Anda di halaman 1dari 26

BAB I

STATUS PASIEN
1.1 IDENTITAS PASIEN
Nama
Jenis Kelamin
TTL
Usia
Tanggal Masuk RS
Ruang Perawatan
No Kamar
Dokter Anak

: An. A
: Perempuan
: Jakarta, 18 juni 2014
: 1 tahun, 2 bln
: 25 Agustus 2015
: Melati
:6
: dr. Desiana, Sp.A

1.2 ANAMNESIS

Keluhan Utama
:
Kejang
Riwayat Penyakit Sekarang :
Demam sejak 1 hari SMRS, terus menerus. Kejang <5 menit,kedua kaki tangan lurus
kemudian mengentak, mata mendelik ke atas, setelah kejang Os sadar, kejang hanya 1
kali. Batuk berdahak (+) , Pilek (-), BAK baik, BAB cair (-), Nafsu makan baik,
minum baik.

Riwayat Penyakit Dahulu

:
OS belum pernah kejang. Tidak ada alergi.
TB (-), Riwayat trauma kepala disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riw kejang (-), TB (-), DM (-), Hipertensi (-), Alergi
(-)

Riwayat Pengobatan

:
Tidak sedang menjalani pengobatan suatu penyakit.

Riwayat Pola Makan

:
Nafsu makan baik, makan 3x/hari.

Riwayat Pemberian ASI

:
Mendapatkan ASI tanpa tambahan susu formula dan
MPASI selama enam bulan pertama, kemudian

dilanjutkan susu formula dan MPASI.


(Kesan Pemberian ASI eksklusif)

Riwayat Kehamilan

:
Selama hamil ibu OS rutin periksa kehamilan
(Antenatal Care) ke bidan, rajin meminum vitamin
atau obat penambah darah, mengkonsumsi sayuran
dan tidak pernah terkena infeksi dan sakit selama

hamil.
Riwayat Kelahiran

:
OS lahir normal pervaginam, dengan usia kehamilan
cukup bulan, langsung menangis tanpa harus
dirangsang, tidak kebiruan dengan berat lahir 3,1 kg
dan panjang lahir 51 cm, tidak terdapat komplikasi
apapun.

Riwayat Imunisasi

(Kesan imunisasi dasar lengkap )


Riwayat Tumbuh Kembang :

Hepatitis B 3x
Polio 4x
BCG 1x
DPT 3x
Campak 1x

MK : sudah bisa merambat untuk jalan


MH : sudah meraih mainan yang diinginkan
PS : sudah mengenal anggota keluarga, bereaksi

terhadap suara
PB : sudah mengucapkan papa mama
(Kesan tumbuh kembang normal sesuai usia)
Riwayat Alergi
:
Tidak terdapat riwayat alergi obat, makanan, suhu
dan debu.

(Kesan : tidak ada alergi)


Riwayat Psikososial

:
Tinggal dengan kakak, dan ibu serta ayahnya.
Lingkungan rumah bersih dan udara masuk ke
dalam rumah.
3

Ayah bukan seorang perokok,

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan Umum
Kesadaran

: Tampak sakit sedang


: Compos mentis

Tanda Vital
- Suhu
- Nadi
- Pernapasan

: 38,4oC
: 128x/menit
: 28x/menit

Antropometri
-

BB
TB
LK
LILA

: 8 kg
: 72 cm
: 42 cm
: 14 cm

Status Gizi
-

BB/U x 100 %
8 /10,8 x 100%
= 74 % Gizi kurang
TB/U x 100 %
72/78 x 100 %
= 92 % normal
BB/TB x100 %
8/9,2 x 100 %
= 86 % Gizi kurang
Kesan : Gizi Kurang

Status Generalis
-

Wajah
Rambut
Kepala

: Simetris, tidak ada edema


: Hitam, distribusi merata, tidah mudah dicabut (tidak rontok).
: Normocephal, tidak mikrosefalus maupun hidrosefalus,

bentuk
bulat, ubun-ubun belum tertutup dan datar, tidak terdapat
-

Mata

tanda-tanda peradangan.
: Edema palpebra (-/-), Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik
(-/-), refleks cahaya direk dan indirek (+/+), pupil isokor.
4

Hidung

Telinga
Mulut

- Tenggorokan
- Leher
-

: Pernapasan cuping hidung (-/-), darah (-/-), sekret (-/-),


septum deviasi (-)
:Normotia, serumen (-/-)
: Bibir pucat (-), bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-)
tremor (-), stomatitis (-).
: Faring hiperemis (+), tonsil T1/T1
: Pembesaran KGB mandibular (-/-), pembesaran kelenjar tiroid

(-/-).
Thorax
Pulmo :
Inspeksi

: Simetris , Retraksi (-)

Palpasi

: Teraba pengembangan dinding thorax yang simetris dextra


sinistra, Vocal fremitus simetris.

Perkusi

: Terdengar suara sonor pada seluruh lapang paru.

Auskultasi : Terdengar suara vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing ( -/- )


Cor

:
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS 4 1 jari di bawah papila mamae.

Perkusi

: Batas kiri linea midclavicularis sinistra


Batas kanan linea parasternalis dextra

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni regular, murmur (-), gallop (-)
-

Abdomen
Inspeksi

: Tidak ada distensi abdomen, tidak edema, tidak kembung

Auskultasi : Bising usus (+) normal.

Palpasi

Tidak teraba pembesaran hepar dan spleen, turgor kulit

Perkusi

: Terdengar suara timpani pada seluruh lapang abdomen.

elastis.

Ekstremitas superior
Akral
Edema
Sianosis
RCT
Ekstremitas inferior
Akral
Edema
Sianosis
RCT
Kelenjar inguinal
Anus dan rectum

Genitalia

Status Neurologis

: Hangat (+/+)
: (-/-)
: (-/-)
: <2 detik
: Hangat (+/+)
: (-/-)
: (-/-)
: <2 detik
: Tidak terdapat adanya pembesaran kelenjar.
: Tidak terdapat tanda-tanda peradangan dan tidak terdapat
adanya perdarahan.
: tidak terdapat tanda-tanda peradangan.
Kulit : Tidak pucat, tidak sianosis, turgor elastis kembali

dengan
cepat, tidak terdapat adanya tanda perembesan plasma seperti
petekie, ekimosis.
: GCS: 15
Reflek fisiologis
R. patella +/+
R. bisep +/+
R. Trisep +/+
R. Achilles +/+
Reflek patologis
Babinsky : Tanda Rangsang Meningeal
Kaku Kuduk : Brudzinsky I/II ; -/Laseque
:Kernig sign : -

1.3 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tanggal 25 agustus 2015
Pemeriksaan
Hb
Leukosit
Trombosit
Ht
Eritrosit

Hasil
10,7 (L)
26,95 (H)
279
33 (L)
4,07

Nilai normal
10,7-13,1
6-17,00
217 491
35-43
3,60-5,20
6

MCV
MCH
MCHC

81
26
33

74-102
23-31
28-32

RESUME
OS datang dengan Demam sejak 1 hari SMRS, terus menerus. Kejang <5 menit,
kedua kaki tangan lurus kemudian mengentak, mata mendelik ke atas, setelah kejang
Os sadar, kejang hanya 1 kali , tidak keluar busa setelah sadar. Batuk berdahak (+) ,
Pilek (-), BAK baik, BAB cair (-), Nafsu makan baik, minum baik. Tidak ada riwayat
kejang, dan penyakit lain. Tidak ada riwayat alergi.
Pemeriksaan Fisik
Bunyi paru Vesikuler +/+, faring hiperemis, tonsil T1/T1
Reflek fisiologis (+) , Reflek patologis (-), Refleks meningens (-)
Pemeriksaan Lab:
Hb 10,7 (rendah), Ht 33 % (rendah), Leukosit 26,95 (tinggi)

1.4 ASSESSMENT
Febris H-2
Kejang Demam Sederhana
ISPA
1.5 DIAGNOSIS KERJA
Diagnosis Klinis
Diagnosis Gizi
Diagnosis Imunisasi
Diagnosis Tum-Bang

: Kejang demam sederhana e.c ISPA


: Gizi kurang
: Imunisasi dasar lengkap
: Pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia

TERAPI
Planning :
7

a. Infus
b. Injeksi
c. Oral

: 8x100 = 800 cc ~ 8 tpm


: Ceftriaxon 1x 640 mg
:

Ambroxol syrup 12 mg (1/2 cth)


Paracetamol 80 mg

Pulveres 3x1

Diazepam 0,8 mg

1.6 FOLLOW UP
Hari/ tanggal
26 agustus 2015

27 agustus 2015

28 agustus 2015

29 agustus 2015

30 agustus 2015

S
Demam
naik
turun,
Kejang
(-),
Batuk (+), pilek
(-), BAB Cair (-)
belum bab 1 hari
lalu, BAK baik
Rewel,
nafsu
makan
dan
minum baik.
Demam
(-),
Kejang
(-),
belum
BAB,
BAK normal
Batuk (+) pilek
(-),nafsu makan
minum baik.
Demam
(-),
Kejang (-),
Batuk (+) pilek
(-), kejang (-)
Nafsu
makan
baik.
Demam
(-),
Kejang (-),
Batuk
(+)
pilek(-),
BAB
cair (-), BAK
baik
Demam
(-),
Batuk (-), kejang
(-) , BAB cair
(-), BAK baik

O
S: 39 C
RR : 30 x/m
N: 114x/m
BU:
Vesikuler+/+

S: 36,5 C
RR : 28 x/m
N: 104x/m

KDS
ISPA

ec Th/ Lanjutkan

KDS
ISPA

ec Th/ Lanjutkan

S: 37 C
RR : 32 x/m
N: 123x/m

KDS
ISPA

ec.

S: 36,6C
RR : 35 x/m
N: 100x/m

KDS
ISPA

ec Th/ Lanjutkan

S: 36,5 c

RR: 34 x/
menit
N
:
110
x/menit

ISPA

Th/ Lanjutkan

Pulang
Paracetamol 80
mg+ Diazepam 0,8
mg~pulv 3x1
Ibuprofen
Supositoria

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal diatas 38,5o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (1). Kejang demam ini
terjadi pada 2% - 4 % anak berumur 6 bulan 5 tahun (2). Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam (3). Kejang disertai
demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan tidak termasuk dalam kejang demam (4). Bila
anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun mengalami kejang didahului
demam, kemungkinan lain harus dipertimbangkan misalnya infeksi SSP, atau epilepsi yang
kebetulan terjadi bersama demam(4). Definisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan
penyakit saraf seperti meningitis, ensefalitis atau ensefalopati. Kejang pada keadaan ini
mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya
mengenai sistem susunan saraf pusat(3).
2.2 Epidemiologi
Kejadian kejang demam diperkirakan 2 % - 4 % di Amerika Serikat, Amerika Selatan
dan Eropa Barat. Di Asia dilaporkan lebih tinggi. Kira kira 20 % kasus merupakan kejang
demam kompleks dan 80% merupakan kejang demam sederhana. Umumnya kejang demam
timbul pada tahun kedua kehidupan (17 23 bulan) kejang demam sedikit lebih sering pada
laki laki(2)(7).
2.3 Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran
pernapasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih(2).
2.4 Klasifikasi
10

a. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)


Kejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit dan umumnya akan
berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang
tidak berulang dalam waktu 24 jam(7). Kejang demam sederhana merupakan 80 % diantara
seluruh kejang demam(6). Suhu yang tinggi merupakan keharusan pada kejang demam
sederhana, kejang timbul bukan oleh infeksi sendiri, akan tetapi oleh kenaikan suhu yang
tinggi akibat infeksi di tempat lain, misalnya pada radang telinga tengah yang akut, dan
sebagainya. Bila dalam riwayat penderita pada umur umur sebelumnya terdapat periode periode dimana anak menderita suhu yang sangat tinggi akan tetapi tidak mengalami kejang;
maka pada kejang yang terjadi kemudian harus berhati hati, mungkin kejang yang ini ada
penyebabnya(2). Pada kejang demam yang sederhana kejang biasanya timbul ketika suhu
sedang meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak mengetahui
sebelumnya bahwa anak menderita demam. Agaknya kenaikan suhu yang tiba tiba
merupakan faktor yang penting untuk menimbulkan kejang(2). Kejang pada kejang demam
sederhana selalu berbentuk umum, biasanya bersifat tonik klonik seperti kejang grand mal;
kadang kadang hanya kaku umum atau mata mendelik seketika. Kejang dapat juga
berulang, tapi sebentar saja, dan masih dalam waktu 16 jam meningkatnya suhu, umumnya
pada kenaikan suhu yang mendadak, dalam hal ini juga kejang demamsederhana masih
mungkin(2).

b. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)


Kejang dengan salah satu ciri berikut : (7)
1. Kejang lama lebih dari 15 menit.
2. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
11

Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang berulang
lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar. Kejang lama terjadi pada 8
% kejangn demam(4). Kejang fokal adalah kejang parsial satu sisi, atau kejang umum yang
didahului kejang parsial(4). Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari,
diantara 2 bangkitan kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16 % diantara anak
yang mengalami kejang demam(4).

2.5 Faktor Resiko


Faktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam(3). Ada riwayat
kejang demam keluarga yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan
kecenderungan genetik

(1,3)

. Selain itu terdapat faktor perkembangan terlambat, problem pada

masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah, cepatnya anak
mendapat kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat
keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi(1,3).
Faktor resiko terjadinya epilepsi di kemudian hari yaitu adanya gangguan neuro
developmental, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi dalam keluarga, lamanya demam
saat awitan, lebih dari satu kali kejang demam kompleks(1).
2.6 Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau organ otak, diperlukan suatu
energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting
adalah glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi, dimana oksigen disediakan dengan
perantaraan fungsi paru paru dan diteruskan ke otak melalui kardiovaskuler(6). Jadi sumber
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air (6). Sel
dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lipoid
dan permukaan luar adalah ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui
12

dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na +) dan
elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi
dan konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya.
Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan
potensial yang disebut potensial membran dari sel neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na K ATPase yang terdapat
pada permukaan sel(6).
Keseimbangan potensial membran ini dapat dirubah oleh adanya :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.
b.Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari
sekitarnya.
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan(6).
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10% - 15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20 %. Pada seorang anak berumur
3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa
yang hanya 15 %. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel
maupun membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan
terjadilah kejang (6). Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari
tinggi rendahnya ambang kejang. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang
telah terjadi pada suhu 38o C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi,
kejang baru terjadi pada suhu 40oC atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan
bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah,

13

sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita
kejang(6). Penelitian binatang menunjukkan bahwa vasopresin arginin dapat merupakan
mediator penting pada patogenesis kejang akibat hipertermia(1).
Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya
apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang
akibatnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme
anaerobik, hipertensi arterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin
meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian diatas adalah faktor penyebab hingga
terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting
adalah gangguan peredaran darah yangmengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron
otak(6). Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang
yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan
epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi(6).

2.7 Diagnosis
a. Anamnesis

Adanya kejang, jenis kejang, lama kejang, suhu sebelum/saat kejang, frekuensi,
interval, pasca kejang, penyebab kejang di luar SSP.

Riwayat Kelahiran, perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam


keluarga (kakak-adik, orang tua).

Singkirkan dengan anamnesis penyebab kejang yang lainnya.

14

b. Pemeriksaan Fisik
Kesadaran, suhu tubuh, tanda rangsang meningkat, tanda peningkatan tekanan
intrakranial, dan tanda infeksi di luar SSP.
c. Pemeriksaan Nervi Kranialis
Umumnya tidak dijumpai adanya kelumpuhan nervi kranialis
2.8

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi
penyebab demam, atau keadaan lain misalnya gastroenteritis dehidrasi disertai
demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan misalnya darah perifer,
elektrolit dan gula darah, urinalisis, biakan darah, urin dan feses.
b. Pungsi lumbal
Pemeriksaan

cairan

serebrospinal

dilakukan

untuk

menegakkan

atau

menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis


adalah 0,6 % - 6,7 %.Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakkan atau
menyingkirkan diagnosis meningitiskarena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh
karena itu, pungsi lumbal dianjurkan pada :
1. Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan dilakukan.
2. Bayi antara 12 18 bulan dianjurkan.
3. Bayi lebih dari 18 bulan tidak rutin. Bila yakin bukan meningitis secara klinis
tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.
c. Elektroensefalografi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya
kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang
demam. Oleh karenanya,tidak direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat
15

dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas. Misalnya kejang demam
kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal.
d. Pencitraan
Foto X ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT scan)
atau magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan
hanya atas indikasi seperti :
1. Kelainan neurologik fokal yang menetap (hemiparesis)
2. Paresis nervus VI
3. Papiledema

2.9

Diagnosis Banding
Kelainan di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya :
1. Meningitis
2. Ensefalitis
3. Abses otak
Oleh sebab itu, menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang,
harus dipikirkan apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat
(otak)

(6)

. Pungsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber

infeksi seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien telah mendapat
antibiotik maka perlu pertimbangan pungsi lumbal (3).

16

2.10

Penatalaksanaan

a.

Penatalaksanaan Saat Kejang (4)


Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang

sudah berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk
menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam
intravena adalah 0,3 0,5 mg/kgBB perlahan lahan dengan kecepatan 1 2 mg/menit atau
dalam waktu 3 5 menit,dengan dosis maksimal 20 mg. Obat yang praktis dan dapat
diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam rektal. Dosis diazepam rektal adalah
0,5 0,75 mg/kgBB atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari
10 kg dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg. Atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg
untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak diatas usia 3 tahun. Bila
setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi dengan caradan
dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit.Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal
masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Dirumah sakit dapat diberikan diazepam
intravena dengan dosis 0,3 0,5 mg/kgBB. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan
fenitoin secara intravena dengan dosis awal 10 20mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1
mg/kgBB/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah
4 8 mg/kgBB/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.Bila dengan fenitoin kejang belum
berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif.Bila kejang telah berhenti,
pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demamapakah kejang demam
sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.

17

Algoritma pengobatan medikamentosa saat terjadi kejang demam.


1. 5-15 menit Kejang
perhatikan jalan nafas, kebutuhan O2 bantuan

pernapasan

Bila kejang menetap dalam 3-5 menit :

Diazepam rektal < 10 kg : 5 mg


> 10 kg : 10 mg atau
Diazepam IV (0,2-0,5 mg/kg/dosis.

Dapat diberikan 2 kali dosis dengan interval 5-10


menit

2.

Diazepam IV (0,2-0,5 mg/kg/dosis.


Dapat diberikan 2 kali dosis dengan interval 510 menit

15-20 menit
(pencarian akses vena dan pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi )

Kejang (-)

Kejang
(+)
Fenitoin IV (10-20mg/kg) diencerkan
dengan NaC1 0,9% diberikan selama 20
menit atau dengan kecepatan 50 mg/menit

3. > 30 menit : status konvulsivus

Kejang (-)

Kejang
(+)

Dosis pemeliharaan fenitoin IV 5-7


mg/kg diberikan 12 jam kemudian

Kejang (-)

Fenobarbital
IM 10-20
mg/kg

Perawatan Ruang Intensif

Dosis pemeliharaan fenobarbital IM 5-7


mg/kg diberikan 12 jam kemudian

18

b. Pemberian Obat Pada Saat Demam (4)


1. Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya
kejang demam, namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat
diberikan. Dosis parasetamol yang digunakan adalah 10 15 mg/kgBB/kali diberikan
4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis ibuprofen 5 10 mg/kgBB/kali, 3 4
kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye
terutama pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat
tidak dianjurkan.
2. Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan resiko berulangnya kejang pada 30 % - 60 % kasus, begitu pula dengan
diazepam rektal dosis 0,5mg/kgBB setiap 8 jam pada suhu > 38,5 o C. Dosis tersebut
cukup tinggi dan menyebabkanataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25 %
- 39 % kasus. Fenobarbital, karbamazepin dan fenitoin pada saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam.
3. Pemberian Obat Rumat (4)
Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai
berikut (salahsatu) :
-

Kejang lama > 15 menit.

Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.

Kejang fokal.

Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :

Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.


19

Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan.

Kejang demam > 4 kali per tahun.

Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam > 15 menit merupakan indikasi
pengobatan rumat. Kelainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan
perkembangan ringan bukan merupakanindikasi pengobatan rumat. Kejang fokal
atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik.

Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat


Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan
resiko berulangnya kejang. Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak
berbahaya dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan
rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dandalam jangka pendek. Pemakaian
fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan
belajar pada 40 % - 50 % kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada
sebagian kecil kasus,terutama yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat
menyebabkan gangguan fungsihati. Dosis asam valproat 15 40 mg/kgBB/hari dalam
2 3 dosis, dan fenobarbital 3 4mg/kgBB/hari dalam 1 2 dosis.

Edukasi Pada Orang Tua (4)


Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang
sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus
dikurangi dengan cara yang diantaranya :
a. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik.
b. Memberitahukan cara penanganan kejang.
c. Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali.
20

d. Pemberian obat untuk mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping obat.

Beberapa Hal Yang Harus Dikerjakan Bila Kembali Kejang (2)


a. Tetap tenang dan tidak panik.
b. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher.
c. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu ke dalam mulut.
d. Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
e. Tetap bersama pasien selama kejang.
f. Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
g. Bawa ke dokter atau ke rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

Vaksinasi (2)
Sejauh ini tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vaksinasi terhadap anak yang
mengalamin kejang demam. Kejang setelah demam karena vaksinasi sangat jarang. Angka
kejadian pasca vaksinasi DPT adalah 6 9 kasus per 100.000 anak yang divaksinasi,
sedangkan setelah vaksinasi MMR 25 34 per 100.000 anak. Dianjurkan untuk memberikan
diazepam oral atau rektal bila anak demam, terutama setelah vaksinasi DPT atau MMR.
Beberapa dokter anak merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi hingga 3 hari
kemudian.

21

2.11

Prognosis dan Komplikasi


Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya baik dan tidak
menyebabkan kematian.
a. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembanganmental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang
sebelumnya normal. Penelitianlain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis
pada sebagian kecil kasus, dan kelainanini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang
lama atau kejang berulang baik umum atau fokal (4). Kejang yang lebih dari 15 menit,
bahkan ada yang mengatakan lebih dari 10 menit, diduga biasanya telah menimbulkan
kelainan saraf yang menetap(2). Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam
dapat berkembang menjadi (3,5) :
1. Kejang demam berulang dengan frekuensi berkisar antara 25 % - 50 %.
Umumnya terjadi pada 6 bulan pertama.
2.

Epilepsi Resiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

3.

Kelainan motorik

4.

Gangguan mental dan belajar


b. Kemungkinan mengalami kematian
Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan (4).
c. Kemungkinan Berulangnya Kejang Demam (4)
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko
berulangnya kejang demam adalah :
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Usia kurang dari 12 bulan
3. Temperatur yang rendah saat kejang

22

4. Cepatnya kejang setelah demam


Bila seluruh faktor diatas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80 %,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang
demam hanya 10 % - 15 %. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar
pada tahun pertama. (4)

Faktor resiko menjadi epilepsi adalah :


1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam
pertama.
2. Kejang demam kompleks.
3. Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai
4 % - 6 %, kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi
menjadi 10 % - 49 %. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan
pemberian obat rumat pada kejang demam.

23

BAB III
ANALISIS MASALAH

Pada pasien disebut kejang demam sederhana karena berdasarkan definisi usia pasien
saat terjadinya kejang adalah 1 tahun dan bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu aksila 38,4o C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Selain itu kejang yang terjadi pada pasien terjadi selama <5 menit, hanya terjadi 1 x
selama 24 jam, sifat kejang umum, kedua tangan dan tungkai kaku lurus menghentak,
jari jari tangan mengepal, bola mata melihat keatas, dan tidak keluar busa dari mulut.

Setelah kejang pasien langsung sadar dan menangis.


Penyebab terjadinya kejang pada kasus ini karena kenaikan suhu atau demam dan
penyebab dari demam pada pasien ini dikarenakan adanya infeksi saluran pernapasan

(pada pasien terjadi batuk).


Berdasarkan epidemiologi 80% kejang merupakan kejang demam sederhana, pada
kasus kejang demam terjadi pada usia 1 tahun bisa terjadi risiko terjadinya kejang

demam kedua sebesar 30%.


Dilihat dari faktor risiko terjadinya kejang demam, selain demam faktor risiko
tambahan terjadinya kejang demam pada pasien karena riwayat kejang demam yang

pernah terjadi pada orang tua pasien.


Diagnosis yang ditegakkan pada pasien berdasarkan
- Anamnesis: Pada pasien jenis kejang: kejang umum dengan durasi <5 menit,
kejang hanya 1 kali, mata mendelik ketas dan ekstmitas lurus selanjutnya
menghentak-hentak. Setelah kejang, pasien tidak keluar busa dan sadar
-

langsung menangis.
Pemeriksaan fisik: Pada pasien terdapat demam S: 38,4 C, tidak ada
penurunan kesadarandan pemeriksaan neurologis normal serta tanda rangsang
meningeal negatif.

24

Pemeriksaan Penunjang: Hasil pemeriksaan hematologi rutin ditemukan


leukosit meningkat, tidak diindikasikan untuk dilakukan lumbal pungsi, EEG,

dan pemeriksaan radiologi.


Tata laksana pasien saat kejang tidak diberikan obat kejang, karena kondisi terjadinya
kejang di rumah dan orang tua tidak mengerti. Sedangkan terapi yang diberikan saat
di rumah sakit yaitu antipiretik (paracetamol) dan atikonvulsan (diazepam). Fungsi
diberikan antipiretik untuk menurunkan demam dan antikonvulsan untuk menurunkan

risiko berulangnya kejang.


Kemungkinan prognosis baik dengan penanganan dan penanggulangan yang baik.

25

DAFTAR PUSTAKA
1.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas. Standar Pelayanan


Medik. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unhas Makassar. 2008

2.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak.


Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI Jakarta. 1985

3.

Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak


Nelson, Vol. 3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2012

4.

Hendarto S. K. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu


Kesehatan Anak,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 27

5.

Pusponegoro Hardiono D, Widodo Dwi Putro, Ismael Sofyan.


Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi
Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta. 2006.

6.

Saharso Darto. Kejang Demam, dalam Pedoman DiagnosIs dan Terapi


Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU dr. Soetomo, Surabaya. 2006

7.

RSCM, Paduan Pelayanan Medis Departemen Ilmu Kesehatan Anak


RSCM. Jakarta. 2007

26