Anda di halaman 1dari 16

PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN

Hal yang pertama kali harus dilakukan dalam kegawatdaruratan dalam keracunan adalah
melakukan survey primer dan sekunder, yaitu meliputi :
1. Survey Primer
a. Resusitasi (ABCD).
Airway
Periksa klancaran jalan napas, gangguan jalan napas sering terjadi pada klien dengan
keracunan baygon, botulisme karena klien sering mengalami depresi pernapasan seperti pada
klien keracunan baygon, botulinun. Usaha untuk kelancaran jalan napas dapat dilakukan dengan
head tilt chin lift/jaw trust/nasopharyngeal airway/ pemasangan guedal.
Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien diturunkan, menggunakan jalan
napas orofaring dan pengisap. Jika ada gangguan jalan napas maka dilakukan penanganan sesuai
BHD (bantuan hidup dasar). Bebaskan jalan napas dari sumbatan bahan muntahan, lender, gigi
palsu, pangkal lidah dan lain-lain. Kalau perlu dengan Oropharyngealairway, alat penghisap
lendir. Posisi kepala ditengadahkan (ekstensi), bila perlu lakukan pemasangan pipa ETT.
Breathing = pernapasan.
Kaji keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi melalui analisa gas darah
atau spirometri. Siapkan untuk ventilasi mekanik jika terjadi depresi pernpasan. Tekanan
ekspirasi positif diberikan pada jalan napas, masker kantong dapat membantu menjaga alveoli
tetap mengembang. Berikan oksigen pada klien yang mengalami depresi pernapasan, tidak sadar
dan syock. Jaga agar pernapasan tetap dapat berlangsung dengan baik.
Circulation
Jika ada gangguan sirkulasi segera tangani kemungkinan syok yang tepat, dengan
memasang IV line, mungkin ini berhubungan dengan kerja kardio depresan dari obat yang
ditelan, pengumpulan aliran vena di ekstremitas bawah, atau penurunan sirkulasi volume darah,
sampai dengan meningkatnya permeabilitas kapiler.
Kaji TTV, kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan vena sentral
dan suhu. Stabilkan fungsi kardioaskuler dan pantau EKG
Disability (evaluasi neurologis)
Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran dan GCS, ukuran dan
reaksi pupil serta tanda-tanda vital. Penurunan kesadaran dapat terjadi pada klien keracunan
alcohol dan obat-obatan. Penurunan kesadaran dapat juga disebabkan karena penurunan
oksigenasi, akibat depresi pernapasan seperti pada klien keracunan baygon, botulinum
2. Survey Sekunder

Kaji adanya bau baygon dari mulut dan muntahan, sakit kepala, sukar bicara, sesak nafas,
tekanan darah menurun, kejang-kejang, gangguan penglihatan, hypersekresi hidung, spasme
laringks, brongko kontriksi, aritmia jantung dan syhock
Langkah selanjutnya setelah survey primer (resusitasi) dan survey skunder adalah sebagai
berikut :
1. Dekontaminasi
Merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan pemaparan terhadap racun,
mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan. Ada beberapa dekontaminasi yang perlu
dilakukan yaitu:
a. Dekontaminasi pulmonal
Dekontaminasi pulmonal berupa tindakan menjauhkan korban dari pemaparan inhalasi zat racun,
monitor kemungkinan gawat napas dan berikan oksigen 100% dan jika perlu beri ventilator.
b. Dekontaminasi mata
Dekontaminasi mata berupa tindakan untuk membersihkan mata dari racun yaitu dengan
memposisikan kepala pasien ditengadahkan dan miring ke posisi mata yang terburuk kondisinya.
Buka kelopak matanya perlahan dan irigasi larutan aquades atau NaCL 0,9% perlahan sampai zat
racunnya diperkirakan sudah hilang.
c. Dekontaminasi kulit (rambut dan kuku)
Tindakan dekontaminasi paling awal adalah melepaskan pakaian, arloji, sepatu dan aksesoris
lainnnya dan masukkan dalam wadah plastik yang kedap air kemudian tutup rapat, cuci bagian
kulit yang terkena dengan air mengalir dan disabun minimal 10 menit selanjutnya keringkan
dengan handuk kering dan lembut.
d. Dekontaminasi gastrointestinal
Penelanan merupakan rute pemaparan yang tersering, sehingga tindakan pemberian bahan
pengikat (karbon aktif), pengenceran atau mengeluarkan isi lambung dengan cara induksi
muntah atau aspirasi dan kumbah lambung dapat mengurangi jumlah paparan bahan toksik.
2. Eliminasi
Tindakan eliminasi adalah tindakan untuk mempercepat pengeluaran racun yang sedang beredar
dalam darah, atau dalam saluran gastrointestinal setelah lebih dari 4 jam. Langkah-langkahnya
meliputi :
a. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan pemberian
sirup ipecac 15 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil.
b. Katarsis, (intestinal lavage), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus
halus dan besar.
c. Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun, atau pada
penderita yang tidak kooperatif. Hasilnya paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam
4 jam setelah keracunan.
Emesis, katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi kurang
dari 4-6 jam. pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya

3.

a)

b)

c)

1.

dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi


pnemonia.
Antidotum
Pada kebanyakan kasus keracunan sangat sedikit jenis racun yang ada obat antidotumnya dan
sediaan obat antidot yang tersedia secara komersial sangat sedikit jumlahnya. Salah satu
antidotum yang bisa digunakan adalah Atropin sulfat (SA) yang bekerja menghambat efek
akumulasi AKH pada tempat penumpukannya.
Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut :
Pengobatan Pada pasien yang sadar :
Kumbah lambung
Injeksi sulfas atropin 2 mg (8 ampul) Intra muscular
30 menit kemudian berikan 0,5 mg SA (2 ampul) IM, diulang tiap 30 menit sampai terjadi
artropinisasi.
Setelah atropinisasi tercapai, diberikan 0,25 mg SA (1 ampul) IM tiap 4 jam selama 24 jam .
Pada pasien yang tidak sadar
Injeksi sulfus Atropin 4 mg intra vena (16 ampul)
30 menit kemudian berikan SA 2 mg (8 ampul) IM, diulangi setiap 30 menit sampai klien sadar.
Setelah klien sadar, berikan SA 0,5 mg (2 ampul) IM sampai tercapai atropinisasi, ditandai
dengan midriasis, fotofobia, mulut kering, takikardi, palpitasi, dan tensi terukur.
Setelah atropinisasi tercapai, berikan SA 0,25 mg (1 ampul) IM tiap 4 jam selama 24 jam.
Pada Pasien Anak
Lakukan tindakan cuci lambung atau membuat klien muntah.
Berikan nafas buatan bila terjadi depresi pernafasan dan bebaskan jalan nafas dari sumbatan
sumbatan.
Bila racun mengenai kulit atau mukosa mata, bersihkan dengan air.
Atropin dapat diberikan dengan dosis 0,015 0,05 mg / Kg BB secara intra vena dan dapat
diulangi setiap 5 10 menit sampai timbul gejala atropinisasi. Kemudian berikan dosis rumat
untuk mempertahankan atropinisasi ringan selama 24 jam.
Protopan dapat diberikan pada anak dengan dosis 0,25 gram secara intra vena sangat perlahan
lahan atau melalui IVFD
Pengobatan simtomatik dan suportif.

DEFINISI
Keracunan atau intoksikasi adalah keadaan patologik yang disebabkan oleh obat, serum,
alkohol, bahan serta senyawa kimia toksik. Keracunan juga merupakan kondisi atau keadaan
fisik yang terjadi jika suatu zat,dalam jumlah relatif sedikit, terkena zat tersebut pada permukaan
tubuh, termakan, terinjeksi, terisap atau terserap serta terakumulasi dalam organ tubuh,

tergantung sifatnya pada tulang, hati, darah atau organ lainnya sehingga akan menghasilkan efek
yang tidak diinginkan dalam jangka panjang yang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan
struktur/gangguan fungsi tubuh.
Racun adalah zat atau bahan yang bila masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung
(inhalasi), suntikan dan absorpsi melalui kulit atau digunakan terhadap organisme hidup dengan
dosis relatif kecil akan merusak kehidupan atau mengganggu dengan serius fungsi satu atau lebih
organ tubuh atau jaringan (Mc. Graw Hill Nursing Dictionary).
Menurut Taylor racun adalah setiap bahan atau zat yang dalam jumlah relatif kecil bila
masuk kedalam tubuh akan menimbulkan reaksi kimiawi yang akan menyebabkan penyakit atau
kematian . Baygon termasuk kedalam salah satu jenis racun, yaitu racun serangga (insektisida).
Berdasarkan struktur kimianya insektisida dapat digolongkan menjadi :
a) Insektisida golongan fospat organic (IFO), seperti : Malathoin, Parathion, Paraoxan , diazinon,
dan TEP.
b) Insektisida golongan karbamat, seperti : carboryl dan baygon
c) Insektisida golongan hidrokarbon yang diklorkan, seperti : DDT endrin, chlordane, dieldrin dan
lindane.
Keracunan akibat insektisida biasanya terjadi karena kecelakaan dan percobaan bunuh
diri , jarang sekali akibat pembunuhan .
2.

PATOFISIOLOGIS
Insektisida ini bekerja dengan menghambat dan menginaktivasikan enzim
asetilkolinesterase. Enzim ini secara normal menghancurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh
susunan saraf pusat, gangglion autonom, ujung-ujung saraf parasimpatis, dan ujung-ujung saraf
motorik. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar asetilkolin
pada tempat-tempat tersebut.
Asetilkholin itu bersifat mengeksitasi dari neuron neuron yang ada di post sinaps,
sedangkan asetilkolinesterasenya diinaktifkan, sehingga tidak terjadi adanya katalisis dari asam
asetil dan kholin. Terjadi akumulasi dari asetilkolin di sistem saraf tepi, sistem saraf pusatm
neomuscular junction dan sel darah merah, Akibatnya akan menimbulkan hipereksitasi secara
terus menerus dari reseptor muskarinik dan nikotinik.
Didalam kasus kita ini menyangkut keracunan baygon, perlu diketahui dulu bahwa
didalam baygon itu terkandung 2 racun utama yaitu Propoxur dan transfluthrin. Propoxur adalah
senyawa karbamat yang merupakan senyawa Seperti organofosfat tetapi efek hambatan cholin
esterase bersivat reversibel dan tidak mempunyai efek sentral karena tidak dapat menembus
blood brain barrier. Gejala klinis sama dengan keracunan organofosfat tetapi lebih ringan dan
waktunya lebih singkat. Penatalaksanaannya juga sama seperti pada keracunan organofosfat.
Dampak terbanyak dari kasus ini adalah pada sistem saraf pusat yang akan
mengakibatkan penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskuler
mungkin juga terganggu, sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh
darah perifer, dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular di otak. Hipotensi yang

terjadi mungkin berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal,
hipotermia terjadi bila ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas syok
mungkin tidak tampak karena adanya depresi sistem saraf pusat dan hipotermia, Hipotermia
yang terjadi akan memperberat syok, asidemia, dan hipoksia
3.

CARA KERJA RACUN


Bila dilihat dari cara kerjanya, maka insektisida golongan fospat organik dan golongan
karbamat dapat dikategorikan dalam antikolinesterase (Cholynesterase inhibitor insektisida),
sehingga keduanya mempunyai persamaan dalam hal cara kerjanya , yaitu merupakan inhibitor
yang langsung dan tidak langsung terhadap enzim kholinesterase.
Racun jenis ini dapat diabsorbsi melalui oral, inhalasi, dan kulit. Masuk ke dalam tubuh
dan akan mengikat enzim asetilkholinesterase ( AChE ) sehingga AChE menjadi inaktif maka
akan terjadi akumulasi dari asetilkholin. Dalam keadaan normal enzim AChE bekerja untuk
menghidrolisis arakhnoid (AKH ) dengan jalan mengikat Akh AChE yang bersifat inaktif. Bila
konsentrasi racun lebih tinggi akibatnya akan terjadi penumpukan AKH ditempat-tempat
tertentu, sehingga timbul gejala gejala berupa ransangan AKH yang berlebihan yang akan
menimbulkan efek muscarinik, nikotinik dan SSP (menimbulkan stimulasi kemudian depresi
SSP)
Pada keracunan IFO, ikatan-ikatan IFO AChE bersifat menetap (ireversibel), sedangkan
keracunan carbamate ikatannya bersifat sementara (reversible ). Secara farmakologis efek AKH
dapat dibagi 3 golongan :
a) Muskarini, terutama pada saluran pencernaan, kelenjar ludah dan keringat, pupil, bronkus dan
jantung.
b) Nikotinik, terutama pada otot-otot skeletal, bola mata, lidah, kelopak mata dan otot pernafasan.
c) SSP, menimbulkan nyeri kepala, perubahan emosi, kejang-kejang (konvulsi) sampai koma

1.
2.
3.
4.
5.
4.

Kita dapat menduga terjadinya keracunan dengan golongan ini jika :


Gejalagejala timbul cepat, bila > 6 jam jelas bukan keracunan dengan insektisida golongan ini.
Gejalagejala progresif, makin lama makin hebat, sehingga jika tidak segera mendapatkan
pertolongan dapat berakibat fatal, terjadi depresi pernafasan dan blok jantung.
Gejalagejala tidak dapat dimasukkan kedalam suatu sindroma penyakit apapun, gejala dapat
seperti gastroenteritis, ensephalitis, pneumonia, Dan lain-lain.
Dengan terapi yang lazim tidak menolong.
Pada pemeriksaan anamnesa ada kontak dengan keracunan golongan ini.
GAMBARAN KLINIS

Tanda dan gejala yang mungkin timbul akibat reaksi keracunan adalah gangguan
penglihatan , gangguan pernafasan dan hiper aktif gastrointestinal. Untuk jenis keracunan akut
dan kronis memiliki tanda dan gejala yang berbeda-beda, seperti yang dijelaskan di bawah ini :
a. Keracunan Akut

Tanda dan gejala timbul dalam waktu 3060 menit dan mencapai maksimum dalam 28

jam.
Keracunan ringan : Anoreksia, sakit kepala, pusing, lemah, ansietas, tremor lidah dan kelopak
mata, miosis, penglihatan kabur.
Keracunan Sedang : Nausia, Salivasi, lakrimasi, kram perut, muntah muntah, keringatan, nadi
lambat dan fasikulasi otot.
Keracunan Berat : Diare, pin point, pupil tidak bereaksi, sukar bernafas, edema paru, sianons,
kontrol spirgter hilang, kejang kejang, koma, dan blok jantung.

b. Keracunan Kronik
Penghambatan kolinesterase akan menetap selama 26 minggu (organofospat ) . Untuk
karbamat ikatan dengan AchE hanya bersifat sementara dan akan lepas kembali setelah beberapa
jam (reversibel ) . Keracunan kronis untuk karbomat tidak ada.
Gejalagejala bila ada dapat menyerupai keracunan akut yang ringan, tetapi bila
eksposure lagi dalam jumlah yang kecil dapat menimbulkan gejalagejala yang berat. Kematian
biasanya terjadi karena kegagalan pernafasan, dan pada penelitian menunjukkan bahwa segala
keracunan mempunyai korelasi dengan perubahan dalam aktivitas enzim kholinesterase yang
terdapat pada pons dan medulla ( Bajgor dalam Rohim, 2001). Kegagalan pernafasan dapat pula
terjadi karena adanya kelemahan otot pernafasan, spasme bronchus dan edema pulmonum.
5.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1) Pemeriksaan rutin tidak banyak menolong
2) Pemeriksaan khusus, misalnya pengukuran kadar AChE dalam sel darah merah dan plasma,
penting untuk memastikan diagnosis keracunan akut maupun kronik.
a. Keracunan akut :
Ringan 40 70 % N
Sedang 20 % N
Berat < 20 % N
b. Keracunan kronik : bila kadar AChE menurun sampai 25 50 %, setiap individu yang
berhubungan dengan insektisida ini harus segera disingkirkan dan baru diizinkan bekerja
kembali bila kadar AChE telah meningkat > 75 % N.
3) Pemeriksaan PA
Pada keracunan acut, hasil pemeriksaan patologi biasanya tidak khas. Sering hanya ditemukan
edema paru, dilatasi kapiler, hiperemi paru,otak dan organ-oragan lainnya.

6.

PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN
Hal yang pertama kali harus dilakukan dalam kegawatdaruratan dalam keracunan adalah
melakukan survey primer dan sekunder, yaitu meliputi :

1. Survey Primer
a. Resusitasi (ABCD).
Airway
Periksa klancaran jalan napas, gangguan jalan napas sering terjadi pada klien dengan
keracunan baygon, botulisme karena klien sering mengalami depresi pernapasan seperti pada
klien keracunan baygon, botulinun. Usaha untuk kelancaran jalan napas dapat dilakukan dengan
head tilt chin lift/jaw trust/nasopharyngeal airway/ pemasangan guedal.
Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien diturunkan, menggunakan jalan
napas orofaring dan pengisap. Jika ada gangguan jalan napas maka dilakukan penanganan sesuai
BHD (bantuan hidup dasar). Bebaskan jalan napas dari sumbatan bahan muntahan, lender, gigi
palsu, pangkal lidah dan lain-lain. Kalau perlu dengan Oropharyngealairway, alat penghisap
lendir. Posisi kepala ditengadahkan (ekstensi), bila perlu lakukan pemasangan pipa ETT.
Breathing = pernapasan.
Kaji keadekuatan ventilasi dengan observasi usaha ventilasi melalui analisa gas darah
atau spirometri. Siapkan untuk ventilasi mekanik jika terjadi depresi pernpasan. Tekanan
ekspirasi positif diberikan pada jalan napas, masker kantong dapat membantu menjaga alveoli
tetap mengembang. Berikan oksigen pada klien yang mengalami depresi pernapasan, tidak sadar
dan syock. Jaga agar pernapasan tetap dapat berlangsung dengan baik.
Circulation
Jika ada gangguan sirkulasi segera tangani kemungkinan syok yang tepat, dengan
memasang IV line, mungkin ini berhubungan dengan kerja kardio depresan dari obat yang
ditelan, pengumpulan aliran vena di ekstremitas bawah, atau penurunan sirkulasi volume darah,
sampai dengan meningkatnya permeabilitas kapiler.
Kaji TTV, kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan vena sentral
dan suhu. Stabilkan fungsi kardioaskuler dan pantau EKG
Disability (evaluasi neurologis)
Pantau status neurologis secara cepat meliputi tingkat kesadaran dan GCS, ukuran dan
reaksi pupil serta tanda-tanda vital. Penurunan kesadaran dapat terjadi pada klien keracunan
alcohol dan obat-obatan. Penurunan kesadaran dapat juga disebabkan karena penurunan
oksigenasi, akibat depresi pernapasan seperti pada klien keracunan baygon, botulinum
2. Survey Sekunder
Kaji adanya bau baygon dari mulut dan muntahan, sakit kepala, sukar bicara, sesak nafas,
tekanan darah menurun, kejang-kejang, gangguan penglihatan, hypersekresi hidung, spasme
laringks, brongko kontriksi, aritmia jantung dan syhock
Langkah selanjutnya setelah survey primer (resusitasi) dan survey skunder adalah sebagai
berikut :

1. Dekontaminasi
Merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan pemaparan terhadap racun,
mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan. Ada beberapa dekontaminasi yang perlu
dilakukan yaitu:
a. Dekontaminasi pulmonal
Dekontaminasi pulmonal berupa tindakan menjauhkan korban dari pemaparan inhalasi zat racun,
monitor kemungkinan gawat napas dan berikan oksigen 100% dan jika perlu beri ventilator.
b. Dekontaminasi mata
Dekontaminasi mata berupa tindakan untuk membersihkan mata dari racun yaitu dengan
memposisikan kepala pasien ditengadahkan dan miring ke posisi mata yang terburuk kondisinya.
Buka kelopak matanya perlahan dan irigasi larutan aquades atau NaCL 0,9% perlahan sampai zat
racunnya diperkirakan sudah hilang.
c. Dekontaminasi kulit (rambut dan kuku)
Tindakan dekontaminasi paling awal adalah melepaskan pakaian, arloji, sepatu dan aksesoris
lainnnya dan masukkan dalam wadah plastik yang kedap air kemudian tutup rapat, cuci bagian
kulit yang terkena dengan air mengalir dan disabun minimal 10 menit selanjutnya keringkan
dengan handuk kering dan lembut.
d. Dekontaminasi gastrointestinal
Penelanan merupakan rute pemaparan yang tersering, sehingga tindakan pemberian bahan
pengikat (karbon aktif), pengenceran atau mengeluarkan isi lambung dengan cara induksi
muntah atau aspirasi dan kumbah lambung dapat mengurangi jumlah paparan bahan toksik.
2. Eliminasi
Tindakan eliminasi adalah tindakan untuk mempercepat pengeluaran racun yang sedang beredar
dalam darah, atau dalam saluran gastrointestinal setelah lebih dari 4 jam. Langkah-langkahnya
meliputi :
a. Emesis, merangsang penderita supaya muntah pada penderita yang sadar atau dengan pemberian
sirup ipecac 15 30 ml. Dapat diulang setelah 20 menit bila tidak berhasil.
b. Katarsis, (intestinal lavage), dengan pemberian laksan bila diduga racun telah sampai diusus
halus dan besar.
c. Kumbah lambung atau gastric lavage, pada penderita yang kesadarannya menurun, atau pada
penderita yang tidak kooperatif. Hasilnya paling efektif bila kumbah lambung dikerjakan dalam
4 jam setelah keracunan.
Emesis, katarsis dan kumbah lambung sebaiknya hanya dilakukan bila keracunan terjadi kurang
dari 4-6 jam. pada koma derajat sedang hingga berat tindakan kumbah lambung sebaiknya
dukerjakan dengan bantuan pemasangan pipa endotrakeal berbalon,untuk mencegah aspirasi
pnemonia.
3. Antidotum
Pada kebanyakan kasus keracunan sangat sedikit jenis racun yang ada obat antidotumnya dan
sediaan obat antidot yang tersedia secara komersial sangat sedikit jumlahnya. Salah satu

antidotum yang bisa digunakan adalah Atropin sulfat (SA) yang bekerja menghambat efek
akumulasi AKH pada tempat penumpukannya.
Adapun prosedurnya adalah sebagai berikut :
a) Pengobatan Pada pasien yang sadar :
Kumbah lambung
Injeksi sulfas atropin 2 mg (8 ampul) Intra muscular
30 menit kemudian berikan 0,5 mg SA (2 ampul) IM, diulang tiap 30 menit sampai terjadi
artropinisasi.
Setelah atropinisasi tercapai, diberikan 0,25 mg SA (1 ampul) IM tiap 4 jam selama 24 jam .
b) Pada pasien yang tidak sadar
Injeksi sulfus Atropin 4 mg intra vena (16 ampul)
30 menit kemudian berikan SA 2 mg (8 ampul) IM, diulangi setiap 30 menit sampai klien sadar.
Setelah klien sadar, berikan SA 0,5 mg (2 ampul) IM sampai tercapai atropinisasi, ditandai
dengan midriasis, fotofobia, mulut kering, takikardi, palpitasi, dan tensi terukur.
Setelah atropinisasi tercapai, berikan SA 0,25 mg (1 ampul) IM tiap 4 jam selama 24 jam.
c) Pada Pasien Anak
Lakukan tindakan cuci lambung atau membuat klien muntah.
Berikan nafas buatan bila terjadi depresi pernafasan dan bebaskan jalan nafas dari sumbatan
sumbatan.
Bila racun mengenai kulit atau mukosa mata, bersihkan dengan air.
Atropin dapat diberikan dengan dosis 0,015 0,05 mg / Kg BB secara intra vena dan dapat
diulangi setiap 5 10 menit sampai timbul gejala atropinisasi. Kemudian berikan dosis rumat
untuk mempertahankan atropinisasi ringan selama 24 jam.
Protopan dapat diberikan pada anak dengan dosis 0,25 gram secara intra vena sangat perlahan
lahan atau melalui IVFD
Pengobatan simtomatik dan suportif.
7.

8.

PROGNOSIS
Prognosis dari kasus ini pada umumnya baik, bila pengobatan dilakukan secepat
mungkin, namun akan berdampak fatal hingga pada kematian jika terjadi kesalahan dalam
pengobatan. Beberapa kesalahan pengobatan yang sering terjadi, berupa :
Resusitasi kurang baik dikerjakan.
Eliminasi racun kurang baik.
Dosis atropin kurang adekuat, atau terlalu cepat dihentikan.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang bisa muncul pada kasus ini diantaranya adalah:

a.
b.
c.
d.
e.

Shock
Henti nafas
Henti jantung
Kejang
Koma

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


INSEKTISIDA JENIS BAYGON
1.

PADA PASIEN

DENGAN

KERACUNAN

PENGKAJIAN

a)
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengkajian difokusakan pada masalah yang mendesak seperti jalan nafas dan sirkulasi
yang mengancam jiwa, adanya gangguan asam basa, keadaan status jantung, status kesadaran.
Riwayat kesadaran : riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama
diketahui setelah keracunan,ada masalah lain sebagi pencetus keracunan dan sindroma toksis
yang ditimbulkan dan kapan terjadinya.
Hasil pemeriksaan fisik yang mungkin pada setiap sistem tubuh diantaranya adalah :
Tanda-tanda vital
Distress pernapasan
Sianosis
Takipnoe, dispnea
Hipoksia
Peningkatan frekuensi
Kusmaul

b) Neurologi
IFO menyebabkan tingkat toksisitas SSP lebih tinggi, efek-efeknya termasuk letargi, peka
rangsangan, pusing, stupor & koma.
c) Sirkulasi
Tanda : Nadi lemah (hipovolemia), takikardi, hipotensi (pada kasus berat), aritmia jantung, pucat,
sianosis, keringat banyak.
d) GI Tract
Iritasi mulut, rasa terbakar pada selaput mukosa mulut dan esofagus, mual dan muntah.
e) Kardiovaskuler
Disritmia.

f)

Dermal
Iritasi kulit

g) Okuler (Mata)
Luka bakar kornea
Pada pemeriksaan ADL (Activity Daily Living) data yang mungkin muncul adalah sebagai
berikut :
1. Aktifitas dan istirahat
Gejala : Keletihan,kelemahan,malaise
Tanda : Kelemahan,hiporefleksi
2. Makanan Cairan
Gejala : Dehidrasi, mual , muntah, anoreksia,nyeri uluhati
Tanda : Perubahan turgor kulit/kelembaban,berkeringat banyak
3. Eliminasi
Gejala : Perubahan pola berkemih,distensi vesika urinaria,bising usus menurun,kerusakan ginjal.
Tanda : Perubahan warna urin contoh kuning pekat,merah,coklat
4. Nyaman/ nyeri
Gejala : Nyeri tubuh, sakit kepala
Tanda : Perilaku berhati-hati/distraksi,gelisah
5. Keamanan
Gejala
:
Penurunan
tingkat
kesadaran,

1.
2.
3.
4.
2.

koma,

syok,

asidemia

Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil sebagai berikut :


Eritrosit menurun
Proteinuria
Hematuria
Hipoplasi sumsum tulang
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Adapun diagnosa keperawatan yang mengkin timbul adalah :


1. Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pernapasan akibat efek langsung dari
intoksikasi baygon
2. Resiko gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
3. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat

3.

INTERVENSI
1. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan depresi pernapasan akibat efek langsung dari
toksisitas baygon
Tujuan
: Mempertahankan keefektifan pola nafas
Kriteria hasil : RR dalam batas normal, jalan nafas bersih, sputum tidak ada
Intervensi
Rasional
Pantau tingkat, irama pernapasan & Efek insektisida mendepresi SSP yang
suara napas serta pola pernapasan
mungkin
dapat
mengakibatkan
hilangnya kepatenan aliran udara atau
depresi pernapasan, pengkajian yang
berulang kali sangat penting karena
kadar toksisitas mungkin berubah-ubah
secara drastis.
Tinggikan kepala tempat tidur
Menurunkan kemungkinan aspirasi,
diafragma bagian bawah untuk
menigkatkan inflasi paru.
Dorong untuk batuk/ nafas dalam
Memudahkan
ekspansi
paru
&
mobilisasi sekresi untuk mengurangi
resiko atelektasis/pneumonia.
Auskultasi suara napas
Pasien
beresiko
atelektasis
dihubungkan dengan hipoventilasi &
pneumonia.
Berikan O2 jika dibutuhkan
Hipoksia mungkin terjadi akibat depresi
pernapasan
Kolaborasi untuk sinar X dada, Blood Memantau kemungkinan munculnya
Gas Analysis
komplikasi
sekunder
seperti
atelektasis/pneumonia,
evaluasi
kefektifan dari usaha pernapasan.
2. Resiko gangguan keseimbangan cairan berhubungan dengan output yang berlebihan

Tujuan
: Kekurangan cairan tidak terjadi
Kriteria hasil :
Tanda-tanda vital stabil
Turgor kulit stabil
Membran mukosa lembab
Pengeluaran urine normal 1 2 cc/kg BB/jam

Intervensi
Rasional
Monitor pemasukan dan pengeluaran Dokumentasi yang akurat dapat
cairan.
membantu dalam mengidentifikasi
pengeluran dan penggantian cairan.
Monitor suhu kulit, palpasi denyut Kulit dingain dan lembab, denyut yang
perifer.
lemah mengindikasikan penurunan
sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk
pengantian cairan tambahan.
Observasi adanya mual, muntah, Mual, muntah dan perdarahan yang
perdarahan
berlebihan dapat mengacu pada
hipordemia.
Pantau tanda-tanda vital
Hipotensi, takikardia, peningkatan
pernapasan
mengindikasikan
kekurangan
cairan
(dehindrasi/hipovolemia).
Kolaborasi dengan tim medis dalam Cairan parenteral dibutuhkan untuk
pemberian cairan parenteral
mendukung volume cairan /mencegah
hipotensi.
Kolaborasi dalam pemberian antiemetik Antiemetik
dapat
menghilangkan
mual/muntah yang dapat menyebabkan
ketidak seimbangan pemasukan.
Berikan kembali pemasukan oral secara Pemasukan peroral bergantung kepada
berangsur-angsur.
pengembalian fungsi gastrointestinal.
Pantau studi laboratorium (Hb, Ht).
Sebagai indikator untuk menentukan
volume sirkulasi dengan kehilanan
cairan.
3. Penurunan kesadaran berhubungan dengan depresi sistem saraf pusat

Tujuan
: Tingkat kesadaran klien dapat dipertahankan
Kriteria hasil :
Kesadaran composmentis (GCS : 15)
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi
Monitor vital sign tiap 15 menit

Rasional
Bila ada perubahan yang bermakna
merupakan
indikasi
penurunan
kesadaran
Observasi tingkat kesadaran pasien
Penurunan kesadaran sebagai indikasi
penurunan aliran darah otak
Kaji adanya tanda-tanda distress Gejala tersebut merupakan manifestasi

pernapasan, nadi cepat, sianosis dan


kolapsnya pembuluh darah
Monitor adanya perubahan tingkat
kesadaran

dari perubahan pada otak, ginjal,


jantung dan paru.
Tindakan umum yang bertujuan untuk
keselamatan hidup, meliputi resusitasi :
Airway, breathing, sirkulasi
Kolaborasi dengan tim medis dalam Anti dotum (penawar racun) dapat
pemberian anti dotum
membantu
mengakumulasi
penumpukan racun

DAFTAR PUSTAKA
Abadi, Nur. 2008. Buku Panduan Pelatihan BC & TLS (Basic Cardiac & Trauma Life
Support). Jakarta : EMS 119
Blantan, Kamanti Indriyani. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Keracunan
Insektisida. (Online : http://id.scribd.com/doc/94941402/ASKEP-Intoksikasi-Baygon) Diakses
tanggal 14 Maret 2014
Isma. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Kasus Intoksikasi. (Online : http://keperawatanwn.blogspot.com/2012/10/asuhan-keperawatan-pada-kasus.html) Diakses tanggal 14 Maret 2014
Sahid, Abdul. 2013. LP dan Askep Klien Keracunan IFO Baygon. (Online :
http://abuzzahra1980.blogspot.com/2013/07/lp-dan-askep-klien-keracunan-ifo-baygon.html)
Diakses tanggal 14 Maret 2014
Zasika,
Hartas.
2011.
Keeacunan
Baygon.
(Online
:
http://ja.scribd.com/doc/152390019/KERACUNAN-BAYGON-1) Diakses tanggal 14 Maret
2014.
Diposkan oleh Nora DwiRara di 9.03.00 PM
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Keracunan Minuman Keras Oplosan


Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 71/M-IND/PER/7/2012
tentang Pengendalian dan Pengawasan Industri Minuman Beralkohol. Pada Permenperind
tersebut dijelaskan bahwa minuman beralkohol merupakan minuman yang mengandung etanol
(C2H5OH), dengan klasifikasi golongan A dengan kadar etanol 1-5 %; golongan B dengan kadar
etanol 5-20 %; dan golongan C dengan kadar etanol 20-55 %.

Walaupun dalam kadar seperti yang disebutkan di atas merupakan minuman yang dapat secara
legal dikonsumsi, namun perlu diperhatikan bahwa mengkonsumsi etanol dalam jangka panjang
dapat menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan. Etanol yang masuk ke dalam tubuh
dapat segera diabsorbsi di lambung (20%) dan usus halus (80%) serta terdistribusi dalam cairan
tubuh. Di dalam hati, enzim alkohol dehidrogenase akan memetabolisme etanol menjadi
asetaldehid yang bersifat toksik. Oleh enzim asetaldehid dehidrogenase, asetaldehid diubah
menjadi asam asetat, yang melalui siklus Krebs akhirnya menghasilkan karbondioksida dan air.
Etanol bersifat dapat menekan sistem saraf pusat dan dapat menyebabkan hipoglisemia, terutama
pada anak-anak dan orang yang menderita kekurangan gizi. Selain itu, mengkonsumsi etanol
juga dapat menyebabkan hipotermia, gangguan saluran cerna, sistem saraf, serta metabolisme.
Terkait dengan efek terhadap kesehatan pula, pemerintah telah melarang perusahaan industri
minuman beralkohol melakukan proses produksi minuman beralkohol dengan cara pencampuran
dengan alkohol teknis dan/atau bahan kimia berbahaya lainnya. Namun, pihak tertentu seringkali
sengaja mencampur minuman beralkohol dengan bahan lain karena alasan biaya. Metanol
merupakan bahan yang seringkali digunakan sebagai pengganti etanol atau dicampurkan dalam
minuman beralkohol karena harga minuman beralkohol ilegal relatif lebih murah daripada
minuman beralkohol legal. Tindakan seperti ini sangatlah berbahaya.
Metanol merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk berbagai keperluan industri,
misalnya larutan pembersih kaca, penghilang cat (paint removers), cairan pada mesin fotokopi,
dan bahan aditif pada bahan bakar (octane booster). Keracunan metanol dapat menimbulkan
gangguan kesadaran, serta metabolitnya dapat menyebabkan asidosis metabolik, kebutaan,
bahkan kematian setelah periode laten 6-30 jam.
Metanol yang masuk ke dalam tubuh dapat segera terabsorbsi dan terdistribusi ke dalam cairan
tubuh. Secara perlahan metanol dimetabolisme di dalam hati oleh enzim alkohol dehidrogenase
membentuk formaldehid, lalu oleh enzim aldehid dehidrogenase dimetabolisme membentuk
asam format. Kedua metabolit tersebut merupakan senyawa beracun bagi tubuh, terutama asam
format yang selain dapat menyebabkan asidosis metabolik juga dapat menyebabkan kebutaan
permanen.
Pada penatalaksanaan keracunan metanol dapat diberikan antidotum berupa etanol atau
fomepizol. Etanol dan fomepizol dapat menghambat aktivitas enzim alkohol dehidrogenase
sehingga dapat mencegah konversi metanol menjadi metabolit yang toksik. Namun, sediaan
etanol pharmaceutical-grade serta fomepizol belum tersedia di Indonesia. Sebagai terapi
tambahan dapat pula diberikan asam folat, asam folinat, atau thiamin yang dapat berfungsi
sebagai kofaktor dalam pembentukan metabolit non-toksik.

Untuk lebih jelasnya dapat kita beri contoh. Pasien triase merah diantaranya pasien dengan
keadaan gawat darurat kecelakaan, patah tulang, perdarahan otak dan luka bakar, stroke, jantung
dan gagal nafas dan tidak sadar.
Pasien dengan tanda kuning seperti pasien dengan penyakit infeksi luka ringan, usus buntu, patah
tulang, luka bakar ringan. Pasien yang mendapat tanda hijau adalah pasien dengan kondisi
kesehatan yang masih dapat ditunda pelayanan, misalkan benturan memar di permukaan kulit,
luka lecet, tertusuk duri, dan demam ringan, radang lambung.
Sedangkan pasien dengan tanda triage hitam adalah pasien yang tidak memungkinkan memiliki
harapan hidup kendati dilakukan tindakan medis. Misalnya pasien dengan kondisi kerusakan
berat dari seluruh organ penting tubuh, misalnya akibat kecelakaan, bencana alam dan luka
bakar. Seorang dokter atau tenaga kesehatan IGD harus peka menggunakan kemampuan mata,
telinga, indra peraba, lebih peka, tanggap situasi, cepat dan tepat dalam menilai perubahan
mendadak pasien IGD, sebab sewaktu waktu kondisi status triase bisa berubah.
Batasan yang dimaksud dengan pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari
pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (imediatlely) untuk
menyelamatkan kehidupannya (life saving). Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
gawat darurat disebut dengan nama Unit Gawat Darurat (emergency Unit.