Anda di halaman 1dari 16

Tugas Mata Kuliah

Teknologi Oleokimia

Pembuatan Fatty Alcohol dari CPO (Crude Palm Oil)

Disusun Oleh :
Kelompok VII (Tujuh)
Nurul Aini (110405014)
Fransiscus Raymond Butar-Butar (110405047)
Rahayu Wulandari (110405052)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK KIMIA
MEDAN T.A 2013/2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Alkohol lemak didefinisikan sebagai alkohol alifatik dengan panjang rantai

antara C6 dan C22. Mereka sebagian besar adalah linier dan monohidrat, dan dapat
jenuh atau memiliki satu atau lebih ikatan ganda. Alkohol dengan panjang rantai
karbon diatas C22 disebut sebagai alkohol lilin. Diol yang rantai panjang melebihi C 8
dianggap sebagai pengganti alkohol lemak. Karakter dari alkohol lemak (primer atau
sekunder, linier atau bercabang-rantai, jenuh atau tidak jenuh) ditentukan oleh proses
manufaktur dan bahan baku yang digunakan. Produk alami, seperti lemak, minyak,
dan lilin, dan proses alkohol Ziegler menyediakan alkohol linear, primer, dan
alkohol genap, yang diperoleh dari sumber alami mungkin jenuh. Sebaliknya,
proses okso tradisional menghasilkan 20 - 60 % dan dimodifikasi proses approx
okso. 10 % alkohol lemak bercabang, dan juga beberapa yang ganjil. Hasil dimerisasi
Guerbet -bercabang, alkohol primer, sedangkan oksidasi Bashkirov menghasilkan
alkohol sekunder (Noweck, 2011).
Alkohol lemak (RCH2OH) merupakan suatu dasar utama oleokimia yang
memiliki laju pertumbuhan yang telah membantu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan kemajuan standar hidup masyarakat banyak. Alkohol lemak terus
meningkat sebagai bahan baku surfaktan karena sifatnya yang dapat diurai dan dapat
diperbaharui. Permintaan dunia akan alkohol lemak meningkat 4% tiap tahun, pada
tahun 2000 saja mencapai 1.500.000 MT.
Alkohol lemak dapat diproduksi dari minyak bahan alami, atau sintetis dari
petrokimia. Persediaan alkohol lemak dunia sekarang ini dapat dibagi menjadi alami
dan buatan (Lubis, dkk., 2013). Tergantung pada bahan baku yang digunakan,
alkohol lemak diklasifikasikan sebagai alam atau sintetis. Alkohol lemak alami yang
berbasis sumber daya terbarukan seperti lemak, minyak, dan lilin nabati atau hewani,
sedangkan alkohol lemak sintetis yang diproduksi dari petrokimia seperti olefin dan
parafin (Noweck, 2011).

Hal mendasar yang melatarbelakangi dibuatnya makalah ini adalah agar dapat
menambah pengetahuan tentang hal hal yang berkaitan dengan alkohol lemak,
tahap-tahap prosesnya, kondisi operasinya, dan lain- lain.
1.2

Dasar Pertimbangan
Di pasar dunia, produk oleokimia dasar yang paling banyak diperdagangkan

adalah fatty acid, disusul fatty alcohol. Pada tahun 2000, volume impor fatty acid dan
fatty alcohol dunia masing-masing mencapai 1.969.114 ton dan 710.408 ton.
Analisis perkembangan impor untuk konsumsi masing-masing produk
oleokimia dasar menunjukkan bahwa produk oleokimia dasar yang memiliki prospek
yang sangat baik adalah fatty alcohol. Impor fatty alcohol dunia meningkat tajam
dari 284.304 ton pada tahun 1996 menjadi 710.408 ton pada tahun 2000 atau naik
25,7 % / tahun.
Pasar utama produk fatty alcohol dunia pada tahun 2000 adalah Amerika
Serikat, Jepang, Perancis, Jerman, Italia, Inggris, Spanyol, Belgia, Meksiko, Belanda,
dan Brasil. Kesebelas Negara tersebut menyerap 79,6 % dari total volume impor
fatty alcohol dunia.
Amerika Serikat merupakan pasar impor fatty alcohol terbesar di dunia dengan
pangsa 16,6 % dari total impor fatty alcohol dunia, disusul oleh Jepang (10,5 %),
Inggris (8,3 %), dan Perancis (8,1 %). Dilihat dari perkembangan pangsa impor,
ternyata pasar yang cukup prospektif adalah Amerika Serikat, Italia, Inggris,
Belanda, dan Brasil. Oleh karena itu, negara-negara tersebut patut dijadikan prioritas
sebagai negara tujuan ekspor fatty alcohol Indonesia.
Prospek fatty alcohol alami diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan
sintesisnya terutama karena alasan pencemaran lingkungan dan keamanan. Deterjen
yang dibuat dari fatty alcohol alami memiliki beberapa kelebihan dibandingkan
dengan sintesisnya, karena memiliki toleransi yang tinggi terhadap kesadahan dan
lebih mudah terurai. Oleh karena itu, walaupun harga fatty alcohol alami jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan sintesisnya (rata-rata 144 % 155 %), penggunaan fatty
alcohol alami cenderung meningkat dengan laju yang lebih tinggi dibandingkan
sintesisnya.

Fatty alcohol alami di masa mendatang diperkirakan akan mendominasi


produksi fatty alcohol dunia. Pada tahun 2005 dan 2010, kontribusi fatty alcohol
alami masing-masing akan mencapai 59,4 % dan 62,8 % dari total produksi fatty
alcohol dunia. Laju peningkatan produksi fatty alcohol dunia (alami dan sintetik)
selama periode 2000-2010 diperkirakan mencapai 3,7 %. Laju peningkatan produksi
fatty alcohol alami diperkirakan lebih tinggi yaitu mencapai 5,2 % / tahun, sementara
laju peningkatan produksi sintetisnya hanya 1,6 % / tahun (Suprihatini, 2013).
Oleh karena itu, kami kelompok VII (tujuh) membahas tentang fatty alcohol
serta proses produksinya dengan tujuan menambah pengetahuan masyarakat
Indonesia agar Indonesia dapat lebih meningkatkan produksi fatty alcohol dalam
rangka memenuhi kebutuhan dunia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Contoh Pabrik (PT. Ecogreen Oleochemicals Batam Plant)


Asal kata Ecogreen terdiri dari Eco yang berarti lingkungan dan Green yang

berarti hijau dan jika digabungkan berarti lingkungan hijau. Berdiri pada tahun 1990,
yang dimana perusahaan ini bertujuan untuk ramah lingkungan (Putra, dkk., 2012).
PT. Ecogreen Oleochemicals Batam didirikan pada tahun 1991 dan diresmikan
pada tahun 1994 oleh Presiden Soeharto dengan nama PT. Batamas Megah yang
tergabung dalam Devisi Kimia Salim Group. PT. Batamas Megah berubah nama
menjadi PT. Ecogreen Oleochemicals pada tahun 2001 (Marpaung, 2011).
2.2 Teknologi yang Tersedia pada Pabrik
PT. Ecogreen Oleochemicals Batam memproduksi fatty alcohol dengan
menggunakan dua proses. Proses produksi fatty alcohol melalui jalur methyl ester
dirancang dan dibangun oleh Lurgi Gmbh dari Jerman. PT. Ecogreen Oleochemicals
Batam dengan proses Lurgi memproduksi fatty alcohol dengan kapasitas 80.000
MT / tahun. Pada 2004, dibangun proses produksi fatty alcohol melalui jalur fatty
acid yang dirancang dan dibangun oleh Davy dari Inggris. Kapasitas produksi fatty
alcohol yang dihasilkan dari proses Davy adalah 24.000 MT / tahun. Seluruh proses
dalam PT. Ecogreen Oleochemicals dilengkapi dengan Distributed Control System
(DCS) Centum XL Yokogawa untuk memastikan produk berkualitas tinggi dan sesuai
keinginan konsumen (Marpaung, 2011).
Menurut United Economic and Social Commision for Asia and Pacific
(UNESCAP 1989) dalam Technology Atlas Project, teknologi dapat dipandang dalam
konteks produksi sebagai kombinasi dari 4 komponen yang berintegrasi secara
dinamis dalam suatu proses transformasi. Dalam suatu proses transformasi, keempat
komponen teknologi diperlukan secara simultan. Tidak ada proses transformasi yang
dapat dilakukan tanpa salah satu dari komponen tersebut. Keempat komponen dasar
tersebut akan dijelaskan berikut ini :
a.

Fasilitas rekayasa yang disebut technoware, merupakan object-embodied


technology. Fasilitas rekayasa mencakup peralatan (tools), perlengkapan

(equipments), mesin-mesin (machine), alat pengangkutan (vehicles), dan


intrastruktur fisik (physical intrastructrure).
b.

Kemampuan insani, yang disebut humanware, merupakan person-embodied


technology. Kemampuan insani ini mencakup pengetahuan (knowledge),
keterampilan

(skills),

kebijakan

(wisdom),

kreatifitas

(creativity),

dan

pengalaman (experience).
c.

Informasi yang disebut infoware, merupakan document-embodied technology.


Informasi berkaitan dengan [roses (processes), prosedur (procedures), teknik
(techniques), metode (methods), teori (theory), spesifikasi (specification),
pengamatan (observation), dan keterkaitan (relationship).

d.

Organisasi,

yang

disebut

organware,

merupakan

institution-embodied

technology. Organisasi mencakup praktek-praktek manajemen (managements


practises),

linkages,

dan

pengaturan

organisasional

(organizational

arrangements).
(Sabardi, 2008).
2.2.1 Metoda Lurgi Hidrogenasi Asam Lemak
Metoda lurgi dengan proses suspensi, menimbulkan kemungkinan hidrogenasi
secara langsung asam lemak menjadi alkohol lemak yang mengatasi efek kerugian
dari fatty acid on the copper-bearing analysist. Ini dicapai dengan dua tahap reaksi.
Reaksi pertama adalah esterifikasi dari asam lemak dengan alkohol lemak
menghasilkan ester dan air. Reaksi kedua adalah hidrogenasi ester untuk
menghasilkan dua mol alkohol. Kedua reaksi memiliki persamaan di reaktor yang
sama. Volume yang besar dari alkohol lemak di proses kembali lebih dari 250 kali
umpan asam lemak, dengan efektif mengurangi umpan, asal saja untuk kondisi yang
optimum untuk laju dan esterifikasi yang kompleks.
Hidrogenasi diletakkan dalam reaktor bertekanan tinggi dimana material
dipanaskan terlebih dahulu, umpan asam lemak disirkulasi menjadi alkohol lemak
dengan menggunakan katalis, dan gas hidrogen adalah fed continuously. Reaksi ini
berlangsung kira-kira 30.000 kPa dan 280 oC. Panas dari campuran produk yang
meninggalkan reaktor didapatkan lagi dengan recirculating gas hidrogen melalui

heat

exchanger,

setelah

produk

dipisahkan

melalui

sebuah

two-stage

coolingexpansion system.
Fasa gas (pada dasarnya kelebihan gas hidrogen, sedikit alkohol mendidih \ dan
reaksi air) dipisahkan dari larutan alkohol di dalam separator panas. Pencampuran ini
didinginkan selanjutnya di cold separator, dimana the low boiling alkohol dan reaksi
air dikondensasi dan diseparasi. Gas hidrogen yang berlebih direcycle ke sistem.
Larutan alkohol dari hot separator dipompakan ke flash drum dimana penguraian
hidrogen dimulai dan direcycle dengan pemisahan hidrogen. Katalis dipisahkan dan
alkohol lemak mentah menggunakan sebuah separator sentrifugal.
Bagian dari katalis diganti dengan katalis baru yang segar untuk
mempertahankan aktivitas dan disirkulasi kembali dengan alkohol lemak. Fase
penyelesaian dan separator sentrifugal adalah melalui polishing filter untuk
menghilangkan semua sisa dari solid yang didapat. Penghasilan alkohol mentah
undergoes distilasi selanjutnya untuk menghilangkan hidrokarbon dan mungkin
mengalami fraksinasi bila diinginkan (Lubis, dkk., 2013).

Gambar 2.1 Sintesis Hidrogenasi Alkohol Lemak dari Asam Lemak Lurgi
(Lubis, dkk., 2013)

Gambar 2.2 Pemisahan Alkohol Lemak


(Lubis, dkk., 2013)
2.2.2 Produksi Fatty Alcohol Melalui Jalur Fatty Acid
Jalur fatty acid menggunakan asam lemak bebas
hasil pemurnian minyak dan pemecahan asam
lemak. Jalur ini menggunakan proses slurry Lurgi,
dimana katalis disuspensikan dalam satu siklus tipe
reaktor yang tersedia. Reaktor mengandung alkohol
lemak berlebih dan fatty acid diumpankan secara
terpisah. Keuntungan dari proses ini adalah aktivitas
katalisnya konstan.
Alternatif lain adalah fatty acids di
pre-esterifikasi dan diumpankan ke sebuah
fixed bed reaktor hidrogenasi. Telah terbukti
bahwa kombinasi pre-esterifikasi dengan
proses slurry dapat mengurangi penggunaan
katalis dibandingkan
Gambar B.1 Jalur Fatty Acid

proses slurry saja, sehingga biaya untuk katalis bisa

(Noweck, 2011)

dikurangi untuk range yang sama (Noweck, 2011).

2.2.3 Distributed Control System (DCS)


Pada umumnya, konsep kontrol otomatis termasuk penyelesaian dua operasi
utama, transmisi sinyal (arus informasi) bolak-balik dan perhitungan tindakan
kontrol (pengambilan keputusan). Untuk melaksanakan operasi ini secara real plant
membutuhkan satu set perangkat keras dan instrumentasi yang berfungsi sebagai
platform untuk tugas ini. Distributed Control System (DCS) adalah platform kontrol
yang paling modern. Ia berfungsi sebagai infrastruktur tidak hanya untuk semua
sistem kontrol strategi maju tetapi juga untuk sistem kontrol yang terendah.
Dalam pilot plants yang lebih kompleks dan skala penuh, terdapat ratusan
siklus kontrol. Untuk proses sebesar itu, Distributed Control System merupakan
pilihan yang tepat. DCS merupakan peralatan yang ampuh untuk commercial plant
sebesar apapun. Para engineer atau operator dapat segera memanfaatkan sistem
tersebut untuk :

Mengakses sejumlah besar informasi saat ini dari data highway.

Melihat kecendrungan kondisi proses sebelumnya dari penyimpanan arsip data.

Menginstall pengukuran online

bersama

dengan komputer

lokal dan

menggunakan data baru untuk mengendalikan semua siklus proses.

Alternatif kontrol standar strategi dan penyesuaian parameter pengontrol dalam


perangkat lunak.

Menerapkan ide-ide desain kontrol terbaru dalam host komputer atau pada
komputer kontrol utama.
(Suliman, dkk., 2002).

2.3

Teknologi yang Ditawarkan


Ada beberapa teknologi yang ditawarkan sebagai langkah pertimbangan dalam

mengembangkan pabrik produksi fatty alcohol ke arah yang lebih baik, yakni :
2.3.1 Investasi Mesin Baru
Seperti PT. CI yang menginvestasikan mesin baru untuk kapasitas produksi
fatty alcohol ether sulfate dan fatty alcohol sulfate di pabriknya yang berlokasi di
Cimanggis, Bogor dengan meng-upgrade kapasitas sulfanation dan menggunakan
teknologi baru yang disebut non-tower-process. Sesuai rencana strategis global CI,

PT. CI dijadikan sentra produksi fatty alcohol sulfate di kawasan Asia-Pasifik


(Baroto, 2008).
Keuntungan non tower-process ini adalah :
Biaya investasi terbatas
Fleksibilitas produksi tinggi
Konsumsi energi yang rendah
Kemudahan operasi dengan biaya instalasi yang terbatas
Kebutuhan tenaga yang rendah
Persyaratan bangunan terbatas
Dampak lingkungan diabaikan
Tidak ada limbah gas atau air
(Ballestra, 2013).
2.3.2 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBS)
Adapun pembangkit listrik tersebut berkapasitas 2 x 35 megawatt.
2.3.3 Perluasan Kapasitas Pabrik Kelapa Sawit
2.3.4 Fasilitasi Pembangunan Pabrik
(MI, 2012)
3.3.5 Pengolahan Limbah Industri Fatty Alcohol dengan Teknologi Fotokatalitik
Menggunakan Energi Surya
Fotokatalitik merupakan suatu teknologi yang menjanjikan di negara yang kaya
akan sinar matahari. Fotokatalitik dapat digunakan sebagai pretreatmen pada proses
pemurnian air limbah untuk dipergunakan kembali pada kegiatan suatu industri.
Secara ekonomi sistem reaktor dengan proses ini sangat memungkinkan untuk
digunakan. Pada proses fotokatalitik, sinar ultraviolet secara umum digunakan
sebagai sumber cahaya. Sinar ultraviolet bersama-sama dengan keberadaan katalis
sebagai penghasil OH* radikal merupakan pengoksidasi utama sehingga dihasilkan
reaksi fotokimia yang dapat mendegradasi air limbah. Adapun katalis yang diketahui
sangat efektif digunakan dalam proses fotokatalitik ini yaitu TiO2 powder dalam
larutan tersuspensi. Untuk itu perlu ditelaah pengolahan limbah industri fatty alcohol
menggunakan proses fotokatalitik (Yulianto, 2010).

BAB III
PROSES PEMBUATAN FATTY ALCOHOL DAN FATTY
ALCOHOL SULFATE SERTA ALAT YANG DIBUTUHKAN
3.1 Proses Pembuatan Fatty Alcohol yang Ditawarkan
Proses pembuatan fatty alcohol yang ditawarkan dalam makalah ini adalah
dengan menggunakan proses fixed bed dimana reaksi terjadi dalam fasa uap. Umpan
organik diuapkan dalam gas hidrogen berlebih (20 - 25 mol) melalui pemanas
sebelum melewati fixed catalyst bed. Hidrogenasi berlangsung pada takanan 20.000
-30.000 kPa dan suhu 200o 250oC. Campuran reaksi yang meninggalkan reaktor
didinginkan dan dipisahkan menjadi fasa gas dan cair. Fase gas, kebanyakan berupa
kelebihan hidrogen, direcycle, fasa cair diekspansi ke tangki untuk menghilangkan
methanol dari alkohol lemak.
Pengoperasian kondisi termasuk mudah, oleh karena itulah produksi alkohol
lemak tidak memerlukan proses selanjutnya. Hasil keseluruhannya adalah 99%
dengan hidrokarbon dan ester yang tidak melebihi 1,0%. Penggunaan katalis
diusahakan dibawah 0,3% (Priadinanta, dkk., 2010).

Gambar 4.1 Hidrogenasi Metil Ester dengan Proses Fixed Bed


(Priadinanta, dkk., 2010)

Dalam penggunaan bahan mentah, proses fixed bed memiliki hasil yang
banyak dan penggunaan katalis hanya setengahnya. Alkohol lemak yang dihasilkan
dari proses fixed bed memiliki kualitas yang tinggi. Meskipun begitu, kualitas dari
alkohol lemak yang dihasilkan oleh prosess suspensi bisa juga ditingkatkan ke
tingkat yang sama dengan distilasi selanjutnya.Proses fixed bed memerlukan sesuatu
untuk menaikkan nilai karena itu dibutuhkan bejana reaksi yang besar, pompa gas
sirkulasi, dan pipa yang tepat untuk volume yang tinggi dari penggunaan gas
hidrogen. Proses suspensi dilain sisi memerlukan penambahan peralatan untuk
pelepasan katalis, distilasi alkohol lemak mentah dan mengolah lagi metil ester.
(Priadinanta, dkk., 2010).
3.1.1 Peralatan yang Dibutuhkan
a. Preheater

: menaikan suhu umpan sebelum masuk ke reaktor.

b. Pompa

: memompakan umpan ke dalam reaktor.

c. Reaktor

: sebagai tempat terjadinya reaksi hidrogenasi dalam proses.

d. Cooler

: mendinginkan campuran reaksi yang keluar dari reaktor.

e. Separator

: memisahkan campuran reaksi menjadi fasa gas dan cair.

f. Flash Tank

: sebagai wadah untuk menampung fasa cair.

g. Gasometer

: mengatur tekanan gas.

h. Pipa

: sebagai saluran lewatnya umpan.

3.2

Proses Produksi Fatty Alcohol Sulfate sebagai Bahan Baku Pembersih


untuk Pasta Gigi
Proses produksi fatty alcohol sulfate menggunakan proses continuous. Proses

continuous menghasilkan produk surfaktan seperti sodium lauryl sulfate yang


biasanya digunakan sebagai bahan baku pembersih untuk pasta gigi. Proses
continuous yang dilaksanakan di SO3 plant memiliki urutan sebagai berikut :
a. Proses pelelehan sulfur di dalam alat pelelehan bernama melter.
b. Pembakaran sulfur menjadi SO2 dalam burner dengan udara kering.
c. Konversi SO2 menjadi SO3 dalam converter.
d. Reaksi sulfas bahan organik dengan SO3 menghasilkan acid ester.

e. Netralisasi acid ester dengan caustic soda dan air menghasilkan surfaktan yang
disebut FAS (Fatty Alcohol Sulfate).
Produk yang dipasarkan kepada konsumen dapat diproduksi dalam bentuk
pasta maupun padatan berbentuk powder maupun needle. Pasta merupakan hasil
proses SO3 plant sedangkan powder dan needle merupakan bentuk pengolahan slurry
dari SO3 plant yang diolah lebih lanjut dalam unit-unit lain. Padatan berbentuk
needle diolah dengan cara dikeringkan di dalam unit TTD (Turbo Tube Dryer)
sedangkan padatan berbentuk powder diolah di grinder (Baroto, 2008).
3.2.1 Peralatan yang Dibutuhkan
a. Melter

: untuk melelehkan sulfur.

b. Burner

: membakar sulfur menjadi SO2.

c. Converter

: mengkonversi SO2 menjadi SO3.

d. Reaktor

: sebagai tempat terjadinya reaksi sulfas dan netralisasi.

e. Pipa

: sebagai saluran lewatnya umpan.

f. Pompa

: memompakan umpan ke dalam alat selanjutnya.

g. Turbo Tube Dryer

: mengeringkan slurry menjadi padatan berupa needle.

h. Grinder

: mengolah slurry menjadi padatan berupa powder.

BAB IV
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari isi makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Alkohol lemak didefinisikan sebagai alkohol alifatik dengan panjang rantai
antara C6 dan C22. Alkohol lemak dapat diproduksi dari minyak bahan alami,
atau sintetis dari petrokimia.
2. Di pasar dunia, produk oleokimia dasar yang paling banyak diperdagangkan
adalah fatty acid, disusul fatty alcohol. Prospek fatty alcohol alami diperkirakan
lebih baik dibandingkan dengan sintesisnya terutama karena alasan pencemaran
lingkungan dan keamanan.
3. PT. Ecogreen Oleochemicals Batam memproduksi fatty alcohol dengan
menggunakan dua proses, yaitu proses Lurgi dan melalui jalur fatty acid. PT.
Ecogreen Oleochemicals dilengkapi dengan Distributed Control System (DCS)
Centum XL Yokogawa.
4. Teknologi yang ditawarkan yaitu investasi mesin baru, pembangkit listrik
tenaga biomassa (PLTB), perluasan kapasitas pabrik kelapa sawit, fasilitasi
pembangunan pabrik, dan pengolahan limbah industri fatty alcohol dengan
teknologi fotokatalitik menggunakan energi surya.
5. Proses pembuatan fatty alcohol yang ditawarkan adalah dengan menggunakan
proses fixed bed dan kemudian fatty alcohol akan dijadikan sebagai bahan baku
untuk produksi fatty alcohol sulfate dalam pembuatan bahan pembersih untuk
pasta gigi dengan menggunakan proses continuous.

DAFTAR PUSTAKA
Ballestra, Desmet. 2013. NTD (Non Tower / Agglomeration) Process. Science Behind
Technology : Canada.
Baroto, Arjo. 2008. Valuasi Business Unit Perusahaan Menggunakan Real Option
Anaysis : Option to Abandon (Studi Kasus : PT. CI). Tesis. Program
Magister Manajemen, Kekhususan Manajemen Keuangan, Fakultas
Ekonomi, Universitas Indonesia : Depok.
Lubis, Apriadi., Astrina, Dian dan Amri, Muhammad. 2013. Fatty Alcohol. Makalah
Proses Industri Petro & Oleokimia. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,
Universitas Riau : Pekanbaru.
Marpaung, Abdul Amin. 2011. Sejarah dan Gambaran PT. Ecogreen Oleochemicals
Batam Plant. Batam.
MI. 2012. Tax Holiday untuk Menarik Investasi. Majalah Industri, No. 01.
Kementerian Industri : Jakarta.
Noweck, Klaus. 2011. Production, Technologies and Applications of Fatty Alcohols.
Karlsruhe : Germany.
Priadinanta, Leri., Azzahra, Novia., Rochaeni, Ummu Aisyah., Nugraha, Feby
Pratama., Reyandi, Dovy., Annisa, Fitra. 2010. Alkohol Lemak. Tugas
Pengilangan Industri Peto dan Oleokimia. Program Studi Teknik Kimia S1,
Fakultas Teknik, Universitas Riau : Pekanbaru.
Putra, Adrian Pramana., Kuarni, Anyta Pragustia., Lishwanda, Heruwaldi.,
Nurfadhillah., Meilisa, Rafida., Nabilla., T. Widharti. 2012. PT. Ecogreen
Oleochemicals. Praktek Kerja Lapangan : Pekanbaru.
Sabardi, Wiky. 2008. Analisis Hubungan Komponen Technoware, Humanware,
Infoware, dan Organware, dengan Kepuasan Kerja Karyawan yang
Dimoderator Gaya Kepemimpinan di PT. Ecogreen Oleochemicals Medan.
Tesis. Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara : Medan.
Suliman, M. A., Ali, Emadadeen M., Alhumaizi, Khalid I., Ajbar, Abul Hameed M.
2002. Process Control in the Chemical Industries. Chemical Engineering
Departement. King Saud University : Arab Saudi.

Supihatini, Rohayati. 2013. Prospek Pasar Fatty Alcohol Menjanjikan. Lembaga


Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) : Bogor.
Yulianto, Mohamad Endy., Handayani, Dwi dan Silviana. 2010. Kajian Pengolahan
Limbah

Industri

Fatty

Alcohol

Dengan

Teknologi

Photokatalitik

Menggunakan Energi Surya. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,


Universitas Dionegoro : Semarang.