Anda di halaman 1dari 28

1

Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Terhadap Kualitas Anggaran


dengan Regulasi sebagai Variabel Moderasi
Pada Pemerintah Daerah Kota Padang
Oleh : Daniati Puttri
Jurusan Akuntansi Pemerintahan
Pascasarjana Universitas Andalas
The objective of this study is to examines competency and motivation on
budget qualities. As well as to search an regulation, and it may modernize the
influence of competency and motivation on budget qualities. In practice, the
results of this study contribute for local parliamentarian and local government
when they prepare the budget.
This study used 70 respondency that being collected from 19 Unit
Managerial District in Padang. The statistical analysis is based on multiple
regression analysis to test first hypothesis and interaction analysis or moderated
regression analysis (MRA) was used for analysis second hypothesis.
The results show that competency and motivation have significant effects
on budget qualities. Moderated regression analysis result indicates that the
regulation may not lead modernization competency on budget qualities.
Otherwise, regulation may lead modernization motivation on budget qualities.
Based on this results and framework for identifiying moderator variables, this
research conclude that regulation is not as moderator variable on relation
between
competency and budget qualities. But regulation may lead as moderator variable
on relation between motivasi and budget qualities.
Keyword: competency, motivation, regulation, and budget quality
1. Pendahuluan
Pemberian otonomi yang luas dan desentralisasi yang sekarang ini
dinikmati Pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota, memberikan jalan bagi

Pemerintah daerah untuk melakukan pembaharuan dalam sistem pengelolaan


keuangan daerah terutama terhadap penyusunan anggaran daerah (Triyono,
2002
dalam Heruwati, 2008). Berdasarkan Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 105 2
Tahun 2000 tentang Pengelolaan Keuangan daerah, harus dilakukan secara
tertib,
taat pada peraturan perundangundangan yang berlaku, efisien, efektif,
transparan
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan dan kepatuhan.
Dan setelah berlakunya otonomi daerah, APBD dijadikan salah satu
sorotan utama oleh masyarakat untuk mengukur kinerja pemerintah daerah
masing-masing, sehingga dapat dilihat penyusunan dan realisasi APBD tersebut
sudah sesuaikah atau belum dengan harapan masyarakat. Untuk
mewujudkannya
pemerintah daerah dapat memenuhinya dengan menyusun rencana kerja dan
anggaran satuan kerja perangkat daerah (RKA SKPD) seperti yang disebut dalam
Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 19 (1)
dan (2) yaitu, pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Dan itu
juga harus didukung dengan sumber daya berkualitas dalam artian memiliki
kompetensi di bidangnya yakni dengan latar belakang pendidikan yang
memadai,
memiliki motivasi yang kuat dalam melakukan tugasnya, dan didukung regulasi
dan kebijakan yang terkait.
Untuk setiap organisasi, private atau public perlu membangun sumber
daya manusia (SDM) yang dimiliki secara profesional dan memiliki kompetensi
yang tinggi. SDM yang berkompetensi tinggi akan menjadi pusat keunggulan
organisasi sekaligus sebagai pendukung daya saing organisasi dalam memasuki
era globalisasi dan menghadapi lingkungan kerja serta kondisi sosial masyarakat
yang mengalami perubahan begitu cepat. Tidak terkecuali bagi setiap satuan
kerja

perangkat daerah (SKPD) dalam melakukan setiap program kerja terutama


dalam
hal penyusunan anggaran. Apalagi dengan adanya regulasi sebagai pedoman 3
dalam bekerja, sangat diperlukan kompetensi pegawai untuk memahami dan
mengambil keputusan.
Sebagai organisasi nirlaba, Pemda juga harus dapat lebih berorientasi pada
peningkatan kinerja dikarenakan diberlakukannya Otonomi Daerah dimana
dependensi daerah terhadap pusat dikurangi. Oleh karenanya pegawai pada
pemerintahan daerah secara perlahan dituntut untuk tidak hanya bekerja seperti
apa yang ada dalam perspektif bekerja sesuai dengan imbalannya (the in role),
akan tetapi di lain pihak pegawai diharapkan memiliki motivasi untuk bekerja
melebihi apa yang seharusnya ia lakukan (the extra role, OCB). (Utomo, 2002:35
dalam dalam Rachmawati. 2009). Untuk menjaga kelangsungan operasional
organisasi, seorang pemimpin harus memperhatikan serta berusaha untuk
mempengaruhi dan mendorong pegawainya. Dalam hal ini motivasi sangatlah
berperan penting dalam meningkatkan semangat kerja pegawai dalam
melaksanakan tugas-tugasnya, termasuk motivasi pegawai SKPD dalam
menyusun anggaran yang berkualitas. .
Namun yang terjadi masih rendahnya kemampuan dan motivasi kerja para
aparatur pemerintah daerah memang merupakan kendala utama yang
berkaitan
dengan SDM yang sampai saat ini belum terpecahkan. Di sisi lain hal tersebut
sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan pemerintah, termasuk
dalam
hal menyusun anggaran yang berkualitas. Karena penyusunan anggaran adalah
suatu tugas yang bersifat teknis. Setiap unit kerja pemerintah Daerah (SKPD)
terutama penyusun anggaran harus bisa menyusun anggarannya dengan baik.
Kata-kata seperti keuangan, angka, estimasi muncul ketika seseorang berpikir 4
mengenai anggaran. Tetapi, dibalik seluruh citra teknis yang berkaitan dengan

anggaran, terdapat manusia. Manusialah yang menyusun anggaran dan manusia


jugalah yang harus hidup dengan anggaran tersebut (Ikhsan dan Ishak,
2005:159).
Tidaklah mengherankan kalau setiap penyusunan anggaran, faktor keperilakuan
seperti motivasi yang tinggi dalam bekerja harus dicermati dan dipertimbangkan
agar tujuan anggaran tercapai.
Penyebab menurunnya motivasi aparatur dalam hal menyusun anggaran
yang berkualitas di masing-masing SKPD berhubungan dengan adanya
perubahan-perubahan kebijakan. Keengganan para aparatur terhadap perubahan
kebijakan penyusunan anggaran sering kali menjadi kendala utama. Ini sangat
membingungkan bagi mereka dan akhirnya hanya menyusun anggaran sebatas
kemampuan yang ada.
Djadja (2009) sehubungan dengan adanya perubahan peraturan di bidang
pengelolaan keuangan negara/daerah, telah melakukan analisis terhadap
kebijakan
pengembangan SDM khususnya yang terkait dengan pengelolaan keuangan
daerah. Dari analisis tersebut menunjukkan bahwa SDM penyelenggara
keuangan
daerah belum dikelola secara baik. Rahayu (2007) melakukan penelitian tentang
studi fenomologis terhadap proses penyusunan anggaran daerah pada satuan
kerja
perangkat daerah. Hasilnya menunjukkan bahwa masih rendahnya kemampuan
dan motivasi kerja para aparatur daerah sehingga memunculkan: perilaku
resisten,
berupa keengganan para aparatur terhadap perubahan kebijakan penyusunan
anggaran yang masih ditemukan di lapangan, dan perilaku tidak efisien dan
tidak
efektif dari penyusun anggaran. Sejalan dengan Rahayu, penelitian Utari (2009)
5
menemukan beberapa kendala dan hambatan dalam Penyusunan anggaran
berbasis kinerja antara lain struktur SKPD belum memberikan ruang yang cukup

bagi penyusunan perencanaan dan penganggaran secara terintegrasi, tim


anggaran
belum terlibat secara penuh pada setiap tahapan perencanaan, kurangnya
pengetahuan, pemahaman dan juga motivasi dari para pegawai untuk
menerapkan
anggaran kinerja secara optimal, dan keterbatasan anggaran daerah.
Dan Alif (2010) melakukan penelitian mengenai pengaruh pengetahuan,
regulasi dan prilaku pegawai terhadap kualitas penyusunan anggaran. Hasilnya
menunjukkan bahwa hanya prilaku pegawai yang berpengaruh terhadap kualitas
penyusunan anggaran.
Dalam salah satu lembaga penelitian yang mengukur kinerja terutama
berkaitan dengan masalah anggaran, memasukkan kabupaten atau kota di
Sumatera Barat sebagai salah satu daerah penelitian. Namun hasilnya kota
Padang
memiliki peringkat kinerja yang berada di bawah beberapa pemerintah daerah
yang ada di propinsi Sumatera Barat sehubungan dengan masalah anggaran
(Seknas FITRA, 2009). Seringkali ini disebabkan oleh ketidaksiapan sumber daya
manusia pada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sehingga kualitas
penyusunan anggaran menurun yang terbukti dengan penyerapan dana APBN
yang masih kecil. Mengingat pentingnya faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap
efektif tidaknya penyusunan anggaran terutama dalam penelitian ini lebih
dikaitkan kepada sumber daya manusianya dari segi kompetensi, motivasi, dan
regulasi maka dalam penyusunan tesis ini penulis mengambil judul:

Pengaruh Kompetensi dan Motivasi Terhadap Kualitas Anggaran dengan


Regulasi sebagai Variabel Moderasi Pada Pemerintah Daerah Kota Padang.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh kompetensi terhadap kualitas anggaran Pemda


Kota
Padang?
2. Apakah terdapat pengaruh kompetensi terhadap kualitas anggaran Pemda
Kota
Padang dengan regulasi sebagai variabel moderasi?
3. Apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kualitas anggaran Pemda
Kota Padang?
4. Apakah terdapat pengaruh motivasi terhadap kualitas anggaran Pemda Kota
Padang dengan regulasi sebagai variabel moderasi?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini meliputi :
1. Untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh kompetensi terhadap
kualitas anggaran Pemda Kota Padang.
2. Untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh kompetensi terhadap
kualitas anggaran Pemda Kota Padang dengan regulasi sebagai variabel
moderasi.7
3. Untuk memberikan bukti empiris tentang tentang pengaruh motivasi kerja
terhadap kualitas anggaran Pemda Kota Padang.
4. Untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh motivasi terhadap kualitas
anggaran Pemda Kota Padang dengan regulasi sebagai variabel moderasi.
2. Metodologi Penelitian
2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini bertempat pada dinas-dinas yang ada pada
Pemerintah Kota Padang. Setelah dilakukan survei ada 18 dinas yang akan
menjadi sampel penelitian yang ada di Pemerintah Kota Padang.
Tabel 1
Nama-nama SKPD pada Pemerintah Kota Padang
No SKPD

1 Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil


2 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
3 Dinas Komunikasi dan Informatika
4 Dinas Kelautan an Perikanan
5 Dinas Perhubungan
6 Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan
7 Dinas Koperasi dan UKM
8 Dinas Pemadam Kebakaran
9 Dinas Kesejahteraan Sosial dan Tenaga Kerja
10 Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi
11 Dinas Kebersihan dan Pertamanan
12 Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan
13 Dinas Pendidikan
14 Dinas Pekerjaan Umum
15 Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset
16 Dinas Pasar
17 Dinas Kesehatan Kota
18 Dinas Pemuda dan Olah Raga
Sumber: Pemerintah Kota Padang di www.padang.go.id8
2.2 Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini pengambilan sampel (sampling) dilakukan secara
random. Alasan pengambilan sampel dengan metode random karena peneliti
hanya akan memilih sampel yang memiliki pengetahuan dan pemahaman, serta
pengalaman dalam penyusunan anggaran, sehingga mereka dapat memberikan
jawaban yang dapat mendukung jalannya penelitian ini.
Adapun yang terlibat dalam penyusunan anggaran di setiap SKPD
diperkirakan kurang lebih 5 sampai 6 orang, yang terdiri dari:
1. Pengguna anggaran 1 orang

2. Pejabat Penatausahaan Keuangan 1 orang


3. Kepala Bidang selaku Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan 3-4 orang, tergantung banyaknya bidang di SKPD
tersebut.
2.3 Definisi Variabel dan Pengukurannya
Penelitian ini menggunakan 2 (dua) variabel bebas/independen yaitu
variabel faktor kompetensi dan faktor motivasi, dan variabel terikat/dependen
adalah kualitas anggaran, dengan regulasi sebagai variabel pemoderasi. Berikut
ini
akan diuraikan konsep dan operasionalisasi masing-masing variabel.
2.3.1 Kompetensi
Susanto (2000) mendefinisikan tentang kompetensi yang sering dipakai
adalah karakteristik-karakteristik yang mendasari individu untuk mencapai
kinerja 9
superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, pemahaman,
keterampilan,
dan kemampuan dan perilaku yang berhubungan dengan pekerjaan.
Sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya maka indikator yang
dimasukkan untuk mengukur variabel kompetensi, yakni: pengetahuan tentang
penyusunan anggaran, pemahaman dalam menyusun anggaran, keterampilan
yang
dimiliki dan perilaku dalam bekerja. Dan variabel kompetensi ini
dioperasionalisasikan dengan menggunakan 20 pertanyaan yang diadopsi dari
pertanyaan Edi (2008) yang disesuaikan kembali dengan penelitian ini.
2.3.2 Motivasi
Motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah derajat sampai
dimana individu berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik. Penyusunan
anggaran akan lebih efektif apabila motivasi individu tinggi (Mia 1998 dalam
Poerwati 2001). Indikator yang dipergunakan dalam penelitian ini diambil dari

penelitian Wardi (2008) dimana indikator tersebut berasal dari elaborasi


beberapa
teori yakni dari Handoko, Nitisesmito dan Wyne. Adapun indikator tersebut yang
dipergunakan untuk mengukur motivasi kerja adalah keinginan bersama untuk
mencapai tujuan, kesetiaan pada organisasi dan pimpinan, disiplin kerja yang
tinggi dan baik, mampu menghadapi kesulitan dalam melaksanakan pekerjaan,
serta minat dan kecintaan pada pekerjaan yang tinggi. Variabel motivasi ini
dioperasionalisasikan dengan menggunakan 15 pertanyaan.10
2.3.3 Regulasi
Regulasi sangat penting dalam penyusunan anggaran karena regulasi
berguna untuk mengatur penggunaan dana pada saat dibutuhkan, sehingga
pelaksanaan program/kegiatan yang pada akhirnya berdampak pada pelayanan
publik dan pemerintah dapat berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan.
Adapun indikator pengukuran regulasi dalam penelitian ini mengacu pada
penelitian Halim (2007) dan Deddi Nordiawan, LGSP (2009) dalam Alif (2010),
yang didasarkan pada Permendagri no.13 tahun 2006 dan 59 tahun 2007, serta
kebijakan dan peraturanperaturan daerah yang terkait dengan perencanaan
dan
penganggaran yakni:
a. Terdapat Perda tentang RPJMD
b. Terdapat Perkada tentang Renja RKPD
c. Terdapat nota Kesepakatan antara DPRD dengan Eksekutif tentang KUA dan
PPAS
d. Terdapat SE tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD
e. Terdapat Perkada tentang Pedoman Evaluasi usulan kegiatan dan anggaran
f. Terdapatnya Perkada tentang standar biaya
g. Terdapatnya Perkada tentang standar satuan harga
2.3.4 Kualitas Anggaran
Kualitas anggaran dalam penelitian ini berhubungan dengan kualitas hasil

kerja dari penyusunan anggaran yang dikerjakan oleh pegawai/karyawan dalam


rangka menghasilkan suatu produk berupa Rencana Kerja dan Anggaran (RKA).
11
Kualitas hasil kerja berhubungan dengan seberapa baik sebuah pekerjaan
diselesaikan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam hal ini
kualitas anggaran dikaitkan dengan kriteria kualitas penyusunan anggaran (RKA)
yang baik. Oleh sebab itu, dalam penyusunan anggaran harus memperhatikan
indikator-indikator kualitas dari RKA:
a. Adanya dukungan unit-unit organisasi dan telah mengacu kepada tujuan
dan kebijakan umum organisasi
b. Rencana belanja tidak di mark up tetapi wajar relatif terhadap beban
output atau hasil kerjanya
c. Usulan kegiatan dari SKPD merupakan respon terbaik terhadap
permasalahan faktual terkini, dan/ atau potensi faktual terkini yang
dihadapi dalam rangka mewujudkan visi SKPD dan daerah (relevansi)
d. Telah tersusun secara smart dan logis yaitu adanya input, output, hasil
dan capaian program
e. Konsisten dan sinkron dengan kegiatan sebelumnya. Tidak jalan
ditempat tetapi maju mencapai target visi SKPD dan visi daerah
f. Cepat (disiplin dengan jadwal) dan tepat kalkulasinya.
g. Memuat informasi biaya satuan tenaga, material dan perlengkapan, total
biaya kegiatan dan lokasi kegiatan
h. Memuat informasi kelompok sasaran penerima manfaat anggaran
i. Memuat informasi komposisi tenaga peralatan (material) dan
perlengkapan yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan12
j. Rangkaian usulan kegiatan SKPD yang dibuat telah konsisten dengan
seluruh rangkaian dokumen perencanaan, kecuali ada perubahan isu
strategis yang signifikan
Adapun variabel ini dioperasionalisasikan dengan menggunakan 10

pertanyaan yang diadopsi dari R.Manik (2009), LGSP (2009), Nafarin (2000).
Namun dari 10 indikator yang dikemukakan di atas dan telah disesuaikan dengan
variabel penelitian yakni kualitas anggaran, maka hanya 8 indikator yang dapat
digunakan.
2.4 Teknik Pengujian Data
Sebelum dilakukannya pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan
pengujian data. Uji kualitas data yang diperoleh dari penggunaan instrumen
penelitian dapat dievaluasi melalui uji validitas dan uji reliabilitas. Hal ini
dilakukan untuk melihat apakah data yang diperoleh dari responden dapat
menggambarkan secara tepat konsep yang diuji. Pendekatan yang digunakan
dalam penelitian ini untuk uji validitas adalah dengan melihat nilai Kaiser Meyer
Olkin measurement dan analisis faktor loading. Suatu item valid jika analisis
faktor Kaiser Meyer Olkin memiliki nilai diatas 0,50 dari masing-masing variabel
yang diteliti dan hasil pengujian validitas untuk setiap butir pertanyaan dari
variabel yang diteliti tersebut memiliki faktor loading lebih besar dari 0,40 (Chia,
1995). Pengujian reliabilitas dianalisis dengan menggunakan teknik dari
Cronbach yaitu Cronbachs Alpha dimana instrumen dikatakan reliabel atau
cukup andal apabila memiliki cronbach alpha lebih besar dari 0,6 (Nunnaly dalam
13
Ghozali, 2006). Dalam penelitian dilakukan juga uji asumsi normal untuk
mengetahui apakah variabel yang dibandingkan telah terdistribusi normal. Teknik
pengujian normalitas yang digunakan adalah One Sample Kolmogorov-Smirnov
Test. Pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan nilai assym sig
(2-tailed) hasil pengujian dengan tingkat signifikansi 0,05. Nilai signifikansi dari
uji normalitas ini haruslah lebih besar 0,05, karena jika nilai signifikansinya lebih
kecil dari 0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal.
2.5 Teknik Pengujian Hipotesis
Untuk pengujian setiap hipotesis yang telah dirumuskan dalam penelitian
ini, digunakan alat analisis yakni analisis regresi linier berganda. Analisis regresi

ini digunakan untuk memperoleh suatu persamaan dan garis yang menunjukkan
persamaan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model
persamaan regresi yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah:
Y = + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 {X1*X3} + 5 {X2*X3}+ e
Dimana:
Y = Kualitas Anggaran
X1 = Kompetensi
X2 = Motivasi
X3 = Regulasi
= Konstanta
= Koefisien regresi
e = Erorr14
Analisis regresi linier berganda dilakukan dengan langkah-langkah
pengujian hipotesis sebagai berikut:
1) Pengujian pertama, yaitu melihat seberapa besar independen variabel dapat
menjelaskan variabel dependen, dan untuk itu dapat digunakan Uji R
square.
2) Pengujian kedua yaitu menguji pengaruh secara simultan kompetensi,
motivasi, terhadap kualitas anggaran. Untuk itu digunakan Uji F yang
hasilnya ditentukan dengan tingkat signifikansi alpha 5 %, dengan kriteria
pengujian sebagai berikut:
Jika F Sig < Alpha 5% maka Ho ditolak, Ha diterima. Artinya variabel
independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen.
Jika F Sig > Alpha 5% maka Ho diterima, Ha ditolak. Artinya variabel
independen secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap
variabel dependen.
3) Pengujian ketiga, yaitu signifikansi pengaruh variabel bebas terhadap

variabel terikat secara parsial. Pengujian menggunakan Uji t yang hasilnya


dibandingkan dengan tingkat signifikansi alpha 5 %, dengan kriteria
pengujian sebagai berikut:
Jika T Sig < Alpha 5% maka Ho ditolak, Ha diterima. Artinya variabel
independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen.15
Jika T Sig > Alpha 5% maka Ho diterima, Ha ditolak. Artinya variabel
independen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Deskriptif Data Penelitian
Deskriptif pada proses penyebaran kueisioner dalam penelitian ini
sebanyak 90 eksemplar. Dari 90 kuesioner yang dikirim menghasilkan tingkat
pengembalian kuesioner sebanyak 75 eksemplar (83.33%). Berarti 15
eksemplar
(16,67%) dari jumlah kuesioner yang dikirim tidak kembali. Sedangkan kuesioner
yang tidak bisa diolah karena pengisiannya yang tidak lengkap dan rusak
sebanyak 5 eksemplar (5,56%). Sehingga yang bisa diolah sebanyak 70
eksemplar
(77,77%).
3.2 Hasil Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Untuk melihat reliabilitas instrumen akan dihitung Cronbach Alpha dari
masing-masing instrumen yang dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach
Alpha lebih besar dari 0,6 (Nunnaly dalam Ghozali, 2006). Sedangkan uji
validitas
dilakukan untuk mengetahui seberapa baik suatu instrumen mengukur konsep
yang seharusnya diukur dan untuk mengetahui pertanyaan-pertanyaan dalam
intrumen adalah valid maka digunakan faktor analisis (factor analysis). Metoda
yang digunakan varimax rotation dan setiap variabel diharapkan mempunyai

factor loading lebih dari 0,4 (Chia, 1995). Selain itu nilai kaisers MSA yang lebih
besar dari 0,5 dapat dinyatakan tepat untuk faktor analisis dan mengindikasikan
16
construct validity dari masing-masing instrumen (Kaiser & Rice, 1974). Hasil
pengujian dari validitas dan reliabilitas instrumen dapat dilihat pada tabel
dibawah
ini:
Tabel 2
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
Variabel KMO
Factor
Loading
Cronbach
Alpha
Keterangan
Kompetensi 0,781 0,427-0,879 0,867 Valid dan Reliabel
Motivasi 0,759 0,464-0,807 0,895 Valid dan Reliabel
Regulasi 0,545 0,623-0,810 0,649 Valid dan Reliabel
Kualitas Anggaran 0,768 0,426-0,784 0,837 Valid dan Reliabel
Sumber: Hasil Pengolahan Data
Dari pengujian yang dilakukan, berikut ini diuraikan hasil uji validitas dan
reliabilitas, dimana semua item pertanyaan untuk masing-masing variabel
sudah
valid dengan nilai KMO yang sudah lebih dari 0.5 dan factor loading lebih dari
nilai 0,4. dan juga reliabel dilihat dari nilai cronbach alpha masing-masing
variabel sudah memenuhi syarat yakni diatas 0.6. Berdasarkan dari hasil
pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa instrumen layak untuk digunakan
dalam mengukur semua variabel penelitian.
3.3 Hasil Pengujian Normalitas

Untuk melakukan pengujian normalitas dapat juga digunakan bantuan uji


One Sample Kolmogorov Smirnov Test. Pengujian normalnya sebuah variabel
ditentukan dari nilai Asymp Sig Alpha 0,05. Berdasarkan proses pengolahan 17
data yang telah dilakukan diperoleh ringkasan hasil pengujian seperti yang
terlihat
pada tabel 4.6 dibawah ini:
Tabel 3
Hasil Pengujian Normalitas
Variabel Asymp Sig Alpha Kesimpulan
Kompetensi 0,198 0,05 Normal
Motivasi 0,099 0,05 Normal
Regulasi 0,068 0,05 Normal
Kualitas Anggaran 0,225 0,05 Normal
Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa hasil pengujian normalitas
terhadap seluruh variabel penelitian yang digunakan yakni terdiri dari
kompetensi,
motivasi, regulasi dan kualitas anggaran, telah memiliki nilai asymp sig > alpha
0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini telah berdistribusi normal. Jadi tahapan pengujian hipotesis
dapat segera dilakukan.
3.4 Hasil Uji R2
Menurut Ghozali (2005) uji koefisien determinasi adalah sebuah pengujian
yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan variabel independen untuk
menjelaskan variasi kontribusi variabel dependen yang diukur dengan
persentase.
Berdasarkan hasil pengujian koefisien determinasi yang telah dilakukan diperoleh
ringkasan hasil seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini:18
Tabel 4

Pengujian Koefisien Determinasi


Variabel R
2
Kompetensi, Motivasi, Regulasi,
Kompetensi*Regulasi, Motivasi*Regulasi
0.571
Sumber: Hasil Pengolahan Data SPSS
Berdasarkan hasil pengujian koefisien determinasi yang telah dilakukan
diperoleh nilai R-square sebesar 0,571, nilai yang diperoleh memperlihatkan
bahwa kompetensi, motivasi, regulasi, mediasi antara kompetensi dengan
regulasi,
serta mediasi antara motivasi dengan regulasi memiliki variasi kontribusi dalam
menjelaskan kualitas anggaran adalah sebesar 57,1% sedangkan sisanya 42,9%
lagi dijelaskan oleh variabel lain yang tidak digunakan didalam model penelitian
ini.
3.5 Hasil Uji F
Uji F adalah bagian uji statistik yang digunakan untuk membuktikan
pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen secara
serentak. Hasil uji F dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 5
Pengujian F-Statistik
Variabel F hit Sig Alpha Kesimpulan
Kompetensi, Motivasi, Regulasi,
Kompetensi*Regulasi, dan
Motivasi*Regulasi
17,047 0,000 0,05 Signifikan
Sumber: Hasil Pengolahan Data19
Berdasarkan tabel hasil uji F memperoleh nilai signifikan sebesar 0,000

dimana dalam pengujian digunakan tingkat kesalahan atau alpha 0,05. Sesuai
hasil
pengujian terlihat bahwa nilai sig 0,000 < alpha 0,05 maka keputusannya adalah
Ho ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa kompetensi,
motivasi, mediasi kompetensi dan regulasi, serta mediasi motivasi dan regulasi
secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran. Hasil
yang diperoleh memperlihatkan bahwa model yang digunakan dalam tahapan
pengujian hipotesis dapat diterima sehingga tahapan pengolahan data dapat
terus
dilanjutkan.
3.6 Hasil Pengujian Hipotesis dan Pembahasan
Untuk membuktikan pengaruh kompetensi, motivasi dan mediasi antara
kompetensi dengan regulasi, dan mediasi motivasi dengan regulasi terhadap
kualitas anggaran secara parsial, maka dilakukan pengujian t-statistik. Setelah
dilakukannya proses pengujian hipotesis diperoleh ringkasan hasil pengujian
seperti yang terlihat pada tabel 4.9 dibawah ini:
Tabel 4.9
Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel
Koefisien
Regresi
Sig Alpha Kesimpulan
Konstanta 21,685 - - Kompetensi 0,215 0,023 0,05 Signifikan
Motivasi -0,369 0,046 0,05 Signifikan
Regulasi -0,468 0,225 0,05 Kompetensi*Regulasi 0.004 0,063 0,05 Tidak Signifikan
Motivasi*Regulasi 0,010 0,049 0,05 Signifikan
Sumber: Hasil Pengolahan Data20

Dari tabel 4.9 diatas terlihat bahwa setiap variabel independen yang
digunakan didalam model memiliki koefisien regresi dengan slope yang berbeda
dan dapat dibuat kedalam sebuah persamaan regresi berganda seperti yang
terlihat
dibawah ini yaitu:
Y = 21,685 + 0,215 X1 0,369 X2 0,468 X3 + 0.004 (X1*X3) + 0,010 (X2*X3)
3.6.1 Kompetensi berpengaruh terhadap Kualitas Anggaran
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama (H1) ditemukan bahwa
kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran SKPD. Hasil yang
diperoleh sejalan dengan hipotesis penelitian sehingga hipotesis yang diajukan
diterima. Dari model pengujian yang dihasilkan memperlihatkan bahwa semakin
tinggi kompetensi pegawai sebagai penyusun anggaran maka kualitas anggaran
di
SKPD akan meningkat. Penyebabnya adalah dengan kompetensi yang dimiliki
oleh seorang penyusun anggaran diharapkan dapat mengambil keputusan yang
cepat, lugas dan tepat. Selain itu kompetensi yang dimiliki juga memperlihatkan
kesanggupan seorang pegawai dalam menyusun anggaran di SKPD tempat ia
bekerja dengan permasalahan serta tantangannya. Apalagi berdasarkan hasil
survei ke lapangan ternyata salah satu kendala yang dikemukakan responden
menyatakan bahwa plafon anggaran kecil. Sehingga dengan plafon anggaran
yang sangat terbatas tersebut, maka dibutuhkan pegawai yang benar-benar
kompeten untuk menghadapinya.21
Selain itu fakta yang terjadi di lapangan mengemukakan beberapa
permasalahan yang sering terjadi terkait dengan penyusunan anggaran selain
plafon anggaran yang terbatas, SKPD juga dihadapkan dengan masalah skala
prioritas, banyak kegiatan yang telah disusun yang dipangkas. Padahal kegiatan
tersebut sangat dibutuhkan saat itu dan harus didahulukan namun tidak
dikabulkan
oleh pihak legislatif. Untuk itu, pegawai yang memiliki kompetensi yang tinggi

adalah individu dengan intelegensi luas sehingga mampu menyelesaikan segala


bentuk permasalahan dan konflik yang terjadi didalam SKPD, dan pola pemikiran
yang dimiliki tentunya akan mendorong semangat untuk menyusun anggaran
yang
berkualitas.
3.6.2 Moderasi antara Kompetensi dengan Regulasi terhadap Kualitas
Anggaran
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua (H2) ditemukan bahwa
moderasi antara kompetensi dengan regulasi tidak berpengaruh signifikan
terhadap kualitas anggaran. Hipotesis yang diajukan di dalam hipotesis kedua
tidak dapat menjawab kebenaran hipotesis. Jika ditelaah pegawai yang
menyusun
anggaran diharapkan orang yang memiliki kompetensi atau telah dianggap
mampu
atau ahli dalam menyusun anggaran. Mereka harus bekerja sesuai dengan
regulasi
yang ada dimana dalam penelitian ini difokuskan pada kebijakan dan peraturan
daerah tentang anggaran. Namun tidak semuanya dapat memahami maksud
dan
tujuan pembebanan anggaran tersebut. Pernyataan ini didukung oleh pendapat
salah satu responden dari Dinas Perhubungan Kota Padang. 22
Fakta yang terjadi di lapangan, bahwa hampir semua SKPD mengatakan
bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan dengan plafon anggaran yang terbatas,
susah untuk membaginya karena banyaknya kegiatan yang urgen meskipun
sudah
disusun sesuai dengan regulasi yang ada.
Dan masih adanya kebiasaan menyusun anggaran dengan cara yang lama
mengakibatkan mereka enggan untuk memahami regulasi sebagai pedoman
menyusun anggaran yang baru menuju penyusunan anggaran berkualitas.
Dikemukakan juga bahwa regulasi yang ada khususnya mengenai kebijakan dan
peraturan-peraturan tentang anggaran ternyata tidak sepenuhnya dijalankan

dengan baik. Masih adanya resistensi terhadap kebijakan baru, dikarenakan


regulasi
anggaran tersebut dipandang lebih rumit, proses yang lebih lama dan seringnya
terjadi
perubahan kebijakan.
Menurut beberapa responden adanya perubahan kebijakan dan sering
terlambat turunnya Surat Edaran, menyebabkan tim penyusun anggaran harus
bekerja dalam waktu singkat. Sangat dibutuhkan kompetensi yang sesuai dalam
mengetahui dan memahami tugas mereka, serta keterampilan dan prilaku juga
sangat membantu perwujudan penyusunan anggaran yang berkualitas.
Dan dari hasil survei penelitian banyak dari responden sebagai pihak
eksekutif yang terlibat dalam penyusunan anggaran seperti kadin, kabid, dan
kasubag keuangan berlatarbelakang pendidikan yang berbeda-beda. Hasil ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Djadja (2009) yang menyatakan
bahwa sehubungan dengan adanya perubahan peraturan di bidang pengelolaan
keuangan daerah, disertai dengan analisis terhadap kebijakan pengembangan 23
SDM khususnya terkait dengan pengelolaan keuangan daerah. Walaupun tidak
secara spesifik terhadap kualitas penyusunan anggaran. Namun kompetensi para
pegawai apalagi yang tidak sesuai dengan bidang ilmunya untuk memahami
pekerjaan dan juga memahami regulasi mempengaruhi kualitas kerja.
Menurut sebagian SKPD yang diteliti, menyebutkan bahwa seringnya
terjadi perubahan kebijakan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,
mengakibatkan
rencana kegiatan harus diperbaiki dalam waktu yang relatif singkat. Hal ini
terjadi
karena penyusunan usulan anggaran oleh eksekutif didasarkan pada arah dan
kebijakan umum (AKU) dan strategi dan prioritas (SP) yang dinyatakan dalam
sebuah nota kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. Pada tahap formulasi
relatif
tidak terjadi konflik antara eksekutif dan legislatif, sementara pada tahap
berikutnya,

yakni ketika rancangan anggaran diusulkan menjadi anggaran yang ditetapkan


biasanya harus melalui perdebatan dan negosiasi di antara kedua belah pihak.
Responden juga mengatakan bahwa seringkali hal ini gagal dipertahankan oleh
SKPD
(eksekutif) terhadap program-program yang telah disusun sebelumnya.
3.6.3 Motivasi berpengaruh terhadap Kualitas Anggaran
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga (H3) ditemukan bahwa
motivasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran SKPD. Hasil yang
diperoleh sejalan dengan hipotesis penelitian sehingga hipotesis yang diajukan
diterima. Fakta yang ditemukan di lapangan menyebutkan bahwa masalah
anggaran yang terbatas mempengaruhi motivasi pegawai dalam menyusun
anggaran. Dalam Musrenbag mereka sudah merencanakan kegiatan-kegiatan
yang
dibutuhkan masyarakat saat itu, namun permasalahan terbatasnya anggaran24
menyebabkan tidak semua kegiatan bisa didanai dan akhirnya harus
menentukan
skala prioritas. Apabila tidak tepat dalam memilih program yang benar-benar
dibutuhkan pada saat itu, maka dapat mempengaruhi kualitas anggaran.
Ketika adanya motivasi dari setiap SKPD dalam menyusun anggaran,
artinya bahwa ada harapan bahwa program yang sudah disepakati, memang
merupakan kebutuhan saat ini yang harus terlaksana. Namun kebanyakan yang
terjadi termasuk dalam penelitian ini, yakni beberapa program/kegiatan yang
sudah disusun tidak tercapai atau tidak disetujui, maupun tidak sesuai
anggarannya sehingga menimbulkan kekecewaan. Artinya walaupun muncul
motivasi untuk menyusun anggaran tapi kualitas anggaran malah menurun.
Program/kegiatan yang teridentifikasi sebelumnya dipecahkan dengan
menetapkan target kinerja yang hendak dicapai. Besaran target kinerja ini
sangat
ditentukan oleh lingkup, besaran, dan waktu kegiatan yang dibutuhkan. Bisa saja
sebuah kebutuhan tidak dapat dipenuhi selama satu tahun anggaran karena

keterbatasan kapasitas SKPD.


Dan akhirnya pada tahap pelaksanaannya tidak dapat dilakukan
sepenuhnya sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masyarakat saat itu. Disisi lain
adanya keterbatasan dana juga menjadi kendala dalam anggaran. Bahkan ketika
SKPD melakukan lelang yang ditujukan untuk menghindari anggapan adanya
nepotisme, meskipun sebenarnya rentan terhadap terjadinya korupsi seperti
kasus
Banggar yang terjadi baru-baru ini. Ini disebabkan banyak pihak yang
berkompetisi untuk mendapatkan kegiatan tersebut, sehingga sebagian dana
dijanjikan akan diberikan jika mendapatkan kegiatan tersebut yang bahkan 25
diambil dari dana anggaran yang digunakan untuk mendanai kegiatan
tersebut.
Resikonya program/kegiatan dilakukan dengan penurunan kualitas dari yang
semestinya disebabkan kurangnya pengadaan untuk program/kegiatan tersebut
(Farhan dalam Nurhasim, 2011). Kesimpulannya kualitas anggaran dapat
dianggap rendah karena program/kegiatan tidak terlaksana dengan baik dan
tidak
sesuai dengan anggaran yang sesungguhnya.
Namun apabila SKPD menyusun anggaran dengan anggapan bahwa
kegiatan ini hanya tuntutan pekerjaan dan tidak terlalu mementingkan
program/kegiatan mana yang nantinya disetujui, bahkan masih ada yang
berfikiran penyusunan anggaran hanya berpedoman tahun-tahun sebelumnya.
Artinya masih ada resistensi (keengganan) untuk berubah yang masih cukup
besar
dari penyusun anggaran. Karenanya, jika tidak muncul motivasi untuk menyusun
anggaran ke arah yang lebih baik, sehingga tidak ada ambisi terhadap
program/kegiatan tertentu harus terwujud. Hanya memenuhi kewajibannya agar
tugas menyusun anggaran tetap terlaksana, sehingga pihak legislatif dapat
menentukan mana yang harus disahkan tanpa ada perbedaan pendapat dari

eksekutif yakni masing-masing SKPD, sehingga kualitas anggaran tampak


baikbaik saja dan memang yang disahkan legislatif mewakili keinginan
masyarakat.
3.6.4 Moderasi antara Motivasi dengan Regulasi terhadap Kualitas
Anggaran
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat ditemukan bahwa moderasi
antara motivasi dengan regulasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas 26
anggaran. Hipotesis yang diajukan di dalam hipotesis keempat juga dapat
menjawab kebenaran hipotesis. Dengan adanya regulasi anggaran maka
setidaknya motivasi pegawai dalam menyusun anggaran yang berkualitas
dapat
meningkat karena memiliki pedoman dalam bekerja. Dengan adanya regulasi
maka cara penyusunan anggaran harus disesuaikan. Karenanya dalam penelitian
ini moderasi motivasi pegawai dengan regulasi dapat mewujudkan kualitas
anggaran semakin baik. Artinya motivasi pegawai untuk menyusun anggaran
sesuai dengan regulasi memang diharapkan dapat mewujudkan anggaran yang
berkualitas.
Sebaliknya bila kebijakan anggaran sering berubah-ubah maka mereka
akan dituntut untuk memperbaiki anggaran kerja yang telah disusun sebelumnya
sesuai tuntutan perubahan. Kalau perubahan sering terjadi sekiranya dapat
menyulitkan pegawai dalam meyusun kembali anggaran sehingga tidak
termotivasi lagi untuk bekerja lebih baik. Serta masalah plafon anggaran yang
terbatas juga dapat menyebabkan kurangnya motivasi pegawai menyusun
anggaran yang berkualitas.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yakni penelitian
yang dilakukan oleh Utari (2009) yang dalam penelitiannya ditemukan bahwa
motivasi mempengaruhi penyusunan anggaran, dimana kurangnya motivasi
pegawai dalam menerapkan anggaran kinerja secara optimal dan keterbatasan
anggaran daerah.

Begitu juga dengan penelitian Herminingsih (2009) yang menemukan


bahwa sering terjadi motivasi dari individu dapat terpengaruh oleh pertentangan
27
tujuan antara pemerintah daerah dengan pegawai SKPD sebagai individu
sehingga
menghasilkan kualitas kerja yang rendah atau tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Kualitas kerja masing-masing pegawai sebagai individu tersebut
akan
berpengaruh pada kualitas kerja pemerintahan secara menyeluruh.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa motivasi penyusun anggaran
yang tinggi dalam menyusun anggaran sesuai dengan regulasi akan
meningkatkan
kualitas anggaran. Namun motivasi akan menurun seiring dengan adanya
perubahan kebijakan yang sering terjadi sehingga kualitas anggaran juga akan
menurun. Harapan mereka menurun dikarenakan anggaran yang telah disusun
tersebut, ketika diusulkan ke pihak legislatif sering kali mengami perubahan
dengan alasan tertentu sehingga tujuan awal mereka tidak sepenuhnya tercapai.
Ini
sesuai dengan teori motivasi menurut Vroom, dimana yang mempengaruhi tinggi
rendahnya motivasi seseorang ditentukan ekspektasi (harapan) keberhasilan
pada
suatu tugas, penilaian terhadap apa yang akan terjadi, dan respon terhadap hasil
kerja. Apa yang dikerjakan jika tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan akan
mempengaruhi motivasi seseorang dalam bekerja sehingga mempengaruhi hasil
kerjanya. Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi
harapan.
Motivasi rendah jika usahanya menghasilkan sesuatu kurang dari yang
diharapkan.28
4. Kesimpulan, Keterbatasan dan Implikasi Penelitian
1.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan hasil pengujian hipotesis yang telah

dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan penting yang merupakan inti dari


penelitian ini yakni sebagai berikut:
1. Secara umum tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk
membuktikan pengaruh kompetensi terhadap kualitas anggaran, pengaruh
motivasi terhadap kualitas anggaran, pengaruh moderasi yang terjadi
antara kompetensi dengan regulasi terhadap kualitas anggaran, dan
mengetahui pengaruh moderasi yang terjadi antara motivasi dengan
regulasi terhadap kualitas anggaran, maka dilakukan pengolahan data
dengan menggunakan metode analisis kuantitatif. Sebelum dilakukan
pengolahan data terlebih dahulu dilakukan pengumpulan data dan
informasi. Proses pencarian informasi dilakukan dengan menggunakan
metode survei yaitu melalui kuesioner penelitian. Di dalam penelitian ini
yang menjadi sampel adalah kepala SKPD sebagai pengguna anggaran,
pejabat penatausahaan, dan kepala bidang, yang semuanya terlibat dalam
penyusunan anggaran di setiap SKPD yang ada pada pemerintah daerah
Kota Padang, dimana ada 18 SKDP yang dimasukkan dalam survei
penelitian.
2. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pertama ditemukan bahwa
kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran SKPD,
sehingga kebenaran hipotesis pertama berhasil dibuktikan.29
3. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis kedua moderasi antara kompetensi
dengan regulasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran,
sehingga kebenaran hipotesis kedua tidak berhasil untuk dibuktikan.
4. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis ketiga dibuktikan bahwa motivasi
berpengaruh signifikan terhadap kualitas anggaran. Jadi kebenaran
hipotesis ketiga berhasil untuk dibuktikan.
5. Dan berdasarkan hasil pengujian hipotesis keempat moderasi antara
motivasi dengan regulasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas

anggaran. Jadi kebenaran hipotesis keempat berhasil untuk dibuktikan.


1.2 Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa penelitian yang telah dilakukan ini masih
memiliki beberapa kekurangan yang disebabkan karena adanya keterbatasan
yang
peneliti alami selama penyusunan tesis ini. Keterbatasan tersebut meliputi:
1. Penelitian ini hanya memasukan variabel kompetensi dan motivasi sebagai
variabel independennya dengan regulasi sebagai variabel moderasi, tetapi
masih adanya sejumlah variabel lain yang berada di luar model penelitian
ini yang juga dominan mempengaruhi kualitas anggaran seperti
keterbatasan plafon anggaran, politik, kesesuaian regulasi dalam
menyusun anggaran, serta potensi daerah itu sendiri.
2. Responden dalam penelitian ini hanya sebatas pejabat eksekutif ditingkat
SKPD yang diwakili oleh kepala dinas, kepala bagian dan kasubag
keuangan yang hanya memahami anggaran secara teknisnya sehingga hasil 30
penelitian ini lebih cenderung menggambarkan kualitas penyusunan
anggaran (RKA SKPD) secara teknis penyusunannya dan tidak
membahasnya sampai ke APBD.
3. Peneliti juga menemukan bahwa banyak dari sebagian sampel tidak ikut
dalam penyusunan anggaran walaupun secara teoritisnya mereka
merupakan penyusun anggaran.
4. Dan pada penelitian ini, digunakan kuesioner sebagai media untuk
melakukan pengumpulan data yang memungkinkan adanya perbedaan
seseorang dalam memandang sesuatu sehingga peneliti tidak dapat
mengendalikan jawaban responden atau pengisian asal-asalan.
1.3 Saran
Berdasarkan keterbatasan penelitian dapat diajukan beberapa saran yang
dapat memberikan kontribusi positif bagi peneliti selanjutnya. Adapun
saransaran yang diberikan sebagai berikut:

1. Agar dapat memperluas area survei, sebaiknya tidak hanya pada Dinas
Pemerintah Daerah Kota Padang, alangkah lebih baik jika dimasukkan
juga Badan-badan dan Kantor ataupun Kecamatan sehingga dapat
mewakili populasi responden dari seluruh SKPD-SKPD yang ada pada
Pemerintah Daerah Kota Padang, sehingga penelitian ini menjadi lebih
akurat dan komprehensif.
2. Diharapkan peneliti mendatang dapat menambahkan variabel lainnya yang
mempunyai kemungkinan berpengaruh terhadap kualitas penyusunan 31
anggaran seperti : cukup tidaknya plafon anggaran, banyaknya kegiatan di
setiap SKPD, potensi daerah, dan perubahan kebijakan ataupun kesesuaian
regulasi.
3. Diharapkan peneliti mendatang dapat melakukan wawancara langsung
pada sampel penelitian untuk menghindari jawaban yang asal-asalan
sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat dan efisien.32
DAFTAR REFERENSI
Alif, 2010. Pengaruh Pengetahuan, Regulasi, dan Perilaku Pegawai terhadap
Kualitas Penyusunan Anggaran . Tesis: Program Pascasarjana, Unand:
Padang.
Djaja, Sukirman. 2009. Terbatasnya Kompetensi SDM Salah Satu Penyebab
Buruknya Pengelolaan Keuangan Daerah. BPKP Bidang Pengawasan
Penyelenggaraan Keuangan Daerah.
Ghozali, I. 2006. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Edisi 3. BP
Undip. Semarang
Herminingsih, 2009. Pengaruh Partisipasi dalam Penganggaran dan Peran
Manajerial Pengelola Keuangan Daerah terhadap kinerja Aparat Daerah.
Tesis: Program Pascasarjana, UNDIP.
Heruwati, Eka. 2008. Analisis Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Grebogan
dilihat dari Pendapatan Daerah Terhadap APBD Tahun 2004-2006.

UMS.
Ikhsan, A dan Ishak, M. 2005. Akuntansi Keperilakuan. Salemba Empat. Jakarta.
Poerwati, Tjahjaning. 2001. Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran
terhadap Kinerja Manajerial dengan Budaya Organisasi dan Motivasi
sebagai Variabel Moderating. Tesis.
Rahayu, Sri. 2007. Studi Fenomologis terhadap Proses Penyusunan Anggaran
Daerah (Bukti empiris dari Satuan Kerja perangkat Daerah).
Rachmawati, Sinta Rina. 2009. Pengaruh Komitmen Organisasi, Motivasi Kerja,
dan Gaya Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan Bidang Keuangan
pada Pemda Kabupaten Sukoharjo. UMS. Surakarta.
Susanto, Azhar. 2000. Sistem Informasi manajemen Konsep dan
Pengembangannya. Lingga jaya. Bandung.
Seknas FITRA dan The Asia Foundation. Kinerja Pengelolaan Anggaran Daerah
2009 (Studi di 41 kabupaten/Kota di Indonesia.
Utari, Nuraeni. 2009. Studi Fenomologis tentang Proses Penyusunan Anggaran
Berbasis Kinerja pada Pemerintah Kabupaten Temanggung. Tesis.
Program Pasca Sarjana, Undip: Semarang.33
Wardi, Elvi. 2008. Pengaruh Seleksi dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja
Pegawai pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dam UKM.
Tesis. Program Pasca Sarjana
Keputusan Menteri Pendidikan nasional Nomor: 0451 tahun 2002 tentang
Kompetensi
Keputusan Kepala Badan Kepegawaian No. 46 A Tahun 2003 tentang
Kompetensi Pegawai.
PP No.105 tahun 2000 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
.