Anda di halaman 1dari 22

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................2
A. Latar Belakang......................................................................................................................2
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................3
C. Tujuan...................................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................5
A. Pengertian Pembangunan Sosial Budaya..............................................................................5
B. Aspek-Aspek Utama Dalam Pembangunan Sosial Budaya..................................................6
C. Arah Kebijakan Pembangunan Sosial dan Budaya............................................................13
D. Peran Dalam Sosial Budaya................................................................................................14
E. Dampak Negatif Dalam Sosial Budaya..............................................................................15
F.

Strategi Pembangunan Sosial Budaya................................................................................15

G. Peran Pendidikan Dalam Pembangunan Sosial Budaya.....................................................16


H. Permasalahan Sosial Budaya di Indonesia.........................................................................18
BAB III PENUTUP.......................................................................................................................21
A. Kesimpulan.........................................................................................................................21
B. Saran...................................................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kondisi sosial dan budaya yang sangat beragam dalam kehidupan bermasyarakat
memerlukan sentuhan kebijakan dan tindak lanjut untuk mendukung perbaikan infrastruktur
sosial budaya yang dimiliki Jakarta. Infrastruktur sosial ini sangat luas karena mengangkat aspek
kesejahteraan di satu pihak dan partisipasi mereka dalam pembangunan di lain pihak.
Beragamnya masyarakat yang tinggal di Jakarta dapat dipandang sebagai suatu potensi
pembangunan, tetapi dapat juga menjadi peluang bagi terjadinya peristiwa-peristiwa yang
bersifat primodial dan partisan. Primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang
memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat,
kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya, sedangkan
Partisan adalah pengikut partai, golongan, atau paham tertentu. Kondisi ini dapat menimbulkan
ketegangan dalam masyarakat sehingga mudah emosi dan terprovokasi yang berkembang
menjadi perkelahian masal antar warga masyarakat.
Konflik sosial semacam ini sering terjadi di sejumlah wilayah dengan latar belakang dan
penyebabnya yang kadang-kadang sangat sederhana. Kebebasan dan unjuk kekuatan telah
menjadi model dan instrumen untuk menyampaikan tuntutan, yang bila tidak dikendalikan secara
hati-hati berpotensi untuk menjadi tindakan-tindakan anarkis yang sangat meresahkan dan
mengganggu kehidupan normal masyarakat. Masalah sosial lainnya yang timbul dari krisis
ekonomi adalah sulitnya lapangan kerja sehingga menyebabkan semakin banyaknya penyandang
masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Sebagian dari mereka adalah para pengamen, pedagang di
lampu lalu lintas, pengemis dan anak jalanan yang selalu memerlukan perhatian dan pertolongan
di satu pihak tetapi juga dibutuhkan ketegasan dalam penanganannya di lain pihak. Hal ini
berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Sementara jumlah anak nakal dan pengguna narkoba juga semakin bertambah, yang
disebabkan antara lain karena kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga dan tidak
2

kondusifnya lingkungan masyarakat sekitar. Tugas penanganan masalah sosial ini tidak cukup
hanya diserahkan pada pemerintah saja, dibutuhkan partisipasi dari masyarakat, tokoh agama dan
para pembina masyarakat di tingkat lokal dalam penanganannya. Selama ini, agama baru
diberikan sebatas ilmu dan pemahaman dan belum tercermin pada sikap dan perilaku agamis
pada kehidupan nyata sehari-hari. Perhatian pemerintah pada permasalahan olahraga dan pemuda
juga dirasakan masih perlu ditingkatkan lagi. Sarana olahraga untuk masyarakat umum terutama
yang ada di Jakarta masih belum memadai.
Dengan mengarahkan kegiatan pemuda pada olahraga akan terbentuk sumber daya
pemuda yang sehat, tangguh dan produktif serta menghindarkan penggunaan waktu luang
pemuda pada kegiatan-kegiatan yang bersifat negatif dan merugikan masyarakat. Sementara itu,
upaya untuk meningkatkan peran perempuan baru sebatas isu-isu gender, dan belum tercermin
secara nyata dalam praktek penyelenggaraan negara dan aktivitas sosial-ekonomi yang
sesungguhnya. Persoalan mendasar lainnya adalah masih banyaknya penduduk miskin,
kehidupan keluarga yang belum berkualitas, keluarga berencana yang belum mandiri, pelayanan
masyarakat yang masih rendah seperti pada pelayanan pemakaman, serta aspek kesejahteraan
sosial lainnya. Luasnya cakupan pembangunan bidang sosial dan budaya di Propinsi DKI Jakarta
tidak mungkin hanya ditangani oleh pemerintah daerah, namun memerlukan peran serta aktif
dari seluruh lapisan masyarakat. Dalam menangani permasalahan sosial budaya ini harus tetap
mengacu pada arah dan kebijakan yang ada sebagai realisasi GBHN pada tingkat propinsi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat merumuskan rumusan masalah sebagai
berikut.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apa yang dimaksud dengan pembangunan sosial budaya?


Apa saja aspek-aspek utama dalam pembangunan sosial budaya?
Apa saja arah kebijakan pembangunan sosial dan budaya?
Apa saja peran dalam sosial budaya?
Apa saja dampak negatif dalam sosial budaya?
Bagaimana strategi pembangunan sosial budaya?
Apa peran pendidikan dalam pembangunan sosial budaya?
Apa saja permasalahan sosial budaya di Indonesia?

C. Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen


Untuk memahami lebih dalam tentang pengertian pembangunan sosial budaya.
Untuk mengetahui aspek-aspek utama dalam pembangunan sosial budaya.
Untuk mengetahui arah kebijakan pembangunan sosial dan budaya.
Untuk mengetahui peran dalam sosial budaya.
Untuk mengetahui dampak negatif dalam sosial budaya.
Untuk mengetahui strategi pembangunan sosial budaya.
Untuk mengetahui peran pendidikan dalam pembangunan sosial budaya.
Untuk mengetahui permasalahan sosial budaya di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembangunan Sosial Budaya
Siagian (1994) memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai Suatu
usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan
secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
pembinaan bangsa (nation building). Menurut Enda (2010), sosial adalah cara tentang
bagaimana para individu saling berhubungan. Sedangkan menurut Daryanto (1998), sosial
merupakan sesuatu yang menyangkut aspek hidup masyarakat. Namun jika di lihat dari asal
katanya, sosial berasal dari kata socius yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh dan
berkembang dalam kehidupan secara bersama-sama.
Budaya atau kebudayaan berasal

dari bahasa

Sanskerta yaitu buddhayah,

yang

merupakan bentuk jamak dari Indonesia. buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut
culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan
juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Jadi budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi dan merupakan system
pengetahuan yang meliputi system ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia.
Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup masyarakat yang perwujudannya tampak
pada tingkah laku para anggotanya. kebudayaan tercipta oleh banyak faktor organ biologis
manusia, lingkungan alam, lingkungan sejarah, dan lingkungan psikologisnya. Masyarakat
Budaya membentuk pola budaya sekitar satu atau beberapa fokus budaya. Fokus budaya
dapat berupa nilai misalnya keagamaan, ekonomi, ideologi dan sebagainya.

Jadi pembangunan sosial budaya sebagai suatu proses perubahan sosial budaya
terencana yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, dimana pembangunan
dilakukan saling melengkapi proses pembangunan ekonomi.

B. Aspek-Aspek Utama Dalam Pembangunan Sosial Budaya


a) Bahasa sebagai identitas bangsa
Bahasa merupakan aspek sosial budaya yang mutlak perlu untuk dikembangkan
dan dilestarikan. Karena peranannya yang sangat penting bagi salah satu alat pemersatu
bangsa, disamping peranannya dalam proses komunikasi dan sekaligus sebagai identitas
bangsa yang bersangkutan. Bahwa dalam masyarakat majemuk bahasa dapat
dikategorikan sebagai bahasa nasional disamping bahasa-bahasa daerah. Bahasa nasional
harus dimasyarakatkan sedemikian rupa sehingga semua warga negara menguasainya dan
dapat berkomunikasi dalam bahasa nasional tersebut.berbagai bahasa daerah harus
dipadang sebagai kekayaan nasional dan oleh karenanya harus pula dilestarikan. Tidak
sulit untuk menemukan bangsa yang persatuannya kukuh antara lain karena adanya
bahasa nasional. Sebaliknya, tidak sedikit Negara bangsa yang dilanda pertikaian dan
disintegrasi social karena tidak adanya bahasa nasional dank arena upaya yang tidak ada
ujung pangkalnmya dari berbagai suku atau ras dimasyarakat yang ingin agar bahasa
mereka diterima sebagai bahasa nasional.
Disamping pelestarian bahasa nasional, pengembangannya pun sangat penting.
Pengembangan tersebut dapat dalam bentuk meminjam konsep dan istilah-istilah dari
sumber lain, termasuk bahasa daerah dan bahasa asing. Dengan demikian, bahasa
nasional tersebut dapat digunmakan sebagai alat komunikasi, baik lisan maupun tertulis,
yang efektif untuk keperluan komuniaksi politik, bisnis, militer, pengembangan ilmu
perngetahuan, teknologi.dan tentu saja untuk percakapan sehari-hari.
Dalam era globalisasi seperti sekarang dan dimasa-masa yang akan datang,
disamping penguasaan bahasa nasional yang terus berkembang sebagai bahasa ibu,
perhatian perlu juga diberikan kapada penguasaan bahasa asing tertentu, seperti bahsa
Inggris, paling sedikit untuk kelompok-kelompok tertentu dimasyarakat seperti politisi,
6

para diplomat, birokrat senior, masyarakat dunia usaha, dan para akademisi yang karena
jabatan, kedudukan, fungsi dan aktivitasnya sering berinteraksi dengan orang-orang
asing. Penguasaan paling sedikit bahsa inggris oleh kelompok-kelompok tersebut diatas,
mutlak perlu karena dalam penyelenggaraan tugas mereka pasti sering berinteraksi
dengan orang-orang asing yang menjadi mitra kerjanya. Bahkan ideal sekali apabila para
anggota kelompok tersebut dapat berkomunikasi dalam bahasa-bahasa asing lain, seperti
bahasa prancis, bahasa jepang, bahasa mandarin, dan atau bahsa lainnya yang oleh
masyarakat dunia diakui sebagai bahasa internasional.
Dengan demikian, pada dasarnya bahwa pembangunan dibidang sosial budaya
harus mencakup pengembangan dan pelestarian bahasa.
b) Adat Istiadat dan Tradisi
Bahwa keseluruhan adat istiadat dan tradisi suatu masyarakat merupakan bagian
penting dari budaya masyarakat yang bersangkutan. Budaya suatu bangsa merupakan
persepsi bersama tentang tata cara berperilaku dalam masyarakat tersebut. Dalam
masyarakat manapun, budaya berfungsi antara lain sebagai berikut:

Menentukan batas-batas keperilakuan dalam kehidupan bermasyarakat karena


budaya mengatur apa yang baik dan tidak baik, benar atau salah, pantas dan tidak
pantas, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, dan hal-hal sejenis seperi itu.
Tentu saja hanya masyarakat yang bersangkutanlah yang harus menetukan bagi

dirinya sendiri pengaturan tersebut.


Pemelihara stabilitas nasional. Fungsi pertama tersebut diatas, jelas menunjukkan
bahwa setiap warga masyarakat dituntut untuk melakuakan berbagai penyesuaian
sehingga

mencerminkan

nilai-nilai

yang

dianut

oleh

masyarakat

sebagai

keseluruhan. Dengan demikian, dapat dicegah timbulnya konflik antara seorang

anggota masyarakat dengan anggota masyarakat lain.


Pendorong interaksi positif dan harmonis. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti
berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Bentuk-bentuk interaksi pun
beranekaragam, tergantung pada manfaat dan kepentingannya, seperti untuk
kepentingan politik, ekonomi, bisnis, seremonial, penyampaian informasi, atau untuk
7

kepentingan nonformal lainnya. Apapun maksud dan tujuannya, interaksi yng terjadi
akan bersifat positif dan harmonis jika pihak-pihak yang terlibat sama-sama terikat

pada tata nilai dan tatakrama yang sama.


Mekanisme pengendalian perilaku masyarakat. Adat istiadat dan tradisi yang berlaku
dalam suatu masyarakat juga berperan sebagai mekanisme dalam pengendalian
perilaku para anggotanya, baik dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan
sendiri maupun dengan pihak lain. Banyak sekali segi pengendalian tersebut, seperti
tata cara upacara pernikahan, tata cara pemakaman warga yang meninggal, tata cara
menghormati orang yang lebih tua atau yang dituakan, cara memberikan sesuatu,
penggunaan berbagai atribut status sosial, dan lain sebagainya.
Seorang warga masyarakat akan diterima sebagai warga yang terhormat apabila

yang bersangkutan mampu melakukan penyesuaian tersebut. Sebaliknya, melanggar


norma-norma adat istiadat dan tradisi dapat berakibat dikucilkannya seseorang dari
lingkungan masyarakatnya.
c) Persepsi tentang Kekuasaan
Dalam organisasi apapun, termasuk dalam organisasi negara selalu terdapat
sekelompok orang yng memiliki kekuasaan tertentu. Sumber kekuasaan itupun dapat
beranekaragam seperti karena merupakan anggota dinasti yang memerintah suatu
kerajaan karena dipilih untuk memiliki pengetahuan dan informasi yang tidak dimiliki
oleh orang lain. Pada umumnya, orang lain dalam organisasi mengakui kekuasaan orangorang tertentu karena yang bersangkutan melakukan sesuatu tindakan yang tidak dapat
dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuasaan. Hal-hal tertentu tersebut lain
ialah mengalokasikan dana dan daya, memberikan penghargaan, memberikan imbalan,
menghukum, dan mengenakan sanksi disiplin organisasi.
Biasanya berbagai masyarakat mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang
kekuasaan yang dalam bentuk yang ekstremnya tercermin pada dua kutub, pada satu
kutub, masyarakat memandang jarak kekuasaan antara penguasa dan yang dikuasai
sebagai hal yang wajar dan normal. Dalam praktek hal itu berarti bahwa semakin tinggi
kedudukan dan jabatan seseorang, semakin jauh pula jarakanya dari orang-orang
8

dikuasainya. Dalam bentuknya yang ekstrem, persepsi demikian terlihat dalam struktur
organisasi yang piramidal. Dengan perkataan lain, dalam masyarakat diakui adanya
stratifikasi kekuasaan. Tidak mustahil lalu timbul pandangan dari yang berkuasa bahwa
melahirkan para despot dan diktator dengan kekuasaan absolut dalam suatu negara.
Pada kutub lain, jarak kekuasaan antara penguasa dengan yang dikuasai pendek. Dengan
perkataan lain, masyarakat menganut paham egalitarianisme. Sering situasi demikian
tercermin dalam kehidupan yang demikratis, baik dibidang politik, ekonomi, maupun
bidang sosial. Sudah tentu antara kedua kutub tersebut terdapat gradasi jarak kekuasaan
dimaksud.
d) Hubungan dengan alam
Sebagai unsur sosial budaya, pandangan suatu masyarakat tentang hubungannya
dengan alam perlu pemahaman yang tepat karena mempunyai kaitan dengan gaya hidup.
Para pakar mengatakan terdapat tiga jenis pandangan mengenai hal ini, yaitu manusia
menguasai alam, manusia dikuasai oleh alam, dan manusia harus memelihara hubungan
yang serasi dengan alam.
Jika suatu masyarakat menganut pandangan bahwa manusia menguasai alam,
yang sering terjadi ialah bahwa dengan segala kekayaan yang terkandung didalamnya
dieksploitasi dan dimanfaatkan demi kenikmatan hidup manusia. Masyarakat yang
menganut paham demikian sering dihinggapi oleh penyakit materialisme dan
hedonisme karena antaralain menempatkan perolehan dan penguasaan makin banyak
kekayaan sebagai ukuran keberhasilan seseorang. Para warga masyarakat mengatakan
nikmatilah hari ini dan biarlah hari esok mengurus dirinya sendiri.
Masyarakat yang menganut pandangan bahwa manusia dikuasai oleh alam pada
dasarnya berpendapat bahwa bumi ini hanyalah suatu mikrokosmos dan merupakan
bagian dari makrokosmos, yaitu semesta alam dengan segala isinya. Dalam masyarakat
itu biasanya meluas filsafat predeterminisme yang berangkat dari pandangan adanya
kekuatan maha dahsyat yang menguasai alam semesta. Kaum agamis menyebutkan

dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan manusia harus taat sepenuhnya kepada
kekuasaan tersebut.
Pandangan ketiga yaitu, manusia harus memelihara hubungan yang serasi dengan
alam, dapat dikatakan sebagai penggabungan ide pokok yang terdapat pada pandangan
pertama dan kedua yang telah disinggung diatas. Artinya, meskipun manusia boleh
memanfaatkan alam dan berbagai kekayaan yang terkandung didalamnya demi
kesejahteraan umat manusia, akan tetapi jangan hendaknya dalam pemanfaatan tersebut
alam dirusak. Bahkan terdapat pandangan ynag mengatakan bahwa jika manusia tidak
mampu memelihara hubungan yang serasi dengan alam dan merusaknya, misalnya, alam
mempunyai cara sendiri untu balas dendam.
e) Pandangan tentang peranan wanita
Pengakuan atas persamaan kaum pria dan wanita dalam kehidupan bermasyarakat
merupakan fenomena sosial yang relatif baru. Di kebanyakan masyarakat, emansipasi
wanita bahkan belum terjadi. Pandangan tradisional yang sangat prevalen menempatkan
kaum wanita pada posisi warga negara kelas dua dengan peranan yang sudah jelas,
yaitu tinggal di rumah, mengurus rumah tangga, melayani suami dan membesarkan
anak-anak. Di lingkungan masyarakat modern pandangan telah banyak berubah, antara
lain karena sekitar 50% umat manusia terdiri dari wanita, gerakan emansipasi yang
dipelopori oleh kaum wanita sendiri dan karena terbukanya akses bagi kaum wanita
untuk menikmati pendidikan formal sampai ke strata yang paling tinggi sekalipun.
Akibatnya, dalam semua segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, makin
banyak wanita yang memainkan peranan yang semakin penting dan menduduki semua
eselon jabatan pimpinan hingga yang tertinggi. Dalam dunia politik, misalnya, dunia
mengenal wanita yang menjadi presiden, perdana menteri, duta besar dan para pejabat
senior dalam lingkungan birokrasi pemerintahan. Banyak perusahaan yang sudah
memperlakukan wanita sama dengan kaum pria, termasuk dalam promosi menduduki
jabatan manajerial yang paling senior sekalipun. Perkembangan serupa terlihat dalam
organisasi sosial, organisasi nirlaba, organisasi keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan,

10

dan berbagai profesi. Kiranya tepat bila dikatakan bahwa perkembangan demikian harus
disambut dengan gembira.
f) Sistem Keluarga Besar
Seperti telah diketahui, dalam berbagai masyarakat dikenal dua tipe keluarga
yaitu nucleus family system dan extented family system. Dalam sistem keluarga inti
(nucleus family system) suatu keluarga hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anaknya
termasuk anak biologis dan anak angkat. Dalam sistem demikian, ikatan kekeluargaan
sangat

ketat

dalam

arti

bahwa

seorang

kepala

keluarga

hanya

merasa

bertanggungjawab atas kesejahteraan para anggota keluarga langsungnya saja.


Sebaliknya, dalam sistem keluarga besar (extented family system) tanggungjawab
seorang pencari nafkah utama tidak hanya memikirkan kesejahteraaa istri dan anakanaknya, melainkan juga sanak saudara dekat lainnya.
Sistem keluarga ini perlu dikenali karena dapat menimbulkan berbagai implikasi
negatif dalam kehidupan bermasyarakat seperti primordialisme, nepotisme, kronisme.
Ketiga hal tersebut menjadi masalah karena orang-orang yang berkuasa cenderung
mengesampingkan kriteria-kriteria objektif dalam memperlakukan orang-orang yang
dekat padanya dan memberikan berbagai kemudahan yang memungkinkan mereka
mendapat perlakuan khusus berbeda dengan para warga masyarakat lainnya yang tidak
dekat pada kekuasaan.
Pemahaman yang tepat terhadap berbagai implikasi faktor-faktor diatas penting
untuk menentukan strategi pembangunan bidang sosial budaya dengan tepat. Selain itu,
pemahaman tersebut menjadi penting apabila dikaitkan dengan kategorisasi anggota
warga masyarakat. Pembangunan aspek tersebut karena berorientasi pada masyarakat
maka harus dikategorisasikan dalam tiga kelompok golongan masyarakat yaitu golongan
tradisional, golongan modernis dan golongan ambivalen.
Pembangunan bidang sosial budaya merupakan hal yang tidak mudah karena
menyangkut antara lain filsafat hidup, pandangan hidup, persepsi, cara berpikir, system

11

nilai, dan orientasi para warga masyarakat. Disini terdapat kategorisasi berbagai golongan
masyarakat, yaitu :
1. Golongan tradisionalis
Ciri pokok dari golongan ini yaitu sebagai berikut:
i. Mereka cenderung menolak proses modernisasi karena adanya persepsi bahwa
modernisasi identik dengan westernisasi.
ii. Ciri kedua dari golongan tradisonalis menyangkut orientasi waktu, yaitu
berorientasi ke masalalu.
iii. Ciri yang ketiga yaitu, karena tingkat pendidikan yang pada umumnya masih
rendah dan mungkin pula karena pengalaman dimasa penjajahan, kelompok ini
sering menampilkan sikap rendah diri terutama bila berhadapan dengan bangsa
lain yang lebih maju, terutama orang-orang barat.
iv. Ciri keempat golongan tradisionalis ialah adanya stratifikasi sosial diterima
sebagai suatu hal yang wajar.
v. Kecenderungan kuat menolak perubahan.
vi. Ikatan kekeluargaan yang masih sangat kuat.
2. Golongan modernis
Pada umumnya para anggota masyarakat yang termasuk golongan ini ialah
mereka yang telah memperoleh pendidikan, terutama pendidikan tinggi, baik didalam
maupun diluar negeri. Kedudukan mereka dalam masyarakat biasanya adalah selaku
tenaga professional , termasuk jabatan manajerial tingkat madya.
Ciri pokok golongan ini antaralain :
i. Memiliki wawasan luas yang menyangkut tata kehidupan modern.
ii. Ciri kedua dari golongan ini ialah orientasi waktunya, yaitu masa depan.
iii. Kesediaan memainkan peranan selaku pelopor dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
iv. Ciri keempat, bahwa kelompok modernis sering diliputi oleh perasaan
ketidaksabaran, bukan hanya dalam menilai situasi dalam masyarakat akan tetapi
juga dalam menjalankan kepeloporannya.
Meskipun para modernis tidak luput dari kelemahan, kiranya dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah apabila dikatakan bahwa salah satu sasaran
pembangunan sosial budaya ialah memperbanyak jumlah anggota masyarakat
modernis.
3. Golongan ambivalen
Sesungguhnya keberadaan golongan ini tidak diinginkan dalam suatu
masyarakat. Dikatakan demikian karena keseluruhan ciri-cirinya menunjukkan sifat
12

yang oportunistik dan bahkan menjadi parasit di masyarakat. Tindakannya salalu


didasarkan pada untung rugi bagi diri sendiri. Tiga ciri yang sangat menonjol ialah
sebagai berikut :
i. Orientasi waktu kelompok ini adalah masa sekarang.
ii. Bagi kelompok ini tampaknya berlaku rumus bahwa suatu perubahan yang
dipelopori oleh pihak lain, seperti kaum modernis misalnya, hanya akan diterima
apabila dipersepsikan bahwa perubahan akan gemerincing dikantongnya.
iii. Ciri ketiga ialah, cepatnya mereka berganti warna dari warna lama yang tidak
menguntungkan menjadi warna yang lebih menjamin kenikmatan sekarang.

C. Arah Kebijakan Pembangunan Sosial dan Budaya


Arah kebijakan pembangunan sosial dan budaya adalah sebagai berikut:
1. Keagamaan
Membina dan meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama sehingga
tercipta suasana kehidupan

yang harmonis

dan saling

menghormati dengan

menyempurnakan kualitas pelaksanaan ibadah menurut syariat agamanya masing-masing


serta meningkatakan kemudahan umat beragama dalam menjalankan ibadahnya
2. Kesejahteraan Sosial
Menciptakan iklim kehidupan yang layak berdasarkan atas azas kemanusiaan
yang adil, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik terutama bagi kelompok
masyarakat

miskin

dan

anak

terlantar,

memantapkan

penanganan

PMKS,

mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam usaha kesejahteraan sosial, serta


memberikan pelayanan yang memadai bagi masyarakat dalam permasalahan pemakaman.
3. Pemberdayaan Masyarakat
Menciptakan iklim kehidupan masyarakat yang layak dan kondusif melalui
pembangunan ketahanan masyarakat dan penanggulangan degradasi moral masyarakat
dalam upaya meningkatkan partisipasinya di bidang ekonomi dan sosial dari tingkat
propinsi sampai tingkat kelurahan, termasuk memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan
dan keadilan jender di berbagai bidang kehidupan.
4. Pelestarian Budaya dan Permuseuman
Mengembangkan kebebasan berkreasi dalam berkesenian dengan tetap mengacu
pada etika, moral, estika, dan agama, serta tetap melestarikan apresiasi nilai kesenian dan
13

kebudayaan tradisional, dan melakukan pembinaan dan pengembangan museum dan


peninggalan

cagar

budaya/sejarah

yang

dapat

diharapkan

berpotensi

untuk

pengembangan pariwisata daerah.


5. Olahraga dan Kepemudaan
Menciptakan dan mengembangkan iklim yang kondusif bagi generasi muda
dalam mengaktualisasikan dan mengorganisasikan dirinya sebagai wahana pendewasaan
untuk

melindungi

seluruh

generasi

muda

dari

bahaya

destruktif,

terutama

penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat aditif lainnya. Disamping itu juga
meningkatkan pembibitan dan pembinaan olah raga prestasi dan permassalan olah raga
secara sistematis dan komprehensif melalui lembaga-lembaga pendidikan olah raga dan
pembinaan pramuka.

D. Peran Dalam Sosial Budaya


Peran dalam sosial budaya sebagai berikut:

Sebagai pedoman dalam hubungan antara manusia dengan komunitas atau kelompoknya.
Sebagai simbol pembeda antara manusia dengan binatang
Sebagai petunjuk atau tata cara tentang bagaimana manusia harus berperilaku dalam

kehidupan sosialnya.
Sebagai modal dan dasar dalam pembangunan kehidupan manusia

E. Dampak Negatif Dalam Sosial Budaya


Dampak negatif dalam sosial budaya sebagai berikut:

Menimbulkan kerusakan lingkungan dan kelangsungan ekosistem alam


Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang kemudian menjadi penyebab munculnya

penyakit-penyakit sosial, termasuknya tingginya tingkat kriminalitas.


Mengurangi bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang biasanya dekat
dalam hubungan sosial antar masyarakat.

14

F. Strategi Pembangunan Sosial Budaya


Pembangunan bidang sosial budaya merupakan hal yang tidak mudah, karena terkait
dengan persoalan filsafat hidup bangsa, pandangan hidup masyarakat, persepsi, cara berfikir,
sistem nilai dan orientasi pada masyarakat. Sasaran dari pembangunan bidang sosial budaya
adalah membangun negara bangsa sehingga menjadi negara modern tanpa kehilangan jati
dirinya. Dalam meyusun strategi pembangunan bidang sosial budaya, aspek yang perlu
menjadi perhatian adalah (1). Bahasa, (2) adat istiadat, (3) persepsi tetang kekuasaan, (4)
hubungan dengan alam, (5) locus of sistem, (6) pandangan tetnang wanita, dan (7) Sistem
keluarga besar.
Pembangunan aspek tersebut karena berorientasi pada masyarakat maka harus
dikategorisasikan dalam tiga kelompok Golongan masyarakat yaitu golongan tradisional,
golongan modernis dan golongan ambivalen. Golongan masyarakat ynag tradisional
cenderung menolak modernisasi karena menganggap bahwa modernisasi lebih dekat pada
proses westernisasi, berorientasi masa lalu dan tingkat pendidikan yang masih rendah.
Golongan modernis adalah golongan yang telah medapatkan pendidikan , terutama
pendidikan tinggi, memiliki wawasan luas, dan berorientasi masa depan. Sedangkan
Golongan ambivalen berorientasi masa sekarang, dan tidak mau bertanggung jawab dan
mengambil resiko dari modernisasi.
Strategi yang dapat ditempuh untuk melakukan pembangunan sosial budaya adalah
dengan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Yang dimaksudkan dalam pendidikan
yang seluas-luasnya adalah segala upaya yang dilakukan demi terwujudnya masyarakat
modern yang didambakan. Artinya bahwa proses pendidikan dapat bersifat formal, informal
dan non formal.

G. Peran Pendidikan Dalam Pembangunan Sosial Budaya


Pada dasarnya, bahwa pembangunan sosial budaya ialah mewujudkan masyarakat
bangsa yang modern, setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan tetap
mempertahankan jati diri bangsa yang bersangkutan yang menjadikannya sebagai bangsa
15

yang khas sifatnya. Telah terlihat pula bahwa pembangunan sosial budaya menyangkut
antara lain kesediaan menerima perubahan dalam berbagai segi kehidupan dan penghidupan,
termasuk cara berpikir, gaya hidup, cara bekerja, dal sebagainya.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa wahana yang paling efektif untuk
menyelenggarakan pembangunan sosial budaya adalah melalui pendidikan dalam arti yang
seluas-luasnya.
1. Pendidikan formal
Pendidikan formal berlangsung secara berjenjang mulai dari taman kanak-kanak
hingga pendidikan tinggi. Para pakar pendidikan mengatakan bahwa pendidikan formal
biasanya berlangsung disekolah dan sasaran utamanya adalah mengalihkan pengetahuan
dari pendidik kepada anak didik. Tetapi banyak aspek lain yang perlu pula ditanagani
melalui pendidikan formal, seperti aspek moral, aspek etika, hak dan tanggungjawab
sebagai warganegara yang baik, cara berpikir secara rasional, kebneranian mengambil
resiko, ketegasan dalam mengambil keputusan, dan lain sebagainya. Pengetahuan yang
diperoleh melalui pendidikan formal pada akhirnya harus diabdikan demi kepentingan
kemajuan bangsa dan Negara. Olehkarena itu keseluruhan kegiatan pendidikan formal,
baik dalam arti kegiatan kurikuler maupun ekstrakulikuler sesungguhnya harus dikaitkan
dengan kebutuhan nasional akan sumber daya manusia yang memenuhi tuntutan
pembangunan nasional dengan segala bidang, aspek, dan sektornya. Dengan perkataan
lain, pendidikan lebih dari sekedar pengajaran meskipun pengajaran merupakan bagian
penting dari pendidikan. Keberhasilan kegiatan pendidikan memerlukan dukungan
perangkat keras dan perangkat lunak seperti kurikulum yang tepat, proes kegiatan belajar
mengajar yang efektif, sarana dan prasarana yang memadai, termasuk peralatan
laboratorium, penggunaan teknik-teknik mengajar yang memepermudah pengaliahn
pengetahuan, dan yang terpenting adalah tersedianya tenaga yang betul-betul menguasai
bidang yang diajarkannya.
2. Pelatihan sebagai aspek pendidikan formal
Upaya mencerdaskan bangsa tidak terbatas hanya pada penyelenggaraan
pendidikan formal. Kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah pelatihan yang sangat
beraneka ragam. Pelatihan merupakan upaya untuk mengalihakn keterampilan dari
pelatih kepada para peserta pelatihan. Sering orang berpendapat bahwa pelatihan hanya
16

diperuntukkan bagi mereka yang ingin menguasai segi-segi teknis suatu pekerjaan seperti
montir dan sejenisnya. Pandangan demikian terlalu sempit. Pelatihan dapat pula
diselenggarakan untuk memberikan kemahiran dan keterampilan baru bagi semua profesi,
jabatan, dan kedudukan. Pelatihan tidak hanya berupa kegiatan dikelas akan
tetapiterdapat dalam bentuk-bentuk lain seperti seminar, diskusi panel, konferensi, dan
lain-lain.
3. Pemberantasan buta huruf
Tingkat pendidikan rata-rata warga masyarakat di negara-negara terbelakang
masih rendah. Dan bahkan tidak sedikit warga negara yang masih buta aksara. Upaya
memberantas buta aksara harus dipandang sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Siapapun akan mengakui bahwa
kemampuan membaca dan menulis akan memperluas cakrawala pandangan seseorang.
Misalnya, disatu pihak ia dapat menggali sendiri informasi yang diperlukannya dan di
pihak lain yang bersangkutan dapat memberikan informasi yang dimilikinya dan
diperlukan oleh orang lain. Manfaat lain ialah dimungkinkannya seseorang menambah
pengetahuan dan keterampilan yang pada gilirannya menambah alat yang dapat
digunakan untuk memperkaya kehidupannya. Yang bersangkutan juga akan makin
mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga Negara yang bertanggungjawab.

H. Permasalahan Sosial Budaya di Indonesia


Bicara tentang sosial, erat kaitannya dengan masyarakat dan hubungan antar
masyarakat. Hubungan antar masyarakat yang beragam menciptakan suatu kebiasaan yang
disebut juga budaya. Jadi, sosial budaya membahas tentang fakta-fakta kebiasaan masyarakat
dalam berinteraksi satu dengan yang lain.
1. Sosialisasi di Zaman Globalisasi
Perkembangan sosial yang membudaya di Indonesia berbanding lurus dengan
zaman yang sedang berkembang. Zaman yang berkembang dari tahun ke tahun dan
teknologi yang kian canggih, mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam bersosialisasi.
Terutama pada zaman globalisasi ini. Globalisasi sebagai sebuah gejala
tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya
dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran
17

budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat (Lucian W.
Pye, 1966) ke berbagai tempat di dunia ini (id.wikipedia.org).Namun, perkembangan
globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya
teknologi komunikasi.
Arus globalisasi pasti mempunyai dampak

yang menyebabkan terjadinya

perubahan dalam sosial budaya Indonesia. Beberapa pengaruh globalisasi dalam sosial
budaya di Indonesia, antara lain:
Meningkatnya individualisme.
Di era globalisasi ini, kesempatan individu untuk mengatur dan
menentukan yang baik bagi dirinya sendiri sangat terbuka lebar. Hidup
perorangan tanpa memperdulikan lingungan sekitar, nantinya akan merugikan

diri sendiri.
Cultur Shock (gegar budaya).
Culture Shock biasanya ditandai dengan perubahan budaya maupun
kebiasaan dalam masyarakat. Norma masyarakat yang sebelumnya menjadi
pedoman bagi seseorang bertindak perlahan- lahan berubah menjadi longgar.
Misalnya kebiasaan memberikan salam dan mencium tangan pada orang tua

sudah pudar di kalangan generasi muda.


Cultur Lag (kesenjangan budaya).
Cultur lag ditandai dengan kebiasaan anggota masyarakat melanggar
aturan atau hukum. Misalnya : Di ruang AC, di bis umum ber-AC walaupun

tertulis larangan merokok, ternyata masih banyak yang merokok.


Pola Kerja
Globalisasi membawa perubahan yang mendalam dalam dunia kerja. Pola
perdagangan internasional yang baru dan cenderung ke arah ekonomi berbasis
pengetahuan mempunyai dampak luar biasa bagi pola kerja. Pekerja tanpa
ketrampilan akan digantikan oleh pekerja yang memiliki ketrampilan dan

pengetahuan yang dibutuhkan oleh industri modern.


Kebudayaan Pop.
Karena globalisasi, image gagasan dan gaya hidup baru menyebar dengan
cepat ke seluruh pelosok dunia. Perdagangan, teknologi informasi baru, dan
migrasi global telah memberi kontribusi besar bagi penyebaran citra, gagasan,

dan gaya hidup baru tersebut melintasi batas- batas negara.


2. Teknologi Komunikasi yang Mengglobal di Indonesia

18

Permasalahan sosial budaya di Indonesia sekarang ini banyak hubungannya


dengan teknologi komunikasi. Teknologi yang kian canggih sangat membantu manusia
dalam memenuhi kepuasannya. Namun jika salah dalam penggunaannya, teknologi bisa
jadi ancaman bagi manusia (dalam hal ini masalah bersosialisasi).
Teknologi yang paling berpengaruh dalam hal bersosialisasi adalah Handphone
dan Internet. Teknologi tersebut memungkinkan kita untuk bersosialisasi dengan
individu lainnya dari jarak jauh. Terutama yang sedang marak sekarang ini adalah
layanan jejaring sosial (social network). Facebook, twitter, Blackberry Mesenger adalah
sebagian dari layanan social network yangmenjadi trend di indonesia.
Memang dengan adanya layanan tersebut terkadang bersosialisasi menjadi
mudah, membuat yang jauh menjadi dekat tetapi juga terkadang membuat yang dekat
menjadi jauh. Waktu pun tersita banyak dengan beraktifitas menggunakan social network
tersebut, akhirnya interaksi dengan lingkungan sekitar berkurang dan lama kelamaan
menjadi asosial dengan lingkungan dekatnya sendiri. Permasalahan sosial seperti ini
kadang disepelekan oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya berpengaruh besar bagi nilai
budaya Indonesia.
Permasalah sosial lainnya adalah sikap dan respon masyarakat Indonesia di situs
jejaring sosial. Karena dalam jejaring sosial kita berkomunikasi secara tidak langsung,
jadi sulit menerka maksud dan tujuan dari tulisan seseorang dalam jejaring sosial. Sering
terjadi kesalahpahaman yang nantinya akan bercabang dengan masalah yang lain. Celah
itu pun banyak dilakukan untuk modus kejahatan seperti penipuan dll. Itu lah beberapa
masalah sosial yang terjadi di Indonesia karena teknologi komunikasi yang salah dalam
penggunaannya.

19

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Pembangunan sosial budaya adalah sebagai suatu proses perubahan sosial budaya
terencana yang dirancang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, dimana
pembangunan dilakukan saling melengkapi proses pembangunan ekonomi.
2. Aspek-aspek utama dalam sosial budaya adalah bahasa, adat istiadat, Persepsi tentang
kekuasaan, Hubungan dengan alam, Pandangan tentang peranan wanita, dan Sistem
keluarga besar.
3. Arah kebijakan pembangunan sosial dan budaya adalah sebagai berikut keagamaan,
kesejahteraan sosial, pemberdayaan masyarakat, pelestarian budaya dan permuseuman,
olahraga dan kepemudaan.
4. Peran dalam sosial budaya adalah sebagai pedoman dalam hubungan antara manusia
dengan komunitas atau kelompoknya, sebagai simbol pembeda antara manusia dengan
binatang, sebagai petunjuk atau tata cara tentang bagaimana manusia harus berperilaku
dalam kehidupan sosialnya, dan sebagai modal dan dasar dalam pembangunan kehidupan
manusia.
5. Dampak negatif dalam sosial budaya adalah menimbulkan kerusakan lingkungan dan
kelangsungan ekosistem alam, mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang kemudian
menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit sosial, termasuknya tingginya tingkat
kriminalitas, dan mengurangi bahkan dapat menghilangkan ikatan batin dan moral yang
biasanya dekat dalam hubungan sosial antar masyarakat.
6. Strategi yang dapat ditempuh untuk melakukan pembangunan sosial budaya adalah
dengan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Yang dimaksudkan dalam pendidikan
yang seluas-luasnya adalah segala upaya yang dilakukan demi terwujudnya masyarakat
modern yang didambakan. Artinya bahwa proses pendidikan dapat bersifat formal,
informal dan non formal.
7. Peran pendidikan dalam pembangunan sosial budaya adalah untuk mewujudkan
masyarakat bangsa yang modern, setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan tetap
20

mempertahankan jati diri bangsa yang bersangkutan yang menjadikannya sebagai bangsa
yang khas sifatnya. Maka untuk mewujudkan semua itu diharuskan masyarakat
mendapatkan pendidikan yang seluas-luasnya.
8. Permasalahan sosial budaya di Indonesia terdiri dari 2 faktor, yaitu sosialisasi di
zaman globalisasi dan teknologi komunikasi yang mengglobal di Indonesia. Beberapa
pengaruh globalisasi dalam sosial budaya di Indonesia, antara lain meningkatnya
individualisme, cultur shock (perubahan budaya maupun kebiasaan), cultur lag
(kebiasaan masyarakat melanggar hukum), pola kerja, dan kebudayaan pop.
Permasalahan yang timbul akibat teknologi komunikasi yang mengglobal di Indonesia,
yaitu penyalahgunaan teknologi komunikasi (handphone dan internet).

B. Saran
1. Sesuai dengan kesimpulan di atas, Penulis berharap supaya makalah ini dapat membantu
memahami tentang pembangunan sosial budaya, dan strategi yang dapat membantu
pembangunan sosial budaya, serta permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan
sosial budaya.

21

DAFTAR PUSTAKA

Architect,

Any.

2012.

Aspek

sosial-Budaya

dalam

pembangunan,

http://sitiyuliani-

arsitek.blogspot.co.id/2012/10/aspek-sosial-budaya-dalam-pembangunan.html
Naraswati,

Kensiwi.

2013.

Pembangunan

bidang

sosial

budaya,

http://kensiwinaraswati.blogspot.co.id/2013/06/pembangunan-bidang-sosial-budaya.html
Silviantika. 2012. Pembangunan sosial dan budaya, http://silviantika.blogspot.co.id/p/blogpage.html
Wikipedia. 2015. Primordialisme, https://id.wikipedia.org/wiki/Primordialisme

22

Anda mungkin juga menyukai