Anda di halaman 1dari 14

PORTOFOLIO

KASUS JIWA
GANGGUAN PENYESUAIAN

Oleh:
Mitha Ratna Dewi
Pembimbing:
dr. Novi Arviyah

DALAM RANGKA MENGIKUTI


PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA
DI RUMAH SAKIT BAYANGKARA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan penyesuaian adalah salah satu diagnosis psikiatrik yang paling sering pada
pasien yang dirawat di rumah sakit karena masalah medis atau bedah. Dalam satu penelitian,
5 persen perawatan di rumah sakit selama periode tiga tahun diklasifikasikan sebagai
menderita gangguan penyesuaian. Gangguan paling sering didiagnosis pada remaja tetapi
dapat terjadi pada setiap usia.
Dalam satu survey pasien psikiatrik, 10 persen populasi sampel ditemukan menderita
gangguan penyesuaian. Rasio wanita berbanding laki-laki adalah 2:1. Wanita yang hidup
sendirian biasanya secra jelas dinyatakan sebagai yang paling berisiko. Di antara remaja dari
kedua jenis kelamin, bentuk stress pencetus yang paling sering adalah masalah sekolah,
penolakan orangtua, perceraian orangtua, dan penyalahgunaan zat. Di antara orang dewasa,
stress pencetus yang sering adalah masalah perkawinan, perceraian, pindah ke lingkungan
yang baru, dan masalah finansial.
Pasien dalam kasus ini menunjukkan gejala yang termasuk ke dalam gangguan
penyesuaian, gangguan penyesuaian yang dialaminya dicetuskan oleh adanya tindak
kekerasan yang dilakukan oleh suaminya. Penting pada pasien untuk menyadari kondisi yang
dialaminya, agar dapat segera kembali ke fungsi sosial awalnya dengan mendapatkan
pengobatan yang sesuai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Gangguan penyesuaian (adjustment disorder) merupakan suatu reaksi maladaptif
terhadap suatu stresor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya
stresor, yang ditandai dengan adanya hendaya fungsi atau tanda-tanda distres emosional yang
lebih dari biasa (Nevid, dkk, 2005). Gangguan ini termasuk kelompok gangguan yang paling
ringan yang dapat terjadi pada semua usia. Orang awam menyebutnya sebagai nasib malang
pribadi, sedangkan ahli psikiatrik menyebut gangguan ini sebagai stresor psikososial (Kapita
Selekta, 2001).
Hendaya yang muncul dari reaksi maladaptif ini adalah hendaya yang bermakna
(signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis. Diagnosis gangguan penyesuaian
bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stres tersebut tidak memenuhi kriteria diagnostik
sindrom klinis yang lain seperti gangguan mood atau gangguan kecemasan (Nevid dkk,
2005).
Reaksi maladaptif dalam bentuk gangguan penyesuaian ini mungkin teratasi bila
stresor dipindahkan atau individu belajar mengatasi stresor. Bila reaksi maladaptif ini masih
berlangsung lebih dari enam bulan setelah stresor dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian
perlu diubah (Nevid dkk, 2005).
2.2 Etiologi
Gangguan penyesuaian dicetuskan oleh satu atau lebih stresor. Beratnya stresor tidak
selalu meramalkan keparahan gangguan. Stresor pada masalah penyesuaian atau keadaan
stres ini dapat bersumber pada frustasi, tekanan, konflik, atau krisis (Maramis, 2005).
Frustasi timbul bila ada aral melintang antara kita dan maksud (tujuan kita),
misalanya bila kita mau berpiknik kemudian mendadak hujan turun atau mobil mogok.
Frustasi dapat datang dari luar atau pun dari dalam. Contoh frustasi yang datangnya dari luar
antara lain, bencana alam, kecelakaan, kematian seorang yang tercinta, peperangan, normanorma, adat-istiadat, kegoncangan ekonomi, diskriminasi rasial atau agama, pengagguran,
dan ketidakpastian sosial. Sedangkan frustasi yang datang dari dalam dapat berupa cacat
badaniah, kegagalan dalam usaha dan moral sehingga penilaian diri sendiri menjadi sangat
tidak enak dan merupakan frustasi yang berhubungan dengan kebutuhan rasa harga diri
(Maramis, 2005).

Konflik terjadi bila kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan
atau tujuan. Memilih yang satu berarti frustasi terhadap yang lain. Umpamanya seorang
pemuda ingin menjadi dokter, tetapi sekaligus takut akan tanggung jawab kelak bila sudah
jadi dokter. Atau jika kita harus memilih antara sekolah terus atau menikah (mengurusi rumah
tangga). Contoh lain lagi berupa konflik yang terjadi bila kita harus memilih antara beberapa
hal yang semuanya tidak kita ingini, misalnya pekerjaan yang tidak menarik atau
menganggur (Maramis, 2005).
Tekanan sehari-hari biarpun kecil, tetapi bila bertumpuk-tumpuk dapat menjadi stres
yang hebat. Tekanan, seperti juga frustasi dapat berasal dari dalam ataupun dari luar. Tekanan
dari dalam datang dari cita-cita atau norma-norma kita yang kita gantungkan terlalu tinggi
dan kita mengejarnya tanpa ampun, sehingga kita terus menerus berada di bawah tekanan.
Contohnya adalah orang tua yang menuntut anaknya prestasi anaknya terlalu tinggi, istri yang
setiap hari mengeluh pada suaminya mengenai uang belanja, dan lain-lain (Maramis, 2005).
Krisis adalah suatu keadaan yang mendadak menimbulkan stres pada seorang individu
ataupun suatu kelompok, seperti suatu kecelakaan, penyakit yang memerlukan operasi, dan
masuk sekolah untuk pertama kali (Maramis, 2005).
2.3 Gejala dan Tanda
Gejala gangguan penyesuaian sangat bervariasi, dengan depresi, kecemasan, dan
gangguan campuran adalah yang paling sering pada orang dewasa (Kapita Selekta
Kedokteran, 2001). Manifestasi juga termasuk perilaku menyerang dan kebut-kebutan,
minum berlebihan, melarikan diri dari tanggung jawab hukum, dan menarik diri. Gangguan
penyesuaian memiliki beberapa suptipe dengan reaksi maladaptif yang bervariasi (dapat
dilihat pada Tabel 2.1).
Tabel 2.1: Subtipe gangguan penyesuaian
Gangguan
Ciri-ciri utama
Gangguan Penyesuaian dengan Mood Kesedihan, menangis, merasa tidak punya
Depresi
Gangguan

Penyesuaian

harapan.
dengan Khawatir, gelisah, dan gugup (atau pada anak

Kecemasan
takut berpisah dari figur utama).
Gangguan Penyesuaian dengan Gejala Kombinasi dari kecemasan dan depresi.
Campuran antara Kecemasan dan Mood
Depresi
Gangguan

Penyesuaian

Gangguan Tingkah Laku

dengan Melanggar hak orang lain atau melanggar


norma sosial yang sesuai usianya. Contoh

perilaku

meliputi

vandalisme,

membolos,

berkelahi, mengebut, dan melalaikan kewajiban


hukum (misalnya menghentikan pembayaran
tunjangan).
Gangguan Penyesuaian dengan Gejala Gabungan dari gangguan emosi, seperti depresi
Campuran antara Gangguan Emosi dan atau kecemasan, dan gangguan tingkah laku
Tingkah Laku
Gangguan

Penyesuaian

Tergolongkan

(seperti yang dijelaskan di atas).


Tak Kategori residual yang dapat diterapkan pada
kasus-kasus yang tidak dapat digolongkan

dalam salah satu dari subtipe lainnya.


Sumber: diadaptasi dari DSM-IV-TR (Nevid dkk, 2005)
2.4 Diagnosis
Dalam PPDGJ-III, gangguan penyesuaian termasuk dalam kriteria diagnosis F.43.
F.43 Reaksi Terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian
Karekteristik dari kategori ini adalah tidak hanya di atas identifikasi dasar simtomatologi dan
perjalanan penyakit, akan tetapi juga atas dasar salah satu dari dua faktor pencetus:
1.

Suatu stres kehidupan yang luar biasa, yang menyebabkan reaksi stres akut. Atau

2.

Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang menimbulkan situasi tidak nyaman yang
berkelanjutan. Stres yang terjadi atau keadaan tidak nyaman yang berkelanjutan
merupakan faktor penyebab utama, dan tanpa hal itu gangguan tersebut tidak akan terjadi.

Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respons maladaptif terhadap stres berat atau
stres berkelanjutan. Dimana mekanisme penyesuaian (coping mechanism) tidak berhasil
mengatasi sehingga menimbulkan masalah dalam fungsi sosialnya.
F.43.2 Gangguan Penyesuaian
1. Diagnosis tergantung pada suatu evaluasi yang teliti terhadap hubungan antara:
a. Bentuk, isi, dan keparahan gejala
b. Riwayat dan kepribadian sebelumnya, dan
c. Kejadian atau situasi yang penuh stres atau krisis kehidupan
2. Adanya ketiga faktor ini harus ditetapkan dengan jelas dan harus mempunyai bukti yang
kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami gangguan tersebut.
3. Manifestasi dari gangguan bervariasi, dan mencakup afek depresif, ansietas, campuran
ansietas-depresif, gangguan tingkah laku, disertai adanya disabilitas dalam kegiatan rutin
sehari-hari. Tidak ada satu pun dari gejala tersebut yang spesifik untuk mendukung
diagnosis.

4. Onset biasanya terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang stresful dan
gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan, kecuali dalam hal reaksi depresif
berkepanjangan (F.43.21) (PPDGJ III, 2001)
Berdasarkan DSM-IV TR (APA 2000), Gangguan Penyesuaian memiliki kriteria diagnosis
sebagai berikut:
A. Perkembangan emosional atau perilaku sebagai respons stressor yang dapat dikenali
yang terjadi dalam tiga bulan onset stresor.
B. Gejala atau perilaku tersebut adalah bermakna secara klinis seperti yang ditunjukkan
oleh salah satu berikut:
(1) Penderitaan yang jelas melebihi apa yang diperkirakan dari pemaparan
stressor.
(2) Gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan (akademik).
C. Gangguan berhubungan stress tidak memenuhi criteria untuk gangguan aksis I atau
aksis II yang telah ada sebelumnya.
D. Gejala tidak mencerminkan kehilangan.
E. Jika stressor (dan akibatnya) telah berhenti, gejala tidak menetap selama lebih dari 6
bulan lagi.
2.5 Penatalaksanaan
2.5.1 Terapi Non-Farmakologis
Psikoterapi merupakan pengobatan terpilih untuk sebagai terapi gangguan
penyesuaian. Terapi kelompok merupakan cara yang sangat bermanfaat. Terapi ini bertujuan
untuk membantu orang dengan gangguan penyesuaian memecahkan situasi dengan cepat
dengan teknik suportif, sugesti, penentraman, modifikasi lingkungan, dan bahkan perawatan
di rumah sakit (Kapita Selekta Kedokteran, 2001).
2.5.2 Terapi Farmakologis
Pasien dengan gangguan penyesuaian dapat diterapi dengan obat antiasietas atau
antidepresan, tergantung jenis gangguan. Jika pasien mengalami kecemasan yang berat, dapat
diberikan obat antipsikosi dosis kecil. Jika pasien memiliki gejala menarik diri, dapat
diberikan obat psikostimulan singkat (Kapita Selekta, 2001).
2.6 Prognosis

Gangguan penyesuaian termasuk kelompok gangguan yang paling ringan sehingga


prognosisnya baik dengan pengobatan yang sesuai. Sebagaian besar pasien kembali ke
tingkat fungsi sebelumnya dalam waktu tiga bulan. Akan tetapi, remaja biasanya memerlukan
waktu lebih lama untuk pulih dibandingkan orang dewasa (Kapita Selekta Kedokteran, 2001).
Namun tidak boleh juga mengabaikan hasil penelitian terkini yang menyatakan
peningkatan kecenderungan melakukan percobaan bunuh diri pada pasien dengan gangguan
penyesuaian (Carta et al, 2009).
Bila reaksi maladaptif ini masih berlangsung lebih dari enam bulan setelah stresor
dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian perlu diubah (Nevid dkk, 2005).

BAB III
PORTOFOLIO KASUS JIWA
1. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Ny. N

Umur

: 23 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Dasan Lekong, Sweta

Status

: Sudah Menikah

Pekerjaan

: Buruh

Agama

: Islam

Suku

: Sasak

MRS

: 6 Juli 2014

2. RIWAYAT PSIKIATRI
A. Keluhan Utama
Pasien merasa sedih sejak 3 bulan yang lalu.
B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien diantar keluarganya ke RS karena berkali-kali dipukuli oleh suaminya. Pasien
mengatakan ia dipukul oleh suaminya dengan tangan kosong pada daerah kepala dan
wajah, hingga pingsan. Ketika sadar pasien langsung menelpon keluarganya untuk
menjemputnya.
Pasien mengaku perlakuan kasar suaminya ini telah berlangsung selama 6 bulan,
dipicu oleh kecemburuan suaminya terhadap teman kerja pasien. Suami pasien
menuduh pasien berselingkuh dengan teman kerjanya.
Kekerasan yang terjadi terus menerus ini membuat pasien bersedih, hingga tidak
bersemangat melakukan apa-apa, termasuk bekerja. Sejak kejadian itu keluarga
mengatakan pasien juga menjadi pendiam dan sering melamun. Pasien mengatakan ia
sering melamun karena memikirkan perbuatan kasar suaminya terhadapnya.
Saat ini pasien mengatakan ia sulit tidur, tidur tidak pulas. Ia khawatir suaminya tibatiba datang dan memukulnya lagi. Pasien mengatakan bila perasaan khawatir itu
muncul ia menjadi berdebar-debar dan berkeringat dingin.

Pasien menyangkal melihat bayangan datau mendengar suara suaminya saat ia


ketakutan. Pasien juga menyangkal adanya mimpi buruk mengenai kejadian
pemukulan terhadapnya.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
Pasien menyangkal pernah memiliki gangguan serupa sebelumnya.
Riwayat cedera kepala (-), demam tinggi (-), kejang (-).
Riwayat penggunaan NAPZA (-), minuman keras (-).
D. Riwayat Kehidupan Pribadi

Riwayat prenatal dan perinatal

Pasien merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan dikatakan lahir secara
normal ditolong dukun.

Masa kanak-kanak awal (1-3 tahun)

Pasien tidak mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan. Riwayat


sakit yang berat disangkal.

Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)


Pasien termasuk anak yang cukup aktif dalam bergaul. Prestasi di sekolah
baik. Pasien hanya bersekolah hingga tamat SD dan tidak melanjutkan ke
SMP karena tidak memiliki biaya.

Masa Kanak-kanak akhir dan remaja (11-18 tahun)


Setamat SD pasien mulai bekerja untuk membantu orang tuanya. Pasien

mulai menjadi buruh.

Dewasa

Pasien telah menikah dengan suaminya yang dikenalnya dari sms. Pasien
mengaku baru bertemu satu kali dengan suaminya sebelum akhirnya memutuskan
untuk menikah. Pasien mengatakan ia memutuskan menikah dengan orang yang
baru dikenalnya karena bosan melajang. Pasien belum memiliki anak.
E. Riwayat Keluarga
Riwayat keluhan serupa (-).
F. Situasi Kehidupan Sekarang
Pasien tinggal bersama suaminya di sebuah rumah kontrakan yang jauh dari
keluarga mereka. Pasien termasuk golongan menengah ke bawah.

3. STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien wanita berusia 23 tahun, wajah sesuai umur. Berpakaian cukup rapi.
2. Kesadaran
Jernih.
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cukup tenang, kontak mata (+) cukup.
4. Pembicaraan
Spontan. Volume cukup, artikulasi cukup jelas, cukup relevan.
5. Sikap Terhadap Pemeriksa
Kooperatif.
B. Alam Perasaan dan Hidup Emosi
1. Mood
Hipotimik.
2. Afek
Terbatas.
3. Keserasian
Ekspresi emosional sesuai dengan isi pikir.
4. Empati
Dapat diraba rasa.
C. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan pengetahuan dan kecerdasan
Pengetahuan dan kecerdasan sesuai dengan tingkat pendidikannya.
2. Daya Konsentrasi
Cukup.
3. Orientasi

Waktu : baik.

Tempat : baik.

Orang : baik.

4. Daya ingat

Daya ingat jangka panjang : cukup.

Daya ingat masa lalu belum lama : cukup.

Daya ingat baru saja : cukup.

Daya ingat segera : cukup.

5. Pikiran Abstrak
Cukup.
6. Kemampuan menolong diri sendiri
Cukup, pasien mampu merawat dirinya sendiri.
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi (-)
2. Depersonalisasi (-), derealisasi (-).
E. Proses Pikir
1. Bentuk Pikir
Realistik.
2. Arus Pikir

Produktivitas: cukup.

Kontinuitas pikiran : koheren.

Hendaya berbahasa : (-).

3. Isi Pikiran

Preokupasi : (-).

Waham

: (-)

F. Pengendalian Impuls
Cukup.
G. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial : cukup.
2. Uji daya nilai

: cukup.

H. Tilikan
Tilikan V.
I. Taraf Dapat Dipercaya
Cukup dapat dipercaya.
4. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
A. Status Generalis

Keadaan Umum : Sedang

Kesadaran

Tanda vital

: CM

a. Tensi

: 100/60 mmHg.

b. Nadi

: 80 x/menit.

c. Pernapasan : 18 x/menit.
d. Suhu

: 36,5C.

Kepala-leher
a. Kepala: cephal hematom regio parietal dekstra ukuran 4x4 cm, nyeri tekan
(+); hematom regio mandibula sinistra ukuran 5x4 cm, nyeri tekan (+),
deformitas (-)
b. Mata: anemis (-/-). ikterus (-/-), refleks pupil (+/+), isokor.
c. Leher: struma (-), pembesaran KGB (-).

Thoraks
a. Cor: S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop(-).
b. Pulmo: vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing(-/-).

Abdomen
Distensi (-), bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), H/L/R :tidak teraba.

Sistem urogenital: tidak dievaluasi.

Ekstremitas: akral hangat (+), oedem (-).

B. Status Neurologis

Pupil: bentuk bulat, isokor(+/+), refleks cahaya (+/+).

Gejala rangsangan selaput otak: tidak ditemukan.

Gejala peningkatan tekanan intrakranial: tidak didapatkan.

Fungsi sensorik dan motorik: dalam batas normal.

Tonus otot: dalam batas normal.

Sensibilitas : baik

Refleks:
o Fisiologis: (+).
o Patologis: tidak ditemukan.

5. RESUME
Wanita, 23 tahun, datang dengan keluhan merasa sedih karena perlakuan kasar suaminya.

Pasien merasa tidak bersemangat melakukan apa-apa, tidak bekerja, sering melamun, dan
lebih banyak diam. Keluhan ini dirasakan sekitar 3 bulan terakhir.
Pasien merasa khawatir suaminya tiba-tiba datang dan memukulnya kembali, bila
kekhawatiran itu muncul pasien menjadi berdebar-debar dan berkeringat dingin.
Keluhan-keluhan ini baru pertama kali dirasakan oleh pasien.
Status mental: mood/afek hipotimik/terbatas, lain-lain dbn.
Pemeriksaan fisik umum didapatkan hematoma daerah parietal dekstra dan mandibulla
sinistra.
6. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I

: Gangguan Penyesuaian (F43.2)

Aksis II

: (-)

Aksis III : Hematom region parietal dekstra dan mandibula sinistra


Aksis IV

: Masalah dengan suami (suami pencemburu dan melakukan kekerasan


dalam rumah tangga

Aksis V

: 80 (gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial dan
pekerjaan)

7. DIAGNOSIS
Gangguan Penyesuaian (F43.2)
8. DIAGNOSIS BANDING
-

Reaksi stress akut (F43.0)

Episode Depresif Sedang (F32.1)

9. PENATALAKSANAAN
A. Psikofarmasi (konsul dr. Sp.KJ):

Clobazam tab 2x5 mg

Fluoxetin caps 20 mg (pagi hari)

Alprazolam tab 0,5 mg (malam, jika susah tidur)

B. Psikoedukasi: Memberi penjelasan kepada pasien atas gangguan yang dialaminya,


pentingnya mengkonsumsi obat secara teratur untuk mengurangi gejala yang

dialami pasien dan mencegah memberatnya gejala serta kekambuhan gejala, serta
edukasi tentang efek samping obat
C. Psikoterapi: Memberi ventilasi kepada pasien agar dapat menceritakan masalah
yang mengganggunya selama ini. Memberikan motivasi kepada pasien bisa hidup
dan berinteraksi seperti orang lain. Memotivasi pasien untuk memiliki kegiatan di
luar rumah, berjalan-jalan, atau mencari pekerjaan.
D. Sosioterapi: Memberi penjelasan kepada keluarga mengenai keadaan pasien
sehingga dapat menciptakan lingkungan yang optimal bagi pemulihan pasien, serta
dapat menjadi pengawas minum obat bagi pasien serta mengetahui mengenai efek
samping obat.