

agar

tidak

mempengaruhi titik akhir titrasi. Jika yang digunakan aqua dengan


CO2 , maka CO2 akan bereaksi dengan H2SO4 membentuk H2CO3
(asam karbonat). Hal ini menyebabkan larutan lebih asam dan dapat
mempercepat titik akhir titrasi, sehingga dapat mempengaruhi hasil
percobaan.Botol infuse hanya diisi 90 % dari kapasitasnya agar ada
rongga udara dalam botol, sehingga botol tidak pecah ketika
diautoclave. Kemudian mulut botol ditutup dengan alumunium foil
agar tidak ada cairan yang menguap dari dalam botol serta agar
tidak ada CO2 yang masuk ke botol. Alumunium foil dicuci dulu
dengan acetone yang bertujuan untuk membantu menghilangkan
kuman pada wadah gelas yang akan diautoclave.
Titrasi yang dilakukan merupakan titrasi

netralisasi,

karena untuk menguji kebasaan maka titran yang digunakan bersifat


asam dengan indicator metal merah. Titrasi blanko dilakukan
sebagai

faktor

koreksi

untuk

mengetahui

apakah

ada

yang

berinteraksi selain sampel dengan bahan lain. Titrasi blanko


menggunakan air bebas CO2 tetapi bukan yang dari botol infus.
Sebelum dilakukan titrasi botol infus (aqua bebas CO 2) didinginkan
terlebih dahulu agar tidak menghambat proses reaksi pada saat
titrasi berlangsung.
Untuk uji batas timbal, parameter yang digunakan adalah
perubahan warna. Jadi dilihat ada tidaknya warna coklat akibat
reaksi antara timbal dan asam klorida. HCl PPb berfungsi untuk
mengasamkan larutan, sedangkan Natrium sulfida digunakan karena
senyawa ini merupakan prediksi spesifik timbal, apabila ada warna

IV.

coklat berarti mengandung timbal.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Data Percobaan
1 Uji Batas Kebasaan

Volume botol
: 500 ml

Volume sampel
: 100 ml

Hasil Titrasi
:

Sampel

Volume H2SO4

Rata-

Blangko
Sampel

rata

0,20

0,25

0,15

0,10

0,17

0,2

0,25

0,30

0,25

0,3

0,35

0,35

0,35

Keterangan :

Dilihat perubahan warna titrat dari kuning


menjadi jingga (volume titran)
Kesimpulan :
Wadah bersifat basa

Uji Batas Timbal

Warna larutan tetap jernih

Kesimpulan :
Tidak ada timbal

B. Perhitungan
Volume blanko = 0.20 ml

BM H2SO4
= 98.08 g / mol

BM
2

98.08
2

= 49.04 g / mol

BE H2SO4

a. Sampel 1
Replikasi 1

= Vs - Vb

= 0.25 ml 0.20 ml

=
Kadar =

=
Replikasi 2
V
=

=
Kadar =
Replikasi 3
V
=

=
Kadar =

0.05 ml
V x N x BE
0.05 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.02452 mg
Vs - Vb
0.15 ml 0.20 ml
-0.05 ml
0
Vs - Vb
0.10 ml 0.20 ml
-0.10 ml
0 mg

Kadar rata-rata

b. Sampel 2
Replikasi 1

V
=

Kadar =
Replikasi 2

V
=

Kadar =

=
Replikasi 3

V
=

Kadar =

0.02452+ 0+0
3

= 0.00817 mg

Vs - Vb
0.20 ml 0.20 ml
0 ml
0 mg
Vs - Vb
0.25 ml 0.20 ml
0.05 ml
V x N x BE
0.05 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.02452 mg
Vs - Vb
0.30 ml 0.20 ml
0.10 ml
V x N x BE
0.10 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.04904 mg

Kadar rata-rata

0+0.04904+ 0.02452
3

= 0.02452 mg
c. Sampel 3
Replikasi 1

V
= Vs - Vb

= 0.35 ml 0.20 ml

=
Kadar =

=
Replikasi 2
V
=

=
Kadar =

=
Replikasi 3
V
=

=
Kadar =

Vs - Vb
0.35 ml 0.20 ml
0.15 ml
V x N x BE
0.15 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.07356 mg
Vs - Vb
0.35 ml 0.20 ml
0.15 ml
V x N x BE
0.15 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.07356 mg

Kadar rata-rata

C. Analisis Data

0.15 ml
V x N x BE
0.15 ml x 0.01 N x 49.04 g / mol
0.07356 mg

0.07356+0.07356+0.07356
3

= 0.07356 mg

Perlu dilakukan titrasi blangko yaitu dengan mentitrasi aqua

bebas CO2 dengan H2SO4, sehingga volume titrasi sesunguhnya sama


dengan volume titrasi sampel dikurangi blangko. Titrasi blangko ini
diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh aqua bebas CO 2
yang digunakan, sehingga yang terukur adalah kadar yang sebenarnya dari
sampel. Dari percobaan diperoleh data botol pertama, kedua dan ketiga
replikasi I,II dan III kadar kebasaan tidak lebih dari 0,5 mL. Syarat batas
kebasaan untuk wadah berkapasitas lebih dari 100 ml diperlukan tidak lebih
dari 0,5 ml H2SO4 0,01 N. Dari data yang dipeoleh menunjukkan bahwa botol
infus hasil percobaan ini memenuhi syarat kebasaan yang telah ditentukan.

Untuk uji batas timbal dilakukan dengan mereaksikan larutan air

sampel dengan Natrium sulfide P dan Asam klorida. Adanya timbale dalam
larutan tersebut jika muncul warna coklat setelah direaksikan. Larutan dari
ketiga wadah yang diuji tidak menunjukkan warna coklat setelah direaksikan,
sehingga dapat disimpulkan botol infus bebas dari timbal. Timbal merupakan

senyawa yang toksik bagi tubu, namun keberadaannya tidak dapat dihindari
dalam produksi wadah gelas.

V. KESIMPULAN
1. Volume titran (H2SO4 0,01N) sebandingdengan basa yang terkandung dalam
gelas
2. Wadah gelas yang diuji tidak memenuhi syarat uji batas kebasaan

VI.

3. Wadah gelas (botol infus) tidak mengandung timbal

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, UGM Press,
Yogyakarta.
Voight, Rudolf, 1995,

Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, UGM Press,

Yogyakarta.
Wahyu, Kurniawan Dhadhang dan T.N. Saifullah Sulaiman.2009. Teknologi
Sediaan Farmasi Edisi I. GrahaI lmu.Yogyakarta.