Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya
dan

sumber

mengalami
untuk

daya

alamnya.

perkembangan

melakukan

Pada

yang

perubahan

saat

ini,

mendorong

di

segala

Indonesia
pemerintah

sector

demi

meningkatkan pendapatan atau kas Negara guna membiayai


pembangunan dan biaya biaya Negara.dalam rangka
menyelenggarakan perubahan tersebut, pastilah memerlukan
dana yang tidak sedikit, dana tersebut berasal dari APBN dan
APBD, dimana sebagian besar bersumber pada penerimaan
pajak. Dalam hal ini menjelaskan bahwa pajak memiliki
peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara,
khususnya

di

dalam

pelaksanaan

pembangunan.

Pajak

merupakan salah satu sumber pendapatan Negara yang ada


untuk membiayai pengeluaran termasuk pengeluan untuk
meningkatkan pembangunan.
Indonesia

memiliki

beraneka

ragam

kekayaan

yag

sangat kuat oleh sebab itu sebenarnya Indonesia memiliki


potensi yang sangat besar dalam membangun pertumbuhan
ekonomi untuk menunjang segala kebutuhan dalam negeri.
Namun pada kenyataannya Indonesia pada saat ini hanya
mampu menjadi penonton ditengah persaingan global yang
begitu selektif. Kebijakan kontrofersial yang dambil oleh
pemerintah Indonesia yang tergabung dalam pembebasan
PPh pasal 22 dengan Negara Cina, pada konteks tersebut
kebijakan yang diambil sangat menggiurkan karena penduduk
cina yang begitu banyak dibandingkan jumlah penduduk
Indonesia dan dapat menjadi sasaran empuk bagi para
produsen dalam negeri. Akan tetapi para produsen dalam

negeri belum mampu bersaing dengan produk produk yang


dihasilkan oleh negeri tirai bamboo tersebut. Dalam hal ini
kedewasaan sangatlah diperlukan dalam melakukan suatu
kebijakan karena besar atau kecilnya pendapatan dari PPh
pasal 22 bergantung pada kebijakan yang diambil oleh
peraturan pemerintah.
Pajak penghasilan merupakan pajak yang dipungut oleh
bendaharawan pemerintah baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan
lembaga lembaga Negara lainnya berkenaan dengan
pembayaran

atas

penyerahan

barang,

badan

badan

tertentu yang berkenaan dengan kegiatan dibidang impor


atau kegiatan usaha dibidang lain. Dasar hokum PPh pasal 22
adalah UU pajak penghasilan nomor 36 tahun 2008, pasal 22.
Untuk lebih memahami secara mendalam dan kompherensif
mengenai pajak penghasilan (PPh) pasal 22, maka yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah paparan mengenai PPh
pasal 22.
B. Tujuan
Makalah ini disusun dengan maksud sebagai berikut :
-

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Perpajakan


Untuk lebih memahami secara mendalam mengenai PPh
pasal 22

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian PPh Pasal 22
PPh Pasal 22 adalah pemungutan pajak yang dilakukan
atas pembelian barang, impor barang dan pembelian /
penjualan barang di bidang usaha tertentu. Oleh karena itu
yang dikenakan pemungutan PPh pasal 22 adalah pemasok
barang kepada pemerintah, importer, dan pemasok / pembeli
barang dari badan badan tertentu.
Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 adalah PPh yang dipungut
oleh:
1. Bendahara
lembaga

Pemerintah
pemerintah

Pusat/Daerah,
dan

instansi

lembaga-lembaga

atau
negara

lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan


barang;
2. Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun
swasta berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau
kegiatan usaha di bidang lain.
3. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang
tergolong sangat mewah.
B. Objek dan Pemungut PPh Pasal 22
Berikut merupakan objek dan pemungut PPH Pasal 22, antara
lain :
No

Objek

Pemungut

.
Pembelian

Barang

oleh Pihak

yang

membayar

Bendaharawan
1

Pemerintah membeli:
- Bendaharawan
dan DJA ( Direktorat Jenderal
Pemerintah
Anggaran )
- DJA
Pembelian
barang
oleh BUMN/D
BUMN/BUMD

yang

bersumber dari dana APBN


3

dan atau APBD


Pembelian
barang
3

badan

tertentu

oleh Badan tertentu


yang

bersumber dari dana APBN


maupun non APBN
Impor Barang :
- Dilakukan oleh importer

yang memiliki API


Dilakukan oleh importer

yang tidak memiliki API


Yang
tidak
dikuasai

( lelang)
Pembelian
bahan
5

industri

tertentu

eksportir

dari

barang

hasil

dan Cukai ( DJBC )


Bank Devisa

tertentu

atau bergerak
perikanan
bakar Produsen

yang

di

bidang

atau

importer

bahan bakar minyak, gas,

dan pelumas
yang Wajib Pajak

tergolong mewah
Penjualan

untuk Industri

minyak, gas, dan pelumas


Penjualan

Direktorat Jenderal Bea

pedagang pertanian, perkebunan dan

pengumpul
Penjualan
bahan
6

Badan

melakukan
tersebut
industry Industry

yang

penjualan
tertentu

yang

tertentu :
menjual
- Kertas
8
- Baja
- Otomotif
- Semen
- Rokok
C. Tarif PPh Pasal 22
Berikut merupakan tariff PPH Pasal 22, antara lain :
No

Objek

.
Pembelian

barang

yang

Pemerintah,

dilakukan

Bendahara

BUMN/D,

tertentu
Impor Barang:
- Yang menggunakan API

Tarif
oleh
dan

DPJB,
badan

1,5%

2,5%

- Yang tidak menggunakan API


- Yang tidak dikuasai ( Lelang )
Pembelian bahan bahan untuk keperluan industry
/ ekspor dari pedagang pengumpul
Penjualan oleh pertamina :
- Premium, Solar, Premix, Super TT
- Minyak Tanah, LPG, Pelumas
Penjualan oleh Selain Pertamina:
- Premium, Solar, Premix, Super TT
- Minyak tanah, LPG, Pelumas

7,5%
7,5%
2,5%
0,25
%
0,3%
0,3%
0,3%

Penjualan hasil industry tertentu :


- Kertas
- Baja
- Otomotif
- Semen
- Rokok

0,1%
0,3%
0,45
%
0,25
%
0,15

%
Selain tarif di atas, Peraturan Menteri Keuangan Nomor
253/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008 juga mengatur
tentang wajib pajak badan tertentu sebagai pemungut PPh
pasal 22 atas penjualan barang yang tergolong sangat
mewah yaitu wajib pajak badan yang melakukan penjualan
barang yang tergolong sangat mewah, diantaranya :
a. Pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari
Rp20.000.000.000,00 (Dua Puluh Miliar Rupiah)
b. Kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual lebih dari
Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh Miliar Rupiah)
c. Rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau harga
pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000,00 (Sepuluh
Miliar Rupiah) dan luas bangunan lebih dari 500 m2
d. Apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan harga
jual atau pengalihannya lebih dari Rp10.000.000.000,00
(Sepuluh Miliar Rupiah) dan/atau bangunan lebih dari 400
m2

e. Kendaraan bermotor roda empat pengangkutan orang


kurang dari 10 orang berupa sedan. Jeep, sport utility
vehicle (SUV), multi purpose vehicle (MPV), minibus dan
sejenisnya

dengan

harga

jual

lebih

dari

Rp5.000.000.000,00 (Lima Miliar Rupiah) dan dengan


kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc. Sebesar 5% dari
harga jual tidak termasuk PPN dan PPnBM.

Selain tarif pajak yang tercantum di atas, terdapat tariff


sebagai berikut :
-

Impor kedelai, gandum, dan tepung terigu oleh importer

yang menggunakan API sebesar 0,5%


Untuk wajib pajak yang tidak memiliki NPWP maka pajak

dipungut 100% lebih tinggi dari tarif PPh pasal 22.


D. Pengecualian Pemungutan PPh Pasal 22
Berikut merupakan bukan objek PPh pasal 21, antara lain:
1. Impor

barang

dan

atau

penyerahan

barang

yang

berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan


tidak terutang PPh, dinyatakan dengan Surat Keterangan
Bebas (SKB).
2. Impor barang yang dibebaskan dari Bea Masuk dan atau
Pajak Pertambahan Nilai; dilaksanakan oleh DJBC.
3. Impor

sementara

jika

waktu

impornya

nyata-nyata

dimaksudkan untuk diekspor kembali, dan dilaksanakan


oleh Dirjen BC.
4. Pembayaran atas pembelian barang oleh pemerintah atau
yang

lainnya

2.000.000,-

yang

(dua

jumlahnya

juta

rupiah)

paling
dan

banyak

tidak

Rp.

merupakan

pembayaran yang terpecah-pecah.


5. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik,
gas, air minum/PDAM, benda-benda pos.
6. Emas batangan yang akan di proses untuk menghasilkan
barang

perhiasan

dari

emas

untuk

tujuan

ekspor,

dinyatakan dengan SKB.


7. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial oleh
Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara.
8. Impor kembali (re-impor) dalam kualitas yang sama atau
barang-barang

yang

telah

diekspor

untuk

keperluan

perbaikan, pengerjaan dan pengujian yang memenuhi


syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai.

9. Pembayaran untuk pembelian gabah dan atau beras oleh


Bulog.
E. Saat Terutang dan Pelunasan/Pemungutan PPh Pasal
22
1. Atas impor barang terutang dan dilunasi bersamaan
dengan

saat

pembayaran

Bea

Masuk.

Dalam

hal

pembayaran Bea Masuk ditunda atau dibebaskan, maka


PPh Pasal 22 terutang dan dilunasi pada saat penyelesaian
dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB);
2. Atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan Objek PPh
Pasal 22 butir 2,3, dan 4 ) terutang dan dipungut pada saat
pembayaran;
3. Atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek
PPh Pasal 22 butir 5) terutang dan dipungut pada saat
penjualan;
4. Atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut dan Objek
PPh Pasal 22 butir 6) dipungut pada saat penerbitan Surat
Perintah Pengeluaran Barang (Delivery Order);
5. Atas pembelian bahan-bahan (Lihat Pemungut dan Objek
PPh Pasal 22 butir 7) terutang dan dipungut pada saat
pembelian.
F. Tata Cara Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan
PPh Pasal 22
1. PPh Pasal 22 atas impor barang (Lihat Pemungut dan Objek
PPh Pasal 22 butir 1) disetor oleh importir dengan
menggunakan formulir Surat Setoran Pajak, Cukai dan
Pabean (SSPCP). PPh Pasal 22 atas impor barang yang
dipungut oleh DJBC harus disetor ke bank devisa, atau bank
persepsi, atau bendahara Direktorat Jenderal Bea dan
Cukai,

dalam

jangka

waktu

(satu)

hari

setelah

pemungutan pajak dan dilaporkan ke KPP secara mingguan


paling

lambat

(tujuh)

hari

setelah

batas

waktu

penyetoran pajak berakhir.

2. PPh Pasal 22 atas impor harus dilunasi bersamaan dengan


saat pembayaran Bea Masuk dan dalam hal Bea Masuk
ditunda atau dibebaskan, PPh Pasal 22 atas impor harus
dilunasi

saat

penyelesaian

dokumen

pemberitahuan

pabean impor. Dilaporkan ke KPP paling lambat tanggal 20


setelah masa pajak berakhir.
3. PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan
Objek PPh Pasal 22 butir 2) disetor oleh pemungut atas
nama dan NPWP Wajib Pajak rekanan ke bank persepsi atau
Kantor Pos pada hari yang sama dengan pelaksanaan
pembayaran

atas

penyerahan

barang.

Pemungut

menerbitkan bukti pungutan rangkap tiga, yaitu :


a. lembar pertama untuk pembeli;
b. lembar kedua sebagai lampiran laporan bulanan ke
Kantor Pelayanan Pajak;
c. lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang
bersangkutan, dan dilaporkan ke KPP paling lambat
14 (empat belas ) hari setelah masa pajak berakhir.
4. PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan
Objek PPh Pasal 22 butir 3) disetor oleh pemungut atas
nama dan NPWP Wajib Pajak penjual ke bank persepsi atau
Kantor

Pos

paling

lama

tanggal

10

sepuluh)

bulan

berikutnya setelah Masa Pajak berakhir. Dilaporkan ke KPP


paling lambat tanggal 20 setelah masa pajak berakhir.
5. PPh Pasal 22 atas pembelian barang (Lihat Pemungut dan
Objek PPh Pasal 22 butir 4 ) disetor oleh pemungut atas
nama dan NPWP Wajib Pajak penjual ke bank persepsi atau
Kantor Pos paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan
takwim berikutnya dengan menggunakan formulir SSP dan
menyampaikan SPT Masa ke KPP paling lambat 20 (dua
puluh) hari setelah masa pajak berakhir.
6. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut
dan Objek PPh Pasal 22 butir 5, dan 7 ) dan hasil penjualan

barang sangat mewah (Lihat Pemungut dan Objek PPh


Pasal 22 butir 8) disetor oleh pemungut atas nama wajib
pajak ke bank persepsi atau Kantor Pos paling lambat
tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya dengan
menggunakan formulir SSP. Pemungut menyampaikan SPT
Masa ke KPP paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah
masa pajak berakhir.
7. PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi (Lihat Pemungut
dan Objek PPh Pasal 22 butir 6) disetor oleh pemungut ke
bank persepsi atau Kantor Pos paling lama tanggal
10(sepuluh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
Pemungut wajib menerbitkan bukti pemungutan PPh Ps. 22
rangkap 3 yaitu:
a. lembar pertama untuk pembeli;
b. lembar kedua sebagai lampiran laporan bulanan
kepada Kantor Pelayanan Pajak;
c. lembar ketiga untuk arsip Pemungut Pajak yang
bersangkutan.
Pelaporan dilakukan dengan cara menyampaikan SPT Masa
ke KPP setempat paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah
Masa

Pajak

berakhir.

Dalam hal jatuh tempo penyetoran atau batas akhir


pelaporan PPh Pasal 22 bertepatan dengan hari libur
termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, penyetoran
atau pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
G. Cara Menghitung PPh Pasal 22
1. Cara menghitung PPh pasal 22 atas kegiatan Impor
Barang
Besarnya PPh pasal 22 atas impor:
Yang menggunakan Angka Pengenal Importir (API), tarif
pemungutannya sebesar 2,5% dari nilai impor.

10

PPh Pasal 22 = 2,5% x Nilai Importir


Yang tidak menggunakan Angka Pengenal Imortir (API), tarif
pemungutannya sebesar 7,5% dari nilai impor

PPh Pasal 22 = 7,5% x Nilai Importir


Yang tidak dikuasai,tarif pemungutannya sebesar 7,5% dari
harga jual lelang.

PPh Pasal 22 = 7,5% x Harga Jual Lelang


Catatan :
Yang dimaksud dengan nilai impor adalah nilai berupa uang yang
digunakan sebagai dasar perhitungan bea masuk. Nilai impor
dihitung sebesar Cost Insurance Freight (CIF) +Bea Masuk+
Pungutan pabean lainnya.
Contoh 1:
PT ANGGARA, memiliki nomor API, melakukan impor
komputer dari Amerika Serikat dengan perincian sbb:
Harga Komputer (Cost)US$ 20,000.00
Asuransi (Insurance) US$ 1,000.00

11

Biaya angkut (Freight) .US$ 4,000.00


Harga Pabean ..US$ 25,000.00
Pungutan :
- Bea Masuk 20% US$ 5,000.00
- Bea Masuk Tambahan 10% US$ 2,500.00
NILAI IMPOR US$ 32,500.00
Apabila

pada

tanggal

impor

(sesuai

dokumen

impor:pemberitahuan impor barang) nilai kurs US $ 1.00=


Rp 10.000,00 maka:
Dasar pengenaan PPh Pasal 22: US$ 32,500.00 x Rp
10.000,00= Rp 325.000.000, PPh Pasal 22 yang harus dipungut :Rp 325.000.000,00
x 2,5% = Rp 8.125.000,00
Contoh 2:
Seperti soal nomor diatas, tetapi PT ANGGARA tidak
memiliki API, maka perhitungan PPh Pasal 22 adalah :
Dasar pengenaan PPh Pasal 22: US$ 32,500.00 x Rp
10.000,00= Rp 325.000.000,PPh Pasal 22 yang harus dipungut :Rp 325.000.000,00 x
7,5% = Rp 24.375.000,2. Cara Menghitung PPh Pasal 22 Atas Pembelian
Barang Yang Dibiayai dengan APBN/ APBD

12

PPh Pasal 22 = 1,5% x Harga Perolehan


Atas pembelian barang yang dananya dari belanja Negara
atau belanja daerah dikenakan pemungutan PPh Pasal 22
sebesar 1,5% dari harga pembelian.
Pembayaran yang dikecualikan dari pemungutan PPh
Pasal 22 adalah:
Pembayaran atas penyerahan barang (bukan merupakan
jumlah yang dipecah-pecah) yang meliputi jumlah kurang
dari Rp 1.000.000,00.
Pembayaran

untuk

pembelian

bahan

bakar

minyak,listrik,gas,air minum/PDAM, dan benda-benda pos.


Pembayaran/ pencairan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS)
oleh kantor Perbendaharaan dan Kas Negara.
Contoh 3 :
PT Jayadi Maju melakukan penjualan lemari arsip kepada
Departemen Dalam Negri senilai Rp 220 juta. Pembayaran
dilakukan oleh Bendaharawan Depdagri. Dalam kontrak
penjualan

dengan

pemerintah

yang

didanai

dari

APBN/APBD, biasanya harga jual sudah termasuk Pajak


Pertambahan Nilai sebesar 10%.
Diminta : Hitunglah PPh Pasal 22 PT Jayadi Maju
Jawab :
-

Dasar Pengenaan PPh Pasal 22: (100/110 x Rp 220


juta)= Rp200.000.000,00.

13

PPh

Pasal

Pemerintah

22

yang

dari

dipungut

transaksi

Bendaharawan

pembayaran:

Rp

200.000.000,00 x 1,5%= Rp 3.000.000,00


3. Cara Menghitung PPh Pasal 22 Atas Penjualan Hasil
Produksi Industri Otomotif di Dalam Negeri.
Besarnya PPh Pasal 22 atas penjualan semua jenis
kendaraan bermotor beroda dua atau lebih di dalam
negeri adalah 0,45% dari dasar pengenaan pajak (DPP)
Pajak Pertambahan Nilai.

PPh Pasal 22 = 0,45% x DPP PPN


Penjualan kendaraan bermotor yg dikecualikan dari pemungutan
PPh Pasal 22 atas industry otomotif ini adalah penjualan
kendaraan bermotor kepada:
-

Instansi pemerintah
-

Korps diplomatic

Bukan subjek pajak

4. Cara Menghitung PPh Pasal 22 Atas Penjualan Hasil


Produksi industri Rokok di dalam negeri
Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industri
rokok pada saat penjualan rokok di dalam negeri adalah
0,15% dari harga bandrol (pita cukai), dan bersifat final.

14

PPh Pasal 22 (Final)= 0,15% x Harga Bandrol


5. Cara Menghitun PPh Pasal 22 Atas Penjualan Hasil
Produksi Industri Kertas di Dalam Negeri
Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industri kertas
pada saat penjualan kertas di dalam negeri adalah 0,1% dari
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Pertambahan Nilai.

PPh Pasal 22 = 0,1% x DPP PPN


6. Cara Menhitung PPh Pasal 22 Atas Penjualan Hasil
Produksi Industri Semen di Dalam Negeri
Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industri semen
pada saat penjualan semen di dalam negeri adalah 0,25% dari
Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Pertambahan Nilai.

PPh Pasal 22= 0,25% x DPP PPN


Yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 adalah
penjualan semen dalam negeri oleh PT Indocemen, PT
Semen

Cibinong

dan

PT

Semen

Nusantara

kepada

Distributor utama / tunggalnya.


7. Cara Menghitung PPh Pasal 22 Atas Penjualan Hasil
Produksi Industri Baja di Dalam Negeri.

15

Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industry


baja pada saat penjualan hasil produksinya di dalam
negeri adalah 0.3% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP)
Pajak Pertambahan Nilai

PPh Pasal 22 = 0,3% x DPP PPN


8. Cara Menghitung PPh Pasal 22 yang dipungut oleh
Pertamina dan Badan Usaha Selain Pertamina
Besarnya PPh Pasal 22 yang wajib dipungut oleh Pertamina dan
badan usaha lainnya yang bergerak dibidang bahan bakar
minyak jenis premix, super TT dan gas atas penjualan hasil
produksinya adalah sbb:
1. Atas penebusan premium, solar, premix/super TT oleh
SPBU swastanisasi adalah 0,3% dari penjualan

PPh Pasal 22 = 0,3% x Penjualan


2. Atas penebusan premium, solar, premix/super TT oleh SPBU
Pertamina adalah 0,25% dari penjualan

PPh Pasal 22 = 0,25% x Penjualan


3. Atas penjualan minyak tanah, gas LPG, dan pelumas adalah
0,3% dari penjualan.

16

PPh Pasal 22 = 0,3% x Penjualan

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
PPh pasal 22 merupakan pembayaran PPh dalam tahun berjalan yang
dipungut oleh:
a. Bendaharawan pemerintah baik pusat atau daerah, instansi atau lembaga
pemerintah dan lembaga-lembaga Negara lainnya sehubungan dengan
pembayaran atas penyerahan barang.
b. Badan-badan tertentu, baik badan pemrintah maupun swasta berkenaan
dengan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usaha dibidang lainnya.
c. Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang
yang tergolong sangat mewah
B. Saran
Setelah penulis memaparkan hal hal yang berkaitan dengan
PPh pasal 22, penulis menyarankan kepada pembaca untuk
lebih taat melakukan pembayaran pajak guna membantu
meningkatkan APBN dan APBD khususnya pada PPh pasal 22.

18

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ortax.org/ortax/?
mod=aturan&page=show&id=13585
http://armuhammad.wordpress.com/2012/06/19/pph-pasal22-barang-mewah/
http://septikomariyah.blogspot.com/2012/11/makalahperpajakan-tarif-pajak.html
http://populerkan.blogspot.com/2010/11/makalah-pajakpenghasilan.html
http://indahjewel.blogspot.com/2012/05/makalah-pph-pasal22.html
http://www.pajak.go.id/content/seri-pph-pajak-penghasilanpasal-22
http://dedijayadiborneo.wordpress.com/2013/01/14/pajakpenghasilan-pasal-22/

19