Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

ACARA V

SAMPLING DAN ANALISIS VEGETASI DENGAN


METODE TRANSEK (JALUR) DAN KUADRAN
disusun sebagai laporan praktikum mata kuliah Ekologi Tumbuhan

Oleh:
Kelompok 2
Riska Nur Rahmani

070210103059

Dian Widyarini

070210103083

Ifa Muhimmatin

070210103097

Junaidi Abdillah

070210103098

Puput dewi L

070210103108

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2009
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ekosistem terdiri dari berbagai jenis komunitas yang tersusun atas
komponen-komponen biotik dan abiotik. Salah satu unsur dari komunitas
adalah vegetasi. Vegetasi sendiri merupakan hal yang sangat kompleks
sehingga pengkajiannya tidak mudah dilakukan. Vegetasi di suatu tempat
akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain. Hal ini dikarenakan faktor
lingkungan yang berbeda pula.
Analisis vegetasi merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan
struktur suatu ekologi tumbuhan. Untuk menganalisis suatu vegetasi
dibutuhkan data spesies tumbuhan beserta diameter dan tinggi pohon
tumbuhan tersebut. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam,
dengan petak dan tanpa petak. Setelah suatu metode dengan petak yang
banyak dipakai adalah kombinasi antar metode jalur (untuk risalah pohon)
dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan).
Dalam kegiatan

penelitian di bidang ekologi tumbuhan,seperti

halnya pada bidang ilmu pengetahuan lain yang berkait dengan Sumber
Daya Alam dikenal dua jenis atau tipe pengukuran untuk mendapatkan
informasi atau data yang diinginkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah
pengukuran yang bersifat merusak dan bersifat tidak merusak. Untuk
keperluan penelitian agar data dianggap sah dan valid secara statistika,
penggunaan kedua jenis tersebut mutlak harus memakai satuan contoh
(sampling).
Struktur komunitas tumbuhan antara daerah yang satu dengan yang
lain, seperti dikatakan sebelumnya, tidaklah sama. Karena itulah, untuk
mendapatkan informasi kuantitatif struktur komunitas tumbuhan pada lokasi
tertentu perlu dilakukan analisis vegetasi. Untuk jenis vegetasi seperti
padang rumput, penggunaan metode plot seringkali kurang praktis dan
membutuhkan banyak waktu. Pada percobaan kali ini, analisis vegetasi
dilakukan dengan menggunakan metode transek (jalur) dan kuadran.
1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan analisis vegetasi menggunakan metode


transek (jalur) dan kuadran?
2. Bagaimana cara teknik sampling tumbuhan dengan menggunakan metode
transek?
3. Bagaimana cara teknik sampling tumbuhan dengan menggunakan metode
Kuadran?
4. Bagimana cara melakukan analisis data vegetasi dari hasil pengambilan
sampling tersebut menggunakan metode transek?
5. Bagimana cara melakukan analisis data vegetasi dari hasil pengambilan
sampling tersebut menggunakan metode Kuadran?
6. Bagaimana perbandingan antara kepadatan, frekuensi, luas penutupan,
dan nilai penting dari tiap spesies?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian analisis vegetasi dengan metode transek (jalur)
dan kuadran
2 Memberikan pengetahuan tentang teknik sampling tumbuhan dengan
menggunakan metode Transek.
3 Memberikan pengetahuan tentang teknik sampling tumbuhan dengan
menggunakan metode Kuadran.
4 Melakukan analisis data vegetasi dari hasil pengambilan sampling
menggunakan metode transek.
5 Melakukan analisis data vegetasi dari hasil pengambilan sampling
menggunakan metode Kuadran.
6 Mengetahui perbandingan antara kepadatan, frekuensi, luas penutupan,
dan nilai penting dari tiap spesies.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Mueller-Dombois dan E1lenberg (1974) membagi Teknik pengambilan


sampel menjadi 2 kelompok besar, yaitu :
1. Probability Sampling (Random Sample)
2. Non Probability Sampling (Non Random Sample)
1. Probability Sampling
Pada pengambilan sampel secara random, setiap unit populasi, mempunyai
kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Faktor pemilihan atau
penunjukan sampel yang mana akan diambil, yang semata-mata

atas

pertimbangan peneliti, disini dihindarkan. Bila tidak, akan terjadi bias. Dengan
cara random, bias pemilihan dapat diperkecil, sekecil mungkin. Ini merupakan
salah satu usaha untuk mendapatkan sampel yang representatif.
Keuntungan pengambilan sampel dengan probability sampling adalah
sebagai berikut:
- Derajat kepercayaan terhadap sampel dapat ditentukan.
- Beda penaksiran parameter populasi dengan statistik sampel, dapat
diperkirakan.
- Besar sampel yang akan diambil dapat dihitung secara statistik.
2. Non Probability Sample (Selected Sample)
Pemilihan sampel dengan cara ini tidak menghiraukan prinsip-prinsip
probability. Pemilihan sampel tidak secara random. Hasil yang diharapkan hanya
merupakan gambaran kasar tentana suatu keadaan.
Cara ini dipergunakan : Bila biaya sangat sedikit , hasilnya diminta segera, tidak
memerlukan ketepatan yanq tingqi, karena hanya sekedar gambaran umum saja.
Untuk jenis tertentu seperti padang rumput, pemakaian metode plot seringkali
kurang praktis dan membutuhkan banyak waktu. Untuk itu dapat digunakan
metode transek. Disini disajikan dua metode transek :

1. Line transect
Garis transek merupakan suatu petak contoh dimana seorang pencatat
berjalan sepanjang garis transek dan mencatat setiap jenis tumbuhan yang dilihat
baik jumlah maupun jaraknya dengan pencatat.
Metode line transek ini dapat sekaligus untuk mencatat data dan beberapa
jenis tumbuhan. Wilayah yang dijadikan sampling dibagi menjadi beberapa jalur
dengan jarak tiap jalur yang telah ditentukan sebelumnya. Garis transek pada
wilayah sensus biasanya dipetakan dalam peta topografi. Petugas sensus berjalan
secara serentak sesuai dengan arah jalurnya masing-masing. Pada saat berjalan,
petugas mencatat jumlah tumbuhan Hasil yang diperoleh dibuat peta
persebarannya. Asumsi-asumsi yang harus dipegang dalam penggunaan metode
ini adalah :
a. Tumbuhan dan garis transek terletak secara random
b. Tidak ada tumbuhan yang terhitung dua kali
c. Habitat homogen, bila tidak homogen dapat menggunakan
stratifikasi.

Gambar Metode Line Transek

KETERANGAN:
* Posisi pencatat
Sampel yang terlihat
@ Sudut pandang, sudut yang terbentuk antara arah transek dengan
posisi tumbuhan
Metode line intercept biasa digunakan oleh para ahli ekologi tanaman
untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam acara ini terlebih dahulu
ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m,
25 m, atau 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu
kemudian dibuat segmen segmen yang panjangnya biasanya 1 m, 5 m, atau 10
m. Pengamatan pada tumbuhan dilakukan pada segmen segmen tersebut.
Selanjutnya mencatai, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua
spesies tumbuhan pada segmen segmen tersebut. Cara mengukur panjang
penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal dan aerial coverage
yang terpotong garis transek ke tanah. (Lihat Gambar 5.1).

Gambar Cara pengukuran luas penutupan dengan menggunakan metode


line transek (intercept). a dan c cara pengukuran dengan basal coverage, b dan d
cara pengukuran dengan aerial coverage.
(Sumber : Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan : 18)

2. Belt transect
Metode belt transect biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok
hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling
efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah,
topografi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis garis topografi, dari tepi
laut ke pedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng
pegunungan.
Lebar transek yang umum digunakan adalah 10 20m, dengan jarak antar
transek 200 1000m tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Unutk
kelompok hutan yang luasnya 10.000ha, intensitas yang digunakan adalah 2%,
dan hutan yang luasnya 1000 ha atau kurang intensitasnya 10%.
Untuk mempermudah pengukuran pohon, jalur yang lebarnya 10 m dibagi
menjadi petak petak kontinyu berukuran 10 m x 10 m, sedang yang lebarnya 20
m dibagi menjadi petak petak kontinyu berukuran 20m x 20 m atau 20 mx 50 m.
Di dalam jalur yang lebarnya 20 meter dapat dibuat :
Jalur untuk semak atau sampling yang lebarnya 10 meter dan dibagi
bagi menjadi petak petak kontinyu berukuran 10 m x 10 m.
Jalur untuk tumbuhan bawah dan seedling yang lebarnya 2 meter dan
dibagi menjadi petak petak kontinyu berukuran 2 meter x 5 meter atau
2 m x 2 m.
Cara sampling yang diterangkan diatas disebut Nested Sampling.

Metode Kuadran
Metode kuadran umumnya dilakukan bila hanya vegetasi tingkat pohon
saja yang menjadi bahan penelitian, metode ini mudah dan lebih cepat digunakan
untuk mengetahui komposisi, dominan pohon dan menaksir volumenya. Dalam
metode huadran terdapat mtode kuadran point-quarter, syarat penerapan metode
ini adalah distribusi pohon yang akan diteliti harus acak. Metode ini tidak dapat
digunakan untuk populasi pohon yang pengelompokannya tinggi (mengelompok)
atau yang menempati ruang secara seragam. Pada metode point-quarter, terlebuh
dahulu menentukan titik titik di sepanjang garis transek. Jarak satu titik dengan

titik yang lain dapat ditentuksn secara acak atau sistematis. Masing masing titik
dianggap sebagai pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat 4 buah
kuadran. Pada masing masing kuadran inilah kemudian dilakukan pendataan
dan pengukuran luas penutupan satu pohon yang terdekat dengan titik pusat
kuadran. Prosedur pengukuran ini terus dilanjutkan pada titik titik lainnya
sampai akhir transek.
Berdasarkan data pengukuran pada unit contoh tersebut, dapat diketahui
jenis dominan dan kodominan, pola asosiasi, nilai keragaman jenis, dan atribut
komunitas tumbuhan lainnya yang berguna untuk pengolahan lahan tersebut.

K1

K2

K4

K3

K = Kuadran

Titik pusat kuadran

K1

K2

Gambar 5.2. Metode Point Kuadran


K4

K3

(Sumber : Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan :23-24)

BAB 3. METODE PERCOBAAN


3.1 Acara

: Acara V ( Sampling dan Analisis Vegetasi dengan


Metode Transek (Jalur) dan Kuadran)

3.2 Waktu dan Tempat


1. Tanggal

: 23 November 2009

2. Pukul

: 12.30 14.10 WIB

3. Tempat

: di kebun belakang Gedung Soetardjo

3.3 Alat dan Bahan


a). Alat

Patok kayu atau bambu

Tali rafia atau tali plastik

Pisau besar (Bedung)

Gergaji

Palu

Kompas

Counter

Alat tulis

b). Bahan

Bambu atau kayu

Buku identifikasi

3.4 Cara Kerja


A. Metode Line Transect
Melakukan pengamatan Vegetasi rumputdi kebun biologi G3
FKIP UNEJ, dengan dua titik sebagai pusat transek

Menarik garis transek sepanjang 10 meter


Menggunakan tali raffia, Membuat segmen dengan
panjang tiap segmen 1 meter

Melakukan pengamatan terhadap


tumbuhan tiap segmennya

Menghitung panjang penutupan semua spesies


tumbuhan pada segmen tersebut

Melakukan analisis vegetasi dengan menghitung


kepadatan, kepadatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif,
panjang penutupan, panjang penutupan relatif, dan nilai
penting dengan formula yang ada.

B. Metode Kuadran
Melakukan pengamatan vegetasi rumput di kebun
Biolohgi Gedung 3 FKIP Unej

Menentukan satu titik sebagai titik pusat


kuadran

Menarik 4 buah garis transek dengan


menggunakan tali rafia sepanjang 20 m dari titik
pusat kuadran dan akhirnya membentuk 4
kuadran

Melakukan pengamatan pada masing-masing


kuadran

Menghitung jumlah pohon, jarak antara pohon


dengan titik pusat kuadran, dan diameter masingmasing pohon yang ada dalam

10

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
A. Metode transek garis (line transect)
Tabel pengamatan jumlah tanaman untuk setiap segmen
JENIS
TUMBUHAN

SEG
1

SEG
2

SEG
3

SEG
4

SEG
5

SEG
6

SEG
7

SEG
8

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

17
1
10
8
1
5
-

25
3
2

23
6

19
2
17
-

12
10

10
2
-

13
28
8
5
-

15
4
7
5

Tabel pengamatan luas penutupan tanaman untuk setiap segmen


JENIS
TUMBUHAN

SEG
1

SEG
2

SEG
3

SEG
4

SEG
5

SEG
6

SEG
7

SEG
8

SEG
9

SEG
10

ILALANG

348,
5
4,5
110

385

437

266

200,4

83

123,5

90

279

420

26,1

33
433,5

29,6
15,6

756
48

50
37,1

64

22,5

5,6

24

0,6

12,1

15

48,3

102,5

PUTRI MALU
RUMPUT
TEKI
TANAMAN
A
TANAMAN
B
TANAMAN
C
SEMANGGI

Tabel pengamatan total luas penutupan tanaman untuk dari setiap segmen
JENIS
TUMBUHAN

Total dari
Setiap segmen (cm)

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

2632,4
873
862
86,5
5,6
24
180,5

11

JENIS
TUMBUHAN

JUMLAH

RD

RF

RC

IV

ILALANG
PUTRI
MALU
RUMPUT
TEKI
TANAMAN
A
TANAMAN
B
TANAMAN
C
SEMANGGI

180
39

0,18
0,039

0,51
0,11

1
0,2

0,32
0,06

2,6324
0,8731

0,567
0,188

1,397
0,358

47

0,047

0,13

0,6

0,19

0,862

0,186

0,506

13

0,013

0,04

0,5

0,16

0,0865

0,019

0,219

0,001

0,003

0,1

0,03

0,0056

0,00012

0,03312

0,005

0,014

0,1

0,03

0,0024

0,00051

0,04431

67

0,067

0,19

0,6

0,19

0,1805

0,039

0,416

12

B. Metode Kuadran
Data hasil pengukuran
Pohon 1 sebagai titik pusat (pohon Mahoni)
Kuadran
Jenis Pohon
1
Pohon A
2
Pohon A
3
Pohon B
4
Pohon B
Data Analisis Vegetasi dengan Metode Kuadran
1) Jarak pohon rata-rata (d)

Jarak pohon (d)


7,9 m
4,6 m
3,35 m
2,37 m

D = (D1 + D2 + D3 +.Dn) / n
= (7,9 + 4,6 + 3,35 + 2,37) / 4
= 18,22 / 4
= 4,555 m
2) Kepadatan Seluruh Jenis (TD)
u = 100 cm2 = 1 x 106 cm2
TD = u/d2
= 100 / (4,555)2
= 100 / 20,748025
= 4,819736 m2
3) Data Hasil Perhitungan
Besaran yang dihitung
Kepadatan relatif (RDi)
Kepadatan mutlak suatu jenis (Di)
Luas penutupan suatu jenis (Ci)
Luas penutupan relatif suatu jenis

Pohon A
0,5
2,409868
2869,95 m2
6,2049 m2

Pohon B
0,5
2,409868
2869,95 m2
1,8917 m2

(RCi)
Frekuensi suatu jenis (Fi)
Frekuensi relatif suatu jenis (RFi)
Nilai penting suatu jenis (IVi)

0,5
0,5
1,766

0,5
0,5
1,2336

Pohon 2 sebagai titik pusat (pohon Mahoni)


Kuadran
1
2
3
4

Jenis Pohon
pohon C
Tidak ada pohon
tidak ada pohon
pohon C

13

Jarak pohon (d)


4,65 m
3,55 m

Data Analisis Vegetasi dengan Metode Kuadran


1) Jarak pohon rata-rata (d)
D = (D1 + D2 + D3 +.Dn) / n
= ( 4,65 + 3,55 ) / 2
= 4,1 m
2) Kepadatan Seluruh Jenis (TD)
u = 100 cm2 = 1 x 106 cm2
TD = u/d2
= 100 / ( 4,1)2
= 100 / 16,81
= 5,9488 m2
3) Data Hasil Perhitungan
Besaran yang dihitung
Kepadatan relatif (RDi)
Kepadatan mutlak suatu jenis (Di)
Luas penutupan suatu jenis (Ci)
Luas penutupan relatif suatu jenis

Pohon C
1
5,9488
7,9387 m2
1m2

(RCi)
Frekuensi suatu jenis (Fi)
Frekuensi relatif suatu jenis (RFi)
Nilai penting suatu jenis (IVi)

0,5
1
3

14

Utara

2
4,45 m

1,35
m
1,3
m

3,3m

Tidak ada
pohon

7,5
m

Tidak ada
pohon

1,75
m
1,6m

22,5 m

Pohon 2
Sebagai pusat

2,5
m
4,1
m

2,1
m
1,5m

3m

Pohon 1
Sebagai pusat

4.2 Pembahasan
4.2.1 Metode Transek
Pada kegiatan praktikum kali ini dilakukan percoban Acara V yaitu
Sampling Dan Analisis Vegetasi Dengan Metode Transek (Jalur) dan Kuadran
yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang teknik sampling
tumbuhan dengan menggunakan metode Metode Transek (Jalur) dan Kuadran
serta melakukan analisis data vegetasi dari hasil sampling tersebut.
Dalam praktikum ini terdapat dua kegiatan yang dilakukan yaitu sampling
dan analisis vegetasi dengan metode transek dan kuadran. Kegiatan pertama yang
dilakukan adalah menggunakan metode transek, tepatnya menggunakan metode
line transek. Dalam metode transek ini, sebelumnya dilakukan penarikan garis
transek sepanjang 10 meter atau 1000 cm. Setelah itu membagi menjadi segmensegmen dengan ukuran 1 m atau 100 cm sehingga terdapat 10 segmen dimana

15

untuk setiap segmennya di tandai dengan pasak. Selanjutnya kami mengamati


jenis dan jumlah tumbuhan yang dilalui garis transek. Jenis tumbuhan yang kami
temukan dalam kesepuluh segmen antara lain rumput ilalang, putri malu, rumput
teki, tanaman A, tanaman B, tanaman C dan semanggi.
Pada masing-masing segmen tidak semua jenis tumbuhan tersebut
ditemukan. Dari kesepuluh segmen, tumbuhan yang paling mendominasi adalah
rumput ilalang dengan jumlah 180. Tumbuhan kedua yang mendominasi adalah
semanggi dengan jumlah 67, sedangkan tanaman A dengan jumlah 1 dan tanaman
C berjumlah 5.
Tumbuhan ilalang merupakan tanaman yang mendominasi karena
pengaruh tumbuhan itu sendiri yang mudah tumbuh dan cukup bertahan pada
berbagai kondisi lingkungan. Rumput ilalang banyak ditemukan diseluruh segmen
Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi
gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah
seperti alalang. Rumput menahun dengan tunas panjang dan bersisik, merayap di
bawah tanah. Ujung (pucuk) tunas yang muncul di tanah runcing tajam, serupa
ranjau duri. Batang pendek, menjulang naik ke atas tanah dan berbunga. Tinggi
0,2 1,5 m, di tempat-tempat lain mungkin lebih, dalam hal ini berarti lingkungan
sangat berpengaruh.
Helaian daun ilalang berbentuk garis (pita panjang) lanset berujung
runcing, dengan pangkal yang menyempit dan berbentuk talang, panjang 12-80
cm, bertepi sangat kasar dan bergerigi tajam, berambut panjang di pangkalnya,
dengan tulang daun yang lebar dan pucat di tengahnya.
Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang
tersebar cepat bersama angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus
tanah yang gembur. Dengan perkembangbiakan yang cepat, maka jumlah daun
yang tumbuh juga semakin banyak. Dengan banyaknya daun maka proses
fotosintesis yang terjadi juga semakin efisien, mengingat ilalang termasuk
tumbuhan hijau sehingga mamiliki. Berlawanan dengan anggapan umum, alangalang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin unsur hara, gersang atau berbatubatu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari
matahari sampai agak teduh, dengan kondisi lembab atau kering.

16

Secara umum, alang-alang digunakan untuk melindungi lahan-lahan


terbuka yang mudah tererosi. Kecepatan tumbuh, jalinan rimpang alang-alang di
bawah tanah, serta tutupan daunnya yang rapat, memberikan manfaat
perlindungan yang dibutuhkan itu.
Semanggi menduduki urutan yang terbanyak kedua, semanggi merupakan
tumbuhan yang suka dengan air, dalam lahan yang kami amati sebenarnya bertipe
agak kering sehingga komunitas semanggi tidak sebanyak tumbuhan lain yang
kami temukan. Tumbuhan semanggi ditemukan pada segmen 2,3,5,8,9 dan 10
mungkin pada segmen ini kondisi tanahnya cukup mengandung air, apalagi sehari
sebelum praktikum hujan, sehingga kondisi tanahnya sedikit becek.
Putri malu menduduki urutan ketiga yang terbanyak, pada segmen 1,4,6,7
dan segmen 8 ditemukan tumbuhan putri malu. Mungkin dalam segmen ini,
kondisi tanah yang kurang sesuai dengan habitat putri malu. Selain itu,
sebenarnya putri malu tersebar merata pada lahan yang kami jadikan lahan
praktikum. Tidak semua tumbuhan terlewati garis transek, pada dasarnya
tumbuhan yang kami amati dilahan pengamatan cukup luas dan tersebar merata,
namun yang digunakan untuk menginventarisir tumbuhan yang ada hanya sebatas
garis transek. Intinya tidak semua tanaman mendapat peluang untuk terhitung
dalam garis transek.
Berdasarkan analisis data terhadap vegetasi dari hasil sampling dengan
metode plot, didapatkan hasil yaitu:
1. Kepadatan ( D )
Kepadatan adalah jumlah yang menunjukkan nilai individu dari jenisjenis yang menjadi anggota suatu komunitas tumbuhan alam pada luas tertentu.
Dari hasil analisis vegetasi yang dilakukan diketahui bahwa kepadatan rata-rata
dari masing-masing populasi adalah :
JENIS
TUMBUHAN

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A

0,18
0,039
0,047
0,013

17

TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

0,001
0,005
0,067

Dari data tersebut dapat diketahui populasi yang mendominasi ilalang


adalah dengan kepadatan 0,18/cm2 sedangkan populasi yang paling sedikit adalah
tanaman B dengan kepadatan 0,001/cm2.
2. Kepadatan relatif ( RD )
Kepadatan relatif adalah persentase dari jumlah individu jenis yang
bersangkutan dalam komunitasnya. Pernyataan relatif ini diperlukan untuk
menghindari kesalahan yang total dalam pemakaian terhadap suatu komunitas
sebab data yang diperoleh dari analisi itu hanya berdasarkan sejumlah pengukuran
beberapa wilayah contoh, bukan total seluruh populasi. Dari analisis yang
dilakukan diketahui kepadatan relatif rata-rata pada masing-masing populasi
adalah:

JENIS
TUMBUHAN

RD

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

0,51
0,11
0,13
0,04
0,003
0,014
0,19

Dari data di atas dapat diketahui bahwa populasi yang memiliki kepadatan
relatif paling tinggi adalah ilalang dengan indeks 0,51 sedangkan populasi yang
memiliki kepadatan relatif paling rendah adalah tanaman B dengan indeks 0,003
.
3. Frekuensi ( F )

18

Frekuensi adalah nilai besaran yang menyatakan derajat penyebaran jenis


di dalam komunitasnya. Angka ini diperoleh dengan melihat perbandingan jumlah
dari petak-petak yang diduduki oleh suatu jenis terhadap keseluruhan petak yang
diambil sebagai petak contoh di dalam melakukan analisis vegetasi. Dari analis
yang dilakukan diketahui bahwa rata-rata frekuensi dari masing-masing populasi
adalah :
JENIS
TUMBUHAN

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

1
0,2
0,6
0,5
0,1
0,1
0,6

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa populasi yang memiliki


frekuensi paling tinggi adalah ilalang dengan indeks 1. Hal ini berarti di setiap
segmen tanaman ini mendominasi dan yang memiliki frekuensi terkecil adalah
tanaman B dan C dengan indeks masing masing 0,1.

Frekuensi relatif ( RF )
Frekuensi relatif adalah persentase dari jumlah individu jenis yang
bersangkutan dalam komunitasnya. Dari anlisis vegetasi yang dilakukan diperoleh
hasil yaitu:
JENIS
TUMBUHAN

RF

ILALANG

0,32

19

PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

0,06
0,19
0,16
0,03
0,03
0,19

Dari tabel di atas diketahui bahwa tanaman yang memiliki rata-rata


frekuensi relatif paling tinggi adalah ilalang dengan indek 0,32

sedangkan

tanaman yang memiliki nilai rata-rata frekuensi relatif paling kecil adalah
tanaman B dan C dengan indek 0,03
Panjang Penutupan ( C ) dan Panjang Penutupan Relatif ( RC )
JENIS
TUMBUHAN

RC

ILALANG
PUTRI MALU
RUMPUT TEKI
TANAMAN A
TANAMAN B
TANAMAN C
SEMANGGI

2,6324
0,8731
0,862
0,0865
0,0056
0,0024
0,1805

0,567
0,188
0,186
0,019
0,00012
0,00051
0,039

Rumput ilalang panjang penutupannya lebih besar daripada jenis tanaman


lain yang ditemukan, dengan rincian rumput ilalang = 2,6324; semanggi = 0,185;
putri malu = 0,8731; rumput teki = 0,862; tanaman A = 0,0865; tanaman B =
0,0056; dan tanaman C = 0,0024. Hal ini dikarenakan morfologi dari rumput
ilalang adalah tumbuh menyebar dan berkoloni sehingga pada satuan yang
terlewati garis memberikan kontribusi yang besar pada jumlah luas kanopi. Pada
tumbuhan ilalang morfologi tumbuhan adalah tumbuh tinggi dan tegak lurus
keatas, sehingga dengan teori pengukuran line transek luas penutupan yang
terhitung adalah seluas tinggi dari satu tumbuhan yang terlintas garis. Begitu pula
dengan tumbuhan putri malu dan tumbuhan lainnya, sebenarnya putri malu
memiliki luas penutupan yang paling besar karena sifatnya mampu menjalar
kemana-mana dan bercabang banyak, sehingga menutupi sebagian besar area.

20

Tetapi kembali lagi, bahwa dalam metode line transek luas penutupan yang
dihitung hanya terbatas pada bagian tumbuhan yang dilalui garis transek.
Sehingga tidak semua bagian tumbuhan putri malu terlalui garis transek.

4. Nilai penting ( VI )
Indeks Nilai Penting (INP) didapat dari penjumlahan nilai relatif dari
frekuensi relatif, kerapatan reelatif dan luas penutupan suatu jenis. Nilai penting
ini sering dipakai karena memudahkan dalam interpretasi hasil analisis vegetasi.
Indeks nilai penting yang diperoleh ini berfungsi untuk menentukan dominasi
suatu spesies dalam komunitas. Dari analisis data yang telah dilakukan diperoleh
hasil sebagai berikut:
JENIS
TUMBUHAN

IV

ILALANG
PUTRI
MALU
RUMPUT
TEKI
TANAMAN
A
TANAMAN
B
TANAMAN
C
SEMANGGI

1,397
0,358
0,506
0,219
0,03312
0,04431
0,416

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa rata rata populasi yang paling
dominan dalam komunitas pada lahan percobaan dari keseluruhan tiap segmen
adalah ilalang dengan indek 1,397. Sedangkan populasi yang jumlahnya sedikit
adalah tanaman B dengan indek 0,03312.
4.2.2 Metode Kuadran
Untuk metode kuadran langkah kerja yang pertama kami lakukan yaitu
melakukan pengamatan vegetasi rumput di kebun Biolohgi Gedung 3 FKIP Unej.

21

Lalu menentukan satu titik sebagai pusat kuadaran. Menarik 4 buah garis transek
dengan menggunakan tali rafia sepanjang 22,5 m dari titik pusat kuadran dan
akhirnya membentuk 4 kuadran. Mengamati terhadap pohon yang ada pada tiap
kuadran. Setelah itu menghitung jumlah pohon, jarak antara pohon dengan titik
pusat kuadran, dan diameter masing-masing pohon yang ada dalam kuadran.
Kami melakukannya sebanyak dua kali sehingga diperoleh dua titik pusat kuadran
yang berbeda.
Pada percobaan yang kedua ini menggunakan metode kuadaran, kami
melakukan analisis vegetasi tanaman yang berada di belakang Gedung Soetardjo.
Metode kuadran biasanya dilakukan bila yang menjadi bahan penelitian hanya
vegetasi tingkat pohon saja. Metode ini mudah dan lebih cepat digunakan untuk
mengetahui komposisi, dominansi pohon dan menaksir volumenya. Ada dua
macam metode kuadran yang akan dijelaskan pada bagian ini, yaitu:
a. Metode point-quarter,
b. Metode wondering-quarter.
Penetapan metode point-quarter adalah distribusi pohon yang akan diteliti
harus acak. Metode ini tidak dapat digunakan untuk populasi pohon yang
pengelompokannya tinggi (mengelompok) atau yang menempati ruangan secara
seragam. Untuk mengatasi permasalaha itu, Catana (1963) telah memodifikasi
metode point-quarter menjadi salah satu metode yang dikenal dengan nama
metode wondering-quarter yang dapat diterapkan pada populasi pohon dengan
pola distribusi acak, mengelompok ataupun seragam. Perhitungan untuk metode
point-quarter dan wondering-quarter adalah sama, kecuali perhitungan frekuensi
tidak diterapkan pada metode wondering-quarter. Syarat penetapan metode pointquarter adalah distribusi pohon harus acak. Metode ini tidak dapat digunakan
untuk populasi pohon yang mengelompok atau menempati ruangan secara
seragam. Yang dilakukan pada metode ini yaitu menentukan titik-titik terlebih
dahulu ditentukan disepanjang garis transek. Jarak satu titik dengan lainnya dapat
ditentukan secara acak atau sistematis. Masing-masing titik dianggap sebagai
pusat dari arah kompas, sehingga setiap titik didapat empat buah kuadran. Pada

22

masing-masing kuadran inilah dilakukan pendaftaran dan pengukuran luas


penutupan satu pohon yang terdekat dengan pusat titik kuadran. Selain itu diukur
pula jarak antara pohon terdekat dengan titik pusat kuadran.
Setelah kami menentukan tumbuhan sebagai pusat kuadran di Kuadran
Pohon 1 selanjutnya kami menarik garis transek sepanjang 22,5 m dari titik
tumbuhan tersebut sampai menjumpai tumbuhan di Kuadran Pohon 2 sebagai titik
pusat tanaman. kemudian membuat 4 kuadran di Kuadran Pohon 1 dan
membaginya. Setelah itu, kami mengamati dan mengukur serta mencatat jenis
pohon, luas penutupan, jarak antara pohon terdekat dengan tumbuhan yang
menjadi pusat kuadran pohon 1. Pada kuadran I di titik pohon 1 diperoleh
tumbuhan yaitu pohon A, pada kuadran II diperoleh tumbuhan yang sama pada
kuadran I yaitu pohon A, pada kudaran III ditemui Pohon B dan pada kuadran IV
ada pohon B. Setelah kami mencatat hasilnya, kami langsung mengamati dan
mengukur serta mencatat jenis pohon, luas penutupan, jarak antara pohon terdekat
dengan tumbuhan yang menjadi pusat kuadran di titik Kuadran Pohon 2. Langkah
yang kami lakukan pada kuadran pohon 2 sama seperti halnya di Kuadran Pohon
1. Dari hasil pengamatan yang diperoleh kami mendapatkan data yaitu pada
kuadran I ditemukan jenis pohon yang kami namakan dengan pohon C, Namun
pada kuadran II dan Kuadran III kami tidak menemukan vegetasi pohon sama
sekali. Sedangkan pada kuadran IV Kami menemukan sejenis pohon yang kami
sebut sebagi pohon C.
Berdasarkan hasil perhitungan masing-masing besaran pada tiap kuadran
diperoleh hasil yaitu Pada Kuadran Pohon 1 jumlah jarak pohon rata-rata ke titik
pusat kuadran dan hasilnya yaitu 4,555 m. Kemudian perhitungan selanjutnya
kami menghitung kepadatan seluruh jenis pohon dan diperoleh hasil yaitu
4,819736 m2. Adapun kepadatan relatif tiap jenis pohon yaitu pada pohon A dan
B kepadatan relatifnya sama yaitu 0,5. Dan kepadatan mutlak tiap pohon yaitu
pohon A dan B adalah 2,409868. Selanjutnya menghitung frekuensi dan frekuensi
relatifnya, pada pohon A dan B frekuensinya adalah 0,5. Frekuensi relatif pada
pohon A dan B sama yaitu 0,5. Adapun luas penutupan masing-masing pohon

23

berbeda, pada pohon A di Kuadran I dan kuadran II luas penutupannya adalah


6,2049 , dan pada pohon B di Kuadran III dan kuadran IV luas penutupannya
yaitu 1,8917. Luas penutupan relatif pohon A yaitu 0,766. Sedangkan Pada pohon
B luas penutupan relatifnya adalah 0,2336. Dan nilai pentingnya adalah pada
pohon A dan B yaitu 1,766 dan 1,2336.
Langkah yang sama juga kami lakukan pada Kuadran Pohon 2 yang
bertindak sebagai pusat kuadran. Langkah yang kami lakukan yaitu mengamati
dan mengukur serta mencatat jenis pohon, luas penutupan, jarak antara pohon
terdekat dengan tumbuhan yang menjadi pusat kuadran di titik Pohon 2. Pada
Kuadran Pohon 2 jumlah jarak pohon rata-rata ke titik pusat kuadran dan hasilnya
yaitu 4,1 m. Kemudian kami menghitung kepadatan seluruh jenis pohon dan
diperoleh hasil yaitu 5,9488 m2. sedangkan kepadatan relatif tiap jenis pohon
yaitu kami hanya menemukan jenis pohon yang kami diberi nama sebagai pohon
C. kepadatan relatifnya yaitu 1. Dan kepadatan mutlak tiap pohon yaitu pohon C
adalah 05,9488. Selanjutnya kami menghitung frekuensi dan frekuensi relatifnya,
pada pohon C frekuensinya adalah 0,5. Frekuensi relatif pada pohon C yaitu 1.
Adapun luas penutupan pada pohon C yaitu 7,9387. Luas penutupan relatif pohon
C adalah 1. Dan nilai penting dari jenis pohon C adalah 3.

24

BAB 5. KESIMPULAN
1.

Metode transek garis digunakan oleh ahli ekologi tanaman untuk


mempelajari komunitas padang rumput dan semak belukar. Sedangkan
Metode kuadran umumnya dilakukan bila hanya vegetasi tingkat pohon saja
yang menjadi bahan penelitian, sangat mudah dilakukan dan lebih cepat
digunakan untuk mengetahui komposisi, dominasi pohon dan menaksir
volumenya.

2.

Analisis yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini adalah analisis


vegetasi dengan menggunakan Metode Transek (line transect) dan metode
Kuadran.

3.

Jenis-jenis vegetasi yang didapat pada metode line intercept yaitu ilalang,
putrid malu, rumput teki, tanaman A, tanaman B, tanaman C dan semanggi

4.

Berdasarkan indeks nilai penting, tumbuhan yang paling mendominasi


pada keseluruhan tiap segmen adalah ilalang dengan indek 1,397. Sedangkan
populasi yang jumlahnya sedikit adalah tanaman B dengan indek 0,03312.
Hal ini dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal.

5.

Faktor internal yang mempengaruhi adalah suhu, kelembapan, pH, dan


cahaya matahari sedangkan faktor eksternal seperti ilalang dapat berkembang
dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin, atau
melalui rimpangnya yang cepat menembus tanah yang gembur.

6.

Berdasarkan hasil sampling dengan metode kuadran diperoleh jenis pohon


yaitu pada Kuadran Pohon 1 adalah pohon A dan B, sedangkan pada Kuadran
Pohon 2 hanya ditemukan pohon C.

7.

Dari hasil analisis data vegetasi menggunakan metode kuadran dapat


diketahui bahwa jenis tumbuhan yang memiliki nilai penting tertinggi yaitu
pohon C dengan nilai penting yaitu 3 sedangkan untuk pohon A nilai
pentingnya adalah 1,766. dan pada pohon C nilai pentinya hanya sebesar

25

1,2336. Keadaan ini mengindikasikan bahwa Pohon C dapat berkembang dan


tumbuh dengan baik pada lingkungan tersebut.

Daftar Pustaka

Dede S, Muhardiono, Ayip. 1989. Penuntun Praktikum Ekologi. Bogor: Institut


Pertanian Bogor.
Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Odum, E.P. 1997. Dasar-dasar Ekologi
Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.

Terjemahan.

Samingan,

T.

Setiadi, D. I. Muhadiono. Dan A. Yusron. 1989. Ekologi Tumbuhan. Bogor:


Depdiknas Dirjen DIKTI PAU IPB.
Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif, Metode Analisa Populasi dan
Komunitas. Surabaya: Usaha nasional.
Tim Pembina Ekologi Tumbuhan. 2009. Petunjuk praktikum ekologi tumbuhan.
Jember: Prodi Pend BIOLOGI FKIP UNEJ
http://mei-smart.blogspot.com/2009/10/analisis-vegetasi.html
http://biologi08share.blogspot.com/2009/04/beberapa-metodologi-yang-umumdan.html

26

PERHITUNGAN
A.

Metode Transek
1. Kepadatan (Di)
Di = ni/L
1. Rumput ilalang
Di = 180/1000
= 0,18
2. Putri malu
Di = 39/1000
= 0,039
3. Rumput teki
Di = 47/1000
= 0,047
4. Tanaman A
Di = 13/1000
= 0,013
5. Tanaman B
Di = 1/1000
= 0,001
6. Tanaman C
Di = 5/1000
= 0,005
7. Semanggi
Di = 67/1000
= 0,067

2. Kepadatan Relatif (RDi)

RDi = ni/n

27

1. Rumput ilalang
RDi = 180/352
= 0,51
2. Putri malu
RDi = 39/352
= 0,11
3. Rumput teki
RDi = 47/352
= 0,13
4. Tanaman A
RDi = 13/352
= 0,04
5. Tanaman B
RDi = 1/352
= 0,04
6. Tanaman C
RDi = 5/352
= 0,014
7. Semanggi
RDi = 67/352
= 0,19

3. Frekuensi ( F )

Fi = Ji/K

28

1. Rumput ilalang
Fi = 10/10
=1
2. Putri malu
Fi = 5/10
= 0,2
3. Rumput teki
Fi = 6/10
= 0,6
4. Tanaman A
Fi = 2/10
= 0,5
5. Tanaman B
Fi = 1/10
= 0,1
6. Tanaman C
Fi = 1/10
= 0,1
7. Semanggi
Fi = 6/10
= 0,6

4. Frekuensi Relatif ( RFi )

RFi = Fi/F

1. Rumput ilalang
RFi = 1/3,1
= 0,32

29

2. Putri malu
RFi = 0,2/3,1
= 0,06
3. Rumput teki
RFi = 0,6/3,1
= 0,19
4. Tanaman A
RFi = 0,5/3,1
= 0,16
5. Tanaman B
RFi = 0,1/3,1
= 0,03
6. Tanaman C
RFi = 0,1/3,1
= 0,03
7. Semanggi
RFi = 0,6/3,1
= 0,19

5. Panjang Penutupan ( C )

C = Li/L

1. Rumput ilalang
C = 2632,4/1000
= 2,6324
2. Putri malu
C = 873,1/1000
= 0,8731

30

3. Rumput teki
C = 862/1000
= 0,862
4. Tanaman A
C = 86,5/1000
= 0,0865
5. Tanaman B
C = 5,6/1000
= 0,0056
6. Tanaman C
C = 24/1000
= 0,0024
7. Semanggi
C = 180,5/1000
= 0,1805

6. Panjang Penutup Relatif ( RCi )

RCi = Ci/C

1. Rumput ilalang
RCi = 2,6324/4,6425
= 0,567
2. Putri malu
RCi = 0,8731/4,6425
= 0,188
3. Rumout teki
RCi = 0,862/4,6425
= 0,186

31

4. Tanaman A
RCi = 0,0865/4,6425
= 0,019
5. Tanaman C
RCi = 0,0024/4,6425
= 0,00051
6. Semanggi
RCi = 0,1805/4,6425
= 0,039

7.

Nilai Penting Suatu Jenis ( IVi )


IVi = RDi + RFi + RCi

1. Rumput ilalang
IVi = 0,51 + 0,32 + 0,567
= 1,397
2. Putri malu
IVi = 0,11 + 0,06 + 0,188
= 0,358
3. Rumput teki
IVi = 0,13 + 0,19 + 0,186
= 0,506
4. Tanaman A
IVi = 0,04 + 0,16 + 0,019
= 0,219
5. Tanaman B
IVi = 0,003 + 0,03 + 0,00012
= 0,03312

32

6. Tanaman C
IVi = 0,014 + 0,03 + 0,00051
= 0,04431
7. Semanggi
IVi = 0,19 + 0,19 + 0,039
= 0,416

33

B.

Metode kuadran

Pohon 1
Jarak Pohon Rata-rata (d)
D = (D1 + D2 + D3 +.Dn) / n
= (7,9 + 4,6 + 3,35 + 2,37) / 4
= 18,22 / 4
= 4,555 m
Kepadatan Seluruh Jenis (TD)
TD = u/d2
= 100 / (4,555)2
= 100 / 20,748025
= 4,819736 m2
Kepadatan Relatif (RDi)
RDi = ni/n
RDii = nii/n
= 2/4
= 2/4
= 0,5
= 0,5
Kepadatan Mutlak Suatu Jenis (Di)
Di = (RDi)(TD)
Dii = (RDii)(TD)
= (0,5)( 4,819736)
= (0,5)( 4,819736)
= 2,409868
= 2,409868
Luas Penutupan Suatu Jenis (Ci)
Ci = (Ai)(Di)/ni
Cii = (Aii)(Dii)/n
= (3,14 + 2,0096)(2,409868)/2
= (0,785+0,785)(2,409868)/2
= 6,2049
= 1,8917
Luas Penutupan Relatif Suatu Jenis (RCi)
RCi = Ci/C
RCii = Cii/C
= 6,2049 / 8,0966
= 1,8917/8,0966
=0,766
= 0,2336
Frekuensi Suatu Jenis (Fi)
Fi = Ji/K
Fii = Ji/K
= 2/4
= 2/4
= 0,5
= 0,5
Frekuensi Relatif suatu Jenis (RFi)
RFi = Fi/F
RFii = Fi/F
= 0,5/1
= 0,5/1
= 0,5
= 0,5
Nilai Penting suatu Jenis (IVi)
IVi = RDi + RFi + RCi
IVii = RDii + RFii +RCii
= 0,5 + 0,5 + 0,766
= 0,5 + 0,5 + 0,2336
= 1,766
= 1,2336

34

Pohon 2
Jarak Pohon Rata-rata (d)
D = (D1 + D2 + D3 +.Dn) / n
= ( 4,65 + 3,55 ) / 2
= 4,1 m
Kepadatan Seluruh Jenis (TD)
TD = u/d2
= 100 / ( 4,1)2
= 100 / 16,81
= 5,9488 m2
Kepadatan Relatif (RDi)
RDi = ni/n
= 2/2
=1
Kepadatan Mutlak Suatu Jenis (Di)
Di = (RDi)(TD)
= (1)(5,9488)
= 5,9488
Luas Penutupan Suatu Jenis (Ci)
Ci = (Ai)(Di)/ni
= (1,5386 + 1,1304) (5,9488)/2
= 7,9387
Luas Penutupan Relatif Suatu Jenis (RCi)
RCi = Ci/C
= 7,9387/7,9387
=1
Frekuensi Suatu Jenis (Fi)
Fi = Ji/K
= 2/4
= 0,5
Frekuensi Relatif suatu Jenis (RFi)
RFi = Fi/F
= 0,5/0,5
=1
Nilai Penting suatu Jenis (IVi)
IVi = RDi + RFi + RCi
=1+1+1

35