Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kondisi perekonomian nasional yang saat ini masih belum pulih akibat terjadinya krisis
moneter berkepanjangan menyebabkan kalangan dunia usaha belum bisa bangkit seperti sedia
kala. Ditambah lagi dengan adanya resesi ekonomi dalam skala global dewasa ini yang
berdampak pada kegiatan perekonomian nasional, baik dalam skala makro maupu mikro.
Sebagai konsekuensi dari guncangan ekonomi tersebut banyak perusahaan yang terpaksa
ditutup / dilikuidasi karena kelangsungan usahanya tidak dapat dipertahankan. Hal tersebut
berimbas pula terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Salah satu masalah yang menyebabkan BUMN di masa lalu kurang mampu menunjukkan
prestasi bisnisnya adalah kurang jelasnya arah kebijakan BUMN. Sejak dibentuknya Kementrian
Negara BUMN di tahun 1998, arah itu mulai Nampak, dan semakin jelas ketika diterbitkan UU
No. 19/2003 tentang BUMN.

Dibentuknya Kementrian Negara BUMN adalah untuk lebih menegakkan peran


Pemerintah sebagai kuasa pemegang saham/pemilik BUMN yang terpisah dengan peran
pemerintah yang berfungsi sebagai regulator. Sedangkan UU No. 19/2003 telah menegaskan
pembedaan peran antara pemilik, regulator, dan supervisior, dan operator. Untuk bank BUMN,
misalnya pemilik adalah pemerintah melalui Menteri BUMN, regulator dan supervisor adalah
Bank Indonesia, dan bagi yang sudah go public, supervisor lain adalah Menteri Keuangan
melalui Badan Pengawasan Pasar Modal, sedangkan operator adalah Dewan Direksi yang
diawasi oleh Dewan Komisaris. Dengan adanya pemisahan-pemisahan ini, maka intervensi
politik dan birokrasi semakin dapat diminimalisir, sehingga profesionalitas menajemen BUMN
dapat semakin dioptimalkan.

Agenda dari setiap BUMN adalah melakukan perubahan. Setiap saat tuntutan bisnis
berubah, dan BUMN harus berubah menyesuaikan diri dan mengantisipasi tantangan di masa
depan. Perubahan pun tidak identik dengan penggantian, namun bisa juga dengan inovasi atau
penyempurnaan. Termasuk didalamnya mengembangkan kapasitas terpasang, hingga fine-tuning
proses bisnis, merupakan upaya perubahan.

Namun, BUMN-BUMN yang berada pada kondisi kritis perlu untuk dilakukan perubahan
secara mendasar, atau restrukturisasi, yaitu penataan ulang secara mendasar. Jumlah BUMN
dibawah pembinaan Menteri Keuangan & Pemberdayaan (d/h Meneg PM&PBUMN) pada tahun
1998 secara keseluruhan apabila dihitung dengan anak perusahaan dan cucu BUMN bisa
mencapai 1000 perusahaan. Total asset yang dikelola BUMN sekitar Rp. 500 triliun (akhir tahun
1999) dan bergerak hampir di seluruh bidang aktivitas ekonomi. Mengingat BUMN memegang
peranan yang penting dan turut mempengaruhi kinerja perekonomian nasional, maka BUMN
perlu dikelola dengan efektif dan efisien berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance (GCG)., yaitu Transparansi (Transparency), Pengungkapan (Disclosure) atau
Fairness, Akuntabilitas (Accountability) dan Legalitas (Legality). Untuk menuju program
restrukturisasi dan privatisasi BUMN diperlukan terbentuknya corporate governance.

Menteri BUMN dalam berbagai kesempatan menyatakan untuk tidak memberikan


penekanan pada kebijakan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang menjadi
strategi terdepan pengelolaan BUMN selama lima tahun terakhir ini. Dalam Master Plan
Sebaliknya, orientasi atau fokus perhatian dari Kantor Kementerian BUMN dalam lima tahun
mendatang adalah bagaimana agar setiap BUMN berupaya untuk selalu terus menerus
menciptakan dan meningkatkan nilai (value creation and improving) perusahaan agar mampu
meraih keuntungan (profitabilitas) yang sebesar-besarnya dan mampu meningkatkan kuantitas
serta kualitas, baik produk dan layanan kepada konsumen dan masyarakat. Ini menunjukkan
bahwa restrukturisasi BUMN, sebagai salah satu kebijakan pokok Kementerian BUMN, telah
dipilih sebagai strategi utama untuk perbaikan kinerja perusahaan-perusahaan milik negara.

Beberapa pihak mengemukakan pesimismenya terhadap proses restrukturisasi yang


dipilih pemerintah untuk mengelola BUMN. Beberapa argumen yang terangkum adalah proses
restrukturisasi BUMN akan membutuhkan proses yang lama dan ongkos yang besar, karena
kurangnya dukungan politik yang kuat dan berkesinambungan,. Selain itu tidak adanya
keprihatinan (sense of crisis) pada pemilik saham dan manajer BUMN tentang urgennya
restrukturisasi BUMN yang merupakan prasyarat penting dilakukannya restrukturisasi.
Sedikitnya jumlah manajer Indonesia yang memiliki kompetensi profesional merestrukturisasi
perusahaan juga dikatakan akan menyulitkan proses restrukturisasi BUMN. Restrukturisasi
BUMN juga akan menumbuhkan perlawanan sengit yang kemungkinan besar akan timbul dari
pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan adanya restrukturisasi BUMN dan adanya pemimpin
perusahaan yang memanfaatkan proses restrukturisasi untuk kepentingan sendiri .

Kekhawatiran-kekhawatiran tersebut cukup wajar melihat bagaimana pemerintah


memperlakukan BUMN selama ini, walaupun mungkin perlu dilakukan riset yang lebih
komprehensif untuk mendapatkan data pendukung untuk beberapa argumen yang disampaikan.
Selain itu argumen-argumen yang ada masih menyisakan pertanyaan tentang alternatif strategi
yang perlu dipertimbangkan Kementerian BUMN, baik untuk memudahkan proses
restrukturisasi tersebut maupun sebagai pengganti strategi restrukturisasi itu sendiri. Kemudian,
dalam keadaan Kementerian BUMN sudah berbulat tekad untuk melakukan restrukturisasi
BUMN, akan lebih baik jika kita memikirkan langkah-langkah yang perlu dilakukan agar
restrukturisasi perusahaan-perusahaan milik negara tersebut dapat dilakukan dengan baik,
daripada bersikap pesimis.

BAB II
PEMBAHASAN

I. BUMN

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi
dalam perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi. Badan Usaha Milik Negara
mempunyai peranan penting dalam penyelenggaraan perekonomian nasional guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat, khususnya dalam perekonomian nasional untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakat yang belum optimal.
Sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang 19/2003, BUMN adalah badan usaha
yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara
langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Kekayaan negara yang dipisahkan
adalah kekayaan negara yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
untuk dijadikan penyertaan modal negara pada Persero dan/atau Perum serta perseroan terbatas
lainnya.
Konstelasi ekonomi-politik dalam skala global juga akan berkorelasi dengan konteks
nasional. Globalisasi adalah suatu tantangan terbesar bagi kemandirian perekonomian nasional,
khususnya BUMN dalam fungsinya menyelenggarakan perekonomian guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat. Kecenderungan ekonomi hari ini adalah semakin mantabnya posisi
liberalisme ekonomi yang ditandai dengan semakin tingginya ketimpangan sosial masyarakat.
Hingga dirasa peran BUMN menjadi sangat krusial untuk melakukan suatu inovasi tidak hanya
pada pertumbuhan ekonomi namun juga dalam pemerataan ekonomi nasional.
BUMN dalam segi bentuk, ada 2 macam :
a) Perusahaan Umum (Perum) à Public Corporation
• Memiliki tujuan sosial dan tujuan keuntungan (profit oriented) dengan
pembagian presentase tujuan 50-50 (fifty-fifty)
• Modal keseluruhan dimiliki oleh negara dan dipisahkan dengan APBN,
tetapi dipertanggungjawabkan secara tersendiri kepada Departemen
Keuangan dan tekhnis.
• Karyawan Perum sebagian merupakan PNS dan sisanya Perum diberikan
otonomi untuk merekrut pegawai perusahaan sendiri
b) Persero à State Company
• Modal sebagian saja dimiliki oleh negara , hanya ada aturan bahwa yang
harus dimiliki oleh negara adalah 51% dan sisanya dimiliki oleh non
pemerintah, yaitu 49%.
• Pegawai Persero tidak memiliki fasilitas seperti PNS pada umumnya,
diperlakukan seperti pegawai swasta biasa (ada UU yang mengatur)
• Menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing
kuat
• Mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan.

Secara praktis peran BUMN adalah sebagai stabilitator, dinamisator, sekaligus inovator
dalam perekonomian nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa BUMN merupakan salah satu
instrument utama negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Senyampang dengan hal
tersebut BUMN merupakan manifestasi dari suatu amanat konstitusi, UUD 1945 pasal 33 ayat 2
yang berbunyi “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup
orang banyak di kuasai oleh negara”. Secara statistik bila ditinjau dari jumlah BUMN sampai
saat ini terdapat sekitar 139 yang masih eksis.

Uraian 2002 2003 2004 2005 2006


Jumlah BUMN 158 157 158 139 139
0
Perjan 15 14 14 0
13
Perum 11 13 13 13
114
Persero 124 119 119 114
12
Persero Tbk 8 11 12 12
Sumber: Kementerian Negara BUMN

Penurunan statistik jumlah BUMN secara drastis dari 158 (pada tahun 2002) menjadi 139
(pada tahun 2006) menunjukkan bahwa terdapat kesalahan dalam pengelolaannya. Ukuran dari
adanya kesalahan dalam pengelolaan adalah berkaitan dengan tingkat kesehatan kondisi BUMN
tersebut. Adapun ukuran penilaian tingkat kondisi BUMN adalah sebagai berikut:
1. Rentabilitas ( kemampuan memperoleh laba )
- Sehat Sekali > 12 %
- Sehat > 8 – 12 %
- Kurang Sehat > 5 – 8 %
- Tidak Sehat dibawah 5 %
2. Likuiditas ( kemampuan membayar hutang jangka
pendek/ perbandingan antara modal dengan hutang )

- Sehat Sekali > 150 %


- Sehat > 100 - 150 %
- Kurang Sehat > 75 – 100 %
- Tidak Sehat 75 % ke bawah
3. Solvabilitas ( kemampuan membayar hutang jangka
panjang )
- Sehat Sekali > 200 %
- Sehat > 150 - 200 %
- Kurang Sehat > 100 - 150 %
- Tidak Sehat dibawah 100 %

Sehat ataupun tidaknya BUMN tercermin pada keuntungan – kerugian yang dihasilkan.
Pada tahun 2006 jumlah total kerugian BUMN berdasarkan prognosa berjumlah Rp. 2.268,30
milyar, sedangkan keuntungannya sejumlah Rp. 54.417,11 milyar.

Sepuluh besar BUMN rugi


No. BUMN 2006 (milyar) 2005 (milyar)
1 PT Perusahaan Listrik Negara (1.081,61) (4.920,59)
(560,61)
2 PT Garuda Indonesia (191,00)
(270,00)
3 PT Merpati Nusantara Airlines (180,97)
(182,34)
4 PT Kertas Leces (134,56)
(127,82)
5 PT Pelayaran Nasional Indonesia (122,86)
(74,87)
6 PT Krakatau Steel (97,49)
(68,33)
7 PT Perkebunan Nusantara I (36,16)
(61,97)
8 PT Pengerukan Indonesia (33,86)
(51,41)
9 PT PAL Indonesia (31,96)
(34,18)
10 PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (31,65)

Total (1.942,12) (6.352,12)


(6.601,07)
Total Kerugian BUMN (2.268,30)
96,23%
% Kerugian 10 BUMN thd Total Kerugian 85,62%
Sumber: Kementerian Negara BUMN

Sepuluh besar BUMN untung


No. BUMN 2006 2005
1 PT Pertamina 23.326,00 16.456,84
7.993.57
2 PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk 10.422,00
3.808,59
3 PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk 4.205,00
1.414,74
4 PT Bank Negara Indonesia, Tbk 1.910,42
1.022,57
5 PT Perusahaan Gas Negara, Tbk 1.565,84
862,01
6 PT Bank Mandiri, Tbk 1.529,13
848,70
7 PT Semen Gresik, Tbk 1.309,00
841,94
8 PT Aneka Tambang, Tbk 970,61
702,19
9 PT Pupuk Sriwidjaja 920,00
629,62
10 PT Jamsostek 774,55

Total 46.932,55 34.580,76


42.351,04
Total Laba Stlh Pajak BUMN 54.417,11
81,65%
% Laba 10 BUMN thd Total Laba 86,25%
Sumber: Kementerian Negara BUMN

Pertanyaan kemudian yang muncul adalah bagaimana BUMN mengalami kerugian


mengingat BUMN adalah instrument ekonomi nasional yang mampu memonopoli hajat hidup
orang banyak. Hal ini dikarenakan adanya missed management yang bermuara pada nuansa
politis yang masih menghinggapi BUMN.
Mengingat banyak BUMN yang kinerjanya kurang baik, maka BUMN perlu diberdayakan
secara optimal. Tujuan dari pemberdayaan BUMN tantara lain :
• Agar mampu berperan sebagai pendukung bangkitnya perekonomian nasional serta dapat
memberikan kontribusi kepada APBN (dividen dan pajak).

• Agar mampu berperan sebagai sarana dan prasarana untuk mencetak Sumber Daya
Manusia yang unggul terutama dalam kepemimpinan dunia usaha.

• Agar mampu berperan sebagai kekuatan penyeimbang (conterveiling power) terhadap


kekuatan ekonomi yang telah ada, melalui aliansi strategis dengan pihak lain pada tingkat
nasional maupun internasional, termasuk dalam rangka kemitraan dengan Usaha Kecil,
Menengah dan Koperasi.

• Agar dapat mendayagunakan asset yang dikelola secara optimal, antara lain melalui
program restrukturisasi dan privatisasi secara transparan dan simultan.

Mengingat BUMN memegang peranan yang penting dan turut mempengaruhi kinerja
perekonomian nasional, maka BUMN perlu dikelola dengan efektif dan efisien berdasarkan
prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah
bagaimana BUMN mampu menjadi sokoguru perekonomian yang berdasarkan pada falsafah
Pancasila, utamanya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan pemerataan
ekonomi.
Solusi akan peningkatan kualitas BUMN adalah berkaitan dengan proses restrukturisasi.
Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi
secara efisien, transparan, dan profesional. Hal ini penting adanya guna peminimalisiran nuansa
politis yang seringkali menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan di tubuh BUMN. Hingga
nantinya BUMN mampu mandiri sebagai instrument penggerak perubahan perekonomian
nasional yang lebih progresif dan produktif.

II. Restrukturisasi BUMN

Kalimat pertama dalam bukunya The Renewal Factor, Robert H. Waterman Jr.
mengatakan bahwa the constant is change. Yang tetap adalah perubahan. Namun sayangnya
banyak orang yang membenci perubahan, banyak orang takut terhadap perubahan bahkan
sebagian lagi tidur pada saat perubahan datang. Tanpa perubahan tidak mungkin kita akan
bertahan.
Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang
merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna
memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan.
Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat
beroperasi secara efisien, transparan, dan professional. Tujuan restrukturisasi adalah untuk:
1. meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan;
2. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada negara;
3. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen
4. memudahkan pelaksanaan privatisasi.
Restrukturisasi meliputi:
a. restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor
dan/atau peraturan perundang-undangan;
b. restrukturisasi perusahaan/korporasi yang meliputi:
1. peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat
monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah;
2. penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN
selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsip-prinsip tata kelola
perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban
pelayanan publik.

Salah satu masalah yang menyebabkan BUMN di masa lalu kurang mampu menunjukkan
prestasi bisnisnya adalah kurang jelasnya arah kebijakan BUMN, hingga dibentuknya
Kementerian Negara BUMN (1998) dan diterbitkannya UU No. 19/2003 (tentang BUMN) dirasa
mampu mereduksi permasalahan yang ada dalam BUMN.
Dibentuknya Kementerian Negara BUMN adalah untuk lebih menegakkan peran
Pemerintah sebagai kuasa pemegang saham/pemilik BUMN yang terpisah dengan peran
Pemerintah sebagai regulator. Sedangkan UU No. 19/2003 telah mendikotomikan peran antara
pemilik, regulator supervisor dan operator. Untuk bank BUMN, misalnya pemilik adalah
Pemerintah melalui Menteri BUMN, regulator dan supervisor adalah Bank Indonesia, dan bagi
yang sudah go public, supervisor lain adalah Menteri Keuangan melalui Badan Pengawasan
Pasar Modal, sedangkan operator adalah Dewan direksi yang diawasi oleh Dewan Komisaris.
Dengan adanya dikotomi ini, maka intervensi politik dan birokrasi semakin dapat diminimalisir,
pun akan berdampak pada profesionalisme manajerial BUMN yang semakin optimal.
Kebijakan pemerintah dalam restrukturisasi BUMN didorong oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal adalah kondisi organisasi dalam kinerja BUMN itu sendiri dan
keuangan Negara yang tidak menggebirakan. Sedangkan faktor eksternal yang menjadi
pendorong restrukturisasi BUMN adalah pendirian dan aktivitas organisasi bisnis internasional
serta regional yang menetapkan prinsip-prinsip pasar bebas dalam bisnis global.
Sedangkan tujuan go-public sebagai salah satu bentuk restrukturisasi BUMN di Indonesia
adalah untuk :
i.Meningkatkan penerimaan Negara yang digunakan untuk mempercepat pelunasan
hutang luar negeri dengan beban bunga komersil dan untuk meningkatkan
penerimaan BUMN yang akan digunakan untuk membiyai investasi baru.
ii.Meningkatkan efisiensi dan daya saing BUMN dipasar.
iii.Mendorong pertumbuhan pasar modal dalam negeri.

Progam restukturisasi BUMN sebagai salah satu upaya pemerintah untuk membenahi
BUMN agar pengelolaanya sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis dan tidak bertentangan dengan
konstitusi. Pasal 33 undang-undang dasar 1945 sebagai pedoman dalam sistem ekonomi nasional
bukanlah suatu prinsip atau ketentuan yang berdiri sendiri, melainkan sangat erat dengan prinsip-
prinsip lainya terutama dengan masalah kesejahteraan sosial. Oleh karena itu pasal 33
ditempatkan bersama dengan pasal 34 di dalam bab tentang kesejahteraan sosial. Kesejahteraan
sosial merupakan suatu tujuan yang sangat erat dengan masalah keadilan sosial seperti yang
dimaksudkan oleh sila kelima pancasila dan asas-asas yang secara konstitusional pada
pembukaan undang-undang dasar 1945.
Restuktrurisasi BUMN merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjadikan
BUMN sebagai sarana pemerintah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
sesuai dengan yang dimaksud oleh sila kelima pancasila dan alenia keempat pembukaan undang-
undang dasar 1945. Menurut Rawls, teori keadilan merupakan teori yang paling komprehensif
sampai saat ini. Menurut Rawls “keadilan adalah kejujuran. Keadilan merupakan suatu nilai yang
mewujudkan keseimbangan antara bagian-bagian dalam kesatuan, dan antara tujuan pribadi
dengan tujuan bersama, itulah yang disebut dengan keadilan.
Secara hipotesis teori Rawls ini dapat diaplikasikan dengan kondisi di Indonesia. Dalam
realitas terjadi ketimpangan dalam sektor ekonomi nasional, oleh karena itu perlu diperbaiki.
Oleh karena itu melalui restrukturisasi BUMN, secara ideal merupakan kesempatan bagi
pemerintah untuk menata kembali sistem ekonomi nasional yang dalam prakteknya tidak
seimbang tersebut. Peran BUMN yang strategis dan jumlah aset yang relatif sangat besar akan
merupakan sarana yang dapat memungkinkan penataan kembali sistem ekonomi nasional seperti
yang dikemukakan oleg Rawls dengan seruan untuk reorganisasi sebagai syarat untuk dapat
menuju kepada suatu masyarakat ideal yang baru. Sedangkan tujuan keadilan sosial ialah
menyusun suatu masyarkat yang seimbang dan teratur dimana semua warganya mendapatkan
kesempatan untuk membangun suatu kehidupan yang layak dan mereka yang lemah
kedudukannya mendaptkan bantuan seperluhnya. Pemerintah sebagai pimpinan Negara bertugas
untuk memajukkan kesejahteraan yang merata dan dalam rangka itu berhak dan berwajib untuk
menuntut kepada para warganya agar memberikan sumbangan mereka sesuai dengan
kemampuan mereka masing-masing.

Agenda dari setiap BUMN adalah bagaimana mampu survive dalam perubahan yang ada.
Restrukturisasi merupakan salah satu cara BUMN agar tetap eksis dalam menggerakkan
perekonomian nasional dengan cara penataan ulang secara mendasar.
Pertanyaan pokok sebelum membenahi tata kelola BUMN adalah apakah kita telah
benar-benar memahami BUMN dan mengapa BUMN menjadi demikian. Pertanyaan ini sangat
fundamental, mengingat upaya pembenahan BUMN tidak sepenuhnya berhasil disebabkan tidak
cukup mengetahui ke-BUMN-an itu sendiri. Bahkan, program restrukturisasi BUMN akan
menjadi bumerang tersendiri apabila tidak dipahami secara mendasar.
Restrukturisasi BUMN yang berhasil memerlukan strategi yang kontekstual. Konteks
BUMN yang strategis adalah budaya perusahaan, kepemimpinan, dan tugas atau misi BUMN.
a. Budaya Perusahaan
Salah satu cara memahami BUMN adalah dengan membandingkan budaya kerjanya,
karena nilai budaya yang ada dalam organisasi perusahaan, secara signifikan ikut menentukan
keberhasilan pendayagunaan sumber daya manusia dalam pencapaian tujuan bersama.
1) Orientasi Kerja. Dalam perusahaan swasta yang berorientasi hasil, pola
manajerial cenderung kepada kemampuan produktivitas pencapaian tujuan
(manajement by objective). Sedangkan di perusahaan BUMN kecenderungannya
orientasi kerja adalah prosedur. Hingga ada stigma di BUMN adalah birokrasi
berbelit. Hal ini berkaitan dengan pengambilan kebijakan yang kurang efisien
dalam mengeksekusi bahkan cenderung subjektif.
2) Cara Menghadapi Masalah. Pada perusahaan BUMN, budaya yang berkembang
adalah mengedepankan proses penyelesaian masalah daripada permasalahannya
sendiri. Konsekuensinya, kebijakan perusahaan menjadi lebih lambat, karena
setiap isu terjebak pada proses daripada substansinya.
3) Punishment. Hal ini berkaitan dengan nalar subjektifitas yang lebih diutamakan
daripada objektifitas pada mekanisme kerja BUMN. Penghargaan terhadap
karyawan lebih mengutamakan senioritas daripada kinerja yang telah dicapai.
4) Komunikasi. Pada perusahaan swasta, terdapat kecenderungan untuk menghargai
komunikasi yang terbuka, lugas dan apa adanya. Proses inovasi pun berasal dari
bottom – up sehingga berdampak pada kinerja perusahaan yang progresif.
Berbeda pada BUMN yang cenderung kaku, pun proses inovasi lebih mengarah
pada pola top – down sehingga akan berdampak pada keberlangsungan BUMN
semakin tertinggal dalam persaingan yang semakin global.
5) Kesetaraan. Watak paternalistik yang mengakar kuat di tubuh BUMN
menyebabkan sulit menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance.
b. Kepemimpinan
Restrukturisasi akan lebih berhasil jika dimulai dari pemimpinnya, terlebih untuk
organisasi yang sedang menurun kinerjanya. Selain daripada BUMN membutuhkan pemimpin
berkualitas yang the right man in the right place, juga harus merubah nilai paternalistik menjadi
lebih “membumi”. Dalam hal ini kaum-kaum teknokrat akan lebih berarti daripada
kepemimpinan yang bersifat “karbitan” yang berbau nepotisme.
c. Misi BUMN
Perusahaan swasta biasanya berkembang dengan cepat karena memiliki tugas yang lebih
sempit, yaitu menciptakan nilai dan memberikan laba. Terlepas dari itu, mereka juga dituntut
menjadi corporate citizen, yaitu menjadi warga negara yang baik, dengan melakukan program
corporate social responsibility.
BUMN, sejak awal didirikan mengemban tugas nasional – bukan tugas korporasional.
Misalnya, menyalurkan kredit bersubsidi (seperti BRI), menjaga ketersedian pupuk nasional
(seperti PUSRI), menjaga distribusi BBM (Pertamina), ketersediaan listrik (PLN), dan lain-lain.
Hal ini menjadi pekerjaan rumaha (PR) tersendiri bagi BUMN untuk menyeleraskan kewajiban
terhadap pelayanan publik dengan tugas eksistensialnya sebagai perusahaan.
UU No. 19/2003 pasal 12 dikatakan bahawa BUMN persero adalah BUMN yang
bertujuan menyediakan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat dan
mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai perusahaan. Sementara pada pasal 36 disebutkan
bahwa maksud dan tujuan perum adalah menyelenggarakan usaha yang bertujuan untuk
kemanfaatan umumberupa penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas dengan harga yang
terjangkau oleh masyarakat berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Amanat
undang-undang tersebut sudah jelas kiranya untuk melaksanakan secara konsisten dan
berkomitmen terhadap rakyat.

Saat ini, BUMN berjumlah 139 perusahaan. Tentu saja, tidak seluruh BUMN menjadi
unit usaha yang menguntungkan (profit making). Maka dari itu, perlu dikelompokkan unit usaha
yang berfungsi sebagai public service obligation (PSO), seperti transportasi publik, rumah sakit,
dan sebagainya. Selain itu, ada kelompok usaha yang memang sangat strategis, seperti Perum
Peruri (percetakan uang), Perum PNRI (percetakan dokumen negara), PT Pindad (produsen
senjata api).
Restrukturisasi kelembagaan harus dimulai dari pangkalnya, yaitu kementerian negara
BUMN. Selama ini, Kementerian ini memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu perumusan kebijakan
publik dan pengelolaan BUMN.
Agar tidak menimbulkan kerancuan, Kementerian Negara BUMN sebaiknya
memfokuskan diri pada perumusan kebijakan publik. Kementerian ini juga bisa menjadi
semacam “penghubung” dengan DPR dan lembaga lain yang terkait (juga dengan masyarakat).
Dalam kaitannya dengan strategi pembangunan nasional, dialah yang harus menerjemahkan visi
Presiden ataupun kebijakan Bappenas.
Idealnya, Menteri Negara BUMN berperan sebagai Kepala Badan yang bertugas
merumuskan kebijakan publik, mengembangkan secara strategis dan politis semua BUMN.
Tentu saja isu-isu terkait hukum dan kebijakan makro pengembangan BUMN berada dalam
ruang lingkupnya. Adapun urusan teknis operasional BUMN akan berada di tangan para direksi
perusahaan holding dan direksi setiap BUMN.
Restrukturisasi juga dilakukan dengan membentuk beberapa perusahaan holding.
Holding-holding tersebut dibentuk dengan mempertimbangkan kesamaan karakteristik bisnis,
skala usaha ataupun alasan-alasan keekonomisan lainnya. Untuk menampung unit-unit usaha
unggulan, misalnya, bisa dibentuk sebuah perusahaan holding dari kelompok BUMN blue chips.
Bisa juga kelompok usaha berbasis keuangan bersatu menjadi perusahaan investasi yang
membawahi bank, sekuritas, asuransi dan multifinance.

III. Holding Company Sebagai Alternatif Solusi Dalam Restrukturisas BUMN


Agar tujuan Reformasi BUMN (restrukturisasi) dapat diwujudkan maka salah satu cara
untuk mencapainya adalah dengan mengelompokan BUMN kedalam beberapa grup yang dikenal
dengan Holding Company. Dengan demikian perlu di mengerti dan diyakini bahwa pembentukan
Holding bukanlah tujuan tetapi hanya alat untuk mencapat tujuan yakni pembentukan
perusahaan yang berdaya saing dan berdaya cipta tinggi.
Melalui pengelompokan BUMN kedalam Holding dimungkinkan terjadinya peningkatan
penciptaan nilai pasar perusahaan (market value creation) yakni usaha untuk melipat gandakan
nilai perusahaan yang ada saat ini. Disamping itu melalui Holding diharapkan pula akan dapat
meningkatkan keunggulan kompetitif. Karena akan memberikan fokus dan skala usaha yang
lebih ekonomis, mampu menciptakan corporate leverage sehingga dapat meningkatkan
bargaining position. Selain itu akan dapat pula menciptakan sinergi yang optimal (melalui
pendekatan vertical integration), dan harus mampu melakukan rationalisasi perusahaan yang
mempunyai value creation yang rendah.
Adapun bentuk dari holding adalah sebagai berikut:
1. Umbrella holding adalah pembentukan holding yang akan mengelola suatu
kelompok prusahaan yang berasal dari sektor yang berbeda misalnya Agroindustri
dan farmasi.
2. Focused holding yakni membentuk beberapa holding yang terdiri dari perusahaan
yang berasal dari satu sektor.
3. Roll-up adalah menggabungkan BUMN yang usahanya sama kedalam satu
perusahaan.
4. Sedangkan status quo adalah tetap memelihara BUMN yang telah ada atas dasar
standalone karena tidak dapat digabungkan ke kelompok manapun.

Sejalan dengan tujuan pembentukan Holding, maka program ini akan memberikan
manfaat sebagai berikut: (1) Mendorong proses penciptaan nilai, market value creation dan value
enhancement. (2) Mensubstitusi defisiensi manajemen di anak-anak perusahaan. (3)
Mengkoordinasikan langkah agar dapat akses ke pasar internasional. (4) Mencari sumber
pendanaan yang lebih murah. (5) Mengalokasikan kapital dan melakukan investasi yang
strategis. (6) Mengembangkan kemampuan manajemen puncak melalui cross-fertilization.
Suatu niat yang baik tentu selalu akan ada tantangannya (bukan hambatan). Demikian
pula dengan pembentukan perusahaan yang berdaya saing dan berdaya cipta tinggi melalui
Holding, banyak pro dan kontra dilontarkan. Terutama oleh kelompok yang belum pernah
melakukan kegiatan bisnis secara nyata atau pihak yang belum mengetahui konsep dan strategi
program ini secara rinci. Bagi praktisi bisnis atau pebisnis rencana ini sangat mudah dimengerti
dan memang cara terbaik (meskipun bukan obat yang mujarab) untuk menyelamatkan BUMN
yang patut untuk diselamatkan.
Dan new business dimaksudkan membentuk perusahaan baru yang bergerak dibidang
usaha yang memang dibutuhkan oleh seluruh BUMN misalnya information technology. Dari
aspek legal masih perlu pula dikaji pengaruh ketentuan peraturan perundangan yang baru
terhadap beroperasinya Holding, misalnya Undang-undang Otonomi daerah, Undang-undang
perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah ataupun Undang-undang Larangan Praktek Monopoli
dan persaingan Tidak sehat. Dan untuk bentuk usaha Holding sendiri apabila yang dimaksud
adalah Strategic Holding atau Management Holding saat ini belum ada peraturan perundangan
yang mengaturnya dan belum diatur dalam Undang-undang No. 1/1995 tentang Perseroan
terbatas.
Pembentukan Holding telah pula menimbulkan kekhawatiran akan timbulnya birokrasi
baru yang berarti menambah beban pembiayaan baru yang akan menciptakan high-cost
economy. Sesungguhnya pola Holding yang ditawarkan adalah justru untuk menghilangkan
prosedur birokrasi yang saat ini masih ada sedangkan untuk beban overhead-nya sendiri akan
dapat dikendalikan karena sebenarnya dalam Holding hanya diperlukan antara 20 -30 orang saja
tenaga-tenaga yang profesional dan memiliki visi strategik kedepan. Dengan demikian
kekhawatiran ini sebenarnya tidak perlu timbul apabila menyadari bahwa kelemahan holding
akan dengan mudah dipecahkan dengan baik oleh suatu leadership yang kuat. Disamping itu
berbagai keuntungan yang akan diperoleh dari Holding pun tampak sangat jelas antara lain
efisiensi usaha sebagai akibat vertical-integration, cross-vertilization tenaga kerja khususnya
eksekutif BUMN, prioritas investasi untuk sektor yang lebih menguntungkan.
BAB III
PENUTUP

Restrukturisasi BUMN menjadi sebuah klise. Terlalu sering diulang-ulang, sehingga


justru kehilangan makna dan urgensi. Padahal, kompleksitas masalah membuat isu restrukturisasi
tetap menjadi sesuatu yang relevan sekaligus mendesak. Paling tidak, ada dua alasan mengapa
restrukturisasi BUMN menemukan kembali relevansinya. Pertama, krisis finansial global telah
membuat perdebatan “swasta” versus “negara” menjadi aktual.
Sudah agak lama, kesadaran kita dibawa pada satu prinsip besar bahwa pengelolaan
swasta selalu lebih baik daripada negara. Maka, Let the free market do and let government sleep.
Namun, pengalaman krisis belakangan ini membuat negara dibangunkan kembali dari tidurnya.
Kedua, menghadapi Pemilu 2009, isu BUMN menjadi salah satu topik hangat. Di tengah
potensi kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat, kehausan akan peran BUMN
juga menguat. Tampaknya, tak terlalu sulit menggalang niat untuk sesegera mungkin melakukan
restrukturisasi. Soalnya adalah bagaimana dan mulai dari mana.
Untuk memulai sesuatu, kita perlu berpikir apa tujuan akhirnya. Tak terlalu salah kalau
kita mengatakan tujuan akhir restrukturisasi BUMN adalah meningkatkan daya saing. Visi
Indonesia 2030 menargetkan ada 30 perusahaan nasional yang masuk ke dalam Fortune Global
500. Rasanya, tak berlebihan jika di antara sekian perusahaan tersebut, termasuk di dalamnya
BUMN.
Kita perlu berkaca pada keberhasilan BUMN Malaysia yang tergabung dalam perusahaan
holding Khazanah Nasional Berhad dan BUMN Singapura di bawah naungan Temasek
Holdings. Fakta ini membuktikan perusahaan di bawah kepemilikan negara sangat mungkin
menjadi pemain besar di tingkat dunia.
Kita perlu membedakan antara “kepemilikan” dan “pengelolaan”. Meski kepemilikan
tetap di tangan negara, tetapi pengelolaan bisa tetap dilakukan secara profesional, sebagaimana
layaknya perusahaan swasta. Mungkinkah? Tentu saja, ada beberapa prasyarat kelembagaan
yang harus dipenuhi.
Pertama, aparatur negara yang terkait dengan BUMN harus mengedepankan prinsip
governance (good public governance). Kedua, pada level unit-unit usaha sendiri, harus selalu
berorientasi pada penerapan prinsip good corporate governance.
Dengan penerapan sistem governance secara komprehensif, akan muncul struktur, sistem
dan prinsip yang baik, sehingga dalam jangka panjang akan muncul “budaya’ dan “generasi”
baru yang sejalan dengan peningkatan daya saing BUMN.
Terkait dengan struktur dan sistem, keberadaan BUMN selama ini tidak bisa dipisahkan
dari sistem kelembagaan birokrasi kenegaraan. BUMN berada di bawah Kementerian negara
diatur oleh peraturan perundang-undangan yang kadang kala masih bertabrakan satu sama lain,
juga diatur oleh berbagai departemen teknis, dan berurusan dengan berbagai kekuatan politik di
DPR. Campur aduk ini membuat kinerja BUMN tidak bisa maksimal. Seorang direktur sebuah
BUMN misalnya, waktunya habis untuk acara seremonial serta melayani kepentingan berbagai
pihak (termasuk DPR), sementara waktunya untuk mengurusi perusahaan menjadi sedikit.
Saat ini, BUMN berjumlah 139 perusahaan. Tentu saja, tidak seluruh BUMN menjadi
unit usaha yang menguntungkan (profit making). Maka dari itu, perlu dikelompokkan unit usaha
yang berfungsi sebagai public service obligation (PSO), seperti transportasi publik, rumah sakit,
dan sebagainya. Selain itu, ada kelompok usaha yang memang sangat strategis, seperti Perum
Peruri (percetakan uang), Perum PNRI (percetakan dokumen negara), PT Pindad (produsen
senjata api).
Gagasan ini membutuhkan kemauan politik yang kuat, mengingat restrukturisasi BUMN
adalah hal yang kompleks. Selain ganjalan politik dan perundang-udangan di tingkat parlemen,
ada pula hal teknis yang menghambat, seperti persoalan pajak penggabungan perusahaan. Belum
lagi mengenai interpretasi Undang-Undang Kekayaan Negara yang mengandung implikasi
hukum cukup tinggi.
Pendek kata, tanpa ada kemauan politik yang kuat, cita-cita tentang BUMN yang berdaya
saing tinggi hanya tetap wacana. Upaya untuk mewujudkannya harus terus didorong, hingga
pada tujuannya, yakni BUMN yang berdaya saing tinggi, akan memberi manfaat bagi
kemakmuran bangsa.
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Arfian, Muhammad, “Menuju Restrukturisasi BUMN yang menuaikan hasil”, http://io.ppi-


jepang.org diakses pada tanggal 18 November 2009.

Daniri, Achmad, “Agenda kelembagaan dan governance, BUMN sangat mungkin menjadi
pemain tingkat dunia”, Bisnis Indonesia, 22/01/2009

Press Release Kantor Kementerian BUMN, Kantor Kementerian BUMN, 26/01/2005

Ringkasan Master Plan Revitalisasi BUMN 2005-2009, Kantor Kementerian BUMN, 2005

Santosa, P. Setyanto, “Pembentukan Holding Company BUMN Peluang dan Tantangan”,


Dari http://www.pacific.net.id diakses pada tanggal 18 November 2009

Suwarsono, Muhammad, "Restrukturisasi BUMN, Privatisasi ke Profitisasi", Jawa Pos,


03/12/2005

Sunarsip, “Menyoal pro-kontra master plan BUMN”. Bisnis Indonesia, 24/02/2005