Anda di halaman 1dari 11

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

IKLIM ETIKA DAN ORGANISASI BERINTEGRITAS

Kelompok 5:
Prasaja Suganda

(1506315006)

Made Subianta Adnyana

(1506315015)

Ni Luh Nyoman Sherina Devi

(1506315016)

Ni Wayan Indah Suwarningsih

(1506315017)

Edhi Praptono

(1506315019)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2015

IKLIM ETIKA DAN ORGANISASI BERINTEGRITAS

5.1.

Pentingnya Membangun Iklim Etika dan Organisasi Berintegritas


Banyak pimpinan organisasi dan perusahaan yang beranggapan bahwa permasalahan

etika adalah permasalahan individual. Setiap individu bertanggung jawab terhadap tindakantindakan tidak beretika yang mereka lakukan, sementara itu organisasi tidak dapat berbuat
apa-apa untuk mempengaruhi etika seseorang.
Memang Gayus Tambunan dan Malinda Dee memperoleh hukuman atas tindakan
mereka melanggar hukum. Namun apa yang mereka perbuat berpengaruh terhadap organisasi
dan perusahaan tempat mereka bekerja. Karena itu, organisasi dan perusahaan sangat
berkepentingan terhadap perilaku etika dari orang-orang yang bekerja pada organisasi dan
perusahaan tersebut.
Organisasi juga dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Sebagai contoh adalah apa
yang terjadi pada Sears, Roebuck & Company pada tahun 1992. Hal ini terjadi bukan karena
penurunan moral pada pegawai perusahaan. Peristiwa ini juga terjadi bukan disengaja oleh
manajemen. Namun terdapat beberapa factor di dalam organisasi yang menciptakan situasi
tersebut.
Dalam menghadapi penurunan pendapatan, pangsa pasar yang mengecil dan
persaingan yang semakin ketat manajemen perusahaan berupaya untuk meningkatkan kinerja
dengan memperkenalkan program sasaran dan insentif yang baru untuk pegawai. Perusahaan
meingkatkan kuota minimum dan memberikan target kepada pegawainya. Jika mereka gagal
mencapai target, mereka akan dipindahkan atau dikurangi jam kerjanya. Mereka mendapat
tekanan untuk melakukan penjualan.
Dengan tekanan dan insentif yang baru, sementara mereka pada dasarnya tidak
memiliki peluang untuk meningkatkan penjualan. Tanpa dukungan aktif dari manajemen
untuk praktik beretika dan ketiadaan mekanisme untuk mendeteksi dan memeriksa penjualan
yang meragukan dan hasil pekerjaan yang buruk, pegawai akan bertindak sesuai dengan
tekanan yang dihadapi. Karena hal itu yang menjadi prioritas mereka.
Setelah tuntutan terhadap Sears diketahui public, CEO Edward Brennan mengakui
tanggung jawab manajemen yang telah menerapkan system penetapan sasaran dan
kompensasi yang menciptakan situasi penyebab kesalahan. Mereka mengumumkan
menerapkan system blind audit dan merencanakan untuk memperluas system pemantauan
kualitas pelayanan. Untuk menyelesaikan tuntutan hukum, perusahaan menawarkan kupon
1

untuk pelanggan yang membeli suku cadang tertentu selama periode 1990-1992. Total biaya
yang harus dikeluarkan untuk penyelesaian tuntutan diperkirakan sebesar $60 juta.
5.2.

Keterbatasan Program Compliance


Seorang pegawai yang melanggar hukum berisiko menghadapi kasus hukum

berdampak pada konsekuensi biaya yang signifikan dan kehilangan nama naik serta
kepercayaan pelanggan pada perusahaan mereke. Risiko ini membuat banyak perusahaan
menyadari pentingnya etika orgnaisasi dan kemudian mengembangkan etika organisasi yang
mampu mendeteksi dan mencegah pelanggaran hukum. Hal ini sesuai dengan himbauan
Pemerintah Amerika agar perusahaan menerapkan program compliance yang menekankan
pada pencegahan tindakan hukuman bagi pelanggar, melalui peningkatan pemantauan standar
dan prosedur serta dengan memberikan hukuman bagi para pelanggar, antara lain:
1) Seorang manajer harus mengembangkan standar dan prosedur
2) Menugaskan pegawai-pegawai yang memiliki jawabatan tinggi untuk mengawasi
kepatuhan terhadap standar dan prosedur
3) Menghindari pendelegasian wewenang kepada orang-orang yang berpotensi untuk
melakukan pelanggaran
4) Mengkomunikasikan standar dan prosedur melalui pelatihan dan publikasi
5) Melakukan audit kepatuhan, proses pemantauan, sistem whistleblowing dimana
pegawai dapat melaporkan tindakan melawan hukum tanpa merasa takut dihukum
6) Secara konsisten menegakkan standar melalui tindakan-tindakan disiplin
7) Secara cepat melakukan tindakan jika terdeteksi pelanggaran
8) Melakukan langkah-langkah pencegahan agar pelanggaran sejenis tidak terulang di
masa depan
Terdapat beberapa keterbatasan atas program compliance yaitu:
1) Perbedaan hukum dan aturan di tiap negara.
2) Terlalu menekankan pada pemberian ancaman deteksi dan hukuman untuk
mendorong perilaku yang mentaati hokum.
3) Program ini cenderung untuk tidak mendorong terciptanya imajinasi moral atau
komitmen.
4) Bukan pedoman etika untuk perilaku keteladanan atau bahkan praktik-praktik yang
baik.
5.3.

Integritas sebagai Tata Kelola Etika


2

Integritas sebagai tata kelola etika mendorong organisasi memiliki standar yang lebih
kuat dan memiliki integritas berbasis konsep pengelolaan sendiri (self-governance)
berdasarkan sekumpulan prinsip. Dari prinsip integritas, tugas dari manajemen etika adalah:
1) Untuk mendefinisikan dan menghidupkan nilai organisasi
2) Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung prilaku etika yang baik
3) Untuk menanamkan rasa akuntabilitas bersama antar pegawai
Bentuk dari program integritas menyerupai dengan program compliance, seperti kode
etik, pelatihan, mekanisme pelaporan, investigasi atas potensi pelanggaran, dan audit dan
pengawasan untuk menjamin standar dan aturan perusahaan dijalankan dan dipatuhi. Jika
dirancang secara tepat dapat menciptakan dasar untuk mencari kemanfaatan dari kepatuhan
terhadap hukum.
Pendekatan berintegritas lebih luas, lebih dalam, dan lebih sulit dari program
compliance. Lebih luas karena pendekatan ini berupaya untuk memungkinkan terciptanya
perilaku bertanggung jawab. Lebih dalam karena mencakup ethos dan sistem operasi dari
organisasi dan anggota-anggotanya, nilai-nilai yang mereka pedomani, cara berpikir dan
berperilaku. Lebih sulit karena membutuhkan upaya secara aktif untuk mendefinisikan
tanggung jawab dan aspirasi yang menjadi bagian dari pedoman etika organisasi.
Perbedaan karakteristik dan implementasi antara program compliance dan organisasi
berintegritas, sebagai berikut.
Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Program Compliance dan Integritas
Karakteristik

Program Compliance

Program Integritas

Etika

Sesuai dan taat dengan standar


yang diterapkan dari luar organisasi

Mengelola sendiri sesuai


dengan standar yang dipilih

Tujuan

Mencegah terjadinya tindakan


melawan hukum

Mendorong tindakan-tindakan
yang bertanggung jawab

Dipimpin oleh ahli hukum

Dipimpin oleh manajemen


dengan bantuan ahli hukum,
spesialis SDM dan lain-lain

Pendidikan, pengurangan
kewenangan, auditing dan
pengawasan, pemberian hukuman

Pendidikan, kepemimpinan,
akuntabilitas, sistem organisasi
dan proses pengambilan
keputusan, auditing dan
pengawasan, pemberian
hukuman.

Otonom/individualis yang didorong


oleh kepentingan diri sendiri yang
bersifat material

Sosial, yang dipandu oleh


kepentingan sendiri yang
bersifat material, nilai-nilai,

Kepemimpinan

Metode

Asusmsi perilaku

kesempurnaan dan rekan


sejawat

Tabel 2. Perbedaan Implementasi Program Compliance dan Integritas


Implementasi
Standar
Staffing

Program Compliance
Hukum Pidana dan UU terkait
dengan kegiatan perusahaan

Nilai-nilai dan aspirasi


organisasi, lewajiban sosial,
termasuk kewajiban taat
hukum

Ahli hukum

Pimpinan dan manajer

Mengembangkan standar
compliance dan komunikasi,
pelaporan pelanggaran, investigasi,
audit atas ketaatan, penegakan
standar

Menjalankan organisasi
berdasarkan nilai-nilai dan
standar, pelatihan dna
komunikasi, pengintegrasian
nilai-nilai ke dalam sistem
organisasi, memberikan
bimbingan dan pelatihan,
menilai kinerja berbasis nilainilai, identifikasi dan
pemecahan masalah,
mengawasi ketaatan

Sistem dan standar compliance

Pengambilan keputusan dan


nilai-nilai organisasi, sistem
dan standar compliance

Kegiatan

Pendidikan

5.4.

Program Integritas

Program Integritas yang Efektif


Terdapat beberapa karakteristik dari program integritas yang efektif, yaitu:
1) Nilai dan komitmen yang masuk akal dan secara jelas dikomunikasikan
Nilai dan komitmen ini mencerminkan kewajiban organisasi. Pegawai dari berbagai
tingkatan menerima nilai dan komitmen tersebut dengan sungguh-sungguh, merasa
bebas untuk mendiskusikannya, dan memahami pentingknya dalam praktisi. Hal ini
bukan berarti semuanya sudah jelas sehingga tidak ambiguitas dan konflik. Namun
selalu ada keinginan untuk mencari solusi yang sesuai dengan kerangka nilai tersebut.
2) Pimpinan organisasi secara pribadi memiliki komitmen, dapat dipercaya, dan
bersedia untuk melakukan tindakan atas nilai-nilai yang mereka pegang
Mereka tidak sekedar juru bicara. Mereka bersedia untuk memeriksa keputusannya
sesuai dengan nilai-nilai tesebut. Konsistensi merupakan bagian penting dari
kepemimpinan. Ceramah berkepanjangan dan tidak jelas tentang nilai-nilai
perusahaan hanya memancing ketidak-percayaan pegawai dan penolakan terhadap
4

program. Pada saat yang sama pemimpin harus mengambil tanggung jawab untuk
membuat keputusan yang sulit ketika terjadi konflik antara kewajiban etika.
3) Nilai-nilai yang digunakan terintegritas dalam proses pengambilan keputusan
manajemen dan tercermin dalam kegiatan-kegiatan penting organisasi
Penyusunan rencana, penetapan sasaran, pencarian kesempatan, alokasi sumber daya,
pengumpulan dan komunikasi informasi, pengukuran kinerja, dan pengembangan
SDM.
4) Sistem dan struktur organisasi mendukung dan menguatkan nilai-nilai
organisasi
Sistem pelaporan dibuat untuk memungkinkan dilakukannya check and balance untuk
mendukung pertimbangan yang objektif dalam pengambilan keputusan. Penilaian
kinerja memperhatikan cara kerja dan hasil kerja.
5) Seluruh manajer memiliki ketrampilan pengambilan keputusan, pengetahuan
dan kompetensi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang berbasis etika
setiap hari
Berpikir dan memiliki kesadaran etika harus menjadi bagian dari perlengkapan mental
seorang manajer. Pendidikan etika biasanya merupakan bagian dari proses.
Keberhasilan dalam menciptakan iklim untuk perilaku yang beretika dan bertanggung jawab
untuk membutuhkan upaya yang berkelanjutan dan investasi yang cukup besar dalam waktu
dan sumberdaya. Suatu buku kode etika yang mewah, pejabat yang berpangkat tinggi di
bidang etika, program pelatihan, dan audit etika tahunan, serta jebakan-jebakan program etika
lainnya tidak perlu ditambahkan dalam organisasi yang bertanggung jawab dan taat hukum
yang nilai-nilai dimiliki tercermin dalam tindakan yang dilakukan. Program etika formal akan
membantu sebagai katalis dan sistem pendukung, tapi integritas organisasi tergantung kepada
integritas nilai-nilai organisasi ke dalam system.
5.5.

Dampak Organisasi yang Berintegritas terhadap Akuntan Profesional


Konsep organisasi berintegritas dapat membantu akuntan professional dalam dua hal

berikut:
1) Pertama, untuk akuntan profesional yang mengembangkan kantor sendiri, maka
pendekatan integritas akan membantu akuntan profesional dalam menghidupkan
dan menjaga etika akuntan profesional yang akan memudahkan akuntan
professional dalam menjalankan profesinya. Selain itu, akuntan professional dapat
melakukan penilaian terhadap integritas organisasi dari kliennya dalam menilai
risiko yang dihadapi.

2) Kedua, untuk akuntan professional yang bekerja di dalam organisasi, penilaian


terhadap integritas organisasi merupakan langkah pertama dalam pemilihan
organisasi tempat bekerja. Akuntan professional harus memilih tempat bekerja yang
mendorong terciptanya dan terjaganya etika akuntan professional. Akuntan
profesional harus menghindari tempat bekerja yang berpotensi untuk menciptakan
konflik-konflik etika dan mendorong akuntan untuk mengorbankan etika
profesionalnya. Selain itu, akuntan professional juga dapat membantu organisasi
tempat bekerja untuk menjadi organisasi berintegritas di mana nilai-nilai organisasi
selaras dengan nilai-nilai etika profesionalnya.
5.6.

Pembahasan Kasus: INFOSYS

5.6.1. Profil Perusahaan


Infosys didirikan pada tanggal 2 Juli 1981 oleh tujuh pengusaha, Nagavara Ramarao
Narayana Murthy, Nandan Nilekani, Kris Gopalakrishnan, SD Shibulal, K. Dinesh dan
dengan NS Raghavan resmi menjadi karyawan pertama perusahaan. Infosys go public pada
tahun 1993. Menariknya, Infosys IPO sebelumnya berada di bawah ketentuan yang
dipersyaratkan tetapi hal itu diselamatkan oleh US bankir investasi Morgan Stanley yang
mengambil 13% dari ekuitas pada harga penawaran Rs. 95 per saham. Harga saham melonjak
ke Rs. 8.100 pada tahun 1999. Pada tahun 2000 saham Infosys menyentuh Rs. 310 karena
insiden bencana 11 September yang mengubah semua itu.
Pada tahun 2001, Infosys dinilai sebagai Best Employer di India oleh Business Today.
Infosys dinilai sebagai employer terbaik yang bekerja untuk tahun 2000, 2001, dan 2002 oleh
Hewitt Associates. Pada tahun 2007, Infosys menerima lebih dari 1,3 juta aplikasi dan
memperkerjakan sedikitnya 3% dari pelamar. Infosys adalah satu-satunya perusahaan India
yang memenangkan penghargaan Global MAKE (Most Admired Knowledge Enterprises)
untuk tahun 2003, 2004 dan 2005, dan dilantik ke Global Hall of Fame pada saat yang sama.

5.6.2. Visi dan Misi Infosys


Visi
To be a globally respected corporation that provides best-of-breed business solutions
leveraging technology delivered by best-in-class people.
(Menjadi perusahaan global dihormati yang menyediakan best-of-breed teknologi
solusi bisnis leveraging yang dilakukan oleh orang terbaik di kelasnya.)
Misi

To achieve objectives in an environment of fairness, honesty, and courtesy towards


clients, employees, vendors andsociety at large.
(Mencapai tujuan dalam lingkungan keadilan, kejujuran, dan kesopanan terhadap
klien, karyawan, vendor dan masyarakat pada umumnya.)
5.6.3. Tantangan Infosys Dalam Lingkungan Bisnis yang Korup
India terkenal sebagai negara terkorup sejak dulu. Dan hal itu mempengaruhi jalannya
usaha Infosys. Tantangan pertama yang dihadapi Infosys terjadi pada tahun 1984, dimana
pada saat itu Infosys memutuskan untuk mengimpor super minicomputer agar Infosys dapat
segera mengembangkan software untuk klien di luar negeri. Ketika minicomputer tersebut
sampai di Bandara Banglore, petugas setempat menolak untuk mengurusnya kecuacli jika
Infosys mau memberikan semacam sogokan untuk meloloskannya. Satu-satunya cara untuk
meloloskannya dengan bersih (tanpa korup) hanyalah dengan membayar biaya sebesar 135%
dari yang seharusnya. Walaupun pada akhirnya Infosys harus membayar dua kali lipat dari
harga super minicomputernya itu sendiri, Infosys memilih melakukan cara bersih tersebut,
meskipun keadaan yang sebenarnya mengharuskan Infosys melakukan pinjaman karena
Infosys tidak ingin melakukan hal-hal yang berbau korup.
Tantangan korup kedua adalah ketika di masa-masa awal berdirinya Infosys. Infosys
bid kontrak senilai $1juta dari suatu perusahaan besar dalam keadaan perekonomian yang
sedang berkembang. CIO perusahaan tersebut kemudian mengundang Narayana Murthy
makan malam. Dalam acara makan malam itu, CIO meminta sogokan berupa mobil mewah
agar bid Infosys diterima. Narayana kemudian menolak permintaan sogokan tersebut, dan
Infosys pada akhirnya tetap memenangkan bid tersebut.
Tantangan utama dalam lingkungan bisnis seperti yang dijelaskan dalam wawancara
dengan Narayana Murthy adalah banyaknya praktik korupsi. Saingan usaha, petugas
pemerintah, bahkan pegawai sendiri seringkali melakukan korup. Dalam wawancara ini
disebutkan tindakan korup yang paling sering adalah sogokan (bribe), tidak membuat Infosys
melakukan hal-hal seperti itu. Infosys selalu berpegang teguh pada values perusahaan,
mengikuti aturan hukum yang berlaku dan memiliki etika dalam menjalankan bisnisnya. Hal
ini tidak membuat Infosys terpuruk, justru memberikan keuntungan dengan semakin
dipercayanya Infosys oleh para klien. Kepercayaan ini membuat klien tidak segan untuk
memberikan proyek yang lebih besar skalanya dibandingkan perusahaan saingan Infosys.
Lingkungan bisnis yang korup memang menjadi tantangan besar Infosys, tetapi dengan
values (yang memegang teguh etika bisnis) yang terus ditanamkan kepada pegawainya
membuat Infosys dapat bertahan dan bahkan menjadi perusahaan yang dihormati.
5.6.4. Tindakan Infosys Technologies, Ltd.
7

Infosys menyikapi penyuapan dengan tidak mengindahkan permintaan petugas


pemerintah dan berbuat hanya yang sesuai dengan aturan. Dengan kebenaran yang coba
disampaikan Infosys kepada pegawainya, pegawai merekapun menjadi bersemangat untuk
bertidak sesuai aturan, meski pegawai lain melakukan hal sebaliknya. Pegawai Infoys
menjadi rasa antusias yang tinggi, semakin berkomitmen, dan semakin produktif.
Dalam hal memenangkan tender, Infosys berani menolak memberikan mobil untuk
kenyamanan pribadi. Sehingga tanpa memberikan sebuah mobilpun, Infosys mampu
memenangkan tender tersebut. Perusahaan juga berani menutup produk yang tinggi ongkos
distribusinya dikarenakan bea masuk yang tinggi (hal ini terjadi karena Infosys tidak ingin
melibatkan penyuapan dalam transaksi tersebut).
Ada beberapa kasus pegawai Infosys yang tidak mematuhi nilai-nilai yang dianut
perusahaan. Perusahaan menjalankan praktek (zero tolerance policy) sehingga pegawai
tersebut tidak dipekerjakan kembali. Infosys bertindak cepat menyelesaikan kasus-kasus
tersebut sehingga kasus yang ada tidak menjadi bertambah besar. Sebaliknya, perusahaan
juga menyediakan penghargaan tahunan untuk pegawai yang mematuhi nilai-nilai perusahaan
mereka.
Untuk memenuhi tanggung jawab kepada pemangku kepentingan (stakeholders)
mereka, Infosys lebih menyukai mengungkapkan kerugian mereka kepada para pemangku
kepentingan (stakeholders), Infosys mengutamakan transparansi atas pengungkapan pada
laporan keuangan sehingga stakeholders pun tidak menghukum mereka malah semakin
mendukung Infosys.
Infosys memiliki nilai-nilai yang tidak tercatat sampai pada tahun 1998 berhasil
didokumentasikan. Nilai-nilai tersebut diberitahukan, dilatih dan disosialisasikan kepada
pegawai-pegawai baru. Setiap keputusan yang diambil merupaan values-based decision, tidak
hanya melihat nilai uang. Hal ini membuat seluruh pegawai Infosys, tidak hanya petinggi
perusahaan, mendapatkan kepercayaan diri untuk melakukan segala sesuatu mengikuti
prosedur yang benar dan memang sudah seharusnya, bahkan ketika keadaan di sekitar mereka
seluruhnya melanggar aturan dan ketentuan yang berlaku. Hal ini juga mendorong antusiasme
mereka; mereka menjadi lebih berkomitmen terhadap perusahaan dan menjadi lebih
produktif. Karena ethical image inilah, Infosys justru mendapat kepercayaan lebih dari klien
untuk melakukan proyek yang lebih besar.
Values yang ditanamkan sejak awal ini kemudian menjadi keuntungan atau kelebihan
utama Infosys, memberikan pendapatan yang lebih besar, pegawai berkemampuan tinggi,
investor besar, dan semakin dihormati oleh pemerintah dan masyarakat. Values ini didapat
dengan komitmen yng kuat terhadap para klien, dan tentu saja kerja keras.
8

Untuk mendukung visi dari perusahaan, maka Infosys membuat suatu sistem nilai di
Perusahaan. Berikut ini sistem nilai yang dibuat perusahaan, dinamakan C-LIFE yaitu
sebagai berikut:
1) Kepuasan pelanggan (Customer delight):
- Sebuah komitmen untuk melebihi harapan pelanggan.
2) Kepemimpinan dengan contoh (Leadership by Example):
- Komitmen untuk menetapkan standar dalam bisnis dan transaksi kami dan
menjadi contoh bagi industri dan tim sendiri.
3) Integritas dan transparansi (Integrity and Transparency):
- Komitmen untuk menjadi etis, tulus dan terbuka dalam hubungan.
4) Keadilan (Fairness):
- Komitmen untuk bersikap objektif dan berorientasi transaksi, sehingga
mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat.
5) Pencapaian terbaik (Pursuit of Excellence):
- Komitmen untuk berusaha tanpa henti, untuk terus meningkatkan diri sendiri, tim,
layanan dan produk sehingga menjadi yang terbaik.
5.6.5. Kesimpulan Kasus Infosys
Infosys merupakan perusahaan yang memang terbukti telah membangun perusahaan
mereka dengan nilai-nilai etika sebagai pondasinya. Bukan profit yang mereka kejar, tapi
dengan mengedepankan tata kelola yang beretika maka perusahaan dapat mengejar
ketinggalannya dalam segi profit. Dapat dikatakan bahwa Infosys merupakan suatu
perusahaan yang berintegritas karena memegang teguh nilai-nilai perusahaan.
Infosys juga telah merancang dan mengimplementasikan program etika, sistem nilai
yang disebut oleh Brooks, cultural values dalam perusahaan. N. R. Narayana Murthy dan
enam orang insinyur pendiri Infosys berhasil menciptakan struktur korporasi yang beretika
sejak tahun 1981.

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Leonard J. & Paul Dunn. 2012. Business & Professional Ethics for Directors,
Executives, & Accountants. Seventh Edition. Cengage Learning, USA.
Modul Chartered Accountant: Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat. 2015. Ikatan Akuntan
Indonesia.

10