Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah sebuah analisis system yang
melibatkan aliran fluida, perpindahan panas dan fenomena terkait seperti reaksi
kimia dengan cara simulasi berbasis komputer, CFD adalah metode penghitungan,
memprediksi, dan pendekatan aliran fluida secara numerik dengan bantuan
komputer. Aliran fluida dalam kehidupan nyata memiliki banyak sekali jenis dan
karakteristik tertentu yang begitu kompleks, CFD melakukan pendekatan dengan
metode numerasi serta menggunakan persamaan-persamaan fluida. Berikut ini
beberapa contoh aliran fluida yang sring kita temui sehari-hari:
a. Pemanas ruangan, ventilasi ruangan, memadamkan api dengan air.
b. Pembakaran bensin pada engine dan tentunya juga polusi.
c. Pesawat, parasut, berselancar, berlayar
d. Menyolder, pembuatan besi atau baja, eleltrolisis air dll.
CFD merupakan metode penghitungan dengan sebuah kontrol dimensi,
luas dan volume dengan memanfaatkan bantuan komputasi komputer untuk
melakukan perhitungan pada tiap-tiap elemen pembaginya. Prinsipnya adalah
suatu ruang yang berisi fluida yang akan dilakukan penghitungan dibagi-bagi
menjadi beberapa bagian, hal ini sering disebut dengan sel dan prosesnya
dinamakan meshing. Bagian-bagian yang terbagi tersebut merupakan sebuah
kontrol penghitungan yang akan dilakukan oleh aplikasi atau software. Kontrolkontrol penghitungan ini beserta kontrol-kontrol penghitungan lainnya merupakan
pembagian ruang yang disebutkan tadi atau meshing.

1
Nantinya, pada setiap titik kontrol penghitungan akan dilakukan
penghitungan oleh aplikasi dengan batasan domain dan boundary condition yang
telah ditentukan. Prinsip inilah yang banyak dipakai pada proses penghitungan
dengan menggunakan bantuan komputasi komputer. Contoh lain penerapan
prinsip ini adalah Finite Element Analysis (FEA) yang digunakan untuk
menghitung tegangan yang terjadi pada benda solid.
Sejarah CFD berawal pada tahun 60-an dan mulai terkenal pada tahun 70an, awalnya pemakaian konsep CFD hanya digunakan untuk aliran fluida dan
reaksi kimia, namun seiring dengan berkembangnya industri di tahun 90-an
membuat CFD makin dibutuhkan pada berbagai aplikasi lain. Contohnya
sekarang ini banyak sekali paket-paket software CAD menyertakan konsep CFD
yang dipakai untuk menganalisa stress yang terjadi pada design yang dibuat.
Pemakain CFD secara umum dipakai untuk memprediksi:
a. Aliran dan panas.
b. Transfer massa.
c. Perubahan fasa seperti pada proses melting, pengembunan dan pendidikan.
d. Reaksi kimia seperti pembakaran.
e. Gerakan mekanis seperti piston dan fan.
f. Tegangan dan tumpuan pada benda solid.
g. Gelombang electromagnet

CFD adalah penghitungan yang mengkhususkan pada fluida, mulai dari


aliran fluida, heat transfer dan reaksi kimia yang terjadi pada fluida. Atas prinsipprinsip dasar mekanika fluida, konservasi energi, momentum, massa, serta
species, penghitungan dengan CFD dapat dilakukan. Secara sederhana proses

penghitungan yang dilakukan oleh aplikasi CFD adalah dengan kontrol-kontrol


penghitungan yang telah dilakukan maka kontrol penghitungan tersebut akan
dilibatkan dengan memanfaatkan persamaan-persamaan yang terlibat. Persamaanpersamaan ini adalah persamaan yang dibangkitkan dengan memasukkan
parameter apa saja yang terlibat dalam domain. Misalnya ketika suatu model yang
akan dianalisa melibatkan temperatur berarti model tersebut melibatkan
persamaan energi atau konservasi dari energi tersebut. Inisialisasi awal dari
persamaan adalah boundary condition. Boundary condition adalah kondisi dimana
kontrol-kontrol perhitungan didefinisikan sebagi definisi awal yang akan
dilibatkan ke kontrol-kontrol penghitungan yang berdekatan dengannya melalui
persamaan-persamaan yang terlibat.
Hasil yang didapat pada kontrol point terdekat dari penghitungan persamaan yang
terlibat akan diteruskan ke kontrol point terdekat lainnya secara terus menerus
hingga seluruh domain terpenuhi. Akhirnya, hasil yang didapat akan disajikan
dalam bentuk warna, vektor dan nilai yang mudah untuk dilihat dengan
konfigurasi

jangkauan

diambil

dari

nilai

terbesar

dan

terkecil.

Secara umum proses penghitungan CFD terdiri atas 3 bagian utama:


a. Preposessor
b. Processor
c. Post processor
Prepocessor adalah tahap dimana data diinput mulai dari pendefinisian
domain serta pendefinisan kondisi batas atau boundary condition. Ditahap itu juga
sebuah benda atau ruangan yang akan analisa dibagi-bagi dengan jumlah grid
tertentu atau sering disebut juga dengan meshing. Tahap selanjutnya adalah
processor, pada tahap ini dilakukan proses penghitungan data-data input dengan
persamaan yang terlibat secara iteratif. Artinya penghitungan dilakukan hingga
hasil menuju error terkecil atau hingga mencapai nilai yang konvergen.
Penghitungan dilakukan secara menyeluruh terhadap volume kontrol dengan
proses integrasi persamaan diskrit. Tahap akhir merupakan tahap post processor

dimana hasil perhitungan diinterpretasikan ke dalam gambar, grafik bahkan


animasi dengan pola-pola warna tertentu. Hal yang paling mendasar mengapa
konsep CFD (software CFD) banyak sekali digunakan dalam dunia industri
adalah dengan CFD dapat dilakukan analisa terhadap suatu sistem dengan
mengurangi biaya eksperimen dan tentunya waktu yang panjang dalam melakukan
eksperimen tersebut. Atau dalam proses design engineering tahap yang harus
dilakukan menjadi lebih pendek. Hal lain yang mendasari pemakaian konsep CFD
adalah pemahaman lebih dalam akan suatu masalah yang akan diselesaikan atau
dalam hal ini pemahaman lebih dalam mengenai karakteristik aliran fluida dengan
melihat hasil berupa grafik, vektor, kontur dan bahkan animasi.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 CFD (Computational Fluid Dynamics)
CFD adalah analisa system yang mencakup aliran fluida, aliran kalor dan
berhubungan dengan phenomena seperti reaksi kimia dengan menggunakan
seperangkat simulasi computer.
Pemakaian

CFD

ini

sangat

baik

diterapkan

untuk

mencakup

semua

penggunaannya di dalam dunia industri diantaranya : Aerodinamik pada pesawat


terbang dan kendaraan, menganalisa gaya angkat, pergerakan air yang dihasilkan
oleh perahu, pembakaran dalam engine dan turbin gas pada power plan, aliran
didalam putaran lubang pada mesin turbo, percampuran dan pemisahan polimer
moulding dalam proses kimia dll.
Penggunaan CFD pada penelitian dimaksudkan untuk memvisualisasikan aliran di
dalam sebuah vortex dan memberi informasi property aliran yang sulit diperoleh
secara menyeluruh dalam sebuah eksperimen. Proses komputasi atau perhitunganperhitungan yang digunakan dalam CFD berdasarkan hukum Navier-Stokes.

6
Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah sebuah analisis system yang
melibatkan aliran fluida, perpindahan panas dan fenomena terkait seperti reaksi
kimia dengan cara simulasi berbasis computer. Teknik ini sangat handal dan
meliputi cakupan luas dalam area industry dan non industry. Beberapa contohnya
yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)

Aerodinamika pesawat dan kendaraan : lift dan drag


Hidrodinamika kapal
Pembangkit Tenaga : pembakaran dalam mesin IC dan turbin gas
Mesin turbo : aliran dalam laluan rotating, diffuser dsb.
Rekayasa electrical dan electronic : pendingin peralatan termasuk

microchip
f) Rekayasa proses kimia : mixing dan separation, polymer moulding
g) Lingkungan internal dan eksternal gedung : beban angin dan
h)
i)
j)
k)
l)

pendinginan/veentilasi
Rekayasa kelautan : beban struktur off-shore
Rekayasa lingkungan : distribusi polutan dan anak sungai
Oceanografi dan hidrologi : aliran sungai, muara, laut
Meteorologi : prediksi cuaca
Rekayasa biomedis : aliran darah melalui arteri dan vena

Keunggulan/keuntungan teknik analisis ini dibandingkan dengan pendekatan


eksperimen dalam sebuah desain system fluida yaitu :

a) Reduksi substansial waktu dan biaya untuk desain baru


b) Kemampuan studi system yang tidak mampu dikontrol dengan eksperimen
(misal system yang sangat luas)
c) Kemampuan studi system dalam kondisi berbahaya pada dan di luar batas
kinerja normal (seperti pada studi keselamatan dan skenario kecelakaan)
d) Detil hasil yang lebih banyak secara praktis

Sistem analisis CFD tersusun dari beberapa algoritma numeric (disebut Code),
yang terbagi oleh 3 elemen sebagai berikut :
1. Pre-processor
Merupakan bagian input suatu problem fluida ke sebuah program CFD
melalui interface dan tranformasi lanjut ke dalam sebuah bentuk yang
sesuai untuk solver. Langkah-langkah pengguna dalam tahap preprocessing yaitu :
a) Definisi geometri region analisa : domain komputasional
b) Pembuatan grid : pemecahan domain menjadi beberapa sub domain
yang lebih kecil dan non overlapping : sebuah grid (mesh) atau
volume atur/elemen
c) Pemilihan fenomena fisik dan kimia yang perlu dimodelkan
d) Definisi properties fluida
e) Spesikasikan kondisi batas yang sesuai pada sel-sel yang berhimpit
dengan batas domain
Solusi sebuah problem fluida (kecepatan, tekanan, temperature dsb)
didefinisikan di setiap nodal di dalam masing-masing sel. Akurasi sebuah
solusi CFD ditentukan oleh jumlah sel dalam grid. Secara umum, semakin
besar jumlah sel semakin baik akurasi solusi. Baik akurasi solusi dan biaya
hardaware

computer

serta

lama

kalkulasi

tergantung

kepada

halusnya/rapatnya grid. Mesh-mesh optimal sering merupakan nonuniform : lebih rapat pada area di mana variasi-variasi banyak terjadi dari
poin ke poin dan lebih jarang pada region dengan perubahan yang sedikit.
Kemampuan

teknik

(self)

adaptive

meshing

telah

membantu

pengembangan CFD guna otomatikal penghalusan grid untuk area dengan


variasi yang padat. Sekitar 50% waktu proyek CFD di industry tercurah
pada pendefinisian geometri domain dan penyusunan grid. Guna
meningkatkan

produktivitas

pengguna

code-code

utama

sekarang

termasuk interface jenis CAD dan/atau fasilitas import data dari


pemodelan surface dan meshing seperti PATRAN dan I-DEAS. Preprosesor hingga saat ini juga membantu user mengakses data library
properties fluida umum dan fasilitas memasukkan model proses fisikal dan
kimikal (model turbulence, perpindahan kalor radiatif, pembakaran)
bersama persamaan aliran fluida utama.
2. Solver
Terdapat 3 macam teknik solusi numeric : beda hingga (finite difference),
elemen hingga (finite element) dan metode spectral. Kerangka utama
metode numeric untuk dasar sebuah solver terdiri dari langkah :
a) Aproksimasi variable-variabel aliran yang tidak diketahui dengan
fungsi-fungsi sederhana.
b) Diskretisasi dengan substitusi aproksimasi ke dalam persamaan
atur aliran dan manipulasi matematis lanjut.
c) Solusi persamaan-persamaan aljabar. Perbedaan utama di antara
ketiga macam teknik adalah pada cara aproksimasi variablevariabel aliran dan proses diskretisasi.
Metode Beda Hingga
Menggambarkan variable tidak diketahui sebuah problem aliran dengan
cara sampel-sampel titik pada titik-titik nodal sebuah grid dari garis
koordinat. Ekspansi Deret Taylor terpotong sering dipakai untuk
membangun aproksimasi-aproksimasi beda hingga derivative dalam
suku-suku sampel-sampel titik di masing-masing titik grid dan tetangga
terdekat. Derivatif tersebut muncul dalam persamaan atur digantikan oleh
beda hingga menghasilkan persamaan aljabar untuk nilai-nilai di setiap

titik grid. Smith (1985) memberikan sebuah perhitungan komperhensif


dari seluruh aspek metode beda hingga.
Metode Elemen Hingga
Menggunakan fungsi-fungsi potong (piecewise) sederhana (missal linier
atau kuadratik) pada elemen-elemen untuk menggambarkan variasi-variasi
local variable aliran yang tidak diketahui . Persamaan atur terpenuhi
secara tepat oleh solusi eksak . Jika fungsi-fungsi aproksimasi potong
untuk disubstitusikan ke dalam persamaan, terdapat sebuah ketidak
pastian hasil (residual) yang didefinisikan untuk mengukur kesalahan.
Kemudian residual (kesalahan) diminimalkan melalui sebuah pengalian
dengan sebuah set fungsi berbobot dan mengintegrasikannya. Hasilnya
diperoleh sekumpulan persamaan aljabar untuk koefisien-koefisien tak
diketahui dari fungsi-fungsi aproksimasi. Teori elemen hingga awalnya
dikembangkan untuk analisis tegangan struktur. Untuk sebuah standar
aplikasi fluida adalah Zienkiewics dan Taylor (1991).
Metode Spektral
Mengaproksimasikan variable dengan deret Fourier terpotong atau deret
Polinomial Chebyshev. Aproksimasi tidak secara local namun valid di
semua domain komputasional, mengganti tak diketahui dalam persamaan
atur dengan deret-deret terpotong. Batasan yang membawa ke persamaan
aljabar untuk seluruh koefisien deret Fourier dan Chebyshev diberikan
oleh konsep residual berbobot mirip dengan elemen hingga atau membuat
fungsi aproksimasi serupa dengan solusi eksak pada sebuah nilai dari titiktitik grid.
Metode Volume Hingga (Finite Volume)
Awalnya dikembangkan untuk special formulasi beda hingga, algoritma
numeric terdiri dari langkah :

10

a) Intergrasi persamaan atur aliran fluida di seluruh volume atur


(hingga) dari domain solusi
b) Diskretisasi dengan substitusi beragam aproksimasi beda hingga
untuk suku-suku persamaan terintegrasi proses aliran seperti
konveksi, difusi dan sumber. Akan dikonversikan persamaan
integral menjadi sebuah istem persamaan aljabar.
c) Solusi persamaan-persamaan aljabar dengan metode iterative
Langkah awal, integrasi volume atur, membedakan metode volume hingga
dari seluruh teknik CFD. Hasilnya menggambarkan konservasi (eksak)
properties relevan di setiap sel ukuran hingga. Relasi yang jelas antara
algoritma numeric dan prinsip konservasi fisis dasar memberikan sebuah
ketertarikan dan konsep yang lebih mudah bagi para enginer.
Konservasi variable umum aliran contohnya sebuah komponen
kecepatan atau entalpi, dalam sebuah volume hingga dapat digambarkan
sebagai keseimbangan di antara bermacam proses berkecenderungan
menambah atau mengurangi. Dengan kata lain :
3. Post-processor
Hasil perhitungan modul solver berupa nilai-nilai numerik (angka-angka)
variabel-variabel dasar aliran seperti komponen-komponen kecepatan,
tekanan, temperatur dan fraksi-fraksi masa. Dalam modul post-processor
nilai-nilai numerik ini diolah agar pengguna dapat dengan mudah
membaca dan menganalisis hasil-hasil perhitungan CFD. Hasil-hasil ini
dapat disajikan dalam bentuk grafis-grafis ataupun kontur-kontur distribusi
parameter-parameter aliran fluida. Selain itu juga, modul post-processor
menghitung parameter-parameter desain seperti koefisien gesek, Cd, Cl,
Fluks panas , Gaya-gaya yang dikembangkan aliran fluida, Torsi, Daya
dan lain sebagainya.

11

2.2 EFD (Engineering Fluid Dynamics)


Perkembangan terbaru dari CFD untuk aplikasi enggineering adalah EFD
(Enggineering Fluid Dynamics). EFD telah terkombinasi secara langsung dengan
software permodelan 3 dimensi (3D CAD) yang telah umum digunakan, seperti:
Inventor, NX, Solid Works, Catia dll. Kelebihan dengan adanya permodelan 3
dimensi ini adalah:
1) Waktu yang diperlukan untuk mendesain suatu system aliran fluida lebih
cepat.
2) Mereduksi biaya yang diperlukan untuk membuat prototype secara fisik
karena telah digantikan simulasi 3D.
3) Meminimalisasi kesalahan pada tahap design.
Beberapa aplikasi pengguaan EFD pada dunia industri :
a. Simulasi aerodinamis pada bodi mobil.
b. Simulasi semburan bahan bakar pada ruang bakar.
c. distribusi kecepatan pada pipa da valve, dll.
EFD adalah resolusi terbaru dari CFD (Computational Fluid Dynamics) yang
disebut Engineering Fluid Dynamics. EFD merupakan program CFD dengan fitur
yang lebih lengkap dan canggih dibandingkan dengan CFD untuk pengguna
AutoCAD,CATIA,Solid Works dan lain lain. EFD mengkombinasikan semua
langkah-langkah simulasi dimulai dari penggunaan data 3D CAD untuk
pemodelan ,pemecahan masalah dan hasil visualisasi dalam satu program yang
mudah digunakan.Dengan kata lain EFD merupakan CFD yang mempunyai
orientasi pada proses.

12

EFD pada dasarnya sama dengan CFD pendahulunya.Akan tetapi ada 7 kelebihan
utama yang membuat EFD lebih cepat dan mudah digunakan serta lebih akurat.

Mengkombinasikan EFD dengan CAD memampukannya menjadi sebuah program


simulasi yang sangat canggih yang bermanfaat untuk:
1. Mengimprove performa,functional dan reliability dari produk.
2. Mengurangi cost produksi
3. Meminimalisasi kesalahan dalam mendesain
Dengan kelebihan kelebihan yang dimiliki oleh EFD,maka para penggunanya
dapat menghemat banyak waktu dan meningkatkan kinerja produktivitas karena
dapat menekan biaya pembuatan prototype dan pengujiannya,yang dapat
digantikan dengan membuat simulasinya pada EFD.
Tujuh kunci teknologi yang membuat EFD lebih maju dibandingkan dengan CFD
(7Key Technologies):
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

DC :Direct CAD to CFD Concept


EVI:Engineering vs Analysis User Interface
DVA :Design Variant Analysis
RAM :Intelligent Rectangular Adaptive Mesh
MWF :Modified Wall Functions
LTTM :Laminar Transitional Turbulent Modelling
ACC :Automatic Convergence Control

Contoh contoh penerapan dari software EFD ini yaitu :


1. Di bidang Otomotif : penentuan sifat aerodinamik pada bagian kendaraan,
aliran di katup dan silinder.
2. Di bidang proses industry : analisa blade pompa, proses terjadinya kavitasi
pada pompa maupun pipa, Heat Exchanger. - Di bidang Elektronika :

13

analisa aliran thermal di dalam assembli computer, pada tata letak server
database.
3. Di bidang HVAC (Heat Ventilating Air Conditioner) : distribusi aliran
udara dan tempratur, parameter kenyaman tata letak ruangan.
4. Di bidang kesehatan : kontaminasi udara, air, atau fluida lainnya.
Keuntungan dalam memakai EFD diantaranya :
5. Dengan mudah mengintegrasikan berbagai macam factor yang saling
mempengaruhi aliran fluida
6. Untuk mengoptimalkan disain perhitungan yang melelahkan yang
membutuhkan tingkat ketelitian sangat tinggi.
7. Menghemat ongkos biaya pengujian eksperimental dan waktu.
8. Memberi kemudahan dan kecepatan dalam trouble-shooting dan
pengambilan keputusan apabila terjadi permasalahan yang diakibatkan
oleh human error.
9. Dapat menyelesaikan secara bersamaan pada proses perpindahan panas
konveksi, konduksi dan radiasi
10. Otomatisasi perubahan radiasi dengan menampilkan factor perhitungan
11. Otomatisasi pemuatan kondisi syarat batas pada solar boundry

14

BAB III
LATIHAN
Latihan Faucet
1. Buka CFD Design 10.0
2. Klik File
3. Kemudian Open
4. Pilih pada folder CFD Design
5. Buka folder Example
6. Buka folder Acis
7. Buka folder faucet
8. Open
9. Atur length units menjadi (mm)

Gambar 3.1 Feature Tree

15
10. Klik Geometry
11. Klik Void Fill

15

12. Klik bagian yang akan ditutup


13. Klik Build surface

Gambar 3.2 Geometry Build Surface


14. Klik Fill void

Gambar 3.3 Geometry Fill void


15. Klik Boundary
16. Pilih salah satu bagian yang akan diberi boundary
17. Masukkan velocity = 7500 mm/s
18. Apply

16

Gambar 3.4 Boundary Velocity


19. Masukkan Temperature = 50 derajat celcius
20. Apply

Gambar 3.5 Boundary Temperature


21. Pilih bagian lain
22. Masukkan Pressure = 0 Pa
23. Apply

17

Gambar 3.6 Boundary Pressure


24. Klik Mesh size
25. Pilih Automatic size
26. Apply

Gambar 3.7 Mesh Size


27. Material
28. Pilih bagian Paling luar
29. Solid
30. Cooper_variabel
31. Apply

18

Gambar 3.8 Material Bagian terluar


32. Klik kanan pada gambar
33. Pilih benda yang didalam
34. Fluid
35. H2O_constant
36. Apply

Gambar 3.9 Material Bagian dalam


37. Klik kanan kembali
38. Pilih bagian inti dari gambar

19

39. Solid
40. Cooper_variabel
41. Apply

Gambar 3.10 Material pada Bagian inti


42. Analyze
43. Centang bagian : Flow, Head transfer, dan Auto Forced Conv.
44. Masukkan Iteration to run = 100
45. GO

Gambar 3.11 Analyze

20

Hasil Analyze :

Gambar 3.12 Hasil Analyze

21

Gambar 3.13 Diagram Analyze

BAB IV
UJIAN
Ujian Akhir
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Buka CFD Design 10.0


Klik File
Kemudian Open
Pilih pada folder UAS_CFD_Suherlan_4311210023
Klik Soal UAS
Pilih He.asm
Open
Length units : mm

22

Gambar 4.1 length units


9. Pilih Boundary
10. Klik salah satu bagian
11. Masukkan pressure = 0 atm
12. Apply

23

Gambar 4.2 Boundary Pressure


13. Klik bagian yang berbeda
14. Masukkan velocity = 100 mm/s ; temperature = 20 C
15. Apply

23

Gambar 4.3 Boundary Inlet 2


16. Klik bagian yang berbeda kembali
17. Masukkan kembali velocity = 300 mm/s ; temperature = 80 C
18. Apply

Gambar 4.4 Boundary Inlet 1


19. Klik Mesh size
20. Pilih Automatice size
21. Apply

24

Gambar 4.5 Mesh size


22. Klik Material
23. Pilih bagian terluar
24. Pilih Fluid
25. H2O_Constant

Gambar 4.6 Material bagian terluar


26. Pilih bagian yang berada di tengah
27. Pilih Solid
28. Pilih Cooper_variabel
29. Apply

25

Gambar 4.7 Material bagian tengah


30. Pilih bagian berikutnya yang berada di paling inti dari benda tersebut
31. Pilih Fluid
32. Pilih H2O_Constant

Gambar 4.8 Material dibagian inti

26

Hasil Analyze :

Gambar 4.9 Hasil Analyze

27

Data yang didapat :

Gambar 4.10 Data Inlet 1

28

Gambar 4.11 Data Inlet 2

Gambar 4.12 Data Outlet 1

29

Gambar 4.13 Data Outlet 2

BAB V
PENUTUP
KESIMPULAN
Dari Praktikum CFD (Computational Fluid Dynamics) program yang
menyediakan sarana untuk menganalisa suatu benda kerja atau kondisi benda
kerja yang dalam pelaksanaan di lapangan memerlukan analisa dengan ukuran
dan bentuk yang sangat akurat.
Berdasarkan Praktikum CFD (Computational Fluid Dynamics) ini
mahasiswa dapat melakukan simulasi dengan membuat dimensi, luas dan volume
dengan

memanfaatkan

bantuan

komputasi

komputer

untuk

melakukan

perhitungan pada tiap-tiap elemen pembaginya sehingga bisa melakukan simulasi


sebelum membuatnya.

30

31

DAFTAR PUSTAKA
1. Tim Lab. Modul Praktik Simulasi Mekanika Kekuatan Material. Jakarta; 2005
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Pro/ENGINEER
Rabu, 9 Januari 2013, Pukul 17.33 WIB

31

32